Anda di halaman 1dari 14

I. PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Salah satu yang harus dipenuhi bagi mahasiswa Strata 1 (SI) pada Jurusan Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala adalah mengikuti kegiatan Praktek Lapang (PL). Dengan adanya pelaksanaan Praktek Lapang adalah dimaksudkan untuk memberikan pengalaman dan pengetahuan secara kognitif, efektif dan psikomotorik tentang suatu kegiatan pada lembaga baik pemerintahan dan nonpemerintahan atau perusahaan yang berkaiatan dengan teknik pertanian sehingga diharapkan akan meningkatkan pengetahuan mengenai bidang kajian dan keprofesian. Bidang kajian pada Praktek Lapang mencakup tentang aspek-aspek keteknikan pra panen pada perkebunan teh. Indonesia mempunyai potensi besar untuk mengembangkan sektor perkebunan. Perkebunan merupakan salah satu bagian dari sektor pertanian yang mempunyai peranan penting dalam meningkatkan pertumbuhan perekonomian Nasional. Sektor ini berperan cukup besar dalam memberi konstribusi penyediaan lapangan kerja dan sumber devisa. Bidang usaha perkebunan terdiri dari usaha budidaya perkebunan dan usaha industri perkebunan. Usaha budidaya perkebunan adalah serangkaian kegiatan pengusahaan tanaman yang meliputi pra tanam, penanaman, pemeliharaan dan pemanenan termasuk perubahan jenis tanaman. Perkebunan banyak dikembangkan di Indonesia, dengan berbagai varietas antara lain kelapa sawit, teh dan kopi. Salah satu dari jenis perkebunan tersebut adalah perkebunan teh, dimana varietas ini cukup banyak dibudidayakan mengingat banyaknya dataran tinggi di indonesia. Tanaman teh merupakan tumbuhan berdaun hijau yang termasuk dalam keluarga Camellia yang berasal dari Cina, Tibet dan India bagian Utara. Ada dua varietas utama tanaman teh. Varietas berdaun kecil di kenal dengan Camellia sinensis yang tumbuh dengan baik di daerah pengunungan tinggi berhawa dingin di Cina tengah dan Jepang. Varietas berdaun lebar dikenal sebagai Camellia assamaca yang tumbuh paling baik di daerah beriklim tropis yang lembab, di India bagian utara dan Szechuan dan Propinsi Yunnan di Cina. Tanaman teh mempunyai daun hijau gelap, mengkilap, berukuran kecil dan berbunga putih.

Teh (Camelia sinensis (L) O. Kuntze) temasuk famili Theaceae, diperkirakan berasal dari pergunungan antara Tibet dan Himalaya. Teh dapat tumbuh pada lintang antara 40o LU sampai 33o LS, mulai dari daerah tinggi sampai rendah. Tanaman teh telah lama diusahakan orang sebagai tanaman perkebunan dan tersebar di benua-benua Afrika dan Asia termasuk Indonesia. Teh merupakan bahan perdagangan yang dikonsumsi oleh penduduk dunia. Di indonesia teh ditanam di daerah pengunungan pada daerah ketinggian antara 600 sampai 1600 m diatas permukaan laut. Teh diusahakan baik oleh perkebunan besar negara, swasta maupun perkebunan kecil. Daerah perkebunan teh saat ini terkonsentrasi di Jawa Barat (65%) dan Sumatera (25%). Sisa nya tersebar di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Tanaman teh merupakan komoditas yag mempunyai nilai ekonomis tinggi. Apabila dikelola dengan baik dapat dimanfaatkan sebagai pemasok devisa negara Pertumbuhan dan perkembangan tanaman dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Faktor lingkungan fisik terdiri dari iklim dan tanah sedangkan faktor lingkungan biologi terdiri dari tanaman naungan dan gulma. Sebagai tanaman yang berasal dari daerah subtropis makan tanaman teh di Indonesia menghendaki udara yang sejuk. Suhu udara yang baik bagi tanaman teh adalah suhu harian yang berkisar antara 130 250 oC yang diikuti oleh cahaya matahari yang cerah dan kelembaban relatif pada siang hari tidak kurang dari 70%. Tanaman teh akan berhenti perkembangannya apabila suhu dibawah 130 oC dan diatas 300 oC serta kelembaban relatif kurang dari 70%. Curah hujan minimum yang diperlukan tanaman teh adalah 1.100 mm/tahun. Perkebunan Gunung Mas yang merupakan salah satu unit dari Perkebunan yang dikelola oleh PTPN VIII terletak di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Perkebunan teh Gunung Mas PTPN VIII telah sejak lama melakukan usaha produksi teh. Lokasi perkebunan sebagian berada pada daratan tinggi dengan ketinggian 900 1200 mdlp dan meliputi luas areal 1182 Ha. Topografi lahan perkebunan sebagian besar terdiri dari bergelombang hingga berbukit dan curah hujan tahunan mencapai 2500 5000 mm th-1.

B. Tujuan Praktek Lapang Praktek lapang bertujuan untuk mempelajari aspek-aspek keteknikan pra panen yang terdapat pada perkebunan teh Gunung Mas PT. Perkebunan Nusantara VIII dan untuk mengembangkan wawasan, pengetahuan dan kemampuan sesuai dengan profesi melalui latihan kerja dan pengamatan secara langsung sehingga menemukan kasus pada saat melakukan Praktek Lapang yang akan dianalisa secara mendalam nantinya akan dibahas di dalam laporan. C. Ruang Lingkup Praktek Lapang Ruang lingkup dari kegiatan Praktek Lapang di Perkebunan Gunung Mas PT. Perkebunan Nusantara VIII Cisarua Bogor meliputi pengamatan mengenai aspek-aspek keteknikan pra panen pada tanaman teh.

D. Manfaat Praktek Lapang Manfaat dari Praktek Lapang ini adalah 1. Mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan tentang aspek keteknikan pertanian secara umum. Dan Mahasiswa dapat mengembangkan dan mengaplikasikan pengalaman praktek di lapangan untuk dijadikan bahan pertimbangan Tugas Akhir. 2. Memperoleh pengalaman yang nyata yang dapat berguna untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan di bidang keteknikan pertanian dan kegiatankegiatan yang dilakukan. 3. Mahasiswa dapat menyajikan pengalaman dan data-data yang diperoleh selama Praktek Lapang ke dalam sebuah Laporan Praktek Lapang. Dan Mahasiswa dapat membiasakan diri terhadap suasana kerja sebenarnya sehingga dapat membangun etos kerja yang baik serat sebagai upaya memperoleh wawasan kerja. 4. Terjalin hubungan antara Fakultas Pertanian khususnya Program Studi Teknik Pertanian dengan Perkebunan Teh Gunung Mas PT. Perkebunanan Nusantara VIII Cisarua Bogor sehingga memungkinkan kerja lainnya.

TINJAUAN PUSTAKA 1. Tanaman Teh Tanaman teh diperkirakan berasal dari daerah Pegunungan Himalaya dan daerah pegunungan yang berbatasan dengan Republik Cina, India, Birma (Spillane, 1992). Pada tahun 2737 sebelum Masehi teh sudah dikenal di Cina, bahkan sejak abad ke-4 Masehi teh dimanfaatkan sebagai salah satu komponen ramuan obat. Teh diperkenalkan pertama kali oleh pedagang Belanda sebagai komoditas perdangangan di Eropa pada tahun 1610 Mahesi dan menjadi minuman popular di Inggris sejak 1664 Masehi (Ghani, 2002). Tanaman teh pertama kali masuk ke Indonesia tahun 1684, dalam bentuk biji dari jepang sebagai tanaman hias. Kemudian dilaporkan pada tahun 1694 terdapat perdu teh muda yang berasal dari Cina tumbuh di Jakarta. Tanaman teh merupakan tanaman tahunan yang menghasilkan daun sebagai hasil produksinya. Tanaman ini dapat tumbuh subur dan berkembang baik di daerah ketinggian 200-2.000 meter di atas permukaan laut. Semakin tinggi letak daerahnya maka semakin baik mutu teh yang dihasilkan. Tanaman ini dapat tumbuh dengan ketinggian 6-9 meter, tetapi umumnya ketinggian yang dipertahankan hanya 1 meter agar tanaman teh dapat dirawat dan di panen dengan lebih mudah. Pada umumnya tanaman ini dapat mulai dipetik daunnya setelah berumur 5 tahun dan dapat memproduksi sampai 40 tahun. Tanaman teh dapat tumbuh mulai dari pantai sampai pegunungan. Dipegunungan Assam, teh di tanam pada ketinggian lebih 2000 meter dari permukaan laut. Namun, perkebunan teh dikembangkan di daerah pengunungan yang beriklim sejuk. Meskipun dapat tumbuh subur di daratan rendah, tanaman teh tidak akan memberikan hasil mutu baik, karena semakin tinggi daerah penanaman teh semakin tinggi mutunya (Ghani, 2002). 2. Syarat Tumbuh Tanaman Teh Tanaman teh berasal dari daerah subtropis yang terletak pada 25-35o Lintang Utara dan 95 105 Bujur Timur, terutama terpusat pda kawasan antara 29o Lintang Utara dan 98o Bujur Timur. Daerah teh berada pada daerah miring berbentuk kipas, terletak di antara pegunungan-pegunungan Naga, Manipuri dan

Lushai di sepanjang perbatasan Assam-Birma di ujung barat, membentang melalui wilayah Cina sampai Provinsi Chekiang di ujung timur dan ke selatan melalui pegunungan-pegunungan di Birma (sekarang Myanmar), Thailand sampai ke Vietnam (Setyamidjaja, 2000). Kebun teh di Indonesia terdapat pada keserasian elevasi yang cukup luas, yaitu dari 400 2000 m atau lebih di atas permukaan laut. Berdasarkan elevasi, daerah kebun teh di Indonesia terbagi menjadi 3 daerah, yaitu perkebunan daerah rendah dengan ketinggian kurang dari 800 m di atas permukaan laut, perkebunan daerah sedang dengan ketinggian berkisar 800 1200 m di atas permukaan laut, dan perkebunan daerah tinggi dengan ketinggian lebih dari 1200 m di atas permukaan laut (Pusat Penelitian Teh dan Kina, 2006). Tanah yang serasi atau yang memenuhi syarat untuk tanaman teh ialah tanah yang subur, banyak mengandung bahan organik, tidak bercadas serta mempunyai derajat keasaman (pH) antara 4.5 5.6. Umumnya tanah yang baik untuk pertumbuhan teh terletak di lereng gunung-gunung berapi yang biasa dinamakan tanah Andisol (vulkanis muda). Jenis tanah lain yang serasi bersyarat untuk ditanami teh yaitu Latosol dan tanah Podzolik. Kedua jenis tanah tersebut ununbya terdapat di daerah yang lebih rendah yang terletak di bawah 800 m dari permukaan laut (Pusat Penelitian Teh dan Kina, 2006). 3. Pembibitan Tanaman teh diperbanyak secara generative maupun secara vegatative. Pada perbanyakan secara generative digunakan bahan tanam asal biji, sedangkan perbanyakan secara vegetative digunakan bahan tanaman asal setek berupa klon. Biji yang baik ditandai dengan beberapa ciri, antara lain: a. Kulit biji berwarna hitam dan mengkilap. b. Berisi penuh, dengan isi biji berwarna putih. c. Mempunyai berat jenis yang lebih besar dari pada air, sehingga apabila dimasukkan ke dalam air akan tenggelam. d. Mempunyai bentuk dan ukuran yang normal. e. Tidak terserang penyakit, cendawan ataupun kepik biji. Biji yang dipungut untuk dijadikan benih adalah biji yang telah jatuh ke tanah, dikumpulkan secara teratur setiap hari, benih yang digunakan adalah benih

yang baik. Sebaiknya biji segera disemai karena daya kecambah biji teh cepat menurun dan biji teh mudah menjadi busuk (Spilane, 1992). 4. Penanaman Dalam penanaman, hal-hal yang harus diperhatikan adalah penentuan jarak tanam yang tepat, pengajiran, pembuatan lubang tanam, teknik penanaman dan penanaman tanaman pelindung yang diperlukan. Menurut Puslitbun Gambung (1992), jarak tanam yang dianjurkan dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1 . Jarak Tanam Teh Jarak tanam Kemiringan tanah cm x cm x cm Datar 15% 1530% > 30% Batas tertentu 120 x 90 120 x 75 120 x 60 120x60x60 Jumlah tanaman per ha 9.260 11.110 13.888 18.500 Keterangan Baris tunggal lurus Baris tunggal lurus Kontur Baris berganda

Pembuatan lubang tanam dilakukan 1-2 minggu sebelum dilakukan penanaman. Lubang tanam yang dibuat tepat di tengah-tengah diantara dua ajir. Ukuran lubang tanamnya adalah: 1. Untuk bibit asal stump biji: 30 cm x 30 cm x 40 cm. 2. Untuk bibit stek dalam kantong plastik: 20 cm x 20 cm x 40 cm. 5. Pemeliharaan Tanaman Pemeliharaan tanaman teh yang biasa dilakukan antara lain Penjarangan dan penyulaman, pembubunan, dan pemupukan. Penjarangan dan pemupukan yaitu Tanaman mati diganti tanaman baru dengan bibit yang sama, penyulaman dimulai dua minggu setelah tanam sampai dua bulan menjelang kemarau. Bibit sulaman yang diperlukan pada tahun pertama adalah 10% dan tahun kedua 5%. Pada tahun ke tiga, tanaman teh mulai menghasilkan (Tanaman

Menghasilkan/TM). Pembubunan yaitu merupakan pohon pelindung berfungsi

sebagai sumber pupuk hijau, pangkasan daunnya dihamparkan di antara tanaman teh. Mulsa diberikan pula melalui penanaman rumput Guatemala. Tanaman pelindung sementara dipertahankan sampai tanaman teh berumur 2 tahun. 6. Pemetikan Pemetikan adalah pemungutan hasil pucuk tanaman teh yang memenuhi syarat-syarat pengolahan. pemetikan berfungsi pula sebagi usaha membentuk kondisi tanaman agar mampu berproduksi tinggi secara berkesinambungan. Panjang pendeknya periode pemetikan ditentukan oleh umur dan kecepatan pembentukan tunas, ketinggian tempat, iklim dan kesehatan tanaman. Pucuk teh di petik dengan periode antara 6-12 bulan. Teh hijau Jepang dipanen dengan frekuensi yang lebih lama yaitu 55 hari sekali. Di samping faktor luar dan dalam, kecepatan pertumbuhan tunas baru dipengaruhi oleh daun-daun yang tertinggal pada perdu yang biasa disebut daun pemeliharaan. Tebal lapisan daun pemeliharaan yang optimal adalah 15-20 cm, lebih tebal atau lebih tipis dari ukuran tersebut pertumbuhan akan terhambat. kecepatan pertumbuhan tunas akan mempengaruhi beberapa aspek pemetikan, yaitu: jenis pemetikan, jenis petikan, daur petik, pengaturan areal petikan, pengaturan tenaga petik, dan pelaksanaan pemetikan, (Gambung, 1992). Pra panen merupakan kegiatan yang memiliki tahapan dari pengolahan tanah pembibitan, penananman, pemeliharaaan misalnya pemeliharaan

tanamannya, pemelihraaan jalan air atau iragasi nya, panen yaitu kegiatan 7. Pengertian Konservasi Tanah Dan Air Konservasi tanah adalah penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan

memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diberlakukan agar tidak terjadi kerusakan tanah. Konservasi tanah mempunyai hubungan yang erat dengan konservasi air (Guskar, 2008). Menurut Arsyad (2000) konservasi air pada prinsipnya adalah penggunaan air hujan yang jatuh ke tanah untuk pertanian seefisien mungkin dan mengatur waktu aliran agar tidak terjadi banjir yang merusak dan terdapat cukup air pada waktu musim kemarau. Setiap perlakuan yang diberikan pada sebidang tanah akan

mempengaruhi tata air pada tempat itu dan tempat-tempat di hilirnya, oleh karena itu konservasi tanah dan konservasi air merupakan dua hal yang berhubungan erat sekali, berbagai tindakan konservasi tanah adalah merupakan juga tindakan konservasi air. Apapun teknik konservasi yang dipilih perlu disesuaikan dengan masalah yang ada di lapangan. Pada dasarnya masalah erosi berkaitan tingginya erosivitas hujan, sifat tanah yang mudah tererosi (erodibilitas tanah yang tinggi), bentukan lahan (landform) dengan lereng yang curam dan panjang, serta penggunaan lahan yang terlalu intensif dan tidak sesuai dengan kemampuan lahannya. Erosivitas hujan yang tinggi biasanya spesifik untuk berbagai wilayah dan hampir tidak dapat diubah. Namun demikian, pengaruh erosivitas yang tinggi dapat dikurangi dengan jalan melemahkan energi kinetik butiran hujan sebelum sampai di permukaan tanah, misalnya dengan menutup permukaan tanah. Penutupan permukaan tanah dapat dilakukan melalui penggunaan mulsa, sistem pertanaman campuran atau multi strata, peningkatan kerapatan tanaman, bertanam secara tumpangsari (beberapa jenis tanaman sekaligus), tumpang gilir (menanam tanaman baru sebelum tanaman yang lama dipanen), dan menanam tanaman penutup tanah (subsisten atau komersial) (Sudirdja, 2008).

III. PELAKSANAAN PROGRAM A. Tempat dan Waktu Pelaksanaan Praktek Lapang ini rencananya akan dilaksanakan di Perkebunan Teh Gunung Mas Cisarua Bogor PT. Perkebunan Nusantara VIII. Penentuan pelaksanaan kegiatan Praktek Lapang dan proses perkulihan dapat berjalan dengan baik dan tidak bersamaan, berdasarkan hal ini maka saya mengajukan permohonan bahwa pelaksanaan Praktek Lapang yang akan dilaksanakan selama 25 hari kerja efektif antara tanggal 01 Juli- 25 Juli 2013. Namun demikian keputusan tentang waktu pelaksanaan Praktek Lapang saya serahkan sepenuhnya kepada Direksi Perkebunan Gunung Mas Cisarua Bogor.

B. Peserta Pelaksanaan Praktek Lapang ini akan dilaksanakan oleh : Nama NIM : Amalia Sabrina : 1005106020004

Tingkat semester : 6 Program Study Fakultas : Teknik Pertanian : Pertanian

Perguruan Tinggi : Universitas Syiah Kuala C. Jadwal Kegiatan Tahap Pelaksanaan Praktek Lapang 1. Pelaksanaan Kerja Praktek akan dibagi dalam beberapa tahapan kegiatan antara lain: a. Pembuatan proposal Kerja Praktek yang dikonsultasikan dengan dosen pembimbing. b. Pelaksanaan kegiatan Praktek Lapang. c. Pembuatan laporan Praktek Lapang beserta bimbingan laporan. d. Penyerahan laporan Praktek Lapang pada pihak Perkebunan Teh Gunung Mas Cisarua Bogor PT. Perkebunan Nusantara VIII. 2. Pada proses pelaksanaan Praktek Lapang Kerja pihak Perkebunan Teh Gunung Mas Cisarua Bogor PT. Perkebunan Nusantara VIII. mempunyai wewenang penuh terhadap proses pendidikan mahasiswa, terutama penyerapan pengetahuan aplikatif di Perusahaan.

3. Setelah Praktek Lapang selesai, mahasiswa wajib membuat laporan Praktek Lapang yang dibimbing oleh dosen pembimbing Praktek Lapang. 4. Penilaian Praktek Lapang terdiri dari dua unsur, yaitu penilaian dari pihak Perusahaan tempat Praktek Lapang dilaksanakan dan pihak Program Studi Teknik Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala yang akan dilakukan oleh seorang dosen penguji. Tabel Jadwal Kegiatan terdapat pada lampiran .Semua jadwal perencanaan yang dibuat hanya berupa usulan dan masih bersifat sementara. Semua keputusan diserahkan pada kebijakan dari pihak Perusahaan. Namun besar harapan apabila usulan jadwal ini dapat dipertimbangkan. D. Pembimbing Pelaksanaan Praktek Lapang ini akan dibimbing oleh : 1. Bapak Purwana Satrio, S.TP, MT. Staf pengajar pada Program Study Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala sebagai dosen Pembimbing Akademik. 2. Ibu Sri Hartuti, S.TP, MT. Staf pengajar pada Program Study Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala sebagai koordinator pelaksana Praktek Lapang. 3. Pembimbing lapangan akan ditentukan kemudian oleh Perkebunan Gunung Mas PT. Perkebunan Nusantara VIII. E. Metodelogi Dalam pelaksanaan Praktek Lapang akan digunakan beberapa metode untuk mengahasilkan data dan analisa yang tepat : 1. Pengamatan di Lapangan Pengamatan secara langsung dilapangan terhadap aspek-aspek keteknikan pra panen pada Perkebunan Teh Gunung Mas PT. Perkebunan Nusantara VIII. 2. Wawancara dan Diskusi Wawancara dilakukan sebagai upaya pengumpulan informasi dan data serta mengklarifikasi masalah yang terjadi di lapangan dengan menanyakan langsung kepada pihak yang berkepentingan terkait dengan topik yang ada.

3. Praktek Langsung Kegiatan praktek langsung dilakukan untuk memperoleh pengalaman di dunia kerja dan mempelajari kesesuaian antara teori dengan praktek di lapangan mengenai hal yang berkaitan dengan aspek keteknikan pra panen serta hal-hal lain yang terkait. 4. Studi Pustaka Studi pustaka dilakukan dengan mencari referensi dan literatur yang berkaitan dengan kegiatan yang dilakukan baik berasal dari studi pustaka maupun data dan informasi yang diperoleh dari industri. 5. Pembahasan dan Penulisan Laporan Laporan dibuat dengan menganalisis data dan informasi yang diperoleh dan dituangkan secara sistematis dan jelas dalam bentuk laporan Praktek Lapangan. F. Aspek yang Dikaji Aspek yang akan dikaji ataupun dipelajari selama kegiatan Praktek Lapang ini adalah sebagai berikut : 1. Aspek Umum a. Sejarah dan Perkembangan Perusahaan

b. Letak Geografis dan Luas Daerah c. Ketinggian dan Kemiringan d. Jenis Tanah e. Keadaan Topografi f. Keadaan Iklim 1. Curah Hujan dan Kelembaban 2. Tinggi Tempat dan Suhu 3. Radiasi Matahari 4. Penggunaan Lahan g. Areal Konservasi dan Keadaan Tanaman h. Struktur dan Organisasi Kebun i. Karyawan dan Fasilitas j. Manajemen dan Administrasi Perusahaan k. Tugas dan Fungsi Instansi

2. Aspek Khusus a. Persiapan Lahan 1. Persiapan Pembukaan Lahan 2. Teknik Pembukaan Lahan b. Pembibitan c. Penanaman d. Pemeliharaan 1. Penyiraman 2. Pemeliharaan Tanaman 3. Pemeliharaan Saluran Irigasi dan Jalan Air e. Konservasi Tanah dan Air 1. Definisi Konservasi Tanah dan Air 2. Konservasi pada Persiapan Lahan Peremajaan Teh 3. Konservasi Pada Lahan TBM f. Proses Panen Teh

IV. PENUTUP Demikian lah proposal ini dibuat sebenar-benarnya dengan harapan dapat memberikan gambaran singkat dan jelas tentang maksud dan tujuan diadakan Praktek Lapang di Perusahaan Perkebunan yang Bapak/Ibu pimpin, besar harapan peserta untuk dapat melaksanakan Praktek Lapang di Perusahaan ini. semoga Tuahan Yang Maha Esa selalu melimpahkan rahmat dan petunjuk Nya kepada kita semua. Atas bantuan dan kerja sama semua pihak yang terkait peserta ucapkan banyak-banyak terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, S. 2000. Konservasi Tanah dan Air, Institut Pertanian Bogor Press, Bogor.

Ghani, M.A. 2002. Dasar-Dasar Budi Daya Teh. Panebar Swadaya : Jakarta Kusmiyati, B. 1994. Petunjuk Teknis Pengolahan Teh. Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung : Bandung. Kusmiyati. 2002. Kualitas Teh . Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung : Bandung. Pusat Penelitian Teh dan Kina. 2006. Petunjuk Kultur Teknis Tanaman Teh. EdisiKetiga. Gambung. Spillane, J.J.1992. Komoditi Teh. Penerbit.Kanisius.Yogyakarta. Setyamidjaja, D. 2000. Budidaya dan Pengolahan Pasca Panen Tanaman Teh. Kanisius. Yogyakarta. 154 hal.