Anda di halaman 1dari 16

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang HIV adalah singkatan dari Human immunodeficiency virus yang dapat menyebabkan AIDS dengan cara menyerang sel darah putih yang bernama sel CD4 sehingga dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia yang pada akhirnya tidak dapat bertahan dari gangguan penyakit walaupun yang sangat ringan sekalipun (Bruner, Suddarth, 2002). Perkembangan epidemi HIV/AIDS di Indonesia termasuk dalam kelompok tercepat di Asia. Bahkan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) menyatakan bahwa fase epidemik HIV/AIDS di Indonesia telah berubah dari low menjadi concentrated . Prevalensi terkonsentrasi berarti bahwa jumlah ODHA kurang dari 1% dari total penduduk secara keseluruhan, namun pada kelompok resiko tinggi sudah terinfeksi lebih dari 5% penduduk pada kelompok tersebut (Usman&Apriyanthi,2005). Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh virus HIV ( Human Immuno Deficiency Virus ) yang akan mudah menular dan mematikan. Virus tersebut merusak sistem kekebalan tubuh manusia, dengan berakibat yang bersangkutan kehilangan daya tahan tubuhnya, sehingga mudah terinfeksi dan meninggal karena berbagai penyakit infeksi kanker dan lain-lain. Kasus penyakit HIV/AIDS di Indonesia terus berkembang, sejak dari kasus pertama tahun 1987 sampai tahun 2012. Berdasarkan data Kemenkes, rate kumulatif kasus AIDS Nasional sampai September 2012 adalah 11 per 100 ribu penduduk. Penderita penyakit HIV semakin hari semakin memprihatikan. Pada akhir tahun 2012, di Indonesia tercatat 86,762 kasus HIV dan dan 32,103 kasus AIDS. Sementara untuk negara tertinggi kasus HIV dipegang oleh Afrika Selatan dengan sekitar 5,6 juta kasus di akhir tahun 2012. Hingga saat ini Human Immunodeficiency Virus atau yang kita kenal dengan HIV masih menjadi penyakit mematikan dan belum ditemukan obat untuk menyembuhkannya. Secara umum sulit sekali membedakan gejala infeksi virus HIV dengan penyakit lain.

Bahkan pada beberapa kasus, keterlambatan diagnosa penyakit HIV bisa berujung pada kematian. Sampai saat ini belum ditemukan vaksin pencegahan atau obat untuk penyembuhannya. Jangka waktu antara terkena infeksi dan munculnya gejala penyakit pada orang dewasa memakan waktu rata-rata 5-7 tahun. Selama kurun waktu tersebut walaupun masih tampak sehat, secara sadar maupun tidak pengidap HIV dapat menularkan virusnya pada orang lain.

1.2 Tujuan 1.2.1 Tujuan umum Untuk menerapkan asuhan keperawatan pada pasien dengan HIV/AIDS 1.2.2 Tujuan khusus 1. Mahasiswa dapat melakukan pengkajian keperawatan pada pasien dengan penyakit HIV 2. Mahasiswa dapat menegakkan diagnosa keperawatan pada pasien dengan penyakit HIV 3. Mahasiswa dapat membuat intervensi keperawatan pada pasien dengan penyakit HIV 4. Mahasiswa dapat melaksanakan implementasi keperawatan pada pasien dengan penyakit HIV 5. Mahasiswa dapat melakukan evaluasi keperawatan pada pasien dengan penyakit HIV

1.3 Sistematika Penulisan BAB 1 : Pendahuluan meliputi latar belakang, ruang lingkup penulisan, tujuan penulisan, metode dan sistematika penulis. BAB 2 BAB 3 : Tinjauan teoritis meliputi konsep medis dan konsep keperawatan. : Tinjauan kasus meliputi : pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi dan evaluasi keperawatan. BAB 4 BAB 5 : Pembahasan: yang membahas kesenjangan antara teori dan kasus : Kesimpulan dan saran

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS

2.1 Konsep Medis 2.1.1 Defenisi Respon imun adalah respon tubuh berupa suatu urutan kejadian yang kompleks terhadap antigen untuk mengeliminasi antigen tersebut. Respon imun ini dapat melibatkan berbagai macam sel dan protein, terutama sel makrofag, sel limfosit, komponen dan sitokin yang saling berinteraksi secara kompleks. HIV adalah singkatan dari Human immunodeficiency virus yang dapat menyebabkan AIDS dengan cara menyerang sel darah putih yang bernama sel CD4 sehingga dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia yang pada akhirnya tidak dapat bertahan dari gangguan penyakit walaupun yang sangat ringan sekalipun (Bruner, Suddarth, 2002). Penyakit HIV adalah suatu keadaan klinis yang disebabkan oleh infeksi virus Human immunodefency virus. Pada kebanyakan kasus, infeksi HIV menyebabkan Aquired immunodefency syndrome (AIDS) (Valentina, 2007). Virus HIV adalah retrovirus yang termasuk dalam family lentivirus. HIV menginfeksi tubuh dengan periode inkubasi yang panjang dan utamanya menyebabkan munculnya tanda dan gejala AIDS. HIV menyebabkan beberapa kerusakan system imun dan menghancurkannya. Hal tersebut terjadi dengan menggunakan DNA dari CD4 dan limfosit untuk mereplikasi diri (Nursalam, 2007). Diagnosis HIV terbagi dalam 4 stadium (Nursalam, 2007) yaitu : 1. Stadium pertama : HIV Infeksi dimulai dengan masuknya HIV, diikuti perubahan serologik ketika antibodi terhadap virus berubah dari negatif menjadi positif. Rentang waktu perubahan tersebut disebut window period yang lamanya 1-3 bulan, bahkan berlangsung sampai 6 bulan.

2. Stadium kedua : asimptomatik (tanpa gejala) Organ tubuh yang terdapat HIV tidak menunjukkan gejala-gejala dan dapat berlangsunr rata-rata 5-10 tahun. Cairan tubuh yang tampak sehat ini sudah dapat menularkan HIV. 3. Stadium ketiga : Pembesaran Kelenjar Limfe Pembesaran kelenjar limfe secara menetap dan merata (persistent Generalized Lymphadenopathy) , tidak hanya satu tempat dan berlangsung lebih dari 1 bulan. 4. Stadium keempat : AIDS Disertai adanya bermacam penyakit lain akibat infeksi oportunistik seperti penyakit konstitusional, penyakit saraf dan penyakit infeksi sekunder lainnya. 2.1.2 Etiologi Penyebab penyakit HIV yaitu virus yang masuk dalam kelompok retrovirus yang biasanya menyerang organ-organ vital sistem kekebalan tubuh manusia. Penyakit ini dapat ditularkan melalui penularan seksual, kontaminasi patogen di dalam darah, dan penularan masa perinatal. Penularan HIV yang terjadi apabila terjadi kontak atau pertukaran cairan tubuh yaug mengandung virus melalui sebagai berikut: a. Hubungan seksual (homoseksual dan heteroseksual) yang tidak terlindung dengan seseorang yang mengidap HIV. b. Transfusi darah dan transplantasi organ yang tercemar oloh HIV. Transfusi darah yang tercemar HIV secara langsung akan menularkan HIV ke dalam sistem peredaran darah dari si penerima. c. Jarum suntik atau alat tusuk lainnya (akupuntur, tindik, tato) yang tercemar oleh HIV. Oleh karena itu, pemakaian jarum suntik secara bersama-sama oleh pecandu narkotika akan mudah menularkan HIV di antara mereka, apabila salah satu di antara mereka adalah pengidap HIV. d. Penularan ibu hamil yang terinfeksi HIV kepada anak yang dikandungnya. Penularan dapat terjadi selama kehamilan atau persalinan atau selama menyusui (Nursalam, 2006).

2.1.3

Patofisiologi HIV masuk kedalam tubuh manusia

Menginfeksi sel yang mempunyai molekul CO4 (Limfosit T4, Monosit Sel, Sel dendrite, Sel langerhans)

Mengikat molekul CO4

Memiliki target dan memproduksi virus

Sel limfosit T4 hancur

Imunitas tubuh menurun

Infeksi opurtuistik

Sist. Pernapasan

Sist. Pencernaan

Sist. Integument

Sist. Neurologis

infeksi bronkus infeksi jamur

peristaltic peradangan kulit

Infeksi SSP

Hipertermi

secret dlm bronkus peradangan Mulut

diare kronis

timbul lesi bercak putih

peningkatan kesadaran, kejang, Nyeri kepala

bersihan jalan napas inefektif

sulit menelan

cairan (-)

gatal, nyeri bersisik

perubahanproses berpikir

Mual

bibir kering kerusakan integritas kulit Turgor kulit (-)

Intake kurang Resiko kekurangan cairan Gg. Pemenuhan nutrisi

2.1.4

Manifestasi Klinik Banyak orang yang terinfeksi HIV tidak menunjukkan gejala apapun.

Mereka merasa sehat dan juga dari luar nampak sehat-sehat saja, namun orang yang terinfeksi HIV akan menjadi pembawa dan penular HIV kepada orang lain. Kelompok orang-orang tanpa gejala ini dapat dibagi 2 kelompok (Nursalam, 2006) yaitu: a. Kelompok yang sudah terinfeksi HIV, tetapi tanpa gejala dan tes darahnya negatif. Pada tahap dini ini antibodi terhadap HIV belum terbentuk. Waktu antara masuknya HIV ke dalam peredaran darah dan terbentuknya antibodi terhadap HIV disebut Window Period yang memerlukan waktu antara 15 hari sampai 3 bulan setelah terinfeksi HIV. b. Kelompok yang sudah terinfeksi HIV, tanpa gejala, tetapi tes darah positif. Keadaan tanpa gejala seperti 5 tahun atau lebih. Beberapa tanda dan gejala terserang HIV adalah sebagai berikut : a. Demam Salah satu gejala paling umum adalah demam ringan. Demam itu biasanya disertai kelelahan, pembengkakan kelenjar getah bening, dan sakit tenggorokan. Pada titik ini, virus bergerak masuk ke aliran darah dan mulai mereplikasi dalam jumlah besar. b. Kelelahan Gejala lain ARS adalah Anda mulai merasa lelah akut dan lesu. Ini karena kekebalan tubuh Anda sudah mulai dikacaukan oleh HIV. Seorang penderita HIV bahkan bisa kehabisan nafas hanya karena berjalan. c. Nyeri otot dan sendi Penyakit HIV kadang disalahartikan sebagai gejala flu, sifilis, atau hepatitis karena gejalanya memang mirip, yakni nyeri pada persendian, otot, dan kelenjar getah bening yang kebanyakan berada di pangkal paha, ketik, dan leher. d. Sakit tenggorokan dan sakit kepala Sakit pada tenggorokan dan kepala disebut Horberg bisa jadi bagian dari gejala anda terserang HIV. Namun untuk membuktikan gejala ini sebagai tanda Anda terkena HIV, biasanya perlu dites laboratorium terlebih dulu.

e. Ruam pada kulit Gejala ini bisa datang pada awal seseorang terinfeksi HIV. Namun pada beberapa kasus, tanda ini malah muncul belakangan. Ruam pada kulit muncul jika penderita yang tidak memiliki riwayat alergi. Bentuknya bisa berupa bisul, dan tanda gatal warna merah muda pada beberapa bagian tubuh. f. Mual, muntah, dan diare Sebanyak 30-60 persen penderita HIV mengalami gejala ini. Pengidap HIV biasanya mengalami diare terus-menerus, namun tidak demikian pada penderita yang kekebalan tubuhnya kuat sejak semula. g. Berat badan menurun Gejala umum penderita HIV adalah berat badan yang menurun signifikan meski sudah banyak makan. h. Batuk kering Jika batuk kering berlangsung selama satu tahun lebih dan makin parah, sedangkan obat batuk tidak bisa menyembuhkannya, patut diwaspadai Anda sudah terserang HIV. i. Pneumonia Batuk dan berat badan yang menurun adalah petanda infeksi serius yang tak akan menyerang jika kekebalan tubuh Anda dalam kondisi baik. j. Berkeringat saat malam Separuh dari penderita HIV mengaku berkeringat saat malam hari. Gejala ini umumnya muncul pada tahap awal infeksi. Keringat berlebihan pada malam hari didapat penderita, meski tidak melakukan olahraga. k. Perubahan pada kuku Tanda anda terserang HIV adalah adanya perubahan pada kuku anda. Kuku biasanya mengalami penebalan dan melengkung. Bahkan pada beberapa penderita, kuku mereka berubah warna menjadi kehitaman, dengan garis coklat vertikal maupun horizontal di permukaannya. l. Infeksi pada mulut HIV bisa ditandai dengan infeksi pada sekitar mulut yang disebabkan oleh jamur. Infeksi itu membuat penderitanya susah menelan saat makan.

m. Susah konsentrasi Masalah kognitif bisa jadi tanda Anda telah terjangkit HIV. Gejala ini biasanya muncul belakangan. Selain susah konsentrasi, penderita HIV biasanya jadi mudah marah dan tersinggung, ceroboh, susah berkoordinasi, dan mengalami kesulitan melakukan aktivitas yang berhubungan dengan syaraf motorik seperti menulis. 2.1.5 Komplikasi Beberapa penyakit komplikasi akibat penyakit HIV adalah : 1. Oral Lesi Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis, peridonitis Human Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral, nutrisi, dehidrasi, penurunan berat badan, keletihan dan cacat. Kandidiasis oral ditandai oleh bercak-bercak putih seperti krim dalam rongga mulut. Jika tidak diobati, kandidiasis oral akan berlanjut mengeni esophagus dan lambung. Tanda dan gejala yang menyertai mencakup keluhan menelan yang sulit dan rasa sakit di balik sternum (nyeri retrosternal) 2. Neurologi a. Ensefalopati HIV atau disebut pula sebagai kompleks dimensia AIDS (ADC; AIDS dementia complex). Manifestasi dini mencakup gangguan daya ingat, sakit kepala, kesulitan berkonsentrasi, konfusi progresif, perlambatan psikomotorik, apatis dan ataksia. stadium lanjut mencakup gangguan kognitif global, kelambatan dalam respon verbal, gangguan efektif seperti pandangan yang kosong, hiperefleksi paraparesis spastic, psikosis, halusinasi, tremor, inkontinensia, dan kematian. b. Meningitis kriptokokus ditandai oleh gejala seperti demam, sakit kepala, malaise, kaku kuduk, mual, muntah, perubahan status mental dan kejang-kejang. diagnosis ditegakkan dengan analisis cairan serebospinal.

3.

Gastrointestinal a. Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma, dan sarcoma Kaposi. Dengan efek, penurunan berat badan, anoreksia, demam, malabsorbsi, dan dehidrasi. b. Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma Kaposi, obat illegal, alkoholik. Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik,demam atritis. c. Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal yang sebagai akibat infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri rektal, gatal-gatal dan diare.

4.

Respirasi Gejala napas yang pendek, sesak nafas (dispnea), batuk-batuk, nyeri dada, hipoksia, keletihan dan demam akan menyertai pelbagi infeksi oportunis, seperti yang disebabkan oleh Mycobacterium Intracellulare (MAI), cytomegalovirus, virus influenza, pneumococcus, dan strongyloides.

5.

Dermatologik Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena xerosis, reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan dekobitus dengan efek nyeri, gatal, rasa terbakar, infeksi sekunder dan sepsis. Infeksi oportunis seperti herpes zoster dan herpes simpleks akan disertai dengan

pembentukan vesikel yang nyeri dan merusak integritas kulit. moluskum kontangiosum merupakan infeksi virus yang ditandai oleh pembentukan plak yang disertai deformitas. dermatitis sosoreika akan disertai ruam yang difus, bersisik dengan indurasi yang mengenai kulit kepala serta wajah.penderita AIDS juga dapat memperlihatkan folikulitis menyeluruh yang disertai dengan kulit yang kering dan mengelupas atau dengan dermatitis atopik seperti ekzema dan psoriasis 6. Sensorik a. Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva atau kelopak mata : retinitis sitomegalovirus berefek kebutaan

10

b. Pendengaran : otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan pendengaran dengan efek nyeri yang berhubungan dengan mielopati, meningitis, sitomegalovirus dan reaksi-reaksi obat.

2.1.6

Prognosis Sebagian besar HIV berakibat fatal. Sekitar 75% pasien yang terdiagnosis

HIV akan menyebabkan penyakit AIDS dan meninggal tiga tahun kemudian setelah terdiagnosis AIDS. Penelitian melaporkan ada 5% kasus pasien terinfeksi HIV tetap sehat secara klinis dan imunologis.

2.1.7

Pemeriksaan Diagnostik Metode yang paling umum dilakukan untuk diagnose infeksi HIV Menurut

Hidayat (2008) meliputi : a. ELISA (Enzyme-Linked Immuno Sorbent Assay). Penilaian Elisa dan latex agglutination dilakukan untuk mengidentifikasi adanya infeksi HIV atau tidak, bila dikatakan positif HIV harus dipastikan dengan tes western blot. b. Western blot ( positif) Adalah cara mendeteksi adanya HIV pada darah, untuk mendeteksi HIV pada darah. Pemeriksaan western blot dilakukan untuk mengonfirmasi apakah tes ELISA benar atau tidak. c. Tes antigen P 24 (polymerase chain reaction) atau PCR . Tes ini digunakan untuk : 1) Tes HIV pada bayi, karena zat antimaternal masih ada pada bayi yang dapat menghambat pemeriksaan secara serologis. Seorang ibu yang menderita HIV akan membentuk zat kekebalan untuk melawan penyakit tersebut. Zat kekebalan itulah yang diturunkan pada bayi tersebut. 2) Menetapkan status infeksi individu yang seronegatif pada kelompok beresiko tinggi. 3) Tes pada kelompok beresiko tinggi sebelum terjadi serokonversi 4) Tes konvirmasi untuk HIV 2. d. Kultur HIV(positif; kalau dua kali uji-kadar secara berturut-turut mendeteksi enzim reverse transcriptase atau antigen p24 dengan kadar yang meningkat)

11

2.1.8

Penatalaksanaan Penatalaksanaan penyakit HIV adalah sebagai berikut :

1. Pengobatan Pengobatan medikamentosa mencakupi pemberian obat-obat profilaksis infeksi oportunistik yang tingkat morbiditas dan mortalitasnya tinggi. Riset yang luas telah dilakukan dan menunjukkan kesimpulan rekomendasi pemberian kotrimoksasol pada penderita HIV yang berusia kurang dari 12 bulan dan siapapun yang memiliki kadar CD4 < 15% hingga dipastikan bahaya infeksi pneumonia akibat parasit Pneumocystis jiroveci dihindari. Pemberian Isoniazid (INH) sebagai profilaksis penyakit TBC pada penderita HIV masih diperdebatkan. Kalangan yang setuju berpendapat langkah ini bermanfaat untuk menghindari penyakit TBC yang berat, dan harus dibuktikan dengan metode diagnosis yang handal. Kalangan yang menolak menganggap bahwa di negara endemis TBC, kemungkinan infeksi TBC natural sudah terjadi. Langkah diagnosis perlu dilakukan untuk menetapkan kasus mana yang memerlukan pengobatan dan yang tidak. Obat profilaksis lain adalah preparat nistatin untuk antikandida, pirimetamin untuk toksoplasma, preparat sulfa untuk malaria, dan obat lain yang diberikan sesuai kondisi klinis yang ditemukan pada penderita. Pengobatan penting adalah pemberian antiretrovirus atau ARV. Riset mengenai obat ARV terjadi sangat pesat, meskipun belum ada yang mampu mengeradikasi virus dalam bentuk DNA proviral pada stadium dorman di sel CD4 memori. Pengobatan infeksi HIV dan AIDS sekarang menggunakan paling tidak 3 kelas anti virus, dengan sasaran molekul virus dimana tidak ada homolog manusia. Obat pertama ditemukan pada tahun 1990, yaitu Azidothymidine (AZT) suatu analog nukleosid deoksitimidin yang bekerja pada tahap penghambatan kerja enzim transkriptase riversi. Bila obat ini digunakan sendiri, secara bermakna dapat mengurangi kadar RNA HIV plasma selama beberapa bulan atau tahun. Biasanya progresivitas penyakti HIV tidak dipengaruhi oleh pemakaian AZT, karena pada jangka panjang virus HIV berevolusi membentuk mutan yang resisten terhadap obat.

12

2. Perawatan a. Pengobatan suportif dengan cara mengusahakan agar gizi cukup, hidup sehat dan mencegah kemungkinan terjadi infeksi b. Menanggulangi infeksi opportunistic atau infeksi lain serta keganasan yang ada. c. Menghambat replikasi HIV dengan obat antivirus seperti golongan dideosinukleotid, yaitu azidomitidin (AZT) yang dapat menghambat enzim RT dengan berintegrasi ke DNA virus, sehingga tidak terjadi transkripsi DNA HIV d. Penanggulangan dampak psikososial dengan konseling pada keluarga tentang cara penularan HIV, perjalanan penyakit, dan prosedur yang dilakukan oleh tenaga medis. 3. Pencegahan Pencegahan penyakit HIV antara lain : a. Menghindari hubungan seksual pada penderita HIV/AIDS atau tersangka penderita HIV/AIDS. b. Mencegah hubungan seksual dengan pasangan yang berganti-ganti atau orang yang mempunyai banyak pasangan. c. Menghindari hubungan seksual dengan pecandu narkotika obat suntik. d. Melarang orang-orang yang termasuk ke dalam kelompok beresiko tinggi untuk melakukan donor darah e. Memberikan transfuse darah hanya untuk pasien yang benar-benar memerlukan f. Memastikan sterilitas obat suntik.

13

2.2 Konsep Keperawatan 2.2.1 1. Pengkajian Idensitas klien meliputi: nama/nama panggilan,tempat tanggal lahir/usia, jenis kelamin, agama, pendidikan, alamat, tanggal masuk, tanggal pengkajian. 2. Pemeriksaan Fisik : Head To Toe o Kulit : Pucat dan turgor kulit agak buruk o Kepala dan leher : Normal tidak ada kerontokan rambut, warna hitam dan tidak ada peradangan o Kuku : Jari tabuh o Mata / penglihatan : Sklera pucat dan nampak kelopak mata cekung o Hidung : Tidak ada Peradangan, tidak ada reaksi alergi, tidak ada polip, dan fxungsi penciuman normal o Telinga : Bentuk simetris kanan/kiri, tidak ada peradangan, tidak ada

perdarahan o Mulut dan gigi: Terjadi peradangan pada rongga mulut dan mukosa, terjadi Peradangan dan perdarahan pada gigi ,gangguan menelan(-), bibir dan mukosa mulut klien nampak kering dan bibir pecah-pecah. o Abdomen : Turgor jelek ,tidak ada massa, peristaltik usus meningkat dan perut mules dan mual. o Perineum dan genitalia : Pada alat genital terdapat bintik-bintik radang o Extremitas atas/ bawah : Extremitas atas dan extremitas bawah tonus otot lemah akibat tidak ada energi karena diare dan proses penyakit.

2.2.2

Diagnosa Keperawatan

1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake inadekuat dan output berlebih. 2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kekebalan yang diperoleh tidak memadai 3. Hipertermi berhubungan dengan penyakit 4. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kelembaban kulit

14

2.2.3 No 1

Intervensi keperawatan Diagnosa NANDA Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake inadekuat dan output berlebih. NOC Status Nutrisi Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama.klien menunjukkan status nutrisi asekuat dengan kriteria hasil : - Berat Bada stabil - Tidak terjadi mal nutrisi - Tingkat energi adekuat, masukan nutrisi adekuat NIC Manajemen Nutrisi 1. Kaji pola makan klien 2. Kaji adanya alergi makanan 3. Kaji adanya makanan yang disukai klien 4. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk penyediaan nutrisi terpilih sesuai kebutuhan klien 5. Anjurkan klien meningkatkan asupan nutrisinya 6. Yakinkan diet yang dikonsumsi mengandung cukup serat 7. Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi dan pentingnya bagi tubuh klien. Kontrol Infeksi 1. Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain 2. Pertahankan teknik isolasi 3. Batasi pengunjung bila perlu 4. Instruksikan keluarga untuk mencuci tangan sebelum kontak dan sesudahnya 5. Gunakan sabun anti mikroba untuk mencuci tangan 6. Gunakan baju, sarung tangan, masker sebagai pelindung 7. Pertahankan lingkungan yang aseptic 8. Tingkatkan intake nutrisi dan cairan

Resiko infeksi bungan kekebalan diperoleh memadai

tinggi berhudengan yang tidak

Status Imun Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama tidak terdapat factor resiko infeksi dengan criteria hasil : - Status imun adekuat

15

Hipertermi berhubungan dengan penyakit

Thermoregulation Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam, masalah teratasi dengan KH : a. Suhu tubuh dalam rentang normal b. Nadi dan RR dalam rentang normal c. Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing, merasa nyaman

Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kelembaban kulit

Tissue Integrity : Skin and Mucous Membranes Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam, masalah teratasi dengan criteria hasil : a. Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan (sensasi, elastisitas, temperatur, hidrasi, pigmentasi) b. Tidak ada luka/lesi pada kulit c. Perfusi jaringan baik d. Menunjukkan pemahaman dalam

Fever treatment 1. Monitor suhu sesering mungkin 2. Monitor IWL 3. Monitor warna dan suhu kulit 4. Monitor tekanan darah, nadi dan RR 5. Monitor penurunan tingkat kesadaran 6. Monitor WBC, Hb, dan Hct 7. Monitor intake dan output 8. Berikan anti piretik 9. Berikan pengobatan untuk mengatasi penyebab demam 10. Selimuti pasien 11. Berikan cairan intravena 12. Kompres pasien pada lipat paha dan aksila 13. Tingkatkan sirkulasi udara 14. Berikan pengobatan untuk mencegah terjadinya menggigil Pressure Management 1. Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar 2. Hindari kerutan padaa tempat tidur 3. Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering 4. Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap dua jam sekali 5. Monitor kulit akan adanya kemerahan 6. Oleskan lotion atau minyak/baby oil pada derah yang tertekan 7. Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien 8. Monitor status nutrisi

16

proses perbaikan pasien kulit dan 9. Memandikan pasien mencegah dengan sabun dan air terjadinya sedera hangat berulang e. Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit dan perawatan alami