Anda di halaman 1dari 22

KONSEP GENDER DALAM PANDANGAN ISLAM

DI SUSUN OLEH:


M. NUR ALI HABIBI
NIM : 130510124
KELAS : I E







UNIVERSITAS MALIKUSSALEH
LHOKSEUMAWE
TAHUN 2013 - 2014




i

KATA PENGANTAR

Rasa syukur yang dalam Penulis sampaikan ke hadiran Tuhan Yang Maha
Pemurah, karena berkat kemurahanNya makalah ini dapat Penulis selesaikan sesuai
yang diharapkan. Dalam makalah ini Penulis membahas KONSEP GENDER
DALAM PEMAHAMAN ISLAM.
Makalah ini dibuat dalam rangka memperdalam pemahaman konsep gender
dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus melakukan apa yang menjadi tugas
mahasiswa
Dalam proses pendalaman materi ini, tentunya kami mendapatkan
bimbingan, arahan, koreksi dan saran, untuk itu rasa terima kasih yang dalam-
dalamnya Penulis sampaikan kepada pembaca sekalian, serta teman-teman semua.
Demikian makalah ini saya buat semoga bermanfaat,

Lhokseumawe, 30 Oktober 2013

M. NUR ALI HABIBI








ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................................. ii
BAB I. PENDAHULUAN ............................................................................ 1
A. Latar Belakang ................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .............................................................................. 2
C. Tujuan penulisan ................................................................................ 2

BAB II. PEMBAHASAN ............................................................................. 4
A. Definisi Gender .................................................................................. 4
B. Konsep Gender ................................................................................... 3
C. Peran gender ....................................................................................... 5
D. Peran Perempuan Dalam Islam .......................................................... 7
E. Konsep Gender Dalam Islam ............................................................. 8

BAB. III. PENUTUP .................................................................................. 17
A. Kesimpulan ...................................................................................... 17
B. Saran ................................................................................................. 17

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 18












1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di abad pertengahan, pada umumnya kedudukan kaum wanita di benua Barat
sangat terkungkung; baik dalam kehidupan rumah tangga sebagai isteri, apalagi yang
berkenaan dengan hak-hak kemasyarakatan. Posisi kaum wanita pada saat itu tak
begitu jauh bedanya dengan kedudukan perbudakan yang diperlakukan semena-mena.
Pada waktu itulah timbul di benua Eropa gerakan perempuan yang dinamakan
gerakan emansipasi. Ketika wacana teologis tentang perempuan dibuka dan menjadi
diskursus yang cukup ramai, maka pembahasan dogma-dogma agama mulai muncul
dan berkembang. Diawali dengan anggapan bahwa konstruksi gender dalam
masyarakat sangat dipengaruhi oleh agama dan ideologi yang dianutnya, maka
wacana teologi gender mulai bergulir. Anggapan bahwa pemahaman agama bias
gender membuat arah baru gerakan feminisme, di mana para feminis mulai
menawarkan pemaknaan baru terhadap agama sekaligus membongkar dogma-dogma
agama yang telah mapan dan dianggap membelenggu kaum perempuan. Hal ini
hampir terjadi di semua agama. Menurut sebuah tulisan yang mengatakan bahwa
pada tahun 1895 misalnya, Elizabeth Cady berkomentar dan pandangan Injil terhadap
perempuan dalam tulisannya yang terkenal yaitu The Women Bible.
Gender juga mulai menjadi topik hangat ketika lahir tokoh emansipasi wanita
R.A Kartini, sehingga Islam juga membicarakan permasalahan gender dalam bnetuk
yang bedasarkan argumentasi dalam Al-Quran dan Hadist. Pembahasan yang
2

ditekankan pada makna Gender dan konsep pemahaman Gender dalam Islam,
dimaksudkan untuk member penerangan kepada Masyarakat Islam tentang Konsep
gender dalam pemahaman Islam.
Berdasarkan permasalahan yang telah penulis sebutkan diatas, maka penulis
ingin menyusun sebuah makalah yang berjudul Konsep Gender Dalam pemahaman
Islam.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengertian dari Gender?
2. Bagaimana Gender dalam pemahaman Islam?
3. Bagaimana peran gender?
4. Bagaimana peran perempuan dalam islam?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian dari Gender?
2. Untuk mengetahui Gender dalam pemahaman Islam?
3. Untuk mengetahui peran gender?
4. Untuk mengetahui peran perempuan dalam islam?




3

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Gender
Ada beberapa definisi tentang pengertian gender, diantaranya dikemukakan
oleh ahli-ahli berikut ini:
Baron mengartikan bahwa gender merupakan sebagian dari konsep diri yang
melibatkan identifikasi individu sebagai seorang laki-laki atau perempuan.
1

Santrock mengemukakan bahwa istilah gender dan seks memiliki perbedaan
dari segi dimensi. Isilah seks (jenis kelamin) mengacu pada dimensi biologis seorang
laki-laki dan perempuan, sedangkan gender mengacu pada dimensi sosial-budaya
seorang laki-laki dan perempuan.
2

Setelah mengkaji beberapa definisi gender yang dikemukakan para ahli, dapat
dipahami bahwa yang dimaksud gender adalah karakteristik laki-laki dan perempuan
berdasarkan dimensi sosial-kultural yang tampak dari nilai dan tingkah laku.

B. Konsep Gender
Memahami konsep gender harus dibedakan antara kata gender dengan seks.
Seks atau jenis kelamin merupakan penafsiran atau pembagian dua jenis kelamin
manusia yang ditentukan secara biologis yang melekat pada jenis kelamin tertentu.

1
Baron, A. R. (Alih bahasa Ratna Juwita). Psikologi Sosial. (Bandung: Khazanah Intelektual,
2000), hal. 188

2
Santrock, J. W. Life Span Development: Perkembangan Masa Hidup, hal. 365
4

Secara biologis alat-alat kelamin antara laki-laki dan perempuan tidak dapat
dipertukarkan, hal ini merupakan kodrat dan ketentuan Tuhan.
3

John M. Echols & Hassan Sadhily mengemukakan kata gender berasal dari
bahasa Inggris yang berarti jenis kelamin.
4
Secara umum, pengertian Gender adalah
perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan apabila dilihat dari nilai dan
tingkah laku.
Fakih mengemukakan bahwa gender merupakan suatu sifat yang melekat pada
kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksikan secara sosial maupun
kultural. Perubahan cirri dan sifat-sifat yang terjadi dari waktu ke waktu dan dari
tempat ke tempat lainnya disebut konsep gender.
5

Selanjutnya Santrock mengemukakan bahwa istilah gender dan seks memiliki
perbedaan dari segi dimensi. Isilah seks (jenis kelamin) mengacu pada dimensi
biologis seorang laki-laki dan perempuan, sedangkan gender mengacu pada dimensi
sosial-budaya seorang laki-laki dan perempuan.
6

Selain itu, istilah gender merujuk pada karakteristik dan ciri-ciri sosial yang
diasosiasikan pada laki-laki dan perempuan. Karakteristik dan ciri yang diasosiasikan

3
Fakih, M. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006).
Hal. 8

4
Rahmawati, A. (2004). Persepsi Remaja tentang Konsep Maskulin dan Feminim Dilihat dari
Beberapa Latar Belakangnya. Skripsi pada Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan UPI
Bandung: Tidak diterbitkan.

5
Fakih, M. Analisis Gender dan Transformasi Sosial., hal. 71

6
Santrock, J. W. Life Span Development: Perkembangan Masa Hidup.( Jakarta: Erlangga,
2000). hal. 365
5

tidak hanya didasarkan pada perbedaan biologis, melainkan juga pada interpretasi
sosial dan cultural tentang apa artinya menjadi laki-laki atau perempuan.
7

Gender diartikan sebagai konstruksi sosiokultural yang membedakan
karakteristik maskulin dan feminim. Moore (Abdullah, 2003: 19) mengemukakan
bahwa gender berbeda dari seks dan jenis kelamin laki-laki dan perempuan yang
bersifat biologis. Istilah gender dikemukakan oleh para ilmuwan sosial dengan
maksud untuk menjelaskan perbedaan perempuan dan laki-laki yang mempunyai sifat
bawaan (ciptaan Tuhan) dan bentukan budaya (konstruksi sosial). Gender adalah
perbedaan peran, fungsi, dan tanggungjawab antara laki-laki dan perempuan yang
merupakan hasil konstruksi sosial dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan
jaman.
Dari beberapa penjelasan mengenai seks dan gender di atas, dapat dipahami
bahwa seks merupakan pembagian jenis kelamin berdasarkan dimensi biologis dan
tidak dapat diubah-ubah, sedangkan gender merupakan hasil konstruksi manusia
berdasarkan dimensi sosial-kultural tentang laki-laki atau perempuan.

C. Peran gender
Peran gender menjadi sangat bervariasi dalam pola kehidupan tiap orang, tiap
keluarga juga tiap budaya maupun negara. Namun budaya yang cenderung sangat
patriarkhis sering menimbulkan ketidakadilan jender, yang cenderung merugikan

7
Rahmawati, A. (2004). Persepsi Remaja tentang Konsep. Hal.
6

kaum perempuan. Pertama kali perlu diperjelas terlebih dahulu adalah soal apa peran
itu, peran adalah:
8

a. Perilaku yang sudah terpola karena sudah sejak lama dilakukan
b. Dapat bersifat dinamis (hanya satu peran atau lebih)
c. Berkaitan dengan status pada kelompok tertentu dan situasi sosial yang khas.
d. Menyangkut hak dan kewajiban.
e. Dipengaruhi harapan orang lain dan citra diri
f. Seringkali berkaitan dengan kekuasaan atau uang.
Peranan bersifat komplek, ada peran domestik ada peran publik, meskipun
juga selalu mengalami pergeseran dengan proses waktu. Peran gender diajarkan orang
lain dan melalui proses pembelajaran, seperti perilaku yang ideal untuk anak
perempuan maupun untuk anak lakilaki, yaitu feminitas dan maskulinitas yang
merupakan identitas gender. Identitas jender bisa berbeda-beda untuk setiap
komunitas, seperti suku di Papua Nugini : Arapesh - wanita dan pria harus feminin,
Mandugumor - wanita dan pria harus maskulin, Tehambuli, wanita harus maskulin
dan pria harus feminin.
9

Ideologi gender adalah gagasan dominan yang berlaku dalam masyarakat
tentang peranan pria dan wanita yang berbeda baik dalam keluarga maupun di luar
keluarga (masyarakat). Peran manusia ada produksi (peran ekonomi yang

8
Widaningroem, Retno., (1998) , Peran dan kebutuhan Jender, makalah, Pelatihan Teknik
Analisis Jender, PSW LP UII, Yogyakarta.
9
Ibid
7

menghasilkan materi), reproduksi (kelangsungan hidup manusia) dan komunitas
(sosial masyarakat).

D. Peran Perempuan Dalam Islam
Masyarakat secara umum masih mempunyai berbagai pendapat mengenai
kedudukan dan peran perempuan islam di masyarakat -meskipun topik ini tidak dapat
terlepas dari pembicaraan hubungan pria-wanita. Oleh karena itu, perlu kita lihat dulu
masalah tersebut.
Ajaran Islam telah menempatkan perempuan sebagai partner yang sederajat
dengan laki-laki dalam mengemban amanah Allah SWT sebagai khalifah-Nya di
muka bumi ini. Kenyataan ini telah ditegaskan Allah dalam beberapa ayat dalam
kitab Al Quran. Sebagaimana dinyatakan dalam Surat An-Nisa ayat 1 berikut:
10

Og^4C +EEL- W-O4>-
N7+4O Og~-.- 7U }g)`
^^^ EEg4 4-UE=4 Ogu+g`
E_E_uEe O+44 4gu+g`
L~E}jO -LOOg1E w7.=O)e4 _
W-OE>-4 -.- Og~-.-
4pO747.=O> gO)
4~4O-4 _ Ep) -.- 4p~E
7^OU4 4:1g~4O ^ .
Artinya: Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah
menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya[263] Allah
menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang
biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada
Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu
sama lain[264], dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya

10
AL-QURAN surat An-Nisa ayat 1
8

Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. [263] Maksud dari padanya
menurut jumhur mufassirin ialah dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam
a.s. berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim. di samping itu ada
pula yang menafsirkan dari padanya ialah dari unsur yang serupa Yakni
tanah yang dari padanya Adam a.s. diciptakan. [264] Menurut kebiasaan
orang Arab, apabila mereka menanyakan sesuatu atau memintanya kepada
orang lain mereka mengucapkan nama Allah seperti :As aluka billah
artinya saya bertanya atau meminta kepadamu dengan nama Allah.

Dalam sejarah islam ternyata perempuan pada zaman Khulafa ar rasidin
sangat aktif terlibat dalam kegiatan muamalah dan kegiatan kemasyarakatan pada
umumnya. Bahkan perempuan ada yang terlibat dalam peperangan sebagai perawat
laskar yang cedera, membakar semangat para laskah dengan nyanyian dan syair,
seperti yang dilakukan oleh Hindun -istri Abu Sufyan. Dalam peperangan Yarmuk
mereka mengendarai kuda sendiri mengejar serta menombak musuh - seperti yang
dilakukan oleh Arqah binti Harits, Khaulah binti Azwar, Bini Yazad al Kalbiah,
Umm Sulaiyt, dan Umm Ammarah. Bahkan dalam peperangan merebut Siprus, yaitu
perang melintasi lautan pertama dalam sejarah Islam yang dipimpin oleh Muawiyah
bin Abu Sofyan banyak melibatkan perempuan. Antara lain: Umm Haram binti
Malham. Pasukan perempuan ini ternyata tidak hanya sebagai perawat dan penyedia
ari sert amakanan bagi suami dan anak-anak mereka, tetapi juga bagi seluruh lascar
yang terlibat dalam peperangan itu
11


E. Konsep Gender Dalam Islam

11
Imaduddin Abdulrahim, 1995, Wanita dalam Islam, Seminar Wanita, Islam dan Profesi, PSW
LP UII, Yogyakarta.
9

Dalam perspektif Islam, semua yang diciptakan Allah SWT berdasarkan
kudratnya masing-masing
^^) E7 7/E* +OE4^UE=
OE) ^j_
Artinya: .Sesungguhnya segala sesuatu Kami ciptakan dengan qadar (QS. Al-
Qamar: 49).
12

Para pemikir Islam mengartikan qadar di sini dengan ukuran-ukuran, sifat-sifat
yang ditetapkan Allah SWT bagi segala sesuatu, dan itu dinamakan kudrat. Dengan
demikian, laki-laki dan perempuan sebagai individu dan jenis kelamin memiliki
kudratnya masing-masing. Syeikh Mahmud Syaltut mengatakan bahwa tabiat
kemanusiaan antara laki-laki dan perempuan berbeda, namun dapat dipastikan bahwa
Allah SWT lebih menganugerahkan potensi dan kemampuan kepada perempuan
sebagaimana telah menganugerahkannya kepada laki-laki. Ayat Al-Quran yang
populer dijadikan rujukan dalam pembicaraan tentang asal kejadian perempuan
adalah firman Allah dalam QS. An-Nisa ayat 1 :
Og^4C +EEL- W-O4>-
N7+4O Og~-.- 7U }g)`
^^^ EEg4 4-UE=4 Ogu+g`
E_E_uEe O+44 4gu+g`
L~E}jO -LOOg1E w7.=O)e4 _
W-OE>-4 -.- Og~-.-
4pO747.=O> gO)
4~4O-4 _ Ep) -.- 4p~E
7^OU4 4:1g~4O ^


12
DEPARTEMEN AGAMA RI, Al-Quran dan terjemahannya.

10

Artinya: Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu, yang telah
menciptakan kamu dari diri (nafs) yang satu, dan darinya Allah
menciptakan pasangannya dan keduanya Allah mengembangbiakkan laki-
laki dan perempuan yang banyak.............. (QS. An-Nisa ayat 1)
13


Yang dimaksud dengan nafs di sini menurut mayoritas ulama tafsir adalah
Adam dan pasangannya adalah istrinya yaitu Siti Hawa. Pandangan ini kemudian
telah melahirkan pandangan negatif kepada perempuan dengan menyatakan bahwa
perempuan adalah bagian laki-laki. Tanpa laki-laki perempuan tidak ada, dan bahkan
tidak sedikit di antara mereka berpendapat bahwa perempuan (Hawa) diciptakan dari
tulang rusuk Adam. Kitab-kitab tafsir terdahulu hampir bersepakat mengartikan
demikian.
Kalaupun pandangan di atas diterima yang mana asal kejadian Hawa dari
rusuk Adam, maka harus diakui bahwa ini hanya terbatas pada Hawa saja, karena
anak cucu mereka baik laki-laki maupun perempuan berasal dari perpaduan sperma
dan ovum. Allah menegaskan hal ini dalam QS. Ali Imran: 195
=E4c _ _4O
O)E+ 7Oq 4E g4N
74g)` }g)` OEO u _/6^q W
7_u4 }g)` *u4 W
4g~-. W-NOE_E-
W-ON_@Ou=q4 }g` g-@O4Cg1
W-Oq4 O) Oj>O):Ec
W-OU4-~4 W-OUg~4
Ep4Og]E_ gu+4N
jg@4*jOEc _E4Ugu1_4
eELE_ O@O^_` }g` Og^4`
NOE_u^- 6-4O ;}g)` g4gN

13
Ibid,.
11

*.- +.-4 +E4gN }ONO
-4OE1- ^_)

Artinya: Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan
berfirman): "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang
yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena)
sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-
orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti
pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, Pastilah akan Ku-
hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan Pastilah Aku masukkan mereka
ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala
di sisi Allah. dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik." (Q.S. Al-Qamar:
195)
14


Maksud dari sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain adalah
sebagaimana laki-laki berasal dari laki-laki dan perempuan, Maka demikian pula
halnya perempuan berasal dari laki-laki dan perempuan. kedua-duanya sama-sama
manusia, tak ada kelebihan yang satu dari yang lain tentang penilaian iman dan
amalnya.
Adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan tidak dapat disangkal
karena memiliki kudrat masing-masing. Perbedaan tersebut paling tidak dari segi
biologis. Al-Quran mengingatkan:
Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada
sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-
laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun)
ada kebahagiaan dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah
sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.

Ayat di atas mengisyaratkan perbedaan, dan bahwa masing-masing memiliki
keistimewaan. Walaupun demikian, ayat ini tidak menjelaskan apa keistimewaan dan

14
ibid
12

perbedaan itu. Namun dapat dipastikan bahwa perbedaan yang ada tentu
mengakibatkan fungsi utama yang harus mereka emban masing-masing. Di sisi lain
dapat pula dipastikan tiada perbedaan dalam tingkat kecerdasan dan kemampuan
berfikir antara kedua jenis kelamin itu. Al-Quran memuji ulul albab yaitu yang
berzikir dan memikirkan tentang kejadian langit dan bumi. Zikir dan fikir dapat
mengantar manusia mengetahui rahasia-rahasia alam raya. Ulul albab tidak terbatas
pada kaum laki-laki saja, tetapi juga kaum perempuan, karena setelah Al-Quran
menguraikan sifat-sifat ulul albab ditegaskannya bahwa
=E4c _ _4O
O)E+ 7Oq 4E g4N
74g)` }g)` OEO u _/6^q W
7_u4 }g)` *u4 W
4g~-. W-NOE_E-
W-ON_@Ou=q4 }g` g-@O4Cg1
W-Oq4 O) Oj>O):Ec
W-OU4-~4 W-OUg~4
Ep4Og]E_ gu+4N
jg@4*jOEc _E4Ugu1_4
eELE_ O@O^_` }g` Og^4`
NOE_u^- 6-4O ;}g)` g4gN
*.- +.-4 +E4gN }ONO
-4OE1- ^_)
Artinya: Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan
berfirman): "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang
yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena)
sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-
orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti
pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, Pastilah akan Ku-
hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan Pastilah Aku masukkan mereka
ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala
13

di sisi Allah. dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik." (Q.S. Al-Qamar:
195)
15


.Ini berarti bahwa kaum perempuan sejajar dengan laki-laki dalam potensi
intelektualnya, mereka juga dapat berpikir, mempelajari kemudian mengamalkan apa
yang mereka hayati dari zikir kepada Allah serta apa yang mereka pikirkan dari alam
raya ini.
Jenis laki-laki dan perempuan sama di hadapan Allah. Memang ada ayat yang
menegaskan bahwa
N~E}@O- ]ON`O~ O>4N
g7.=Og)4- ^@j

Artinya: Para laki-laki (suami) adalah pemimpin para perempuan (istri) (QS. An-
Nisa: 34),
namun kepemimpinan ini tidak boleh mengantarnya kepada kesewenang-
wenangan, karena dari satu sisi Al-Quran memerintahkan untuk tolong menolong
antara laki-laki dan perempuan dan pada sisi lain Al-Quran memerintahkan pula agar
suami dan istri hendaknya mendiskusikan dan memusyawarahkan persoalan mereka
bersama.
Sepintas terlihat bahwa tugas kepemimpinan ini merupakan keistimewaan dan
derajat tingkat yang lebih tinggi dari perempuan. Bahkan ada ayat yang
mengisyaratkan tentang derajat tersebut yaitu firman-Nya,

15
Ibid.,
14

O}+O4 Nu1g` Og~-.-
O}jgOU4N ^OuO^) _
^ggg
Artinya: Para istri mempunyai hak seimbang dengan kewajibannya menurut cara
yang maruf, akan tetapi para suami mempunyai satu derajat/tingkat atas mereka
(para istri) (QS. Al-Baqarah: 228).

Kata derajat dalam ayat di atas menurut Imam Thabary adalah kelapangan
dada suami terhadap istrinya untuk meringankan sebagian kewajiban istri. Al-Quran
secara tegas menyatakan bahwa laki-laki bertanggungjawab untuk memenuhi
kebutuhan hidup keluarganya, karena itu, laki-laki yang memiliki kemampuan
material dianjurkan untuk menangguhkan perkawinan. Namun bila perkawinan telah
terjalin dan penghasilan manusia tidak mencukupi kebutuhan keluarga, maka atas
dasar anjuran tolong menolong yang dikemukakan di atas, istri hendaknya dapat
membantu suaminya untuk menambah penghasilan.
Jika demikian halnya, maka pada hakikatnya hubungan suami dan istri, laki-
laki dan perempuan adalah hubungan kemitraan. Dari sini dapat dimengerti mengapa
ayat-ayat Al-Quran menggambarkan hubungan laki-laki dan perempuan, suami dan
istri sebagai hubungan yang saling menyempurnakan yang tidak dapat terpenuhi
kecuali atas dasar kemitraan. Hal ini diungkapkan Al-Quran dengan istilah
badhukum mim badhi sebagian kamu (laki-laki) adalah sebagian dari yang lain
(perempuan). Istilah ini atau semacamnya dikemukakan kitab suci Al-Quran baik
dalam konteks uraiannya tentang asal kejadian laki-laki dan perempuan (QS. Ali
Imran: 195), maupun dalam konteks hubungan suami istri (QS. An-Nisa: 21) serta
kegiatan-kegiatan sosial (QS. At-Taubah: 71).Kemitraan dalam hubungan suami istri
15

dinyatakan dalam hubungan timbal balik: Istri-istri kamu adalah pakaian untuk
kamu (para suami) dan kamu adalah pakaian untuk mereka (QS. Al-Baqarah: 187),
sedang dalam keadaan sosial digariskan: Orang-orang beriman, laki-laki dan
perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain, mereka
menyuruh (mengerjakan yang maruf) dan mencegah yang munkar (QS. At-Taubah:
71).Pengertian menyuruh mengerjakan yang maruf mencakup segi perbaikan dalam
kehidupan, termasuk memberi nasehat/saran kepada penguasa, sehingga dengan
demikian, setiap laki-laki dan perempuan hendaknya mampu mengikuti
perkembangan masyarakat agar mampu menjalankan fungsi tersebut atas dasar
pengetahuan yang mantap. Mengingkari pesan ayat ini, bukan saja mengabaikan
setengah potensi masyarakat, tetapi juga mengabaikan petunjuk kitab suci.
Dalam Al-Quran ada beberapa isu kontroversi yang berkaitan dengan konsep
relasi gender, antara lain asal-usul penciptaan perempuan, konsep kewarisan,
persaksian, poligami, hak-hak reproduksi, talak perempuan serta peran perempuan
dalam publik. Secara sepintas, teks-teks tersebut mengesankan adanya bentuk
ketidakadilan bagi kaum perempuan. Akan tetapi, jika disimak lebih mendalam
dengan menggunakan metode penafsiran yang tepat dan dengan memperhatikan
asbab an-nuzul, maka dapat dipahami bahwa ayat-ayat tersebut merupakan suatu
proses dalam mewujudkan keadilan dan kesetaraan secara konstruktif di dalam
masyarakat. Masih dalam penafsiran surat an-Nisa,4:34, bila dikaji lebih jauh lagi,
idealnya dalam suatu komunitas, supaya terjadi keseimbangan dan stabilisasi pastilah
16

ada seorang pemimpin yang bertanggung jawab untuk kelangsungan komunitas
tersebut.
Dalam konteks ayat, komunitas tersebut adalah sebuah keluarga, yang mana
laki-laki di tempatkan sebagai pemimpinnya. Seorang pemimpin tidak menunjuk
kepada superioritas, melainkan memberi perlindungan untuk menciptakan
kemaslahatan. Kata fadhala dalam ayat tersebut berarti kelebihan. Kelebihan yang
dimiliki oleh laki-laki bukan pula menunjuk kepada superioritas laki-laki, mengingat
kata badlukum ala badin, sebagian laki-laki mempunyai kelebihan di banding
dengan sebagian perempuan. Tidak menutup kemungkinan bahwa sebagian
perempuan memiliki kelebihan di banding sebagian laki-laki. Sebenarnya tanggung
jawab utama seorang perempuan adalah melahirkan anak. Ini menjadi sangat penting
karena eksistensi manusia bergantung kepadanaya. Maka pa tanggung jawab laki-laki
dalam keluarga maupun dam masyarakat. Disinilah laki-laki sebagai qawam
menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh seorang perempuan dalam
menunaikan kewajibannya secara nyaman terutama perlindungan fisik dan nafkah
materi.
Al-Quran dengan sangat jelas menyebutkan bahwa tidak ada perbedaan
antara laki-laki dan perempuan kecuali ketaqwannya. Surat al-Hujurat (49):13 yang
artinya Hai manusia, kami telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan,
dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling
mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah yang
paling taqwa.
17













BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. gender merupakan suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun
perempuan yang dikonstruksikan secara sosial maupun cultural
2. islam memandang bahwa perbedaan yang terjadi antara laki-laki dan
perempuan hanya pada ketaqwaannya.
3. Peran gender diajarkan orang lain dan melalui proses pembelajaran, seperti
perilaku yang ideal untuk anak perempuan maupun untuk anak lakilaki,
yaitu feminitas dan maskulinitas yang merupakan identitas gender.
18

4. Ajaran Islam telah menempatkan perempuan sebagai partner yang sederajat
dengan laki-laki dalam mengemban amanah Allah SWT sebagai khalifah-
Nya di muka bumi ini.
B. Saran
Demikianlah makalah yang telah penulis susun, mungkin masih banyak
terdapat kejanggalan dan kesalahan baik dari segi penulisan maupun hal yang
lainnya, maka dari itu penulis sangat mengharapkan kritikan yang sangat membangun
demi kesempurnaan karya penulis kedepannya.




DAFTAR PUSTAKA

Baron, A. R. (Alih bahasa Ratna Juwita). Psikologi Sosial. (Bandung: Khazanah
Intelektual, 2000),

DEPARTEMEN AGAMA RI, Al-Quran dan terjemahannya.

Fakih, M. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2006).

Fakih, M. Analisis Gender dan Transformasi Sosial.,

Imaduddin Abdulrahim, 1995, Wanita dalam Islam, Seminar Wanita, Islam dan
Profesi, PSW LP UII, Yogyakarta.

Rahmawati, A. (2004). Persepsi Remaja tentang Konsep Maskulin dan Feminim
Dilihat dari Beberapa Latar Belakangnya. Skripsi pada Jurusan Psikologi
Pendidikan dan Bimbingan UPI Bandung: Tidak diterbitkan.
19


Santrock, J. W. Life Span Development: Perkembangan Masa Hidup,

Santrock, J. W. Life Span Development: Perkembangan Masa Hidup.( Jakarta:
Erlangga, 2000).

Widaningroem, Retno., (1998) , Peran dan kebutuhan Jender, makalah, Pelatihan
Teknik Analisis Jender, PSW LP UII, Yogyakarta.