Anda di halaman 1dari 33

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Usus besar adalah bagian dari sistim pencernaan (digestive system) dimana materi yang dibuang (sampah) disimpan. Rektum (rectum) adalah ujung dari usus besar dekat dubur (anus). Bersama, mereka membentuk suatu pipa panjang yang berotot yang disebut usus besar. Tumor-tumor usus besar dan rektum adalah pertumbuhan-pertumbuhan yang datangnya dari dinding dalam dari usus besar. Tumor-tumor ramah dari usus besar disebut polip-polip (polyps). Tumor-tumor ganas dari usus besar disebut kanker-kanker. Polip-polip ramah tidak menyerang jaringan yang berdekatan dengannya atau menyebar ke bagian-bagian lain tubuh. Polip-polip ramah dapat diangkat dengan mudah sewaktu colonoscopy dan adalah bukan ancaman nyawa. Jika polippolip ramah tidak diangkat dari usus besar, mereka dapat menjadi ganas (bersifat kanker) melalui waktu. Kebanyakan dari kanker-kanker usus besar dipercayai telah berkembang dari polip-polip. Kanker usus besar dan rektum, juga dirujuk sebagai kanker kolorektal ( colorectal cancer), dapat menyerang dan merusak jaringan-jaringan dan organ-organ yang

berdekatan. Sel-sel kanker juga dapat pecah dan keluar dan menyebar pada bagian-bagian lain tubuh (seperti hati dan paru-paru) dimana tumor-tumor baru terbentuk. Penyebaran kanker usus besar ke organ-organ yang terletak jauh darinya disebut metastasis dari kanker usus besar. Sekali metastasis telah terjadi pada kanker kolorektal (colorectal cancer), suatu penyembuhan yang penuh dari kanker adalah tidak mungkin. 1.2 Rumusan Masalah 1. 2. 3. 4. 5. Apa definisi dari ca colon ? Apa saja ethiologi dari ca colon ? Apa klasifikasi dari ca colon ? Bagaimana WOC dari ca colon ? Bagaimana patofisiologi dari ca colon ?

6. 7. 8. 9.

Bagaimana manifestasi klinis dari ca colon ? Apa saja pemeriksaan diagnostic yang dilakukan untuk ca colon ? Bagaimana penatalaksanaan untuk ca colon ? Bagaimana konsep asuhan keperawatan teori dari ca colon ?

1.3

Tujuan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Untuk mengetahui definisi dari ca colon Untuk mengetahui ethiologi dari ca colon Untuk mengetahui klasifikasi dari ca colon Untuk mengetahui WOC dari ca colon Untuk mengetahui patofisiologi dari ca colon Untuk mengetahui manifestasi klinis dari ca colon Untuk mengetahui pemeriksaan diagnostic yang dilakukan untuk penyakit ca colon 8. 9. Untuk mengetahui penatalaksanaan untuk penyakit ca colon Untuk mengetahui konsep asuhan keperawatan pasien dengan ca colon

BAB II TINJAUAN TEORI

2.1

Definisi

Neoplasma / Kanker adalah pertumbuhan baru (atau tumor) massa yang tidak normal akibat proliferasi sel-sel yang beradaptasi tanpa memiliki keuntungan dan tujuan. Neoplasma terbagi atas jinak atau ganas. Neoplasma ganas disebut juga sebagai kanker (cancer). (SylviaA Price, 2005).

Kanker kolorektal adalah tumbuhnya sel-sel ganas dalam tubuh di dalam permukaan usus besar atau rektum. Kebanyakan kanker usus besar berawal dari pertumbuhan sel yang tidak ganas biasa disebut adenoma yang dalam stadium awal membentuk polip (sel yang tumbuh sangat cepat). (www.republika.co.id).

Kanker usus besar atau disebut juga kanker kolorektal merupakan salah satu jenis kanker ganas yang tumbuh pada permukaan usus besar (kolon) atau anus (rectum). Kanker usus besar adalah kanker yang amat dipengaruhi lingkungan dan gaya hidup. (http://prodia.co.id).

Kanker kolon adalah polip jinak tetapi dapat menjadi ganas dan menyusup serta merusak jaringan normal dan meluas ke dalam struktur sekitar. Kanker dapat terlepas dari struktur primer dan menyebar ke bagian tubuh lain terutama hati.(http://duniailmukeperawatan.com). Dari beberapa pengertian diatas penulis menyimpulkan kanker kolon adalah tumbunhya sel-sel ganas di permukaan dalam usus besar (kolon) atau rektum. Lokasi tersering timbulnya kanker kolon adalah di bagian sekum, asendens, dan kolon sigmoid, salah satu penatalaksanaannya adalah dengan membuat kolostomi untuk mengeluarkan produksi faeces. Kanker colon adalah penyebab kedua kematian di Amerika Serikat setelah kanker paru-paru. Penyakit ini termasuk penyakit yang mematikan karena penyakit ini sering tidak diketahui sampai tingkat yang lebih

parah.Pembedahan adalah satu-satunya cara untuk mengubah kanker Colon.

2.2

Etiologi Penyebab dari pada kanker Colon tidak diketahui. Diet dan pengurangan waktu peredaran pada usus besar (Aliran depan feces) yang
4

meliputi faktor kausatif. Petunjuk pencegahan yang tepat dianjurkan oleh Amerika Cancer Society, The National Cancer Institute, dan organisasi kanker lainnya. Faktor resiko telah teridentifikasi. Faktor resiko untuk kanker kolon : a. Usia, umumnya kanker kolorektal menyerang lebih sering pada usia tua. Lebih dari 90 persen penyakit ini menimpa penderita di atas usia 50 tahun. Walaupun pada usia yang lebih muda dari 50 tahun pun dapat saja terkena. Sekitar 3% kanker ini menyerang penderita pada usia di bawah 40 tahun. b. Polip kolorektal, adalah pertumbuhan tumor pada dinding sebelah dalam usus besar dan rektum. Sering terjadi pada usia di atas 50 tahun. Kebanyakan polyp ini adalah tumor jinak, tetapi sebagian dapat berubah menjadi kanker. Menemukan dan mengangkat polyp ini dapat menurunkan risiko terjadinya kanker kolorektal. c. Riwayat kanker kolorektal pada keluarga, bila keluarga dekat yang terkena (orangtua, kakak, adik, atau anak), maka risiko untuk terkena kanker ini menjadi lebih besar, terutama bila keluarga yang terkena tersebut terserang kanker ini pada usia muda. d. Kelainan genetik, perubahan pada gen tertentu akan meningkatkan risiko terkena kanker kolorektal. Bentuk yang paling sering dari kelainan gen yang dapat menyebabkan kanker ini adalah hereditary nonpolyposis colon cancer (HNPCC), yang disebabkan adanya

perubahan pada gen HNPCC. Sekitar tiga dari empat penderita cacat gen HNPCC akan terkena kanker kolorektal, di mana usia yang tersering saat terdiagnosis adalah di atas usia 44 tahun. e. Pernah menderita penyakit sejenis, dapat terserang kembali dengan penyakit yang sama untuk kedua kalinya. Demikian pulawanita yang memiliki riwayat kanker indung telur, kanker rahim, kanker payudara memiliki risiko yang tinggi untuk terkena kanker ini. f. Radang usus besar, berupa colitis ulceratif atau penyakit Crohn yang menyebabkan inflamasi atau peradangan pada usus untuk jangka waktu lama, akan meningkatkan risiko terserang kanker kolorektal.

g.

Diet,

makanan

tinggi

lemak

(khususnya lemak

hewan)

dan

rendah kalsium, folat dan rendah serat, jarang makan sayuran dan buahbuahan, sering minum alkohol, akan meningkatkan risiko terkena kanker kolorektal. h. Merokok, dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker ini. Makanan-makanan yang pasti di jurigai mengandung zat-zat kimia yang menyebabkan kanker pada usus besar ( Tabel 56-1 ). Makanan tersebut juga mengurangi waktu peredaran pada perut,yang mempercepat usus besar menyebabkan terjadinya kanker. Makanan yang tinggi lemak terutama lemak hewan dari daging merah,menyebabkan sekresi asam dan bakteri anaerob, menyebabkan timbulnya kanker didalam usus besar. Daging yang di goreng dan di panggang juga dapat berisi zat-zat kimia yang menyebabkan kanker. Diet dengan karbohidrat murni yang mengandung serat dalam jumlah yang banyak dapat mengurangi waktu peredaran dalam usus besar. Beberapa kelompok menyarankan diet yang mengadung sedikit lemak hewan dan tinggi sayuran dan buah-buahan ( e.g Mormons,seventh Day Adventists ). Makanan yang harus dihindari : Daging merah Lemak hewan Makanan berlemak Daging dan ikan goreng atau panggang Karbohidrat yang disaring(example:sari yang disaring) Makanan yang harus dikonsumsi: Buah-buahan dan sayur-sayuran khususnya Craciferous Vegetables dari golongan kubis ( seperti brokoli,brussels sprouts ) Butir padi yang utuh Cairan yang cukup terutama air. Karena sebagian besar tumor Colon menghasilkan adenoma,faktor utama yang membahayakan terhadap kanker Colon menyebabkan adenoma. Ada tiga type adenoma Colon : tubular,villous dan tubulo villous ( akan di bahas pada polips ).Meskipun hampir besar kanker Colon berasal dari

adenoma,hanya 5% dari semua adenoma Colon menjadi manigna,villous adenoma mempunyai potensial tinggi untuk menjadi manigna. Faktor yang menyebabkan adanya adenoma benigna atau manigna tumor tidak diketahui poliposis yang bergerombol bersifat herediter yang tersebar pada gen autosom dominan. Ini di karakteristikkan pada permulaan adematus polip pada colon dan rektum. Resiko dari kanker pada tempat femiliar poliposis mendekati 100 % dari orang yang berusia 20 30 tahun. Orang-orang yang telah mempunyai ucerative colitis atau penyakit Crohns juga mempunyai resiko terhadap kanker Colon. Penambahan resiko pada permulaan usia muda dan tingkat yang lebih tinggi terhadap keterlibatan colon. Resiko dari kanker Colon akan menjadi 2/3 kali lebih besar jika anggota keluarga menderita penyakit tersebut.

2.3

Manifestasi Klinis

Pendarahana pada usus besar yang ditandai dengan ditemukannya darah pada feses saat buang air besar

Perubahan pada fungsi usus dengan gejala diare atau sembelit yang tidak jelas sebabnya, berlangsung lebih dari enam minggu.

Penurunan bera badan tanpa sebab yang jelas Rasa sakit di perut atau bagian belakang Perut masih terasa penuh, meskipun sudah buang air besar Rasa lelah yang terus-menerus.

Gejala sangat ditentukan oleh lokasi kanker, tahap penyakit, dan fungsi segmen usus tempat kanker berlokasi. Gejala paling menonjol adalah perubahan kebiasaan defekasi. Pasase darah dalam feses gejala paling umum kedua. Gejala dapat juga anemia yang tidak diketahui penyebabnya, anoreksi, atau penurunan berat badan dan keletihan. Gejala yang sering dihubungkan dengan lesi sebelah kanan adalah nyeri dangkal abdomen dan melena (feses hitam, seperti ter). Gejala yang sering dihubungkan dengan lesi sebelah kiri adalah yang berhubungan dengan obstruksi (nyeri abdomen dan kram, penipisan feses, konstipasi dan distensi) serta adanya darah merah segar dalam feses. Gejala yang dihubungakan dengan lesi rektal adalah evakuasi feses yang tidak lengkap setelah defekasi, konstipasi dan diare bergantian, serta feses berdarah.

2.4

Patofisiologi Penyebab jelas kanker usus besar belum diketahui secara pasti, namun makanan merupakan faktor yang penting dalam kejadian kanker tersebut. Yaitu berkorelasi dengan faktor makanan yang mengandung kolesterol dan lemak hewan tinggi, kadar serat yang rendah, serta adanya interaksi antara bakteri di dalam usus besar dengan asam empedu dan makanan, selain itu dapat juga dipengaruhi oleh minuman yang beralkohol, khususnya bir. Kanker kolon dan rektum terutama berjenis histopatologis (95%) adenokarsinoma (muncul dari lapisan epitel dalam usus = endotel). Munculnya tumor biasanya dimulai sebagai polip jinak, yang kemudian dapat menjadi ganas dan menyusup, serta merusak; jaringan normal dan meluas ke dalam struktur sekitarnya. Tumor dapat berupa masa polipoid, besar, tumbuh ke dalam lumen, dan dengan cepat meluas ke sekitar usus sebagai striktura annular (mirip cincin). Lesi annular lebih sering terjadi pada bagi rektosigmoid, sedangkan lesi polipoid yang datar lebih sering terjadi pada sekum dan kolon asendens.

WOC Kebiasaan makan diet rendah serat dan tinggi karbohidrat Perubahan flora feses pemekatan zat karsinogenik Kolitis Ulserativa Poliposis Familial

Karsinoma Kolon dan Rektum

Karsinoma kolon kanan dan rektum Karsinoma kolon kiri dan rektum lumen usus membesar dan feses masih perubahan defekasi nyeri encer

10

kembung diare lesi melingkar pada kolon kiri gangguan obstruksi feses kecil dan berbentuk seperti pita defekasi disertai pendarahan kronik anemia menyebar ke radiks saraf, pembuluh limfe, atau vena tekanan pada pada tungkai dan perineum hemoroid

kolon berisi cairan pendarahan intermitten saat defekasi anemia

11

nyeri bawah pinggang keinginan defekasi sering berkemih

Tumor dapat menyebar melalui : 1. Infiltrasi langsung ke struktur yang berdekatan, seperti ke dalam kandung kemih (vesika urinaria). 2. Penyebaran lewat pembuluh limfe limfogen ke kelenjar limfe perikolon dan mesokolon. 3. Melalui aliran darah, hematogen biasanya ke hati karena kolon mengalirkan darah balik ke sistem portal.

Stadium pada pasien kanker kolon menurut Syamsu Hidyat (1197) diantaranya: 1. Stadium I bila keberadaan sel-sel kanker masih sebatas pada lapisan dinding usus besar (lapisan mukosa). 2. Stadium II terjadi saat sel-sel kanker sudah masuk ke jaringan otot di bawah lapisan mukosa. 3. Pada stadium III sel kanker sudah menyebar ke sebagian kelenjar limfe yang banyak terdapat di sekitar usus. 4. Stadium IV terjadi saat sel-sel kanker sudah menyerang seluruh kelenjar limfe atau bahkan ke organ-organ lain.

2.5

Klasifikasi Klasifikai kanker kolon dapat ditentukan dengan sistem TNM (T = tumor, N = kelenjar getah bening regional, M =jarak metastese). T TO Tumor primer Tidak ada tumor

12

TI T2 T3 N N0 N1 N2 N3 M MO MI

Invasi hingga mukosa atau sub mukosa Invasi ke dinding otot Tumor menembus dinding otot Kelenjar limfa tidak ada metastase Metastasis ke kelenjar regional unilateral Metastasis ke kelenjar regional bilateral Metastasis multipel ekstensif ke kelenjar regional Metastasis jauh Tidak ada metastasis jauh Ada metastasis jauh

Karsinoma Colon sebagian besar menghasilkan adenomatus polip. Biasanya tumor ini tumbuh tidak terditeksi sampai gejala-gejala muncul secara berlahan dan tampak membahayakan. Penyakit ini menyebar dalam beberapa metode. Tumor mungkin menyebar dalam tempat tertentu pada lapisan dalam di perut,mencapai serosa dan mesenterik fat. Kemudian tumor mulai melekat pada organ yang ada disekitarnya,kemudian meluas kedalam lumen pada usus besar atau menyebar ke limpa atau pada sistem sirkulasi. Sistem sirkulasi ini langsung masuk dari tumor utama melewati pembuluh darah pada usus besar melalui limpa,setelah sel tumor masuk pada sistem sirkulasi,biasanya sel bergerak menuju liver. Tempat yang kedua adalah tempat yang jauh kemudian metastase ke paru-paru. Tempat metastase yang lain termasuk: - Kelenjar Adrenalin - Ginjal - Kulit - Tulang - Otak

Penambahan untuk infeksi secara langsung dan menyebar melalui limpa dan sistem sirkulasi,tumor colon juga dapat menyebar pada bagian

13

peritonial sebelum pembedahan tumor belum dilakukan. Penyebaran terjadi ketika tumor dihilangkan dan sel kanker dari tumor pecah menuju ke rongga peritonial.

2.6

Deteksi Dini Deteksi dini berupa skrining untuk mengetahui kanker kolorektal sebelum timbul gejala dapat membantu dokter menemukan polyp dan kanker pada stadium dini. Bila polyp ditemukan dan segera diangkat, maka akan dapat mencegah terjadinya kanker kolorektal. Begitu juga pengobatan pada kanker kolorektal akan lebih efektif bila dilakukan pada stadium dini. Untuk menemukan polyp atau kanker kolorektal dianjurkan melakukan deteksi dini atau skrining pada orang di atas usia 50 tahun, atau di bawah usia 50 tahun namun memiliki faktor risiko yang tinggi untuk terkena kanker kolorektal seperti yang sudah disebutkan di atas. Tes skrining yang diperlukan adalah

Fecal occult blood test (FOBT), kanker maupun polyp dapat menyebabkan pendarahan dan FOBT dapat mendeteksi adanya darah pada tinja. FOBT ini adalah tes untuk memeriksa tinja. Bila tes ini mendeteksi adanya darah, harus dicari dari mana sumber darah tersebut, apakah dari rektum, kolon atau bagian usus lainnya dengan pemeriksaan yang lain. Penyakit wasir juga dapat menyebabkan adanya darah dalam tinja.

Sigmoidoscopy, adalah suatu pemeriksaan dengan suatu alat berupa kabel seperti kabel kopling yang di ujungnya ada alat petunjuk yang ada cahaya dan bisa diteropong. Alatnya disebut sigmoidoscope, sedangkan pemeriksaannya disebut sigmoidoscopy. Alat ini dimasukkan melalui lubang dubur ke dalam rektum sampai kolon sigmoid, sehingga dinding dalam rektum dan kolon sigmoid dapat dilihat. Bila ditemukan adanya polyp, dapat sekalian diangkat. Bila ada masa tumor yang dicurigai kanker, dilakukan biopsi, kemudian diperiksakan ke bagian patologi anatomi untuk menentukan ganas tidaknya dan jenis keganasannya.

14

Colonoscopy, sama seperti sigmoidoscopy, namun menggunakan kabel yang lebih panjang, sehingga seluruh rektum dan usus besar dapat diteropong dan diperiksa. Alat yang digunakan adalah colonoscope.

Double-contrast barium enema, adalah pemeriksaan radiologi dengan sinar rontgen (sinar X ) pada kolon dan rektum. Penderita diberikan enema dengan larutan barium dan udara yang dipompakan ke dalam rektum. Kemudian difoto. Seluruh lapisan dinding dalam kolon dapat dilihat apakah normal atau ada kelainan.

Colok dubur, adalah pemeriksaan yang sangat sederhana dan dapat dilakukan oleh semua dokter, yaitu dengan memasukkan jari yang sudah dilapisi sarung tangan dan zat lubrikasi ke dalam dubur kemudian memeriksa bagian dalam rektum. Merupakan pemeriksaan yang rutin dilakukan. Bila ada tumor di rektum akan teraba dan diketahui dengan pemeriksaan ini.

2.7

Komplikasi Komplikasi pada pasien dengan kanker kolon yaitu: 1. Pertumbuhan tumor dapat menyebabkan obstruksi usus parsial atau lengkap. 2. Metastase ke organ sekitar, melalui hematogen, limfogen dan penyebaran langsung. 3. Pertumbuhan dan ulserasi dapat juga menyerang pembuluh darah sekitar kolon yang menyebabkan hemorragi. 4. 5. 6. Perforasi usus dapat terjadi dan mengakibatkan pembentukan abses. Peritonitis dan atau sepsis dapat menimbulkan syok. Pembentukan abses Pembentukan fistula pada urinari bladder atau vagina. Biasanya tumor menyerang pembuluh darah dan sekitarnya yang menyebabkan pendarahan. Tumor tumbuh kedalam usus besar dan secara berangsurangsur membantu usus besar dan pada akirnya tidak bisa sama sekali. Perluasan tumor melebihi perut dan mungkin menekan pada organ yang

15

berada disekitanya ( Uterus, urinary bladder,dan ureter ) dan penyebab gejala-gejala tersebut tertutupi oleh kanker.

2.8

Pencegahan Pencegahan Kanker Kolon : 1. Konsumsi makanan berserat. Untuk memperlancar buang air besar dan menurunkan derajat keasaman, kosentrasi asam lemak, asam empedu, dan besi dalam usus besar. 2. 3. Asam lemak omega-3, yang terdapat dalam ikan tertentu. Kosentrasi kalium, vitamin A, C, D, dan E dan betakarotin yang dapat membantu memperkuat kerja sistem imun. 4. 5. Susu yang mengandung lactobacillus acidophilus. Berolahraga dan banyak bergerak sehingga semakin mudah dan teratur untuk buang air besar. 6. 7. Hidup rileks dan kurangi stress. Hindari makanan yang mengandung tinggi lemak, protein, kalori, serta daging merah. Jangan melupakan konsumsi kalsium dan asam folat. 8. 9. Makan buah dan sayuran setiap hari. Pertahankan IMT (Indeks Massa Tubuh)

10. Lakukan aktivitas fisik 11. Hindari kebiasaan merokok

2.8

Penatalaksanaan a) Penatalaksanaan medis Pasien dengan gejala obstruksi usus diobati dengan cairan IV dan pengisapan nasogastrik. Apabila terjadi perdarahan yang cukup bermakna terapi komponen darah dapat diberikan.

Pengobatan medis untuk kanker kolorektal paling sering dalam bentuk pendukung atau terapi ajufan. Terapi ajufan biasanya diberikan selain pengobatan bedah. Pilihan mencakup kemoterapi, terapi radiasi dan atau imunoterapi.

16

Kemoterapi

yang

diberikan

ialah

5-flurourasil

(5-FU).

Belakangan ini sering dikombinasi dengan leukovorin yang dapat meningkatkan efektifitas terapi. Bahkan ada yang memberikan 3 macam kombinasi yaitu: 5-FU, levamisol, dan leuvocorin. Dari hasil penelitian, setelah dilakukan pembedahan sebaiknya dilakukan radiasi dan kemoterapi

b) Penatalaksanaan bedah Pembedahan adalah tindakan primer untuk kebanyakan kanker kolon dan rektal, pembedahan dapat bersifat kuratif atau paliatif. Kanker yang terbatas pada satu sisi dapat diangkat dengan kolonoskop. Kolostomi laparoskopik dengan polipektomi merupakan suatu prosedur yang baru dikembangkan untuk meminimalkan luasnya pembedahan pada beberapa kasus. Laparoskop digunakan sebagai pedoman dalam membuat keputusan dikolon, massa tumor kemudian di eksisi. Reseksi usus diindikasikan untuk kebanyakan lesi kelas A dan semua kelas B serta lesi C. Pembedahan kadang dianjurkan untuk mengatasi kanker kolon kelas D. Tujuan pembedahan dalam situasi ini adalah paliatif. Apabila tumor sudah menyebar dan mencakup struktur vital sekitar, operasi tidak dapat dilakukan. Tipe pembedahan tergantung dari lokasi dan ukuran tumor. Prosedur pembedahan pilihan adalah sebagai berikut : Reseksi segmental dengan anastomosis (pengangkatan tumor dan porsi usus pada sisi pertumbuhan, pembuluh darah dan nodus limfatik) Reseksi abominoperineal dengan kolostomi sigmoid permanen (pengangkatan tumor dan porsi sigmoid dan semua rektum serta sfingter anal) Kolostomi sementara diikuti dengan reseksi segmental dan anastomosis serta reanastomosis lanjut dari kolostomi Kolostomi permanen atau iliostomy (untuk menyembuhkan lesi obstruksi yang tidak dapat direseksi)

17

c)

Difersi vekal untuk kanker kolon dan rektum Berkenaan dengan tehnik perbaikan melalui pembedahan, kolostomi dilakukan pada kurang dari sepertiga pasien kanker kolorektal. Kolostomi adalah pembuatan lubang (stoma) pada kolon secara bedah. Stoma ini dapat berfungsi sebagai difersi sementara atau permanen. Ini memungkinkan drainase atau evakuasi isi kolon keluar tubuh. Konsistensi drainase dihubungkan dengan penempatan

kolostomi yang ditentukan oleh lokasi tumor dan luasnya invasi pada jaringan sekitar.

d) Penatalaksanaan Keperawatan 1. 2. 3. 4. 5. Dukungan adaptasi dan kemandirian. Meningkatkan kenyamanan. Mempertahankan fungsi fisiologis optimal. Mencegah komplikasi. Memberikan informasi tentang proses/ kondisi penyakit, prognosis, dan kebutuhan pengobatan.

e). Penatalaksanaan Diet 1. Cukup mengkonsumsi serat, seperti sayur-sayuran dan buahbuahan. Serat dapat melancarkan pencemaan dan buang air besar sehingga berfungsi menghilangkan kotoran dan zat yang tidak berguna di usus, karena kotoran yang terlalu lama mengendap di usus akan menjadi racun yang memicu sel kanker. 2. Kacang-kacangan (lima porsi setiap hari)

3. Menghindari makanan yang mengandung lemak jenuh dan kolesterol tinggi terutama yang terdapat pada daging hewan. 4. Menghindari makanan yang diawetkan dan pewarna sintetik, karena hal tersebut dapat memicu sel karsinogen / sel kanker. 5. 6. Menghindari minuman beralkohol dan rokok yang berlebihan. Melaksanakan aktivitas fisik atau olahraga secara teratur.

18

2.9

Pemeriksaan penunjang 1. Endoskopi. Pemeriksaan endoskopi perlu dikerjakan, baik

sigmoidoskopi maupun kolonoskopi. Gambaran yang khas karsinoma atau ulkus akan dapat dilihat dengan jelas pada endoskopi, dan untuk menegakkan diagnosis perlu dilakukan biopsi. 2. Radiologi. Pemeriksaan radiologi yang dapat dikerjakan antara lain adalah : foto dada dan foto kolon (barium enema). Pemeriksaan dengan enema barium mungkin dapat memperjelas keadaan tumor dan mengidentifikasikan letaknya. Tes ini mungkin menggambarkan adanya kebuntuan pada isi perut, dimana terjadi pengurangan ukuran tumor pada lumen. Luka yang kecil kemungkinan tidak teridentifikasi dengan tes ini. Enema barium secara umum dilakukan setelah sigmoidoscopy dan colonoscopy. 3. Computer Tomografi (CT) membantu memperjelas adanya massa dan luas dari penyakit. Chest X-ray dan liver scan mungkin dapat menemukan tempat yang jauh yang sudah metastasis.

4.

Pemeriksaan foto dada berguna selain untuk melihat ada tidaknya metastasis kanker pada paru juga bisa digunakan untuk persiapan

19

tindakan pembedahan. Pada foto kolon dapat dapat terlihat suatu filling defect pada suatu tempat atau suatu striktura. 5. Ultrasonografi (USG). Pemeriksaan ini berguna untuk mendeteksi ada tidaknya metastasis kanker kelenjar getah bening di abdomen dan di hati. 6. Histopatologi/ Selain melakukan endoskopi sebaiknya dilakukan biopsi di beberapa tempat untuk pemeriksaan histopatologis guna menegakkan diagnosis. Gambaran histopatologi karsinoma kolorektal ialah

adenokarsinoma, dan perlu ditentukan differensiasi sel. 7. Laboratorium. Tidak ada petanda yang khas untuk karsinoma kolorektal, walaupun demikian setiap pasien yang mengalami perdarahan perlu diperiksa Hb. Tumor marker (petanda tumor) yang biasa dipakai adalah CEA. Kadar CEA lebih dari 5 mg/ ml biasanya ditemukan karsinoma kolorektal yang sudah lanjut. Berdasarkan penelitian, CEA tidak bisa digunakan untuk mendeteksi secara dini karsinoma kolorektal, sebab ditemukan titer lebih dari 5 mg/ml hanya pada sepertiga kasus stadium III. Pasien dengan buang air besar lendir berdarah, perlu diperiksa tinjanya secara bakteriologis terhadap shigella dan juga amoeba. 8. Scan (misalnya, MR1. CZ: gallium) dan ultrasound: Dilakukan untuk tujuan diagnostik, identifikasi metastatik, dan evaluasi respons pada pengobatan. 9. Biopsi (aspirasi, eksisi, jarum): Dilakukan untuk diagnostik banding dan menggambarkan pengobatan dan dapat dilakukan melalui sum-sum tulang, kulit, organ dan sebagainya. 9. Jumlah darah lengkap dengan diferensial dan trombosit: Dapat menunjukkan anemia, perubahan pada sel darah merah dan sel darah putih: trombosit meningkat atau berkurang. 10. Sinar X dada: Menyelidiki penyakit paru metastatik atau primer.

20

BAB III KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

3.1

PENGKAJIAN Anamnesa Tanggal MRS Tanggal Pengkajian No. Registrasi Diagnosa Medis : : : :

Pengumpulan Data 1. Identitas Nama Pasien Usia Jenis Kelamin Alamat Pendidikan Pekerjaan Agama : : : : : : :

2.

Status Kesehatan a. Keluhan utama Keluhan yang dirasa paling terasa dan paling menonjol. b. Riwayat penyakit sekarang Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah penyebab dari timbulnya penyakit yang diderita c. Riwayat peenyakit dahulu Perlu ditanyakan apakah klien pernah mengalami penyakit seperti ini atau pernah punya penyakit menular atau menurun. d. Riwayat penyakit keluarga

21

Perlu ditanyakan apakah ada keluarga yang pernah menderita penyakit seperti ini, penyakit keturunan (DM, HT). 3. Pola-pola fungsi kesehatan a. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat Perlu ditanyakan tentang kebiasaan oleh raga, merokok, peenggunaan alkohol atau penggunaan tembakau. b. Pola nutrisi dan metabolisme Perlu ditanyakan apakah mengalami gangguan penurunan nafsu makan, mual atau muntah. c. Pola eliminasi Perlu ditanyakan kebiasaan defekasi dan miksi berapa kali perhari. d. Pola istirahat tidur Bagaimana kebiasaan pola tidur dan istirahat, kebiasaan sebelum tidur, lama, keluhan atau masalah tidur. e. Pola aktifitas dan latihan Tidak terjadi keterbatasan aktivitas meskipun ada kekeruhan pada mata sebelah kanan. f. Pola persepsi dan konsep diri Perlu ditanyakan persepsi klien mengenai penyakit yang diderita. g. Pola sensori dan kognitif Perlu ditanyakan apakah klien mengalami nyeri pada daerah mata. h. Pola reproduksi seksual Bila klien sudah berkeluarga maka akam mengalami gangguan pola reproduksi seksual. Jika belum menikah (berkeluarga) maka tidak mengalami gangguan dalam pola reproduksi seksual. i. Pola hubungan dan peran Perlu ditanyakan bagaimana hubungan klien dengan keluarga, teman kerja dan orang lain. j. Pola penanggulangan stres

22

Bagaimana cara klien menangani stres dan penggunaan kopingnya. k. Pola tata nilai dan kepercayaan Perlu ditanyakan apakah klien masih menjalankan ibadah seperti biasanya.

4.

Pemeriksaan fisik. a. Keadaan umum Meliputi kesadaran klien, keadaan klien secara umum, tingkat nyeri, GCSnya, tanda-tanda vital. b. Sistem respirasi Ada tidaknya sesak nafas, frekuensi nafas, pola nafas. c. Sistem kardiovaskuler Tanda-tanda vital, perfusi jaringan. d. Sistem genitourinaria Produksi urine, warna, bau, terpasang kateter apa tidak. e. Sistem gastrointestinal Bagaimana nafsu makannya, ada tidaknya distensi abdomen, jenis diit yang diberikan. f. Sistem muskuloskeletal Ada tidaknya kekakuan sendi, kelemahan otot, keterbatasan gerak, ada tidaknya atropi. g. Sistem endokrin Ada tidaknya pembesaran kelenjar tyroid dan limfe. h. Sistem persyarafan Ada tidaknya hemiplegi, paraplegi, refleks patella.

3.2

DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa keperawatan adalah suatu penyatuan dari masalah pasien yang nyata maupun potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan. Adapun diagnosa keperawatan yang dapat diambil dari kasus karsinoma kolon adalah sebagai berikut :

23

1.

Nyeri berhubungan dengan iritasi, tekanan, dan sensitifitas pada area rektal

2. 3.

Risiko infeksi berhubungn dengan perdarahan tonjolan CA. Kurang pengetahuan tentang penyakit, perawata,pengobatannya

berhubungan dengan kurang paparan terhadap informasi, keterbatasan kognitif 4. Sindrom defisit self care berhubungan dengan kelemahan, nyeri, penyakitnya 5. Konstipasi berhubungan dengan penurunan asupan cairan dan serat, kelemahan otot abdomen sekunder akibat mekanisme kanker kolon

3.3

INTERVENSI No 1 Diagnosa Nyeri b/d iritasi, tekanan, dan sensitifitas pada area rektal NOC Pain level Pain control Comfort level NIC Manajemen nyeri : Kaji nyeri secara

komprehensif termasuk lokasi,

Kriteria hasil : mampu mengontrol nyeri (tahu nyeri, penyebab mampu

karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas

dan faktor presipitasi. Observasi nonverbal reaksi dari

menggunakan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, bantuan ) melaporkan bahwa nyeri mencari

ketidak nyamanan. Gunakan komunikasi terapeutik mengetahui pengalaman nyeri untuk teknik

klien sebelumnya. Berikan lingkungan

berkurang dengan

yang tenang

24

menggunakan menagement nyeri mampu mengenali nyeri

Ajarkan teknik non farmakologis (relaksasi, distraksi

dll) untuk mengetasi nyeri. Berikan untuk nyeri. Evaluasi pengurang nyeri/kontrol nyeri. Monitor penerimaan klien tentang tindakan analgetik mengurangi

(skala, intensitas, frekuensi, tanda nyeri) menyatakan rasa nyaman setelah dan

nyeri berkurang

manajemen nyeri

Administrasi analgetik Cek pemberian analogetik; jenis, program

dosis, dan frekuensi. Cek riwayat alergi. Monitor V/S Berikan analgetik

tepat waktu terutama saat nyeri muncul. Evaluasi efektifitas

analgetik, tanda dan gejala efek samping.

25

Risiko infeksi berhubungn dengan perdarahan tonjolan CA.

Immune Status Knwoladge Risk control :

Kontrol infeksi : Bersihkan lingkungan setelah

infection control

dipakai pasien lain. Batasi bila pengunjung perlu dan

Kriteria hasil : Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi Mediskripsikan proses penyakit, yang mempengaruhi penularan serta penularan faktor

anjurkan u/ istirahat yang cukup Anjurkan untuk cuci keluarga tangan

sebelum dan setelah kontak dengan klien. Gunakan sabun anti microba untuk

mencuci tangan. Lakukan cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan keperawatan. Gunakan baju dan sarung sebagai pelindung. Pertahankan lingkungan aseptik yang selama tangan alat

penatalaksanaanny a Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi Jumlah leukosit

dalam batas normal menunjukkan perilaku sehat hidup

pemasangan alat. Lakukan luka dan perawatan dresing

infus,DC setiap hari. Tingkatkan intake

nutrisi. Dan cairan

26

yang adekuat berikan antibiotik

sesuai program.

Proteksi terhadap infeksi Monitor tanda dan gejala infeksi

sistemik dan lokal. Monitor hitung

granulosit dan WBC. Monitor kerentanan

terhadap infeksi. Pertahankan aseptik tindakan. Inspeksi mebran kulit dan teknik setiap

mukosa

terhadap kemerahan, panas, drainase. Inspeksi keadaan

luka dan sekitarnya Monitor perubahan

tingkat energi. Dorong klien untuk meningkatkan mobilitas dan latihan. Instruksikan untuk antibiotik program. klien minum sesuai

27

Ajarkan keluarga/klien tentang gejala tanda dan

infeksi.dan

melaporkan kecurigaan infeksi.

Kurang pengetahuan tetang penyakit, perawata,pengobatannya b/d kurang paparan terhadap informasi, keterbatasan kognitif

Knowledge : disease process Knowledge : health behavior

Teaching : Dissease Process Kaji tingkat

pengetahuan klien dan keluarga tentang

Kriteria hasil : Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang

proses penyakit Jelaskan tentang

patofisiologi penyakit, tanda dan gejala serta penyebabnya Sediakan informasi

tentang kondisi klien Berikan informasi

tentang perkembangan klien Diskusikan perubahan gaya hidup yang

mungkin untuk komplikasi

diperlukan mencegah di masa

yang akan datang dan atau kontrol proses

penyakit Diskusikan tentang

28

dijelaskan perawat atau tim kesehatan lainnya

pilihan tentang terapi atau pengobatan Jelaskan dilaksanakannya tindakan atau terapi Gambarkan komplikasi mungkin terjadi Anjurkan klien untuk melaporkan tanda dan gejala yang muncul pada kesehatan petugas yang alasan

Sindrom defisit self care b/d kelemahan, nyeri, penyakitnya

Self care Management

Bantuan perawatan diri Monitor kemampuan pasien terhadap

Kriteria Hasil : Pasien melakukan aktivitas hari sehari(makan, dapat

perawatan diri Monitor akan kebutuhan personal

hygiene, berpakaian, toileting dan makan Beri bantuan sampai klien mempunyai untuk

berpakaian, kebersihan, toileting, ambulasi) Kebersihan diri

kemapuan merawat diri

Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

pasien terpenuhi

Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas

29

sehari-hari

sesuai

kemampuannya Pertahankan aktivitas perawatan diri secara rutin Evaluasi kemampuan klien dalam

memenuhi kebutuhan sehari-hari. Berikan reinforcement positip atas usaha yang dalam

dilakukan melakukan perawatan hari. Bowel Elimination

sehari

5.

Konstipasi b/d

Constipation/Impaction Management Monitot tanda dan

mengabaikan dorongan Hydration untuk defekasi akibat nyeri selama eliminasi Kriteria Hasil : 1. Mempertahankan bentuk feses lunak setiap 1-3 hari 2. Bebas dari ketidaknyaman dan konstipasi 3. Mengidentifikasi indikator untuk mencegah konstipasi

gejala konstipasi Monitor bising usus Monitor Fkrekuensi, konsistensi volume Konsultasi dokter penurunan peningkatan usus Monitor tanda dan dengan tentang dan bising dan feses :

30

gejala Jelaskan tindakan pasien

ruptur

usus

atau peritonitis etiologi terhadap

Identifikasi prnyebab

faktor dan

kontribusi konstipasi Dukung intake cairan Kolaborasikan pemberian laksatif

3.4

PENATALAKSANAAN Tahap pelaksanaan adalah merupakan perwujudan dari rencana tindakan yang telah disusun sebelumnya pada tahap perencanaan untuk mengatasi klien secara optimal.

3.5

EVALUASI Evaluasi adalah perbandingan yang sistematik dan terencana tentang keresahan klien dengan berdasar tujuan yang telah ditetapkan. Dalamevaluasi tujuan tersebut terdapat 3 alternatif yaitu : - Tujuan tercapai : Pasien menunjukkan perubahan dengan standart yang telah ditetapkan. - Tujuan tercapai sebagian : Pasien menunjukkan perubahan sebagai sebagian sesuai dengan standart yang telah ditetapkan. - Tujuan tidak tercapai : Pasien tidak menunjukkan perubahan dan kemajuan sama sekali.

31

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Kanker colorectal berasal dari jaringan kolon (bagian terpanjang di usus besar) atau jaringan rektum (beberapa inci terakhir di usus besar sebelum anus). Sebagian besar colorectal cancer adalah adenocarcinoma (kanker yang dimulai di sel-sel yang membuat serta melepaskan lendir dan cairan lainnya). Etiologi dari colorectal cancer yaitu terdiri atas faktor resiko dan faktor predisposisi. Faktor risiko terdiri dari usia, riwayat kanker pribadi, riwayat kanker colorectal pada keluarga, riwayat penyakit usus inflamasi kronis, riwayat penyakit polip di usus, dan riwayat penyakit crohn. Sedangkan faktor predisposisinya terdiri dari merokok, pola makan yang tidak sehat (tinggi lemak dan rendah serat), kontak dengan zat-zat kimia, minuman beralkohol, obesitas, dan bekerja sambil duduk seharian. Asuhan keperawatan yang tepat akan menentukan keberhasilan perawtan klien dengan colorectal cancer. 4.2 Saran Diharapakan kepada tenaga kesehatan khususnya keperawatan dapat memberikan pendidikan kesehatan tentang pengenalan, pencegahan dan perawatan pasien kanker kolonoraktal dirumah sakit melalui pasien dan keluarga maupun dimasyarakat. Agar masalah keperawatan pada pasien kanker kolonoraktal dapat teratasi dengan baik, hendaknya para perawat menerapkan asuhan keperawatan dirumah sakit sesuai dengan sistematika proses keperawatan. Untuk mempercepat proses penyembuhan pada pasien kanker kolonorektal, hendaknya memperhatikan prosedur pelaksanaan tindakan

32

DAFTAR PUSTAKA Doengoes, Marilynn, dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3, alih bahasa : I Made Kariasa dan Ni Made S, EGC: Jakarta Elizabeth, J. Corwin.2009.Buku saku patofisiologi. Jakarta : buku kedokteran Mansjoer, Arif, dkk. 2011. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Jakarta : Media Aesculapius. http://wikipedia.com diakses tanggal 08 November 2013 http://republika.co.id diakses tanggal 10 November 2013 http://prodia.co.id diakses tanggal 09 November 2013 http://duniailmukeperawatan.com diakses tanggal 10 November 2013

33