Anda di halaman 1dari 0

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS)

1. Definisi dan Tujuan

Manajemen Terpadu Balita Sakit adalah suatu manajemen untuk balita sakit yang

datang di pelayanan kesehatan, dilaksanakan secara terpadu, baik mengenai beberapa

klasifikasi penyakit, satus gizi, status imunisasi maupun penanganan balita sakit tersebut

status imunisasi maupun penanganan balita sakit tersebut dan konseling yang diberikan. MTBS merupakan manajemen anak

dan konseling yang diberikan.

MTBS merupakan manajemen anak sakit untuk 2 kelompok usia yaitu kelompok

usia 7 hari sampai 2 bulan dan kelompok usia 2 bulan sampai 5 tahun. Protokol MTBS

dikemas dalam satu buku bagan. Bagan tersebut dimaksudkan untuk mempermudah

petugas kesehatan mengikuti setiap langkah untuk memeriksa balita sakit . Petugas

kesehatan akanmudah mengikuti langkah-langkah yang ada dalam bagan tersebut. Setiap

langkah dengan maksud tertentu tertulis dalam bagan tersebut dengan bentuk tanda

khusus dalam kotak, baris dengan warna dasar tertentu dan tulisan dengan huruf cetak

biasa dan cetak teb.

2. Materi MTBS

Materi MTBS terdiri dari langkah penilaian, klasifikasi penyakit, identifikasi

tindakan, pengobatan, konseling perawatan di rumah,Kapan kembali. Bagan penilaian

anak sakit terdiri dari petunjuk langkah untuk mencari riwayat penyakit dan pemeriksaan

fisik. Klasifikasi dalam MTBS merupakan suatu keputusan penilaian untuk penggolongan

derajat

keparahan penyakit.

Klasifikasi bukan

merupakan diagnosis

penyakit

yang

spesifik. Setiap

klasifikasi

penyakit mempunyai

nilai

suatu

tindakan

sesuai

untuk

klasifikasi tersebut .

Tiap klasifikasi mempunyai warna dasar, yaitu merah atau kuning atau hijau

sesuai dengan urutan keparahan penyakit. Tiap klasifikasi menentukan karakteristik

pengelolaan balita sakit. Bagan pengobatan terdiri dari petunjuk cara komunikasi yang

baik dan efektif dengan ibu untuk memberikan obat dan dosis pemberian obat, baik yang

harus diberikan di klinik maupun obat yang harus diteruskan dirumah. Alur konseling

maupun obat yang harus diteruskan dirumah. Alur konseling merupakan nasihat perawatan termasuk pemberian makan dan

merupakan nasihat perawatan termasuk pemberian makan dan cairan di rumah dan

nasihat kapan harus kembali segera maupun kembali untuk tindak lanjut .

WHO telah mengeluarkan suatu pegangan bagan MTBS generik. MTBS generik

ini dimaksudkan untuk dapat dipergunakan oleh sebagian besar negara berkembang

dengan kematian bayi lebih dari 40 menganjurkan kepada setiap negara yang akan

menerapkan MTBS untuk melakukan adaptasi sesuai dengan kondisi negara setempat.

Untuk itu, WHO telah mengeluarkan pedoman guna palaksanaan proses adaptasi

tersebut. Adaptasi MTBS tersebut diharapkan meliputi beberapa tujuan, yaitu:

a. Kasus yang dimasukkan pada bagan MTBS sebaiknya merupakan penyebab kematian

dan kesakitan yang tinggi; tetapi bukan berarti semua kondisi pediatrik yang menjadi

penyebab dibawanya anak tersebut ke klinik. Hal ini tidak mungkin untuk dicakup

semuanya, mengingat semakin banyaknya materi MTBS maka waktu kursus juga

akan semakin panjang dan beban petugas kesehatan juga akan banyak. Beban yang

banyak akan menyebabkan pemahaman kurang dan semakin sulitnya nanti dalam

penerapan.

b. Adaptasi MTBS untuk penanganan kasus di rawat jalan dibuat supaya aman dan

efektif dan pembelajarannya efektif. Adaptasi MTBS harus mempertimbangkan

supaya jumlah anak yang dirujuk ke rumah sakit berkurang, mengingat tidak semua

daerah mudah melakukan rujukan terutama pada rujukan yang dilakukan di daerah-

daerah yang terpencil dan fasilitas rawat inap yang terbatas.

c. Adaptasi sebaiknya menyediakan pedoman dengan menggunakan sedikit mungkin

tanda dan gejala klinis untuk membuat klasifikasi dan penanganan yang tepat;

sebaiknya dihindari menggunakan kombinasi dari beberapa kondisi yang dapat

menggunakan kombinasi dari beberapa kondisi yang dapat membingungkan petugas kesehatan . Tiga prinsip adaptasi

membingungkan petugas kesehatan . Tiga prinsip adaptasi tersebut harus selalu

dipertimbangkan pada setiap proses adaptasi yang akan dilakukan oleh setiap negara.

Petugas kesehatan seharusnya dapat menguasai seluruh materi MTBS tersebut.

Sesuai dengan anjuran WHO, materi MTBS harus disampaikan dalam 11 hari efektif . di

Indonesia mengingat terstrukturnya jaringan kesehatan yang mampu menjaring tingkat

keluarga termasuk keluarga rawan kesehatan, yaitu melalui pemanfaatan tenaga bidan di

desa dan perawat kesehatan masyarakat dalam pendekatan tersebut. MTBS juga dapat

memantapkan aspek reformasi yang lain yaitu memperbaiki kualitas pelayanan dan

meningkatkan hasil guna pendanaan.

Bila dilaksanakan dengan baik, pendekatan MTBS tergolong lengkap untuk

mengantisipasi penyakit-penyakit yang sering menyebabkan kematian bayi dan balita di

Indonesia.

Dikatakan

lengkap

penyakit), perbaikan

gizi, upaya

karena meliputi

promotif

(berupa

upaya

preventif

konseling)

dan

(pencegahan

upaya

kuratif

(pengobatan). Badan Kesehatan Dunia WHO telah mengakui bahwa pendekatan MTBS

sangat cocok diterapkan negara-negara berkembang dalam upaya menurunkan angka

kematian, kesakitan dan kecacatan pada bayi dan balita.

Kegiatan MTBS memliliki 3 komponen khas yang menguntungkan, yaitu:

a. Meningkatkan ketrampilan petugas kesehatan dalam tatalaksana kasus balita sakit

(selain dokter, petugas kesehatan non-dokter dapat pula memeriksa dan menangani

3.

pasien asalkan sudah dilatih).

b. Memperbaiki

sistem

kesehatan

(perwujudan

terintegrasinya

banyak

program

kesehatan dalam 1 kali pemeriksaan MTBS).

banyak program kesehatan dalam 1 kali pemeriksaan MTBS). c. Memperbaiki praktek keluarga dan masyarakat dalam

c. Memperbaiki praktek keluarga dan masyarakat dalam perawatan di rumah dan upaya

pencarian pertolongan kasus balita sakit (meningkatkan pemberdayaan masyarakat

dalam pelayanan kesehatan)

Penerapan MTBS

Disamping ketrampilan yang harus dijaga benar oleh petugas dan pola perawatan

di rumah yang benar oleh ibu balita bagi bayi dan balitanya, program MTBS ini juga

perlu persiapan untuk penerapannya di Puskesmas. Adapun penerapan kegiatan MTBS di

Puskesmas meliputi :

a. Diseminasi informasi mengenai MTBS kepada seluruh petugas

puskesmas.

b. Persiapan penilaian dan penyiapan

dalam pemberian pelayanan.

c. Persiapan / pengadaan formulir.

logistik, obat-obat dan alat yang diperlukan

d.

Persiapan dan penilaian serta pengamatan terhadap alur pelayanan sejak penderita

datang, mendapatkan pelayanan hingga konseling serta

dan penyesuaian dalam pemberian pelayanan.

melaksanakan pengaturan

e. Melaksanakan pencatatan dan pelaporan hasil pelayanan dan penerapan pencatatan

dan pelaporan untuk pelayanan di Puskesmas, Puskesmas Pembantu dan Pondok

Bersalin Desa/ PKD.

f. Penerapan MTBS di puskesmas dilaksanakan secara bertahap disesuaikan dengan

keadaan rawat jalan di tiap puskesmas.

saat petugas kesehatan (pada yaitu 2 kali selama periode
saat
petugas
kesehatan (pada
yaitu
2
kali
selama
periode

umumnya bidan

neonatal.

Pada beberapa Puskesmas diadakan pemisahan khusus untuk poli MTBS atau poli

anak. Khusus penerapan pada bayi muda, penatalaksanaan bayi muda lebih di titik

beratkan pada

kunjungan

di

desa)

melakukan

Kunjungan

pertama

neonatal

dilaksanakan pada 7 hari pertama dan kunjungan kedua pada hari 8 - 28 hari. Penerapan

MTBS pada semua unit pelayanan terdepan yang kontak dengan anak usia 0 - 5 tahun

secara preventif

dengan menggunakan MTBS dalam mengelola kesehatan anak , dapat

mendeteksi adanya kesakitan yang diderita, yang mungkin diperlukan rujukan untuk

menyelamatkan jiwa.

Juga upaya

promotif

untuk meningkatkan

kesehatan melalui

pemberian konseling gizi pada ibunya. Hal ini secara ekonomi akan menghemat biaya

dibandingkan bila anak jatuh pada kondisi sakit yang berat.

Penerapan MTBS yang baik dapat membantu melaksanakan paling tidak 18 SPM

(Standar Pelayanan Minimal) Kabupaten Tahun 2010 yaitu :

a. KN2 90 % melalui penerapan MTBM

b. BBLR yang dilayani 100 % melalui penerapan MTBM

c.

UCI 100 %

d. N/D 85 % dengan konseling gizi

e. BGM <15 % dengan mengatasi masalah pemberian makan

f. Bayi mendapat vitamin A

g. Balita mendapat vitamin A

h. PMT bagi BGM

i. Gizi buruk dilayani

j. Neonatal Risti ditangani

bagi BGM i. Gizi buruk dilayani j. Neonatal Risti ditangani k. Pneumonia yang ditangani l. Penderita

k. Pneumonia yang ditangani

l. Penderita DBD ditangani 100 %

m. CFR DBD < 1 %

n. Penderita diare ditangani 100 % 15. CFR diare < 1/10.000

o. ASI Eksklusif 80 %

p. Keluarga sadar gizi 80 %

q. Malaria ditangani 100 %

Hal ini karena MTBS / IMCI ini bukan merupakan program yang terpisah namun

merupakan program terintegrasi yang secara efektif berkolaborasi dengan program lain

seperti safe-motherhood, program P2 Diare, ISPA, pneumonia, Malaria, Program Gizi,

ASI eksklusif, Program Imunisasi, Promosi Kesehatan, Perencanaan obat, Survailans dan

manajemen serta sistim informasi kesehatan sebagaimana digambarkan pada gambar 2.8,

mengenai area overlapping dari MTBS dengan aktivitas program lain.

4.

Identifikasi Tindakan MTBS

Identifikasi tindakan adalah Pengambilan suatu keputusan oleh perawat dalam

menangani diare.Identifikasi tindakan dalam MTBS terdapat tiga rencana terapi antara

lain.

 

Terapi A yaitu, terapi di rumah untuk mencegah dehidrasi dan malnutrisi, anak

yang

tanpa

tanda

gejala

dehidrasi

membutuhkan

ekstra

cairan

dangaram

untuk

menggantikan cairan air dan elektrolit yang hilang selama diare. Cairan yang biasa

diberikan dalam pengobatan ini adalah: Cairan rehidrasi oralgula-garam, sayuran dan sup

ini adalah: Cairan rehidrasi oralgula-garam, sayuran dan sup ayam yang mengandung garam. Cairan tersebutdiberikan kepada

ayam yang mengandung garam. Cairan tersebutdiberikan kepada anak sebanyak dia mau

sampai diare berhenti. Anak <2 tahun: 50-100 ml, anak 2-10 tahun 100-200 ml, >10

tahun diberikan cairan sebanyak diamau minum.

Terapi B yaitu, terapi rehidrasi oral untuk anak dengan dehidrasi sedang adalah

dengan pemberian CRO. Jika CRO dikehendaki lebih maka dapat diberikan lebih dari

yang sudah ditentukan kecuali untuk ASI, makanan tidak diberikan selama 4 jam

pemberian rehidrasi awal, tetapi anak yang melanjutkan pengobatan B lebih lama dari 4

jam harus diberikan makanan setiap 3-4 jam seperti pada pengobatan A. Setelah 4 jam

kemudian ditetapkan pengobatan yang akan diberikan selanjutnya sesuai dengan tingkat

dehidrasi. Anak yang masih mengalami dehidrasi setelah 4 jam, harus diberikan RL

secara intrvena (75ml/kg selama 4 jam).

Terapi

C

yaitu,

pengobatan

untuk

pasien

dengan

dehidrasi

berat

dengan

pemberian cairan rehidrasi intravena secara cepat. Diberikan RL 100ml/kg atau larutan

garam yang pertama diberikan 30ml/kg dalam 30 menit kemudian diberikan 70ml/kg

diberikan dalam 2,5 jam. Pasien dimonitor setiap 1-2 jam, jika dehidrasinya tidak

berkurang maka pemberian cairan intravena kecepatan tetesan dipercepat. Jika terapi

intravena

tidak

tersedia

pasien

diberikan

CRO

20ml/kg/jam

selama

6

jam

(total

120mg/kg). Jika pasien mengalami bengkak atau muntah, maka CRO diberikan secara

perlahan (Buku Panduan MTBS Rumah Sakit Jati Padang)

5. Konseling Dalam MTBS

Konseling merupakan sebuah upaya pemberian bantuan dari seorang konselor

kepada klien, bantuan di sini dalam pengertian sebagai upaya membantu orang lain agar

keterkaitan. Muhamad Surya (1988:25) masalah individu secara
keterkaitan.
Muhamad
Surya
(1988:25)
masalah
individu
secara

Pribadi.Konseling

ia mampu tumbuh ke arah yang dipilihnya sendiri, mampu memecahkan masalah yang

dihadapinya dan mampu menghadapi krisis-krisis yang dialami dalam kehidupannya

(Yusuf&Juntika,2005:9).

Pengertian konseling tidak dapat dipisahkan dengan bimbingan karena keduanya

mengungkapkan

bahwa

merupakan sebuah

konseling merupakan bagian inti dari kegiatan bimbingan secara keseluruhan dan lebih

berkenaan

dalam

Alur

MTBS.

dengan

Pemberian konseling menjadi unggulan dan sekaligus pembeda dari alur pelayanan

sebelum

MTBS. Materi meliputi kepatuhan minum obat, cara minum obat, menasehati

cara pemberian makanan sesuai umur, memberi nasehat kapan melakukan kunjungan

ulang

atau

kapan

harus

kembali

segera.Dengan

pemberian

konseling

diharapkan

pengantar atau ibu pasien mengerti penyakit yang diderita, cara penanganan anak di

rumah,

Magister

Kebijakan

dan

perkembangan

penyakit

anaknya

Manajemen

Pelayanan

Kesehatan

memperhatikan

sehingga

mampu

mengenali

kapan

harus

segera

membawa anaknya ke

petugas kesehatan serta diharapkan memperhatikan tumbuh

kembang anak dengan cara memberikan makanan sesuai umurnya. Semua pesan tersebut

tercermin dalam Kartu Nasihat Ibu (KNI) yang biasanya diberikan setelah ibu atau

pengantar balita sakit mendapatkan konseling. Ini untuk menjadi pengingat pesan-pesan

yang disampaikan serta menjadi pengingat cara perawatan di rumah

6. Proses Manajemen Kasus

Tujuan pelayanan kesehatan anak adalah untuk memfasilitasi kesehatan yang

optimal dan kesejahteraan bagi anak dan keluarganya. Hal ini berhubungan dengan

bagi anak dan keluarganya. Hal ini berhubungan dengan aktifitas yang saling berkaitan antara masalah survailans

aktifitas yang saling berkaitan antara masalah survailans dan manajemen, masalah

pencegahan/preventif , promosi kesehatan dan koordinasi pelayanan pada anak dengan

kebutuhan khusus. Perhatian tradisional yang berfokus pada diagnosis dan manajemen

saat ini telah berkembang dengan skreening penyakit dan mendeteksi tanda tanda dini

yang asimtomatik di populasi. Para petugas kesehatan

program upaya

telah mengakui manfaat dari

preventif/ pencegahan. Contohnya adalah program imunisasi massal

yang dilanjutkan dengan program imunisasi pada kegiatan rutin , juga program deteksi

dini dan pemberdayaan masyarakat dalam pelayanan kesehatan dasar. Penekanan yang

terbaru

adalah

berkaitan

dengan

konsep

promosi

kesehatan

yang

mengutamakan

kesehatan yang optimal dan kesejahteraan anak daripada hanya penanganan saat ada

masalah. Ilmu kedokteran modern yang semakin pesat telah meningkatkan pada populasi

munculnya penyakit -penyakit kronis,disabilitas, dan anak anak

dengan kebutuhan

khusus. Para petugas di pelayanan primer berada pada posisi yang unik yang dihadapkan

pada kompleksnya perawatan anak dan perlunya fasilitasi komunikasi secara individual

yang melibatkan kasus mereka.Melayani anak bagi para petugas adalah merupakan

anugerah sekaligus tantangan yang unik karena dihadapkan keterkaitan antara pengaruh

lingkungan dan faktor intrinsik pada diri anak untuk ditelaah

faktanya dari aspek

kesehatan dan tumbuh-kembangannya. Salah satu metode yang dikembangkan untuk

perawatan anak yaitu Integrated Management of Childhood Illness (IMCI) atau di

Indonesia dikenal dengan MTBS, adalah program intervensi dalam penanganan anak

terutama balita yang menggunakan suatu algoritme, sehingga dapat mengklasifikasikan

penyakit yang dialami oleh balita, melakukan rujukan secara cepat apabila diperlukan,

melakukan

penilaian

status

gizi

dan

memberikan

imunisasi

kepada

balita

yang

nasihat mengenai makanan yang harus kembali (kunjungan ulang) atau
nasihat
mengenai
makanan
yang
harus
kembali
(kunjungan
ulang)
atau

membutuhkan . Selain itu ibu balita juga diberi konseling tatacara memberi obat di

rumah,

diberikan

kembali

dan

untuk

pemberian

seharusnya

segera

memberitahu

kapan

mendapatkan pelayanan tindak lanjut. Strategi intervensi MTBS ini didalamnya termasuk

konseling bagi ibu untuk memberitahu : kapan ibu harus kembali untuk kunjungan ulang

sesuai dengan klasifikasi. Balita di bawa kembali untuk kunjungan ulang merupakan

bentuk perawatan balita yang baik di rumah oleh keluarga dan menunjukkan keberhasilan

konseling yang dilakukan kepada ibu tentang bagaimana seharusnya perawatan balita di

lakukan. Hal ini karena anak sakit perlu datang lagi ke petugas kesehatan untuk

pelayanan tindak lanjut Pada waktu kunjungan ulang, Petugas kesehatan dapat menilai

apakah anak membaik setelah diberi obat atau diperlukan diberi tindakan lainnya.

Sebagai contoh, beberapa anak mungkin tidak bereaksi atas pemberian antibiotika

tertentu atau obat malaria, sehingga diperlukan obat pilihan kedua. Anak dengan diare

persisten membutuhkan tindak lanjut untuk memastikan bahwa diare telah berhenti sama

sekali. Anak dengan demam atau infeksi mata perlu dilihat jika keadaannya tidak

membaik. Anak dengan masalah pemberian ASI dan makanan memerlukan tindak lanjut

untuk memastikan bahwa mereka telah mendapat cukup ASI/ makanan sehingga berat

badannya bertambah. Kedatangan anak untuk kunjungan kembali / ulang menunjukkan

bahwa konseling yang diberikan dipahami ibu dan ini akan menentukan keberhasilan

perawatan anak balita dirumah oleh keluarga dalam pelaksanaan perawatan anak yang

baik di rumah.

Untuk menjaga kualitas pelayanan dan meningkatkan ketrampilan,

petugas kesehatan dilatih standarisasi MTBS dengan mempelajari materi dasar dan materi

inti yang memberikan pengetahuan dan ketrampilan klinis dalam Manajemen Terpadu

untuk menjaga tetap terpeliharanya
untuk
menjaga
tetap
terpeliharanya

Balita Sakit (MTBS) yang terdiri dari : penilaian dan klasifikasi anak sakit umur 2 bulan

sampai 5 tahun, menentukan tindakan, pengobatan, konseling bagi Ibu, tindaklanjut serta

tatalaksana bayi muda umur 1 hari sampai 2 bulan

(Manajemen Terpadu Bayi Muda/

petugas

akan

MTBM).Selanjutnya

ketrampilan

manajemen pengelolaan paripurna pada balita, pelaksanaan di lapangan di terapkan pada

formulir MTBS/MTBM yang berupa ceklist pengamatan untuk membimbing petugas

dalam melakukan pelayanan kepada bayi dan balita.Pelatihan standarisasi MTBS tersebut

diatas dilaksanakan selama 6 hari efektif dengan sesi malam (minimal 60 jam pelajaran) ,

sebagaimana ketentuan dalam Keputusan Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat Nomor :

KU.03.02/ BI.3/486/2007 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana APBN Yang

dilaksanakan di Propinsi, Kabupaten / Kota Tahun 2007 Program Upaya Kesehatan

Masyarakat dan Program Perbaikan Gizi Masyarakat. Kompetensi yang diharapkan dari

pelatihan MTBS adalah petugas kesehatan bisa melaksanakan proses manajemen kasus

penanganan balita sakit dan bayi muda di fasilitas pelayanan kesehatan dasar seperti

puskesmas, puskesmas pembantu, pondok bersalin , klinik, balai pengobatan maupun

melalui kunjungan rumah. Dengan berpedoman pada buku bagan, petugas menangani

balita sakit dan bayi muda diantaranya dengan melakukan :

a. Menilai tanda tanda dan gejala penyakit, status imunisasi, status gizi dan pemberian

vitamin A

b. Membuat klasifikasi

c. Menentukan

tindakan

sesuai

seorang anak perlu dirujuk

dengan

klasifikasi

anak

dan

memutuskan

apakah

d. Memberi pengobatan pra rujukan yang penting, seperti dosis pertama antibiotik,

pra rujukan yang penting, seperti dosis pertama antibiotik, vitamin A, suntikan kinin dan perawatan anak untuk

vitamin A, suntikan

kinin dan perawatan anak untuk mencegah turunnya gula darah

serta merujuk anak.

e. Melakukan tindakan di fasilitas kesehatan (kuratif dan preventif) seperti pemberian

rumah

oralit, vitamin A dan imunisasi. f.

Mengajari ibu cara memberi obat di

(seperti antibiotik oral atau obat anti malaria) dan asuhan dasar bayi muda

f. Memberi konseling kepada ibu mengenai pemberian makan pada anak termasuk

pemberian ASI dan kapan harus kembali ke fasilitas kesehatan.

g. Melakukan penilaian ulang dan memberi perawatan yang tepat pada saat anak datang

kembali untuk pelayanan tindak lanjut

Dalam melakukan proses manajemen kasus ini,terdapat dua kelompok umur yaitu

apabila anak umur 2 bulan sampai 5 tahun menggunakan bagan penilaian dan klasifikasi

anak sakit umur 2 bulan sampai 5 tahun Sampai 5 tahun berarti anak belum mencapai

ulang tahunnya yang kelima. Kelompok ini termasuk balita umur 4 tahun 11 bulan, akan

tetapi tidak termasuk anak yang sudah berumur 5 tahun. Seorang anak yang berumur 3

bulan akan masuk dalam kelompok umur 2 bulan sampai 5 tahun, dan bukan dalam

kelompok 1 hari sampai 2 bulan (Proses manajemen kasus dengan formulir MTBS).

Apabila anak belum genap berumur 2 bulan, maka ia tergolong bayi muda. Bagan yang

digunakan adalah ” Penilaian , klasifikasi dan pengobatan bayi muda umur 1 hari sampai

2 bulan ” Khusus mengenai bayi muda , bagan berlaku untuk bayi muda sakit maupun

sehat (Proses manajemen kasus menggunakan formulir MTBM). Dengan menggunakan

buku

bagan penilaian & klasifikasi anak umur 2 bulan sampai 5 tahun , petugas

mempraktikkan ketrampilan sebagai berikut :

a. Menanyakan kepada ibu mengenai masalah yang dihadapi

: a. Menanyakan kepada ibu mengenai masalah yang dihadapi b. Memeriksa tanda bahaya umum c. Menanyakan

b. Memeriksa tanda bahaya umum

c. Menanyakan kepada ibu mengenai empat keluhan utama :

1)

2)

3)

4)

Batuk atau sukar bernafas

Diare

Demam

Masalah telinga

Apabila ada keluhan utama tersebut diatas maka dilanjutkan dengan :

1)

Melakukan penilaian lebih lanjut gejala lain yang berhubungan dengan gejala

utama

2)

3)

4)

Membuat klasifikasi penyakit anak berdasarkan gejala yang ditemukan.

Memeriksa dan mengklasifikasikan status gizi anak dan anemia.

Memeriksa

status

imunisasi

dan

pemberian

vitamin

A

pada

anak

dan

menentukan apakah anak membutuhkan imunisasi dan / atau vitamin A pada saat

5)

kunjungan tersebut.

Menilai masalah / keluhan lain yang dihadapi anak

6)

Ketrampilan selanjutnya adalah menentukan tindakan dan memberi pengobatan

yang dibutuhkan. Pengobatan pada anak sakit

dapat dimulai di klinik dan

diteruskan dengan pengobatan lanjutan di rumah. Pada beberapa keadaan , anak

yang sakit berat perlu di rujuk ke rumah sakit untuk perawatan lebih lanjut. Dalam

hal ini perlu dilakukan tindakan pra rujukan sebelum anak di rujuk.

Pada bagian ini petugas mempunyai ketrampilan untuk :

a. Menentukan perlunya dilakukan rujukan segera

b. Menentukan tindakan dan pengobatan pra rujukan

segera b. Menentukan tindakan dan pengobatan pra rujukan c. Merujuk anak, menjelaskan perlunya rujukan, menulis surat

c. Merujuk anak, menjelaskan perlunya rujukan, menulis surat rujukan

d. Menentukan tindakan dan pengobatan untuk anak yang tidak

e. memerlukan rujukan segera

f. Memilih obat yang sesuai dan menentukan dosis dan jadwal pemberian

g. Memberi cairan tambahan untuk diare dan melanjutkan pemberian makan.

h. Memberi imunisasi setiap anak sakit sesuai kebutuhan.

i. Memberi suplemen vitamin A

j. Menentukan waktu untuk kunjungan ulang.

Petugas kesehatan dilatih menyediakan waktu untuk menasehati ibu dengan

cermat dan menyeluruh. Pada bagian ini adalah penting bagi petugas untuk memahami

bahwa praktik menasehati/ konseling bagi ibu adalah diharapkan ibu mampu menerapkan

perawatan dirumah dengan baik. Pola perawatan di rumah yang benar merupakan

indikator keberhasilan petugas dalam memberikan pemahaman / konseling mengenai

masalah kesehatan anak ibu. Sebagai alat komunikasi penggunaan kartu nasehat ibu

(KNI) / Buku KIA, akan membantu petugas untuk mempraktikkan konseling pada ibu.

Petugas akan mempraktikkan tugas konseling ini antara lain :

a. Menggunakan keterampilan komunikasi yang baik

1)

2)

3)

4)

Mengajari ibu cara memberikan obat oral dirumah

Mengajari ibu cara mengobati infeksi lokal di rumah

Mengajari ibu cara pemberian cairan di rumah

Melakukan penilaian pemberian ASI dan makanan anak

5)

Menentukan masalah pemberian ASI dan makanan anak

prioritas nasehat. Pada tiap akhir
prioritas
nasehat.
Pada
tiap
akhir

6)

Konseling bagi ibu tentang masalah pemberian ASI dan makanan

b. Menasehati ibu tentang :

1) Kapan kembali untuk kunjungan ulang

2) Kapan kembali segera untuk perawatan lebih lanjut

3) Kapan kembali untuk imunisasi dan pemberian vitamin A

4) Kesehatannya sendiri

Menentukan

kunjungan,

petugas

akan

menjelaskan kapan harus kunjungan ulang. Kadang seorang anak membutuhkan tindak

lanjut untuk lebih dari satu masalah. Pada kasus seperti ini, ibu diberitahu kapan waktu

terpendek dan pasti ibu harus kembali. Dan dijelaskan juga kemungkinan anak harus

kembali lebih awal jika masalah seperti demam menetap. Tabel 2.1 menunjukkan jadwal

kunjungan ulang untuk anak 2 bulan sampai 5 tahun. Keterangan waktu yang pasti dan

terpendek adalah nasehat yang diberitahukan kepada ibu balita setelah menyelesaikan

klasifikasi.

Tabel 2. 1.

Jadwal kunjungan ulang balita 2 bulan sampai 5 tahun

Anak dengan Kunjungan ulang neumonia Disentri Malaria, jika tetap demam Campak dengan komplikasi pada mata
Anak dengan
Kunjungan ulang
neumonia
Disentri
Malaria, jika tetap demam
Campak dengan komplikasi pada mata
atau mulut
2
hari
Mungkin DBD, jika tetap demam
Demam:
mungkin
bukan
DBD,
jika
tetap demam
Diare Persisten
Infeksi telinga akut
Infeksi telinga menahun
5
hari
Masalah pemberian makan
Penyakit lain, jika tidak ada perbaikan
Anemia 4
4
minggu (1 bulan)
Berat
badan
menurut
umur
sangat
4
minggu (1 bulan)
rendah (BGM) 4

Ada beberapa kunjungan ulang yang berbeda untuk masalah gizi yaitu :

a. Anak yang mempunyai masalah pemberian makan, dan ibu balita telah dianjurkan

untuk melakukan perubahan dalam hal pemberian makan, kunjungan ulang dalam

waktu 5 hari adalah untuk melihat apakah ibu telah melakukan perubahan itu.

b. Anak yang tampak pucat (anemia),kunjungan ulang dalam 4 minggu untuk memberi

tambahan zat besi (yang penting anak dengan anemia akan mendapat zat besi dengan

total pemberian untuk 1 bulan dan mendapat tindak lanjut setelah 1 bulan tersebut )

c. Anak yang menderita BGM, kunjungan ulang dalam waktu 4 minggu / 1 bulan untuk

menimbang anak, menilai ulang pemberian makan dan memberi nasehat lebih lanjut

ulang pemberian makan dan memberi nasehat lebih lanjut sesuai kartu Nasehat Ibu/ KIA. Jadwal kunjungan ulang

sesuai kartu Nasehat Ibu/ KIA.

Jadwal kunjungan ulang ini terdapat dalam kartu nasehat ibu , bersama nasehat

kapan harus kembali segera (tabel 2.2). Bagian terpenting dari kapan harus kembali ini,

petugas dilatih untuk selalu mengecek pemahaman ibu sebelum ibu meninggalkan klinik.

lokal yang

Dalam memberikan nasehat itu petugas dapat menggunakan istilah istilah

mudah dimengerti ibu . Kartu nasehat ibu menampilkan tanda tanda tersebut dalam

bentuk kalimat maupun dalam gambar. Petugas akan melingkari tanda-tanda yang harus

diingat ibu. Petugas harus selalu menyadari bahwa kata kata dan nasehat tersebut

dimengerti oleh ibu. Jika ibu tidak mengerti, mungkin ibu tidak akan kembali. Jika ibu

tidak kembali pada saat anak menderita pneumonia anak mungkin dapat meninggal.

Tabel 2.2.

Kapan harus segera kembali pada balita 2 bulan sampai 5 tahun

Kunjungan ulang Tanda-tanda Setiap anak sakit 1. Tidak bisa minum atau menyusu 2. Bertambah parah
Kunjungan ulang
Tanda-tanda
Setiap anak sakit
1. Tidak bisa minum atau menyusu
2. Bertambah parah
3. Timbul demam
Anak dengan batuk : bukan
1. Nafas cepat
Pneumonia, juga kembali jika :
2. Sukar bernafas
Jika anak Diare, juga kembali jika:
1.
Berak bercampur darah
2.
Malas minum
Jika
anak,
mungkin
DBD
atau
1.
Ada tanda tanda perdarahan
Demam :
2.
Ujung ekstremitas dingin
Mungkin bukan DBD, juga
3.
Nyeri ulu hati atau gelisah
kembali jika :
4.
Sering muntah
Dengan
demikian,
Konseling
yang
baik
diharapkan
akan

memberikan

pemahaman kepada ibu balita akan perawatan balita yang benar dirumah, yang pada

akhirnya meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan ibu akan perawatan yang benar

bagi balitanya.

Tabel. 2.3.

Jadwal kunjungan ulang bayi 1 hari sampai dengan 2 bulan

Waktu kunjungan ulang

Bayi dengan klasifikasi

nfeksi bakteri

Gangguan pemberian ASI

2 Hari

Luka atau bercak putih dimulut (thrust)

Hipotermia sedang

Diare dehidrasi ringan/ sedang

7 Hari
7 Hari

Ikterus fisiologis

Berat badan rendah

Petugas harus memastikan bahwa setiap ibu yang bayinya sakit perlu diberitahu

kapan harus membawa bayinya untuk kunjungan ulang (tabel 2.3) dan kapan harus segera

dibawa ke petugas kesehatan (tabel 2.4):

a. Segera membawa bayinya kepetugas kesehatan jika timbul tanda

b. Penyakitnya bertambah parah

c. Membawa bayinya untuk kunjungan ulang pada kurun waktu tertentu

d. Untuk mngecek kemajuan pengobatan dengan antibiotik atau untuk

e. Pemberian imunisasi berikutnya (kunjungan bayi sehat).

Tabel. 2.4.

Menasehati Ibu Kapan Harus Segera Dibawa Ke Petugas Kesehatan

Segera dibawa ke petugas kesehatan jika bayi menunjukkan

salah satu gejala berikut :

a) Gerakan bayi berkurang

b) Nafas cepat

c) Sesak nafas

d) Perubahan warna kulit ( kebiruan, kuning )

e) Malas / tidak bisa menetek atau minum

f) Badan teraba dingin atau panas

g) Beraknya campur darah ( ada darah dalam tinja )

h) Jika kulit kuning bertambah

i) Bertambah parah

) h) Jika kulit kuning bertambah i) Bertambah parah Seperti halnya pada balita umur 2 bulan

Seperti halnya pada balita umur 2 bulan sampai 5 tahun, petugas kesehatan dilatih

untuk mempraktekkan ketrampilannya pada bayi 1 hari sampai 2 bulan sebagai berikut :

a. Menanyakan kepada ibu mengenai masalah yang dihadapi bayi muda

b. Memeriksa dan mengklasifikasi bayi muda untuk masalah :

1)

Kejang

2)

Gangguan nafas

3)

Kemungkinan infeksi bakteri

4)

Ikterus

5)

Gangguan saluran cerna

6)

Diare

7)

Kemungkinan berat badan rendah

8)

Masalah pemberian ASI

9)

Menentukan status imunisasi pada bayi muda

10) Menilai masalah/ keluhan lain pada bayi muda maupun ibu

11) Menentukan tindakan (termasuk rujukan) dan memberi pengobatan pada bayi

muda

12) Memberikan konseling bagi ibu

diperlukan obat pilihan kedua. Anak pemberian ASI dan makanan
diperlukan
obat
pilihan
kedua.
Anak
pemberian
ASI
dan
makanan

memerlukan

13) Memberikan pelayanan tindak lanjut pada bayi muda.

Pada waktu kunjungan ulang , petugas kesehatan dapat menilai apakah anak

membaik setelah diberi obat atau diperlukan diberi tindakan lainnya. Sebagai contoh,

beberapa anak mungkin tidak bereaksi atas pemberian antibiotika tertentu atau obat

malaria,

diare

persisten

sehingga

dengan

membutuhkan tindak lanjut untuk memastikan bahwa diare telah berhenti sama sekali.

Anak dengan demam atau infeksi mata perlu dilihat jika keadaanya tidak membaik. Anak

dengan

tindak

lanjut

untuk

masalah

memastikan

bahwa

mereka

telah

mendapat

cukup

ASI/

makanan

sehingga

berat

badannya bertambah. Tindak lanjut merupakan hal yang penting. Petugas dianjurkan

membuat alur pelayanan khusus untuk kunjungan ulang. Karena petugas telah dilatih

untuk menangani apabila bayi atau balita berkunjung ulang ,maka apabila bayi atau balita

berkunjung ulang akan dilakukan sebagai berikut,

Petugas akan :

a. Menentukan apakah kunjungan anak adalah kunjungan ulang

b. Jika merupakan kunjungan ulang, menilai tanda tanda yang sesuai dengan petunjuk

dalam kotak tindak lanjut (dalam buku bagan) untuk klasifikasi anak sebelumnya.

c. Memilih tindakan dan pengobatan berdasarkan tanda-tanda yang ada pada anak saat

kunjungan ulang.

d. Jika anak mempunyai masalah baru, menilai dan mengklasifikasikan anak seperti

anak pada kunjungan pertama

e. Pada penanganan balita umur 2 bulan sampai 5 tahun , tindakan yang dilakukan

sesuai kotak tindak lanjut pada buku bagan dan ini hampir sama dengan pada bayi

Tabel 2.5. Klasifikasi untuk dilakukan tindak lanjut sedang lokal
Tabel 2.5.
Klasifikasi untuk dilakukan tindak lanjut
sedang
lokal

muda. Beberapa klasifikasi untuk dilakukan tindak lanjut pada tabel 2.5 adalah

sebagai berikut :

Anak umur 2 bulan sampai 5 tahun A

Anak umur 1hari sampai 2 bulan

Kunjungan ulang pneumonia

Kunjungan ulang hipotermia

Kunjungan ulang diare persisten

Kunjungan ulang desentri

Kunjungan ulang infeksi bakteri

Kunjungan ulang malaria

Kunjungan ulang demam mungkin bukan

malaria

Kunjungan ulang campak dengan

komplikasi mata atau mulut

Kunjungan ulang untuk mungkin demam

berdarah dengue dan demem: mungkin

Kunjungan ulang ikterus fisiologik

Kunjungan ulang Diare dehidrasi

ringan/ sedang

Kunjungan ulang berat badan

rendah

bukan demam berdarah dengue

 

Kunjungan ulang infeksi telinga

Kunjungan ulang maslah

Kunjungan ulang masalah pemberian

pemberian ASI

Makan

Kunjungan ulang luka atau bercak

Kunjungan ulang anemia

putih(trusth) di mulut

Kunjungan ulang BGM (bawah garis

merah)

infeksi saluran pencernaan yang
infeksi
saluran
pencernaan
yang

adalah

B. Konsep Diare

1.

Pengertian Diare

Diare

disebabkan

oleh

berbagai

enteropatogen, termasuk bakteria, virus, dan parasit (Larry K, 1999, hlm 889).

Diare adalah kondisi dimana terjadi frekwensi defekasi yang abnormal (lebih

dari 3 kali / hari), serta perubahan dalam isi (lebih dari 200g/hari) dan konsistensi (feses

cair).(Brunner & Suddarth, 2001, hlm 1093).

Diare merupakan keadaan di mana seseorang menderita air berkali-kali, tinjanya

encer dan kadang-kadang muntah. Diare disebut juga muntaber (muntah berak), muntah

mencret atau muntah bocor. Kadang-kadang tinjanya juga mengandung darah atau lendir.

(http://dranak. blogspot.com).

Diare adalah suatu penyakit dengan tanda-tanda adanya perubahan bentuk dan

konsistensi dari tinja, yang melembek sampai mencair dan bertambahnya frekwensi berak

lebih dari biasanya 3 kali atau lebih dalam 1 hari. (http://www.infeksi.com).

2.

Etiologi

a. Enteropatogen bakteri

Enteropatogen bakteri dapat menyebabkan diare radang dan non radang., dan

enteropatogen spesifik dapat disertai dengan salah satu manifestasi klinis. Umumnya

diare radang akibat Aeromonas spp, Campylobacter jejuni, Clostridium difficile, E.

Coli enteroinvasif, E. Coli enterohemoragik, Plesiomonas shigelloides, Salmonella

spp, Shigella spp, Vibrio parahaemolyticus, dan Yersinia enterocolitica. Diare non

radang dapat disebabakan oleh E. coli enteropatogen, E coli enterotoksik, dan Vibrio

lamblia adalah penyebab penyakit diare
lamblia
adalah
penyebab
penyakit
diare

Cholerae. Infeksi Yarsinea dan Salmonella paling sering dijumpai pada anak berusia

1 bulan hingga 3 tahun. Sementara infeksi Shigella dan Campylobacter paling sering

dijumpai pada anak usia 1-5 tahun.

b. Enteropatogen parasit

Giardia

yang

paling

sering

di

Amerika Serikat. Pathogen lain adalah Cryptosporidium, Entamoeba histolytica,

Strongyloides stercoralis, Isospora belli, dan Enterocytozoon bieneusi.

c. Enteropatogen virus

Empat penyebab gastroenteritis virus adalah rotavirus, adenovirus enteric,

astovirus dan kalsivirus. Rotavirus terutama dijumpai pada anak usia 4 bulan hingga 3

tahun.

d. Anak sedang terapi dengan pemakaian antibiotika. Bila diare terjadi saat anak sedang

dalam pengobatan antibiotika.

e. Alergi susu diare biasanya timbul beberapa menit atau jam setelah minum susu

tersebut, biasanya pada alergi susu sapi dan produk-produk yang terbuat dari susu

sapi.

f. Keracunan makanan/minuman yang disebabkan oleh bakteri maupun bahan kimia.

g. Immunodefisiensi.

h. Kekurangan gizi seperti kelaparan, kekurangan zat putih telur.

i. Sensitivitas terhadap protein susu dan kedelai

Sensitivitas terhadap protein susu dan kedelai merupakan alergi gastrointestinal

protein susu dan kedelai merupakan alergi gastrointestinal terhadap makanan yang menyebabkan cedera mukosa. Mekanisme

terhadap makanan yang menyebabkan cedera mukosa. Mekanisme sensitivitas ini masih

belum dimengerti. Banyak orang tua dan dokter salah menginterpretasikan derajat

iritabilitas normal dan gas sebagai intoleransi terhadap susu formula. Sebelum bayi

dinyatakan alergi dengan protein susu, sebaiknya terlebih dahulu diperoleh data yang

objektif. Gambaran klinis dapat bervariasi dari anak yang sehat dengan darah samar di

tinja hingga bayi yang tampak toksik dan disertai muntah, penurunan berat badan dan

darah yang terlihat di tinja. Data objektif yang memberi kesan diagnosis ini adalah samar

tinja yang positif., temuan eusinofil dan neutrofil (atau keduanya) pada pewarnaan

Wright tinja, dan eosinofilia perifer. Hasil kultur tinja seharusnya negatif. 20-30 % pasien

yang alergi terhadap protein susu sapi juga akan sensitif terhadap susu kedelai. Oleh

karena itu

diindikasikan

untuk mengganti dengan susu formula protein

hidrolisat,

bergantung pada beratnya gejala. Pemberian kembali pada susu formula pada bayi yang

menyebabkan alergi 4-6 minggu kemudian akan memastikan diagnosis ini. Bayi yang

diberi ASI yang mengalami gejala ini dapat berespon terhadap penghentian semua

produk susu dari diet ibu. Sebagian besar pasien yang mengalami sensitivitas terhadap

protein susu atau kedelai akan dapat mentoleransi susu pada usia 2 tahun.

3. Patofisiologi

Infeksi oleh agen penyebab terjadi bila makan makanan / air minum yang

terkontaminasi tinja / muntahan penderita diare. Penularan langsung juga dapat terjadi

bila tangan tercemar dipergunakan untuk menyuap makanan. Diare dapat ditularkan

melalui tinja yang mengandung kuman penyebab diare. Tinja tersebut dikeluarkan oleh

kuman penyebab diare. Tinja tersebut dikeluarkan oleh orang sakit atau pembawa kuman yang berak di sembarang

orang sakit atau pembawa kuman yang berak di sembarang tempat. Tinja tadi mencemari

lingkungan misalnya tanah, sungai, air sumur. Orang sehat yang menggunakan air sumur

atau air sungai yang sudah tercemari dan kemudian menderita diare. Penularan dapat

terjadi melalui : makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi, baik yang sudah

dicemari oleh serangga atau kontaminasi oleh tangan yang kotor, bermain dengan mainan

yang terkontaminasi, apalagi pada bayi sering memasukan tangan/ mainan / apapun

kedalam mulut. Karena virus ini dapat

hari.

bertahan dipermukaan udara sampai beberapa

Pengunaan sumber air yang sudah tercemar dan tidak memasak air dengan

benar. Pencucian dan pemakaian botol susu yang tidak bersih. Tidak mencuci tangan

dengan bersih setelah selesai buang air besar atau membersihkan tinja anak yang

terinfeksi, sehingga mengkontaminasi perabotan dan alat-alat yang dipegang.

4. Tanda dan Gejala

Tanda

dan gejala yang ditimbulkan dari penyakit diare disesuaikan dengan

penyebabnya. Berikut merupakan tanda dan gejala terjadi :

Tabel 2.1

Penyebab Diare

Penyebab Karakteristik Agen viral Rotavirus (periode inkubasi 1-3 Awitan tiba-tiba, demam 38 o C atau
Penyebab
Karakteristik
Agen viral
Rotavirus
(periode
inkubasi
1-3
Awitan tiba-tiba, demam 38 o C atau
hari)
lebih,mual
/
muntah,
nyeri
abomen,
berhubungan
dengan
infeksi
saluran
nafas atas, diare dapat menetap selama
lebih dari 1 minggu.
Organisme
Norwalklike
(periode
Demam,
kehilangan
nafsu,
inkubasi 1-3 hari)
mual/muntah,
nyeri
abdomen,
diare,
malaise.
Agen bacterial
Eschericia coli patogenik (periode
Awal
bertahap
atau
tiba-tiba,
inkubasi
sangat
bervariasi,
manifestasi
klinis
bervariasi,
bergantung pada strain)
kebanyakan - diare hijau, cair dengan
darah dan mukus, menjadi eksplosif,
muntah
dapat
terjadi
pada
awitan,
distensi
abdomen,
diare,
demam,
tampak toksik.
Kelompok Salmonella (nontifoid) –
Awitan cepat, gejala bervariasi (ringan
garam negatif tanpa kapsul, tanpa
sampai berat), mual, muntah dan nyeri
spora (periode
inkubasi 6-72 jam
abdomen kolik diikuti diare, kadang-
untuk gastroenteritis biasanya kadang disertai darah dan mucus, kurang dari 24; 3-60 hari untuk demam,
untuk
gastroenteritis
biasanya
kadang
disertai
darah
dan
mucus,
kurang dari 24;
3-60
hari untuk
demam, peristaltic hiperaktif dan nyeri
demam enteric biasanya 7-14)
tekan
yang
ringan
pada
abdomen,
gejala biasanya berkurang dalam 5 hari,
dapat
mengalami
sakit
kepala
dan
manifestasi serebral (mis : mengantuk,
konfusi,
meningismus,
atau
kejang),
bayi mungkin afebris dan non toksik,
dapat
mengakibatkan
septikimia
dan
meningitis
yang
mengancam
kehidupan.
S. typhi
Bervariasi pada bayi, pada anak yang
lebih besar demam tidak teratur, sakit
kepala, malaise, letargi, diare terjadi
pada
50
%
tahap
awal,
umumnya
terjadi
batuk,
dalam
beberapa
hari
demam meningkat dan menetap, terjadi
keletihan
batuk,
nyeri
abdomen,
anoreksia, dan penurunan berat badan.
Kelompol Shigella – gram negative,
Awitan bervariasi tetapi biasanya tiba-
basil anaerob non motil. (periode
tiba, demam dan nyeri kram abdomen
inkubasi
1-7
hari,
biasanya
2-4
terjadi di awal, demam dapat mencapai
hari)
40,5 0 C, konvulsi pada kira-kira 10 %

biasanya

dikaitkan

dengan

demam,

pasien tampak sakit, sakit kepala, kaku

kuduk,

delirium,

diare

cair

dengan

mucus dan pus mulai kira-kira 12-48

jam setelah awitan, defikasi didahului

kram abdomen, tenesmus

dan

aliran

mengejan, gejala biasanya berkurang

dalam 5-10 hari.

Diare mungkin berdarah, demam lebih

dari 38 C, nyeri abdomen pada kuadran

(periode 1-3 kanan bawah, muntah. (periode kram, pereumbilikasi, diare muntah.
(periode
1-3
kanan bawah, muntah.
(periode
kram,
pereumbilikasi,
diare
muntah.

dosis

Yarsinia

enterocolitica

inkubasi

tergantung

minggu)

Campylobacter

jejuni

Demam, nyeri abdomen sering hebat,

cair,

banyak, bau menyengat disertai darah,

inkubasi 1-7 hari atau lebih lama)

Kelompok Vibrio cholera (periode

inkubasi biasanya 2-3 hari rentang

dari beberapa jam sampai 5 jam)

Awitan tiba-tiba dari diare encer yang

banyak, tanpa disertai kram, tenesmus

atau

iritasi

anal,

meskipun

anak

mengeluh kram ; pada awalnya terjadi

defikasi intermiten, kemudian hampir

kontinu;

defikasi

berdarah

dengan

mucus; diare dengan darah dalam feses

Keracunan makanan Staphilococcus (periode inkubasi 4- Mual, muntah; kram abdomen hebat; 6 jam) diare hebat;
Keracunan makanan
Staphilococcus (periode inkubasi 4-
Mual, muntah; kram abdomen hebat;
6 jam)
diare hebat; syok dapat terjadi pada
kasus-kasus
berat;
mungkin
demam
ringan.
Clostridium
perfungens
(periode
Kram
sedang
sampai
berat,
nyeri
inkubasi 8-24 jam, biasanya 8-12
midepigastrik.
jam)
Mual,
muntah;
diare;
gejala
system
Clostridium
botulinum
(periode
saraf pusat dengan efek seperti curare;
inkubasi
12-26
jam,
rentang
6-
mulut kering, disfagia.
sampai 8 hari)
5.
Pemeriksaan Klinis
Pemeriksaan
yang
dilakukan
yaitu
terutama
pada jenis
tinja.
Awitan
diare
mendadak dengan buang air besar lebih dari 4 kali / hari dan tidak ada muntah sebelum
diare meningkatkan kemungkinan adanya enteris bacterial. Diare berdarah dan demam

paling sering dijumpai pada enteritis bacterial, walaupun infeksi Cryptosporidium juga

sebaiknya dipertimbangkan pada anak- anak yang berada ditempat penitipan anak. Tinja

pada infeksi rotavirus biasanya berwarna hijau , berair, dan tidak berdarah. Tinja pada

infeksi Salmonella biasanya berwarna hijau, berlendir dan berbau telur busuk. Tinja pada

infeksi Shigella khas berair, berdarah, dan tidak berbau.

6.

Pencegahan

Pencegahan yang dapat dilakukan yaitu : teruskan pemberian Air Susu Ibu (ASI),

perhatikan kebersihan dan gizi yang seimbang untuk pemberian makanan pendamping

ASI setelah bayi berusia 4 bulan, karena penularan kontak langsung dari tinja melalui

tangan / serangga , maka menjaga kebersihan dengan menjadikan kebiasaan mencuci

tangan untuk seluruh anggota keluarga, cucilah tangan sebelum makan atau menyediakan

makanan

untuk sikecil, ingat untuk menjaga kebersihan dari makanan atau minuman

yang kita makan, juga kebersihan perabotan makan ataupun alat bermain si kecil.

kebersihan perabotan makan ataupun alat bermain si kecil. 7. Pengobatan Yang perlu diingat pengobatan bukan memberi

7. Pengobatan

Yang perlu diingat pengobatan bukan memberi obat untuk menghentikan diare,

karena diare sendiri adalah suatu mekanisme pertahanan tubuh untuk mengeluarkan

kontaminasi makanan dari usus.

Mencoba menghentikan diare dengan obat seperti

menyumbat saluran pipa yang akan keluar dan menyebabkan aliran balik dan akan

memperburuk saluran tersebut.

Oleh karena proses diare ini adalah mekanisme pertahanan dari tubuh,

akan

sembuh dengan sendirinya setelah beberapa hari (1 -14 hari) dimana diare makin berisi

dari air (watery) mulai berampas, berkurang frekwensinya dan sembuh. Yang terpenting

pada diare adalah mencegah dan mengatasi gejala dehidrasi. Kebanyakan pasien dengan

rehidrasi ringan sampai sedang dapat direhidrasi dengan larutan rehidrasi oral yang

mengandung elektrolit dan glukosa. Larutan-larutan ini mengandung natrium sebanyak

75-90mEq/l., sedangkan larutan rumatan mengandug natrium 40-60mEq/l. Rehidrasi

dengan larutan rehidrasi oral sebaiknya dilakukan lebih dari 4-6 jam. Cairan rumatan

peroral dapat diberikan setelah rehidrasi, tetapi makanan sebaiknya diberikan kembali

dalam waktu 24 jam. Makanan awal sebaiknya berupa ASI, susu formula atau susu

murni, nasi, pisang, kentang, biskuit, roti panggang, dan serial kering. Karena sel-sel usus

yang dirusak oleh virus memerlukan nutrisi untuk pembentukan kembali. Pemberian

makanan seperti biasanya akan memperpendek masa waktu gejala dari diare.

Manfaat penggunaan susu formula yang bebas laktosa masih belum jelas. Obat

anti diare tidak efektif dan dapat berbahaya. Obat ini dapat meningkatkan proliferasi

bakteri dan absorpsi toksin dengan menurunnya motilitas usus dan juga menyamarkan

luminal. Minumlah garam oralit untuk
luminal.
Minumlah
garam
oralit
untuk

kehilangan

cairan

mencegah

terjadinya

kekurangan cairan tubuh sebagai akibat diare. Minumkanlah cairan oralit sebanyak

mungkin penderita mau. 1 bungkus kecil oralit dilarutkan ke dalam 1 gelas air masak

(200 cc) Kalau oralit tidak ada buatlah : larutan garam gula. Ambillah air teh (masak) 1

gelas. Masukkan dua sendok teh gula pasir, dan seujung sendok teh garam dapur. Diaduk

rata dan diberikan kepada penderita sebanyak mungkin ia mau minum. Bila diare tak

terhenti dalam sehari atau penderita lemas sekali bawalah segera ke Puskesmas.

C. Konsep Balita

1.

Pengertian

Bawah lima tahun atau sering disingkat sebagai balita adalah merujuk kepada

bayi

yang

berumur

di

bawah

5

(http://id.wikipedia.org/wiki/Balita).

tahun

termasuk

5

tahun.

2.

Tumbuh Kembang Anak Usia Todler (1-3 tahun)

Pada usia todler anak mulai berjalan, mulai mengeksplorasi secara giat tentang

lingkunganya seperti berusaha mengetahui bagaimana sesuatu bekerja, apa kata-kata, dan

bagaimana mengontrolnya dengan tuntutan, negativisme, dan berkeras kepala. Masa ini

merupakan masa yang penting terhadap perkembangan kepandaian dan pertumbuhan

intelektual.

a. Teori Tumbuh Kembang menurut Freud

dihambat, anak mungkin menjadi
dihambat,
anak
mungkin
menjadi

atau

Kesenangan berubah dari suatu yang erogenous tubuh ke tempat lain, tingkat

maturasi anak menentukan saat perubahan ini terjadi. Jika pemuasan kesukaan

berlebihan

secara

emosional

tersangkut

(terikat) pada tahapan yang khusus. Sesuai dengan tahapan teori psikoseksual Freud,

anak todler berada pada fase anal-muskular (1-3 tahun). Pada fase ini, pemuasan

kenikmatan sensual berasal dari retensi dan pengeluaran feses, dengan tubuh memberi

kepuasan berkisar sekitar anus. Mengotori adalah aktivitas yang umum.

Pada tahap ini anak sangat cocok diajarkan toilet training. Konflik eksternal

mungkin ditemui pada saat latihan ke toilet dan terlibat dalam perilaku seperti

kontipasi, kelembaban, dan kesakitan. Sikap positif yang dapat diperoleh dalam tahap

ini adalah jika BAB atau BAK senang melakukannya sendiri, sedangkan negatifnya

anak akan menahan dan mempermainkannya.

b. Teori Tumbuh Kembang menurut Piaget (1952)

Melihat perkembangan pikiran sebagai kejadian melalui adaptasi terhadap

lingkungan. Anak menyesuaikan (mengisi) informasi yang baru ke dalam struktur

pemikiran yang sudah ada (skema) dan mengakomodasi (mengubah) skema tersebut

untuk menerima informasi yang baru. Usaha untuk keseimbangan (ekuilibrasi) terjadi

melalui dua proses ini. Piaget yang menyatukan prinsip epigenetic kedalam teorinya.

Prinsip ini menyebutkan bahwa perkembangan bergantung pada program genetic

seseorang dan bahwa setiap aspek atau bagian memiliki waktunya sendiri untuk

berpengaruh. Pengaruh genetic yang konstan, maturasi, pengalaman dan interaksi

Pada fase trial and error (12-18
Pada
fase
trial
and
error
(12-18

memberi hasil dalam perkembangan kognitif. Teori ini menempatkan manusia dalam

peran belajar yang aktif dan adalah hal yang penting bagaimana anak belajar.

Pada tahap sensorimotor (lahir-2 tahun), anak belajar mengenal dunia melalui

aktivitas sensori dan motorik. Anak secara lambat mengembangkan konsep bahwa

orang dan benda merupakan hal yang permanen, walaupun mereka tidak terlihat lagi.

Pada tahap ini anak todler berada pada fase peralihan antara trial and error dan

representasi.

anak

secara

aktif

bulan),

mengeksplorasi dunia dan berbagai kegiatan untuk melihat sesuatu yang baru dari

sebuah obyek, kejadian atau situasi. Trial and error digunakan untuk memecahkan

masalah. Anak mungkin mencoba mendapatkan mainan keluar dari kotak kecil yang

terbuka

pertama

dengan

tangan

dan

kemudian

membalik

kotak

tersebut

dan

menumpahkan

isinya

keluar.

Anak

memahami

bagian

benda

yang tidak

pada

tempatnya jika terlihat.

Pada fase representasi (18-24 bulan), toddler mulai menciptakan gambaran

mental dan dengan demikian dapat menciptakan cara yang baru untuk berurusan

dengan

lingkungan.

Anak

mulai

memikirkan

tentang

kejadian–kejadian

tanpa

melakukan tindakan. Anak mendapatkan benda sungguhan yang permanen dan

mencari benda yang tidak terlihat (tersembunyi). Misalnya: todler akan mencari

tempat untuk menyimpan botol, pemahaman ini didemonstrasikan dengan mencari

botol di dalam kulkas.

c. Teori Tumbuh Kembang menurut Kohlberg (1968)

tahun).
tahun).

Mengemukakan bahwa perkembangan kognitif mendasari kemajuan moral

seseorang dari tingkat ke tingkat. Tahapan ini terjadi dalam urutan yang sama

berdasarkan kultur. Individu berada dalam seberapa tepat dan seberapa jauh mereka

maju melalui tahapan ini. Pada teori perkembangan moral Kohlberg, anak todler

berada pada tingkat premoral (lahir-9 tahun), pada fase orientasi hukuman dan

kepatuhan (lahir-6

Pada tingkat premoral terdapat sedikit kewaspadaan

mengenai apa yang dimaksud dengan perilaku moral yang bisa diterima secara sosial.

Kontrol didapatkan dari luar. Anak menyerah pada kekuatan dan kepemilikan. Pada

fase orientasi dan hukuman, peraturan dari orang lain diikuti untuk menghindari

hukuman. Anak menggabungkan label dari baik buruk dalam perilaku dalam bentuk

konsekuensi dari tindakan.

d. Teori Tumbuh Kembang menurut Erickson (1963)

Setiap tahap memiliki krisis personal yang melibatkan konflik utama yang

krisis pada saat itu. Perkembangan ego sangat dipengaruhi oleh pengaruh sosial dan

kultural dan kesuksesan dari setiap krisis

yang melibatkan perkembangan dari

kebaikan yang khusus. Kesuksesan penguasaan pada setiap konflik dibangun pada

keberhasilan,

penyelesaian

pusat

konflik

sebelumnya.

Teori

ini

menunjukkan

pentingnya hereditas dan lingkungan yang memiliki dasar epigenetic. Perkembangan

ditentukan oleh prinsip genetik dan berlangsung terus-menerus sepenjang tahapan

usia.

Sesuai dengan tahapan teori psikososial Erickson, anak todler berada pada

tahap autonomi vs ragu-ragu dan malu (1-3 tahun). Pada usia ini anak mendapatkan

terhadap usaha mengurusi dirinya tubuh terhadap kegiatan membuka dan makan sendiri, dan ke toilet. Mulai
terhadap
usaha
mengurusi
dirinya
tubuh
terhadap
kegiatan
membuka
dan
makan
sendiri,
dan
ke
toilet.
Mulai

perasaan terhadap koreksi diri sendiri seraya mengatasi perasaan terhadap keraguan

dan perasaan malu. Mereka mereaksi kehendaknya dan memberikan kontrol yang

mandiri, ketergantungan dan mengatur dirinya sendiri. Mereka mengkonfrontasikan

dengan

(otonominya),

dan

konflik

sendiri

melepaskan banyak kesenangan secara mandiri.

Anak mulai mengembangkan kemandirian pada saat peningkatan kontrol

baju,

berjalan,

diri.

Jika

fungsi-fungsi

mengambil

memakai

terbentuk

kontrol

perkembangan kemandirian todler tidak didukung oleh orang tua, anak mungkin

memiliki kepribadian yang ragu-ragu. Jika anak dibuat merasa buruk pada saat

melakukan kegagalan, anak akan menjadi pemalu.

Beberapa tugas yang spesifik pada usia todler, yaitu:

1)

Membedakan diri dari yang lain, terutama ibunya

2)

Membiarkan terhadap pemisahan dengan orang tua

3)

Mengontrol fungsi tubuh secara keseluruhan

4)

Mendapatkan tingkah laku sosial yang dapat diterima

5)

Pengertian verbal dalam komunikasi

6)

Kemampuan berhubungan dengan semuanya dalam mengurangi cara egosentris.

Untuk memenuhi tugas perkembangan tersebut perlu adanya dukungan dari

orang tua sepenuhnya dan lingkungan yang positif untuk terbentuknya rasa percaya

diri dan harga diri, serta memberikan keyakinan yang jelas. Tugas perkembangan

yang dilalui oleh usia todler adalah sebagai berikut:

1)

2)

3)

4)

5)

1)

Keterampilan motorik, dimana anak mulai belajar dan mematuhi suatu periode

dimana anak mulai belajar dan mematuhi suatu periode mengeksploitasi benda-benda dalam lingkungan. Mengembangkan

mengeksploitasi benda-benda dalam lingkungan.

Mengembangkan kemampuan bicara dan meningkatkan perbendaharaan kata

kearah yang lebih dimengerti.

Mengembangkan konseptual dan tingkah laku inisiatif.

Meningkatkan aktivitas imaginative dan belajar berespon terhadap orang lain.

Belajar mengendalikan tubuh dan mengikuti pola-pola sosial untuk dapat diterima

dalam memenuhi kebutuhan mereka.

Penyimpangan yang dapat terjadi pada usia todler adalah sebagai berikut:

Negativisme

Suatu perilaku yang dimunculkan oleh anak dimana tidak semua menerima

kehendak atau perintah, dan akan mengerjakan hal-hal yang bertentangan, tidak

berespon terhadap sapaan. Usaha pencegahannya:

a) Melatih kontrol anak dengan membuat pilihan dihadapkan dengan dua pilihan

yang positif, sehingga mereka lebih suka memilih salah satunya, daripada

menjawab tidak.

b) Mengurangi kesempatan untuk menjawab “tidak”

c) Membuat suatu permainan dimana todler merasa tertantang untuk menang.

d) Menggunakan humor yang akan membuat tugas dapat dipertahankan dan

dapat mengurangi marah dan frustasi.

2)

Tempertantrum

Ketidakmampuan fisik untuk menyelesaikan tugas atau banyaknya aturan-aturan

yang mengganggu aktivitasnya. Hal tersebut dapat menimbukan frustasi pada

3)

anak.

Rasa

frustasi

yang bertumpuk-tumpuk

tersebut

dilepaskannya

dengan

frustasi yang bertumpuk-tumpuk tersebut dilepaskannya dengan aktivitas untuk membebaskan ketegangannya seperti:

aktivitas untuk membebaskan ketegangannya seperti: berguling-guling diatas

lantai, menendang-nendangkan kakinya, membentur kepala, memutar kepala dan

menahan napasnya.

Usaha mencegahnya:

a) Mengabaikan anak jika berperilaku mancari perhatian.

b) Hindari tanggapan secara verbal pada saat mencari perhatian.

c) Orang tua mendekat setelah tantrum selesai atau berkurang.

d) Tawarkan anak pada aktivitas yang disukai.

e) Memberi hadiah setelah post tantrum.

Sibling rivalry (persaingan antar saudara)

Kecemburuan dan kemarahan yang alamiah dari anak terhadap seseorang (anak

baru) dalam keluarga. Terjadi pada kedatangan bayi baru atau terhadap seseorang

yang baru bergabung pada keluarga. Perilaku yang sering diperlihatkan anak

adalah: marah pada perubahan yang dibawa sibling, khususnya perpisahan dari

ibu selama persalinan, orang tua memberi cinta dan perhatian pada orang lain,

kebiasaan rutin terganggu, memukul adiknya, mendorong adiknya jauh dari orang

tuanya, menarik botol atau payudara dari mulut bayi.

Cara mencegahnya:

a) Membicarakan adik barunya ketika todler menyadari tentang kehamilan dan

perubahan serta mengantisipasi keluarga yang baru.

b) Menjelaskan dengan ide-ide yang realistis tentang seperti apa kehamilan dan

kelahiran.

c) Melindungi bayi dan supervisi dan interaksi dari sibling.

4)

Melindungi bayi dan supervisi dan interaksi dari sibling. 4) d) Adanya perlindungan bayi di rumah. Toilet

d) Adanya perlindungan bayi di rumah.

Toilet training

Perilaku yang sering diperlihatkan anak usia toddler adalah ketidakmampuan anak

untuk menahan BAB dan BAK, ketidakmampuan anak mengkomunikasikan pada

orang tuanya saat ingin BAB atau BAK.

Cara mencegahnya:

a) Membantu anak memilih pot duduk atau menggunakan toilet.

b) Membantu anak dalam melakukan BAB atau BAK

c) Melatih anak untuk mengenal tanda-tanda BAB atau BAK.

d) Ajarkan anak untuk mengkomunikasikan pada orang tua jika ada tanda-tanda

BAB atau BAK.

e) Ajarkan anak untuk langsung ke toilet pada saat ingin BAB atau BAK

D. Keramgka Teori

Faktor Predisposisi -Pelaksanaan MTBS diare akut -Klasifikasi penyakit -Identifikasi tindakan -Pengobatan -Konseling
Faktor Predisposisi
-Pelaksanaan MTBS diare
akut
-Klasifikasi penyakit
-Identifikasi tindakan
-Pengobatan
-Konseling
-Sikap/ persepsi
-Kapan kembali ke
puskesmas
-Pendidikan Ibu
-Usia balita
-Jenis kelamin balita
Faktor Pendukung
-Penyakit infeksi
-Lingkungan
-Status gizi balita
-Status immunisasi
-Perilaku Masyarakat
-Keadaan Sosial Ekonomi
Kesembuhan
Diare
Pada Balita

Faktor Pendorong -Kebijakan pemerintah -Jangkauan terhadap Yankes