Anda di halaman 1dari 18

PBL Langkah 1 a. Kata-kata sulit 1. Tes Simmonds : Tes untuk mengetahui kelainan tendon yang terjadi di tulang calcaneus.

2. Plantar fleksi : Gerakan meluruskan kaki pada pergelangan kaki, dengan cara telapak kaki di arahkan ke belakang. b. Finding problem 1. Otot-otot apa saja yang bekerja saat melakukan plantar plantar fleksi? 2. Bagaimana mekanisme yang terjadi sampai dia dapat terjatuh? 3. Manifestasi klinis apa saja yang dirasakan? 4. Kenapa kakinya tidak bisa melakukan gerakan plantar fleksi? 5. Pertolongan pertama apa yang harus dilakukan jika terjadi rupture tendon Achilles? 6. Kenapa harus dilakukan test Simmonds? 7. Bagaimana cara melakukan test Simmonds? 8. Test apalagi yang dapat digunakan selain test Simmonds? 9. Penatalaksanaan yang dapat dilakukan? 10. Pemeriksaan penunjang apa saja yang dapat dilakukan? c. Brain storming 1. M. Gastroknemius, M. Soleus, dan M. Plantaris. 2. Karena tendon Achillesnya putus / sobek, sehingga yang biasanya beban tubuh bisa ditanggung tendon Achilles saat tendon putus, yang menahan beban tubuh berkurang dan tubuh terjatuh. 3. Nyeri tekan, edema, memar, dan fungsi organ terganggu. 4. Jika tendon normal kaki dapat melakukan gerakan plantar fleksi karena pada pergelangan kaki, terdapat tendon Achilles. Saat tendon putus / sobek kaki tidak dapat melakukan gerakan plantar fleksi karena tendon yang biasanya tersambung, justru terputus dan tidak dapat berkontraksi. 5. Pada bagian yang rupture dibalut kemudian dibawa ke Rumah Sakit untuk penanganan lebih lanjut. 6. Untuk mengetahui apakah terdapat tendon Achilles yang rupture atau tidak. 7. Pasien tengkurap, posisi kaki berada di ujung tempat tidur, kemudian betis di remas, jika otot normal terdapat gerakan plantar fleksi, jika otot rupture tidak akan ditemukan gerakan plantar fleksi. 8. Obriens test dan Copeland test. 9. Dilakukan operasi dengan segera atau di gips. 10. Pemeriksaan radiologi, rontgen, MRI, dan ultrasonografi. d. Hipotesis Laki-laki yang terjatuh, dirasakan nyeri pada pergelangan kaki lalu dilakukan test Simmonds, dengan hasil test tidak ditemukannya gerakan plantar fleksi, dan diduga terjadi rupture tendon Achilles.

PBL Langkah 3 Sasaran Belajar LO. 1 Memahami dan Menjelaskan Anatomi Tendon Achilles 1.1 Menjelaskan Anatomi Makroskopis dan Kinesiology Tendon Achilles 1.2 Menjelaskan Anatomi Mikroskopis Tendon Achilles LO. 2 Memahami dan Menjelaskan Ruptur Tendon Achilles 2.1 Menjelaskan Definisi Ruptur Tendon Achilles 2.2 Menjelaskan Etiologi Ruptur Tendon Achilles 2.3 Menjelaskan Manifestasi Klinis Ruptur Tendon Achilles 2.4 Menjelaskan Patofisiologi Ruptur Tendon Achilles 2.5 Menjelaskan Diagnosis, Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang Ruptur Tendon Achilles 2.6 Menjelaskan Diagnosis Banding Ruptur Tendon Achilles 2.7 Menjelaskan Penatalaksanaan (Bedah dan Non Bedah) Ruptur Tendon Achilles 2.8 Menjelaskan Komplikasi Ruptur Tendon Achilles 2.9 Menjelaskan Prognosis Ruptur Tendon Achilles 2.10 Menjelaskan Pencegahan Ruptur Tendon Achilles

LO. 1 Memahami dan Menjelaskan Anatomi Tendon Achilles 1.1 Menjelaskan Anatomi Makroskopis dan Kinesiology Tendon Achilles Tendon achilles atau calcaneus merupakan tendo yang paling kuat dalam tubuh. Tendo tersebut memiliki panjang kira-kira 15cm. Meskipun sama-sama memiliki tendo communis, dua otot M. Triceps surae (m. Gastocnemius dan m. Soleus) mampu bekerja sendiri, dan sering melakukan hal demikian: anda berjalan dengan M. Soleus tetapi memenangkan lompat jauh dengan gastrocnemius.

Gambar 1. Tendo Achilles M. gastrocnemius adalah otot yang paling superfisial dalam kompartemen posterior dan membentuk bagian proksimal, paling menonjol pada betis. M. soleus terletak di dalam gastrocnemius dan dianggap kuda beban plantarfleksi. M. Soleus merupakan otot besar, lebih rata daripada M. Gastrocnemius. M. Soleus dapat dipalpasi pada setiap sisi M. Gastrocnemius bila seseorang berdiri pada ujung jarinya. M. plantaris adalah otot terkecil dengnan venter kecil dan tendo panjang. Tendonya panjang dan ramping sehingga hampir salah seperti saraf. Kinesiologi

Gambar 2. Kinesiologi Tendo Achilles Tendo achilles merupakan insersio otot dorsal superfisial di calcaneus. Yaitu kelompok fleksor superficiali terdiri atas M. Triceps surae dan M. Plantaris. M. Triceps surae merupakan

fleksor articulatio talocruralis yang paling kuat serta supinator kaki yang juga terkuat, bahkan lebih kuat daripada M. Tibilis posterior. Kontraksi M. Gastrocnemius menimbulkan gerakan cepat selama berlari dan melompat. M. Gastrocnemius Otot berfungsi paling efektif bila lutut ekstensi dan secara maksimal diaktivasi bila ekstensi lutut dikombinasi dengan dorsifleksi, seperti saat start lari cepat (sprint). Otot tidak mampu menimbulkan plantarfleksi bila lutut fleksi penuh. M. Soleus sebagai otot antigravitasi karena plantarfleksor nya predominan untuk berdiri dan mendorong dan dengan otot dorsiflektor tungkai untuk mempertahankan keseimbangan. Walaupun merupakan plantarfleksor terkuat tetapi lambat pada art. Talocruralis. M. Plantaris bekerja pada M. Gastrocnemius tetapi tidak signifikan baik sebagai fleksor lutut atau plantarfleksor pergelangan kaki, sehingga dapat sebagai pengcakokan (misalnya pembedahan rekonstruksi tendo tangan) tanpa bisa kecacatan. Gerak sendi Fleksi Dorsalis : M. tibialis anterior, M. extensor digitorum longus, M. proneus tertius dan M. extensor hallucis longus. Fleksi Plantar : M. gastrocnemius, M. soleus, M. plantaris, M. flexor hallucis longus, M. peroneus longus dan brevis M. tibialis posterior Articulatio: 1. Articularis Subtalaris (Talocalcanea) Tulang : Os. Talus & os. Calcaneus Jenis sendi : Gliding Gerak sendi : Geser Sumbu gerak : Mempunyai sumbu gerak yang berjalan dari posterior inferior menuju anterosuperior os. Calcaneus. Memperkuat sendi : Ligamentum talocalcaneum laterale, ligamentum talocacaneum mediale, anterior, posterior & logamentum talocalcaneum interoseum. Pada articulatio subtalaris dapat dilihat gerak eversi dimana telapak kaki bergerak ke lateral, sedangkan gerak inversi bergerak ke medial. Seringkali istilah inversi & eversi digantikan dengan istilah pronasi dan supinasi. Eversi 5 derajat terjadi akibat dorsofleksi dan abduksi. Sedangkan inversi 20 derajat akibat plantarfleksi dan adduksi. 2. Articularis Talocalcaneonavicularis Tulang : Os. Talus, Os. Calcaneus, Os. Cuboideum Jenis sendi : Gliding Gerak sendi : Geser & Rotasi Memperkuat sendi : Ligamentum talonaviculare & ligamentum calcaneonaviculare 3. Articularis Calcaneocuboidea Tulang : Os. Calcaneus & Os. Cuboideum Jenis sendi : Plana Gerak sendi : Geser & sedikit rotasi Memperkuat sendi: Ligamentum calcaneocuboideum dorsale at plantare, ligamentum plantar longum & articulationes tarsometatarsales

1.2 Menjelaskan Anatomi Mikroskopis Tendon Achilles Tendon Achilles adalah pita jaringan fibrosa yang fleksibel terletak di bagian belakang pergelangan kaki yang menghubungkan otot betis dengan tulang tumit. Tendon adalah struktur dalam tubuh yang menghubungkan otot ke tulang. Otot ini dalam tubuh adalah petanggung jawab untuk menggerakkan tulang, sehingga memungkinkan seseorang untuk berjalan, melompat, mengangkat beban, dan bergerak dalam banyak cara. Ketika otot kontraksi, hal itu menarik pada tulang menyebabkan gerakan ini. Struktur yang memancarkan kekuatan kontraksi otot ke tulang disebut tendon. Tendon bertindak sebagai transduser dari gaya yang dihasilkan oleh kontraksi otot terhadap tulang. Kolagen merupakan 70% dari berat kering tendo. Sekitar 95% dari kolagen tendo adalah kolagen tipe-I, dengan jumlah elastin yang sangat kecil. Elastin dapat menjalanit ekanan sebesar 200% sebelum rusak. Struktur: 1. Kolagen (70% dari berat kering tendon) 2. Glycine (33%) 3. Proline (15%) 4. Hydroxyproline (15%) Jika elastin ada pada tendon dalam proporsi yangbesar, maka akan ada penurunan dalam besarnya gaya yang ditransmisikan ke tulang. Fibril kolagen terikat ke fesikula, mengandung pembuluh darah dan pembuluh limfatik serta saraf.fasikula-fasikula tergabung bersama, dikelilingi oleh epitenon, dan membentuk struktur kasar dari tendon, yang kemudian tertutup oleh paratenon, terpisah dari epitenon oleh lapisan tipis cairan untuk memungkinkan pergerakan tendon dengan mengurangi gesekan.

Gambar 3. Mikroskopis tendon Struktur terbesar dalam skema di atas adalah tendon atau Ligamentum atau tendon kemudian dipecah menjadi entitas yang lebih kecil disebut fasciles (lembaran). Lembaran berisi fibril dasar ligamentum atau tendon, dan fibroblas, yang merupakan sel-sel biologis yang menghasilkan ligamen atau tendon. Ada karakterisitik struktural pada tingkat ini yang memainkan peran

penting dalam mekanisme ligamen atau tendon, yaitu crimp dari fibril. Crimp merupakan struktur bergelombang dari fibril, dan ia akan memberikan kontribusi signifikan terhadap hubungan stress regangan nonlinear untuk ligamen dan tendon Serat kolagen terdapat pada semua jenis jaringan ikat yang terdiri atas protein-protein kolagen. Dalam keadaan segar, kolagen berwarna putih. Diameternya berkisar antara 1-12 mikron. Beberapa serabut bergabung menjadi berkas serabut yang lebih besar. Dalam keadaan segar bersifat lunak, dan sangat kuat. Susunan serabut kolagen bergelombang, karenannya bersifat lentur. Benang serabut kolagen yang paling halus yang dapat dilihat dengan mikroskop cahaya adalah fibril dengan tebal kurang lebih 0,3 sampai 0,5 m. Selanjutnya fibril ini disusun oleh satuan serabut yang lebih kecil yang disebut miofibril dengan diameter 45 sampai 100nm. Miofibril ini hanya terlihat dengan mikroskop elekron dan tampak mempunyai garis melintang khas dengan periodisitas 67 nm. Serabut kolagen memiliki daya tahan tarik tinggi. Serabut kolagen dijumpai pada tendon, ligamen, kapsula, dll. Serabut ini bening dan terlihat garis memanjang. Bila kolagen direbus akan menghasilkan gelatin. Serabut kolagen dapat dicerna oleh pepsin dan enzim kolagenase. Paling tidak telah dikenal 2 jenis serabut kolagen dengan variasi pada urutan asam amino dari rantai (alfa). Dari 20 jenis tersebut, ada 6 tipe kolagen yang paling utama dan secara genetik berbeda. Keenam tipe kolagen tersebut adalah : 1. Tipe I : tipe kolagen yang paling banyak ditenukan. Terdapat pada jaringan ikat dewasa, tulang, gigi dan sementum 2. Tipe II : tipe kolagen ini dibentuk oleh kondroblas dan merupakan unsur utama penyusun matriks tulang rawan. Kolagen ini ditemukan pada kartilago hyalin dan elastik 3. Tipe III : Kolagen ini ditemukan pada awal perkembangan beberapa jenis jaringan ikat. Pada keadaan dewasa kolagen ini terdapat pada jaringan retikuler. 4. Tipe IV : terdapat pada lamina densa pada lamina basalis dan diperkirakan merupakan hasil sel-sel yang langsung berhubungan engan lamina tersebut 5. Tipe V : terdapat pada plasenta, dan berhubungan dengan kolagen tipe I 6. Tipe VI : terdapat pada basal lamina

Gambar 4. Histologis tendon Achilles normal

Gambar 5. Histologis tendon Achilles ruptur Meskipun tendon Achilles normal hampir seluruhnya terdiri dari kolagen tipe-I, tendon Achilles yang putus juga berisi proporsi besar dari kolagen tipe-III. Fibroblast dari tendon Achilles yang putus menghasilkan baik kolagen tipe-I dan tipe-III pada kultur. Kolagen tipe-III kurang tahan terhadap kekuatan tarikan dank arena itu dapat mempengaruhi putusnya tendon secara spontan. Tendon Achilles normal menunjukkan pengaturan selular yang terorganisir dengan baik,sangat berbeda dengan tendon yang putus. Tenosit, yang merupakan fibroblast khusus,muncul pada potongan longitudinal. Fibroblast tendo terdapat di antara berkas-berkas serat dan sebagian besar sitoplasmanya terdapat berupa cabang-cabang mirip sirip tipis yang terjulur di antara, dan sebagian mengelilingi, berkas serat berdekatan. Jumlah bervariasi berkas primer ini digabung menjadi berkas sekunder yang lebih besar yang dikelilingi oleh lapis jaringan ikat longgar yang sangat tipis, yang dilalui pembuluh darah dan saraf kecil. Di tepian tendo, septa tipis ini menyatu dengan lapisan jaringan ikat padat tak teratur yang membentuk selubung tendo. Pada beberapa tendo panjang dapat dilihat dua lapisan selubung, lapis-dalam bersebelahan dengan kolagen dan lapis-luar yang berhubungan secara longgar dengan bangun-bangun sekitar tendo. Diantara kedua lapis ini terdapat ruang sempit yang dilapisis sel-sel gepeng dan berisikan cairan kental, yang komposisinya serupa dengan cairan synovial rongga sendi. Cairan ini berfungsi ebagai pelumas yang memungkinkan tendo secara mulus meluncur di dalam selubung. Pengaturan yang baik ini disebabkan oleh sekresikolagen secara sentrifugal yang seragam disekitar kolom tenosit, yang menghasilkan baik komponen fibriler dan nonfibriler dari matriks eksraseluler dan juga dapat menyerap kembali serat-serat kolagen. Dibandingkan dengan bagian lain dari tubuh, tendo Achilles memiliki suplai darah yang relatif sedikit. Darah dipasok ke Achilles tendo dalam dua cara. Darah dipasok ke bagian proksimal dari tendo Achilles oleh otot yang terhubung ke tendo Achilles. Darah dipasok ke bagian distal tendo Achilles oleh permukaan antara tendo-tulang. Dalam kedua kasus, pasokan sebagian besar melalui bagian mesotenon dari paratenon tersebut. Vaskularisasi darah terlemah pada sambungan Achilles - tumit dan suplai darah yang paling lemah pada titik sekitar 3 / 4 "- 2 3 / 8" (2-6 cm) di atas sambungan tendo Achilles - tumit tulang.

LO. 2 Memahami dan Menjelaskan Ruptur Tendon Achilles 2.1 Menjelaskan Definisi Ruptur Tendon Achilles Putusnya tendon Achilles itu adalah keadaan dimana tendon besar itu di belakang pergelangan kaki itu pecah atau terputusnya tendon. Tendon merupakan jaringan fibrosa di bagian belakang pergelangan kaki yang menghubungkan otot betis dengan tulang tumit. Rupture tendon Achilles adalah roben atau putusnya hubungan tendon (jaringan penyambung) yang disebabkan oleh cidera dari perubahan posisi kaki secara tiba-tiba atau mendadak dalam keadaan dorsifleksi pasif maksimal. 2.2 Menjelaskan Etiologi Ruptur Tendon Achilles Dorsofleksi yang tiba-tiba secara pasif pada keadaan kontraksi maksimal otot betis dan etiologi yang lain adalah pecah lengkap tendon Achilles. Dalam kebanyakan kasus tendon tidak sehat sebelum robek dan terjadi pada tendo yang kurang menerima aliran darah. Biasanya ruptur tendo Achilles lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan pada wanita. Penyebab lainnya juga bisa karena penyakit tertentu seperti arthritis dan diabetes, obat-obatan, seperti kortikosteroid dan beberapa antibiotik yang dapat meningkatkan risiko pecah, cedera dalam olah raga, seperti melompat dan berputar pada olah raga badminton,tenis, basket dan sepak bola ataupun olahraga berat lainnya, trauma benda tajam atau tumpul pada bawah betis, dan obesitas. Faktor risiko yang berhubungan dengan ruptur tendon Achilles diantaranya adalah : 1. Atlet rekreasi (prajurit akhir pekan) 2. Relatif pada usia tua (30-50 thn) 3. Riwayat ruptur tendon achilles sebelumnya 4. Pengguanaan kortikosteroid dan fluorokuinolon. Flourokuinolon menurunkan transkripsi decorin, penurunan decorin menyebabkan perubahan pada arsitektur tendon, sifat biomekanik dan menghasilkan peningkatan kerapuhan. 5. Perubahan mendadak dalam pelatihan, intensitas, atau tingkat aktivitas 6. Partisipasi dalam aktivitas baru yang berat 7. Penyakit tertentu, seperti arthritis dan diabetes 8. Trauma benda tajam atau tumpul pada bawah betis 9. Obesitas 2.3 Menjelaskan Manifestasi Klinis Ruptur Tendon Achilles Rasa sakit mendadak yang berat dirasakan pada bagian belakang pergelangan kaki atau betis seperti adanya rasa sakit pada tendon achilles sekitar 1-3 inci di atas tulang tumit. daerah ini paling sedikit menerima supplai darah dan mudah sekali mengalami cedera meskipun oleh sebab yang sederhana, meskipun oleh sepatu yang menyebabkan iritasi. Terlihat bengkak dan kaku serta tampak memar dan merasakan adanya kelemahan yang luas pada serat-serat protein kolagen, yang mengakibatkan robeknya sebagian serat atau seluruh serat tendon. Terlihat depresi di tendon 3-5 cm diatas tulang tumit Tumit tidak bisa digerakan turun naik Sebuah kesenjangan atau depresi dapat dilihat di tendon sekitar 2 cm di atas tulang tumit

Biasanya, snap tiba-tiba atau pop dirasakan di bagian belakang pergelangan kaki. Pasien mungkin menggambarkan sensasi ditendang di bagian belakang kaki. Nyeri bisa berat. nyeri yang datang secara tiba-tiba selama melakukan kegiatan, khususnya saat mengubah arah lari atau pada saat lari mendaki. Atlet mungkin merasakan adanya bagian yang lembek bila meraba daerah sekitar tendon, hal ini dikarenakan adanya cairan peradangan yang berkumpul dibawah selaput peritenon. Nyeri lokal, bengkak dengan gamblang kesenjangan sepanjang Achilles tendon dekat lokasi penyisipan, dan kekuatan plantarflexion lemah aktif semua sangat menyarankan diagnosis. 2.4 Menjelaskan Patofisiologi Ruptur Tendon Achilles Saat istirahat, tendon memiliki konfigurasi bergelombang akibat batasan di fibrilkolagen. Stress tensil menyebabkan hilangnya konfigurasi bergelombang ini, hal ini yang menyebabkan pada daerah jari kaki adanya kurva tegangan-regangan. Saat serat kolagen rusak, tendon merespons secara linear untuk meningkatkan beban tendon. Jika renggangan yang ditempatkan pada tendon tetap kurang dari 4 persen- yaitu batas beban fisiologi secara umum serat kembali ke konfigurasi asli mereka pada penghapusan beban. Pada tingkat ketegangan antara 4-8 persen, serat kolagen mulai meluncur melewati 1 sama lain karena jalinan antar molekul rusak. Pada tingkat tegangan lebih besar dari 8 persen terjadi rupture secara makroskopik karena kegagalan tarikan oleh karena kegagalan pergeseran fibriller dan interfibriller. Penyebab pasti pecah Achilles tendon dapat terjadi tiba-tiba, tanpa peringatan, atau akibat tendinitis Achilles . Tampaknya otot betis yang lemah dapat menyebabkan masalah. Jika otototot menjadi lemah dan lelah, mereka dapat mengencangkan dan mempersingkat kontraksi. Kontraksi berlebihan juga dapat menjadi masalah dengan mengarah pada kelelahan otot. Semakin lelah otot betis, maka semakin pendek dan akan menjadi lebih ketat. Keadaan sesak seperti ini dapat meningkatkan tekanan pada tendon Achilles dan mengakibatkan kerobekan. Selain itu, ketidakseimbangan kekuatan otot-otot kaki anterior bawah dan otot-otot kaki belakang yang lebih rendah juga dapat mengakibatkan cedera pada tendon Achilles. Achilles tendon robek lebih mungkin ketika gaya pada tendon lebih besar dari kekuatan tendon. Jika kaki yang dorsofleksi sedangkan kaki bagian bawah bergerak maju dan betis kontrak otot, kerobekan dapat terjadi. Kerobekan banyak terjadi selama peregangan kuat dari tendon sementara otot betis berkontraksi. 2.5 Menjelaskan Diagnosis, Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang Ruptur Tendon Achilles Untuk menegakakkan diagnosis sebuah penyakit pada pasien maka dokter harus melakukan anamnesis, inspeksi, palpasi maupun auskultasi kepada pasiennya. Dan pada kasus rupture tendo Achilles, untuk menegakkan diagnosis maka diperlukan: 1. 2. Anamnesis Keluhan nyeri di daerah pergelangan kaki hingga ke betis Keluhan kaku di pagi hari Tidak dapat atau kurang mampu menggerakan kaki (terutama fleksi) Inspeksi

3.

Pembengkakan di daerah pergelangan kaki Deformitas/ perubahan bentuk Palpasi Terdapat lokasi tenderness/ nyeri tekan pada lokasi tendon Achilles Temperature pada daerah tendon Achilles sedikit lebih tinggi Terjadi spasme otot terutama pada musculus gastrocnemius

Setelah diagnosis dapat ditegakan maka dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik, yang dapat dilihat dari pergerakan tumit dan otot. Apabila pergerakannya lemah atau bahkan tidak ada pergerakan maka akan dicurigai tendon Achilles mengalami rupture. Berikut adalah beberapa tes fisik yang dapat dilakukan : 1. Tes Simmonds/ Tes Thompson Tes ini dilakukan untuk mengetahui kelainan tendon yang terjadi di tulang calcaneus. Caramelakukan tes ini, penderita tidur dengan posisi tengkurap, dengan kedua kaki dipinggirtempat tidur, lalu dilakukan kompresi pada otot betis. Pada otot yang normal, setelahdilakukan kompresi maka akan terjadi flexi plantar, sebaliknya jika setelah dilakukan flexiplantar dan tidak terjadi flexi plantar, maka telah terjadi ruptur tendon achilles.

Gambar 6. Tes Simmonds / Tes Thompson 2. Tes Obrien Sebuah jarum suntik dimasukkan melalui kulit pada betis, dari medial ke garis tengah, dan 10cm proksimal terhadap masuknya tendon. Jarum dimasukkan dampai ujungnya ada di dalam substansi tendon. Pergelangan kaki kemudian bergantian melakukan plantar fleksi dan dorsofleksi. Jika, pada dorsofleksi, titik jarum distal, bagian dari tendon distal jarum dianggap utuh. Jika titik jarum proksimal, diduga hilangnya kontinuitas antara jarum dan tempat penyisipan dari tendon. Gambar 7. Tes Obriens

3. Tes Copeland Untuk tes ini, manset Sphygmomanometer melilit betis di bagian tengah sementara pasienberbaring rawan. Manset mengembang hingga 100 milimeter merkuri (13,33 kilopascal)dengan kaki di fleksi plantar. Kaki kemudian dorsofleksi. Jika tekanan naik sampai sekitar140 milimeter merkuri (18,66 kilopascal), unit musculotendinous dianggap menjadi utuh. Namun, jika tekanan tetap sekitar 100 milimeter merkuri (13,33 kilopascal), maka diagnosis ruptur tendon Achilles dapat ditegakkan.

Gambar 8. Tes Copeland Selain melakukan pemeriksaan fisik, dokter juga bias meneruskan ke pemeriksaan radiologi. Pemeriksaan tersebut adalah: 1. MRI (Magnetic Resonance Imaging) G a m b a r 9 . M R I tendon Achilles Kegunaan : Untuk membedakan rupture lengkap dari degenerasi tendon Achilles, paratenonitis, tendonitis dan bursitis. Teknik ini menggunakan medan magnet yang kuat untuk menyelaraskan jutaan proton berjalan melalui tubuh. Proton ini kemudian dibombardir dengan gelombang radio yang merubuhkan beberapadari proton tsb keluar dari garis (alignment). Ketika proton kembali mereka (proton) memancarkan gelombang radio mereka sendiri yang unik yang dapat dianalisis olehkomputer dalam 3D untuk membuat gambar tajam penampang silang dari area penting. MRIdapat

memberikan kontras yang tak tertandingi dalam jaringan lunak untuk foto berkualitassangat tinggi sehingga mudah untuk teknisi menemukan robekan dan cedera lainnya.Fig.11 tendon Achilles robek parsial.Sobek longitudinal interstisial (panah putih) dan buktidegenerasi hipoksia yang mendasari dengan tendontebal juga bisa dilihat. 2. X- ray

Gambar 10. X-ray tendon Achilles Kegunaan : Mengindetifikasi secara tidak langsung robekan tendon Achilles, tetapi tidak efektif untuk mengedintifikasi cedera pada jaringan lunak Sinar-X dibuat ketika elektron energi tinggi menghantam sumber logam. Gambar sinar-X diperoleh dengan memanfaatkan karakteristik redaman yang berbeda dari padat (misalnya kalsium dalam tulang) dan kurang padat (ototmisalnya) jaringan ketika sinar melewati jaringan dan ditangkap di film. Sinar-X umumnya dipakai untuk mengoptimalkan visualisasi benda padat seperti tulang, sementara jaringan lunak masih relatif tidak dibedakan di latar belakang nya. Radiografi memiliki peran kecil dalam penilaian cedera tendon Achilles dan lebih berguna untuk mengesampingkan cederalain seperti patah tulang kalkanealis.

3.

Ultrasonografi

Gambar 11. USG tendon Achilles Kegunaan : Menentukan ketebalan tendon, karakter dan adanya robekan. Sangat mudah untuk mengetahui structural jaringan lunak dan menjadi metode yang konsisten untuk mendeteksi jenis cedera. Bekerja dengan mengirimkan frekuensi yang sangat tinggi dari suara melalui tubuh pasien. Beberapasuara dipantulkan kembali dari ruang antara cairan interstisial dan jaringan lunak atau tulang. Gambar-gambar yang tercermin ini dapat dianalisis dan dihitung ke dalam suatu gambar. Gambar-gambar ditangkap secara nyata dan dapat membantu dalam mendeteksi pergerakan tendon dan memvisualisasikan kemungkinan cedera atau robek. 2.6 Menjelaskan Diagnosis Banding Ruptur Tendon Achilles 1. Ruptur tendon Achilles Yaitu putusnya tendon achilles secara paksa, karena terlalu sering di beri tekanan, periode tendon achilles di dahului tahap tendonisitis yang membuat tendo semakin lemah. 2. Tendo calcaneal bursitis Bursa adalah kantung berisi cairan yang dirancang untuk membatasi gesekan. Ketika bursa ini meradang disebut bursitis. Tendo calcaneal bursitis adalah peradangan pada bursa di belakang tilang tumit. Bursa ini biasanya membatasi gesekan. Dimana achilles tendon fibrosa tebal di belakang tumit meluncur turun naik. 3. Achilles tendoncitis Cedera ini biasanya terjadi saat kontraksi kuat dari otot seperti ketika berjalan/ berlari, achiles tendoncitis adalah sebuah strain kekerasan yang dapat membuat trauma tendon achilles dan betis. 4. Achilles tendinopathy atau tendonosis Kronis yang berlebihan bisa berpengaruh pada perubahan tendon achilles yang juga menyebabkan degenerasi dan penebalan tendon.

2.7 Menjelaskan Penatalaksanaan (Bedah dan Non Bedah) Ruptur Tendon Achilles Stabilisasi awal Setelah diagnosis dibuat, pergelangan kaki harus splinted dalam equinus dengan baik empuk untuk membantu elevasi mengendalikan pembengkakan. Nonoperative Orthosis pergelangan kaki Indikasi treatment harus individual kepada pasien Selama 10 minggu berikutnya, pergelangan kaki secara bertahap dibawa ke posisi plantigrade dengan perubahan cor kira-kira setiap 2 minggu. Berat tubuh diperbolehkan setelah 6 minggu.Setelah casting, angkat tumit biasanya dipakai selama beberapa bulan. Operative Perbaikan langsung Indikasi lebih sering terjadi pada cedera akut (<6 minggu) Rekonstruksi dengan interposisi EDL atau plantaris. Terapi Fisik Banyak rehabilitasi tersedia. Umumnya, terapi awalnya melibatkan progresif, gerakan kaki aktif dan berkembang menjadi berat tubuh dan memperkuat. Ada tiga hal yang perlu diingat saat merehabilitasi sebuah Achilles pecah: Rentang gerak, Rentang gerak ini penting karena dibutuhkan ke dalam pikiran ketatnya tendon diperbaiki. Ketika awal rehabilitasi pasien harus melakukan peregangan ringan dan meningkatkan intensitas sebagai waktu mengizinkan dan nyeri. Kekuatan fungsional, tendon ini penting karena merangsang perbaikan jaringan ikat, yang dapat dicapai saat melakukan "peregangan pelari," (menempatkan jari-jari kaki beberapa inci sampai dinding sementara tumit Anda ada di tanah). Melakukan peregangan untuk mendapatkan kekuatan fungsional juga penting karena meningkatkan penyembuhan pada tendon, yang pada gilirannya akan menyebabkan kembali cepat untuk kegiatan. Peregangan ini harus lebih intens dan harus melibatkan beberapa jenis berat bantalan, yang membantu reorientasi dan memperkuat serat kolagen di pergelangan kaki terluka. Sebuah hamparan populer digunakan untuk tahap rehabilitasi adalah menaikkan kaki pada permukaan yang tinggi. Kadang-kadang dukungan orthotic. Ini tidak ada hubungannya dengan peregangan atau memperkuat tendon, melainkan di tempat untuk menjaga pasien nyaman. Ini adalah menyisipkan dibuat custom yang sesuai ke dalam sepatu pasien dan membantu dengan pronasi tepat kaki, yang merupakan yang dapat menyebabkan masalah dengan Achilles. Pengobatan non - bedah Sebuah cor atau penjepit akan dimasukkan ke kaki bawah untuk membantu menyembuhkan tendon . Anda akan perlu untuk memakai ini selama enam sampai delapan minggu . Selama ini , para pemain akan berubah beberapa kali untuk memastikan tendon Anda menyembuhkan dengan

cara yang benar .Jenis pengobatan ini cocok untuk orang-orang yang mungkin memiliki komplikasi selama operasi . Namun, ada risiko yang lebih besar bahwa tendon Anda akan kembali pecah , dibandingkan dengan operasi .Jika tendon Anda sebagian pecah Anda akan lebih mudah diberi dituang atau penjepit , bukan operasi. Setelah cor atau penjepit dihilangkan Anda akan perlu untuk secara bertahap meningkatkan aktivitas Anda untuk memperkuat tendon. Dokter Anda, atau seorang fisioterapis (seorang profesional kesehatan yang mengkhususkan diri dalam mempertahankan dan meningkatkan gerakan dan mobilitas), akan memberikan sejumlah latihan yang harus dilakukan, yang akan meningkatkan berbagai gerakan dan kekuatan di kaki Anda lebih rendah. Fisioterapis Anda dapat mencoba berbagai teknik untuk mengurangi rasa sakit yang Anda miliki. Ini mungkin termasuk latihan dan teknik jaringan lunak (jaringan dalam pijat). Dia juga akan memberitahu Anda tentang cara untuk kembali berolahraga. Anda harus dapat kembali ke aktivitas enam bulan setelah cedera Anda. Namun, ini mungkin memakan waktu lebih lama dan juga akan tergantung pada aktivitas. Pengobatan bedah atau operasi Tindakan operasi dapat dilakukan, dimana ujung tendon yang terputus disambungkan kembali dengan teknik penjahitan. Tindakan pembedahan dianggap paling efektif dalam penatalaksanaan tendon yang terputus. Tindakan non operasi dengan orthotics atau theraphi fisik. Tindakan tersebut biasanya dilakukan untuk non atlit karena penyembuhanya lama atau pasienya menolak untuk dilakukan tindakan operasi. Ada dua jenis operasi, operasi terbuka dan operasi perkutan : Operasi terbuka sayatan dibuat di bagian belakang kaki dan tendon Achilles dijahit bersama-sama. Dalam pecah lengkap atau serius tendon plantaris atau otot vestigial lain dipanen dan melilit tendon Achilles, meningkatkan kekuatan tendon diperbaiki. Jika kualitas jaringan buruk, misalnya cedera telah diabaikan, ahli bedah mungkin menggunakan mesh penguatan ( kolagen , Artelon atau bahan lainnya degradable).

Gambar 12.Operasi terbuka

Perkutan operasi, ahli bedah membuat beberapa sayatan kecil, bukan satu sayatan besar, dan menjahit tendon kembali bersama-sama melalui sayatan. Pembedahan mungkin tertunda selama sekitar satu minggu setelah pecah untuk membiarkan pembengkakan turun. Untuk pasien menetap dan mereka yang memiliki vasculopathy atau risiko untuk penyembuhan miskin, perkutan bedah perbaikan mungkin pilihan pengobatan yang lebih baik daripada perbaikan bedah terbuka.

Gambar 13. Operasi perkutan 2.8 Menjelaskan Komplikasi Ruptur Tendon Achilles Resiko komplikasi operasi tendon Achilles: Infeksi kulit di tempat sayatan Komplikasi normal pembedahan atau anestesi, seperti pendarahan dan efek samping obat-obatan Kerusakan saraf Resiko kembalinya ruptur Achilles. Walaupun risiko ini lebih kecil disbanding pengobatan nonsurgical Kemungkinan tendon yang sembuh setelah operasi tidak akan sekuat seperti sebelum cedera. 2.9 Menjelaskan Prognosis Ruptur Tendon Achilles Kebanyakan orang yang mengalami ruptur tendo Achilles, tendo akan kembali normal. Jika operasi dilakukan, tendo mungkin menjadi lebih kuat dan kecil kemungkinannya untuk ruptur lagi. Biasanya, kegiatan berat, seperti berjalan baru bisa dilakukan kembali setelah 6 minggu. Atlet biasanya kembali berolahraga, setelah 4 sampai 6 minggu setelah cedera terjadi. Umumnya, prospek yang baik. Namun, tendon tidak mengambil waktu untuk menyembuhkan, biasanya sekitar enam sampai delapan minggu. Lebih banyak waktu akan diperlukan setelah ini untuk memungkinkan otot untuk mendapatkan kembali kekuatan normal mereka setelah berada di plester atau penjepit (orthosis). Tergantung pada jenis pekerjaan, beberapa orang perlu beberapa minggu cuti setelah achilles tendon pecah, dan waktu yang dibutuhkan untuk kembali ke olahraga adalah antara 4 dan 12 bulan. 2.10 Menjelaskan Pencegahan Ruptur Tendon Achilles

1. Mengurangi tingkat aktivitas dalam pelatihan secara mendadak 2. melakukan pemanasan saat mau berolahraga 3. Mengurangi penggunaan obat-obatan, seperti kortikosteroid dan florokuinolon yang dapat meningkatkan kejadian rupture. (florokuinolon dapat menurunkan transkripsi decorin perubahan arsitektur tendon meningkatkan resiko kerapuhan) 4. Menghindari trauma benda tajam atau tumpul di bawah betis 5. Menvcegah penyakit tertentu (diabetes, arthritis, dll) 6. Mengontrol berat badan agar tidak obesitas Pencegahan rupture tendo Achilles juga dapat dilakukan sebelum melakukan olahraga atau memulai pekerjaan berat. 1. Peregangan (Stretching) Selain bermanfaat untuk menjaga kelenturan otot, peregangan atau stretching juga dapat meredakan rasa sakit. Stretching dapat menghilangkan rasa ngilu atau pegal sehabis olahraga atau bekerja keras serta menjaga otot tetap lentur. 2. Menarik otot (traction) Disebut juga sebagai salah satu teknik peregangan yang efektif untuk cedera otot. Traction biasanya diterapkan pada lengan, jari, dan kaki oleh bantuan orang lain. Namun tetap saja lakukan teknik traction yang benar dengan hati-hati untuk menghindari risiko cidera. 3. Jangan makan terlalu berat sebelum berolahraga karena makanan tinggi kalori akan membuat tubuh mengalirkan darah ke sistem pencernaan terlebih dahulu untuk membantu proses pencernaan makanan. Sementara itu, saat mulai berolahraga, darah akan ditarik dari perut dan dialirkan menuju otot, sehingga proses pencernaan akan terganggu dan menimbulkan perasaan mual, sakit perut, bahkan muntah.

Daftar Pustaka Anderson Silvia Prince. (1996). Patofisiologi Konsep Klinik Proses-proses Penyakit. Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta: EGC. Anderson. 1999. Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia. Jones and barret Publisher Boston, Edisi Bahasa Indonesia, Jakarta:EGC Greenberg MI.2005. Greenbergs Text-Atlas of Emergency Medicine (page529,536).Philadelphia:Lippincott Moore, K.L. dkk. 2013. Anatomi Berorientasi Klinis Edisi V jilid II. Jakarta: Penerbit Erlangga. Muttaqin, A. 2011. Buku Saku Gangguan Musculoskeletal. Jakarta.: EGC. Sumber: http://www.bupa.co.uk/individuals/health-information/directory/a/achilles-tendonrupture di akses pada 18/09/2013 21:20 Sumber: http://www.patient.co.uk/health/achilles-tendon-rupture di akses pada 19/09/2013 20:10 Sumber: http://www.patient.co.uk/health/achilles-tendon-rupture di akses pada 18/09/2013 17:09 Syamsuhidajat R,Wim de Jong. 1997. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi Revisi ( hal 1256). Jakarta: EGC V. Sammarco, MD, et al. Surgical Repair of Acute and Chronic Tibialis Anterior Tendon Ruptures. In The Journal of Bone and Joint Surgery. February 2009. Vol. 91. No. 2. Pp. 325-332