Anda di halaman 1dari 11

BAB I LAPORAN KASUS

I.1.

IDENTITAS PASIEN
Nama Umur Jenis kelamin Agama Pekerjaan Alamat Tanggal masuk No.RM : Bpk. S : 13 tahun : Laki-laki : Islam : Pelajar : Tukmudal : 26-8-2013 : 817151

I.2.

ANAMNESIS

a. Keluhan utama

Nyeri perut

b. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang ke RSUD Arjawinangun pada tanggal 26 Agustus 2013 jam 19.30 WIB dengan keluhan perut terasa nyeri, kembung serta mual jika makan maka pasien muntah, pasien juga mengeluh tidak bisa buang air besar selama 3 hari dan tidak bisa kentut 1hari.

c. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat sakit seperti sekarang sebelumnya disangkal Riwayat trauma di perut di sangkal Riwayat operasi tidak ada

d. Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada penyakit yang diturunkan

I.3

PEMERIKSAAN FISIK A. Status Generalis 1. Keadaan Umum 2. Kesadaran : Sedang : Compos mentis

3. Vital Sign

: T : 100/70 mmHg N : 80 x/menit R : 20 x/menit S : 37,3C

4. Pemeriksaan Kepala Kepala Mata : Normochepal : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, pupil isokor, refleks pupil baik, tidak ada eksoftalmus. Telinga Hidung Mulut : Simetris, discharge tidak ada. : Deviasi septum tidak ada, discharge tidak ada. : Bibir tidak kering, tidak anemis, lidah tidak kotor, tidak hiperemis, tidak tremor, faring tidak hiperemis.

5. Pemeriksaan Leher Inspeksi Palpasi : Trachea di tengah : Kelenjar tyroid tidak membesar

6. Pemeriksaan Thorak Paru-paru Inspeksi : Simetris, inspirasi > ekspirasi, retraksi intercostal (-), ketinggalan gerak saat bernafas (-), tremor (), bekas luka (-). Palpasi Perkusi : Vokal fremitus kanan kiri sama. : Sonor seluruh lapangan paru, suara tambahan tidak ada. Auskultasi : Vesikuler seluruh lapangan paru, suara tambahan tidak ada. Jantung Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat.

Palpasi

: Ictus cordis teraba pada SIC V LMC sinistra tidak kuat angkat, tidak ada thrill.

Perkusi

: Batas atas kiri SIC II LSB Batas atas kanan SIC II RSB Batas bawah kiri SIC V LMC sinistra Batas bawah kanan SIC IV RSB

Auskultasi

: S1 > S2 reguler di apex, suara tambahan bising (), gallop (-).

7. Abdomen Status lokalis

8. Ekstremitas Superior : Reflek fisiologis baik, tidak ada refleks

patologis, tidak ada atrofi, tidak ada tumor, tonus otot cukup. Inferior : Reflek fisiologis baik, tidak ada refleks

patologis, tidak ada atrofi, tidak ada tumor, tidak ada udem, tonus otot cukup.

9.

Costovertebra

: Tidak ada kifosis, tidak ada lordosis, tidak ada skoliosis, tidak ada nyeri ketok.

B. Status Lokalis Inspeksi

: R. Abdomen : Distensi, darm counter ( + ), tidak ada darm steifung.

Palpasi

: Supel, Nyeri tekan (-) Hepar/lien tak teraba Tidak teraba masa tumor

Perkusi Auskultasi

: Hipertimpani : peristaltik meningkat, borboritmik (+), metalic sound ( - )

Rectal toucher

: ampula recti kolaps 3

Pemeriksaan roentgen - ada hearing bone appearance - ada gambaran corpal, susuk/ jarum - tampak distensi usus

I.4 RESUME A. Anamnesis Pasien laki-laki umur 13 tahun pekerjaan pelajar, datang ke RSUD Arjawinangun dengan keluhan perut terasa nyeri, kembung serta mual jika makan maka pasien muntah, pasien juga mengeluh tidak bisa buang air besar selama 3 hari dan tidak bisa kentut 1 hari.

B. Pemeriksaan Fisik 1. Status generalis 2. Status lokalis R. abdomen : Dalam batas normal : : Tampak Distensi, darm counter ( + ), tidak ada darm steifung, supel, nyeri tekan (-) perkusi hipertimpani, peristaltik meningkat, borboritmik (+), metalic sound ( - )

I.

DIAGNOSIS KERJA - Ileus Obstrukstif

II.

DIAGNOSIS BANDING - Ileus paralitik - Apendisitis akut - Tumor ileoecal

III. PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium : Pemeriksaan laboratorium darah rutin Hb AL AE AT : 15,3 gr% : 11,7 rb/ul : 5,39 jt/ul : 194 rb/ul 4

Foto Ro Thorax

HMT : 46,7 % GDS 109 gr/dl

Ureum 47 mg/dl Creatinin Albumin Na K Cl 1,04 4,11

139,9 mmol/l 3,84 mmol/l 104,3 mmol/l

: - Pneumoperoitenium tidak tampak TB Paru aktif - Tidak tampak pembesaran jantung

Foto BNO : - Ileus obstruktif letak tinggi - Tidak tampak urolitiasis opak

IV. TERAPI Konservatif : - pasang infus ( ringer laktat, D5%, 1:2, 20 tpm) - pasang kateter ( balance cairan ) - Awasi vital sign - Puasa - Obat : Inj. cefotaxim Inj. ketorolac Inj. Ranitidine Ondasentron 2x1 2x1 2x1 2x1

Operatif : - pro laparotomi Explorasi

V.

PROGNOSIS Quo ad vitam Quo ad functionam Quo ad sanationam : Ad bonam : Ad bonam : Ad bonam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Ileus yaitu gangguan pasase usus yang disertai gejala mual, muntah, perut kembung, tidak flatus dan tidak BAB. Bila gejala ringan dinamakan sub ileus. Ileus dibagi menjadi: 1. Ileus obstruksi/mekanik Menurut letak sumbatanya maka ileus obstruktif dibagi menjadi dua : 1) ileus letak tinggi, bila mengenai usus halus 2) ileus letal rendah, bila mengenai usus besar 3) sub ileus bila sumbatan hanya sebagian Obstruksi usus halus dapat disebabkan oleh perlekatan usus, henia, neoplasma, intususepsi, volvulus, benda asing, batu empedu yang masuk ke usus melalui fistula, penyakit radang usus ( inflammatory bowel disease ), striktur, fibrokistik dan hematoma. Ileus obstruksi letak tinggi sering terjadi pada appendicitis infiltrate pada invaginasi. Invaginasi, dilatasi usus proksimal (usus proksimal membesar) dapat disebabkan oleh polip dan divertikel usus Invaginasi sering terjadi pada anak-anak. Volvulus (usus memuntir) sering terjadi pada orang tua. Strength ileus (termasuk ileus mekanik) akibat dari perdarahan pasca operasi/infeksi sehingga terjadi Band (jaringan seperti benang keras) menjerat usus maka bagian proksimal mengalami dilatasi

(mengembang). Penyebab lain dapat berupa tumor colon atau rectum. Tumor biasanya pada mukosa, bila berlanjut sampai tunika adventisia atau serosa, bila lebih berat lagi dapat sampai hepar lewat vena mesenterika. Gejala ileus obstruksi yaitu perut kembung (distended), mual dan muntah, tidak flatus dan tidak BAB.

Etiologi : Dari luar usus : Volvulus (usus melintir) pada orang tua

Strange ileus, karena jeratan akibat omentum yag melekat pada suatu tempat akibat perdarahan atau infeksi yang berubah menjadi jaringan yang kuat menjerat usus pada penderita post SC atau laparotomi

Dari dalam lumen : Gejala : Perut kembung (distended) Mual dan muntah Tidak flatus Tidak BAB Karsinoma pada orang tua Invaginasi pada bayi

Fisik diagnostik Inspeksi: - Dinding perut distended

- Ada dam countour (gambaran usus yang mengembang dan karena masih kontraksi tampak dari luar) - Dam steifung Auskultasi: - Hiperperistaltik suara usus meningkat (++) - Borboritmik suara beruntun (seperti suara meriam) - Metalic sound bunyi seperti metal, suara melenting jika diperkusi, seperti suara besi

Rectal toucher: Ampula recti kolaps (usus bergerak terus, sementara ada sumbatan, sehingga kolaps). Pemeriksaan rontgen Rontgen abdomen 3 posisi: Step leader pattern (gambaran anak tangga) Ada gambaran air dan udara dalam usus (air terlihat putih/opaque, sedang udara lusen/hitam) air fluid level

Tidak semua step leader pattern harus dioperasi, dilihat dulu gejala lainnya. Hearing bone appearance Tidak ada udara bebas Distensi usus di proksimal sumbatan

Komplikasi : Obstruksi disertai proses strangulasi gejala lebih nyata disertai denagn nyeri yang hebat. Hal yang perlu diperhatikan adalah adanya skar bekas operasi atau hernia. Bila dijumpai tanda tanda strangulasi maka diperlukan tindakan operasi segera untuk mencegah terjadinya nekrosis usus. Ileus letak tinggi alkalosis karena muntah-muntah (asam lambung banyak yang hilang) Diagnosis banding : Obstruksi usus halus nyeri pada obstruksi usus halus biasanya Ileus letak tengah asidosis karena empedu alkalis yang menggumpal dan tidak diabsorbsi sehingga timbul sumbatan Ileus letak rendah asidosis karena sumbatan terletak di distal saluran empedu sehingga tidak mendapat empedu alkalis Uremia Toxemia Syok hipovolemik, endotoksik dan sepsis

timbul perlahan dan lebih ringan, serta tidak terjadi muntah bila distensi abdomen masih ringan. Obstruksi pada pasien dewasa tanpa riwayat operasi atau riwayat obstruksi sebelumnya biasanya

disebabkan karsinoma. Ileus paralitik pseudoobstruksi

Terapi : Tujuan utama penatalaksanaan adalah dekompresi bagian yang mengalami obstruksi untuk mencegah perforasi. Tindakan operasi biasanya selalu diperlukan. Menghilangkan penyebab obstruksi adalah tujuan kedua. 2. Ileus paralitik Gejala: o o o Kembung Mual dan muntah Kadang-kadang disertai panas badan

Penyebab: Karena infeksi pada rongga abdomen, dapat berupa pankreatitis, colesistitis, pankreatitis. Uremia, yaitu meningkatnya kadar ureum darah karena ginjal tidak mampu mencuci darah. Sehingga ureum harus diturunkan.

Fisik Diagnostik Inspeksi: Dinding perut distended Defans muskular (+), yaitu dinding perut ditekan/disentuh sakit, sehingga dinding perut menahan karena kesakitan. Auskultasi: Peristaltik (-)

Pemeriksaan rontgen: Gambaran usus melebar Dinding usus dan peritoneum menebal (berwarna opaque)

Rectal toucher: Ampula recti melompong (karena tidak ada peristaltik) Ileus paralitik jangan terburu-buru dioperasi. Ileus paralitik dapat terjadi pada thypoid perforasi, biasanya perforasi pada ileum terminale (dekat App). Karena perforasi udara dari usus keluar, pada foto abdomen posisi duduk tampak ada udara (lusen/hitam) dibawah diafragma (subdiafragma/antara diafragma dan hepar). Volvulus usus melingkar pada bagian proksimal (muntir), sehingga terjadi sumbatan. 9

Thypoid perforasi: - Udara pada subdiafragma - Panas meninggi 3 minggu, lidah kotor.

Ileus obstruksi memiliki tanda peristaltik menurun (karena letak tinggi, bagian distal terdapat metalic sound). Sedang pada ileus paralitik terdapat gambaran borboritmik.

Yang dinilai pada waktu RT: 1. Tonus m.spingter ani 2. Ampula recti 3. Mukosa licin/tidak 4. Massa/benjolan, meliputi ukuran, konsistensi, permukaan, nyeri/tidak. 5. Nyeri tekan (pada arah jam berapa) 6. Kalau sarung tangan dikeluarkan pada sarung tangan ada lendir, darah atau feces STLD dan feces 7. Pada kasus BPH dinilai seberapa besar prostatnya, pulsasi atas teraba atau tidak (jika teraba, berarti yang membesar adalah lobus medialnya). Lobus lateral raba kanan-kiri, jika cekung berarti normal. Jika datar berarti membesar. Terapi : Tergantung penyebab Peritonitis laparotomi

10

DAFTAR PUSTAKA

Hamami, AH., Pieter, J., Riwanto, I., Tjambolang, T., dan Ahmadsyah, I. Usus Halus, apendiks, kolon, dan anorektum. Dalam Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Editor: Sjamsuhidajat, R. dan De Jong, Wim. Jakarta: EGC, 2003. Hal: 615-681. Levine, B.A., and Aust, J.B. Kelainan Bedah Usus Halus. Dalam Buku Ajar Bedah Sabistons essentials surgery. Editor: Sabiston, D.C. Alih bahasa: Andrianto, P., dan I.S., Timan. Editor bahasa: Oswari, J. Jakarta: EGC, 1992. Price, S.A. Patofisiologi: Konsep klinis proses-proses penyakit. Editor: Price, S.A., McCarty, L., Wilson. Editor terjemahan: Wijaya, Caroline. Jakarta: EGC, 1994.

11