Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

Perhitungan deformasi pada sistem struktur ditujukan untuk dua hal yaitu:

Pendahuluan

1. Untuk kebutuhan kelayanan struktur (serviceability)

2. Pada benda statis dan deformable, sistem struktur paling banyak berbentuk statis tertentu, dimana untuk menganalisisnya menggunakan persamaan keseimbangan dan diagram benda bebas (free body diagram). Disamping itu terdapat pula struktur statis tak tentu yang memiliki metodologi solusi yang berbeda.

Metode yang digunakan untuk menghitung deformasi ada 2, yaitu :

1. Metode Klasik Metode Klasik biasanya menggunakan dasar geometri atau energi (metode energi), Metode perhitungan yang berdasarkan geometri adalah

- metode luas momen (momen area method)

- metode Balok Padanan (conjugate-beam method)

Metode perhitungan yang berdasarkan metoe energi adalah:

- metode kerja maya

- teorema castigliano.

Metode lainnya adalah metode integrasi

2. Metode Matriks

1.2. Diagram Defleksi dan Kurva Elastik

Analisa struktur adalah proses perhitungan untuk menentukan respon dari suatu struktur yang berupa reaksi tumpuan, gaya dalam dan perpindahan (displacement) akibat pengaruh luar (aksi).

Perpindahan pada struktur tersebut dapat berupa :

- Defleksi / Translasi

- Rotasi

Perpindahan struktur dapat terjadi dikarenakan oleh beberapa sebab berupa pengaruh luar (aksi) diantaranya adalah :

: Jarak pergerakan titik pada struktur

: Sudut putar garis singgung pada kurva elastis (atau garis normalnya) di satu titik.

- Beban luar

- Pengaruh perubahan suhu

- Kesalahan pabrikasi

- Akibat penurunan (settlement)

Dalam suatu perencanaan, nilai perpindahan (defleksi) harus dibatasi untuk menghindari retak pada jenis material yang bersifat getas seperti beton atau plester. Lebih jauh, struktur tidak boleh mengalami getaran atau

mengalami defleksi secara berlebihan. Yang jauh lebih penting, nilai defleksi pada suatu titik pada struktur harus ditentukan dalam upaya menganalisis struktur STATIS TAK TENTU.

Pada struktur-struktur berikut yang akan dianalisis dengan asumsi bahwa material tersebut memiliki RESPON LINIER ELASTIK terhadap beban yang diterimanya. Artinya, pada kondisi tersebut, suatu struktur yang menerima beban dan berdefleksi akan kembali pada kondisi awalnya (tidak berdefleksi) jika tidak dibebani lagi.

Pada dasarnya defleksi yang terjadi pada strukur disebabkan oleh GAYA DALAM berupa gaya normal, gaya geser ataupun momen lentur. Pada balok dan rangka kaku defleksi terbesar seringkali disebabkan oleh momen lentur dalam (internal bending) sedangkan gaya aksial dalam menyebabkan defleksi pada rangka batang (truss).

1.3. Persamaan Differensial Defleksi Balok

Perhatikan gambar (1.1) yang menunjukkan balok dengan tumpuan sederhana yang mengalami defleksi akibat beban momen. Defleksi (perpindahan vertikal) v pada arah y bervariasi sepanjang bentang AB. Bentuk defleksi ini disebut KURVA ELASTIK. Pada kenyataannya, pada perpindahan tersebut terdapat rotasi pada balok.

Rotasi (q) pada setiap titik adalah SUDUT ANTARA ABSIS X DENGAN GARIS SINGGUNG TERHADAP KURVA ELASTIK

y,v

A B v q
A
B
v
q

x

GAMBAR 1.1. Deformasi pada Balok dengan Tumpuan Sederhana

o

D E
D
E

(a)

P

O

E D s y u R S x
E
D
s
y
u
R
S
x

(b)

GAMBAR 1.2. Deformasi pada Balok (a) Kurva Elastik ; (b) Deformasi pada satu blok Balok

Dari geometri pada gambar 1.2. dapat dibentuk persamaan sebagai berikut :

Dari gambar (a) :

Ds = rDq

Kurvaturnya didefinisikan :

k =1/r =

D

Lt

s

Æ0

D q

D s

=

d

q

ds

(1.1)

(1.2)

Dari gambar (b) :

Du = -yDq

(1.3)

Tanda negatif dikarenakan oleh perpanjangan terjadi pada y negatif. Bila kedua sisi dibagi dengan Ds, maka:

Lt

D

s

Æ

0

D

u

D

s

=

- y

D

Lt

s

Æ

0

D

q

D

s

---------------à

du

ds

= - y

d

q

ds

(1.4)

Karena du/ds adalah regangan aksial pada searah pada jarak y dari garis netral, maka:

 

du

ds

= e

 

(1.5)

Dari persamaan (1.2) dan (1.5), diperoleh :

 
 

1

r

=

k

= -

e

y

(1.6)

Karena

:

e =

s

dan s = -

My

, dan disubstitusi ke atas , menjadi :

 

E

I

atau dari pers. (1.2) diperoleh:

 

1

M

r

=

EI

(1.7)

1

dq

r

=

ds

, sehingga:

 
 

dq =

M

EI

dx

(1.8)

Analisa geometrik menghasilkan definisi lain mengenai kurvatur, yaitu:

2 2 1 d v / dx = r ( 1 + dv / dx
2
2
1
d
v
/
dx
=
r
(
1
+ dv
/
dx
) 3

Gunakan persamaan (1.7) sehingga:

2 2 M d v / dx = EI ( 1 + dv / dx
2
2
M d
v
/ dx
=
EI (
1
+ dv
/
dx
)
3

(1.9)

(1.10)

Untuk asumsi defleksi yang kecil, dv/dx << 1. Sehingga penyebut pada sisi kanan sama dengan 1, sehingga :

d

2

v =

M

dx

2

EI

 

1

M

Dari persamaan

r

=

EI

dan persamaan

d

2

v =

M

dx

2

EI

(1.11)

, dapat disimpulkan bahwa:

Kurvatur ( r 1 ) adalah turunan kedua perpindahan terhadap arah lateralnya.

BAB.II METODE BALOK PADANAN (CONJUGATE BEAM)

Metoda ini adalah metoda yang sangat serbaguna. Diketahui bahwa hubungan antara momen lentur, gaya geser dan beban adalah:

d

2

M

dV

=

dx

2

dx

= -

q

(

x

)

(2.1)

Sedangkan dari pers (1.11) pada Bab I diketahui :

d

2

v =

d

q

=

M

dx

2

dx

EI

(2.2)

dimana:

M

: Momen

V

: Geser/lintang

q(x)

: beban

v

: perpindahan/lendutan/displacement

: slope/rotasi

EI

: kekakuan lentur

Perbandingan dari dua persamaan tersebut menunjukkan bahwa:

 

M

Jika

EI

adalah beban pada suatu balok maya (fiktif) atau disebut sebagai balok padanan (conjugate beam),

maka gaya geser & momen yang dihasilkannya adalah identik dengan slope/rotasi dan defleksi dari balok yang sebenarnya. (Gambar 2.1)

q(x) B A L
q(x)
B
A
L

Gambar 2.1 (a) Balok sebenarnya

Dari metoda Conjugate Beam, kita dapat menyimpulkan:

Teorema 1:

metoda Conjugate Beam , kita dapat menyimpulkan: Teorema 1: (b) Balok Conjugate Perpindahan/lendutan/d isplacement ( v

(b) Balok Conjugate

Perpindahan/lendutan/displacement (v = •) pada suatu titik di balok yang sebenarnya adalah identik dengan nilai momen (M’) pada titik yang sama pada Conjugate beam .

Teorema 2:

v

=

M’

(2.3)

Slope/rotasi q pada suatu titik di balok yang sebenarnya adalah identik dengan geser V’ pada titik yang sama pada Conjugate beam.

• = V’

(2.4)

Prosedur untuk menganalisis balok dengan Metode Conjugate Beam.

1. Pada balok yang sebenarnya, akibat beban yang bekerja gambarkan diagram Momen (M).

2. Gambarkan balok fiktif/maya atau disebut sebgai conjugate beam, dengan panjang yang sama dengan balok yang sebenarnya. Kondisi internal & eksternal kontinuitas serta tumpuan dibuat sama seperti

M

balok sebenarnya sesuai dengan tabel 2.1. Sedangkan beban pada conjugate beam adalah diagram EI

, dengan nilai M adalah momen pada langkah 1. Arah beban ini adalah ke arah serat tertekan. (seperti gambar 2.1.b).

3. Analisis conjugate beam, yaitu mencari Reaksi Perletakan , nilai Momen dan Geser, bila perlu gambarkan bidang momen & bidang gesernya.

4. Gunakan teorema 1 & 2 , persamaan (2.3) untuk mendapatkan nilai defleksi dan persamaan (2.4) untuk mendapatkan nilai slope/rotasi.

Perjanjian tanda pada geser dan momen adalah:

Momen positif pada conjugate beam diartikan sebagai perpindahan/defleksi ke bawah (Ø) pada balok yang

sebenarnya. sedangkan Gaya geser positif pada conjugate beam diartikan sebagai slope/rotasi yang bernilai positif (searah jarum jam) pada balok sebenarnya, Tabel 2.1 Hubungan antara balok sebenarnya dengan Conjugate Beam

Tumpuan atau Penghubung pada Balok Sebenarnya

Tumpuan atau Penghubung pada Conjugate Beam

Tumpuan Rol (q = ? , D=0)

Tumpuan Rol (V= ? , M=0)

 
Rol ( q = ? , D =0) Tumpuan Rol (V= ? , M=0)   Tumpuan
Rol ( q = ? , D =0) Tumpuan Rol (V= ? , M=0)   Tumpuan
Rol ( q = ? , D =0) Tumpuan Rol (V= ? , M=0)   Tumpuan
Rol ( q = ? , D =0) Tumpuan Rol (V= ? , M=0)   Tumpuan

Tumpuan Sendi (q = ? , D=0)

Tumpuan Sendi (V= ? , M=0)

 
 
 
q = ? , D =0) Tumpuan Rol (V= ? , M=0)   Tumpuan Sendi (
q = ? , D =0) Tumpuan Rol (V= ? , M=0)   Tumpuan Sendi (

Tumpuan Jepit (q = 0 , D=0)

Ujung Bebas (V= 0 , M=0)

Ujung Bebas (q = ? , D=?)

Tumpuan Jepit (V= ? , M=?)

( q = ? , D = ? ) Tumpuan Jepit (V= ? , M=?) Tumpuan

Tumpuan Rol/Sendi Dalam (q =?, D=0)

Jepit (V= ? , M=?) Tumpuan Rol/Sendi Dalam ( q =?, D =0) Penghubung Sendi (V=
Jepit (V= ? , M=?) Tumpuan Rol/Sendi Dalam ( q =?, D =0) Penghubung Sendi (V=

Penghubung Sendi (V= ? , M=0)

Dalam ( q =?, D =0) Penghubung Sendi (V= ? , M=0) Penghubung sendi ( q

Penghubung sendi (q L =?,q R =?, D=?)

? , M=0) Penghubung sendi ( q L =?, q R =?, D =?) Tumpuan Rol/Sendi

Tumpuan Rol/Sendi Dalam (q L =?,q R =?, D=?)

sendi ( q L =?, q R =?, D =?) Tumpuan Rol/Sendi Dalam ( q L
sendi ( q L =?, q R =?, D =?) Tumpuan Rol/Sendi Dalam ( q L

Contoh 1. Defleksi pada balok kantilever Hitung defleksi vertikal dan rotasi pada titik B dari balok

P

defleksi vertikal dan rotasi pada titik B dari balok P A B L Solusi: 1. 2.
A B
A B

A

B

vertikal dan rotasi pada titik B dari balok P A B L Solusi: 1. 2. 3.

L

vertikal dan rotasi pada titik B dari balok P A B L Solusi: 1. 2. 3.

Solusi:

1.

2.

3.

M

Gambarkan bidang momen akibat beban, selanjutnya gambarkan diagram EI -nya.

-
-
akibat beban, selanjutnya gambarkan diagram EI -nya. - - PL A B Bidang Momen   M

- PL

A

B

Bidang Momen

gambarkan diagram EI -nya. - - PL A B Bidang Momen   M Gambarkan Conjugate Beam
 

M

Gambarkan Conjugate Beam dengan

EI

sebagai beban. Kondisi jepit pada ujung A ubah menjadi

bebas.kondisi bebas pada ujung B ubah menjadi jepit. Karena akibat beban pada serat bawah balok AB

mengalami tekan sepanjang AB, maka beban

M

EI

pada conjugate beam bekerja kearah bawah.

maka beban M EI pada conjugate beam bekerja kearah bawah. Selesaikan conjugate beam. Hitung gaya geser
maka beban M EI pada conjugate beam bekerja kearah bawah. Selesaikan conjugate beam. Hitung gaya geser
maka beban M EI pada conjugate beam bekerja kearah bawah. Selesaikan conjugate beam. Hitung gaya geser
maka beban M EI pada conjugate beam bekerja kearah bawah. Selesaikan conjugate beam. Hitung gaya geser
maka beban M EI pada conjugate beam bekerja kearah bawah. Selesaikan conjugate beam. Hitung gaya geser
maka beban M EI pada conjugate beam bekerja kearah bawah. Selesaikan conjugate beam. Hitung gaya geser

Selesaikan conjugate beam. Hitung gaya geser pada titik B untuk mendapatkan nilai

momen pada titik B untuk mendapatkan nilai

D

B .

nilai momen pada titik B untuk mendapatkan nilai D B . Q = Resultan beban merata

Q = Resultan beban merata segitiga

=

1 Ê PL ˆ

Á

Ë

2

EI

(

˜ L

¯

)

=

2

PL

2 EI

q

B

. Hitung

Gunakan persamaan keseimbangan

Â

M

B

= 0

sehingga à

 Fy = 0

sehingga à

à

à

D

B

=

-

2

PL

Ê

Á

Ë

2 L ˆ ˜ +

3

2 EI

¯

2

PL

3 EI

(Ø)

-

q

2

PL

2 EI

+

V

B

=

2

PL

B 2 EI

'

=

M

0

'

B

à

=

0

à

V B

' =

M B

2

PL

2 EI

(searah jarum jam)

' =

2

PL

3

EI

Catatan:

Momen positif diasumsikan sebagai defleksi pada balok sebenarnya dengan arah ke bawah. Gaya geser positif diartikan sebagai rotasi pada balok sebenarnya yang searah jarum jam.

Contoh 2. Defleksi dan Rotasi pada balok sederhana tumpuan sendi rol Hitung defleksi vertikal pada titik c dan rotasi pada titik A dan B dari balok sederhana 2 tumpuan berikut:

pada titik A dan B dari balok sederhana 2 tumpuan berikut: Solusi: 1. 2. M Gambarkan

Solusi:

1.

2.

M

Gambarkan bidang momen akibat beban, selanjutnya gambarkan diagram EI -nya.

momen akibat beban, selanjutnya gambarkan diagram EI -nya. M Gambarkan Conjugate Beam dengan EI sebagai beban.

M

Gambarkan Conjugate Beam dengan EI

sebagai beban. Tumpuan Sendi Rol tidak berubah. Karena

akibat beban pada balok sebenarnya menyebabkan terjadi momen positif dimana serat tekan sepanjang

AB berada diatas , maka beban

M

EI

pada conjugate beam bekerja kearah atas.

, maka beban M EI pada conjugate beam bekerja kearah atas. 3. Selesaikan conjugate beam. Hitung

3.

maka beban M EI pada conjugate beam bekerja kearah atas. 3. Selesaikan conjugate beam. Hitung beban
maka beban M EI pada conjugate beam bekerja kearah atas. 3. Selesaikan conjugate beam. Hitung beban
maka beban M EI pada conjugate beam bekerja kearah atas. 3. Selesaikan conjugate beam. Hitung beban

Selesaikan conjugate beam. Hitung beban total akibat beban merata segitiga (Q) dan hitung reaksi perletakan akibat beban Q yaitu :

Q = Resultan beban merata segitiga

=

1 Ê

Á

Ë

2

PL ˆ ˜ L

4

EI

(

¯

)

=

2

PL

8 EI

Gunakan persamaan keseimbangan untuk mencari reaksi perletakan:

Â

M

B

= 0

à

sehingga à

 Fy = 0

à

+

q

+

2

PL

Ê L ˆ

Á

Ë 2

8

EI

A =

2

PL

16 EI

2

PL

2

PL

-

˜ +

¯

'

A

V

.

+

8 EI

16 EI

L

V

B

= 0

'

=

0

à

V A

' = -

à V B

' = -

2

PL

16 EI

2

PL

16 EI

(Ø)

(Ø)

sehingga à

q

=

2

PL

B 16 EI

sehingga à q = 2 PL B 16 EI 4. Untuk menghitung Mc, tinjau conjugate beam
sehingga à q = 2 PL B 16 EI 4. Untuk menghitung Mc, tinjau conjugate beam
sehingga à q = 2 PL B 16 EI 4. Untuk menghitung Mc, tinjau conjugate beam
sehingga à q = 2 PL B 16 EI 4. Untuk menghitung Mc, tinjau conjugate beam

4. Untuk menghitung Mc, tinjau conjugate beam pada arah kiri:

Â

menghitung Mc, tinjau conjugate beam pada arah kiri: Â M C = 0 à sehingga à
menghitung Mc, tinjau conjugate beam pada arah kiri: Â M C = 0 à sehingga à
menghitung Mc, tinjau conjugate beam pada arah kiri: Â M C = 0 à sehingga à
menghitung Mc, tinjau conjugate beam pada arah kiri: Â M C = 0 à sehingga à
menghitung Mc, tinjau conjugate beam pada arah kiri: Â M C = 0 à sehingga à
menghitung Mc, tinjau conjugate beam pada arah kiri: Â M C = 0 à sehingga à
menghitung Mc, tinjau conjugate beam pada arah kiri: Â M C = 0 à sehingga à

M

C = 0

à

sehingga à

 Fy = 0

sehingga à

à

D

C

=

+ Q Á Ê L ˆ

1

Ë

3

˜ -

V

' L

¯ A

.

2

+

M

'

C

=

0

Ê

+ Á

2

PL

ˆ

˜

˜

¯ Ë ¯

Ê

Á

1

L

ˆ

˜ -

Ê

Á

Ë Á

2

PL

ˆ

˜ . Á

˜

Ê L ˆ ˜ +

Á

Ë

16

EI

3

.

2 ¯ 2

16 EI

Ë

¯

M '

3

PL

-

48 EI

q

C

= 0

Ê

Á

Á

PL

2

ˆ

Ê

˜ . Á

˜

   

2 L ˆ

˜ +

¯

M '

Ë

16

EI

¯

Ë

6

(Ø)

 

'

+

Q

 

-

V

+

V

'

=

1

A

.

 

C

C

0

Ê

+ Á

Á

Ë

2

PL

16

EI

ˆ

˜ -

˜

¯

Ê

Á

Á

Ë

2

PL

16 EI

ˆ

˜ .

˜

¯

= 0

+

V

à

'

C

=

0

M '

à

C

C =

0

=

3

PL

48 EI

V

C

' =

0

Contoh 3 Defleksi dan Rotasi pada balok sederhana tumpuan sendi rol dengan bentuk beban merata

Selesaikan balok menganjur berikut ini dengan menghitung besarnya • B dan D C menggunakan metode Conjugate Beam(Balok Padanan)!

D C menggunakan metode Conjugate Beam(Balok Padanan)! Solusi: 1. Menghitung bidang momen. Q = q .
D C menggunakan metode Conjugate Beam(Balok Padanan)! Solusi: 1. Menghitung bidang momen. Q = q .
D C menggunakan metode Conjugate Beam(Balok Padanan)! Solusi: 1. Menghitung bidang momen. Q = q .
D C menggunakan metode Conjugate Beam(Balok Padanan)! Solusi: 1. Menghitung bidang momen. Q = q .

Solusi:

1. Menghitung bidang momen.

Beam(Balok Padanan)! Solusi: 1. Menghitung bidang momen. Q = q . ½ L = ½ qL

Q = q . ½ L

= ½ qL

SM A = 0 -V B . L + Q . ¼ L = 0

V B = ¼ Q

V B = 1/8 qL

( ) ( )

SF y = 0

V A

V

V

+ V B - Q

+

= 0

1/8 qL – ½ qL = 0

A

A

= 3/8 qL

( )

q kN/m' C B A Q 2EI V A= 3/8 qL V B= 1/8 qL
q kN/m'
C
B
A
Q
2EI
V A= 3/8 qL
V B= 1/8 qL
x1
x2

Mx 1 = (3/8 qLx 1 -1/2 qx 1 2 )

x

x

x 1 = L/2 -------à Mx 1 = 1/16 qL 2

1 = 0 -------à 1 = L/4------à

Mx 1 = 0 Mx 1 = 1/16 qL 2

Mx 2 =

-(- 1/8 qL .x 2 )

= 1/8 qLx 2

x 2 = 0 -------à x 2 = L/4------à x 2 = L/2------à

Mx 2 = 0 Mx 2 = 1/32 qL 2 Mx 2 = 1/16 ql 2

Dari persamaan yang diperoleh, dapat digambarkan:

1/16 ql 2 Dari persamaan yang diperoleh, dapat digambarkan: 2. Gambarkan conjugate beam, dimana beban pada
1/16 ql 2 Dari persamaan yang diperoleh, dapat digambarkan: 2. Gambarkan conjugate beam, dimana beban pada
1/16 ql 2 Dari persamaan yang diperoleh, dapat digambarkan: 2. Gambarkan conjugate beam, dimana beban pada
1/16 ql 2 Dari persamaan yang diperoleh, dapat digambarkan: 2. Gambarkan conjugate beam, dimana beban pada
1/16 ql 2 Dari persamaan yang diperoleh, dapat digambarkan: 2. Gambarkan conjugate beam, dimana beban pada

2. Gambarkan conjugate beam, dimana beban pada conjugate beam adalah :

q(x) =

M x

EI

Karena pada struktur diperoleh 2 persamaan momen (Mx),maka; bebannya menjadi

q

(

M

x 1

=

3

M x 2

2

EI

qLx

1

-

qx

1

2

x

1

) =

q x

(

2

2 EI

) =

16

EI

4 EI

=

qLx

2

16 EI

Sehingga conjugate beamnya menjadi:

EI 4 EI = qLx 2 16 EI Sehingga conjugate beamnya menjadi: Berdasarkan tabel 2.1,maka tidak

Berdasarkan tabel 2.1,maka tidak terdapat perubahan jenis tumpuan dari balok sebenarnya dengan conjugate beam,seperti terlihat pada gambar diatas.

Ø Mencari • A

Untuk mencari A sama saja dengan mencari gaya V’ A , sehingga dapat digunakan persamaan keseimbangan momen, ÂM B = 0

Tinjau balok A’B’:

Perhatikan:

- Sistem koordinat x 1 , ke kanan dan jarak titik berat beban merata (q(x 1 )) dihitung dari titik B’ ke arah kiri sama dengan (L-x 1 ). (Karena kita menggunakan titik B sbg acuan perhit momen, ÂM B =

0)

- Sistem koordinat x 2 , ke kiri dan jarak titik berat beban merata (q(x 2 )) dihitung dari titik B’ ke arah kiri sama dengan (x 2 )

Â

-

V

V

M

V

'

A

B'

.

L

' .

A

L =

'

A

.

L =

= 0

L

+

/ 2

Ú

q

0

(

x

1

).(

L

-

x

1

).

dx

1

L

/

2

Ú

0

(

3

qLx

1

qx

1

2

-

16

EI

4 EI

).(

L

+

-

L / 2

Ú

0

q

(

x

2

x

1

).

dx

1

).(

x

2

+

L / 2

Ú

0

).

dx

2

=

0

(

qLx

2

16 EI

).( x

L

/

2

Ú

0

(

3 qL x

1

-

2

3

qLx

1

2

-

qLx

1

2

qx

1

3

+

16 EI

16

EI

4

EI

4 EI

)

dx

1

+

L / 2

Ú

0

2

(

). dx

qLx

2

2

2

16 EI

) dx

2

L / 2 L / 2 2 2 3 4 3 3 qL x 3
L / 2
L / 2
2
2
3
4
3
3 qL x
3 qLx
3 qLx
qx
qLx
V '
L =
1
-
1
-
1
+
1
+
2
A .
32 EI
48 EI
12
EI
16 EI
48 EI
0
0
4
4
4
4
4
3 qL
qL
qL
qL
qL
V
' L =
-
-
+
+
A .
128
EI
128
EI
96
EI
256
EI
384 EI
4
qL
18
-
6
-
8
+
3
+
2
V
' L =
(
)
A .
EI
768
3
3
3
9
qL
3
qL
qL
V '
=
=
= 0.0117
A 768 EI
256 EI
EI
3
3
3 qL
qL
V '
=
-------à
q
=
= 0.0117
(arah putaran sudut searah jarum jam)
A
A
256 EI
EI

Ø Mencari D C

Untuk mencari D C sama saja dengan mencari momen M’ C. Tinjau potongan kiri balok A’C’ dan gunakan persamaan keseimbangan momen, ÂM = 0

Tinjau balok A’C’:

keseimbangan momen, Â M = 0 Tinjau balok A’C’: Perhatikan : - sistem koordinat x 1

Perhatikan :

- sistem koordinat x 1 , ke kiri dan jarak titik berat beban merata (q(x 1 )) dihitung dari titik C’ ke arah kiri, sehingga jarak titik berat (q(x 1 )) terhadap titik C’ adalah : (L/2 – x 1 )

 M = 0 C' L / 2 L L - V ' + Ú
Â
M
= 0
C'
L / 2
L
L
-
V '
+
Ú
q x
(
).(
-
x
).
dx
+
M
'
=
0
A .
1
1
C
2
2 1
0
3
L / 2
3 qL
L
3 qLx
qx
2 L
1
1
- +
.
Ú
(
-
).(
-
x
).
dx
+
M
'
=
0
1
C
256 EI
2
16 EI
4 EI
2 1
0
4
L / 2
2
2 3
3 qL
3 qL x
3 qLx
2 qLx
qx
1
1
1
1
-
+
Ú
(
-
-
+
).
dx
+
M
'
C =
1
512 EI
32 EI
16 EI
8
EI
4 EI
0
L / 2
4
2
2
3
4
3 qL
3
qL x
3 qLx
3 qLx
qx
-
+
(
1
-
1
-
1
+
1
)
+
M '
=
0
C
512 EI
64 EI
48 EI
24
EI
16 EI
0
4
4
4
4
4
3 qL
3 qL
qL
qL
qL
-
+
(
-
-
+
)
+
M '
0
C =
512 EI
256 EI
128
EI
192
EI
256 EI
4
Ê qL
ˆ
-
9
+
18
-
12
-
8
+
6
Á
Á Ë
)
+
M '
=
0
˜ ˜ (
C
EI
1536
¯
4
5
qL
ˆ
˜ +
M '
=
0
Á Ê Á -
˜
C
1536 EI
Ë
¯
4
4
4
5
qL
5 qL
qL
M '
=
-------à
D
=
= 0.0033
(•)
C
C
1536 EI
1536 EI
EI

0

Tanda positif menunjukkan defleksi ke bawah

Latihan 2.1

1. Hitung besarnya defleksi dan rotasi pada titik B dan C akibat beban merata yang bekerja pada balok

berikut!

B dan C akibat beban merata yang bekerja pada balok berikut! 2. Hitung lendutan pada titik
B dan C akibat beban merata yang bekerja pada balok berikut! 2. Hitung lendutan pada titik
B dan C akibat beban merata yang bekerja pada balok berikut! 2. Hitung lendutan pada titik
B dan C akibat beban merata yang bekerja pada balok berikut! 2. Hitung lendutan pada titik
B dan C akibat beban merata yang bekerja pada balok berikut! 2. Hitung lendutan pada titik
B dan C akibat beban merata yang bekerja pada balok berikut! 2. Hitung lendutan pada titik

2. Hitung lendutan pada titik C dan rotasi pada titik B akibat beban yang bekerja pada balok menganjur berikut!

B akibat beban yang bekerja pada balok menganjur berikut! 3. Hitung lendutan maksimum akibat beban yang
B akibat beban yang bekerja pada balok menganjur berikut! 3. Hitung lendutan maksimum akibat beban yang
B akibat beban yang bekerja pada balok menganjur berikut! 3. Hitung lendutan maksimum akibat beban yang
B akibat beban yang bekerja pada balok menganjur berikut! 3. Hitung lendutan maksimum akibat beban yang
B akibat beban yang bekerja pada balok menganjur berikut! 3. Hitung lendutan maksimum akibat beban yang
B akibat beban yang bekerja pada balok menganjur berikut! 3. Hitung lendutan maksimum akibat beban yang
B akibat beban yang bekerja pada balok menganjur berikut! 3. Hitung lendutan maksimum akibat beban yang
B akibat beban yang bekerja pada balok menganjur berikut! 3. Hitung lendutan maksimum akibat beban yang

3. Hitung lendutan maksimum akibat beban yang bekerja pada balok sederhana berikut!

berikut! 3. Hitung lendutan maksimum akibat beban yang bekerja pada balok sederhana berikut! Analisis Struktur I
berikut! 3. Hitung lendutan maksimum akibat beban yang bekerja pada balok sederhana berikut! Analisis Struktur I
berikut! 3. Hitung lendutan maksimum akibat beban yang bekerja pada balok sederhana berikut! Analisis Struktur I
berikut! 3. Hitung lendutan maksimum akibat beban yang bekerja pada balok sederhana berikut! Analisis Struktur I
berikut! 3. Hitung lendutan maksimum akibat beban yang bekerja pada balok sederhana berikut! Analisis Struktur I
berikut! 3. Hitung lendutan maksimum akibat beban yang bekerja pada balok sederhana berikut! Analisis Struktur I