Anda di halaman 1dari 13

Makalah sosiologi hukum

MASALAH SOSIAL SEBAGAI INSPIRASI PEMBANGUNAN DAN PERUBAHAN (KASUS


KEMISKINAN) DAN UPAYA PEMECAHANNYA
Mata Kuliah : Sosiologi Hukum
Dosen :
Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-Nya
saya dapat menyelesaikan makalah tentang MASALAH SOSIAL SEBAGAI
INSPIRASI PERUBAHAN (KASUS KEMISKINAN) dan UPAYA PEMECAHANNYA.
Dalam makalah ini saya membahas lebih dalam tentang MASALAH SOSIAL
SEBAGAI INSPIRASI PERUBAHAN (KASUS KEMISKINAN) dan UPAYA
PEMECAHANNYA. Mulai dari latar belakang kemiskinan hingga upaya untuk
mengatasi kemiskinan di Indonesia.
Saya berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Saya menyadari
bahwa makalah ini masih jauh dari baik. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat
saya harapkan.

DAFTAR ISI
Kata Pengantar..1
Daftar Isi..2
BAB 1 PENDAHULUAN...........................................................................3
Definisi Kemiskinan......4
BAB II PEMBAHASAN.............................................................................6
A.Latar belakang.......................................................................................6
B.Penanganan masalah berbasis masyarakat..........................................7
C.Upaya penanganan masalah kemasyarakatan......................................8

D.Teori tentang pembangunan nasional...................................................11


E.Studi tentang perubahan.......................................................................13
F.Perubahan paradigma ilmu sosiatri.......................................................14
G.Proses perubahan sosial dalam konteks global...................................16
BAB III PENUTUP..................................................................................17
A.Kesimpulan...........................................................................................17
B.Saran....................................................................................................17
Daftar Pustaka........................................................................................18

BAB 1
Pendahuluan
Di dalam masalah kemiskinan terkait dengan konsep standar hidup, pendapatan,
distribusi pendapatan, stratifikasi sosial, struktur sosial dan bentuk diferensiasi
sosial yang lain. Di dalam pengukuran tingkat kemiskinan, konsep taraf hidup
(level of living) misalnya, tidak cukup dilihat dari sudut pendapatan, akan tetapi
juga perlu melihat faktor pendidikan, kesehatan, perumahan dan kondisi sosial
yang lain. Kenyataan tersebut mengakibatkan pendekatan yang digunakan
untuk mengukur tingkat kemiskinan juga bervariasi.Masalah sosial adalah suatu
ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang
membahayakan kehidupan kelompok sosial. Jika terjadi bentrokan antara unsurunsur yang ada dapat menimbulkan gangguan hubungan sosial seperti
kegoyahan dalam kehidupan kelompok atau masyarakat.Masalah sosial muncul
akibat terjadinya perbedaan yang mencolok antara nilai dalam masyarakat
dengan realita yang ada. Yang dapat menjadi sumber masalah sosial yaitu
seperti proses sosial dan bencana alam. Adanya masalah sosial dalam
masyarakat ditetapkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan khusus seperti
tokoh masyarakat, pemerintah, organisasi sosial, musyawarah masyarakat, dan
lain sebagainya.
Masalah sosial dapat dikategorikan menjadi 4 (empat) jenis faktor, yakni antara
lain :
1. Faktor Ekonomi : Kemiskinan, pengangguran, dll.
2. Faktor Budaya : Perceraian, kenakalan remaja, dll.
3. Faktor Biologis : Penyakit Menular , Keracunan, dll.
4. Faktor Psikilogis : Penyakit syaraf , aliran sesat , dll.

Masalah sosial di Indonesia terjadi seperti lingkaran setan, Pemerintah telah


membuat peraturantentangakan memberi denda pada orang yang bersedekah
pada pengemis, dan pemerintah juga sibuk dengan kebijakan-kebijakan yang
telah dan akan dibuat yang berkaitan dengan masalah sosial yang terjadi di
Indonesia seperti PNPM Mandiri, Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Masalah sosial yang sangat terasa di saat sekarang ini adalah realita kemiskinan
yang dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Kita semua menyadari bahwa
kemiskinan merupakan salah satu masalah sosial di Indonesia yang tidak mudah
untuk diatasi. Beragam upaya dan program dilakukan untuk mengatasinya tetapi
masih banyak kita temui permukiman masyarakat miskin hamper di setiap sudut
kota.Keluhan yang paling sering disampaikan mengenai pemukiman
masayarakat miskin tersebut adalah rendahnya kualitas lingkungan yang
dianggap sebagai bagian kota yang mesti disingkirkan.
Melihat kenyataan tersebut, usaha untuk memahami dan kemudian menangani
berbagai masalah sosial tadi akan mempunyai dampak yang sama dengan usaha
untuk mempercepat laju proses perubahan itu sendiri. Ibaratnya orang
mendorong mobil, usaha menghilangkan gunduk-gundukan tanah di jalan yang
menghambat jalannya mobil, mempunyai pengaruh yang sama terhadap laju
jalannya mobil dibandingkan apabila harus menambah jumlah orang yang
mendorong mobil tersebut.
-Definisi Kemiskinan
Pengertian konvensional kemiskinan hanya berdimensi tunggal: pendapatan
kurang, distribusi kekayaan tidak merata, menyebabkan seseorang atau
keluarga tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar untuk kehidupan sehari-hari.
Parameter pokok untuk mengetahui kekurangan pendapatan adalah
pengeluaran rumah tangga yang amat rendah, bahkan untuk mencukupi
kebutuhan konsumsi.Di sini ada dua isu sentral. Pertama, ketersediaan lapangan
kerja. Kedua, upah minimum yang menjadi instrumen penting guna melihat
tingkat pemerataan distribusi pendapatan. Maka, pendekatan dalam memahami
fenomena kemiskinan pun bervariasi.Pertama, menggunakan model
perbandingan antarlapisan sosial yang bertujuan menjelaskan fakta-fakta
empiris perbedaan distribusi pendapatan berdasar kelompok masyarakat. Kedua,
menerapkan model regresi guna mengukur upah pekerja berdasar teori modal
manusia, merujuk pandangan ahli ekonomi ketenagakerjaan, seperti Becker
(1964), Schultz (1963, 1971), dan Mincer (1974).Pengertian konvensional
kemiskinan ini lalu dikoreksi. Makna kemiskinan diperluas tak hanya menyangkut
kesenjangan pendapatan. Pada pertengahan 1980-an muncul rumusan definisi
baru: Kemiskinan harus dimaknai: orang, keluarga, dan sekelompok masyarakat
yang memiliki keterbatasan sumber dayamaterial, sosial, dan budaya
sehingga menghalangi mereka untuk dapat hidup layak menurut ukuran paling
minimal di suatu negara tempat mereka bermukim (Komisi Eropa, 1984).
Ekonom Amartya Sen juga mengenalkan makna kemiskinan secara lebih luas,
yakni ketidakmampuan manusia, yang ditandai pendidikan rendah, tak
berpengetahuan, tak berketerampilan, tak berdayaan. Bahkan, Sen menyentuh

dimensi politik: ketiadaan kebebasan dan keterbatasan ruang partisipasi, yang


menghalangi warga untuk terlibat proses pengambilan kebijakan publik. Dalam
situasi demikian, masyarakat ada dalam posisi tidak setara untuk mendapatkan
akses ke sumber-sumber ekonomi produktif sehingga terhalang untuk
memperoleh sesuatu yang menjadi hak mereka (lihat Development as Freedom,
1999).

BAB II
PEMBAHASAN
A. Latar Belakang Masalah
Untuk memahami masalah kemiskinan lebih lanjut perlu diketahui dan ditelusuri
latar belakangnya. Dengan memahami latar belakangnya akan lebih mudah
diindetifikasi sifat, keluasan dan kedalaman masalahnya. Dalam proses
berikutnya, pemahaman latar belakang masalahnya ini juga sangat bermanfaat
guna menentukan langkah-langkah sebagai upaya menanganinya.
Kemiskinan merupakan akibat dari sifat malas, kurangnya kemampuan
intelektual, kelemahan fisik, kurangnya ketrampilan dan rendahnya kemampuan
untuk menanggapi persoalan disekitarnya. Dalam perkembangan lebih lanjut,
pandangan ini juga memasukkan faktor individual lain berupa adopsi budaya
kemiskinan dan rendahnya need for achievement sebagai faktor penyebab
kemiskinan (Hardiman and Midgley,1982:51), pendek kata kemiskinan lebih
dilihat dari cacat dan kelemahan individual. Sebagai misal, karena mempunyai
sifat pemalas maka terjadi segan untuk bekerja keras guna meningkatkan
kondisi kehidupannya. Demikian juga karena kemampuan intelektual dan
pengetahuannya rendah mengakibatkan kurang mampu unutuk mengantisipasi
berbagai peluang ekonomis yang terbuka, sehingga membuat pendapatannya
tetap rendah dibandingkan anggota masyarakat yang lain.
Intinya ada 5 faktor yang menyebabkan kemiskinan, yaitu :
- Faktor individual

Faktor Struktural

- Faktor Keluarga

Faktor sub budaya

- Faktor Agensi

B. Penanganan Masalah Berbasis Masyarakat.


Apabila studi masalah sosial dianggap sebagai suatu proses, maka penanganan
kemiskinan sebagai salah satu bentuk masalah sosial selalu terkait dengan
pemahaman terhadap latar belakang atau faktor-faktor yang di anggap sebagai
sumber masalah.Strategi dan pendekatan dalam nenangani masalah akan
sangat di tentukan oleh pendekatan yang sangat di tentukan oleh pendekatan
dalam menangani masalah akan sangat ditentukan oleh pendekatan yang
digunakan dalam memahami latar belakang masalanya.Sebagaimana sudah di
uraikan sebelumnya maka strategi pembangunan masyarakat dalam menangani
kemiskinan akan sangat di pengaruhi oleh pendekatan dalam memahami latar
belakang dari sumber masalahnya.
Dalam hal ini upaya pembangunan masyarakat akan lebih di titik beratkan pada
peningkatan kualitas manusianya sehingga dapat berfungsi lebih efektif dalam
upaya peningkatan taraf hidupnya.Sementara itu apabila kemiskinan dianggap
merupakan akibat dari kelemahan struktur dan sistem maka strategi
penanganan kemiskinan lebih di titikberatkan pada perubahan sistem dan
perubahan struktural.Di samping itu perubahan struktural juga di maksutkan
sebagai upaya pemberdayaan lapisan miskin sehingga akan memberi peluang
yang lebih besar dalam proses pengambilan keputusan maupun dalam posisi
tawar.
Dalam kaitannya dengan pembangunan masyarakat desa, Long (1977: 144)
mengetegahkan adanya dua pendekatan utama.pendekatan ini tidak melakukan
perubahan mendasar dalam sistem dan struktur sosial sehingga memungkinkan
kesinambungan dan bertahannya institusi sosial dan sistem pemilikan tanah.Di
banding pertanian pendekatan ini pernah diimplementasikan secara luas dalam
bentuk revolusi hijau, yang di indonesia salah satunya dalam program bimas
dam inmas.Dengan cara tersebut dapat terwujud dengan adanya redistribusi
penguasaan resources yang memungkinkan berkurangnya konsentrasi
penguasaan pera petani, dapat bekerja bagi tanah miliknya sendiri.
Kecenderungan tersebut juga menjadi bahan pemikiran berbagai lembaga
penyandang dana internasional yang memberikan bantuan pembangunan
kepada negara-negara sedang berkembang. Mereka mengharapkan agar
bantuan tersebut lebih banyak dimanfaatkan untuk kelompok sasaran lapisan
masyarakat yang paling membutuhkan yaitu mayoritas penduduk miskin. Untuk
maksud tersebut selama dasawarsa 1970-an muncul tiga strategi dasar.
3 strategi dasar tersebut adalah

Bantuan di salurkan ketempat mayoritas penduduk miskin melalui program


pembangunan desa terpadu
Bantuan dipusatkan untuk mengatasi cacat standar kehidupan orang-miskin
melalui program bantuan dasar manusia

Bantuan dipusatkan kepada kelompok yang mempunyai ciri-ciri sosioekonomi


melalui proyek yang sengaja dirancang untuk masyarakat khusus tertentu.
(Rondiinelli, 1990: 91).
C. Upaya Penanganan Masalah Kemiskinan
Pembangunan sosial di Indonesia, hakekatnya merupakan upaya untuk
merealisasikan cita-cita luhur kemerdekaan, yakni untuk memajukan
kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Pasca
kemerdekaan, kegiatan pembangunan telah dilakukan oleh beberapa rezim
pemerintahan Indonesia. Mulai dari rezim Soekarno sampai presiden di era ini
yakni Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono yang terpilih dalam pemilihan
umum langsung pertama.
Namun demikian, harus diakui setelah beberapa kali rezim pemerintahan
berganti, taraf kesejahteraan rakyat Indonesia masih belum maksimal.
Pemenuhan taraf kesejahteraan sosial perlu terus diupayakan mengingat
sebagian besar rakyat Indonesia masih belum mencapai taraf kesejahteraan
sosial yang diinginkannya. Upaya pemenuhan kesejahteraan sosial menyeruak
menjadi isu nasional. Asumsinya, kemajuan bangsa ataupun keberhasilan suatu
rezim pemerintahan, tidak lagi dilihat dari sekedar meningkatnya angka
pertumbuhan ekonomi. Kemampuan penanganan terhadap para penyandang
masalah kesejahteraan sosial pun menjadi salah satu indikator keberhasilan
pembangunan. Seperti penanganan masalah kemiskinan, kecacatan,
keterlantaran, ketunaan sosial maupun korban bencana alam dan sosial.
Kemajuan pembangunan ekonomi tidak akan ada artinya jika kelompok rentan
penyandang masalah sosial di atas, tidak dapat terlayani dengan baik. Bahkan
muncul anggapan jika para penyandang masalah sosial tidak terlayani dengan
baik, maka bagi mereka kemerdekaan adalah sekedar lepas dari penjajahan?
Seharusnya kemerdekaan adalah lepas dari kemiskinan?.
Untuk itu pembangunan bidang kesejahteraan sosial terus dikembangkan
bersama dengan pembangunan ekonomi. Tidak ada dikotomi di antara
keduanya. Hal ini selaras dengan apa yang dikemukakan Nancy Birdsal (1993)
yang mengatakan bahwa pembangunan ekonomi adalah juga pembangunan
sosial. Tidak ada yang utama diantara keduanya. Pembangunan ekonomi jelas
sangat mempengaruhi tingkat kemakmuran suatu negara, namun pembangunan
ekonomi yang sepenuhnya diserahkan pada mekanisme pasar, tetap tidak akan
mampu menjamin kesejahteraan sosial pada setiap masyarakat. Bahkan
pengalaman negara maju dan berkembang seringkali memperlihatkan jika
prioritas hanya difokuskan pada kemajuan ekonomi memang dapat
memperlihatkan angka pertumbuan ekonomi. Namun sering pula gagal
menciptakan pemerataan dan menimbulkan menimbulkan kesenjangan sosial.
Akhirnya dapat menimbulkan masalah kemiskinan yang baru. Oleh karenanya
penanganan masalah kemiskinan harus didekati dari berbagai sisi baik
pembangunan ekonomi maupun kesejahteraan sosial.

Oleh karena itu selaras dengan prioritas dan kesepakatan dunia. Maka program
Departemen Sosial juga menempatkan kemiskinan sebagai prioritas utama yang
harus ditangani. Alokasi Anggaran Departemen Sosial tahun 2006 lebih dari 2,2
triliun rupiah, telah dialokasikan pada 5 kelompok sasaran dimana alokasi
terbesar untuk kemiskinan, lebih dari Rp. 566 milyar. Keterlantaran Rp 207
milyar. Kecacatan Rp 54 milyar. Ketunaan sosial 41 milyar dan bencana alam
dan sosial Rp. 500 milyar.
Dalam pengurangan kemiskinan, kepercayaan pemerintah juga makin diberikan
kepada Departemen Sosial sebagai penanggung jawab anggaran program
Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang disalurkan langsung kepada penduduk miskin
beberapa waktu lalu. Program itu kini berganti menjadi Bantuan Tunai Bersyarat
(BTB) dengan nama: Program Keluarga Harapan (PKH). Ketika itu, program SLT
banyak menimbulkan pro dan kontra. Namun harus pula diakui bahwa program
itu telah berhasil dilihat dari sisi ; Pertama ; berhasil menjaga si miskin tidak
goncang/panik? menghadapi kenaikan harga BBM. Bahkan ia menjadi tenang
ketika ia mendapatkan sedikit harapan? dari bantuan SLT. Jika diasumsikan
hanya untuk pengganti konsumsi BBM saja (bukan untuk konsumsi lainnya),
uang rp 100/bulan cukup memadai bagi mereka. Kedua ; behasil memberikan
pertolongan secara cepat, tanpa prosedur berbelit. Ketiga ; membuktikan
kepercayaan Pemerintah kepada rakyat untuk menerima secara langsung dan
menggunakan dananya sesuai kebutuhan. Kita berharap Program BTB PKH
sekarang ini mampu menjadi koreksi terhadap SLT sehingga pertolongan darurat
kepada si miskin semakin mengena pada tujuan yang diharapkan.
Hulme dan Turner (1990) berpendapat bahwa pemberdayaan mendorong
terjadinya suatu proses perubahan sosial yang memungkinkan orang-orang
pinggiran yang tidak berdaya untuk memberikan pengaruh yang lebih besar di
arena politik secara lokal maupun nasional. Oleh karena itu pemberdayaan
sifatnya individual sekaligus kolektif. Pemberdayaan juga merupakan suatu
proses yang mengangkat hubungan kekuasaan/kekuatan yang berubah antara
individu, kelompok dan lembaga-lembaga sosial.
Adapun konteks keterberdayaan itu dapat mencakup (1) Perubahan sikap ;
masyarakat miskin didorong, dibimbing dan dibantu kearah perilaku prososial
yang normatif. (2) Peningkatan partisipasi sosial; Masyarakat yang merupakan
sasaran kebijakan kesempatan turut berpartisipasi, bukan saja dalam hal
mengambil keputusan-keputusan khusus, tetapi juga dalam hal merumuskan
definisi situasi yang merupakan dasar dalam pengambilan keputusan. Sehingga
arah pembangunan menjadi berpihak pada masyarakat khususnya masyarakat
miskin. (3) Solidaritas sosial ; pemberdayaan sosial mampu menciptakan suatu
kondisi atau keadaan hubungan antara individu/kelompok yang didasarkan pada
perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama serta diperkuat oleh
pengalaman emosional bersama.(4) Peningkatan kondisi ekonomi warga
masyarakat ; melalui pemberdayaan sosial diharapkan terjadi peningkatan
kondisi ekonomi dan peningkatan pendapatan warga, khususnya warga miskin.
(5) Peningkatan pelaksanaan fungsi-fungsi keluarga miskin ; lembaga keluarga
miskin adalah juga sasaran pokok dalam pengentasan kemiskinan yang

tujuannya untuk mengembalikan fungsi keluarga yang diharapkan, dimana


fungsi ini semakin memudar seiring dengan ketidakmampuan menampilkan
fungsi sosial warga miskin (6) Perubahan orientasi nilai budaya ; dari
keseluruhan aspek pemberdayaan dalam rangka pengentasan kemiskinan, maka
perubahan orientasi nilai budaya menjadi muaranya yang tentunya memerlukan
proses yang tidak mudah. Perubahan dari sifat warga miskin seperti, apatis,
malas, masa bodoh, menghalalkan segala cara, menuju pada orientasi nilai
budaya yang prososial menjadi tujuan utama pada pengentasan kemiskinan.
D. TEORI TENTANG PEMBANGUNAN NASIONAL

Pembangunan masyarakat sebagai suatu proses dinamis menuju keadaan sosial


ekonomi yang lebih baik, atau yang lebih modern. Untuk mencapai diperlukan
perpaduan ilmu, seperti: ekonomi, sosilogi, teologi dan antropologi. Dari
pendekatan dan analisa kritis tentang perkembangan ekonomi, maka harus
didekati dari berbagai bidang ilmu pengetahuan. Cabang-cabang ilmu
pengetahuan yang dimaksud, seperti ekonomi pembangunan, sosiologi
pembangunan, pembangunan politik, teknologi pembangunan, administrasi
pembanguan dan sebagainya.
Sebagai suatu proses, pembangunan nasional adalah merupakan rangkaian
perubahan majemuk dalam bidang politik, sosial dan ekonomi. Di Indonesia
sendiri, kelihatannya pembangunan ekonomi sangat tergantung dengan
kestabilan politik. Hubungan antara ekonomi dan politik sangat dekat dan sangat
sulit dipisahkan, bahkan saling inter-dependen yang sangat kuat sekali. Kalau
diperhatikan dengan seksama, maka etika pembangunan tidak dapat dipisahkan
dari etika ekonomi dan etika politik. Untuk pembangunan ekonomi biasanya
syarat-syarat sosial politik sudah terpenuhi terlebih dahulu. Ke duanya dapat
dijalankan secara simultan, apabila suatu bangsa sudah mencapai tingkat
kematangan tertentu dalam bidang sosial dan politik. Dua frase ini sangat
penting proses suatu pembangunan, yaitu: konsolidisasi politik dan
rekonsiliasi ekonomi. Yang dimaksudkan dengan konsolidasi politik adalah
kebersamaan semua komponen politik, dengan menghargai perbedaan dan
kesamaan mereka masing-masing, dan bersama-sama membangun negara
Indonesia berdasarkan sistem demokrasi. Dalam hal ini tidak mengenal
mayoritas dan minoritas dalam berpolitik.

I. Pendekatan Pembanguan Bangsa (Sociocultural Development)


Pengertian pembangunan bangsa agaknya telah mengalami suatu
perkembangan penting, baik dalam pengertian maupun ruang lingkup. Dalam
ruang lingkup tampak dua aspek permasalahan: (1) mengenai pembangunan
politik dan (2) mengenai pembangunan sosial budaya. Masalah kebudayaan
sangat penting untuk diperhatikan. Karena budaya telah mengalir dalam hidup
masyarakat. Secara antropologis manusia telah dibelenggu oleh adat

istiadatnya. Bahkan, kadang-kadang hal tersebut menjadi penghambat proses


pembangunan. Sering terjadi konflik antara kebudayaan dan modernisasi. Hal
lian yang perlu diperhatikan adalah agama. Agama dan kebudayaan sering kali
telah lebur dalam kehidupan manusia. Sehingga sangat membedakan mana
yang agama dan mana yang kebudayaan. Karena eratnya hubungan
pemabnguan politik dan kebudayaan, maka berkembanglah aliran pemikiran
dalam ilmu politik yang disebut sebagai Kebudayaan Politik.

II. Pendekatan Pembangunan Ekonomi (Economic Development)


Permikiran perkembangan teori pembangunan ekonomi adalah sebagai berikut:
Dasar aliran ini adalah individualisme. Setiap produsen dan konsumen meredeka
bertindak, pembentukan harga didasarkan kepada hukum permintaan dan
penawaran di pasar, menjadi dasar pengambilan keputusan. Harga yang
terbentuk atas dasar mekanisme pasar tersebut, dengan sendirinya akan
mempengaruhi produksi, alokasi, pendapatan dan konsumsi. Mekanisme
pembentukan harga akan membawa segala hubungan ekonomi secara otomatis
ke jurusan persesuaian kepada keadaan seimbang.

E. STUDI TENTANG PERUBAHAN

1.Mempelajari sejarah studi tentang perubahan


2.Mendiskusikan sifat tentang pendidikan perubahan
3.Mempresentasikan sebuah variasi struktur berpikir tentang perubahan
4.Menjelaskan tiga prespektif rencana perubahan
5.Menghubungkan beberapa aspek tentang proses perubahan kepada buktibukti dari perubahan yang direncanakan.
Proses dari Perubahan dan Penemuan Bukti
6.Perubahan berlangsung secara terus menerus
7.Perubahan menyebabkan kegelisahan dan ketidakpastian
8.Dukungan teknik dan psikologi sangat diperlukan
9.Belajar ketrampilan yang baru merupakan suatu perkembangan dan kenaikan
nilai-nilai sosial.
10.Hubungan antara organisasi pendidikan dan seseorang yang menjadi agen
pembaharu akan dapat dirasakan setelah terbukti melalui proses perubahan.
Setiap orang harus siap menjadi agen pembaharuan untuk dirinya sendiri.

11.Perubahan yang membawa keberhasilan selalu melalui dorongan dan


dukungan.

F. PERUBAHAN PARADIGMA ILMU SOSIATRI

Setiap perubahan sosial selalu mencakup pula perubahan budaya, dan


perubahan budaya akan mencakup juga perubahan sosial. Sosiatri merupakan
ilmu sosial terapan (applied science), yang dalam pengembangannya
mengandalkan realita yang terjadi di dalam masyarakat, berkaitan dengan
masalah sosial yang perlu diselesaikan (pandangan awal perkembangan) dan
penyesuaian kebutuhan dengan sumber daya yang ada (pandangan hasil
perkembangan). Realita dalam masyarakat yang terus mengalami perubahan
memiliki dimensi perubahan sosial. Sementara itu, secara keilmuan,
pengembangan kajian, penelitian, dan teori-teori baru juga dituntut dari sosiatri,
baik melalui hasil kerja lapangan (penelitian dan proyek sosiatri), maupun
melalui berbagai kegiatan seminar dan diskusi.
Aktivitas ilmiah mempermudah perubahan budaya. Inovasi baru di bidang
keilmuan memperoleh ruang dan kesempatan formal. Kajian perubahan dalam
sosiatri dapat dipadukan dengan konsep paradigma dari. Konsep paradigma dari
Khun sealiran dengan teori-teori perubahan. Perubahan ilmu pengetahuan
menurut Khun terjadi secara revolusioner. Akumulasi hanyalah salah satu
segmen di dalam proses revolusi untuk mencapai kemajuan ilmu. Revolusi ilmu
menjalani proses sebagai berikut: Paradigma I Ilmu Normal Anomali Krisis
Revolusi Paradigma II Pada tahap ilmu normal, proses akumulasi ilmu
terjadi, namun perkembangan ilmu tidak hanya terletak pada tahap ilmu normal,
melainkan meliputi keseluruhan proses tersebut. Paradigma merupakan suatu
pandangan mendasar tentang apa yang menjadi pokok persoalan dalam suatu
cabang ilmu. Jadi paradigma merupakan suatru bingkai atau frame yang
membuat ilmuwan terfokus pada apa yang menjadi perhatiannya berkaitan
dengan suatu kondisi atau objek.
Perubahan paradigma dalam ilmu sosial yang dijadikan sebagai acuan kerja dan
pelaksanaan proyek sosiatri jelas akan turut mengakibatkan perubahan dalam
paradigma sosiatri sebagai ilmu. Perubahan paradigma dalam suatu ilmu
pengetahuan memang bukan suatu hal baru. Kondisi ini menunjukkan proses
revolusi ilmu dari Khun merupakan sesuatu yang realiabel. Di bidang ilmu alam
akan dengan dengan mudah ditemukan perubahan paradigma mendasar yang
selanjutnya mempengaruhi kehidupan manusia. Perubahan teori geosentris
menjadi heliosentris merupakan suatu revolusi dalam kosmologi yang
dampaknya sangat besar. Salah satu efek sosialnya adalah perkembangan
penjelajahan samudera yang menimbulkan kolonialisme dan imperialisme
bangsabangsa Eropa terhadap bangsa noneropa. Perubahan pemikiran
mengenai abiogenesis menjadi biogenesis merupakan perubahan besar dalam
biologi. Efek positifnya adalah memungkinkan perkembangan ilmu budidaya dan

kajian mikrobiologi. Efek sosialnya adalah kemampuan menjawab kekhawatiran


Malthus mengenai bencana kemiskinan dan kelaparan akibat ledakan jumlah
penduduk. Di bidang ilmu sosial, dapat terlihat perubahan paradigma sosiologi
dan antropologi. Pada awal perkembangannya, sosiologi difokuskan pada
struktur sosial dan dinamika sosial masyarakat Eropa pascarevolusi sosial dan
Revolusi Industri. Kedua revolusi tersebut memberikan dampak yang besar
terhadap masyarakat dunia.
Pembangunan mempunyai pengertian dinamis, maka tidak boleh dilihat dari
konsep yang statis. Pembangunan juga mengandung orientasi dan kegiatan
yang tanpa akhir. Proses pembangunan merupakan suatu perubahan sosial
budaya. Pembangunan menunjukkan terjadinya suatu proses maju berdasarkan
kekuatan sendiri, tergantung kepada manusia dan struktur sosialnya.
Pembangunan tidak bersifat top-down, tetapi tergantung dengan innerwill,
proses emansipasi diri. Dengan demikian, partisipasi aktif dan kreatif dalam
proses pembangunan hanya mungkin bila terjadi karena proses pendewasaan.

G. PROSES PERUBAHAN SOSIAL DALAM KONTEKS GLOBAL

Globalisasi mau tidak mau harus dilalui oleh seluruh negara di dunia ini.
Hubungan antar negara menjadi sedemikian penting pengaruhnya dalam
mewujudkan kehidupan masin-masing negara terlebih ketika era globalisasi tiba.
Menjadi suatu keniscayaan apabila sebuah negara harus bekerjasama dengan
negara lain bahkan lebih ekstremnya lagi memerlukan bantuan negara lain. Polapola hubungan antar negara menjadi bahasan penting dalam membedah
perubahan sosial yang terjadi saat ini.
Selain peran negara lain (negara maju), perubahan sosial di negara-negara
berkembang dipengaruhi oleh organisasi internasional dan bahkan perusahaan
multi nasional. Dominasi negara maju dapat dilihat dari berbagai bantuan yang
masuk ke nagara berkembang atas nama modernisasi. Modernisasi diangap
sebagai jalan untuk meraih kemajuan negara berkembang. Organisasi
internasional mempunyai peran yang hampir sama dengan negara maju.
Berbagai kesepakatan dan kebijakan yang dihasilkan memberikan dampak yang
sangat nyata bagi Negara berkembang. Hal ini terjadi karena memang organisasi
internasional didominasi oleh negara maju.

BAB III
Penutup
A. Kesimpulan
Penanganan kemiskinan memerlukan keterlibatan semua fihak. Lintas fungsi
maupun lintas sektor. Oleh karena itu, upaya sinergi perlu terus dilakukan agar
tidak terjadi saling tumpang tindih dalam penanganannya. Tentunya langkah
awal ke arah itu dapat dilakukan dengan mendasarkan pada data penyandang
miskin yang riil dan valid.
Dalam hal ini Departemen Sosial telah merintis data penyandang miskin lengkap
tercantum nama dan alamatnya by name by address?, Data ini merupakan
hasil olah sahih data SLT terdahulu. Kita berharap data ini menjadi acuan semua
pihak yang berkepentingan dalam penanganan masalah kemiskinan sehinga
penanganannya lebih terpadu, terarah dan mampu mengurangi jumlah
penduduk miskin.
Dengan tersedianya data yang jelas dan akurat diharapkan mampu merangsang
keterlibatan seluruh komponen bangsa untuk terlibat aktif dalam penanganan
kemiskinan. Semoga segala upaya kita menangani kemiskinan semakin hari
semakin mampu membawa pada kejayaan bangsa.
B. Saran
Khusus untuk masyarakat Indonesia penyusunan hukum yang hanya berorientasi
tujuan tanpa memperhatikan sarana yang diperlukannya tidak akan efektif
menimbulkan perubahan,Namun demikian kita harus selalu berusaha dalam
mewujudkan perubahan sosial masyarakat serta Perlunya pemahaman aspek
sejarah pembangunan masyarakat untuk peningkatan pendapatan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA
SOETOMO, Penerbit Pustaka Pelajar, MASALAH SOSIAL DAN UPAYA
PEMECAHANNYA
Mochtar Kusumaatmaja, Hukum, Masyarakat, dan Pembinaan Hukum Nasional,
Bina Cipta, Bandung.

___________________, Fungsi dan Perkembangan Hukum dalam Pembangunan


Nasional, Bina Cipta, Jakarta.
Ronny Hanitijo Soemitro, Beberapa Masalah dalam studi Hukum dan Masyarakat,
Remaja Rosdakarya, Bandung, 1985.
Soerjono Soekanto, Pokok-pokok Sosiologi Hukum, Raja Grafindo Persada,
Jakarta, cet.vii, 2006.