Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PROFESI NERS DEPARTEMEN SURGICAL LAPORAN PENDAHULUAN HIDROSEFALUS

LAPORAN INDIVIDU

Untuk Memenuhi Tugas Profesi di Ruang 13

Oleh: SILMA KAMILA NIM. 0910720085

JURUSAN ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013

DEFINISI Hidrosefalus berasal dari kata hidro yang berarti air dan chepalon yang berarti kepala. Hidrosefalus merupakan penumpukan cairan serebrospinal (CSS) secara aktif yang menyebabkan dilatasi sistem ventrikel otak dimana terjadi akumulasi CSS yang berlebihan pada satu atau lebih ventrikel atau ruang subarachnoid. Hidrocefalus adalah keadaan patologik otak yang mengakibatkan

bertambahnya cairan cerebrospinal dan adanya tekanan intrakranial (TIK) yang meninggi sehingga terdapat pelebaran ruangan tempat mengeluarkan likuor (Depkes RI, 1989). KLASIFIKASI Berdasarkan Anatomi / tempat obstruksi CSS Hidrosefalus tipe obstruksi / non komunikans Terjadi bila CSS otak terganggu (Gangguan di dalam atau pada sistem ventrikel yang mengakibatkan penyumbatan aliran CSS dalam sistem ventrikel otak), yang kebanyakan disebabkan oleh kongenital : stenosis akuaduktus Sylvius (menyebabkan dilatasi ventrikel lateralis dan ventrikel III. Ventrikel IV biasanya normal dalam ukuran dan lokasinya). Yang agak jarang ditemukan sebagai penyebab hidrosefalus adalah sindrom DandyWalker, Atresia foramen Monro, malformasi vaskuler atau tumor bawaan. Radang (Eksudat, infeksi meningeal). Perdarahan/trauma (hematoma subdural). Tumor dalam sistem ventrikel (tumor intraventrikuler, tumor parasellar, tumor fossa posterior). Hidrosefalus tipe komunikans Jarang ditemukan. Terjadi karena proses berlebihan atau gangguan penyerapan (Gangguan di luar sistem ventrikel). perdarahan akibat trauma kelahiran menyebabkan perlekatan lalu menimbulkan blokade villi arachnoid. Radang meningeal Kongenital: Perlekatan arachnoid/sisterna karena gangguan pembentukan. Gangguan pembentukan villi arachnoid Papilloma plexus choroideus Berdasarkan Etiologinya Kongenital Stenosis akuaduktus serebri Mempunyai berbagai penyebab. Kebanyakan disebabkan oleh infeksi atau perdarahan selama kehidupan fetal; stenosis kongenital sejati

adalah sangat jarang. (Toxoplasma/T.gondii, Rubella/German measles, X-linked hidrosefalus). Sindrom Dandy-Walker Malformasi ini melibatkan 2-4% bayi baru lahir dengan hidrosefalus. Etiologinya tidak diketahui. Malformasi ini berupa ekspansi kistik ventrikel IV dan hipoplasia vermis serebelum. Hidrosefalus yang terjadi

diakibatkan oleh hubungan antara dilatasi ventrikel IV dan rongga subarachnoid yang tidak adekuat; dan hal ini dapat tampil pada saat lahir, namun 80% kasusnya biasanya tampak dalam 3 bulan pertama. Kasus semacam ini sering terjadi bersamaan dengan anomali lainnya seperti agenesis korpus kalosum, labiopalatoskhisis, anomali okuler, anomali jantung, dan sebagainya. Malformasi Arnold-Chiari Anomali kongenital yang jarang dimana 2 bagian otak yaitu batang otak dan cerebelum mengalami perpanjangan dari ukuran normal dan menonjol keluar menuju canalis spinalis Aneurisma vena Galeni Kerusakan vaskuler yang terjadi pada saat kelahiran, tetapi secara normal tidak dapat dideteksi sampai anak berusia beberapa bulan. Hal ini terjadi karena vena Galen mengalir di atas akuaduktus Sylvii, menggembung Hidrancephaly Suatu kondisi dimana hemisfer otak tidak ada dan diganti dengan kantong CSS Tipe didapat Stenosis akuaduktus serebri (setelah infeksi atau perdarahan) Infeksi oleh bakteri Meningitis, menyebabkan radang pada selaput (meningen) di sekitar otak dan spinal cord. Hidrosefalus berkembang ketika jaringan parut dari infeksi meningen menghambat aliran CSS dalam ruang subarachnoid, yang melalui akuaduktus pada sistem ventrikel atau mempengaruhi penyerapan CSS dalam villi arachnoid. Jika saat itu tidak mendapat pengobatan, bakteri meningitis dapat dan membentuk kantong aneurisma. Seringkali

menyebabkan hidrosefalus.

menyebabkan kematian dalam beberapa hari. Tanda-tanda dan gejala meningitis meliputi demam, sakit kepala, panas tinggi, kehilangan nafsu makan, kaku kuduk. Pada kasus yang ekstrim, gejala meningitis

ditunjukkan dengan muntah dan kejang. Dapat diobati dengan antibiotik dosis tinggi. Hematoma intraventrikuler Jika cukup berat dapat mempengaruhi ventrikel, mengakibatkan darah mengalir dalam jaringan otak sekitar dan mengakibatkan perubahan neurologis. Kemungkinan hidrosefalus berkembang sisebabkan oleh penyumbatan atau penurunan kemampuan otak untuk menyerap CSS. Tumor (ventrikel, regio vinialis, fosa posterior) Sebagian besar tumor otak dialami oleh anak-anak pada usia 5-10 tahun. 70% tumor ini terjadi dibagian belakang otak yang disebut fosa posterior. Jenis lain dari tumor otakyang dapat menyebabkan

hidrosefalus adalah tumor intraventrikuler dan kasus yang sering terjadi adalah tumor plexus choroideus (termasuk papiloma dan carsinoma). Tumor yang berada di bagian belakang otak sebagian besar akan menyumbat aliran CSS yang keluar dari ventrikel IV. Pada banyak kasus, cara terbaik untuk mengobati hidrosefalus yang berhubungan dengan tumor adalah menghilangkan tumor penyebab sumbatan. Kista arakhnoid Kista adalah kantung lunak atau lubang tertutup yang berisi cairan. Jika terdapat kista arachnoid maka kantung berisi CSS dan dilapisi dengan jaringan pada membran arachnoid. Kista biasanya ditemukan pada anak-anak dan berada pada ventrikel otak atau pada ruang subarachnoid. Kista subarachnoid dapat menyebabkan hidrosefalus non komunikans dengan cara menyumbat aliran CSS dalam ventrikel khususnya ventrikel III. Berdasarkan lokasi kista, dokter bedah saraf dapat menghilangkan dinding kista dan mengeringkan cairan kista. Jika kista terdapat pada tempat yang tidak dapat dioperasi (dekat batang otak), dokter dapat memasang shunt untuk mengalirkan cairan agar bisa diserap. Hal ini akan menghentikan pertumbuhan kista dan melindungi batang otak. Berdasarkan Usia Hidrosefalus tipe kongenital / infantil ( bayi ) Hidrosefalus tipe juvenile / adult ( anak-anak / dewasa ) Selain pembagian berdasarkan anatomi, etiologi, dan usia, terdapat juga jenis Hidrosefalus Tekanan Normal : sesuai konvensi, sindroma hidrosefalik termasuk tanda dan gejala peninggian TIK, seperti kepala yang besar

dengan penonjolan fontanel. Akhir-akhir ini, dilaporkan temuan klinis hidrosefalus yang tidak bersamaan dengan peninggian TIK. seseorang bisa didiagnosa mengalami hidrosefalus tekanan normal jika ventrikel otaknya mengalami pembesaran, tetapi hanya sedikit atau tidak ada peningkatan tekanan dalam ventrikel. Biasanya dialami oleh pasien usia lanjut, dan sebagian besar disebabkan aliran CSS yang terganggu dan compliance otak yang tidak normal. Pada dewasa dapat timbul hidrosefalus tekanan normal akibat dari: o Perdarahan subarachnoid o Meningitis o trauma kepala, dan idiopathic.

Dengan trias gejala: o gangguan mental (dementia) o gangguan koordinasi (ataksia) o gangguan kencing (inkontinentia urin) ETIOLOGI Kondisi Hydrocephalus dapat dideteksi sejak masih dalam kandungan, tetapi hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti tentang penyebab Hydrocephalus. Beberapa kemungkinan penyebabnya adalah:

1. Kelainan bawaan
Stenosis aquaduktus silvii Merupakan penyebab yang terbanyak pada hydrocephalus bayi dan anak (60 90 %). Aquaduktus dapat merupakan saluran yang buntu sama sekali atau abnormal, yaitu lebih sempit dari biasa. Umumnya gejala hydrocephalus terlihat sejak lahir atau progresif denga cepat pada bulan bulan pertama setelah lahir. Spina bifida dan cranium bifida Hydrocephalus pada kelainan ini bisanya yang berhubungan dengan sindrom Arnold-Chiari akibat tertariknya medula spinalis dengan medulla oblongata dan serebellum dan letaknya lebih rendah dan menutupi foramen magnum sehingga terjadi penyumbtan total atau sebagian. Sindroma Dandy-Walker Merupakan atresia congenital foramen Luscha dan Magendie yang menyebabkan hydrocephalus obstruktif denga pelebaran sistem ventrikel

terutam aventrikel IV, yang dapat sedemikain besarnya hingga merupakan suatu kista yang besar di daerah foscca pascaerior. Kista Arachnoid Dapat terjadi congenital tetapi dapat juga timbul akibat trauma sekunder suatu hematoma. Anomali pembuluh darah

2. Infeksi
Infeksi pada selaput meningen dapat menimbulkan perlekatan meningen sehingga dapat terjadi oblitersi ruang subarachnoid. Pelebaran ventrikel pada fase akut meningitis purulenta terjadi bila aliran CSS terganggu oleh obstruksi mekanik eksudat purulenta di aquaduktus silvii sisterna basalis.

3. Neoplasma
Hydrocephalus oleh obstruksi mekanis yang dapat terjadi di setiap aliran CSS. Hydrocephalus oleh obstruksi mekanis yang dapat terjadi disetiap tempat aliran CSS. Pengobatannya dalam hal ini ditujukan kepada penyebabnya dan apabila tumor tidak diangkat (tidak mungkin dioperasi), maka dapat dilakukan tindakan paliatif dengan mengalirkan CSS melalui saluran buatan atau tirau. Pada anak, penyumbatan ventrikel IV atau aquaduktus silvii bagian akhir biasanya paling banyak disebabkan oleh glikoma yang berasal dari cereblum, sedangkan penyumbatan bagian depan ventrikel III biasanya disebabkan suatu kraniofaringioma.

4. Perdarahan
Perdarahan sebelum dan sesudah lahir yang terjadi di dalam otak dapat menyebabkan fibrosis leptomeningen. Obstruksi juga dapat muncul akibat organisasi dari darah itu sendiri. PATOFISIOLOGI Jika terdapat obstruksi pada system ventrikuler atau pada ruangan subarachnoid, ventrikel serebri melebar, menyebabkan permukaan ventrikuler mengerut dan menyobek garis ependimal. Substansia alaba di bawahnya akan mengalami atrofi dan tereduksi menjadi pita yang tipis. Pada substansia grisea terdapat pemeliharaan yang bersifat selektif, sehingga walaupun ventrikel telah mengalami pembesaran, substansia grisea tidak mengalami gangguan. Proses dilatasi itu dapat merupakan proses yang tiba-tiba(akut) dan dapat juga selektif bergantung pada kedudukan penyumbatan. Proses akut itu merupakan kasus kegawatan. Pada bayi dan anak kecil, sutura kranialnya melipat dan melebar untuk mengakomodasi peningkatan massa cranial. Jika Fontanela anterior tidak

tertutup, maka fontanel ini tidak akan berkembang dan terasa tegang pada perabaan. Stenosis aquaduktus menyebabkan titik pelebaran pada ventrikel lateral dan tengah, pelebaran ini menyebabkan kepala berbentuk khas, yaitu dahi tampak menonjol secara dominan (dominan frontal blow). Sindrom dandy-Walker terjadi jika karena adanya obstruksi pada foraminal di luar pada ventrikel IV. Ventrikel IV melebar dan fosa pascaerior menonjol memenuhi sebagian besar ruang di bawah tentorium. Klien dengan tipe hydrochepalus di atas akan mengalamai pembesaran cerebrum yang secara simetris dan wajahnya tampak kecil secara disproporsional. Pada orang yang lebih tua, sutura cranial telah menutup sehingga membatasi ekspansi masa otak, akibatnya gejala peningkatan tekanan intracranial terjadi sebelum terjadi ventrikel serebri menjadi sangat membesar. Kerusakan dalam absorpsi dan sirkulasi CSS adalah hydrocephalus tidak komplet. CSS melebihi kapasitas normal system ventriikel setiap 6-8 jam dan tidak adanya absorpsi total akan menyebabkan kematian. Ventrikular yang melebar menyebabkan sobeknya garis ependimal normal, khusunya pada dinding rongga sehingg mengakibatkan peningkatan absorpsi. Jika rute kolateral cukup untuk mencegah dilatasi ventricular lebih lanjut maka akan terjadi keadaan kompensasi. MANIFESTASI KLINIS Tanda klinis hydrocephalus bervariasi dan tergantung pada banyak faktor, termasuk usia munculnya, sifat lesi yang menyebabkan obstruksi, dan lama serta kecepatan munculnya tekanan intrakranium. Iritabilitas, lesu, nafsu makan buruk, dan muntah adalah lazim pada bayi dan anak yang menderita hidrosefalus. Pada bayi, angka percepatan pembesaran kepala merupakan tanda yang paling menonjol. Fontanela anterior terbuka lebar dan menonjol, dan vena kulit kepala dilatasi. Dahi lebar dan mata dapat berdeviasi ke bawah karena pergeseran pelebaran ceruk suprapineal pada tektum menimbulkan tanda mata sunset phenomenom atau matahari terbenam. Pada anak, sutura cranialis sebagian tertutup sehingga tanda hidrosefalus menjadi lebih tidak kentara. Nyeri kepala merupakan gejala yang menonjol. Perubahan secara bertahap dalam kepribadian dan kemunduran dalam produktivitas akademik menunjukkan adanya bentuk hidrosefalus progresif lambat. Perkusi tengkorak dapat menimbulkan tanda cracked-pot sign atau tanda Macewen, yang menunjukkan adanya pelebaran sutura. Gejala pada anak-anak dan dewasa: Sakit kepala Kesadaran menurun

Gelisah Mual, muntah Hiperfleksi seperti kenaikan tonus anggota gerak Gangguan perkembangan fisik dan mental Papil edema; ketajaman penglihatan akan menurun dan lebih lanjut dapat mengakibatkan kebutaan bila terjadi atrofi papila N.II. Tekanan intrakranial meninggi oleh karena ubun-ubun dan sutura sudah menutup, nyeri kepala terutama di daerah bifrontal dan bioksipital. Aktivitas fisik dan mental secara bertahap akan menurun dengan gangguan mental yang sering dijumpai seperti : respon terhadap lingkungan lambat, kurang perhatian tidak mampu merencanakan aktivitasnya. PEMERIKSAAN PENUNJANG X Foto kepala Didapatkan Tulang tipis Disproporsi kraniofasial Sutura melebar Dengan prosedur ini dapat diketahui : Hidrosefalus tipe kongenital/infantil Hidrosefalus tipe juvenile/adult: oleh karena sutura telah menutup maka dari foto rontgen kepala diharapkan adanya gambaran kenaikan tekanan intrakranial. Transiluminasi penyebaran cahaya diluar sumber sinar lebih dari batas, frontal 2,5 cm, oksipital 1 cm Pemeriksaan CSS Dengan cara aseptik melalui punksi ventrikel/punksi fontanela mayor. Menentukan: Tekanan Jumlah sel meningkat, menunjukkan adanya keradangan infeksi Adanya eritrosit menunjukkan perdarahan Bila terdapat infeksi, diperiksa dengan pembiakan kuman dan kepekaan antibiotik. Ventrikulografi yaitu dengan cara memasukkan kontras berupa O2 murni atau kontras lainnya dengan alat tertentu menembus melalui fontanella anterior langsung

masuk ke dalam ventrikel. Setelah kontras masuk langsung difoto, maka akan terlihat kontras mengisi ruang ventrikel yang melebar. Pada anak yang besar karena fontanela telah menutup ontuk memaukkan kontras dibuatkan lubang dengan bor pada karanium bagian frontal atau oksipitalis. Ventrikulografi ini sangat sulit dan mempunyai resiko yang tinggi. Di rumah sakit yang telah memiliki fasilitas CT scan, prosedur ini telah ditinggalkan. CT scan kepala o Pada hidrosefalus obstruktif CT scan sering menunjukkan adanya pelebaran dari ventrikel lateralis dan ventrikel III. Dapat terjadi di atas ventrikel lebih besar dari occipital horns pada anak yang besar. Ventrikel IV sering ukurannya normal dan adanya penurunan densitas oleh karena terjadi reabsorpsi transependimal dari CSS. o Pada hidrosefalus komunikan gambaran CT scan menunjukkan dilatasi ringan dari semua sistem ventrikel termasuk ruang subarakhnoid di proksimal dari daerah sumbatan. o Keuntungan CT scan: Gambaran lebih jelas Non traumatik Meramal prognose Penyebab hidrosefalus dapat diduga USG Dilakukan melalui fontanela anterior yang masih terbuka. Dengan USG diharapkan dapat menunjukkan sistem ventrikel yang melebar. Pendapat lain mengatakan pemeriksaan USG pada penderita hidrosefalus ternyata tidak mempunyai nilai di dalam menentukan keadaan sistem ventrikel hal ini disebabkan oleh karena USG tidak dapat menggambarkan anatomi sistem ventrikel secara jelas, seperti halnya pada pemeriksaan CT scan. Pungsi Lumbal adalah uapaya pengeluaran cairan serebrospinal dengan memasukan jarum ke dalam ruang subarakhnoid. Test ini dilakukan untuk pemeriksaan cairan serebrospinali, mengukur dan mengurangi tekanan cairan serebrospinal, menentukan ada tidaknya darah pada cairan serebrospinal, untuk mendeteksi adanya blok subarakhnoid spinal, dan untuk memberikan antibiotic intrathekal ke dalam kanalis spinal terutama kasus infeksi.

KOMPLIKASI 1. Sakit kepala 2. Biasanya dirasakan segera sesudah lumbal punksi, ini timbul karena pengurangan cairan serebrospinal 3. Backache, biasanya di lokasi bekas punksi disebabkan spasme otot 4. Infeksi 5. Herniasi 6. Untrakranial subdural hematom 7. Hematom dengan penekanan pada radiks 8. Tumor epidermoid intraspinal PENATALAKSANAAN Terapi medikametosa Ditujukan untuk membatasi evolusi hidrosefalus melalui upaya mengurangi sekresi cairan dari pleksus khoroid atau upaya meningkatkan resorpsinya. Dapat dicoba pada pasien yang tidak gawat, terutama pada pusat -pusat kesehatan dimana sarana bedah sarf tidak ada. Obat yang sering digunakan adalah: Asetasolamid Cara pemberian dan dosis; Per oral 2-3 x 125 mg/hari, dosis ini dapat ditingkatkan sampai maksimal 1.200 mg/hari Furosemid Cara pemberian dan dosis; Per oral, 1,2 mg/kgBB 1x/hari atau injeksi iv 0,6 mg/kgBB/hari Bila tidak ada perubahan setelah satu minggu pasien diprogramkan untuk operasi. Lumbal pungsi berulang (serial lumbar puncture) Mekanisme pungsi lumbal berulang dalam hal menghentikan progresivitas hidrosefalus belum diketahui secara pasti. Pada pungsi lumbal berulang akan terjadi penurunan tekanan CSS secara intermiten yang memungkinkan absorpsi CSS oleh vili arakhnoidalis akan lebih mudah.

Indikasi: umumnya dikerjakan pada hidrosefalus komunikan terutama pada hidrosefalus yang terjadi setelah perdarahan subarakhnoid, periventrikularintraventrikular dan meningitis TBC. Diindikasikan juga pada hidrosefalus komunikan dimana shunt tidak bisa dikerjakan atau kemungkinan akan terjadi herniasi (impending herniation) Cara:

a. LP dikerjakan dengan memakai jarum ukuran 22, pada interspace L2-3 atau
L3-4 dan CSS dibiarkan mengalir di bawah pengaruh gaya gravitasi.

b. LP dihentikan jika aliran CSS terhenti. Tetapi ada juga yang memakai cara
setiap LP CSS dikeluarkan 3-5 ml.

c. Mula-mula LP dilakukan setiap hari, jika CSS yang keluar kurang dari 5 ml,
LP diperjarang (2-3 hari).

d. Dilakukan evaluasi dengan pemeriksaan CT scan kepala setiap minggu. e. LP dihentikan jika ukuran ventrikel menetap pada pemeriksaan CT scan 3
minggu berturut-turut.

f. Tindakan ini dianggap gagal jika:


Dilatasi ventrikel menetap Cortical mantel makin tipis Pada lokasi lumbal punksi terjadi sikatriks Dilatasi ventrikel yang progresif Komplikasi: herniasi transtentorial atau tonsiler infeksi hipoproteinemia dan gangguan elektrolit. Terapi Operasi Operasi biasanya langsung dikerjakan pada penderita hidrosefalus. Pada penderita gawat yang menunggu operasi biasanya diberikan : Mannitol per infus 0,5-2 g/kgBB/hari yang diberikan dalam jangka waktu 10-30 menit.

1. Third Ventrikulostomi/Ventrikel III


Lewat kraniotom, ventrikel III dibuka melalui daerah khiasma optikum, dengan bantuan endoskopi. Selanjutnya dibuat lubang sehingga CSS dari ventrikel III dapat mengalir keluar.

2. Operasi pintas/Shunting
Ada 2 macam: Eksternal CSS dialirkan dari ventrikel ke luar tubuh, dan bersifat hanya sementara. Misalnya: pungsi lumbal yang berulang-ulang untuk terapi hidrosefalus tekanan normal.

Internal

a. CSS dialirkan dari ventrikel ke dalam anggota tubuh lain.


Ventrikulo-Sisternal CSS dialirkan ke sisterna magna (ThorKjeldsen) Ventrikulo-Atrial, CSS dialirkan ke atrium kanan Ventrikulo-Sinus, CSS dialirkan ke sinus sagitalis superior Ventrikulo-Bronkhial, CSS dialirkan ke Bronkhus Ventrikulo-Mediastinal, CSS dialirkan ke mediastinum Ventrikulo-Peritoneal, CSS dialirkan ke rongga peritoneum

b. Lumbo Peritoneal Shunt


CSS dialirkan dari Resessus Spinalis Lumbalis ke rongga peritoneum dengan operasi terbuka atau dengan jarum Touhy secara perkutan. Komplikasi Shunting Infeksi Hematoma subdural Obstruksi Keadaan CSS yang rendah Asites Kraniosinostosis

ASUHAN KEPERAWATAN Pengkajian keperawatan 1. Keluhan utama Muntah, gelisah nyeri kepala, lethargi, lelah apatis, penglihatan ganda, perubahan pupil, kontriksi penglihatan perifer. 2. Riwayat perkembangan Kelahiran: prematur. Pada waktu lahir menangis keras atau tidak. Apakah pernah terjatuh dengan kepala terbentur. Keluhan sakit perut. 3. Pemeriksaan fisik a. B1 ( Breath ): Dispnea, ronchi, peningkatan frekuensi napas b. B2 ( Blood ): Pucat, peningkatan systole tekanan darah, penurunan nadi c. B3 ( Brain ): Sakit kepala, gangguan kesadaran, dahi menonjol dan mengkilat, pembesaran kepala, perubahan pupil, penglihatan ganda, kontruksi penglihatan perifer, strabismus ( juling ), tidak dapat melihat keatas sunset eyes , kejang d. B4 ( Bladder ): Oliguria e. B5 ( Bowel ): Mual, muntah, malas makan f. B6 ( Bone ): Kelemahan, lelah, peningkatan tonus otot ekstrimitas g. Observasi tanda tanda vital Peningkatan systole tekanan darah Penurunan nadi / bradikardia Peningkatan frekuensi pernapasan Diagnosa Keperawatan 1. Perfusi jaringan cerebral tidak efektif berhubungan dengan penurunan aliran darah ke otak ditandai dengan vena-vena di area cerebral melebar, sutura melebar. 2. Hipertermi berhubungan dengan adanya respon inflamsi karena masuknya bakteri 3. Gangguan sensori persepsi visual berhubungan dengan perubahan sensori persepsi 4. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan imobilisasi fisik ditandai dengan lesi di area oksipital.

Rencana Keperawatan Diagnosa keperawatan: Perfusi jaringan cerebral tidak efektif berhubungan dengan penurunan aliran darah ke otak ditandai dengan vena-vena di area cerebral melebar, sutura melebar. Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan selama .x24 jam, diharapkan perfusi jaringan serebral kembali efektif dengan kriteria hasil: Tidak ada tanda-tanda peningkatan tekanan intracranial Intervensi keperawatan : 1. Observasi pupil atau perubahan tandatanda vital, penurunan tingkat kesadaran dan/atau fungsi motor 2. Baringkan klien (tirah baring) total dengan posisi tidur terlentang tanpa bantal. 3. Monitor tanda-tanda vital, seperti suhu, dan frekuensi pernapasan. 4. Monitor kadar hemoglobin dalam darah (nilai normal : 9,0-14,0 g/dL)

Diagnosa keperawatan: Hipertermi berhubungan dengan adanya respon inflamsi karena masuknya bakteri ditandai dengan suhu tubuh pasien 390 C. Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan selama x24 jam, diharapkan hipertermi teratasi dengan kriteris hasil: Suhu klien dalam batas normal (360-37,50) Intervensi keperawatan : 1. Mandikan klien dengan menggunakan air hangat 2. Ciptakan lingkungan yang nyaman bayi klien 3. Sesuaikan temperatur ruangan dengan kebutuhan klien 4. Berikan kompres hangat 5. Kolaborasi pemberian antibiotik Diagnosa keperawatan: Gangguan sensori persepsi visual berhubungan dengan perubahan sensori persepsi (penekanan cranial 2) ditandai dengan sunset phenomenon. Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan selama .x24 jam, diharapkan gangguan sensori persepsi visual klien berkurang dengan kriteria hasil: Kemampuan penglihatan klien meningkat Sunset phenomenon berkurang Intervensi keperawatan: 1. Gunakan siaran TV sebagai bagian dari rencana program stimulasi sensorik 2. Monitor adanya tanda kemerahan pada mata klien

3. Bantu klien untuk tidak menyentuh mata bagian dalam

Diagnosa keperawatan: Gangguan integritas kulit berhubungan dengan imobilisasi fisik ditandai dengan lesi di area oksipital. Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan selama .x24 jam, diharapkan klien mampu mempertahankan keutuhan kulit dengan kriteria hasil: Tidak ada tanda-tanda kemerahan atau luka Intervensi keperawatan : 1. Ubah posisi setiap 2 jam 2. Observasi terhadap eritema, kepucatan, dan palpasi area sekitar terhadap kehangatan dan pelunakan jaringan tiap mengubah posisi 3. Jaga kebersihan kulit, seminimal mungkin hindari trauma terhadap panas terhadap kulit 4. Instruksikan pengunjung untuk mencuci tangan saat memasuki dan meninggalkan ruangan klien 5. Cuci tangan sebelum dan sesudah setelah melakukan perawatan kepada klien.

DAFTAR PUSTAKA Wedatama, dkk.2010. Hidrosefalus. www.scribd.com. Diakses tanggal 18 agustus 2013.