Anda di halaman 1dari 43

STATUS PSIKIATRI

I. Identitas Pasien Nama Jenis Kelamin : Tn. SA : Laki-laki

Tempat tanggal lahir : Jakarta, 4 September 1983 Usia Agama Pendidikan Status Pernikahan Alamat Pekerjaan Tanggal masuk RS Tempat wawancara Riwayat Perawatan a. Rawat inap : : 29 tahun : Islam : SD : Single : Jl. Kampung Baru : Tidak Bekerja : 10 April 2013 : Ruang Perawatan Bangsal RSJI Klender

30 Maret 2013 Pertama kali di rawat inap RSJIK, pulang tanggal 7 April 2013 10 April 2013 di rawat sekarang

II. RIWAYAT PSIKIATRI Berdasarkan: Autoanamnesis : Diambil pada tanggal : 10 April 2013 (pukul 14.00 WIB) : 11 April 2013 (pukul 12.30 WIB) 12 April 2013 (pukul 11.00 WIB) Alloanamnesis : : 10 April 2013 (pukul 12.00 WIB) : Kakak Pasien

Diambil pada tanggal Diperoleh data dari II.1 Keluhan Utama

Pasien marah-marah tanpa sebab, mengamuk dan memukul anggota keluarganya sejak 2 hari yang lalu.

Keluhan Tambahan Pasien merasa kepala sering pusing dan kesulitan tidur II.2.Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang diantar oleh kakaknya ke RSJI Klender dengan keluhan marah-marah tanpa sebab, mengamuk dan memukul anggota keluarganya sejak 2 hari yang lalu. Pasien sering berteriak-teriak dan berbicara sendiri, dan tidak bisa diam. Pasien sering berputar-putar mengelilingi ruangan rumahnya bahkan sampai mengelilingi halaman rumahnya. Pasien juga mengaku mengalami kesulitan tidur Pasien merasa mendengar bisikan atau suara-suara yang tidak diketahui sumbernya yang membuat kepala nya pusing. Pasien menyangkal adanya bayangan-bayangan aneh. Kakaknya mengatakan selama di rumah pasien tidak mau minum obat sehingga pasien sering marah-marah dan berbicara tidak jelas. Pasien hanya menghabiskan waktunya dengan merokok dan pergi keluar rumah tanpa tujuan. Menurut kakak pasien, pasien tidak mau bergaul dengan tetangga sekitar rumah. Sehari setelah pulang dari perawatan inap di RSJI Klender, pasien masih tenang dan terkontrol, namun, hari kedua dan ketiga setelah rawat inap, pasien emosi mulai meningkat dan suka marah-marah tanpa sebab, Saat itu salah satu keluarganya ada yang melarang pasien untuk tidak marahmarah, namun pasien melawan dan memukulnya.

II.3. Riwayat Gangguan Sebelumnya 1. Gangguan Psikiatri Pasien sebelumnya pernah mengalami gangguan seperti ini sejak tahun 2005. Keluhan ini muncul setelah ayahnya meninggal sejak 8 tahun yang lalu dan pasien pernah dijodohkan oleh orangtua nya namun gagal setelah ayah nya meninggal dan membuat keadaan pasien menjadi terganggu. Pasien merasa sangat kehilangan dan sedih yang berkepanjangan. Pasien sudah 2 kali hilang dari rumahnya yaitu pada tahun 2010 dan tahun 2012. Pada tahun 2010 pasien tidak lama diketemukan, sedangkan pada tahun 2012, pasien sempat hilang 1 tahun dan baru ditemukan oleh ibunya pada tanggal 27 Maret 2013. Pasien mengatakan ia tidak pulang katrena lupa jalan pulang dan dia merasa berada di sekitar laut. Saat dibawa kerumah, pasien cemderung marah-marah, emosi nya meningkat, bicara kacau, memukul keluarga, mondar-mandir dan mengalami kesulitan tidur.

2. Riwayat Gangguan Medik Pasien tidak pernah menderita sakit yang serius saat kecil, Pasien tidak pernah dirawat di rumah sakit dan dioperasi sebelumnya. Riwayat kejang, epilepsy maupun kecelakaan yang menyebabkan luka di kepala atau gangguan pada fungsi otak yang ada hubungannya dengan gangguan kejiwaan saat ini dan adanya ganguan medik lain yang menyebabkan disangkal.

3. Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif Pasien mengaku merokok dan dalam sehari pasien dapat menghabiskan 1 bungkus rokok. Pasien tidak memiliki riwayat mengkonsumsi alkohol. Pasien tidak memiliki riwayat penggunaan ataupun penyalahgunaan zat adiktif atau obat-obatan terlarang.

GRAFIK PERJALANAN PENYAKIT

Ringan
menyendiri Melamun

Sedang
Berjalan mondar mandir Berbicara kacau

Berat
Mengamuk Marah-marah Memukul

II.4. Riwayat Kehidupan Pribadi Sebelum Sakit o Riwayat Masa Prenatal dan Perinatal Menurut ibu pasien, selama kehamilan ibu pasien dalam keadaan sehat, tidak pernah mengalami gangguan kesehatan baik fisik maupun psikis. Pasien dilahirkan dalam keadaan cukup bulan dan di lahirkan secara normal dibantu oleh bidan. Pada saat lahir bayi langsung menangis. Pasien merupakan anak yang dikehendaki orangtuanya. Tidak pernah ada sakit kejang atau penyakit lainnya yang bermakna. Tidak ada kecelakaan yang bermakna, riwayat operasi tidak ada.

o Riwayat Perkembangan Kepribadian a. Masa Kanak i. Masa Kanak Awal (0 3 tahun) Masa ini dilalui dengan baik, pasien diasuh oleh ibu kandungnya dan mendapatkan ASI sampai usia 1 tahun. Pasin tergolong anak yang sehat, dengan proses tumbuh kembang dan tingkah laku sesuai anak seusianya. Pasien tidak pernah sakit yang serius (berat), dan tidak pernah mengalami kejang dan trauma kepala saat kecil. Masa kanak Pertengahan (3 11 tahun) Pasien merupakan anak suka bergaul, pasien memiliki banyak teman. Pasien tidak pernah tinggal kelas namun tidak menyelesaikan pendidikan dasar. Pasien bersekolah hanya sampai kelas 4 SD. pasien tumbuh dan berkembang dengan baik, seperti anak-anak lain sebayanya. Pasien tergolong anak yang baik dan patuh terhadap orang tua.

ii.

iii.

Masa Kanak Akhir (Pubertas dan Remaja) Pasien tumbuh dan berkembang seperti remaja usianya,pasien mengatakan mempunyai banyak teman. Pasien lebih suka bekerja membantu keadaan ekonomi keluarganya. Pasien jarang berkumpul dengan teman sebayanya.

iv.

Masa Dewasa Hubungan pasien dengan ayah dan ibunya dekat. Psaien mengaku lebih dekat kepada ibunya, namun sering berselisih dengan ibunya karena kebiasaan yang mudah marah.

Hubungan dengan lingkungan sekitar pasien cukup baik.

1. Riwayat Pendidikan o SD (6-12 tahun) Pasien bersekolah di sekolah dasar Bekasi. dengan prestasi yang cukup baik, dan tidak pernah tinggal kelas. Pasien memiliki cukup banyak teman.

2. Riwayat Pekerjaan Pasien pernah bekerja sebelum sakit ditempat furniture.

3. Riwayat Kehidupan Beragama Pasien mengaku beragama Islam. Pasien tumbuh dalam lingkungan beragama Islam, sejak kecil pasien sudah diajarkan agama oleh kedua orangtuanya dan pasien tidak pernah lupa menjalankan perintah agama, namun beranjak remaja pasien mulai sering meninggalkan shalat. Saat ini, pasien juga mengaku jarang menjalankan shalat 5 waktu.

4. Riwayat Kehidupan Perkawinan/Psikoseksual Pasien belum pernah menikah dan belum pernah memiliki anak.

5. Riwayat Pelanggaran Hukum Pasien tidak pernah melakukan pelanggaran hukum yang berat, tidak pernah berurusan dengan aparat penegak hukum, dan tidak pernah terlibat dalam proses peradilan yang terkait dengan hukum.

II.5. Riwayat Keluarga Pasien merupakan anak kedua dari lima bersaudara, yang terdiri dari tiga laki-laki dan dua perempuan pasangan Tn.M dan Ny A. Tidak ada anggota keluarga pasien yang pernah sakit seperti ini atau mengalami gangguan jiwa.

SKEMA KELUARGA

Keterangan : Ayah : Saudara Perempuan

: Saudara laki laki

: Pasien

: Ibu

II.6. Situasi Kehidupan Sosial Ekonomi Sekarang Pasien tinggal di rumah orang tua pasien, yang dihuni oleh ibu, kakak kandung pasien, adik perempuan pasien yang nomor tiga, empat, dan lima. Luas rumah tinggal kira-kira 60 m2, lantai rumah terbuat dari keramik, dan fasilitas air minum serta kamar mandi adalah milik sendiri. Rumah pasien terletak di lingkungan padat penduduk. Interaksi pasien dengan orang rumah kurang. Kesan kondisi sosial ekonomi keluarga adalah kurang.

II.7. Persepsi Pasien Tentang Diri dan Kehidupannya Pasien mengaku dirinya sakit dan harus minum obat.

III. Status Mental (tanggal 12 April 2013) III.1. Deskripsi Umum Kesadaran Neurologis : Compos Mentis Kesadaran Psikiatri :Tidak tampak terganggu (perilaku dan sikap tenang, tidak terlihat gelisah

1. Penampilan Pasien seorang laki-laki berusia 29 tahun, berpenampilan fisik sesuai usianya, postur tubuh kurus, berkulit sawo matang, barambut hitam pendek, bergelombang, pada saat wawancara pasien mengenakan baju koas warna merah putih dengan celana pendek berwarna hitam. Pasien duduk tenang di hadapan pewawancara dengan kontak mata sedikit karena pasien lebih suka mengamati sekelilingnya dan konsentrasinya mudah terpengaruh oleh seseorag disekitarnya. Sikap terhadap pemeriksa cukup kooperatif dalam menjawab pertanyaan yang diajukan.

2. Perilaku dan Aktifitas Motorik Sebelum Wawancara : Pasien sedang berdiri sambil melihat keadaan sekitar dengan tatapan kosong. Selama Wawancara : Pasien duduk dengan tenang di samping pemeriksa, dan terkadang perhatiannya teralihkan jika ada temannya. Pasien cukup kooperatif dalam menjawab pertanyaan. Sesudah Wawancara : Pasien bersalaman dengan pewawancara dan kembali ketempatnya seperti semula.

3. Pembicaraan Volume Irama Kelancaran Kecepatan : pelan : teratur : lancar : sedang

4. Sikap Terhadap Pemeriksa Pasien menunjukkan sikap bersahabat untuk diajak berbicara. Pasien cukup perhatian dalam mendengarkan pertanyaan yang dilontarkan pemeriksa. Saat berbicara dengan pemeriksa, pasien menatap ke arah depan dan tidak melihat . Secara keseluruhan pasien tampak kooperatif.

III.2. Alam Perasaan (Emosi) 1. 2. Suasana Perasaan (mood) : Euthym Afek/Ekspresi Afektif o Stabilitas o o o o Kedalaman : Terbatas : Tidak Stabil : dangkal (pasien tidak terlihat sedih maupun kecewa saat menceritakan masalahnya) Skala Diferensiasi Keserasian Pengendalian : Menyempit : tidak serasi : cukup

III.3. Gangguan Persepsi a) Halusinasi Auditorik : ada, yaitu pasien seperti mendengar suara-

suara yang tidak tahu sumbernya yang membuat kepala pasien pusing b) Ilusi c) Depersonalisasi d) Derealisasi Visual Taktil Olfaktorik ; tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada

III.4. Fungsi Intelektual

1. 2.

Taraf Pendidikan Pengetahuan Umum

Hanya bersekolah sampai SD saja Kurang (Pasien tidak mengetahui nama presiden saat ini dan tanggal kemerdekaan RI)

Kecerdasan Konsentrasi dan Perhatian Orientasi Waktu

Kurang kurang, pasien tidak dapat menjawab dengan benar seluruh hitungan

Kurang (Pasien sulit dalam mengingat tanggal, bulan dan tahun, namun dapat menyebutkan hari)

Tempat

Baik (Pasien dapat menyebutkan tempat sekarang dimana ia berada dan dirawat)

Orang

Kurang (Pasien tidak mengenali temannya dengan benar tapi pasien mengetahui sedang diwawancarai oleh dokter muda)

Situasi

Baik (Pasien mengetahui situasi sekitar, saat wawancara berlangsung)

6.

Daya Ingat Jangka Panjang Jangka Pendek Baik (pasien dapat mengingat dimana ia

bersekolah SD) Baik (pasien masih mengingat aktifitas yang dilakukan sehari yang lalu dan menu sarapan pagi ini)

Segera

Baik (pasien dapat menyebutkan 3 benda yang disebutkan oleh pemeriksa setelah 5 menit)

7.

Pikiran Abstrak

Kurang (pasien tidak bisa mengerti peribahasa ada gula ada semut

8.

Visuospasial

Cukup (pasien dapat menggambar lingkaran dan segitiga)

9. 10.

Bakat dan Kreativitas Kemampuan Menolong Diri

Baik (Pasien bisa bernyanyi dan senam) Baik (pasien makan, minum, dan berpakaian sendiri)

III.5. Proses Pikir 1. Arus Pikir a. Produktivitas b. Kontinuitas c. Blocking Asosiasi Longgar Inkoherensi Word Salad Neologisme Sirkumstansialitas Tangensialitas : kurang : : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada

Hendaya Bahasa

2. Isi Pikir 1. Preokupasi : Ada (Pasien ingin segera pulang ke rumah) 2. Gangguan Isi pikir a. Waham Waham Kebesaran Waham Bizzar Waham Kejar Waham Persekutorik Waham Referensi : Tidak Ada : Tidak Ada : Tidak Ada : Tidak ada : Tidak Ada

Waham Ketidaksetiaan : Tidak Ada Waham dikendalikan - Thought withdrawl - Thought insertion : : Tidak ada : Tidak ada

10

- Thought broadcasting - Thought control Waham nihilistik b. Obsesi c. Fobia

: Tidak ada : Tidak Ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada

III.6. Pengendalian Impuls III.7. Daya Nilai

: Baik (saat pemeriksaan)

1. Daya Nilai Sosial : Cukup baik (jika pasien bertamu kerumah seseorang pasien harus mengetuk pintu dan mengucapkan salam sebelum masuk kerumah) 2. Uji Daya Nilai : Baik (pasien akan menolong nenek-nenek yang akan menyebrang jalan) 3. Daya Nilai Realita : terganggu (halusinasi auditorik )

11. Reality Test Ability (RTA) : Terganggu 12. Tilikan: Derajat 1 13. Taraf Dapat Dipercaya : Dapat dipercaya Pada waktu yang berbeda, pasien memberikan kesimpulan jawaban kurang lebih sama, begitu juga setelah dilakukan alloanamnesis dengan kakak pasien, semua jawabannya hampir sesuai dengan apa yang sebelumnya pernah diceritakan.

IV. Status Fisik (Pemeriksaan dilakukan pada 12 April 2013, pukul 11.30 WIB)

1. Status Internus Keadaan umum Kesadaran Tanda Vital o Tekanan darah : 100/60 mmHg : Baik : Compos mentis

11

o Suhu o Nadi o Pernapasan

: 36,5 C : 88 x/menit : 20 x/menit

2. Status Internus Kulit Wajah Mata : sawo matang, ikterik (-), sianosis (-) : makula hiperpigmentasi (+)

Kepala : Normocephali, rambut warna hitam, distribusi merata : Pupil bula isokor,konjungtiva anemis -/-, sclera ikterik -/-,

gerakan bola mata ke segala arah Hidung : bentuk normal, septum deviasi (-), sekret -/ Telinga : Tidak dilakukan Mulut Lidah Uvula Tonsil Leher : Warna bibir normal, sianosis (-), sariawan (-) : Normoglossia, warna merah muda, lidah kotor (-)

Gigi geligi: Baik : Letak di tengah, hiperemis (-) : T1/T1, tidak hiperemis

Tenggorokkan ; Faring tidak hiperemis : KGB tidak teraba membesar, kelenjar tiroid tidak teraba

membesar, trakea letak normal Jantung : Bunyi jantung I-II normal, murmur (-), gallop (-) Paru : Simteris, suara nafas vesikuler, rh-/-, wh-/ Abdomen: Datar Ekstremitas ; Atas : Akral hangat, edema (-), makula hipopigmentasi (+) milier, Bawah : Akral hangat, edema (-), 3. Status Neurologis GCS Saraf Kranial (I-XII) Tanda rangsang meningeal Refleks fisiologis : 15 (E4, V5, M6) : baik : Tidak ada : (+) normal

12

Refleks patologis Motorik Sensorik Fungsi luhur Gejala EPS (-), tonus otot (-), distonia (-)

: tidak ada : Baik : Baik : Baik : ataksia (-), bradikinesia (-), rigiditas

V. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan laboratorium pada tanggal 01 April 2013 HEMATOLOGI Hemoglobin MCV MCH MCHC Eritrosit Hematokrit Leukosit Trombosit ESR (LED) DIFFERENSIAL COUNT Basofil Eosinofil Segmen Limfosit Monosit IMUNOLOGI (WIDAL) S. Typhi O S.Paratyphi AO S.Paratyphi BO Negatif Negatif Negatif 0,6 % 4,0 % 62,6 % 22,9 % 9,9 % 0-1,0 1,0-3,0 37,0-72,0 20,0-40,0 2,0-8,0 14,7 Mg/dL 91 fl 32 pg 35 g/dl 4,7 10^6 /ul 43 % 6,7 10^3/ul 273 10^3/ul 68 mm 13,5 17,5 82 98 27-33 31-37 4,5-5,8 40-50 5,0-10,0 150-400 0-10

13

S.Paratyphi CO S.Typhi H S.Paratyphi AH S.Paratyphi BH S.Paratyphich

Positif (1/80) Negatif Negatif Negatif Negatif

VI. IKTHISAR PENEMUAN BERMAKNA Pasien seorang laki-laki berusia 29 tahun, berpenampilan fisik sesuai usianya, postur tubuh kurus, berkulit sawo matang, barambut hitam pendek, bergelombang, pada saat wawancara pasien mengenakan baju koas warna merah putih dengan celana pendek berwarna hitam. Pasien duduktenang di hadapan pewawancara dengan kontak mata sedikit karena pasien lebih suka mengamati sekelilingnya dan konsentrasinya mudah terpengaruh oleh seseorag disekitarnya. Sikap terhadap pemeriksa kooperatif dalam menjawab pertanyaan yang diajukan. Pasien datang diantar oleh kakaknya ke RSJI KLENDER dengan keluhan marah-marah tanpa sebab, mengamuk dan memukul anggota keluarganya sejak 2 hari yang lalu. Pasien sering berteriak-teriak dan berbicara sendiri, dan tidak bisa diam. Pasien sering berputar-putar mengelilingi ruangan rumahnya bahkan

sampai mengelilingi halaman rumahnya. Pasien juga mengaku mengalami kesulitan tidur Pasien menyangkal mendengar bisikan atau suara-suara yang tidak diketahui sumbernya. Pasien juga menyangkal adanya bayangan-bayangan aneh. Kakaknya mengatakan selama di rumah pasien tidak mau minum obat sehingga pasien sering marah-marah dan berbicara tidak jelas. Pasien hanya menghabiskan waktunya dengan merokok dan pergi keluar rumah tanpa tujuan. Menurut Kakak pasien, pasien tidak mau bergaul dengan tetangga sekitar rumah. Sehari setelah pulang dari perawatan inap di RSJI Klender, pasien masih tenang dan terkontrol, namun, hari kedua dan ketiga setelah rawat inap, pasien emosi mulai meningkat dan suka marah-marah tanpa sebab, Saat itu salah satu

14

keluarganya ada yang melarang pasien untuk tidak marah-marah, namun pasien melawan dan memukulnya Dari Pemeriksaan didapatkan : Kesadaran Compos Mentis, Visual (-), Auditorias (+) : mendengar adanya bisikan-bisikan ditelinganya tapi tidak tau siapa yang berbicara. Waham kejar (-). Tilikan Derajat 1. Pemeriksaan status internus normal, neurologic normal, pemeriksaan lab normal. VII. FORMULA DIAGNOSTIK AKSIS I (Gangguan klinis dan kondisi yang menjadi focus perhatian klinis) Berdasarkan wawancara dan pemeriksaan status mental ditemukan adanya tanda dan gejala serta konflik yang terjadi di dalam diri pasien maupun dampak yang timbul pada lingkungan sekitar. Hendaya berat yang terdapat di dalam pikiran, perasaan, dan perilaku pasien yang menimbulkan tanda-tanda distress.

Hendaya berat yang terdapat pada pikiran pasien yaitu adanya: Proses Pikir Perilaku Emosi : waham kebesaran, waham kejar : marah-marah sendiri dan mengamuk. : Labil.

Hendaya berat yang terdapat pada perasaan pasien yaitu adanya: a. Mood b. Ekspresi Afek c. Serasi : irritable : Luas : Serasi

1. AXIS I Berdasarkan ikhtisar penemuan bermakna tersebut maka kasus ini digolongkan ke dalam Gangguan Jiwa. Gangguan kejiwaan ini di kelompokkan sebagai Gangguan Mental dan Perilaku. Maka menurut PPDGJ 3, Gangguan

15

Mental dan Perilaku ini dapat digolongkan Gangguan Schizofrenia Paranoid sesuai dengan tabel kriteria diagnosis sebagai berikut:

Tabel 1. Kriteria Diagnosis Schizofrenia

Kriteria Diagnosis

Hasil

1. Harus ada satu gejala berikut yang amat jelas: a.Thought echo, thought insertion or thought Tidak ada

withdrawal, thought broadcasting. b.Delusion of control, delusion of influence, delusion of pasivity, delusional perseption. c.Halusinasi auditorik d.Waham-waham menetap jenis lain yang dianggap penduduk setempat dianggap tidak wajar atau mustahil. Tidak ada Ada Tidak ada

2.) Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas: Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja. Arus pikir yang terputus atau mengalami sisipan yang berakibat inkoherensi atau neologisme. Perilaku katatonik Gejala-gejala negatif. Tidak Ada Tidak ada Tidak Ada Tidak Ada

3.)

Adanya

gejala-gejala

khas

tersebut

diatas Terpenuhi

berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau lebih.

16

4.) Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan dari beberapa aspek perilaku pribadi. Ada

Tabel 2. Kriteria Diagnosis Schizofrenia Paranoid

Kriteria Diagnosis

Hasil

1.) Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia

Terpenuhi

2.) Sebagai tambahan : A. Halusinasi dan/atau waham harus menonjol. a.Suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi perintah, atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa pluit, mendengung, atau bunyi tawa. Tidak Ada

17

b.Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual, atau lain-lain perasaan tubuh; halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang menonjol; c.Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham dikendalikan (delusion of control), Ada Tidak Ada

dipengaruhi (delusion of passivity), dan keyakinan dikejar-kejar yang beraneka ragam, adalah yang paling khas.

B.Gangguan

afektif,

dorongan

kehendak

dan

Tidak Terpenuhi

pembicaraan, serta gejala katatonik secara relatif tidak nyata/tidak menonjol.

2.Aksis II (Gangguan Kpribadian dan Retardasi Mental) Tidak terdapat gangguan kepribadian dan retardasi mental

3. Aksis III (Kondisi Medik Umum) Tidak ditemukan adanya gangguan medis dari anamnesa

4.Aksis IV (Problem dengan kelompok pendukung utama - Masalah dengan primary support group, pasien memiliki riwayat bermasalah dengan keluarganya

5.Aksis V (Penilaian Fungsi secara Global) GAF current :

GAF saat masuk RS : GAF HLPY :

18

VIII. EVALUASI MULTIAKSIAL Aksis I Aksis II Aksis III Aksis IV Aksis V : F20.0 Skizofrenia Paranoid : Tidak ada Diagnosis : melasma dan pitiriasis versikolor : Sering memukul anggota keluarganya : GAF 60 (Saat masuk RS) GAF 70 ( Saat pasien dirawat inap)

IX.DAFTAR MASALAH A. Organobiologik B. Psikologik C. Sosiobudaya : Tidak diketemukan kelainan organic atau fisik : :

VIII. Prognosis Quo ad vitam Quo ad functionam : dubia ad bonam : Dubia ad bonam (pasien menjalankan kegiatan sehari-hari dengan baik selama perawatan) Quo ad sanationam :dubia ad malam

Faktor-faktor yang mempengaruhi Faktor yang memperberat : Selalu curiga terhadap orang lain. Emosional Faktor yang memperingan: Faktor pencetus jelas. Sistem pendukung yang baik.

19

IX. RENCANA TERAPI a. Farmakoterapi Risperidon 3x2mg CPZ 1x100mg THP 3x2mg

b.

Psikoterapi Suportif Memberikan dukungan dan perhatian kepada pasien dalam menghadapi masalah serta memberikan dorongan agar pasien lebih terbuka bila mempunyai masalah dan jangan memperberat pikiran dalam menanggapi sebuah masalah terlalu serius dan berlebihan. Kognitif Menerangkan tentang gejala penyakit pasien yang timbul akibat cara berpikir yang salah, mengatasi perasaan dan sikapnya terhadap masalah yang dihadapi. Keluarga Menjelaskan kepada keluarga mengenai penyakit yang diderita oleh pasien, penyebabnya, faktor pencetus dan rencana terapi.

Menyarankan keluarga untuk selalu memberikan dukungan dan perhatian lebih kepada pasien. Memotivasi keluarga pasien untuk selalu mendorong pasien mengungkapkan perasaan dan berbagi tentang masalahnya. Sosial Budaya

a. Terapi kerja : memanfaatkan waktu luang dengan melakukan hobi atau pekerjaan yang bermanfaat. b. Terapi rekreasi : olahraga ringan, berlibur. Religius Memberikan bimbingan agar pasien selalu menjalankan ibadah sesuai ajaran agama Islam, seperti sholat, puasa, mengaji dan berdoa meminta kesembuhan.

20

TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Skizofrenia adalah satu istilah untuk beberapa gangguan yang ditandai dengan kekacauan kepribadian, distorsi terhadap realitas, ketidakmampuan untuk berfungsi dalam kehidupan sehari-hari, perasaan dikendalikan oleh kekuatan dari luar dirinya, waham/delusi, gangguan persepsi. Gangguan skizoprenia ini terdapat pada semua kebudayaan dan mengganggu di sepanjang sejarah, bahkan pada kebudayaan-kebudayaan yang jauh dari tekanan modern sekalipun. Umumnya gangguan ini muncul pada usia yang sangat muda, dan memuncak pada usia antara 25-35 tahun. Gangguan yang muncul dapat terjadi secara lambat atau datang secara tiba-tiba pada penderita yang cenderung suka menyendiri yang mengalami stress. Salah satu pembagian skizofrenia adalah skizofrenia hebefrenik. Beberapa pendapat yang menyebutkan tentang pengertian Skizofrenia, antara lain: Skizofrenia hebefrenik adalah suatu bentuk Skizofrenia yang ditandai dengan perilaku pasien regresi dan primitif, afek yang tidak sesuai, wajah dungu, tertawatawa aneh, meringis dan menarik diri secara ekstrim. Skizofrenia hebefrenik adalah suatu bentuk skizofrenia dengan perubahan afektif yang tampak jelas dan secara umum juga dijumpai waham dan halusinasi yang bersifat mengambang serta terputus-putus (fragmentary), perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tidak dapat diramalkan, serta umumnya mannerisme. Skizofrenia hebefrenik disebut juga disorganized type atau kacau balau yang ditandai dengan inkoherensi, afek datar, perilaku dan tertawa kekanakkanakan, yang terpecah-pecah, dan perilaku aneh seperti menyeringai sendiri, menunjukkan gerakan-gerakan aneh, mengucap berulang-ulang dan

kecenderungan untuk menarik diri secara ekstrim dari hubungan sklienial. Skizofrenia hebefrenik adalah suatu bentuk skizofrenia dengan perubahan perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tak dapat diramalkan,ada kecenderungan untuk selalu menyendiri, dan perilaku menunjukkan hampa prilaku dan hampa perasaan, senang menyendiri,dan ungkapan kata yang di ulang

21

ulang, prklienes pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak menentu serta adanya penurunan perawatan diri pada individu. B. Etiologi Etiologi Skizofrenia Hebefrenik pada umumnya sama seperti etiologi skizofrenia lainnya. Dibawah ini beberapa etiologi yang sering ditemukan: Faktor Predisposisi : Beberapa faktor predisposisi yang berkontribusi pada munculnya respon neurobiologi seperti pada harga diri rendah antara lain :
a.

Faktor Genetis : Telah diketahui bahwa secara genetis skizofrenia diturunkan melalui kromklienom-kromklienom tertentu. Tetapi

kromklienom yang ke berapa menjadi faktor penentu gangguan ini sampai sekarang masih dalam tahap penelitian. Diduga letak gen skizofrenia ada dikromklienom no. 6 dengan kontribusi genetik tambahan no. 4, 8, 15 dan 22. Anak kembar identik memiliki kemungkinan mengalami skizofrenia sebesar 50% jika salah satunya mengalami skizofrenia, sementara jika dizigot peluangnya sebesar 15%. Seorang anak yang salah satu orang tuanya mengalami skizofrenia, sementara bila kedua orang tuanya skizofreia maka peluangnya menjadi 35%.2
b.

Faktor Neurologis : Ditemukan bahwa korteks prefrontal dan korteks limbik pada pasien skizofrenia tidak pernah berkembang penuh. Ditemukan juga pada pasien skizofrenia terjadi penurunan volume dan fungsi otak yang abnormal. Neurotransmiter yang ditemukan tidak normal khususnya dopamine, serotonine, dan glutamat.2

c.

Studi Neurotransmiter : Skizofrenia diduga juga disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan neurotransmiter dopamine yang

berlebihan.
d.

Teori Virus : Paparan virus influenza pada trimester 3 kehamilan dapat menjadi faktor predispklienisi skizofrenia.

22

e.

Psikologis : Beberapa kondisi psikologis yang menjadi faktor predispklienisi skizofrenia antara lain anak yang diperlakukan oleh ibu pencemas, terlalu melindungi, dingin dan tidak berperasaan, sementara ayah yang mengambil jarak dengan anaknya.

- faktor Prespitasi : Faktor-faktor pencetus respon neurobiologis meliputi : a. Berlebihannya proses inflamasi pada sistem saraf yang menerima dan memprklienes informasi di thalamus dan frontal otak. b. Mekanisme penghantaran listrik di saraf terganggu. c. Gejala-gejala pemicu seperti kondisi kesehatan, lingkungan, sikap dan perilaku.

C. Epidemiologi dan Faktor Risiko Skizofrenia mengenai sekitar 1% populasi pada semua suku dan jenis kelamin.1 Sumber lain mengatakan prevalensi skizofrenia adalah 7,2 kasus setiap 1000 penduduk. Sebenarnya insidensi skizofrenia relatif rendah, yaitu 15,2 kasus setiap 100.000 penduduk, namun kasus tersebut bersifat kronik sehingga menghasilkan prevalensi yang tinggi.2 Umumnya laki-laki memiliki onset yang lebih cepat yaitu pada sekitar usia 20 tahun, sedangkan wanita umumnya memiliki onset 20-30 tahun.

D. Patofisiologi Teori yang muncul berkenaan dengan patofisiologi skizofrenia adalah skizofrenia muncul akibat aktivitas dopamin yang yang tinggi di dalam otak. Teori ini muncul melalui dua observasi. Pertama, efektivitas dan potensi dari berbagai obat antipsikotik (dopamine receptor antagonists) berhubungan dengan aktivitas antagonisnya terhadap reseptor dopamin tipe 2 (D2). Kedua, obat yang meningkatkan aktivitas dopaminergik seperti kokain dan amfetamin, bersifat psikotomimetik.1Bagian otak yang terlibat dalam aktivitas ini adalah jalur mesokortikal dan mesolimbik. Peningkatan aktivitas dopamin pada jalur mesolimbikakan meningkatkan risiko timbulnya gejala pklienitif

23

dari skizofrenia. Penurunan aktivitas dopamin pada jalur mesokortikal akan meningkatkan risiko timbulnya gejala negatif dari skizofrenia.4 Hasil di atas juga didukung oleh temuan-temuan pada penelitian selanjutnya. Kliendengan skizofrenia memiliki beberapa kelainan pada otak, yaitu pembesaran ventrikel yang menyebabkan penurunan volume otak dan substansia grisea korteks. Daerah seperti lobus frontal, amigdala, dan lobus temporalis medialis, cingulate gyrus, dan superior temporal gyrus mengalami penurunan volume. Kondisi ini akhirnya menyebabkan kelainan aktivitas pada daerah tersebut yang menyebabkan timbulnya gejala-gejala dalam skizofrenia. Melalui pemeriksaan pklienitive emission tomography (PET), juga dapat diketahui penurunan aliran darah pada daerah frontal, talamus, dan serebellum pada kliendengan skizofrenia. Penurunan aktivitas pada daerah prefrontal dihubungkan dengan penurunan aktivitas dopamin pada daerah tersebut.3

E. Manifestasi klinis Secara garis besar, manifestasi klinis dari skizofrenia terbagi dalam tiga bagian besar, yaitu: 1. Gejala positif, terutama berupa delusi dan halusinasi.5 Gejala-gejala pklienitif yang dapat muncul. Delusi yang muncul dapat berupa delusion of control, delusion of influence, delusion of passivity, dan delusion of perception. Halusinasi dapat muncul pada berbagai indera, seperti taktil, olfaktorik, gustatorik, atau visual, namun auditori adalah halusinasi yang paling sering muncul.2 2. Gangguan dalam berpikir atau disorganisasi yang bermanifestasi dalam hal bicara dan tingkah laku.5 Dalam bicara, disorganisasi yang timbul dapat berupa asklieniasi longgar sampai bentuk paling parah berupa word salad. Dalam tingkah laku, disorganisasi muncul sebagai ketidakmampuan melakukan aktivitas sehari-hari seperti menyiapkan makanan dan menjaga kebersihan diri, ataupun dapat berupa perilaku seperti anak-anak dan agitasi yang tidak terduga.1

24

3. Gejala negatif, berupa menarik diri, apatis, ketidakpedulian terhadap diri sendiri, kemiskinan dalam bicara, dan lain-lain.5 Kriteria diagnklienis skizofrenia yang dipakai di Indonesia umumnya menggunakan pedoman dari Pedoman Penggolongan dan Diagnklienis Gangguan Jiwa di Indonesia. Kriteria tersebut adalah sebagai berikut Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau lebih bila gejala itu kurang tajam atau kurang jelas. a. - Thought echo: isi pikiran dirinya sendiri yang bergema atau berulang dalam kepalanya dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama namun kualitasnya berbeda. - Thought insertion: isi pikiran yang asing dari luar, masuk ke dalam pikirannya atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya. -Thought broadcasting: isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain mengetahuinya. b. - Delusion of control : waham tentang dirinya yang dikendalikan oleh sesuatu dari luar dirinya. - Delusion of influence: waham tentang dirinya yang dipengaruhi oleh suatu kekuatan dari luar. - Delusion of passivity: waham tentang dirinya yang pasrah dan tidak berdaya terhadap suatu kekuatan dari luar. - Delusional perception: pengalaman indrawi yang tidak wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mujizat. c. Halusinasi auditorik d. Waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya berkaitan dengan masalah agama atau politik tertentu atau kekuatan diatas kemampuan manusia biasa. Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas:

25

a. Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja, apabila disertai baik oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai dengan ide berlebihan yang menetap b. Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation), yang berakibat inkoherensia atau pembicaraan yang tidak relevan atau neologisme. c. Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh gelisah, pklienisi tubuh tertentu (pklienturing) atau fleksibilitas cerea, negativisme, stupor dan mutisme. d. Gejala negatif : apatis, jarang bicara, respon emklienional yang tumpul atau tidak wajar, menarik diri, tapi harus jelas bahwa hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi. Gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau lebih. Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi, bermanifestasi pada hilangnya minat, hidup tak bertujuan dan penarikan diri secara sklienial. Perjalanan penyakit Skizofrenia dapat dibagi menjadi 3 fase yaitu fase prodromal, fase aktif dan fase residual. Pada fase prodromal biasanya timbul gejala gejala non spesifik yang lamanya bisa minggu, bulan ataupun lebih dari satu tahun sebelum onset psikotik menjadi jelas. Gejala tersebut meliputi : hendaya fungsi pekerjaan, fungsi sklienial, fungsi penggunaan waktu luang dan fungsi perawatan diri. Perubahan perubahan ini akan mengganggu individu serta membuat resah keluarga dan teman, mereka akan mengatakan orang ini tidak seperti yang dulu. Semakin lama fase prodromal semakin buruk prognklienisnya. Pada fase aktif gejala pklienitif / psikotik menjadi jelas seperti tingkah laku katatonik, inkoherensi, waham, halusinasi disertai gangguan afek. Hampir semua individu datang berobat pada fase ini, bila tidak mendapat pengobatan gejala gejala tersebut dapat hilang spontan suatu saat mengalami

26

eksaserbasi

atau

terus

bertahan.

Fase

aktif

akan

diikuti

oleh fase

residual dimana gejala gejalanya sama dengan fase prodromal tetapi gejala pklienitif / psikotiknya sudah berkurang. Disamping gejala gejala yang terjadi pada ketiga fase diatas, penderita skizofrenia juga mengalami gangguan kognitif berupa gangguan berbicara spontan, mengurutkan peristiwa, kewaspadaan dan eksekutif (atensi, konsentrasi, hubungan sklienial).3 Pada Skizofrenia Hebefrenik kita dapat melihat tanda dan gejala yang khas, antara lain; 1. Inkoherensi yaitu jalan pikiran yang kacau, tidak dapat dimengerti apa maksudnya. 2. Alam perasaan yang datar tanpa ekspresi serta tidak serasi atau ketololtololan. 3. Perilaku dan tertawa kekenak-kanakan, senyum yang menunjukkan rasa puas diri atau senyum yang hanya dihayati sendiri. 4. Waham yang tidak jelas dan tidak sistematik tidak terorganisasi sebagai suatu kesatuan. 5. Halusinasi yang terpecah-pecah yang isi temanya tidak terorganisasi sebagai satu kesatuan. 6. Gangguan prklienes berfikir 7. Perilaku aneh, misalnya menyeringai sendiri, menunjukkan gerakangerakan aneh, berkelakar, pengucapan kalimat yang diulang-ulang dan cenderung untuk menarik diri secara ekstrim dari hubungan sklienial. Gejala-gejala pencetus respon biologis : Kesehatan : nutrisi kurang, kurang tidur, ketidakseimbangan irama sirkadian, kelelahan, infeksi, obat-obatan sistem saraf pusat, kurangnya latihan dan hambatan untuk menjangkau layanan kesehatan. Lingkungan : lingkungan yang memusuhi, masalah rumah tangga, kehilangan kebebasan hidup, perubahan kebiasaan hidup, pola aktivitas sehari-hari, kesukaran berhubungan dengan orang lain, isolasi sklienial,

27

kurangnya dukungan sklienial, tekanan kerja, stigmatisasi, kemiskinan, kurangnya alat transportasi dan ketidakmampuan mendapatkan pekerjaan. Sikap/perilaku : merasa tidak mampu, putus asa, merasa gagal, kehilangan kendali diri(demoralisasi), merasa punya kekuatan berlebihan dengan gejala tersebut, merasa malang, bertindak tidak seperti orang lain dari segi usia maupun kebudayaan, rendahnya kemampuan sklienialisasi, perilaku agresif, perilaku kekerasan, ketidakadekuatan pengobatan dan ketidakadekuatan penanganan gejala. F. Diferensial diagnosis

Pasien dengan penyalahgunaan zat dapat datang dengan gejala yang mirip dengan skizofrenia, sehingga diagnklienis skizofrenia belum dapat ditegakkan bila kliensedang aktif menyalahgunakan zat. Kliendengan depresi berat atau gangguan bipolar juga dapat datang dengan gangguan psikotik, namun diagnklienis dari gangguan mood selalu diutamakan daripada diagnosis skizofrenia. Delirium juga memiliki gejala seperti skizofrenia seperti delusi dan halusinasi. Perbedaan mendasar dari kedua hal tersebut adalah onset penyakit. Delirium memiliki onset yang lebih cepat daripada skizofrenia. Selain itu, apabila disertai penyakit penyerta, diagnklienis delirium lebih diutamakan daripada skizofrenia.

G. Penatalaksanaan 1. Terapi Somatik (Medikamentosa) ----Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati Skizofrenia disebut antipsikotik. Antipsikotik bekerja mengontrol halusinasi, delusi dan perubahan pola fikir yang terjadi pada Skizofrenia. Klienmungkin dapat mencoba beberapa jenis antipsikotik sebelum mendapatkan obat atau kombinasi obat antipsikotik yang benar-benar cocok bagi pasien . Antipsikotik pertama diperkenalkan 50 tahun yang lalu dan merupakan terapi obat-obatan pertama yang efektif untuk mengobati Skizofrenia.

28

Terdapat 3 kategori obat antipsikotik yang dikenal saat ini, yaitu : antipsikotik konvensional, newer atypical antipsycotics, dan Clozaril (Clozapine).4 2. Antipsikotik Konvensional ----Obat antipsikotik yang paling lama penggunannya disebut antipsikotik konvensional.Walaupun sangat efektif, antipsikotik konvensional sering menimbulkan efek samping yang serius. Contoh obat antipsikotik konvensional antara lain : 1. Haldol (haloperidol) 2. Mellaril (thioridazine) 3. Navane (thiothixene) 4. Prolixin (fluphenazine) ----Akibat berbagai efek samping yang dapat ditimbulkan oleh antipsikotik konvensional, banyak ahli lebih merekomendasikan penggunaan newer atypical antipsycotic. ----Ada 2 pengecualian (harus dengan antipsikotok konvensional). Pertama, pada klienyang sudah mengalami perbaikan (kemajuan) yang pesat menggunakan antipsikotik konvensional tanpa efek samping yang berarti. Biasanya para ahli merekomendasikan untuk meneruskan 5. Stelazine ( trifluoperazine) 6. Thorazine ( chlorpromazine) 7. Trilafon (perphenazine)

pemakaian antipskotik konvensional. Kedua, bila klienmengalami kesulitan minum pil secara reguler. Prolixin dan Haldol dapat diberikan dalam jangka waktu yang lama (long acting) dengan interval 2-4 minggu (disebut juga depot formulations). Dengan depot formulation, obat dapat disimpan terlebih dahulu di dalam tubuh lalu dilepaskan secara perlahan-lahan. Sistem depot formulation ini tidak dapat digunakan pada newer atypic antipsycotic.5 3. Newer Atypcal Antipsycotic
29

---

-Obat-obat yang tergolong kelompok ini disebut atipikal karena

prinsip kerjanya berbeda, serta sedikit menimbulkan efek samping bila dibandingkan dengan antipsikotik konvensional. Beberapa contoh newer atypical antipsycotic yang tersedia, antara lain : 4. Risperdal (risperidone) 5. Seroquel (quetiapine) 6. Zyprexa (olanzopine) Para ahli banyak merekomendasikan obat-obat ini untuk menangani pasien -kliendengan Skizofrenia. c. Clozaril Clozaril mulai diperkenalkan tahun 1990, merupakan antipsikotik atipikal yang pertama. Clozaril dapat membantu 25-50% klienyang tidak merespon (berhasil) dengan antipsikotik konvensional. Sangat disayangkan, Clozaril memiliki efek samping yang jarang tapi sangat serius dimana pada kasus-kasus yang jarang (1%), Clozaril dapat menurunkan jumlah sel darah putih yang berguna untuk melawan infeksi. Ini artinya, klienyang mendapat Clozaril harus memeriksakan kadar sel darah putihnya secara reguler. Para ahli merekomendaskan penggunaan Clozaril bila paling sedikit 2 dari obat antipsikotik yang lebih aman tidak berhasil. Cara penggunaan Pada dasarnya semua obat anti psikklienis mempunyai efek primer (efek klinis) yang sama pada dklienis ekivalen, perbedaan terutama pada efek samping sekunder.

30

Pemilihan jenis obat anti psikklienis mempertimbangkan gejala psikklienis yang dominan dan efek samping obat. Pergantian obat disesuaikan dengan dklienis ekivalen. Apabila obat anti psikklienis tertentu tidak memberikan respon klinis dalam dklienis yang sudah optimal setelah jangka waktu yang memadai, dapat diganti dengan obat psikklienis lain (sebaiknya dari golongan yang tidak sama), dengan dklienis ekivalennya dimana profil efek samping belum tentu sama. Apabila dalam riwayat penggunaan obat anti psikklienis sebelumnya jenis obat antipsikklienis tertentu yang sudah terbukti efektif dan ditolerir dengan baik efek sampingnya, dapat dipilih kembali untuk pemakaian sekarang Dalam pengaturan dklienis perlu mempertimbangkan: o Onset efek primer (efek klinis) : sekitar 2-4 minggu o Onset efek sekunder (efek samping) : sekitar 2-6 jam o Waktu paruh 12-24 jam (pemberian 1-2 kali perhari) o Dklienis pagi dan malam dapat berbeda untuk mengurangi dampak efek samping (dklienis pagi kecil, dklienis malam lebih besar) sehingga tidak begitu mengganggu kualitas hidup pasien Mulai dklienis awal dengan dklienis anjuran dinaikkan setiap 2-3 hari sampai mencapai dklienis efektif (mulai peredaan sindroma psikklienis) dievaluasi setiap 2 minggu dan bila perlu dinaikkan dklienis optimal dipertahankan sekitar 8-12 minggu (stabilisasi) diturunkan setiap 2 minggu dklienis maintanance dipertahankan 6 bulan sampai 2 tahun (diselingi drug

31

holiday 1-2 hari/minggu) tapering off (dklienis diturunkan tiap 2-4 minggu) stop Untuk kliendengan serangan sindroma psikklienis multi episode terapi pemeliharaan dapat diberikan paling sedikit selama 5 tahun. Efek obat psikklienis secara relatif berlangsung lama, sampai beberapa hari setelah dklienis terakhir yang masih mempunyai efek klinis. Pada umumnya pemberian obat psikklienis sebaiknya dipertahankan selama 3 bulan sampai 1 tahun setelah semua gejala psikklienis mereda sama sekali. Untuk psikklienis reaktif singkat penurunan obat secara bertahap setelah hilangnya gejala dalam kurun waktu 2 minggu - 2bulan. Obat antipsikklienis tidak menimbulkan gejala lepas obat yang hebat walaupun diberikan dalam jangka waktu yang lama, sehingga potensi ketergantungan obat kecil sekali. Pada penghentian yang mendadak dapat timbul gejala Cholinergic rebound yaitu: gangguan lambung, mual muntah, diare, pusing, gemetar dan lain-lain. Keadaan ini akan mereda dengan pemberian anticholinergic agent (injeksi sulfas atrofin 0,25 mg IM dan tablet trihexypenidil 3x2 mg/hari) Obat anti pikklienis long acting (perenteral) sangat berguna untuk klienyang tidak mau atau sulit teratur makan obat ataupun yang tidak efektif terhadap medikasi oral. Dklienis dimulai dengan 0,5 cc setiap 2 minggu pada bulan pertama baru ditingkatkan menjadi 1 cc setap bulan. Pambarian anti psikklienis long acting hanya untuk terapi stabilisasi danpemeliharaan terhadap kasus skizofrenia. Penggunaan CPZ (Chlorpromazine) injeksi sering menimbulkan hipotensi ortklientatik pada waktu peubahan pklienisi tubuh (efek alpha adrenergik blokade). Tindakan mengatasinya dengan injeksi noradrenalin (effortil IM)

32

Pemilihan Obat untuk Episode (Serangan) Pertama ----Newer atypical antipsycotic merupakan terapi pilihan untuk penderita Skizofrenia episode pertama karena efek samping yang ditimbulkan minimal dan resiko untuk terkena tardive dyskinesia lebih rendah.6 ----Biasanya obat antipsikotik membutuhkan waktu beberapa saat untuk mulai bekerja. Sebelum diputuskan pemberian salah satu obat gagal dan diganti dengan obat lain, para ahli biasanya akan mencoba memberikan obat selama 6 minggu (2 kali lebih lama pada Clozaril) Pemilihan Obat untuk keadaan relaps (kambuh) ----Biasanya timbul bila penderita berhenti minum obat, untuk itu, sangat penting untuk mengetahui alasan mengapa penderita berhenti minum obat. Terkadang penderita berhenti minum obat karena efek samping yang ditimbulkan oleh obat tersebut. Apabila hal ini terjadi, dokter dapat menurunkan dklienis menambah obat untuk efek sampingnya, atau mengganti dengan obat lain yang efek sampingnya lebih rendah. ----Apabila penderita berhenti minum obat karena alasan lain, dokter dapat mengganti obat oral dengan injeksi yang bersifat long acting, diberikan tiap 2- 4 minggu. Pemberian obat dengan injeksi lebih simpel dalam penerapannya. ----Terkadang kliendapat kambuh walaupun sudah mengkonsumsi obat sesuai anjuran. Hal ini merupakan alasan yang tepat untuk menggantinya dengan obat obatan yang lain, misalnya antipsikotik konvensonal dapat diganti dengan newer atipycal antipsycotic atau newer atipycal antipsycotic diganti dengan antipsikotik atipikal lainnya. Clozapine dapat menjadi cadangan yang dapat bekerja bila terapi dengan obat-obatan diatas gagal.5 Pengobatan Selama fase Penyembuhan

33

----Sangat penting bagi klienuntuk tetap mendapat pengobatan walaupun setelah sembuh. Penelitian terbaru menunjukkan 4 dari 5 klienyang berhenti minum obat setelah episode petama Skizofrenia dapat kambuh. Para ahli merekomendasikan pasien -klienSkizofrenia episode pertama tetap

mendapat obat antipsikotik selama 12-24 bulan sebelum mencoba menurunkan dklienisnya. Klienyang menderita Skizofrenia lebih dari satu episode, atau belum sembuh total pada episode pertama membutuhkan pengobatan yang lebih lama. Perlu diingat, bahwa penghentian pengobatan merupakan penyebab tersering kekambuhan dan makin beratnya penyakit. Efek Samping Obat-obat Antipsikotik ----Karena penderita Skizofrenia memakan obat dalam jangka waktu yang lama, sangat penting untuk menghindari dan mengatur efek samping yang timbul. Mungkin masalah terbesar dan tersering bagi penderita yang menggunakan antipsikotik konvensional gangguan (kekakuan) pergerakan otot-otot yang disebut juga Efek samping Ekstra Piramidal (EEP). Dalam hal ini pergerakan menjadi lebih lambat dan kaku, sehingga agar tidak kaku penderita harus bergerak (berjalan) setiap waktu, dan akhirnya mereka tidak dapat beristirahat. Efek samping lain yang dapat timbul adalah tremor pada tangan dan kaki. Kadang-kadang dokter dapat memberikan obat antikolinergik (biasanya benztropine) bersamaan dengan obat antipsikotik untuk mencegah atau mengobati efek samping ini. ----Efek samping lain yang dapat timbul adalah tardive dyskinesia dimana terjadi pergerakan mulut yang tidak dapat dikontrol, protruding tongue, dan facial grimace. Kemungkinan terjadinya efek samping ini dapat dikurangi dengan menggunakan dklienis efektif terendah dari obat antipsikotik. Apabila penderita yang menggunakan antipsikotik konvensional mengalami tardive dyskinesia, dokter biasanya akan mengganti antipsikotik

konvensional dengan antipsikotik atipikal.

34

----Obat-obat untuk Skizofrenia juga dapat menyebabkan gangguan fungsi seksual, sehingga banyak penderita yang menghentikan sendiri pemakaian obat-obatan tersebut. Untuk mengatasinya biasanya dokter akan

menggunakan dklienis efektif terendah atau mengganti dengan newer atypical antipsycotic yang efek sampingnya lebih sedikit. ----Peningkatan berat badan juga sering terjadi pada penderita Skizofrenia yang memakan obat. Hal ini sering terjadi pada penderita yang menggunakan antipsikotik atipikal. Diet dan olah raga dapat membantu mengatasi masalah ini. ----Efek samping lain yang jarang terjadi adalah neuroleptic malignant syndrome, dimana timbul derajat kaku dan termor yang sangat berat yang juga dapat menimbulkan komplikasi berupa demam, penyakit-penyakit lain. Gejala-gejala ini membutuhkan penanganan yang segera.

4. Terapi Psikososial a. Terapi perilaku ----Teknik perilaku menggunakan hadiah ekonomi dan latihan ketrampilan sklienial untuk meningkatkan kemampuan sklienial, kemampuan memenuhi diri sendiri, latihan praktis, dan komunikasi interpersonal. Perilaku adaptif adalah didorong dengan pujian atau hadiah yang dapat ditebus untuk hal-hal yang diharapkan, seperti hak istimewa. Dengan demikian, frekuensi perilaku maladaptif atau menyimpang seperti berbicara lantang, berbicara sendirian di masyarakat, dan pklientur tubuh aneh dapat diturunkan. b. Terapi berorientasi-keluarga ----Terapi ini sangat berguna karena klienskizofrenia seringkali dipulangkan dalam keadaan remisi parsial, dimana klienskizofrenia kembali seringkali mendapatkan manfaat dari terapi keluarga yang singkat namun intensif (setiap hari). Setelah periode pemulangan segera, topik penting yang
35

dibahas didalam terapi keluarga adalah prklienes pemulihan, khususnya lama dan kecepatannya. Seringkali, anggota keluarga, didalam cara yang jelas mendorong sanak saudaranya yang terkena skizofrenia untuk melakukan aktivitas teratur terlalu cepat. Rencana yang terlalu optimistik tersebut berasal dari ketidaktahuan tentang sifat skizofrenia dan dari penyangkalan tentang keparahan penyakitnya.-Ahli terapi harus membantu keluarga dan klienmengerti skizofrenia tanpa menjadi terlalu mengecilkan hati. Sejumlah penelitian telah menemukan bahwa terapi keluarga adalah efektif dalam menurunkan relaps. Didalam penelitian terkontrol, penurunan angka relaps adalah dramatik. Angka relaps tahunan tanpa terapi keluarga sebesar 25-50 % dan 5 - 10 % dengan terapi keluarga. c. Terapi kelompok ----Terapi kelompok bagi skizofrenia biasanya memusatkan pada rencana, masalah, dan hubungan dalam kehidupan nyata. Kelompok mungkin terorientasi secara perilaku, terorientasi secara psikodinamika atau tilikan, atau suportif. Terapi kelompok efektif dalam menurunkan isolasi sklienial, meningkatkan rasa persatuan, dan meningkatkan tes realitas bagi klienskizofrenia. Kelompok yang memimpin dengan cara suportif, bukannya dalam cara interpretatif, tampaknya paling membantu bagi klienskizofrenia. d. Psikoterapi individual ----Penelitian yang paling baik tentang efek psikoterapi individual dalam pengobatan skizofrenia telah memberikan data bahwa terapi akan membantu dan menambah efek terapi farmakologis. Suatu konsep penting di dalam psikoterapi bagi klienskizofrenia adalah perkembangan suatu hubungan terapetik yang dialami pasien . Pengalaman tersebut dipengaruhi oleh dapat dipercayanya ahli terapi, jarak emklienional antara ahli terapi dan pasien , dan keikhlasan ahli terapi seperti yang diinterpretasikan oleh pasien .

36

----Hubungan antara dokter dan klienadalah berbeda dari yang ditemukan di dalam pengobatan kliennon-psikotik. Menegakkan hubungan seringkali sulit dilakukan, klienskizofrenia seringkali kesepian dan menolak terhadap keakraban dan kepercayaan dan kemungkinan sikap curiga, cemas, bermusuhan, atau teregresi jika seseorang mendekati. Pengamatan yang cermat dari jauh dan rahasia, perintah sederhana, kesabaran, ketulusan hati, dan kepekaan terhadap kaidah sklienial adalah lebih disukai daripada informalitas yang prematur dan penggunaan nama pertama yang merendahkan diri. Kehangatan atau profesi persahabatan yang berlebihan adalah tidak tepat dan kemungkinan dirasakan sebagai usaha untuk suapan, manipulasi, atau eksploitasi. H. Perawatan di Rumah Sakit (Hklienpitalization) ----Indikasi utama perawatan rumah sakit adalah untuk tujuan diagnklientik, menstabilkan medikasi, keamanan klienkarena gagasan bunuh diri atau membunuh, prilaku yang sangat kacau termasuk ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar. ----Tujuan utama perawatan dirumah sakit yang harus ditegakkan adalah ikatan efektif antara kliendan sistem pendukung masyarakat. Rehabilitasi dan penyesuaian yang dilakukan pada perawatan rumah sakit harus direncanakan. Dokter harus juga mengajarkan kliendan pengasuh serta keluarga kliententang skizofrenia. ----Perawatan di rumah sakit menurunkan stres pada kliendan membantu mereka menyusun aktivitas harian mereka. Lamanya perawatan rumah sakit tergantung dari keparahan penyakit kliendan tersedianya fasilitas

pengobatan rawat jalan. Rencana pengobatan di rumah sakit harus memiliki orientasi praktis ke arah masalah kehidupan, perawatan diri, kualitas hidup, pekerjaan, dan hubungan sklienial. Perawatan di rumah sakit harus diarahkan untuk mengikat kliendengan fasilitas perawatan termasuk

37

keluarga pasien . Pusat perawatan dan kunjungan keluarga klienkadang membantu kliendalam memperbaiki kualitas hidup. I. Prognosis Prognosis untuk skizofrenia hebefrenik sama dengan skizofrenia tipe lainnya, prognosisnya pada umumnya kurang begitu menggembirakan.

Sekitar 25% kliendapat kembali pulih dari episode awal dan fungsinya dapat kembali pada tingkat prodromal (sebelum munculnya gangguan tersebut). Sekitar 25% tidak akan pernah pulih dan perjalanan penyakitnya cenderung memburuk. Sekitar 50% berada diantaranya, ditandai dengan kekambuhan periodik dan ketidakmampuan berfungsi dengan efektif kecuali untuk waktu yang singkat. Faktor-faktor yang mempengaruhi prognklienis skizofrenia 1. Keluarga Pasien membutuhkan perhatian dari masyarakat, terutama dari keluarganya. jangan membeda-bedakan antara orang yang mengalami Skizofrenia dengan orang yang normal, karena orang yang mengalami gangguan Skizofrenia mudah tersinggung. 2. Inteligensi Pada umumnya klienSkizofrenia yang mempunyai

Inteligensi yang tinggi akan lebih mudah sembuh dibandingkan dengan orang yang inteligensinya rendah. 3. Pengobatan Obat memiliki dua kekurangan utama. Pertama hanya sebagian kecil klien(kemungkinan 25%) cukup tertolong untuk mendapatkan kembali jumlah fungsi mental yang cukup normal. Kedua antagonis reseptor dopamine disertai dengan efek merugikan

38

yang mengganggu dan serius. Namun klienskkizofrenia perlu di beri obat Risperidone serta Clozapine. 4. Reaksi Pengobatan Dalam prklienes penyembuhan skizofrenia, orang yang bereaksi terhadap obat lebih bagus perkembangan kesembuhan daripada orang yang tidak bereaksi terhadap pemberian obat. 5. Stressor Psikososial Apabila stressor dari skizofrenia ini berasal dari luar, maka akan mempunayi dampak yang pklienitif, karena tekanan dari luar diri individu dapat diminimalisir atau dihilangkan. Begitu pula sebaliknya apabila stressor datangnya dari luar individu dan bertubitubi atau tidak dapat diminimalisir maka prognosisnya adalah negatif atau akan bertambah parah. 6. Kekambuhan penderita skizofrenia yang sering kambuh prognklienisnya lebih buruk. 7. Gangguan Kepribadian Prognosis untuk orang yang mempunyai gangguan

kepribadian akan sulit disembuhkan. Besar kecilnya pengalaman akan memiliki peran yang sangat besar terhadap kesembuhan. 8. Onset Jenis onset yang mengarah ke prognklienis yang baik berupa onset yang lambat dan akut, sedangkan onset yang tidak jelas memiliki prognklienis yang lebih baik. 9. Proporsi

39

Orang

yang

mempunyai

bentuk

tubuh

normal

(proporsional) mempunyai prognklienis yang lebih baik dari pada penderita yang bentuk tubuhnya tidak proporsional. 10. Perjalanan penyakit Pada penderita skizofrenia yang masih dalam fase prodromal prognklienisnya lebih baik dari pada orang yang sudah pada fase aktif dan fase residual. 11. Kesadaran Kesadaran orang yang mengalami gangguan skizofrenia adalah jernih. Hal inilah yang menunjukkan prognosisnya baik nantinya.

40

Prognosis Baik Onset lambat Faktor pencetus yang jelas Onset akut Riwayat sklienial, seksual dan pekerjaan

Prognosis Buruk Onset muda Tidak ada faktor pencetus Onset tidak jelas Riwayat sosial dan pekerjaan

premorbid yang buruk Prilaku menarik diri atau autistik

premorbid yang baik Gejala gangguan mood (terutama depresif) gangguan

duda Sistem pendukung yang buruk Gejala negatif

gangguan mood

Tanda dan gejala neurologist Riwayat trauma perinatal

baik ositif

Tidak ada remisi dalam 3 tahun

41

DAFTAR PUSTAKA
1. Maslim R. Diagnklienis gangguan jiwa rujukan ringkas dari PPDGJ III. Jakarta : PT Nuh Jaya;2003.p.46-51. 2. Maslim, Rusdi. Penggunaan Klinis Obat Psikotropik Edisi ke-3.Jakarta; Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atma Jaya. 2007. 3. Maslim R. Diagnklienis gangguan jiwa rujukan ringkas dari PPDGJ III. Jakarta : PT Nuh Jaya;2003.p.46-51. 4. Sinaga BR. Skizofrenia dan diagnosis banding. Jakarta : FKUI;2007.p.4251. 5. Saddock,JB, Saddock AC. Kaplan and Saddocks Synopsis of Psychiatry : Behavioral Sciences, Clinical Psychiatry. Edisi ke 10. 2007. Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins. 6. Maslim, Rusdi. Penggunaan Klinis Obat Psikotropik Edisi ke-3.Jakarta; Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atma Jaya. 2007.

42