Anda di halaman 1dari 57

Jejas: Definisi, Etiologi, dan Jenisnya

January 5, 2012 by Josephine Widya

Struktur maupun fungsi sel diatur melalui program genetik, diferensiasi, dan lain-lain pada sel normal. Sel akan selalu mempertahankan keadaan homeostasis/steady state tersebut. Beban fisiologik yang berat dapat menimbulkan adaptasi seluler baik fisiologi maupun morfologi sehingga mencapai keadaan steady state yang berbeda atau baru. Jejas sel merupakan keadaan dimana sel beradaptasi secara berlebih atau sebaliknya, sel tidak memungkinkan untuk beradaptasi secara normal. Di bawah ini merupakan penyebab-penyebab dari jejas sel. Etiologi jejas: 1. Hipoksia a. Daya angkut oksigen berkurang: anemia, keracunan CO b. Gangguan pada sistem respirasi c. Gangguan pada arteri: aterosklerosis 2. Jejas fisik a. Trauma mekanis: ruptura sel, dislokasi intraseluler b. Perubahan temperatur: vasodilatasi, reaksi inflamasi c. Perubahan tekanan atmosfer d. Radiasi 3. Jejas kimiawi a. Glukosa dan garam-garam dalam larutan hipertonis yang dapat menyebabkan gangguan homeostasis cairan dan elektrolit b. Oksigen dalam konsentrasi tinggi c. Zat kimia, alkohol, dan narkotika 4. Agen biologik: virus, bakteri, fungi, dan parasit 5. Reaksi imunologik a. Anafilaktik b. Autoimun 6. Faktor genetik: sindroma Down, anemia sel sabit 7. Gangguan nutrisi: defisiensi protein, avitaminosis Jenis-jenis jejas: 1. Jejas Reversible (oedem, cloudy swelling) Contoh: degenerasi hidropik. Degenerasi ini menunjukkan adanya edema intraselular, yaitu adanya peningkatan kandungan air pada rongga-rongga sel selain peningkatan kandungan air pada mitokondria dan retikulum

endoplasma. Pada mola hidatidosa telihat banyak sekali gross (gerombolan) mole yang berisi cairan. Mekanisme yang mendasari terjadinya generasi ini yaitu kekurangan oksigen, karena adanya toksik, dan karena pengaruh osmotik. 2. Jejas Irreversible Terdapat dua jenis jejas irreversible (kematian sel) yaitu apotosis dan nekrosis. Apoptosis merupakan kematian sel yang terprogram. Sedangkan nekrosis merupakan kematian sel/jaringan pada tubuh yang hidup di luar dari kendali. Sel yang mati pada nekrosis akan membesar dan kemudian hancur dan lisis pada suatu daerah yang merupakan respons terhadap inflamasi (Lumongga, 2008). Jadi, perbedaan apoptosis dan nekrosis terletak pada terkendali atau tidaknya kematian sel tersebut.

About these ads Penyebab Jejas Sel Penyebab Jejas Sel 1. Hipoksia (pengurangan oksigen oksigen) terjadi sebagai akibat a. iskemia (kehilangan pasokan darah), b. oksigenisasi tidak mencukupi (misalnya, kegagaln jantung paru), atau c. hilangnya kapasitas pembaw-oksigen darah (misalnya, anemia, keracunan karbon monoksida). 2. Faktor fisik, termasuk trauma, pcanas, dingin, radiasi, dan renjatan listrik. 3. Bahan kimia dan obat-obatan, termasuk: a. Obat terapeutik (misalnya, asetaminofen (Tylenol). b. Bahan bukan obat (misalnya. timbale, alcohol). 4. Bahan penginfeksi, termasuk virus, ricketsia, bakteri, jamur, dan parsit. 5. Reaksi imunologik 6. Kekacauan genetik 7. Ketidakseimbangan nutrisi Mekanisme Umum System intrasel tertentu terutama rentan terhadap jejas sel: v Pemeliharaan integritas membrane sel

v Respirasi aerobic dan produk ATP v Sintesis enzim dan protein berstruktur v Preservasi integritas aparat genetic System-sistem ini terkait erat satu dengan lain sehingga jejas pada satu lokus membawa efek sekunder yang luas. Konsekuensi jejas sel bergantung kepada jenis, lcama, dan kerasnya gen penyebab dan juga kepada jenis, status, dan kemampuan adapatasi sel yang terkena. Perubahan morfologi jejas sel menjadi nyata setelah beberapa system biokimia yang penting terganggu. Empat aspek biokimia yang penting sebagai perantara jejas dan kematian sel: 1. Radikal bebas berasal dari oksigen yang terbentuk pada banyak keadaan patologik dan menyebabkan efek yang merusak pada struktur danfungsi sel. 2. Hilangnya homeostasis kalsium, dan meningkatnya kalsium intrasel. Iskemi dan toksin tertentu menyebabkan masuknya ion kalsium ke dalam sel dan lepasnnya ion kalsium sistolik mengaktifkan fosfolipase yang memecah fosfolipid membrane, protease yang menguraikan protein membrane dan sitoskletal, ATPase yang memeprcepat pengurangan ATP, dan endonuklease yang terkait dengan fragmnetasi kromatin. 3. Deplesi ATP, karena dibutuhkan untuk proses yang penting seperti transportasi pada membrane, sintesis protein, dan pertukaran fosfolipid. 4. Defek permebilitas membrane. Membrane dapat dirusak langsung oleh toksin, agen fisik dan kimia, komponen komplemen litik, dan perforin, atau secara tidak langsung seperti yang diuraikan pada kejadian sebelumnya.

Jejas Sel (Injury of Cells)


OPINI | 09 March 2011 | 19:14 Dibaca: 5140 Komentar: 0 Nihil

EKSPLORASI JAWABAN DISKUSI PRAKTIKUM IDK 2 Topik: Respon Sel Terhadap Jejas Sub Topik: Adaptasi: 1. Atrofi 2. Hiperplasia

3. Hipertrofi 4. Metaplasia dan Displasia Jejas Reversibel: Degenerasi Hidropik: mola Jejas Irreversibel: Nekrosis Disusun oleh: Mindyarina NPM 1006672724 FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS INDONESIA 1.1
1. Ribosom

Review Struktur Sel Normal


Sumber: http://library.med.utah.edu/WebPath/CINJHTML/CINJIDX.html 9. sitoskeleton (intermediet filament) 3. Phinositosit 2. Nukleus 7. Badan Golgi 5. Lisosom 4. RE Kasar 8. Mitokondria

Keterangan Fungsi: 1. Ribosom merupakan partikel nucleoprotein yang bebas atau melekat pada reticulum endoplasma yang terdiri dari RNAr dan protein. Merupakan struktur paling kecil yang tersuspensi dalam sitoplasma dan menjadi tempat berlangsungnya sintesis protein 2. Nucleus, Inti sel, salah satu organel sel yang terlihat paling dominan, berbentuk oval atau bulat, dan berperan penting untuk mengendalikan seluruh aktivitas sel. 3. Phinositosit

4. Membrane RE berperan untuk mensisntesis protein-protein membrane dan protein sekresi, juga beberapa lipid. Dalam lumen RE terjadi modifikasi protein. Selain itu, lumen berperan pula sebagai tempat cadangan Ca+2 , khususnya pada sel otot. 5. Lisosom, dicirikan dengan kandungan fosfatase asamnya. Bentuk lisosom relative bulat dengan diameter 0,2-0,8 m, dimana pada sel hati diameter rata-ratanya 0,4 m. Organel ini dilapisi membrane tunggal dengan ketebalan 10 nm, dengan bayangan material electron-lusen sering ditemukan di bawah membrannya. Material internal sangat heterogen, yaitu dari matriks padat, granular, sampai pada serpihan.struktur ini tergantung pada funsi organel. Lisosom primer bersifat homogen dan padat, sementara lisosom sekunder dan bahan residu bersifat lebih heterogen. Fungsi lisosom yaitu melakukan heterofagi (penghancuran benda asing dari lingkungan ekstrasel) dan autofagi (penghancuran sel/hanya organel sel sendiri karena sudah inaktif/tidak berfungsi). 6. Kompleks golgi memiliki struktur dan fungsi yang spesifik, dan berfungsi memodifikasi protein yang telah dibentuk di RE, sehungga protein tersebut dapat berfungsi. Misalnya memotong precursor insulin menjadi dua bagian untuk menjadi hormone. Fungsi penting lainnya yaitu menentukan target yang tepat bagi protei-protein yang akan ditempatkan pada organel, misalnya mensitesis fosfomanose yang merupakan marker (penanda) untuk protein lisososm. Selain itu, kompleks Golgi mengandung enzim untuk mensintesis polisakarida tertentu yang akan disekresikan dari sel. 7. Filamen intermediat merupakan bagian dari kerangka sel (sitoskeleton) yang memiliki diameter antara 8 hingga 12 nm, lebih besar daripada diameter mikrofilamentetapi lebih kecil daripada diameter mikrotubula, yang fungsinya untuk menahan tarikan (seperti mikrotubula). Filamen intermediet terdiri dari berbagai jenis yang setiap jenisnya disusun dari subunit molekuler berbeda dari keluarga protein yang beragam yang disebut keratin. Mikrotubula dan mikrofilamen, sebaliknya mempunyai diameter dan komposisi yang sama di seluruh sel eukariot. Dibandingkan mikrofilamen dan mikrotubula yang sering dibongkar-pasang dalam berbagai macam bagian sel.Filamen intermediet termasuk peralatan sel yang lebih permanen. Perlakuan kimiawi yang memindahkan mikrofilamen dan mikrotubula dari sitoplasma meninggalkan jalinan filamen intermediet yang mempertahankan bentuk aslinya. Berbagai jenis filamen intermediet kemungkinan berfungsi sebagai kerangka keseluruhan sitoskeleton.

1.1 Adaptasi Seluler Adaptasi seluler merupakan kemampuan mengatur dirinya dengan cara merubah struktur dan fungsinya sebagai respons terhadap berbagai kondisi fisiologis maupun patologis. Terdapat lima tipe adaptasi (atrofi, hipertrofi, hyperplasia, metaplasia dan dysplasia) seluler yang akan dijelaskan sebagai berikut. 1.1.1 Atrofi Atrofi merupakan pengurangan ukuran yang disebabkan oleh mengecilnya ukuran sel atau mengecilnya/berkurangnya (kadang-kadang dan biasa disebut atrofi numerik) sel parenkim dalam organ tubuh (Syhrin, 2008). Atrofi dapat disebabkan oleh berbagai faktor tergantung pada jenis atrofi tersebut. Sebelum membahas mengenai penyebab terjadinya, maka harus diketahui terlebih dahulu jenis-jenis atrofi agar pembahsannya lebih spesifik. Secara umum, terdapat dua jenis atrofi, yaitu atrofi fisiologis dan atrofi patologis. Atrofi fisiologis merupakan atrofi yang bersifat normal atau alami. Beberapa organ tubuh dapat mengecil atau menghilang sama sekali selama masa perkembangan atau pertumbuhan, dan jika alat tubuh tersebut organ tubuh tersebut tidak menghilang ketika sudah mencapai usia tertentu, malah akan dianggap sebagai patologik ( Saleh, 1973). Contoh dari atrofi fisiologis ini yaitu proses penuaan (aging process) dimana glandula mammae mengecil setelah laktasi, penurunan fungsi/produktivitas ovarium dan uterus, kulit menjadi tipis dan keriput, tulang-tulang menipis dan ringan akaibat resorpsi. Penyebab proses atrofi ini bervariasi, diantaranya yaitu berkurangnya/hilangnya stimulus endokrin, involusi akibat menghilangnya rangsan-rangsang tumbuh(growth stimuli), berkurangnya rangsangan saraf, berkurangnya perbekalan darah, dan akibat sklerosis arteri. Penyebab-penyebab tersebut terjadi karena peoses normal penuaan (Saleh, 1973). Berbeda dengan atrofi fisiologis, atrofi patologis merupakan atrofi yang terjadi di luar proses normal/alami. Secara umum, atrofi patologis dan fisiologis terbagi menjadi lima jenis, yaitu atrofi senilis, atrofi local, atrofi inaktivas, atrofi desakan, dan atrofi endokrin. 1. Atrofi senilis

Atrofi senilis terjadi pada semua alat tubuh secara umum, karena atrofi senilis termasuk dalam atofi umum (general atrophy). Atropi senilis tidak sepenuhnya merupakan atropi patologis karena proses aging pun masuk ke dalam kelompok atrofi senilis padahal proses aging merupakan atropi fisiologis. Contoh atropi senilis yang merupakan proses patologik yaitu starvation (kelaparan). Starvation atrophy terjadi bila tubuh tidak mendapat makanan/nutrisi untuk waktu yang lama. Atropi ini dapat terjadi pada orang yang sengaja berpuasa dalam jangka waktu yang lama (tanpa berbuka puasa), orang yang memang tidak mendapat makanan sama sekali (karena terdampar di laut atau di padang pasir). Orang yang menderita gangguan pada saluran pencernaan misalnya karena penyempitan (striktura) esophagus. Pada penderita stiktura esophagus tersebut mungkin mendapatkan suplai makanan yang cukup, namun makanan tersebut tidak dapat mencapai lambung dan usus karena makanan akan di semprotkan keluar kembali. Karena itu, makanan tidak akan sampai ke jaringan-jaringan tubuh sehingga terjadilah emasiasi, inanisi, dan badan menjadi kurus kering. 2. Atrofi Lokal Atrofi local dapat terjadi akibat keadaan-keadaan tertentu. 3. Atropi inaktivitas Terjadi akibat inaktivitas organ tubuh atau jaringan. Misalnya inaktivitas otot-otot mengakibatkan otot-otot tersebut mengecil. Atropi otot yang paling nyata yaitu bila terjadi kelumpuhan otot akibat hilangnya persarafan seperti yang terjadi pada poliomyelitis. Atrofi inaktivitas disebut juga sebagi atrofi neurotrofik karena disebabkan olehhilangnya impuls trofik. Tulang-tulang pada orang yang karena suatu keadaan terpaksa harus berbaring lama mengalami atrofi inaktivitas. Akibatnya, tulang-tulang menjadi berlubang-lubang karena kehilangan kalsiumnya sehingga tidak dapat menunjang tubuh dengan baik. Sel-sel kelenjar akan rusak apabila saluran keluarnya tersumbat untuk waktu yang lama. Ini misalnya terjadi pada pankreas. Jika terjadi sumbatan (occlusion) pada saluran keluar pancreas, sel-sel asinus pancreas (eksokrin) menjadi atrofik. Namun, pulau-pulau Langerhans (endokrin) yang membentuk hormon dan disalurkan ke dalam darah tidak mengalami atrofi. 4. Atrofi desakan Atrofi ini terjadi akibat desakan yang terus-menerus atau desakan dalam waktu yang lama dan yang mengenai suatu alat tubuh atau

jaringan. Atrofi desakan fisiologik terjadi pada gusi akibat desakan gigi yang mau tumbuh dan dan yang mengenai gigi (pada nak-anak). Atroi desakan patologik misalnya terjadi pada sternum akibat aneurisma aorta. Pelebaran aorta di daerah substernal biasanya terjadi akibat sifilis. Karena desakan yang tinggi dan terus menerus mengakibatkan sternum menipis. Atrofi desakan ini pun dapat terjadi pada ginjal. Parenkim ginjal dapat menipis akibat desakan terus-menerus. Ginjal seluruhnya berubah menjadi kantung berisi air, yang biasanya terjadi akibat obstruksi ureter, yang biasanya disebabkan oleh batu. Atrofi dapat terjadi pada suatu alat tubuh kerena menerima desakan suatu tumor didekatnya yang makin lama makin membesar ( Saleh, 1973). 5. Atrofi endokrin Terjadi pada alat tubuh yang aktivitasnya bergantung pada rangsangan hoemon tertentu. Atrofi akan terjadi jika suplai hormon yang dibutuhkan oleh suatu organ tertentu berkurang atau terhenti sama sekali. Hal ini misalnya dapat terjadi pada penyakit Simmonds. Pada penyakit ini, hipofisis tidak aktif sehingga mrngakibatkan atrofi pada kelenjar gondok, adrenal, dan ovarium. Secara umum, atrofi dapat terjadi karena hal-hal/kondisi berikut. 1. Kurangnya suplai Oksigen pada klien/seseorang 2. Hilangnya stimulus/rangsangan saraf 3. Hilangnya stimulus/rangsangan endokrin 4. Kekurangan nutrisi 5. Disuse/inaktivitas (organ tidak sering digunakan, maka akan mengakibatkan pengecilan organ tersebut). Mekanisme atropi secara singkat adalah sebagai berikut. Secara umum, seluruh perubahan dasar seluler (dalam hal ini merupakan perubahan ke arah atropi) memiliki proses yang sama, yaitu menunjukkan proses kemunduran ukuran sel menjadi lebih kecil. Namun, sel tersebut masih memungkinkan untuk tetap bertahan hidup. Walupun sel yang atropi mengalami kemunduran fungsi, sel tersebut tidak mati. Atropi menunjukkan pengurangan komponen-komponen stutural sel. Sel yang mengalami atropi hanya memiliki mitokondria dengan jumlah yang sedikit, begitu pula dengan komponen yang lain seperti miofilamen dan

reticulum endoplasma. Akan tetapi ada peningkatan jumlah vakuola autofagi yang dapat memakan/merusak sel itu sendiri. Contoh artrofi pada Testis, Otak, dan Otot Bisep Apa yang terjadi ketika testis mengalami atrofi??? Testis mengalami atrofi karena berbagai hal. Kebanyakan, atrofi testis diawali dengan orkitis yaitu peradangan pada testis yang desebabkan oleh infeksi (sumber:http://www.klikdokter.com/tanyadokter/read/2010/07/26/9755/testi s-mengecil). Biasanya, infeksi tersebut ditandai dengan gejala pembengkakan testis. Pada orkitis dapat terjadi kerusakan pembuluh darah pada korda spermatic (saluran yang berisi pembuluh darah, persarafan, kelenjar getah bening, dan saluran sperma) yang dapat menyebabkan atrofi testis. Akibatnya, testis tersebut mengalami kegagalan fungsi untuk memproduksi sperma. Sehingga akan terjadi gangguan dalam menghasilkan keturunan. Apa yang terjadi pada atrofi otak (dalam hal ini otak besar yang mengalami Alzheimer)? Alzheimer merupakan jenis kepikunan berbahaya yang dapat melumpuhkan pikiran dan kecerdasan seseorang. Kejadian ini ditandai dengan adanya kemunduran fungsi intelektual dan emosional secara progresif dan perlahan sehingga mengganggu kegiatan social sehari-hari (Quartilosia, 2010). Menurut dr. Samino, SpS (K), Ketua Umum Asosiasi Alzheimer Indonesia (AAzI), Alzheimer timbul akibat terjadinya proses degenerasi sel-sel neuron otak di area temporo-parietal dan frontalis. Demensi Alzheimer adalah penyakit pembunuh otak karena mematikan fungsi sel-sel otak, ujarnya dalam edukasi tentang Alzheimer. Secara anatomi, serebrum mengalami atrofi., yaitu girus serebrum menjadi lebih kecil/menciut sedangkan sulkusnya melebar. Perhatikan gambar serebrum di bawah ini.
Sumber: http://library.med.utah.edu/WebPath/CINJHTML/CINJ003.htm

Kejanggalan yang biasanya dirasakan oleh penderita sendiri yaitu mereka akan sulit mengingat nama atau lupa meletakkan suatu barang. Mereka juga sering kali menutup-nutupi hal itu dan meyakinkan diri sendiri bahwa itu adalah hal yang biasa pada usia mereka (Quartilosia, 2010). Kejanggalan tersebut biasanya akan dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya yang mulai khawatir terhadap penurunan daya ingat si penderita. Ini merupakan akibat atrofi otak yang sangat mematikan, karena sel-sel saraf pada otaknya akan mati.

Apa yang terjadi pada atrofi otot Bisep? Perhatikan gambar di bawah ini!
Sumber: http://apps.uwhealth.org

Gambar di samping menunjukkan atrofi pada otot bisep, yaitu otot pada lengan atas yang sering digunakan untuk mengankat beban atau apa pun itu . lihatlah perbedaan antara gambar yang kanan dan yang kiri! Gambar lengan kiri menunjukkan adanya atropi fisiologis pada otot bisepnya. Telihat dengan jelas bahwa lengan atasnya mengalami pengecilan. Pada umumnya, kondisi ini disebabkan oleh inaktivitas/disuse otot lengan tersebut. Lengan tersebut jarang digunakan untuk mengankat beban, atau jarang digunakan untuk bekerja sehingga mengalami penyusutan. Atrofi ini disebutatrofi inaktivitas patologik. Selain dikarenakan kurangnya penggunaan otot tersebut, ada penyebab lain yang dapat memicu terjadinya atrofi otot, yaitu karena kondisi medis yang membatasi gerakan klien, penurunan tingkat aktivitas, orang yang terbaring di tempat tidur dalam jangka waktu yang lama, dan dapat juga terjadi pada astronot yang jauh dari gravitasi bumi (obat-penyakit.com, 2010). Seseorang yang mengalami atrofi otot akan mengalami penurunan kekuatan bahkan yang lebih fatal yaitu dapat mengakibatkan kelumpuhan. Namun, ada cara-cara mengatasinya diantaranya yaitu, dilakukannya program olah raga rutin dengan pengontrolan terapis, perawat, atau dokter; latihan dalam air untuk mengurangi beban kerja otot; dan mengonsumsi makanan bergizi seimbang (obat-penyakit.com, 2010).

1.1.2 Hiperplasia Hiperplasia merupakan suatu kondisi membesarnya alat tubuh/organ tubuh karena pembentukan atau tumbuhnya sel-sel baru (Saleh, 1973). Sama halnya dengan atrofi, terdapat dua jenis hyperplasia, yaitu hyperplasia fisiologis dan patologis. Contoh yang sering kita temukan pada kasus hyperplasia fisiologis yaitu bertambah besarnya payudara wanita ketika memasuki masa pubertas. Sedangkan hyperplasia patologis sering kita temukan pada serviks uterus yang dapat mengakibatkan kanker serviks. Sel-sel pada serviks tersebut mengalami penambahan jumlah. Biasanya hyperplasia ini diakibatkan oleh sekresi hormonal yang berlebihan atau faktor pemicu pertumbuhan yang besar.

1.1.3 Hipertrofi Hipertrofi merupakan suatu keadaan bertambahnya isi/volume suatu jaringan atau alat tubuh. Bertambah besarnya alat tubuh terjadi oleh karena masing-masing sel yang membentuk alat tubuh tersebut membesar dan bukan oleh kerena bertamabahnya jumlah unsure atau sel baru ( Saleh, 1973). Hipertrofi dapat terjadi pada semua jaringan atau alat tubuh tempat sel-selnya tidak dapat memperbanyak diri. Hipertrofi misalnya terjadi pada otot-otot polos. Sel-sel otot tidak dapat membentuk sel-sel baru. Suatu pengecualian adalah uterus gravidus. Hipertrofi otot terjadi karena sitoplasmanya bertambah. Selain pada otot, hipertrofi dapat terjadi pula pada jantung, ginjal, kelenjar endokrin (tiroid dan hipofisis), dan otot polos pada alat-alat dalam yang berlumen/berongga seperti usus, ereter, dsb. Hipertrifi yang jelas dapat kita lihat pada otot-otot rangka, seperti otot tungkai pengemudi becak, otot bisep tukang pandai besi, atau pembesaran hampir semua bagian otot pada binaragawan. Seperti yang sudah dijelsakan bahwa jantung pun akan mengalami hipertrofi. Hipertrofi yang sering kita temukan yaitu pembesaran ventrikel kiri karena bekerja terus-menerus memompa dan melawan tahanan yang lebih besar agar darah dapat dipompa keseluruh tubuh pada stenosis aorta. Begitupun dengan ginjal. Ginjal dapat menjadi hipertrofik jika ginjal lainnya sejak semula tetap kecil karena aplasi* atau hipoplasi*, dan pembesarannya disebut hipertrofi kompensatorik. Kata kompensatorik sebenarnya kurang tepat, karena walaupun jumlah nefron tidak bertambah namun ada pertambahan epitel tubulus dan kapiler glomerulus. Sehingga sebenarnya pembesaran ginjal ini disebabkan oleh hipertrofi dan hiperplasi (Saleh, 1973). Jawaban pertanyaan h: Gambar menunjukkan atrofi pada ventrikel sinistra. Atrofi pada ventrikel sinistra tersebut disebabkan oleh kerja yang berlebihan dan secara terus menerus untuk memompa darah ke seluruh tubuh, penyempitan katup stenosis, dan kelainan genetik yang diturunkan. Atrofi ini dapat bersifat fisiologis maupun patologis. Pada atrofi fisiologisnya merupakan atrofi yang normal, yaitu pembesarnnya tidak melebihi batas normal pemesaran. Namun, pada sifat patologisnya akan terjadi pembesaran yang melebihi batas pembesaran normal. Biasanya hal ini sering terjadi pada seseorang yang mengalami hipertensi, penderita hemokromositoma (suatu tumor yang menghasilkan adrenalin) dan pada penderita neurofibromatosis (Forum UM, 2010). Jawaban pertanyaan i: Jantung menebal dan lebih kaku dari normal dan lebih tahan terisi oleh darah dari paru-paru. Sebagai akibatnya terjadi

tekanan balik ke dalam vena-vena paru, sehingga penderia mengalami sesak nafas yang sifatnya menahun. Penebalan dinding ventrikel juga menyebabkan terhalangnya aliran darah sehingga mencegah pengisian jantung yang sempurna. Jawaban pertanyaan j: Seperti yang telah dijelaskan di atas, hyperplasia dapat bersifat fisiologis dan dapat pula bersifat patologis tergantung organ yang dikenai. Hyperplasia fisiologis biasa terjadi pada dinding endometrium yang menebal karena stimulus hormonal ketika menstruasi ataupun mengandung janin. Namun, hyperplasia tersebut dapat bersifat patologis jika mengenai organ yang salah target, misalnya pada kelenjar prostat. Kelenjar prostat yang mengalami hyperplasia akan bersifat merugikan. Pada umumnya, hyperplasia kelenjar prostat disebabkan oleh stimulus/respon hormonal yang berlebihan. 1.1.4 Metaplasia dan Displasia Metaplasia merupakan perubahan suatu jenis jaringan dewasa (yang telah berdiferensiasi) menjadi jaringan lain yang juga dewasa. Perubahan ini bisa terjadi pada jaringan epithelial atau mesenchymal (Saleh, 1973). Displasia merupakan metaplasia yang parah pada sel dewasa. Hal ini tampak dalam bentuk, besar, dan orientasinya (Saleh, 1973). 1.2 Jejas Sel Jejas sel merupakan keadaan dimana sel beradaptasi secara berlebih atau sebaliknya, sel tidak memungkinkan untuk beradaptasi secara normal. Di bawah ini merupakan penyebab-penyebab dari jejas sel. 1. Kekurangan oksigen (hipoksia) 2. Kekurangan nutrisi 3. Infeksi sel 4. Respons imun yang abnormal 5. Faktor fisik (suhu, temperature, radiasi, trauma, dan gejala kelistrikan) dan kimia (bahan-bahan kimia beracun) Berdasarkan tingkat kerusakannya, jejas sel dibedakan menjadi dua kategori utama, yaitu jejas reversible (degenerasi sel) dan jejas irreversible (kematian sel). 1. Jejas Reversibel ( Degenerasi sel: mola hidatidosa)

Contoh umum yang sering terjadi pada kategori ini yaitu degenerasi hidropik. Degenerasi ini menunjukkan adanya edema intraseluler, yaitu adanya peningkatan kandungan air pada rongga-rongga sel selain peningkatan kandungan air pada mitokondria dan reticulum endoplasma. Pada mola hedatidosa telihat banyak sekaligross (gerombolan) mole yang berisi cairan. Mekanisme yang mendasari terjadinya generasi ini yaitu kekurangan oksigen, karena adanya toksik, dan karena pengaruh osmotic. Berikut ini merupakan gambar makroskopik dan mikroskopik mola hidatidosa.
Gambar mikroskopik mola hidatidosa Gambar makroskopik mola hidatidosa

Pada kondisi mola hidatidosa, janin biasanya meninggal. Akan tetapi, villus-villus (gerombolan mola) yang membesar dan edematus itu hidup dan tumbuh terus, gambaran yang diberikan adalah sebagai segugus buah anggur (Wiknjosastro, Hanifa, dkk, 2002 : 339). 2. Jejas Irreversible Terdapat dua jenis jejas irreversible (kematian sel) yaitu apotosis dan nekrosis. Apoptosis merupakan pengendalian terhadap eliminasi-aliminasi sel yang mati. sedangkan nekrosis merupakan kematian sel/jaringan pada tubuh yang hidup di luar dari kendali. Sel yang mati pada nekrosis akan membesar dan kemudian hancur dan lisis pada suatu daerah yang merupakan respon terhadap inflamasi (Lumongga, 2008). Jadi perbedaanya terletak pada terkendali atau tidaknya kematian sel tersebut. Nekrosis Nekrisis terbagi menjadi dua, yaitu nekrosis koagulatif dan nekrosis liquefactive. Pada nekrosis koagulatif, protoplasmanya tampak seperti membeku akibat koagulasi protein. Terjadi pada nekrosis ishemik akibat putusnya perbekalan darah. Daerah yang terkena menjadi padat, pucat dikelilingi oleg daerah yang hemoragik. Nekrosis koagulatif dapat terjadi juga karena toksin bakteri, misalnya pada thypus abdominalis, pada dhypteria, pneumonia, dan infeksi keras lainnya. Nekrosis liquefactive terjadi dalam waktu yang lebih cepat dibandingkan dengan nekrosis koagulatif, akibat pengaruh enzim-enzim yang bersifat litik. Sering terjadi pada jaringan otak. Nekrosis mencair ini juga dapat terjadi pada jaringan yang mengalami infeksi bakteriologik yang membentuk nanah.

DAFTAR PUSTAKA: Cellular injury. http://library.med.utah.edu/WebPath/CINJHTML/CINJIDX.html. (19 Februari 2011). Complete Hydatidiform Mole.http://www.flickr.com/photos/lunarcaustic/2450418886/. (22 Februari 2011). Complete Hydatidiform Mole.http://www.flickr.com/photos/lunarcaustic/2448406497/in/photostream /. (22 Februari 2011). Complete Hydatidiform Mole.http://www.flickr.com/photos/lunarcaustic/2448406013/. (22 Februari 2011). Forum UM. Hipertrofi Kardiomiopati . http://forum.um.ac.id/index.php?topic=8468.0. (22 Februari 2011). Lumongga. 2008. Apoptosis. Medan: Departemen Patologi Anatomi USU Pap Smear-High Power. http://pathcuric1.swmed.edu/PathDemo/Start.htm. (22Februari 2011). Quartilosia. Alzheimer Penyakit Pikun Mematikan.http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2010/11/02/alzheimer -penyakit-pikun-mematikan/. (02 November 2010). Saleh, S. 1973. Patologi. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Syahrin, H. 2008. Cellular Adaptations, Injury and Death. http://staff.ui.ac.id.(19 Februari 2011)

Jejas dan Kematian Sel

5 Votes

Atrofi, hipertrofi, hyperplasia, metaplasia Dalam batas waktu tertentu, cedera akan menjadi reversible (dapat kembali normal) dan irreversible (sel akan mati apabila terjadi stress berat) Dua Pola Dasar Kematian Sel : Nekrosis (Khususnya nekrosis koagulatif) terjadi setelah suplay darah hilang atau terpajan toksin, ditandai dengan pembengkakan sel, denaturasi protein dan organelle. Dapat menyebabkan disfungsi jaringan Apoptosis (kematian sel yang terprogram) . Keadaan tersebut terjadi secara fisiologis, saat sel yang tidak dikehendaki dieliminasi (example. Embryogenesis), dan dalam berbagai kondisi patologis (example : kerusakan mutasi yang tidak dapat diperbaiki).

Stres dan jejas tidak hanya berpengaruh terhadap gambaran morfologik, tetapi juga pada status fungsional sel dan jaringan.

Penyebab Jejas Sel Deprivasi Oksigen Hipokisa atau defisiensi oksigen, mengganggu respirasi oksidatif aerobic merupakan penyebab jejas sel yang paling sering dan terpenting, serta menyebabkan kematian. Iskemia merupakan penyebab tersering dari hipoksia. Selain itu, disebabkan oleh oksigenasi darah yang tidak adekuat (seperti pada pneumonia), berkurangnya kemampuan pengangkutan oksigen darah (seperti pada anemia atau keracunan CO Sehingga menghalau pengikatan oksigen) Bahan Kimia Sebenarnya, semua bahan kimia dapat menyebabkan jejas , bahkan zat yang tak berbahaya seperti glukosa atau garam dapat menyebabkan jejas atau kematian sel apabila konsentrasinya cukup banyak). keseimbangan osmotiknya dapat cedera atau mematikan sel. Agen Infeksius Berkisar mulai dari virus submikroskpik sampai cacing pita yang panjangnya beberapa meter, di antara rentang tersebut terdapat bakteri, riketsia, fungi, dan protozoa.

Defect (cacat / kegagalan) Genetik Dapat menyebabkan perubahan patologis yang menyolok (e.g. : malformasi kongential pada sindrom down) atau yang tidak menyolok (seperti : Substitusi asam amino tunggal pada hb S anemia sel sabit).

Malnutrition

Ketidakseimbangan nutrisi (theres over less) Reaksi Immunologi Secara disengaja atau tidak disengaja, reaksi imun dapat menyebabkan jejas sel dan jaringan. Contohnya pada Anafilaksis terhadap protein asing atau suatu obat. Agen Fisik Trauma temperature yang ekstrem, radiasi, esyok elektrik, dan perubahan mendadak pada tekanan atmosfer. Penuaan Penyembuhan jaringan tidak selalu menghasilkan perbaikan struktur atau fungsi yang sempurna. Trauma berulang juga dapat menyebabkan degenerasi jaringan, meskipun tanpa kematian sel sama sekali. Proses penuaan sel intrinsic menimbulkan perubahan kemampuan perbaikan dan replikasi sel dan jaringan.

Pendahuluan

Patologi adalah ilmu atau bidang studi tentang penyakit. Patofisiologi adalah ilmu yang mempelajari fungsi yang berubah atau terganggu, misalnya perubahan-perubahan fisiologis yang ditimbulkan penyakit pada makhluk hidup. Empat aspek dalam proses penyakit yang membentuk inti patologi adalah: 1. Penyebab penyakit (etiologi) 2. Mekanisme terjadinya penyakit (patogenesis) 3. Perubahan struktural yang ditimbulkan oleh penyakit di dalam sel 4. jaringan (manifestasi klinis) Sel normal memerlukan keseimbangan antara kebutuhan fisiologik dan keterbatasanketerbatasan strukur sel dan kemampuan metabolik, hasilnya adalah hasil yang terus seimbang atau homeostatis. Keadaan fungsional sel dapat berubah ketika bereaksi terhadap stress yang ringan untuk mempertahankan keadaan yang seimbang. Konsep keadaan normal bervariasi: 1. Setiap orang berbeda satu dengan yang lain karena perbedaan susunan genetik 2. Setiap orang memiliki perbedaan dalam pengalaman hidup dan interaksinya dengan lingkungan 3. Pada tiap individu terdapat perbedaan parameter fisiologi karena adanya pengendalian dalam fungsi mekanisme.
Definisi Nekrosis Nekrosis merupakan kematian sel sebagai akibat dari adanya kerusakan sel akut atau trauma (misalnya: kekurangan oksigen, perubahan suhu yang ekstrem, dan cedera mekanis), di mana kematian sel tersebut terjadi secara tidak terkontrol yang dapat menyebabkan rusaknya sel,

adanya respon peradangan dan sangat berpotensi menyebabkan masalah kesehatan yang serius. Stimulus yang terlalu berat dan berlangsung lama serta melebihi kapasitas adaptif sel akan menyebabkan kematian sel di mana sel tidak mampu lagi mengompensasi tuntutan perubahan. Sekelompok sel yang mengalami kematian dapat dikenali dengan adanya enzim-enzim lisis yang melarutkan berbagai unsur sel serta timbulnya peradangan. Leukosit akan membantu mencerna sel-sel yang mati dan selanjutnya mulai terjadi perubahan-perubahan secara morfologis. Nekrosis biasanya disebabkan karena stimulus yang bersifat patologis. Selain karena stimulus patologis, kematian sel juga dapat terjadi melalui mekanisme kematian sel yang sudah terprogram di mana setelah mencapai masa hidup tertentu maka sel akan mati. Mekanisme ini disebut apoptosis, sel akan menghancurkan dirinya sendiri (bunuh diri/suicide), tetapi apoptosis dapat juga dipicu oleh keadaan iskemia. Macam Macam Nekrosis 1. Nekrosis koagulatif 2. Nekrosis likuefaktif 3. Nekrosis kaseosa 4. Nekrosis lemak 5. Nekrosis fibrinoid 6. Nekrosis gangrenosa Definisi Nekrosis Liquefaktif Nekrosis liquefaktif merupakan salah satu tipe nekrosis yang termasuk bakteri fokal atau infeksi jamur. Sebagai akibat autolisis atau heterolisis terutama khas pada infeksi fokal kuman, karena kuman memiliki rangsangan kuat pengumpulan sel darah putih. Salah satu contoh nekrosis liquefaktif ditunjukkan dengan kematian sel hipoksia pada sistem saraf pusat. Apapun patogenesisnya, liquefaktif pada hakikatnya mencerna bangkai kematian sel dan sering meninggalkan cacat jaringan yang diisi leukosit imidran dan menimbulkan abses. Materialnya berwarna kuning krem. Biasanya terdapat pada abses pada otak. Mekanisme Nekrosis Liquefaktif. Dua proses penting yang menunjukkan perubahan nekrosis adalah pencernaan sel oleh enzim dan denaturasi protein. Proses nekrosis: Pencernaan enzym katalitik dari lisosom yang mati (autolisis) atau dari lisosom leukosit imigran (heterolisis) menyebabkan terbentuknya nekrosis liquefaktif dilanjutkan dengan terjadinya denaturasi protein yang menyebabkan nekrosis koagulatif. Perubahan morfologis dari nekrosis liquefaktif sampai nekrosis koagulatif memerlukan waktu. Ciri- Ciri/ Tanda-Tanda Nekrosis Liquefaktif.

Degenerasi menyebabkan perubahan yang khas pada nukleus khususnya pada sel yang mengalami neurotik. Perubahan-perubahan biasanya ditandai dengan perubahan mikroskopis, perubahan makroskopis dan perubahan kimia klinik. Perubahan mikroskopis pada sel yang mengalami neurotik liquefaktif terjadi pada sitoplasma dan organel organel sel lainnya.Tanda yang terlihat pada inti sel (nukleus)saat mengalami nekrosis antara lain:

Piknosis (pyknosis)

Inti sel menyusut hingga mengkerut, menunjukkan penggumpalan, densitas kromatinnya meningkat, memiliki batas yang tidak teratur, dan berwarna gelap.

Karioreksis (karyorrhexis)

Membran nukleus robek, inti sel hancur sehingga terjadi pemisahan kromatin dan membentuk fragmen-fragmen dan menyebabkan materi kromatin tersebar dalam sel.

Kariolisis (karyolisis) Inti sel tercerna sehingga tidak dapat diwarnai lagi dan benar-benar hilang. Perubahan makroskopis pada sel yang mengalami neurotik terlihat perubahan morfologis sel yang mati tergantung dari aktivitas enzim lisis pada jaringan yang nekrotik. Jika aktivitas enzim lisis terhambat maka jaringan nekrotik akan mempertahankan bentuknya dan jaringannya akan mempertahankan ciri arsitekturnya selama beberapa waktu. Jaringan nekrotik juga dapat mencair sedikit demi sedikit akibat kerja enzim dan proses ini disebut nekrosis liquefaktif. Nekrosis liquefaktif khususnya terjadi pada jaringan otak, jaringan otak yang nekrotik mencair meninggalkan rongga yang berisi cairan. Kematian sel menyebabkan kekacauan struktur yang parah dan akhirnya organa sitoplasma hilang karena dicerna oleh enzym litik intraseluler (autolysis). Tahap infeksi akut awal terjadi denaturasi protein yang mempengaruhi reaksi leukosit. Kemudian jaringan nekrosis diserap oleh jaringan granular menyebabkan terbentuknya bekas luka. Terkadang luka yang terbentuk dapat sembuh sempurna, misalnya pada hati atau pada orang yang masih muda. Perubahan-perubahan pada jaringan neurotik akan menyebabkan :

1. Hilangnya fungsi darah yang mati. 2. Dapat menjadi fokus infeksi dan merupakan media pertumbuhan yang baik untuk bakteri tertentu. 3. Menimbulkan perubahan sistemik seperti demam dan peningkatan leukosit. 4. Peningkatan kadar enzim-enzim tertentu dalam darah akibat kebocoran sel-sel yang mati. Kesimpulan Nekrosis lequefaktif merupakan salah satu tipe nekrosis yang termasuk bakteri fokal atau infeksi jamur. Sebagai akibat autolisis atau heterolisis terutama khas pada infeksi fokal kuman, karena kuman memiliki rangsangan kuat pengumpulan sel darah putih. Dua proses penting yang menunjukkan perubahan nekrosis adalah pencernaan sel oleh enzim dan denaturasi protein. Nekrosis dimulai dari pencernaan enzym katalitik dari lisosom yang mati (autolisis) atau dari lisosom leukosit imigran (heterolisis) menyebabkan terbentuknya nekrosis liquefaktif dilanjutkan dengan terjadinya denaturasi protein yang menyebabkan nekrosis koagulatif. Perubahan morfologis dari nekrosis liquefaktif sampai nekrosis koagulatif memerlukan waktu.

MEKANISME JEJAS SEL Respons selular terhadap stimulus yang berbahaya bergantung pada tipe cedera, durasi, dan keparahannya.

Jadi, toksin berdosis rendah atau iskemia berdurasi singkat dapat menimbulkan jejas sel yang reversible.Begitupun sebaliknya 1. 2. 3. 4. Akibat suatu stimulus yang berbahaya bergantung pada tipe, status, kemampuan adaptasi, dan susunan genetic sel yang mengalami jejas. Empat system intrasel yang paling rentan terkena adalah : Keutuhan membrane sel yang kritis terhadap homeostatis osmotic dan ionic selular. Pembentukan adenosine trifosfat (ATP) Sintesis protein Keutuhan perlengkapan genetik. Komponen struktural dan biokimiawi suatu sel terhubung secara utuh tanpa memandang lokus awal jejas, efek mutipel sekunder yang terjadi sangat cepat. Fungsi sel hilang jauh sebelum terjadi kematian sel dan perubahan morfologi jejas sel.

Iskemia merupakan kurangnya suplay darah pada pembuluh darah san jaringan tertentu. Efek pertama hipoksia adalah pada respirasi aerobic sel, yaitu fosforelasi oksidatif oleh mitokondria. Iskemia mencederai jaringan lebih cepat dibandingkan hipoksia.

JEJAS ISKEMIK DAN HIPOKSIK

aktivitas pompa natrium yang diatur ATP membrane plasma menurun, selanjutnya terjadi akumulasi natrium intrasel dan difusi kalium keliar sel. Glikolisis anaerob meningkat karena ATP berkurang dan disertai peningkatan adenosine monofosfat (AMP) yang merangsang enzim fosfofruktokinase. Peningkatan glikolisis juga menyebabkan akumulasi asam laktat dan fosfat anorganik akibat hidrolisis ester fosfat, jadi menurunkan pH intrasel. Penurunan kadar pH dan ATP menyebabkan ribosom lepas dari RE kasar dan polisom untuk berdisosiasi menjadi monosom, dengan akibatnya terjadi penurunan sintesis protein.

Jika hipoksia tidak dihilangkan, perburukan fungsi mitokondria dan peningkatan permeabilitas membrane selanjutnya menyebabkan kerusakan morfologik. Apabila sitoskeleton rusak, gambaran ultrastruktur seperti mikrovilii hilang dan permukaan sel akan menggelembung. Mitokondria, RE, dan semua sel tampak bengkak karena pengaturan osmotic hilang. Jika oksigen diperbaiki, semua gangguan yang telah disebut akan reversible ; namun jika iskemia tetap terjadi, jejas yang irreversible mengikuti.

JEJAS SEL YANG DIINDUKSI RADIKAL BEBAS Radikal bebas: atom / molekul yang memiliki satu elektron bebas pada orbit luarnya Ciri radikal bebas: bereaksi dengan segala unsur kimia organik/anorganik hasil reaksinya berupa radikal bebas baru membentuk rantai reaksi reaktifitasnya hilang sendiri atau dihentikan secara enzimatik

Tiga spesies radikal bebas yang penting: o Superoksid (O2 ) o Hidrogen peroksid (H2O2) o Hidroksil radikal (OH )

Efek radikal bebas terhadap sel: o Peroksidasi membran lipid (terutama oleh OH ) o Kerusakan protein: cross linking antar asam amino, peningkatan aktifitas enzim protease o Kerusakan DNA: pembentukan strand tunggal yang berakhir dengan kematian sel atau malah transformasi ganas Menetralkan Radikal Bebas : Kecepatan kerusakan spontan meningkat bermakna oleh kerja superoksida dismutase (SOD) yang ditemukan pada banyak tipe sel Glutation (GSH) peroksidase juga melindungi sel agar tidak mengalami jejas dengan mengatalisis perusakan radikal bebas. Katalase terdapat dalam peroksisom, langsung mendegradasi hydrogen peroksida. Antioksidan endogen atau eksogen (misalnya vitamin E,A, dan C, serta Beta-karoten).

JEJAS KIMIAWI Yang larut dalam air Efeknya langsung (berikatan dengan molekul sel atau komponen organela) Contoh: HgCl, sianida, antibiotik, dan kemoterapi

Merkuri berikatan dengan gugus SH protein membran permeabilitas naik dan transport yang enegy-dependant terhambat Sianida merusak enzim mitokondrial Yang larut dalam lemak Efeknya tak langsung (dimetabolisir dulu menjadi metabolit yang reaktif dan toksik)

Contoh: CCl4

ADAPTASI SELULAR TERHADAP JEJAS Atrofi Pengerutan ukuran sel dengan hilangnya substansi sel disebut atrofi. Walaupun dapat menurun fungsinya, sel atrofi tidak mati. Penyebab atrofi : Berkurangnya beban kerja (mis, imbolisasi anggota gerak yang memungkinkan proses penyembuhan fraktur). Hilangnya persarafan, berkurangnya suplay darah nutrisi yang tidak adekuat Hilangnya rangsangan endokrin, dan

Penuaan.

Walaupun beberapa rangsangan ini bersifat fisiologis (mis, hilangnya rangsangan hormone pada menopause) dan patologi lain (misal, denervasi), perubahan selular yang mendasar bersifat identik. Perubahan itu menggambarkan kemunduran sel menjadi berukuran lebih kecil dan masih memungkinkan bertahan hidup.

Hipertrofi Penambahan ukuran sel dan menyebabkan penambahan ukuran organ. Hiperplasia ditandai dengan penambahan jumlah sel

Atau dengan kata lain, pada hipertrofi murni, tidak ada sel baru, hanya sel yang menjadi lebih besar. Pembesarannya akibat peningkatan sintesis organela dan protein structural. Hipertrofi dapat fisiologik atau patologik dan disebabkan juga oleh peningkatan kebutuhan fungsional atau rangsangan hormonal spesifik. Hipertrofi dan hyperplasia dapat terjadi bersamaan dan keduanya mengakibatkan pembesaran

organ (hipertrofik). Jadi, hipertrofi fisiologik pada uterus selama kehamilan terjadi sebagai akibat rangsangan estrogen dari hipertrofi otot polos dan hyperplasia otot polos.

Hiperplasia Merupakan peningkatan jumlah sel dalam organ atau jaringan. Hipertrofi dan hyperplasia terkait erat dan seringkali terjadi secara bersamaan, sehingga keduanya berperan terhadap penambahan ukuran organ secara menyeluruh (misalnya pada uterus). Hiperplasia dapat fisiologik atau patologik

Hiperplasia fisiologik dibagi:


Hyperplasia hormonal, ditunjukkan dengan poliferasi epitel kelenjar payudara perempuan saat pubertas dan selama kehamilan. Hiperplasia kompensatoris, yaitu hyperplasia yang terjadi saat sebagian jaringan dibuang atau sakit

Sebagian besar bentuk hyperplasia patologi adalah contoh stimulasi factor pertumbuhan atau hormonal yang berlebih.

Metaplasia Metaplasia adalah perubahan reversible; pada perubahan tersebut satu jenis sel dewasa digantikan oleh jenis sel dewasa lain.

JEJAS REVERSIBEL Perubahan ultrastruktur jejas sel reversible meliputi : 1. Perubahan membrane plasma seperti bula; penumpulan atau distorsi mikrovilli; dan longgarnya perlekatan intrasel. 2. Perubahan mitokondrial, seperti pembengkakan dan munculnya densitas amorf kaya fosfolipid. 3. 4. dilatasi RE dengan kerusakan ribosom dan disosiasi polisom, dan perubahan nuclear, dengan disagregasi unsure granular dan fibrilar.

Dua pola perubahan morfologik yang berkaitan dengna jejas reversible dapat dikenali dengan mikroskop cahaya : pembengkakan sel dan degenerasi lemak (perlemakan). Pembengkakan sel adalah manifestasi yang pertama terjadi dari hampir semua bentuk jejas sel; muncul setiap sel tidak mampu mempertahankan homeostasis ionic dan cairan. Pola jejas nonletal, ireversibel hidropik atau degenerasi vacuolar. Pembengkakan Sel Bersifat Reversibel tersebut kadang-kadang disebut perubahan

Perlemakan, terjadi pada jejas hipoksisk dan berbagai bentuk jejas toksik atau metabolic, bermanifestasi dengan munculnya vakuola lipid dalam sitoplasma.

JEJAS SEL IREVERSIBLE NEKROSIS Nekrosis Koagulatif : pada keadaan digesti enzimatik yang dominan, hasilnya adalah nekrosis liquefaktif ,pada keadaan khusus, dapat terjadi nekrosis kaseosa atau nekrosis lemak. Nekrosis Koagulatif Menunjukkan pemeliharaan kerangka structural dasar asal atau jaringan terkoagulasi selama jangka waktu beberapa hari. Outline sel nekrosis dipertahankan sementara Terjadi karena enzim lisosom juga ikut rusak karakteristik untuk semua nekrosis karena hipoksia, kecuali pada otak Nekrosis Liquefaktif Khas untuk infeksi bacterial fokal atau kadang fungal, karena memberikan rangsang yang sangat kuat untuk akumulasi sel darah putih. Untuk alas an yang tidak jelas, kematian sel hipoksik sel dalam system saraf pusat juga menghasilkan nekrosis liquefaktif. Apapun patogenesisnya, liquefaksi (pencairan) sepenuhnya merencana sel mati. Walaupun nekrosis gangrenosa bukan merupakan pola jejas kematian sel, istilahnya masih sering digunakan dalam praktik pembedahan. Istilah tersebut menunjukkan nekrosis koagulativa iskemik (seringkali ekstremitas); saat terjadi infeksi yang menumpangi dengan komponen liquefaksi, lesi disebut gangrene basah. Terjadi karena autolisis dan heterolisis Karakteristik pada infeksi bakteri (nanah) dan nekrosis hipoksik pada otak Nekrosis gangrenosa: nekrosis koagulatif yang terinfeksi dan berubah menjadi nekrosis liquefaktif Nekrosis Kaseosa adalah bentuk tersendiri nekrosis yang paling sering ditemukan pada focus infeksi tuberculosis. Istilah kaseosa berasal dari gambaran makroskopik putih, seperti keju di daerah nekrotik sentral. Tidak seperti nekrosis koagulatif, arsitektur jaringan seluruhnya terobliterasi (tertutup). Bentuk khusus nekrosis koagulatif, pada tbc. Makroskopik mirip keju Makroskopik : massa, amorf, granuler, diselubungi sel radang. Nekrosis Lemak Merupakan istilah lain yang telah diterima dengan baik, yang sebenarnya tidak menunjukkan pola spesifik nekrosis. Nekrosis lemak, terjadi pada kegawatdaruratan abdomen yang membahayakan dan dikenal sebagaipancreatitis akut. Destruksi lemak oleh enzim lipase pankreas Asam lemak yang terbentuk akan berikatan dengan kalsium Mikroskopik: area nekrosis, timbunan kalsium (kebiruan), dan inflamasi di sekitarnya

APOPTOSIS Apoptosis merupakan cara kematian sel yang penting dan tersendiri, yang seharusnya dibedakan dengan nekrosis, meskipun beberapa gambaran mekanistik sama. Apoptosis adalah jalur bunuh diri sel bukan pembunuhan sel yang terjadi pada kematian sel nekrotik Terjadi pada keadaan fisiologis dan patologis

Programmed cell death pada embriogenesis, involusi organ yang hormon dependent, kematian sel pada tumor, dll) Morfologi: Sel mengkerut Kondesasi kromatin Pembentukan gelembung dan apoptotic bodies Fagositosis oleh sel di sekitarnya

Mekanisme Apoptosis 1. Signaling. Apoptosis dapat dipicu dengan berbagai sinyal yang berkisar dari kejadian terprogram intrinsic (misalnya pada perkembangan), kekurangan factor tumbuh, interaksi ligan-reseptor spesifik, pelepasan granzim dari sel T sitotoksik, atau agen jejas tertentu (misalnya radiasi). 2. Kontrol dan integrasi. Control dan intergrasi dilengkapi oleh protein spesifik yang menghubungkan sinyal kematian asli dengan program eksekusi akhir. 3. Eksekusi. Jalur akhir apoptosis ini ditandai ditandai dengan konstelasi kejadian biokimiawi khas yang dihasilkan dari sintesis dan/aktivasi sejumlah enzim katabolic sistolik. KESIMPULAN Jejas sel mendasari setiap perubahan patologi Bisa reversibel atau ireversibel (berakhir dengan kematian sel) Morfologi jejas seluler karakteristik

Mekanisme jejas sel harus selalu diingat dalam mempelajari kuliah-kuliah BMD selanjutnya

JEJAS DAN KEMATIAN SEL


Posted on 20 Oktober 2012 by Sabab Jalal

JEJAS DAN KEMATIAN SEL

PENDAHULUAN
1.

A. Patologi Berpusat Pada Empat Aspek Penyakit Penyebabnya (etiologi). Mekanisme perkembangannya (patogenesis). Perubahan struktur yang terjadi dalam sel dan jaringan (morfologi). Konsekuensi fungsional perubahan morfologi yang secara klinis.

Semua bentuk jejas dimulai dengan perubahan molekul atau sturktur sel. Dalam keadaan normal, sel berada dalam keadaan homeostasis mantap. Sel bereaksi terhadap pengaruh Penyebab Nekrosis
1. Iskhemi Iskhemi dapat terjadi karena perbekalan (supply) oksigen dan makanan untuk suatu alat tubuh terputus. Iskhemi terjadi pada infak, yaitu kematian jaringan akibat penyumbatan pembuluh darah. Penyumbatan dapat terjadi akibat pembentukan trombus. Penyumbatan mengakibatkan anoxia. Nekrosis terutama terjadi apabila daerah yang terkena tidak mendapat pertolongan sirkulasi kolateral. Nekrosis lebih mudah terjadi pada jaringan-jaringan yang bersifat rentan terhadap anoxia. Jaringan yang sangat rentan terhadap anoxia ialah otak. 2. Agens biologik Toksin bakteri dapat mengakibatkan kerusakan dinding pembuluh darah dan trombosis. Toksin ini biasanya berasal dari bakteri-bakteri yang virulen, baik endo maupun eksotoksin. Bila toksin kurang keras, biasanya hanya mengakibatkan radang. Virus dan parasit dapat mengeluarkan berbagai enzim dan toksin, yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi jaringan, sehingga timbul nekrosis. 3. Agens kimia Dapat eksogen maupun endogen. Meskipun zat kimia merupakan juga merupakan juga zat yang biasa terdapat pada tubuh, seperti natrium dan glukose, tapi kalau konsentrasinya tinggi dapat menimbulkan nekrosis akibat gangguan keseimbangan kosmotik sel. Beberapa zat tertentu dalam konsentrasi yang rendah sudah dapat merupakan racun dan mematikan sel, sedang yang lain baru menimbulkan kerusakan jaringan bila konsentrasinya tinggi. 4. Agens fisik Trauma, suhu yang sangat ekstrem, baik panas maupun dingin, tenaga listrik, cahaya matahari, tenaga radiasi. Kerusakan sel dapat terjadi karena timbul kerusakan potoplasma akibat ionisasi atau tenaga fisik, sehingga timbul kekacauan tata kimia potoplasma dan inti. 5. Kerentanan (hypersensitivity) Kerentanan jaringan dapat timbul spontan atau secara didapat (acquired) dan menimbulkan reaksi imunologik. Pada seseorang bersensitif terhadap obat-obatan sulfa dapat timbul nekrosis pada epitel tubulus ginjal apabila ia makan obat-obatan sulfa. Juga dapat timbul nekrosis pada pembuluh-pembuluh darah. Dalam imunologi dikenal reaksi Schwartzman dan reaksi Arthus. sumber :http://denfirman.blogspot.com

yang merugikan dengan cara (1) beradaptasi, (2) mempertahankan jejas tidak menetap, atau (3) mengalami jejas menetap dan mati. Adaptasi sel terjadi apabila stres fisiologik berlebihan atau suatu rangsangan yang patologik menyebabkan terjadinya keadaan baru yang berubah yang mempertahankan kelangsungan

hidup sel. Contohnya ialah hipertropi (pertambahan massa sel) atau atrofi (penyusutan massa sel). Jejas sel yang reversibel menyatakan perubahan patologikyang dapat kembali. Bila rangsangan dihilangkan atau penyebab jejas lemah. Jejas yang ireversibel merupakan perubahan patologik yang mentap dan menyebabkan kematian sel.
1. B. Jejas Dan Kematian Sel

Terdapat dua pola morfologik kematian sel, yaitu nekrosis dan apoptosis. Nekrosis adalah bentuk yang lebih umum setelah rangsang eksogen dan berwujud sebagai pembengkakan, denaturasi dan koagulasi protein, pecahnya organel sel, dan robeknya sel. Apoptosis ditandai dengan pemadatan kromatin dan fragmentasi, terjadi sendiri atau dalam kelompok kecil sel, dan berakibat dihilangkannya sel yang tidak dikehendaki selama embryogenesis dan dalam berbagai keadaan fisiologik dan patologik. PENYEBAB JEJAS SEL
1. Hipoksia (pengurangan oksigen) terjadi sebagai akibat (a) iskemia (kehilangan pasokan darah), (b) oksigenisasi tidak mencukupi (misalnya, kegagalan jantung paru), atau (c) hilangnya kapasitas pembawa oksigen darah (misalnya, anemia, keracunan karbon monooksida). 2. 3. A. B. C. D. E. F. Faktor fisik, termasuk trauma, panas, dingin, radiasi, dan renjatan listrik Bahan kimia dan obat-obatan, termasuk : Obat terapeotik (misalnya, asetaminofen [Tylenol]). Bahan bukan obat (misalnya, timbale, alkohol). Bahan penginfeksi, termasuk virus, ricketsia, bakteri, jamur, dan parasit. Reaksi imonologik. Kekacauan genetik. Ketidakseimbangan nutrisi.

JEJAS SEL DAN NEKROSIS MEKANISME UMUM System intra sel tertentu terutama rentan terhadap jejas sel

Pemeliharaan integritas membran sel. Respirasi aerobic dan produksi ATP. Sintesis enzim dan protein berstruktur. Preservasi integritas aparat genetik.

System-sistem ini terkait erat satu dengan yang lain sehingga jejas pada satu lokus membawa efek sekunder yang luas. Kensekuensi jejas sel bergantung kepada jenis, lama, dan kerasnya gen penyebab dan juga kepada jenis, status, dan kemampuan adaptasi sel yang terkena. Empat aspek biokimia yang penting sebagai perantara jejas dan kematian sel antara lain :

1.

Radikal bebas berasal dari oksigen yang terbentuk pada banyak keadaan patologik dan

menyebabkan efek yang merusak pada struktur dan fungsi sel 2. 3. Hilangnya homeostasis kalsium, dan meningkatnya kalsium intrasel. Deplesi ATP. Karena dibutuhkan untuk proses yang penting seperti trasportasi pada

membran, sintesis protein, dan pertukaran fosfolipid. 4. Defek permeabilitas membran. Membran dapat dirusak langsung oleh toksin, agen fisik

dan kimia, komponen komplemen litik, dan perforin, atau secara tidak langsung seperti yang diuraikan pada kejadian sebelumnya.

JEJAS ISKEMIK DAN HIPOKSIK Jejas Reversible Mula-mula hipoksia menyebabkan hilangnya fosforilasi oksidatif dan pembentukan ATP oleh mitokondria. Penurunan ATP (dan peningkatan AMP secara bersamaan) merangsang fruktokinase dan fosforilasi, menyebabkan glikolis aerobik. Glikogen cepat menyusut, dan asam laktat dan fosfat anorganik terbentuk sehingga menurunkan PH intrasel. Manifestasi awal dan umum pada jejas hipoksit non letal ialah pembengkakan sel akut. Ini disebabkan oleh :

Kegagalan transportasi aktif dalam membran dari pada ion Na +, ion K+-ATPase yang

sensitif-ouabain, menyebabkan natrium masuk kedalam sel, kalium keluar dari dalam sel dan bertambahnya air secara isosmotik.

Peningkatan beban osmotik intrasel karena penumpukan fosfat dan laktat anorganik, serta

nukleusida purin.

Jejas Ireversibel Jejas ireversibel ditandai oleh valkuolisasi keras metokondria, kerusakan membran plasma yang luas, pembengkakan lisosom, dan terlihatnya densitas mitokondria yang besar dan amort. Jejas membram lisosom disusul oleh bocornya enzim ke dalam sitoplasma, dan karena aktivasinya terjadi pencernaan enzimatik komponen sel dan inti. Ada dua peristiwa yang penting pada jejas ireversibel. Depresi ATP dan kerusakan membran sel .

Deplesi ATP. Peristiwa awal pada jejas sel yang berperan pada konsekuensi hipoksia

iskemik yang fungsional dan struktural, dan juga pada kerusakan membran, walaupun demikian, masalah menimbulkan pertanyaan apakah hal ini sebagai akibat atau penyebab ireversibilitas.

Kerusakan membran sel. Jejas ireversibelberhubungan dengan defek membran sel

fungsional dan struktural.

1.

Kehilangan fosfolipid yang progesif, disebabkan oleh : Aktivasi fosfolipid membran oleh peningkatan kalsium sitosolik, disusul oleh degradasi

fosfolipid dan hilangnya fosfolipid, atau

Penurunan realisasi dan sintesi fosfolipid, mungkin berhubungan dengan hilangnya ATP. Abnormalitas sitoskeletal. Aktivasi protease intrasel, didahului oleh peningkatan kalsium

1.

sitosolik, dapat menyebabkan pecahnya elemen sitoskeletal intermediate, menyebabkan membran sel rentan terhadap terikan dan robekan, terutama dengan adanya pembengkakan sel. 2. Produk pemecahan lipid. Asam lemak bebas dan lisofosfolipid berkumpul dalam sel

iskemik sebagai akibat degradasi fosfolipid dan langsung bersifat toksin terhadap membran. 3. Hilangnya asam amino intrasel. Seperti glisin dan L-alanin yang penyebabnya belum

diketahui.

JEJAS SEL AKIBAT RADIKAL BEBAS Radikal bebas adalah molekul yang sangat reaktif dan tidak stabil yang berinteraksi dengan protein, lemak, dan karbohidrat, dan terlibat dalam jejas sel yang disebabkan oleh bermacam kejadian kimiawi dan biologik. Terjadinya radikal bebas dimulai dari :

Absorpsi energi sinar (cahaya UV, sinar X). Reaksi oksidatif metabolik. Konversi enzimatik zat kimia eksogen atau obat.

JEJAS KIMIAWI Zat kimia menyebabkan jejas sel melalui 2 mekanisme

Secara langsung misalnya, Hg dari merkuri klorida terikat pada grup SH protein

membran sel, menyebabkan peningkatan permeabilitas dan inhibisi transport yang bergantung pada ATPase.

Melalui kenversi ke metabolik toksin reaktif. Sebaliknya metabolik toksin menyebabkan

jejas sel baik melalui ikatan kovalen langsung kepada protein membran dan lemak, atau lebih umum melalui pembentukan radikal bebas aktif.

MORFOLOGI JEJAS SEL REVERSIBEL DAN NEKROSIS Perubahan ultrastruktur telah diuraikan sebelumnya pembengkakan sel merupakan manifestasi hampir universal dari pada jejas reversible pada mikroskopi cahaya. Pada sel yang terlibat dalam metabolisme lemak. Perlemakan juga menunjukkan tanda jejas reversibel.

Nekrosis merupakan perubahan morfologik yang menyusul kematian sel pada jaringan atau organ hidup. Dua proses menyebabkan perubahan morfologik dasar pada nekrosis

Denaturasi protein. Pencernaan enzimatik organel dan sitosol.

JENIS NEKROSIS

Nekrosis koagulativa. Pola nekrosis iskemik yang lazim ini yang diuraikan sebelumnya

terjadi pada miokard, ginjal, hati, dan organ lain.


Nekrosis mencari. Terjadi bila autolisis dan heterolysis melebihi denaturasi protein. Nekrosis perkijuan. Khas pada lesi tuberculosis, makroskopik, dan secara mikroskopik

sebagai bahan amorf eosinofilik dengan debris sel.

Nekrosis lemak. Nekrosis pada jaringan lemak, disebabkan oleh kerja lipase (yang

berasal dari sel pancreas rusak atau makrofag) yang mengkatalisis dekomposisi trigliserid menjasi asam lemak, yang kemudian bereaksi dengan kalsium membentuk sabun kalsium.

APOPTISIS Bentuk kematian sel ini berbeda dengan nekrosis dalam beberapa segi (table 1-1) dan terjadi dalam keadaan ini :

Destruksi sel terprogram selama embryogenesis. Involusi jaringan bergantung kepada hormone (misalnya, endometrium prostate) pada

usia dewasa.

Delesi sel pada populasi sel berproliferasi (misalnya, epitelkripta intestine), tumor, dan

organ limfoid.

Atrifo patologik organ perenkimal akibat obstruksi duktus. Kematian sel oleh sel T sitotoksit. Jejas sel pada penyakit virus tertentu. Kematian sel karena beberapa stimulus yang merusak yang terjadi pada takaran rendah.

Cirri morfologik apoptosis meliputi :


Penyusutan sel. Kondensasi dan fragmentasi kromatin. Pembentukan gelembung sitoplasma dan jisim apoptotic. Fagositosis jisim apototik oleh sel sehat didekatnya atau makrofag. Tidak adanya peradangan.

Nekrosis

Apoptosis

Stimulus

Hipoksia, toksin

Fisiologik dan patologik

Pembengkakan selNekrosis koagulasi

Sel tunggalKondensasi kroma

Gangguan organel
Histologi

Jisim apoptotik

Pemecahan DNA

Acak, difus

Internukleosom

Deplesi ATPJenis membran

Kerusakan radikal bebas


Mekanisme Aktivasi genEndonuklease

Tidak ada peradanganFegosito

Apoptotik
Reaksi jaringan peradangan

PERUBAHAN SUBSELULER PADA JEJAS SEL LISOSOM


Heterofagi adalah ambilan bahan dari lingkungan luar dengan fogositosis Autofagi adalah fagositosis oleh lisosom organel intrasel yang sedang rusak, termasuk

mitokondria dan reticulum endoplasmik.

AKUMULASI INTRA SELULER Protein, karbohidrat, dan lipid dapat berakumulasi dalam sel dan kadang-kadang menyebabkan jejas pada sel. Dapat berupa :

Isi sel normal yang terkumpul berlebihan Bahan abnormal, biasanya produk metabolisme abnormal Suatu pigmen

Proses yang berakibat akumulasi intraseluler abnormal meluputi :

Metabolisme abnormal suatu bahan endogen abnormal (misalnya, perlemakan) Kekurangan enzim yang dibutuhkan untuk metabolisme bahan endogen normal atau

abnormal (misalnya, penyakit timbunan lisosomal).

Deposisi bahan eksogen abnormal (misalnya, makrofag berisi karbon)

STEATOSIS PERLEMAKAN Ini menggambarkan bahan normal (trigliserid) yang terakumulasi berlebihan dan mengarah kepada peningkatan absolute lipid intrasel. Berakibat pembentukan vakuol lemak intrasel terjadi pada hampir semua organ, tetapi paling sering dalam hati, bila berlebihan bias mengarah pada silosis. PATOGENESIS PERLEMAKAN HATI Penyebab perlemakan hati meliputi penyalahgunaan alkohol, malnutrisi protein, diabetes mellitus, obesitas, hepatotoksin, dan obat. Hati tampak membesar, kuning dan berlemak secara mikroskopik terlihat sebagai vakuol besar.

Masuknya asam lemak bebas berlebihan kedalam hati (misalnya, pada kelaparan, terapi

kortikosteroid).

Sintesis asam lemak meningkat. Oksidasi asam lemak berkurang. Esterifikasi asam lemak menjadi trigliserid meningkat, karena meningkatnya alfa-

gliserofosfat (alkohol).

Sintesis apoprotein berkurang (keracunan karbon tetraklorida). Sekresi lipoprotein yang terganggu dari hati(alkohol. Pemberian asam orotat)

KOLESTEROL DAN ESTER KOLESTEROL

Pada aterosklerosis, lipid ini terakumulasi dalam sel otot polos dan makrofag. Kolesterol

intrasel terkumpul dalam bentuk vakuol sitoplasma kecil. Kolesterol ekstrasel memberikan gambaran karakteristik sebagai ruang seperti celah yang tebentuk oleh kristal kolesterol yang larut.

Pada hiperlipidemia terdapat herediter, lipid terakumulasi dalam makrofag dan sel

mesenkim.

Pada fokus jejas dan peradangan, makrofag terisi-lipid terbentuk dari fagositosis lipid

membran yang berasal dari sel yang rusak.

AKUMULASI INTRASELULER LAIN


Protein. Contoh : proteinuria, reabsorbsi membentuk butiran dalam tubulus proksimal Glikogen. Contoh : penyakit penimbunan genetik

Kompleks lipid dan polisakarid. Contoh : penyakit gaucher, penyakit niemann-pick Pigmen eksogen.

Hemosiderosis lokal yang terjadi karena pendarahan luas atau robeknya pembuluh darah kecil karena kongesti vaskuler. Hemosiderosis sistemik terjadi saat :

Absorbsi besi dari makanan meningkat (hemokromatosis primer). Penggunaan besi yang terganggu (misalnya, pada talasemia). Anemia hemolitik yang mengakibatkan pemecahan sel darah merah berlebih. Transfuse yang menyebabkan besi eksogen.

KALSIFIKASI PATOLOGIK Kalsifikasi patologik menunjukkan deposisi abnormal dari garam kalsium dalam jaringan lunak. Dalam jaringan yang mati atau yang akan mati pada keadaan kadar kalsium serum normal. Pada kalsifikasi metastatik, deposisi garam kalsium berada dalam jaringan vital dan selalu dihubungkan dengan hiperkalsemia. PERUBAHAN HIALIN Hialin dihubungkan dengan segala perubahan dalam sel atau di daerah ekstraseluler atau struktur yang homogen, yang memberikan gambaran merah muda mengkilat pada pulasan HE sediaan histologik rutin.
1. 2. 3. 4. Absorpsi protein menyebabkan titik hialin proksimal dari sel epitel ginjal. Jisim russell dalam sel plasma. Inklusi virus dalam sitoplasma. Sejumlah filament intermediate yang terganggu (seperti pada hialin alkohol).

Hialin ekstraseluler terjadi pada hialin arteriolosclerosis. Aterosklerosis, dan glomerulus yang rusak. PENUAAN SELULAR Dengan bertambahnya usia, terjadi perubahan fisiologik dan struktural pada hampir semua organ. Penuaan terjadi karena faktor genetik, diet, keadaan sosial, dan adanya penyakit yang berhubungan dengan ketuaan seperti arteriosclerosis, diabetes dan arthritis. Perubahan sel dirangsang oleh usia yang menggambarkan akumulasi progresif dari jejas subletal atau kematian sel selama bertahun-tahun, diperkirakan merupakan komponen penting dalam penuaan. Perubahan fungsional dan morfologik yang terjadi pada sel yang menua adalah :

Penurunan fosforilasi oksidatif pada mitokondria. Berkurangnya sintesis DNA dan RNA untuk protein dan reseptor sel struktural dan

enzimatik.

Menurunnya kemampuan ambilan makanan dan perbaikan kerusakan kromosom. Nucleus berlobus tidak teratur dan abnormal. Mitokondria pleomorfik, reticulum-endoplasama menurun, dan jisim Golgi berubah

bentuk.

Akumulasi pigmen lipofusin secara menetap.

PERTUMBUHAN DAN DEFERENSASI SELULER : REGULASI DAN ADAPTASI NORMAL Penggantian sel yang rusak atau mati penting untuk menjaga kelangsungan hidup. Perbaikan jaringan meliputi dua proses yang berbeda. Yaitu : (1) regenerasi, yang berarti penggantian sel mati dengan proliterasi sel yang jenisnya sama, dan (2)pengantian oleh jaringan ikat atau fibroplasia. PENGONTROLAN PERTUMBUHAN SEL Faktor yang paling penting dalam pengontrolan pertumbuhan sel adalah faktor yang mengambil sel diam (autescent) (G0) untuk masuk kedalam siklus sel. SIKLUS SEL DAN JENIS SEL Sel dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan kemampuan proliferatifnya dan hubungannya dengan siklus sel :

Sel yang terus membelah secara berkesinambungan (sel labil), seperti epitel

permukaan, dan sel sumsum tulang serta hematopoietik.

Sel diam (stabil), yang secara normal lambat mengalami pergantian tetapi dapat

membelah dengan cepat sebagai respons terhadap berbagai rangsangan-misalnya sel hati, ginjal, fibroblas, otot polos, dan endotel.

Sel yang tidak membelah (permanen), yang tidak dapat membelah setelah lahir-

contohnya, sel syaraf (neuron), otot rangka dan otot jantung.

Jejas dan kematian Sel JEJAS DAN KEMATIAN SEL


Manusia sesungguhnya, berupa kelompok sel-sel yang tersususn rapi dan rumit. Kesehatan perorangan berasal dari kesehatan selnya. Penyakit mencerminkan disfungsi sejumlah penting sel-sel. Dalam

bereaksi terhadap tekanan yang progresif, sel akan : Menyesuaikan diri Terjadi jejas yang dapat pulih kembali (reversible) Mati Kelangsungan fungsi dan struktur fungsi sel normal, beradaptasi, terjejas ireversibel, mati merupakan keadaan yang berbatas kabur Semua tekanan atau pengaruh berbahaya berdampak pertama-tama pada tingkat molekul. Perubahan molekul dan fungsi selalui mendahului perubahan morfologi. Waktu yang diperlukan untuk menimbulkan perubahan yang tampak pada adaptasi sel, jejas dan kematian berbedabeda sesuai dengan kemampuan pemilihan cara-cara yang dipakai untuk mendetiksi perubahan tersebut. Jejas = injury = rangsangan thd sel hingga terjadi perubahan fungsi dan bentuk sel. Sebab-sebab Jejas, Kematian dan Adaptasi Sel adalah : a. Hipoksia : Penyebab jejas dan kematian sel paling penting Mempengaruhi respirasi oksidasi aerob Hilangnya perbekalan darah, penyebab hipoksia yang paling sering Oksigenasi darah yang tidak memadai karena kegagalan kardiorespirasi b. Bahan Kimia dan Obat : Penyebab penting adaptasi, jejas dan kematian sel. Setiap agen kimia atau obat dapat dilibatkan. Bahan yang tidak berbahaya bila konsentrasinya cukup sehingga dapat merusak lingkungan osmosa sel akan berakibat jejas atau kematian sel tersebut. Racun dapat menyebabkan kerusakan hebat pada sel dan kemungkinan kematian seluruh organisme. Masing-masing agen biasanya memiliki sasaran khusus dalam tubuh c. Agen Fisika : Trauma mekanik pada organel intrasel atau pada keadaan yang ekstrem, dapat merusak sel secara keseluruhan. Suhu rendah Vasokonstriksi dan mengacau perbekalan darah untuk sel-sel, bila suhu semakin rendah, air intrasel akan mengalami kristalisasi. Suhu tinggi yang merusak dapat membakar jaringan. Perubahan mendadak tekanan atmosfer juga dapat berakibat gangguan perbekalan darah untuk sel-sel. Penyakit caison Tenaga Radiasi menyebabkan ionisasi lansung senyawa kimia yang dikandung dalam sel, mutasi yang dapat berjejas atau membunuh selsel.

Tenaga Listerik meyebabkan luka bakar, dapat mengganggu jalur konduksi syaraf dan sering berakibat kematian karena aritmia jantung. d. Agen Mikrobiologi : Virus dan rcketsia merupakan parasit obligat intrasel yang hidupnya hanya di dala sel-sel hidup. Virus yang menyebabkan perubahan pada sel : Sitolisis (dapat menyebabkan kematian sel), Onkogen (merangsang replikasi sel, berakibat tumor). Kuman dengan membebaskan eksotoksin dan endotoksin yang mampu mengakibatkan jejas sel, melepaskan enzim sehinga dapat merusak sel. Jamur, protozoa dan cacing dapat menyebabkan kerusakan dan penyakit pada sel e. Mekanisme Imun : Penyebab kerusakan sel dan penyakit pada sel. Antigen penyulut berasal dari eksogen (Resin tanaman beracun), endogen (antigen sel) yang menyebabkan penyakit autoimun. f. Cacat Genitika : Kesalahan metabolisme keturunan dapat mengurangi sutu enzem sel. Dalam keadaan parah meyebabkan kelangsungan hidup sel tidak sesuai. Beberapa keadaan abnormal genetika diturunkan sebagai sifat keluarga (anemia sel sabit). g. Ketidak seimbangan Nutrisi : Defesiensi nutrisi penyebab jejas sel yang penting, mengancam menjadi masalah kehancuran di masa mendatang. Defesiensi protein-kalori, avitaminosis, kalori berlebihan dan diet kaya lemak merupakan masalah ketidakseimbangan nutrisi di dunia. h. Penuaan : Penuaan dan kematian sel merupakan akibat penentuan progresif selama jangka waktu hidup sel dengan informasi genitik yang tidak sesuai akan menghalangi fungsi normal sel.

Perubahan sel tergantung:

Jenis, lama dan beratnya jejas. Jenis sel dan keadaan dan kemungkinannya untuk adaptasi. 4 sistem intraceluler peka thd jejas: 1. Pernapasan aerobik 2. Keutuhan membran sel 3. Sintesa protein 4. Genetik utuh Struktur dan biokimia sel erat berhungnan satu dengan yang lain. Gangguan satu sistem menganggu yang lain. Perubahan morfologi sel tampak sesudah gangguan biokimia. 4. Perubahan sub sel : Membran( dan kerangka membran : kerusakan selaput yang reversibel dan ireversibel, kelainan lain pada struktur molekul membran dan komponen-komponen yang terkait, beberapa bersifat genetik.

Lisosom : (1). Heterogasitosis, bahan-bahan dari lingkungan eksterna diambil melalui proses endositosis (cara khusus : fagositosis, dari makromolekul : pinositosis). Contoh : pengambilan dan pencernaan kuman oleh leukosit neitrofil. (2). Autofagositosis, organel sel mengalami jejas setempat dan kemudian harus dicerna bila funsi sel normal ingin dipertahankan, lisosom dilibatkan dalam autodigesti (autolisosom) dan prosesnya disebut autofagi. Induksi (Hipertrofi) Retikulum( Endoplasma Polos : Penggunaan barbiturat jangka lama akan berakibat pemendekan progresif jangka waktu tidur, penderita mengalami adaptasi terhadap obat. Dasar adaptasi ini ditelusuri melalui induksi meningkatnya volume (hipertrofi) retikulum endoplasma polos (SER) hepatosit. Mitokondria : Disfungsi mitokondria berperan penting( pada jejas akut sel, berbagai perubahan dalam jumlah, ukuran dan bentuk terjadi pada keadaan patologi. Contoh : keadaan abnormal (megamitokondria) pada

hati penderita alkoholisme. Sitoskelet,( keadaan yang abnormal mendasari berbagai keadaan patologi yang mencerminkan gangguan fungsi sel, seperti gerakan sel dan gerakan organel intrasel atau pada beberapa keadaan penimbunan bahan berfibril intraselular. Sitoskelet tersusun dari mikrotubuli, filamen aktin tipis, filamin miosin tebal, berbagai kelas filamen sedang, beberapa bukan filamin yang tidak mengalami polimerasasi lainnya. Patologi sitoseklet akan segera mengungkap lebih banyak keadaan dimana kelainan sitoseklet berperan pada perkembangan penyakit.

Mekanisme / patogenesis jejas sel. Sulit diketahui. kecuali : - cyanida >< citochrome oksidase dalam mitochondria - ATP kurang. - bakteri tertentu bentuk fosfolipase merusak membran fosfolipid. Respons sel thp injury tergantung pada : jenis jejas, lama dan berat. jenis sel terkena jejas, keadaan sel , kemungkinan adaptasi 4 sistim intrasel peka thp jejas: o keutuhan membran sel o pernapasan aerobik (pembentukan ATP) o sintesa protein o keutuhan genetik Oksigen dan radikal bebas 02 intraselluler alsium homeostasis MEKANISME BIOLOGIK YANG BERPERAN PADA JEJAS DAN KEMATIAN SEL 1. ATP depletion. ATP penting utk proses sintesa dan degradasi.dalam sel. ATP dibentuk melalui oxidative fosforilasi ADP dan melalui glycolysis. Jejas ishemik dan toksik menyebabkan ATP depletion dan sintesa ATP menurun.

2. Oxygen dan oxygen derived radikal bebas.(gb 1). Energi dihasilkan dari oxygen -> air. Timbul produk sampingan: reaktif oxygen a.l. radikal bebas yg merusak lipid, protein dan nucleic acid. Radikal scavenging system mencegah kerusakan oleh radikal bebas. 3. Ca intraselluler dan hilangnya homeostasis Ca. Konsentrasi Ca intrasel rendah, sebaliknya extrasel lebih tinggi. Jejas _> Ca masuk sel, Ca mitochondria, ER lepas _> Ca intrasel meningkat -> aktivasi enzym2 4. Defek permeabiltas membran sel. Mempengaruhi mito-chondria dan membran2 dalam sel. 5. Kerusakan mitochondria yang irreversibel menyebabkan kematian sel. Morfologi jejas selluler Hydropik change (cloudy swelling). Sitoplasma sel pucat dan sel membengkak akibat timbunan cairan. edema sel yang ringan disebut cloudy swelling. Bila timbunan cairan dan pembengkaan bertambah sitoplasma mengandung vakuol. Hydropik change pada umumnya akiabt hypoxia atau keracunan bahan kimia.. Perubahan ini reversibel. Mikroskopik: sel- sel bengkak dan sitoplasma mengandung granula. yang kasar. Fatty change / steatosis. Nekrosis. Perubahan morfologik kematian sel jaringan hidup. 1. Koagulatif nekrosis. 2. Liquefaktif nekrosis 3. Kaseous nekrosis. 4. Fat nekrosis. Mekanisme: Enzym digestion sel liquefaktif nekrosis. Denaturasi protein koagulatif nekrosis enzym asal sel mati autolysis atau asal sel radang (lisosom)

- HETEROLYSIS Perubahan morfologis nekrosis perlu waktu myocard infark akut pertama- tama tidak nampak perubahan morfologis. Pada koagulatif nekrosis masih nampak struktur jaringan nekrotik. Ini sering ditemukan pada kematian sel karena hypoxi. . Pada nekrosis liquefaktif tidak.Sisa sel hilang sama sekali. Ditemukan pada fokal infeksi bakteri, kadang fungus infeksi. Gangraenous nekrosis : kaogulatif nekrosis sebab ischemia disertai infectie bakterial menimbulkan nekrosis liquefaktif ( wet gangrene). nekrosis : nekrosis pengejuan. -TUBERCOLOSIS Makroskopik: seperti keju. Mikroskopik: nekrosis amorf tanpa struktur dikelilingi radang granulomatous. Jaringan asal tak nampak. Fat nekrosis. Destruksi jaringan lemak oleh enzym2. Sering pada jejas jaringan pancreas. menyerap calcium dystrofik cakcification. -APOPTOSIS Kematian sel fisiologik / patologik ; aktivasi endogenic endonuklease. Embryogenesis Hormon dependent fisiologik involusi (haid, mamma setelah menyusui Atrofi patologik prostat setelah kastrasi. Kematian sel tumor MORFOLOGI: E.M. : - sel mengkerut. - kondensasi chromatin.

- pembentukan apoptotik bodies. Histologik : HE single cel / sarang sel nekrosis. bulat / ovaal eosinofilik (Council man bodies) tidak tampak reaksi radang. 5. Adaptasi sel :
Sel-sel menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan mikronya. Fungsi dan morfologi sel normal tidak berada dalam keadaan yang kaku, tetapi mengikuti perubahan struktur dan fungsi cairan yang mencerminkan perubahan tantangan hidup. Sebagi contoh : induksi SER, Atrofi, Hipertrofi. Atropi : Pengisutan ukuran sel akibat kehilangan bahan sel. Penyebab : (1) berkurangnya beban kerja, (2) hilangnya persyarafan, (3) berkurangnya perbekalan darah, (4) nutrisi yang tidak memadai, (5) hilangnya rangsang hormon. Perubahan sel yang mendasai sifatnya sama yaitu kemunduran sel sampai ukuran kecil. Pada banyak keadaan atrofi disertai kenaikan nyata jumlah vakuol autofagi. Hipertrofi : Hipertropi menyatakan peningkatan ukuran sel dan perubahan ini, meningkatkan ukuran alat tubuh. Disebabkan oleh kenaikan tantangan fungsi atau rangsang hormon khas dan dapat terjadi dalam keadaan fisiologi dan patologi. Perubahan lingkungan yang menyebabkan hipertrofi otot bercorak terjadi terutama sebagai peningkatan beban kerja. Contoh : tekanan darah tinggi pada jantung, otot tulang karena kerja berat. Ada batasnya hipertrofi dimana pembesaran yang terjadi tidak mampu lagi memberikan kompensasi sehingga terjadi, misalnya payah jantung.

Apoptosis, nekrosis, organela prokariotik dan eukariotik


3 APRIL 2010 TINGGALKAN KOMENTAR

2 Votes

Tujuan Pembelajaran : 1. Mengetahui Mekanisme Apoptosis. 2. Mengetahui Proses Nekrosis dan Degenerasi ditingkat sel. 3. Mengetahui Susunan Membran Inti. 4. Mengetahui Mekanisme Pengaturan oleh Nukleus Terhadap Organela. 5. Mengetahui Proses Fagositosis di Lisosom. 6. Mengetahui Proses Diferensiasi dan Modifikasi sel. 7. Mengetahui Hubungan Nekrosis, Apoptosis, dan Degenerasi dengan Kerja Organela Prokariotik dan Eukariotik. 8. Mengetahui Pengganti Organela yang Tidak Terdapat Pada Sel Prokariotik. 1. I. Mengetahui Mekanisme Apoptosis. Apoptosis merupakan suatu proses kematian sel yang terprogram, diatur secara genetik, bersifat aktif, ditandai dengan adanya kondensasi chromatin, fragmentasi sel dan pagositosis sel tersebut oleh sel tetangganya, serta merupakan proses penting dalam pengaturan homeostasis normal, proses ini menghasilkan keseimbangan dalam jumlah sel jaringan tertentu melalui eliminasi sel yang rusak dan proliferasi fisiologis dan dengan demikian memelihara agar fungsi jaringan normal (Bimantara, 2009). Secara kronologis tahapan yang terjadi adalah yang pertama fragmentasi DNA, selanjutnya penyusutan dari sitoplasma, perubahan pada membran, yang terakhir kematian sel tanpa lisis atau tanpa merusak kematian sel tetangga (Anonim, 2009 (b)). Mekanisme terjadinya Apoptosis adalah akibat dikatifkannya beberapa sinyal yang mencetuskan kematian, berkisar dari kurangnya faktor atau hormon pertumbuhan, sampai interaksi Ligand reseptor positif dan agentagent lesi spesifik sebagai tambahan ada koordinasi tapi sering pula ada hubungan yang berlawanan antara pertumbuhan sel dan apoptosis sebenarnya. 1. Peran aktivitas Mekanisme terjadinya apopotosis untuk tiap sel berbeda-beda. Aktivasi mekanisme apoptosis untuk tiap sel tertentu disebabkan oleh aktivitas yang berbeda-beda pula. 1. Kadar ion kalsium Apabila terjadi aktivitas stimulus terhadap sel dan aktivitas apoptosis , akan terjadi peningkatan kadar ion Ca++ didalam inti sel. Ion Ca++ ini mengaktifkan enzim Kalsium dependen Nuklear Indo Nuklease yang terdiri dari Endonoklease, Protease Transglutaminase. 1. Reseptor Makrofag. Proses Fagositosis terhadap apoptotic bodies atau sel lain ditentukan oleh reseptor yang ada di permukaan makrofag atau sel fagosit tersebut: contoh sel makrofag yang mengandung viktonektin reseptor, suatu beta 3 integrin, memudahkan fagositas apoptotic netropil. 1. Regulasi genetik Beberapa gen bila distimulasi akan menyebabkan apoptosis, seperti Heta shock protein dan proto onkogen. Tetapi stimulasi gen ini tidak berhubungan langsung dengan proses mulainya apoptosis (Bimantara, 2009). Fragmentasi inti DNA yang cepat dan teratur sudah sejak lama dianggap pertanda utama dari apoptosis. Sinyal apoptosis dapat berasal dari luar maupun dari dalam sel. Dari luar sel, sinyal apoptosis dibawa oleh Sel T, yaitu

protein Fas atau sinyal kematian lainnya misalnya protein Tumor Necrosis Factor (TNF). Bila protein-protein tersebut berikatan dengan masing-masing reseptornya, maka proses apoptosis dimulai. Sinyal apoptosis tersebut ditangkap oleh death domain yang teraktivasi oleh kehadiran Fas dan TNF. Sebelum dilanjutkan, apoptosis diyakinkan kembali untuk diteruskan atau dihambat melalui mekanisme seleksi oleh protein FLIP (Flice/caspase-8 inhibitory protein). Ekspresi yang berlebihan dari FLIP, akan menyebabkan proses apoptosis terhenti. FLIP inilah sebagai penyeleksi awal dan memastikan apakah sel layak atau tidak. Model penghambatan apoptosis melalui mekanisme FLIP terjadi pada apoptosis ekstrinsik yaitu mekanisme apoptosis dengan sinyal kematian berasal dari luar sel. Bila ekspresi FLIP rendah, maka sinyal kematian akan diteruskan oleh mediator apoptosis selanjutnya yaitu caspase-8. Lingkungan sekitar dapat mempengaruhi kondisi sel. Beberapa protein dapat terekspresi pada kondisi lingkungan yang ekstrem. Protein Bax, yang merupakan anggota keluarga protein Bcl-2, merupakan protein pembawa sinyal apoptosis dari dalam sel. Ekspresi yang berlebihan dari Bax dalam sitoplasma, dapat menyebabkan membran mitokondria berlubang. Mitokondria adalah organ sel yang berfungsi sebagai tempat pembangkit energi sel. Rusaknya membran mitokondria menyebabkan sel kehilangan energi dan salah satu protein terpenting di dalamnya, yaitu cytochrome C lepas menuju sitoplasma. Sebelum Bax merangsek membran mitokondria, kerja protein tersebut harus mendapat izin terlebih dahulu dari protein Bcl-2. Bila tidak mengantongi izin, maka ekspresi protein Bcl-2 akan meningkat dan mendesak keberadaan protein Bax sehingga apoptosis tidak terjadi. Kehadiran cytochrome C di dalam sitoplasma dapat menyebabkan teraktivasinya protein Apaf-1, yang nantinya bersama-sama dengan caspase-9 akan melanjutkan perjalan akhir dari sinyal kematian. Mekanisme tersebut merupakan bagian dari jalur apoptosis intrinsik, yang dilihat dari asal sinyal kematian yaitu dari dalam sel. Perjalanan akhir sinyal apoptosis, akan dieksekusi oleh salah satu anggota keluarga protein caspase, yaitu caspase-3. Bila sinyal apoptosis sudah mencapai caspase-3, maka kepastian dari apoptosis sudah final. Caspase-3 akan memotong-motong protein histon yang berfungsi mengikat rangkaian DNA, menjadi beberapa bagian. Salah satu ciri khas dari sel yang mengalami apoptosis yaitu bentuk sel menjadi bulatanbulatan kecil. Berbeda dengan kematian sel akibat nekrosis yang berbentuk tidak beraturan, bentuk bulatanbulatan kecil ini dimaksudkan untuk memudahkan dan meringankan tugas makrofage yang berfungsi sebagai pencerna sel yang mati akibat apoptosis dan diangkut menuju sistem pembuangan (Anonim, 2009 (d)). Jika dilihat secara morfologi melalui mikroskop proses apoptosis akan terlihat beberapa tahapan yaitu 1. 1. Pengerutan sel Kondensasi Kromatin (piknotik) Sel berukuran lebih kecil , sitoplasmanya padat, meskipun organella masih normal tetapi tampak padat. Ini gambaran apoptosis yang paling khas. Kromatin mengalami agregasi diperifer dibawah selaput dinding inti menjadi massa padat yang terbatas dalam berbagai bentuk dan ukuran. Intinya sendiri dapat pecah membentuk 2 fragmen atau lebih ( karyorhexis) 1. Pembentukan tonjolan sitoplasma dan apoptosis. Sel apoptotik mula-mula menunjukkan blebbing permukaan yang luas kemudian mengalami fragmentasi menjadi sejumlah badan apoptosis yang berikatan dengan membran yang disusun oleh sitoplasma dan organella padat atau tanpa fragmen inti. 1. Fagositosis badan Apoptosis Badan apoptosis ini akan difagotosis oleh sel-sel sehat disekitarnya, baik sel-sel parenkim maupun makropag. Badan apoptosis dapat didegradasi di dalam lisosom dan sel-sel yang berdekatan bermigrasi atau berproliferasi untuk menggantikan ruangan sebelumnya diisi oleh sel apoptosis yang hilang (Bimantara, 2009). Sedangkan fungsi dari apoptosis sendiri adalah 1. 2. 3. Sebagai respon stress atau kerusakan DNA Sebagai upaya menjaga kestabilan jumlah sel Mekanisme penghancuran sel-sel yang tidak berguna

4. 5. 1.

Sebagai bagian dari pertumbuhan Regulasi sitem Imun (Anonim, 2009 (c)). II. Mengetahui Proses Nekrosis dan Degenerasi ditingkat sel.

Nekrosis merupakan sebuah kematian sel yang terjadi secara tidak alami. Tahapan dari kronologis nekrosis adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. pembengkakan sel digesti kromatin rusaknya membran (plasma dan organel) hidrolisis DNA vakuolasi oleh Retikulum Endoplasma penghancuran organel lisis sel (Anonim, 2009 (b)).

Nekrosis umumnya disebabkan oleh faktor dari luar secara langsung. Misalnya kematian sel dikarenakan kecelakaan, infeksi virus, radiasi sinar radio aktif atau keracunan zat kimia. Tanpa adanya tekanan dari luar, sel tidak akan dapat mati secara nekrosis (Anonim, 2009 (d)). Macam macam dari nekrosis daiantaranya adalah 1. 2. 3. 4. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Nekrosis koagulativa : Nekrosis yang disebabkan oleh koagulasi dari protein sel, ini merupakan nekrosis structural. Nekrosis lemak : merupakan trauma dari jaringan lemak Nekrosis gangrenosa : merupakan nekrosis iskemik yang disebabakan oleh kuman Nekrosis fibrinoid : merupakan nekrosis yang disebabkan oleh timbunan fibrin. Degenerasi lemak : merupakan akumulasi lemak didalam sel, jadi pada sel berisi bercak lemak kecil netral. dan terjadi infiltrasi lemak. Degenerasi hialin : terjadi perubahan sel yang eosinofilik dan homogeny. Degenerasi mukoid : Merupakan akumulasi mukopolisakarida didalam sel. Inti sel akan terdesak ke tepi. Degenerasi Zenker : Meruakan gangguan yang disebabkan oleh akumulasi asam laktit di dalam sel. Degenerasi amilod : Merupakan gangguan akibat timbunan amiloid. dan sering disebit gangguan ini penyakit amiloidosis (Anonim, 2009 (j)). III. Mengetahui Susunan Membran Inti. Membran pada nucleus berjumlah rangkap yaitu luar dan dalam. Membran pada nucleus juga berlubang-lubang atau disebut porus nucleus. Porus ini berperan sebagai pintu keluar produk-produk yang disintesis nucleus ke dalam sitoplasma (Pranowo, 2002). Porus nucleus ini terbentuk akibat menyatunya dwilapis lipid dari selaput nukleoplasma dan selaput sitosol, jumlah porus ini sekitar 10 % dari luas permukaan. Jika dilihat lebih detail membran inti terdiri dari dua lembar selaput yang saling berimpitan Lembaran sebelah dalam disebut selaput nukleoplasma sedangkan lembaran luar disebut selaput sitosol. Kedua lembaran tersebut dipisahkan oleh ruangan sempit yang disebut perinukleus. Pada selaput nukleoplasma membran berlapiskan anyaman yang terbuat dari filament intermedia yang pada mamalia terdiri dari tiga (3) protein yaitu lamina A,B,C. Anyaman filament ini disebut lamina nucleus. Protein lamina ini berikatan dengan protein integral maupun perifer dari selaput dalam. Protein-protein lamina ini juga berikatan dengan benang-benang halus yang disebut kromatin. Sedangkan pada selaput sitosol nucleus berhubungan langsung dengan reticulum endoplasma. Selaput ini penuh dipenuhi dengan ribosom. Pada permukaan selaput ini juga terjulur filament-filamen yang sebagian akan menempel dan berikatan dengan membrane organela lain (Marianti, 2007). Satu lagi yang harus kita ketahui bahwasannya pada membran ini juga mengandung beberapa enzim diantaranya adalah sitokrom, transferase, dan glukosa-6-fosfatase. (Anonim, 2009 (i)) 1. IV. Mengetahui Mekanisme Pengaturan oleh Nukleus Terhadap Organela.

Sedangkan untuk degenerasi sel ada beberapa macam diantaranya adalah

Nukleus merupakan pusat pengaturan sel. Nukleus mengandung DNA, yang disebut dengan gen. Gem ini menentukan karakteristik protein sel, termasuk enzim-enzim sitoplasma yang mengatur aktivitas sitoplasma (Guyton, 2007). DNA pada nucleus juga membentuk RNA, dan RNA ini mempunyai fungsi yaitu : 1. 2. 3. Messenger RNA (mRNA), berfungsi membawa kode genetik ke sitoplasma untuk mengatur sintesa protein 2.Transfer RNA (tRNA) untuk transport asam amino menuju ribosom untuk digunakan menyusun molekul protein 3.Ribosomal RNA (rRNA) untuk membentuk ribosom bersama dengan 75 protein lainnya (Anonim, 2009 (h)). Sedangkan untuk tiap organela diantaranya adalah RE, badan golgi, lisosom dan vakuola akan membentuk sebuah sistem, yang dinamakan sistem endomembran. 1. V. Mengetahui Proses Fagositosis di Lisosom. Proses fagositosis di lisosom merupkan fungsi dari lisosom itu sendiri. Jika dicari pengertiannya maka fagositosis merupakan proses pemasukan partikel berukuran besar dan mikroorganisme seperti bakteri dan virus ke dalam sel. Kalau dilihat dari prosesnya adalah pertama membran akan membungkus partikel atau mikroorganisme dan membentuk fagosom. Kemudian, fagosom akan berfusi dengan enzim hidrolitik dari trans Golgi dan berkembang menjadi lisosom. Sebenarnya fagositosism bukan merupakan satu-satunya fungsi dari lisosom itu sendiri, fungsi dari lisosom sebanarnya ada tiga yaitu fagositosis, endositosis, dan autofagi atau proses pembuangan dan degradasi bagian sel sendiri, seperti organel yang tidak berfungsi lagi (Anonim, 2009 (a)). Jika dilihat dari prosenya adalah sebagai berikut 1. 2. Resepor-reseptor membran sel melekat pada permukaan ligan partikel Tepi mebaran diluar sekitar tempat perlekatan mengalami evaginasi ke luardan mengelilingi seluruh partikel. Secara bertahap lebih banyak reseptor membran yang melekat pada membran partikel. semua terjadi tibatiba untuk membentuk vesikel fagositik. 3. 4. 1. Aktin dan fibril dalam sitoplasma mengelilingi vesikel fagositik dan berkontraksi diluarnya untuk mendorong vesikel ke bagian dalam. Protein kontraktil kemudian akan memeras vesikel dan mendorongya ke lam bagian dalam sel (Guyton, 1997). VI. Mengetahui Proses Diferensiasi dan Modifikasi sel. Diferensiasi sel merupakan proses pematangan suatu sel menjadi sel yang spesifik dan fungsional, terletak pada posisi tertentu di dalam jaringan, dan mendukung fisiologis hewan. Misalnya, sebuah stem cell mampu berdiferensiasi menjadi sel kulit (Anonim, 2009 (e)). Proses diferensiasi dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah protein atau hormone. Jadi faktor-faktor ini nanti akan berinteraksi dengan reseptor. Setelah berinteraksi dengan reseptor, maka faktor-faktor ini akan mengeluarkan intracellular signal, signal-signal tersebut selanjutnya akan melakukan tugas dalam diferensiasi atau signal-signal tersebut masuk ke dalam nucleus dan berinteraksi dengan kromosom. Contohnya BMP4 (Bone morphogenetic protein 4). Jika BMP4 bereaksi dengan reseptornya, maka akan terjadi differensiasi ectoderm dan membentuk aspek ventral (perut). Namun jika BMP4 dipertemukan dengan inhibitornya misalnya Chordin (polypeptid), maka bukannya BMP4 akan menghasilkan signal untuk membentuk aspek ventral, namun dia akan menstimulasi dorsalisasi dan spinal cord akan terbentuk. Jadi, differensiasi sebuah sel sangat dipengaruhi oleh faktor-faktornya, dan juga inhibitornya (Anonim, 2009 (f)). Sedangkan untuk modifikasi sel merupakan proses pertumbuhan dan perkembangan sel yang bertujuan untuk mengisi ruang tertentu pada jaringan atau memperbaiki bagian yang rusak. Diferensiasi sel dan modifikasi sel keduanya ditentukan oleh genom (Anonim, 2009 (e)). 1. VII. Mengetahui Hubungan Nekrosis, Apoptosis, dan Degenerasi dengan Kerja Organela Prokariotik dan Eukariotik.

Hubungan nekrosis denagan kerja organela didalam sel jelas berpengaruh, pengaruh nekrosis sendiri terhadap sel banyak antara lain sel akan membengkak, pembersihan debris oleh sistem imun sulit, sel yang sekarat tidak dihancurkan oleh fagosit atau sistem imun, sehingga dapat merusak sel tetangga (inflamasi). Sedangakan untuk apoptosis yang merupakan kematian sel yang terprogam jadi sel tetap ukurannya, pembersiahan debris berlangsung cepat, sel sekarat langsung ditelan fagosit karena ada sinyal, dan tidak menganggu atau merusak sel tetangga (Anonim, 2009 (b)). Sel yang mengalami apoptosis terlihat menciut, dan akan membentuk badan apoptosis. Sedangkan sel yang mengalami nekrosis akan terlihat membengkak untuk kemudian mengalami lisis. Sel yang mengalami apoptosis lisosomnya utuh, sedangkan sel yang mengalami nekrosis terjadi kebocoran lisosom. Dengan mikroskop akan terlihat kromatin sel yang mengalami apoptosis terlihat bertambah kompak dan membentuk massa padat yang uniform. Sedangkan sel yang mengalami nekrosis kromatinnya bergerombol dan terjadi agregasi (Gavrielli, 1992). 1. VIII. Mengetahui Pengganti Organela yang Tidak Terdapat Pada Sel Prokariotik. Pada sel prokariotik terdapat mesosom atau khondrioid yang mempunyai fungsi seperti mitokondria pada sel eukariotik. Membran plasma sel-sel prokariotik juga membentuk lipatan liptan kea rah sitosol, strukturnya seperti lembaran-lembaran halus di sepanjang permukaan membran bagian dalam, yang disebut dengan lamella sitomembran atau membran fotosintetik karena mengandung pigmen fotosintetik, sedangkan pada bakteri disebut dengan khromatofor. Pada bagian dalam membran plasma terdapat sitoplasma, ribosom dan nukleoid. Sitoplasma dapat mengndung vakuola yang yang banyak mengandung gula komplek atau bahan-bahan organic. Ribosom fungsinya sama yaitu tempat sintesis protein. Sedangkan untuk nukleoid merupakan daerah inti yang jernih yang terdapat kromosom yang dibentuk dari molekul DNA satu untai yang sirkuler dan mengandung informasi genetik (Marianti, 2007) Padas sel prokariotik juga terdapat flagellum (jamak flagella) pada beberapa jenis bakteri (basilus dan spirilus). Tersusun dari protein flagalin yang berfungsi untuk pergerakan. Selain terdapat flagellum, sel prokarioti juga terdapat pili atau fimbriae yang berukuran lebih kecil dan lebih pendek dari flagel. Pili hanya dapat dilihat dengan mikroskop elektron. Dijumpai pada bakteri yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Organel ini mempunyai fungsi untuk melekatkan diri pada jaringan hewan atau tumbuhan yang merupakan sumber nutriennya (Anonim, 2009 (g)). Daftar Pustaka Anonim. 2009 (a). Biologi Sel. http://kamuspengetahuan.blogspot.com/2009/04/biologi-sel-struktur-dan-fungsi-sel.html. (diakses pada tanggal 24 Agustus 2009). Anonim. 2009 (b). Patologi dan Kematian Sel Jaringan. http://patologiikrimah.blogspot.com/2009/02/penuaan-dan-kematian-sel-jaringan.html. (diakses pada tangal 25 Agustus 2009). Anonim. 2009 (c). Apoptosis. http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Apoptosis&action=edit&section=1. (diakses pada tanggal 25 Agustus 2009). Anonim. 2009 (d). Ketika Sel Berkurban. http://blog.agul.net/?p=29. (diakses pada tanggal 25 Agustus 2009). Anonim. 2009 (e). Sel (Biologi). http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sel_%28biologi%29&action=edit (diakses pada tanggal 26 Agustus 2009) Anonim. 2009 (f). Bagaimana Proses diferensiasi sel terjadi?. http://id.answers.yahoo.com/dir/index;_ylt=AoRmFCno9zV3H8yZ6Z1TOhjlRgx.;_ylv=3?sid=396545209&link=list (diakses pada tanggal 26 Agustus 2009).

Anonim. 2009 (g). Struktur dan Fungsi Sel. http://asnani-biology.blogspot.com/2009/04/struktur-dan-fungsi-sel.html (diakses pada tanggal 26 Agustus 2009). Anonim. 2009 (h). Sejarah Biologi Sel dan Molekuler. http://ilmupedia.com/akademik/biologi.html (diakses pada tanggal 26 Agustus 2009). Anonim. 2009 (i). Nukleus. http://www.biokurs.de/skripten/bilder/NUKLEUS.jpg diakses pada tanggal 26 Agustus 2009). Anonim. 2009 (j). Adaptasi dan Maladaptasi sel. http://www.unsoed.ac.id/cmsfak/UserFiles/File/PSKp//kul%201-3.ppt

ApoptosisPengertian apoptosisApoptosis (daribahasa Yunani apo = "dari" dan ptosis = "jatuh") adalah mekanismebiologiyang merupakan salah satu jeniskematian sel terprogram. Apoptosis digunakan olehorganismemultisel untuk membuangselyang sudah tidak diperlukan oleh tubuh. Apoptosis berbeda dengannekrosis.Apoptosis pada umumnya berlangsung seumur hidup dan bersifat menguntungkan bagitubuh, sedangkannekrosisadalah kematian sel yang disebabkan oleh kerusakan sel secara akut.Contoh nyata dari keuntungan apoptosis adalah pemisahan jari pada embrio. Apoptosis yangdialami oleh sel-sel yang terletak di antara jari menyebabkan masing-masing jari menjaditerpisah satu sama lain. Bila sel kehilangan kemampuan melakukan apoptosis maka sel tersebutdapat membelah secara tak terbatas dan akhirnya menjadi kanker.Apoptosis sebenarnya adalah suatu bentuk kematian sel yang didesain untuk menghilangkan sel-sel host yang tidak diinginkan melalui aktivasi serangkaian proses yang terprogam secarainternal melalui serangkaian prosuk gen. Sel mengaktifkan program apoptosis disebabkan oleh 1)sebagai respon stress terhadap kerusakan DNA, 2) Upaya menjaga kestabilan jumlah sel, 3)Sebagai bagian dari pertumbuhan, 4) Regulasi sistem imun, 5) Penuaan. Fungsi apoptosisHubungan dengan kerusakan sel atau infeksi Apoptosis dapat terjadi misalnya ketika sel mengalami kerusakan yang sudah tidak dapatdiperbaiki lagi. [ rujukan? ] Keputusan untuk melakukan apoptosis berasal dari sel itu sendiri, dari jaringan yang mengelilinginya, atau dari sel yang berasal dari sistem imun. [ rujukan? ] Bila sel kehilangan kemampuan untuk melakukan apoptosis (misalnya karena mutasi), atau bilainisiatif untuk melakukan apoptosis dihambat (oleh virus), sel yang rusak dapat terus membelahtanpa terbatas, yang akhirnya menjadi kanker. [

rujukan? ] Sebagai contoh, salah satu hal yangdilakukan oleh virus papilloma manusia (HPV) saat melakukan pembajakan sistem genetik seladalah menggunakan gen E6 yang mendegradasi protein p53. [ rujukan? ] Padahal protein p53berperan sangat penting pada mekanisme apoptosis. [ rujukan? ] Oleh karena itu, infeksi HPV dapatberakibat pada tumbuhnya kanker serviks. [ rujukan? ] Sebagai respon stress atau kerusakan DNA Kondisi yang mengakibatkan sel mengalami stress, misalnya kelaparan, atau kerusakan DNAakibat racun atau paparan terhadap ultraviolet atau radiasi (misalnya radiasi gamma atau sinarX), dapat menyebabkan sel memulai proses apoptosis. [ rujukan? ] Sebagai upaya menjaga kestabilan jumlah se

NEKROSIS Definisi : Nekrosis adalah kematian sel Penyebab : 1. Iskemia : kekurangan oksigen, metabolik lain 2. Infektif : bakteri, virus, dll 3. Fisiko-kimia : panas, sinas X, asam, dll Terdapat 2 tipe : a. Nekrosis koagulatif Disebabkan oleh denaturasi protein sekular yang menimbulkan massa padar, menetap larut dan dikeluarkan dari lisisberhari-hari/berminggu-minggu enzimatik. Tipe ini ditemukan setelah kehilangan pasokan darajh, contoh pada infark b. Nekrosis kolikuatif Terjadi pelaritan yang cepat dari sel yang mati. Terutama terjadi pada susunan saraf pusat. pemecahan mielin perlunakan otak likuefaksi, contoh: setelah sumbatan vaskular Penyebab Nekrosis 1. Iskhemi Iskhemi dapat terjadi karena perbekalan (supply) oksigen dan makanan untuk suatu alat tubuh

terputus. Iskhemi terjadi pada infak, yaitu kematian jaringan akibat penyumbatan pembuluh darah. Penyumbatan dapat terjadi akibat pembentukan trombus. Penyumbatan mengakibatkan anoxia. Nekrosis terutama terjadi apabila daerah yang terkena tidak mendapat pertolongan sirkulasi kolateral. Nekrosis lebih mudah terjadi pada jaringan-jaringan yang bersifat rentan terhadap anoxia. Jaringan yang sangat rentan terhadap anoxia ialah otak. 2. Agens biologik Toksin bakteri dapat mengakibatkan kerusakan dinding pembuluh darah dan trombosis. Toksin ini biasanya berasal dari bakteri-bakteri yang virulen, baik endo maupun eksotoksin. Bila toksin kurang keras, biasanya hanya mengakibatkan radang. Virus dan parasit dapat mengeluarkan berbagai enzim dan toksin, yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi jaringan, sehingga timbul nekrosis. 3. Agens kimia Dapat eksogen maupun endogen. Meskipun zat kimia merupakan juga merupakan juga zat yang biasa terdapat pada tubuh, seperti natrium dan glukose, tapi kalau konsentrasinya tinggi dapat menimbulkan nekrosis akibat gangguan keseimbangan kosmotik sel. Beberapa zat tertentu dalam konsentrasi yang rendah sudah dapat merupakan racun dan mematikan sel, sedang yang lain baru menimbulkan kerusakan jaringan bila konsentrasinya tinggi. 4. Agens fisik Trauma, suhu yang sangat ekstrem, baik panas maupun dingin, tenaga listrik, cahaya matahari, tenaga radiasi. Kerusakan sel dapat terjadi karena timbul kerusakan potoplasma akibat ionisasi atau tenaga fisik, sehingga timbul kekacauan tata kimia potoplasma dan inti. 5. Kerentanan (hypersensitivity) Kerentanan jaringan dapat timbul spontan atau secara didapat (acquired) dan menimbulkan reaksi imunologik. Pada seseorang bersensitif terhadap obat-obatan sulfa dapat timbul nekrosis pada epitel tubulus ginjal apabila ia makan obat-obatan sulfa. Juga dapat timbul nekrosis pada pembuluh-pembuluh darah. Dalam imunologi dikenal reaksi Schwartzman dan reaksi Arthus. sumber :http://denfirman.blogspot.com

JEJAS SEL DAN ADAPTASI


Manusia sesungguhnya, berupa kelompok sel-sel yang tersususn rapi dan rumit. Kesehatan perorangan berasal dari kesehatan selnya. Penyakit mencerminkan disfungsi sejumlah penting selsel. Dalam bereaksi terhadap tekanan yang progresif, sel akan : Menyesuaikan diri Terjadi jejas yang dapat pulih kembali (reversible) Mati Kelangsungan fungsi dan struktur fungsi sel normal, beradaptasi, terjejas ireversibel, mati merupakan keadaan yang berbatas kabur Semua tekanan atau pengaruh berbahaya berdampak pertama-tama pada tingkat molekul. Perubahan molekul dan fungsi selalui mendahului perubahan morfologi. Waktu yang diperlukan untuk menimbulkan perubahan yang tampak pada adaptasi sel, jejas dan kematian berbeda-beda sesuai dengan kemampuan pemilihan cara-cara yang dipakai untuk mendetiksi perubahan tersebut. Pertanyaannya 1. Apa yang menyebabkan terjadinya jejas, kematian sel dan adapatasi sel ? 2. Bagaimana Patogenesis dan Morfologi jejas sel ? 3. Apa yang dimaksud dengan penimbunan intrasel beserta contoh-contohnya, jelaskan ?

4. Pada organel-organel sel apa saja yang terjadi perubahan subsel, jelaskan ? 5. Ada beberapa proses adaptasi sel, jelaskan ? 6. Apa yang dimaksud dengan kalsifikasi dan perubahan hialin ?

Jawaban 1. Sebab-sebab Jejas, Kematian dan Adaptasi Sel adalah : a. Hipoksia : Penyebab jejas dan kematian sel paling penting Mempengaruhi respirasi oksidasi aerob Hilangnya perbekalan darah, penyebab hipoksia yang paling sering Oksigenasi darah yang tidak memadai karena kegagalan kardiores pirasi b. Bahan Kimia dan Obat : Penyebab penting adaptasi, jejas dan kematian sel. Setiap agen kimia atau obat dapat dilibatkan. Bahan yang tidak berbahaya bila konsentrasinya cukup sehingga dapat merusak lingkungan osmosa sel akan berakibat jejas atau kematian sel tersebut. Racun dapat menyebabkan kerusakan hebat pada sel dan kemungkinan kematian seluruh organisme. Masing-masing agen biasanya memiliki sasaran khusus dalam tubuh c. Agen Fisika : Trauma mekanik pada organel intrasel atau pada keadaan yang ekstrem, dapat merusak sel secara keseluruhan. Suhu rendah Vasokonstriksi dan mengacau perbekalan darah untuk sel -sel, bila suhu semakin rendah, air intrasel akan mengalami kristalisasi. Suhu tinggi yang merusak dapat membakar jaringan. Perubahan mendadak tekanan atmosfer juga dapat berakibat gangguan perbekalan darah untuk sel-sel. Penyakit caison Tenaga Radiasi menyebabkan ionisasi lansung senyawa kimia yang dikandung dalam sel, mutasi yang dapat berjejas atau membunuh sel-sel. Tenaga Listerik meyebabkan luka bakar, dapat mengganggu jalur konduksi syaraf dan sering berakibat kematian karena aritmia jantung. d. Agen Mikrobiologi : Virus dan rcketsia merupakan parasit obligat intrasel yang hidupnya hanya di dala sel -sel hidup. Virus yang menyebabkan perubahan pada sel : Sitolisis (dapat menyebabkan kematian sel), Onkogen (merangsang replikasi sel, berakibat tumor). Kuman dengan membebaskan eksotoksin dan endotoksin yang mampu mengakibatkan jejas sel, melepaskan enzim sehinga dapat merusak sel. Jamur, protozoa dan cacing dapat menyebabkan kerusakan dan penyakit pada sel e. Mekanisme Imun : Penyebab kerusakan sel dan penyakit pada sel. Antigen penyulut berasal dari eksogen (Resin tanaman beracun), endogen (antigen sel) yang menyebabkan penyakit autoimun.

f. Cacat Genitika : Kesalahan metabolisme keturunan dapat mengurangi sutu enzem sel. Dalam keadaan parah meyebabkan kelangsungan hidup sel tidak sesuai. Beberapa keadaan abnormal genetika diturunkan sebagai sifat kelua rga (anemia sel sabit).

g. Ketidak seimbangan Nutrisi : Defesiensi nutrisi penyebab jejas sel yang penting, mengancam menjadi masalah kehancuran di masa mendatang. Defesiensi protein-kalori, avitaminosis, kalori berlebihan dan diet kaya lemak merupakan masalah ketidakseimbangan nutrisi di dunia. h. Penuaan : Penuaan dan kematian sel merupakan akibat penentuan progresif selama jangka waktu hidup sel dengan informasi genitik yang tidak sesuai akan menghalangi fungsi normal sel. 2. Jejas pada sel mungkin mempunyai banyak penyebab, dan mungkin tidak mempunyai jalur akhir umum (common final pathway) kematian sel. Titik pantang balik, yaitu titik dimana kerusakan ireversibel dan kematian sel terjadi, masih banyak yang belum diketahui Jenis oksigen tereduksi parsial yang diaktifkan, merupakan perantara penting kematian sel dalam banyak keadan patologis. Rangkaian Peristiwa : JEJAS ISKEMI DAN HIPOKSIA Titik pertama serangan hipoksia ialah pernapasan aerob sel, yaitu fosforilasi oksidatif oleh mitokondria. Pembentukan ATP diperlambat atau berhenti. Penimbnan natrium intrasel dan difusi kalium keluar sel disusul oleh iso-osmosa air mengakibatkan pembengkakan sel yang akut. Glikolisis meyebabkan penimbunan asam laktat dan fosfat anorganik dari hidrolisis ester-ester fosfat akan menurunkan pH intrasel. Peristiwa selanjutnya terjadi pelepasan ribosom dan retikulum endoplasma bergranula dan penguraian polisom menjadi monosom. Terjadi gelembung di permukaan sel. Gangguan di atas reversibel bila oksigenasi segera dipulihkan, tetapi bila eskimi menetap maka terjadi jejas ireversibel. Jejas ireversibel diikuti secara morfologis oleh : Vakuolisasi berat mitokondria, termasuk krista-kristanya. Kerusakan parah selaput plasma Pembengkakan lisosom Bila daerah iskemi diperfusi kembali terjadi influks kalsium yang masif ke dalam sel sehingga timbul kepadatan amorf dalam matriks mitokondria Kemungkinan penyebab kerusakan membrane pada jejas iskemik yang ireversibel : Kehilangan ATP sel Kehilangan fosfolipid membran (sintesis berkurang atau degradasi meningkat) Produk-produk pemecahan lipid (asam lemak bebas, lisofosfolipid) Jenis oksigen beracun Perubahan sitoskelet Ruptur lisosom

Dua peristiwa secara tetap menandai sifat ireversibel : Ketidakmampuan mengubah disfungsi mitokondria (hilangnya fosforilasi oksidatif dan pembentukan ATP) terhadap reperfusi dan reoksigenasi. Timbulnya gangguan nyata pada fungsi selaput Mekanisme jejas ireversibel Perubahan struktur dan fungsi mitokondria dalam jaringan iskemi dan pengurangan ATP sebagi penyebab kematian sel. Kerusakan membran sel sebagai faktor utama patogenesis jejas sel yang ireversibel. Fosforilasi oksidatif dipengaruhi hipoksia, oleh karena itu mempengaruhi sintesis ATP yang vital, kerusakan selaput penting bagi timbulnya jejas letal sel, dan ion kalsium, pada beberapa keadaan, merupakan perantara penting bagi perubahan biokimia yang menyebabkan kematian sel. Jejas sel akibat radikal bebas : Beberapa bahan kimia menyebabkan jejas selaput secara langsung : keracunan merkuri klorida, air raksa mengikat gugus sulf-hidril selaput sel dan protein lain. Jejas radikal bebas, terutama oleh jenis oksigen yang diaktifkan, timbul sebagai jalur umum jejas sel pada berbagai proses, seperti jejas bahan kimia dan radiasi, keracunan oksigen dan gas lain-lain, penuaan sel, pembunuhan mikroba oleh sel fagosit, kerusakan radang, perusakan tumor oleh makrofag dan lain sebaginya. Apakah radikal bebas itu : Sejenis bahan kimia yang memiliki satu elektron tanpa pasangan pada orbit luarnya yang sangat reaktif dan tidak mantap. Dalam sel mengadakan reaksi dengan bahan kimia anorganik dan organik. Radikal dapat dibentuk dari dalam sel oleh absorbsi tenaga radiasi, reaksi reduksi-oksidasi dan metabolisme enzimatik bahan-bahan kimia eksogen. Sekali radikal bebas terbentuk, bagaimana tubuh dapat terbebas dari padanya ? Superoksida tidak mantap secara spontan dirusak menjadi oksigen dan hidrogen peroksida. Sejumlah enzim melakukan perlawanan terhadap radikal bebas. Logam-logam ikut serta pada pembersihan dengan cara menerima atau menyumbangkan elektron. Antioksidan endogen dan eksogen dapat menyekat permukaan radikal bebas atau membuatnya inaktif. Jejas sebagai akibat virus : Dampak sitopati langsung, dimana partikiel virus yang melakukan replikasi cepat mempengaruhi beberapa aspek metabolisme sehingga terjadi kerusakan sel. Induksi reaksi imun terhadap antigen virus atau antigen sel hasil perubahan virus dan perusakan sel oleh antibodi atau reaksi perantaraan sel. Penuaan sel : Dapat merupakan penimbunan progresif perubahan-perubahan struktur dan fungsi selama bertahun-tahun yang mengakibatkan kematian sel atau setidak-tidaknya pengurangan kemampuan sel bereaksi terhadap jejas. Penuaan sel sebagai akibat program genetika yang diwariskan dalam sel-sel dan sebagai akibat penimbunan jejas sel yang berulang sejalan dengan waktu. Morfologis jejas sel :

Perubahan Ultrastruktur : 1. Perubahan yang terdapat pada membran plasma, pembengkakkan sel, gelembung sitoplasama, penumpulan dan distrosi jonjot mikro, terjadi robekan pada selaput yang membungkus membran sel. 2. Perubahan mitokondria, menjadi padat, membengkak karena pergeseran ion, kepadatan amorf yang khas, terjadi robekan dan disusul perkapuran. 3. Pelebaran retikulum endoplasma, diikuti pelepasan ribosom dan pecahnya polisom disertai pengurangan protein, terjadi fragmentasi progresif retikulum endoplasma dan pembentukan gambaran mielin. 4. Perubahan pada lisosom, dapat jernih dan sering bengkak, setelah jejas awitan jejas letal, lisosom robek dan dapat menghilang ditemukan sebagai bangkai (sel mati) Gambaran Mikroskop Cahaya : 1. Jejas reversibel (perubahan morfologis sebagi akibat jejas non letal sel : degenerasi), pembengkakkan sel dan perubahan berlemak. 2. Kematian sel Nekrosis. Nekrosis dapat didefinisikan sebagai perubahan morfologi akibat tindakan degradasi progresif oleh enzim-enzim pada sel yang terjejas letal. 3. Dua proses penting : (1) pencernaan sel oleh enzim menyebabkan nekrosis likuefaktif ,(2) denaturasi protein menimbulkan nekrosis koagulatif. 4. Nekrosis kaseosa (gambaran putih seperti keju pada daerah nekrosis), merupakan bentuk lain nekrosis koagulatif, dijumpai paling sering pada fokus-fokus infeksi tuberkulosis. Apoptosis ialah gambaran morfologi nyata kematian sel yang tidak lazim yang mengenai satu sel atau kelompok sel. Nekrosis lemak oleh enzim, adanya area-area fokal kerusakan lemak sebagai akibat dilepaskan secara abnormal enzim-enzim pankreas yang diaktifkan ke dalam jaringan pankreas dan rongga peritoneum. (Nekrosis pankreas akut). Asam lemak yang dilepaskan bergabung dengan kalsium menghasilkan daerah-derah yang tampak makro putih berkapur. 5. Nekrosis fibrinoid : Jejas imunologi terhadap arteri dan arteriol yang ditandai oleh penimbunan massa fibrin yang berwarna merah muda homegen, protein plasma, imunoglobulin, dalam dinding pembuluh yang terkena. Merupakan bentuk nyata reaksi jaringan terhadap bentuk-bentuk tertentu jejas. 6. Nekrosis gangrenosa : diterapkan pada tungkai bawah yang kehilangan perbekalan darah dan selanjutnya diserang kuman. Bila gambaran koagulatif menonjol, dinamakan ganren kering, bila invasi kuman mengakibatkan likuefaksi, disebut gangren basah 3. Penimbunan Intrasel : Adanya beberapa metabolit normal berlebihan pada sel. Contoh : Penimbunan glikogen pada penderita diabetes yang kadar glokusanya tinggi terus. Penimbunan beberapa produk abnormal yang tidak dapat dimetabolisme.Contoh : Produk abnormal sebagai hasil kesalahan metabolisme keturunan Sintesis intrasel berlebih beberapa produk. Contoh : Sintesis berlebihan pigmen melanin yang dijumpai pada penyakit tertentu, misalnya insufisiensi adrenal Lemak : Perubahan berlemak merupakan penimbunan abnormal lemak dalam sel parenkin. Penumpukan vakuol lemak dalam sel, baik kecil maupun besar, mencerminkan peningkatan bsolut lemak intrasel. Agar dikeluarkan oleh hati, trigliserida intrasel harus digabungkan dengan molekul apoprotein khusus yang disebut protein penerima lipid untuk membentuk lipoprotein. Perubahan berlemak paling sering terjadi pada hati dan jantung

Gangguan yang menyebabkan hati berlemak : Pemasukan berlebih asam lemak bebas ke dalam hati. Sentesis asam lemak dari asetat meningkat. Oksidasi asam lemak berkurang. Peningkatan esterifikasi asam lemak menjadi trigliserida, sehingga terjadi peningkatan gliserofosfat-alfa, tulang punggung karbohidrat yang terlibat dalam seterifikasi tersebut. Pengurangan sintesis apoprotein. Sekresi lipoprotein dari hati terganggu. Nomor 2 dan 3 menyebabkan peningkatan esterifikasi asam asam lemak menjadi triglisirida Penimbunan lipid lainnya : Penimbunan intraseluler kolesterol dan ester kolesterol juga menonjol pada penyakit-penyakit tertentu, yang paling penting adalah ateroskloris. Penimbunan intrseluler kolesterol dan ester kolesterol dalam makrofag juga khas pada keadaan hiperlipidemi herediter dan diklapat (akuesita). Pertumbuhan lemak ke dalan (infiltrasi stroma oleh lemak) merupakan penimbunan jaringan adiposa dalam stroma jaringan ikat sutu parenkin yang sering dijumpai pada jantung dan pankreas. Penimbunan protein dapat dijumpai dalam sel karena kelebihan yang ada pada sel atau karena sel mensentesis protein dalam jumlah berlebihan. Endapan berlebihan intraselular bahan glikogen tempak pada penderita kelainan metabolisme glokusa atau glikogen (penderita diabetes mellitus). Glikogen juga ditimbun di dalam sel-sel dalam kelompok kelainan yang berhubungan erat, semua bersifat genetik, yang secara bersamaan disebut penyakit penimbunan glikogen atau glikogenoses. Kompleks lipid dan karbohidrat. Penimbunan intraselular berbagai metabolit abnormal ditandai oleh peningkatan data tentang kesalahan metabolisme keturunan yang semua dinamakan penyakit penimbunan Pigmen : Pigmen Eksogen Pencemaran udara yang parah menyebabkan penimbunan debu pada paru-paru seperti pada pekekerja tambang (antrokosis, pneumokoniosis pekerja tambang, fibroaia progresif massif paru, siderosis, sideroselikosis) Tattoo dapat menyebabkan pigmentasi yang menetap seumur hidup dalam makrofag kulit yang kadang-kadang mengganggu. Pigmen endogen : 1. Hemosiderin 2. Hematin 3. Bilirubin 4. Lipofusin 5. Melanin 1, 2, dan 3 berasal dari haemoglobin Hemosiderin : Ialah pigmen kuning emas sampai coklat, granular atau berkristal, mengandung zat besi yang segera tampak dengan mikroskop cahaya. Pigmentasi hemosiderin pada sel dan jaringan terjadi sebagai proses setempat atau sistemik di seluruh tubuh. Pada payah jantung yang berkepanjangan paru merupakan contoh yang baik untuk bendungan

lama yang meyebabkan penampakan hemosiderin dalam sel fagosit mononuklir dalam alveoli. Makrofag berpigmen ini sering disebut sel payah jantung. Hemosiderin sistemik dijumpai bila terjadi kelimpahan besi dalam tubuh, hemokromatosis merupakan contoh paling eksterm kelimpahan sistemik besi. Pigmen dan kandungan besi ini dapat dimobilisasi sehingga hemosiderin akan menghilang jika penyebab kelebihan zat besi hilang. Hematin : Pigmen yang berasal dari hemaglobin yang relatif jarang dan susunannya tidak menentu. Pigmen ini tampak terjadi pada hemolisis massif sel darah merah, seperti yang terjadi pada reaksi tranfusi atau pada destruksi eritosit oleh parasit malaria. Pigmen ini juga kuning emas, tetapi jelas terbatas pada sel-sel retikuloendotel dalam tubuh. Masih mengandung zat besi. Bilirubin : Pigmen empedu normal kuning coklat, hijau, juga berasal dari hemoglobin, tetapi tidak lagi mengandung zat besi. Peningkatan kadar bilirubin plasma (hiperbilirubinemia) dapat menyebabkan berbagai kelainan yang merusak metabolisme normal bilirubin, misalnya peningkatan pemecahan sel darah merah (ikterus hemolisis) Pada heperbilirubinemia, jaringan dan cairan tubuh terwarnai oleh empedu yang menyebabkan kulit dan sklera berwarna kuning (ikterus). Bilirubin tampak secara morfologi dalan sel-sel hati bila ikterus sudah sangat nyata. Lifopusin : Pigmen yang tidak larut yang juga dikenal sebagai lipokrom, pigmen kerusakan (wear-and-tear) atau penuaan. Lipofusin tampak dalam sel yang mengalami perubahan progresif, lambat seperti pada atrofi yang terjadi pada usia lanjut dan penderita malnutrisi berat yang disertai pengisutan alat tubuh (atrofi coklat). Lipofusin merupakan sisa tidak tercerna vakuol autofagi yang terbentuk selama penuaan dan atrofi. Pigmen ini berasal dari peroksidasi lipid poli tidak jenuh membran subsel. Melanin : Berasal dari bahasa Yunani melas yang berarti hitam, merupakan pigmen endogen bukan berasal dari hemoglobin, berwarna coklat hitam yang dibentuk bila enzim tirisine mengkatalis oksidasi tirosin menjadi dil-idroksifelalanin (DOPA). Melanosit normal terapat pada kulit, folikel rambut, saluran uvea dan lain-lain. Pada manusia, sistesis melanin diatur oleh kelenjar adrenal dan hipofisis. Albino merupakan penderita kehilangan tirosinase herediter, tidak mampu mensintesis melanin dan sangat peka dan mudah terjejas cahaya matahari serta kanker kulit.

4. Perubahan sub sel : Membran dan kerangka membran : kerusakan selaput yang reversibel dan ireversibel, kelainan lain pada struktur molekul membran dan komponen-komponen yang terkait, beberapa bersifat genetik.

Lisosom : (1). Heterogasitosis, bahan-bahan dari lingkungan eksterna diambil melalui proses endositosis (cara khusus : fagositosis, dari makromolekul : pinositosis). Contoh : pengambilan dan pencernaan kuman oleh leukosit neitrofil. (2). Autofagositosis, organel sel mengalami jejas setempat dan kemudian harus dicerna bila funsi sel normal ingin dipertahankan, lisosom dilibatkan dalam autodigesti (autolisosom) dan prosesnya disebut autofagi. Induksi (Hipertrofi) Retikulum Endoplasma Polos : Penggunaan barbiturat jangka lama akan berakibat pemendekan progresif jangka waktu tidur, penderita mengalami adaptasi terhadap obat. Dasar adaptasi ini ditelusuri melalui induksi meningkatnya volume (hipertrofi) retikulum endoplasma polos (SER) hepatosit. Mitokondria : Disfungsi mitokondria berperan penting pada jejas akut sel, berbagai perubahan dalam jumlah, ukuran dan bentuk terjadi pada keadaan patologi. Contoh : keadaan abnormal (megamitokondria) pada hati penderita alkoholisme. Sitoskelet, keadaan yang abnormal mendasari berbagai keadaan patologi yang mencerminkan gangguan fungsi sel, seperti gerakan sel dan gerakan organel intrasel atau pada beberapa keadaan penimbunan bahan berfibril intraselular. Sitoskelet tersusun dari mikrotubuli, filamen aktin tipis, filamin miosin tebal, berbagai kelas filamen sedang, beberapa bukan filamin yang tidak mengalami polimerasasi lainnya. Patologi sitoseklet akan segera mengungkap lebih banyak keadaan dimana kelainan sitoseklet berperan pada perkembangan penyakit. 5. Adaptasi sel : Sel-sel menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan mikronya. Fungsi dan morfologi sel normal tidak berada dalam keadaan yang kaku, tetapi mengikuti perubahan struktur dan fungsi cairan yang mencerminkan perubahan tantangan hidup. Sebagi contoh : induksi SER, Atrofi, Hipertrofi. Atropi : Pengisutan ukuran sel akibat kehilangan bahan sel. Penyebab : (1) berkurangnya beban kerja, (2) hilangnya persyarafan, (3) berkurangnya perbekalan darah, (4) nutrisi yang tidak memadai, (5) hilangnya rangsang hormon. Perubahan sel yang mendasai sifatnya sama yaitu kemunduran sel sampai ukuran kecil. Pada banyak keadaan atrofi disertai kenaikan nyata jumlah vakuol autofagi. Hipertrofi : Hipertropi menyatakan peningkatan ukuran sel dan perubahan ini, meningkatkan ukuran alat tubuh. Disebabkan oleh kenaikan tantangan fungsi atau rangsang hormon khas dan dapat terjadi dalam keadaan fisiologi dan patologi. Perubahan lingkungan yang menyebabkan hipertrofi otot bercorak terjadi terutama sebagai peningkatan beban kerja. Contoh : tekanan darah tinggi pada jantung, otot tulang karena kerja berat. Ada batasnya hipertrofi dimana pembesaran yang terjadi tidak mampu lagi memberikan kompensasi sehingga terjadi, misalnya payah jantung. 6. Klasifikasi : Kalsifikasi patologi merupakan proses pengendapan abnormal garam-garam kalsium, disertai sedikit besi, magnsium dan garam-garam mineral lainnya. Kalsifikasi distrofik : permulaan dan kelanjutan yang akhirnya menyebabkan pembentukan kristal kalsium fosfat. Kasus yang sering terjadi pada penyakit kalsifikasi katup dan ateroklerosis. Kalsifikasi metastatik : Perubahan ini terjadi pada jaringan normal bila terjadi hiperkalsemia.

Kalsifikasi metastatik dapat terjadi luas ke seluruh tubuh, tetapi pada dasarnya mengenai jaringan interstisium pembuluh-pembuluh darah, ginjal, jantung, mukos lambung. Perubahan hialin : Pengendapan hialin terjadi di dalam sel, diantara sel-sel dan lebih luas lagi sebagai hialinisasi jaringan. Hialin menyatakan sifat setiap bahan homogen, terang dan berwarn merah muda dalam potongan jaringan rutin seperti : (1) parut jaringan ikat berkolagen padat dapat memberi gambaran hialin homogen merah muda, (2) penebalan dan reduplikasi selaput basal (arteriolosklerosis hialin), (3) Endapan sejenis protein ekstraselular abnormal padaamiloidosis, tampak hialin dengan mikroskop cahaya. (4) Tetes protein yang direabsorpsi yang dijumpai pada sel epetel tubuli ginjal , (5) Infeksi virus tertentu yang ditandai adanya inklusi hialin virus dalam sel-sel yang terlibat, (6) Pada alkoholik kronik, terutam bila menyebabkan sirosis hati, hepatosit dapat membentuk endapan hialin sitoplasma Istilah hialin diterapkan pada golongan heterogen perubahan anatomi sekedar dalam usaha untuk menggolongkan penampilannya dalam potongan jaringan yang diwarnai.

Pengobatan Nekrosis

Pengobatan nekrosis biasanya melibatkan dua proses yang berbeda. Biasanya, penyebab yang mendasari nekrosis yang harus diperlakukan sebelum jaringan mati sendiri dapat ditangani. Sebagai contoh, seorang korban gigitan ular atau laba-laba akan menerima anti-racun untuk menghentikan penyebaran racun, sedangkan pasien yang terinfeksi akan menerima antibiotik. Bahkan setelah penyebab awal nekrosis telah dihentikan, jaringan nekrotik akan tetap dalam tubuh. respon kekebalan tubuh untuk apoptosis, melanggar otomatis turun dan daur ulang bahan sel, tidak dipicu oleh kematian sel nekrotik. Terapi standar nekrosis (luka, luka baring, luka bakar dll) adalah operasi pengangkatan jaringan nekrotik. Tergantung pada beratnya nekrosis, hal ini bisa berkisar dari penghapusan patch kecil dari kulit, untuk melengkapi amputasi anggota badan atau organ yang terkena. penghapusan Kimia, melalui agen debriding enzimatik, adalah pilihan lain. Dalam kasus tertentu, terapi belatung khusus telah digunakan dengan hasil yang baik.