Anda di halaman 1dari 13

MODUL 2 ODONTOLOGI FORENSIK Oh Facebook Kemajuan tekhnologi informasi saat ini sangatlah pesat,hal ini merupakan hal yang

sangat menguntungkan dan positif tentunya bagi yang dapat memanfaatkan secara benar,namun dapat menjadi hal yang negative bila disalahgunakan. Akibat dari kemajuan tersebut antara lain seperti yang diberitakan akhir-akhir ini masalah facebook yang telah menelan korban-korban, diantaranya di tempat tugas Drg.Amatsial disebuah dusun di kaki bukit dimana telah ditemukan sesosok mayat wanita muda yang cantik. Sebagai dokter gigi lulusan PSPDG UNAND dengan keunggulan ilmu dental forensic,maka mempunyai kewajiban untuk menerapkan ilmunya,apalagi ia juga pimpinan puskesmas. Maka ia langsung ke TKP dan melakukan beberapa kegiatan untuk mengidentifikasi mayat tersebut. Setelah cukup data di TKP selanjutnya mayat dibawa ke puskesmas tempat drg.Amatsial bertugas,dimana selanjutnya drg.Amatsial melengkapi foto-foto serta mengambil rontgent foto gigi-giginya.
Setelah melakukan analisa dapat diketahui bahwa mayat tersebut adalah Roimah seorang gadis belia masih SMU yang dibunuh,hal ini akibat rayuan yang dilakukan oleh seseorang melalui media facebook.

Saat akan dibawa pulang,keluarganya marah-marah kepada drg.Amat karena melarang membawa mayat pulang sebelum selesai dilakukan Visum et Repertum,hal ini dapat diredakan setelah drg.Amatsial menjelaskan kegunaan Visum et Repertum yang dilakukan,serta hak pasien dan hal yang menjadi rahasia dokter.

Jelaskan kasus ini menurut pandangan saudara sesuai dengan ilmu yang ada.

Step 1: Mengklarifikasi Terminologi Visum et Repertum : laporan tertulis yang dibuat oleh dokter atas permintaan penyidik mengenai hasil pemeriksaan medik terhadap korban demi kepentingan hukum
1

Ilmu dental forensic : Cabang ilmu kedokteran gigi yang mempelajari tentang penanganan dan pemeriksaan benda bukti gigi kepentingan hokum prosedur penentuan individu yang dilakukan dari pemeriksaan gigi dan jaringan pendukung gigi. Rontgen: Pemeriksaan penunjang dalam menegakkan diagnosa dalam menggunakan sinar x.

Step 2: Analisis masalah 1. Apa saja dasar hukum odontologi forensik? 2. Apa saja peran odontologi forensik dalam kedokteran gigi? 3. Dalam kasus apakah dokter gigi dilibatkan dalam identifikasi forensik? 4. Apa saja tindakan yang perlu dilakukan dalam identifikasi mayat? 5. Bagaimana cara menganalisa data sehingga dapat diketahui identitas pada skenario? 6. Apa kegunaan Visum et Repertum? 7. Apa saja isi dari Visum et Repertum? 8. Apa saja klasifikasi dari Visum et Repertum? 9. Siapa yang berhak mengajukan visum?

Step 3: mengklarifikasi masalah 1. Apa saja dasar hukum odontologi forensik? Pasal 113 KUHP pemeriksaan V.E.R Pasal 202 KUHP pemeriksaan mayat Pasal 179 ayat 1 KUHP kewajiban menjadi saksi ahli Pasal 224 KUHP Pasal 1 butir 28 KUHP Pasal 53 ayat 2 UU No. 29 thn 92 Pasal 22 ayat 1 2. . Apa saja peran odontologi forensik dalam Menentukan jenis kelamin korban Menentukan umur
2

kedokteran gigi?

Memudahkan mengidentifikasi korban saat terjadi bencana karena gigi paling kuat dan resisten dalam seluruh bagian tubuh Tidak ada pola yang sama untuk setiap manusia ( 1 : 2 triliun)

Gigi hanya bisa hancur dalam suhu > 900 c 3. Dalam kasus apakah dokter gigi dilibatkan dalam identifikasi forensik? Analisis trauma orofasial dalam tindakan kekerasan.

4. Apa saja tindakan yang perlu dilakukan dalam identifikasi mayat? Investigasi di TKP misalnya dalam bencana dikumpulkan yang utuh dengan yang utuh dan yang terpotong dengan yang terpotong. Pengumpulan data post mortem (wajah,sidik jari,gigi,genetik) Pengumpulan data antemortem (foto pasien , RM, tanda pasien) Pencocokan post mortem dengan antemortem Briefing dari petugas identifikasi 5. Bagaimana cara menganalisa data sehingga dapat diketahui identitas pada skenario? Dengan mengumpulkan data post mortem dan antemortem 6. Apa kegunaan Visum et Repertum? Sebagai bukti yang sah secara hukum mengenai keadaan terakhir korban penganiayaan, pemerkosaan dll. 7. Apa saja isi dari Visum et Repertum? Kepala surat Nomor dan tanggal Dituliskan pro justitia pengganti materai Pendahuluan Pemberitahuan, selengkap-lengkapnya, mis: lebab dibawah pipi kanan, lebar berapa cm, berwarna apa dll. Kesimpulan Penutup

8. Apa saja klasifikasi dari Visum et Repertum? VER terbagi 2: 1. VER hidup: - biasa: keelakaan, kriminal, - lanjutan: tindakan asusila - sementara: gangguan mental 2. VER meninggal : jenazah 9. Siapa yang berhak mengajukan visum? Berwenang: piahak penyidik/kepolisian.

Step 4: skema

Step 5: memformulasikan tujuan pembelajaran Step 6: mengumpulkan informasi

Step 7: sharing informasi 1. Mahasiswa mampu menjelaskan aspek hokum kedokteran forensic Dasar Pengadaan Visum et Repertum1,2,6 Pasal 133 KUHAP 1. Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya. 2. Permintaan keterangan ahli sebagai mana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat. 3. Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat. Sanksi Hukum bila Menolak1,2 Pasal 216 KUHP Barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya, demikian pula yag diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana penjara selama empat bulan dua minggu atau denda paling banyak Sembilan Ribu Rupiah. Pemeriksaan Mayat untuk Peradilan1,2 Pasal 222 KUHP Barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan pemeriksaan mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara palling lama Sembilan bulan atau pidana denda paling banyak Empat Ribu Lima Ratus Rupiah.

Permintaan Sebagai Saksi Ahli1,2


5

Pasal 179 (1) KUHAP Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan. Pasal 224 KUHP Barangsiapa dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa menurut undang-undang dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban berdasarkan undang-undang yang harus dipenuhinya, diancam dalam perkara pidana dengan penjara paling lama Sembilan Bulan.

Pembuatan Visum et Repertum bagi tersangka ( VeR Psikiatris)2 Pasal 120 KUHAP (1) Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat minta pendapat orang ahli atau orang yang memiliki keahlian khusus. Pasal 180 KUHAP (1) Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduknya persoalan yang timbul di sidang pengadilan, hakim ketua sidang dapat minta keterangan saksi ahli dan dapat pula minta agar diajukan bahan baru oleh yang berkepentingan. Pasal 53 UU Kesehatan (3) Tenaga kesehatan untuk kepentingan pembuktian dapat melakukan tindakan medis terhadap seseorang dengan memperhatikan kesehatan dan keselamatan yang bersangkutan. Keterangan Ahli1,2 Pasal 1 Butir 28 KUHAP Keterangan ahli adalah keterangan yang diberikan seorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan. (pengertian keterangan ahli saecara umum) Agar dapat diajukan ke sidang pengadilan sebagai upaya pembuktian, keterangan ahli harus dikemas dalam betuk alat bukti sah.

Alat Bukti Sah1

Pasal 183 KUHAP Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindakan pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya. Pasal 184 KUHAP Alat bukti yang sah adalah: (a) keterangan saksi, (b) keterangan ahli, (c) Surat, (d) petunjuk, (e) keterangan terdakwa Keterangan ahli diberikan secara lisan2 Pasal 186 keterangan ahli adalah apa yang ahli nyatakan di sidang pengadilan. Penjelasan Pasal 186 Keterangan ahli dapat juga sudah diberikan pada waktu pemeriksaan oleh penyidik atau penuntut umum yang dituangkan dalam suatu bentuk laporan dan dibuat dengan mengingat sumpah di waktu menerima jabatan atau pekerjaan (BAP saksi ahli).

Keterangan ahli diberikan secara tertulis2 Pasal 187 KUHAP Surat sebagaimana tersebut pada pasal 184 ayat (1) huruf c, dibuat atas sumpah jabatan atau dikuatkan dengan sumpah, adalah: (c) surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat bedasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau suatu keadaan yang diminta secara resmi daripadanya. 2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan peran dokter gigi dalam tindak pidana Peran profesi kedokteran forensic/kedokteran gigi forensik berkaitan dengan kepentingan peradilan dengan melibatkan pengetahuan patologi forensik dan patologi klinik. Profesi kedokteran forensik bisa juga mencakup ruang lingkup bukan peradilan yaitu berperan dalam identifikasi, keterangan medis, uji keayahan, dan pemeriksaan barang bukti lainnya. Pendekatan kedokteran forensik selain menjadi ahli klinik medikalisasi dan terapi, ilmu forensik juga berperan dalam hal non-terapi , yaitu pembuktian. Ilmu forensik sangat komprehensif mencakup psikososial, yuridis. Akan tetapi forensik juga tidak bisa dikatakan hukum karena forensik tidak menentukan suata peristiwa disebut pembunuhan, perkosaan atau mengatakan siapa pelaku. Forensik hanya memberi petunjuk cara kematian atau pidana atau petunjuk siapa pelaku.6
7

Ilmu kedokteran forensik mengutamakan prinsip dasar etika kedokteran meliputi: prinsip tidak merugikan (non maleficence), prinsip berbuat baik (beneficence), prinsip menghormati otonomi pasien (autonomy), dan prinsip keadilan (justice). Prinsip tidak merugikan (non maleficence), merupakan prinsip dasar menurut tradisi Hipocrates. Dokter gigi dimintai bantuan pada: Kasus cedera pada daerah mulut Kasus susila: penentuan umur Kasus cedera/ keracunan dengan komplikasi penyakit gigi dan mulut Kasus identifikasi: bencana missal,pembunuhan Kasus kedokteran olahraga Cara pemberian bantuan dokter gigi: Pembuatan berita acara Pembuatan VeR Pembuatan surat keterangan ahli Pemberian kesaksian ahli pengadilan Meyakinkan hakim mengenai tindak pidana yang terjadi

Seorang dokter gigi forensik harus memiliki beberapa kualifikasi sbb : 1. Kualifikasi sebagai dokter gigi umum. Kualifikasi terpenting yang harus dimiliki oleh seorang dokter gigi forensik adalah latar belakang kedokteran gigi umum yang luas, meliputi semua spesialisasi kedokteran gigi. Sebagai seorang dokter gigi umum, kadang-kadang ia perlu memanggil dokter gigi spesialis untuk membantunya memecahkan kasus. 2. Pengetahuan tentang bidang forensik terkait. Seorang dokter gigi forensik harus mengerti sedikit banyak tentang kualifikasi dan bidang keahlian forensik lainnya yang berkaitan dengan tugasnya, seperti penguasaan akan konsep peran dokter spesialis forensik, cara otopsi, dsb. 3.Pengetahuan tentang hukum.Seorang dokter gigi forensik harus memiliki pengetahuan tentang aspek legal dari odontologi forensik, karena ia akan banyak berhubungan dengan para petugas penegak hukum, dokter forensik dan juga pengadilan. Dalam hal kasus kriminal ia juga harus paham mengenai tata cara penanganan benda bukti yang merupakan hal yang amat menentukan untuk dapat diterima atau tidaknya suatu bukti di pengadilan.

3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan rekam medic

Dalam Permenkes No: 269/MENKES/PER/III/2008 yang dimaksud rekam medis adalah berkas yang berisi catatan dan dokumen antara lain identitas pasien, hasil pemeriksaan, pengobatan yang telah diberikan, serta tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien. Catatan merupakan tulisan-tulisan yang dibuat oleh dokter atau dokter gigi mengenai tindakan-tindakan yang dilakukan kepada pasien dalam rangka pelayanan kesehatan. Sedangkan dokumen adalah catatan dokter, dokter gigi, dan/atau tenaga kesehatan tertentu, laporan hasil pemeriksaan penunjang, catatan observasi dan pengobatan harian dan semua rekaman, baik berupa foto radiologi, gambar pencitraan (imaging). dan rekaman elektro diagnostik. Rekam Medis harus dibuat secara tertulis, lengkap dan jelas dan dalam bentuk teknologi Informasi elektronik yang diatur lebih lanjut dengan peraturan tersendiri. Rekam medis terdiri dari catatan-catatan data pasien yang dilakukan dalam pelayanan kesehatan. Catatan-catatan tersebut sangat penting dalam pelayanan bagi pasien karena dengan data yang lengkap dapat memberikan informasi dalam menentukan keputusan, baik pengobatan, penanganan, tindakan medis dan lainnya. Dokter atau dokter gigi diwajibkan membuat rekam medis sesuai peraturan yang berlaku. Rekam medis berisi: Identitas pasien Keadaan umum pasien Odontogram Data perawatan kedokteran gigi Nama dokter gigi yang merawat Rekam medic DVI ada 2 macam: Yellow form (kuning): untuk orang yang diduga korban atau orang hilang,data ante mortem Pink form (merah muda): untuk tubuh yang ditemukan sebagai korban meninggal, data post mortem

4. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang Visum et Repertum Visum et repertum adalah istilah yang dikenal dalam Ilmu Kedokteran Forensik, biasanya dikenal dengan nama Visum. Visum berasal dari bahasa Latin, bentuk tunggalnya adalah visa. Dipandang dari arti etimologi atau tata bahasa, kata visum atau visa berarti tanda melihat atau melihat yang artinya penandatanganan dari barang bukti tentang segala sesuatu hal yang ditemukan, disetujui, dan disahkan, sedangkan Repertum berarti melapor yang artinya apa yang telah didapat dari pemeriksaan dokter terhadap korban. Secara etimologi visum et repertum adalah apa yang dilihat dan diketemukan.

Sebagai suatu hasil pemeriksaan dokter terhadap barang bukti yang diperuntukkan untuk kepentingan peradilan, visum et repertum digolongkan menurut obyek yang diperiksa sebagai berikut : 1. Visum et repertum untuk orang hidup. Jenis ini dibedakan lagi dalam : Visum et repertum biasa. Visum et repertum ini diberikan kepada pihak peminta (penyidik) untuk korban yang tidak memerlukan perawatan lebih lanjut. Visum et repertum sementara. Visum et repertum sementara diberikan apabila korban memerlukan perawatan lebih lanjut karena belum dapat membuat diagnosis dan derajat lukanya. Apabila sembuh dibuatkan visum et repertum lanjutan. Visum et repertum lanjutan. Dalam hal ini korban tidak memerlukan perawatan lebih lanjut karena sudah sembuh, pindah dirawat dokter lain, atau meninggal dunia.

2. Visum et repertum untuk orang mati (jenazah). Pada pembuatan visum et repertum ini, dalam hal korban mati maka penyidik mengajukan permintaan tertulis kepada pihak Kedokteran Forensik untuk dilakukan bedah mayat (outopsi). Visum et repertum Tempat Kejadian Perkara (TKP). Visum ini dibuat setelah dokter selesai melaksanakan pemeriksaan di TKP. Visum et repertum penggalian jenazah. Visum ini dibuat setelah dokter selesai melaksanakan penggalian jenazah. Visum et repertum psikiatri yaitu visum pada terdakwa yang pada saat pemeriksaan di sidang pengadilan menunjukkan gejala-gejala penyakit jiwa. Visum et repertum barang bukti, misalnya visum terhadap barang bukti yang ditemukan yang ada hubungannya dengan tindak pidana, contohnya darah, bercak mani, selongsong peluru, pisau.

Bentuk Umum Visum et repertum Agar didapat keseragaman mengenai bentuk pokok visum et repertum, maka ditetapkan ketentuan mengenai susunan visum et repertum sebagai berikut : Pada sudut kiri atas dituliskan PRO YUSTISIA, artinya bahwa isi visum et repertum hanya untuk kepentingan peradilan. Di tengah atas dituliskan Jenis visum et repertum serta nomor visum et repertum tersebut. Bagian Pendahuluan, merupakan pendahuluan yang berisikan : - Identitas peminta visum et repertum. - Identitas surat permintaan visum et repertum. - Saat penerimaan surat permintaan visum et repertum.
10

Identitas dokter pembuat visum et repertum. Identitas korban/barang bukti yang dimintakan visum et repertum. Keterangan kejadian sebagaimana tercantum di dalam surat permintaan visum et repertum. Bagian Pemberitaan, merupakan hasil pemeriksaan dokter terhadap apa yang dilihat dan ditemukan pada barang bukti. Bagian Kesimpulan, merupakan kesimpulan dokter atas analisa yang dilakukan terhadap hasil pemeriksaan barang bukti. Bagian Penutup, merupakan pernyataan dari dokter bahwa visum et repertum ini dibuat atas dasar sumpah dan janji pada waktu menerima jabatan. Di sebelah kanan bawah diberikan Nama dan Tanda Tangan serta Cap dinas dokter pemeriksa.

Dari bagian visum et repertum sebagaimana tersebut diatas, keterangan yang merupakan pengganti barang bukti yaitu pada Bagian Pemberitaan. Sedangkan pada Bagian Kesimpulan dapat dikatakan merupakan pendapat subyektif dari dokter pemeriksa. Peranan dan kedudukan Visum et repertum Visum et repertum adalah keterangan yang dibuat dokter atas permintaan penyidik yang berwenang mengenai hasil pemeriksaan medis terhadap manusia, hidup maupun mati, ataupun bagian/diduga bagian tubuh manusia, berdasarkan keilmuannya dan di bawah sumpah untuk kepentingan peradilan. Penegak hukum mengartikan visum et repertum sebagai laporan tertulis yang dibuat dokter berdasarkan sumpah atas permintaan yang berwajib untuk kepentingan peradilan tentang segala hal yang dilihat dan ditemukan menurut pengetahuan yang sebaik-baiknya. Visum et repertum turut berperan dalam proses pembuktian suatu perkara pidana terhadap kesehatan dan jiwa manusia. Visum et repertum menguraikan segala sesuatu tentang hasil pemeriksaan medik yang tertuang di dalam Pemberitaan, yang karenanya dapat dianggap sebagai benda bukti. Visum et repertum juga memuat keterangan atau pendapat dokter mengenai hasil pemeriksaan medik tersebut yang tertuang di bagian Kesimpulan. Dengan demikian visum et repertum secara utuh telah menjembatani ilmu kedokteran dengan ilmu hukum sehingga dengan membaca visum et repertum dapat diketahui dengan jelas apa yang telah terjadi pada seseorang dan para praktisi hukum dapat menerapkan norma-norma hukum pada perkara pidana yang menyangkut tubuh/jiwa manusia. Tugas pokok seorang dokter dalam membantu pengusutan tindak pidana terhadap kesehatan dan nyawa manusia ialah pembuatan visum et repertum sehingga bekerjanya harus obyektif dengan mengumpulkan kenyataan-kenyataan dan menghubungkannya satu sama lain secara logis untuk kemudian mengambil kesimpulan maka oleh karenanya pada waktu memberi laporan pemberitaan dari visum et repertum itu harus yang sesungguhsesungguhnya dan seobyektif-obyektifnya tentang apa yang dilihat dan ditemukannya
11

pada waktu pemeriksaan. Dengan demikian visum et repertum merupakan kesaksian tertulis. Maka visum et repertum sebagai pengganti peristiwa yang terjadi dan harus dapat mengganti sepenuhnya barang bukti yang telah diperiksa dengan memuat semua kenyataan sehingga akhirnya dapat ditarik suatu kesimpulan yang tepat. Selain daripada itu visum et repertum mungkin dipakai pula sebagai dokumen dengan mana dapat ditanyakan pada dokter lain tentang barang bukti yang telah diperiksa apabila bersangkutan (jaksa, hakim) tidak menyetujui hasil pemeriksaan tersebut. Maka visum et repertum merupakan suatu hal yang penting dalam pembuktian karena menggantikan sepenuhnya Corpus Delicti (tanda Bukti). Seperti diketahui dalam suatu perkara pidana yang menyangkut perusakan tubuh dan kesehatan serta membinasakan nyawa manusia, maka si tubuh korban merupakan Corpus Delicti. maka oleh karenanya Corpus Delicti yang demikian tidak mungkin disediakan atau diajukan pada sidang pengadilan dan secara mutlak harus diganti oleh Visum et repertum. Dan tentunya kedudukan seorang dokter di dalam penanganan korban kejahatan dengan menerbitkan visum et repertum seharusnya disadari dan dijamin netralitasnya, karena bantuan profesi dokter akan sangat menentukan adanya kebenaran

5. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan aspek hokum rahasia kedokteran Yang wajib menyimpan rahasia kedokteran adalah: 1. Pasal 2 UU Tentang Tenaga Kesehatan yaitu Tenaga Kesehatan Sarjana, seperti : dokter,dokter gigi, apoteker dan sarjana lain dibidang kesehatan dan Tenaga Kesehatan Sarjana Muda, Menengah dan Rendah, seperti : asisiten apoteker, bidan, perawat, nutrisionis , dan lain lain 2. Mahasiswa Kedokteran , murid yang bertugas dalam lapangan pemeriksaan pengobatan dan atau perawatan orang lain yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan Kedudukan Rahasia Kedokteran Dalam Filsafat Hukum 1. Kedudukan rahasia kedokteran dalam logika hukum Tentang merahasiakan informasi dari pasiem bahkan setelah pasien meninggal dunia ini didapati ketentuan dengan tegas dalam pasal 51 huruf c UU Nomor 29 Tahun 2004 tentang praktik kedokteran. Disamping dalam UU tersebut dalam KODEKI pasal 13 juga secara jelas tertulis bahwa kewajiban seorang dokter menjaga rahasia pasien bahkan setelah pasien meninggal dunia. Ini berarti bahwa rahasia pasien dalam hukum sangat jelas. Sedangkan sanksi hukum Menurut KUHP Pasal 322 a. Barang siapa dengan sengaja membuka suatu rahasia, yang menurut jabatan atau pekerjaannya, baik yang sekarang maupun yang dahulu ia diwajibkan untuk menyimpannya, dihukum dengan pidana perkara paling lama sembilan bulan atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah b. Jika kejahatan itu dilakukan terhadap seorang yang tertentu,maka perbuatan itu hanya dituntut atas pengaduan orang tersebut . KUH Perdata 1365

12

Setiap perbuatan melanggar hukum yang mengakibatkan kerugian bagi orang lain, mewajibkan orang yang karena kesalahannnya menyebabkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut Di dalam UU RI No. 23 / 1992 tentang kesehatan disebutkan juga perlindungan terhadap pasien, yaitu pasal 55 yang berisikan ketentuan antara lain sebagai berikut: a. Setiap orang berhak atas ganti rugi akibat kesalahan atau kelalaian yang dilakukan tenaga kesehatan. b. Ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pemberian hak atas ganti rugi merupakan suatu upaya untuk memberikan perlindungan bagi setiap orang atas suatu akibat yang timbul, baik fisik maupun non fisik karena kesalahan atau kelalaian tenaga kesehatan. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah Bisakah Rahasia Kedokteran dibuka?. Bisa dengan berbagai alasan, sebagai dasar hukum a. Karena Daya Paksa Diatur dalam pasal 48 KUHP : Barang siapa melakukan suatu perbuatan karena pengaruh daya paksa,tidak dapat dipidana b. Karena menjalankan perintah UU: Diatur dalam pasal 50 KUHP: Barangsiapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan ketentuan undang-undang, tidak dipidana. c. Karena menjalankan perintah jabatan Diatur dalam pasal 51 KUHP : Barang siapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan perintah jabatan yang diberikan oleh penguasa yang wenang, tidak dipidana 2. Kedudukan rahasia kedokteran dalam etika hukum Dalam etika hukum seorang dokter harus menghormati hak pasien diantaranya dengan menjaga rahasia medik/kedokteran yang terdapat didalam pasien tersebut, hal ini sesuai dalam KODEKI pasal 12.

13

Anda mungkin juga menyukai