Anda di halaman 1dari 24

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Cadangan Devisa Nasional
Devisa adalah alat pembayaran luar negeri yang antara lain berupa emas, uang
kertas asing dan tagihan lainnya dalam valuta asing kepada pihak luar negeri
(Rachbini,2000).
Cadangan devisa didefenisikan sebagai sejumlah valuta asing (valas) yang
dicadangkan bank sentral (Bank Indonesia) untuk keperluan pembiayaan
pembangunan dan kewajban luar negeri yang antara lain meliputi pembiayaan impor
dan pembayaran lainnya kepada pihak asing (Tulus Tambunan, 2001).
Cadangan devisa merupakan posisi aktiva luar negeri pemerintah dan bank-
bank devisa yang harus dipelihara untuk keperluan transaksi internasional. Dalam
mengelola cadangan devisa , Bank Indonesia telah mengutamakan tercapainya tujuan
likuiditas dan keamanan dari pada keuntugan yang tinggi. Namun demikian, Bank
Indonesia selaku otoritas moneter Indonesia tetap mempertimbangkan perkembangan
yang terjadi di pasar internasional sehingga tidak tertutup kemungkinan terjadinya
pergeseran dalam portofolio komposisi jenis penempatan cadangan devisa.
Cadangan devisa adalah penjumlahan transaksi modal dan net ekspor. Atau
dapat dikatakan cadangan devisa= Transaksi modal + Net ekspor.
Dalam rumus cadangan devisa dapat dilihat sebagai berikut:
CDV
t
= CDV
t-1
+ TB
t
+ TM
t
(2.1)
10
Universitas Sumatera Utara

dimana: CDV
t-1
= Cadangan devisa sebelumnya
TB
t
= Transaksi berjalan
TM
t
= Transaksi modal
Transaksi modal dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu: (i) transfer modal
(capital transfers) dan (ii) pembelian atau penjualan aset nonfinansial tak terbarukan
(acquisition or disposal of nonproduced, nonfinancial assets). Transfer modal
meliputi transfer in kind berupa transfer kepemilikan aktiva tetap (misalnya hibah
investasi), pengampunan (forgiveness) atas kewajiban yang diberikan kreditur
berdasarkan persetujuan kedua belah pihak, dan transfer tunai yang dikaitkan dengan
pembelian/penjualan aktiva tetap oleh salah satu atau kedua pihak yang bertransaksi.
Tidak seperti transfer berjalan, transfer modal tidak secara langsung terkait dengan
proses produksi dan konsumsi. Transfer modal diklasifikasikan ke dalam dua sektor
institusional, yaitu pemerintah dan sektor lainnya. Transfer modal sektor pemerintah
terdiri dari pengampunan hutang (debt forgiveness) dan transfer lainnya. Transfer
modal sektor lainnya terdiri dari transfer migran (migrants transfers), pengampunan
hutang (debt forgiveness), dan transfer lainnya (other transfers).
Akuisisi atau penjualan aset nonfinansial tak terbarukan mencakup transaksi
yang berkaitan dengan jual beli aset berwujud (tangible assets) yang
digunakan/diperlukan dalam proses produksi (misalnya tanah) dan aset tak berwujud
(intangible assets) seperti paten, franchise, hak cipta (copyrights), dan merk dagang
(trade mark). Sebagai contoh adalah pembelian tanah oleh pemerintah negara asing
Universitas Sumatera Utara
untuk dijadikan sebagai lokasi kedutaan besar negara tersebut. Namun demikian,
pembelian tanah oleh asing selain sektor pemerintah diklasifikasikan sebagai
transaksi finansial. Transaksi pembelian atau penjualan aset nonfinansial tak
terbarukan ini belum tercatat dalam statistik NPI.
Net ekspor merupakan nilai ekspor suatu negara dikurangi nilai impornya.
Karena net ekspor juga dapat diketahui dengan sebuah negara menjadi pembeli atau
penjual di pasar dunia, maka net ekspor disebut juga neraca perdagangan.
Mankiw (2003) Ekspor adalah barang dan jasa yang diproduksi di dalam
negeri dan di jual di luar negeri. Kegiatan ekspor merupakan suatu proses jual beli
antar negara, para eksportir di Indonesia akan menjual barang keluar negeri dan akan
menerima imbalan dalam bentuk dollar Amerika dari importir keluar negeri.
Dollar-dollar tersebut akan ditukarkan oleh para eksportir kedalam mata uang
rupiah sehingga dapat digunakan pada dalam negeri. Dollar-dollar yang ditukarkan
tersebut akan masuk menjadi cadangan devisa nasional, sedangkan Impor adalah
barang dan jasa yang diproduksi di luar negeri dan dijual di dalam negeri. Akhirnya
perlu dikemukakan di sini bahwa proses perkembangan ekonomi yang jitu ialah
proses perkembangan ekonomi yang mampu menimbulkan situasi bahwa
pertumbuhan mendorong ekspor, bukan sebaliknya. Ekspor merupakan ujung proses
pertumbuhan, bukan pangkalnya. Dengan kata lain, proses perkembangan ekonomi
yang jitu ialah proses perkembangan ekonomi yang mendukung hipotesis
pertumbuhan intern mendorong pertumbuhan ekspor (Halwani Hendra, 2005).
Universitas Sumatera Utara
Perlu adanya net ekspor pada perekonomian suatu negara. Karena net ekspor
merupakan nilai ekspor suatu negara dikurangi nilai impornya. Ekspor merupakan
salah satu sumber devisa. Untuk mampu mengekspor, negara tersebut harus
menghasilkan barang-barang dan jasa di pasaran internasional. Kemampuan bersaing
ini sangat ditentukan oleh berbagai faktor, antara lain sumber daya alam, sumber daya
manusia, teknologi, manejeman bahkan sosial budaya (Supriyanto,1995). Sedangkan
impor merupakan perdagangan dengan memasukkan barang dari luar negeri kedalam
wilayah pabean Indonesia dengan memenuhi ketentuan yang berlaku.
Menurut defenisi IMF, cadangan devisa adalah aktiva luar negeri yang
tersedia setiap waktu dan dikuasai oleh otoritas moneter (BI). Mengikuti kriteria IMF
ini, cadangan devisa yang diumumkan pemerintah (BI) secara periodik sejak awal
tahun 1998 adalah aktiva luar negeri (bruto). Dalam perkataan lain, aktiva luar negeri
resmi dianggap sebagai cadangan devisa (Zetha,2000). Dulunya, sebelum IMF
membuat kriteria tersebut, BI membedakan antara cadangan devisa bruto dan
cadangan devisa bersih, atau lebih dikenal sebagai cadangan devisa resmi. Cadangan
devisa bruto (yang diartikan sama dengan aktiva luar negeri bruto) adalah cadangan
devisa resmi ditambah dengan kontigen aset lainnya. Bila cadangan devisa resmi
merupakan jumlah valas yang benar-benar menjadi milik BI, maka dalam aktiva luar
negeri, juga dimasukkan beberapa unsur lain seperti devisa bank-bank yang disimpan
di BI dalam rangka Giro Wajib Minimum (GWM), valas, wesel ekspor berjangka
dan beberapa unsur lainnya yang sebelumnya tidak dimasukkan dalam cadangan
devisa resmi (Zetha,2000).
Universitas Sumatera Utara
Namun demikian, BI juga mengumumkan secara periodik cadangan luar
negeri bersih (net international reserve atau NIR). Aktiva luar negeri bruto adalah
tagihan BI terhadap penduduk luar negeri (nonresident), yang terdiri dari emas
moneter, giro (demand deposits), deposit on call, deposito (time deposit), penanaman
dalam surat-surat berharga (securities), dan tagihan lainnya. Sedangkan, NIR adalah
aktiva luar negeri bruto BI setelah dikurangi kewajiban-kewajibannya dalam valas
yang terdiri dari tiga unsur:
1. gross liabilities, yaitu semua utang dalam valas dengan masa jatuh tempo sampai
dengan satu tahun, termasuk penggunaan dana IMF;
2. net forward position, yaitu kewajiban BI dalam valas terhadap penduduk
(resident) dan bukan penduduk (nonresident) dalam bentuk transaksi forward;
3. devisa bank yang disimpan pada BI dalam rangka memenuhi GWM dalam valas.
Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, bahwa besarnya cadangan devisa
sangat tergantung pada perkembangan Balance of Payment (BOP). Atau tepatnya,
penambahan devisa berasal dari dua sumber utama, yakni pendapatan ekspor netto
dan arus modal masuk netto (surplus capital account). Diantara dua sumber tersebut,
pendapatan ekspor yang paling diandalkan untuk penambahan cadangan devisa.
Karena arus modal masuk bisa saja dalam bentuk pinjaman (ULN) yang harus
dibayar kembali plus bunganya, berarti pengurangan cadangan devisa, atau investasi
yang juga suatu ketika bisa menjadi arus modal keluar, terkecuali investasi dalam
bentuk PMA.
Universitas Sumatera Utara
Indikator yang sering digunakan untuk mengukur kemampuan cadangan
devisa adalah rasio antara nilai cadangan devisa dan nilai impor dalam waktu tertentu,
yang dapat dihitung dalam rumus berikut (Widodo,1990):
KCD
t
= CDV
t
/M
t
(2.2)
dimana:
KCD = Kemampuan cadangan devisa mendukung impor dalam satuan
waktu tertentu (misalnya bulanan atau tahunan)
CDV
t
= Cadangan devisa bulanan/tahunan
M
t
= Nilai impor bulanan/tahunan
Cadangan devisa sangat penting bagi stabilitas dan kelangsungan proses
ekonomi, dan hal ini dapat dilihat dari pengalaman Indonesia selama krisis ekonomi.
Terutama sektor riil yang terpukul akibat masalah utang luar negeri menjadi semakin
parah akibat menipisnya cadangan devisa, khususnya Dolar Amerika Serikat. Selain
itu, banyak perusahaan-perusahaan, khususnya eksportir atau yang banyak melakukan
impor terpaksa mengurangi atau menghentikan sama sekali kegiatan mereka akibat
mahalnya nilai dolar AS di pasar valas dalam negeri.
Masalah serius lain yang muncul akibat keterbatasan cadangan devisa adalah
yang berkaitan dengan ketergantungan impor dan net transfer yang tinggi. Hal ini
membuat ekonomi Indonesia mengalami dua situasi yang sangat membahayakan
BOP, yakni defisit transaksi berjalan dan capital account. Akibatnya, cadangan devisa
menjadi semu, artinya banyak mengandung dan bahkan cenderung didominasi oleh
komponen ULN. Cadangan devisa tidak lagi diperoleh dari surplus ekspor tetapi
Universitas Sumatera Utara
didapat dari pinjaman luar negeri. Dan sebagian besar pinjaman luar negeri
digunakan untuk menutup defisit transaksi berjalan dan membayar angsuran pokok
ULN (Arief,1999).
Menurut Bank Dunia, peranan cadangan devisa (www.pikiran rakyat.com):
1. Untuk melindungi negara dari guncangan eksternal. Krisis keuangan pada akhir
1990-an membuat para pembuat kebijakan memperbaiki pandangannya atas nilai
dari cadangan devisa sebagai proteksi dalam melindungi dari krisis mata uang.
2. Tingkat cadangan devisa merupakan faktor penting dalam pencapaian kelayakan
kredit dan kredibilitas kebijakan secara umum, sehingga negara dengan tingkat
cadangan devisa yang cukup dapat mencari pinjaman dengan kondisi yang lebih
nyaman.
3. Kebutuhan likuditas untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar.
Selain berbagai kebaikan di atas, kebijakan untuk mempertahankan cadangan
devisa juga mengeluarkan biaya, saat level cadangan devisa menjadi lebih besar,
biaya yang diperlukan juga semakin besar. Membengkaknya cadangan devisa bisa
berakibat kinerja moneter terekspansi melebihi kapasitas produksi ekonomi yang
berakhir pada inflasi. Untuk meningkatkan cadangan devisa, sejak tahun 1970
pemerintah telah menerapkan sistem devisa bebas. Peraturan tentang sistem devisa
bebas tersebut dituangkan dalam UU No.24 tahun 1999 tentang melarang lalu lintas
devisa dan sistem nilai tukar menggantikan UU lama yaitu UU No.32 tahun 1964.
Dalam mengelola cadangan devisa ini, Bank Indonesia lebih mengutamakan
tercapainya tujuan likuditas dan keamanan dari pada keuntungan yang tinggi.
Universitas Sumatera Utara
Walaupun demikian, BI tetap mempertimbangkan perkembangan yang terjadi di
pasar Internasional, sehingga tidak tertutup kemungkinan terjadinya pergeseran dalam
portofolio komposisi jenis penempatan cadangan devisa. Dalam mengelola cadangan
devisa yang optimal, Bank Indonesia menerapkan sistem diversifikasi, baik
berdasarkan jenis valuta asing maupun berdasarkan jenis investasi surat berharga.
Dengan cara tersebut diharapkan penurunan nilai dalam salah satu mata uang dapat
dikompensasi oleh jenis mata uang lainnya atau penempatan lain yang mempunyai
nilai yang lebih baik.
Posisi cadangan resmi yang dikuasai BI perlu dipertahankan pada tingkat
yang wajar. Hal ini terutama untuk menjaga kestabilan ekonomi dan moneter serta
untuk menghindarkan terjadinya gejolak kurs mata uang asing dan pelarian modal ke
luar negeri. Dalam hubungan ini, sebagai ukuran yang lazim digunakan adalah rasio
cadangan resmi terhadap impor. Jika cadangan devisa itu cukup untuk menutup impor
selama 3 bulan pada lazimnya dipandang sebagai tingkat yang aman, dan jika hanya
untuk 2 bulan atau kurang, maka akan menimbulkan tekanan terhadap neraca
pembayaran.(Rustian Kamaluddin,1999)
Mulai bulan juli 2000, BI mengubah konsep pencatatan cadangan devisa, dari
konsep GFA(Gross Foreign Asset) kepada konsep IRFCL. Angka cadangan devisa
yang dilaporkan dengan menggunakan konsep International Reserve and Foreign
Currency (IRFCL) merupakan standar pelaporan secara internasional (SDDS-IMF).
Perbedaan antara angka cadangan devisa yang berdasarkan konsep GFA dengan yang
berdasarkan IRFCL terjadi karena perbedaan definisi.
Universitas Sumatera Utara
Dalam konsep IRFCL, hanya aset yang tergolong likuid yang diperhitungkan
sebagai komponen International Reserve dan penilaiannya menggunakan kurs yang
berlaku saat tanggal pelaporan. Sedangkan dalam konsep yang lama, GFA, tidak
dibedakan tingkat likuiditas tersebut, serta tidak digunakan kurs yang berlaku pada
saat pelaporan melainkan kurs mata uang asing per 31 maret 1998. konsep IRFCL
berangkat dari standar penyebaran data khusus (Special Data Dessemination
Standards/SDDS) yang merupakan bentuk penyajian data ekonomi melalui internet
dengan menggunakan standar penyajian data dana moneter international (IMF).
Cakupan SDDS adalah sektor riil, sektor fiskal, sektor keuangan, dan sektor
eksternal. Mengenai IRFCL, struktur metode tersebut terbagi menjadi devisa
international (International Reserve), perkiraan aliran bersih devisa yang terjadwal
(Predetermined short-term net drains), perkiraan aliran devisa yang bersifat siaga
(Contingent Short-term net drains), dan memo item.(sumber:Bank Indonesia).

2.2. Kurs dan Tingkat Suku Bunga terhadap Cadangan Devisa Nasional
Pertukaran suatu mata uang dengan mata uang lainnya disebut transaksi valas,
foreign exchange transaction (Kuncoro, 1996). Harga suatu mata uang terhadap mata
uang lainnya disebut kurs atau nilai tukar mata uang/exchange rate.
Kurs valuta asing akan berubah-ubah sesuai dengan perubahan permintaan
dan penawaran valuta asing. Permintaan valuta asing diperlukan guna melakukan
pembayaran ke luar negeri (impor), diturunkan dari transaksi debit dalam neraca
pembayaran internasional. Suatu mata uang dikatakan kuat apabila transaksi
Universitas Sumatera Utara
autonomous kredit lebih besar dari transaksi autonomous debit (surplus neraca
pembayaran), sebaliknya dikatakan lemah apabila neraca pembayarannya mengalami
defisit, atau bisa dikatakan jika permintaan valuta asing melebihi penawaran dari
valuta asing (Nopirin, 2000). Kurs antara dua negara adalah tingkat harga yang
disepakati penduduk kedua negara untuk saling melakukan perdagangan (Mankiw,
2007).
Penurunan kurs antara Rupiah dan USD (misalnya, dari Rp 8000/USD
menjadi Rp. 9000/USD) berarti dollar menjadi lebih mahal dalam nilai rupiah. Ini
mencerminkan bahwa nilai dollar naik karena jumlah rupiah yang diperlukan untuk
membeli dollar meningkat. Dengan kata lain, dollar mengalami apresiasi terhadap
rupiah. Dari sisi lain, rupiah menjadi lebih murah dinilai dalam dollar, artinya rupiah
mengalami depresiasi terhadap dollar.
Untuk menghindari kebingungan, harus diingat bahwa kurs antara mata uang
domestik dan mata uang asing diartikan sebagai jumlah mata uang domestik yang
diperlukan untuk membeli mata uang asing. Bila kurs meningkat berarti mata uang
domestik mengalami depresiasi dan mata uang asing mengalami apresiasi. Sebaliknya
penurunan kurs mencerminkan terjadinya apresiasi mata uang domestik dan
depresiasi mata uang asing (Kuncoro, 1996).
Menurut teori klasik suku bunga terjadi berdasarkan kekuatan permintaan
dana (tabungan) dipasar uang. Timbulnya penawaran dana disebabkan adanya
masyarakat yang kelebihan pendapatan untuk dikonsumsi sehingga mereka berhasrat
untuk menabung. Dilain pihak terdapat masyarakat yang memerlukan dana untuk
Universitas Sumatera Utara
kegiatan investasi. Harga yang harus dibayar oleh pihak yang memerlukan dana
untuk keperluan investasi yaitu tingkat bunga.
Pada hakekatnya, Suku Bunga adalah pembayaran yang harus dilakukan
untuk penggunaan uang. Suku Bunga adalah jumlah bunga yang dibayarkan per unit
waktu. Dengan kata lain, masyarakat harus membayar peluang untuk meminjam
uang. Biaya untuk meminjam uang, diukur dalam rupiah per tahun untuk setiap
rupiah yang dipinjam, atau dalam persen pertahun, adalah suku bunga. Masyarakat
mau membayar bunga karena dana yang dipinjam membantu mereka untuk membeli
barang dan jasa untuk memuaskan kebutuhan konsumsi mereka atau membuat
investasi yang menguntungkan.
Makin tinggi tingkat suku bunga, keinginan untuk melakukan investasi juga
makin kecil. Alasan seseorang pengusaha akan menambah pengeluaran investasinya
apabila keuntungan yang diharapkan dari investasi semakin besar dari tingkat bunga
yang harus dia bayar untuk dana investasi tersebut yang merupakan ongkos-ongkos
penggunaan dana (Cost of capital). Makin rendah tingkat bunga, maka pengusaha
akan lebih terdorong untuk melakukan investasi, sebab biaya penggunaan dana juga
makin kecil. Tingkat bunga dalam keadaan keseimbangan (tidak ada dorongan untuk
naik atau turun) akan tercapai apabila keinginan menabung masyarakat sama dengan
keinginan pengusaha untuk melakukan investasi.
Menurut Keynes bahwa tingkat suku bunga adalah balas jasa yang diterima
seeorang karena orang tersebut tidak menimbun uang atau balas jasa yang diterima
seseorang karena orang tersebut mengorbankan liquidity preferencenya. Makin besar
Universitas Sumatera Utara
liquidity preference seseorang makin besar keinginan orang tersebut untuk menahan
uang tunai, maka makin besar tingkat bunga yang diterima orang tersebut bilamana
dia meminjamkan uang tersebut kepada orang lain. Pendapat Keynes ini sangat
berbeda dengan pendapat aliran klasik, dimana tingkat bunga menurut Klasik adalah
premi yang diterima karena menunda konsumsinya pada masa yang akan datang.
Hubungan kurs dan tingkat suku bunga terhadap cadangan devisa dapat
dirumuskan sebagai berikut:
TB = TB (E,r) (2.3)
TM = TM (E,r) (2.4)
Subtitusi (2.3) dan (2.4) ke (2.1) sehingga cadangan devisa adalah:
CDV = CDV (E, r, CDV
t-1
) (2.5)
Dilihat dari rumus diatas dapat disimpulkan apabila kurs (E) meningkat, maka
cadangan devisa juga akan meningkat. Tetapi apabila tingkat suku bunga meningkat
akan menyebabkan penurunan terhadap cadangan devisa.

2.3. Perbedaan Tingkat Suku Bunga
Perbedaan tingkat suku bunga akan berdampak pada perubahan jumlah
investasi di suatu negara, baik yang berasal dari investor domestik maupun investor
asing, khususnya pada jenis-jenis investasi portofolio, yang umumnya berjangka
pendek. Perubahan tingkat suku bunga ini akan berpengaruh pada perubahan jumlah
permintaan dan penawaran di pasar uang domestik. Tingkat suku bunga riil umumnya
Universitas Sumatera Utara
lebih sering dibandingkan antar negara guna mengukur pergerakan nilai tukar mata
uang.
Tingkat inflasi selalu lebih tinggi dari suku bunga, akibatnya daya beli dari
uang penabung atau deposan mengalami penurunan meskipun secara absolut jumlah
uangnya sudah bertambah dengan adanya tambahan dari bunga yang diterimanya.
Berdasarkan fakta, maka jelas bunga tidak membuat orang lebih kaya jika uangnya
ditabungkan atau didepositokan, tetapi malah sebaliknya.
Inflasi menimbulkan biaya, jika inflasi menimbulkan biaya, maka bunga juga
menimbulkan biaya. Biaya uang yaitu suku bunga (interest) yang ditimbulkan oleh
inflasi (Mankiw, 2007) yaitu:
1). Biaya pulang pergi ke bank untuk mengambil uang (shoeleather cost)
2). Biaya perusahaan untuk merubah harga karena inflasi (menu cost)
3). Biaya ketidak nyamanan hidup dengan selalu berubahnya harga
4). Pajak yang dibebankan pada keuntungan (sebab pajak selalu menentukan besarnya
pajak dari keuntungan nominal bukan dari keuntungan riil, padahal dengan adanya
inflasi, maka keuntungan riil lebih kecil sedangkan pajak yang dibayarkan lebih
besar).
Dalam teori klasik, bahwa bunga merupakan harga kapital (price of capital),
dimana apabila permintaan modal (uang) naik maka bunga akan naik pula, tetapi
orang meminta uang atau meminjam uang bukan semata-mata untuk investasi tetapi
juga untuk transaksi (konsumsi) dan spekulasi. Meskipun demikian peminjam tetap
dikenakan bunga. Itulah sebabnya dalam ekonomi kapitalis, kegiatan transaksi
Universitas Sumatera Utara
ekonomi lebih banyak di sektor keuangan ini dibandingkan dengan sektor riil.
Selanjutnya diketahui pula bahwa, tingkat bunga mempunyai hubungan dengan
tingkat inflasi.
Hubungan tingkat bunga nominal dan tingkat bunga riil dengan inflasi dapat
ditulis sebagai berikut:
i = r +
Persamaan di atas merupakan persamaan Irving Fisher.Dari persamaan
tersebut ditunjukkan bahwa, tingkat bunga bisa berubah karena dua alasan (Mankiw,
2007) yaitu:
1). Karena tingkat bunga riil berubah, dan
2). Karena tingkat inflasi berubah
Menurut teori kuantitas, kenaikan dalam tingkat pertumbuhan uang sebesar 1
persen menyebabkan kenaikan tingkat inflasi sebesar 1 persen, selanjutnya dari
persamaan Fisher dapat dinyatakan pula bahwa kenaikan 1 persen tingkat inflasi
akan menaikkan suku bunga nominal sebesar 1 persen. Dari fakta ini jelas bahwa
suku bunga dan inflasi mempunyai hubungan yang positif.

2.4. Perbedaan Tingkat Inflasi
Pakar ekonomi menyatakan bahwa inflasi merupakan bagian dari ekonomi
moneter, seperti dijelaskannya dalam tulisan bahwa inflasi selalu dan dimanapun
merupakan fenomena moneter (Mankiw, 2000).
Universitas Sumatera Utara
Tingkat inflasi adalah persentase perubahan di dalam tingkat harga,
sedangkan indeks harga itu sendiri adalah mengukur biaya dari sekelompok barang
tertentu sebagai persentasi dari kelompok yang sama pada periode awal. Teori PPP
ini terbagi menjadi dua yaitu versi absolut dan versi relatif. Teori PPP versi absolut
sering dikaitkan dengan teori Law of One Price walaupun sebenarnya ada perbedaan
antara keduanya. Teori Law of One Price lebih diterapkan pada satu jenis barang saja
sedangkan teori PPP diterapkan pada tingkat harga secara keseluruhan yaitu dengan
menggunakan sekeranjang barang dan jasa. Sementara versi relatif dari teori PPP
muncul karena banyaknya kelemahan dalam versi absolut yaitu berupa asumsi-asumsi
yang tidak realistis yaitu tidak adanya biaya transportasi dan bebas dari hambatan
perdagangan. Dalam kenyataannya, biaya transportasi maupun hambatan
perdagangan tidaklah dapat diabaikan. Dalam versi relatifnya, teori PPP mengubah
pernyataan tingkat harga dan tingkat kurs keseimbangan menjadi "perubahan harga"
dan "perubahan" kurs keseimbangan (Salvatore, 1997). Salah satu teori yang
menjelaskan hubungan antara tingkat harga atau inflasi dengan pergerakan nilai tukar
adalah teori paritas daya beli atau Purchasing Power Parity Theory (PPP). Teori
paritas daya beli ini merupakan salah satu teori yang paling sering diuji validitasnya.
Dalam teori paritas daya beli ini dikatakan bahwa nilai tukar antara dua negara
seharusnya sama dengan rasio dari tingkat harga di kedua negara tersebut. Sehingga
jatuhnya daya beli domestik pada suatu mata uang (meningkatnya tingkat harga
domestik atau meningkatnya inflasi) akan diikuti oleh depresiasi pada mata uang
negara tersebut di pasar uang luar negeri. Namun, jika yang terjadi adalah sebaliknya
Universitas Sumatera Utara
yaitu daya beli domestik mengalami kenaikan (tingkat inflasi turun/terjadi deflasi)
maka akan diikuti pula oleh apresiasi pada mata uangnya.
Kenaikan tingkat inflasi yang mendadak dan besar di suatu negara
akan menyebabkan meningkatnya impor oleh negara tersebut terhadap
berbagai barang dan jasa dari luar negeri, sehingga semakin diperlukan
banyak valuta asing untuk membayar transaksi impor tersebut. Hal ini akan
mengakibatkan meningkatnya permintaan terhadap valuta asing di pasar
valuta asing. Inflasi yang meningkat secara mendadak tersebut, juga
memungkinkan tereduksinya kemampuan ekspor nasional negara yang
bersangkutan, sehingga akan mengurangi supply terhadap valuta asing di
dalam negerinya.
Teori Inflasi Klasik berpendapat bahwa tingkat harga ditentukan oleh jumlah
uang beredar, yang dapat dijelaskan melalui hubungan antara nilai mata uang dengan
jumlah uang, serta nilai uang dan harga. Bila jumlah uang bertambah lebih cepat dari
pertambahan barang maka nilai uang akan merosot dan ini sama dengan kenaikan
harga. Jadi menurut Klasik, Inflasi berarti terlalu banyak uang beredar atau terlalu
banyak kredit dibandingkan dengan volume transaksi (Gilarso, 1986).

2.5. Perbedaan Tingkat Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi sangat diperlukan untuk meningkatkan kekayaan suatu
negara atau wilayah. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi menjadi salah satu tujuan
utama dari pembangunan suatu negara atau wilayah. Pertumbuhan ekonomi dikaitkan
Universitas Sumatera Utara
dengan dua kepentingan dalam proses pembangunan di sebuah negara. Pertumbuhan
ekonomi yang bertambah besar merujuk kepada suatu skala aktiviti ekonomi yang
semakin meluas di dalam semua sektor. Ada beberapa faktor penting yang diperlukan
untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dari semasa ke semasa. Pertumbuhan
ekonomi tidak akan berlaku sekiranya sumber ekonomi yang tersedia ada tidak
ditambah. Sumber ekonomi yang penting ialah modal, tanah, sumber manusia,
sumber tenaga, kemudahan infrastruktur dan sebagainya. Pertumbuhan ekonomi
bukan saja memerlukan pertambahan sumber ekonomi secara kuantitatif, tetapi boleh
juga dicapai melalui peningkatan kualiti sumber ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi suatu negara dapat meningkatkan ekspor, dengan
meningkatnya ekspor maka cadangan devisa nasional akan semakin meningkat.
Tetapi, apabila suatu pertumbuhan ekonomi suatu negara buruk, maka akan
mengakibatkan rendahnya ekspor kesuatu negara, karena tidak adanya barang-barang
yang dapat diproduksi, sehingga akan mengakibatkan cadangan devisa suatu negara
akan menurun.
Untuk mampu mengekspor, negara tersebut harus menghasilkan barang-
barang dan jasa di pasaran internasional. Kemampuan bersaing ini sangat ditentukan
oleh berbagai faktor, antara lain sumber daya alam, sumber daya manusia, teknologi,
manejeman bahkan sosial budaya.

2.6. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terhadap Transaksi Modal
Universitas Sumatera Utara
IHSG merupakan kegiatan pada pasar modal yang bermanfaat bagi investor
dan emiten yang tercatat di BEJ, hal ini dapat membantu mereka dalam menentukan
apakah akan menjual, membeli, ataukah menahan saham yang mereka miliki
berkenaan dengan perubahan kurs rupiah terhadap dollar AS dan tingkat suku bunga
SBI. Karena kesalahan dalam menentukan dan menerapkan strategi perdagangan
di pasar modal, akan berakibat buruk bagi perusahaan atau investor sehingga dapat
mengalami kerugian apabila kurs rupiah/US$ dan suku bunga SBI memang benar-
benar berpengaruh terhadap IHSG.
Demikian juga bagi pemerintah, diketahuinya dampak dari kurs rupiah/US$
dan tingkat suku bunga SBI terhadap IHSG, maka pemerintah dapat membuat
kebijakan-kebijakan yang berkenaan dengan kurs rupiah/US$ dan tingkat suku bunga
SBI sehingga pengaruh yang telah atau akan terjadi dapat diantisipasi dan ditangani
dengan sebaik-baiknya.
Hubungan IHSG dengan transaksi modal yaitu apabila IHSG meningkat maka
akan mendorong munculnya investor-investor baru sehingga investor tersebut akan
menambah modalnya ke Bursa Efek Indonesia sehingga kapitalisasi terhadap bursa
efek ikut meningkat sehingga transaksi modal akan ikut meningkat juga.
r
i
= r
f
+
i
(r
m
- r
f
)
dimana:
r
i
= Return saham
r
m
= Perubahan IHSG
r
f
= Tingkat bunga bebas resiko
Universitas Sumatera Utara

i
= Resiko sistematis
r
i
- r
f
=
i
r
m
-
i
r
f
r
i
- r
f
+
i
r
f
=
i
r
m
r
m
= ( ) 1 +
i f
i
i
r
r
|
|

Apabila Indeks Harga Saham Gabungan (rm) meningkat maka transaksi
modal (tm) juga akan meningkat dan akan mengakibatkan cadangan devisa akan
meningkat juga.

2.7. Pengaruh Nilai Tukar terhadap Cadangan Devisa
Keseimbangan Pasar Uang Domestik dan Luar Negeri:
|
.
|

\
|
P
M
= L (r,,y)
*
|
.
|

\
|
P
M
= L* (r
*
,*,y*)
M = L (r,,y). P P =
y). , (r, L t
M

M* = L* (r
*
,*,y*). P P
*
=
). y , , (r L
- - - -
-
t
M

E =
) , , ( /
) , , ( /
- - - - - -
=
y r L M
y r L M
P
P
t
t


ln E = ln M -[- ln r - ln + ln y ] [ ln M* - ln r
*
- ln * + lny*]
Universitas Sumatera Utara
e = (ln M - ln M*) + (ln r
*
- ln r) + (ln * - ln ) + (lny*- ln y)
e = (M - M*) + ( r - r*) + ( - *) + (y* - y).

1. Jika pertambahan jumlah uang domestik (M) lebih tinggi dari pertambahan jumlah
uang luar negeri (M*) maka nilai tukar (e) depresiasi dan akan mengakibatkan
cadangan devisa akan menurun, karena impor akan lebih banyak dari pada ekspor
2. Jika tingkat bunga domestik (r) lebih tinggi dari tingkat bunga luar negeri (r*)
maka nilai tukar (e) depresiasi dan akan mengakibatkan cadangan devisa turun.
3. Jika tingkat inflasi domestik () lebih tinggi dari tingkat bunga luar negeri (*)
maka nilai tukar (e) depresiasi dan cadangan devisa turun..
4. Jika pertumbuhan domestik (y) lebih tinggi dari tingkat bunga luar negeri (y*)
maka nilai tukar (e) apresiasi dan cadangan devisa naik, karena kondisi yang
membaik.

2.8. Peneliti Terdahulu
Jatnika dan Safuan (2004), menyatakan bahwa dengan pendekatan
cointegrated vector error correction model temukan bahwa dalam jangka panjang
adanya relasi hubungan antara diferensiasi tingkat suku bunga dengan nilai tukar riil
dan cadangan devisa. Dalam jangka pendek, kebijakan tingkat suku bunga domestik
ternyata tidak berpengaruh nyata terhadap perubahan nilai tukar riil karena perubahan
nilai tukar riil ternyata lebih ditentukan oleh perubahan cadangan devisa yang
Universitas Sumatera Utara
mempresentasikan fakor-faktor fundamental ekonomi Indonesia dibandingkan
perubahan difensiasi tingkat suku bunga riil.
Agung lisyanto (2006) dalam penelitiannya yaitu Analisis Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Cadangan Devisa di Indonesia. Metode esitimasi yang dilakukan
dengan menggunalan Ordinary Least Square. Penelitian ini menentukan bahwa
cadangan devisa secara bersama oleh kurs rupiah, tingkat bunga, ekspor neto non
migas sebesar 90,12%. Perubahan cadangan devisa dipengaruhi oleh variable tersebut
secara signifikan pada tingkat kepercayaan 99%. Kurs rupiah berpengaruh positif
terhadap cadangan devisa. Hal ini berarti bahwa cadangan devisa akan meningkat
dengan meningkatnya nilai kurs secara stabil. Cadangan devisa dipengaruhi secara
signifikan oleh nilai stabilitas kurs rupiah, SBI, nilai Ekspor neto non migas.
Terence, Chong, Melvin (2008) dalam penelitiannya tetntang dinamika
nonlinier dari cadangan devisa dan Krisis Nilai Tukar. Mereka meneliti bahwa
hubungan dinamis antara cadangan devisa dan krisis nilai tukar dengan menggunakan
data panel 6 negara Asean dari tahun 1990-2003. Mereka menjelaskan persediaan
cadangan devisa yang semakin deras adalah suatu hal yang paling utama sebelum
robohnya sistem niali tukar. Hasil dari permulaan model autoregreeive menyatakan
bahwa ketika cadangan jangka pendek dari hutang jatuh lebih dari 29,1% atau lebih
cadangan ratio M2 jatuh lebih dari 24,3% dalam 6 bulan kemungkinan itu berasal dari
peningkatan krisis. Model ini menyediakan peringatan yang sangat jelas untuk
pembuta kebijakan untuk mulai bertindak sebelum cadangan sudah mencapai nilai
yang sangat kritis menggembar gemborkan kedatangan dari serangan krisis.
Universitas Sumatera Utara
Hastina Febriaty (2010) dalam penelitiannya yaitu Analisis Determinan
Cadangan Devisa Indonesia. Penelitiannya bertujuan ingin menganalisis investasi
langsung, cadangan devisa sebelumnya, dan utang luar negeri terhadap cadangan
devisa Indonesia. Pengaruh cadangan devisa, investasi langsung, dan terhadap net
ekspor, pengaruh net ekspor, jumlah uang beredar, dan suku bunga SBI terhadap
kurs, serta pengaruh kurs, GDP dan suku bunga SBI terhadap investasi asing
langsung selama kurun waktu periode 1989-2009.
Metode analisis yang digunakan untuk mengetahui hubungan simultanitas
adalah 2 SLS (Two Stage Least Square). dan kaidah identifikasinya menunjukkan
bahwa kondisi pada persamaan simultan mengalami overidentified sehingga
memungkinkan untuk menggunakan metode 2 SLS.
Berdasarkan hasil estimasi metode 2 SLS (Two Stage Least Square) pada
persamaan cadangan devisa tahun sebelumnya berpengaruh positif dan signifikan
dengan kepercayaan 5% terhadap cadangan devisa. Cadangan devisa, investasi asing
langsung, dan inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap net ekspor serta net
ekspor, jumlah uang beredar dan suku bunga SBI berpengaruh positif dan signifikan.

2.9. Kerangka Konseptual
Kurs berpengaruh langsung terhadap cadangan devisa, dan kurs juga
berpengaruh langsung terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Perbedaan
tingkat suku bunga mempunyai pengaruh langsung terhadap cadangan devisa, kurs,
perbedaan tingkat inflasi dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan mempunyai
Universitas Sumatera Utara
pengaruh terhadap perbedaan pertumbuhan ekonomi tetapi hubungan yang tidak
langsung. Perbedaan tingkat inflasi mempunyai pengaruh langsung terhadap
cadangan devisa, perbedaan pertumbuhan ekonomi, kurs. Perbedaan pertumbuhan
ekonomi berpengaruh langsung terhadap cadangan devisa dan Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG) berpengaruh langsung terhadap cadangan devisa.

Gambar 2.1. Kerangka Konseptual Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi


Cadangan Devisa Nasional
KURS
PERBEDAANTINGKAT
PERBEDAAANTINGKATSUKU
CADANGANDEVISA
PERBEDAANPERTUMBUHAN
EKONOMI
IHSG
Universitas Sumatera Utara

2.10. Hipotesis
Berdasarkan permasalahan maka penulis membuat hipotesis sebagai berikut:
1. Cadangan devisa, kurs, perbedaan tingkat suku bunga, perbedaan tingkat inflasi,
perbedaan pertumbuhan ekonomi, IHSG berkontribusi terhadap cadangan devisa.
2. Kurs, perbedaan tingkat suku bunga, perbedaan tingkat inflasi, perbedaan
pertumbuhan ekonomi, IHSG dan cadangan devisa berkontribusi terhadap kurs.
3. Perbedaan tingkat suku bunga, perbedaan tingkat inflasi, perbedaan pertumbuhan
ekonomi, IHSG, kurs dan cadangan devisa berkontribusi terhadap perbedaan
tingkat suku bunga.
4. Perbedaan tingkat inflasi, perbedaan pertumbuhan ekonomi, IHSG, kurs,
perbedaan tingkat suku bunga dan cadangan devisa berkontribusi terhadap
perbedaan tingkat inflasi.
5. Perbedaan pertumbuhan ekonomi, IHSG, kurs, perbedaan tingkat suku bunga,
perbedaan tingkat inflasi, dan cadangan devisa berkontribusi terhadap perbedaan
pertumbuhan ekonomi.
6. IHSG, kurs, perbedaan tingkat suku bunga, perbedaan tingkat inflasi, perbedaan
pertumbuhan ekonomi, dan cadangan devisa berkontribusi terhadap IHSG.





Universitas Sumatera Utara