Anda di halaman 1dari 22

GAMBARAN BIOLOGI, PERKEMBANGAN, DAN STRUKTUR KULIT

Perkembangan dan Sktruktur Kulit Da id !" #$u Penda$uluan Kulit merupakan organ yang melindungi host nya dari lingkungan sekitar, yang pada waktu bersamaan memungkinkan terjadinya interaksi dengan lingkungan. Kulit lebih statik, merupakan perisai yang tak dapat ditembus untuk melawan efek buruk dari luar tubuh. Sebetulnya, kulit merupakan suatu yang dinamis, kompleks, tersusun dari sel sel yang terintegrasi, jaringan jaringan, dan elemen elemen matriks yang memediasi sebuah keberagaman susunan fungsi: kulit berfungsi sebagai barrier permeabilitas fisik, perlindungan dari agen agen infeksi, termoregulasi, sensasi, proteksi dari ultraviolet (U !, regenerasi dan penyembuhan luka, dan penampilan luar tubuh. "erbagai fungsi kulit ini dimediasi oleh satu atau lebih bagian utama kulit epidermis, dermis, dan hipodermis. "agian bagian ini bersifat bebas dan merupakan satuan fungsional# tiap tiap bagian kulit bergantung satu sama lain dan terhubung dengan jaringan disekitarnya untuk regulasi dan modulasi dari struktur normal dan fungsi pada tingkat molekuler, seluler, dan level jaringan se$ara keseluruhan. Sebaliknya epidermis dan stratum korneum di bagian luarnya merupakan bagian yang luas dari barrier fisik dari kulit, integritas stru$tural kulit se$ara keseluruhan berada pada lapisan dermis dan hipodermis. %ktifitas antimikroba diadakan oleh sistem imun bawaan dan antigen presenting dendritic cell dari lapisan epidermis, sel sel imun sirkulasi yang bermigrasi dari dermis, dan antigen presenting cell pada lapisan dermis. &roteksi terhadap radiasi U dilakukan oleh sebagian besar sel sel superfisial pada epidermis. 'nflamasi dimulai dengan keratinosit epidermis atau sel sel imun pada dermis, dan aparatus sensorik yang berasal dari serabut saraf yang awalnya melintasi hipodermis menuju dermis dan epidermis, yang berakhir pada organ penerima khusus atau akhir dari saraf yang bebas. &embuluh darah besar pada kulit
1

ditemukan pada hipodermis, yang menyediakan transport nutrisi dan sel sel imigrasi. (aringan limfa kutaneus yang melewati dermis dan hipodermis berfungsi sebagai filter terhadap denris dan meregulasi hidrasi jaringan. )apisan epidermis merupakan pelindung khusus dan fungsi sensorik. Kulit juga menentukan tampilan fisik seseorang, yang dipengaruhi oleh pigmentasi oleh melanosit, dengan kontur tubuh, penampilan oleh usia, pengaruh kerusakan aktinik pada epidermis, dermis, dan hipodermis. Kulit mulai terbentuk selama masa embryogenesis, dimana sinyal interseluler dan intraseluler terjadi se$ara timbal balik antara lapisan jaringan yang berbeda. *ak yang perlu diperhatikan adalah suatu penjalasan yang terintegritas tentang gambaran struktur utama kulit dan bagaimana fungsi fungsi ini memungkinkan kulit untuk men$apai fungsi utamanya, yang diikuti oleh pembahasan tentang asal embriologinya. (uga hal yang diperhatikan adalah gambaran penyakit kutaneus yang bermanifestasi saat fungsi ini mengalami gangguan. &emahaman tentang dasar geneti$ dan molekuler penyakit kulit harus dikonfirmasi, banyak faktor dan elemen elemen pengatur yang memainkan peran penting pada fungsi kulit. E%idermi& +pidermis merupakan bagian kulit yang paling utama yang tersusun, cornified epidermis. +pidermis merupakan suatu struktur yang terbaharui se$ara terus menerus yang tumbuh dari struktur di bawahnya yang disebut pelengkap (unit unit pilosebaseaous, kuku, dan kelenjar keringat!. ,entang ketebalan epidermis berkisar dari -,. sampai /,0 mm, berbanding dengan /,0 sampai .,pada tebal kulit se$ara keseluruhan. Kebanyakan sel sel pada lapisan epidermis adalah keratinosit yang tersusun dalam empat lapisan, yang dinamai sesuai dengan lokasi atau isi struktur sel tersebut. Sel sel ini se$ara agresif berdiferensiasi dari sel sel basal ploriferatif yang menempel pada membran basal epidermis, hingga akhirnya berdiferensiasi, stratum korneum yang terkeratinisasi, merupakan lapisan paling luar dan barrier dari kulit. 1ambahan lainnya di antara keratosit pada berbagai tingkatan antara lain sel sel imigran melanosit, sel sel )angerhans, dan sel sel 2erkel. Sel sel lainnya seperti limposit, seperti limfosit, yang
2

merupakan transient inhabitant pada epidermis dan sangat jarang terdapat pada kulit yang normal. terdapat perbedaan pada epidermis dan pelengkapnya. "eberapa perbedaan ini sangat jelas antara lain seperti ketebalan (misalnya kulit pada palmoplantar vs. kulit pada trunkal!, perbedaan lainnya bersifat mikroskopis. &erubahan patologik pada epidermis dapat terjadi sebagai akibat dari berbagai perbedaan stimuli: trauma mekanik yang berulang (sebagaimana yang terjadi pada liken simpleks kronik!, inflamasi (seperti pada dermatitis atopik dan liken planus!, infeksi (seperti pada veruka vulgaris!, aktivitas sistem imun dan abnormalitas sitokin (seperti pada psoriasis!, autoantibodi (seperti pada pemphigus vulgaris dan bullous phemphigoid!, atau defek geneti$ yang mempengaruhi perbedaan atau protein stru$tural (seperti pada epidermolisis bullosa (+"! simpleks, epidermolitik hyperkeratosis, the ichthyoses, dan penyakit 3arier!. La%i&an E%idermi& La%i&an ba&al" Keratinosit se$ara ectodermal merupakan turunan sel dan merupakan tipe sel primer dalam epidermis, yang diperkirakan sekitar 4- persen dari seluruh sel. "entuk akhir dari sel sel ini adalah membantu komponen untuk barrier epidermis sebagai stratum korneum. 3emikian juga, banyak fungsi dari epidermis yang diperoleh sedikit demi sedikit dari studi tentang struktur dan perkembangan keratinosit. 3ifensiasi keratinosit (keratinisasi! yang se$ara genetik terprogram, terregulasi, kompleks seri dari perubahan morfologi dan metabolik yang merupakan titik akhir merupakan akhir diferensiasi., keratinosit mati (korneosit! yang mengandung filament keratin, protein matriks, dan sebuah protein yang memperkuat membran plasma dengan permukaan yang bersatu dengan lipid. Keratin merupakan golongan dari filament intermediat dan merupakan tanda pada semua sel epitel, termasuk keratatinosit. Keratin umumnya menjalankan peran structural predominan dalam sel. )ima puluh empat perbedaan fungsi gen gen keratin telah diidentifikasi pada manusia 5. keratin epitel dan /6 keratin rambut. Ko ekspresi pada pasangan keratin spesifik
3

tergantung pada tipe sel, tipe jaringan, tahap perkembangan, dan kondisi penyakit. )ebih jauh lagi, peran penting dari molekul molekul ini ditekankan pada sejumlah manifestasi panyakit yang timbul akibat mutasi pada gen gen ini. demikian juga, pengetahuan tentang ekspresi keratin, regulasi dan struktur yang menyediakan wawasan ke dalam diferensiasi dan struktur epidermis. )apisan basal (stratum germinativum! mengadung mitotic aktif, keratinosit berbentuk kolumnar yang melekat dengan bantuan filamen keratin (K0 dan K/.! pada 7ona membran basal di hemidesmosome, melekat pada membran lainnya yang mengelilingi sel sel melalui desmosome, dan yang menimbulkan efek pada sel yang lebih superfisial, lapisan epidermis yang terdiferensiasi. %nalisis ultrastruktural mengungkapkan adanya vakuola yang mengikat membran yang mengandung melanosome berpigmentasi yang ditransfer dari melanosit oleh fagositosis. &igmen dalam melanosome berkontribsi untuk pigmentasi kulit keseluruhan yang diartikan se$ara makroskopis. )apisan basal merupakan lokasi primer dari sel sel mitotik aktif pada epidermis. Studi studi tentang kineti$ sel yang mengungkapkan bahwa sel sel lapisan basal menunjukan potensial prolifetatif yang berbeda (stem sel, transit amplifying cell, dan sel sel postmitotik!, dan stiso in vivo dan in vitro mengungkapkan bahwa terdapat sel sel stem epidermal jangka panjang. Karena sel sel basal dapat meluas dalam kultur jaringan dan digunakan untuk membentuk epidermis yang $ukup untuk menutupi seluruh permukaan kulit pada pasein luka bakar, seperti populasi awal yang dianggap mengandung sel stem jangka panjang dengan potensial proliferasi yang luas. Sejumlah besar data mendukung keberadaan dari sel stem epidermal multipoten dalam daerah yang menonjol pada folikel rambut berdasarkan sifat sifatnya. Sel sel dari bagian ini dapat membantu pembentukan yang tidak hanya seluruh satuan pilosebaseous, juga epidermis interfolikel. Keberadaan sumner tambahan populasi sel dalam lapisan basal permukaan epidemis juga didukung oleh sejumlah bukti baik in vivo maupun in vitro. Stem sel putative ini tampak klogenik, yang berkembang se$ara $epat melalui fase S dari siklus sel, dan jarang dibagi selama proses pembaharuan sel. Sebagai
4

tambahan, sel sel ini berkemampuan untuk merespon agen agen eksogen dan endogen. 1ipe sel kedua, transit amplifying cell pada lapisan basal yang berkembang sebagai bagian dari daughter cell yang diproduksi oleh stem sel yang jarang. Sel sel ini menyediakan sejumlah besar pembagian sel yang dibutuhkan untuk menstabilkan proses pembaharuan sel dan paling banyak pada sel bagian basal dalam kompartemen. Setelah menjalani sejumlah pembagian sel, sel sel ini menimbulkan kelas ketiga pada pada sel sel basal epidermal, sel sel postmitotik yang mengalami deferensiasi terminal. &ada manusia, waktu transit normal untuk sel sel basal, dari waktu hilangnya kontak dengan lapisan basal saat memasuki stratum korneum kurang lebih selama /. hari. 1ransit melalui stratum korneum dan deskuamasi berikutnya memerlukan waktu /. hari lainnya. &eriode ini adalah waktu yang dapat diartikan sebagai hiperproliferasi atau tahao berhentinya pertumbuhan. La%i&an S%in'&u&. "entuk, struktur dan kandungan subseluler pada sel spinosus berkaitan dengan posisinya dalam mid epidermis. Sel sel ini dinamakan untuk tampilan seperti tulang belakang (spine! pada marjinal sel dalam potongan histologi. Sel sel spinosus supra basal berbentuk polyhedral dengan nukleus yang bulat. Sel sel ini berdiferensiasi dan bergerak ke atas melalui epidermis, mereka menajdi progresif, lebih pipih dan berkembang menjadi orgaella yang dikenal sebagai lamellar granule. Sel sel spinosus juga mengandung anyaman 8 anyaman yang besar dari filamen keratin, yang membentuk disekitar nukleus dan masuk ke dalam desmosome se$ara perifer. Sel sel spinosus menahan keratin K09K/. yang stabil yang diproduksi dalam lapisan basal tetapi tidak mensintesis messanger ,:% (m,:%! yang baru untuk protein protein ini, ke$uali pada gangguan hiperproliferasi. "agaimanapun, sistesis baru pada pasangan keratin K/9K/- terjadi dalam dalam lapisan epidermis. Keratin ini khas dari pola epidermis yang berdiferensiasi dan juga merujuk pada differentiation specific atau keratinization specific keratins. &ola normal diferensiasi ini bertukar menjadi jalur alternatif pada tahap hiperproliferasi. &ada kondisi seperti psoriasis, keratosis aktinik, dan
5

penyembuhan luka, sintesis K/ dan K/- m,:% dan protein menurun., dan sintesis dan translokasi dari pesan untuk K; dan k/; yang didukung " Kaitan dengan perubahan ekspresi keratin ini terganggu dari diferensiasi normal pada lapisn epidermal di bawahnya. m,:% untuk K; dan K/; tampak melalui epidermis se$ara norma, tetapi pesan hanya ditranslasikan pada stimulus proliferasi. Sel spinosus <spine= dengan desmosome yang melimpah, modifikasi permukaan sel dengan calcium dependent yang mempromosikan adhesi pada sel epitel dan resistensi terhadap stress mekanik. 3alam tiap tiap selterdapat sebuah plak desmosomal, yang terdiri dari plakoglobin polipeptida, desmoplakin ' dan '', anggota dari keluarga cadherin yang menyediakan kandungan adhesive bagian ekstraseluler pada desmosome, yang dikenal dengan core. Sedangkan, domain intraseluler pada bentuk $adherin yang merupakan bagian dari core, domain intraseluler masuk ke dalam plak, yang mengaitkannya dengan filament intermediat (keratin! sitoskeleton. >alaupun desmosome yang dikaitkan dengan adhesive junction, yang berkaitan langsung dalam aktin mikrofilamen pada hubungan sel ke sel. 3esmosome tersebut merupakan mediator yang terintegrasi pada adhesi interseluler yang se$ara jelas ditunjukan pada penyakit yang mengalami gangguan pada struktur ini. penyakit bulosa autoimun seperti phemfigus vulgaris dan folikel pemphigus yang disebabkan oleh antibody yang menargetkan protein desmoglein dalam desmosome. *ilangnya adhesi desmosomal menyebabkan pembulatan khas dan pemisahan keratinosit (acantolysis!, yang akhirnya membentuk lepuhan dalam epidermis. &emphigus vulgaris disebabkan oleh autoantibodi yang se$ara langsung melawan desmoglein 5 dan menyebabkan distrupsi epidermis antara lapisan basal dan suprabasal. 3i sisi lain, desmoglein / mengekpresikan pada lapisan epidermis paling atas., dan antibody terhadap protein ini pada pasien pasien dengan pemphigus folikel yang menyebabkan kulit melepuh pada superfisial. &enyakit lain yang menargetkan kebanyakan lapisan glanular

proteindesmoglein / yang sama tetapi dengan metode dan mekanisme berbeda adalah staphylococcus scalded skin syndrome dan impetigo bulosa, yang mana
6

terjadi peme$ah protease ba$terial dan desmoglein / inaktif, yang menyebabkan kulit superfisial melepuh yang terlihat pemphigus folikel. 2utasi genetik pada komponen desmosomal lainnya mengungkapkan peran terhadap protein protein ini dalam adhesi yang sama dengan sinyal sel. &entingnya kalsium sebagai mediator yang dilustrasikan dalam kasus dengan dua kondisi yang menghambat diskohesi epidermis khas, penyakit 3arier (keratosis folikularis! dan penyakit *ailey *ailey (pemphigus kronik jinak!. Kedua penyakit ini disebabkan oleh mutasi pada gen yang meregulasi transport kalsium, S+,?%@ (sarco/ emdoplasmic reticulum Ca2+ - !"ase type 2 isoform ! dalam kasus penyakit 3arier, dan %1&@?/ (%1&ase, ?a @A transporting, 1ype @?, anggota /, sebuah regulator konsentrasi kalsium sitoplasmik! dalam kasus penyakit *ailey *ailey. Branular lamellar juga terbentuk dalam lapisan sel epidermis. Crganela organela sekretori ini merupakan deliver precursor pada stratum korneum lipid dalam ruang interseluler. Kelenjar kelenjar lamellar mengandung glikoprotein, glikolipid, fosfolipid, strerol bebas, dan sejumlah asam hydrolase termasuk lipase, protease, asam fosfatase, dan glikosidase. Blu$o$yseramid yang merupakan prekursor ceramide dan komponen dominan pada lipid stratum korneum, yang juga ditemukan dalam struktur ini. penyakit genetik menunjukan pentingnya metabolism steroid dan lipid untuk mengelupaskan lapisan sel sel yang mengalami kornifikasi dalam recessive # linked ichthyosis, sebagai $ontoh, mutasi sulfatase steroid yang menyebabkan retensi hyperkeratosis. La%i&an granular" 3inamakan untuk granul granul keratohialin basofilik yang menonjol dalam sel sel pada tingkat epidermis, lapisan glanular merupakan tempat generasi sejumlah komponen struktur yang akan membentuk barrier epidermis, yang sama halnya dengan jumlah protein yang memproses komponen ini. Branul keratohialin yang tersusun se$ara primer dari profilaggrin, keratin filament, dan lorikrin. &elepasan profliggrin dari granul keratohialin menyebabkan pe$ahnya calcium dependent dari protein polimetrik profilaggrin ke dalam monomer filaggrin. 2onomer filaggrin ini beragregasi dengan keratin untuk membentuk makrofilamen. )orikrin merupakan protein kaya sistein yang
7

membentuk komponen protein utama pada cornified envelope, yang diperkirakan berjumlah lebih dari 6- persen. )orikrin dilepaskan dari granul keratohialin, lorikrin berikatan dengan struktur desmosomal. )orikrin, termasuk di antaranya involu$rin, sistatin %, protein kaya proline ke$il (S&, /, S&, @, dan kornifin! , elaftin, dan envoplakin yang semuanya saling berkaitan silang dengan membran plasma oleh transglutaminase jaringan (1B2s, 1B2s 5 dan / primer!, membentuk cornified cell envelope. 2utasi pada gen 1B2/ telah menunjukan bahwa dasar dari beberapa kasus lamellar i$hthyosis, sebuah kondisi autosomal resesif yang khas dengan skala besar dan sebuah gangguan pada lapisan diferensiasi paling atas dari epidermis. "entuk lainnya dari i$htyosis, i$htyiosis vulgaris yang disebabkan oleh mutasi dalam gen yang mengkodekan filagrin. %bnormalitas lori$rin tampak pada bentuk sindrom ohwinkel dengan i$hthyosis dan pseudoainhum sama halnya dengan penyakit progresif simetris keratodermia. 1ahap akhir diferensiasi sel granular termasuk destruksi sel yang terprogram. Selama proses ini , yang mana sel granular menjadi korneosit yang terdefensiasi pada tahap akhir, sebuah mekanisme apoptosis menghasilkan destruksi nukleus dan hampir seluruh isi dari sel tersebut, dengan penge$ualian filament keratin dan matriks filaggrin. Stratum k'rneum" 3iferensiasi komplit pada sel sel granular menghasilkan lapisan lapisan yang menumpuk yang tak berinti, sel sel kornifikasi gepeng yang membentuk stratum korneum. )apisan ini berfusgsi sebagai proteksi mekanik pada kulit dan barrier untuk men$egah hilangnya air dan perembesan substansi larut dari lingkungan. $arrier stratum korneum terbentuk oleh dua sistem kompartemen lipid depleted% korneosit kaya protein yang diselubungi oleh matriks lipid ekstraseluler. 3ua kompatemen ini sedikit tersendiri tetapi fungsi komplemen yang bersamaan untuk aktifitas barrier dari epidermis. ,egulasi permeabilitas, deskuamasi, aktifitas peptid antimikroba, pengeluaran toksin, dan absorpsi 7at kimia selektif merupakan fungsi utama dari matriks lipid ekstraseluler. 3i sisi lain, penguatan mekanik, hidrasi, sitokin yang

memediasi inflamasi, dan proteksi dari U yang berbahaya semua dilakukan oleh korneosit. E%idermi& n'nkeratin'&it 2elanosit merupakan neural crest derived, sel sel dendritik pensintesis pigmen yang teletak se$ara primer pada lapisan basal. 3engan menggunakan mikroskop $ahaya, sel sel ini terlihat dengan sitoplasma yang berwarna pu$at, nukelus oval, dan warna pigmen yang berisi melanosome, organella khusus yang disorot oleh sejumlah gangguan dan fngsi melanosit.penyakit dermatologis klasik, vitiligo yang disebabkan oleh penipisan autoimun dari melanosit. &enyebab gangguan pigmentasi lainnya yang ditemukan dalam berbagai defek dalam melanogenesis, termasuk diantaranya sintesis melanin, produksi melanosome, dan transportasi melanosome serta transfer menjadi keratinosit. ,egulasi dari proliferasi melanosit dan homeostasis di bawah studi intensif yang sama halnya dilakukan untuk memahami melanoma. 'nteraksi keratinosit melanosit penting untuk homeostasis melanosit dan differensiasi, mempengaruhi proliferasi, dentricity, dan melanisasi. Sel sel 2arkel merupakan me$hanoreseptor tipe / yang beradaptasi se$ara lambat yang berlokasi pada tempat sensitifitas taktil paling tinggi. 2ereka umumnya berada diantara keratinosit basal pada bagian tertentu dari tubuh., termasuk kulit yang berambut dan pada kulit yang gundul seperti jari jari, bibir, daerah kavitas oral, dan selubuh akar paling luar dari folikel rambut. Seperti nonkeratinosit lainnya, sel sel 2arkel memilki sitoplasma berwarna pu$at. &arker kimia imun terhadap sel sel markel termasuk diantaranya keratin peptide K4, K/4, K/D, dan K@-. K@- terbatas pada sel sel 2arkel kulit dan merupakan marker yang paling dapat diper$aya. Se$ara ultrastruktural, sel sel 2erkel se$ara mudah diidentifikasi oleh membran yang berbatas, granul dense core yang mengumpulkan kebalikan dari Bolgi dan proksimal ke bagian nervus yang tak termielinisasi. Branul granul ini serupa dengan granul pada neuron dan mengandung subtansi seperti neurotransmitter dan marker sel sel neuroendokrin, termasuk diantaranya metenkephalin, peptide usus vasoaktif, enolase spesifik neuron, dan sinaptofisin. Sel sel )angerhans merupakan antigen dendritik
9

antigen yang memproses dan presenting cell pada epidermis. >alaupun mereka tidaklah khas pada epidermis, mereka membentuk @ persen samapi 4 persen dari total populasi sel epidermal. 2ereka kebanyakan ditemukan pada posisi suprabasal etapi terdistribusi melalui basal, spinosus, dan lapisan glanular. &ada preparat histologi, sel sel langerhansberwarna pu$at dan memiliki concolated nuclei. Sitoplasma sel sel )angerhans berisi batang ke$il khas atau struktur yang berbentuk raket yang disebut granul sel sel )angerhans atau $irbeck granules. 2ereka juga pada prinsipnya berfungsi sebagai sampel dan mempresentasikan sel 1 pada epidermis. Karena fungsi fungsi ini yang terlibat dalam mekanisme patologik yang mendasari dermatitis kontak alergika, leishmaniasis kutaneus, dan infeksi human immunodeficiency virus. Sel sel )angerhans direduksi di epidermis pada pasien dengan kondisi tertentu seperti psoariasi, sar$odoisis. 3an dermatitis kontak# mereka juga se$ara fungsional oleh gangguan radiasi U terutama U ". Karena efektifitas mereka pada presentasi antigen dan stimulasi limfosit, sel sel sendriti$ dan sel sel )angerhans yang telah menjadi kendaraan prospektif untuk terapi tumor dan vaksin tumor. Sel sel ini berisi antigen spesifik bagi antigen spesifik tumor yang akan menstimulasi respon imun host terhadap sejumlah antigen spesifik dan juga respon imun spesifik. Dermal Epidermal Junction 'ermal epidermal junction (3+(! merupakan 7ona membran basal yang membentuk hubungan antara epidermis dan dermis. Eungsi utama dari 3+( adalah melekatkan epidermis dan dermis satu sama lain dan untuk memungkinkan terjadinya resistensi melawan gaya dari luar. *al ini memungkinkan tersedianya dukungan untuk epidermis, menentukan kutup pertumbuhan, pembentukan se$ara langsung sitoskeleton dalam sel sel basal, memberikan sinyal pertumbuhan dan bertindak sebagai barrier semipermeabel. 3+( dapat dibagi kembali dalam 5 jaringan supramolekular:

hemidesmosome anchoring filament comple(, membran basement itu sendiri, dan anchoring fiblril. &eran penting terhadap daerah ini dipertahankan dengan
10

integritas struktur kulit yang diungkapkan dengan sejumlah besar mutasi dalam komponen dalam 3+( komponen yang menyebabkan penyakit kulit yang melepuh yang bervariasi tingkat keparahannya. &enyakit bulosa ini dikelompokan berdasarkan level pembelahan dalam 3+( yang paling superfisial, +" simpleks, keterlibatan pembelahan keratinosit basal. +" ju$tionla terjadi dalam lamina lu$ida dan lamina densa. +" distrofik merupakan level pengelupasan paling dalam, di dalam sublamina densa9 anchoring filament. Dermi& 3ermis merupakan sistem yang terintegrasi dari fibrosus, filamentosus, difus, dan element jaringan ikat seluler yang mengakomodasi nervus dan jaringan vaskular, pelengkap turunan epidermis, berisi banyak tipe tipe sel yang menetap termasuk fibroblast, makrofag, sel mast dan transient circulating cell dari sistem imun. 3ermis meliputi sebagian besar kulit dan bersifat lunak, elastis, dan dapat menahan renggangan. 3ermis juga melindungi tubuh dari $edera mekanik, mengikat air, membantu regulasi suhu, dan termasuk reseptor stimuli sensoris. 3ermis berinteraksi dengan epidermis dalam hal mempertahankan isi antara kedua jaringan, dan berkolaborasi dalam perkembangan pada morfogenesis 3+( dan epidermal appendage, interaksi dalam proses penyembuhan dan perbaikan setelah kulit mengalami luka. 3ermis tersusun atas dua region utama, bagian atas dermis papiler, dan bagian yang lebih dalam dermis reti$ular, dua regio ini dapat diidentifikasi pada potongan histologi, dan mereka dibedakan dalam hal penyusun jaringan ikatnya, densitas sel dan pola nervus serta pembuluh darah. 3ermis papiler berbatasan dengan epidermis membentuk kontur, dan biasanya ketebalannya tidak lebih dari epidermis. 3ermis reti$ular membentuk sejumlah besar jaringan dermis. 3ermis reti$ular sebagian besar terdiri dari serat serat kolagen, berkas berkas serabut yang terjalin, dengan $abang serat elastis yang mengelilingi berkas. &ada individu normal, serat elastis dan berkas kolagen ukurannya meningkat se$ara progresif ke arah hipodermis. &leksus sub papiler, jalinan hori7ontal pembuluh darah, menandai batasan antara dermis papiler dan reti$ular. "atas bawah dari dermis

11

reti$ular didefinisikan sebagai transisi jaringan ikat fibrosus menjadi jaringan ikat adipose pada hipodermis. Matrik& (ibr'&u& Dermi& 2atriks jaringan ikat dermis meliputi jaringan ikat kolagen dan jaringan elastis. 1erdapat kombinasi antara satu dengan yang lainnya, molekul jaringan ikat fibrosus, termasuk glikoprotein filament halus, proteoglikan (&Bs!, dan glikosaminoglikan (B%Bs! pada subtansi dasar. 3alam istilah komponen aseluler, kolagen membentuk sejumlah besar dermis yang diperkirakan sekitar 60 persen dari berat kering kulit, yang memungkinkan terjadi perenggangan dan elastisitas. Se$ara periodi$ berkas kolagen interstisial yang diperkirakan dengan proporsi kolagen paling besar pada dermis orang dewasa (tipe ', 4- persen hingga D- persen# ''', 4 persen hingga /@ persen# dan , F 0 persen!. >alaupun kolagen tipe dengan jumlah yang relatif ini berkotribusi ke$il dari keseluruhan total kolagen, namun kolagen tipe tipe

dengan kolagen tipe ' dan ''' untuk membantu regulasi diameter fibril. Kolagen ini berlokasi yang utama di dermis papiler dan matriks yang mengelilingi dikaitkan dengan ruang fibril dan interfibriliar. membran basal terdiri dari pembuluh darah, nervus, dan epidermal appendage , dan di 3+(. Kolagen tipe ' Kolagen tipe ' dibatasi oleh lamina basalis terhadap 3+(, pembuluh darah, dan

epidermal appendage. Kolagen tipe '' membentuk anchor fibril di 3+(. (aringan ikat elastis merupakan jalinan mole$ular kompleks, yang disusun dalam jaringan yang berkelanjutan dan meluas dari lamina densa di 3+j melewati dermis dan hingga ke jaringan ikat di hipodermis. Serat serat elastis mengembalikan kulit ke konfigurasi normalnya setelah merenggang atau atau rusak. Serat serat elasti$ juga termasuk pada dinding pembuluh darah kutaneus dan limfatik dan pada kelopak folikel rambut. &ada berat badan kering, jaringan ikat elasti$ terdiri dari empat persen dari protein matriks dermal. Komponen serat elasti$ termasuk di antaranya fibrillin /, sebuah molekul berukuran 50- kd, mutasi yang menyebabkan syndrome 2arfan. +lastin merupakan komponen matriks serat elasti$, dan mutasi pada protein ini menyebabkan penyakit $utis
12

laGa. Serat serat oGytalan yang meluas dari 3+( sampai ke junction dermis papiler9 junction dermis reti$ular. 3imana mereka bergabung dengan serat elaunin. Serat elaunin, pada gilirannya, berkembang menjadi serat ekstik matur pada dermis reti$ular. Serat serat ini normalnya berlokasi di antara serabut serabut serat kolagen, walaupun pada kondisi patologis tertentu, seperti pada sindrom "us$hke Cllendorf, yang keduanya adalah serat elastis dan serat kolagen yang menjadi tersusun dalam berkas yang sama. &entingnya jalinan serat elasti$ ini yang terlihat pada sejumlah penyakit multi sistem yang berkembang karena mutasi dalam komponen jalinan. %khir akhir ini, defek yang mendasari pseudoGanthoma elasti$um (&H+! ditemukan terjadinya mutasi pada %"??;, sebuah anggota dari keluarga adenosine triphosphate dependent transmembrane transporter. "agaimanapun, penyakit ini dikategorikan oelh hilangnya kastisitas kukit serat serat elastis yang terkaksifikasi yang menyebabkan defek primer pada jaringan elastis, tetapi juga gangguan metabolik dengan keterlibatan serat elastis. Sebagai tambahan untuk mutasi genetik, radiasi matahari, dan penuaan juga berkontribusi untuk kerusakan fiber elastik. K'm%'nen Matrik& (ilament'&u& dan Di)u& Pada Dermi& +lemen matriks seluler dan fibrosus yang tertanam dalam komponen matriks yang lebih amorf, yang juga ditemukan pada membran basalis. &Bs dan B%Bs yang menyelubungi dan tertanam dalam komponen fibrosus. &Bs merupakan molekul besar yang terdiri dari protein core yang menentukan B%Bs yang mana yang akan dimasukksan dalam molekul. Kompleks &B9 B%B dapat berikatan dengan air hingga /--- kali dan memiliki peran dalam regulasi ikatan air dan kompresibilitas dermis., yang sama halnya dengan peningkatan konsentrasi lokal dari faktor pertumbuhan yang melalui ikatan tersebut (seperti faktor pertumbuhan fibroblast dasar (basic fibroblast gro)th factor!. 2ereka juga menghubungkan sel sel dengan matriks fibrillar dan filamentosus, mempengaruhi proliferasi, diferensiasi, perbaikan jaringan, dan morfogenesis. &Bs yang utama pada dermis orang dewasa adalah permukaan kondroitin9 dermatan sulfate, termasuk biglycan, de$orin, dan versi$an# heparan9 heparan sulfate "*s, termasuk juga perle$an dan synde$an# dan $hondroitin ; sulfate
13

&Bs, yang merupakan komponen 3+(. (umlah relatif terhadap perbedaan &Bs ini berubah sesuai dengan usia, sebagaimana dermis orang dewasa setelah berusia .tahun umumnya mengalami peningkatan dermatan sulfate, tetapi menurun dalam hal chondroitin + sulfate dan chondroitin sulfate. Blikoprotein yang ditemukan dalam dermis termasuk diantaranya fibrone$tin, trombospondin, laminin, vitrone$tin, dan tenas$in. Seperti halnya &Bs9B%Bs, mereka berinteraksi dengan komponen matriks lainnya melalui intergrin receptor. 2olekul molekul ini memudahkan proses migrasi, adhesi sel, morfogenesis, dan differensiasi. Eibronektin disintensis oleh kedua sel epitel dan mesenkim, dan ini akan menurupi berkas kolagen dan jalinan elastik. itronektin ada pada semua serat elastik ke$uali pada oGytalan. +kspresi tenas$in ditemukan disekitar otot polos pembuluh darah, disekitar otot pili, dan appendage seperti kelenjar keringat. K'm%'nen Seluler Dermi& Eibroblast, makrofag, dan sel mast merupakan residen tetap dermis, kebanyakan ditemukan disekitar region papiler dab mengelilingi pembuluh darah pada pleksus subpapiler. 2ereka juga terjadi pada dermis reti$ular dalam $elah antara nerkas serat kolagen. Eibroblast merupakan sel turunan mesenkim yang bermigrasi melalui jaringan dan yang bertangguang jawab terhadap sintesis dan degradasi protein matriks jaringan ikat fibrosus dan non fibrosus dan sejumalh faktor pelarut. Eibroblast menyediakan sebuah struktural frame)ork matriks ekstraseluler yang sama halnya dengan interaksi antara epidermis dan dermis yang mensintesis mediator pelarut. Studi tentang fibrolas pada manusia mengindikasikan bahwa dalam sebuah jaringan yang tunggal, se$ara fenotipik terdapat perbedaan pada populasi, beberapa yang berkaitan dengan perbedaan region anatomi. 2ereka juga merupakan intrumen dalam hal penyembuhan luka dan pembentuk jaringan partu, meningkatkan proliferative dan aktifitas sintesis selama proses proses ini berlangsung. 2onosit, makrofag, dan dendrosit dermis merupakan sistem fagosit mononu$lear pada sel dalam kulit. 2akrofag merupakan derivat dari prekursor
14

dalam sumsum tulang, berdiferensiasi dalam monosit sirkulasi, kemudian bermigrasi ke dalam dermis untuk berdiferensiasi. Sel sel fagositik ini# limfoid memproses dan mempresentasikan antigen kepada sel sel superperoksida!, tumorisidal, sekresi (gro)th factor% sitokin, atherogenesis, penyembuhan luka dan remodeling jaringan. Sel sel mast merupakan kelenjar khusus yang mana di dalam kulit mempresentasikan dalam bentuk densitas yang tinggi dalam dermis papiler, di dekat 3+(, dalam sarung epidermal appendage, dan di sekitar pemnuluh darah dan nervus pada pleksus subpapiler. 2ereka juga umumnya berada dalam lemak subkutaneus. Sel mast diidentifikasi se$ara histologi dengan nukleus oval dan bulat dan banyak, granul granul sitoplasma yang berwarna gelap. &ermukaan sel mast dermal dilapisi oleh fibronektin, yang kemungkinan membantu dalam hal mengamankan sel di dalam matriks jaringan ikat. Sel mast dapat menjadi hiperplastik dan hiperproloferatif dalam mastrositosis. Sel mast merupakan sel sel sekresi yang bertanggungjawab untuk reaksi hipersensitifitas tipe immediate pada kulit dan terlibat dalam terjadinya penyakit inflamasi subakut dan kronik. 2ereka juga mensintesis granul granul sekresi yang terditi dari histamine, heparin, tripase, $hymase, $arboGypeptidase, neutrophil $hemota$ti$ fa$tor, dan eosinophili$ $hemota$ti$ fa$tor dari reaksi anafilaksis yang mana merupakan mediator untuk proses proses ini. 3endrosit dermis merupakan stellate, dendritik, atau kadang berbentuk kumparan, umumnya fagositik memfiksasi sel sel jaringan ikat dalam dermis kulit yang normal. 2ereka merupakan bagian dari antigen presenting macrophage atau garis asal yang berbedayang berasal dari sumsum tulang. &ersamaan pada banyak sel sel turunan sumsum tulang, dermal dendrosit mengekspresikan faktor H'''a dan ?3.0, dan mereka kurang khas untuk marker fibroblast (seperti 1e 6!. Sel sel ini kadang kala berjumlah banyak di dalam dermis papiler dan deris reti$ular bagian atas, yang sering pada pembuluh darah bagian proksimal dari pleksus subpapiler. Eungsi dendrosit dermis pada
15

imunokompeten, yang bersifat mikrosidal (menghasilkan liso7im, peroksida, dan dan molekul imunomodulator lainnya!, dan hematopoetik# dan termasuk dalam koagulasi,

ektremitas aferenterhadap sebuah respon imun. 2ereka juga sama halnya dengan sejumlah sel yang berasal dari kondisi proliferasi fibrotik jinak pada kulit, seperti dermatofibroma dan fibroGantoma. Pembulu$ Dara$ Kutaneu& Pembulu$ Dara$ &embuluh darah pada kulit menyediakan nutrisi untuk jaringan, tepat sebagai tambahan mereka juga terlibat dalam regulasi suhu dan tekanan darah, penyembuhan luka, dan sejumlah kejadian yang berkaitan dengan imunologi. 3asar mikrosirkulasi pada perkembangan kulit dari arteriola hingga sfingter prekapiler. &erluasan dari sfingter adalah kapiler arteri dan vena, yang mana akan menjadi venula postkapiler, dan yang akhirnya menjadi venula pengumpul. Ketika dibandingkan dengan pembuluh darah pada organ lainnya, pembuluh darah pada kulit beradaptasi dengan gaya perenggangan, sebagaimana mereka harus berdinding tebal yang didukung oleh sel otot polos dan jaringan ikat. Sel sel khusus yang dikenal dengan veil cells, mengelilingi mikrosirkulasi subkutaneus, yang diartikan sebagai wilayah untuk pembuluh darah dalam dermis ketika tersisa pemisah dari dinding pembuluh darah. (aringan vaskular yang kaya pada kulit dengan lokasi antara lain pada perbatasan dalam dermis dan suplai epidermal appendage. &embuluh darah yang mensuplai $abang $abang pada dermis muali dari arteri muskulukutaneus yang penetrasi lemak subkutan dan masuk ke dermis reti$ular yang dalam. &ada titik ini, mereka tersusun dalam pleksus arteriolar hori7ontal. 3ari pleksus ini, arteri asending yang meluas ke arah epidermis. %rteriola ini terdiri dari dua lapisan sel sel otot polos yang sama halnya dengan peri$yte, tipe kedua dari sel kontraktil pada dinding pembuluh darah. &ada junction antara dermis papiler dan reti$ular, arteriola terminal membentuk pleksus subpapiler. %rteriola pada tingkat inihanya memiliki satu lapisan sel sel otot polos, yang tersusun untuk menekankan fungsinya sebagai sfingter prekapiler. Capillary loop yang kemudian meluas dari arteriola terminal pada pleksus ke dalam dermis papiler. &ada apeG tiap tiap capillary loop adalah bagian yang tipis, yang mana keduanya merupakan endotel
16

dan lamina basal pembuluh darah yang menipis, yang memungkinkan untuk transport material keluar dari kapiler. +kstrakapiler yang asending pada bagian capillary loop merupakan kapiler venosus yang mengalir dalam saluran venosus dari pleksus subpapiler yang terletak di atas dan di bawah pleksus pembuluh arteriola. enula postkapiler pada pleksus subpapiler merupakan komponen yang 2ereka bertanggung jawab penting se$ara fisiologis pada mikrosirkulasi.

terhadap mediator seperti histamine, yang membentuk gap antara sel sel endothelial yang berdekatan yang memungkinkan untuk ekstravasasi $airan dan sel, dan bagaimanapun juga sering menjadi tempat sel sel inflamasi selama respon respon ini berlangsung. ,egion tertentu di kulit, seperti palmar dan telapak kaki, berisi hubungan langsung antara arteri dan sirkulasi vena sebagai potential shunt disekitar tempat kapiler yang menagalami kongestif. 1empat tempat ini terdiri dari arteriola asending (glomus body!, yang dimodifikasi oleh tiga hingga enam lapisan sel sel otot polos dan dikaitkan dengan serabut saraf simpatis. Blomus dapat tertutup se$ara sempurna saat tekanan darah berada pada titik kritis. &ada orang dewasa, vaskularisasi kutaneus normalnya tidak berubah, dengan penge$ualian pada siklus rambut tertentu dengan dependent angiogenesis selama anagen. &embuluh darah yang diam sebagian selama penghambatan angiogenesis pada matriks dermis oleh faktor faktor seperti trombospondin. Stimulus patogenik kadang kadang menyebabkan angiogenesis sekunder., dari tumor atau selama terjadi luka. Salah satu kun$i mediator angiogenesis adalah vascular endothelial gro)th factor ( +BE!, yang sering disekresi oleh tumor atau oleh keratinosit. Sejumlah gangguan yang dapat bermanifestasi dalam pembuluh darah kutaneus. askulitis leukositokastik (cutaneous necrotizing venulitis! terjadi dalam venula sebagai respon terhadap sejumlah mekanisme patogenik potensial. 3ermatitis stasis, urtikaria, nodusa poliartritis, thrombosis, dan tromboplebitis yang kesemuanya mempengaruhi pembuluh darah dala kulit, perbedaan ukuran, beberapa oleh karena oklusi pada pembuluh darah (vasculopathy! dan lainnya oleh inflamasi pada pembuluh darah (vas$ulitis!.
17

Lim)atik Saluran limfa pada kulit berperan penting dalam regulasi tekanan dari $airan interstisial dengan melakukan reabsorbsi $airan yang dilepaskan dari pembuluh darah dan pada saat pembersihan jaringan dari sel sel, protein, lipid, bakteri, dan substansi sisa. &embuluh darah memulai dalam proses blind ending initial lymphatic (juga dikenal dengan lymphatic capillaryies% prelymphatic tubules% dan terminal atau peripheral lymphatic! dalam dermis papiler. 2ereka mengalir ke dalam pleksus hori7ontal dari pembuluh limfa yang lebih besar yang berlokasi di dalam pleksus venosus subpapiler. Sistem limfatik verti$al yang kemudian membawa $airan dan debris melalui dermis reti$ular ke bagian yang lebih dalam pada pleksus pengumpul di perbatasan dermis reti$ular hipodermis. %liran limfa dalam kulit bergantung pada pergerakan dari jaringan yang disebabkan oleh pulsasi arteri dan kontraksi otot dan pergerakan tubuh, dengan aliran balik yang di$egah oleh katup seperti bi$uspid dalam pembuluh darah. >alaupun pembuluh darah limfatik hanya terlihat pada gambaran histologi, karena pembuluh ini sering kolaps pada kulit, mereka terdiri dari lumen yang besa dan dinding yang lebih tipis dibandingkan pembuluh darah, dengan endotel, lamina basal yang tidak berlanjut, dan serat elastis. Karakteristik molekuler pada pembuluh ini yang telah diidentifikasi antara lain &roG/, +BE, 5, dan )I + / sebagai marker spesifik terhadap sifar sifat limfatik, dan satu stuid yang berat meneliti tentang molekul limfagiogenik adalah +BE ?. Kondisi patologitertentu yang terlibat atau disorotidari pembuluh limfa seperti limfederma, limfangioma sirkumkriptum, dan dermatitis stasis. &entingnya jaringan limfa dalam progresifitas dan penyebaran kanker juga menjadi lebih jelas sebagaiman sel sel melanoma yang menghan$urkan sel endotel pada limfatik awal untuk memperoleh jalan masuk ke dalam sirkulasi limfa, dan studi terbaru mengungkapkan bahwa tumor sendiri dapat mempromosikan limfangiogenesis sebagai bagian dari program awal untuk melakukan metastasis. &enemuan defek molekuler pada hereditas limfedema (penyakit 2ilroy tipe / +BE 5, type / lymphedema prae$oG, lymphedema disti$hiasis, lymphedema dan kuku kuning,
18

dan lemfadema dengan ptosis 2E*/ (forkhead transcription factor, EoG?@! telah mengimplikasikan +BE, 5 dan EoG?@ dalam perkembangan limfatik. Ner u& Kutaneu& dan Re&e%t'r (aringan nervus pada kulit berisi sensori somati$ dan serabut autonomik simpatik. Serat sensori sendiri (free nerve ending! atau dalam konjungsi dengan struktur khusus (corpuscular reseptor! berfungsi sebagai reseptor sentuhan, nyeri, suhu, gatal, dan stimuli mekanik. 3ensitas dan tipe reseptor berdasarkan region umumnya bervariasi, diperkirakan untuk variasi dalam %?U'1I pada perbedaan tempat di tubuh. ,eseptor dengan densitas tertentu pada area yang tak berambut seperti aroela, labia, dan glans penis. Serabut motorik simpatik yang berkontribusi dengan nervus sensorik dalam dermis hingga mereka ber$abang dan kelenjar sebasea. :ervus pada per$abangan kulit dari nervus muskulokutaneus yang tumbuh se$ara segmental dari nervus spinal. &ola serabut saraf pada kulit serupa dengan pola pembuluh darah. 'tulah sebabnya serabut saraf membentuk pleksus dalam, kemudian naik ke superfisial menjadi pleksus subpapiler. %khir saraf bebas termasuk diantaranya serabut saraf penisillate dan serabut saraf papiler dan yang paling banyak tersebar dan merupakan reseptor sensori yang penting pada tubuh. &ada manusia, mereka tidak diselubungi oleh sel sel S$hwann dan lamina basalis. %khir safar bebas ini umunya se$ara khusus berada pada dermis papiler# lamina basalis yang berserabut dapat menyatu dengan lamina densa pada 7ona membrane basalis. Serabut penisillate merupakan serabut saraf primer yang ditemukan pada sub epidermis di dalam kulit yang berambut. 1erdapat reseptor yang beradaptasi se$ara $epat yang berfungsi sebagai persepsi terhadap sentuhan, suhu, nyeri dan gatal. Karena inervasi yang tumpang tindih, terdapat perbedaan yang men$olok pada tiap tiap bagian ini. 3isisi lain, akhir serabut saraf bebas juga terdapat pada kulit yang tidak berambut, kulit yang kaku, seperti telapak tangan dan telapak ke kelenjar keringat yang inaktif, otot polos pembuluh darah, arrector pili otot folikel rambut,

19

kaki, yang menonjol se$ara individual tanpa distribusi yang tumpang tindih. ,eseptor ini diperkirakan berfungsi dalam diskriminasi yang halus. %khir dari nervus papiler yang ditemukan pada orifisium folikel. ?abang $abang ini berasal dari nervus yang menginervasi level yang lebih dalam dari folikel yang diperkirakan se$ara khusus untuk menerima sensasi dingin. Eolikel rambut juga mengandung reseptor lainnya, yang berasal dari akson stem yang termielinisasi dalam pleksus dermal dalam, diperkirakan untuk reseptor adaptasi lambat yang merespon lenturan atau pergerakan dari rambut. Serabut simpatik kolinergik melewati kelenjar keringat ekrin dan serabut saraf adrenergik dan kolinergik melewati arrector otot pili yang membawa bersama dengan serabut sensorik pada hair basket. %khir saraf bebas juga berkaitan dengan sel 2erkel masing masing individu. Sel 2erkel kompleks saraf yang menggambarkan pada berbagai nama (touch domes% hederiform ending% ,ggo-s capsule% pnkus corpuscle% .aarscheibe !, bergantung pada lokasi dan komposisi mereka. &ada kulit yang berambut, touch domes dikaitkan dengan folikel rambut. &ada kulit palmoplantar, kompleks kompleks ini ditemukan di tempat dimana duktus keringat ekrin berpenetrasi pada kelenjar epidermal papilla. ,eseptor kopuskular, keduanya merupakan &eissner-s dan "acinian, yang terdiri dari sebuah kapsul dan inner core dan mengandung komponen neural dan non neural. Kapsul merupakan kelanjutan dari perineurium, dan core termasuk diantaranya serabut saraf yang menyelubungi sel sel S$hwann yang terbungkus lamellate. &eissner-s corpuscle memperpanjang atau ovoid merchanoreceptor berlokasi di dermis papillae pada kulit jari dan berasal se$ara verti$al kea rah permukaan epidermis. Satu hingga enam akson memasuki corpuscle, dengan per$abangan yang luas, dan berakhir pada akhir bulboid yang dikelilingi oleh lamellae. "acinian corpuscle terletak pada dermis dalam dan jaringan subkutaneus pada kulit yang menutupi permukaan bantalan berat tubuh. &a$inian $orpus$le ini bersifat khas dan terbungkus lamellae. Kapsul perineural yang tersusun ke dalam
20

5- atau lebih permukaan konsentrik sel sel dan jaringan ikat fibrosus. Jona subkapsular media yang mengandung kolagen dan fibroblast, dan inner $ore yang terdiri dari sel sel S$hwan turunan dari hemilamellae: semisirkular pipih yang se$ara bergantian dengan sisi sisi yang berlawanan. "anician corpuscle membantu me$hanore$eptor beradaptasi se$ara $epat yang merespon terhadap stimulus getaran. !i%'dermi& *Subkuti&+ (aringan hipodermis yang menyekat tubuh, membantu dalam penyimpanan suplai energi, bantalan dan melindungi kulit, serta memungkinkan untuk mobilitas struktur di bawahnya. *ipodermis mempengaruhi kosmetik dalam hal pembentuk kontur tubuh. "atasan antara dermis reti$ular dalam dan hipodermis bersifat transisi yang mendadak dari jaringan ikat dermis fibrosus yang predominan menjadi satu adipose subkutan primer. 2eskipun hal ini membedakan se$ara anatomi, kedua region ini masih terintegrasi dalam hal struktur dan fungsi melalui jalinan nervus dan pembuluh darah dan melalui kelanjutan dari epidermal appendage. &ertumbuhan folikel rambut yang meluas se$ara aktif pada dermis dan meluas hingga ke lemak subkutan, dan kelenjar keringat ekrin dan apokrin yang normalnya membatas kedalaman kulit ini. %diposity membentuk sejumlah besar sel sel pada hipodermis. 2ereka tersusun dalam lobus lobis yang dibatasi oleh septa dari jaringan ikat fibrosus. :ervus, pembuluh darah, dan limfatik berlokasi dalam septa dan tersalurkan pada region ini. Sintesis dan penyimpanan lemak ini selanjutnya dengan penumpukan lipid dalam sel sel lemak, proliferasi adipose, atau pembentukan sel sel baru dari mesenkin yang tak berdiferensiasi. *ormone leptin, yang disekresi oleh adiposity, memungkinkan terjadinya pengiriman sinyalumpan balik untuk meregulasi massa lemak. )evel leptin lebih tinggi pada lapisan subkutan dibandingkan adipose omentum, menyarankan peran untuk leptin dalam mengontrol distribusi dari adipose. *al lain yang penting dari jaringan subkutan yang nyata pada pasien dengan syndrome >erner, dimana lemak subkutan hilang pada area lesi melalui tulang, atau dengan s$leroderma, dimana lemak subkutan ditukar oleh jaringan
21

ikat fibrosus padat. Seperti halnya pada pasien >erner yang mengalami ulserasi dan penyembuhan yang buruk. Kulit pasien dengan s$leroderma terlihat tegang dan nyeri. &ada penyakit lipodistropi herediter dan didapat, hilangnya lemak subkutan mengganggu glukosa, trigliserida, dan regulais kolesterol, dan menyebabkan perubahan kosmetik yang signifikan, peningkatan ketertarikan pada terapi hormonal untuk jenis jenis gangguan ini. Perkembangan Kulit Kemajuan yang signifikan pada pemahaman tentang proses molekuler yang bertanggung jawab untuk perkembangan kulit telah dibuat lebih dari beberapa tahun belakangan. Seperti halnya kemajuan peningkatan pemahaman tentang korelasi klinikopatologi diantara beberapa gangguan herediter pada kulit dan memungkinkan untuk diagnosis yang lebih awal untuk penyakit penyakit ini. perkembangan progesif dari berbagai komponen kulit ter$atat dengan baik, dan waktu mengindikasikan kejadian yang terjadi selama embionik dan perkembangan fetal. &erlu di$atat, perkiraan usia kehamilan yang digunakan dalam bab ini#sistem ini merujuk pada usia fetus, dengan fertilisasi yang terjadi pada hari pertama. Untuk menghilangkan kebingungan, hal ini perlu ditekankan bahwa ahli obstetri$ dan kebanyak klinisi mendefinisikan hari pertama sebagai hari terakhir menstruasi (usia menstruasi!, yang mana fertilisasi terjadi kira kira pada hari ke /.. 3emikian juga, dua sistem penanggalan yang berbeda kira kira @ minggu, seperti wanita yang hamil /. minggu (usia menstruasi! mengandung fetus yang berusia /@ minggu (usia gestasi!. Se$ara konsep, perkembangan kulit fetus dibagi menjadi 5 perbedaan tetapi tahan tahap yang overlapping, hal ini seperti spesifikasi, morfogenesis, dan diferensiasi. 1ahap tahap ini se$ara kasar mengikuti periode embriogenik (sampai ;- hari!, periode fetus awal (@ sampai 0 bulan!, dan periode fetus akhir (0 sampai D bulan! perkembangan. 1ahap paling awal adalah spesifikasi yang merujuk pada proses yang mana e$toderm lateral menjadi lempeng neural yang diubah menjadi epidermis, dan bagian mesenkim serta sel sel pun$ak neural yang berubah membentuk dermis.

22