Anda di halaman 1dari 17

I.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Eritroderma adalah kelainan kulit yang ditandai adanya eritema universalis (90-100%) dan biasanya disertai skuama. Pada definisi tersebut yang mutlak harus ada adalah eritema, sedangkan skuama tidak selalu terdapat, pada mulanya tidak disertai skuama, baru kemudian pada stadium penyembuhan timbul skuama dan hiperpigmentasi. Dermatitis eksfoliativa dianggap sebagai sinonim dengan eritroderma meskipun sebenarnya mempunyai pengertian yang agak berbeda. Pada dermatitis eksfoliativa skuamanya berlapis-lapis. Eritroderma dijelaskan sebagai dilatasi yang menyebar dari pembuluh darah kutaneus. Apabila proses inflamasi disetai dengan eritroderma secara substansial akan meningkatkan proliferasi sel epidermal dan mengurangi waktu transit sel melalui epidermis yang menimbulkan sisik bertanda (Djuanda, 2007).

B. Etiologi dan klasifikasi Eritroderma dapat disebabkan oleh akibat alergi obat secara sistemik, perluasan penyakit kulit, penyakit sistemik termasuk keganasan. Penyakit kulit dapat menimbulkan eritroderma diantaranya adalah psoriasis 23%, dermatitis spongiotik 20%, alergi obat 15%, CTCL atau syndrome sezary 5%. 1) Eritroderma yang disebabkan oleh alergi obat biasanya secara sistemik. Keadaan ini banyak ditemukan pada dewasa muda (Djuanda, 2007). Obat yang dapat menyebabkan eritroderma adalah arsenik organik, emas, merkuri (jarang), penisilin, barbiturat. Pada beberapa masyarakat, eritroderma mungkin lebih tinggi karena pengobatan sendiri dan pengobatan secara tradisional (Kurniawan, 2007). Waktu mulainya obat ke dalam tubuh hingga timbul penyakit bervariasi dapat segera sampai dua minggu. Bila ada obat lebih dari satu yang masuk kedalam badan yang disangka sebagai penyebabnya adalah obat yang paling sering menyebabkan alergi (Virendra N. Sehgal, 2004). 2) Eritroderma yang disebabkan oleh perluasan penyakit kulit Eritroderma et causa psoriasis, merupakan eritroderma yang paling banyak ditemukan dan dapat disebabkan oleh penyakit psoriasis maupun akibat

pengobatan psoriasis yang terlalu kuat misalnya pengobatan topical dengan ter dengan konsentrasi yang terlalu tinggi (Virendra N. Sehgal, 2004). Dermatitis seboroik pada bayi juga dapat menyebabkan eritroderma yang juga dikenal penyakit Leiner. Etiologinya belum diketahui pasti. Usia penderita berkisar 4-20 minggu. Ptyriasis rubra pilaris yang berlangsung selama beberapa minggu dapat pula menjadi eritroderma. Selain itu yang dapat menyebabkan eritroderma adalah pemfigus foliaseus, dermatitis atopik dan liken planus (Djuanda, 2007). 3) Eritroderma akibat penyakit sistemik termasuk keganasan Berbagai penyakit atau kelainan alat dalam termasuk infeksi fokal dapat memberi kelainan kulit berupa eritroderma. Jadi setiap kasus eritroderma yang tidak termasuk akibat alergi obat dan akibat perluasan penyakit kulit harus dicari penyebabnya, yang berarti perlu pemeriksaan menyeluruh (termasuk pemeriksaan laboratorium dan sinar X toraks), untuk melihat adanya infeksi penyakit pada alat dalam dan infeksi fokal. Ada kalanya terdapat leukositosis namun tidak ditemukan penyebabnya, jadi terdapat infeksi bakterial yang tersembunyi (occult infection) yang perlu diobati (Djuanda, 2007). Tabel 1. Proses yang Berkaitan dengan timbulnya Eritroderma
Penyakit Kulit Dermatitis atopik Dermatitis kontak Dematofitosis Penyakit Leiner Liken Planus Mikosis fungoides Pemfigus foliaceus Pitriasis rubra Psoriasis Sindrom reiter Dermatitis seboroik Dermatitis statis Penyakit Sistemik Mikosis fungoides Penyakit hodgin Limfoma Leukemia akut dan kronis Multiple mieloma Karsinoma Paru Karsinoma rektum Karsinoma tuba falopii Dermatitis Papuloskuamosa AIDS pada Obat-obatan Sulfonamid Antimalaria Penisilin Sefalosporin Arsen Merkuri Barbiturat Aspirin Kodein

4) Eritroderma yang tidak diketahui penyebabnya Eritroderma yang tidak diketahui penyebabnya ini yakni sekitar 5-10% dari semua kasus eritroderma. Sebagian para penderita eritroderma yang mulamula tidak diketahui penyebabnya ini kemudian berkembang menjadi sindrom Sezary (Okoduwa, et al., 2009).

Tabel 2. Penyebab Eritroderma pada dewasa.

C. Patofisiologi Patofisiologi terjadinya eritroderma belum diketahui dengan jelas, yang jelas dapat diketahui adalah akibat suatu agent dalam tubuh, maka tubuh bereaksi berupa pelebaran pembuluh darah kapiler (eritema) yang universal. Kemungkinan berbagai sitokin yang berperan (Harahap, 2000). Eritema berarti terjadi pelebaran pembuluh darah yang menyebabkan aliran darah kekulit meningkat sehingga kehilangan panas bertambah. Akibatnya penderita merasa dingin dan menggigil. Pada eritroderma kronis dapat terjadi gagal jantung. Juga dapat terjadi hipotermia akibat peningkatan perfusi kulit. Penguapan cairan yang makin meningkat dapat menyebabkan dehidrasi. Bila suhu badan meningkat, kehilangan panas juga meningkat sehingga pengaturan suhu terganggu. Kehilangan panas menyebabkan hipermetabolisme kompensator dan

peningkatan laju metabolisme basal. Kehilangan cairan oleh transpirasi meningkat sebanding dengan laju metabolisme basal (Djuanda, 2007). Kehilangan skuama dapat mencapai 9 gram/m permukaan kulit atau lebih sehari sehingga menyebabkan kehilangan protein. Hipoproteinemia dengan berkurangnya albumin dan peningkatan relatif globulin terutama globulin merupakan kelainan khas. Edema sering terjadi, kemungkinan disebabkan oleh pergeseran cairan ke ruang ekstravaskuler. Eritroderma akut dan kronis dapat mengganggu mitosis rambut dan kuku berupa kerontokan rambut difus dan kehilangan kuku. Pada eritroderma yang telah berlangsung berbulan-bulan dapat terjadi perburukan keadaan umum yang progresif (Harahap, 2000).

D. Gejala klinis Gambaran klinis eritroderma beraneka ragam dan bervariasi tiap individu. Kelainan yang paling pertama muncul adalah eritema, yang disebabkan oleh pembuluh darah, yang umumnya terjadi pada area genitalia, ekstrimitas, atau kepala. Eritem ini akan meluas sehingga dalam beberapa hari atau minggu seluruh permukaan kulit akan terkena, yang akan menunjukkan gambaran yang disebut red man syndrome (Fitzpatrick et all., 1996). Skuama muncul setelah eritema, biasanya setelah 2-6 hari. Skuama adalah lapisan stratum korneum yang terlepas dari kulit. Skuama berkonsistensi mulai dari halus sampai kasar. Ukuran skuama bervariasi; pada proses akut akan berukiran besar, sedangkan pada proses kronik akan berukuran kecil. Warna skuama yang bervariasi, mulai dari putih hingga kekuningan. Deskuamasi yang difus dimulai dari daerah lipatan, kemudian menyeluruh. Dapat juga mengenai membran mukosa, terutama yang disebabkan oleh obat. Bila kulit kepala sudah terkena, dapat terjadi alopesia, perubahan kuku, dan kuku dapat lepas. Pada eritroderma, skuama tidak selalu terdapat, misalnya eritroderma karena alergi obat sistemik, pada mulanya tidak disertai skuama, skuama timbul pada stadium penyembuhan timbul (Fitzpatrick et all., 1996). Kulit kepala dapat terlibat, yang akan meluas ke folikel rambut dan kuku. Kurang lebih 25% dari pasien mengalami alopesia, dan pada banyak kasus, kuku

akan mengalami kerapuhan sebelum lepas seluruhnya. Telapak tangan da kaki biasaya ikut terlibat, namun jarang mengenai membran mukosa. Sering terjadi pula bercak hiper dan hipopigmentasi. Pada eritroderma kronis, eritema tidak begitu jelas karena bercampur dengan hiperpigmentasi (Fitzpatrick et all., 1996). Epidermis berukuran tipis pada awal proses penyakit dan akan terlihat dan terasa tebal pada stadium lanjut. Kulit akan terasa kering dengan krusta yang berwarna kekuningan yang disebabkan serum yang mengering dan kemungkinan karena infeksi sekunder. Pada beberapa kasus, manifestasi klinis yang muncul pada eritroderma yang akut menyerupai nekrolisis epidermal toksik, walaupun secara patofisiologi sangat berbeda (Djuanda, 2007). Eritroderma akibat alergi obat biasanya secara sistemik sebelum muncul gejala klinis perlu dikaji ulang untuk menkonfirmasi penyebab terjadinya eritroderma akibat obat.Pada umumnya alergi ini timbul secara akut dalam waktu 10 hari. Dapat pula bervariasi mulai dari waktu masuknya obat ke dalam tubuh hingga timbul penyakit dapat segera sampai sampai 2 minggu. Gambaran klinisnya berupa eritema universal. Pada stadium akut tidak terdapat skuama, pada stadium penyembuhan baru timbul skuama (Djuanda, 2007). Eritroderma akibat penyakit kulit, penyakit sistemik dan obat-obatan sering dijumpai kelainan-kelainan yang mendasarinya yang membantu dalam menegakkan diagnosis. Sering ditemukan plak psoriasis yang masih tersisa, papul atau lesi oral likenplanus; gambaran pulau yang khas dari ptiriasis rubra; dan lesi papuler pada drug eruption (Fitzpatrick et all., 1996). Riwayat psoriasis yang bersifat kronik dan residif dapat menjadi salah satu penyebab terjadi eritroderma. Kelainan kulit berupa skuama yang berlapis-lapis dan kasar di atas kulit yang eritematosa, sirkumskripta Harahap, 2000). Umumnya didapati eritema yang tidak merata. Pada tempat predileksi psoriasis dapat ditemukan kelainan yang lebih eritematosa dan agak meninggi dari pada disekitarnya dan skuama ditempat itu lebih tebal. Kuku juga perlu dilihat, dicari apakah ada pitting nail berupa lekukan miliar, tanda ini hanya menyokong dan tidak patognomonis untuk psoriasis. Jika ragu-ragu, pada tempat yang meninggi tersebut dilakukan biosi untuk pemeriksaan histopatologik. Kadang-kadang biopsi sekali tidak cukup dan harus dilakukan beberapa kali (Umar, 2011). Penyakit Leiner atau eritroderma

deskuamativum ini biasanya terjadi pada penderita usia penderita antara 4 minggu sampai 20 minggu. Keadaan umum penderita baik, biasanya tanpa keluhan. Kelainan kulit berupa eritema universal disertai skuama yang kasar (Djuanda, 2007). Eritroderma akibat penyakit sistemik termasuk keganasan, berbagai penyakit atau kelainan alat dalam dapat menyebabkan kelainan kulit berupa eritroderma. Jadi setiap kasus eritroderma yang tidak termasuk golongan I dan II harus dicari penyebabnya, yang berarti harus diperiksa secara menyeluruh, apakah ada penyakit pada alat dalam dan harus dicari pula apakah ada infeksi dalam dan infeksi fokal. Termasuk di dalam golongan ini ialah sindrome Sezary (Harahap, 2000). Sindrome sezary termasuk penyakit limfoma, ada yang berpendapat merupakan stadium dini mikosis fungoides. Penyebabnya belum diketahui, diduga berhubungan dengan infeksi virus HTLV-V dan dimasukkan kedalam CTCL (Cutaneous T-Cell Lymphoma) (Okoduwa, et al., 2009). Yang diserang adalah orang dewasa, mulainya penyakit pada pria rata-rata berumur 64 tahun, sedangkan pada wanita 53 tahun. Sindrom ini ditandai dengan eritema berwarna merah membara yang universal disertai skuama dan rasa sangat gatal. Selain itu terdapat pula infiltrasi pada kulit dan edema. Pada sepertiga hingga setengah para penderita didapati splenomegali, limfadenopati superfisial, alopesia,

hiperpigmentasi, hiperkeratosis palmaris dan plantaris, serta kuku yang distrofik (Okoduwa, et al., 2009). E. Diagnosis Diagnosis agak sulit ditegakkan, harus melihat dari tanda dan gejala yang sudah ada sebelumnya misalnya, warna hitam-kemerahan di psoriasis dan di

pilaris rubra pityriasis; perubahan kuku khas psoriasis; likenifikasi, erosi, dan ekskoriasi di dermatitis atopik dan eksema; menyebar, relatif hiperkeratosis tanpa skuama, dan pityriasis rubra; ditandai bercak kulit dalam eritroderma di pilaris rubra pityriasis; hiperkeratotik skala besar kulit kepala, biasanya tanpa rambut rontok di psoriasis dan dengan rambut rontok di CTCL dan pityriasis rubra, ektropion mungkin terjadi. Dengan beberapa biopsi biasanya dapat menegakkan diagnosis (Djuanda, 2007).

F. Diagnosa Banding Ada beberapa diagnosis banding pada eritorderma (lihat tabel 3.)

Perbedaan Penyebab

Psoriasis Tidak diketahui, diduga autoimun

Dermatitis Seboroik

Pitiriasis Rosea

Dermatofitosis Golongan dermatofita

Sifilis stadium II

Peningkatan aktivitas Tidak diketahui kelenjar sebasea Lebih sering pada pria dewasa tubuh Pria = wanita, semua usia yang Dapat tersebar

jamur Treponema pallidum

Predisposisi

Pria lebih banyak, biasanya dewasa

Pria = wanita, semua usia

Pria = wanita, dewasa, bayi baru lahir

Predileksi

Kulit kepala, perbatasan Bagian daerah tersebut dengan banyak

di Dapat

tersebar

di Genitalia eksterna,

mengandung seluruh

tubuh bagian

tubuh sekitar anus, ketiak, sudut mulut, inferior mammae, dapat mengenai perut, punggung, tangan

muka, ekstrimitas bagian kelenjar sebasea: kulit terutama yang tertutup manapun ekstensor terutama siku kepala, dan lutut, kuku dan telinga, belakang pakaian alis mata,

daerah lumbosakral

cuping hidung, ketiak, dada, antarskapula,

suprapubis Efloresensi Makula eritematosa Makula eritematosaa Eritema bentuk Makula eritematosaa Bercak-bercak lentikular- dengan ditutupi disertai tepi papul aktif eritema dengan atau skuama berwarna

berbatas tegas, miliar- yang ditutupi papula lonjong, numular, ditutupi oleh miliar difus, skuama numular, skuama yang tebal, kasar, halus

putih skuama halus, sumbu vesikel, penyembuhan

berlapis-lapis, berwarna berminyak. putih

Kadang panjang lesi seesuai sentral, berbatas tegas, merah tembaga halus, jika

mengkilat, erosi dengan krusta dengan garis lipatan skuama

fenomena tetesan lilin, kekuningan Auspitz, Koebner

kulit, khas: lesi inisial berlangsung (herald medallion) patch= dijumpai

kronik

likenifikasi

soliter, atau hiperpigmentasi

bentuk oval, anular, diameter, jarang > 1 herald patch Manifestasi lain Kadang gatal Gatal Gatal, dapat didahului Gatal terutama jika Sering disertai demam gejala prodromal berkeringat malam hari (dolores nocturnal), pembesaran getah bening kelenjar

ringan (malaise, nyeri kepala, tenggorokan) sakit

Tabel 3. Diagnosis banding eritroderma.

G. Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan Laboratorium Pada pemeriksaan darah didapatkan albumin serum yang rendah dan peningkatan gammaglobulins, ketidakseimbangan elektrolit, protein fase akut meningkat, leukositosis, maupun anemia ringan (Umar, 2011). 2. Histopatologi Pada kebanyakan pasien dengan eritroderma histopatologi dapat membantu mengidentifikasi penyebab eritroderma pada sampai dengan 50% kasus, biopsi kulit dapat menunjukkan gambaran yang bervariasi, tergantung berat dan durasi proses inflamasi. Pada tahap akut, spongiosis dan parakeratosis menonjol, terjadi edema. Pada stadium kronis, akantosis dan perpanjangan rete ridge lebih dominan (Djuanda, 2007). Eritroderma akibat limfoma, yang infiltrasi bisa menjadi semakin pleomorfik, dan mungkin akhirnya memperoleh fitur diagnostik spesifik, seperti bandlikelimfoid infiltrat di dermis-epidermis, dengan sel cerebriform mononuklear atipikal dan Pautrier's microabscesses.Pasien dengan sindrom Sezary sering menunjukkan beberapa fitur dari dermatitis kronis, dan eritroderma jinak mungkin kadang-kadang menunjukkan beberapa gambaran tidak jelas pada limfoma (Djuanda, 2007). Pemeriksaan immunofenotipe infiltrat limfoid juga mungkin sulit menyelesaikan permasalahan karena pemeriksaan ini umumnya memperlihatkan gambaran sel T mmatang pada eritroderma jinak maupun ganas.Pada psoriasis papilomatosis dan gambaran clubbing lapisan papilerdapat terlihat, dan pada pemfigus foliaseus, akantosis superficial juga ditemukan.Pada eritroderma ikhtisioform dan ptiriasis rubra pilaris, biopsi diulang dari tempat-tempat yang dipilih dengan cermat dapat memperlihatkan gambaran khasnya (Djuanda, 2007).

G. Pengobatan Umumnya pengobatan eritroderma dengan kortikosteroid. Pada golongan I, yang disebabkan oleh alergi obat secara sistemik, dosis prednison 3 x 10 mg- 4 x 10 mg. Penyembuhan terjadi cepat, umumnya dalam beberapa hari beberapa minggu. Pada golongan II akibat perluasan penyakit kulit juga diberikan kortikosteroid. Dosis mula prednison 4 x 10 mg- 4 x 15 mg sehari. Jika setelah beberapa hari tidak tampak perbaikan dosis dapat dinaikkan.Setelah tampak perbaikan, dosis diturunkan perlahan-lahan. Jika eritroderma terjadi akibat pengobatan dengan ter pada psoriasis, maka obat tersebut harus

dihentikan.Eritroderma karena psoriasis dapat pula diobati dengan etretinat. Lama penyembuhan golongan II ini bervariasi beberapa minggu hingga beberapa bulan, jadi tidak secepat seperti golongan I (Djuanda, 2007). Pengobatan penyakit Leiner dengan kortokosteroid memberi hasil yang baik. Dosis prednison 3 x 1-2 mg sehari.Pada sindrome Sezary pengobatannya terdiri atas kortikosteroid dan sitostatik, biasanya digunakan klorambusil dengan dosis 2- 6 mg sehari. Pada eritroderma yang lama diberikan pula diet tinggi protein, karena terlepasnya skuama mengakibatkan kehilangan protein.Kelainan kulit perlu pula diolesi emolien untuk mengurangi radiasi akibat vasodilatasi oleh eritema, misalnya dengan salep lanolin 10% (Umar, 2011).

H. Komplikasi 1. limfadenopati 2. Hepatomegali 3. Splenomegali 4. Hipotermi 5. Dehidrasi 6. Gagal Jantung 7. Ketidakseimbangan nitrogen (edema, hipoalbuminemia, hilangnya masa otot) 8. Gagal ginjal 9. Kakeksia 10. Alopesia 11. Palmoplantar keratoderma 12. Kelainan pada kuku dan ektropion 2

Gambar 4. Komplikasi Eritroderma.

J. Prognosis Prognosis eritroderma tergantung pada proses penyakit yang mendasarinya. Kasus karena penyebab obat dapat membaik setelah obat penggunaan obat dihentikan dan diberikan terapi yang sesuai. Prognosis kasus akibat gangguan sistemik yang mendasarinya seperti limfoma akan tergantung pada kondisi keberhasilan pengobatan. Eritroderma disebabkan oleh dermatosa akhirnya dapat diatasi dengan pengobatan, tetapi mungkin timbul

kekambuhan.Kasus idiopatik adalah kasus yang tidak terduga, dapat bertahan dalam waktu yang lama, sering kali disertai dengan kondisi yang lemah (Djuanda, 2007). Eritroderma yang termasuk golongan I, yakni karena alergi obat secara sistemik, prognosisnya baik. Penyembuhan golongan ini ialah yang tercepat dibandingkan golongan yang lain. Pada eritroderma yang belum diketahui sebabnya, pengobatan dengan kortikosteroid hanya mengurangi gejalanya, penderita akan mengalami ketergantungan kortikosteroid (Imtikhananik, 1992). Sindrome Sezary prognosisnya buruk, penderita pria umumya akan meninggal setelah 5 tahun, sedangkan penderita wanita setelah 10 tahun. Kematian disebabkan oleh infeksi atau penyakit berkembang menjadi mikosis fungoides (Imtikhananik, 1992).

II.

PEMBAHASAN

Diagnosis eritroderma dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan status dermatologis. Berdasarkan anamnesis yang didapatkan, pasien datang untuk kontrol dengan keluhan gatal di seluruh tubuh kurang lebih sejak 1 tahun yang lalu. Pasien juga merasakan panas dan nyeri di seluruh tubuh, serta kulitnya berkerak, kemerahan, pecahpecah, berminyak, mengelupas dan terasa perih. Keluhan serupa sudah muncul sejak 1 tahun yang lalu. Pasien menggunakan obat dan salep yang dibelinya di apotek akan tetapi pasien tidak mengetahui nama dan jenis obat seta salep yang dibelinya. Selain itu pasien juga mengkonsumsi obat-obatan untuk mengatasi masalah ginjal serta parunya. Dari data anamnesis di atas dapat diketahui bahwa perjalanan penyakit yang dialami pasien ini adalah kronik residif dan semakin memberat. Keluhan yang disampaikan saat anamnesis merupakan keluhan yang bisa jadi adalah perkembangan dari penyakit sistemik (insufisiensi ginjal) yang sebelumnya diderita pasien atau pengaruh terapi jangka panjang. Dari pemeriksaan fisik status dermatologis ditemukan adanya krusta hampir pada seluruh tubuh, plakat eritematosa generalisata, yang ditutupi skuama halus disertai makula hiperpigmentasi. Efloresensi ini ditemukan dari kepala sampai ujung kaki. Hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik mengarahkan diagnosis pada penyakit dermatosis eritroskuamosa. Dermatosis eritroskuamosa ialah penyakit kulit yang terutama ditandai dengan adanya eritema dan skuama yang terdiri dari psoriasis, parapsoriasis, pitriasis rosea, eritroderma, dermatitis seboroik, lupus eritematosis, dan dermatofitosis. Dari seluruh jenis dermatosis eritrokuamosis, eritroderma lah yang dapat dijadikan diagnosis kerja. Pada eritroderma, gejala dimulai dengan makula eritematosa meluas sampai seluruh tubuh disertai dengan sensasi gatal dan panas di sekujur tubuh. Bercak eritem tersebut biasanya mencapai keseluruhan permukaan tubuh dalam 12 48 jam tanpa disertai skuama. Selanjutnya diikuti dengan timbulnya deskuamasi dalam 2 6 hari, seringkali dimulai di daerah-daerah lipatan kulit. Seluruh kulit tampak kemerahan, mengkilat dan mengelupas serta teraba panas pada palpasi. Pada eritroderma yang disebabkan oleh erupsi obat biasanya timbul dalam waktu singkat. Penderita merasa kulitnya gatal atau kadang-kadang terasa panas seperti terbakar. Setelah eritroderma berlangsung beberapa minggu, rambut kepala dan tubuh bisa rontok, juga kuku jadi menebal dan kasar, pada kasus ini, pasien mengalami kerontokan rambut yang berarti (Djuanda, 2007). Tujuan penatalaksanaan eritroderma adalah untuk mempertahankan keseimbangan cairan serta elektrolit dan mencegah infeksi tetapi bersifat individual serta suportif dan harus

segera dimulai begitu diagnosisnya ditegakan. Pasien harus dirawat di rumah sakit dan tirah baring. Suhu kamar yang nyaman harus dipertahankan karena pasien tidak memiliki kontrol termolegulasi yang normal sebagai akibat dari fluktuasi suhu karena vasodilatasi dan kehilangan cairan lewat evaporasi. Keseimbangan cairan dan elektrolit harus dipertahankan karena terjadinya kehilangan air dan protein yang cukup besar dari permukaan kulit. Pada eritroderma yang lama diberikan pula diet tinggi protein, karena terlepasnya skuama mengakibatkan kehilangan protein. Kelainan kulit perlu pula diolesi emolien untuk mengurangi radiasi akibat vasodilatasi oleh eritema, misalnya dengan salep lanolin 10% (Djuanda, 2007). Pada pasien ini diberikan methylprednisolon, loratadin, dan ranitidine. Sedangkan obat topikal yang diberikan adalah inerson + asam salisilat 3%+ LCD 5%+vaselin. a. Kortikosteroid sistemik dan topikal: inj. Methylprednisolon 1x62.5 mg (iv) + inerson 2xoles Kortikosteroid diberikan pada psoriasis karena memiliki efek antiinflamasi dan antiproliferatif. Efek antiinflamasi kortikosteroid merupakan akibat inhibisi pembentukan prostaglandin dan derivat jalur asam arakidonat lain. Kortikosteroid dapat menghambat pelepasan fosfolipase A2, suatu enzim yang berperan melepaskan asam arakidonat dari membran sel sehingga menghambat jalur asam arakidonat. Efek antiproliferatif glukokortikoid topikal diperankan oleh adanya inhibisi sintesis DNA dan mitosis (Lokanata, 2006). b. H2 Reseptor Blocker : inj. Ranitidin 2x50 mg (iv) Ranitidin merupakan suatu histamine antagonis rseptor H2 yang bekerja dengan cara menghambat kerja histamine secara kompetitif pada reseptor H2 dan mengurangi sekresi asam lambung. Ranitidin diberikan pada pasien ini karena terapi lainnya memiliki efek samping mual-muntah (terutama kortikosteroid, antibiotik dan antidepresan) sehingga sekresi asam lambung perlu diturunkan (Ganiswara, 2005). c. Antihistamin peroral : loratadin 10 mg tablet 2x1 tablet

Loratadin adalah golongan antihistamin-1 (AH1) nonsedatif yang tidak atau sangat sedikit menembus sawar darah otak sehingga pada kebanyakan pasien biasanya tidak menimbulkan kantuk. Antihistamin dapat meredakan rasa gatal sehingga mengurangi risiko terjadinya fenomena Koebner (Ganiswara, 2005). d. Obat topikal : inerson + asam salisilat 3%+ LCD 5%+vaselin (2 x oles) Asam salisilat merupakan zat keratolitik yang mempunyai efek mengurangi proliferasi epitel dan menormalisasi keratolinisasi yang terganggu. Pada konsentrasi 3%

bersifat keratolitik dan dipakai untuk kondisi dermatosis yang hiperkeratotik. Liquor Carbonic Detergens (LCD) 5% merupakan salah satu jenis ter yang berfungsi sebagai anti pruritus dan meningkatkan keratinisasi normal. Vaselin digunkan sebagai bahan dasar salep (basis salep) (Ganiswara, 2005). Meskipun eritroderma tidak menyebabkan kematian, tetapi bersifat kronis dan residif. Penyakit eritroderma merupakan kondisi seumur hidup dan obat-obat yang diberikan hanya mengontrol gejala yang timbul saja. Pengobatan dengan kortikosteroid hanya akan mengurangi gejalanya dan pasien akan mengalami ketergantungan kortikosteroid (corticosteroid dependence). Penyakit ini akan terus cenderung berulang. Eritroderma mungkin juga bisa menurunkan kualitas hidup seseorang. Timbulnya plak-plak eritroderma disekujur tubuh pasien akan mempengaruhi kosmetika penampilan. Penderita ini mungkin akan terlihat malu dan tidak nyaman dengan penampilannya. Biaya pengobatan juga perlu dipertimbangkan (Shimizu, 2007; Virendra, 2004).

III.

KESIMPULAN

1. Hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik pada Ny. R (53 tahun) mengarahkan menuju diagnosis kerja eritroderma. 2. Eritroderma adalah kelainan kulit yang ditandai adanya eritema universalis (90-100%) dan biasanya disertai skuama. 3. Berdasarkan etiologi, eritroderma dapat disebabkan oleh alergi obat, perluasan penyakit kulit, keganasan dan idiopatik. 4. Gambaran klinik eritroderma berupa eritema dan skuama yang bersifat generalisata. 5. Dasar patofisiologi eritroderma yakni pelebaran pembuuh darah kapiler. 6. Dasar diagnosis dapat meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang (darah rutin, kimia klinik, elektrolit, protein, maupun histopatologi). 7. Diagnosis banding eritroderma meliputi psoriasis, pitiriasis rosea, dermatitis seboroik, dermatofitosis. 8. Terapi eritroderma meliputi terapi nonfarmakologis (edukasi pasien, hindari pencetus, teratur minum obat) dan terapi farmakologis (balance cairan, kortikosteroid

sistemik/topikal, sitostatika, dan pengobatan suportif serta simtomatis). 9. Komplikasi fatal dari eritroderma ialaj gagal jantung, gagal ginjal dan kematian mendadak akibat hipotermia sentral. 10. Eritroderma yang disebabkan alergi obat memiliki prognosis yang lebih baik

dibandingkan eritroderma akibat penyakit kulit sebelumnya, keganasan maupun idiopatik.

DAFTAR PUSTAKA Djuanda, A. 2007. Dermatosis Eritroskuamosa. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: FKUI. 198-200. Freederg IM. Exfoliative dermatitis. Fitzpatrick et all. Fitzpatricks dermatology in general medicine. 4 th ed. Newyork:Mcgraw-Hill.1996 Chapter-41p;527-531. Ganiswara, Sulistya G. 2005. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: FKUI. Imtikhananik. 1992. Dermatitis Exfoliativa. Cermin Dunia Kedokteran. Volume 74. 16-19. Kurniawan, Dedy. Wahyudhy, Harry Utama. 2007. Erupsi alergi obat. Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Lokanata, Maya Devita. 2006. Preparat Glukokortikoid Topikal. Dalam : Pemakaian Glukokortikoid pada Pengobatan. Jakarta: EGC. 55-59. Shimizu H. Shimizus textbook of dermatology. 1sted. Hokkaido:NakayamaShoten Publishers; 2007.p; 122-25, 98-101 Siregar, Robert. 2005. Eritroderma. Dalam : Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Edisi 2. Penerbit Buku Kedokteran : EGC. Jakarta. 94-95. Virendra N. Sehgal, Govind Srivastava,Kabir Sardana. 2004. Erythroderma or exfoliative dermatitis: a synopsis. International Journal of Dermatology. 39-47.

Anda mungkin juga menyukai