Anda di halaman 1dari 9

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah Gastroenteritis merupakan peradangan pada lambung dan usus yang ditandai dengan gejala diare dengan atau tanpa disertai muntah. Dan disertai dengan peningkatan tubuh. Diare yang dimaksudkan adalah buang air besar dengan jumlah lebih dari 4 kali dalam bentuk feses yang cair dapat disertai dengan darah atau lendir (Suratun, 2010). Salah satu penyakit yang termasuk masalah kesehatan masyarakat umum adalah gastroenteritis. Hal ini dibuktikan pada negara berkembang, banyak terjadi penyakit infeksi gastroenteritis termasuk Indonesia. Karena tingginya angka kesakitan yang ditimbulkan, gastroenteritis dapat digolongkan penyakit yang berbahaya, karena banyaknya penderita diare kekurangan cairan (dehidrasi) berakhir dengan kematian. Diperkirakan terdapat antara 20-50 kejadian diare per 100 penduduk setahunnya. Kematian terutama disebabkan karena penderita mengalami dehidrasi berat. Antara 70-80% penderita dapat pada balita. Data departemen kesehatan menunjukkan, diare menjadi pembunuh kedua balita di Indonesia setelah radang paru atau pneumonia (Makara, Kesehatan, Vol.14, No.1, Juni 2010). Penyakit gastroenteris mempunyai gambaran penting yaitu diare dan muntah, akibatnya pasien akan kehilangan cairan dan elektrolit terutama natrium dan kalium yang akhirnya menimbulkan asidosis metabolik. Disamping itu, keadaan kekurangan cairan ini akibat tidak segera diatasi akan menyebabkan syok hipovolemik, maka akibatnya jika pada anak terjadi dehidrasi akan menyebabkan kematian, karena dimana 80 % bagian dari tubuh anak terdiri dari cairan. Gastroenteritis merupakan kedaruratan medis yang memerlukan pertolongan segera. Diagnosa secara dini serta pengelolaan yang tepat sangat diperlukan untuk menghindari cacat yang lebih parah dan diharapkan pasien dapat sembuh kembali. Untuk itu tenaga perawat/paramedis dituntut untuk berperan aktif dalam mengatasi keadaan tersebut serta mampu memberikan asuhan keperawatan kepada keluarga dan penderita.

1.2

Tujuan Penulisan 1. Tujuan umum Kelompok mampu menjelaskan konsep penyakit Gastroenteritis serta mampu mengelola asuhan keperawatan pada klien dengan diagnosa Gastroenteritis di ruang Yasmin Rumah Sakit Karya Bhakti Bogor. 2. Tujuan khusus a. Mampu menguraikan konsep dan asuhan keperawatan pada pasien Gastroenteritis b. Melakukan pengkajian pada pasien dengan gangguan pencernaan ; Gastroenteritis c. Merumuskan diagnosa keperawatan pada pasien dengan gangguan sistem pencernaan; Gastroenteritis d. Menyusun rencana tindakan pada pasien dengan gangguan sistem pencernaan; Gastroenteritis e. Mengimplementasikan rencana yang telah disusun dalam bentuk

pelaksanaan tindakan keperawatan pada pasien dengan gangguan sistem pencernaan; Gastroenteritis. f. Mengevaluasi tindakan keperawatan yang sudah dilaksanakan pada pasien dengan gangguan sistem pencernaan; Gastroenteritis g. Mendokumentasikan proses asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan sistem pencernaan; Gastroenteritis.

1.3

Ruang Lingkup Ruang lingkup dari pembahasan masalah dalam makalah ini adalah konsep yang berkenaan dengan masalah gangguan sistem pencernaan; Gastroenteritis dan proses asuhan keperawatan pada pasien An. V dengan Gastroenteritis di ruang Yasmin Rumah Sakit Karya Bhakti Bogor.

BAB II LANDASAN TEORI

2.1

Konsep Penyakit 1. Pengertian Gastroenteritis Gastroenteritis adalah radang dari lambung ke usus yang memberikan gejala diare dengan disertai muntah atau tanpa muntah ataupun dengan muntah besar (Arif Mansjoer. 2000). Gastroenteritis adalah inflamasi membrane mukosa lambung dan usus halus yang ditandai dengan muntah-muntah dan diare yang berakibat kehilangan cairan elektrolit yang menimbulkan dehidrasi dan gejala keseimbangan elektrolit (Cecily Betz, 2002). Gastroenteritis adalah keadaan frekuensi buang air besar (defekasi) dengan lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali pada anak dengan konsistensi encer, dapat berwarna hijau atau dapat bercampur lendir dan darah (Ngastiyah, 1997). Dari pengertian gastroenteritis diatas, dapat disimpulkan istilah

gastroenteritis digunakan secara luas untuk menguraikan pasien yang mengalami perkembangan diare dimana terdapat radang pada lambung dan usus yang dapat mengakibatkan dehidrasi dan gejala kesimbangan elektrolit.

2.

Etiologi A. Faktor Infeksi a. Infeksi internal yaitu infeksi pencernaan makanan yang meruapakan penyebab utama diare pada anak meliput infeksi internal sebagai berikut: Infeksi bakteri : Vibrio E Colli, Salmonella, Stigella, Campylobacter, Yersinia, Aeromonas dan sebagainya. Infeksi virus : enterovirus (virus Echo, Coxsackie, Poliomyeletis) Adenovirus, Rostavirus, Astrovirus. Infeksi parasit : cacing (Ascaris, Trichuris, Oxyuris, Strongyloides) ; Protozoa (Entamoeba histolytica, Grandia lamblia, Trichomonas hominis), Jamur (Candida Albicans).

b. Infeksi parenteral ialah infeksi di luar alat pencernaan makanan seperti Otitis Media Akut (OMA), Tonsilitis / Tonsilofaringitis,

Bronkopneumonia, Ensefalitis, dan sebagainya. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur di bawah 2 tahun. B. Faktor Malabsorpsi a. Malabsorbsi karbohidrat : disakarida (intoleransi laktosa, maltosa, dan sukrosa) ; monosakarida (intoleransi gluksosa, fruktosa, dan galaktosa). b. Malabsorpsi lemak c. Malabsorpsi protein C. Faktor Makanan Makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan tertentu. D. Faktor Psikologis Rasa takut dan cemas E. Faktor lingkungan Kebersihan lingkungan tidak dapat diabaikan. Pada musim penghujan, dimana air membawa sampah dan kotoran lainnya, dan juga pada waktu kemarau dimana lalat tidak dapat dihindari apalagi disertai tiupan angin yang cukup besar, sehingga penularan lebih mudah terjadi. Persediaan air bersih kurang sehingga terpaksa menggunakan air seadanya, dan terkadang lupa cuci tangan sebelum dan sesudah makan

3.

Klasifikasi Gastroenteritis dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa faktor: A. Berdasarkan lama waktu a. Diare akut Menurut World Gastroenterology organitation Global Guidelines 2005, diare akut didefinisikan sebagai pasase tinja cair / lembek dengan jumlah lebih banyak dari normal, berlangsung kurang dari 14 hari. b. Diare kronik Adalah diare yang berlangsung lebih dari 15 hari. c. Diare persisten Merupakan diare berlangsung selama 15 sampai 30 hari yang merupakan kelanjutan dari diare akut (peralihan akut dan kronik,

dimana lama diare kronik yang dianut yaitu yang berlangsung lebih dari 30 hari). B. Berdasarkan mekanisme patofisiologik a. Osmotik Adalah akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat di serap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare. b. Sekretorik

C. Berdasarkan derajatnya a. b. c. Diare tanpa dehidrasi Diare dengan dehidrasi ringan Diare dengan dehidrasi berat

D. Berdasarkan penyebab infeksi atau tidak Diare infektif adalah bila penyebabnya infeksi sedangkan diare non infektif bila tidak ditemukan infeksi sebagai penyebab pada kasus tersebut. E. Berdasarkan penyebab organik atau tidak Diare organik adalah bila ditemukan penyebab anatomik, bakteriologik, hormonal atau toksikologik. Diare fungsional bila tidak dapat ditemukan penyebab organik.

4.

Patofisiologi Gastroenteritis bisa disebabkan oleh 4 hal, yaitu faktor infeksi (bakteri, virus, parasit), faktor malabsorbsi dan faktor makanan dan faktor makanan dan faktor psikologis. Penyebab tersering diare adalah infeksi virus atau bakteri di usus halus distal atau usus besar. Iritasi usus oleh suatu pathogen mempengaruhi lapisan mukosa usus sehingga terjadi peningkatan produk-produk sekretorik, termasuk mukus. Iritasi oleh mikroba juga mempengaruhi lapisan otot sehingga terjadi peningkatan motilitas. Peningkatan motilitas menyebabkan banyak air dan elektrolit terbuang karena waktu yang tersedia untuk penyerapan zat-zat tersebut di kolon berkurang. Individu yang mengalami diare berat dapat meninggal akibat syok hipovolemik dan kelainan elektrolit.

Diare yang diakibatkan malabsorbsi makanan akan menyebabkan makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare. Tertelannya makanan yang beracun juga dapat menyebabkan diare karena akan mengganggu motilitas usus. Iritasi mukosa usus mengakibatkan hiperperistaltik sehingga terjadi berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehinggan timbul diare. Sebaliknya jika peristaltik menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan, selanjutnya timbul diare pula. Adanya iritasi mukosa usus dan peningkatan volume cairan dirongga usus menyebabkan klien mengeluh abdomen terasa sakit. Selain karena 2 hal itu, nyeri abdomen atau kram timbul karena metabolisme karbohidrat oleh bakteri diusus yang menghasilkan gas H2 dan C02 yang menimbulkan kembung dan flatus berlebihan. Biasanya pada keadaan ini klien akan merasa mual bahkan muntah serta nafsu makannya menurun. Karena terjadi ketidakseimbangan asam-basa dan elektrolit. Bila keadaan ini terus berlanjut dan klien tidak mau makan maka, akan menimbulkan gangguan nutrisi sehingga klien lemas. Kehilangan cairan dan elektrolit yang berlebihan akan menyebabkan klien terjatuh dalam keadaan dehidrasi. Tubuh yang kehilangan cairan dan elektrolit yang berlebihan membuat cairan ekstraseluler dan intraseluler menurun. Dimana selain air, tubuh juga kehilangan Na, K dan Ion Karbonat. Bila keadaan ini berlanjut terus, maka volume darah juga berkurang. Tubuh mengalami gangguan sirkulasi, perfusi jaringan terganggu dan akhirnya dapat menyebabkan syok hipovolemik dengan gejala denyut jantung meningkat, nadi cepat tapi kecil, tekanan darah menurun klien sangat lemah kesadaran menurun. Faktor psikologis juga dapat menyebabkan diare. Karena faktor psikologis (stres, marah, takut) dapat merangsang kelenjar adrenalin dibawah pengendalian siste, pernapasan simpatis untuk merangsang pengeluaran hormon yang kerjanya mengatur metabolisme tubuh. Sehingga bila terjadi stres maka, metabolisme akan terjadi peningkatan dalam bentuk peningkatan mortalitas usus. (Ngastiyah, 1997; Barbara C Long, 1999).

5.

Manifestasi Klinis Pasien dengan diare akibat infeksi sering mengalami nausea, muntah, nyeri perut sampai kejang perut, demam dan diare terjadi renjatan hipovolemik harus dihindari kekurangan cairan menyebabkan pasien akan merasa haus, lidah kering, tulang pipi menonjol, turgor kulit menurun, serta suara menjadi serak, gangguan biokimiawi seperti asidosis metabolik akan menyebabkan frekuensi pernafasan lebih cepat dan dalam. Bila terjadi renjatan hipovolemik berat maka denyut nadi cepat (lebih dari 120 kali/menit) tekanan darah menurun tak terukur, pasien gelisah, muka pucat, ujung ekstremitas dingin dan kadang sianosis, kekurangan kalium dapat menimbulkan aritmia jantung. Perfusi ginjal dapat menurun sehingga timbul anuria, sehingga bila kekurangan cairan tak segera diatasi dapat timbul penulit berupa nekrosis tubular akut. Secara klinis dianggap diare karena infeksi akut dibagi menjadi dua golongan pertama, kolerifrom, dengan diare yang terutama terdiri atas cairan saja. Kedua disentriform, pada saat diare didapatkan lendir kental dan kadangkadang darah.

6.

Penatalaksanaan A. Penatalaksanaan medik a. Pemberian cairan Pemberian cairan pada pasien diare dan memperhatikan derajat dehidrasinya dan keadaan umum. Pemberian cairan per oral Pasien dengan dehidrasi ringan dan sedang cairan yang di berikan peroral berupa cairan yang berisikan NaCl dan Na HCO3, KCL dan glukosa untuk diare akut. Pemberian cairan parenteral Sebenarnya ada beberapa jenis cairan yang di perlukan sesuai dengan kebutuhan pasien, tetapi semuanya itu tergantung tersedianya cairan setampat. Pada umumnya cairan Ringer Laktat (RL) di berikan tergantung berat / ringan dehidrasi, yang di

perhitungkan dengan kehilangan cairan sesuai dengan umur dan berat badannya. Dehidrasi ringan 1 jam pertama 25 50 ml / kg BB / hari, kemudian 125 ml / kg BB / oral. Dehidrasi sedang 1 jam pertama 50 100 ml / kg BB / oral kemudian 125 ml kg BB / hari. Dehidrasi berat 1 jam pertama 20 ml / kg BB / jam atau 5 tetes / kg BB / menit (inperset 1 ml : 20 tetes), 16 jam nerikutnya 105 ml / kg BB oralit per oral.