Anda di halaman 1dari 11

Homing Behaviour pada Penyu

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyu merupakan reptil yang hidup di laut serta mampu bermigrasi dalam jarak yang jauh di sepanjang kawasan Samudera Hindia, Samudra Pasifik dan Asia Tenggara. Keberadaannya telah lama terancam, baik dari alam maupun kegiatan manusia yang membahayakan populasinya secara langsung maupun tidak langsung. Dari tujuh jenis penyu di dunia, tercatat enam jenis penyu yang hidup di perairan Indonesia yaitu penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu abu-abu (Lepidochelys olivacea), penyu pipih (Natator depressus), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), serta penyu tempayan (Caretta caretta). Pergeseran fungsi lahan yang menyebabkan kerusakan habitat pantai dan ruaya pakan,kematian penyu akibat kegiatan perikanan, pengelolaan teknik-teknik konservasi yang tidak memadai, perubahan iklim, penyakit, pengambilan penyu dan telurnya serta ancaman predator merupakan faktor-faktor penyebab penurunan populasi penyu. Selain itu, karakteristik siklus hidup penyu sangat panjang (terutama penyu hijau, penyu sisik dan penyu tempayan) dan untuk mencapai kondisi stabil (kelimpahan populasi konstan selama 5 tahun terakhir) dapat memakan waktu cukup lama sekitar 3040 tahun, maka sudah seharusnya pelestarian terhadap satwa langka ini menjadi hal yang mendesak. Kondisi inilah yang menyebabkan semua jenis penyu di Indonesia diberikan status dilindungi oleh Negara sebagaimana tertuang dalam PP Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenisjenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.Secara internasional, penyu masuk ke dalam daftar merah (red list) di IUCN dan Appendix I CITES yang berarti bahwa keberadaannya di alam telah terancam punah sehingga segala bentuk pemanfaatan dan peredarannya harus mendapat perhatian secara serius.

1.2 Rumusan Masalah a. Bagaimana Perilaku Pada Penyu ? b. Bagaimana Perilaku Perkawinan dan Peneluran para Penyu ?

1.3 Tujuan a. Untuk mengetahui Perilaku pada Penyu b. Untuk Menjelaskan Perilaku Perkawinan dan Peneluran pada Penyu

1.4 Manfaat a.Kita dapat mengetahui Perilaku pada Penyu b.Kita dapat menjelaskan perilaku perkawinan dan peneluran pada Penyu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Penyu merupakan salah satu jenis binatang dari golongan Reptilia yang banyak hidup di perairan laut indonesia. Jenis binatang ini sangat senang mengembara dari satu tempat ke tempat yang lainnya di dalam laut untuk mendapatkan makanan guna hidup, tumbuh dan melanjutkan keturunannya. Dengan demikian pengembaraan ini terkadang di lakukannya sampai jauh dari tempat yang semula mereka diami. Guna kelangsungan hidupnya, penyu memerlukan dua lingkungan yang berbeda yang masing-masing perairan laut dan daratan yang dalam hal ini pantai-pantai tepat peneluran. 2.1 Jenis Penyu yang Ada di Indonesia Terdapat enam jenis penyu yang hidup di perairan Indonesia, yaitu Penyu Hijau ( Chelonia mydas), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Lekang (Abu-abu) (Lepidochelys olivacea), Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea), Penyu Tempayan (Caretta caretta), dan Penyu Pipih (Natator depressus). 2.2 Klasifikasi ilmiah Kerajaan: Filum: Kelas: Animalia Chordata Sauropsida

Ordo: Upaordo:

Testudinata Cryptodira

Superfamili: Chelonioidea

Familia Cheloniidae (Oppel, 1811)


Caretta Chelonia Eretmochelys Lepidochelys Natator Familia Dermochelyidae Dermochelys Familia Protostegidae (hanya fosil) Familia Toxochelyidae (hanya fosil) Familia Thalassemyidae (hanya fosil) Morfologi Penyu

2.3

Tubuh penyu terbungkus oleh tempurung keras yang berbentuk pipih serta dilapisi oleh zat tanduk. Tempurung tersebut mempunyai fungsi yang sebagai pelindung alami dari predator. Sedangkan penutup pada bagian dada dan perut disebut dengan plastron. Terdapat sisik infra marginal, yakni sisik yang menghubungkan antara karapas, plastron dan terdapat alat gerak berupa flipper. Flipper pada bagian depan berfungsi sebagai alat dayung dan flipper pada bagian belakang befungsi sebagai alat kemudi. Pada penyu-penyu yang ada di Indonesia mempunyai ciri-ciri khusus yang dapat dilihat dari warna tubuh, bentuk karapas, serta jumlah dan posisi sisik pada badan dan kepala penyu. Penyu mempunyai alat pecernaan luar yang keras, untuk mempermudah menghancurkan, memotong dan mengunyah makanan. 2.4 Daur Hidup Penyu Penyu merupakan jenis satwa yang memiliki daur hidup yang panjang. Setiap tahap kehidupan, penyu memiliki karakteristik perilaku habitat dan tingkat ancaman yang berbeda. Penyu diketahui hidup di laut baik di perairan dalam maupun dangkal. Penyu sering dijumpai di

perairan yang memiliki terumbu karang. Selain itu penyu juga terkenal sebagai satwa yang melakukan migrasi.

BAB III METODE PENULISAN 3.1 Kajian Pustaka Dalam pembuatan Karya Ilmiah ini Penulis menggunakan Metode Kajian Pustaka yang manaPenulis mencoba mengumpulkan data dan informasi sebagai acuan dasar pokok permasalahan dari berbagai sumber buku (Literatur) dan media elektronik (internet).

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 HASIL Pantai Selatan Tasikmalaya merupakan pantai yang masih digunakan penyu untu bertelur. Dari enam jenis penyu yang ada di indonesia, empat diantaranya mendarat di pantai ini. 4 jenis penyu tersebut adalah: Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea), dan Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea). Diantara keempat penyu tersebut, umumnya kini hanya Penyu Hijau yang sering mendarat untuk bertelur di pantai ini. Disini kenapa harus Pantai Selatan Tasikmalaya yang dijadikan penyu-penyu tersebut untuk bertelur? Hal itu disebabkan karena Pantai Selatan Tasikmalaya memiliki kriteria yang cocok bagi sang penyu untuk mendarat dan bertelur baik dari segi kondisi pantai, tekstur pasir, ketinggian dan jarak tempat peneluran yang tidak mudah diterjang ombak. Oleh karena itu sangat disayangkan apabila kawasan ini menjadi rusak dan terganggu. Upaya pelestarian Penyu sendiri sudah dilakukan oleh Pemerintah Daerah, seiring dengan dikeluarkannya Perda Daerah yang mengambil alih pengelolaan telur penyu dan memberlakukan sistem penangkaran. Diantaranya terdapat Penangkaran Penyu yang dinaungi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat II.

Berdasarkan data yang diperoleh , ternyata populasi Penyu di Pantai Selatan Tasikmalaya mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Dan diperkirakan pada akhir tahun 2006 populasi Penyu akan mengalami penurunan lagi, hal ini berdasarkan data bahwa dari tahun ke tahun induk Penyu yang mendarat untuk bertelur semakin berkurang. Hal ini dapat dilihat pada tabel Jumlah Penyu Naik di bawah ini. Berdasarkan temuan di lapangan, faktor utama yang menyebabkan populasi Penyu menurun salah satunya yangt paling berpengaruh adalah adanya kegiatan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebelum PEMDA memberlakukan sistem penangkaran dan pelestarian penyu, masyarakat memburu penyu secara besar-besaran dengan mengambil penyu dan telurnya untuk di konsumsi dan dijual ketika sang penyu mendarat untuk bertelur. Kegiatan masyarakat tersebut menimbtulkan efek negatif bagi kelestarian penyu, sehingga berimbas dengan menurunnya populasi penyu pada saat ini. Masyarakat masih terlalu awam dan minim informasi tentang kesadaran akan kelestarian penyu. Namun sekarang perburuan tersebut berangsur lenyap dari kegiatan masyarakat setelah adanya pengambilalihan pengelolaan telur dan mengadakan sistem penangkaran penyu. 4.2 PEMBAHASAN 4.2.1 Tingkah Laku Penyu

Dalam perkembangbiakannya termasuk binatang ovipar, pembuahan telur berlangsung dalam tubuh induk. Janin yang terkandung di dalam telur yang dikeluarkan induk penyu sepenuhnya berkembang di luar tubuh. Habitat penyu di dasar laut sesuai dengan kemampuannya berjalan jauh. Umumnya penyu mencari makan di daerah dingin dan bertelur di daerah hangat (Nuitja, 1992). Pada saat kawin penyu jantan berada di atas penyu betina dengan cara mencengkeram bahu penyu betina dan dibantu oleh kuku kepas depan. Penyu yang mempunyai bekas cengkeraman di bahunya dipastikan mempunyai telur Setelah masa perkawinan penyu jantan kembali di laut sedang penyu betina menuju pantai untuk bertelur. Penyu betina menggali pasir di pantai dengan sepasang tungkai belakangnya untuk membuat lubang sarang telur. Telur disimpan dalam lubang dan ditutup dengan rapi hingga menetas dengan sendirinya. Setelah menyimpan telurnya, penyu betina kembali ke laut. Kurang lebih 7 minggu masa inkubasi telur kemudian menetas dan menjadi

tukik (anak penyu). Tukik-tukik ini menuju habitatnya di laut mengikuti alunan ombak hingga menjadi penyu dewasa. Penyu dewasa ini (penyu betina) akan menuju pantai lagi setelah berpijah dengan penyu jantan, begitu seterusnya. Dari ratusan butir telur yang dikeluarkan oleh seekor penyu betina, paling banyak hanya belasan tukik (bayi penyu) yang berhasil sampai ke laut kembali dan tumbuh dewasa. Itu pun tidak memperhitungkan faktor perburuan oleh manusia dan pemangsa alaminya seperti kepiting, burung dan tikus di pantai, serta ikan-ikan besar begitu tukik tersebut menyentuh perairan dalam. Tukik mempunyai kemampuan terhadap sinar dan reaksi Bumi untuk keluar. Sebelum keluar, tukik berada 3-7 hari di dalam sarang dgn mengkonsumsi kuning telur yg tersisa. Tukik keluar dengan menggaruk-garuk langit-langit sarang hingga ambles dan keluar dgn saling menindih. Setelah di pantai, tukik menuju laut dengan bantuan hempasan gelombang. Selanjutnya tukik berkembang jadi penyu muda hingga penyu dewasa. 4.2.2 Bio-Ekologi Penyu a. Perilaku Perkawinan Reproduksi penyu adalah proses regenerasi yang dilakukan penyu dewasa jantan dan betin a melalui tahapan perkawinan, peneluran sampai menghasilkan generasi baru (tukik). Taha pan reproduksi penyu dapat dijelaskan sebagai berikut: Penyu melakukan perkawinan dengan cara penyu jantan bertengger di atas punggung penyu betina .Tidak banyak regenerasi yang dihasilkan seekor penyu, dari ratusan butir telur yang dikeluarkan oleh seekor penyu betina, paling banyak 13% yang berhasil mencapai dewasa. Penyu melakukan perkawinan di dalam air laut, terkecuali pada kasus penyu tempayan yang akan melakukan perkawinan meski dalam penangkaran apabila telah tiba masa kawin. Pada waktu akan kawin, alat kelamin penyu jantan yang berbentuk ekor akan memanjang ke belakang sambil berenang mengikuti kemana penyu betina berenang. Penyu jantan kemudian naik untuk melakukan ke perkawinan. Selama punggung perkawinan berlangsung, penyu betina jantan

menggunakan kuku kaki depan untuk menjepit tubuh penyu betina agar tidak mudah lepas. Kedua penyu yang sedang kawin tersebut timbul tenggelam di permukaan air dalam waktu cukup lama, bisa mencapai 6 jam lebih.

Untuk membedakan kelamin penyu dapat dilakukan dengan cara sexual dimorphism, yaitu membedakan ukuran ekor dan kepala penyu.Setiap jenis penyu melakukan kopulasi di daerah sub-tidal pada saat menjelang sore hari atau pada matahari baru terbit. Setelah 2-3 kali melakukan kopulasi, beberapa minggu kemudian penyu betina akan mencari daerah peneluran yang cocok sepanjang pantai yang diinginkan. b. Perilaku Peneluran Ketika akan bertelur penyu akan naik ke pantai. Hanya penyu betina yang datang ke dae rah peneluran, sedangkan penyu jantan berada di daerah sub-tidal. Penyu bertelur dengan tingkah laku yang berbeda sesuai dengan spesies masing-masing. Setiap spesies penyu memiliki waktu (timing) peneluran yang berbeda satu sama lain.Lama antara peneluran yang satu dengan peneluran berikutnya (interval peneluran) dipengaruhi oleh suhu air laut. Semakin tinggi suhu air laut, maka interval peneluran cenderung makin pendek. Sebaliknya semakin rendah suhu air laut, maka interval peneluran cenderung makin panjang.Tahapan bertelur pada berbagai jenis penyu umumnya berpola sama. Tahapan yang dilakukan dalam proses betelur adalah sebagai berikut :

Penyu menuju pantai, muncul dari hempasan ombak Naik ke pantai, diam sebentar dan melihat sekelilingnya, bergerak melacak pasir yang

cocok untuk membuat sarang. Jika tidak cocok, penyu akan mencari tempat lain.

Menggali kubangan untuk tumpuan tubuhnya (body pit), dilanjutkan

menggali sarang telur di dalam body pit.

Penyu mengeluarkan telurnya satu per satu, kadangkala serentak Ekor penyu melengkung ketika bertelur.

dua sampai tiga telur.

Umumnya penyu membutuhkan waktu masing-masing 45 menit untuk menggali sarang

dan 10 20 menit untuk meletakkan telur.

Sarang telur ditimbun dengan pasir menggunakan sirip belakang, lalu

menimbun kubangan (body pit) dengan ke empat kakinya.

Membuat penyamaran jejak untuk menghilangkan lokasi bertelur.

Kembali ke laut, menuju deburan ombak dan Pergerakan penyu ketika kembali ke laut ada yang bergerak

menghilang diantara gelombang.

lurus atau melalui jalan berkelok-kelok.

Penyu betina akan kembali ke ruaya pakannya setelah musim peneluran berakhir, dan

tidak akan bertelur lagi untuk 2 8 tahun mendatang

4.2.3 Perilaku Hidup Penyu Seluruh spesies penyu memiliki siklus hidup yang sama. Penyu mempunyai

pertumbuhan yang sangat lambat dan memerlukan berpuluh-puluh tahun untuk mencapai usia reproduksi. Penyu dewasa hidup bertahun-tahun di satu tempat sebelum bermigrasi untuk kawin dengan menempuh jarak yang jauh (hingga 3000 km) dari ruaya pakan ke pantai peneluran. Pada umur yang belum terlalu diketahui (sekitar 20-

50 tahun) penyu jantan dan betina bermigrasi ke daerah peneluran di sekitar daerah kelahirannya. Perkawinan penyu dewasa terjadi di lepas pantai satu atau dua bulan sebelum peneluran pertama di musim tersebut. Baik penyu jantan maupun betina memiliki beberapa pasangan kawin. Penyu betina menyimpan sperma penyu jantan di dalam tubuhnya untuk membuahi tiga hingga tujuh kumpulan telur (nantinya menjadi 3-7 sarang) yang akan ditelurkan pada musim tersebut. Penyu jantan biasanya kembali ke ruaya pakannya sesudah penyu betina menyelesaikan kegiatan bertelur dua mingguan di pantai. Penyu betina akan keluar dari laut jika telah siap untuk bertelur,

dengan menggunakan sirip depannya menyeret tubuhnya ke pantai peneluran.Membuat kubangan atau lubang badan (body pit) dengan sirip depannya lalu menggali lubang untuk sarang sedalam 30-60 cm dengan sirip belakang. jika pasirnya terlalu kering dan tidak cocok untuk bertelur, si penyu akan berpindah ke lokasi lain. Penyu mempunyai sifat kembali ke rumah (Strong homing instinct) yang kuat yaitu migrasi antara lokasi mencari makan (Feeding grounds) dengan lokasi bertelur (breeding ground). Migrasi ini dapat berubah akibat berbagai alasan, misalnya perubahan iklim,

kelangkaan pakan di alam, banyaknya predator termasuk gangguan manusia, dan terjadi bencana alam yang hebat di daerah peneluran, misalnya tsunami. Siklus hidup penyu secara umum dapat dilihat pada skema.Upaya konservasi penyu tak akan pernah cukup jika hanya dilakukan di lokasi peneluran saja, karena penyu adalah satwa bermigrasi. Penyu yang telah mencapai usia dewasa di suatu ruaya peneluran (foraging ground) akan bermigrasi ke lokasi perkawinan dan pantai peneluran (breeding and nesting migration). Setelah mengeluarkan semua telurnya, penyu betina akan kembali bermigrasi ke ruaya pakannya masing-masing (post-nesting migration). Demikian pula halnya dengan penyu jantan, yang akan bermigrasi kembali ke ruaya pakannya setelah selesai

melakukan perkawinan. Pengetahuan tentang jalur migrasi penyu diperoleh dengan penerapan teknik penelusuran menggunakan satelit telemetri. 4.2.4 Gangguan atau ancaman alami yang dapat mengganggu kehidupan penyu a. Pemangsaan (predation) tukik, baik terhadap tukik yang baru keluar dari sarang (dianta ranya oleh babi hutan, anjing-anjing liar, biawak dan burung elang)

maupun terhadap tukik di laut (diantaranya oleh ikan cucut). b. Penyakit, yang disebabkan oleh bakteri, virus, atau karena pencemaran lingkungan perairan. c. Perubahan iklim yang

menyebabkan permukaan air laut naik dan banyak terjadi erosi pantai peneluran sehingga hal tersebut berpengaruh terhadap berubahnya daya tetas dan keseimbangan rasio kelamin tukik. Sedangkan gangguan atau ancaman karena perbuatan manusia yang setiap saat dapat mengganggu kehidupan penyu antara lain: a. Tertangkapnya penyu karena aktivitas perikanan, baik disengaja maupun tidak disengaja dengan berbagai alat tangkap, seperti tombak , jaring insang (gill net), rawai panjang (longline) dan pukat (trawl). b. Penangkapan penyu dewasa untuk dimanfaatkan daging, cangkang dan tulangnya. c. Pengambilan telur-telur penyu yang dimanfaatkan sebagai sumber protein. d. Aktivitas pembangunan di wilayah pesisir yang dapat merusak habitat penyu untuk bertelur seperti penambangan pasir, pembangunan pelabuhan dan bandara, pembangunan saranaprasarana wisata pantai dan pembangunan dinding atau tanggul pantai.

BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 SIMPULAN Penyu merupakan salah satu jenis binatang dari golongan Reptilia yang banyak hidup di perairan laut indonesia. Dalam perkembangbiakannya termasuk binatang ovipar, pembuahan telur berlangsung dalam tubuh induk. Janin yang terkandung di dalam telur yang dikeluarkan induk penyu sepenuhnya berkembang di luar tubuh. Habitat penyu di dasar laut sesuai dengan kemampuannya berjalan jauh. Umumnya penyu mencari makan di daerah dingin dan bertelur di daerah hangat. Penyu melakukan perkawinan dengan cara penyu jantan bertengger di atas punggung penyu betina .Tidak banyak regenerasi yang dihasilkan seekor penyu, dari ratusan butir telur yang dikeluarkan oleh seekor penyu betina, paling banyak 13% yang berhasil mencapai dewasa. Setiap spesies penyu memiliki waktu (timing) peneluran yang berbeda satu sama lain.Lama antara peneluran yang satu dengan peneluran berikutnya (interval peneluran) dipengaruhi oleh suhu air laut. Semakin tinggi suhu air laut, maka interval peneluran cenderung makin pendek. Sebaliknya semakin rendah suhu air laut, maka interval peneluran cenderung makin panjang.Tahapan bertelur pada berbagai jenis penyu umumnya berpola sama. 5.2 SARAN Penulis berharap Pelestarian Penyu menjadi bahan pemikiran dan kaijan sehingga diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak. Berdasarkan hal diatas, melalui Karya Tulis Ilmiah ini ada beberapa hal yang ingin disampaikan berupa saran-saran sebagai berikut: 1. Untuk Masyarakat Agar peduli terhadap mahluk hidup di sekitar kita yang patut dilestarikan. Janganlah memburu atau bahkan membunuh mahluk hidup yang menjadi ciri khas lingkungan kita khususnya penyu. 2. Untuk Pemerintah Berusahalah untuk menjaga, mendirikan dan meningkatkan mutu pelestarian penyu demi kelangsungan kelestarian satwa langka ini dan keanekaragaman hayati indonesia.

3. Untuk Generasi Muda Pedulilah terhadap penyu yang ada di sekitar-mu karena itu merupakan aset penting. Kenali-lah mereka dan berusahalah untuk ikut serta dalam melestarikannya.

DAFTAR PUSTAKA Anonim, 1994. Bioekologi Penyu Laut. Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan. Fakultas Kehutanan. IPB, Bogor Anonim, 2003. Pedoman Pengelolaan Konservasi Penyu dan Habitatnya. Dirjen Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Departemen Kelautan dan Perikanan, Jakarta Mirino, Manuel, 1996. Pengaruh Kedalaman Sarang dan Susunan Telur Terhadap Persentase Tetas Telur Penyu Belimbing di Kawasan Suaka Margasatwa Pantai Jamursba Medi Sorong. UNCEN, Manokwari Nuitja, I Nyoman, 1992. Biologi dan Ekologi Pelestarian Penyu Laut. IPB Press, Bogor www.duniapenyu.com/ spesies penyu/ dikunjungi pada tanggal 25 Januari 2010