Anda di halaman 1dari 5

Fisiologi dapat di definisikan sebagai ilmu yang mempelajari fungsi, mekanisme, dan cara kerja dari organ, jaringan,

dan sel-sel organisme. Fisiologi mencoba menerangkan faktor-faktor fisika dan kimia yang mempengaruhi seluruh proses kehidupan. Tiap-tiap jenis kehidupan, mulai dari makhluk hidup sederhana seperti virus yang bersel seatu sampai manusia yang mempunyai susunan sel lebih rumit mempunyai sifat-sifat fugsional tersendiri. I. Peredaran darah Sistem peredaran darah pada semua organisme merupakan proses fisiologis yang sangat penting. Untuk melakukan aktivitas sel, jaringan, maupun organ membutuhkan nutrisi dan oksigen. Bahan-bahan ini dapat di suplai hanya bila peredaran darah berjalan normal. Karenanya, semua fungsi dari setiap organ dalam tubuh kadang-kadang dapat di lihat dari darah. Sistem peredaran darah pada ikan bersifat tunggal, artinya hanya terdapat satu jalur sirkulasi peredaran darah. Di mulai dari jantung, darah menuju insang untuk melakukan pertukaran gas. Selanjutnya darah di alirkan ke dorsal aorta dan terbagi ke segenap organ-organ tubuh melalui saluran-saluran kecil. Selain itu sebagian darah dari insang kadang langsung kembali ke jantung. Hal ini terjadi bilamana tidak semua output cardiac di butuhkan untuk menuju ke dalam dorsal aorta dan pembulu eferen yang lain. Pada bagian yang lain. Yaitu berawal dari insang pertama, sebelum di hubungkan ke sistem vena. Peranan kedua organ ini mungkin sebagai ventilasi kontrol dan untuk sekresi gas ke cairan mata. Dorsal aorta adalah sumber darah terbesar pada tubuh. Dari sini darah di suplai ke kepala, otot badan, ginjal dan semua organ pencernaan melalui pembuluh kapiler. Ada 3 rute pengembalian darah ke jantung, yaitu pertama, dari otak, darah kembali ke jantung melalui verna cardinal anterior yang berhubungan dengan vena cardinal umum. Di sini junga bertemu darah dari vena cava posterior, yakni darah dari vena caudal yang telah memalui sistem renal portal. Kedua dari organ visceral, darah kembali ke jantung melalui vena hepatik. Terakhir, daru insang, darah di kembalikan ke jantung melaui vena branchial.

II.

Pernafasan a. Alat pernafasan i. Insang Pada hampir semua ikan, insang merupakan komponen penting dalam pertukaran gas. Insang terbentuk dari lengkungan tulang rawan yang mengeras, dengan beberapa filamen insang di dalamnya. Tiap-tiap filamen insang terdiri atas banyak lamella, yang merupakan tempat pertukaran gas. Tuags ini di tunjang oleh struktur lamella itu yang tersusun atas sel-sel epitel yang tipis pada bagian luar, membran dasar dan sel-sel tiang sebagai penyangga pada bagian dalam. Pinggiran lamella yang tidak menempel pada lenggkung insang sangat tipis, di tutupi oleh epitelium dan mengandung pembuluh darah kapiler jumlah dan ukuran lamella sngat bervariasi, tergantung pada tingkah laku ikan. ii. Paru-paru Paru-paru ikan merupakan derivat gelembung renang. Pada ikan paru australia (Neocaratodus), paru-paru terletak di sebelah atas saluran pencernaan tetapi ductus pneumaticusnya terbuka ke arah bagian bawah dinding lambung. Sebaliknya pada ikan paru afrika (Protopterus), sepasang paru-parunya terletak di bagian bawah saluran pencernaan. Baik ikan paru amerika maupun ikan paru afrika, memiliki keharusan menghirup oksigen dari udara. Karena itu jenis ikan ini memiliki kemampuan untuk beradaptasi pada kondisi sangat kering di lingkungannya. iii. Alat pernafasan tambahan Selain insang atau paru-paru, beberapa jenis ikan memiliki alat pernafasan tambahan yang dapat mengambil oksigen langsung dari udara. Ikan lele (Clarias sp) mempunyai insang tambahan berbentuk pohon di bagian atas lengkung insang kedua dan ketiga. Insang tambahan ini di namakan arborescent organ, berfungsi mengambil oksigen dari atas permukaan air. Berbeda dengan ikan lele, ikan belodok (Periopthalamus dan Boleopthalamus) bahkan dapat

menggunakan kulitnya sebagai alat pernafasan tambahan, selain

penutup insang yang berkembang berlipat-lipat dan bagian dalamnya terdapat pembuluh darah. Ikan-ikan yang memikliki alat pernafsan tambahan dapat bertahan hidup dalam kondisi hipoxia bahkan anoxia b. Proses pernafasan i. Pertukaran udara melalui permukaan alat pernafasan Pada ikan Elasmobranchii, pernafasan melalui 3 tahap, pertama, inspirasi, yaitu mulut terbuka, rongga mulut dan faring mengembang, rongga insang berkontaksi dan celah insang menutup. Pada saat ne air dari luar masuk ke dalam rongga mulut. Kedua, masih inspirasi, yaitu mulut menutup, rongga mulut berkontraksi (menyempit), rongga

insang mengembang celah insang tertutup. Air bergerak dari rongga mulut ke rongga insang. Tahap terakhir, ekspirasi, mulut tertutup, rongga mulut berkontraksi dan celah insang terbuka. Pada saat ekspirasi, air akan keluar dari rongga insang melalui celah insang. Sedangkan pada Teleostei, hanya ada 2 tahap yakni : pertama, rongga mulut terbuka, rongga bukofaring, dan rongga insang mengembang, air masuk melalui rongga mulut. Kedua, ekspirasi, yaitu rongga mulut menutup, rongga bukofaring dan rongga insang menyempit, celah insang terbuka dan air bergerak dari rongga mulut ke rongga insang kemudian keluar melalui celah insang. Pada saat inspirasi, oksigen berdifusi ke permukaan alat pernafasan, sebaliknya pada saat ekspirasi karbondioksida dilepaskan. ii. Difusi oksigen dan karbondioksida antara insang dan darah Difusi gas adalah pergerakan gas dari media berkonsentrasi tinggi ke media berkonsentrasi rendah. Di samping akibat perbedaan tekanan, faktor lain yang mempengaruhi percepatan difusi adalah : 1. Daya larut gas dalam cairan. 2. Luas penampang lintas cairan 3. Jarak yang harus di tempuh oleh gas yang berdifusi 4. Berat molekul gas 5. Suhu cairan

Makin besar daya larut gas, makin besar jumlah molekul yang tersedia untuk berdifusi pada perbedaan tekanan tertentu. Juga makin besar luas penampang lintang ruang, makin besar jumlah total molekul yang berdifusi. Sebaliknya makin besar jumlah waktu yang di perlukan molekul untuk menempuh seluruh jarak tersebut. Akhirnya makin besar kecepatan gerak kinetik molekul-molekul, makin besar kecepatan difusi gas itu. Gas-gas yang penting untuk pernafasan mudah larut dalam membran sel. Oleh karena itu gas-gas ini mudah berdifusi dalam membran sel. Difusi gas melalui jaringan, termasuk melalui membran insang hampir sama dengan difusi gas melalui air. Kecepatan difusi karbondioksida dalam air kira-kira 20 kali kecepatan difusi oksigen. Oleh karena itu kecepatan difusi karbondioksida melalui membran respirasi kira-kira juga 20 kali kecepatan difusi oksigen. iii. Transpor oksigen dan karbondioksida Bila oksigen telah berdifusi dalam darah insang, oksigen tersebut di transpor dalam gabungan dengan hemoglobin ke kapiler jaringan tepatnya di lepaskan untuk digunakan oleh sel. Adanya hemoglobin dalam sel darah merah memungkinkan darah dapat mengangkut 30-100 kali lebih banyak daripada hanya dalam bentuk oksigen terlarut dalam darah Pergerakan oksigen dalam darah insang disebabkan karena tekanan oksigen dalam insang lebih besar daripada tekanan oksigen dalam kapiler. Kemudia darah insang di tranpor melalui sirkulasi ke jaringan perifer. Di sana, tekanan oksigen dalam sel lebih rendah daripada tehkana oksigen darah dalam arteri yang melalui kapiler, sehingga oksigen berdifusi melalui ruang intersitial menuju ke sel. Sebaliknya bila oksigen di metabolisasi dengan bahan makanan di dalam sel akan membentuk karbondioksida, sehingga karbondioksida dalam sel akan meningkat ke suatu nilai tinggi, yang menyebabkan karbondioksida berdifusi kedalam kapiler jaringan, bila telah berada dalam darah maka akan di tranfer ke kapiler insang dan keluar melalui insang. Maka, pada

dasarnya transpor oksigen ke dalam karbondioksida oleh darah tergantung pada difusi dan gerakan darah. iv. Pengaturan pernafasan Tujuan akhir dari pernafasan adalah untuk mempertahankan

konsentarasi yang tepat dari oksigen, karbondioksida dan ion hidrogen di dalam tubuh. Karbondioksida dan ion hidrogen mengendalikan pernafasan secara langsung pada pusat pernafasan dalam otak. Sedangkan penurunan konsentrasi oksigen merangsang aktifitas pernafasan dengan bekerja pada kemoreseptor. Kemoreseptor tersebut kemudian mengirim sinyal-sinyal ke otak untuk merangsang kegiatan pernafasan. Peningkatan konsentrasi karbondioksida atau ion hidrogen

menyebabkan penurunan pH darah, yang akan menyebabkan kegiatan pernafasan meningkat demikian pula, penurunan oksigen akan meningkatkan kegiatan pernafasan Pendugaan jumlah oksigen yang di ambil dan di keluarkan dari dan ke air dapat di ketahui melalui tingkat konsumsi oksigen sebagai salah satu cara untuk menghitung pengaturan pernafasan.