Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN A.

LATAR BELAKANG MASALAH Masalah kesehatan dengan gangguan sistem pernapasan masih menduduki peringkat yang tinggi sebagai penyebab utama morbiditas dan mortalitas. Efusi pleura adalah salah satu kelainan yang mengganggu sistem pernapasan Efusi pleura sendiri sebenarnya bukanlah diagnosa dari suatu penyakit melainkan hanya lebih merupakan symptom atau komplikasi dari suatu penyakit. Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat cairan berlebihan di rongga pleura, dimana kondisi ini jika dibiarkan akan membahayakan jiwa penderitanya (John Gibson, MD, !!", #aspadji $arwono ( !!!, %&'( )enyebab efusi pleura bisa bermacam*macam seperti gagal jantung, adanya neoplasma (carcinoma bronchogenic dan akibat metastasis tumor yang berasal dari organ lain(, tuberculosis paru, infark paru, trauma, pneumoni, syndroma nefrotik, hipoalbumin dan lain sebagainya. (+llsagaaf ,, +min M $aleh, !!&, '&( -ingkat kegawatan pada efusi pleura ditentukan oleh jumlah cairan, kecepatan pembentukan cairan dan tingkat penekanan pada paru. Jika efusi luas, e.pansi paru akan terganggu dan pasien akan mengalami sesak, nyeri dada, batuk non produktif bahkan akan terjadi kolaps paru dan akibatnya akan terjadilah gagal nafas. /ondisi* kondisi tersebut diatas tidak jarang menyebabkan kematian pada penderita efusi pleura. 0erdasarkan data dari medical record di 1)2 ilmu penyakit paru 3$1D Dr. $oetomo tahun !!&, didapatkan data bahwa effusi pleura menduduki peringkat kedua setelah -0 paru dengan jumlah kasus yang datang sebanyak 4'5 orang dan angka mortalitasnya mencapai 6' orang. $edangkan tahun !!! menduduki peringkat ke lima dengan angka mortalitasnya mencapai 4 orang dan prosentase &,78 dari 4&% kasus efusi pleura yang ada, sementara tahun 6777 mencapai %,'"8 dari 4'' kasus efusi pleura dan menduduki peringkat kedua setelah -0 paru atau angka mortalitasnya mencapai 4& orang, (medical record 3$1D Dr $oetomo tahun 6777(. 0erbagai permasalahan keperawatan yang timbul baik masalah aktual maupun potensial akibat adanya efusi pleura antara lain adalah ketidak efektifan pola nafas, gangguan rasa nyaman, gangguan pemenuhan kebutuhan tidur dan istirahat, kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, gangguan pemenuha kebutuhan nutrisi yang menyebabkan penurunan berat badan pasien serta masih banyak lagi

permasalahan lain yang mungkin timbul.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. KONSEP DASAR 1. Pengertian Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat penumpukan cairan dari dalam ka9um pleura diantara pleura parietalis dan pleura 9iseralis dapat berupa cairan transudat atau cairan eksudat ( )edoman Diagnosis dan-erapi : 1)2 ilmu penyakit paru, !!5, 2. a. Anat $i (. Fakt r!"akt r #ang $e$%engar&'i ti$(&)n#a $a*a)a'.

)aru*paru terletak pada rongga dada. Masing*masing paru berbentuk kerucut. )aru kanan dibagi oleh dua buah fisura kedalam tiga lobus atas, tengah dan bawah. )aru kiri dibagi oleh sebuah tisuda ke dalam dua lobus atas dan bawah (John Gibson, MD, !!", 6 (. )ermukaan datar paru menghadap ke tengah rongga dada atau ka9um mediastinum. )ada bagian tengah terdapat tampuk paru*paru atau hillus paru*paru dibungkus oleh selaput yang tipis disebut )leura ($yaifudin 0.+; , !!6, 75(. )leura merupakan membran tipis, transparan yang menutupi paru dalam dua lapisan < =apisan 9iseral, yang dekat dengan permukaan paru dan lapisan parietal menutupi permukaan dalam dari dinding dada. /edua lapisan tersebut berlanjut pada radi. paru. 3ongga pleura adalah ruang diantara kedua lapisan tersebut. (. Fi*i ) gi

$istem pernafasan atau disebut juga sistem respirasi yang berarti >bernafas lagi? mempunyai peran atau fungsi menyediakan oksigen (@6( serta mengeluarkan carbon dioksida (;@6( dari tubuh. 2ungsi penyediaan @6 serta pengeluaran ;@6 merupakan fungsi yang 9ital bagi kehidupan. )roses respirasi berlangsung beberapa tahap antara lain < ( Aentilasi +dalah proses pengeluaran udara ke dan dari dalam paru. )roses ini terdiri atas 6 tahap < Bnspirasi yaitu pergerakan udara dari luar ke dalam paru. Bnspirasi terjadi dengan adanya kontraksi otot diafragma dan interkostalis eksterna yang menyebabkan 9olume thora. membesar sehingga tekanan intra al9eolar menurun dan udara masuk ke dalam paru. Ekspirasi yaitu pergerakan udara dari dalam ke luar paru yang terjadi bila otot*otot

e.pirasi rela.asi sehingga 9olume thora. mengecil yang secara otomatis menekan intra pleura dan 9olume paru mengecil dan tekanan intra al9eola menurun sehingga udara keluar dari paru. 6( )ertukaran gas di dalam al9eol dan darah. 4( -ransport gas Caitu perpindahan gas dari paru ke jaringan dan dari jaringan ke paru dengan bantuan darah (aliran darah(. 5( )ertukaran gas antara darah dengan sel*sel jaringan.Metabolisme penggunaan @ 6 di dalam sel serta pembuatan ;@6 yang juga disebut pernafasan seluler. (+lsagaff ,, +bdul Moekty, !!", "(. )ermukaan rongga pleura berbatasan lembab sehingga mudah bergerak satu ke yang lainnya (John Gibson, MD, !!", 64(. Dalam keadaan normal seharusnya tidak ada rongga kosong diantara kedua pleura karena biasanya hanya terdapat sekitar 7*67 cc cairan yang merupakan lapisan tipis serosa yang selalu bergerak secara teratur ($oeparman, !!7, %&"(. $etiap saat jumlah cairan dalam rongga pleura bisa menjadi lebih dari cukup untuk memisahkan kedua pleura, maka kelebihan tersebut akan dipompa keluar oleh pembuluh limfatik (yang membuka secara langsung( dari rongga pleura ke dalam mediastinum. )ermukaan superior dari diafragma dan permukaan lateral dari pleura parietis disamping adanya keseimbangan antara produksi oleh pleura parietalis dan absorbsi oleh pleura 9iseralis . @leh karena itu ruang pleura disebut sebagai ruang potensial. /arena ruang ini normalnya begitu sempit sehingga bukan merupakan ruang fisik yang jelas. (Guyton dan ,all, Ege, !!%, '7%(. +. Eti ) gi

0erdasarkan jenis cairan yang terbnetuk, cairan pleura dibagi menjadi transudat, eksudat dan hemoragis ( -ransudat dapat disebabkan oleh kegagalan jantung kongestif (gagal jantung kiri(, sindroma nefrotik, asites (oleh karena sirosis kepatis(, syndroma 9ena ca9a superior, tumor, sindroma meig. 6( Eksudat disebabkan oleh infeksi, -0, preumonia dan sebagainya, paru, radiasi, penyakit kolagen. 4( Effusi hemoragis dapat disebabkan oleh adanya tumor, trauma, tuberkulosis. 5( 0erdasarkan lokasi cairan yang terbentuk, effusi dibagi menjadi unilateral dan bilateral. Efusi yang unilateral tidak mempunyai kaitan yang spesifik dengan infark paru, tumor, ifark

penyakit penyebabnya akan tetapi effusi yang bilateral ditemukan pada penyakit* penyakit dibawah ini </egagalan jantung kongestif, sindroma nefrotik, asites, infark paru, lupus eritematosus systemic, tumor dan tuberkolosis. d. )atofisiologi 7*67 ml cairan di dalam rongga pleura. Dalam keadaan normal hanya terdapat

Jumlah cairan di rongga pleura tetap, karena adanya tekanan hidrostatis pleura parietalis sebesar ! cm ,6@. +kumulasi cairan pleura dapat terjadi apabila tekanan osmotik koloid menurun misalnya pada penderita hipoalbuminemia dan bertambahnya permeabilitas kapiler akibat ada proses keradangan atau neoplasma, bertambahnya tekanan hidrostatis akibat kegagalan jantung dan tekanan negatif intra pleura apabila terjadi atelektasis paru (+lsagaf ,, Mukti +, !!", 5"(. Effusi pleura berarti terjadi pengumpulan sejumlah besar cairan bebas dalam ka9um pleura. /emungkinan penyebab efusi antara lain ( ( penghambatan drainase limfatik dari rongga pleura, (6( gagal jantung yang menyebabkan tekanan kapiler paru dan tekanan perifer menjadi sangat tinggi sehingga menimbulkan transudasi cairan yang berlebihan ke dalam rongga pleura (4( sangat menurunnya tekanan osmotik kolora plasma, jadi juga memungkinkan transudasi cairan yang berlebihan (5( infeksi atau setiap penyebab peradangan apapun pada permukaan pleura dari rongga pleura, yang memecahkan membran kapiler dan memungkinkan pengaliran protein plasma dan cairan ke dalam rongga secara cepat (Guyton dan ,all , Egc, !!%, '64*'65(. 6. Dampak Masalah a. Dampak masalah terhadap indi9idu $ebagaimana penderita penyakit yang lain, pada pasien effusi pleura akan mengalami suatu perubahan baik bio, psiko sosial dan spiritual yang akan selalu menimbulkan dampak yang diakibatkan oleh proses penyakit atau pengobatan dan perawatan. )ada umumnya ). dengan effusi pleura akan tampak sakit, suara nafas menurun adanya nyeri pleuritik terutama pada akhir inspirasi, febris, batuk dan yang lebih khas lagi adalah adanya sesak nafas, rasa berat pada dada akibat adnya akumulasi cairan di ka9um pleura. b. Dampak masalah terhadap keluarga )ada umumnya keluarga pasien akan merasa dituntut untuk selalu menjaga dan memenuhi kebutuhan pasien. +pabila ada salah satu anggota keluarga yang sakit sehingga keluarga pasien akan memberi perhatian yang lebih pada pasien. /eluarga menjadi cemas dengan keadaan pasien karena mungkin sebagai orang awam keluarga pasien kurang mengerti dengan kondisi pasien dan tentang bagaimana perawatannya. =amanya perawatan pasien banyaknya biaya

pengobatan merupakan masalah bagi pasien dan keluarganya terlebih untuk keluarga dengan tingkat ekonomi yang rendah. $ecara langsung peran pasien sesuai statusnya pun akan mengalami perubahan bahkan gangguan selama pasien dirawat di rumah sakit. 0. +$1,+D /E)E3+#+-+D )emberian +suhan /eperawatan merupakan proses terapeutik yang melibatkan hubungan kerjasama dengan klien, keluarga atau masyarakat untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal (;anpernito, 6777,6(. )erawat memerlukan metode ilmiah dalam melakukan proses terapeutik tersebut yaitu proses keperawatan. )roses keperewatan dipakai untuk membantu perawat dalam melakukan praktek keperawatan secara sistematis dalam mengatasi masalah keperawatan yang ada, dimana keempat komponennya saling mempengaruhi satu sama lain yaitu < pengkajian, perencanaan, implementasi dan e9aluasi yang membentuk suatu mata rantai (0udianna /eliat, !!5,6(. . )engkajian )engumpulan Data Data*data yang dikumpulkan atau dikaji meliputi < a. Bdentitas )asien )ada tahap ini perawat perlu mengetahui tentang nama, umur, jenis kelamin, alamat rumah, agama atau kepercayaan, suku bangsa, bahasa yang dipakai, status pendidikan dan pekerjaan pasien. b. /eluhan 1tama /eluhan utama merupakan faktor utama yang mendorong pasien mencari pertolongan atau berobat ke rumah sakit. 0iasanya pada pasien dengan effusi pleura didapatkan keluhan berupa sesak nafas, rasa berat pada dada, nyeri pleuritik akibat iritasi pleura yang bersifat tajam dan terlokasilir terutama pada saat batuk dan bernafas serta batuk non produktif. c. 3iwayat )enyakit $ekarang )asien dengan effusi pleura biasanya akan diawali dengan adanya tanda*tanda seperti batuk, sesak nafas, nyeri pleuritik, rasa berat pada dada, berat badan menurun dan sebagainya. )erlu juga ditanyakan mulai kapan keluhan itu muncul. +pa tindakan yang telah dilakukan untuk menurunkan atau menghilangkan keluhan*keluhannya tersebut. d. 3iwayat )enyakit Dahulu )erlu ditanyakan apakah pasien pernah menderita penyakit seperti -0; paru, pneumoni, gagal jantung, trauma, asites dan sebagainya. ,al ini diperlukan untuk

mengetahui kemungkinan adanya faktor predisposisi. e. 3iwayat )enyakit /eluarga )erlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit*penyakit yang disinyalir sebagai penyebab effusi pleura seperti ;a paru, asma, -0 paru dan lain sebagainya. f. 3iwayat )sikososial Meliputi perasaan pasien terhadap penyakitnya, bagaimana cara mengatasinya serta bagaimana perilaku pasien terhadap tindakan yang dilakukan terhadap dirinya. g. )engkajian )ola*)ola 2ungsi /esehatan ( )ola persepsi dan tata laksana hidup sehat +danya tindakan medis dan perawatan di rumah sakit mempengaruhi perubahan persepsi tentang kesehatan, tapi kadang juga memunculkan persepsi yang salah terhadap pemeliharaan kesehatan. /emungkinan adanya riwayat kebiasaan merokok, minum alkohol dan penggunaan obat*obatan bisa menjadi faktor predisposisi timbulnya penyakit. 6( )ola nutrisi dan metabolisme Dalam pengkajian pola nutrisi dan metabolisme, kita perlu melakukan pengukuran tinggi badan dan berat badan untuk mengetahui status nutrisi pasien, selain juga perlu ditanyakan kebiasaan makan dan minum sebelum dan selama M3$ pasien dengan effusi pleura akan mengalami penurunan nafsu makan akibat dari sesak nafas dan penekanan pada struktur abdomen. )eningkatan metabolisme akan terjadi akibat proses penyakit. pasien dengan effusi pleura keadaan umumnya lemah. 4( )ola eliminasi Dalam pengkajian pola eliminasi perlu ditanyakan mengenai kebiasaan ilusi dan defekasi sebelumdan sesudah M3$. /arena keadaan umum pasien yang lemah, pasien akan lebih banyak bed rest sehingga akan menimbulkan konstipasi, selain akibat pencernaan pada struktur abdomen menyebabkan penurunan peristaltik otot* otot tractus degesti9us. 5( )ola akti9itas dan latihan +kibat sesak nafas, kebutuhan @6 jaringan akan kurang terpenuhi dan ). akan cepat mengalami kelelahan pada akti9itas minimal. Disamping itu pasien juga akan mengurangi akti9itasnya akibat adanya nyeri dada. Dan untuk memenuhi kebutuhan +D= nya sebagian kebutuhan pasien dibantu oleh perawat dan keluarganya. "( )ola tidur dan istirahat +danya nyeri dada, sesak nafas dan peningkatan suhu tubuh akan berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan tidur dan istitahat, selain itu akibat perubahan kondisi lingkungan dari lingkungan rumah yang tenang ke lingkungan rumah sakit, dimana

banyak orang yang mondar*mandir, berisik dan lain sebagainya. '( )ola hubungan dan peran +kibat dari sakitnya, secara langsung pasien akan mengalami perubahan peran, misalkan pasien seorang ibu rumah tangga, pasien tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai seorang ibu yang harus mengasuh anaknya, mengurus suaminya. Disamping itu, peran pasien di masyarakatpun juga mengalami perubahan dan semua itu mempengaruhi hubungan interpersonal pasien. %( )ola persepsi dan konsep diri )ersepsi pasien terhadap dirinya akan berubah. )asien yang tadinya sehat, tiba*tiba mengalami sakit, sesak nafas, nyeri dada. $ebagai seorang awam, pasien mungkin akan beranggapan bahwa penyakitnya adalah penyakit berbahaya dan mematikan. Dalam hal ini pasien mungkin akan kehilangan gambaran positif terhadap dirinya. &( )ola sensori dan kognitif 2ungsi panca indera pasien tidak mengalami perubahan, demikian juga dengan proses berpikirnya. !( )ola reproduksi seksual /ebutuhan seksual pasien dalam hal ini hubungan seks intercourse akan terganggu untuk sementara waktu karena pasien berada di rumah sakit dan kondisi fisiknya masih lemah. 7( )ola penanggulangan stress 0agi pasien yang belum mengetahui proses penyakitnya akan mengalami stress dan mungkin pasien akan banyak bertanya pada perawat dan dokter yang merawatnya atau orang yang mungkin dianggap lebih tahu mengenai penyakitnya. ( )ola tata nilai dan kepercayaan $ebagai seorang beragama pasien akan lebih mendekatkan dirinya kepada -uhan dan menganggap bahwa penyakitnya ini adalah suatu cobaan dari -uhan. h. )emeriksaan fisik ( $tatus /esehatan 1mum -ingkat kesadaran pasien perlu dikaji, bagaimana penampilan pasien secara umum, ekspresi wajah pasien selama dilakukan anamnesa, sikap dan perilaku pasien terhadap petugas, bagaimana mood pasien untuk mengetahui tingkat kecemasan dan ketegangan pasien. )erlu juga dilakukan pengukuran tinggi badan berat badan pasien. 6( $istem 3espirasi Bnspeksi pada pasien effusi pleura bentuk hemithora. yang sakit mencembung, iga mendatar, ruang antar iga melebar, pergerakan pernafasan menurun. )endorongan mediastinum ke arah hemithora. kontra lateral yang diketahui dari posisi trakhea dan

ictus kordis. 33 cenderung meningkat dan ). biasanya dyspneu. 2remitus tokal menurun terutama untuk effusi pleura yang jumlah cairannya E 6"7 cc. Disamping itu pada palpasi juga ditemukan pergerakan dinding dada yang tertinggal pada dada yang sakit. $uara perkusi redup sampai peka tegantung jumlah cairannya. 0ila cairannya tidak mengisi penuh rongga pleura, maka akan terdapat batas atas cairan berupa garis lengkung dengan ujung lateral atas ke medical penderita dalam posisi duduk. Garis ini disebut garis Ellis*Damoisseau.. Garis ini paling jelas di bagian depan dada, kurang jelas di punggung. +uskultasi $uara nafas menurun sampai menghilang. )ada posisi duduk cairan makin ke atas makin tipis, dan dibaliknya ada kompresi atelektasis dari parenkian paru, mungkin saja akan ditemukan tanda*tanda auskultasi dari atelektasis kompresi di sekitar batas atas cairan. Ditambah lagi dengan tanda i e artinya bila penderita diminta mengucapkan kata*kata i maka akan terdengar suara e sengau, yang disebut egofoni (+lsagaf ,, Bda 0agus, #idjaya +djis, Mukty +bdol, !!5,%!( 4( $istem ;ardio9asculer )ada inspeksi perlu diperhatikan letak ictus cordis, normal berada pada B;$ F " pada linea medio cla9iculaus kiri selebar cm. )emeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pembesaran jantung. )alpasi untuk menghitung frekuensi jantung (health rate( dan harus diperhatikan kedalaman dan teratur tidaknya denyut jantung, perlu juga memeriksa adanya thrill yaitu getaran ictus cordis. )erkusi untuk menentukan batas jantung dimana daerah jantung terdengar pekak. ,al ini bertujuan untuk menentukan adakah pembesaran jantung atau 9entrikel kiri. +uskultasi untuk menentukan suara jantung B dan BB tunggal atau gallop dan adakah bunyi jantung BBB yang merupakan gejala payah jantung serta adakah murmur yang menunjukkan adanya peningkatan arus turbulensi darah. 5( $istem )encernaan )ada inspeksi perlu diperhatikan, apakah abdomen membuncit atau datar, tepi perut menonjol atau tidak, umbilicus menonjol atau tidak, selain itu juga perlu di inspeksi ada tidaknya benjolan*benjolan atau massa. +uskultasi untuk mendengarkan suara peristaltik usus dimana nilai normalnya "*4" kali permenit. )ada palpasi perlu juga diperhatikan, adakah nyeri tekan abdomen, adakah massa (tumor, feces(, turgor kulit perut untuk mengetahui derajat hidrasi pasien, apakah hepar teraba, juga apakah lien teraba. )erkusi abdomen normal tympanik, adanya massa padat atau cairan akan menimbulkan suara pekak (hepar, asites, 9esika urinarta, tumor(. "( $istem Deurologis

)ada inspeksi tingkat kesadaran perlu dikaji Disamping juga diperlukan pemeriksaan G;$. +dakah composmentis atau somnolen atau comma. refleks patologis, dan bagaimana dengan refleks fisiologisnya. $elain itu fungsi*fungsi sensoris juga perlu dikaji seperti pendengaran, penglihatan, penciuman, perabaan dan pengecapan. '( $istem Muskuloskeletal )ada inspeksi perlu diperhatikan adakah edema peritibial, palpasi pada kedua ekstremetas untuk mengetahui tingkat perfusi perifer serta dengan pemerikasaan capillary refil time. Dengan inspeksi dan palpasi dilakukan pemeriksaan kekuatan otot kemudian dibandingkan antara kiri dan kanan. %( $istem Bntegumen Bnspeksi mengenai keadaan umum kulit higiene, warna ada tidaknya lesi pada kulit, pada ). dengan effusi biasanya akan tampak cyanosis akibat adanya kegagalan sistem transport @6. )ada palpasi perlu diperiksa mengenai kehangatan kulit (dingin, hangat, demam(. /emudian te.ture kulit (halus*lunak*kasar( serta turgor kulit untuk mengetahui derajat hidrasi seseorang. i. )emeriksaan )enunjang ,asil pemeriksaan medis dan laboratorium . )emeriksaan 3adiologi )ada fluoroskopi maupun foto thora. )+ cairan yang kurang dari 477 cc tidak bisa terlihat. Mungkin kelainan yang tampak hanya berupa penumpukkan kostofrenikus. )ada effusi pleura sub pulmonal, meski cairan pleura lebih dari 477 cc, frenicocostalis tampak tumpul, diafragma kelihatan meninggi. 1ntuk memastikan dilakukan dengan foto thora. lateral dari sisi yang sakit (lateral dekubitus( ini akan memberikan hasil yang memuaskan bila cairan pleura sedikit (,ood +lsagaff, !!7, %&'*%&%(. 6. 0iopsi )leura 0iopsi ini berguna untuk mengambil specimen jaringan pleura dengan melalui biopsi jalur percutaneus. 0iopsi ini digunakan untuk mengetahui adanya sel*sel ganas atau kuman*kuman penyakit (biasanya j. kasus pleurisy tuberculosa dan tumor pleura( ($oeparman, !!7, %&&(. )emeriksaan =aboratorium.

Dalam pemeriksaan cairan pleura terdapat beberapa pemeriksaan antara lain < a. )emeriksaan 0iokimia $ecara biokimia effusi pleura terbagi atas transudat dan eksudat yang perbedaannya dapat dilihat pada tabel berikut <

-ransudat /adar protein dalam effusi !:dl /adar protein dalam effusi /adar protein dalam serum /adar =D, dalam effusi ( *1( /adar =D, dalam effusi /adar =D, dalam serum 0erat jenis cairan effusi 3i9alta )ositif G ,7 ' Degatif G 677 G 7,' G4 G 7,"

Eksudat E4 E 7," E 677 E 7,' E ,7 '

Disamping pemeriksaan tersebut diatas, secara biokimia diperiksakan juga cairan pleura < /adar p, dan glukosa. 0iasanya merendah pada penyakit*penyakit infeksi, arthritis reumatoid dan neoplasma b. /adar amilase. 0iasanya meningkat pada paulercatilis dan metastasis adenocarcinona ($oeparman, !!7, %&%(. +nalisa cairan pleura c. -ransudat Eksudat ,ilothora. Empiema Empiema anaerob Mesotelioma < jernih, kekuningan < kuning, kuning*kehijauan < putih seperti susu < kental dan keruh < berbau busuk < sangat kental dan berdarah

)erhitungan sel dan sitologi =eukosit 6".777 (mm4(<empiema 0anyak Detrofil 0anyak =imfosit Eritrosit < )neumonia, infark paru, pankreatilis, -0 paru < -uberculosis, limfoma, keganasan. < Mengalami peningkatan 777* 7777: mm4 cairan

Eosinofil meningkat < Emboli paru, poliatritis nodosa, parasit dan jamur tampak kemorogis, sering dijumpai pada pankreatitis atau pneumoni. 0ila erytrosit E 77777 (mm4 menunjukkan infark paru, trauma dada dan keganasan. Misotel banyak $itologi < Jika terdapat mesotel kecurigaan -0 bisa disingkirkan. < ,anya "7 * '7 8 kasus* kasus keganasan dapat ditemukan sel ganas. $isanya kurang lebih terdeteksi karena akumulasi cairan pleura lewat mekanisme

obstruksi, preamonitas atau atelektasis (+lsagaff ,ood, !!" < 5%, 5&( d. 0akteriologis Jenis kuman yang sering ditemukan dalam cairan pleura adalah pneamo cocclis, E*coli, klebsiecla, pseudomonas, enterobacter. )ada pleuritis -0 kultur cairan terhadap kuman tahan asam hanya dapat menunjukkan yang positif sampai 67 8 ($oeparman, !!&< %&&(. ANALISA DATA $etelah semua data dikumpulkan, kemudian dikelompokkan dan dianalisa sehingga dapat ditemukan adanya masalah yang muncul pada penderita effusi pleura. $elanjutnya masalah tersebut dirumuskan dalam diagnosa keperawatan.

2. Diagn *a Ke%era,atan )enentuan diagnosa keperawatan harus berdasarkan analisa data sari hasil pengkajian, maka diagnosa keperawatan yang ditemukan di kelompokkan menjadi diagnosa aktual, potensial dan kemungkinan. (0udianna /eliat, !!5, ( 0eberapa diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien dengan effusi pleura antara lain < . /etidakefektifan pola pernafasan berhubungan dengan menurunnya ekspansi paru sekunder terhadap penumpukkan cairan dalam rongga pleura ($usan Martin -ucleer, dkk, !!&(. 6. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. $ehubungan dengan peningkatan metabolisme tubuh, pencernaan nafsu makan akibat sesak nafas sekunder terhadap penekanan struktur abdomen (0arbara Engram, !!4(. 4. 5. ". '. ;emas sehubungan dengan adanya ancaman kematian yang dibayangkan (ketidakmampuan untuk bernafas(. Gangguan pola tidur dan istirahat sehubungan dengan batuk yang menetap dan sesak nafas serta perubahan suasana lingkungan 0arbara Engram(. /etidakmampuan melakukan akti9itas sehari*hari sehubungan dengan keletihan (keadaan fisik yang lemah( ($usan Martin -ucleer, dkk, !!&(. /urang pengetahuan mengenai kondisi, aturan pengobatan sehubungan dengan kurang terpajang informasi (0arbara Engram, !!4( 4. )erencanaan $etelah merumuskan diagnosa keperawatan, dibuat rencana tindakan untuk mengurangi, menghilangkan dan mencegah masalah klien.(0udianna /eliat, !!5, '(

Diagnosa /eperawatan /etidakefektifan pola pernafasan berhubungan dengan menurunnya ekspansi paru sekunder terhadap penumpukan cairan dalam rongga pleura. -ujuan < )asien mampu mempertahankan fungsi paru secara normal /riteria hasil < Brama, frekuensi dan kedalaman pernafasan dalam batas normal, pada pemeriksaan sinar H dada tidak ditemukan adanya akumulasi cairan, bunyi nafas terdengar jelas. 3encana tindakan < a. Bdentifikasi faktor penyebab. 3asional < Dengan mengidentifikasikan penyebab, kita dapat menentukan jenis effusi pleura sehingga dapat mengambil tindakan yang tepat. b. /aji kualitas, frekuensi dan kedalaman pernafasan, laporkan setiap perubahan yang terjadi. 3asional < Dengan mengkaji kualitas, frekuensi dan kedalaman pernafasan, kita dapat mengetahui sejauh mana perubahan kondisi pasien. c. 0aringkan pasien dalam posisi yang nyaman, dalam posisi duduk, dengan kepala tempat tidur ditinggikan '7 F !7 derajat. 3asional < )enurunan diafragma memperluas daerah dada sehingga ekspansi paru bisa maksimal. d. @bser9asi tanda*tanda 9ital (suhu, nadi, tekanan darah, 33 dan respon pasien(. 3asional < )eningkatan 33 dan tachcardi merupakan indikasi adanya penurunan fungsi paru. e. =akukan auskultasi suara nafas tiap 6*5 jam. 3asional < +uskultasi dapat menentukan kelainan suara nafas pada bagian paru* paru. f. 0antu dan ajarkan pasien untuk batuk dan nafas dalam yang efektif. 3asional < Menekan daerah yang nyeri ketika batuk atau nafas dalam. )enekanan otot*otot dada serta abdomen membuat batuk lebih efektif. g. /olaborasi dengan tim medis lain untuk pemberian @ 6 dan obat*obatan serta foto thora.. 3asional < )emberian oksigen dapat menurunkan beban pernafasan dan mencegah terjadinya sianosis akibat hiponia. Dengan foto thora. dapat dimonitor kemajuan dari berkurangnya cairan dan kembalinya daya kembang paru.

6.

Diagnosa /eperawatan Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan metabolisme tubuh, penurunan nafsu makan akibat sesak nafas. -ujuan < /ebutuhan nutrisi terpenuhi 57 8 jumlah makanan, berat badan normal dan hasil /riteria hasil < /onsumsi lebih laboratorium dalam batas normal. 3encana tindakan < a. 0eri moti9asi tentang pentingnya nutrisi. 3asional < /ebiasaan makan seseorang dipengaruhi oleh kesukaannya, kebiasaannya, agama, ekonomi dan pengetahuannya tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh. b. +uskultasi suara bising usus. 3asional < 0ising usus yang menurun atau meningkat menunjukkan adanya gangguan pada fungsi pencernaan. c. d. e. =akukan oral hygiene setiap hari. 3asional < 0au mulut yang kurang sedap dapat mengurangi nafsu makan. $ajikan makanan semenarik mungkin. 3asional < )enyajian makanan yang menarik dapat meningkatkan nafsu makan. 0eri makanan dalam porsi kecil tapi sering. 3asional < Makanan dalam porsi kecil tidak membutuhkan energi, banyak selingan memudahkan reflek. f. /olaborasi dengan tim giIi dalam pemberian diJit -/-) 3asional < DiJit -/-) sangat baik untuk kebutuhan metabolisme dan pembentukan antibody karena diet -/-) menyediakan kalori dan semua asam amino esensial. g. /olaborasi dengan dokter atau konsultasi untuk melakukan pemeriksaan laboratorium alabumin dan pemberian 9itamin dan suplemen nutrisi lainnya (Ie9ity, ensure, socal, putmocare( jika intake diet terus menurun lebih 47 8 dari kebutuhan. 3asional < )eningkatan intake protein, 9itamin dan mineral dapat menambah asam lemak dalam tubuh.

4.

Diagnosa /eperawatan ;emas atau ketakutan berhubungan dengan adanya ancaman kematian yang dibayangkan (ketidakmampuan untuk bernafas(. -ujuan < )asien mampu memahami dan menerima keadaannya sehingga tidak terjadi kecemasan.

/riteria hasil < )asien mampu bernafas secara normal, pasien mampu beradaptasi dengan keadaannya. 3espon non 9erbal klien tampak lebih rileks dan santai, nafas teratur dengan frekuensi '*65 kali permenit, nadi &7*!7 kali permenit. 3encana tindakan < a. b. 0erikan posisi yang menyenangkan bagi pasien. 0iasanya dengan semi fowler. Jelaskan mengenai penyakit dan diagnosanya. 3asional < pasien mampu menerima keadaan dan mengerti sehingga dapat diajak kerjasama dalam perawatan. c. d. +jarkan teknik relaksasi 3asional < Mengurangi ketegangan otot dan kecemasan 0antu dalam menggala sumber koping yang ada. 3asional < )emanfaatan sumber koping yang ada secara konstruktif sangat bermanfaat dalam mengatasi stress. e. f. )ertahankan hubungan saling percaya antara perawat dan pasien. 3asional < ,ubungan saling percaya membantu proses terapeutik /aji faktor yang menyebabkan timbulnya rasa cemas. 3asional < -indakan yang tepat diperlukan dalam mengatasi masalah yang dihadapi klien dan membangun kepercayaan dalam mengurangi kecemasan. g. 0antu pasien mengenali dan mengakui rasa cemasnya. 3asional < 3asa cemas merupakan efek emosi sehingga apabila sudah teridentifikasi dengan baik, perasaan yang mengganggu dapat diketahui. 5. Diagnosa /eperawatan Gangguan pola tidur dan istirahat berhubungan dengan batuk yang menetap dan nyeri pleuritik. -ujuan < -idak terjadi gangguan pola tidur dan kebutuhan istirahat terpenuhi. /riteria hasil < )asien tidak sesak nafas, pasien dapat tidur dengan nyaman tanpa mengalami gangguan, pasien dapat tertidur dengan mudah dalam waktu 47*57 menit dan pasien beristirahat atau tidur dalam waktu 4*& jam per hari. 3encana tindakan < a. 0eri posisi senyaman mungkin bagi pasien. 3asonal < )osisi semi fowler atau posisi yang menyenangkan akan memperlancar peredaran @6 dan ;@6. b. -entukan kebiasaan moti9asi sebelum tidur malam sesuai dengan kebiasaan pasien sebelum dirawat. 3asional < Mengubah pola yang sudah menjadi kebiasaan sebelum tidur akan

mengganggu proses tidur. c. d. +njurkan pasien untuk latihan relaksasi sebelum tidur. 3asional < 3elaksasi dapat membantu mengatasi gangguan tidur. @bser9asi gejala kardinal dan keadaan umum pasien. 3asional < @bser9asi gejala kardinal guna mengetahui perubahan terhadap kondisi pasien. ". Diagnosa /eperawatan /etidakmampuan -ujuan melaksanakan akti9itas sehari*hari

berhubungan dengan keletihan (keadaan fisik yang lemah(. <)asien mampu melaksanakan akti9itas seoptimal mungkin. /riteria hasil < -erpenuhinya akti9itas secara optimal, pasien kelihatan segar dan bersemangat, personel hygiene pasien cukup. 3encana tindakan < a. E9aluasi respon pasien saat berakti9itas, catat keluhan dan tingkat akti9itas serta adanya perubahan tanda*tanda 9ital. 3aasional < Mengetahui sejauh mana kemampuan pasien dalam melakukan akti9itas. b. c. 0antu ). memenuhi kebutuhannya. 3asional < Memacu pasien untuk berlatih secara aktif dan mandiri. +wasi ). saat melakukan akti9itas. 3asional < Memberi pendidikan pada ). dan keluarga dalam perawatan selanjutnya. d. e. =ibatkan keluarga dalam perawatan pasien. 3asional < /elemahan suatu tanda ). belum mampu berakti9itas secara penuh. Jelaskan pada pasien tentang perlunya keseimbangan antara akti9itas dan istirahat. 3asional < Bstirahat perlu untuk menurunkan kebutuhan metabolisme. f. Moti9asi dan awasi pasien untuk melakukan akti9itas secara bertahap. 3asional < +kti9itas yang teratur dan bertahap akan membantu mengembalikan pasien pada kondisi normal. '. Diagnosa /eperawatan /urang pengetahuan mengenai kondisi, aturan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi. -ujuan < )asien dan keluarga tahu mengenai kondisi dan aturan pengobatan. /riteria hasil < ). dan keluarga menyatakan pemahaman penyebab masalah.

)H dan keluarga mampu mengidentifikasi tanda dan gejala yang memerlukan e9aluasi medik. ). dan keluarga mengikuti program pengobatan dan menunjukkan perubahan pola hidup yang perlu untuk mencegah terulangnya masalah.

3encana tindakan < a. /aji patologi masalah indi9idu. 3asional < Bnformasi menurunkan takut karena ketidaktahuan. Memberikan pengetahuan dasar untuk pemahaman kondisi dinamik dan pentingnya inter9ensi terapeutik. b. Bdentifikasi kemungkinan kambuh atau komplikasi jangka panjang. 3asional < )enyakit paru yang ada seperti ))@M berat, penyakit paru infeksi dan keganasan dapat meningkatkan insiden kambuh. c. /aji ulang tanda atau gejala yang memerlukan e9aluasi medik cepat (contoh, nyeri dada tiba*tiba, dispena, distress pernafasan(. 3asional < 0erulangnya effusi pleura memerlukan inter9ensi medik untuk mencegah, menurunkan potensial komplikasi. d. /aji ulang praktik kesehatan yang baik (contoh, nutrisi baik, istirahat, latihan(. 3asional < Mempertahankan kesehatan umum meningkatkan penyembuhan dan dapat mencegah kekambuhan. -. Pe)ak*anaan Bmplementasi merupakan pelaksanaan rencana keperawatan oleh perawat terhadap pasien. +da beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan rencana keperawatan diantaranya < Bnter9ensi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan 9alidasi K ketrampilan interpersonal, teknikal dan intelektual dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat, keamanan fisik dan psikologis klien dilindungi serta dokumentasi inter9ensi dan respon pasien. )ada tahap implementasi ini merupakan aplikasi secara kongkrit dari rencana inter9ensi yang telah dibuat untuk mengatasi masalah kesehatan dan perawatan yang muncul pada pasien (0udianna /eliat, !!5,5(. .. E/a)&a*i E9aluasi merupakan langkah terakhir dalam proses keperawatan, dimana e9aluasi adalah kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dengan melibatkan pasien, perawat dan anggota tim kesehatan lainnya. -ujuan dari e9aluasi ini adalah untuk menilai apakah tujuan dalam rencana

keperawatan tercapai dengan baik atau tidak dan untuk melakukan pengkajian ulang (1$. Midar ,, dkk, !&!(. /riteria dalam menentukan tercapainya suatu tujuan, pasien < a. b. c. d. e. Mampu mempertahankan fungsi paru secara normal. /ebutuhan nutrisi terpenuhi. -idak terjadi gangguan pola tidur dan kebutuhan istirahat terpenuhi. Dapat memenuhi kebutuhan perawatan diri sehari*hari untuk mengembalikan akti9itas seperti biasanya. Menunjukkan pengetahuan dan gejala*gejala gangguan pernafasan seperti sesak nafas, nyeri dada sehingga dapat melaporkan segera ke dokter atau perawat yang merawatnya. f. g. Mampu menerima keadaan sehingga tidak terjadi kecemasan. Menunjukkan pengetahuan tentang tindakan pencegahan yang berhubungan dengan penatalaksanaan kesehatan, meliputi kebiasaan yang tidak menguntungkan bagi kesehatan seperti merokok, minum minuman beralkohol dan pasien juga menunjukkan pengetahuan tentang kondisi penyakitnya.

DAFTAR PUSTAKA +l sagaff , dan Mukti. +, Dasar Dasar Ilmu Penyakit Paru, +irlangga 1ni9ersity )ress, $urabaya K !!" ;arpenito, =ynda Juall, Diagnosa keperawatan Aplikasi pada Praktek Klinik Edisi ', )enerbit 0uku /edokteran EG;,K !!" ;arpenito, =ynda Juall, Rencana Asuhan dan Dokumentasi keperawatan Edisi 6, )enerbit 0uku /edokteran EG; K !!" Engram, 0arbara, Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Volume I, )enerbit 0uku /edokteran EG; K !!! Ganong 2. #illiam, Buku A ar !isiologi Kedokteran "disi #$, Jakarta EG; K !!& Gibson, John, MD, Anatomi Dan !isiologi Modern %ntuk Perawat, Jakarta EG; K !!" /eliat, 0udi +nna. Proses Keperawatan, +rcan Jakarta K !! =aboratorium Blmu )enyakit )aru 2/ 1D+B3, Dasar Dasar Diagnostik !isik Paru, $urabayaK !!5 =ismidar,proses keperawatan ,,dkk, Proses keperawatan, +1), !!7 Marrilyn. E. Doengus, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman %ntuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 4 Jakarta EG; K !!! 3umah $akit 1mum Daerah Dr. $oetomo, Pedoman Diagnosis dan &erapi 'a()%P! Ilmu Penyakit Paru, +irlangga 1ni9ersity )ressK !!5 0.+;,$yaifudin, Anatomi dan *isiologi untuk perawat, EG;K !!6 $oeparman +. $arwono #aspadji, Ilmu Penyakit Dalam ilid II K !!7 $usan Martin -ucker, +tandar Perawatan Pasien, Jakarta EG; K !!& $oedarsono, ,uidelines o* Pulmonology, $urabaya K 6777