Anda di halaman 1dari 35

MATA MERAH

Kelompok B10 Ketua Sekertaris Anggota : Try Setiawardana : Mestikarini Astari : Nia Anestya
Puti Intan Shuburi Rachmah Kurniasari Ratna Sari Ratri Ramadianingtyas Sofia Putri Nirmala Suci Firva Wisnu Prayoga (1102007279) (1102009170) (1102009203) (1102009 (1102009231) (1102009237) (1102009238) (1102009271) (1102009277) (1102009302)

Fakultas kedokteran Universitas YARSI 2012

Skenario Mata Merah

Ahmad, 37 tahun, seorang petani salak di Jogjakarta mengeluh mata kanannya merah sejak 1 minggu yang lalu. Keluhan dirasakan semakin hebat dan muncul bercak-bercak putih dibagian kornea mata, gejala ini bermula setelah Ahmad panen salak dan terkena pucuk batang salak. Pemeriksaan oftalmoskopi : VOD : 6/60 dengan pinhole tidak ada perbaikan. VOS : 6/6 Segmen anterior COD : Hiperemis (+) Sekret (+) Lakrimalis (+) Fotophobia (+) Ahmad sudah mencoba mengobati dengan obat warung taoi tidak ada perbaikan.Setelah mendapat terapi pasien diminta untuk kontrol rutin dan menjaga serta memelihara kesehatan mata sesuai tuntutan ajaran Islam.

Memahami dan menjelaskan anatomi mata dan media refrakter Anatomi Mata

Palpebra, merupakan bagian yang membungkus mata dan secara umum palpebra terbagi dua, yaitu; Palpebra Superior (atas mata), terbagi menjadi dua; a. Palpebra Superior pars supratarsalis; tetap terlihat ketika membuka mata. b. Palpebra Superior pars tarsalis; terlihat bila menutup mata

Palpebra Inferior (bawah mata)

Fissura palpebra adalah lubang berbentuk elips diantara palpebra superior dan inferior, yang merupakan tempat masuk ke dalam saccus conjunctiva. Permukaan superficial palpebra ditutupi oleh kulit dan permukaan dalamnya diliputi oleh membrana mucosa yang disebut conjunctiva. Conjunctiva adalah membrana mucosa tipis yang melapisi palpebra, melipat pada fornix superior dan inferior untuk melapisi permukaan anterior bola mata. Angulus Oculi adalah bagian yang membentuk sudut mata pada sisi kiri dan kanan, Angulus oculi lateral (kearah pelipis) sedangkan Angulus oculi medial (kearah hidung) Otot mata

Secara umum Musculus pada mata terbagi dua, yaitu : 1. Musculus yang menyokong mata melalu insersinya pada wajah M.Orbicularis oculi M.Depressor Supercili M.Levator Palpebra superior, dll 2. Musculus yang langsung menempel di bulbi (bola mata) M. Rectus Superior (diatas mata)

M. Rectus Inferior (dibawah mata) M. Rectus Media (disamping, kearah hidung) M. Rectus Lateralis (disamping, kearah pelipis) M. Obliqus Superior (antara medial dan superior) M. Obliqus Inferior (antara lateral dan inferior)

Persatafan Mata N.Opticus (II), berfungsi terutama untuk asosiasi dari apa yang ditangkap oleh mata,berhubungan ke area calcarina, Brodmann 17, 18 yang merupakan area asosiasi dari penglihatan N.Oculomotor (III), berfungsi terutama untuk motorik dari bola mata. Nervus-nervus lainnya terutama berfungsi juga sebagai pengatur dari motorik mata yaitu N.Trochlearis (IV) dan N.Abducent (VI). BAGIAN DAN FUNGSI a. kornea : selaput bening mata,tembus cahaya,lapis jaringan yang menutupi bola mata sebelah depan terdiri atas epitel,membran bowman,stroma,membran descement,endotel b. lensa mata : berasal dari ektoderm permukaan berbentuk lensa di dalam mata,bersifat bening,terletak di belakang iris,terdiri dari zat tembus cahaya berbentuk seperti cakram yang dapat menebal menipis saat terjadi akomodasi. Lensa berbentuk lempeng cakram bikonveks yang terletak dalam bilik mata belakang. Lensa dibentuk oleh sel epitel lensa yang membentuk serat lensa di dalam kapsul lensa. Sifat lensa secara fisiologik : - kenyal karena memegang peranan terpenting dalam akomodasi untuk menjadi cembung - jernih/transparan karena diperlukan sebagai penglihatan - terletak di tempatnya c. Corpus Vitreous : jaringan seperti kaca bening terletak antara lensa dengan retina. Bersfat semi cair. Mengandung 90% air sehingga tidak dapat menyerap air. Fungsinya untuk mempertahankan bola mata agar tetap bulat. Berperan untuk meneruskan sinar dari lensa ke retina. Kebeningan disebabkan tidak terdapatnya pembuluh darah dan sel. d. Aqueos humor : cairan jernih pada bagian anterior antara kornea dan lensa. Fungsi : membawa nutrisi untuk kornea dan lensa karena pada tempat itu terdapat sedikit pembuluh darah. Aqueos humor diproduksi 5 ml per hari oleh hubungan kapiler di badan ciliari.

e. Pupil : bagian tengah mata yang berwarna hitam, berfungsi untuk mengatur cahaya yang masuk kemata f. Iris : bagian pinggir atau sisi dari pupil, berfungsi sebagai pengatur ukuran pupil sekaligus tampak sebagai warna mata Media Refrakter Media refrakter adalah alat- alat yang terlibat dalam proses pembiasan cahaya, mulai dari cahaya masuk kemata melalui kornea hingga ditangkap oleh fovea centralis.

Media refrakter pada mata terdiri dari 4 alat yaitu: a) b) c) d) Kornea Aqous humour Lensa Badan vitreus

Cahaya adalah sebuah bentuk radiasi elektromagnetik yang terdiri atas paketpaket individual seperti partikel yang disebut foton yang berjalan menurut caracara gelombang. Jarak antara dua puncak gelombang dikenal sebagai panjang gelombang. Fotoreseptor di mata peka hanya pada panjang gelombang antara 400 dan 700 nanometer. Cahaya tampak ini hanya merupakan sebagian kecil dari spektrum elektromagnetik total. Cahaya dari berbagai panjang gelombang pada pita tampak dipersepsikan sebagai sensasi warna yang berbeda beda. Panjang gelombang yang pendek dipersepsikan sebagai ungu dan biru, panjang gelomang yang panjang diinterpretasikan sebagai jingga dan merah. Pembelokan sebuah berkas cahaya (refraksi) terjadi ketika suatu berkas cahaya berpindah dari satu medium dengan tingkat kepadatan tertentu ke medium dengan tingkat kepadatan yang berbeda. Cahaya bergerak lebih cepat melalui udara daripada melalui medium transparan lainnya seperti kaca atau air. Ketika suatu berkas cahaya masuk ke sebuah

medium yang lebih tinggi densitasnya, cahaya tersebut melambat (begitu pula sebaliknya). Berkas cahaya mengubah arah perjalanannya ketika melalui permukaan medium baru pada setiap sudut kecuali sudut tegak lurus. Dua faktor berperan dalam derajat refraksi : densitas komparatif antara dua media dan sudut jatuhnya benda ke madium kedua. Pada permukaan yang melengkung seperti lensa, semakin besar kelengkungan, semakin besar derajat pembiasan dan semakin kuat lensa. Suatu lensa dengan permukaan konveks (cembung) menyebabkan konvergensi atau penyatuan, berkasberkas cahaya, yaitu persyaratan untuk membawa suatu bayangan ke titik fokus. Dengan demikian, permukaan refraktif mata besifat konveks. Lensa dengan permukaan konkaf (cekung) menyebabkan divergensi (penyebaran) berkasberkas cahaya, suatu lensa konkaf berguna untuk memperbaiki kesalahan refrektif mata tertentu, misalnya berpenglihatan dekat. Pada permukaan yang melengkung seperti lensa, semakin besar kelengkungan, semakin besar derajat pembiasan dan semakin kuat lensa. Ketika suatu berkas cahaya mengenai permukaan yang melengkung dengan densitas lebih besar, arah refraksi bergantung pada sudut kelengkungan. Suatu lensa dengan permukaan konveks (cembung) menyebabkan konvergensi, atau penyatuan, berkas-berkas cahaya, yaitu persyaratan untuk membawa suatu bayangan ke titik fokus. Dengan demikian, permukaan refraktif lensa bersifat konveks. Lensa dengan permukaan konkaf (cekung) menyebabkan divergensi (penyebaran) berkas-berkas cahaya; suatu lensa konkaf berguna untuk meperbaiki kesalahan refraktif mata tertentu, misalnya berpenglihatan dekat. Dua struktur yang paling penting dalam kemampuan refraktif mata adalah kornea dan lensa. Permukaan kornea, struktur pertama yang dilalui cahaya sewaktu masuk mata, yang melengkung berperan paling besar dalam kemampuan refraktif total mata karena perbedaan densitas pertemuan udara/kornea jauh lebih besar dari pada perbedaan densitas antara lensa dan cairan yang mengelilinginya. Pada astigmatisme, kelengkungan korneanya tidak seragam/ rata, sehingga berkas-berkas cahaya mengalami refraksi yang tidak setara. Kemampuan refraksi kornea seseorang tetap konstan karena kelengkungan kornea tidak pernah berubah. Sebaliknya, kemampuan refraksi lensa dapat disesuaikan dengan mengubah kelengkungannya sesuai keperlua untuk melihat dekat atau jauh. Struktur-struktur refraksi pada mata harus membawa bayangan cahaya yang terfokus di retina agar penglihatan jelas. Apabila suatu bayangan sudah terfokus sebelum mencapai retina atau belum terfokus sewaktu mencapai retina, bayangan tersebut tambak kabur. Berkas-berkas cahaya yang berasal dari benda dekat lebih divergen sewaktu mencapai mata daripada berkas dari sumber jauh. Berkas dari sumber cahaya yang terletak lebih dari 6 meter (20 kaki) dianggap sejajar saat mencapai mata. Untuk kekuatan refraktif mata tertentu, sumber cahaya dekat memerlukan jarak yang lebih besar di belakang lensa agar dapat memfokuskan dari pada sumber jauh, karena berkas dari sumber cahaya dekat masih berdivergensi sewaktu mencapai mata. Untuk mata tertentu, jarak antara lensa dan retina selalu sama. untuk membawa sumber cahaya jauh dan dekat terfokus di retina (dalam jarak yang sama), harus dipergunakan

lensa yang lebih kuat untuk sumber dekat. Kekuatan lensa dapat disesuaikan melalui proses akomodasi. Mikroskopik mata MATA 1 - cornea 2 - iris 3 - posterior chamber of the eye 4 - lens 5 - vitreous body 6 - ciliary body 7 - retina 8 - choroid 9 - sclera 10 - canal of Sclemm 11 - growth area of the lens 12 - anterior epithelium of the lens

Memahami dan menjelaskan Fisiologi Mata Fungsi bagian-bagian mata Letak Rongga anterior antara kornea dan lensa. Turunan khusus lapisan koroid di sebelah anterior, membentuk suatu cincin mengelilingi tepi luar lensa. Titik yang sedikit di luar pusat di retina dan tidak mengandung fotoreseptor Tepat dibagian tengah retina Cincin otot yang berpigmen dan tampak di dalam aqueous humor Lapisan paling luar mata yang jernih di anterior Lapisan tengah mata Fungsi Mengandung zat gizi untuk kornea dan lensa Membentuk aqueous humor dan mengandung otot siliaris

Aqueous humor Badan (korpus) siliaris

Bintik buta

Rute untuk berjalannya saraf optikus dan pembuluh darah Daerah dengan ketajaman paling tinggi Mengubah-ubah ukuran pupil dengan berkontraksi; menentukan warna mata Memungkinkan lewatnya cahaya dan merefraksikan cahaya ke anterior mata Berpigmen untuk mencegah berhamburannya berkas cahaya di mata; mengandung pembuluh darah yang member makan retina; di bagian anterior membentuk badan siliaris dan iris Menghasilkan kemampuan

Fovea Iris

Kornea

Koroid

Lensa

Antara aqueous humor dan

Ligamentum suspensorium Macula lutea

vitreus humor; melekat ke otot-otot siliaris melalui ligamentum suspensorium Tergantung diantara otot siliaris dan lensa Daerah tepat di sekitar fovea

refraktif yang bervariasi selalu akomodasi Penting dalam akomodasi Memiliki ketajaman yang sangat tinggi karena banyak mengandung sel kerucut Penting dalam pengolahan perangsangan cahaya Penting untuk akomodasi

Neuron bipolar Otot siliaris

Pupil

Lapisan tengah sel-sel saraf di retina Komponen otot sirkuler dari badan siliaris melekat ke lensa melalui ligamentum suspensorium Lubang bundar anterior dibagian tengah iris Lapisan mata yang paling dalam Keluar dari setiap mata di diskus optikus (bintik buta) Fotoreseptor di lapisan paling luar retina

Retina Saraf optikus Sel batang

Sel ganglion

Lapisan bagian dalam retina

Sel kerucut

Fotoreseptor dibagian paling luar retina Lapisan luar mata yang kuat

Sclera

Vitreus humor

Antara lensa dan retina

Memungkinkan jumlah cahaya yang masuk mata bervariasi Mengandung fotoreseptor (sel batang dan kerucut) Bagian pertama jalur penglihatan ke otak Bertanggungjawab untuk penglihatan dengan sensitivitas tinggi, hitamputih dan penhlihatan malam Penting dalam pengolahan rangsangan cahaya oleh retina; membentuk saraf optikus Untuk ketajaman penglihatan, penglihatan warna dan penglihatan siang hari Lapisan jaringan ikat yang protektif, membentuk bagian putih mata yang tampak, di bagian anterior membentuk kornea Zat semi cair mirip gel yang membantu mempertahankan bentuk mata yang bulat

Akomodasi Akomodasi adalah kemampuan menyesuaikan kekuatan lensa sehingga baik sumber cahaya dekat maupun jauh dapat difokuskan di retina. Ketika otot siliaris melemas, ligamentum suspensorium tegang dan menarik lensa, sehingga lensa berbentuk gepeng dengan kekuatan refraksi minimal. Ketika berkontraksi, garis tengah otot ini berkurang dan tegangan di ligamentum suspensorium mengendur. Bentuk lensa sferis (bulat).

Penurunan akomodasi yang berkaitan dengan usia disebut presbiopia. Berpengilahatan dekat (myopia) : sumber cahaya dekat di bawa ke focus retina tanpa akomodasi dan sumber cahaya jauh difokuskan di depan retina dan tampak kabur. Dapat dikoreksi dengan lensa konkaf (cekung). Berpenglihatan jauh (hiperopia) : bola mata mungkin terlalu pendek atau lensa terlalu lemah. Benda-benda jauh terfokus di retina hanya dengan akomodasi, sementara benda-benda dekat difokuskan dibelakang retina, walaupun mata mengadakan akomodasi sehingga tampak kabur. Dapat dikoreksi dengan lensa konveks (cembung). Fotoreseptor Bagian saraf retina terdiri dari tiga lapisan : 1. Lapisan paling luar (dekat koroid) mengandung sel batang dan kerucut 2. Lapisan tengah : neuron bipolar 3. Lapisan bagisan dalam : sel ganglion Titik di retina tempat keluarnya saraf optikus dan tempat lewatnya pembuluh darah adalah diskus optikus atau bintik buta yang tidak memiliki sel batang dan sel kerucut maka tidak ada bayangan yang dapat terdeteksi. Fotoreseptor terdiri dari tiga bagian : 1. Sebuah segmen luar, yang terletak paling dekat dengan eksterior mata, menghadap ke koroid dan mendeteksi rangsangan cahaya 2. Sebuah segmen dalam, yang terletak di pertengahan panjang fotoreseptor dan mengandung perangkat metabolik sel 3. Sebuah terminal sinaps, yang terletak paling dekat dengan interior mata menghadap ke neuron bipolar dan menyalurkan sinyal yang dihasilkan di fotoreseptor setelah mendapat rangsangan cahaya ke sel-sel berikutnya pada jalur penglihatan Fotopigmen mengalami perubahan kimiawi apabila diaktifkan cahaya. Fotopigmen terdiri dari protein enzimatik yang disebut opsin yang berkaitan dengan retinen suatu turunan vitamin A. rodopsin adalah fotopigmen sel batang. Tidak dapat membedakan berbagai panjang gelombang spectrum cahaya tampak sehingga hanya member gambaran bayangan abu-abu. Sel kerucut merah, hijau dan biru berespon selektif terhadap berbagai panjang gelombang sehingga dapat menimbulkan penglihatan warna.

Sifat-sifat penglihatan batang dan kerucut Sel batang 100 juta per retina Penglihatan dalam rona abu-abu Kepekaan tinggi Ketajaman rendah Banyak konvergensi di jalur retina Lebih banyak di perifer Sel kerucut 3 juta per retina Penglihatan warna Kepekaan rendah Ketajaman tinggi Sedikit konvergensi di jalur retina Lebih banyak di fovea

Fototranduksi Fototranduksi : sel retina mengubah rangsangan cahaya menjadi sinyal saraf. Sel batang menghasilkan penglihatan abu-abu tak tegas pada malam hari , sedangkan sel kerucut menghasilkan penglihatan warna tajam pada siang hari .sel kerucut terutama ditemukan dibagian tengah retina di macula. Dari titik ini ke arah luar , konsentrasi sel kerucut menurun dan konsentrasi sel batang meningkat . Karena perbedaan penyerapan berbagai panjang gelombang cahaya , sel kerucut menghasilkan penglihatan warna, sementara sel batang menghasilkan rona abu-abu. Kemampuan sel batang dan sel kerucut juga berbeda dalam aspek-aspek lain karena perbedaan perkabelan antara kedua jenis fotoreseptor ini dengan lapisan-lapisan neuron retina lainnya. Sel kerucut memiliki sensitivitas rendah terhadap cahaya , yaitu menyala hanya apabila terdapat cahaya terang, tetapi ketajaman tinggi, dengan demikian, sel kerucut menghasilkan penglihatan tajam dengan resolusi tinggi untuk detail halus. Manusia menggunakan sel kerucut untuk melihat pada siang hari (warna terang dan lihat warna). Sel batang memiliki ketajaman yang rendah tetapi kepekaan tinggi, sehingga sel sel ini berespon terhadap cahaya malam.

Bagan fototransduksi Cahaya Gelap

Fotopigmen (retinen:opsin)

Disosiasi retinen dan opsin

GMP siklik menurun

GMP siklik meningkatkan

Penutupan saluran Na

pembukaan saluran Na

Hiperpolarisasi membrane

depolarisasi membran

Menutup saluran Ca di terminal sinaps

membuka saluran Ca di terminal sinaps

Penurunan zat inhibitor

peningkatan zat inhibitor

Neuron bipolar mengalami eksitasi

neuron bipolar inhibisi

Perubahan potensial berjenjang di sel bipolar

tidak terjadi potensial aksi di ganglion

Potensial aksi di ganglion

Tdk trjd perambatan potensial aksi ke korteks penglihatan

Perambatan potensial aksi ke korteks penglihatan di lobus oksipital untuk persepsi penglihatan

Fisiologi Penglihatan Tidak semua cahaya yang melewati kornea mencapai fotoreseptor peka-cagaya karena adanya iris, suatu otot polos tipis berpigmen yang membentuk struktur seperti cincin didalam aqueuos humor. lubang bundar di bagian tengah iris tempat masuknya cahaya kebagian dalam mata adalah pupil.

Memahami dan menjelaskan Mata merah Mata Merah Visus Turun dan Mata Merah Visus Normal dan Mata Merah Visus Menurun I. PTERIGIUM Pterigium merupakan penebalan lipatan konjungtiva bulbi yang berbentuk segitiga dengan banyak pembuluh darah. Punvaknya terletak dikornea dan dasarnya dibagian perifer. Biasanya terletak di celah kelopak dan sering meluas ke daerah pupil. Penyebab pasti dari pterygium tidak diketahui. Tetapi, faktor penyebab yang paling umum adalah : 1. Terkena paparan sinar matahari yang berlebihan 2. Bekerja di luar rumah 3. Paparan berlebihan pada lingkungan yang keras seperti debu, kotoran, panas, angin, kekeringan dan asap. 4. Paparan berlebihan pada alergen seperti bahan kimia dan solvent Umum terjadi pada usia 20-30 tahun dan di daerah yang beriklim tropis Tipe 1 Meluas kurang dari 2 mm di atas kornea. Timbunan besi (ditunjukkan dengan Stocker line) dapat terlihat di epitel kornea bagian anterior/depan pterygium. Lesi/jejas ini asimtomatis, meskipun sebentar-sebentar dapat meradang

(intermittently inflamed). Jika memakai soft contact lense, gejala dapat timbul lebih awal karena diameter lensa yang luas bersandar pada ujung kepala pterygium yang sedikit naik/terangkat dan ini dapat menyebabkan iritasi. Tipe 2 Melebar hingga 4 mm dari kornea, dapat kambuh (recurrent) sehingga perlu tindakan pembedahan. Dapat mengganggu precorneal tear film dan menyebabkan astigmatisme. Tipe 3 Meluas hingga lebih dari 4 mm dan melibatkan daerah penglihatan (visual axis). Lesi/jejas yang luas (extensive), jika kambuh, dapat berhubungan dengan fibrosis subkonjungtiva dan meluas hingga ke fornix yang terkadang dapat menyebabkan keterbatasan pergerakan mata.

Gambar 1. Tampak jaringan fibrovaskuler konjungtiva.

Gambar 2. Pterigium Gejala pterygium bervariasi dari orang ke orang. Pada beberapa orang, pterigyum akan tetap kecil dan tidak mempengaruhi penglihatan. Pterygium ini diperhatikan karena alasan kosmetik. Pada orang yang lain, pterygium akan tumbuh cepat dan dapat meyebabkan kaburnya penglihatan. Pterygium tidak menimbulkan rasa sakit. Gejalanya termasuk : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Mata merah Mata kering Iritasi Keluar air mata (berair) Sensasi seperti ada sesuatu dimata Penglihatan yang kabur

Diagnosis pterigium dapat ditegakkan berdasarkan pemeriksaan berikut: 1. Pemeriksaan Visus 2. Slit lamp

Tujuan utama penatalaksanaan pterygium adalah untuk : 1. 2. 3. 4. Mengevaluasi ukuran Mencegah inflamasi Mencegah infeksi Aid dalam proses penyembuhan, apabila operasi dilakukan Observasi: Pemeriksaan mata secara berkala, biasanya ketika pterygium tidak menimbulkan atau menimbulkan gejala yang minimal. Apabila gejala bertambah berat, dapat ditambahkan : 1. Medikamentosa Dapat diberikan antibiotik untuk mencegah infeksi, kortikosteroid untuk mengurangi inflamasi, lubrikasi okular seperti airmata buatan. 2. Therapy radiasi Apabila penglihatan menjadi kabur, maka pterygium harus dioperasi. Akan tetapi pterigium dapat muncul kembali. Pemberian mytomycin C to aid in healing dan mencegah rekurensi, seusai pengangkatan pterygium dengan operasi, selain itu menunda operasi sampai usia dekade 4 dapat mencegah rekurensi. Secara umum, lindungi mata dari paparan langsung sinar matahari, debu, dan angin, misalnya dengan memakai kacamata hitam.

II.

PSEUDOPTERIGIUM Pseudopterigium merupakan perlekatan konjungtiva dengan kornea yang cacat. Sering pseudopterigium ini terjadai pada proses penyembuhan tukak kornea, sehingga konjungtiva menutupi kornea. Letak pseudopterygium ini pada daerah konjungtiva yang terdekat dengan proses kornea sebelumnya PTERIGIUM Selalu di fisura palpebra Bisa progresif atau stasioner Ulkus kornea (-) Negatif PSEUDOPTERIGIUM Sembarang lokasi Selalu stasioner Ulkus kornea (+) Positif

1. Lokasi 2.Progresifitas 3.Riwayat peny. 4.Tes sondase

Pseudopterygium tidak memerlukan pengobatan, serta pembedahan, kecuali sangat mengganggu visus, atau alasan kosmetik. III. PINGUEKULA Pinguekula merupaka benjolan pada konjungtiva bulbi yang merupakan degenerasi hialin jaringan submukosa konjungtiva. Pinguekula sangat umum terjadi, tidak berbahaya, biasanya bilateral (mengenai kedua mata). Pinguecula biasanya tampak pada konjungtiva bulbar berdekatan dengan limbus nasal (di tepi/pinggir hidung) atau limbus temporal. Terdapat lapisan berwarna kuning-putih (yellow-white deposits), tak berbentuk (amorphous).

Patogenesis belum jelas, tetapi umumnya diterima, bahwa rangsangan luar mempunyai peranan pada timbulnya pinguekula. Sebagai rangsangan luar antara lain adalah panas, debu, sinar matahari, udara kering6. Pengobatan Biasanya tidak diperlukan,jika terjadi inflamasi/ radang akut yang disebut pinguekulitis, maka diberikan steroid lemah. Mencegah rangsangan luar sangat dianjurkan.

Gambar 3. Pinguekula

IV.

HEMATOMA SUBKONJUNGTIVA Hematoma subkonjungtiva dapat terjadi pada keadaan dimana pembuluh darah rapuh (umur, hipertensi, arteiosklerosis, konjungtivitis hemorraghik, pemakaian antikoagulan, batuk rejan). Perdarahan subkonjungtiva dapat juga terjadi akibat trauma langsung atau tidak langsung, yang kadang menutupi perforasi jaringan bola mata yang terjadi. Biasanya tidak perlu pengobatan karena akan diserap dengan spontan dalam waktu 13 minggu.

V.

EPISKLERITIS SKLERITIS

Episkleritis Gambar. Episkleritis

Skleritis 1. 2. 3. Skleritis anterior diffus Skleritis nodular Skleritis nekrotik

Gambar. Skleritis

VI.

KONJUNGTIVITIS VIRUS GATAL HIPEREMI LAKRIMASI EKSUDAT (SEKRET) Minimal Menyeluruh ++ Minimal (serous, mukous) BAKTERI Minimal Menyeluruh + Banyak (mukopurulen/pur ulen) Jarang PMN ALERGI Berat Menyeluruh + Minimal (benang)

ADENOPATI SEL-SEL

+ Monosit

Eosinofil

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Konjungtivitis Kataral Konjungtivitis Purulen, Mukopurulen Konjuntivitis Membran Konjungtivitis Folikular Konjungtivitis Vernal Konjungtivitis Flikten

Mata Merah dengan Visus Menurun Glaukoma Akut Glaukoma akut adalah penyakit mata yang disebabkan oleh tekanan intraokuler yang meningkat mendadak sangat tinggi. Menyerang pasien usia 40 tahun atau lebih. Manifestasi Klinis Rasa sakit hebat yang menjalar ke kepala disertai mual dan muntah, mata merah dan bengkak, tajam penglihatan sangat menurun, dan melihat lingkaran-lingkaran seperti pelangi. Pada pemeriksaan dengan lampu senter terlihat injeksi konjungtiva, injeksi siliar, kornea suram karena sembab, reaksi pupil hilang atau melambat, kadang pupil midriasis, kedua bilik mata depan tampak dangkal pada bentuk primer, sedangkan pada bentuk sekunder dijumpai penyakit penyebabnya. Funduskopi sukar dilakukan karena terdapat kekeruhan media refraksi. Pada perabaan, bola mata yang sakit teraba lebih keras dibanding sebelahnya. Penatalaksanaan Tekanan intraokular harus diturunkan secepatnya dengan memberikan asetazolamid 500 mg dilanjutkan 4 x 250 mg. Diberikan tetes mata kortikosteroid dan antiobiotik untuk mengurangi reaksi infiamasi.

Uveitis Anterior Uveitis anterior adalah peradangan jaringan uvea anterior, terdiri dari iritis atau iridosiklitis. Terjadi mendadak, biasanya berjalan 6-8 minggu. Etiologi Penyebab eksogen seperti trauma uvea atau invasi mikroorganisme atau agen lain dari luar. Secara endogen, dapat disebabkan idiopatik, autoimun, keganasan, mikroorganisme atau agen lain dari dalam tubuh pasien, misalnya pada infeksi tuberkulosis, Herpes simpleks, dan sebagainya. Manifestasi Klinis Fotofobia, sakit, mata merah, penurunan penglihatan, sukar melihat dekat, dan lakrimasi pada keadaan akut. Bila kronik, mata menjadi putih dan gejala-gejala minimal walau terjadi inflamasi berat. Pada pemeriksaan ditemukan injeksi siliar, miosis pupil, flare pada bilik mata depan, bila sangat akut dapat terjadi hifema atau hipopion, nodul iris seperti benjolan Koeppe atau benjolan Busacca, tekanan bola mata dapat turun akibat hipofungsi badan siliar atau meningkat karena pelebaran pembuluh siliar dan perilimbus. Penatalaksanaan Terapi harus segera dilakukan untuk mencegah kebutaan. Diberikan steroid tetes mata pada siang hari dan salep pada malam hari. Dapat dipakai deksametason, betametason, atau prednisolon 1 tetes setiap 5 menit kemudian diturunkan hingga perhari. Endoftalmitis Endoftalmitis adalah peradangan supuratif dalam bola mata. Etiologi Infeksi kuman atau jamur setelah trauma atau bedah, atau secara endogen akibat sepsis. Bakteri yang sering menjadi penyebab adalah Stafilokok, Streptokok, Pneumokok, Pseudomonas, sedangkan jamur yang sering menjadi penyebab Aktinomises, Aspergilus, dan sebagainya. Manifestasi Klinis Rasa sakit berat; kelopak merah, bengkak, dan sukar dibuka; terdapat pus; konjungtiva kemosis dan merah; kornea keruh; bilik mata depan keruh; kadang disertai hipopion. Tidak ada refleks merah pada pupil. Penatalaksanaan Antibiotik topikal melaiui periokular atau subkonjungtiva dan sistemik ampisilin 2 gram/hari dan kloramfenikol 3 gram/hari. Ulkus Kornea Ulkus kornea adalah hilangnya sebagian permukaan kornea akibat kematian jaringan kornea.

Etiologi Bakteri, jamur, Acanthamoeba (biasanya berasal dari cairan pencuci lensa kontak), dan Herpes simpleks. Manifestasi Klinis Mata merah, sakit ringan hingga berat, fotofobia, penglihatan menurun, kadang kotor. Pada pemeriksaan terlihat kekeruhan berwarna putih pada kornea dengan defek epitel. lris sukar dilihat akibat edema kornea dan infiltrasi sel radang pada kornea. Dapat disertai penipisan kornea, lipatan Descemet, reaksi jaringan uvea berupa, flare, hipopion, hifema, dan sinekia posterior. Bila disebabkan jamur, maka infiltrat akan berwama abu-abu dikelilingi infiltrat halus di sekitarnya (fenomena satelit). Penatalaksanaan Pengobatan bertujuan menghalangi hidup bakteri dengan antibiotik dan mengurangi reaksi radang dengan steroid.

Memahami dan Menjelaskan Keratitis DEFINISI Keratitis adalah infeksi pada kornea yang biasanya diklasifikasikan menurut lapisan kornea yang terkena yaitu keratitis superfisialis apabila mengenal lapisan epitel atau bowman dan keratitis profunda atau interstisialis (atau disebut juga keratitis parenkimatosa) yang mengenai lapisan stroma (Ilyas, 2006) ETIOLOGI Penyebab keratitis bermacam-macam.Bakteri, virus dan jamur dapat menyebabkan keratitis.Penyebab paling sering adalah virus herpes simplex tipe 1. Selain itu penyebab lain adalah kekeringan pada mata, pajanan terhadap cahaya yang sangat terang, benda asing yang masuk ke mata, reaksi alergi atau mata yang terlalu sensitif terhadap kosmetik mata, debu, polusi atau bahan iritatif lain, kekurangan vitamin A dan penggunaan lensa kontak yang kurang baik (Mansjoer, 2001). Keratitis Bakteri : Streptococcus, Pseudomonas, Enterobacteriaceae (meliputi Klebsiella, Enterobacter, Serratia, and Proteus) dan golongan Staphylococcus. Lebih dari 20 kasus keratitis jamur (terutama candidiasis) terjadi komplikasi koinfeksi bakteri. Keratitis Viral : Herpes Simplex dan Varicela-Zooster Keratitis Jamur :Jamur berfilamen (filamentous fungi) : bersifat multiseluler dengan cabang-cabang hifa. a) Jamur bersepta : Furasium sp, Acremonium sp, Aspergillus sp, Cladosporium sp, Penicillium sp, Paecilomyces sp, Phialophora sp, Curvularia sp, Altenaria sp.

b)

Jamur tidak bersepta : Mucor sp, Rhizopus sp, Absidia sp.

Jamur ragi (yeast) yaitu jamur uniseluler dengan pseudohifa dan tunas : Candida albicans, Cryptococcus sp, Rodotolura sp. KLASIFIKASI Keratitis biasanya diklasifikasikan berdasarkan lapisan kornea yang terkena, yaitu keratitis superfisialis apabila mengenai lapisan epitel dan bowman dan keratitis profunda apabila mengenai lapisan stroma. Bentuk-bentuk klinik keratitis superfisialis antara lain adalah (Ilyas, 2006): Keratitis punctata superfisialis Berupa bintik-bintik putih pada permukaan kornea yang dapat disebabkan oleh sindrom dry eye, blefaritis, keratopati logaftalmus, keracunan obat topical, sinar ultraviolet, trauma kimia ringan dan pemakaian lensa kontak. Keratitis flikten Benjolan putih yang yang bermula di limbus tetapi mempunyai kecenderungan untuk menyerang kornea. Keratitis sika Suatu bentuk keratitis yang disebabkan oleh kurangnya sekresi kelenjar lakrimale atau sel goblet yang berada di konjungtiva. Keratitis lepra Suatu bentuk keratitis yang diakibatkan oleh gangguan trofik saraf, disebut juga keratitis neuroparalitik. Keratitis nummularis Bercak putih berbentuk bulat pada permukaan kornea biasanya multiple dan banyak didapatkan pada petani. Bentuk-bentuk klinik keratitis profunda antara lain adalah : Keratitis interstisialis luetik atau keratitis sifilis congenital Keratitis sklerotikans. Keratitis pungtata Keratitis yang tekrumpul pada membrane bowman dengan infiltrate bercak bercak halus. Keratitis superfisilais Ditemukan adanya infiltrate halus berbintik bintik pada permukaan kornea, merupakan cacat halus kornea superfisialis dan hijau bila diwarnai florescent. Keratitis subepitel, terkumpul dibawah membrane bowman,bersifat kronis.

Keratitis marginal Keratitis yg timbul didaerah tepi kornea sejajar dengan limbus, penderita mengeluh sakit seperti kelilipan lakrimasi disertai fotofobia. Pada mata akan terlihat blefarospasme pada satu mata. Infiltrate dan ulkus yg memanjang.sering dengan neovaskularisasi dari arah limbus. Keratitis interstisial Keratitis yg merupakan nonsupuratif profunda disertai neovaskularisasi.seluruh kornea keruh sehingag iris sukar dilihat. Pasien biasanya mengeluh fotofobia,lakrimasi dan menurunnya visus.keluhan biasanya bertahan seumur hidup. Keratitis bacterial Keratitis bakteri adalah gangguan penglihatan yang mengancam. Ciri-ciri khusus keratitis bakteri adalah perjalanannya yang cepat. Destruksi corneal lengkap bisa terjadi dalam 24 48 jam oleh beberapa agen bakteri yang virulen. Ulkus kornea, pembentukan abses stroma, edema kornea dan inflamasi segmen anterior adalah karakteristik dari penyakit ini. Patogen Grup bakteri yang paling banyak menyebabkan keratitis bakteri adalah Streptococcus, Pseudomonas, Enterobacteriaceae (meliputi Klebsiella, Enterobacter, Serratia, and Proteus) dan golongan Staphylococcus. Lebih dari 20 kasus keratitis jamur (terutama candidiasis) terjadi komplikasi koinfeksi bakteri. Banyak jenis ulkus kornea bakteri mirip satu sama lain dan hanya bervariasi dalam beratnya penyakit. Ini terutama berlaku untuk ulkus yang disebabkan bakteri oportunistik (mis., Streptococcus alfa-hemolyticus, Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, Nocardia, dan M fortuitum-chelonei), yang menimbulkan ulkus kornea indolen yang cenderung menyebar perlahan dan superficial (Vaughan, 2009). Patofisiologi Awal dari keratitis bakteri adalah adanya gangguan dari epitel kornea yang intak dan atau masuknya mikroorganisme abnormal ke stroma kornea, dimana akan terjadi proliferasi dan menyebabkan ulkus. Faktor virulensi dapat menyebabkan invasi mikroba atau molekul efektor sekunder yang membantu proses infeksi. Beberapa bakteri memperlihatkan sifat adhesi pada struktur fimbriasi dan struktur non fimbriasi yang membantu penempelan ke sel kornea. Selama stadium inisiasi, epitel dan stroma pada area yang terluka dan infeksi dapat terjadi nekrosis. Sel inflamasi akut (terutama neutrofil) mengelilingi ulkus awal dan menyebabkan nekrosis lamella stroma. Difusi produk-produk inflamasi (meliputi cytokines) di bilik posterior, menyalurkan sel-sel inflamasi ke bilik anterior dan menyebabkan adanya hypopyon. Toksin bakteri yang lain dan enzim (meliputi elastase dan alkalin protease) dapat diproduksi selama infeksi kornea yang nantinya dapat menyebabkan destruksi substansi kornea.

Temuan Klinis a. Keratitis Pneumokokus Ulkus kornea pneumokokus biasanya muncul 24-48 jam setelah inokulasi pada kornea yang lecet. Infeksi ini secara khas menimbulkan sebuah ulkus berbatas tegas warna kelabu yang cenderung menyebar secara tak teratur dari tempat infeksi ke sentral kornea. Batas yang maju menampakkan ulserasi aktif dan infiltrasi sementara batas yang ditinggalkan mulai sembuh. (Efek merambat ini menimbulkan istilah ulkus serpiginosa akut.) Lapis superfisial kornea adalah yang pertama terlibat, kemudian parenkim bagian dalam. Kornea sekitar ulkus sering bening. Biasanya ada hipopion. Kerokan dari tepian depan ulkus kornea pneumokokus mengandung diplokokus berbentuk-lancet gram-positif (Vaughan, 2009). b. Keratitis Pseudomonas Ulkus kornea pseudomonas berawal sebagai infiltrat kelabu atau kuning di tempat epitel kornea yang retak. Nyeri yang sangat biasanya menyertainya. Lesi ini cenderung cepat menyebar ke segala arah karena pengaruh enzim protcolitik yang dihasilkan organisme ini. Meskipun pada awalnya superfisial, ulkus ini dapat mengenai seluruh kornea. Umumnya terdapat hipopion besar yang cenderung membesar dengan berkembangnya ulkus. Infiltrat dan eksudat mungkin berwarna hijau kebiruan. Ini akibat pigmen yang dihasilkan organisme dan patognomonik untuk infeksi P aeruginosa. Pseudomonas adalah penyebab umum ulkus kornea bakteri. Kasus ulkus kornea Pseudomonas dapat terjadi pada abrasi kornea minor atau penggunaan lensa kontak lunak, terutama yang dipakai agak lama. Ulkus kornea yang disebabkan organisme ini bervariasi dari yang sangat jinak sampai yang menghancurkan. Organisme itu ditemukan melekat pada permukaan lensa kontak lunak. Beberapa kasus dilaporkan setelah penggunaan larutan florescein atau obat tetes mata yang terkontaminasi (Vaughan, 2009). c. Keratitis Streptokokus Khas sebagai ulkus yang menjalar dari tepi ke arah tengah kornea (serpinginous). Ulkus bewarna kuning keabu-abuan berbentuk cakram dengan tepi ulkus yang menggaung. Ulkus cepat menjalar ke dalam dan menyebabkan perforasi kornea, karena eksotoksin yang dihasilkan oleh streptokok pneumonia. Terapi a. Terapi antibiotika Tetes mata antibiotik mampu mencapai tingkat jaringan yang tinggi dan merupakan metode yang banyak dipakai dalam pengobatan banyak kasus. Salep pada mata berguna sewaktu tidur pada kasus yang kurang berat dan juga berguna sebagai terapi tambahan. Antibiotik subkonjungtiva dapat membantu pada keadaan ada penyebaran segera ke sclera atau perforasi atau dalam kasus di mana kepatuhan terhadap rejimen pengobatan diragukan.

Antibiotik topikal spektrum luas empiris digunakan pada pengobatan awal dari keratitis bakteri. Untuk keratitis yang parah (melibatan stroma atau dengan defek yang lebih besar dari 2 mm dengan nanah yang luas), diberikan dosis loadingsetiap 5 sampai 15 menit untuk jam pertama, diikuti oleh aplikasi setiap 15 menit sampai 1 jam pada jam berikutnya. Pada keratitis yang kurang parah, rejimen terapi dengan dosis yang kurang frekuen terbukti efektif. Agen Cycloplegic dapat digunakan untuk mengurangi pembentukan sinekhia dan untuk mengurangi nyeri pada kasus yang lebih parah pada keratitis bakteri dan ketika adanya peradangan bilik anterior mata. Terapi single-drug dengan menggunakan fluoroquinolone (misalnya ciprofloksasin, ofloksasin) menunjukkan efektiftivitas yang sama seperti terapi kombinasi. Tetapi beberapa patogen (misalnya Streptococcus, anaerob) dilaporkan mempunyai kerentanan bervariasi terhadap golongan fluoroquinolone dan prevalensi resistensi terhadap golongan fluoroquinolones tampaknya semakin meningkat. Gatifloksasin dan moksifloksasin (generasi keempat fluoroquinolone) telah dilaporkan memiliki cakupan yang lebih baik terhadap bakteri gram-positif dari fluoroquinolone generasi sebelumnya pada uji in-vitro. Namun, fluoroquinolone generasi keempat belum disetujui FDA untuk pengobatan keratitis bakteri. Terapi kombinasi antibiotika digunakan dalam kasus infeksi berat dan mata yang tidak responsif terhadap pengobatan. Pengobatan dengan lebih dari satu agen mungkin diperlukan untuk kasus-kasus penyebab mikobakteri non-tuberkulos. Antibiotik sistemik jarang dibutuhkan, tetapi dapat diipertimbangkan pada kasus-kasus yang parah di mana proses infeksi telah meluas ke jaringan sekitarnya (misalnya, sclera) atau ketika adanya ancaman perforasi dari kornea. Terapi sistemik juga diperlukan dalam kasus-kasus keratitis gonokokal. b. Terapi kortikosteroid Terapi topikal kortikosteroid memiliki peran bermanfaat dalam mengobati beberapa kasus menular keratitis. Keuntungan potensial adalah penekanan peradangan dan pengurangan pembentukan jaringan parut pada kornea, yang dapat menyebabkan kehilangan penglihatan. Antara kerugiannya pula termasuk timbulnya aktivitas infeksi baru, imunosupresi lokal, penghambatan sintesis kolagen dan peningkatan tekanan intraokular. Meskipun berisiko, banyak ahli percaya bahwa penggunaan kortikosteroid topikal dalam pengobatan keratitis bakteri dapat mengurangi morbiditas. Terapi kortikosteroid pada pasien yang sedang diobati dengan kortikosteroid topikal pada saat adanya curiganya keratitis bakteri hendaklah diberhentikan dahulu sampai infeksi telah dikendalikan. Prinsip pada terapi kortikosteroid topikal adalah menggunakan dosis minimal kortikosteroid yang bisa memberikan efek kontrol peradangan. Keberhasilan pengobatan membutuhkan perkiraan yang optimal, regulasi dosis secara teratur, penggunaan obat antibiotika yang memadai secara bersamaan, dan follow-up. Kepatuhan dari pasien sangat penting, dan tekanan intraokular harus sering dipantau. Pasien harus diperiksa dalam 1 sampai 2 hari setelah terapi kortikosteroid topikal dimulai.

Komplikasi Komplikasi yang paling ditakuti dari keratitis bakteri ini adalah penipisan kornea, dan akhirnya perforasi kornea yang dapat mengakibatkan endophthalmitis dan hilangnya penglihatan. Prognosis Prognosis visual tergantung pada beberapa faktor, seperti diuraikan di bawah ini, dan dapat mengakibatkan penurunan visus derajat ringan sampai berat. - Virulensi organisme yang bertanggung jawab atas keratitis - Luas dan lokasi ulkus kornea - Hasil vaskularisasi dan / atau deposisi kolagen Keratitis jamur Biasanya oleh karena adanya ruda paksa pada kornea oleh ranting pohon daun dan dari tumbuh2an.keluhan muncul biasanya 5 hari pasca rudapaksa atau 3mggu kemudian. Mata akan terlihat sebuah hifa dan disertai cincin endotel dengan plaque bercabang cabang. Keratitis jamur dapat menyebabkan infeksi jamur yang serius pada kornea dan berdasarkan sejumlah laporan, jamur telah ditemukan menyebabkan 6%-53% kasus keratitis ulseratif. Lebih dari 70 spesies jamur telah dilaporkan menyebabkan keratitis jamur (Grayson, 1983). Etiologi Secara ringkas dapat dibedakan : 1. (filamentous fungi) : bersifat multiseluler dengan cabang-cabang hifa. a) Jamur bersepta : Furasium sp, Acremonium sp, Aspergillus sp, Cladosporium sp, Penicillium sp, Paecilomyces sp, Phialophora sp, Curvularia sp, Altenaria sp. b) Jamur tidak bersepta : Mucor sp, Rhizopus sp, Absidia sp.

2. Jamur ragi (yeast) yaitu jamur uniseluler dengan pseudohifa dan tunas : Candida albicans, Cryptococcus sp, Rodotolura sp. Manifestasi Klinik Reaksi peradangan yang berat pada kornea yang timbul karena infeksi jamur dalam bentuk mikotoksin, enzim-enzim proteolitik, dan antigen jamur yang larut. Agen-agen ini dapat menyebabkan nekrosis pada lamella kornea, peradangan akut , respon antigenik dengan formasi cincin imun, hipopion, dan uveitis yang berat. Ulkus kornea yang disebabkan oleh jamur berfilamen dapat menunjukkan infiltrasi abu-abu sampai putih dengan permukaan kasar, dan bagian kornea yang tidak meradang tampak elevasi keatas. Lesi satelit yang timbul terpisah dengan lesi utama dan berhubungan

dengan mikroabses stroma. Plak endotel dapat terlihat paralel terhadap ulkus. Cincin imun dapat mengelilingi lesi utama, yang merupakan reaksi antara antigen jamur dan respon antibodi tubuh. Sebagai tambahan, hipopion dan sekret yang purulen dapat juga timbul. Reaksi injeksi konjungtiva dan kamera okuli anterior dapat cukup parah. Pada keratitis candida biasaya ditandai dengan lesi berwarna putih kekuningan. Untuk menegakkan diagnosis klinik dapat dipakai pedoman berikut : 1. Riwayat trauma terutama tumbuhan, pemakaian steroid topikal lama. 2. Lesi satelit. 3. Tepi ulkus sedikit menonjol dan kering, tepi yang ireguler dan tonjolan seperti hifa di bawah endotel utuh. 4. Plak endotel. 5. Hypopyon, kadang-kadang rekuren. 6. Formasi cincin sekeliling ulkus. 7. Lesi kornea yang indolen (Duane, 1987). Diagnosa Laboratorik Sangat membantu diagnosis pasti, walaupun bila negatif belum menyingkirkan diagnosis keratomikosis. Yang utama adalah melakukan pemeriksaan kerokan kornea (sebaiknya dengan spatula Kimura) yaitu dari dasar dan tepi ulkus dengan biomikroskop. Dapat dilakukan pewarnaan KOH, Gram, Giemsa atau KOH + Tinta India, dengan angka keberhasilan masing-masing 20-30%, 50-60%, 60-75% dan 80%. Lebih baik lagi melakukan biopsi jaringan kornea dan diwamai dengan Periodic Acid Schiff atau Methenamine Silver,tapi sayang perlu biaya yang besar. Akhir-akhir ini dikembangkan Nomarski differential interference contrast microscope untuk melihat morfologi jamur dari kerokan kornea (metode Nomarski) yang dilaporkan cukup memuaskan. Selanjutnya dilakukan kultur dengan agar Sabouraud atau agar ekstrak maltosa (Srinavan, 2006). Terapi Terapi medikamentosa di Indonesia terhambat oleh terbatasnya preparat komersial yang tersedia, tampaknya diperlukan kreativitas dalam improvisasi pengadaan obat, yang utama dalam terapi keratomikosis adalah mengenai jenis keratomikosis yang dihadapi bisa dibagi: 1. 2. 3. 4. Belum diidentifikasi jenis jamur penyebabnya. Jamur berfilamen. Ragi (yeast). Golongan Actinomyces yang sebenarnya bukan jamur sejati. Untuk golongan I : Topikal Amphotericin B 1,02,5 mg/ml, Thiomerosal (10 mg/ml), Natamycin > 10 mg/ml, golongan Imidazole. Untuk golongan II : Topikal Amphotericin B 0,15%, Miconazole 1%, Natamycin 5% (obat terpilih), econazole 1% (obat terpilih). Untuk golongan III : Econazole 1%, Amphoterisin B 0,15 %, Natamycin 5%, Clotrimazole 1%, fluoconazol 2 % (Jack, 2009).

Untuk golongan IV : Golongan Sulfa, berbagai jenis Antibiotik. Steroid topikal adalah kontra indikasi, terutama pada saat terapi awal. Diberikan juga obat sikloplegik (atropin) guna mencegah sinekia posterior untuk mengurangi uveitis anterior. Tidak ada pedoman pasti untuk penentuan lamanya terapi; kriteria penyembuhan antara lain adalah adanya penumpulan(blunting atau rounding-up) dari lesi-lesi ireguler pada tepi ulkus, menghilangnya lesi satelit dan berkurangnya infiltrasi di stroma di sentral dan juga daerah sekitar tepi ulkus. Perbaikan klinik biasanya tidak secepat ulkus bakteri atau virus. Adanya defek epitel yang sulit menutup belum tentu menyatakan bahwa terapi tidak berhasil, bahkan kadang-kadang terjadi akibat pengobatan yang berlebihan. Jadi pada terapi keratomikosis diperlukan kesabaran, ketekunan dan ketelitian dari kita semua (Grayson, 1983). Keratitis virus Keratitis Herpes Simplek Keratitis herpes simpleks merupakan salah satu infeksi kornea yang paling sering ditekan dalam praktek. Disebabkan oleh virus herpes simpleks, ditandai dengan adanya infiltrasi sel radang & edema pada lapisan kornea manapun. Pada mata, virus herpes simplek dapat diisolasi dari kerokan epitel kornea penderita keratitis herpes simpleks. Penularan dapat terjadi melalui kontak dengan cairan dan jaringan mata, rongga hidung, mulut, alat kelamin yang mengandung virus (Ilyas, 2006). Temuan klinis Kelainan mata akibat infeksi herpes simpleks dapat bersifat primer dan kambuhan. lnfeksi primer herpes simplek primer pada mata jarang ditemukan ditandai oleh adanya demam, malaise, limfadenopati preaurikuler, konjungtivitis folikutans, bleparitis, dan 2/3 kasus terjadi keratitis epitelial. Kira-kira 94-99% kasus bersifat unilateral, walaupun pada 40% atau lebih dapat terjadi bilateral khususnya pada pasien-pasien atopic (Vaughan, 2009), bentuk ini umumnya dapat sembuh sendiri, tanpa menimbulkan kerusakan pada mata yang berarti. Terapi antivirus topikal dapat dipakai unutk profilaksis agar kornea tidak terkena dan sebagai terapi untuk penyakit kornea. Infeksi primer dapat terjadi pada setiap umur, tetapi biasanya antara umur 6 bulan-5 tahun atau 16-25 tahun. Keratitis herpes simpleks didominir oleh kelompok laki-laki pada umur 40 tahun ke atas (American academy, 2006). Infeksi herpes simpleks laten terjadi setelah 2-3 minggu pasca infeksi primer. Dengan mekanisme yang tidak jelas, virus menjadi inaktif dalam neuron sensorik atau ganglion otonom. Dalam hal ini ganglion servikalis superior, ganglion n.trigeminus, dan ganglion siliaris berperan sebagai penyimpan virus. Namun akhir-akhir ini dibuktikan bahwa jaringan kornea sendiri berperan sebagai tempat berlindung virus herpes simpleks. Beberapa kondisi yang berperan terjadinya infeksi kambuhan antara lain: demam, infeksi saluran nafas bagian atas, stres emosional, pemaparan sinar matahari atau angin, haid, renjatan anafilaksis, dan kondisi imunosupresi (Vaughan, 2009). Walaupun diobati, kira-kira 25% pasien akan kambuh pada tahun pertama, dan meningkat menjadi 33% pada tahun kedua. Peneliti lain bahkan melaporkan angka yang lebih besar yaitu 46,57% keratitis herpes simpleks kambuh dalam kurun waktu 4 bulan setelah

infeksi primer. Penelitian di Yogyakarta mendapatkan angka kekambuhan hanya 11,5% dalam kurun waktu 6 bulan pengamatan setelah penyembuhan. Perbedaan angka-angka tersebut dimungkinkan oleh perbedaan cara pengobatan (American academy, 2007). Kebanyakan infeksi HSV pada kornea disebabkan HSV tipe 1 namun beberapa kasus pada bayi dan dewasa dilaporkan disebabkan HSV tipe 2. Lesi kornea kedua jenis ini tidak dapat dibedakan. Gejala Klinis Gejala utama umumnya iritasi, fotofobia, mata berair. Bila kornea bagian pusat yang terkena terjadi sedikit gangguan penglihatan. Karena anestesi kornea umumnya timbul pada awal infeksi, gejala mungkin minimal dan pasien mungkin tidak datang berobat. Sering ada riwayat lepuh lepuh, demam atau infeksi herpes lain, namun ulserasi kornea kadang kadang merupakan satu satunya gejala infeksi herpes rekurens (Vaughan, 2009). Berat ringannya gejala-gejala iritasi tidak sebanding dengan luasnya lesi epitel, berhubung adanya hipestesi atau insensibilitas kornea. Dalam hal ini harus diwaspadai terhadap keratitis lain yang juga disertai hipestesi kornea, misalnya pada: herpes zoster oftalmikus,keratitis akibat pemaparan dan mata kering, pengguna lensa kontak, keratopati bulosa, dan keratitis kronik. Gejala spesifik pada keratitis herpes simpleks ringan adalah tidak adanya foto-fobia (Ilyas, 2000). Lesi Keratitis herpes simplek juga dapat dibedakan atas bentuk superfisial, profunda, dan bersamaan dengan uveitis atau kerato uveitis. Keratitis superfisial dapat berupa pungtata, dendritik, dan geografik. Keratitis dendritika merupakan proses kelanjutan dari keratitis pungtata yang diakibatkan oleh perbanyakan virus dan menyebar sambil menimbulka kematian sel serta membentuk defek dengan gambaran bercabang. Lesi bentuk dendritik merupakan gambaran yang khas pada kornea, memiliki percabangan linear khas dengan tepian kabur, memiliki bulbus terminalis pada ujungnya. Pemulasan fluoresein memudahkan melihat dendrit, namun sayangnya keratitis herpes dapat juga menyerupai banyak infeksi kornea yang lain dan harus dimasukkan dalam diagnosis diferensial (Vaughan, 2009). Ada juga bentuk lain yaitu bentuk ulserasi geografik yaitu sebentuk penyakit dendritik menahun yang lesi dendritiknya berbentuk lebih lebar hat ini terjadi akibat bentukan ulkus bercabang yang melebar dan bentuknya menjadi ovoid. Dengan demikian gambaran ulkus menjadi seperti peta geografi dengan kaki cabang mengelilingi ulkus. Tepian ulkus tidak kabur. Sensasi kornea, seperti halnya penyakit dendritik, menurun. Lesi epitel kornea lain yang dapat ditimbulkan HSV adalah keratitis epitelial blotchy, keratitis epitelial stelata, dan keratitis filamentosa. Namun semua ini umumnya bersifat sementara dan sering menjadi dendritik khas dalam satu dua hari (Vaughan, 2009). Patogenesa Keratitis herpes simplek dibagi dalam 2 bentuk yaitu epitelial dan stromal Kerusakan terjadi pada pembiakan virus intraepitelial, mengakibatkan kerusakan sel epitelial dan

membentuk tukak kornea superfisial. Pada yang stromal terjadi reaksi imunologik tubuh terhadap virus yang menyerang yaitu reaksi antigen antibodi yang menarik sel radang kedalam stroma. Sel radang ini mengeluarkan bahan proteolitik untuk merusak virus tetapi juga akan merusak jaringan stroma disekitarnya. Hal ini penting diketahui karena manajemen pengobatan pada yang epitelial ditujukan terhadap virusnya sedang pada yang stromal ditujukan untuk menyerang virus dan reaksi radangnya. Perjalanan klinik keratitis dapat berlangsung lama kaena stroma kornea kurang vaskuler, sehingga menghambat migrasi limfosit dan makrofag ke tempat lesi. Infeksi okuler HSV pada hospes imunokompeten biasanya sembuh sendiri, namun pada hospes yang secara imunologik tidak kompeten, perjalanannya mungkin menahun dan dapat merusak (Vaughan, 2009). Terapi Bertujuan menghentikan replikasi virus didalam kornea, sambil memperkecil efek merusak akibat respon radang. 1. Debridement Cara efektif mengobati keratitis dendritik adalah debridement epitelial, karena virus berlokasi di dalam epitel. Debridement juga mengurangi beban antigenik virus pada stroma kornea. Epitel sehat melekat erat pada kornea, namun epitel terinfeksi mudah dilepaskan. Debridement dilakukan dengan aplikator berujung kapas khusus. Yodium atau eter topikal tidak banyak manfaat dan dapat menimbulkan keratitis kimiawi. Obat siklopegik seperti atropi 1 % atau homatropin5% diteteskan kedalam sakus konjugtiva, dan ditutup dengan sedikit tekanan. Pasien harus diperiksa setiap hari dan diganti penutupnya sampai defek korneanya sembuh umumny adalah 72 jam. Pengobatan tambahan dengan anti virus topikal mempercepat pemulihan epitel. Terapi obat topikal tanpa debridement epitel pada keratitis epitel memberi keuntungan karena tidak perlu ditutup, namun ada kemungkinan pasien menghadapi berbagai keracunan obat (Vaughan, 2009). 2. Terapi obat Agen anti virus topikal yang di pakai pada keratitis herpes adalah idoxuridine, trifluridine, vidarabine, dan acyclovir. Trifluridine dan acyclovir jauh lebih efektif untuk penyakit stroma dari pada yang lain. Idoxuridine dan trifluridine sering kali menimbulkan reaksi toxik. Acyclovir oral ada mamfaatnya untuk pengobatan penyakit herpes mata berat, khususnya pada orang atopik yang rentan terhadap penyakit herpes mata dan kulit agresif (eczema herpeticum). Study multicenter terhadap efektivitas acyclovir untuk pengobatan kerato uveitis herpes simpleks dan pencegahan penyakit rekurens kini sedang dilaksanakan ( herpes eye disease study) (Vaughan, 2009). Replikasi virus dalam pasien imunokompeten, khususnya bila terbatas pada epitel kornea, umumnya sembuh sendiri dan pembentukan parut minimal. Dalam hal ini penggunaan kortikosteroid topikal tidak perlu, bahkan berpotensi sangat merusak. Kortikosteroid topikal dapat juga mempermudah perlunakan kornea, yang meningkatkan risiko perforasi kornea. Jika memang perlu memakai kortikosteroid topikal karena hebatnya respon peradangan, penting sekali ditambahkan obat anti virus secukupnya untuk mengendalikan replikasi virus (Vaughan, 2009).

3. Bedah Keratolasti penetrans mungkin diindentifikasi untuk rehabilitasi penglihatan pasien yang mempunyai parut kornea berat, namun hendaknya dilakukan beberapa bulan setelah penyakit herpes non aktif. Pasca bedah, infeksi herpes rekurens dapat timbul karena trauma bedah dan kortikosteroid topikal yang diperlukan untuk mencegah penolakan transplantasi kornea. Juga sulit dibedakan penolakan transplantasi kornea dari penyakit stroma rekurens (Vaughan, 2009). Perforasi kornea akibat penyakit herpes stroma atau superinfeksi bakteri atau fungi mungkin memerlukan keratoplasti penetrans darurat. Pelekat jaringan sianokrilat dapat dipakai secara efektif untuk menutup perfosi kecil dan graft petak lamelar berhasil baik pada kasus tertentu. Keratoplasi lamelar memiliki keuntungan dibanding keratoplasti penetrans karena lebih kecil kemungkinan terjadi penolakan transparant. Lensa kontak lunak untuk terapi atau tarsorafi mungkin diperlukan untuk pemulihan defek epitel yang terdapat padakeratitis herpes simplek (Vaughan, 2009). 4. Pengendalian mekanisme pemicu yang mengaktifkan kembali infeksi HSV Infeksi HSV rekurens pada mata banyak dijumpai kira kira sepertiga kasus dalam 2 tahun serangan pertama. Sering dapat ditemukan mekanisme pemicunya. Setelah denga teliti mewawancarai pasien. Begitu ditemukan, pemicu itu dapat dihindari. Aspirin dapat dipakai untuk mencegah demam, pajanan berlebihan terhadap sinar matahari atau sinar UV dapat dihindari. Keadaan keadaan yang dapat menimbulkan strea psikis dapat dikurangi. Dan aspirin dapat diminum sebelum menstruasi (Vaughan, 2009). Prognosis Prognosis akhirnya baik karena tidak terjadi parut atau vaskularisasi pada kornea. Bila tidak diobati, penyakit ini berlangsung 1-3 tahun dengan meninggalkan gejala sisa. Keratitis Virus Varisela Zoster Infeksi virus varicella zoster terjadi dalam 2 bentuk: primer (varicella) dan rekuren (zoster). Manifestasi pada mata jarang terjadi pada varicella namun sering pada zoster ophthalmic. Pada varicella, lesi mata umumnya pada kelopak dan tepian kelopak. Jarang ada keratitis (khas lesi stroma perifer dengan vaskularisasi), dan lebih jarang lagi keratitis epithelial dengan atau tanpa pseudodendrite. Pernah dilaporkan keratitis disciformis, dengan uveitis yang lamanya bervariasi (Vaughan, 2009). Berbeda dari lesi kornea varicella, yang jarang dan jinak, zoster ophthalmic relatif banyak dijumpa, kerap kali disertai keratouveitis yang bervariasi beratnya sesuai dengan status kekebalan pasien. Komplikasi kornea pada zoster ophthalmic dapat diperkirakan timbul jika terdapat erupsi kulit di daerah yang dipersarafi cabang-cabang Nervus Nasosiliaris (Vaughan, 2009).

Berbeda dari keratitis HSV rekuren, yang umumnya hanya mengenai epithel, keratitis VZV mengenai stroma dan uvea anterior pada awalnya. Lesi epitelnya keruh dan amorf, kecuali kadang-kadang pada pseudodendrite linear yang sedikit mirip dendrite pada keratitis HSV. Keluhan stroma disebabkan oleh edema dan sedikit infiltrate sel yang pada awalnya hanya subepitel. Keadaan ini dapat diikuti penyakit stroma dalam dengan nekrosis dan vaskularisasi. Kadang-kadang timbul keratitis disciformis dan mirip keratitis disciformis HSV. Kehilangan sensasi kornea selalu merupakan ciri mencolok dan sering berlangsung berbulan-bulan setelah lesi kornea tampak sudah sembuh. Uveitis yang timbul cenderung menetap beberapa minggu sampai bulan, namun akhirnya sembuh. Skleritis dapat menjadi masalah berat pada penyakit VZV mata (Vaughan, 2009). Acyclovir intravena dan oral telah dipakai dengan hasil baik untuk mengobati herpes zoster ophthalmic, khususnya pada pasien yang kekebalannya terganggu. Dosis oralnya adalah 800mg, 5 kali sehari untuk 10-14 hari. Terapi hendaknya dimulai 72 jam setelah timbulnya kemerahan. Peranan antivirus topikal kurang meyakinkan. Kortikosteroid topikal mungkin diperlukan untuk mengobati keratitis berat, uveitis, dan glaukoma sekunder. Penggunaan kortikosteroid sistemik masih kontroversial. Terapi ini mungkin diindikasikan untuk mengurangi insidensi dan hebatnya neuralgia paska herpes. Namun demikian keadaan ini sembuh sendiri (Vaughan, 2009).

PATOGENESIS Karena kornea avaskuler, maka pertahanan pada waktu peradangan tidak segera datang, seperti pada jaringan lain yang mengandung banyak vaskularisasi. Maka badan kornea, wandering cell dan sel-sel lain yang terdapat dalam stroma kornea, segera bekerja sebagai makrofag, baru kemudian disusul dengan dilatasi pembuluh darah yang terdapat dilimbus dan tampak sebagai injeksi perikornea. Sesudahnya baru terjadi infiltrasi dari sel-sel mononuclear, sel plasma, leukosit polimorfonuklear (PMN), yang mengakibatkan timbulnya infiltrat, yang tampak sebagai bercak berwarna kelabu, keruh dengan batas-batas tak jelas dan permukaan tidak licin, kemudian dapat terjadi kerusakan epitel dan timbulah ulkus kornea (Vaughan, 2009). Kornea mempunyai banyak serabut saraf maka kebanyakan lesi pada kornea baik superfisial maupun profunda dapat menimbulkan rasa sakit dan fotofobia.Rasa sakit juga diperberat dengan adanaya gesekan palpebra (terutama palbebra superior) pada kornea dan menetap sampai sembuh.Kontraksi bersifat progresif, regresi iris, yang meradang dapat menimbulkan fotofobia, sedangkan iritasi yang terjadi pada ujung saraf kornea merupakan fenomena reflek yang berhubungan dengan timbulnya dilatasi pada pembuluh iris.Fotofobia, yang berat pada keba-nyakan penyakit kornea, minimal pada keratitis herpes karena hipestesi terjadi pada penyakit ini, yang juga merupakan tanda diagnostik berharga.Meskipun berair mata dan fotofobia umumnya me-nyertai penyakit kornea, umumnya tidak ada tahi mata kecuali pada ulkus bakteri purulen (Vaughan, 2009).

Karena kornea berfungsi sebagai jendela bagi mata dan mem-biaskan berkas cahaya, lesi kornea umumnya agak me-ngaburkan penglihatan, terutama kalau letaknya di pusat (Vaughan, 2009). MANIFESTASI KLINIS Mata nyeri Fotofobia (sensitif terhadap cahaya) Mata merah Radang pada kelopak mata (bengkak, edema) Penglihatan kabur Mata berair Sekret (bakteri = purulen, virus = serous) Sensasi benda asing

DIAGNOSIS Anamnesis pasien penting pada penyakit kornea. Sering dapat diungkapkan adanya riwayat trauma. kenyataannya, benda asing dan abrasi merupakan dua lesi yang umum pada kornea. Adanya riwayat penyakit kornea juga bermanfaat. Keratitis akibat infeksi herpes simpleks sering kambuh, namun karena erosi kambuh sangat sakit dan keratitis herpetik tidak, penyakit-penyakit ini dapat dibedakan dari gejalanya. Hendaknya pula ditanyakan pemakaian obat lokal oleh pasien, karena mungkin telah memakai kortikosteroid, yang dapat merupakan predisposisi bagi penyakit bakteri, fungi, atau oleh virus, terutama keratitis herpes simpleks. Juga mungkin terjadi imunosupresi akibat penyakit-penyakit sistemik, seperti diabetes, AIDS, dan penyakit ganas, selain oleh terapi imunosupresi khusus (Vaughan, 2009). Dokter memeriksa di bawah cahaya yang memadai. Pemeriksaan sering lebih mudah dengan meneteskan anestesi lokal. Pemulusan fluorescein dapat memperjelas lesi epitel superfisialis yang tidak mungkin tidak telihat bila tidak dipulas. Pemakaian biomikroskop (slitlamp) penting untuk pemeriksaan kornea dengan benar; jika tidak tersedia, dapat dipakai kaca pembesar dan pencahayaan terang. Harus diperhatikan perjalanan pantulan cahaya saat menggerakkan cahaya di atas kornea. Daerah kasar yang menandakan defek pada epitel terlihat dengan cara ini (Vaughan, 2009). Mayoritas kasus keratitis bakteri pada komunitas diselesaikan dengan terapi empiris dan dikelola tanpa hapusan atau kultur. Hapusan dan kultur sering membantu dalam kasus dengan riwayat penyakit yang tidak jelas. Hipopion yang terjadi di mata dengan keratitis bakteri biasanya steril, dan pungsi akuos atau vitreous tidak perlu dilakukan kecuali ada kecurigaan yang tinggi oleh mikroba endophthalmitis. Kultur adalah cara untuk mengidentifikasi organisme kausatif dan satu-satunya cara untuk menentukan kepekaan terhadap antibiotik. Kultur sangat membantu sebagaipanduan modifikasi terapi pada pasien dengan respon klinis yang tidak bagus danuntuk mengurangi toksisitas dengan mengelakkan obat-obatan yang tidak perlu. Dalam perawatan mata secara

empiris tanpa kultur dimana respon klinisnya tidak bagus, kultur dapat membantu meskipun keterlambatan dalam pemulihan patogen dapat terjadi. Sampel kornea diperoleh dengan memakai agen anestesi topikal dan menggunakan instrumen steril untuk mendapatkan atau mengorek sampel dari daerah yang terinfeksi pada kornea. Kapas steril juga dapat digunakan untuk mendapatkan sampel. Ini paling mudah dilakukan dengan perbesaran Slit Lamp. Biopsi kornea dapat diindikasikan jika terjadi respon yang minimal terhadap pengobatan atau jika kultur telah negatif lebih dari satu kali dengan gambaran klinis yang sangat mendukung suatu proses infeksi. Hal ini juga dapat diindikasikan jika infiltrat terletak di pertengahan atau dalam stroma dengan jaringan atasnya tidak terlibat. Pada pasien kooperatif, biopsi kornea dapat dilakukan dengan bantuan Slit Lamp atau mikroskop operasi. Setelah anestesi topikal, gunakan sebuah pisau untuk mengambil sepotong kecil jaringan stroma, yang cukup besar untuk memungkinkan pembelahan sehingga satu porsi dapat dikirim untuk kultur dan yang lainnya untuk histopatologi. Spesimen biopsi harus disampaikanke laboratorium secara tepat waktu. DIAGNOSIS LABORATORIK Sangat membantu diagnosis pasti, walaupun bila negatif belum menyingkirkan diagnosis keratomikosis. Yang utama adalah melakukan pemeriksaan kerokan kornea (sebaiknya dengan spatula Kimura) yaitu dari dasar dan tepi ulkus dengan biomikroskop. Dapat dilakukan pewarnaan KOH, Gram, Giemsa atau KOH + Tinta India, dengan angka keberhasilan masing-masing 20-30%, 50-60%, 60-75% dan 80%. Lebih baik lagi melakukan biopsi jaringan kornea dan diwamai dengan Periodic Acid Schiff atau Methenamine Silver, tapi sayang perlu biaya yang besar. Akhir-akhir ini dikembangkan Nomarski differential interference contrast microscope untuk melihat morfologi jamur dari kerokan kornea (metode Nomarski) yang dilaporkan cukup memuaskan. Selanjutnya dilakukan kultur dengan agar Sabouraud atau agar ekstrak maltosa (Srinavan, 2006). DIAGNOSIS BANDING

TATALAKSANA PENCEGAHAN Bagi pemakai lensa kontak harus menggunakan cairan desinfektan pembersih yang steril untuk membersihkan lensa kontak. Jangan terlalu sering memakai lensa kontak. Ganti lensa kontak bila sudah waktunya untuk ganti. Pemeriksaan mata rutin ke dokter mata. Makan makanan bergizi yang mengandung vitamin A. Memakai kaca mata pelindung, misalnya kacamata dengan lapisan anti UV dapat membantu menahan kerusakan mata dari sinar UV

PROGNOSIS Prognosis bergantung pada beberapa faktor: Virulensi organisme Lokasi dan perluasan ulkus kornea Vaskularisasi dan deposit kolagen

Dengan diagnosis dan pengobatan dini serta tepat dapat membantu mengurangi kejadian hilangnya penglihatan.

KOMPLIKASI Ulkus Hipopion (penimbunan nanah di ruang anterior mata) Penipisan kornea Descemetocele sekunder Perforasi kornea (dapat mengakibatkan endophtalmitis) Hilangnya penglihatan

Memahami dan Menjelaskan Menjaga Mata dan Penglihatan Berdasarkan Agama Islam Islam Mengharuskan untuk dapat menjaga mata atau pandangan Sebab mata kuncinya hati. Dan pandangan itu pengutus fitnah yang sering membawa kepada perbuatan zina. Oleh karena itu Allah berfirman, "Katakanlah kepada laki-laki mukmin hendaklah mereka memalingkan pandangan (dari yang haram) dan menjaga kehormatan mereka.....Dan katakanlah kepada kaum wanita hendaklah mereka meredupkan mata mereka dari yang haram dan menjaga kehormatan mereka..." (QS. An-Nur: 30-31) Yang dimaksudkan menundukkan pandangan yaitu menjaga pandangan, tidak melepaskan pandangan begitu saja apalagi memandangi lawan jenis penuh dengan gelora nafsu.

DAFTAR PUSTAKA Sloane, Ethel. 2004. Anatomi dan Fisiologi. Jakarta : EGC

Snell, Richard. 1997. Anatomi Klinik bagian 3 edisi 3. Jakarta : EGC Ganong, W.F. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran edisi 22. Jakarta : EGC
www.kotakmedis.com/2011/10/keratitis-2/

Ilyas, S. 2006. Kedaruratan Dalam Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : Balai Penerbit
FKUI Vaughan, 2009. Oftalmologi Umum

Ilyas, S., Mailangkay, H.H.B., Taim, H, Saman, R.R., Simarmata, M., Widodo,
P.S : Ilmu Penyakit Mata untuk Dokter Umum dan Mahasiswa Kedokteran, edisi kedua, Jakarta, C. V. Sagung Seto, 2002.

Ilyas, Sidarta : Ilmu Penyakit Mata, edisi kedua, Jakarta, Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, 2002.

Ilyas S. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Edisi 3. Jakarta : Balai Penerbit BukuFakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 2006. 147-6.