Anda di halaman 1dari 6

1

1111
2

2
Efek Kulit (Skin Effect)
Skin Effect adalah gejala ketidaksama-rataan arus yang mengalir dalam
suatu pengantar yang dialiri arus bolak-balik. Hal ini disebabkan karena
adanya frekuensi pada arus yang mengalir tersebut.






Gambar 2. Kerapatan arus pada suatu penghantar dialiri arus AC

Arus bolak-balik (AC) yang mengalir pada penghantar, akan menimbulkan
fluksi ().
Fluksi ini akan menimbulkan induktansi diri (self inductance) dan akan
membangkitkan tegangan :

di
d
L
|
= dan
dt
d|
c =
Didapat :

1
<
2
dan L
1
>L
2
, dari sini didapat hubungan; i akan sebanding dengan
sehingga :
i
1
<i
2
dan
1
<
2
.
Menurut Maxwell dan Rayleight, perbandingan antara tahanan skin effect (R
s
)
terhadap tahanan arus searah (R) adalah :
2
2
2
2
4 180
1
4 12
1
1
|
|
.
|

\
|

|
|
.
|

\
|
+ =
m m
R
R
s

Sedangkan perbandingan antara reaktansi skin effect (As) terhadap reaktansi
arus searah (A) adalah :
2
2
2
2
4 4320
12
4 24
1
1
|
|
.
|

\
|
+
|
|
.
|

\
|
=
m m
A
A
s


2
dimana :

R
l f R
m
9
10
8


=
f = frekuensi (Hz)
l = panjang saluran (m)





3
Di dalam pemakaian praktisnya rumus-rumus di atas menjadi :
A f m = 3 , 0
Sedangkan rumus R
s
secara empiris adalah :

+
|
|
.
|

\
|
+
=
2
1
48
1
2 / 1
2
m
R R
s
, untuk m = 0 s/d 3

)
`

+ = 26 , 0
2 2
m
R R
s
, untuk m diatas 3

Cara mengatasi Skin Effect :
- Frekuensi kerja diturunkan
- Diameter penghantar diperkecil atau menggunakan penghantar serabut
Corona
- Gejala corona, yang dapat mengakibatkan gangguan pada komunikasi
radio (radio interference) dan daya hilang (power losses) corona.
- Masalah isolasi pada kawat penghantar.
- Masalah isolasi pada peralatan listrik.
- Masalah keamanan terhadap manusia, hewan atau barang.
1. Proses terjadinya corona
Bila ada 2 kawat penghantar yang sejajar (berpenampang kecil bila
dibandingkan dengan jarak antara kedua kawat tersebut) diberi tegangan
listrik bolak-balik, maka corona dapat terjadi dan bila tegangan listrik tersebut
dinaikkan secara bertahap, maka corona pun akan naik secara bertahap.
a. Secara visual
Pertama-tama kawat kelihatan bercahaya, mengeluarkan suara yang
mendesis (hissing) dan berbau ozon (O
3
). Warna cahaya tersebut makin lama
makin jelas kelihatan, cahaya semakin bertambah terang apabila tegangan
listriknya dinaikkan terus dan akhirnya akan terjadi busur api. Corona

4
mengeluarkan panas dengan terjadinya power losses dan hal ini dapat diukur
dengan Watt-meter.
Bila udara disekitar konduktor tersebut dalam keadaan lembab, maka
corona ini dapat menghasilkan asam nitrogin (Nitrous Acid), hal ini akan
mempengaruhi power losses, atau dengan perkataan lain kehilangan dayanya
lebih besar.
Apabila tegangan listriknya merupakan tegangan searah, pada kawat
positip pada jaringan, akan kelihatan dalam bentuk cahaya yang uniform
(seragam) pada seluruh kawat, sedangkan untuk kawat nolnya (ground),
corona hanya terjadi pada tempat-tempat tertentu saja (Spooty).
b. Secara fisis
Corona terjadi karena adanya ionisasi dalam udara disekitar konduktor,
selain itu molekul udara disekitar penghantar/konduktor tersebut kehilangan
elektron. Dengan lepasnya elektron dan ionisasi ini dan disertai adanya medan
listrik, maka elektron -elektron bebas tersebut akan mengalami gaya, sehingga
gerakannya dipercepat. Akibatnya elektron ini akan mengalami tabrakan
dengan molekul lain sehingga akan menimbulkan ion-ion dan elektron -
elektron baru.
Proses ini berjalan terus-menerus, sehingga jumlah ion dan elektron
bebas menjadi berlipat ganda (bila gradien potensialnya cukup besar). Ionisasi
udara dapat mengakibatkan redistribusi tegangan dan bila redistribusi ini
besarnya sedemikian rupa sehingga gradien udara (tegangan listrik) diantara
dua kawat lebih besar daripada gradien udara normal, maka akan terjadi
loncatan bunga api.
Bila hanya sebagian saja dari udara antara dua kawat yang terionisasikan,
maka corona merupakan sampul yang mengelilingi kawat tersebut. Gradien
tegangan listrik seragam yang dapat menimbulkan ionisasi kumulatif di udara
normal (25
o
C, 760 mmHg) adalah 30 kV/cm.

5
2. Kerugian daya corona
Kerugian daya corona menurut PEEK dinyatakan sebagai berikut:
( ) ( )
5 2
10 25
244

+ = Vd V
D
r
V f Pk
o
kWatt/km
dimana:
T
b
+
=
273
392 , 0
o

f = frekuensi (Hz)
r = jari-jari kawat (cm)



D = jarak antar kawat (cm)
V = tegangan fasa (kV rms)
Vd = tegangan distribusi kritis (kV
rms)

6

Rumus di atas berlaku untuk satu konduktor saja. Penerapan secara praktisnya,
umumnya digunakan rumus sebagai berikut:
r
D
r m Vd ln . . . 1 , 21
0
o =
dimana :
m
o
= factor tak tentu (irregular factor)
= 1,00 untuk konduktor yang permukaannya halus
= 0,93-0,98 untuk penghantar kasar
= 0,83-0,87 untuk kawat berlilit 7
= 0,80-0,85 untuk kawat berlilit 15, 37 dan 61
Untuk mengurangi masalah corona, maka perlu diperhitungkan masalah:
- Jari-jari konduktor
- Perbandingan antara jarak konduktor dengan jari-jari konduktor
- Faktor permukaan