Anda di halaman 1dari 30

BAB I PENDAHULUAN

I. 1. LATAR BELAKANG Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi penyebab kematian terbanyak di seluruh dunia. Pada tahun 1993, WH menyatakan TB seba!ai masalah kedaruratan !lobal, karena

pada seba!ian besar ne!ara di dunia penyakit TB tidak terkendali dan banyak penderita yan! tidak berhasil disembuhkan, terutama penderita menular atau BT" positif.1# $e%asa ini seperti!a penduduk dunia telah terinfeksi tuberkulosis. "da sekitar delapan &uta penderita baru tuberkulosis di seluruh dunia dalam setahunnya, dan hampir ti!a &uta oran! yan! menin!!al setiap tahunnya akibat penyakit ini. Palin! sedikit satu oran! akan terinfeksi tuberkulosis setiap detik, dan setiap sepuluh detik ada satu oran! yan! menin!!al akibat tuber'ulosis.1( $i )ndonesia TB kembali mun'ul seba!ai penyebab kematian utama setelah penyakit &antun! dan saluran pernafasan. Penyakit TB paru, masih men&adi masalah kesehatan masyarakat. Hasil sur*ey kesehatan rumah tan!!a (+,-T) tahun 199. menun&ukkan bah%a tuberkulosis merupakan penyebab kematian nomor ti!a setelah penyakit kardio*askuler dan penyakit saluran pernapasan pada semua !olon!an usia dan nomor satu dari !olon!an infeksi.1 +etelah ditemukan basil TB, -obert ,o'h men!ambil konsentrat steril dari biakan 'air yan! sudah mati disebut den!an nama tuberculin. /&i tuberkulin adalah salah satu metode yan! di!unakan untuk mendia!nosis infeksi TB. )ni serin! di!unakan untuk skrinin! indi*idu dari infeksi laten dan menilai rata0rata infeksi TB pada populasi tertentu. /&i tuberkulin dilakukan untuk melihat kekebalan seseoran! terhadap basil TB, sehin!!a san!at baik untuk mendeteksi infeksi TB. Tetapi u&i tuberkulin ini tidak dapat untuk menentukan 1.tb tersebut 1

aktif atau tidak aktif (latent).

leh sebab itu harus dikonfirmasi den!an ada tidaknya !e&ala

dan lesi pada foto thorak untuk men!etahui seseoran! tersebut terdapat infeksi TB atau sakit TB.2

I. 2. TUJUAN PENULISAN 1. 1en!etahui dan memahami penyakit tuberkulosis dari definisi, epidemiolo!i, Tu&uan penulisan referat ini adalah untuk men!etahui definisi, epidemiolo!i, etiolo!i, klaisfikasi, 'ara penularan, faktor resiko, pato!enesis, dan pene!akan dia!nosis 3. 1en!etahui dan memahami u&i tuberkulin seba!ai salah satu pemeriksaan pada tuber'ulosis, beserta imunolo!i, 'ara pemba'aan dan pemba'aan, serta interpretasi u&i tuberkulin. 3. 1emenuhi seba!ian syarat untuk u&ian stase anak -+$ Panembahan +enopati ,abupaten Bantul .

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II. 1. DEFINISI Tuber'ulosis (TB4) adalah penyakit menular yan! disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. /mumnya TB menyeran! paru0paru, sehin!!a disebut den!an Pulmonary TB. Tetapi kuman TB &u!a bisa menyebar ke ba!ian atau or!an lain dalam tubuh, dan TB &enis ini lebih berbahaya dari pulmonary TB. Bila kuman TB menyeran! otak dan sistem saraf pusat, akan menyebabkan meningeal TB. Bila (kuman TB) men!infeksi hampir seluruh or!an tubuh, seperti !in&al, &antun!, saluran ken'in!, tulan!, sendi, otot, usus, kulit, disebut miliary TB atau extrapulmonary TB. 4

II. 2. EPIDEMIOLOGI Tuberkulosis anak merupakan faktor pentin! di ne!ara0ne!ara berkemban!, karena &umlah anak berusia di ba%ah 1. tahun adalah (#0.# 5 dari &umlah seluruh populasi. Pada sur*ei nasional di )n!!ris dan Wales yan! berlan!sun! selama setahun pada tahun 1923 didapatkan bah%a (.3 anak usia 6 1. tahun menderita TB. $i "labama, "merika, dilaporkan bah%a selama 11 tahun (192301993), didapatkan 171 kasus TB anak usia 6 1. tahun. Pada tahun 1929, WH memperkirakan bah%a setiap tahun terdapat 1,3 &uta kasus baru TB anak dan (.#.### anak usia di ba%ah 1. tahun menin!!al dunia karena TB.1# Pada tahun 199#, &umlah kematian karena TB di dunia diperkirakan hampir 3 &uta dan hampir 9# 5 kematian tersebut ter&adi di ne!ara berkemban!. +edan!kan pada tahun 3###, &umlah kematian diperkirakan sebesar 3,. &uta.(

Berdasarkan data WH (1997), &umlah kasus baru di seluruh dunia diperkirakan sekitar 7,98 &uta, den!an kasus TB paru sekitar 3,.3 &uta. "n!ka kematian akibat tuberkulosis pada tahun 1997 sekitar 1,27 &uta.. $ye (3###) melaporkan bah%a )ndonesia menduduki perin!kat keti!a penyakit tuberkulosis (#,( &uta kasus baru) setelah )ndia (3,1 &uta kasus) dan 4ina (1,1 &uta kasus). 9umlah seluruh kasus TB anak dari 7 -umah +akit Pusat Pendidikan di )ndonesia selama . tahun (199203##3) adalah 1#28 penderita TB den!an an!ka kematian ber*ariasi dari #01(,1 5. ,elompok usia terbanyak adalah 1308# bulan ((3,9 5), sedan!kan untuk bayi kuran! dari 13 bulan didapatkan 18,. 5.1#,1(

II. 3. ETIOLOGI 1y'oba'terium tuber'ulosis ditemukan oleh -obert ,o'h pada tahun 1223. Basil tuberkel termasuk ke dalam famili 1y'oba'teria'eae. 1 tuber'ulosis adalah kuman aerob, tidak berspora, tidak motil, pertumbuhannya lambat, berbentuk batan!, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pe%arnaan. leh karena itu disebut &u!a seba!ai basil

tahan asam (BT"). Basil tuberkulosis tidak membentuk toksin (baik endotoksin maupun eksotoksin). Basil tuberkulosis dapat hidup dan tetap *irulen beberapa min!!u dalam keadaan kerin!, tetapi dalam 'airan mati pada suhu 8#: 4 dalam 1.03# menit. ;raksi protein basil tuberkulosis menyebabkan nekrosis &arin!an, sedan!kan lemaknya menyebabkan sifat tahan asam dan merupakan faktor penyebab ter&adinya fibrosis dan terbentuknya sel epiteloid dan tuberkel. ,uman TB 'epat mati den!an sinar matahari lan!sun!, tetapi dapat bertahan hidup beberapa &am di tempat yan! !elap dan lembab. $alam &arin!an tubuh, kuman ini dapat dormant, tertidur lama selama beberapa tahun.1,4,10,13

II. 4. KLASIFIKASI -anke memba!i tuberkulosis dalam 3 stadium, yaitu< 13 +tadium pertama +tadium kedua +tadium keti!a < kompleks primer den!an penyebaran limfo!en < pada %aktu ter&adi penyebaran hemato!en < tuberkulosis paru menahun (chronic pulmonary tuberculosis)

,lasifikasi lain dari tuberkulosis ialah < 13 Tuberkulosis primer Tuberkulosis subprimer Tuberkulosis pas'aprimer < merupakan infeksi pertama dari tuberkulosis < merupakan komplikasi tuberkulosis primer < merupakan reinfeksi yan! dapat ter&adi endo!en dan

ekso!en setelah infeksi primer sembuh +ekaran! dipakai klasifikasi yan! memba!i tuberkulosis men&adi dua stadium,yaitu< . 1. Tuberkulosis primer 3. Tuberkulosis pas'a primer

II. 5. CARA PENULARAN Bakteri TB menyebar bila oran! de%asa penderita TB aktif yan! tidak tertan!ani den!an baik (memperoleh pen!obatan), bersin atau batuk sehin!!a men!eluarkan sputum roplet (per'ikan dahak) yan! men!andun! kuman TB. Bila kuman terhirup oleh oran! de%asa lain, anak atau bayi yan! sehat, menyebabkan mereka terinfeksi M. tuberculosis. +e'ara umum, hanya TB4 paru0paru (pulmonary TB) yan! menular. =amun oran! yan! tertular tidak selalu akan sakit TB4 paru0paru &u!a, ter!antun! ba!ian tubuh (or!an) mana yan! diseran! oleh bakteri TB. +elain dari droplet dahak penderita TB4 aktif, kuman TB &u!a dapat masuk ke tubuh manusia dari susu sapi murni yan! tidak diolah (dimasak) den!an sempurna.13

1eskipun menular, tetapi oran! tertular tuber'ulosis tidak semudah tertular flu. Penularan penyakit ini memerlukan %aktu pemaparan yan! 'ukup lama dan intensif den!an sumber penyakit (penular). 1enurut 1ayo'lini', seseoran! yan! kesehatan fisiknya baik, memerlukan kontak den!an penderita TB aktif setidaknya 2 &am sehari selama 8 bulan, untuk dapat terinfeksi. +ementara masa inkubasi TB sendiri, yaitu %aktu yan! diperlukan dari mula terinfeksi sampai men&adi sakit, diperkirakan sekitar 8 bulan. Tidak semua oran! yan! terinfeksi bakteri TB, lalu men&adi sakit TB. 1enurut TB!"#$ %linical Manual hanya sekitar 1#5 dari yan! terinfeksi, berlan&ut men&adi penderita TB (TB aktif). ,elompok yan! palin! ra%an terinfeksi bakteri TB adalah bayi dan anak usia kuran! dari 1 tahun. +etelah itu, tin!kat kera%anannya menurun. Bahkan pada kisaran usia .09 tahun, anak0anak memiliki tin!kat resiko terinfeksi yan! palin! rendah. /sia 1# tahun ke atas, tin!kat kera%anan infeksi itu kemudian akan menin!kat kembali, meskipun tidak setin!!i kelompok usia #01 tahun.7 Bakteri ini masuk kedalam paru0paru dan berkumpul hin!!a berkemban! men&adi banyak (terutama pada oran! yan! memiliki daya tahan tubuh rendah), Bahkan bakteri ini pula dapat men!alami penyebaran melalui pembuluh darah atau kelen&ar !etah benin! sehin!!a menyebabkan terinfeksinya or!an tubuh yan! lain seperti otak, !in&al, saluran 'erna, tulan!, kelen&ar !etah benin! dan lainnya meski yan! palin! banyak adalah or!an paru.7 1asuknya 1ikobakterium tuberkulosa kedalam or!an paru menyebabkan infeksi pada paru0paru, dimana se!eralah ter&adi pertumbuhan koloni bakteri yan! berbentuk bulat (!lobular). $en!an reaksi imunolo!is, sel0sel pada dindin! paru berusaha men!hambat bakteri TB4 ini melalui mekanisme alamianya membentuk &arin!an parut. "kibatnya bakteri TB4 tersebut akan berdiam>istirahat (dormant) seperti yan! tampak seba!ai tuberkel pada pemeriksaan ?0ray atau photo ront!en. 1#

@ambar 1. Penyebaran Bakteri TB4 +eseoran! den!an kondisi daya tahan tubuh ()mun) yan! baik, bentuk tuberkel ini akan tetap dormant sepan&an! hidupnya. Aain hal pada oran! yan! memilki sistem kekebalan tubuh rendah atau kuran!, bakteri ini akan men!alami perkemban!biakan sehin!!a tuberkel bertambah banyak. +ehin!!a tuberkel yan! banyak ini berkumpul membentuk sebuah ruan! didalam ron!!a paru, -uan! inilah yan! nantinya men&adi sumber produksi sputum (riak>dahak). 1aka oran! yan! ron!!a parunya memproduksi sputum dan didapati mikroba tuberkulosa disebut sedan! men!alami pertumbuhan tuberkel dan positif terinfeksi TB4. Berkemban!nya penyakit TB4 di )ndonesia ini tidak lain berkaitan den!an memburuknya kondisi sosial ekonomi, belum optimalnya fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat, menin!katnya &umlah penduduk yan! tidak mempunyai tempat tin!!al dan adanya epidemi dari infeksi H)B. Hal ini &u!a tentunya mendapat pen!aruh besar dari daya tahan tubuh yan! lemah>menurun, *irulensi dan &umlah kuman yan! meme!an! peranan pentin! dalam ter&adinya infeksi TB4.

II. 6. FAKTOR RISIKO ;aktor0faktor yan! mempermudah ter&adinya infeksi TB maupun timbulnya penyakit TB pada anak diba!i men&adi faktor risiko infeksi dan faktor risiko pro!resi infeksi men&adi penyakit (risiko penyakit).( -isiko )nfeksi TB ;aktor risiko ter&adinya infeksi TB adalah seba!ai berikut < anak yan! memiliki kontak den!an oran! de%asa den!an TB aktif, daerah endemis, kemiskinan, serta lin!kun!an yan! tidak sehat (tempat penampun!an atau panti pera%atan). ,emun!kinan seseoran! terinfeksi TB &u!a ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya men!hirup udara tersebut.1, 1# ;aktor risiko TB pada anak yan! terpentin! adalah pa&anan dari oran! de%asa yan! infeksius. Bayi dari seoran! ibu den!an BT" sputum positif memiliki risiko tin!!i terinfeksi TB. +emakin dekat bayi tersebut den!an ibunya, makin besar pula kemun!kinan bayi tersebut terpa&an per'ik renik ( roplet nuclei) yan! infeksius.1# -isiko timbulnya transmisi kuman dari oran! de%asa ke anak0anak akan lebih tin!!i &ika pasien de%asa tersebut mempunyai BT" sputum yan! positif, terdapat infiltrat luas pada lobus atau ka*itas, produksi sputum yan! banyak dan en'er, batuk produktif dan kuat, serta terdapat lin!kun!an yan! kuran! sehat, terutama sirkulasi udara yan! tidak baik. -isiko Penyakit TB ran! yan! telah terinfeksi kuman TB tidak selalu akan men!alami sakit TB. ;aktor0 faktor yan! dapat menyebabkan pro!resi infeksi TB men&adi sakit TB adalah < 1# 1. /sia "nak C . tahun mempunyai risiko lebih besar men!alami pro!resi infeksi men&adi sakit TB, mun!kin karena imunitas selulernya belum berkemban! sempurna (imatur). -esiko

tertin!!i ter&adinya pro!resi*itas TB adalah pada dua tahun pertama setelah infeksi. =amun, risiko sakit TB ini akan berkuran! se'ara bertahap seirin! pertambahan usia. Pada bayi 6 1 tahun yan! terinfeksi TB, (3 5 akan men&adi sakit TB. +edan!kan pada anak usia 10. tahun, yan! men&adi sakit TB hanya 3( 5, pada usia rema&a 1. 5, dan pada de%asa .01# 5. "nak 6 . tahun &u!a memiliki risiko lebih tin!!i men!alami TB diseminata (misal TB milier dan TB menin!itis), den!an an!ka kesakitan dan kematian yan! tin!!i. 3. ,on*ersi tes tuberkulin dalam 103 tahun terakhir 3. 1alnutrisi (. ,eadaan imunocompromise (misal pada infeksi H)B, transplantasi or!an, ke!anasan, pen!obatan imunosupresi) .. ;aktor yan! tidak kalah pentin! adalah status sosioekonomi yan! rendah, pen!hasilan yan! kuran!, kepadatan hunian, pen!an!!uran dan pendidikan yan! rendah, dan kuran!nya dana untuk pelayanan masyarakat.

II. 7. PATOGENESIS 1asuknya basil tuberkulosis tidak selalu menimbulkan penyakit. Ter&adinya infeksi dipen!aruhi oleh *irulensi dan banyaknya basil tuberkulosis, serta daya tahan tubuh manusia.
13

Paru merupakan port &entr'e lebih dari 92 5 kasus infeksi TB. ,uman TB dalam per'ik renik ( roplet nuclei) yan! terhirup san!at ke'il ukurannya (6. Dm), sehin!!a dapat mele%ati sistem pertahanan mukosilier bronkus, dan terus ber&alan sehin!!a sampai di al*eolus dan menetap di sana. 1asuknya kuman TB ini akan se!era diatasi oleh mekanisme imunolo!is nonspesifik. 1akrofa! al*eolus akan memfa!osit kuman TB, dan biasanya mampu men!han'urkan seba!ian besar kuman TB. "kan tetapi, pada seba!ian ke'il kasus, makrofa! tidak mampu men!han'urkan kuman TB, kemudian kuman akan bereplikasi dalam

makrofa!. ,uman TB dalam makrofa! yan! terus berkemban! biak, akhirnya akan menyebabkan makrofa! men!alami lisis, dan kuman TB membentuk koloni di tempat tersebut.1,. )nfeksi Primer )nfeksi primer ter&adi saat seseoran! terpapar pertama kali den!an kuman TB. )nfeksi primer biasanya ter&adi dalam paru. Aokasi pertama koloni kuman TB di &arin!an paru disebut fo !" #$%&'$ G(o). @hon dan ,udli'h (193#) menemukan bah%a 9.,93 5 dari 311( kasus mereka mempunyai fokus primer di dalam paru. Hal ini disebabkan penularan seba!ian besar melalui udara dan mun!kin &u!a karena &arin!an paru mudah kena infeksi tuberkulosis (susceptible).1,1#,13 )nfeksi dimulai saat kuman TB berhasil berkemban!biak den!an 'ara pembelahan diri di paru, yan! men!akibatkan peradan!an di dalam paru. +etelah itu, kuman TB menyebar melalui saluran limfe menu&u ke kelen&ar limfe re!ional, yaitu kelen&ar limfe yan! mempunyai saluran limfe ke lokasi fokus primer. Penyebaran ini menyebabkan ter&adinya inflamasi di saluran limfe (limfan!itis) dan di kelen&ar limfe (limfadenitis) yan! terkena. 9ika fokus primer terletak di lobus ba%ah atau ten!ah, maka kelen&ar limfe yan! terlibat adalah kelen&ar limfe parahilus. +edan!kan &ika fokus primer terletak di apeks paru, maka kelen&ar limfe yan! terlibat adalah kelen&ar paratrakeal. Ko&#*' " #$%&'$ adalah !abun!an antara fokus primer, kelen&ar limfe re!ional yan! membesar (limfadenitis) dan saluran limfe yan! meradan! (limfan!itis).1,1# M+"+ %) !,+"% TB adalah %aktu yan! diperlukan se&ak masuknya kuman TB hin!!a terbentuknya kompleks primer se'ara len!kap. Hal ini berbeda den!an pen!ertian masa inkubasi pada proses infeksi lain, yaitu %aktu yan! diperlukan se&ak masuknya kuman hi!!a timbulnya !e&ala penyakit. 1asa inkubasi TB biasanya berlan!sun! dalam %aktu (02

min!!u den!an rentan! %aktu antara 3013 min!!u. $i dalam masa inkubasi tersebut, kuman

1#

tumbuh hin!!a men'apai &umlah 1#301#(, yaitu &umlah yan! 'ukup untuk meran!san! respons imunitas seluler.1# Pada min!!u0min!!u a%al proses infeksi ter&adi pertumbuhan lo!aritmik kuman TB, sehin!!a &arin!an tubuh yan! a%alnya belum tersensitisasi terhadap tuberkulin, akan men!alami perkemban!an sensiti*itas. Pada saat terbentuknya kompleks primer inilah, dinyatakan telah ter&adi %)f' "% TB #$%&'$. Hal tersebut ditandai oleh terbentuknya hipersensiti*itas terhadap tuberkuloprotein, yaitu timbulnya respons positif terhadap u&i tuberkulin. +elama masa inkubasi, u&i tuberkulin masih ne!atif. +etelah kompleks primer terbentuk, imunitas seluler tubuh terhadap TB telah terbentuk. Pada seba!ian besar indi*idu den!an sistem imun yan! berfun!si baik, saat sistem imun seluler berkemban!, maka proliferasi kuman TB akan berhenti. =amun, se&umlah ke'il kuman TB tetap dapat hidup dalam !ranuloma.1# ,elan&utan setelah infeksi primer ter!antun! dari banyaknya kuman yan! masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh (imunitas seluler). Pada umumnya reaksi daya tahan tubuh tersebut dapat men!hentikan perkemban!an kuman TB. 1eskipun demikian, beberapa kuman akan menetap seba!ai kuman persisten atau ormant (tidur). ,adan!0kadan! daya tahan tubuh tidak mampu men!hentikan perkemban!an kuman, akibatnya dalam beberapa bulan, yan! bersan!kutan akan men&adi penderita TB.1 "pabila imunitas seluler telah terbentuk, kuman TB yan! masuk ke dalam al*eolus akan se!era dimusnahkan. ,emudian, fokus primer di &arin!an paru biasanya men!alami resolusi se'ara sempurna membentuk fibrosis atau kalsifikasi setelah men!alami nekrosis perke&uan dan enkapsulasi. ,elen&ar limfe re!ional &u!a akan men!alami fibrosis dan enkapsulasi, tetapi proses penyembuhannya tidak sesempurna fokus primer di &arin!an paru.1# ,ompleks primer dapat men!alami komplikasi. ,omplikasi yan! ter&adi dapat disebabkan oleh fokus di paru atau di kelen&ar limfe re!ional. ;okus primer di paru dapat

11

membesar dan menyebabkan pneumonitis atau pleuritis lo'al. 9ika ter&adi nekrosis perke&uan yan! berat, ba!ian ten!ah lesi akan men'air dan keluar melalui bronkus, sehin!!a menin!!alkan ka*itas paru. ,elen&ar limfe hilus atau paratrakeal yan! mulanya berukuran normal saat infeksi, akan membesar karena reaksi inflamasi yan! berlan&ut, sehin!!a bronkus akan ter!an!!u. bstruksi parsial pada bronkus akibat tekanan eksternal menimbulkan bstruksi total dapat menyebabkan atelektasis. ,elen&ar

hiperinflasi di se!men distal paru.

yan! men!alami inflamasi dan nekrosis perke&uan dapat menimbulkan erosi dan merusak dindin! bronkus, sehin!!a menyebabkan TB endobronkial atau membentuk fistula. 1asa perke&uan dapat menimbulkan obstruksi komplit pada bronkus, sehin!!a menyebabkan !abun!an pneumonia dan atelektasis, yan! serin! disebut seba!ai lesi se!mental kolaps0 konsolidasi.1# Penyebaran limfo!en dan hemato!en dapat ter&adi selama masa inkubasi, sebelum terbentuknya imunitas seluler. Pada penyebaran limfo!en, kuman menyebar ke kelen&ar limfe re!ional membentuk kompleks primer. +edan!kan pada penyebaran hemato!en, kuman masuk ke dalam sirkulasi darah dan menyebar ke seluruh tubuh. Penyebaran hemato!en inilah yan! membuat penyakit TB disebut penyakit sistemik. Penyebaran hemato!en yan! palin! serin! ter&adi adalah dalam bentuk penyebaran hemato!enik tersamar (occult hematogenic sprea ), dan melalui 'ara inilah kuman TB menyebar se'ara sporadik dan sedikit demi sedikit, sehin!!a tidak menimbulkan !e&ala klinis. ,uman TB kemudian akan men'apai berba!ai or!an di seluruh tubuh. r!an yan! biasanya ditu&u adalah or!an yan!

mempunya *askularisasi baik, misalnya tulan!, !in&al, dan paru sendiri, terutama apeks paru atau lobus atas paru. $i berba!ai lokasi tersebut, kuman TB akan bereplikasi dan membentuk koloni kuman sebelum terbentuk imunitas seluler yan! akan membatasi pertumbuhannya. $i dalam koloni yan! terbentuk dan kemudian dibatasi pertumbuhannya oleh imunitas seluler, kuman tetap hidup dalam bentuk dorman. ;okus ini umumnya tidak lan!sun! berlan&ut

13

men&adi penyakit, tetapi berpotensi untuk men&adi fokus reakti*asi. ;okus potensial ini disebut fo !" S%&o). Bertahun0tahun kemudian, bila daya tahan tubuh pe&amu menurun, fokus +imon ini dapat men!alami reakti*asi dan men&adi penyakit TB di or!an terkait, misalnya menin!itis, TB tulan! dan lain0lain.1# Bentuk penyebaran hemato!en yan! lain adalah penyebaran hemato!enik !eneralisata akut (acute generali(e hematogenic sprea ). Pada bentuk ini, se&umlah besar kuman TB masuk dan beredar di dalam darah menu&u ke seluruh tubuh. Hal ini dapat menyebabkan timbulnya manifestasi klinis penyakit TB se'ara akut, yan! disebut TB -%"'&%)+.+. TB diseminata ini timbul dalam %aktu 308 bulan setelah ter&adi infeksi. Timbulnya penyakit ber!antun! pada &umlah dan *irulensi kuman TB yan! beredar, serta frekuensi berulan!nya penyebaran. TB diseminata ini ter&adi karena tidak adekuatnya sistem imun pe&amu (host) dalam men!atasi infeksi TB, misalnya pada balita.1# Tuberkulosis milier merupakan hasil dari acute generali(e hematogenic sprea

den!an &umlah kuman yan! besar. +emua tuberkel yan! dihasilkan melalui 'ara ini akan mempunyai ukuran yan! lebih kuran! sama. )stilah milier berasal dari !ambaran lesi diseminata yan! menyerupai butir padi0padian (millet see ). Aesi ini se'ara patolo!i anatomik berupa nodul kunin! berukuran 103 mm, yan! se'ara histolo!ik merupakan !ranuloma.1# Bentuk penyebaran hemato!en yan! &aran! ter&adi adalah protracte hematogenic

sprea . Bentuk penyebaran ini ter&adi bila suatu fokus perke&uan menyebar ke saluran *askular di dekatnya, sehin!!a se&umlah kuman TB akan masuk dan beredar di dalam darah. +e'ara klinis, sakit TB akibat penyebaran tipe ini tidak dapat dibedakan den!an generali(e hematogenic sprea . Hal ini dapat ter&adi se'ara berulan!.1# 1enurut Wall!ren, ada 3 bentuk dasar TB paru pada anak, yaitu penyebaran limfohemato!en, TB endobronkial, dan TB paru kronik. +ebanyak #,.03 5 penyebaran limfohemato!en akan men&adi TB milier atau menin!itis TB. Hal ini biasanya ter&adi 308 acute

13

bulan setelah infeksi primer. Tuberkulosis endobronkial (lesi se!mental yan! timbul akibat pembesaran kelen&ar re!ional) dapat ter&adi dalam %aktu yan! lebih lama (309 bulan). 1enuirut Wall!ren, komplikasi berupa penyebaran milier dan menin!itis tuberkulosa dapat ter&adi dalam 3 bulan, pleuritis dan penyebaran bronko!en dalam 8 bulan dan tuberkulosis tulan! dalam 10. tahun setelah terbentuknya kompleks primer.1#,13 Time Table of Wallgren / E0o*!"% I)f' "% TB P$%&'$ 1+)2 T%-+ D%o,+.% 10,13,14
,ompleks primer Efusi pleura +eba!ian besar sembuh sendiri (303( bulan) (308 bulan) Erosi bronkus (309 bulan) 1enin!itis TB milier (dalam 13 bulan) Tuberkulosis Tuberkulosis tulan! (dalam 3 tahun) !in&al, kulit (setelah . tahun)

)=;E,+) H)PE-+E=+)T)B)T"+ F ,E,EB"A"= $)$"P"T /9) T/BE-,/A)= P +)T);

3013 min!!u

1 tahun

-isiko tertin!!i untuk

-isiko menurun

,omplikasi lokal dan diseminata

Tabel 1. E*olusi TB Primer yan! Tidak $iobati

Tuberkulosis Pas'a Primer (Post Primary TB)1# Tuberkulosis pas'a primer biasanya ter&adi setelah beberapa bulan atau beberapa tahun sesudah infeksi primer, misalnya karena daya tahan tubuh yan! menurun akibat terinfeksi H)B atau status !iGi yan! buruk. 4iri khas tuberkulosis pas'a primer adalah kerusakan paru yan! luas den!an ter&adinya ka*itas atu efusi pleura. 1(

II. 3. PENEGAKAN DIAGNOSIS Pada uraian di atas, terlihat bah%a tidak ada satupun data klinis maupun penun&an! selain pemeriksaan bakteriolo!is yan! dapat memastikan pemeriksaan dia!nosis TB. $ia!nosis TB tidak dapat dite!akkan hanya dari anamnesis, pemeriksaan fisik atau pemeriksaan penun&an! tun!!al. leh karena sulit mene!akkan dia!nosis TB pada anak,

banyak usaha membuat pedoman dia!nosis den!an sistem skorin! dan alur dia!nostik. T+,'* 2. S%".'& S o$%)2 D%+2)o"%" T!,'$ !*o"%" A)+
4

P+$+&'.'$ ,ontak TB

4 tidak &elas

1 laporan keluar!a, BT"(0) atau tidak tahu

2 ka*itas (H)

3 BT" (H)

/&i tuberkulin

ne!atif

positif (I1# mm atau I . mm pada keadaan imunosupresi)

Berat badan > keadaan !iGi

BB > TB 6 9# 5 atau BB> / 6 2# 5

klinis !iGi bu0 ruk atau BB>TB 6 7# 5 atau BB>/ 6 8# 5

$emam tanpa sebab yan! &elas Batuk Pembesaran kelen&ar limfe kolli, aksila, in!uinal

I 3 min!!u

I 3 min!!u I 1 'm, &umlah J 1, tidak nyeri

1.

P+$+&'.'$ Pemben!kakan tulan!>sendi pan!!ul, lutut, falan!

1 ada pemben!kakan

;oto ront!en toraks

normal > tidak &elas

0 infiltrat 0 pembesaran kelen&ar 0 konsolidasi se!mental> lobular 0 atelektasis

0 kalsifikasi H infil0 trat 0 pembesaran kelen&ar H infil0 trat

4atatan < $ia!nosis den!an sistem skorin! dite!akkan oleh dokter 9ika di&umpai skrofuloderma, lan!sun! didia!nosis tuberkulosis Berat badan dinilai saat datan! (moment opname) $emam dan batuk tidak ada respons terhadap terapi sesuai baku ;oto ront!en toraks bukan alat dia!nostik utama pada TB anak +emua anak den!an reaksi 'epat B4@ harus die*aluasi den!an sistem skorin! TB anak $idia!nosis TB &ika &umlah skor I 8 (skor maksimal 1().

B+2+) A*2o$%.&+ D%+2)o"%" -+) R!5! +) TB #+-+ A)+

18

Hal0hal yan! men'uri!akan TB < 1. 3. 3. (. .. 8. 7. 2. 9. 1empunyai se&arah kontak erat den!an penderita TB BT" positif Terdapat reaksi kemerahan lebih 'epat (dalam 307 hari) setelah imunisasi B4@ Berat badan turun tanpa sebab yan! &elas atau tidak naik dalam 1 bulan meskipun den!an penan!anan !iGi yan! baik ()ailure to thri*e) +akit dan demam lama atau berulan! , tanpa sebab yan! &elas Batu0batuk lebih dari 3 min!!u Pembesaran kelen&ar limfe superfisialis yan! spesifik +krofuloferma ,on&un!ti*itis fliktenularis Tes tuberkulin positif ( 1# mm)

1#. @ambaran foto ront!en su!estif TB

Bila 3 positif $ian!!ap TB Beri "T bser*asi 3 bulan 1embaik TB "T diteruskan PE-)H"T)"= < Bila terdapat tanda0tanda bahaya seperti < 0 ke&an! 0 kesadaran menurun 0 kaku kuduk 0 ben&olan di pun!!un! 0 dan ke!a%atan lain +e!era ru&uk ke -+ 1emburuk Bukan TB TB ,ebal bat (1$-)

-u&uk ke -+ Pemeriksaan lan&utan di -+ < 0 !e&ala klinis 0 u&i tuberkulin 0 foto ront!en paru 0 pemeriksaamikrobiolo!i dan serolo!i 0 pemeriksaan patolo!i anatomi Prosedur dia!nostik dan tatalaksana sesuai den!an prosedur di -+ yan! bersan!kutan

17

T+,'* 3 . P'.!)5! 6HO !).! D%+2)o"%" T!,'$ !*o"%" A)+ a. $i'uri!ai tuberkulosis (suspecte TB) 1. "nak sakit den!an ri%ayat kontak penderita tuberkulosis BT" positif 3. "nak den!an < ,eadaan klinis tidak membaik setelah menderita 'ampak atau batuk re&an Berat badan menurun, batuk dan men!i yan! tidak membaik den!an pen!obatan antibiotika untuk penyakit pernapasan Pembesaran kelen&ar superfisialis yan! tidak sakit

b. 1un!kin tuberkulosis (probable TB) "nak yan! di'uri!ai tuberkulosis ditambah < /&i tuberkulin positif (1# mm atau lebih) ;oto ront!en paru su!estif tuberkulosis Pemeriksaan histolo!is biopsi su!estif tuberkulosis -espons yan! baik pada pen!obatan den!an "T

'. Pasti tuberkulosis (con)irme TB) $itemukan basil tuber'ulosis pada pemeriksaan lan!sun! atau biakan )dentifikasi Mycobacterium tuberculosis pada karakteristik biakan

/ntuk mendia!nosis TB di sarana yan! memadai, sistem skorin! di!unakan seb!ai u&i tapis. +etelah itu dilen!kapi den!an pemeriksaan penun&an! lainnya, seperti bilasan lambun! (BT" dan kultur M. tuberculosis), patolo!i anatomik, pun!si pleua, pun!si lumbal, 4T0+'an, foto ront!en tulan! dan sendi. T'" M+).o!7 +.+! U5% T!,'$ !*%)

12

Fo.o Ro).2') /ntuk memperkuat dia!nosis, diperlukan foto ront!en paru0paru. Tapi masalahnya, !ambar ront!en dari TB4 paru pada anak umumnya tidak khas sehin!!a menyulitkan interpretasi foto. $iperlukan oran! yan! benar0benar ahli, untuk men!hindari ter&adinya o*er iagnosis atau un er iagnosis. Pada oran! de%asa, kuman TB4 memban!un saran!nya pada paru0paru ba!ian atas, sehin!!a pada !ambar ront!ennya akan terlihat adanya infiltrat pada daerah tersebut. +edan!kan pada anak0anak, kuman TB memban!un saran! di kelen&ar !etah benin! yan! lokasinya berdekatan den!an &antun!. 9ika hanya difoto dari depan akan sulit melihat adanya infiltrat, karena terutup oleh bayan!an &antun!. leh karena itu, untuk memperkuat

dia!nosis, foto ront!en &u!a harus dilakukan dari arah sampin!. $en!an be!itu, !ambaran paru0paru tidak Kdi!an!!uK oleh bayan!an &antun!. Tetapi, la!i0la!i keberadaan infiltrat bukan mutlak menun&ukkan anak men!idap TB4. "nak yan! sedan! batuk den!an dahak yan! banyak, meski tidak men!idap TB bila difoto ront!en dadanya, bisa memberikan !ambaran infiltrat. leh karenanya, foto ront!en harus dilakukan

pada saat anak dalam kondisi terbaik. Palin! baik meman! setelah anak sembuh dari batuknya. Bila tidak memun!kinkan, pilih %aktu ketika batuknya minimal. +ekali la!i, foto ront!en sa&a tidak dapat di!unakan seba!ai alat untuk mendia!nosis TB4. U5% B+ .'$%o*o2% /&i bakteriolo!i yan! umum dilakukan adalah melalui pemeriksaan sampel dahak (tes dahak atau sputum test). Bila ditemukan adanya bakteri TB di dalam 3 sampel dari 3 sampel dahak seseoran!, berarti oran! tersebut dikatakan positif men!idap TB4 paru aktif. Pen!ambilan sampel dilakukan se'ara +P+, maksudnya +e%aktu kun&un!an pertama, esok Pa!inya, dan +e%aktu kun&un!an berikut (kedua). +elain diperiksa melalui mikroskop, sampel dahak &u!a dapat diperiksa den!an 'ara dibiakkan dalam medium tertentu (tes kultur

19

dahak). Tetapi tes ini memakan %aktu yan! lama, sementara tes dahak yan! biasa hanya memakan %aktu beberapa &am sa&a untuk mendapatkan hasilnya. =amun tes dahak san!at sulit dilakukan pada anak0anak, karena mereka 'enderun! menelan dahaknya. ,alaupun in!in melakukan pemeriksaan mikroskopis BT" pada anak, 'aranya den!an men!!unakan bilasan lambun! anak. Tetapi 'ara ini dinilai menyakitkan ba!i anak, sehin!!a tidak di!unakan untuk deteksi dini. Ba!i anak yan! sudah mampu men!eluarkan dahaknya, maka tes dahak men&adi satu keharusan. T'" D+$+( Biasanya, parameter yan! diu&i pada pemeriksaan darah adalah AE$ (la&u endap darah) dan kadar limfosit. Tetapi keduanya ini nilai dia!nostiknya bahkan lebih rendah daripada foto ront!en, sehin!!a hanya dapat di!unakan seba!ai data pendukun!. =ilai AE$ dan limfosit yan! tin!!i (di atas kadar normal) hanya menun&ukkan ter&adinya infeksi di dalam tubuh. "kan tetapi, semua &enis infeksi &u!a dapat menin!katkan nilai AE$ dan limfosit dalam darah.

II. 8. UJI TUBERKULIN Tuberkulin adalah komponen protein kuman TB yan! mempunyai sifat anti!enik yan! kuat. /&i tuberkulin merupakan salah satu dasar kenyataan bah%a infeksi oleh 1.tb akan menyebabkan reaksi elaye +type hypersensiti*ity terhadap komponen anti!en yan! berasal dari ekstrak 1.tb atau tuberkulin. "da 3 perusahaan yan! memproduksi tuberkulin (PP$) yaitu PP$ dari /+" < Parke0$a*is ("plisol) dan Tubersol. PP$ yan! dipakai ada 3 &enis yaitu PP$0+ dibuat oleh +iebert dan @lenn tahun 1939 yan! sampai sekaran! di!unakan seba!ai standart )nternasional. +eba!ai dosis standart adalah . Tuberkulin /nit (T/) PP$0+ yan! diartikan akti*itas u&i tuberkulin ini dapat men!ekskresikan #,1 m!>#,1 ml PP$0+. $osis lain yan! pernah dilaporkan adalah dosis 1 dan 3.# T/, tetapi dosis ini tidak di!unakan

3#

karena akan men!hasilkan reaksi yan! ke'il dan membutuhkan dosis yan! besar. PP$ &ika dien'erkan dapat diabsorsi oleh !elas dan plastik dalam &umlah yan! ber*ariasi, sehin!!a untuk men!hindarinya didalam sediaan PP$ ditambah den!an T%een 2# untuk men!hindari sediaan tersebut terabsorbsi. +tandart tuberkulin ada 3 yaitu PP$0+ dan PP$ -T 33, dibuat oleh Biolo!i'al +tandards +taten, +erum )nstitute, 4openha!en, $enmark. $osis standart . T/ PP$0+ sama den!an dosis L T/ PP$ -T 33. WH merekomendasikan pen!!unaan 1

T/ PP$ -T 33 T%een 2# untuk pene!akan dia!nosis TB !una memisahkan terinfeksi TB den!an sakit TB. /&i tuberkulin merupakan alat dia!nosis TB yan! sudah san!at lama dikenal, tetapi hin!!a saat ini masih mempunyai nilai dia!nostik yan! tin!!i, terutama pada anak, den!an sensiti*itas dan spesifisitas di atas 9# 5. /&i tuberkulin adalah peran!kat dia!nosis untuk men!etahui adanya infeksi TB berdasarkan aspek imunitas seluler. Pemba'aan dilakukan (2073 &am setelah penyuntikan.Man! diukur adalah indurasi yan! timbul, bukan hiperemi. )ndurasi diperiksa den!an 'ara palpasi untuk menentukan tepi indurasi, kemudian ditandai dan diukur diameter trans*ersal indurasi yan! timbul dan dinyatakan hasilnya dalam milimeter. 9ika tidak timbul indurasi sama sekali, hasilnya dilaporkan seba!ai # mm, &an!an hanya dilaporkan seba!ai ne!atif. "pabila diameter indurasi #0( mm, dinyatakan u&i tuberkulin ne!atif. $iameter .09 mm dinyatakan positif mera!ukan, karena dapat disebabkan oleh 1. atipik dan B4@, atau meman! karena infeksi TB. /ntuk hasil yan! mera!ukan ini, &ika perlu diulan! 3 min!!u kemudian. $iameter indurasi I 1# mm dinyatakan positif tanpa melihat status B4@ pasien. Pada anak balita yan! telah mendapat B4@, diameter indurasi 1#01. mm masih mun!kin disebabkan oleh B4@ selain oleh infeksi TB alamiah. +edan!kan bila ukuran indurasi I 1. mm, hasil positif ini lebih mun!kin karena infeksi TB alamiah dibandin!kan karena B4@. Pen!aruh B4@ terhadap reaksi positif tuberkulin palin! lama berlan!sun!

31

hin!!a . tahun setelah penyuntikan. leh karena itu &ika memba'a tuberkulin pada anak0anak J . tahun, faktor B4@ dapat diabaikan. Pada anak, kontak erat den!an pasien tuberkulosis de%asa aktif dan BT" positif, atau anak den!an imunocompromise , misal !iGi buruk, ke!anasan, diameter indurasi I . mm harus di'uri!ai telah terinfeksi TB. Pada anak tanpa risiko, tetapi tin!!al di daerah endemis TB, u&i tuberkulin perlu dilakukan pada umur 1 tahun, (08 tahun, dan 11018 tahun. Tetapi pada anak den!an risiko tin!!i didaerah endemis TB, u&i tuberkulin perlu dilakukan setiap tahun. /&i tuberkulin positif dapat di&umpai pada 3 keadaan seba!ai berikut < 1. )nfeksi TB alamiah a. )nfeksi TB tanpa sakit b. )nfeksi TB dan sakit TB '. Pas'a terapi TB 3. )munisasi B4@ (infeksi TB buatan) 3. )nfeksi 1. atipik> M. leprae /&i tuberkulin ne!atif pada 3 kemun!kinan seba!ai berikut < 1. Tidak ada infeksi TB 3. $alam masa inkubasi infreksi TB 3. "ner!i < keadaan penekanan sistem imun oleh berba!ai keadaan, sehin!!a tubuh tidak memberikan reaksi terhadap tuberkulin, %alaupun sebenarnya sudah terinfeksi TB. Beberapa keadaan yan! dapat menimbulkan aner!i misalnya !iGi buruk, ke!anasan, pen!!unaan steroid &an!ka pan&an!, sitostatika, 'ampak, pertusis, *arisela, influenGa, TB yan! berat, serta pemberian *aksinasi den!an *aksin *irus hidup.

33

/&i tuberkulin positif palsu dapat &u!a ditemukan pada keadaan penyuntikan yan! salah dan salah interpretasi, demikian &u!a ne!atif palsu, di sampin! penyimpanan tuberkulin yan! tidak baik sehin!!a potensinya menurun. IMUNOLOGI UJI TUBERKULIN -eaksi u&i tuberkulin yan! dilakukan se'ara intradermal akan men!hasilkan hipersensiti*iti tipe )B atau elaye +type hypersensiti*ity ($TH).1asuknya protein TB saat in&eksi akan menyebabkan sel T tersensitisasi dan men!!erakkan limfosit ke tempat suntikan. Aimfosit akan meran!san! terbentuknya indurasi dan *asodilatasi lokal, edema, deposit fibrin dan penarikan sel inflamasi ke tempat suntikan seperti tampak pada !ambar 3.

@ambar 3. -eaksi Tipe )B N ,elaye Tipe "ypersensiti*ity -eaksi tuberkulin merupakan reaksi $TH. Protein tuberkulin yan! disuntikkan di kulit, kemudian diproses dan dipresentasikan ke sel dendritik>Aan!erhans ke sel T melalui molekul 1H40)). +itokin yan! diproduksi oleh sel T, akan membentuk molekul adhesi endotel. 1onosit keluar dari pembuluh darah dan masuk ke tempat suntikan yan! berkemban! men&adi makrofa!. Produk sel T dan makrofa! menimbulkan edema dan ben!kak. Test kulit positif maka akan tampak edema lokal atau infiltrat maksimal (2073 &am setelah suntikan. 33

CARA PEMBERIAN DAN PEMBACAAN UJI TUBERKULIN /&i tuberkulin dilakukan den!an in&eksi #,1 ml PP$ se'ara intradermal (den!an metode 1antouO) di *olar > permukaan belakan! len!an ba%ah. )n&eksi tuberkulin men!!unakan &arum !au!e 37 dan spuit tuberkulin, saat melakukan in&eksi harus membentuk sudut 3#: antara kulit dan &arum. Penyuntikan dian!!ap berhasil &ika pada saat menyuntikkan didapatkan indurasi diameter 801# mm. /&i ini diba'a dalam %aktu (2073 &am setelah suntikan. Hasil u&i tuberkulin di'atat seba!ai diameter indurasi bukan kemerahan den!an 'ara palpasi. +tandarisasi di!unakan diameter indurasi diukur se'ara trans*ersal dari pan&an! aOis len!an ba%ah di'atat dalam milimeter.

INTERPRETASI UJI TUBERKULIN /ntuk men!interpretasikan u&i tuberkulin den!an tepat, harus men!etahui sensiti*iti dan spesi*isiti &u!a u&i ramal positif dan u&i ramal ne!atif. +eperti pada u&i dia!nostik lain, u&i tuberkulin mempunyai sensiti*iti 1##5 dan spesi*isiti 1##5. /&i tuberkulin dilaporkan mempunyai u&i ramal positif dan ne!atif 1#03.5. ;aktor0faktor yan! dapat menyebabkan hasil false positif dan false ne!atif. 0 ;aktor yan! berhubun!an den!an oran! yan! dilakukan pemeriksaan 0 )nfeksi *irus, bakteri, &amur Baksinasi *irus hidup ,etidakseimban!an metabolik seperti 4-; -endahnya status protein bat

;aktor yan! berhubun!an den!an tuberkulin yan! di!unakan Terkontaminasi

3(

;aktor yan! berhubun!an den!an metode penyuntikan )n&eksi sub'utan Penyuntikan yan! lambat setelah &arum masuk intradermal )n&eksi bersamaan den!an anti!en lain

;aktor yan! berhubun!an den!an pen'atatan dan hasil pemba'aan Pemba'a yan! tidak handal Bias

Hasil u&i tuberkulin ne!atif dapat diartikan seba!ai seseoran! tersebut tidak terinfeksi den!an basil TB. +elain itu dapat &u!a oleh karena ter&adi pada saat kuran! dari umur 1# min!!u sebelum imunolo!i seseoran! terhadap basil TB terbentuk. 9ika ter&adi hasil yan! ne!atif maka u&i tuberkulin dapat diulan! 3 bulan setelah suntikan pertama. Hasil u&i tuberkulin yan! positif dapat diartikan seba!ai seseoran! tersebut sedan! terinfeksi basil TB. Terpentin! disini adalah &ika seseoran! sedan! terinfeksi 1.tb apakah sedan! terinfeksi atau sakit TB. +ehin!!a !uideline "4H" menyebutkan &ika hasil u&i tuberkulin positif maka harus dikonfirmasikan den!an pemeriksaan foto toraks dan pemeriksaan dahak. 9ika hasil foto toraks tersebut normal maka dapat dilakukan pemberian terapi TB laten, tetapi &ika hasil foto toraks ter&adi kelainan dan menun&ukkan ke arah TB maka dapat dimasukkan dalam 1.tb aktif. +pesi*isitas u&i tuberkulin dapat berubah men&adi 9.0995 ter!antun! dari pre*alensi infeksi bukan TB pada suatu populasi. 9ika spesi*isitas turun akan menin!katkan resiko cross+reaction. 4urley mendapatkan spesi*isiti u&i tuberkulin menin!kat den!an

menin!katnya 'ut off point den!an 1. mm. 1anuhutu mendapatkan 'ut off point antara reactor dan non+reactor 13 mm. Pemba'aan u&i tuberkulin dilakukan dalam %aktu (2073 &am, tetapi dian&urkan untuk 73 &am. Hasil yan! dilaporkan adalah indurasi lokal (bukan kemerahan) den!an palpasi, 3.

diameter trans*ersal dan di'atat dalam millimeter. )nterpretasi ukuran diameter u&i tuberkulin seperti pada table. $en!an dasar sensiti*itas dan spesi*isitas, pre*alensi TB masin!0masin! kelompok dapat dibedakan. Terdapat 3 'ut0off point yan! direkomendasikan untuk men!artikan reaksi u&i tuberkulin seperti tampak pada tabel. )ndurasi I . mm )ndurasi I 1# mm 0 4lose 'onta't den!an 0 $atan! dari indi*idu diketahui>suspek dalam %aktu 3 tahun 0 +uspek TB aktif den!an bukti radiolo!is 0 Terinfeksi H)B 0 )ndi*idu perubahan TB 0 )ndi*idu yan! transplantasi or!an dan imuno'ompromised den!an klinis dan yan! TB TB 0 )ndi*idu den!an H)B ne!atif tetapi pen!!una ="PP" 0 ,on*ersi u&i tuberkulin men&adi 1# mm dalam 3 tahun klinis yan! merupakan resiko TB < $1 1alabsorbsi 4-; Tumor kepala Aeukemia, lymphoma +ilikosis 9+ "%)+"% BCG T'$(+-+# U5% T!,'$ !*%) )munisasi B4@ se'ara luas di!unakan untuk men'e!ah TB yan! berat. $ata yan! didapat menyatakan bah%a B4@ dapat memproteksi TB se'ara luas dan menin!itis TB 38 leher dan 0 ,on*ersi u&i tuberkulin men&adi J 1. mm )ndurasi I 1. mm daerah 0 Bukan risiko tertular TB

tin!!i

den!an pre*alensi tin!!i

setelah 3 tahun

radiolo!is 0 )ndi*idu den!an kondisi

berupa fibrotik, tanda

meskipun tidak dapat mela%an TB pada anak dan de%asa. )munisasi B4@ dapat menyebabkan reaksi u&i tuberkulin men&adi positif tetapi keadaan ini berlan!sun! selama beberapa tahun setelah B4@ diberikan. -eaksi ini umumnya ke'il (6 8mm). 9ika reaksi u&i tuberkulin den!an ukuran yan! lebih besar dapat men!!ambarkan positif atau abnormal, yan! diartikan seba!ai seeoran! tersebut terpapar den!an basil TB, terdapat antibodi terhadap basil TB dan se%aktu0%aktu dapat men&adi aktif.

37

BAB III KESIMPULAN

1. 3.

TB4 adalah penyakit infeksi yan! disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bah%a u&i tuberkulin bukan se!alanya dalam pene!akan dia!nosis penyakit tb', tetapi selain dilihat dari !e&ala &u!a pemeriksaan penun&an! lain seperti foto thorak, tes darah serta u&i bakteriolo!i (sputum) san!at diperlukan.

32

DAFTAR PUSTAKA

1. "nonim. (3##3). Pe oman -asional Penanggulangan Tuber.ulosis, 4etakan ke02, $epartemen ,esehatan -epublik )ndonesia, 9akarta. 3. "nonim. (3##.). Tuberculosis. 9akarta< -+P) Prof. $r. +ulianti +aroso. $iakses pada tan!!al . 9anuari 3#1# dari http<>>%%%.infeksi.'om 3. "nonim. (3##8). TB% pa a ana.. $iakses pada tan!!al . 9anuari 3#1# dari http<>>%%%.dinkes0dki.!o.id>tb'1.html (. Batra, Bananda, 1$. (3##9). Tuberculosis. $iakses . 9anuari 3#1# dari http<>>%%%.emedi'ine.'om>ped>topi'3331.htm .. 4atanGano, Tara, 1$. (3##.). /ung, Primary Tuberculosis. http<>>%%%.emedi'ine.'om>radio>topi'(11.htm 8. 4hon, A. $a*id et al. (3###). Targete Tuberculin Testing an Treatment o) /atent Tuberculosis #n)ection. $iakses . 9anuari 3#1# dari http<

>>%%%.'d'.!o*>mm%r>pre*ie%>mm%rhtml>rr(9#8a1.htm 7. Hudoyo, "hmad dr, +p.P, -usmiati, A-': -$: S#.P: . ;2446<. Jurnal

Tuberkulosis Indonesia. J+ +$.+ / Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis )ndonesia 2. ,homsah. (3##2). Penya.it Tuber.ulosis (TB%). $iakses pada tan!!al . 9anuari 3#1# dari http<>>%%%.infopenyakit.'om 9. +aiman, Aisa. (3##(). Targete Tuberculin 0.in Testing an Treatment o) /atent Tuberculosis #n)ection in %hil ren an 1 olescent . $iakses . 9anuari 3#1# dari

http<>>%%%.pediatri's.or!>'!i>'ontent>full>11(>(>+3>117.

39

1#. -aha&oe, =.=., Basir, $., 1akmuri, ,artasasmita, 4.B. (3##.). Pe oman -asional Tuber.ulosis 1na., /nit ,oordinasi Pulmonolo!i )katan $okter "nak )ndonesia, 9akarta. 11. -eGnik, 1arina and $iakses #92#.html 13. +alaGar, et al.( 3##1). Pulmonary tuberculosis in chil ren in e*eloping country. $iakses . 9anuari 3#1# dari http2!!%%%.n'bi.nlm.nih.!o*>pubmed>11(2321( 13. +taf Pen!a&ar )lmu ,esehatan "nak ;akultas ,edokteran /ni*ersitas )ndonesia. (192.). Bu.u 3uliah 4 #lmu 3esehatan 1na. . Ba!ian )lmu ,esehatan "nak ;akultas ,edokteran /ni*ersitas )ndonesia, 9akarta. 1(. Widodo, Eddy. (3##3). Tuber.ulosis pa a 1na. 2 ,iagnosis Pe iatrics /pdate, 9akarta. 87078. an Tata /a.sana . . 9anuari Guah, 3#1# . Philip. (3##8). Tuberculin 0.in Testing in %hil ren. . dari http2!!%%%.'d'.!o*>='idod>E)$>*ol13no#.>#.0

3#