Anda di halaman 1dari 2

Asbestosis Penyakit ini timbul merupakan respons paru (berupa fibrosis/pneumonitis interstitialis) sebagai akibat inhalasi debu (serabut)

asbestos, Umumnya asbestosis berupa fibrosis interstitialis paru. Manifestasi paru lainnya: fibrosis dan efusi pleura, pleural plaques, mesotelioma pleura/peritoneum, karsinoma paru, karsi-noma laring, karsinoma saluran cerna dan sebagainya. Paparan debu asbestos sering terjadi pada pekerja pabrik yang menggunakan bahan baku atau peralatan yang mengandung asbestos. Sesudah seorang (pekerja) terpapar debu asbestos, ada periode laten (bervariasi satu sampai beberapa tahun), baru timbul perubahan pada saluran napas atau paru. individu yang bisa terkena paparan debu asbesto ialah pekerja atau orang disekitar pabrik tersebut atau istri dirumah yang mencuci baju suami yang terpapar debu asbestos ditempat kerja. Nilai ambang batas debu asbestos diudara adalah 2 serabut/cm/berat badan/8 jam. menetukan nilai ambang batas ini sangat sulit. Serat asbestos akan menyebabkan cedera sel epitel dan sel makrofag alveolar yang berusaha memfagosit serat. Beberapa serat akan masuk ke dalam jaringan intersisium melalui penetrasi yang dibawa oleh makrofag atau epitel. Makrofag yang telah rusak akan mengeluarkan reactive oxygen species (ROS) yang dapat merusak jaringan dan beberapa sitokin, termasuk tumor necrosis factor (TNF), nterleukin-1, dan metabolit asam arakidonat yang akan memulai infl amasi alveoli (alveolitis). Sel epitel yang terganggu juga mengeluarkan sitokin. Gangguan asbestos berskala kecil tidak akan menimbulkan gangguan setelah inflamasi terjadi. Namun bila serat terinhalasi dalam kadar lebih tinggi, alveolitis akan terjadi lebih intens, menyebabkan reaksi jaringan yang lebih hebat. Reaksi jaringan ini menyebabkan fibrosis yang progresif, yaitu pengeluaran sitokin profi brosis seperti fibronektin, fibroblast growth factor, platelet-derived growth factor, dan insulinlike growth factor yang akan menyebabkan sintesis kolagen. Orang-orang yang terpajan debu serat-serat asbes dapat tertelan bersama ludah atau sputum. Kadangkala air, minuman atau makanan dapat mengandung sejumlah kecil serat tersebut. Sebagian serat yang tertelan agaknya menembus dinding usus, tetapi migrasi selanjutnya dalam tubuh tidak diketahui. Setelah suatu masa laten-jarang di bawah 20 tahun, dapat mencapai 40 tahun atau lebih setelah pajanan pertama, dapat timbul mesotelioma maligna pleura dan peritoneum. Mekanisme karsinogenesis tidak diketetahui. Kadang-kadang, serat yang lain, misal talk yang terbungkus oleh besi-berikatan dengan protein, dapat menimbulkan badan asbes. Awitan gejala asbestosis biasanya akan timbul 20 tahun setelah Pajanan awal. Tanda dan gejala asbestosis kebanyakan tidak khas dan mirip penyakit paru restriktif lainnya. Gejala paling sering dan juga merupakan tanda awal adalah munculnya dispnea saat beraktivitas. Dispnea akan berkembang progresif lambat dalam beberapa tahun. Dispnea tetap akan memburuk walaupun pasien tidak lagi terpapar asbestos. Gejala lainnya adalah batuk produktif atau batuk kering persisten, rasa sesak dan nyeri pada dada, serta adanya mengi.

Pada pemeriksaan dapat ditemukan rhonki basal paru bilateral (pada 60% pasien) yang terdengar pada akhir fase inspirasi. Sering ditemukan pula jari tabuh (digital clubbing) pada 30-40% pasien dan pada asbestosis lanjut. Gangguan lain yang perlu diperhatikan adalah adanya cor pulmonale, keganasan yang terkait asbestosis, seperti kanker paru, kanker laring, bahkan kanker gaster dan pankreas. Pada pemeriksaan fungsi paru akan didapatkan pola restriktif dengan penurunan kapasitas vital, kapasitas total paru, dan kapasitas difusi, dengan hipoksemia arterial. Kapasitas vital paksa (Forced Vital Capacity, FVC) akan menurun <75%. Dapat juga didapatkan pola obstruktif disebabkan fibrosis dan penyempitan bronkioli. Diagnosis asbestosis dapat ditegakkan dengan adanya riwayat Pajanan asbestos, adanya selang waktu yang sesuai antara Pajanan dengan timbulnya manifestasi klinis, gambaran dari roentgen thorax, adanya gambaran restriktif dalam pemeriksaan paru, kapasitas paru yang terganggu, dan rhonki bilateral basal paru.