Anda di halaman 1dari 90

LAPORAN DIAGNOSIS DAN INTERVENSI KOMUNITAS

KURANGNYA PERILAKU KELUARGA BINAAN TERHADAP PEMANFAATAN SINAR MATAHARI, KAMPUNG GAGA, TANJUNG PASIR, PROVINSI BANTEN

Disusun oleh Kelompok I: Eni Sofyanti Gulan Fitrianti Mira Muftiarini Yuliyana 110.2008.318 110.2007. 131 110.2006.155 110.2006.279

Pembimbing oleh : dr. Dini Widianti, MKK

KEPANITERAAN KEDOKTERAN KOMUNITAS BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI PERIODE 23 SEPTEMBER 26 OKTOBER 2013

BAB I LATAR BELAKANG

1.1

Gambaran Umum Desa Secara Geografis

1.1.1 Situasi Keadaan Umum Desa Tanjung Pasir merupakan suatu desa di daerah pesisir pantai yang terletak di utara dari Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten yang mempunyai luas wilayah 564,25 hektar dan merupakan daerah dataran rendah dengan ketinggian satu meter dari permukaan dengan suhu udara 300-370C (Harti, 2010). Luas wilayah terdiri dari sawah seluas 79 hektar, daratan seluas 108,185 hektar dan empang seluas 377,065 hektar. Pada daratan terdiri dari dua hektar terdiri dari dua pemakaman umum. Desa Tanjung Pasir berbatasan dengan sekitarnya seperti yang terlihat pada gambar 1.1 adalah sebagai berikut (Harti, 2010) : a. b. c. d. Sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa Sebelah barat berbatasan dengan Desa Tanjung Burung Sebelah timur berbatasan dengan Desa Muara Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Tegal Angus, Lemo dan Pangkalan

Gambar 1.1 Peta Batas Wilayah Desa Tanjung Pasir

Sumber : dr Dwi Harti. Profil Puskesmas Tegal Angus.2010

1|Page

Puskesmas Tegal Angus adalah suatu puskesmas yang terletak di wilayah Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, mempunyai luas wilayah 4.763.198 hektar (47,631 km2). Terdiri dari luas daratan 2.170.120 hektar dan sawah 2.593.078 hektar dengan ketinggian dari permukaan laut 2-3 meter dengan curah hujan rata-rata 24 mm/tahun. Jarak dari Ibu Kota Kabupaten Tangerang sekitar 47 km. Batas batas wilayah Kecamatan Teluk Naga adalah sebagai berikut: a. Sebelah utara berbatasan dengan wilayah Laut Jawa b. Sebelah Selatan berbatasan dengan kota Tangerang/ Kecamatan Neglasari. c. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Kosambi. d. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Sepatan/Pakuhaji

Wilayah kerja puskesmas Tegal Angus berada di wilayah Kecamatan Teluk Naga bagian utara yang terdiri dari enam deesa binaan yaitu desa Pangkalan, Tanjung Burung, Tegal Angus, Tanjung Pasir, Muara dan Lemo. Puskesmas Tegal Angus terdapat di: a) Desa Tegal Angus b) Jl Raya Tanjung Pasir c) Kode pos 15510 d) Status kepemilikan tanah : Tanah Pemkab e) Batas wilayah sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa f) Batas wilayah sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Kosambi g) Batas wilayah sebelah Selatan berbatasn dengan desa Kampung Melayu h) Batas wilayah sebelah Barat dengan desa Pakuhaji.

Prasarana perhubungan dan pengairan di Kecamatan Teluk Naga dihubungkan oleh : A. Jalan Panjang jalan yang ada di wilayah Kecamatan Teluk Naga sepanjang 108 km, dengan klasifikasi sebagai berikut: 1. Berdasarkan status a. Jalan propinsi : 9,5 km

2|Page

b. Jalan Kabupaten : 5 km c. Jalan Desa : 93,5 km 2. Berdasarkan kondisi fisik a. Jalan hotmik : 17,5 km b. Jalan aspal : 67 km c. Jalan tanah : 14,5 km B. Jembatan 1. Jembatan besi 2. Jembatan beton C. Sungai/kali Sungai atau kali yang mengalir di wilayah Kecamatan Teluk Naga adalah sebagai berikut: 1. Irigasi /pegairan Pengairan dapat mengairi sawah seluas 20.593.649 ha. 2. Bendungan air /Dam Bendungan dapat digunakan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang menjadi salah satu sumber air bersih yang dimanfaatkan masyarakat. : 1 km : 7 km

Transportasi untuk mencapai wilayah Desa Tanjung Pasir sebagian besar dapat ditempuh dengan angkutan umum baik sepeda motor maupun mobil. Akan tetapi sebagian kecil hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Suasana sebelum memasuki Desa Tanjung Pasir melewati daerah Kampung Melayu Teluk Naga, selepas pasar maju sekitar 200 meter mengambil arah kanan. Kondisi fisik jalan menuju Desa Tanjung pasir dari arah Bandara Soekarno Hatta cukup baik menggunakan aspal meskipun ada beberapa jalan yang berlubang namun tidak begitu mengganggu perjalanan. Sedangkan kondisi fisik jalan menuju Desa Tanjung Pasir dari arah Tanjung Burung berupa bebatuan (Harti, 2010). Desa Tanjung Pasir terdiri dari 6 Kepala Dusun, 14 Rukun Warga (RW) dan 34 Rukun Tetangga (RT). Jarak tempuh dari pusat pemerintahan Desa Tanjung Pasir dalam melaksanakan hubungan dan komunikasi kerja dengan pemerintah di atasnya secara berjenjang sebagai berikut (Harti, 2010):

3|Page

a. b. c.

Dengan kantor kecamatan berjarak Dengan ibukota kabupaten berjarak Dengan ibukota provinsi berjarak

: 12 Km :54 Km : 72 Km

Gambar 1.2 Peta Wilayah Desa Tanjung Pasir

Sumber : dr Dwi Harti. Profil Puskesmas Tegal Angus.2010

Desa Tanjung Pasir memiliki tiga musim yaitu musim penghujan, kemarau dan angin. Musim yang mempengaruhi Desa Tanjung Pasir pada kurun waktu satu tahun ini adalah musim angin. Angin bertiup dari arah barat atau barat daya dengan kecepatan 15 km/jam dengan curah hujan rata-rata 26,4 mm/tahun (Harti, 2010).

1.2

Gambaran Umum Desa Secara Demografi

1.2.1 Situasi Kependudukan Jumlah penduduk di wilayah Desa Tanjung Pasir sampai dengan akhir tahun 2011 adalah 8.849 jiwa terdiri dari 4.436 jiwa laki-laki, dan 4.413 jiwa perempuan. Terdapat 1.936 kepala keluarga di Desa Tanjung Pasir. Kepadatan penduduk ratarata 1.569 jiwa/km2 dan rata-rata jumlah jiwa per rumah tangga adalah 4,6 jiwa, dengan jumlah 1736 rumah (Kantor Statistik Kecamatan Teluk Naga, 2011). Dilihat dari berbagai aspek, maka Desa Tanjung Pasir berbatasan langsung dengan kota Jakarta atau administratif Kepulauan Seribu yang mempunyai fungsi sebagai penyangga dari berbagai aspek kehidupan, yang tentunya sangat mempengaruhi berbagai pembangunan dan sebagai alat dari perkembangan

4|Page

teknologi, transformasi dan telekomunikasi yang semakin luas serta didukung dari sarana dan prasarana pendidikan dari tingkat Taman Kanak-Kanak (TK) sampai dengan tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) atau Madrasah Tsanawiyah (MTs) (Harti, 2010). Jumlah Penduduk Menurut Pendidikan berdasarkan data yang tercatat di Desa Tanjung Pasir adalah sebagai berikut (Harti, 2010): a. b. c. Tamat akademi/sederajat Tamat Perguruan Tinggi/sederajat Buta huruf : 45 orang : 521 orang : 498 orang

1.2.2 Pendidikan Tingkat pendidikan masyarakat sangat berperan dalam membentuk sikap dan perilaku masyarakat terhadap program kesehatan sehingga pendidikan sangat

berperan dalam pembangunan kesehatan (Laporan Kinerja Puskesmas Tegal Angus, 2011). Jumlah Penduduk Menurut Pendidikan berdasarkan data yang tercatat di Desa Tanjung Pasir adalah sebagai berikut (Kartikawatie, 2012): a) Tidak/belum pernah bersekolah : 894 orang : 1231 orang : 3590 orang : 785 orang : 863 orang : 18 : 24 orang orang

b) Tidak/belum tamat SD c) SD/MI

d) SLTP/MTs e) f) SLTA/MA AK/Diploma

g) Universitas

Prasarana pendidikan di Desa Tanjung Pasir adalah sebagai berikut (Kartikawatie, 2012):

5|Page

Tabel 1.1 Jumlah Prasarana Pendidikan di Desa Tanjung Pasir No. Prasarana Pendidikan Jumlah Sekolah (unit) 5 2 2 1 Jumlah Murid (orang) 153 1.269 876 413 Jumlah Guru (orang) 5 28 16 16 -

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

TK (Taman Kanak-Kanak) SD (Sekolah Dasar) Negeri Madrasah Ibtidaiyah (MI) SMP (Sekolah Menengah Pertama) Negeri Madrasah Tsanawiyah (MTs) SMP (Sekolah Menengah Pertama) Swasta Islam SMA (Sekolah Menengah Atas) Negeri SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) Negeri Lembaga Pendidikan: Pendidikan Usia dini (PAUD) Kursus bahasa Kursus menjahit

(puskesmas Tegal Angus)

1.2.3 Keadaan Sosial Ekonomi Ekonomi yang rendah, dimana data ini masih belum jauh berubah seperti tahun Keadaan ekonomi erat kaitannya dengan sumber mata pencaharian penduduk. Sebagian besar wilayah kerja di Desa Tanjung Pasir belum berkembang secara ekonomi. Jumlah penduduk Desa Tanjung Pasir terdiri dari 8.849 jiwa yang usia produktif dan pencari kerja diperkirakan sebanyak 2.039 jiwa. Secara umum dapat dijelaskan bahwa masyarakat Desa Tanjung Pasir bermata pencaharian sebagai nelayan, petani, pedagang, dan buruh dengan pendapatan yang tidak tetap. Dari data

6|Page

yang didapat pada tahun 2011 menunjukkan hampir separuh dari jumlah penduduk di Desa Tanjung Pasir mempunyai tingkat-tahun sebelumnya (Kartikawatie, 2012). Jumlah penduduk menurut mata pencaharian pokok adalah sebagai berikut (Kartikawatie, 2012):

a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) k) l) m) n) o) p)

Nelayan Buruh/swasta Pegawai Negeri Sipil (PNS) Pedagang Penjahit Tukang batu Tukang kayu Peternak Pengrajin Montir Dokter/bidan Supir Pengemudi becak TNI/POLRI Pengusaha Petani

:2.331orang :65orang :15orang :1.213orang :24orang :62orang :42orang :6orang :5orang :25orang :6orang :30orang :43orang :6orang :8orang :176orang

Sarana perekonomian dan perdagangan di Desa Tanjung Pasirantara lain (Kartikawatie, 2012): a) b) c) d) e) f) g) Koperasi Pasar Warung/kedai Kios kelontong Bengkel Toko Percetakan/sablon :1 ::100 :5 :8 :20 :unit unit unit unit unit unit unit

7|Page

h) i) j) k) l) m) n)

Material/toko bangunan Swalayan Supermall Pegadaian Bank BRI Bank Swasta Pos Giro

:::::::-

unit unit unit unit unit unit unit

Berdasarkan topografi, Desa Tanjung Pasir merupakan kawasan pantai yang landai sehingga di Desa Tanjung Pasir terdapat tambak yang luasnya mencapai 570 hektar. Walaupun demikian, pada awalnya lahan di Tanjung Pasir tidak cocok untuk kegiatan budidaya karena kurang baiknya sistem irigasi yang ada. Baru setelah adanya perbaikan irigasi oleh pemerintah, kegiatan budidaya dapat berkembang lebih baik. Sedangkan berdasarkan kepemilikan tambak, dari total luas tambak yang ada di Desa Tanjung Pasir hanya sekitar 20% saja yang dimiliki oleh penduduk desa setempat, selebihnya merupakan milik orang Jakarta dan sekitarnya. Komoditas budidaya tambak utama yang ada di Desa Tanjung Pasir adalah ikan bandeng, mujair dan kakap (Kartikawatie, 2012). Desa Tanjung Pasir juga merupakan daerah pariwisata yang biasanya di akhir minggu atau hari libur banyak dikunjungi oleh para wisatawan. Tempat pariwisata yang terdapat di desa Tanjung Pasir adalah tempat penangkaran buaya, resort, serta wisata pantai Tanjung Pasir. Tempat yang paling banyak dikunjungi biasanya adalah kawasan pantai. Namun keadaan pantai di Tanjung Pasir tidak terawat dengan baik. Banyak sampah yang tidak terurus dan air pantai yang terlihat berwarna kecoklatan. Hal ini mungkin dapat juga disebabkan karena masih banyaknya warga setempat yang membuang sampah rumah tangganya ke pantai. Desa Tanjung Pasir juga merupakan salah satu tempat yang bisa dimanfaatkan untuk para wisatawan menyeberang ke kawasan Pulau Seribu. (Kartikawatie, 2012).

8|Page

1.2.4 Keadaan Sosial Budaya Desa Tanjung Pasir memiliki beberapa suku di dalam masyarakatnya antara lain betawi, melayu dan sisanya adalah pendatang. Berdasarkan pencatatan yang dilakukan oleh kantor kepala desa setempat, mayoritas warga desa Tanjung Pasir beragama Islam yaitu 97% dan ada pula yang beragama Hindu, sisanya menganut agama Kristen Katolik, Protestan, dan agama Budha. Suasana beragama warga Desa Tanjung Pasir cukup baik, rukun, aman, dan tentram, saling menghormati dan tolong menolong (Harti, 2010). Jumlah penduduk berdasarkan agama adalah sebagai berikut (Harti, 2010): a. Islam b. Katolik c. Protestan d. Hindu e. Budha : 9.594 orang : 12 :2 : 56 : 51 orang orang orang orang

Sarana peribadatan yang tersedia di Desa Tanjung Pasir adalah sebagai berikut (Harti, 2010): a. Mesjid b. Mushola : 30 :6 unit unit unit

c. Majelis Taklim : 12 d. Gereja e. Pura ::-

1.2.5 Transportasi Sarana transportasi masyarakat Desa Tanjung Pasir dengan menggunakan angkutan umum, ojek motor, becak serta sepeda (Kartikawatie, 2012).

1.2.6 Kesehatan Upaya Pemerintah Desa Tanjung Pasir dengan instansi terkait, dalam hal ini Puskesmas untuk pelayanan kesehatan masyarakat, antara lain (Kartikawatie, 2012): a) Peningkatan gizi keluarga

9|Page

b)

Pemberian Makanan Tambahan (PMT) kepada balita yang ada di setiap Posyandu, pemeriksaan kesehatan kepada ibu hamil.

c)

Pencegahan penyakit, vaksinasi filariasis (kaki gajah), imunisasi polio bagi balita, pemberian vitamin A.

d)

Penyuluhan kesehatan dan penyakit antara lain demam berdarah dengue, flu burung, chikungunya, dan sejenisnya.

e)

Penanganan bagi balita yang kekurangan gizi dengan memberikan susu dan makanan yang bernutrisi.

f)

Penyuluhan kesehatan tentang bagaimana menjaga dan memelihara lingkungan dengan membersihkan rumah masing-masing dan lingkungan sekitarnya.

g)

Pemanfaatan dengan ditanami sayur mayur dan Tanaman Obat Keluarga (TOGA), tabulapot, dan tabulakar.

Sebagai penunjang kegiatan tersebut, dibutuhkan sarana kesehatan yang tersedia di Desa Tanjung Pasir (Kartikawatie, 2012): a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. Poskesdes Pos KB keluarga Posyandu Pos mandiri Klinik bersalin/BKIA Praktek dokter/bidan Praktek bidan Paraji Keluarga Berencana Jumlah pos/klinik KB Jumlah Pasangan Usia Subur : - unit : 4 unit : 4 unit : 4 orang : - orang : - unit : 334 pasang : 1 unit : - unit : 6 unit : - unit

Jumlah Akseptor KB 1. 2. 3. Pil IUD Kondom :127 orang :14 orang : - orang

10 | P a g e

4. 5.

Suntik Implant

:190 orang :13 orang

Berdasarkan data puskesmas Tegal Angus yang kami dapat, salah satu penyakit tersering yang terjadi di Desa Tanjung Pasir adalah Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) seperti panas badan yang disertai batuk dan pilek.

1.2.7 Kesehatan Gigi dan Mulut Balita Berdasarkan data yang diperoleh dari Puskesmas tahun 2010, untuk pelayanan kesehatan gigi dan mulut murid SD/MI di Puskesmas Tegal Angus berjumlah 5.573 orang, yang mendapat pemeriksaan berjumlah 4.481 orang. Dari jumlah tersebut didapatkan 2.921 siswa perlu mendapat perawatan, sementara yang berhasil mendapat perawatan hanya berkisar 163 orang (5,58%).(Harti, 2010). Berdasarkan data yang diperoleh dari Puskesmas tahun 2011, untuk program upaya pengobatan kunjungan rawat jalan gigi sebsar 63,18%. Dari data pencegahan dan penanggulangan penyakit gigi didapatkan data pencapaian pembinaan kesehatan gigi di posyandu sebesar 121,4%, pembinaan kesehatan gigi pada TK 100%, pembinaan dan bimbingan sikat gigi masal pada SD/MI 69,52%, perawatan kesehatan gigi pada SD/MI 242,5%, murid SD/MI yang mendapatkan perawatan gigi 12,49%, gigi tetap yang dicabut 81,11%, gigi tetap yang ditambal permanen 0,38% (Kartikawati,2011).

Dari data tersebut didapatkan bahwa kunjungan rawat jalan gigi masih kurang (<80%).Hal ini disebabkan oleh kurangnya sosialisasi adanya upaya pengobatan gigi di Puskesmas Tegal Angus. Sementara untuk upaya pengembangan pencegahan dan penanggulangan penyakit gigi (89,62%) termasuk kategori cukup (81-90%). Untuk program pembinaan kesehatan gigi di Posyandu sudah baik yaitu 121% (>90%) ini disebabkan adanya program UKGMD yang dilaksanakan setiap bulan di posyandu. Murid SD/MI yang mendapatkan perawatan gigi masih kurang (12,49%) karena kurangnya tenaga kesehatan gigi untuk melakukan tindakan gigi di murid sekolah dasar dan MI walaupun sudah dilakukan tapi masih kurang mencakup semua murid. (Kartikawati,2011)

11 | P a g e

1.3 Denah Lokasi Keluarga Binaan Keluarga binaan berada di RT 01/RW 03 Kampung Gaga Sukamana, Kelurahan Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, terdiri dari keluarga Tn. H. Iming, Tn. Madi, Tn. Somad, dan Tn. Nurdin.

Adapun lokasi pemukiman keluarga binaan adalah sebagai berikut:

U B T S
Keterangan :

1. 2. 3. 4.

Tn. H.Iming Tn. Madi Tn. Somad Tn. Nurdin

Gambar 1.3 Denah Lokasi Rumah Keluarga Binaan RT 01/RW 03

1.4 Profil Keluarga Binaan 1.4.1 Profil Keluarga Binaan Tn. H Iming Keluarga binaan terdiri dari lima anggota keluarga, yaitu Tn. H.Iming, Ny. Icih Sukaisih, Tn Lukman, Tn Jaya Atmaja, dan Nn Siti Dipamazrin.

12 | P a g e

Tabel 1.2 Profil Keluarga Tn. H. Iming Kampung Gaga Sukamana RT 01/RW 03 Bulan Oktober 2013

Nama

Status Keluarga Suami Istri Anak ke-2 Anak ke-3 Anak ke-4

Jenis Kelamin Laki laki perempuan Laki laki Laki laki Perempuan

Usia

Pendidikan

Pekerjaan

Penghasilan

Tn. H. Iming Ny. Icih Sukaisih Tn. Lukman Tn. Jaya Atmaja Nn. Siti Dipamazrina

75 th 45 th 20 th 16 th 8 th

SD tdk lulus SD Tamat SLTP SLTP SD kelas 2

Penjaga gerbang taman buaya Ibu Rumah Tangga Buruh Buruh Pelajar

Rp 175.000 /minggu Rp 200.000,/minggu Rp 250.000,/minggu -

Keluarga Tn. H. Iming bertempat tinggal di Kampung Gaga Sukamana RT 01/RW 03 Kelurahan Tanjung Pasir, Kabupaten Tangerang, Banten. Keluarga terdiri dari Tn. H. Iming sebagai kepala keluarga dengan seorang istri yang bernama Ny. Icih Sukaisih dan tiga orang anak. Tn. H. Iming, berusia 75 tahun, bekerja sebagai penjaga gerbang taman buaya yang berada di dekat rumahnya dengan penghasilan Rp 175.00,00 per minggu. Pendapatan Tn. H. Iming digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari hari seperti membeli air PAM, makanan, untuk sekolah anak, pengobatan dan lain- lain. Tn. H. Iming mampu membaca dan menulis dikarenakan dia sempat mengenyam pendidikan hingga Sekolah Dasar (SD) namun tidak tamat. Pasangan ini menikah saat Tn. H. Iming berumur 40 tahun dan Ny. Icih Sukaisih berumur 25 tahun. Ny. Icih Sukaisih merupakan istri kedua dari Tn. H Iming. Saat hamil, Ny. Icih Sukaisih jarang memeriksakan kandungannya di puskesmas dan saat melahirkan dibantu oleh dukun desa. Anak pertama pasangan Tn. H. Iming dan Ny. Icih Sukaisih adalah seorang anak perempuan dan sudah menikah. Saat ini sudah tinggal bersama suaminya. Anak kedua adalah seorang anak laki-laki yang bernama Tn. Lukman, berusia 20 tahun.

13 | P a g e

Tn. Lukman mengenyam pendidikan hingga lulus Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), bekerja sebagai buruh dengan pendapatan Rp 200.00,00 per minggu. Pendapatan digunakan untuk membatu memenuhi kebutuhan keluarga dan untuk dirinya sendiri. Anak ketiga adalah seorang anak laki laki yang bernama Tn. Jaya Atmaja, berusia 16 tahun, bekerja sebagai buruh dengan pendapatan Rp 250.000,00 per minggu. Pendapatan Tn. Jaya Atmaja digunakan selain utntuk keperluan pribadi juga digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Anak keempat adalah seorang anak perempuan yang bernama An. Siti Dipamazrina, berusia 8 tahun.yang sekarang duduk di bangku sekolah dasar kelas 2. Semasa kecilnya An. Siti Dipamazrina jarang dibawa ke posyandu dan namun tetap mendapatkan imunisasi meski tidak lengkap. Keluarga Tn. H Iming memiliki kebiasaan makan dua kali sehari (siang dan malam).Ny. Icih Sukaisih memasak makanan sendiri dengan menu seadanya, contoh menu yang disajikan sehari-hari ialah nasi, ikan, tahu, dan tempe. Peralatan yg digunakan untuk memasak berupa kompor gas. Asap yang dihasilkan saat memasak keluar lewat sela-sela atap rumah yang terbuka sedikit. Ketika ada anggota keluarga yang sakit, keluarga ini biasanya membeli obat warung terlebih dahulu seperti obat Panadol. Namun, jika dengan obat warung keadaan anggota keluarga yang sakit tidak membaik, Tn. H Iming dan Ny. Icih Sukaisih langsung membawanya ke Dokter yang mereka kenal dengan dengan dr. goceng (dr Cecep) yang berada tidak jauh dari rumah Tn H Iming. Keluarga Tn. H Iming jarang sekali berobat ke Puskesmas karena jaraknya yang jauh dari rumah. Penyakit yang sering diderita anggota keluarga Tn. Tn H Iming adalah pusing dan rematik. Tn H Iming mengaku tidak memiliki jaminan kesehatan. Tn H Iming mengaku biasa merokok 1 bungkus/hari didalam rumah. Keluarga Tn. H Iming tinggal di rumah miliknya, dengan luas tanah sekitar 25 m2 dan luas bangunan berukuran 12 m x 8 m. Bangunan tempat tinggal tidak bertingkat dan terdiri dari satu ruang tamu berukuran 3 m x 2 m, dua kamar tidur yang masing-masing berukuran 3 x 2 m, dapur yang berukuran 2 x 1 m, satu kamar mandi dengan ukuran 1 m x 2 m dan 1 gudang berukuran 2 x 3 m .Rumah ini tidak

14 | P a g e

jauh dari jauh raya.Sebagian besar ruangan di dalam rumah ini berlantaikan keramik (kecuali dapur dan gudang) dan beratapkan genteng.Sebagian besar dinding rumah terbuat dari batu bata.Untuk ventilasi, rumah ini memiliki satu jendela yang terbuat dari kaca berwarna putih dan tidak dapat di buka. di ruang tamu yang masing-masing berukuran 100 x 60 cm. Jendela tersebut berfungsi sebagai ventilasi untuk aliran keluar masuk udara dan sinar matahari ke dalam rumah dan dibuka tiap pagi. Rumah tersebut tidak pernah kebanjiran. Aliran air dari limbah keluarga ( air bekas cucian dan mandi) mengalir ke area tanah kosong disamping gudang. Oleh karena itu terdapat genangan air yg menurut Tn. H.Iming akan terserap ke dalam tanah beberapa saat kemudian. Keluarga ini memiliki kamar mandi dengan jamban jongkok.Kamar mandi dan dapur rumah Tn. H Iming tersebut memiliki sumber air sumur, tetapi sumur ini hanya berisi air asin dan hanya digunakan untuk beberapa keperluan saja, seperti mandi dan memcuci. Sumurini tidak pernah ditutup. Keluarga Tn H.Iming mengaku mandi 2 kali sehari memakai sabun dan sikat gigi. Untuk memasak air minum, keluarga Tn. H.Iming menggunakan air PAM. Air PAM yang didapat diperoleh dari penjual sekitar. Dalam sehari, keluarga tersebut menggunakan enam jerigen air PAM, masing-masing jerigen memiliki kapasitas sekitar 15-20 liter. Satu jerigen air PAM ini seharga Rp.500,00. Tn. H.Iming mengaku hal tersebut tidak memberatkan ekonomi keluarga. Keluarga Tn. H Iming tidak memiliki tempat sampah di dapur. Sampah tersebut biasa ditumpuk lalu di bakar

15 | P a g e

KELUARGA BINAAN TN. H.IMING

Kamar 1 Kamar 2 Ruang Tamu


Sumur

U
b a

B S

12 M

a = kamar mandi b = dapur

Teras

Gambar 1.4 Denah Keluarga Tn. H Iming

1.4.2 Profil Keluarga BinaanTn. Madi Keluarga binaan terdiri dari enam anggota keluarga, yaitu Tn. Madi, Ny. Ami, Tn. Imam, Tn. Lukman, Nn. Sukma, An. Mia.

16 | P a g e

Tabel 1.3 Profil Keluarga Tn. Madi Kampung Gaga Sukamana RT 01/RW 03 Bulan Oktober 2013 Nama Tn. Madi Ny. Ami An. Wulan Tn. Agus Tn. Jumad Nn. Nita Status Keluarga Kepala keluarga Adik ke-1 Keponakan (Anak dari Ny. Ami ) Adik ke-2 Adik ke-3 Adik ke-4 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Perempuan Laki laki Laki laki Perempuan Usia 30 th 23 th 4 th Pendidikan SD SD Pekerjaan Buruh di Batu Apung Ibu rumah tangga Penghasilan Rp 1.400.000/bulan -

20 th 18 th 15 th

SD SD SD

Nelayan Buruh di pabrik plastik

Rp. 400.000/bulan Rp 300.000/minggu

Keluarga Tn. Madi bertempat tinggal di Kampung Gaga Sukamana RT 01/RW 03 Kelurahan Tanjung Pasir, Kabupaten Tangerang, Banten. Keluarga terdiri dari Tn. Madi sebagai kepala keluarga yang belum menikah dan lima saudara kandungnya Tn. Agus, Tn. Jumad, Nn. Nita dan Ny. Ami yang sudah bercerai, mempunyai satu anak perempuan An. Wulan. Tn. Madi, berusia 30 tahun, merupakan anak kedua dari enam bersaudara sementara kakak dia sudah menikah dan sudah memiliki rumah pribadi, bekerja sebagai buruh di Batu Apung dengan penghasilan berkisar antara Rp 1.400.000,00 per bulan. Pendapatan Tn. Madi digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup seharihari, seperti membeli air PAM, makanan, tabungan untuk kebutuhan tidak terduga, pengobatan dan lain lain. Tn. Madi mampu membaca dan menulis dikarenakan dia sempat mengenyam pendidikan hingga lulus Sekolah Dasar (SD). Saudara yang pertama adalah Ny. Ami berusia 24 tahun sudah menikah dan memiliki satu orang anak perempuan bernama An. Wulan yang berusia 4 tahun, Ny. Ami sudah bercerai dengan suaminya sejak tiga tahun yang lalu.Ny. Ami sempat mengenyam pendidikan hingga lulus Sekolah Dasar (SD). Saat kehamilan anaknya Ny. Ami jarang memeriksaan anaknya ke bidan

17 | P a g e

ataupun puskesmas.Ny. Ami melahirkan di rumah dengan dibantu oleh dukun desa di sekitar rumah.An. Wulan tidak pernah mendapatkan imunisasi sejak lahir.An. Wulan jarang dibawa ke posyandu, dibawa ke posyandu apabila diajak oleh tetangga. An. Wulan tidak diberikan ASI eksklusif dan diberikan makanan pendamping ASI sejak usia 4 bulan. Adik pertama adalah Tn. Agus, berusia 20 tahun, dan belum menikah.Tn. Agus sempat mengenyam pendidikan hingga lulus Sekolah Dasar (SD). Bekerja sebagai nelayan dengan penghasilan yang tidak menentu, jika dirata-ratakan sekitar Rp 400.000,00 per bulan Penghasilan Tn. Agus digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan dalam rumah dan sebagian untuk diri dia sendiri. Adik kedua adalah Tn. Jumad, berusia 18 tahun, belum menikah dan tidak bekerja. Sempat mengenyam pendidikan hingga lulus sekolah Dasar (SD). Saat ini yang dia lakukan di rumah adalah membantu Ny. Ami dalam mengurus rumah. Adik terakhir adalah Nn. Nita, berusia 15 tahun, belum menikah. Saat ini sedang bekerja sebagai buruh di suatu pabrik plastik, dengan pendapatan Rp 300.000,00 per minggu. Pendapatan tersebut digunakan untuk membantu keperluan sehari hari. Keluarga Tn. Madi memiliki kebiasaan makan dua kali sehari (siang dan malam).Ny. Ami memasak makanan sendiri dengan menu seadanya, contoh menu yang disajikan sehari-hari ialah nasi, ikan, tahu, dan tempe. Peralatan yg digunakan untuk memasak berupa kompor gas. Asap yang dihasilkan saat memasak keluar pintu dapur yang dibuka jika akan memasak dan lewat sela-sela atap rumah yang terbuka sedikit. Ketika ada anggota keluarga yang sakit, keluarga ini biasanya membeli obat warung terlebih dahulu seperti obat Panadol, bodrek dan lain lain. Namun, jika dengan obat warung keadaan anggota keluarga yang sakit tidak membaik, Tn. Madi dan anggota keluarga yang lain langsung membawanya ke Dokter yang mereka kenal dengan dengan dr. goceng (dr Cecep) yang berada tidak jauh dari rumah Tn. Madi. Keluarga Tn.Madi jarang sekali berobat ke Puskesmas karena jaraknya yang jauh dari rumah. Penyakit yang sering diderita anggota keluarga Tn. Madi adalah pusing,

18 | P a g e

batuk dan flu. Tn. Madi mengaku tidak memiliki jaminan kesehatan. Tn. Madi mengaku biasa merokok satu sampai dua bungkus/hari di dalam rumah. Keluarga Tn. Madi tinggal di rumah miliknya, dengan luas tanah sekitar 20 m2 dan luas bangunan berukuran 7 m x 3 m. Bangunan tempat tinggal tidak bertingkat dan terdiri daridua kamar tidur yang masing-masing berukuran 3 x 2 m, ruang tv yang berukuran 4 m x 2 m, dapur yang berukuran 2 x 1 m, dan satu kamar mandi dengan ukuran 1 m x 1 m.Rumah ini tidak jauh dari jauh raya.Sebagian besar ruangan di dalam rumah ini berlantaikan tanah dan beratapkan genteng.Sebagian besar dinding rumah terbuat dari bilik bambu.Untuk ventilasi, rumah ini memiliki satu jendela yang tanpa kaca dan hanya tertutup oleh gorden yang berada di kamar pertama.Jendela tersebut tidak berfungsi sebagai ventilasi. Rumah tersebut tidak pernah kebanjiran. Aliran air dari limbah keluarga ( air bekas cucian dan mandi) mengalir ke kali sebelah rumah. Keluarga ini memiliki kamar mandi tanpa disertai jamban jongkok. Kamar mandi dan dapur rumah Tn. Madi tersebut memiliki sumber air sumur, tetapi sumur ini sudah tidak dipergunakan karena berisi air asin. Keluarga Tn. Madi mengaku mandi dua kali sehari memakai sabun dan sikat gigi. Untuk memasak air minum, keluarga Tn. Madi menggunakan air PAM. Air PAM yang didapat diperoleh dari penjual sekitar. Dalam sehari, keluarga tersebut menggunakan enam jerigen air PAM, masing-masing jerigen memiliki kapasitas sekitar 15-20 liter. Satu jerigen air PAM ini seharga Rp.500,00. Tn. Madi mengaku hal tersebut tidak memberatkan ekonomi keluarga. Keluarga Tn. Madi tidak memiliki tempat sampah di dapur.Sampah tersebut biasa ditumpuk lalu di bakar.

19 | P a g e

KELUARGA BINAAN TN. MADI


Tampak depan Teras

Ruang TV dan keluarga

Kamar 1

Kamar 2

7 meter

U
Dapur Kamar mandi

B S

Sumur (tidak dipakai)

Tampak belakang

3 meter Gambar 1.5 Denah Keluarga Tn. Madi

1.4.3 Profil Keluarga Binaan Tn. Somad Keluarga binaan terdiri dari tujuh anggota keluarga, yaitu Tn. Somad, Ny. Salmah, Ny.Suhayah, Tn. Surdi, Tn. Debi Saripudin, Ny. Haryati, dan Tn. Robi.

20 | P a g e

Tabel 1.4 Profil Keluarga Tn. Somad Kampung Gaga Sukamana RT 01/RW 03 Bulan Oktober 2013

Nama

Status Keluarga Suami Istri Anak ke-1 Menantu Cucu 1

Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Perempuan Laki laki Laki laki Perempuan

Usia

Pendidikan

Pekerjaan

Penghasilan

Tn. Somad Ny.Salmah Ny.Suhayah Tn. Surdi Tn. Debi Saripudin Ny. Haryati Tn. Robi

60 th 50 th 37 th 45 th 35th 22 th

SD SD SD SD SMP SD

Petani Ibu rumah tangga Ibu rumah tangga Wiraswasta Wiraswasta Ibu Rumah Tangga Buruh

Rp 1.000.000/bulan Rp. 2.000.000/bulan Rp 2.0000.000/bulan -

Cucu Menantu Cucu ke-2

Laki-laki

25 th

SMP

Rp 1.200.000/bulan

Keluarga Tn. Somad bertempattinggal di RT 01/RW 03 Desa Teluk gaga, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang. Keluarga tersebut terdiri dari Tn. Somad sebagai kepala keluarga dengan seorang istri yang bernama Ny. Salmah dan satu orang anak: anak pertama bernama Ny. Suhayah dan suaminya yang bernama Tn. Surdi dan anak dari Tn. Surdi dan Ny. Suhayah yang bernama Tn. Debi Sarifudin dan istrinya yang bernama Ny. Haryati dan adik kandungnya yang bernama Tn. Robi. Tn.Somad berusia 60 tahun bekerja sebagai seorang petani dengan penghasilan Rp. 1.000.000, per bulan. Pendapatan Tn. Somad inidalam sebulan digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seperti membayar air PAM, makanan, listrik, membayar cicilan motor dan membeli kebutuhan rumah tangganya. Keluarga Tn. Somad tidak dapat menyisihkan uang pendapatannya karena langsung habis untuk membeli keperluan sehari-hari..Tn. Somad pernah mengenyam pendidikan hingga bangku Sekolah dasar (SD) sampai tamat.Istrinya, Ny.Salmah berusia 50 tahun bekerja sebagai ibu rumah tangga.Ny. Salmah pernah mengenyam pendidikan di bangku Sekolah Dasar namun tidak sampai tamat yaitu hanya sampai

21 | P a g e

kelas 4 SD. Anak pertama adalah seorang perempuan yang bernama Ny. Suhayah, berusia 37 tahun, Ny. Suhayah pernah mengenyam pendidikan hingga bangku sekolah dasar dan suaminya yang bernama Tn. Surdi, Tn. Surdi pernah mengenyam pendidikan hingga bangku SD, Tn. Surdi bekerja sebagai pedagang dengan

penghasilan Rp. 2.000.000 per bulan. Keluarga Tn. Somad tinggal di rumah milik dia sendiri, dengan luas bangunan berukuran7 m x 6 m dan tidak bertingkat. Rumah terdiri dari dua kamar tidur yang masing masing berukuran 3 m x 4 m; ruang tamu, berukuran 4 m x 3 m; dapur berukuran 1 m x 2 m dan kamar mandi berukuran 2 m x 1 m. Rumah Tn. Somad ini terletak di daerah pemukiman yang tidak jauh dari jalan raya.Rumah ini berlantaikan keramik.Atap rumah terbuat dari genteng tanpa plafon.Sedangkan seluruh dinding rumah terbuat dari batu bata yang sudah di cat. Menurut Ny. Salmah bila hujan besar rumah tidak bocor.Jalan umum menuju rumah Tn. Somad bisa diakses dengan kendaraan beroda dua (motor dan sepeda). Rumah ini memiliki dua jendela yang dapat dibuka di bagian dinding kamar 100 cm x 60 cm sedangkan ruang lain tidak terdapat jendela. Jendela tersebut seharusnya berfungsi sebagai ventilasi untuk aliran keluar masuk udara atau masuknya cahaya sinar matahari kedalam rumah.Akan tetapi keluarganya Tn. Somad tidak memanfaatkan fungsi dari jendela tersebut dan gorden jendela tidak pernah dibuka sehingga sinar matahari tidak dapat masuk. Jumlah total ventilasi dibandingkan dengan total luas lantai yaitu 8,1% sehingga tidak memenuhi kriteria pencahayaanrumah sehat yaitu 30%. Rumah ini sudah difasilitasi listrik berdaya 450 watt, dengan fasilitas enam buah lampu, satu magic com, satu buah televisi dan dvd player. Keluarga ini memiliki kamar mandi dengan jamban jongkok didalamnya dan beralaskan keramik. Untuk aktivitas buang air besar keluarga Tn. Somad biasa melakukannya di jamban rumahnya sendiri.Di dalam kamar mandinya tidak ditemukan hewan yang berkeliaran disekitar kamar mandi.Keluarga Tn. Somad mempunyai saluran pembuangan air limbah yaitu septic tank di belakang rumahnya.Apabila melakukan kegiatan mandi dan mencuci, air limbah dibuang melalui saluran tesebut dan tidak ada air yang menggenang di sekitarnya. Didalam kamar mandi Tn. Somad terdapat bak mandi berwarna biru yang berukuran 1m x 1m,

22 | P a g e

Biasanya keluarga Tn. Somad menggunakan air PAM untuk mandi, mencuci dan memasak. Sedangkan untuk minum, keluarga Tn. Somad menggunakan air galon isi ulang yang dibeli seharga Rp. 12.000,- per gallon. Keluarga Tn. Somad biasa meletakkan sampah didalam kantong plastik di dapur.Sampah diletakkan menjadi satu didalam plastik dan tidak dipisahkan mana sampah organik dan non-organik.Keluarga Tn. Somad biasanya membuang dan membakar sampah dibelakang rumahnya. Keluarga Tn.Somad memiliki kebiasaan makan tiga kali sehari. Ny. Salmah memasak makanan dengan menu bervariasi. Contoh menu yang disajikan sehari-hari ialah nasi, ikan, ayam, tahu, tempe, dan sayur. Semua makanan dimasak sampai matang dengan menggunakan kompor gas 3 kg. Peralatan makan yang digunakan sebagian terbuat dari kaca dan sebagian lagi terbuat dari plastik.Keluarga Tn. Somad terbiasa mencuci tangan sebelum makan, baik dengan sabun ataupun hanya dengan menggunakan air saja. Karena tidak memiliki ruang makan, keluarga ini biasanya makan di ruang keluarga. Tn. Somad, menantu dan cucunya memiliki kebiasaan merokok . Dalam satu hari mereka menghabiskan 1 bungkus rokok yang dibelinya seharga Rp. 12.000,-. Tn. Somad, menantu dan cucunya biasa merokok didalam juga diluar rumah. Ketika ada anggota keluarga yang sakit, keluarga ini biasanya membeli obat warung terlebih dahulu. Namun, jika dengan obat warung keadaannya tidak juga membaik barulah dibawa ke dokter terdekat dari kampungnya kadang kadang keluarga Tn. Somad juga membawa anggota keluarganya ke puskesmas.Penyakit yang paling sering diderita oleh keluarga ini adalah batuk dan pilek yang sering terjadi pada anaknya.

23 | P a g e

KELUARGA BINAAN TN. SOMAD


Tampak depan

Halaman
Teras

Air PAM

Kamar 1 Ruang tamu Kamar 2 Ruang TV

7 meter

Dapur

Kamar mandi

U B S T

Tampak belakang

6 meter Gambar 1.7 Denah Keluarga Tn. Somad

24 | P a g e

.4.4 Profil Keluarga Binaan Tn. Nurdin Keluarga binaan terdiri dari tiga anggota keluarga, yaitu Tn. Nurdin, Ny. Idah, dan An. Ulul Azmi. Tabel 1.5 Profil Keluarga Tn. Nurdin Kampung Gaga Sukamana RT 01/RW 03 Bulan Oktober 2013 Nama Status Keluarga Jenis Kelamin Laki laki Usia Pendidikan Pekerjaan Penghasilan

Tn. Nurdin

Suami

26 th

SMA Tamat

Penjaga Toko

Rp 1.000.000 /bln

Ny. Idah

Istri

Perempuan

25 th

SMA Tamat

Ibu Rumah Tangga

An. Ulul Azmi

Anak ke-1

Laki laki

1 tahun, 7 bulan

Keluarga Tn. Nurdin bertempat tinggal di RT 01/RW 03 Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang. Keluarga tersebut terdiri dari Tn. Nurdin sebagai kepala keluarga selama 3 tahun. Tn. Nurdin memiliki istri bernama Ny.Idah dan satu orang anak: anak pertama bernama Ulul Azmi. Tn. Nurdin berusia 26 tahun bekerja sebagai penjaga toko di paasar kampung melayu setiap hari dengan penghasilan Rp. 1.000.000 per bulan. Pendapatan ini habis untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seperti membeli air PAM, makanan, membayar listrik, dan lain-lain. Tn. Nurdin pernah mengenyam bangku pendidikan sampai selesai bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Istri Tn. Nurdin bernama Ny. Idah yang berumur 25 tahun dan bekerja sebagai Ibu rumah tangga.Ny. Idah pernah mengenyam bangku pendidikan sampai selesai bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).

25 | P a g e

Anak pertama Tn. Nurdin bernama Ulul Azmi berumur 1 tahun 7 bulan di desa.Persalinan Ulul dibantu oleh bidan desa setempat.Ulul masih mendapatkan ASI soleh ibunya.Ulul mendapatkan imunisasi dan menurut ibunya sudah lengkap di posyandu.Sehari-hari Ulul bermain dengan ibu dan teman sebayanya. Keluarga Tn. Nurdin tinggal di rumah milik sendiri dengan luas bangunan berukuran 10 m x 10 m dan tidak bertingkat, terdiri dari dua kamar tidur yang masing-masing berukuran 2 m x 3 m; satu ruang tamu berukuran 3 m x 3 m; kamar mandi yang berukuran 3 m x 2 m dan satu dapur berukuran 2 m x 2 m. Rumah ini terletak di daerah pemukiman padat di pinggir jalan. Rumah ini berlantaikan tanah.Atap rumah terbuat dari genteng tanpa plafon.Sedangkan seluruh dinding rumah terbuat dari batu bata.Rumah Tn. Nurdin tidak pernah mengalami banjir. Untuk ventilasi, rumah ini memiliki tiga dimana satu di salah satu kamar tidur bagian depan, satu di atas pintu dan satu di atas jendela di ruang tamu. Ukuran ventilasi di ruang tamu 30 cm x 30 cm, ventilasi di atas pintu 30cm x 30cm, sedangkan di kamar tidur depan berukuran 30cm x 30cm. Ventilasi pada rumah ini kurang baik dan kurang memenuhi standar 10% dari luas bangunan. Ventilasi ini terbuka sehingga memungkinkan terjadinya pertukaran udara. Rumah ini memiliki enam jendela, empat dibagian ruang tamu dan dua di kamar bagian depan. Jendela rumah ini tidak pernah dibuka karena banyak debu dari polusi jalan yang tepat berada di depan rumah dan kaca jendela berwarna gelap. Rumah ini sudah difasilitasi listrik berdaya 450 watt, dengan fasilitas lima buah lampu dan satu buah televisi, lemari es dan DVD player. Keluarga ini memiliki kamar mandi yang terpisah dengan jamban yang Keluarga ini biasa mengunakan jamban untuk

dibatasi semen setinggi 2 m.

BAB.Ruang kamar mandi rumah Tn.Nurdin tersebut memiliki sumber air sumur. Akan tetapi, Keluarga tidak memakai air tersebut untuk keperluan sehari-hari, seperti mandi serta mencuci baju dan alat masak.Septice tank keluarga ini berada di belakang kamar mandi. Keluarga Tn.Nurdin menggunakan Air PAM yang didapat diperoleh dengan cara membeli air PAM yang dijual oleh warga sekitar. Dalam sehari keluarga tersebut membutuhkan enam jerigen air PAM (satu jerigen = 20

26 | P a g e

liter). Air tersebut digunakan untuk minum dan memasak. Satu jerigen air PAM seharga Rp. 500,00,- sampai 1.000,-. Keluarga Tn.Nurdin tidak memiliki tong sampah di dalam rumah. Tn.Nurdin biasa membuang sampah di dalam plastik kemudian membakarnya di belakang rumah. Keluarga Tn.Nurdin memiliki kebiasaan makan tiga kali sehari. Ny.Idah memasak makanan dengan menu seadanya, contoh menu yang disajikan sehari-hari ialah nasi, tahu, tempe, ikan dan indomie. Ny.Idah sangat jarang memasak sayur dan memakan buah karena sulit untuk mendapatkannya.Untuk makanan sehari-hari Ny.Idah biasa memasak sendiri dan semua makanan dimasak sampai

matang.Peralatan makan yang digunakan sebagian terbuat dari kaca dan sebagian lagi terbuat dari plastik.Karena tidak memiliki ruang makan, keluarga ini biasanya makan di ruang tamu. Keluarga Tn.Nurdin tidak memiliki kebiasaan untuk berolahraga.Sehari-hari Tn.Nurdin sibuk dengan bekerja dan tidak ada waktu untuk olahraga.Sedangkan Ny.Idah tidak sempat berolahraga karena mengurus rumah dan anak pertamanya. Keluarga Tn.Nurdin biasa menderita ISPA terutama anaknya yang masih berumur 1 tahun 7 bulan.. Ketika ada anggota keluarga yang sakit, keluarga ini biasanya berobat ke dokter klinik dekat rumahnya dan diberi nama dokter goceng. Keluarga Tn.Nurdin tidak memiliki kartu jamkesmas. Dalam keluarga Tn.Nurdin, Hanya Tn.Nurdin yang merokok.Dimana dapat menghabiskan 1 bungkus perhari.Ny.Idah selalu memarahinya jika merokok di dalam rumah sehingga suaminya kadang-kadang merokok di luar rumah.

27 | P a g e

KELUARGA BINAAN Tn. Nurdin

Ruang tamu

Kamar 1

Ruang baran g

Kamar 2

Ruang keluarga

10 M

U
Kamar mandi

dapur
Sumur

B S

Halaman belakang 10 M

Gambar 1.4.4 Denah Rumah Tn. Nurdin

1.5 Penentuan Area Masalah Kesehatan 1.5.1 Rumusan Area Masalah Keluarga Binaan 1.5.1.1 Keluarga Tn. H. Iming a. Masalah non-medis Lingkungan a) Kurangnya perilaku keluarga binaan terhadap pemanfaatan sinar matahari desa Tanjung Pasir, Banten b) Perilaku membersihkan dapur yang kurang pada keluarga binaan c) Ventilasi yang kurang dalam rumah keluarga binaan. d) Terdapatnya kandang ternak di depan dan di samping rumah.

28 | P a g e

Perilaku kesehatan b. Tn. H.Imang merokok di dalam rumah, meskipun di dekat anggota keluarga lainnya yang tidak merokok. Kurangnya kesadaran untuk berobat ke tenaga kesehatan

Masalah medis a) Anggota keluarga sering menderita pusing dan rematik. Usulan Area Masalah Kurangnya perilaku keluarga binaan terhadap pemanfaatan sinar matahari desa Tanjung Pasir, Banten. Perilaku membersihkan rumah yang kurang pada keluarga binaan.

1.5.1.2 Keluarga Tn. Madi a. Masalah non- medis Lingkungan a) Kurangnya perilaku keluarga binaan terhadap pemanfaatan sinar matahari desa Tanjung Pasir, Banten b) Tidak tersedianya tempat sampah di dalam rumah c) Perilaku buang sampah yang buruk d) Kurangnya pengetahuan tentang rumah sehat. e) Perilaku menempatkan kandang hewan ternak yang dekat dengan rumah. f) Kurangnya ventilasi udara yang ada di rumah keluarga binaan g) Kurangnya ketersediaan air bersih pada keluarga binaan Kehidupan sosial Tingkat pendidikan dan sosiol ekonomi yang rendah.

Perilaku kesehatan Merokok di dalam rumah.

29 | P a g e

Kurangnya pengetahuan mengenai pentingnya mencuci tangan sebelum makan.

b.

Masalah medis a) Penyakit diare dalam keluarga binaan. b) Persalinan yang dibantu oleh dukun. Usulan Area Masalah Kurangnya perilaku keluarga binaan terhadap pemanfaatan sinar matahari desa Tanjung Pasir, Banten. Perilaku membersihkan rumah yang kurang pada keluarga binaan. Kurannya ventilasi dan jendela didalam rumah.

1.5.1.3 Kelurga Tn. Somad a. Masalah Non Medis Lingkungan a) Kurangnya perilaku keluarga binaan terhadap pemanfaatan sinar matahari desa Tanjung Pasir, Banten . b) Kurangnya pengetahuan akan pentingnya Ventilasi dan sirkulasi udara dirumah keluarga binaan. c) Kurangnya kebersihan lingkungan rumah. d) Kurangnya sarana pembuangan sampah dan limbah pada rumah keluarga binaan. e) Tidak tersedianya tempat sampah dirumah. Perilaku kesehatan a) merokok di dalam rumah, meskipun di dekat anggota keluarga lainnya yang tidak merokok sehingga menimbulkan polusi dan gangguan kesehatan. b) Kurangnya ketersediaan air bersih pada keluarga binaan.

30 | P a g e

b. Masalah Medis a) Anggota keluarga sering menderita ISPA. Usulan Area Masalah Kurangnya perilaku keluarga binaan terhadap pemanfaatan sinar matahari desa Tanjung Pasir, Banten. Kurangnya ventilasi dan jendela di rumah. Tingkat kejadian ISPA yang berulang pada anggota keluarga. Kebiasaan merokok yang dapat mengganggu kesehatan.

1.5.1.4 Keluarga Tn. Nurdin a. Masalah Non Medis Lingkungan a) Kurangnya perilaku keluarga binaan terhadap pemanfaatan sinar matahari desa Tanjung Pasir, Banten. b) c) d) e) Lantai beralas tanah. Perilaku menggunakan kaca gelap dijendela rumah. Ventilasi rumah yang kurang. Tidak tersedianya tempat sampah dirumah.

Perilaku kesehatan a) merokok di dalam rumah, meskipun di dekat anggota keluarga lainnya yang tidak merokok sehingga menimbulkan polusi dan gangguan kesehatan. b. Masalah Medis a) Penyakit ISPA pada keluarga binaan.

31 | P a g e

Usulan Area Masalah Kurangnya perilaku keluarga binaan terhadap pemanfaatan sinar matahari desa Tanjung Pasir, Banten Perilaku menggunaka kaca gelap dijendela rumah. Pengetahuan tentang penyakit ISPA.

1.5.2 Alasan Pemilihan Area Masalah Sebagai pendekatan awal untuk mengetahui area masalah yaitu dengan menganalisis laporan tahunan Puskesmas mengenai data-data perilaku hidup bersih dan sehat dan beberapa penyakit penting yang ada di wilayah Puskesmas Tegal Angus didapatkan data :

1. Kepemilikan jamban Berdasarkan data Puskesmas mengenai kepemilikan jamban Presentasi keluarga dengan kepemilikan jamban menurut Kecamatan dan Puskesmas Jumlah keluarga : 12.421 Keluarga yang diperiksa : 640 Jumlah keluarga yang memiliki jamban : 99 Jumlah keluarga yang memiliki jamban sehat : 39

Sumber: Program Kesehatan Lingkungan, P2PL Puskesmas Tegal Angus 2012 2. Tempat Sampah Presentasi keluarga dengan kepemilikan tempat sampah menurut Kecamatan dan Puskesmas Jumlah keluarga : 12.421

32 | P a g e

Keluarga yang diperiksa : 640 Jumlah keluarga yang memiliki tempat sampah : 31 Jumlah keluarga yang memiliki tempat sampah yang sehat : 7

Sumber: Program Kesehatan Lingkungan, P2PL Puskesmas Tegal Angus 2012 3. Air Bersih Presentasi keluarga menurut jenis sarana air bersih yang digunakan menurut Kecamatan dan Puskesmas Jumlah keluarga : 12.421 Keluarga yang diperiksa : 640

Jenis sarana air bersih: Kemasan : 10 keluarga Ledeng : 36 keluarga SPT : 21 keluarga SGL : 82 keluarga Mata air : 2 keluarga PAH : 16 keluarga Lainnya : 17 keluarga

Sumber: Program Kesehatan Lingkungan, P2PL Puskesmas Tegal Angus 2012

4. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Presentasi rumah tangga berprilaku hidup bersih dan sehat menurut Kecamatan dan Puskesmas Jumlah keluarga : 12.421 Keluarga yang diperiksa : 1.260

33 | P a g e

Jumlah yang sesuai kriteria PHBS : 183

Sumber: Program Promosi Kesehatan Puskesmas Tegal Angus 2012

5. Rumah Sehat Presentasi rumah sehat menurut Kecamatan dan Puskesmas Jumlah keluarga : 12.421 Keluarga yang diperiksa : 640 Jumlah rumah yang sehat : 73

Sumber: Program Kesehatan Lingkungan, P2PL Puskesmas Tegal Angus 2012 6. Indikator PHBS Terdapat 10 indikator PHBS di dalam rumah tangga, yakni : 1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan : Yang dimaksud tenaga kesehatan disini seperti dokter, bidan dan tenaga paramedis lainnya. Hal ini dikarenakan masih ada beberapa masyarakat yang masih mengandalkan tenaga non medis untuk membantu persalinan, seperti dukun bayi. Selain tidak aman dan penanganannya pun tidak steril, penanganan oleh dukun bayi inipun dikhawatirkan berisiko besar dapat menyebabkan kematian ibu dan bayi. 2. Memberi bayi ASI Eksklusif : Seorang ibu dapat memberikan buah hatinya ASI Eksklusif yakni pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain pada bayi mulai usia nol hingga enam bulan. 3. Menimbang Balita setiap bulan : Penimbangan bayi dan Balita setiap bulan dimaksudkan untuk memantau pertumbuhan Balita tersebut setiap bulan. Penimbangan ini dilaksanakan di Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) mulai usia 1 bulan hingga 5 tahun. Setelah dilakukan penimbangan, catat hasilnya di buku

34 | P a g e

KMS (Kartu Menuju Sehat). Dari sinilah akan diketahui perkembangan dari Balita tersebut. 4. Menggunakan Air Bersih : Gunakan air bersih dalam kehidupan sehari-hari seperti memasak, mandi, hingga untuk kebutuhan air minum. Air yang tidak bersih banyak mengandung kuman dan bakteri yang dapat menyebabkan berbagai macam penyakit. 5. Mencuci tangan pakai sabun : Mencuci tangan di air mengalir dan memakai sabun dapat menghilangkan berbagai macam kuman dan kotoran yang menempel di tangan sehingga tangan bersih dan bebas kuman. Cucilah tangan setiap kali sebelum makan dan melakukan aktifitas yang menggunakan tangan, seperti memegang uang dan hewan, setelah buang air besar, sebelum memegang makanan maupun sebelum menyusui bayi. 6. Gunakan Jamban Sehat : Jamban adalah suatu ruangan yang mempunyai fasilitas pembuangan kotoran manusia yang terdiri atas tempat jongkok atau tempat duduk dengan leher angsa atau tanpa leher angsa (cemplung) yang dilengkapi dengan unit penampungan kotoran dan air untuk

membersihkannya. Ada beberapa syarat untuk jamban sehat, yakni tidak mencemari sumber air minum, tidak berbau, tidak dapat dijamah oleh serangga dan tikus, tidak mencemari tanah sekitarnya, mudah dibersihkan dan aman digunakan, dilengkapi dinding dan atap pelindung, penerangan dan ventilasi udara yang cukup, lantai kedap air, tersedia air, sabun, dan alat pembersih. 7. Memberantas jentik di rumah sekali seminggu : Lakukan Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) di lingkungan rumah tangga. PJB adalah pemeriksaan tempat perkembangbiakan nyamuk yang ada di dalam rumah, seperti bak mandi, WC, vas bunga, tatakan kulkas, dan di luar rumah seperti talang air, dll yang dilakukan secara teratur setiap minggu. Selain itu, juga lakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan cara 3 M (Menguras, Mengubur, Menutup). 8. Makan buah dan sayur setiap hari : Konsumsi sayur dan buah sangat dianjurkan karena banyak mengandung berbagai macam vitamin, serat dan mineral yang bermanfaat bagi tubuh.

35 | P a g e

9. Melakukan aktifitas fisik setiap hari : aktifitas fisik, baik berupa olahraga maupun kegiatan lain yang mengeluarkan tenaga yang sangat penting bagi pemeliharaan kesehatan fisik, mental, dan mempertahankan kualitas hidup agar tetap sehat dan bugar sepanjang hari.Jenis aktifitas fisik yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari yakni berjalan kaki, berkebun, mencuci pakaian, dan lain-lainnya. 10. Tidak merokok di dalam rumah : Di dalam satu puntung rokok yang diisap, akan dikeluarkan lebih dari 4.000 bahan kimia berbahaya, diantaranya adalah nikotin, tar, dan karbon monoksida (CO). Kemudian informasi yang didapat dicocokan dengan survei ke keluarga binaan di Desa Tanjung Pasir. Setelah mengamati, mewawancarai, dan melakukan observasi masing-masing keluarga binaan di Desa Tanjung Pasir terdapat berbagai area permasalahan pada keluarga binaan tersebut, yaitu: Tidak tersedianya tempat sampah di dalam rumah Perilaku buang sampah yang buruk Kurangnya pengetahuan tentang rumah sehat Perilaku menempatkan kandang hewan ternak yang dekat dengan rumah Tingkat pendidikan dan sosial ekonomi yang rendah Merokok di dalam rumah Anggota keluarga sering menderita ISPA dan diare Ketidaksediaan air bersih Kurangnya ventilasi dan jendela di rumah Dalam pengambilan sebuah masalah, kelompok kami menggunakan metode Delphi. Metode Delphi merupakan suatu teknik membuat keputusan yang dibuat oleh suatu kelompok, dimana anggotanya terdiri dari para ahli atas masalah yang akan diputuskan. Proses penetapan Metode Delphi dimulai dengan identifikasi masalah yang akan dicari penyelesaiannya (Harold dkk, 1975 : 40-55).

36 | P a g e

Gambar 1.9 Teknik membuat keputusan Metode Delphi Dari sekian masalah yang ada pada keluarga binaan tersebut, melalui proses musyawarah antara kelompok kami dengan para tenaga kesehatan di PUSKESMAS Tegal Angus kami memutuskan untuk mengangkat permasalahan Perilaku pencahayaan sinar matahari yang masuk ke dalam rumah keluarga binaan RT/RW 01/03 Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Pemilihan area masalah ini didasarkan atas berbagai pertimbangan yaitu: a. Kurangnya perilaku terhadap penyakit yang ditimbul akibat pencahayaan sinar matahari yang masuk ke dalam rumah b. Kurangnya perilaku terhadap manfaat sinar matahari bagi kesehatan pada keluarga binaan c. Kurangnnya perilaku membuka jendela setiap keluarga binaan terhadap pentingnya pencahayaan sinar matahari yang masuk kedalam rumah d. e. Kuranngya perilaku membuka gorden pada keluarga binaan Kurangnya perilaku dalam pembuatan rumah, standar dengan kriteria rumah sehat Dengan adanya pembahasan permasalahan ini, diharapkan masyarakat dapat merubah perilakunya untuk memanfaatkan pencahayaan sinar matahari yang masuk ke dalam rumah, sehingga dapat mencegah terjadinya masalah-masalah kesehatan seperti kelembapan rumah yang dapat memudahkan perkembangbiakan bakteri

37 | P a g e

sehingga dapat menimbulkan berbagai macam penyakit seperti TB, kurangnya Vitamin D yang dapat disebabkan oleh hal tersebut.

38 | P a g e

BAB II KEPUSTAKAAN 2.1 Teori Perilaku 2.1.1Definisi Perilaku Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai cakupan yang sangat luas antara lain: berjalan, berbicara, menangis, tertawa, menulis, membaca, dan sebagainya. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2003). Menurut Skinner, seperti yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003), merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar. Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespons, maka teori Skinner ini disebut teori S-O-R atau Stimulus Organisme Respon. 2.1.2 Jenis Perilaku Ada beberapa jenis perilaku yang ditinjau dari sudut pandangan yang berbeda, antara lain: a) Perilaku tertutup dan perilaku terbuka. Perilaku tertutup artinya perilaku itu tidak dapat ditangkap melalui indera, melainkan harus menggunakan alat pengukuran tertentu, seperti psikotes. Contohnya: berpikir; berfantasi, kreatifitas, dll. Sedangkan perilaku terbuka yaitu perilaku yang bisa

langsung dapat diobservasi melalui alat indera manusia, seperti tertawa, berjalan, berbaring, dan lain-lain. b) Perilaku reflektif dan perilaku non reflektif. Perilaku reflektif merupakan perilaku yang terjadi atas reaksi secara spontan terhadap stimulus yang

39 | P a g e

mengenai organisme. Misal reaksi kedip mata bila kena sinar, menarik jari bila kena panas, dan sebagainya. Perilaku reflektif ini terjadi dengan sendirinya secara otomatis tanpa perintah atau kehendak orang yang bersangkutan, sehingga di luar kendali manusia. Lain halnya dengan perilaku non reflektif. Perilaku ini dikendalikan atau diatur oleh pusat kesadaran atau otak. Proses perilaku ini disebut proses psikologis. c) Perilaku kognitif, afektif, dan psikomotorik. Perilaku kognitif atau perilaku yang melibatkan proses pengenalan yang dilakukan oleh otak, yang

terarah kepada obyektif, faktual, dan logis, seperti berpikir dan mengingat. Perilaku afektif adalah perilaku yang berkaitan dengan perasaan atau emosi manusia yang biasanya bersifat subyektif. Perilaku motorik yaitu perilaku yang melibatkan gerak fisik seperti memukul, menulis, lari, dan lain sebagainya. 2.1.3 Klasifikasi Perilaku Kesehatan Perilaku kesehatan menurut Notoatmodjo (2003) adalah suatu respon seseorang (organisme) terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit atau penyakit, sistim pelayanan kesehatan, makanan, dan minuman, serta lingkungan. Dari batasan ini, perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok : a) Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintanance), adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit. b) Perilaku pencarian atau penggunaan sistem atau fasilitas kesehatan, atau sering disebut perilaku pencairan pengobatan (health seeking behavior). Perilaku ini adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit dan atau kecelakaan. c) Perilaku kesehatan lingkungan

40 | P a g e

adalah apabila seseorang merespon lingkungan, baik lingkungan fisik maupun sosial budaya, dan sebagainya. (teori Lawrence Green) 2.1.4 Pembentukan Perilaku Ada beberapa cara pembentukan perilaku, antara lain sebagai berikut. a) Melalui conditioning atau pembiasaan, yaitu dengan cara membiasakan diri untuk berperilaku seperti yang diharapkan, yang akhirnya terbentuklah perilaku tersebut. Misalnya membuang sampah pada tempatnya, anak dibiasakan bangun pagi, atau menggosok gigi sebelum tidur, mengucapkan terima kasih bila diberi sesuatu oleh orang lain, membiasakan diri untuk tidak terlambat datang ke sekolah, dan sebagainya. Cara ini didasarkan pada teori behaviorism, terutama teori pembiasaan Pavlov, Thorndike, dan Skinner. b) Melalui pengertian (insight), yaitu memberikan dasar pemahaman atas alasan tentang perilaku yang akan dibentuk, misalnya datang kuliah jangan terlambat, karena hal tersebut dapat mengganggu teman-teman yang lain. Bila naik sepeda motor pakai helm, karena helm tersebut untuk keamanan diri. Salah seorang tokoh yang menganut teori ini adalah Kohler, yang juga

merupakan tokoh psikologi Gestalt. Dia menemukan dalam eksperimennya bahwa dalam belajar yang penting adalah pengertian atau insight. c) Melalui penggunaan model, yaitu pembentukan perilaku melaui model atau contoh teladan.Orang mengatakan bahwa orang tua sebagai contoh anakanaknya, pemimpin sebagai panutan yang dipimpinnya, hal tersebut menunjukkan pembentukan perilaku dengan menggunakan model. Cara ini disarakan atas teori belajar sosial (social learning theory) atau observational learning theory yang dikemukakan oleh Bandura (Teori Lawrence Green). 2.1.5 Pengukuran Perilaku Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara langsung yakni dengan wawancara terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam,

41 | P a g e

hari atau bulan yang lalu (recall).Pengukuran juga dapat dilakukan secara tidak langsung, yakni dengan mengobservasi tindakan atau kegiatan responden. Pengukuran dan indikator perilaku kesehatan : 1) Health Knowledges: pengetahuan tentang cara-cara memelihara kesehatan. 2) Health Attitude: pendapat atau penilaian terhadap hal-hal yang berkaitan pemeliharaan kesehatan. 3) Health Practice: kegiatan atau aktivitas dlm rangka memelihara

kesehatannya. 2.1.6 Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Menurut L. Green dalam Notoatmodjo (2003 : 164) perilaku dipengaruhi 3 faktor yaitu faktor pendahulu, pemungkin dan penguat. Lebih jelasnya adalah sebagai berikut: a. Faktor predisposisi (predisposing factors) Faktor ini mencakup pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan, tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan, sistem nilai yang dianut masyarakat, tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi dan sebagainya. b. Faktor pendukung (enabling factors) Faktor-faktor ini mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan bagi masyarakat seperti, puskesmas, rumah sakit, poliklinik, posyandu, polindes, pos obat desa, dokter atau bidan praktek swasta.Fasilitas ini pada hakikatnya mendukung atau memungkinkan terwujudnya perilaku kesehatan.

42 | P a g e

c. Faktor pendorong (reinforcing factors) Faktor-faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat, tokoh agama dan para petugas kesehatan.Termasuk juga disini undang-undang, peraturan-peraturan baik dari pusat maupun pemerintah daerah yang terkait dengan kesehatan.Untuk berperilaku sehat, masyarakat kadang-kadang bukan hanya perlu pengetahuan dan sikap positif serta dukungan fasilitas saja, melainkan diperlukan perilaku contoh (acuan) dari para tokoh masyarakat, tokoh agama dan para petugas terlebih lagi petugas kesehatan. Model ini dapat digambarkan sebagai berikut :

Disimpulkan bahwa perilaku seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi, dan sebagainya dari orang atau masyarakat yang bersangkutan. Disamping itu ketersediaan fasilitas, sikap, dan perilaku petugas kesehatan terhadap kesehatan juga akan mendukung dan memperkuat terbentuknya perilaku. Menurut Teori Snehandu B.Kar Mengidentifikasi adanya 5 determinan perilaku, yaitu : 1. Adanya niat seseorang untuk bertindak sehubungan dengan objek atau stimulus di luar dirinya. 2. Adanya dukungan dari masyarakat sekitarnya (social support). 3. Terjangkaunya informasi (accessibility of information).

43 | P a g e

4. Adanya otonomi atau kebebasan pribadi untuk mengambil keputusan. 5. Adanya kondisi dan situasi yang memungkinkan (action situation). Kar mencoba menganalisis perilaku kesehatan dengan bertitik tolak bahwa perilaku merupakan fungsi dari: a) Niat sesorang untuk bertindak sehubungan dengan kesehatan atau perawatan kesehatannya (behaviour intention ). b) Dukungan sosial dari masyrakat sekitarnya ( social-support). c) Ada atau tidak adanya informasi tentang kesehatan atau fasilitas kesehatan (accessebility of information). d) Otonomi pribadi yang bersangkutan dalam hal ini mengambil tindakan atau keputusan (personal autonomy). e) Situasi yang memungkinkan untuk bertindak atau tidak bertindak(action situation). Uraian diatas dapat dirumuskan sebagai berikut: B=f(BI, SS, AL, PA, AS) Keterangan : B= Behaviour F= Fungsi BI= Behaviour Intention SS= Social Support AI= Accessebility of Information PA= Personal Autonomy AS= Action Situation

44 | P a g e

Menurut Teori WHO (World Health Organization) (1986) Tim kerja dari WHO mengenalisis bahwa yang menyebabkan seseorang itu berperilaku tertentu karena adanya 4 alasan pokok.yaitu : 1. Sikap akan terwujud didalam suatu tindakan tergantung pada situasi saat itu. 2. Sikap akan diikuti atau tidak diikuti oleh tindakan yang mengacu kepada pengalaman orang lain. 3. Sikap diikuti atau tidak diikuti oleh suatu tindakan berdasarkan pada banyak atau sedikitnya pengalaman seseorang. 4. Nilai (value). Pemikiran dan perasaan (thoughts and felling), yakni dalambentuk pengetahuan, persepsi, sikap, kepercayaan-kepercayaan, dan penilaian-penilaian seseorang terhadap objek (dalam hal ini adalah objek kesehatan). 1. Pengetahuan Pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain. Seorang anak memperoleh pengetahuan bahwa api itu panas setelah memperoleh pengetahuan bahwa api itu panas setelah memperoleh pengalaman, tangan atau kakinya kena api. Seorang ibu akan mengimunisasikan anaknya setelah melihat anak tetangganya kena penyakit polio sehingga cacat, karena anak tetangganya tersebut belum pernah memperoleh imunisasi polio. 2. Kepercayaan Kepercayaan sering di peroleh dari orang tua, kakek, atau nenek.Seseorang menerima kepercayaan itu berdasarkan keyakinan dan tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu.Misalnya wanita hamil tidak boleh makan telur agar tidak kesulitan waktu melahirkan.

45 | P a g e

3. Sikap Sikap mengambarkan suka atau tidak suka seseorang terhadap objek. Sikap sering diperoleh dari pengalaman sendiri atau orang lain yang paling dekat. Sikap membuat seseorang mendekati atau menjauhi orang lain atau objek lain. Sikap positif terhadap nilai-nilai kesehatan tidak selalu terwujud dalam suatu tindakan yang nyata.Hal ini disebabkan oleh beberapa alasan yang telah disebutkan diatas. Sikap akan terwujud didalam suatu tindakan tergantung pada situasi saat itu. Misalnya, seorang ibu yang anaknya sakit, segera ingin membewanya ke puskesmas, tetapi pada saat itu tidak mempunyai uang sepeserpun sehingga ia gagal membawa anaknya ke puskesmas. Sikap akan diikuti atau tidak diikuti oleh tindakan yang mengacu kepada pengalaman orang lain. Seorang ibu tidak mau membawa anaknya yang sakit keras kerumah sakit, meskipun ia mempunyai sikap yang positif terhadap RS, sebab ia teringat akan anak tetangganya yang meninggal setelah beberapa hari di RS. Sikap diikuti atau tidak diikuti oleh suatu tindakan berdasarkan pada banyak atau sedikitnya pengalaman seseorang. Seorang akseptor KB dengan alat kontrasepsi IUD mengalami perdarahan. Meskipun sikapnya sudah positif terhadap KB, tetapi ia kemudian tetap tidak mau ikut KB dengan alat kontrasepsi apapun. Nilai (value). Di dalam suatu masyarakat apapun selalu berlaku nilai-nilai yang menjadi pegangan setiap orang dalam menyelenggarakan hidup bermasyarakat. Misalnya, gotong royong adalah suatu nilai yang selalu hidup di masyarakat. 4. Orang penting sebagai referensi Perilaku orang lebih-lebih prilaku anak kecil, lebih banyak dipengaruhi oleh orang-orang yang dianggap penting. Apabila seseorang itu penting untuknya, maka apa yang ia katakan atau perbuatan cenderung untuk dicontoh. Untuk anak-

46 | P a g e

anak sekolah misalnya, maka gurulah yang menjadi panutan perilaku mereka. Orang-orang yang dianggap penting ini sering disebut kelompok referensi (reference group), antara lain guru, para ulama, kepala adapt (suku), kepala desa, dan sebagainya. Sumber-sumber daya (resource) Sumber daya disini mencakup fasilitas, uang, waktu, tenaga, dan sebagainya.Semua itu berpengaruh terhadap perilaku seseorang atau sekelompok masyarakat.Pengaruh sumber daya terhadap perilaku dapat bersifat positif maupun negative.Misalnya pelayanan puskesmas, dapat berpengaruh positif terhadap perilaku penggunaan puskesmas tetapi juga dapat berpengaruh sebaliknya. Perilaku normal, kebiasaan, nilai-nilai, dan penggunaan sumber-sumber didalam suatu masyarakat akan menghasilkan suatu pola hidup (way of life) yang pada umumnya disebut kebudayaan. Kebudayaan ini terbentuk dalam waktu yang lama sebagai akibat dari kehidupan suatu masyarakat bersama.Kebudayaan selalu berubah, baik lambat ataupun cepat, sesuai dengan peradaban umat manusia.Kebudayaan atau pola hidup masyarakatdi sini merupakan kombinasi dari semua yang telah disebutkan diatas. Perilaku yang normal adalah salah satu aspek dari kebudayaan, dan selanjutnya kebudayaan mempunyai pengaruh yang dalam terhadap perilaku ini. Perilaku yang sama diantara beberapa orang dapat disebabkan oleh sebab atau latarbelakang yang berbeda-beda. Misalnya, alasan masyarakat tidak mau berobat kepuskesmas.Mungkin karena tidak percaya terhadap puskesmas, mungkin takut pada dokternya, mungkin tidak tahu fungsinya puskesmas, dan lain sebagainya. Secara sederhana dapat diilustrasikan sebagai berikut : B = f (TF, PR, R, C)

47 | P a g e

Di mana : B = behaviour f = fungsi TF = thoughts and feeling PR = personal reference R = resources C = culture 2.2 Teori Pencahayaan 2.2.1 Definisi Pencahayaan Cahaya sangat berpotensi besar dalam menyehatkan manusia.Contoh kegunaan cahaya dari segi kesehatan fisik adalah cahaya matahari yang mampu membunuh kuman penyakit, selain itu pada malam hari cahaya berguna sebagai penerang, intensistas cahaya yang kurang dapat menyebabkan kecelakaan.

Gambar 2.1 Masuknya cahaya matahari ke dalam rumah Cahaya juga berpengaruh pada kesehatan mental karena cahaya bukan hanya suatu yang membantu kita untuk melihat tetapi juga sesuatu yang membantu kita merasakan ruangan.Kualitas cahaya baik alami maupun buatan memiliki pengaruh

48 | P a g e

besar pada suasana dan perasaan.Cahaya dapat membuat kita bersemangat, depresi, membangkitkan gairah, menyejukan, mengintimidasi, memperingati bahkan

membantu kita merasa aman dan terlindung.

Gambar 2.2 Cahaya dalam ruangan Rumah yang dibangun harus dirancang agar cahaya masuk ke dalam rumah dalam jumlah yang cukup.Artinya, cahaya yang masuk tidak kurang dan tidak lebih ke dalam rumah. Jika ruangan dalam rumah kurang cahaya, maka udara dalam ruangan akan menjadi media atau tempat yang baik untuk hidup dan berkembangnya bibit bibit penyakit. Dengan cahaya yang lebih atau kurang tentunya juga akan mengurangi kenyamanan.

2.2.2 Pembagian Pencahayaan a. Pencahayaan alami Cahaya yang paling baik adalah sinar matahari pagi, khusus untuk daerah tropis, cahaya tersebut bsa didapatkan pada pukul 7 hingga 10 pagi. Oleh karena itu, manfaatkan waktu 3 jam tersebut untuk membiarkan cahaya matahari masuk ke dalam rumah dengan cara membuka jendela/menyingkap tirai.

49 | P a g e

Pada pagi hari dan siang hari, usahakan tiap ruang dalam rumah tidak memakai lampu, hal ini termasuk dalam penghematan biaya listrik untuk mendukung kondisi tersebut, posisikanlah ruang yang membutuhkan sinar matahari yang sesuai dengan arah datang matahari. Sebagai contoh, kamar tidur sebaiknya diletakkan disebelah timur untuk memberikan kesempatan masuk sinar ultraviolet yang ada pada matahari pagi, sehingga mematikan kuman-kuman yang berada di tempat tidur. Jendela dibuat dengan luas minimal dengan luas 15 20% dari luas lantai.Posisi jendela berada di tengah tengah tinggi dinding dan tidak boleh terhalang oleh bangunan.

Gambar 2.3 Letak rumah terhadap sinar matahari yang paling menguntungkan bila memilih arah dari timur ke barat b. Pencahayaan buatan Pada sore dan malam hari atau kondisi tertentu yang membutuhkan cahaya seperti cuaca mendung yang menghalangi cahaya matahari yang masuk ke dalam rumah, mengharuskan kita menggunakan pencahayaan buatan. Untuk melakukan kegiatan yang tidak perlu konsentrasi seperti memasak dan makan kita butuuh cahaya 300 500 lux. Untuk membaca dan menulis butuh 500 700 lux, sedangkan untuk kegiatan yang perlu detail dalam melihat

50 | P a g e

butuh cahaya 1000lux atau lebih. Untuk itu jenis dan letak lampu di rumah harus diperhatikan agar kita bisa tetap sehat dan hemat biaya.

Gambar 2.4 Cahaya matahari yang masuk ke dalam kamar tidur Terdapat tiga jenis lampu yang penggunaannya dapat memberi pengaruh yang berbeda pada suasana ruang, kesehatan manusia, dan tentu saja biaya. Lamppu lampu tersebut terbagi atas lampu incandescent, fluorescent,danhalogen

51 | P a g e

Gambar 2.5 Jenis lampu dan terang cahaya yang dihasilkan Lampu incandescent, mudah dipasang, murah, dan menghasilkan cahaya dengan efek hangat sehingga sangat cocok digunakan pada ruang yang membutuhkan suasana tenang seperti ruang keluarga dan kamar tidur. Lampu fluorescent memiliki terang cahaya yang mendekati terang matahari,, harga terjangkau dan awet. Lampi ini biaasa digunakan sebagai lampu utama di tengah ruang. Untuk ruang yang butuh suasana terang dan jelas seperti dapur dan ruang belajar, dapat menggunakan lampu halogen karena memiliki tingkat terang mendekati matahari, namun harganya relatif lebih mahal dari lampu incandescent. 2.2.3 Manfaat Sinar Matahari Bagi Kesehatan 1. Vitamin D Sejumlah besar simpanan kolesterol Anda terdapat di bawah kulit. Pada waktu sinar ultraviolet disaring di kulit, ia mengubah simpanan kolesterol ini menjadi vitamin D. Menghadapkan sebagian dari tubuh ke sinar matahari selama 5 menit memberikan 400 IU (international unit) vitamin D. Anda membutuhkan 400 IU perhari menurut peraturan RDA (Recommended Dietary Allowances) di Amerika

52 | P a g e

2. Serotonin Sinar matahari mampu merangsang tubuh untuk memproduksi hormon serotonin yakni hormon yang dikenal untuk meningkatkan rasa mood atau perasaan bahagia. Semakin banyak hormon serotonin dihasilkan oleh tubuh, maka suasana hati juga akan semakin baik. 3. Sinar Matahari Mengurangi Kolesterol Darah Dengan mengubah kolesterol di bawah kulit menjadi vitamin D, tubuh Anda akan memberikan peringatan kepada kolesterol yang ada dalam darah untuk keluar dari darah menuju ke kulit sehingga mengurangi kolesterol dalam darah. 4. Sinar Matahari Mengurangi Gula Darah Cahaya matahari mampu berperan sebagai insulin yang memberikan kemudahan penyerapan glukosa masuk ke dalam sel-sel tubuh.Ini merangsang tubuh untuk mengubah gula darah (glukosa) menjadi gula yang tersimpan (glikogen) yang tersimpan di hati dan otot, sehingga menurunkan gula darah. 5. Sinar Matahari Adalah Penawar Infeksi dan Pembunuh Bakteri Matahari sanggup membunuh bakteri penyakit, virus dan jamur.Itu berguna untuk perawatan tuberkulosis (TBC), erisipelas, keracunan darah, peritonitis, pnemonia, mumps, asma saluran pernafasan.Bahkan beberapa dari virus penyebab kanker dibinasakan oleh sinar ultraviolet.Infeksi jamur, termasuk candida, bereaksi terhadap sinar matahari.Beberapa jenis bakteri di udara dibinasakan dalam 10 menit oleh sinar ultraviolet. Seorang ilmuwan menutup setengah dari piring batu yang dipenuhi dengan bakteri setengah lainnya disinari matahari secara langsung.Bagian piring yang tertutup tetap dipenuhi bakteri, tetapi tidak ada yang tumbuh di setengah piring yang terbakar sinar matahari.Semua bakteri telah terbunuh. Jika Anda membuka lebar tirai dan jendela rumah agar sinar matahari masuk ke ruangan, maka

53 | P a g e

setelah satu jangka waktu sinar matahari ini akan membunuh bakteri yang berada di debu jendela dan lantai, sehingga membuat rumah Anda menjadi tempat yang lebih sehat untuk didiami. 6. Sinar Matahari Meningkatkan Kebugaran dan Kualitas Pernafasan Sinar matahari bisa meningkatkan kapasitas darah untuk membawa oksigen dan menyalurkannya ke jaringan-jaringan.Ini berarti banyak oksigen tersedia untuk dibawa ke otot sewaktu Anda berolahraga. Faktor lain yang bisa membantu meningkatkan volume nafas ialah bahwa glikogen bertambah di hati dan otot setelah berjemur matahari. 7. Sinar Matahari Membantu Membentuk dan Memperbaiki Tulang Dengan bertambahnya tingkat vitamin D dalam tubuh Anda karena paparan sinar matahari, kemampuan penyerapan kalsium akan meningkat. Ini menolong pembentukan dan perbaikan tulang dan mencegah penyakit seperti rakitis dan osteomalacia (pelembutan tulang tidak normal). 8. Sinar Matahari Meningkatkan Beberapa Jenis Kekebalan Sinar matahari menambah sel darah putih terutama limfosit, yang digunakan untuk menyerang penyakit. Antibodi (gamma globulins) Anda akan bertambah. Sepuluh menit di bawah sinar ultraviolet satu atau dua kali setiap minggu mengurangi potensi terserang flu antara 30 sampai 40 persen. 2.3 Teori Ventilasi 2.3.1 Definisi Ventilasi Ventilasi adalah proses penyediaan udara segar ke dalam dan pengeluaran udara kotor dari suatu ruangan tertutup secara alamiah maupun mekanis.Tersedianya udara segar dalam rumah atau ruangan amat dibutuhkan manusia, sehingga apabila

54 | P a g e

suatu ruangan tidak mempunyai system ventilasi yang baik dan over crowded maka akan menimbulkankeadaan yang dapat merugikan kesehatan.

2.3.2 Fungsi Ventilasi Fungsi utama ventilasi dan jendela antara lain : Sebagai lubang masuk dan keluar angin sekaligus sebagai lubang pertukaran udara atau lubang ventilasi yang tidak tetap (sering berupa jendela atau pintu); Sebagai lubang masuknya cahaya dari luar (sinar matahari). 2.3.3 Syarat Ventilasi Agar udara dalam ruangan segar persyaratan teknis ventilasi dan jendela sebagai berikut : 1. Luas lubang ventilasi tetap, minimum 5% dari luas lantai ruangan dan luas lubang ventilasi insidentil (dapat dibuka dan ditutup) minimum 5% luas lantai, dengan tinggi lubang ventilasi minimal 80 cm dari langit-langit. 2. Tinggi jendela yang dapat dibuka dan ditutup minimal 80 cm dari lantai dan jarak dari langit-langit sampai jendela minimal 30 cm. 3. Udara yang masuk harud udara yang bersih, tidak dicemari oleh asap pembakaran sampah, knaolpot kendaraan, debu dan lain-lain. 4. Aliran udara diusahakan cross ventilation dengan menempatkan lubang hawa berhadapan antara dua dinding ruangan.Aliran udara ini diusahakan tidak terhalang oleh barang-barang seperti almari, dinding, sekat-sekat, dan lainlain. 5. Kelembaban udara dijaga antara 40% s/d 70%. Prinsip utama dari ventilasi adalah menggerakan udara kotor dalam rumah atau di tempat kerja, kemidian menggantikannya dengan udara bersih.Sistem ventilasi menjadi fasilitas penting dalam upaya penyehatan udara pada suatu lingkungan kerja. Menurut ILO (1991), ventilasi digunakan untuk memberikan kondisi dingin atau

55 | P a g e

panas serta kelembaban di tempat Kerja. Fungsi lain adalah untuk mengurangi konsentrasi debu dan gas-gas yang dapat menyebabkan keracunan, kebakaran dan peledakan.

2.3.4 Bentuk Ventilasi Secara umum kita mengenal beberapa bentuk ventilasi : a. Ventilasi alami (Natural Ventilation) Merupakan suatu bentuk pertukaran udara secara alamiah tanpa bantuan alat-alat mekanik seperti kipas. Ventilasi alami masih dapat dimungkinkan

membersihkan udara selama pada saat ventilasi terbuka terjadi pergantian dengan udara yang segar dan bercampur dengan udara yang kotor yang ada dalam ruangan. Standar luas ventilasi alami (Sumamur, 1987) lebih dari 20 % luas lantai tempat kerja. Penggunaan ventilasi alami tidak efektif jika digunakan dengan tujuan untuk mengurangi emisi gas, debu dan vapours ditempat kerja. Hal ini disebabkan tingkat kesulitan yang tinggi pada ventilasi alami terkait penentuan parameter yang harus kita ketahui menyangkut kecepatan angin, tekanan angin dari luar, arah angin, radiasi panas dan berapa besar pengaruh lubang-lubang yang ada pada dinding dan atap.Ventilasi alami biasanya digunakan dengan tujuan untuk memberikan kesegaran dan kenyamanan pada tempat Kerja yang tidak memiliki sumber bahaya yang tinggi. b. Ventilasi Umum (General Ventilation) General ventilation atau ventilasi umum biasanya digunakan pada tempat kerja dengan emisi gas yang sedang dan derajat panas yang tidak begitu tinggi.Jenis ventilasi ini biasanya dilengkapi dengan alat mekanik berupa kipas penghisap.Sistem kerja yang dibangun udara luar tempat kerja di hisap dan di

56 | P a g e

hembuskan oleh kipas kedalam rungan bercampur dengan bahan pencemar sehingga terjadi pengenceran.Kemudian udara kotor yang telah diencerkan tersebut dihisap dan di buang keluar. 2.4 Kerangka Teori Teori yang digunakan berdasarkan determinan perilaku, mengenai sikap dan gaya hidup keluarga binaan. Terutama dalam hal perilaku pencahayaan sinar matahari yang masuk kedalam rumah. Teori perilaku ini diambil berdasarkan teori dari Snehedu Kar, perilaku kesehatan dengan bertitik tolak bahwa perilaku merupakan fungsi dari: a. Behaviour intention Niat / motif berperilaku yang terwujud dalam keyakinan, sikap, dan kehendak. b. Social-support Dorongan dari orang tertentu dalam lingkungan sekitar. c. Accessebility of information Ada atau tidak adanya informasi tentang kesehatan atau fasilitas kesehatan. d. Personal autonomy Otonomi pribadi yang bersangkutan dalam hal ini mengambil tindakan atau keputusan.bentuk kemandirian pribadi. Dimana biasanya seseorang tidak mempunyai hak yang bebas atas dirinya sendiri. e. Action situation Situasi yang memungkinkan untuk bertindak atau tidak bertindak., terwujuud dalam bentuk sarana prasarana serta akses menjangkau pusat kesehatan.

57 | P a g e

Bagan 2.1 Kerangka Teori (Snehendu Kar, 1980)

2.5 Kerangka Konsep Berdasarkan teori sebelumnya, dapat dibuat suatu kerangka konsep yang berhubungan dengan area permasalahan yang terjadi pada keluarga binaan RT 03/RW 01 Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Kerangka konsep ini terdiri dari variabel independen dari kerangka teori yang dihubungkan dengan area permasalahan.

58 | P a g e

Bagan 2.2 Kerangka Konsep Variabel independen Variabel dependen

SIKAP LINGKUNGAN
PENGETAHUAN KELUARGA MASYARAKAT SEKITAR
KURANGNYA PERILAKU KELUARGA BINAAN TERHADAP PEMANFAATAN SINAR MATAHARI DESA TANJUNG PASIR, BANTEN

SARANA

2.6 Definisi Operasional Untuk membatasi ruang lingkup atau pengertian variabel-variabel yang diamati atau diteliti, variabel tersebut diberi batasan atau definisi operasional.Definisi operasional juga bermanfaat untuk mengarahkan kepada pengukuran atau pengamanan terhadap variabel-variabel yang bersangkutan serta mengembangkan instrumen (alat ukur) (Notoatmodjo, 2006). Adapun definisi operasional dalam penelitian ini sebagai berikut:

59 | P a g e

Tabel 2.1 Definisi Operasional

No.

Variabel

Definisi Operasional Tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri tentang pemanfaatan sinar matahari. Suatu pola perilaku tendensi atau keiapan antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi social. Wilayah sekitar rumah responden yang mempengaruhi pola perilau pemanfaatan sinar matahari. Wawasan mengenai segala masalah yang berhubungan dengan manfaat dan dampak sinar matahari

Alat Ukur

Cara Ukur

Hasil Ukur

Skala

Kurangnya perilaku pemanfaatan sinar matahari Sikap

Kuesioner

Wawancara < 4 : Tidak Baik > 4: Baik

Rasio

2.

Kuesioner

Wawancara < 6: sikap tidak baik > 6 : sikap baik

Rasio

3.

Lingkungan

Kuesioner

4.

Pengetahuan

Kuesioner

5.

Keluarga

6.

Masyarakat

Sekumpulan orang Kuesioner yang berhubungan erat dengan responden ynag mempengaruhi perilaku responden dalam pemanfaatan sinar matahari. Sekelompok orang Kuesioner dalam suatu komunitas yang mempengaruhi perilaku pemanfaatan sinar matahari.

Wawancara < 2: Lingkungan baik > 2: Lingkungan tidak baik Wawancara <6 : pengetahuan kurang >6: Pengetahuan baik Wawancara < 2 : anggota keluarga tidak berpartisipasi >2 : anggota keluarga berpartisipasi Wawancara < 2 : masyarakat yang tidak sadar perilaku pencahayaan sinar matahari >2 :

Rasio

Rasio

Rasio

Rasio

60 | P a g e

7.

Sarana

Suatu peralatan yang Kuesioner dapat digunakan langsung oleh responden untuk pemanfaatan sinar matahari yang benar.

masyarakat yang sadar perilaku pencahayaan sinar matahari Wawancara <2 : Sarana tidak tersedia > 2: Sarana tersedia

Rasio

BAB III

61 | P a g e

METODE 3.1 Penentuan Instrumen Pengumpulan Data Dalam penelitian ini digunakan teknik wawancara, dengan kuesioner sebagai instrumen untuk mengumpulkan data.Selain itu, dilakukan juga observasi langsung ke lapangan untuk memperoleh data yang lebih lengkap. Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti ( Arikunto, 2003). Dalam hal ini yang menjadi sampel adalah empat keluarga binaan di RT 01/RW03, Kampung Gaga Sukamana, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Propinsi Banten. Sumber Data a. Data primer Data yang langsung didapatkan dari hasil kuesioner semua anggota warga binaan di Kampung Gaga Sukamana, Teluk Naga melalui wawancara

terpimpin dan observasi. b. Data sekunder Data dalam bentuk laporan yang didapat dari data yang sudah ada di Puskesmas Tegal Angus.

c. Data tersier Data yang didapat dari jurnal ilmiah dan internet. Jenis Data a. Data Kualitatif Data kualitatif adalah data yang berbentuk kata-kata, bukan dalam bentuk angka.Data kualitatif diperoleh melalui berbagai macam teknik pengumpulan data, misalnya wawancara, analisis, observasi yang telah dituangkan dalam

62 | P a g e

catatan lapangan (transkrip). Bentuk lain data kualitatif adalah gambar yang diperoleh melalui pemotretan atau rekaman video. b. Data Kuantitatif Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka atau bilangan.Sesuai dengan bentuknya, data kuantitatif dapat diolah atau dianalisis menggunakan teknik perhitungan matematika atau statistika. Berdasarkan proses atau cara untuk mendapatkannya, data kuantitatif dapat dikelompokkan dalam dua bentuk, yaitu: 1) Data diskrit adalah data dalam bentuk angka (bilangan) yang diperoleh dengan cara membilang. Contoh data diskrit misalnya: jumlah perempuan dan laki-laki, jumlah orang yang menyelesaikan pendidikan terakhir. Karena diperoleh dengan cara membilang, data diskrit akan berbentuk bilangan bulat (bukan bilangan pecahan). 2) Data kontinyu adalah data dalam bentuk angka atau bilangan yang diperoleh berdasarkan hasil pengukuran. Data kontinum dapat berbentuk bilangan pecahan, contohnya adalah umur.

Untuk mencapai kelengkapan, ketelitian, dan kejelasan data, pencatatan data harus dilengkapi dengan: 1) Nama pengumpul data. 2) Nama peserta yang datanya diambil. 3) Tanggal dan waktu pengumpulan data. 4) Lokasi pengumpulan data. 5) Keterangan-keterangan tambahan data. Metode pengumpulan data merupakan teknik atau cara yang dilakukan untuk mengumpulkan data. Metode menunjuk suatu cara sehingga dapat diperlihatkan penggunaannya melalui angket, wawancara, pengamatan, tes, dokumentasi dan sebagainya. Berdasarkan uraianuraian tersebut, maka dipilih instrumen pengumpulan data berupa wawancara terpimpin dengan menggunakan kuesioner. Dipilihnya

63 | P a g e

kuesioner ini dikarenakan kuesioner bersifat objektif dan jujur karena berasal dari sumber data (responden) secara langsung, diharapkan dapat lebih mendengar tujuantujuan, perasaan, pendapat dari responden secara langsung sehingga secara tercipta hubungan yang baik antara pewawancara dan responden, selain itu dapat diterapkan untuk pengumpulan data dalam lingkup yang luas, serta cukup efisien dalam penggunaan waktu untuk mengumpulkan data. Sumber data dalam pengumpulan data ini adalah para responden yaitu

empatkeluarga binaan di RT 01/RW 03, Kampung Gaga Sukamana, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Propinsi Banten.

3.2

Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan di RT 01/RW 03, Kampung Gaga Sukamana,

Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang. Pengumpulan data ini dilakukan selama 10 hari, mulai dari tanggal 2 Oktober 11 Oktober 2013 Wawancara dengan kuesioner dilakukan terhadap empat keluarga binaan yang telah ditentukan oleh kader setempat. Dari empat keluarga binaan ini diambil 5 orang sebagai responden yaitu Tn. H Iming, Tn. Madi, Tn. Somad, Tn. Debi dan Tn. Nurdin untuk menjawab kuesioner. Dengan kriteria responden sebagai berikut : 1. Yang bersedia untuk di wawancarai 2. Merupakan anggota keluarga binaan 3. Usia diatas 17 tahun Adapun kegiatan pengumpulan data yang dilakukan adalah sebagai berikut:

Tabel 3.1 Pengumpulan data

64 | P a g e

No. 1. 2. 3.

Tanggal Rabu, 2 Oktober 2013 Kamis, 3 Oktober 2013 Jumat, 4 Oktober 2013

Kegiatan Perkenalan dan sambung rasa dengan seluruh anggota keluarga binaan. Pengumpulan data dari puskesmas dan dari masing-masing keluarga binaan. Pengumpulan data dari masing-masing keluarga binaan dan dokumentasi rumah keluarga binaan, lingkungan sekitar, dan fasilitas pencahayaan sinar matahari Penentuan area masalah Penentuan dan pembuatan instrumen pengumpul data. Wawancara pengisisan kuesioner kepada masing-masing responden dari keluarga binaan. Pengolahan hasil kuesioner dari masing-masing keluarga binaan. Memberi informasi kepada keluarga binaan mengenai intervensi yang akan dilakukan hari kamis, 17 Oktober 2013.

4. 5. 6.

Sabtu, 5 Oktober 2013 Senin, 7 Oktober 2013 Selasa, 8 Oktober 2013

7. 8.

rabu, 9 Oktober 2013 Jumat, 11 Oktober 2013

3.3

Pengolahan dan Analisa Data Data diolah secara manual dan komputerisasi. Cara manual yang digunakan

adalah dengan bantuan kalkulator, sedangkan cara komputerisasi dengan menggunakan program Microsoft Word dan Microsoft Excel. Kuesioner terdiri dari delapan variabel dengan jumlah pertanyaan sebanyak 20 buah.Masing-masing variabel memiliki penilaian yang berbeda-beda.Semua jawaban pada variabel ini disajikan dalam bentuk pilihan ganda.Variabel pertama, yaitu mengenai perilaku pencahayaan sinar matahari, dengan jumlah pertanyaan sebanyak empat buah.Variabel kedua menilai tentang aspek sikap, yang terdiri dari empat pertanyaan.Variabel ketiga tentang aspek lingkungan, terdiri dari dua

pertanyaan.Variabel keempat tentang pengetahuan, yang terdiri dari empat pertanyaan.Variabel kelima berisi tentang aspek tenaga kesehatan, yang terdiri dari dua pertanyaan.Variabel ketujuh keenam tentang tentang keluarga; sekitar; terdiri terdiri dari dari dua dua

pertanyaan.Variabel

masyarakat

pertanyaan.Variabel kedelapan tentang sarana; terdiri dari dua pertanyaan.

65 | P a g e

BAB IV HASIL

66 | P a g e

4.1

Karakteristik Keluarga Binaan Hasil analisis ini disajikan melalui bentuk diagram yang diambil dari karakteristik responden yang terdiri dari empatkeluarga binaan di RT 01/RW 03, Kampung Gaga Sukamana, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang.

Diagram 4.1 Distribusi Frekuensi Tingkat Pendidikan Pada Keluarga Binaan di RT 01/RW 03, Kampung Gaga Sukamana, Oktober 2013

8% 8% 25%
SMP SD

59%

SMA Belum sekolah

Berdasarkan dari diagram 4.1 terlihat tingkat pendidikan terbanyak dari keluarga binaan adalah SMP (59 %)

Diagram 4.2 Distribusi Frekuensi Pekerjaan

67 | P a g e

Pada Keluarga Binaan di RT 01/RW 03, Kampung Gaga Sukamana, Oktober 2013

9% 9% 46% 18% 18%

Pedagang Pelajar Tidak bekerja Buruh Tambak ikan

Dari diagram 4.2 terlihat jenis pekerjaan terbanyak dari keluarga binaan adalah pedagang (46%). 4.2 Analisis Univariat Hasil analisis data disajikan dalam bentuk tabel berdasarkan variabel-variabel dalam kuesioner yang di jawab 5 responden pada bulan Oktober 2013.

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Perilaku Masyarakat Terhadap Kurangnya Pemanfaatan Sinar Matahari. Perilaku Baik Tidak Baik Total Jumlah Responden 2 3 5 % 40% 60% 100 %

Berdasarkan dari tabel 4.1 terlihat bahwa lebih banyak responden memiliki perilaku yang tidak baik. (60%)

68 | P a g e

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Sikap Responden Terhadap Kurangnya Pemanfaatan Sinar Matahari. Sikap Baik Tidak Baik Jumlah Responden 5 0 % 100% 0%

Total

100 %

Berdasarkan dari tabel 4.2 Terlihat bahwa lebih banyak responden memiliki sikap baik (100%) tentang kurangnya perilaku pemanfaatan sinar matahari.

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Lingkungan Responden Terhadap Kurangnya Pemanfaatan Sinar Matahari. Lingkungan Baik Tidak Baik Total Jumlah Responden 0 5 5 % 0% 100% 100%

Berdasarkan dari tabel 4.3 terlihat bahwa lingkungan masyarakat (100%) berperan dalam menimbulkan kurang perilaku pemanfaatan sinar matahari. Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Peran Pengetahuan Responden Terhadap Kurangnya Pemanfaatan Sinar Matahari Peran Lingkungan Jumlah Responden %

Baik Belum Baik Total

3 2 5

60% 40% 100%

69 | P a g e

Berdasarkan dari tabel 4.4 terlihat bahwa pengetahuna masyarakat tentang pemanfaatan sinar matahari lebih banyak yang baik (60%). Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Peran Keluarga Peran Keluarga Berpartisipasi Tidak berpartisipasi Total Jumlah Responden 2 3 5 % 40% 60% 100%

Berdasarkan dari tabel 4.5 terlihat bahwa keluarga tidak berpartisipasi (60%) dalam kurangnya perilaku pemanfaatan sinar matahari. Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Sarana Sarana Jumlah Responden %

Tersedia Tidak Tersedia Total

2 3 5

40% 60% 100%

Berdasarkan dari tabel 4.6 terlihat bahwa sarana pada keluarga binaan dalam kegiatan pemanfaatan sinar matahari tidak tersedia (60%).

70 | P a g e

4.3 Rencana Intervensi Pemecahan Masalah 4.3.1Intervensi Pemecahan Masalah

Tabel 4.9 Intervensi Pemecahan Masalah n Akar Penyebab Masalah Alternatif Pemecahan Masalah 1 Tidak adanya penyuluhan Memberikan penyuluhan Memberikan penyuluhan Rencana Intervensi

tentang pemanfaatan matahari

sinar mengenai pemafaatan sinar matahari yang benar

mengenai pentingnya manfaat pencahayaan sinar matahari Memberikan mengenai penyuluhan dampak

pencahayaan sinar matahari 2 Susahnya merubah kebiasaan Merubah membuka gorden dan jendela membuka pada pagi hari. kebiasaan Memberikan gorden dan mengenai penyuluhan pemanfaatan

jendela pada pagi hari yang pencahayaan sinar matahari demi buruk terciptanya perilaku membuka

gorden dan jendela pada hari yang baik. 3 Ketidaktahuan anggota Meningkatkan pengetahuan Memberikan pesan secara lisan berisi informasi pemanfaatan menyampaikan

keluarga tentang pemanfaatan anggota keluarga tentang sinar matahari pemanfaatan matahari. sinar

mengenai dan

kepada anggota keluarga dengan cara kata kata yang mudah di mengerti dan yang menarik.

Kurangnya

kepedulian Meningkatkan kepedulian terhadap

Menginformasikan mengenai pentingnya

masyarakat terhadap perilaku masyarakat

71 | P a g e

pemanfaatan sinar matahari

perilaku pemanfaatan sinar matahari

kepedulian warga pemanfaatan matahari meningkatkan kesehatan di

cara sinar guna tingkat rumah

keluarga binaan. Penyuluhan secara berkala mengenai sinar pemanfaatan agar

matahari

masyarakat tetap perduli mengenai pentingnya

manfaat sinar matahari Pembuatan selembaran

atau pamflet yang berisi tentang mengenai alami sebagai pencahayaan (lampu). informasi pencahayaan matahari) pengganti buatan

(sinar

72 | P a g e

BAB V

73 | P a g e

SIMPULAN DAN SARAN 5.1 5.1.1 Simpulan Area Masalah Berdasarkan pengamatan dan pengumpulan data dari Puskesmas Tegal Angus dan dari kunjungan ke keluarga binaan yang bertempat tinggal di Desa Tanjung Pasir, maka dilakukanlah diskusi kelompok dan merumuskan serta menetapkan area masalah, yaitu Kurangnya perilaku keluarga binaan terhadap pemanfaatan sinar matahari desa Tanjung Pasir, Banten . 5.1.2 Akar Penyebab Masalah a. Tidak adanya penyuluhan tentang kurangnya pemanfaatan sinar matahari yang masuk ke dalam rumah. b. Susahnya merubah kebiasaan membuka gorden dan jendela di pagi hari c. Ketidaktahuan anggota keluarga tentang kurangnya perilaku pemanfaatan sinar matahari. d. Kurangnya kepedulian masyarakat terhadap kurangnya perilaku pemanfaatan sinar matahari.

5.1.3 Alternatif Pemecahan Masalah a. Memberikan penyuluhan mengenai manfaat dan dampak pencahayaan sinar matahari yang masuk ke dalam rumah. b. Merubah kebiasaan membuka gorden dan jendela agar sinar matahari dapat masuk ke dalam rumah. c. Meningkatkan keperdulian keluarga terhadap perilaku pemanfaatan sinar matahari. d. Meningkatkan kepedulian pemanfaatan sinar matahari. masyarakat terhadap kurangnya perilaku

74 | P a g e

5.1.4 Intervensi yang Dilakukan a. Memberikan penyuluhan mengenai manfaat dan dampak pencahayaan sinar matahari yang masuk ke dalam rumah. b. Memberikan penyuluhan mengenai penyakit yang timbul akibat pencahayaan sinar matahari yang ke dalam rumah yang kurang. c. Memberikan penyuluhan tentang informasi mengenai pencahayaan alami (sinar matahari) sebagai pengganti pencahayaan buatan (lampu). d. Memberikan pesan secara lisan berisi informasi mengenai pemanfaatan sinar matahari dan menyampaikan kepada anggota keluarga dengan cara kata kata yang mudah di mengerti dan yang menarik. e. Menginformasikan mengenai pentingnya kepedulian warga mengenai cara perilaku pemanfaatan sinar matahari yang benar guna meningkatkan tingkat kesehatan dalam rumah keluarga binaan. f. Pembuatan selembaran atau pamflet yang berisi tentang informasi mengenai manfaat dan dampak pencahayaan sinar matahari yang benar.

5.2 Saran 5.2.1 Rekomendasi a. Memberikan informasi mengenai perilaku pemanfaatan sinar matahari yang benar dengan berkoordinasi dengan petugas kesehatan setempat. b. Meningkatkan fasilitas yang menunjang Memberikan saran untuk membuka jendela dan terai setiap pagi hari.

DAFTAR PUSTAKA

75 | P a g e

Kartikawatie T, Yusnita, & Yanto D. 2012. Dinas Kesehatan Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang: Laporan Kinerja Puskesmas Tegal Angus 2012. Tangerang: Puskesmas Tegal Angus.

Misdyanti dan Kartasapoetra. 1993. Fungsi Pemerintah Daerah dalam Pembuatan Peraturan Daerah. Jakarta: Bumi Aksara Modul Kepaniteraan Kedokteran Komunitas Dan Kepaniteraan Kedokteran Keluarga. Jakarta, 2011. Notoatmodjo, S. 2005. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi. Jakarta: Rineka Cipta: 43. Notoatmodjo, S. 2008. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta: Rineka Cipta: 131162. Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta: 24. Kepmenkes RI No:829/MENKES/SK/VII/1999. Tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan. Dirjen PPM&PL Depkes RI.2002.Pedoman Teknis Penilaian Rumah Sehat.

LAMPIRAN 1 : KUESIONER

76 | P a g e

KUESIONER DIAGNOSIS DAN INTERVENSI KOMUNITAS KURANGNYA PERILAKU KELUARGA BINAAN TERHADAPA PEMANFAATAN SINAR MATAHARI DI DESA TANJUNG PASIR RT/RW: 01/03 KECAMATAN TELUK NAGA KABUPATEN TANGERANG-BANTEN A. IDENTITAS RESPONDEN 1. 2. Nama Responden Jenis kelamin 1. Laki laki 2. Perempuan 3. Umur 1. Usia Produktif : (15-64 tahun) : :

2. Usia Tidak Produktif (<15 tahun atau >64tahun) 4. Pendidikan Terakhir : 1. Tidak sekolah/Tidak lulus SD 2. Lulus SD 3. Lulus SLTP/SMP 4. Lulus SLTA/SMA 5. Pekerjaan: 1. 2. 3. Pegawai Swasta/Karyawan Pedagang/Wiraswasta Buruh

6. Pendapatan 1. 2. 3. < Rp 500.000,00 Rp 500.000,00 Rp 1. 500.00,00 > Rp 1.500.000,00

7. Junlah Anggota Keluarga :

B. KUESIONER KHUSUS

77 | P a g e

ASPEK PERILAKU

1. Apakah ada perlakuan tertentu sebelum anda membuka gorden saat pagi hari? a. Ya b. Kadang-kadang c. Tidak 2. Apakah bentuk perlakuan yang dilakukan terhadap sinar matahari yang masuk kedalam rumah anda? a. Dibuka gorden dan jendela yang ada dirumah b. Dibiarkan saja gorden dan jendela tertutup 3. Apakah ada selalu membuka gorden dan jendela setiap hari? a. Ya b. Tidak 4. Dalam masuknya cahaya matahari yang masuk kedalam rumah, manfaat apa yang andadapatkan? a. Rumah menjadi terang dan tidak lembab b. Rumah menjadi tidak terang dan lembab

ASPEK SIKAP 5. Apakah bapak / ibu setuju bila cahaya sinar matahari masuk kedalam rumah? a. Setuju b. Tidak Setuju

6. Bagaimanakah sikap bapak/ibu jika cahaya sinar matahari masuk menerangi rumah saat pagi hari?

78 | P a g e

a. Setuju b. Tidak Setuju 7. Bagaimanakah sikap bapak/ibu apabila sering membuka gorden dan jendela setiap pagi dan siang hari? a. Setuju b. Tidak Setuju 8. Menurut pendapat bapak/ibu bagaimana apabila diadakan program tentang memanfaatkan cahaya sinar matahari untuk menghemat energy listrik oleh pemerintah? a. Setuju b. Tidak Setuju

ASPEK LINGKUNGAN

9. Apakah tetangga dekat rumah anda suka membuka gorden dan jendela setiap hari? a. Ya b. Tidak

ASPEK PENGETAHUAN

10. Apa itu cahaya sinar matahari? a. b. Cahaya yang dapat memberikan sinar terang Cahaya yang tidak dapat memberikan sinar terang

11. Apa anda tahu tentang manfaat cahaya sinar matahari ? a. Ya

79 | P a g e

b. Tidak 12. Apakah cahaya sinar matahari yang masuk ke dalam rumah itu bermanfaat bagi kesehatan? a. Ya b. Tidak ASPEK KELUARGA

13. Apakah di dalam keluarga anda selalu membuka gorden dan jendela setiap hari saat di pagi hari? a. Selalu b. Tidak Pernah

14. Apa yang anda lakukan apabila di keluarga anda ada yang tidak membuka gorden dan jendela saat pagi hari? a. Memarahinya dan menasehati untuk membuka gorden dan jendela saat pagi hari b. Membiarkannya

ASPEK MASYARAKAT 15. Apakah masyarakat tempat tinggal anda, ketua RT, kepala desa sudah memperlihatkan perilaku pencahayaan sinar matahari yang masuk kedalam rumah secara benar? a. b. c. Iya Tidak Tidak tahu

ASPEK SARANA

80 | P a g e

16. Apakah anda tahu tentang pemilihan kaca jendela agar sinar matahari dapat masuk kedalam rumah? a. Ya b. Tidak

17. Menurut ada kaca jendela seperti apa yang dapat sinar matahari masuk kedalam rumah? a. Kaca yang bening b. Kaca yang gelap

18. Ada berapakah jendela yang berada di rumah anda? a. b. >3 <3

81 | P a g e

LAMPIRAN II : SKORING KUESIONER 1. Variabel Aspek Perilaku No 1. Jika responden menjawab

a = diberi poin 2 b = diberi poin 1 c = diberi poin 0

No 2. Jika responden menjawab No 3. Jika responden menjawab No 4. Jika responden menjawab

a = diberi poin 2 b = diberi poin 1 a = diberi poin 2 b = diberi poin 1 a = diberi poin 2 b = diberi poin 1

2. Variabel Aspek sikap No 5. Jika responden menjawab Setuju = diberi poin 2

Tidak Setuju = diberi poin 1 No 6. Jika responden menjawab No 7. Jika responden menjawab No 8. Jika responden menjawab Setuju = diberi poin 2

Tidak Setuju = diberi poin 1 Setuju = diberi poin 2

Tidak Setuju = diberi poin 1 Setuju = diberi poin 2

Tidak Setuju = diberi poin 1 3. Variabel Aspek lingkungan No 9. Jika responden menjawab

a = diberi poin 2 b = diberi poin 1

82 | P a g e

4.

Variabel Aspek pengetahuan

No 10. Jika responden menjawab No 11. Jika responden menjawab No 12. Jika responden menjawab

a = diberi poin 2 b = diberi poin 1 a = diberi poin 2 b = diberi poin 1 a = diberi poin 2 b = diberi poin 1

5. Variabel Aspek keluarga No 15. Jika responden menjawab No 16. Jika responden menjawab a = diberi poin 2 b = diberi poin 1 a = diberi poin 2 b = diberi poin 1

6. Variabel Aspek masyarakat No 17. Jika responden menjawab a = diberi poin 2 b = diberi poin 1 c = diberi poin 0

7. Variabel Aspek sarana No 18. Jika responden menjawab No 19. Jika responden menjawab No 20. Jika responden menjawab a = diberi poin 2 b = diberi poin 1 a = diberi poin 2 b = diberi poin 1 a = diberi poin 2 b = diberi poin 1

83 | P a g e

LAMPIRAN III : PENILAIAN VARIABEL

1. Untuk variabel pertama mengenai aspek perilaku pemanfaatan sinar matahari: a. Jika 4 : Responden memiliki perilaku pemanfaatan sinar matahari yang baik. b. Jika <4 : Responden memiliki perilaku pemanfaatan sinar matahari yang belum baik. 2. Untuk variabel kedua mengenai aspek sikap pemanfaatan sinar matahari : a. Jika > 6 : Responden memiliki persepsi pemanfaatan sinar matahari yang baik. b. Jika < 6 : Responden memiliki persepsi pemanfaatan sinar matahari yang belum baik. 3. Untuk variabel ketiga mengenai aspek lingkungan dalam pemanfaatan sinar matahari : a. Jika >4 : Lingkungan disekitar keluarga binaan memiliki peran dalam timbulnya perilaku pemanfaatan sinar matahari yang buruk. b. Jika <4 : Lingkungan disekitar keluarga binaan memiliki peran dalam timbulnya perilaku pemanfaatan sinar matahari yang baik. 4. Untuk variabel keempat mengenai aspek pengetahuan dalam pemanfaatan sinar matahari: a. Jika >6 : Responden memiliki pengetahuan pemanfaatan sinar matahari yang baik. b. Jika <6 : Responden memiliki pengetahuan pemanfaatan sinar matahari yang belum baik. 5. Untuk variabel kelima mengenai keluarga pada perilaku pemanfaatan sinar matahari yang masuk kedalam rumah keluarga binaan : a. Jika >2 : Setiap anggota keluarga berpartisipasi dengan baik dalam perilaku pemanfaatan sinar matahari yang ke dalam rumah. b. Jika <2 : Tidak semua anggota keluarga berpartisipasi dalam perilaku pemanfaatan sinar matahari yang ke dalam rumah.

84 | P a g e

6. Untuk variabel keenam mengenai masyarakat yang mendukung dalam perilaku pemanfaatan sinar matahari yang masuk kedalam rumah : a. Jika > 2 : Masyarakat sudah memperlihatkan cara membuka jendela dan terai pagi hari yang benar. b. Jika < 2 : Masyarakat belum memperlihatkan cara membuka jendela dan tirai dengan benar 7. Untuk variabel ketujuh mengenai sarana yang mendukung perilaku pemanfaatan sinar matahari: a. Jika >2 : Sudah tersedia sarana yang memadai dalam pemanfaatan sinar matahari. b. Jika <2 : Belum tersedianya sarana yang memcukupi dalam pemanfaatan sinar matahari.

LAMPIRAN 4 POSTER

85 | P a g e

LAMPIRAN 5 Dokumentasi Keluarga Binaan

86 | P a g e

Keluarga Binaan Tn. H Iming

Keluarga Binaan Tn. Madi

Keluarga Binaan Tn. Somad

87 | P a g e

Keluarga Binaan Tn. Nurdin

LAMPIRAN 6 Leaflet
TERANG ITU BAIK
GUNAKANLAH CAHAYA ITU SEBAIK MUNGKIN !!!

APA ITU PENCAHAYAAN? Pencahayaan adalah sebagai penerangan rumah atau bangunan,agar kita dapat merasakan kenyamanan dalam beraktifitas.baik di dalam

APA ITU KEUNTUNGAN CAHAYA? Memudahkan 88 |orang P a g euntuk beraktivitas Meningkatkan kenyamanan lingkungan tempat tinggal

89 | P a g e