Anda di halaman 1dari 46

Kolom Lithologi

Satuan Stratigrafi
Satuan Stratigrafi dikelompokkan : 1. Satuan stratigrafi resmi (formal name) 2. Satuan stratigrafi tak resmi (nonformal name)

Satuan stratigrafi resmi (formal name)

Satuan stratigrafi resmi


Dinyatakan dan diawali dengan istilah Formasi, kemudian diikuti nama daerah tipe Daerah tipe adalah daerah dimana urutan lithostratigrafi secara lengkap didapatkan nama gunung, daerah, desa, sungai Contoh: Formasi Punung, tingkatan satuan resmi adalah Formasi, sedang Punung adalah nama daerah dimana stratigrafi tipenya didapatkan

Urutan lithologi pada daerah stratigrafi tipe sifatnya abadi secara alamiah tidak akan berubah sepanjang waktu geologi Gabungan beberapa Formasi disebut sebagai Kelompok (Group) sedang bagian dari Formasi disebut Anggota (Member)

Penyajian 1: uraian Formasi


FORMASI HALANG- batuan turbidit dengan struktur sedimen yang jelas seperti: bidang perlapisan, perlapisan bertahap, flute cast dan lainnya. Pada bagian atasnya lebih menonjol lapisan-lapisan batulempung dan napal, semakin ke bawah (bagian tengah dari stratigrafinya) semakin banyak mengandung penyisip, kadang-kadang merupakan bagian penyeling yang kerap. Batuan penyisip dan penyeling di bagian tengah formasi ini terdiri dari batupasir kasar gampingan mengandung hornblende, feldspar, kwarsa dan kalsit. Pada bagian bawah dari formasi ini batuan-batuan tersebut di atas bersisipan dengan lapisan batugamping dan lensa-lensa batugamping yang berukuran setengah bongkah dan mengandung fosil Mollusca dan Foraminifera besar. Umumnya warna batuan yang membentuk formasi ini adalah abu-abu semu hijau dan abu-abu tua. Lensa-lensa konglomerate dan breksi dari berbagai ketebalan dengan komponen andesit dan basalt yang tersemen oleh batupasir tufan kasar seringkali ditemukan dalam formasi ini. Tebal maksimum dari lensa ini 150 meter. Tebal seluruhan formasi ini 2.400 meter.

Penyajian 2: uraian Formasi


Umur Satuan symbol, tebal, sebaran, luas Lithologi, struktur sedimen Kekerabatan korelasi Fosil, lingkungan pengendapan, sumber asal, catatan lain Umur berdasarkan Pollen (tidak lebih tua dari Eocene Akhir) dan posisi stratigrafi, Fluviatil sampai delta atau lagun

Eocene Akhir Formasi Ingar Eocene Akhir Formasi Mentemoi, Teme; 1000 m; Di selatan tengah batas daerah, Nama yang digunakan oleh Elf Indonesie petroleum company Eocene Akhir Batupasir Haloq Batulumpur, batupasir di bagian bawah, serpih karbonan, sedikit batupasir di bagian atasnya Selaras di atas batupasir Haloq, secara lateral setara dengan Formasi Ingar yang tak teruraikan. Batupasir Dangkan dan serpih Silat

Satuan stratigrafi tak resmi (nonformal name)

Satuan stratigrafi tak resmi


Dinyatakan dengan istilah Satuan Tata cara penulisan diawali dengan huruf besar [huruf S], diikuti dengan nama batuan penyusun yang dominan (diawali dengan huruf besar dianggap sebagai nama diri). Contoh: Satuan Napal, tingkatan penamaan stratigrafi tak resmi adalah satuan, sedang napal adalah nama lithologi yang dominan.

Tatacara penulisan
Tatacara penulisan kata Satuan, dimulai dengan huruf besar [huruf S], diikuti kata Napal, yang juga dimulai dengan huruf besar [huruf N], ini merupakan dasar utama. Di belakang nama batuan dibenarkan ditambahkan sifat fisik khas dari batuan yang bersangkutan Satuan Napal Berlapis. Satuan Batugamping Berlapis.

Kasus 1: Korelasi antar satuan


Napal dapat dijumpai di:
Mandala Cekungan Serayu Selatan bagian Kulon Progo Formasi Sentolo Mandala Cekungan Rembang Formasi Mundu. Untuk mempermudah dalam melakukan korelasi dan sekaligus untuk mengetahui mandala cekungan sedimentasi disarankan untuk menuliskan nama formal (tingkatan Formasi) di belakang Satuan yang dimaksud

Kasus 2: Korelasi antar satuan


Satuan Batugamping Berlapis Wonosari bila pemetaan geologi dilakukan di Mandala Cekungan Pegunungan Selatan, Jawa Satuan Batugamping Berlapis Wonocolo bila pemetaan geologi dilakukan di Mandala Cekungan Rembang Satuan Batugamping Berlapis Pamalar bila pemetaan geologi dilakukan di Mandala Cekungan Sumba di Pulau Sumba

Cekungan Sedimentasi

Urgensi mandala cekungan sedimentasi


geologist harus dan tetap memperhatikan stratigrafi regional suatu mandala cekungan sedimentasi hampir semua cekungan sedimentasi di Indonesia telah disuguhkan nama formalnya. Mahasiswa dipersilahkan membaca dan mencermati Buku The Geology of Indonesia volume 1, yang disusun oleh Bemmelen (1949), atau Buku Stratigrapic Lexion of Indonesia yang disusun oleh Marks (1965).

Penggambaran urutan-urutan stratigrafi kolom lithologi


Penggambaran urutan-urutan stratigrafi, meliputi tebal masing-masing lapisan, komposisi mineralogi, struktur sedimen, kandungan fosil, dan sifat-sifat fisik mencirikan lain, disuguhkan dalam bentuk kolom lithologi. Kolom lithologi gabungan sistematis dari klom lithologi singkapan. Kolom lithologi bagian dari kolom stratigrafi daerah penelitian

Hubungan Kolom Stratigrafi Kolom Lithologi


Kolom stratigrafi suatu daerah yang dipetakan merupakan susunan stratigrafis (dua atau lebih) dari kolom lithologi (satuan batuan) suatu daerah yang dipetakan. Kolom lithologi (satuan batuan) merupakan susunan stratigrafi (dua atau lebih) kolom lithologi singkapan batuan yang dijumpai di setiap lokasi pengamatan. Kolom lithologi singkapan batuan merupakan hasil pengamatan secara langsung variasi lithologi (secara stratigrafis) di setiap lokasi pengamatan (dilengkapi dengan hasil analisa laboratoriu).

Pencermatan
Tingkat ketelitian pada saat menyusun kolom lithologi suatu satuan batuan Tingkat ketelitian pada saat menyusun kolom lithologi singkapan batuan. Ketelitian dalam membaca variasi lithologi dan gejala geologi lainnya di lokasi pengamatan Ketelitian dalam pencermatan, ketepatan dan kecepatan membaca data geologi sangat ditentukan pada penguasaan konsep-konsep dasar geologi oleh geologist yang bersangkutan.

Variasi ketebalan

Konsep pemodelan pengendapan

Penyusunan Kolom Lithologi


Tatacara menyusun urutan variasi lithologi dalam suatu kolom lithologi satuan batuan dapat dan boleh dilakukan dengan membuat stratigrafi terukur (measured stratigraphic section) dalam membuat stratigrafi terukur disyaratkan keterdapatan singkapan batuan pada satu jalur yang secara menerus dan berkesinambungan dapat dilihat di lapangan. Apabila singkapan batuan yang dimaksud (dalam satu jalur) tidak dijumpai di lapangan secara menerus penyusunan kolom lithologi satuan batuan dapat dilakukan dengan membagi jalur menjadi dua atau lebih sub-jalur. Kolom lithologi sub-jalur dapat diperoleh dan merupakan gabungan urutan stratigrafis kolom lithologi singkapan di masing-masing lokasi pengamatan.

Kenali kontur

Sketsa jalur lintasan

Korelasi antar profil

Korelasi data kolom stratigrafi


Dalam kolom stratigrafi yang sudah berhasil disusun dari masing-masing kolom lithologi perlu disebutkan umur geologi, tebal, lingkungan sedimentasi, dan hubungan stratigrafi (selaras atau tidak selaras) dengan kolom lithologi yang stratigrafis mempunyai umur lebih muda. Dalam hal dua satuan lithologi atau lebih mempunyai kedudukan membaji, melensa atau menjari (interfingering), maka keadaan tersebut harus ditunjukkan pada gambar kolom stratigrafi. Umur satuan batuan didasarkan atas hasil analisa paleontologi. Dalam hal pada satuan batuan tidak dijumpai fosil, maka penentuan umur geologi dapat ditentukan dengan cara melakukan korelasi lithologi, atau korelasi tektonik dengan stratigrafi regional atau dengan stratigrafi mandala cekungan sedimentasi yang berdampingan, atau dapat juga dengan dating radioaktif

Hubungan stratigrafi

Ketebalan lapisan profil


Untuk menentukan tebal satuan batuan dapat dilakukan dan merupakan hasil pengukuran stratigrafi di lapangan. Apabila hal itu tidak dapat dilaksanakan maka penentuan tebal satuan batuan didapat dari hasil perhitungan pada sayatan geologi yang dibuat. Dalam hal tebal satuan batuan itu dihitung pada dua atau lebih sayatan geologi, maka besar nilai ketebalan satuan batuan dinyatakan dengan nilai antara, artinya nilai minimum dan nilai maksimum dari hasil perhitungan pada sayatan geologi. Tidak dibenarkan anda menuliskan nilai ketebalan satuan batuan merupakan nilai rata-rata. Untuk satuan batuan yang secara stratigrafis tertua, ketebalan satuan batuan dinyatakan dengan menambahkan kata paling sedikit kemudian diikuti dengan hasil hitungan tebal satuan batuan, misal tebal satuan X, paling sedikit 1000 m. Hal yang sama berlaku juga untuk satuan batuan yang stratigrafis termuda (bila stratigrafis diatasnya tidak didapatkan endapan campuran),

Profil / Kolom Litologi

Erosional surface
Untuk endapan campuran (endapan yang terbentuk sekarang), ketebalannya merupakan hasil pengamatan di lapangan. Ketebalan endapan campuran sangat sulit diperoleh dengan menghitung dari sayatan geologi. Untuk menentukan lingkungan sedimentasi, dapat dipertimbangkan berdasarkan atas parameter lithologi, struktur sedimen, kandungan mineral terkhususkan dan kandungan fosilnya. Apabila parameterparameter tersebut berhasil didapatkan, disarankan untuk menentukan lingkungan sedimentasi dengan cara matrik sederhana. Untuk menentukan hubungan stratigrafi antar satuan batuan dipertimbangkan berdasarkan lingkungan sedimentasi masingmasing satuan batuan. Dalam hal terdapat hiatus, umur satuan batuan dapat diketahui dari hasil penentuan umur geologi, maka hubungan stratigrafi merupakan suatu para conformity atau angular unconformity

Ketidakselarasan

Alluvial
Untuk batuan yang paling muda, yang biasa disebut dengan kata Satuan Alluvial, disarankan disebut sebagai Endapan Campuran. Alluvial bukan nama lithologi, tetapi berasal dari kata Alluvium yang merupakan nama waktu geologi dengan tingkatan kala. Disamping itu urutan susunan lithologi alluvial, masih berubah-ubah. Dengan demikian tidak mempunyai daerah type tidak resmi, sehingga sesuai dengan batasan satuan tidak memenuhi syarat untuk disebut sebagai satuan batuan. Contoh penamaan Alluvial: Endapan Campuran Detrital Pasir, Lempung dan Gravel Andesit. Dengan cara menyebutkan demikian, maka potensi sumber daya bahan tambang, sifat fisiknya dapat diketahui secara langsung.

Bahan pertimbangan dalam menulis deskripsi satuan batuan


Hasil pemetaan geologi disuguhkan dalam bentuk peta dan sayatan geologi. Pengamatan yang dilakukan di lapangan Pengamatan atau analisa laboratorium Interpretasi berkaitan dengan lingkungan pengendapan dan hubungan stratigrafi

Urutan deskripsi satuan batuan


1. Uraikan nama satuan berdasarkan atas susunan lithologi yang dominan, dan uraikan kesetaraan dengan nama dalam stratigrafi regional. 2. Jelaskan dasar anda memberi nama tersebut, antara lain berdasarkan lithologi yang dominan, yaitu tersusun dari batugamping dan kaitannya dengan stratigrafi regional. 3. Misal: Satuan Batugamping Wonosari; Satuan Napal Sentolo; Satuan Batupasir Berglaukonit Ledok.

4. Uraikan penyebaran satuan batuan dimaksud (dalam contoh ini Satuan Batugamping Wonosari) melihat peta geologi yang anda buat. 5. Sebutkan ketebalan satuan batuan berdasarkan atas sayatan geologi yang anda pilih, atau berdasarkan hasil pengukuran stratigrafi.

6. Uraikan kandungan fosil berdasarkan hasil pengamatan laboratorium umur geologi, apabila mungkin sampai tingkatan kala (misal: kala Miosen atas). Untuk endapan yang berumur Tersier, umur geologi dikorelasikan dengan System Klasifikasi Huruf Tersier Indonesia. 7. Berdasarkan atas pengamatan lithologi meliputi petrografi dan paleontologi, dan struktur sedimen, tentukan lingkungan pengendapannya. Apabila mungkin sebutkan pula sumber mineral dan tektonik sedimentasi.

8. Interpretasikan hubungan stratigrafi dengan satuan batuan yang dibawahnya jangan mencoba menguraikan hubungan stratigrafi dengan satuan batuan yang stratigrafi lebih muda, karena anda belum mendeskripsi satuan batuan yang lebih muda tersebut. Hubungan stratigrafi antara lain: selaras, membaji, interfingering, tidak selaras dan sebagainya. 9. Lakukan korelasi dengan stratigrafi regional

Cekungan Sedimentasi Regional

Kolom stratigrafi
Skala regional
Studi kasus: beda fasies

Fasies alluvial flood plain lokal

Sistematis Kolom Stratigrafi


Uraikan satuan batuan secara stratigrafis, artinya dari urutan satuan batuan yang tua, misal Satuan A (digambarkan pada kolom di bagian paling bawah dan ditulis yang pertama pada uraian satuan batuan secara lengkap), dilanjutkan ke yang satuan batuan yang umur geologinya relative lebih muda misal Satuan B (digambarkan pada kolom di atas Satuan A dan uraian secara lengkap ditulis setelah selesai menuliskan uraian Satuan Batuan A). Demikian seterusnya, dan satuan batuan yang umur geologinya relatif termuda digambarkan pada kolom di bagian paling atas, dengan dituliskan uraiannya secara lengkap pada bagian paling akhir.

Korelasi antar profil

Catatan
Hampir tidak pernah didapatkan peta geologi suatu daerah hanya terdiri dari satu satuan batuan satuan lithostratigrafi Kenyataan di lapangan, untuk membedakan antara satuan batuan yang satu dengan satuan batuan yang lain, kadangkadang tampak nyata, tetapi kebanyakan tidak tampak nyata . Salah satu faktor yang berpengaruh antara lain tingkat pelapukan yang sudah lanjut, hal ini sangat umum terjadi di daerah tropis seperti di Indonesia.