Anda di halaman 1dari 47

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN PERITONITIS

Oleh : OKTOVIA LISTYAWATI PUTRI Nomor Induk Mahasiswa: 11883 Dosen Pembimbing : Ns. Rufina Hurai, S.Kep

AKADEMI KEPERAWATAN DIRGAHAYU SAMARINDA 2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehaditar Tuhan Yang Maha Kuasa atas kasih-Nya telah mengizinkan penulis menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Makalah ini berjudul Asuhan Keperawatan Klien Dengan Peritonitis. Pada kesempatan kali ini saya ingin mengucapkan terimakasih kepada : 1. Ns. Rufina Hurai, S.Kep. 2. pihak perpustakaan yang telah menyediakan buku sumber. 3. Teman-teman yang telah membantu serta mendukung. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna . namun demikian, penulis berharap makalah ini bermanfaat untuk para pembaca. Semoga Tuhan senantiasa memberikan berkat-Nya kepada kita semua. Amin

Samarinda, 14 September 2012

Penulis

ii

DAFTAR ISI

Halaman Judul ........................................................................................................................ i Kata Pengantar....................................................................................................................... ii Daftar Isi ........................................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang........................................................................................................... 1 B. Tujuan ........................................................................................................................ 2 BAB II LANDASAN TEORI A. Anatomi Fisiologi ...................................................................................................... 4 B. Konsep Penyakit ...................................................................................................... 10 1. Pengertian ......................................................................................................... 10 2. Penyebab ............................................................................................................ 11 3. Gejala dan tanda ................................................................................................ 13 4. Klasifikasi .......................................................................................................... 16 5. Patofisiologi Penyakit ........................................................................................ 17 6. Pemeriksaan Fisik .............................................................................................. 22 7. Pemeriksaan Diagnostik .................................................................................... 22 8. Penatalaksanaan ................................................................................................. 23 9. Pencegahan ........................................................................................................ 24 10. Komplikasi ........................................................................................................ 25 BAB III ASUHAN KEPERAWATAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. Pengkajian ............................................................................................................... 26 Diagnosa .................................................................................................................. 30 Intervensi ................................................................................................................. 31 Implementasi ........................................................................................................... 40 Evaluasi ................................................................................................................... 40 Dokumentasi ........................................................................................................... 41 iii

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan .............................................................................................................. 42 B. Saran ........................................................................................................................ 42


3

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................... 43 LAMPIRAN ....................................................................................................................... 45 A. Gambar .................................................................................................................... 45 B. SAP .......................................................................................................................... 46 C. Rencana Pulang ....................................................................................................... 51

iv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Gawat abdomen menggambarkan keadaan klinik akibat kegawatan di rongga perut yang biasanya timbul mendadak dengan nyeri sebagai keluhan utama. Keadaan ini memerlukan penanggulangan segera yang sering berupa tindakan bedah, misalnya pada obstruksi, perforasi, atau perdarahan, infeksi, obstruksi atau strangulasi jalan cerna dapat menyebabkan perforasi yang mengakibatkan kontaminasi rongga perut oleh isi saluran cerna sehingga terjadilah peritonitis. Peritonitis Bakterial Spontan (PBS) adalah komplikasi serius pada pasien sirosis dengan asites. PBS didefinisikan sebagai infeksi cairan asites tanpa dapat ditemukan penyebab dari intraabdominal yang dapat diterapi secara bedah. Disebut PBS bila didapatkan peningkatan sel polimorfonuklear PMN melebihi 250/mm3 dengan atau tanpa bakteriemia yang diisolasi dari dalam cairan asites. Penelitian-penelitian dan dokumen konsensus mengenai PBS telah banyak dipublikasikan akhir-akhir ini dalam rangka mempermudah identifikasi pasien dengan risiko PBS serta membantu menentukan terapi yang optimal. Namun demikian diera diagnosis dini dan pemberian terapi antibiotika segera, prevalensi PBS masih berkisar antara 10-30%, dan yang lebih meresahkan adalah angka kematian yang masih cukup tinggi sekitar 20-40%. Menurut surpey WHO Jumlah penderita peritonitis di dunai berkisar 5,9 jt/tahun. Peradangan peritoneum (peritonitis) merupakan komplikasi berbahaya yang sering terjadi akibat penyebaran infeksi dari organ-organ abdomen (misalnya apendisitis, salpingitis, perforasi ulkus gastroduodenal), ruptura saluran cerna, komplikasi post operasi, iritasi kimiawi, atau dari luka tembus abdomen.
5

Pada keadaan normal, peritoneum resisten terhadap infeksi bakteri secara inokulasi kecil-kecilan. Kontaminasi yang terus menerus, bakteri yang virulen, penurunan resistensi, dan adanya benda asing atau enzim pencerna aktif, merupakan faktor-faktor yang memudahkan terjadinya peritonitis. Keputusan untuk melakukan tindakan bedah harus segera diambil karena setiap keterlambatan akan menimbulkan penyakit yang berakibat meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Ketepatan diagnosis dan penanggulangannya tergantung dari kemampuan melakukan analisis pada data anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

B. Tujuan 1. Tujuan Umum Setelah mempelajari asuhan keperawatan peritonitis mahasiswa mampu

mengetahui, memahami, konsep penyakit peritonitis dan mampu melakukan asuhan keperawatan pada pasien peritonitis. 2. Tujuan Khusus 1) Mahasiswa mampu menjelaskan anatomi fisiologi peritonium 2) Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian penyakit peritonitis 3) Mahasiswa mampu menjelaskan penyebab /faktor predidposisi penyakit peritonitis 4) Mahasiswa mampu menjelaskan gejala dan tanda penyakit peritonitis 5) Mahasiswa mampu menjelaskan patofisiologi penyakit peritonitis 6) Mahasiswa mampu menentukan pemeriksaan fisik pada penyakit peritonitis 7) Mahasiswa mampu menentukan pemeriksaan diagnostik pada penyakit peritonitis 8) Mahasiswa mampu melakukan penatalaksanaan pada penyakit peritonitis 9) Mahasiswa mampu menjelaskan pencegahan penyakit peritonitis 10) Mahasiswa mampu menjelaskan komplikasi penyakit peritonitis. 11) Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada penyakit peritonitis 12) Mahasiswa mampu menentukan diagnosa pada penyakit peritonitis 13) Mahasiswa mampu melakukan implementasi pada penyakit peritonitis 14) Mahasiswa mampu melakukan evaluasi pada penyakit peritonitis 15) Mahasiswa mampu membuat pendokumentasian pada penyakit peritonitis.
6

BAB II LANDASAN TEORI A. Anatomi Fisiologi

(Evelyn C. Pearce, Anatomi & Fisiologi Untuk Paramedis)

Sistem organ pencernaan adalah sistem organ yang menerima makanan, mencerna, untuk dijadikan energi dan nutrien, serta mengeluarkan sisa proses tersebut. Susuna saluran pencernaan terdiri dari oris (mulut); faring (tekak); esofagus (kerongkong); ventrikulus (lambung); intestinum minor (usus halus) yang terbagi menjadi duodenum (usus 12 jari), ileum (usus penyerapan), jejenum; intestinum mayor (usus besar) yang
7

terbagi menjadi kolon asendens (usus besar yang naik), kolon transversum (usus besar mendatar), kolon desenden (usus besar turun), kolon sigmoid; rektum; dan anus (dubur).

Organ Pencernaan 1. Mulut Merupakan organ pertama dari saluran pencernaan yang meluas dari bibir sampai ke istmus fausium yaitu perbatasan antara mulut dengan faring ,terdiri dari : a. Vestibulum oris : Bagian di antara bibir dan pipi di luar, gusi dan gigi bagian dalam. Bagian atas dan bawah vestibulum dibatasi oleh lipatan membran mukosa bibir, pipi, dan gusi. b. Kavitas oris propia : Bagian di antara arkus alveolaris, gusi, dan gigi, memiliki atap yang dibentuk oleh palatum durum bagian depan , palatum mole bagian belakang. Organ kelengkapan mulut diantaranya ada bibir, pipi yang merupakan alat kelengkapan mulut bagian luar dilapisi oleh kulit bagian dalam dilapisi oleh jaringan epitel mengandung selaput lendir (membran mukosa) gigi yang merupakan alat bantu yang berfungsi untuk mengunyah dan berbicara, lidah dan kelenjar lidah. 2. Faring Faring atau tekak merupakan organ yang menghubungkan rongga mulut dengan kerongkongan panjangnya 12 cm, terbentang tegak lurus antara basis kranii setinggi vertebra servikalis VI, ke bawah setinggi tulang rawan krikoidea. Faring dibentuk oleh jaringan yang kuat (jaringan otot melingkar). Faring terdiri atas 3 bagian yaitu nasofaring, orofaring, dan laringofaring.

3. Esofagus Esofagus (kerongkong) merupakan saluran pencernaan setelah mulut dan faring. panjangnya 25 cm. Posisi vertikal dimulai dari bagian tengah leher bawah faring sampai ujung bawah rongga dada di belakang trakhea. Pada bagian dalam di belakang jantung menembus diafragmasampai rongga dada. Fundus lambung

melewati persimpangan sebelah kiri diafragma. Lapisan dinding esofagus dari dalam keluar :

a. Lapisan selaput lendir (mukosa) b. Lapian submukosa c. Lapisan otot melingkar (M. Sirkuler) d. Lapisan otot memanjang (M. Longitudinal).

4. Lambung Lambung merupakan sebuah kantong muskuler yang letaknya antara esofagus dan usus halus, sebelah kiri abdomen, di bawah diafragma bagian depan pankreas dan limpa. Lambung merupakan saluran yang dapat mengembang karena adanya gererakan peristaltik terutama di daerah epigaster. Bagian-bagian dari lambung yaitu fundus vertrikuli, korpus vertrikuli, antrum pilorus, kurvatura minor, kurvatura mayor, dan ostium kardia.

5. Usus halus Intestinum minor merupakan bagian sistem pencernaan makanan yang berpangkal pada pilorus dan berakhir pada sekum. Panjangnya 6 m, merupakan saluran pencernaan yang paling panjang dari tempat proses pencernaan dan absorbsi pencernaan berdiameter sekitar 2,5 cm. Di dalam kavitas abdominis, kolon akan melingkari liku-liku intestinum tenue. Yang terdiri dari doudenum, jejenum, dan ileum.

6. Usus besar Usus besar atau yang disebut kolon memiliki diameter kurang lebih 6,3 cm dan panjang sekitar 1,5 m. Usus besar ini menghubungkan bagian usus halus yang disebut ileum dan anus yang merupakan lubang paling akhir. a. Sekum Sekum adalah bagian yang paling awal, dan persambungannya dengan ileum di sebut valva ileosekalis yang sebenarnya bukan sfingter, tetapi memiliki fungsi yang sama Kolon asenden. Panjangnya 13 cm, terletak di bawah abdomen sebeluh kanan membujur ke atas dari ileum ke bawah hati.
9

b. Apdendiks (usus buntu) Bagian dari usus besar yang muncul seperti corong dari ujung sekum, mempunyai pintu ke luar yang sempit tetapi masih memungkinkan dapat dilewati oleh beberapa isi usus. c. Kolon transversum Panjangnya + 38 cm, membujur dari kolon asendens, sampai ke kolon desenden berada di bawah abdomen. Sebelah kanan terdapat felksura hepatica dan sebelah kiri terdapat felksura lienalis. d. Kolon Desenden Panjangnya +25 cm, terletak dibawah abdomen bagian kiri membujur dari atas ke bawah dan fleksura lienalis sampai ke depan ileum kiri, bersambung dengan kolong sigmoid e. Kolond Sigmoid Kolon sigmoid merupakan kelanjutan dari kolon desenden, terletak miring dalam rongga pelvis f. Anus Anus adalah bagian dari saluran pencernaan yang menghubungkan resiturn dengan dunia luar ( udara luar). 7. Peritonium Peritonium terdiri dari dua bagian yaitu peritonum parietal yang melapisi dinding rongga abdomen dan pentoneum viseral yang melapisi semua organ yang berada dalam rongga abdomen. Ruang yang terdapat diantara dua lapisan ini disebut ruang peritonial atau kantong peritonium. Fungsi peritoneum adalah ; 1) Menutup sebagian dari organ abdomen dan pelvis 2) Membentuk pembatas yang halus sehingga organ yang ada di dalam rongga peritonium tidak saling bergesakan. 3) Menjaga kedudukan dan mempertahankan hubungan organ terhadap dinding posterior abdomen 4) Tempat kelenjar limfe dan pembulu darah yang membantu melindungi terhadap infeksi.
10

Gambar 2.2 faculty.southwest.tn.edu (gambar peritoneum) B. Konsep Penyakit 1. Pengertian Peritonitis adalah inflamasi rongga peritoneum yang disebabkan oleh infiltrasi isi usus dari suatu kondisi seperti ruptur apendiks, perforasi/trauma lambung dan kebocoran anastomosis. (Tucker : 1998,32) Peritonitis adalah peradangan pentoneum yang merupakan komplikasi berbahaya akibat penyebaran infeksi dari organ organ abdomen (apendisitis, pankreatitis, dll) reputra saluran cerna dan luka tembus abdomen. (Sylvia Anderson & Larraine Carry Wison, 1995: 402). Peritonitis adalah peradangan peritoneum, suatu lapisan endotelialtipis yang kaya akan vaskularisasi dan aliran limpa. ( Soeparman,dkk).

11

Peritonitis adalah inflamasi peritoneum, lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi viseral yang merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronik /kumpulan tanda dan gejala, diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi, defans muscular dan tanda tanda umum inflamasi.( Santosa, Budi. 2005) Peritonitis adalah inflarnasi peritonium lapisan membran serosa rongga abdomen dan meliputi visera. Biasanya, akibat dari infeksi bakteri; Organisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal atau, pada wanita, dari organ reproduktif internal. Peritonisi dapat juga akibat dari sumber eksternal seperti cedera atau trauma (misalnya, luka tembak atau luka tusuk) atau oleh inflamasi yang luas yang berasal dari organ di luar area peritoneum, seperti ginjal. Bakteri paling umum yang terlibat adalah E.Coli, Klebsiella, Proteus dan pseudomona. Inflamasi dan ileus paralitik adalah efek - langsung dari infeksi. Penyebab umum lain dari peritonitis adalah apendisitis, ulkus perforasi, divertikulitis, dan perforasi usus. Peritonitis juga dapat dihubungkan dengan proses badah abdominal dan dialisis peritoneal. (Brunner & Suddarth. 2001). Peritonitis adalah peritonium yang disebabkan oleh iritasi kimia atau invasi bakteri. (Poppy Kumala et.al : 1998) Peritonitis adalah inflasmasi rongga peritoneal dapat berupa primer dan sekunder, akut atau kronis dan di akibatkan oleh kontaminasi kapasitas peritoneal oleh bakteri atau kimia. (Doenges Maryllinn E. : 1999, 513).

2. Penyebab Peritonitis Mikroorganisme berasal dari penyakit saluran gastro instestiral misalnya : a) Apendistis yang meradang dan perforasi. Ini terjadi inflamasi atau meradang yang dapat menyebar di daerah apendisitis sehingga terjadilah peradangan dan kuman bakteri masuk dan akan mengakibatkan inflamasi atau peritonitis. 1. Tukak peptic ( Lambung/ Duodenum ) 2. Tukak Tumor Tukak tumor ini adalah luka atau borok pada tumor jika mengalami perforasi maka akan mengakibatkan infeksi atau peradangan pada daerah peritoneum.
12

3. Tukak Thypoid 4. Salpingitis Ini adalah peradangan pada tuba uterine ( Saluran rahim ) sehingga terjadi inflamasi atau peradangan pada daerah saluran rahim ini dan kuman bakteri pun masuk terjadi infeksi atau inflamasi yang dapat mengakibatkan peritonitis. 5. Diverkulasi Ini adalah peradangan pada vertikulum. Diverkulasi kantong yang terbatas tegas yang terjadi secara normal adalah terbentuk karena horniasi lapisan membrane mukosa melalui celah yang terdapat selubung otot organ yang berbentuk seperti tabung. Ini juga dapat terinfeksi karena adanya kuman dan bakteri sehingga bisa terjadi peradangan akibatnya peritonitis. 6. Kuman Ecoli Sebenarnya kuman ini normal di usus tidak berbahaya tapi karena daya tahan tubuh turun maka kuman ini dapat menginfeksi saluran pencernaan (Usus). Sehingga mengakibatkan peradangan. 7. Kuman Streptococous, Stapilococus, aurens, enterokokus Kuman-Kuman ini berada dalam jumlah yang sangat banyak bila berada dalam saluran pencernaan bisa menginfasi berkembangbiak dan dapat mengakibatkan peradangan. b) Peritonitis dapat terjadi setelah suatu pembedahan, cedera pada kandung empedu, ureter, kandung kemih atau usus selama pembedahan dapat memindahkan bakteri ke dalam perut. Kebocoran juga dapat terjadi selama pembedahan untuk menyambungkan bagian usus. Dialisa peritoneal (Pengobatan gagal ginjal) sering mengakibatkan peritonitis. Penyebab biasanya adalah infeksi pada pipa saluran yang ditempatkan di dalam perut. Iritasi tanpa infeksi, misalnya peradangan pankreas (Pankreatitis akut) atau bubuk bedak pada sanmg tangan dokter bedah juga dapat menyebabkan peritonitis tanpa infeksi. Bila ditinjau dari penyebabnya, infeksi peritonitis terbagi atas penyebab primer (peritonitis spontan), sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ viseral), atau penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat).Secara umum, infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi peritonitis infektif (umum) dan abses abdomen (lokal). Infeksi peritonitis relatif
13

sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasarinya. Penyebab utama peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis(SBP) akibat penyakit hati yang kronik. SBP terjadi bukan karena infeksi intraabdomen, namun biasanya terjadi pada pasien dengan asites akibat penyakit hati kronik. Akibat asites akan terjadi kontaminasi hingga ke rongga peritoneal sehingga menjadi translokasi bakteri menuju dinding perut atau pembuluh limfe mesenterium, kadang-kadang terjadi pula penyebaran hematogen jika terjadi bakterimia. Sekitar 10-30% pasien dengan sirosis dan asiten akan mengalami komplikasi seperti :ni. Semakin rendah kadar protein cairan asites, semakin tinggi resiko terjadinya peritonitis dan abses. Hal tersebut terjadi karena ikatan opsonisasi yang rendah antarmolekul komponen asiten. Sembilan puluh persen kasus SBP terjadi akibat infeksi monomicroba. Patogen yang paling sering menyebabkan infeksi ialah bakteri gram negatif, yakni 40% Eschericia coli, 7% Klebsiella pneumoniae, spesies Pseudomonas, Proteus, dan gram negatif lainnya sebesar 20%. Sementara bakteri gram positif, yakni Streptococcus pneumoniae 15%, jenis Strepcoccus lain 15%, dan golongan Staphylococcus sebesar 3%. Pada kurang dari 5% kasus juga ditemukan mikroorganisme anaerob dan dari semua kasus, .10% mengandung infeksi campur beberapa mikroorganisme. Penyebab lain yang menyebabkan peritonitis sekunder ialah perforasi apendisitis, pelforasi ulkus peptikum dan duodenum, perforasi kolon akibat divertikulitis, volvulus, atau kanker, dan strangulasi kolon asendens.

3. Gejala dan Tanda Gejala tergantung pada lokasi dan luas inflamasi. Manifestasi klinis awal dari peritonitis adalah gejala dari gangguan yang menyebabkan kondisi ini. Pada awalnya nyeri menyebar dan dan sangat terasa. Nyeri cenderung menjadi konstan, terlokalisasi, lebih terasa di dekat sisi inflamasi dan biasanya di perberat oleh gerakan, Area yang sakit dari abdomen menjadi sangat nyeri apabila ditekan, dan otot menjadi kaku, nyeri tekan lepas dan ileus paralitik dapat terjadi. Biasanya terjadi mual dan muntah serta penununan peristaltik, suhu dan frekuensi nadi meningkat dan hampir selalu terdapat peningkatan jumlah leukosit. a. Syok

14

Ketika terjadinya perforasi maka terjadilah perdarahan yang mengakibatkan kehilangan banyak cairan.

b. Demam Demam ini karena terjadinya inflamasi atau kumman yang masuk sehingga terjadinya proses peradangan dimana prostaglandin mengacu fungsi hipotalamus sehingga hipotalamus rnengeluarkan rangsangan demam. c. Distensi abdomen Ketegangan rongga abdomen sehingga mengakibatkan tekanan dan

mengakibatkan nyeri. Nyeri tekan abdomen dan regiditas yang lokal, difus, atrofi umum yang tergantung pada perluasan iritasi peritonitis. d. Nausea Adalah sensasi yang tidak menyenangkan pada epigastrium yang dapat menyebabkan muntah. e. Vomiting Semburan isi lambung yang keluar dengan paksa melalui mulut. f. Penurunan peristaltik usus Ini karena terjadinya radang sehingga usus tidak berperistaltik dengan baik. Gejala peritonitis sangat bervariasi tergantung dari bagian dan luasnya peritoneum yang terkena, sifat kuman penyebab, dan akutnya permulaan penyakit. Diagnosa dapat dibantu dengan memperhatikan gejala yang secara kassar di kelompokkan ke dalam dua kelas, refleks dan toksik : Refleks : Nyeri , vomitus Ekspresi muka penuh ketakutan Hiperaesthesia superficial Kolaps. Perubahan temperatur Toksik : Distensi, Paresa usus, Toksemia umum

Pentingnya mengenal kedua kelompok gejala ini terletak pada kenyataan bahwa Permulaan gejala refleks terjadi lebih dini kalau bagian demonstratif peritoneum terkena, tetapi dapat terjadi sangat lambat kalau bagian non-demonstratif yang terkena. Pembagian peritoneum menjadi dua kelompok ini didasarkan pada suplai saraf cerebrospinal yang secara relatif tidak terdapat atau sedikit. Abdomen bagian

15

anterior lateral dilapisi oleh peritoneum yang memperoleh persarafan cerebrospinal, dan akibatnya iritasi pada bagian ini menyebabkan gejala refleks yang minimal. Permulaan gejala toksik hampir selalu terlambat. Sesungguhnya terdapat suatu hubungan yang terbalik antara kedua kelompok tersebut, karena toksemia yang berat mengurangi sensibilitas lengkung refleks. Akibat selanjutnya, kalau suatu bagian peritoneum yang non-demonstratif (yaitu pelvis) secara primer telah terkena, gejala refleks seluruhnya minimal, karena toksemia yang terjadi kemudian akan menguraiigi refleks bagian demonstratif setelah bagian ini seluruhnya terlibat. Tanpa mengerti kenyataan ini, peritonitis sentral atau pelvis mudah terlewatkan sampai infeksinya berkembang lebih lanjut tnenjadi suatu keadaan yang serius. Terlihat bahwa kedua gejala - kolaps dan perubahan temperatur tercakup di dalam kedua kelompok. Kolaps yang kita maksudkan sebagai penurunan yang cepat dan nyata dari sirkulasi serta metabolisme, dapat terlihat dini atau kemudian dalam perjalanan peritonitis. Dalam stadium dini, kolaps merupakan gejala refleks, sedangkan dalam stadium perjalanan penyakit yang lebih lanjut, merupakan akibat toksin yang terabsorpsi. Kolaps refleks yang dini biasanya cepat membaik, sekalipun kolaps toksik kadang-kadang mengikuti kolaps refleks. Kolaps yang dini tidak terdapat pada kasus dengan pemulaan yang insidious clan jarang terjadi kalau bagian yang pertama-tama terkena ialah daerah peritoneum yang tidak menimbulkan gejala (silent area). Perubahan temperatur umumnya terdapat pada peritonitis, namun tidak cukup konstan atu teratur sehingga dapat membantu menegakkan diagnosa. Kolaps yang dini disertai temperatur subnormal, sementara stadium penyakit yang bertambah parah biasanya ditunjukkan dengan adanya panas yang tidak teratur. Pada stadium peritonitis yang lebih lanjut, temperatur dapat normal, subnormal atau sedikit meninggi. GEJALA REFLEKS Gejala dini dan refleks pada peritonitis, tanpa adanya kolaps permulaan, dapat sangat meragukan. Gejala ini lebih pasti pada orang muda yang refleksnya secara normal lebih sensitif Sebaiknya, gejala refleks ini tidak mempunyai arti pada penderita yang tua dan kecil. GEJALA TOKSIK

16

Gejala toksik pada peritonitis timbul belakangan clan menunjukkan stadium penyakit yang lebih serius. Denyut nadi yang kadangkala terputus-putus sering merupakan salah satu indikasi peritonitis yang bertambah lanjut. Setelah peradangan meliputi berbagai belitan usus, maka usus akan mengalami distensi clan paralisa, sedangkan isinya akan terhalang dan mengakibatkan peningkatan obstruksi. Dengan terjadinya paralisa usus, peristaltik akan berhenti dan pada auskultasi abdomen tidak terdengar bising usus. Substansi toksik akan diserap dari isi usus yang terhalang tadi, cairan akan berkumpul di dalam abdomen dari sirkulasi darah, dan timbul kolaps sekunder. Pada stadium ini, gejala umumnya berupa muntah obstruktif yang sebenarnya. Dan denyut nadi yang kecil dan cepat biasanya digambarkan sebagai indikasi peritonitis. Nadi seperti ini teraba pada stadium peritonitis yang paling lanjut dan bukan pada stadium yang lebih dini ketika penegakan diagnosa sangat penting.

4. Klasifikasi Berdasarkan patogenesis peritonitis dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1) Peritonitis Bakterial Primer (1) Merupakan peritonitis akibat kontaminasi bakterial secara hematogen pada cavum peritoneum dan tidak ditemukan fokus infeksi dalam abdomen. Penyebabnya bersifat monomikrobial, biasanya E. Coli, Sreptococus atau Pneumococus. Peritonitis bakterial primer dibagi menjadi dua, yaitu: Spesifik misalnya Tuberculosis. (2) Non spesifik: misalnya pneumonia non tuberculosis dan Tonsilitis. Faktor resiko yang berperan pada peritonitis ini adalah adanya malnutrisi, keganasan intra abdomen, imunosupresi dan splenektomi. Kelompok resiko tinggi adalah pasien dengan sindrom nefrotik, gagal ginjal kronik, lupus eritematosus sistemik, dan sirosis hepatis dengan asites. 2) Peritonitis Bakterial Akut Sekunder (Supurativa). Peritonitis yang mengikuti suatu infeksi akut atau perforasi traktusi gastrointestinal atau traktus urinarius. Pada umumnya organisme tunggal tidak

17

akan menyebabkan peritonitis yang fatal. Sinergisme dari multipel organisme dapat memperberat terjadinya infeksi ini. 3) Peritonitis tersier Biasanya terjadi pada pasien dengan Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD), dan pada pasien imunokompromise. Organisme penyebab biasanya organisme yang hidup di kulit, yaitu coagulase negative Staphylococcus, S.Aureus, gram negatif bacili, dan candida, mycobacteridan fungus. Gambarannya adalah dengan ditemukannya cairan keruh pada dialisis. Biasanya terjadi abses, phlegmon, dengan atau tanpa fistula.Pengobatan diberikan dengan antibiotika IV atau ke dalam peritoneum,yang pemberiannya ditentukan berdasarkan tipe kuman yang didapat pada tes laboratorium. Komplikasi yang dapat terjadi diantaranya adalah peritonitis berulang,abses intraabdominal. Bila terjadi peritonitis tersier ini sebaiknya kateter dialisis dilepaskan. 5. Patofisiologi Penyakit Peritoneum viseral secara relatif tidak sensitif. Insiden peritonitis sulit di tentukan. Data biasanya berhubungan dengan penyebab dasar. Peritonitis menimbulkan beberapa efek sistemik. Perubahan sirkulasi, perpindahan cairan, dan masalah pernapasan dapat menyebabkan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit kritis. Sistem sirkulasi mengalami stress besar dari beberapa sumber. Respon inflamasi mengirimkan darah ekstra ke area usus yang terinflamasi. Cairan dan udara di tahan dalam lumen ini, meningkatkan tekanan dan meningkatkan sekresi cairan ke dalam usus. Jadi volume sirkulasi darah berkurang. Proses inflamasi meningkatkan kebutuhan oksigen pada waktu kemampuan klien untuk ventilasi telah berkurang. Klien mengalami kesulitan ventilasi karena nyeri abdomen dan peningkatan tekanan abdomen, yang meninggikan diafragma. Peritonitis di sebabkan oleh kebocoran isi dari organ abdomen kedalam rongga abdomen biasanya sebagai akibat dari inflamasi. Infeksi, iskemia, trauma, atau perforasi tumor. Terjadi proliferasi bacterial. Terjadi edema jaringan, dan dalam waktu singkat terjadi eksudasi cairan. Cairan dalam rongga peritoneal menjadi keruh dengan peningkatan jumlah protein, sel darah putih, debris

18

seluler, dan darah. Respon segera dari saluran usus adalah hipermotilitas, diikuti oleh ileus paralitik, disertai akumulasi udara dan cairan dalam usus. 1) Peradangan : peritonitis ini akibat dari inflasi kuman akibat daerah

peritoneum sehingga mengakibatkan terjadinya proses peradangan oleh penyebaran kuman-kuman atau bakteri yang ada di daerah peritoneum sehingga terjadilah. peradangan dan peritonitis ini di akibatkan. 2) Taruma karena cidera bisa di sebabkan oleh benda tajam atau tumpul dan bila trauma tersebut memberikan benturan yang cukup besar di daerah peritoneum maka bisa saja organ-organ di dalamnya misalnya ginjal, hepar, lambung, bisa pecah apalagi selaput peritoneum yang lebih tipis dari organ-organ yang lain itu karena abses kuman terjadilah inflamasi. 3) Tumor: tumor ini berisi nanah, atau pes dan kuman bakteripun masuk sehingga terjadi peradangan atau inflamsi sehingga terjadilah peritonitis. Dari ketiga penyebab ini (peradangan, trauma dan tumor) mengakibatkan keluarnya isi rongga abdomen terjadilah edema jaringan (pembengkakan jaringan) dan eksudat ini adalah hasil dari pagosit makanannya kuman yang berada didalamnya yaitu protein, leukosit, sel yang rusak, ini dapat mengakibatkan cairan menjadi keruh karena sudah meradang selnya pun sudah rusak dan fungsi tidak dapat berjalan dengan baik sehingga saluran cerna terganggu mengakibatkan mual muntah, ileus paralistik (obstruksi usus) terjadilah penimbunan udara mengakibatkan kembung. Kembung terjadilah distensi abdomen (ketengganga7 abdomen) akibat dari kembung tadi. Tekanan karena distensi abdomen naik yang mengakibatkan rasa nyeri dan rasa nyeri itu berforasi (pecah) menyebar didaerah teritonium sehingga isi usus yang mengandung kuman keluar. Perlu kita ketahui etiologinya karena apendisitis jadi kuman yang ada di usus tadi keluar karena adanya penyebaran kuman dan akan mengenai daerah peritoneum. Didalam peritoneum ini kirman, bakteri, yang keluar bereaksi, terjadilah inflamasi sel peritoneum pun rusak akibat inflamasi tadi terjadilah abses (nanah) menyeluruh diperitonium. Abses ini adalah nanah yang berisi kuman, bakteri dan sel yang rusak. Di daerah peritoneum menyebar akibatnya panas tinggi karena reaksi tubuh melawan

19

kuman sehingga mengakibatkan demam. Karena demam terjadilah dis.ensi abdarnen (ketegangan pada otot perut) sehingga mengakibatkan nyeri. Reaksi awal peritoneum terhadap irvasi oleh bakteri adalalt keluarnya eksudat fibrinosa, yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga infeksi. Bila bahan-bahan infeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar, dapat timbul peritonitis umum, aktivitas peristaltic berkurang sampai timbul ileus paralitik; usus kemudian menjadi atoni dan meregang. Cairan dan elektrolit hilang ke dalam lumen usus, mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi, dan oliguri. Peritonitis menyebabkan penurunan aktivitas fibrinolitik intraabdomen (meningkatkan aktivitas inhibitor activator plasminogen) dan sekuestrasi fibrin dengan adanya pembentukan jejaring pengikat. Produksi eksudat fibrin merupakan mekanisme terpenting dari sistem pertahanan tubuh, dengan cara ini akan terikat bakteri dalam jumlah yang sangat banyak di antara matriks fibrin. Pembentukan abses pada peritonitis pada prinsipnya merupakan mekanisme tubuh yang melibatkan subtasi pembentuk abses dan kuman-kuman itu sendiri untuk menciptakan kondisi abdomen yang steril. Pada keadaan jumlah kuman yang sangat banyak, tubuh sudah tidak mampu mengeliminasi kuman dan berusaha mengendalikan penyebaran kuman dengan membentuk kompartemenkompartemen yang kita kenal sebagai abses. Masuknya bakteri dalam jumlah besar ini bisa berasal dari berbagai sumber. Yang paling sering ialah kontaminasi bakteri transient akibat penyakit viseral atau intervensi bedah yang merusak keadaan abdomen. Selain jumlah bakteri transient yang terlalu banyak di dalam rongga abdomen, peritonitis terjadi juga memang karena virulensi kuman yang tinggi hingga mengganggu proses fagositosis dan pembunuhan bakteri dengan neutrofil. Keadaan makin buruk jika infeksinya dibarengi dengan pertumbuhan bakteri lain atau jamur, misalnya pada peritonitis akibat koinfeksi Bacteroides fragilis dan bakteri gram negatif, terutama E. coli. Isolasi peritoneum pada pasien peritonitis menunjukkan jumlah Candida albicans yang relatif tinggi, sehingga dengan mengunakan skor APACHE II (acute physiology and cronic health
20

evaluation) diperoleh mortalitas tinggi, 52%, akibat kandidosis tersebut. Saat ini peritonitis juga teliti lebih lanjut karena melibatkan mediasi respon imun tubuh hingga mengaktiflcan systemic inflammatory response syndrome (SIRS) dan multiple organ failure (MOF).

21

PATOFISIOLOGI PENYIMPANGAN PADA PERITONITIS


Trauma tembus abdomen Perforasi tumor dll. - Appendicitis - Salpingitis - kolesistitis - Pankreatitis dll. Terjadi reaksi immune yang mengeluarkan zat pirogen endogen: Peradangan pada Peritoneum Mikroorganisme dari luar: - Stapilococcus - Streptococcus

Penyebaran infeksi dari organ abdomen:

Peristaltic menurun

Merangsang pusat termoregulator dihipotalamus anterior

Atonia usus dan meregang

destruksi jaringan yang terinfeksi melepaskan mediator kimiawi ( histamine, bradikinin, prostaglandin) dan enzim proteolitik

Terbentuk perlekatan lengkung usus yg meregang

Me thermostat set point

Cairan & electrolit masuk kedalam lumen usus Kekurangan volume cairan Tek. Intralumen

Obstruksi usus

Merangsang ujung saraf aferen simpatisotak

Hipertermi

Iskemia dinding usus Kehilangan cairan menuju ruang peritoneum Pelepasan bakteri&toxin dari usus yg necrotic kedlm peritoneum &sirkulasi sistemik Resti Septicemia

Akumulasi gas&cairan dlm lumen proximal dari letak obstruksi

Nyeri

Distensi

Perubahan status kesehatan

Mengurangi pengembangan paru/ diafragma saat inspirasi Kurang pengetahuan tentang kondisi/ pengobatan

Informasi kurang /tidak akurat

Aspek psikologis

Napas tidak efektif

Cemas

22

6. Pencegahan
Cara terbaik untuk mencegah komplikasi serius dari peritonitis adalah untuk mendapatkan bantuan medis segera setelah gejala muncul. Jika Anda menerima dialisis peritoneal, Anda dapat membantu menghindari peritonitis dengan membersihkan area di sekitar kateter dengan antiseptik dan mencuci tangan sebelum menyentuh kateter.

7. Pemeriksaan Diagnostik a) Tes Laboratorium 1) Leukosit Leukosit normal 5000-10.000, jika leukosit ini melebihi dari hasil normal otomatis terjadi infeksi. 2) Hematokrit Kadar volume sel darah rendah otomatis, bias kehilangan darah. Normalnya Hemotokrit adalah 41%-47%. 3) Asidosis Metabolic. b) X-Ray Foto polos 3 posisi (anterior, posterior, lateral) didapatkan : 1) III merupakan penemuan yang tak khas pada peritonitis. 2) Usus halus dan usus besar dilatasi. 3) Udara bebas rongga abdomen pada usus peroprasi.

7. Penatalaksanaan a) Penatalaksanaan Medikal Bila peritonitis meluas dan pembedahan di kontraindikasikan karena syok dan kegagalan sirkulasi, cairan oral di hindari dan cairan intravena perlu untuk penggantian elektrolit dan kehilangan protein. Biasanya, selang usus panjang dimasukkan melalui hidung keda(am usus untuk mengurangi tekanan dalarn usus. Bila infeksi telah reda dan kondisi klien membaik, drainase bedah dan perbaikan dapat diupayakan. Pengobaan utama lain dari peritonitis adalah terapi antibiotic intravena dengan agen spectrum luar yang paten. Penggantian cairan, koloid dan elektrolit adalah focus utama dari
23

penatalaksanaan medis. Beberapa liter larutan isotonic diberikan. Hipovolemi terjadi karena sejumlah besar cairan dan elektrolit bergerak dari lumen usus ke dalam rongga peritoneal dan menurunkan caran kedalam ruang vaskuler. Analgesik diberikan untuk mengatasi nyeri. Antiemetik dapat diberikan sebagai terapi untuk mual dan muntah. Intubasi usus dan pengisapan membantu dalam menghilangkan distensi abdomen dan meningkatkan fungsi usus. Cairan dalam rongga abdomen dapat menyebabkan tekanan yang membatasi ekspansi paru dan menyebabkan distress pernapasan. Terapi oksigen dengan kanula nasal atau masker akan meningkatkan oksigenasi secara adekuat, tetapi kadang-kadang intubasi jalan napas dan bantuan ventilasi diperlukan. Tindakan bedah mencangkup mengangkat materi terinfeksi dan

memperbaiki penyebab. Tindakan pembedahan diarahkan kepada eksisi terutama bila terdapat apendisitis, reseksi dengan atau tanpa anastomosis (usus), memperbaiki pada ulkus peptikum yang mengalami perforasi atau divertikulitis dan drainase pada abses. Pada peradangan pancreas

(pankreatitis akut) atau penyakit radang panggul pada wanita, pembedahan darurat biasanya tidak dilalukan. Diberikan antibiotic yang tepat, bila perlu beberapa macam antibiotic diberikan bersamaan. Akhir-akhir ini drainase dengan panduan CT-scan dan USG merupakan pilihan tindakan monoperatif yang mulai gencar dilakukan karena tidak terlalu invasive, namun terapi ini lebih bersifat komplementer, bukan kompetitif disbanding laparoskopi, karena seringkali letak luka atau abses tidak terlalu jelas sehingga hasilnya tidak optimal. Sebaliknya, pembedahan memungkinkan lokalisasi peradangan yang jelas, kemudian dilakukan eliminasi kuman dan inokulum peradangan tersebut, hingga rongga perut benar-benar bersih dari kuman. b) Penatalaksanaan Bedah. Pembedahan mungkin dilakukan untuk mencegah peritonitis, seperti pada apendektomi untuk apendiks yang terinflamasi atau reseksi kolon untuk inflamasi divertikulum. Bila perforasi tidak dicegah, intervensi pembedahan mayor adalah insisi dan drainase terhadap abses.

24

8. Komplikasi a) Inflamasi tidak local Ini terjadinya peradangan tidak pada satu tempat saja. b) Sepsis adalah penyebab umum dari kematian pada peritonitis. Maksudnya adanya mikroorganisme pathogen atau toksin didalam jaringan sehingga menyebar kepembuluh darah dan aliran darah menujuh keseluruh tubuh akibat dari sepsis tersebut. c) Syok dapat diakibatkan dari septikomia atau hipovolemia d) Obstruksi usus (sumbatan pada usus) yang berhubungan dengan terjadinya pelekatan usus. e) Pasca operatif yaitu luka dan pembentukan abses. Maksudnya setelah dilakukan operasi luka dan terbentuklah abses (nanah). Dua komplikasi pasca operasi paling umum adalah eviserasi luka dan pembentukan abses. Komplikasi pembedahan dengan laparotomi eksplorasi memang tidak sedikit. Secara bedah dapat terjadi trauma diperitoneum, fistula enterokutan, kematian dimeja operasi, atau peritonitis membedahan dua jenis peritonitis, Anamnesis yang lengkap, penilaian cairan peritoneal, dan pemerikasaan diagbostik tambahan diperlukan untuk mengakkan diagnosis dan tata laksana yang tepat untuk pasien seperti ini.

25

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN 1. Pengkajian A. Identitas 1. Nama pasien : 2. Umur :

3. Jenis kelamin : perempuan/laki-laki 4. Suku /Bangsa : 5. Pendidikan 6. Pekerjaan 7. Alamat : : :

B. Keluhan utama: Keluhan utama yang sering muncul adalah nyeri kesakitan di bagian perut sebelah kanan dan menjalar ke pinggang. C. Riwayat Penyakit Sekarang Peritinotis dapat terjadi pada seseorang dengan peradangan iskemia, peritoneal diawali terkontaminasi material, sindrom nefrotik, gagal ginjal kronik, lupus eritematosus, dan sirosis hepatis dengan asites. D. Riwayat Penyakit Dahulu Seseorang dengan peritonotis pernah ruptur saluran cerna, komplikasi post operasi, operasi yang tidak steril dan akibat pembedahan, trauma pada kecelakaan seperti ruptur limpa dan ruptur hati. E. Riwayat Penyakit Keluarga Secara patologi peritonitis tidak diturunkan, namun jika peritonitis ini disebabkan oleh bakterial primer, seperti: Tubercolosis. Maka kemungkinan diturunkan ada. F. Pemeriksaan Fisik a) Sistem pernafasan (B1) Pola nafas irregular (RR> 20x/menit), dispnea, retraksi otot bantu pernafasan serta menggunakan otot bantu pernafasan. b) Sistem kardiovaskuler (B2)

26

Klien mengalami takikardi karena mediator inflamasi dan hipovelemia vaskular karena anoreksia dan vomit. Didapatkan irama jantung irregular akibat pasien syok (neurogenik, hipovolemik atau septik), akral : dingin, basah, dan pucat. c) Sistem Persarafan (B3) Klien dengan peritonitis tidak mengalami gangguan pada otak namun hanya mengalami penurunan kesadaran. d) Sistem Perkemihan (B4) Terjadi penurunan produksi urin. e) Sistem Pencernaan (B5) Klien akan mengalami anoreksia dan nausea. Vomit dapat muncul akibat proses ptologis organ visceral (seperti obstruksi) atau secara sekunder akibat iritasi peritoneal. Selain itu terjadi distensi abdomen, bising usus menurun, dan gerakan peristaltic usus turun (<12x/menit). f) Sistem Muskuloskeletal dan Integumen (B6) Penderita peritonitis mengalami letih, sulit berjalan, nyeri perut dengan aktivitas. Kemampuan pergerakan sendi terbatas, kekuatan otot mengalami kelelahan, dan turgor kulit menurun akibat kekurangan volume cairan. g) Pengkajian Psikososial Interaksi sosial menurun terkait dengan keikutsertaan pada aktivitas sosial yang sering dilakukan. h) Personal Hygiene Kelemahan selama aktivitas perawatan diri. 1) 2) Pengkajian Spiritual Pemeriksaan penunjang

G. Pemeriksaan Laboratorium 1) Complete Blood Count (CBC), umumnya pasien dengan infeksi intra abdomen menunjukan adanya luokositosis (>11.000 sel/ L) dengan adanya pergerakan ke bentuk immatur pada differential cell count. Namun pada pasien

dengan immunocompromised dan pasien dengan beberapa tipe infeksi (seperti fungal dan CMV) keadaan leukositosis dapat tidak ditemukan atau malah leucopenia 2) PT, PTT dan INR 3) Test fungsi hati jika diindikasikan
27

4) Amilase dan lipase jika adanya dugaan pancreatitis 5) Urinalisis untuk mengetahui adanya penyakit pada saluran kemih (seperti pyelonephritis, renal stone disease) 6) Cairan peritoneal, cairan peritonitis akibat bakterial dapat ditunjukan dari pH dan glukosa yang rendah serta peningkatan protein dan nilai LDH

H. Pemeriksaan Radiologi 1) Foto polos 2) USG 3) CT Scan 4) Scintigraphy 5) MRI Pemeriksaan radiologis merupakan pemeriksaan penunjang untuk pertimbangan dalam memperkirakan pasien dengan abdomen akut. Pada peritonitis dilakukan foto polos abdomen 3 posisi, yaitu: 1) Tiduran telentang (supine), sinar dari arah vertikal dengan proyeksi

anteroposterior (AP). 2) Duduk atau setengah duduk atau berdiri kalau memungkinkan, dengan sinar horizontal proyeksi AP. 3) Tiduran miring ke kiri (left lateral decubitus = LLD), dengan sinar horizontal, proyeksi AP. Sebaiknya pemotretan dibuat dengan memakai kaset film yang dapat mencakup seluruh abdomen beserta dindingnya. Perlu disiapkan ukuran kaset dan film ukuran 35 x 43 cm. Sebelum terjadi peritonitis, jika penyebabnya adanya gangguan pasase usus (ileus) obstruktif maka pada foto polos abdomen 3 posisi didapatkan gambaran radiologis antara lain: 1) Posisi tidur, untuk melihat distribusi usus, preperitonial fat, ada tidaknya penjalaran. Gambaran yang diperoleh yaitu pelebaran usus di proksimal daerah obstruksi, penebalan dnding usus, gambaran seperti duri ikan (Herring bone appearance). 2) Posisi LLD, untuk melihat air fluid level dan kemungkinan perforasi usus. Dari air fluid level dapat diduga gangguan pasase usus. Bila air fluid level pendek berarti ada ileus letak tinggi, sedang jika panjang-panjang kemungkinan gangguan di
28

kolon. Gambaran yang diperoleh adalah adanya udara bebas infra diafragma dan air fluid level. 3) Posisi setengah duduk atau berdiri. Gambaran radiologis diperoleh adanya air fluid level dan step ladder appearance. Jadi gambaran radiologis pada ileus obstruktif yaitu adanya distensi usus partial, air fluid level, dan herring bone appearance. Sedangkan pada ileus paralitik didapatkan gambaran radiologis yaitu: 1) Distensi usus general, dimana pelebaran usus menyeluruh sehingga kadangkadang susah membedakan anatara intestinum tenue yang melebar atau intestinum crassum. 2) Air fluid level. 3) Herring bone appearance. Bedanya dengan ileus obstruktif: pelebaran usus menyeluruh sehingga air fluid level ada yang pendek-pendek (usus halus) dan panjang-panjang (kolon) karena diameter lumen kolon lebih lebar daripada usus halus. Ileus obstruktif bila berlangsung lama dapat menjadi ileus paralitik. Pada kasus peritonitis karena perdarahan, gambarannya tidak jelas pada foto polos abdomen. Gambaran akan lebih jelas pada pemeriksaan USG (ultrasonografi). Gambaran radiologis peritonitis karena perforasi dapat dilihat pada pemeriksaan foto polos abdomen 3 posisi. Pada dugaan perforasi apakah karena ulkus peptikum, pecahnya usus buntu atau karena sebab lain, tanda utama radiologi adalah: 1) Posisi tiduran, didapatkan preperitonial fat menghilang, psoas line menghilang, dan kekaburan pada cavum abdomen. 2) Posisi duduk atau berdiri, didapatkan free air subdiafragma berbentuk bulan sabit (semilunair shadow). 3) Posisi LLD, didapatkan free air intra peritonial pada daerah perut yang paling tinggi. Letaknya antara hati dengan dinding abdomen atau antara pelvis dengan dinding abdomen. Jadi gambaran radiologis pada peritonitis yaitu adanya kekaburan pada cavum abdomen, preperitonial fat dan psoas line menghilang, dan adanya udara bebas subdiafragma atau intra peritonea I. X. Ray

Foto polos abdomen 3 posisi (anterior, posterior, lateral), didapatkan : 1) Illeus merupakan penemuan yang tak khas pada peritonitis.
29

2) Usus halus dan usus besar dilatasi. 3) Udara bebas dalam rongga abdomen terlihat pada kasus perforasi. 2. Diagnosa 1. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi, demam dan kerusakan jaringan. 2. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan. 3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia dan muntah. 4. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif. 5. Ketidakefektifan pola nafas b.d penurunan kedalaman pernafasan sekunder distensi abdomen dan menghindari nyeri. 6. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan. 3. Intervensi 1. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi, demam dan kerusakan jaringan. Tujuan: Nyeri klien berkurang Kriteria hasil : 1) Laporan nyeri hilang/terkontrol 2) Menunjukkan penggunaan ketrampilan relaksasi. 3) Metode lain untuk meningkatklan kenyamanan

30

Tindakan/Intervensi Mandiri: 1. Selidiki laporan nyeri, catat lokasi, lama, intensitas (skala 0-10) dan karakteristiknya (dangkal, tajam, konstan).

Rasional

1. Perubahan pada lokasi/intensitas tidak umum tetapi dapat menunjukkan

terjadinya komplikasi. Nyeri cenderung menjadi konstan, lebih hebat, dan

menyebar ke atas, nyeri dapat lokal bila 2. Pertahankan posisi semi Fowler sesuai indikasi terjadi abses. 2. Memudahkan drainase cairan/luka karena gravutasi dan membantu meminimalkan 3. Berikan tindakan kenyamanan, contoh pijatan punggung, napas dalam, latihan relaksasi atau visualisasi. nyeri karena gerakan. 3. Meningkatkan relaksasi dan mungkin meningkatkan kemampuan koping pasien denagn memfokuskan kembali perhatian. 4. Berikan perawatan mulut dengan sering. Hilangkan rangsangan lingkunagan yang tidak menyenangkan. Kolaborasi: Berikan obat sesuai indikasi: 1. Menurunkan laju metabolik dan iritasi 1. Analgesik, narkotik usus karena toksin sirkulasi/lokal, yang membantu menghilangkan nyeri dan 4. Menurunkan mual/muntah yang dapat meningkatkan intrabdomen. tekanan atau nyeri

meningkatkan penyembuhan. Catatan: Nyeri biasanya berat dan

memerlukan pengontrol nyeri narkotik, analgesik dihindari dari proses diagnosis 2. Antiemetik, contoh hidroksin (Vistaril) karena dapat menutupi gejala. 2. Menurunkan mual/munta, yang dapt

meningkatkan nyeri abdomen 3. Menurunkan 3. Antipiretik, contoh asetaminofen (Tylenol) sehubungan menggigil.
31

ketidaknyamanan dengan demam atau

2. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan. Tujuan: Mengurangi infeksi yang terjadi, meningkatkan kenyamanan pasien. Kriteria hasil: 1) Meningkatnya penyembuhan pada waktunya, bebas drainase purulen atau eritema, tidak demam. 2) Menyatakan pemahaman penyebab individu / faktor resiko. Intervensi Keperawatan: Tindakan Intervensi Mandiri: 1. Catat faktor risiko individu contoh trauma abdomen, apendisitis akut, dialisa peritoneal. 1. Mempengaruhi pilihan intervensi. Rasional

2. Tanda 2. Kaji tanda vital dengan sering, catat tidak membaiknya atau berlanjutnya hipotensi, penurunan tekanan nadi, takikardia, demam, takipnea. 3. Catat perubahan status mental (contoh bingung, pingsan).

adanya

syok

septik,

endotoksin sirkulasi menyebabkan vasodilatasi, dari kehilangan dan cairan

sirkulasi,

rendahnya

status curah jantung. 3. Hipoksemia, asidosis hipotensi, dan

dapat

menyebabkan

penyimpangan status mental. 4. Hangat, kemerahan, kulit kering 4. Catat warna kulit, suhu, kelembaban. adalah tanda dini septikemia.

Selanjutnya manifestasi termasuk dingin, kulit pucat lembab dan 5. Awasi haluaran urine. sianosis sebagai tanda syok. 5. Oliguria terjadi sebagai akibat penurunan perfusi ginjal, toksin dalam sirkulasi mempengaruhi

antibiotik.
32

6. Pertahankan perawatan

teknik drein

aseptik

ketat

pada luka

6. Mencegah meluas dan membatasi penyebaran organisme

abdomen,

insisi/terbuka, dan sisi invasif. Bersihkan dengan Betadine atau larutan lain yang tepat kemudia bilas dengan PZ. 7. Observasi drainase pada luka. 8. Pertahankan teknik steril bila pasien

infektif/kontaminasi silang. 7. Memberikan status infeksi. 8. Mencegah penyebaran, membatasi pertumbuhan bakteri pada traktus urinarius. 9. Menurunkan resiko terpajan informasi tentang

dipasang kateter, dan berikan perawatan kateter/ atau kebersihan perineal rutin. 9. Awasi/batasi pengunjung dan staf sesuai kebutuhan. Berikan perlindungan isolasi bila diindikasikan. Kolaborasi: 1. Ambil contoh/awasi hasil pemeriksaan seri darah, urine, kultur luka.

pada/menambah infeksi sekunder pada pasien yang mengalami

tekanan imun.

1. Mengidentifikasikan mikroorganisme dan membantu dalam mengkaji keefektifan

prigram antimikrobial. 2. Bantu dalam aspirasi peritoneal, bila 2. Dilakukan untuk membuang

diindikasikan.

cairan dan untuk mengidentifikasi organisme infeksi sehingga tetapi antibiotik diberikan. yang tepat dapat

3. Berikan

antibiotik,

contoh

gentacimin (amikin),

3. Terapi ditujukan pada bakteri anaerob dan basil aerob gram negatif.Lavase dapat digunakan untuk membuang jaringan

(Garamycyin),

amikasin

Klindamisin (Cleocin). Lavase pritoneal/IV.

nekrotik dan mengobati inflamasi yang 4. Siapkan untuk intervensi bedah bila terlokalisasi/menyebar

dengan buruk. 4. Pengobatan pilihan (kuratif) pada peritonitis akut atau lokal, contoh

diindikasikan

33

untuk

drainase

abses

lokal,

membuang membuang

eksudat

peritoneal,

rupturapendiks/kandung empedu, mengatasi perforasi ulkus, atau reseksi usus.

3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia dan muntah. Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan nafsu makan dapat timbul kembali dan status nutrisi terpenuhi.

Kriteria Hasil: 1. Status nutrisi terpenuhi 2. Nafsu makan klien timbul kembali 3. Berat badan normal 4. Jumlah Hb dan albumin normal Intervensi Keperawatan : Tindakan Intervensi Mandiri: 1. Awasi haluan selang NG, dan catat adanya muntah atau diare. 2. Timbang berat badan tiap hari. 1. Jumlah besar dari aspirasi gaster dan muntah atau diare diduga terjadi obstruksi usus, memerlukan evaluasi lanjut. 2. Kehilangan atau peningkatan dini menunjukkan perubahan hidrasi tetapi kehilangan lanjut diduga ada defisit nutrisi. 3. Auskultasi bising usus, catat bunyi tak ada atau hiperaktif 3. Meskipun bising usus sering tak ada, inflamasi atau iritasi usus dapat menyertai hiperaktivitas Rasional

usus, penurunan absorpsi air dan diare.


34

4. Catat kebutuhan kalori yang dibutuhkan. 5. Monitor Hb dan albumin 6. Kaji abdomen dengan sering untuk kembali ke bunyi yang lembut, penampilan bising

4. Adanya kalori (sumber energi) akan mempercepat proses penyembuhan. 5. Indikasi adekuatnya protein untuk sistem imun. 6. Menunjukan kembalinya fungsi usus ke normal

usus normal, dam kelancaran flatus.

Kolaborasi: 1. Kolaborasi pemasangan NGT jika klien tidak dapat makan dan minum peroral. 2. Kolaborasi dengan ahli gizi dalam diet. 3. Berikan informasi tentang zatzat makanan yang sangat 2. Tubuh yang sehat tidak mudah untuk terkena infeksi (peradangan). 3. Klien dapat berusaha untuk memenuhi kebutuhan makan dengan makanan yang bergizi. 1. Agar nutrisi klien tetap terpenuhi.

penting bagi keseimbangan metabolisme tubuh

4. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif. Tujuan: Mengidentifikasi intervensi untuk memperbaiki keseimbangan cairan dan meminimalisir proses peradangan untuk meningkatkan kenyamanan. Kriteria hasil: 1) Haluaran urine adekuat dengan berat jenis normal, 2) Tanda vital stabil 3) Membran mukosa lembab 4) Turgor kulit baik 5) Pengisian kapiler meningkat 6) Berat badan dalam rentang normal.
35

Intervensi keperawatan

Tindakan Intervensi Mandiri: 1. Pantau tanda vital, catat adanya hipotensi postural), (termasuk takikardia, perubahan takipnea,

Rasional

1. Membantu dalam evaluasi derajat defisit cairan/keefektifan penggantian terapi cairan dan respons terhadap pengobatan. 2. Menunjukkan keseluruhan. 3. Untuk mencukupi kebutuhan cairan dalam tubuh (homeostatis). 4. Menunjukkan status hidrasi dan status hidrasi

demam. Ukur CVP bila ada. 2. Pertahankan intake dan output yang adekuat lalu hubungkan dengan berat badan harian. 3. Rehidrasi/ resusitasi cairan 4. Ukur berat jenis urine 5. Observasi kulit/membran mukosa

perubahan pada fungsi ginjal. 5. Hipovolemia, perpindahan cairan, dan kekurangan nutrisi mempeburuk turgor kulit, menambah edema jarinagan. 6. Menurunkan rangsangan pada gaster dan respons muntah. 7. Jaringan edema dan adanya gangguan sirkulasi cenderung merusak kulit

untuk kekeringan, turgor, catat edema perifer/sacral. 6. Hilangkan tanda bahaya/bau dari lingkungan. Batasi pemasukan es batu. 7. Ubah posisi dengan sering berikan perawatan kulit dengan sering, dan pertahankan tempat tidur kering dan bebas lipatan. Kolaborasi: 1. Awasi pemerikasaan laboratorium, contoh Hb/Ht, elektrolit, protein, albumin, BUN, kreatinin. 2. Berikan elektrolit. plasma/darah, cairan,

1. Memberikan informasi tentang hidrasi dan fungsi organ. 2. Mengisi/mempertahankan volume

sirkulasi dan keseimbangan elektrolit. Koloid (plasma, air darah) ke membantu dalam area

menggerakkan intravaskular
36

dengan

meningkatkan

tekanan osmotik. 3. Menurunkan hiperaktivitas usus dan 3. Pertahankan puasa dengan aspirasi nasogastrik/intestinal kehilangan dari diare.

4. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penurunan kedalaman pernafasan sekunder distensi abdomen dan menghindari nyeri. Tujuan: Pola nafas efektif, ditandai bunyi nafas normal, tekanan O2 dan saturasi O2 normal. Kriteria Hasil: 1) Pernapasan tetap dalam batas normal 2) Pernapasan tidak sulit 3) Istirahat dan tidur dengan tenang 4) Tidak menggunakan otot bantu napas Intervensi Keperawatan: Tindakan Intervensi Mandiri: 1. Pantau hasil analisa gas darah dan indikator hipoksemia: takikardi, gelisah, 1. Indikator hipoksemia; hipotensi, takikardi, Rasional

hiperventilasi, gelisah, depresi SSP, dan sianosis penting untuk mengetahui adanya syok akibat inflamasi (peradangan). 2. Gangguan pada paru (suara nafas tambahan) lebih mudah dideteksi dengan auskultasi. 3. Posisi membantu memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan upaya pernafasan, ventilasi maksimal membuka area atelektasis dan

hipotensi, hiperventilasi,

depresi SSP, dan sianosis. 2. Auskultasi mengkaji mendeteksi pulmoner. 3. Pertahankan pasien pada paru ventilasi untuk dan

komplikasi

meningkatkan gerakan sekret kedalam jalan nafas besar untuk dikeluarkan. 4. Oksigen membantu untuk bernafas secara optimal.

posisi semifowler. 4. Berikan O2 sesuai program

37

5. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan. Tujuan: Mengurangi ansietas klien Kriteria hasil: 1) Mengakui dan mendiskusikan masalah 2) Penampilan wajah tampak rileks 3) Mampu menerima kondisinya Intervensi:

Tindakan/Intervensi

Rasional

1. Evaluasi klien/orang diagnosa.

tingkat

pemahaman tentang 1. Bila penyangkalan ekstem atau ansietas mempengaruhi kemajuan penyembuhan,

terdekat

2. Akui rasa takut/masalah klien dan dorong perasaan. 3. Berikan kesempatan untuk mengekspresikan

menghadapi itu klien perlu dijelaskan dan membuka cara penyelesaiannya. 2. Takut/ansietas menurun klien mulai menerima secara positif kenyataan dan memiliki kemauan untuk hidup lagi. 3. Dapat membantu memperbaiki beberapa

bertanya dan jawab dengan jujur. Yakinkan bahwa klien dan

perawat mempunyai pemahaman yang sama. 4. Terima penyangkalan klien tetapi jangan dikuatkan.

perasaan kontrol/kemandirian pada klien yang merasa tak berdaya dalam menerima diagnosa dan pengobatan 4. Klien sulit berfikir dengan baik bila berada dalam kondisi yang tidak nyaman

38

4. Implementasi Keperawatan Sesuai dengan intervensi keperawatan. 5. Evaluasi Evaluasi sesuai dengan tujuan 6.. Dokumentasi Keperawatan Pendokumentasian asuhan keperawatan yang dilakukan, penulis menggunakan catatan pasien yang disusun berdasarkan masalah kesehatan spesifik yang dihadapi klien. Bentuk catatan perkembangan diantaranya SOAPIE (Subjek, Objek, Analisa, Planning, Implementasi, Evaluasi).

39

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Peritonitis adalah inflamasi rongga peritoneum yang disebabkan oleh infiltrasi isi usus dari suatu kondisi seperti ruptur apendiks, perforasi/trauma lambung dan kebocoran anastomosis. (Tucker : 1998,32). Peritonitis adalah informasi peritanium - lapisan membrane serosa rongga abdomen yang bisa menjadi akibat infeksi bacterial dan reaksi kimiawi. Tanda dan gejala : syok, demam, distensi abdomen, nyeri tekan abdomen dan regiditis yang local, atrofi umum tergantung pada iritasi'peritonitis, nausea, vomiting, penurunan peristaltik usus. Pemeriksaan diagnostik dilakukan dengan pemeriksaan laboratorium yaitu test leukosit dan hematokrit serta X-Ray. B. Saran. Penulis harapkan makalah ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan bagi mahasiswa pada mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah I khususnya pada materi pembahasan Asuhan Keperawatan Penyakit Peritonitis. Dan dapat digunakan sebaikbaiknya untuk menambah ilmu dan sebagai dasar pengembangan materi ini dalam proses pembelajaran selanjutnya.

40

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2001. "Keperawatan Medikal Bedah. Edisi8. Vol 2. EGC. Jakarta. Darmawan. M., 1995, Peritonitis dalam Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, FKUI, Jakarta Ester, Monica .2002. "Keperawatan Medikal Bedah . Pendekatan Sistem Gastrointestinal". EGC. Jakarta. Inayah, Iin. 2004. "Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Sistem Pencernaan". EGC. Jakarta. Hinchliff, sue. 1999. "Kamus Keperawatan" EGC. Jakarta. M. Mauschenson, peter. 1990. " Ilmu Bedah Untuk Pemula ". Binarupa Aksara. Jakarta. J. Corwin, Elizabeth. 2001 "Patofisiologi" EGC. Jakarta. Peritonitis. Kumala, Poppy. 1998 " Kamus, Saku Kedokteran Dorland". EGC. Jakarta. Scalon, valerie C., Tina sanders. 2006. Buku Ajar Anatomi & fisiologi. Edisi 3. EGC.Jakarta. Syaifuddin. 2011. Anatomi Fisiologi untuk Keperawatan dan kebidanan. Edisi 4. EGC. Jakarta. Sylvia Anderson Price & Lorraine M. Wilson. 2005. " Patofisiologi : Konsep. Klinis Prosesproses Penyakit". EGC. Jakarta.

41

LAMPIRAN

careplannursing.blogspot.com

catalog.nucleusinc.com

42

SATUAN ACARA PEMBELAJARAN (SAP) Nama Mahasiswa Materi Waktu Hari/Tanggal Tempat : Oktovia Listyawati Putri : Peritonitis : 10-15 menit : :

A. Tujuan 1. Umum Setelah mengikuti pendidikan kesehatan yang disampaikan,klien dapat mengikuti dan memahami arti dari peritonitis. 2. Khusus a. Pasien dapat mengetahui tujuan dilakukan pengobatan pada peritonitis b. Pasien dapat mengetahui cara untuk mengobati peritonitis. c. Pasien dapat mengetahui tujuan dilakukan pengobatan. d. Pasien mampu untuk menjelaskan kembali tentang penyakit peritonitis. B. Materi 1. Pengertian 2. Etiologi/penyebab 3. Gejala dan tanda 4. Patofisiologi 5. Komplikasi 6. Pemeriksaan diagnosis 7. Prognosis C. Alat yang digunakan : 1. Power Point 2. Mikrofon 3. Leaflet.
43

Kegiatan Belajar Mengajar

No Tahap 1. Pembukaan

Waktu 5 menit

Kegiatan Mahasiswa Mengucap salam Perkenalan -

Kegiatan Peserta Menjawab salam

2.

Penyajian

10 menit

-Menyampikan materi -Mendengarkan dan tentang Peritonitis memperhatikan materi yang disampaikan

3.

Pengembangan

10 menit

-Memberi kesempatan pada peserta untuk bertanya -Menjawab pertanyaan dari peserta

-Merespon /bertanya -Mendengar, memperhatikan

4.

Penutup

5 menit

-Menutup dengan mengucapkan terimakasih -Memberi salam penutup

-Menjawab salam penutup

B. Evaluasi Setelah dilakukan penyuluhan selama kurang lebih 30 menit, keluarga mampu menyebutkan : a. Pengerian peritonitis b. Penyebab peritonitis c. Tanda dan gejala peritonitis d. Patofisiologi e. Komplikasi
44

f. Pemeriksaan diagnostic g. Prognosis Lampiran materi : I. Pengertian Peritonitis adalah inflamasi peritoneum-lapisan membran serosa rongga abdomen dan meliputi visera. Peritonitis adalah peritoneal yang infeksi akibat bacterial dan reaksi kimiawi.

II. Etiologi Mikroorganisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal misalnya : a. Appendiksitis yangmeradang dan perforasi b. Tukak peptic (lambung/duodenum) c. Tukak tipoid d. Tukak disentri amuba/colitis e. Tukak pada tumor f. Salpingitis g. Diverticulitis Kuman yang paling sering yaitu E. coli, sterptoccocus dan hemolitik, stapiloccocus aurens, enterccocus, dan yang paling berbahaya adalah colistidium lechci.

III. Gejala dan tanda a. Syok b. Demam c. Distensi abdomen d. Nyeri tekan abdomen dan nyeri regiditas yang lokal, difus, atrofi umum, tergantung pada perluasan iritasi peritonitis e. Nausea f. Vomiting g. Penurunan peristaltic usus

45

IV. Patofisiologi peritonitis disebabkan oleh kebocoran isi rongga abdomen biasanya sebagai akibat dari inflamasi, infeksi, iskemia, trauma atu perforasi tumor. Terjadi proliferasi bacterial, edema jaringan dan dalam waktu singkat terjadi eksudasi cairan. Cairan dalam rongga peritoneal menjadi keruh degan peningkatan jumlah protein, sel darah putih, debriseluler, dan darah. Respon segera dari saluran usus adalah hypermotilitas, diikutu oleh illius paralitik, disertai akumulasi udara dan cairan dalam usus.

V. Komplikasi a. Inflamasi tidak local b. Sepsis adalah penyebab umum dari kematian pada peritonitis c. Syok dapat di akibatkan dari septicemia/hypovolemia d. Obstruksi usus yang berhubungan dengan terjadinya perlekatan usus e. Pasca operatif yaitu eviserasi luka dan pembentukkan abses

VI. Pemeriksaan diagnostic a. Test laboratorium (a). Leukosit (b). Hematokrit (c). Asidosis metabolic b. X-ray Foto polos 3 posisi (anterior, posterior, lateral) (a). Illeus merupakan penemuan yang tak khas pada peritonitis (b). Usus halus dan usus besar dilatasi (c). Udara bebas rongga abdomen pada kasus perforasi

VII. Prognosis a. Mortalitas tetap tinggi antara 10%-40% b. Prognosa lebih buruk pada usia lanjut dan peritonitis sudah berlangsung lebih dari 48 jam. c. Lebih cepat di ambil tindakan lebih baik prognosanya
46

RENCANA PULANG

Berikan informasi verbal dan tertulis kepada pasien dan orang terdekat tentang hal berikut : a. obat-obatan, meliputi nama obat, tujuan, dosis, jadwal, tindakan pencegahan, interaksi obat atau obat dan makanan atau obat, dan potensial efek samping. b. jika pasien telah menjalani pembedahan, indicator infeksi luka : demam, nyeri, menggigil, insisi bengkak, eritema menetap. c. pentingnya perawatan tindak lanjut : pastikan tanggal dan waktu perjanjian medis berikutnya.

47