Anda di halaman 1dari 11

BLOK STOMATOGNATI 2

DIMENSI VERTIKAL DI BIDANG KEDOKTERAN GIGI

D I S U S U N OLEH: PUTERI MENTARI SIREGAR 1112012025

FAKULTAS KEDOKTERAN PROGRAM STUDI ILMU KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS YARSI 2013 2014

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG Latar belakang penulisan makalah ini adalah sebagai persyaratan perkuliahan. Di dalam makalah ini akan dibahas mengenai dimensi vertikal di bidang kedokteran gigi. Diharapkan makalah ini dapat meningkatkan pengetahuan mengenai apa itu dimensi dan aspek-aspek yang menyertainya. Fungsi gigi-geligi adalah untuk mengunyah makanan agar mudah dicerna, untuk berbicara dan untuk melindungi komponen yang ada di dalamnya. Namun selain fungsi tersebut, gigi juga berperan dalam estetika, terutama pada estetika wajah. Sayangnya, banyak orang yang belum menyadari pentingnya gigi. Tingkat kesadaran yang rendah ini menyebabkan masyarakat tidak menjaga kesehatan giginya dengan baik dan benar. Oleh karena itu banyak terdapat kasus kehilangan gigi secara dini. Hal tersebut di atas merupakan tugas dokter gigi untuk mengembalikan fungsi pengunyahan seperti sebelum gigi tersebut hilang. Saat ini banyak orang yang datang ke dokter gigi bukan hanya karena terdapat masalah pada giginya, melainkan terdapat masalah pada estetika wajah. Oleh karena itu dokter gigi tidak hanya mengembalikan fungsi gigi seperti semula (sebelum kehilangan gigi) dan mengobati keluhan pasien, tapi memperhatikan estetika, terutama estetika wajah. Kasus kehilangan gigi juga dapat menyebabkan perubahan tinggi tulang alveolar dan penurunan facial height, hal ini berdampak pada perubahan kontur wajah. Perubahan kontur wajah ini akan menyebabkan perubahan penampilan seseorang. Untuk memperbaiki penampilan ini, dibutuhkan penggantian gigi yang hilang menggunakan gigi tiruan. Untuk itu, dibutuhkan pengukuran dimensi vertikal, DV (vertical dimension). Secara umum, dimensi vertikal dideskripsikan sebagai 1/3 panjang wajah bagian bawah. Terdapat 2 macam dimensi vertikal, yaitu dimensi vertikal fisiologis, DVF (physiologic rest position) dan dimensi vertikal oklusal, DVO (occlusal vertical dimension). Apabila dimensi vertikal tidak ditetapkan secara benar, hasilnya bukan hanya kehilangan efisiensi pengunyahan, tapi juga kerusakan pada residual ridge dan pada sendi temporomandibula. Pada kasus rahang tidak bergigi, hampir tidak mungkin untuk menentukan dimensi vertikal sebagaimana yang bisa dilakukan pada rahang yang bergigi. Metode fungsional yang biasanya digunakan untuk mengukur dimensi vertikal saat gigi beroklusi adalah menggunakan posisi mandibula saat istirahat, galangan gigit dan pada saat bicara (fonetik). B. TUJUAN Tujuan pembuatan makalah ini adalah: 1. Untuk memberikan pemahaman mengenai definisi dimensi vertikal. 2. Memberikan pemahaman mengenai perbedaan Dimensi Vertikal Oklusal dan Dimensi Vertikal Fisiologis.

3. Memberikan pemahaman metode yang dapat digunakan untuk menetapkan dimensi vertikal seseorang. 4. Memberikan penjelasan mengenai Teori Leonardo da Vinci I dan Teori Leonardo da Vinci II. 5. Menjelaskan faktor apa saja yang mempengaruhi dimensi vertikal seseorang. C. MANFAAT Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat besar dalam memberikan pemahaman mengenai dimensi vertikal di bidang kedokteran gigi secara sederhana khususnya bagi mahasiswa.

TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI Dimensi vertikal, DV (vertical dimension) merupakan salah satu komponen penting dalam perawatan gigi tiruan. Hal ini disebabkan kaeran fungsi mastikasi, berbicara, maupun estetika wajah, semuanya bergantung pada hubungan vertikal dan horizontal mandibular dengan maksila. Menurut The Glossary of Prosthodontic Terms Journal of Prosthetic Dentistry Volume-94 no. 1, pengertian dimensi vertikal adalah jarak antara 2 tanda anatomis (biasanya 1 titik pada ujung hidung dan titik lainnya pada dagu), dimana 1 titik pada daerah yang tidak bergeraj dan titik lainnya pada daerah anatomis yang dapat bergerak. Menurut Miller, penentuan dimensi vertikal yang tepat sangatlah penting, tidak hanya untuk membangun oklusi yang harmonis, tetapi juga untuk kenyamanan dan estetika wajah pasien. Apabila dimensi vertikal tidak ditentukan dengan tepat, selain mengakibatkan berkurangnya efisiensi mastikasi, tetapi juga dapat merusak sisa ridge (residual ridge), gigi-geligi yang tersisa dan sendi temporomandibular. Dimensi vertikal biasanya didefinisikan juga sebagai sepertiga panjang wajah bagian bawah. B. JENIS DIMENSI VERTIKAL Pada umumnya, terdapat dua jenis dimensi vertikal yang dapat diukur, yaitu dimensi vertikal oklusal, DVO (occlusal vertical dimension) dan dimensi vertikal fisiologis, DVF (rest vertical dimension). DVO adalah jarak vertikal rahang atas dan rahang bawah saat gigi-geligi beroklusi. DVF adalah jarak vertikal saat otot-otot pembuka dan penutup mandibular dalam kondisi istirahat pada tonic contraction, dimana gigi-geligi tidak saling berkontak. Dawson (1974), Sharry (1974) dan Boucher (1977) menggunakan dimensi vertical ini sebagai itik awal dari penentuan dimensi vertical oklusal, karena menurut banyak ahli, posisi istirahat rahang bawah terhadap muka dan kepala adalah tetap seumur hidup. Oleh karena itu, DVF selalu lebih besar daripada DVO. Selisih antara DVF dengan DVO disebut freeway space atau interocclusal gap atau interocclusal clearance. Besar rata-rata freeway space yang dianggap normal adalah 2 sampai 4 mm. C. METODE PENENTUAN DIMENSI VERTIKAL Begitu besarnya peran dimensi vertikal dalam perawatan prostodontik, maka penentuan dimensi vertikal harus dilakukan setepat mungkin (atau mendekati tepat). Dalam menentukan dimensi vertikal, terdapat beragam metode yang dapat digunakan antara lain dengan metode physiologic rest position, fonetik, estetik, fenomena menelan, biometric fasial (facial biometric), dan sefalometri.

Secara umum, Boucher mengemukakan terdapat dua kategori penentuan dimensi vertikal, yaitu dengan metode mekanis dan metode fisiologis. Metode penentuan dimensi vertikal yang termasuk metode mekanis antara lain dengan menggunakan hubungan ridge (ridge relation), pengukuran protesa sebelumnya, dan catatan preekstraksi. Metode mekanikal, yaitu: 1. Hubungan ridge (ridge relation) a. Jarak dari insisif papilla ke insisor mandibular b. Kesejajaran ridge 2. Ukuran gigi-geligi yang dulu 3. Catatam pre-ekstraksi a. Radigraf profil b. Model gigi pada oklusi c. Ukuran wajah Sedangkan metode penentuan dimensi vertikal yang termauk metode fisiologis, antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. Metode physiologic rest position Metode fonetik dan estetik Metode batas ambang penelanan (swallowing threshold) Indra peraba Persepsi kenyamanan yang dilaporkan pasien

Sedangkan, teknik pengukuran dimensi vertikal yang paling mudah, sederhana dan praktis adalah dengan pengukuran hidung-dagu yang dikemukakan oleh Niswonger.

Pada kasus-kasus rahang tidak bergigi, dimana tidak terdapat oklusi yang stabil, menurut Pleasure, DVO dapat ditentukan dengan mengurangi DVF dengan besar ratarata freeway space (2-4mm). Oleh sebab itu, penentuan DVF yang tepat atau mendekati tepat sangatlah penting. Salah satu metode yang sering digunakan untuk menentukan DVF adalah dengan metode Phsiologic Rest Position. Metode Phsiologic Rest Position ini banyak digunakan oleh dokter gigi sebagai titik awal penentuan dimensi vertikal. Pada penentuan DVF dengan metode Phsiologic Rest Position, posisi kepala maupun rahang sangatlah penting karena pada dasarnya DVF merupakan postural position dimana beberapa kelompok besar otot kepala dan leher berada pada kondisi seimbang tonus (tonic equilibrium). Posisi rahang pada saat istirahat diasumsikan sebagai posisi dimana mandibular tidak melakukan gerakan fungsional. Sedangkan posisi kepala pada saat istirahat adalah ketika posisi kepala tegak lurus tanpa dukungan kepala (headrest), dimana Frankfort plane (FP) sejajar terhadap lantai. (Gambar 1)

Gambar 1. Posisi kepala saat istirahat. Frankfort Plane (FP) sejajar dengan lantai dan Garis Camper (CP) atau Campers Line sejajar dengan bidang oklusal (OP) atau occlusal plane.

Kemudian, setelah didapat posisi kepala yang benar, barulah dilakuakn pengukuran DVF. Salah satu cara pengukuran DVF pada metode Phsiologic Rest Position dapat dilakukan dengan cara pengukuran hidung-dagu, yaitu dengan menggunakan tanda anatomis Subnation-Gnathion, dan teknik pengukurannya mengggunakan metode Wilis, yaitu dengan menggunakan alat Boley gauge. (Gambar 2)

Gambar 2. Boley Gauge

D. TEORI LEONARDO DA VINCI Teori mengenai proporsi tubuh manusia sudah berkembang cukup lama di Eropa. Diawali pada abad ke-5 SM, seorang seniman bernama Polycleitus membuat sebuah patung manusia yang proporsi setiap bagian tubuhnya dianggap ideal, yang dinamakan Cannon. Kemudian pada abad pertama SM, seorang arsitektur Roma,

Vitruvius Polio dalam bukunya yang berjudul The Ten Books of Architecture menerangkan mengenai skema proporsi tubuh manusia. Skema Vitruvius mengenai proporsi tubuh manusia dinamakan Vitruvian Man karena secara garis besar dibuat berdasarkan skema proporsi tubuh manusia yang dikemukakan oleh Vitruvius. Penjabaran mengenai Vitruvian Man yang dituangkan da Vinci ke dalam buku catatannya, dimana ia menjelaskan dengan detail mengenai proporsi bagian tubuh manusia baik secara vertikal maupun horizontak secara keseluruhan yang salah satunya menjelaskan mengenai proporsi kepala dan wajah manusia.

Gambar 3. Vitruvian Man

Pada buku catatannya tersebut, da Vinci mengemukakan bahwa: a. Panjang wajah secara vertikal, yaitu dari garis rambut sampai dasar dagu sama dengan 1/10 tinggi manusia, dan panjang kepala secara vertikal, yaitu dari dasar dagu sampai puncak kepala sama dengan 1/8 tinggi badan, (From the roots of the hair to the bottom of the chin is the tenth of a mans height; from the bottom of the chin to the top of his head is one eighth of his height) Teori Leonardo da Vinci I. b. Wajah dapat dibagi menjadi 3 bagian yang sama panjang, yang disebut facial trisection, yaitu sepertiga wajah bagian atas, dari garis rambut sampai alis mata; sepertiga wajah bagian tengah, dari alis mata sampai dasar hidung atau Subnasion; dan sepertiga wajah bagian bawah, dari dasar hidung atau Subnasion sampai ke dasar dagu atau Gnathion; dimana ketiga bagian wajah tersebut sama panjangnya dengan panjang telinga, (The distance from the bottom of the chin to the nose and from the roots of the hair to the eyebrows is, in each case the same, and like the ear, a third of the face) Teori Leonardo da Vinci II Dari Teori Leonardo da Vinci I, dikembangkan sehingga didapatkan proporsi dimensi vertikal fisiologis (DVF), karena dimensi vertikal merupakan sepertiga panjang wajah bagian bawah, yaitu dari dasar hidung (Subnasion, Sn) sampai dasar dagu (Gnathion, Gn), yaitu: a. DVF = 1/30 tinggi badan.

DVF

= 1/3 wajah bagian bawah


= 1/3 * 1/10 tinggi badan (panjang wajah) = 1/30 tinggi badan

b. DVF = 4/15 panjang kepala. DVF : panjang kepala = 1/30 tinggi badan : 1/8 tinggi badan DVF = 1/30 : 1/8 = 4/15 panjang kepala

Selain itu, juga bisa dikembangkan lebih lanjut sehingga didapatkan proporsi panjang dari puncak kepala (Vertex, V) sampai dasar hidung (Subnasion, Sn), yaitu: a. V Sn = 11/120 tinggi badan. V Sn = panjang kepala DVF (Sn - Gn) = 1/8 tinggi badan 1/30 tinggi badan = 11/120 tinggi badan b. V Sn = 11/15 panjang kepala V Sn = panjang kepala DVF (Sn - Gn) = 1 4/15 panjang kepala = 11/15 panjang kepala atau V Sn : panjang kepala = 11/120 tinggi badan : 1/8 tinggi badan V Sn = 11/120 : 1/8 = 11/15 panjang kepala

Kemudian, bila panjang DVF (Sn-Gn) dibandingkan dengan panjang V-Sn, maka: DVF (Sn -Gn) : V SN = 4/15 panjang kepala : 11/15 panjang kepala = 4:11 DVF (Sn -Gn) = 4/15 V - Sn

Sedangkan untuk Teori Leonardo da Vinci II, maka harus mengetahui anatomi telinga, khususnya anatomi daun telinga. Secara umum anatomi telinga dibagi menjadi 3 bagian, yaitu anatomi telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam. Tinggi badan, yang merupakan landasan Teori Leonardo da Vinci mengenai proporsi tubuh manusia, kepala, wajah, telinga, dan dimensi vertikal merupakan tanda-tanda anatomis tubuh. Semua tanda anatomis tubuh manusia sangat dipengaruhi oleh proses pertumbuhan. Setiap tanda anatomis tersebut akan terus mengalami perubahan dan perkembangan selama proses pertumbuhan manusia berlangsung. E. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DIMENSI VERTIKAL Faktor-faktor yang mempengaruhi dimensi vertikal, yaitu: Suku Ras Bentuk wajah Profil wajah

KESIMPULAN
1. Pertumbuhan dan perkembangan manusia mempengaruhi dimensi vertikal seseorang. 2. Terdapat dua jenis dimensi vertikal, yaitu: Dimensi Vertikal Oklusal dan Dimensi Vertikal Fisiologis. 3. Metode penetapan dimensi vertikal adalah dengan Metode Physiologic Rest Position dan Teori Leonardo da Vinci I dan II. 4. Dimensi vertikal setiap orang berbeda dipengaruhi oleh ras, suku dan profil wajah.

DAFTAR PUSTAKA
The Glossary of Prosthodontic Terms Journal of Prosthetic Dentistry Volume-94 no. 1 Chandra. 2004. Textbook of Dental and Oral Anatomy Physiology and Occlusion. New Delhi: Jaypee Brothers Publishers Hamzah, Zahreni drg, dkk. 2009. Buku Petunjuk Praktikum Fisiologi Blog Stomatognatik. Jember: Unej Hamzah, Zahreni; dkk. 2008. Petunjuk Praktikum Fisiologi Manusia. Jember : Bag. Biomedik Lab Fisiologi Manusia FKG Universitas Jember. Soeyoto; Wiyono, Adi; Nindyo P. Aris. 2009. Gigi dan Mulut. http://rssm. Iwarp.com/konsultasi.html. Thomson, Hamish. 2007. Oklusi Edisi 2. Jakarta: EGC