Anda di halaman 1dari 32

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Kehamilan 1. Pengertian Kehamilan Kehamilan adalah penyatuan sperma dari laki-laki dan ovum dari perempuan. Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir. Kehamilan dibagi dalam tiga triwulan yaitu triwulan pertama dimulai dari konsepsi sampai 3 bulan, triwulan kedua dari bulan ke-4 sampai ke-6, triwulan ketiga dari bulan ke7 sampai ke-9 (Adriaansz, Wiknjosastro dan Waspodo, 2007. p. 89). Kehamilan didefinisikan sebagai persatuan antara sebuah telur dan sebuah sperma, yang menandai awal suatu peristiwa yang terpisah, tetapi ada suatu rangkaian kejadian yang mengelilinginya. Kejadian-kejadian itu ialah pembentukan gamet (telur dan sperma), ovulasi (pelepasan telur), penggabungan gamet dan implantasi embrio di dalam uterus. Hanya jika semua peristiwa ini berlangsung baik, maka proses perkembangan embrio dan janin dapat dimulai (Bobak, 2005, p. 74).

2. Perubahan-perubahan Fisik dan Psikologis Selama Kehamilan a. Perubahan Fisik dan Psikologis pada Trimester I 1) Perubahan Fisik pada Trimester I Menurut Kurnia (2009, p. 185-189), perubahan fisik pada trimester I adalah : a) Pembesaran Payudara Payudara akan membesar dan mengencang, karena terjadi peningkatan hormon kehamilan yang menimbulkan pelebaran pembuluh darah dan untuk mempersiapkan pemberian nutrisi pada jaringan payudara sebagai persiapan menyusui. b) Sering buang air kecil Keinginan sering buang air kecil pada awal kehamilan ini dikarenakan rahim yang membesar dan menekan kandung kencing. Keadaan ini akan menghilang pada trimester II dan akan muncul kembali pada akhir kehamilan, karena kandung kemih ditekan oleh kepala janin. c) Konstipasi Keluhan ini juga sering dialami selama awal kehamilan, karena peningkatan hormon progesteron yang menyebabkan relaksasi otot sehingga usus bekerja kurang efisien. Adapun keuntungan dari keadaan ini adalah memungkinkan penyerapan nutrisi yang lebih baik saat hamil.

10

d) Morning Sickness, mual dan muntah Hampir 50% wanita hamil mengalami mual dan biasanya mual dimulai sejak awal kehamilan. Mual muntah diusia muda disebut morning sickness tetapi kenyataannya mual muntah ini dapat terjadi setiap saat. e) Merasa lelah Hal ini terjadi karena tubuh bekerja secara aktif untuk menyesuaikan secara fisik dan emosional untuk kehamilan. Juga peningkatan hormonal yang dapat mempengaruhi pola tidur. f) Sakit Kepala Sakit kepala yang lebih sering dialami oleh pada ibu hamil pada awal kehamilan karena adanya peningkatan tuntutan darah ke tubuh sehingga ketika akan mengubah posisi dari duduk / tidur ke posisi yang lain (berdiri) tiba-tiba, sistem sirkulasi darah merasa sulit beradaptasi. Sakit kepala / pusing yang lebih sering daripada biasanya dapat disebabkan oleh faktor fisik maupun emosional. Pola makan yang berubah, perasaan tegang dan depresi juga dapat menyebabkan sakit kepala. g) Kram Perut Kram perut saat trimester awal kehamilan seperti kram saat menstruasi di bagian perut bawah atau rasa sakit seperti ditusuk yang timbul hanya beberapa menit dan tidak menetap adalah

11

normal. Hal ini sering terjadi karena adanya perubahan hormonal dan juga karena adanya pertumbuhan dan

pembesaran dari rahim dimana otot dan ligamen merenggang untuk menyokong rahim. h) Meludah Keinginan meludah yang terjadi pada ibu hamil yang terus menerus dianggap normal sebab hal ini termasuk gejala morning sickness. i) Peningkatan Berat Badan Pada akhir trimester pertama wanita hamil akan merasa kesulitan memasang kancing / rok celana panjangnya, hal ini bukan berarti ada peningkatan berat badan yang banyak tapi karena rahim telah berkembang dan memerlukan ruang juga, dan ini semua karena pengaruh hormon estrogen yang menyebabkan pembesaran rahim dan hormon progresteron yang menyebabkan tubuh menahan air. 2) Perubahan Psikologis pada Trimester I (Periode Penyesuaian) Menurut Sulistyawati (2009, p. 76-77), perubahan psikologis pada trimester I adalah : a) Ibu merasa tidak sehat dan kadang-kadang merasa benci dengan kehamilannya b) Kadang muncul penolakan, kecemasan dan kesedihan. Bahkan kadang ibu berharap agar dirinya tidak hamil saja

12

c) Ibu akan selalu mencari tanda-tanda apakah ia benar-benar hamil. Hal ini dilakukan sekedar untuk meyakinkan dirinya d) Setiap perubahan yang terjadi dalam dirinya akan selalu mendapat perhatian dengan seksama e) Oleh karena perutnya masih kecil, kehamilan merupakan rahasia seseorang yang mungkin akan diberitahukannya kepada orang lain atau bahkan merahasiakannya b. Perubahan Fisik dan Psikologis pada Trimester II 1) Perubahan Fisik pada Trimester II Menurut Kurnia (2009, p. 190-194), perubahan fisik pada trimester II adalah : a) Perut semakin membesar Setelah usia kehamilan 12 minggu, rahim akan membesar dan melewati rongga panggul. Pembesaran rahim akan tumbuh sekitar 1 cm setiap minggu. Pada kehamilan 20 minggu, bagian teratas rahim sejajar dengan puser (umbilicus). Setiap individu akan berbeda-beda tapi pada kebanyakan wanita, perutnya akan mulai membesar pada kehamilan 16 minggu. b) Sendawa dan buang angin Sendawa dan buang angin akan sering terjadi pada ibu hamil hal ini sudah biasa dan normal karena akibat adanya perenggangan usus selama kehamilan. Akibat dari hal tersebut perut ibu hamil akan terasa kembung dan tidak nyaman.

13

c) Pelupa Pada beberapa ibu hamil akan menjadi sedikit pelupa selama kehamilannya. Ada beberapa teori tentang hal ini, diantaranya adalah karena tubuh ibu hamil terus bekerja berlebihan untuk perkembangan bayinya sehingga menimbulkan blok pikiran. d) Rasa panas di perut Rasa panas diperut adalah keluhan yang paling sering terjadi selama kehamilan, karena meningkatnya tekanan akibat rahim yang membesar dan juga pengaruh hormonal yang

menyebabkan rileksasi otot saluran cerna sehingga mendorong asam lambung kearah atas. e) Pertumbuhan rambut dan kuku Perubahan hormonal juga menyebabkan kuku bertumbuh lebih cepat dan rambut tumbuh lebih banyak dan kadang di tempat yang tidak diinginkan, seperti di wajah atau di perut. Tapi, tidak perlu khawatir dengan rambut yang tumbuh tak semestinya ini, karena akan hilang setelah bayi lahir. f) Sakit perut bagian bawah Pada kehamilan 18-24 minggu, ibu hamil akan merasa nyeri di perut bagian bawah seperti ditusuk atau tertarik ke satu atau dua sisi. Hal ini karena perenggangan ligamentum dan otot untuk menahan rahim yang semakin membesar. Nyeri ini hanya akan terjadi beberapa menit dan bersifat tidak menetap.

14

g) Pusing Pusing menjadi keluhan yang sering terjadi selama kehamilan trimester kedua, karena ketika rahim membesar akan menekan pembuluh darah besar sehingga menyebabkan tekanan darah menurun. h) Hidung dan Gusi berdarah Hal ini juga terjadi karena peningkatan aliran darah selama masa kehamilan. Kadang juga mengalami sumbatan di hidung. Ini disebabkan karena adanya perubahan hormonal. i) Perubahan kulit Ibu hamil akan mengalami perubahan pada kulit. Perubahan tersebut bisa berbentuk garis kecoklatan yang dimulai dari puser (umbilicus) sampai ke tulang pubis yang disebut linea nigra. Sedangkan kecoklatan pada wajah disebut chloasma atau topeng kehamilan. Hal ini dapat menjadi petunjuk sang ibu kurang asam folat. Strecth mark terjadi karena peregangan kulit yang berlebihan, biasanya pada paha atas, dan payudara. Akibat peregangan kulit ini dapat menimbulkan rasa gatal, sedapat mungkin jangan menggaruknya. Strecth mark tidak dapat dicegah, tetapi dapat diobati setelah persalinan.

15

j) Payudara Payudara akan semakin membesar dan mengeluarkan cairan yang kekuningan yang disebut kolostrum. Putting dan sekitarnya akan semakin berwarna gelap dan besar. Bintikbintik kecil akan timbul disekitar putting, dan itu adalah kelenjar kulit. k) Kram pada kaki Kram otot ini timbul karena sirkulasi darah yang lebih lambat saat kehamilan. Atasi dengan menaikkan kaki ke atas dan minum kalsium yang cukup. Jika terkena kram kaki ketika duduk atau saat tidur, cobalah menggerak-gerakkan jari-jari kaki ke arah atas. l) Sedikit Pembengkakan Pembengkakan adalah kondisi normal pada kehamilan, dan hampir 40% wanita hamil mengalaminya. Hal ini karena perubahan hormon yang menyebabkan tubuh menahan cairan. Pada trimester kedua akan tampak sedikit pembengkakan pada wajah dan terutama terlihat pada kaki bagian bawah dan pergelangan kaki. Pembengkakan akan terlihat lebih jelas pada posisi duduk atau berdiri yang terlalu lama.

16

2) Perubahan Psikologis pada Trimester II (Periode Kesehatan Yang Baik) Menurut Sulistyawati (2009, p. 76-77), perubahan psikologis pada trimester II adalah : a) Ibu merasa sehat, tubuh ibu sudah terbiasa dengan kadar hormone yang tinggi b) Ibu sudah bisa menerima kehamilannya c) Merasakan gerakan anak d) Merasa terlepas dari ketidaknyamanan dan kekhawatiran e) Libido meningkat f) Menuntut perhatian dan cinta g) Merasa bahwa bayi sebagai individu yang merupakan bagian dari dirinya h) Hubungan sosial meningkat dengan wanita hamil lainnya atau pada orang lain yang baru menjadi ibu i) Ketertarikan dan aktivitasnya terfokus pada kehamilan, kelahiran, dan persiapan untuk peran baru c. Perubahan Fisik dan Psikologis pada Trimester III 1) Perubahan Fisik pada Trimester III Menurut Kurnia (2009,p. 194-197), perubahan fisik pada trimester III adalah :

17

a) Sakit bagian tubuh belakang Sakit pada bagian tubuh belakang (punggung-pinggang), karena meningkatnya beban berat dari bayi dalam kandungan yang dapat mempengaruhi postur tubuh sehingga menyebabkan tekanan ke arah tulang belakang. b) Payudara Keluarnya cairan dari payudara, yaitu colostrum, merupakan makanan bayi pertama yang kaya akan protein. Biasanya, pada trimester ini, ibu hamil akan merasakan hal itu, yakni keluarnya colostrum. c) Konstipasi Pada trimester ini sering terjadi konstipasi karena tekanan rahim yang membesar kearah usus selain perubahan hormon progesteron. d) Pernafasan Karena adanya perubahan hormonal yang memengaruhi aliran darah ke paru-paru, pada kehamilan 33-36 minggu, banyak ibu hamil akan merasa susah bernapas. Ini juga didukung oleh adanya tekanan rahim yang membesar yang berada di bawah diafragma (yang membatasi perut dan dada). Setelah kepala bayi turun kerongga panggul ini biasanya 2-3 minggu sebelum persalinan pada ibu yang baru pertama kali hamil akan merasakan lega dan bernapas lebih

18

mudah, dan rasa panas diperut biasanya juga ikut hilang, karena berkurangnya tekanan bagian tubuh bayi dibawah diafragma / tulang iga ibu. e) Sering kencing Pembesaran rahim ketika kepala bayi turun ke rongga panggul akan makin menekan kandungan kencing ibu hamil. f) Masalah tidur Setelah perut besar, bayi akan sering menendang di malam hari sehingga merasa kesulitan untuk tidur nyenyak. g) Varises Peningkatan volume darah dan alirannya selama kehamilan akan menekan daerah panggul dan vena di kaki, yang mengakibatkan vena menonjol, dan dapat juga terjadi di daerah vulva vagina. Pada akhir kehamilan, kepala bayi juga akan menekan vena daerah panggul yang akan memperburuk varises. Varises juga dipengaruhi faktor keturunan. h) Kontraksi perut Braxton-Hicks atau kontraksi palsu ini berupa rasa sakit di bagian perut yang ringan, tidak teratur, dan akan hilang bila ibu hamil duduk atau istirahat. i) Bengkak Perut dan bayi yang kian membesar selama kehamilan akan meningkatkan tekanan pada daerah kaki dan pergelangan kaki

19

ibu hamil, dan kadang membuat tangan membengkak. Ini disebut edema, yang disebabkan oleh perubahan hormonal yang menyebabkan retensi cairan. j) Kram pada kaki Kram kaki ini timbul karena sirkulasi darah yang menurun, atau karena kekurangan kalsium. k) Cairan vagina Peningkatan cairan vagina selama kehamilan adalah normal. Cairan biasanya jernih. Pada awal kehamilan, cairan ini biasanya agak kental, sedangkan pada saat mendekati persalinan cairan tersebut akan lebih cair. 2) Perubahan Psikologis pada Trimester III Menurut Sulistyawati (2009,p. 76-77), perubahan psikologis pada trimester III adalah : a) Rasa tidak nyaman timbul kembali, merasa dirinya jelek, aneh, dan tidak menarik b) Merasa tidak menyenangkan ketika bayi tidak lahir tepat waktu c) Takut akan rasa sakit dan bahaya fisik yang timbul pada saat melahirkan, khawatir akan keselamatannya d) Khawatir bayi akan dilahirkan dalam keadaan tidak normal, bermimpi yang mencerminkan perhatian dan kekhawatirannya e) Merasa sedih karena akan terpisah dari bayinya f) Merasa kehilangan perhatian

20

g) Perasaan mudah terluka (sensitif) h) Libido menurun

B. Hubungan seksual selama kehamilan 1. Pengertian Seksologi adalah ilmu yang mempelajari berbagai aspek

seksualitas, bukan hanya sekadar informasi yang enak didengar dan bersifat erotik, yang dapat disimpulkan oleh setiap orang tanpa dasar ilmiah. Seksologi mempelajari berbagai aspek seksualitas, seperti aspek sosiobudaya, biologis, klinis, psikososial, dan perilaku. Walaupun terdiri atas berbagai aspek, didalam kehidupan seksual manusia, aspek-aspek tersebut tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain. Jadi, pada saat kita membicarakan kehidupan seksual dari segi biologis atau klinis, aspek lain seperti sosiobudaya dan psikososial tidak boleh diabaikan. Seksualitas merupakan bagian dari kehidupan manusia, baik pria maupun perempuan. Seperti tubuh dan jiwa yang berkembang, seksualitas juga berkembang sejak masa kanak-kanak, remaja, sampai dewasa. Seksualitas

diekspresikan dalam bentuk perilaku seksual, yang didalamnya tercakup fungsi seksual (Prawirohardjo, 2005, p. 64) 2. Mitos hubungan seksual saat hamil Menurut Tino (2009, p.65-69) mitos hubungan seksual selama hamil adalah:

21

a. Banyak berhubungan seks bayi sehat Mitos tersebut tidaklah benar. Pernyataan tersebut sering beredar dalam masyarakat dengan alasan bahwa pada saat melakukan hubungan seksual bayi di dalam rahim akan mendapatkan siraman pertama sperma sehingga bayi menjadi subur. Kesuburan dan kesehatan bayi tidak ditentukan oleh siraman sperma pada saat berhubungan seksual. Akan tetapi, kualitas kesehatan dan kesuburan bayi dipengaruhi oleh kualitas spermatozoa yang telah berhasil membuahi sel telur dan kualitas makanan yang dikonsumsi ibu. b. Bayi cepat lahir Berhubungan seks pada saat bayi dalam kandungan sudah berumur diindikasikan dapat mengakibatkan kontraksi rahim. Adanya kontraksi rahim bisa memicu kelahiran bayi yang sudah berumur, namun jika umur bayi dalam kandungan belum cukup, maka berhubungan seks tidak akan mengakibatkan bayi cepat lahir. Kontraksi rahim tersebut disebabkan oleh hormon prostaglandin yang terdapat pada cairan semen yang dikeluarkan suami pada saat ejakulasi. c. Berhubungan seks menganggu bayi Hubungan seks tidak akan menganggu perkembangan bayi. Akan tetapi, perlu diingat kondisi kehamilannya juga perlu tetap dijaga. Selama hamil tidak dilarang untuk berhubungan seks.

22

Melakukan hubungan seksual tidak akan bermasalah karena janin terlindung oleh selaput dan cairan ketuban. Dengan catatan hubungan seks yang wajar atau dengan kata lain tidak terlalu ekstrem. d. Libido tinggi Keinginan berhubungan seks yang tinggi antara ibu hamil yang satu dengan yang lainnya sangatlah berbeda. Hal tersebut dipengaruhi banyak faktor, seperti faktor hormonal, psikologis, dan lain-lain. Tinggi atau tidaknya libido seks ketika hamil merupakan hal wajar yang sering dialami. Hubungan yang harmonis dengan suami juga sangat memungkinkan libido seks ibu hamil tinggi. Hal terpenting adalah saling pengertian dan komunikasi dengan pasangan anda sehingga sama-sama terpuaskan ketika berhubungan seks. e. Posisi menentukan jenis kelamin bayi Banyak yang mengatakan bahwa jika posisi seorang pria dimulai dari kiri dan diakhiri di sebelah kanan, maka bayi yang dilahirkan berjenis kelamin laki-laki. Namun, jika dimulai dari sebelah kanan dan diakhiri sebelah kiri, maka bayi yang dilahirkan berjenis kelamin perempuan. Seorang laki-laki memiliki dua tipe kromosom dalam spermatozoa. Kedua kromosom tersebut adalah kromosom X dan Y. Jika yang membuahi sel telur adalah kromosom Y, maka bayi yang dilahirkan adalah laki-laki. Namun, jika yang membuahi sel telur adalah kromosom X, maka bayi yang dilahirkan adalah perempuan.

23

f. Posisi terbaik berhubungan seks Pada dasarnya posisi hubungan seks sewaktu hamil banyak macamnya, seperti posisi duduk, posisi menyamping, posisi wanita di atas, dan posisinya lainnya. Hal terpenting adalah sama-sama nyaman. Jangan sampai suami meletakkan berat badannya di bagian perut. Jika meletakkan berat badannya di bagian perut, maka akan membahayakan bayi dalam kandungan karena bayi tertekan. 3. Hubungan seksual dari tiap trimester kehamilan Hubungan seksual dari tiap trimester kehamilan menurut Suryoprajogo (2008, p. 47-52) adalah : a. Trimester Pertama Meskipun terdapat bermacam-macam variasi dari masingmasing pasangan, pola ketertarikan seksual pada trimester pertama kehamilan tetaplah umum. Tidak mengherankan jika pada awal kehamilan terjadi penurunan minat terhadap seks. Survey mengatakan bahwa 54% wanita mengalami penurunan libido pada trimester pertama. Semua gejala yang dialami calon ibu pada trimester pertama membuatnya merasa seolah bukan pasangan ideal bagi suami. Rasa mual membuat calon ibu merasa tidak bergairah melakukan apa pun termasuk berhubungan seksual. Mulut yang pahit membuat calon ibu tidak ingin berciuman dengan pasangan. Selain itu, payudara yang membengkak dan terasa nyeri jika disentuh membuat ibu enggan

24

diraba. Bahkan yang lebih parah, sensitif terhadap bau-bauan dan rasa benci terhadap pasangan membuat calon ibu tidak mau tidur sekamar apalagi berhubungan sek. Fluktuasi hormon, kelelahan, dan rasa eneg mengisap semua keinginan untuk berkegiatan. Ketakutan akan menyakiti janin juga menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan keinginan untuk bermesraan menghilang. Akan tetapi, pada wanita yang kehamilan trimester pertamanya sangat nyaman, hasrat seksual yang muncul kemungkinan sama atau bahkan meningkat dengan kondisi sebelum kehamilan terjadi. Sebagian kecil wanita bahkan merasakan perubahan yang sangat signifikan terhadap kehidupan seksualnya. Hal tersebut sering kali disebabkan oleh perubahan hormon pada awal kehamilan yang membuat organ vulva lebih sensitif dan payudara yang lebih berisi sehingga meningkatkan kepekaan terhadap sentuhan. b. Trimester Kedua Meski tidak selalu, minat untuk berhubungan seks umumnya mulai meningkat pada trimester kedua ini. Pada masa ini, secara fisik dan psikologi istri dan pasangan sudah lebih dapat menyesuaikan diri pada berbagai perubahan yang terjadi karena kehamilan. Tubuh calon ibu yang telah dapat menerima dan terbiasa dengan kondisi kehamilan membuatnya dapat menikmati aktivitas dengan muntah dan segala rasa tidak enak biasanya sudah jauh berkurang dan tubuh terasa tidak nyaman. Selain itu, pada masa ini

25

kehamilan juga belum terasa besar serta memberatkan seperti pada trimester ketiga dan suasana hati yang jauh lebih baik dari trimester pertama membuat gairah lebih meningkat. Setelah pada trimester pertama istri dan pasangan melakukan diet dan puasa, bercinta di trimester kedua ini dapat terasa jauh lebih menyenangkan. Hal ini dikarenakan meningkatnya hormon estrogen dan volume darah di tubuh sehingga lebih banyak darah yang mengalir ke panggul dan organ kelamin. Istri akan lebih mudah mengalami orgasme. Seperti pada beberapa wanita yang sudah mengalami pada trimester pertama, umumnya pada trimester kedua ini sebagian besar wanita mengalami pembesaran bibit vagina dan klitoris sehingga ujung-ujung saraf menjadi semakin sensitif. Akan tetapi banyaknya aliran darah ke vagina juga menyebabkan perubahan suasana vagina. Bagi para suami, di masa ini pasangan mereka terlihat lebih menarik dibanding sebelumnya. Kepercayaan diri yang meningkat membuat calon ibu terlihat lebih cantik, ditunjang dengan kulit dan rambut yang semakin bercahaya karena pengaruh hormon

kehamilan. Namun, ada juga suami yang mengalami penurunan gairah karena khawatir berhubungan intim dapat menganggu kesehatan ibu hamil atau janin, perasaan cemas bakal segera menjadi ayah, atau bahkan perasaan tidak enak karena merasa si janin menyaksikan acara bercinta tersebut.

26

c. Trimester Ketiga Saat persalinan semakin dekat, umumnya hasrat libido kembali menurun, terkadang bahkan lebih drastis dibandingkan dengan saat trimester pertama. Perut yang kian membuncit membatasi gerakan dan posisi nyaman saat berhubungan intim. Rasa nyaman sudah jauh berkurang. Pegal di punggung dan pinggul, tubuh bertambah berat dengan cepat, nafas lebih sesak (karena besarnya janin mendesak dada dan lambung), dan kembali merasa mual menyebabkan menurunnya minat seksual. Selain itu, perut yang besar, kaki bengkak, dan wajah sembap membuat calon ibu merasa tidak hot lagi di mata pasangan. Perasaan itu pun semakin kuat jika suami juga enggan untuk berhubungan seks, meski hal itu sebenarnya karena ia merasa tidak tega atau khawatir melukai calon ibu dan janin. Selain hal fisik, turunnya libido juga berkaitan dengan : kecemasan dan kekhawatiran yang meningkat menjelang persalinan. Secara medis, sebenarnya tidak ada yang perlu dirisaukan jika kehamilan tidak disertai faktor penyulit, dengan kata lain, kehamilan sedang dalam kondisi yang sehat. Namun demikian, satu hal wajar apabila saat ini frekuensi bercinta tidak sesering pada trimester kedua. Hubungan seks sebaiknya lebih diutamakan untuk menjaga kedekatan emosional daripada rekreasi fisik karena pada trimester terakhir ini, dapat terjadi kontraksi kuat pada wanita hamil yang diakibatkan karena orgasme. Hal tersebut dapat berlangsung biasanya sekitar 30 menit

27

hingga terasa tidak nyaman. Jika kontraksi berlangsung lebih lama, menyakitkan, menjadi lebih kuat, atau ada indikasi lain yang menandakan bahwa proses kelahiran akan mulai. 4. Posisi hubungan seksual selama hamil Berhubungan intim selama hamil umumnya aman. Bahkan kehidupan seks yang sehat sangat bermanfaat. Sebab, selain menjaga hubungan suami istri, seks juga membantu meredakan stress dan mengingatkan bahwa istri juga seorang wanita sensual selain seorang calon ibu. Hubungan intim juga bisa menjadi olahraga yang baik, dan tak akan menyakiti bayi yang aman terlindung oleh kantung ketuban di dalam rahim. Penetrasi yang dalam pun tidak akan berbahaya. Beberapa posisi yang aman dalam melakukan hubungan seksual selama kehamilan menurut Lees (2003, p. 94-95) adalah : a. Wanita diatas Posisi ini mudah dilakukan sejak trimester kedua hingga seterusnya. Pada akhir kehamilan, istri bisa mencoba posisi ini dengan berjongkok diatas pasangan, bukan merebahkan tubuh diatasnya. b. Bersampingan Suami berbaring miring dan istri berbaring terlentang dengan kaki ditekuk ke atas badan pasangannya. Posisi ini tidak hanya membuat istri bisa saling menatap saat berhubungan intim, tapi juga membuat perut istri tidak tertekan. Posisi ini juga mempermudah foreplay / permainan pendahuluan.

28

c. Posisi misionari diubah sedikit Pada posisi ini, pasangan (suami) berbaring di atas tapi menopang tubuhnya sendiri sehingga beratnya tak bertumpu pada perut istri. Posisi ini bisa dilakukan selama beberapa bulan hingga perut istri belum terlalu besar. d. Posisi duduk Istri duduk menghadap suami dipangkuannya. Posisi ini bisa dilakukan dan menyenangkan bagi istri dan pasangan bila perut belum terlalu besar, karena istri bisa merasakan penetrasi yang dalam. Saat perut sudah terlalu besar, masih bisa melakukannya tetapi dengan membelakanginya. e. Penetrasi dari belakang Istri telungkup dan menopang tubuh dengan kedua tangan dan kaki. Suami berlutut dan melakukan penetrasi dari belakang. Pada posisi ini perut istri tidak akan tertekan dan suami juga bisa meraba payudara, klitoris dan perut anda. 5. Dampak seks terhadap kehamilan Menurut Suryoprajogo (2008, p. 53-55) dampak seks terhadap kehamilan adalah : a. Keguguran Keguguran (early miscarriage) biasanya berhubungan dengan ketidaknormalan kromosom, kelainan genetik lain pada embrio, atau masalah lain yang dialami janin yang sedang berkembang. Dalam

29

banyak kasus, hal itu dipicu oleh embrio atau janin yang telah mati. Hal tersebut juga dapat disebabkan oleh kegagalan tubuh ibu untuk memproduksi suplai hormon yang cukup. b. Menyakiti janin Kontak seksual tidak akan menjangkau atau menganggu janin karena terlindung oleh selaput dan cairan ketuban. Cairan ketuban merupakan peredam kejut yang sangat baik, sehingga gerakan saat senggama maupun kontraksi rahim saat orgasme akan teredam sehingga tidak menganggu janin. c. Orgasme memicu kelahiran prematur Orgasme dapat memicu kontraksi rahim. Namun, kontraksi ini berbeda dengan kontraksi yang dirasakan menjelang saat melahirkan. Penelitian mengindikasikan bahwa jika menjalani kehamilan yang normal, orgasme yang terjadi dengan atau tanpa melakukan hubungan intim, tidak memicu kelahiran prematur. d. Pertumbuhan janin terganggu Meskipun janin turut bergoyang dan berayun saat bercinta dengan pasangan, pertumbuhannya tidak akan terganggu. Reaksi janin (gerakan yang melambat saat bercinta kemudian kembali aktif menendang dan jantung berdetak lebih cepat saat mengalami orgasme) bukan reaksi terhadap aktivitas seksual, melainkan reakasinya terhadap hormon yang meningkat dan aktivitas usus (uterine).

30

e. Penetrasi dapat menyebabkan infeksi Asalkan pasangan tidak menderita penyakit menular seksual, penetrasi tidak akan menyebabkan infeksi, baik pada vagina atau janin. Kantong ketuban melindungi janin dari segala macam organisme penyebab infeksi. f. Khawatir berlebihan Jika memiliki sindrom pramenstruasi, besar kemungkinannya akan mengalami mood swing yang lebih parah saat hamil. Ini tidak saja berpengaruh terhadap hasrat seksual, tetapi juga kekhawatiran yang cenderung berlebih pada dampaknya. 6. Komplikasi yang dapat menghalangi hubungan seks Komplikasi yang terjadi pada ibu hamil dapat menimbulkan larangan melakukan hubungan seks. Menurut Westheimer (2002, p. 152156), komplikasi yang dapat menghalangi hubungan seks adalah : a. Placenta previa Wanita hamil dengan kondisi placenta previa sering diminta untuk membatasi aktivitas fisik dan tidak boleh melakukan hubungan seks karena keduanya dapat menganggu placenta dan potensial

menimbulkan pendarahan dan kelahiran prematur. Jika posisi placenta tidak berubah hingga trimester ketiga, bayi akan dilahirkan dengan operasi caesar.

31

b. Afasmen dan dilasi awal pada cervix Penetrasi ke dalam vagina secara teori dapat menimbulkan infeksi, pecahnya kantung amniotik, atau bahkan persalinan. Namun, jika istri telah memiliki satu anak atau lebih sebelumnya, bukan hal yang aneh jika cervix sedikit terbuka saat hamil. c. Sejarah kelahiran prematur dan keguguran Jika sebelumnya istri melahirkan bayi prematur atau jika pernah keguguran pada trimester kedua, salah satunya adalah melarang hubungan seks. d. Cervix lemah Wanita dengan cerviks yang lemah dapat mengalami dilatasi cerviks tanpa rasa sakit, biasanya pada awal trimester kedua. Wanita yang telah didiagnosa memiliki kandungan yang lemah membutuhkan operasi, yang disebut stitch atau cerclage (jahitan), untuk menutup cervix dan menguatkannya agar dapat menahan janin hingga saat dilahirkan. e. Multi janin Multi janin, yaitu kembar dua, tiga, atau lebih akan memperbesar resiko kelahiran bayi prematur. Larangan hubungan seks dapat ditetapkan antara minggu ke-20 dan 37, ketika kelahiran bayi memiliki resiko tinggi.

32

f. Pendarahan Perdarahan ketika hamil selalu menimbulkan kekhawatiran.

Perdarahan dapat diklasifikasikan tergantung pada waktu keluarnya apakah pada awal atau akhir kehamilan. Jika pendarahanya banyak dan atau berlangsung lama, bisa merupakan tanda awal keguguran. Jika perdarahan atau bercak disertau dengan rasa dakit, segera memberitahu ke dokter karena ini bisa saja kehamilan ektopik. Pendarahan pada akhir kehamilan bisa diakibatkan oleh komplikasi serius seperti kelahiran prematur dan dilatasi cervix, placenta previa (placenta menutup cervix), abruptio placente (placenta robek), dan kemungkinan lainnya, seperti cedera pada vagina dan cervix. Jika pendarahan terjadi khususnya setelah hubungan seks, disarankan untuk sama sekali tidak berhubungan seks. g. Cairan amniotik bocor atau ketuban pecah Selaput atau ketuban yang mengelilingi fetus berfungsi sebagai kulit pelindung yang memisahkan cairan amniotik steril dari isi vagina. Jika ketuban pecah, kelahiran prematur atau keguguran dapat terjadi dan jika ini terjadi pada tahap kehamilan, bayi harus dikeluarkan dengan segera.

33

7. Frekuensi Hubungan Seksual Pada umunya frekuensi hubungan seksual selama kehamilan menurun. Menurut Irianto (2010, membagi frekuensi seksual menjadi 3 yaitu : a. Sering ( > 2 kali / minggu) b. Kadang-kadang (1-2 kali / minggu) c. Tidak melakukan (0 kali / minggu) 8. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Frekuensi Hubungan Seksual Menurut Notoatmodjo (2003; p. 13-14), faktor yang

mempengaruhi perilaku manusia pada tingkat kesehatan yaitu : a. Faktor-faktor predisposisi (predisposing factor) Faktor ini mencakup: pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan, tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan sistem nilai yang dianut masyarakat, tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi b. Faktor-faktor pendukung (enabling faktor) Faktor pendukung merupakan faktor pemungkin. Faktor ini bisa sekaligus menjadi penghambat atau mempermudah niat suatu

perubahan perilaku dan perubahan lingkungan yang baik. Faktor pendukung (enabling factor) mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas. Sarana dan fasilitas ini pada hakekatnya

34

mendukung atau memungkinkan terwujudnya suatu perilaku, sehingga disebut sebagai faktor pendukung atau faktor pemungkin. c. Faktor-faktor pendorong (reinforcing factor) Faktor-faktor pendorong (reinforcing factor) merupakan penguat terhadap timbulnya sikap dan niat untuk melakukan sesuatu atau berperilaku. Suatu pujian, sanjungan dan penilaian yang baik akan memotivasi, sebaliknya hukuman dan pandangan negatif seseorang akan menjadi hambatan proses terbentuknya perilaku.

C. Pengetahuan 1. Pengertian Pengetahuan menurut Notoatmodjo (2003, p.121-123) merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. 2. Tingkat Pengetahuan Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif menurut Notoatmodjo, (2003, p. 121-123) mempunyai 6 tingkatan. a. Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah

35

mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. b. Memahami (comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat

menginterpretasikan materi tersebut secara benar. c. Aplikasi (application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). d. Analisis (analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. e. Sintesis (synthesis) Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. f. Evaluasi (evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.

36

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan di atas. Klasifikasi pengetahuan dibagi atas (Hidayat, 2008, p. 102-103) : a. Baik yaitu menjawab benar (76%-100%) yang diharapkan b. Cukup yaitu menjawab benar (51%-75%) yang diharapkan c. Kurang yaitu menjawab benar (< 50%) yang diharapkan 3. Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan (Notoatmodjo, 2003, p. 105) yaitu : a. Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan yaitu kemampuan belajar yang dimiliki manusia merupakan bekal yang sangat pokok. Jenis pendidikan adalah macam jenjang pendidikan formal yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan belajar siswa, sehingga tingkat pendidikan dan jenis pendidikan dapat menghasilkan suatu perubahan. Informasi juga mempengaruhi pengetahuan yaitu dengan kurangnya informasi tentang hubungan b. Budaya Budaya sangat berpengaruh terhadap hubungan seksual selama masa kehamilan, karena setiap budaya yang baru akan disaring sesuai tidak dengan budaya yang ada dan agama yang dianut.

37

c. Pengalaman Pengalaman disini berkaitan dengan umur. Pengalaman akan lebih luas sebagaimana dengan umur yang semakin bertambah.

38

D. Kerangka Teori

Faktor predisposisi (predisposing factor) : Pengetahuan 1.1. Pengetahuan 2. 3. 4. 5. Sikap Nilai Kepercayaan Persepsi

Faktor pendukung (enabling factor) : 1. Ketersediaan sarana 2. Sumber daya/dana 3. Keterampilan 4. Keterjangkauan

Frekuensi hubungan seksual selama kehamilan

Faktor pendorong (reinforcing factor) : 1. Motivasi 2. Sikap dan perilaku masyarakat 3. Sikap dan perilaku petugas kesehatan 4. Fasilitas dan peralatan yang memadai

Bagan 2.1 Kerangka Teori Sumber : Notoatmodjo (2003, p. 13-14)

39

E. Kerangka Teori Variabel independen Variabel dependen

Tingkat Pengetahuan

Frekuensi Hubungan Seksual selama masa hamil

Bagan 2.2 Kerangka Konsep

F. Hipotesis Hipotesis alternatif (Ha) pada penelitian ini adalah ada hubungan tingkat pengetahuan ibu hamil trimester III dengan frekuensi melakukan hubungan seksual selama kehamilan di BPS Lejar Supendah Kecamatan Mijen Kota Semarang.