Anda di halaman 1dari 15

ILMU KEDOKTERAN GIGI FORENSIK (IKGF KUG 3320)

PERUNDANG-UNDANGAN KEDOKTERAN GIGI FORENSIK DARI SEGI HUKUM


Oleh :
Susi Hadidjah, SH
Bagian Kedokteran Forensik RSUD dr. Sardjito

UU praktek ralat uu no 29 bukan no 9.


KETERANGAN
KUHP

: Kitab Undang-undang Hukum pidana (materi pidana/isi)

KUHAP

: Kitab Undang-undang Hukum Acara pidana (formil pidana/

bentuk/ tata cara pelaksanaan)

PP

: Peraturan Pemerintah

S.D.

: Sumpah dokter

R.K.

: Rahasia Kedokteran

KODEKI

: Kode Etik Kedokteran Indonesia

Sistem tata hukum dibagi menjadi 2, yaitu:

1. Hukum Publik (pidana)


Merupakan hukum yang mengatur hubungan antara warga negara dengan
pemerintah. Mencakup 2 segi, yaitu:
a. Segi Formil
Adalah KUHAP (UU No. B Tahun 1981) yang erupakan pengganti HIR (Het
Herziene Inlandish Reglement) atau RIB (Reglement Indonesia yang diperbaharui).
b. Segi Materiil
Adalah KUHP yang berisi:

Jenis-lenis perbuatan

Pihak-pihak yang bersangkutan

Berat ringannya hukuman

KUHP terdiri dari 3 buku (pasal 1 s/d 569) sedang diperbaharui menunggu
persetujuan

dari DPR RI) :

Buku I : Aturan Umum Bab I-IX


Buku II : Kejahatan Bab I-XXXI
Buku III

: Pelanggaran Bab I-IX

Contoh hukum pidana : Pembunuhan, Penculikan, Perkosaan, Pencurian, dll.


Yang terkait dengan Hukum Publik :
a. Korban; ada korban hidup dan korban meninggal. Korban hidup dibawa ke UGD,
korban meninggal dibawa ke Instalansi Kedokteran Forensik.
b. Saksi; harus lebih dari satu orang.
c. Tersangka; Indonesia menganut asas praduga tak bersalah. Beda antara
terdakwa dan terpidana, kalau terdakwa adalah tersangka yang sampat ke
pengadilan, sedangkan terpidana adalah terdakwa yang telah diputuskan
bersalah oleh hakim.
d. Penyidik; penyidik adalah pejabat Polisi negara RI atau pejabat pegawai negeri
sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang.

e. Jaksa atau penuntut umum.


f.

Hakim; ada 3 orang, 1 hakim ketua dan 2 hakim anqgota.

g. Pembela atau pengacara


h. Panitera adalah petugas di pengadilan yg tugasnya mencatat jalannya
persidangan.
Sanksi kukum publik :
a. masuk penjara dan tidak bisa diganti dengan uang (kebalikan hukum perdata)
b. pidana ekonomi (hukum penjara dan denda), misal pada kasus korupsi
2. Hukum Privat (Perdata)
Hukum privat adalah hukum yang mengatur hubungan antara warga negara dengan
warga negara, misal sewa-menyewa, jual beli, warisan, dll.
Yang terkait dalam hukum privat :
a. penggugat
b. tergugat
c. pengacara
note : a dan b boleh datang ke pengadilan dan menjadi pembela untuk dirinya
sendiri biar lebih murah. Nah, kalo a dan b punya duit boleh nyewa c.
Sanksi dari hukum privat adalah ganti rugi uang.
UU no. 8 tahun 1999 tentang UU perlindungan konsumen mempunyai sanksi pidana
dan perdata. Pihak rumah sakitpun termasuk di dalamnya. Namun, UU ini masih ada
pro dan kontra di kalangan rumah sakit. Apakah UU tersebut sesuai dengan RS
karena paramedis = produsen dan pasien = konsumen. Ada yang punya salinan UU
perlindungan konsumen??

VISUM ET REPERTUM
Dalam perundang-undangan, tidak disebutkan Visum et repertum (VeR) yang

ada ialah "Surat Keterangan Medik" dan "Surat Keterangan Ahli".


Pengertian Visum et Repertum menurut LN no. 350 Tahun 1937 adalah laporan
tertulis dokter atas barang bukti yang diajukan oleh penyidik (polisi--red) sesuai
permohonan penyidik yang akan dilaporkan untuk keperluan pemeriksaan dalam
proses penyelidikan yang dibuat berdasarkan sumpah. (LN = Lembar Negara, yang
buat Visum et Repertum hanya dokter. Dokter gigi gak buat. Temen-temen jangan
berkecil hati karena kita masih bisa bantuin para dokter ketika mengidentifikasi korban.

Tentunya kita bantu sesuai dengan kelimuan kita. Contohnya aja dokter gigi bisa
bantu mengidentifikasi korban kebakaran yang udah gak kelihatan bentuknya lewat
Berdasarkan pengertian di atas, ada 5 hal penting tentang Visum et Repertum :
a. Laporan tertulis dari dokter
b. Permintaan tertulis dari penvidik / pihak yang wajib
c. Terhadap hasil pemeriksaan barang bukti peradilan medis.
d. Mengingat sumpah / janji pada waktu menerima jabatan (LN No. 350 Tahun 1937)
e. Pada suatu saat. Guna Visum et Repertum yaitu :
1. VeR merupakan alat bukti yang sah sebagai bahan pertimbangan hakim dalam
penerapan keputusan berdasarkan pasal 184 ayat 1 KUHAP, alat bukti tersebut
meliputi :
a) Keterangan saksi
b) Keterangan ahli
c) Surat
d) Petunjuk
e) Keterangan terdakwa
Untuk keterangan terdakwa ini harus dikonfirmasi ulang dengan keempat alat
bukti lainnya.
LaIu,dalam memutuskan perkara, paling tidak dipenuhi oleh 2 alat bukti di atas,
ditambah dengan keyakinan hakim (tidak subyekif karena pasal-pasaI tertentu
sudah mengatur tentang hubungan famili hakim, dimana dalam tingkat keturunan
tertentu, hakim harus mengundurkan diri).
2. untuk proses penyidikan lebih lanjut.
Bagian-bagian dari Visum et Repertum:
1. Pembukaan : pro yustisia
Pembukaan ini terdapat di bagian atas laporan, untuk memenuhi persyaratan yuridis,
pengganti materai.
2. Visum et Repertum menyatakan jenis dari bukti atau pengganti barang bukti.
3. Pendahuluan (Bersifat obyektif administratif)
Memuat identitas dokter pemeriksa pembuat VeR, ldentitas peminta VeR, waktu dan
tempat dilakukannya pemeriksaan, dan identtas barang bukti (manusia), sesuai
dengan identitas yang tertera di dalam surat permintaan VeR dari pihak penyidik dan
label atau segel.

4. Pemberitaan atau hasil pemerik-saan (bersifat obyektif medis)


Memuat segala sesuatu yang dilihat dan ditemukan pada barang bukti yang
diperiksa oleh dokter, denqan atau tanpa pemeriksaan lanjutan (pemeriksaan
laboratorium). Pemeriksaan lanjutan dilakukan bila dianggap perlu, sesuai dengan
kasus dan ada tidaknya indikasi untuk itu.
5. Kesimpulan (bersifat subyektif medis)
Memuat inti sari dari bagian pemberitaan atau hasil pemeriksaan, yang disertai
dengan pendapat dokter yang bersangkutan sesuai dengan pengetahuan dan
pengalaman yang dimilikinya.
6. Penutup
Memuat pernyataan kalaub VeR tersebut dibuat atas sumpah dokter dan menurut
pengetahuan yang sebaik-bainya dan sebenar-benarnya. Berdasarkan LN no. 350
tahun 1937 dan KUHP UU no. 8 tahun 1981.
KaIo barang bukti yq diperiksa adalah mayat yang diduga atau diketahui merupakan
akibat dari suatu tindak pidana, pak dokter yg memeriksa harus menjelaskan ke penyidik
tentang:
a) penentuan identitas
b) perkiraan saat kematian
c) sebab kematian
d) perkiraan / penentuan cara kematian
Kalo yang diperiksa korban hidup pada kasus perlukaan (penganiayaan), selain identitas
korban perlu diberikan kejelasan perihal jenis luka dan jenis kekerasan serta kualifikasi
luka. Kualifikasi luka bisa menentukan berat ringannya hukuman bagi si pelaku.
Kedudukan Visum et Repertum :
1. VeR merupakan keterangan ahli, diatur dalam :
-

pasal 1 ayat 28 KUHAP

pasal 186 KUHAP

Note : VeR ini harus disertai dengan kehadiran dokter di pengadilan.


2. VeR merupakan surat, diatur dalam :
-

Pasal 187 ayat (c) KUHAP

LN No. 350 tahun 1937

Note : cukup hanya VeR saja di pengadilan. Pasal 187 ayat (c) berisi : Sesuatu yang
telah dikuatkan dengan sumpah dapat dijadikan alat bukti yang sah.

3. VeR dapat juga merupakan pengganti barang bukti yang dipakai sebagai alat
bukti yang sah di pengadilan.
Dasar hukum Visum et Repertum (KUHAP) :
Pasal 1 ayat 28

Saksi ahli

Pasal 120

Permintaan kepada ahli

Pasal 133

Permintaan kepada ahli

Pasal 134

Pemberitahuan kepada keluarga

Pasal 135

Penggalian mayat

Pasal 136

Biaya

Pasal 161

Tentang sumpah

Pasal 170

Menyimpan rahasia

Pasal 179

Pendapat seorang ahli

Pasal 184

Alat bukti

PP NO. 27 Tahun 1983, LN No.36 Tahun 1983 tentang pelaksanaan KUHAP Bab II
Ayat 1
a. Penyidik dijabat oleh pejabat kepolisian negara yang berpangkat
sekurang-kurangnya Pembantu Letnan Dua.
b. Pejabat

Pegawai

Negeri

Sipil

tertentu yang sekurang-kurangnya

berpangkat Pengatur Muda tingkat I (golongan II-b) atau yang disamakan


dengan itu.
Ayat 2
Dalam hal di suatu sektor Kepolisian tidak ada pejabat penyidik sebagaimana
yang dimaksud ayat 1 huruf a, maka komandan sektor Kepolisian yang
berpangkat Bintara di bawah Pembantu Letnan Dua Polisi karena jabatannya
adalah penyidik
PASAL DAN ATURAN HUKUM YANG BERKAITAN DENGAN PENYIDIK.
KUHAP pasal 6 ayat 1
Penyidik adalah :
a.

Pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia

b. Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh udangundang

Surat Keputusan Menhankam/Pangab No. Kep/B/17/vi/1974 tentang Penyidik dan


pembantu penyidik
Pasal 1 ayat 2 :
Penyidikan dilakukan oleh:
(a) Penyidik yang dijabat oreh pejabat Kepolisian Negara yang berpangkat
sekurang-kurangnya Pembantu Letnan Dua
(b) Pembantu Penyidik yang dijabat oleh pejabat Kepolisian Negara yang
berpangkat Sersan Dua sampai dengan Sersan Mayor dan anggota-anggota
kepolisian khusus yang atas usul Komandan / Kepala Jawatan / instansi Sipil
pemerintah diangkat oleh Kapolri

PERUNDANG-UNDANGAN DAN PERATURAN YANG BERKAITAN DENGAN


PEKERJAAN DOKTER DI DALAM MEMBANTU PERADILAN
Pasal I (28) KUHAP
Keterangan ahli adalah keterangan yang diberikan oleh seseorang yang memiliki
keahlian khusus. tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara
pidana guna kepentingan pemeriksaan.
Pasal 120 KUHAP
1. Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat meminta pendapat orang ahli
atau orangn yang memeiliki keahlian khusus.
2. Ahli tersebut mengangkat sumpah atau mengucapkan janji di muka penyidik
bahwa ia akan memberikan keterangan menurut pengetahuannya yang sebaikbaiknya kecuali bila disebab harkat serta martabat, pekerjaan atau jabatannya
yang mewajibkan ia menyimpan rahasia dapat menolak untuk memberikan
keterangan yang diterima.
Pasal 133 KUHAP
1. Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik
luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan
tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada
ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan dan atau ahli lainnya.
2. Permintaan keterangan ahli sebagai mana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan
secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan
luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.
3. Mayat yang dikirm kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah
sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhapap
mayat tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan cap
jabatan yang diletakan pada ibu jari atau bagian lain badan mayat.
Pasal 134 KUHAP
1. Dalam hal sangat diperlukan dimana untuk kepentingan pembuktian bedah
mayat tidak mungkin lagi dihindari, penyidik wajib memberitahukan terlebih
dahulu kepada keluarga korban.

2. Dalam hal keluarga keberatan, penyidik wajib menerangkan dengan sejelasjelasnya tentang maksud dan tujuan perlu dilakukannya pembedahan tersebut.
3. Apabila dalam waktu 2 hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga atau pihak
yang perlu diberitahu tidak ditemukan, penyidik segera melaksanakan ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat (3) undang-undang ini.
Pasal 135 KUHAP
Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan perlu melakukan penggalian mayat,
dilaksanakan menurut ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat (2) dan
pasal 134 ayat (1) undang-undang ini.
Pasal 136 KUHAP
Semua biaya yang dikeluarkan untuk kepentingan pemeriksaan sebqgaiman dimaksud
dalam bagian kedua Bab XIV ditanggung negara.
Pasal 160 KUHAP
1. ...
2. ...
3. Sebelum memberikan keterangan, saksi wajib mengucapkan sumpah atau janji
menurut agamanya masing-masing, bahwa ia akan memberikan keterangan
yang sebenarnya dan tidak lain dari pada yang sebenarnya.
4. jika peradialn menggangap perlu, seorang saksi atau ahli wajib bersumpah atau
berjanji sesudah saksi atau ahli itu selesai memberikan keterangan.
Pasal 161 KUHAP
1. Dalam hal saksi atau ahli tanpa alasan yang sah menolak untuk bersumpah atau
berjanji sebagaimana dimaksud dalam pasal 160 ayat (3) dan ayat (4), maka
pemeriksaan terhadapnya tetap dilakukan, sedang ia dengan surat penetapan
hakim ketua sidang dapat dikenakan sandera di tempat rumah tahanan negara
paling lama empat belas hari.
2. dalam hal tenggang waktu penyanderaan tersebut telah lampau dan saksi atau
ahli tetap tidak mau disumpah atau mengucapkan janji, maka keterangan yang
telah diberikan merupakan keterangan yang dapat menguatkan keyakinan
hakim.

Pasal 162 KUHAP


1.

Jika saksi sesudah memberikan keterangan dalam penyidikan meninggal dunia


atau karena halangan yang sah tidak dapat hadir di sidang atau tidak dapat
dipanggil karena jauh tempat kediaman atau tempat tinggalnya atau karena
sebab lain yang berhubungan dengan kepentingan negara, maka keterangan
yang telah diberikannya itu dibacakan.

2.

Jika keterangan itu sebelumnya telah

diberikan di bawah sumpah, maka

keterangan itu disamakan nilainya dengan keterangan di bawah sumpah yang


diucapkan di sidang.
Pasal 170 KUHAP
1.

Mereka yang karena pekerjaan, harkat martabat atau jabatannya diwajibkan


menyimpan

rahasia,

dapat

minta

dibebaskan

dari

kewajiaban

untuk

memberikan keterangan sebagai saksi, yaitu tenatng hal yang dipercayakan


kepada meraka.
2.

Hakim menentukan sah atau tidaknya segala alasan untuk permintaan


tersebut.

Pasal 179 KUHAP


1. Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau
dokter ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.
2. Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang
memberikan keterangan ahli. dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan
sumpah atau janji akan rnemberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan yang
sebenarnya menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya.
Pasal 168 KUHAP
Kecuali ditentukan lain dalam undang-undang ini, maka tidak dapat didengar
keterangannya dan dapat mengundurkan diri sebagai saksi :
a.

keluarga atau semenda dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai derajat
ketiga dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa,

b.

saudara dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa, saudara ibu
atau saudara bapak, juga mereka yang mempunyai hubungan karena
perkawinan dan anak-anak saudara terdakwa sampai derajat tiga.

c.

suami atau isteri terdakwa meskipun sudah bercerai atau yang bersama-sama
sebagai terdakwa.

Pasal 169 KUHAP


1.

Dalarn hal mereka sebagaimana dimaksud dalam pasal 168 menghendakinya


dan penuntup umum serta terdakwa secara tegas rnenyetujuinya dapat
memberi keterangan di bawah sumpah.

2.

Tanpa

persetujuan

sebagaimana

dimaksud

dalam

ayat

(1),

mereka

diperbolehkan memberikan keterangan tanpa surnpah.


Pasal 180 KUHAP
1.

Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduknya persoalan yang timbul di


sidang pengadilan, hakim ketua sidang dapat minta keterangan ahli dan dapat
minta agar diajukan bahan baru oleh yang berkepentingan.

2.

Dalam hal timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasehat
hukum terhadap hasil keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
hakim memerintahkan agar hal itu dilakukan penelitian ulang.

3.

Hakim karena jabatannya dapat memerintahkan untuk dilakukan penelitian


ulang sebagaimana tersebut pada ayat (2).

4.

Penelitian ulang sebagaimana tersebut pada ayat (2) dan (3) dilakukan oleh
instansi semula dengan komposisi personil yang berbeda dan instansi lain
yang mempunyai weweang untuk itu.

Pasal 183 KUHAP


Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan
sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu
tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.
Pasal 184 KUHAP
1. Alat bukti yang sah ialah :
a. Keterangan saksi
b. Keterangan ahli

c. Surat
d. Petunjuk
e. Keterangan terdakwa
2. hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan

Pasal 186 KUHAP


Keterangan ahli adalah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan
Pasal 187 KUHAP
Surat sebagimana tersebut pada Pasal 184 ayat (1) huruf c, dibuat atas sumpah jabatan
atau dikuatkan dengan sumpah, adalah :
a. ...
b. ...
c. Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan
keahliannya mengenai sesuatu keadaan yang diminta secara resmi dari
padanya.
d. ...
Pasal 65 KUHAP
Tersangka atau terdakwa berhak untuk mengusahakan dan mengajukan saksi dan atau
seseorang yang memiliki keahlian khusus guna memberikan keterangan yang
menguntungkan bagi dirinya.
Pasal 222 KUHAP
Barang siapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan
pemeriksaan mayat forensik, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan
bulan atau denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.
Pasal 224 KUHAP
Barang siapa dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa menurut undang-undang
dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban berdasarkan undang-undang yang harus
dipenuhinya, diancam :
1. dalam perkara pidana, dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan,

2. dalam perkara lain, dengan pidana penjara paling lama enam bulan.
Lembaran Negara No. 69 tahun 1960
Dalam L.N. no. 69 tahun 1960, terdapat peraturan pemerintah no. 26 tahun 1960, yaitu
tentang lafal sumpah dokter. Dalam lafal sumpah dokter tersebut terdapat kalimat saya
akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan
karena keilmuan saya sebagai dokter.
Lembaran Negara no. 21 tahun 1966
Dalam L.N. no. 21 tahun 1966 terdapat peraturan pemerintah no. 10 tahun 1966, yaitu
tentang wajib simpan rahasia kedokteran.
Pasal 1
Yang dimaksud dengan rahasia kedokteran ialah segala sesuatu yang diketahui oleh
orang-orang tersebut dalam pasal 3 pada waktu atau selama melakukan pekerjaannya
dalam lapangan kedokteran.
Pasal 2
Pengetahuan tersebut pasal 1 harus dirahasiakan oleh orang-orang tersebut dalam
pasal 3, kecuali apabila suatu peraturan lain yang sederajat atau lebih tinggi daripada
peraturan pemerintah ini menentukan lain.
Pasal 3
Yang diwajibkan menyimpan rahasia yang dimaksud dalam pasal 1 adalah :
a. Tenaga kesehatan menurut pasal 2 undang-undang tentang tenaga kesehatan
(L.N. no. 7 tahun 1963)
b. Mahasiswa kedokteran, murid yang bertugas dalam lapangan pemeriksaan,
pengobatan dan atau perawatan, dan orang lain yang ditetapkan oleh Menteri
Kesehatan.
Pasal 4
Terhadap pelanggaran ketentuan mengenai wajib simpan rahasia kedokteran yang tidak
atau tidak dapat dipidanan menurut pasal 322 atau pasal 112 KUHAP, Menteri
Kesehatan dapat melakukan tindakan administratif berdasarkan pasal 11 Undangundang tentang Tenaga Kesehatan.

Pasal 5
Apabila pelanggaran yang dimaksud dalam pasal 4 dilakukan oleh mereka yang disebut
dalam pasal 3 huruf b, maka Menteri Kesehatan dapat mengambil tindakan-tindakan
berdasarkan wewenang dan kebijaksanaannya.
Pasal 6
Dalam melaksanakan peraturan ini Menteri Kesehatan dapat mendengarkan Dewan
Pelindung Susila Kedokteran dan atau Badan-badan lain bilamana perlu.
Pasal 7
Peraturan ini dapat disebut Peraturan Pemerintah Tentang Wajib Simpan Rahasia
Kedokteran
Pasal 322 KUHAP
1. Barang siapa dengan sengaja membuka rahasia yang wajib simpannya karena
jabatan atau pencariannya yang sekarang maupun dahulu, daincam dengan
pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak
sembilan ribu rupiah
2. Jika kejahatan dilakukan terhadap seorang tertentu maka perbuatannya itu
hanya dapat dituntut atas pengaduan orang itu.
Pasal 48 KUHP
Barang siapa melakukan perbuatan karena pengaruh daya paksa, tidak dipidana.
Pasal 50 KUHP
Barang siapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan ketentuan undang-undang
tidak dipidana.
Pasal 51 KUHP
1. Barang siapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan perintah jabatan yang
diberikan oleh penguasa yang berwenang, tidak dipidana.
2. perintah jabatan tanpa wewenang, tidak menyebabkan hapusnya pidana, kecuali
jika yang diperintah, dengan itikad baik mengira bahwa perintah diberikan
dengan

wewenang

pekerjaannya.

dan

pelaksanaannya

termasuk

dalam

lingkungan

Pasal 108 KUHAP


1. ...
2. ...
3. Setiap pegawai negeri dalam rangka melaksanakan tugasnya yang mengetahui
tentang terjadinya peristiwa yang merupakan tindak pidana wajib melaporkan hal
itu kepada penyelidik atau penyidik.