Anda di halaman 1dari 41

LAPORAN DIAGNOSIS DAN INTERVENSI KOMUNITAS

PENGETAHUAN KELUARGA BINAAN TENTANG FAKTOR RESIKO HIPERTENSI DI RT 01 RW 03 KAMPUNG GAGA DESA TANJUNG PASIR KECAMATAN TELUK NAGA KABUPATEN TANGERANG PROVINSI BANTEN PERIODE 23 SEPTEMBER 2013 25 OKTOBER 2013

Disusun Oleh : KELOMPOK 6 DHANNISA AZZAHRA DHITA LARASATI NADIA UTAMI NURUL QOMARIYAH (110.2007.083) (110.2008.070) (110.2008.171) (110.2008.296)

Pembimbing : dr. Taufit Wirawan dr. Dwi Yanto Dr. dr. Artha Budi Susila Duarsa, M.Kes.

KEPANITRAAN KEDOKTERAN KOMUNITAS BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FK. UNIVERSITAS YARSI 2013

BAB I LATAR BELAKANG

1.1 GAMBARAN UMUM DESA SECARA GEOGRAFIS 1.1.1 Situasi Keadaan Umum Desa Tanjung Pasir dengan luas 570 Ha dengan jarak tempuh 47 Km dari ibu kota kabupaten Tangerang dan merupakan daerah daratan rendah dengan ketinggian dari permukaan laut satu meter dengan suhu udara 30-37C. Desa ini memiliki enam Kepala Dusun, 14 Rukun Warga, dan 34 Rukun Tetangga. (Kartikawatie, 2012) Gambar 1.1 Peta Desa Tanjung Pasir(Kartikawatie, 2012)

A. Batas Wilayah Batas batas wilayah Desa Tanjung Pasir seperti yang terlihat pada gambar adalah sebagai berikut (Kartikawatie, 2012) : 1. 2. 3. 4. Sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa Sebelah barat berbatasan dengan Desa Tanjung Burung Sebelah timur berbatasan dengan Desa Muara Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Tegal Angus, Lemo dan Pangkalan

Gambar 1.2 Peta Batas Wilayah Desa Tanjung Pasir

Terdapat enam desa binaan Puskesmas: a. b. c. d. e. f. Desa Lemo Desa Tanjung Pasir Desa Tanjung Burung Desa Pangkalan Desa Tegal Angus Desa Muara

1.1.2 Gambaran Umum Desa Secara Demografi 1.1.2.1 Situasi Kependudukan Berdasarkan data dari BPS Kabupaten Tangerang pada tahun 2012 jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Tegal Angus adalah 53.831 jiwa yang tersebar di 6 desa seperti yang tercantum pada tabel 1.1 dibawah ini :

Tabel 1.1. Jumlah Penduduk Wilayah Kerja Puskesmas Tegal Angus No. Desa Luas Wilayah (km2) 1 Pangkalan 7.54 16,888 Jumlah Penduduk Jumlah Rumah Tangga 4,138 Rata-Rata jiwa/Rumah Tangga 4.08 Kepadatan Penduduk per km2 2239.79

Tanjung Burung

5.24

7,669

2,473

3.10

1463.55

Tegal Angus

2.83

9,513

2,879

3.30

3361.48

Tanjung Pasir

5.64

9,513

1,787

5.32

1686.70

Muara

5.14

3,566

496

7.19

693.77

Lemo

3.61

6,682

648

10.31

1850.97

Jumlah

30.00

53,831

12,421

4.33

1,794

Klasifikasi jumlah penduduk berdasarkan golongan umur dan jenis kelamin di wilayah kerja Puskesmas Tegal Angus dilihat pada tabel 2.2 dibawah ini:
3

Tabel 1.2. Klasifikasi Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin No. Desa/Kelurahan Laki-Laki 1. 2. 3. 4. 5. 6. Pangkalan Tanjung Burung Tegal Angus Tanjung Pasir Muara Lemo Jumlah 8.710 3.937 4.890 4.884 1.820 3.430 27.671 Jumlah Penduduk Perempuan 8.178 3.732 4.622 4.629 1.746 3.252 26.160 Jumlah 16.888 7.669 9.512 9.513 3.566 6.682 53.831

Tabel 1.3. Jumlah Penduduk Menurut Pendidikan No. 1. 2. 3. Pendidikan Tamat akademi/sederajat Tamat Perguruan Tinggi/sederajat Buta huruf Jumlah Penduduk 45 orang 521 orang 498 orang

Tabel 1.4. Jumlah Penduduk Berdasarkan Umur No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Umur 0 4 tahun 5 9 tahun 10 14 tahun 15 19 tahun 20 24 tahun 25 29 tahun 30- 34 tahun 35 39 tahun 40 44 tahun 45 49 tahun 50 54 tahun > 55 tahun Jumlah Penduduk 669 914 665 452 345 231 237 122 145 119 143 178 orang orang orang orang orang orang orang orang orang orang orang Orang

1.1.2.2 Keadaan Sosial Ekonomi Potensi adalah sumber daya yang berada pada suatu wilayah yang dapat digali dan dimanfaat atau dikembangkan. Potensi ini dibagi menjadi dua kategori yaitu: a. Potensi umum Sumber daya material yang dapat dimanfaatkan secara bersama atau umum oleh masyarakat. b. Potensi khusus Semua sumber daya material dan non material yang dimiliki secara pribadi oleh masyarakat.

Adapun

potensi

yang

dimiliki

oleh

Desa

Tanjung

Pasir

adalah(Kartikawatie, 2012): 1. Potensi Sumber Daya Alam (SDA) 1.1 Luas Desa Tanjung Pasir (luas pemukiman 72 Ha, perempangan 334 Ha, TPU 7000 M dan pesawahan 83 Ha). 1.2 Kondisi udara tercemar ringan walaupun tidak memiliki taman kota. 2. Potensi Sumber Daya Manusia (SDM) Usia produktif 7.654 jiwa

Tabel 1.4. Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan No 1 2 3 4 5 6 7 8 Tingkat Pendidikan Belum Sekolah Usia 7-45 th tidak sekolah Tidak tamat SD/Sederajat Tamat SD/Sederajat Tamat SLTP/Sederajat Tamat SLTA/Sederajat Sarjana/D1-D3 Pasca Sarjana/S2-S3 Jumlah Penduduk 1.976 jiwa 145 jiwa 234 jiwa 3.789 jiwa 1.653 jiwa 954 jiwa 41 jiwa -

Tabel 1.5. Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian Pokok No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. Mata Pencaharian Pokok Nelayan Buruh/swasta Pegawai Negeri Sipil (PNS) Pedagang Penjahit Tukang Batu Peternak Pengrajin Montir Dokter/Bidan Supir Pengemudi Becak TNI / POLRI Pengusaha Petani Jumlah Penduduk 2.331 orang 65 orang 15 orang 1.213 orang 24 orang 42 orang 6 orang 5 orang 25 orang 6 orang 30 orang 43 orang 6 orang 8 orang 176 orang

1.1.2.3 Keadaan Sosial Budaya Kondisi suasana kehidupan beragama bagi masyarakat Desa Tanjung Pasir cukup baik, rukun, tenang, tentram, saling menghormati, dan tolong menolong dalam menghadapi permasalahan yang timbul ataupun dalam menghadapi musibah dalam kehidupan bermasyarakat, sebagai contoh: musibah kematian dan sebagainya, serta kegiatan sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing.

Tabel 1.6. Sarana Peribadatan yang Tersedia di Desa Tanjung Pasir(Kartikawatie, 2012) No. 1. 2. Mesjid Musholla Agama Jumlah Penduduk 6 Unit 30 Unit

3. 4. 5.

Majelis Taklim Gereja Pura

4 Unit - Unit - Unit

1.1.2.4 Kesehatan Upaya Pemerintah Desa Tanjung Pasir dengan instansi terkait, dalam hal ini, antara lain : 1 Peningkatan gizi keluarga Pemberian Makanan Tambahan (PMT) kepada balita yang ada di setiap posyandu, pemeriksaan kesehatan kepada ibu hamil. 2 Pencegahan penyakit, vaksinasi Filariasis (kaki gajah), imunisasi Polio bagi balita, pemberian vitamin A. 3 Penyuluhan Kesehatan dan Penyakit antara lain Demam Berdarah Dengue, Flu Burung, Chikungunya, dan sejenisnya. 4 Penanganan bagi balita yang kekurangan gizi dengan memberikan susu dan makanan yang bernutrisi. 5 Penyuluhan kesehatan tentang bagaimana menjaga dan memelihara lingkungan dengan membersihkan rumah masing-masing dan lingkungan sekitarnya. 6 Pemanfaatan pekarangan dengan ditanami sayur mayur dan Tanaman Obat Keluarga (TOGA), Tabulapot dan Tabulakar. 7 Peningkatan kualitas kesehatan para LANSIA dengan diadakannya program senam LANSIA dan POSBINDU

Tabel 1.7. Sarana Pelayanan Kesehatan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Poskesdes Pos KB Keluarga Posyandu Pos Mandiri Klinik Bersalin/ BKIA Praktek Dokter/ Bidan Praktek Bidan Paraji Keluarga Berencana a. Jumlah Pos/ Klinik KB : b. Jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) : 334Pasang c. Jumlah Akseptor KB : 1) Pil 2) IUD 3) Kondom 4) Suntik 5) Implan : 127 orang : 14 orang : - orang : 190 orang : 13 orang Sarana Pelayanan Kesehatan Jumlah 1 Unit 6 Unit 4 Unit 4 Unit 4 Orang Unit

1.1.2.5

Transportasi Sarana transportasi manyarakat desa tanjung pasir lebih banyak menggunakan angkutan umum, ojek, motor, becak serta sepeda (Pusksmas Tegal Angus, 2011).

1.2 GAMBARAN KELUARGA BINAAN

1.2.1 Lokasi keluarga binaan Keluarga binaan berada di RT 01/RW 03 Kampung Gaga, Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten.

Gambar 1.3 Denah Rumah Keluarga Binaan

BAB II KELUARGA BINAAN

2.1 Gambaran Keluarga Binaan Keluarga binaan terdiri dari empat, yaitu keluarga Tn. Samun, keluarga Tn. Saja, keluarga Tn. Naol dan keluarga Tn. Endi. 2.1.1 Keluarga Binaan Tn. Samun Tabel 2.1 Data Dasar Keluarga Tn. Samun No Nama Status Keluarga Jenis Kelamin 1. Tn.Samun Kepala keluarga Laki-laki 45 tahun Tidak bersekolah 2. Ny.Rohamah Istri Perempuan 40 tahun Tidak bersekolah 3. 4. An. Guntur An. Elfi Anak Anak Laki-laki Perempuan 13 tahun 7 tahun SD SD Pelajar Wiraswasta Wiraswasta Usia Pendidikan Pekerjaan

Keluarga Tn. Samun bertempat tinggal di RT 01/RW 03 Kampung Gaga, Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang. Keluarga tersebut terdiri dari Tn. Samun sebagai kepala keluarga dengan seorang istri yang bernama Ny. Rohamah dan empat orang anak, anak bernama Guntur dan anak bernama Elfi. Tn. Samun berusia 45 tahun dan bekerja sebagai wiraswasta berupa pedagang warung dan lat-alat pancing dengan penghasilan berkisar Rp.200.000,00- Rp.500.000,00 perhari. Pendapatan Tn. Samun ini tidak menentu setiap harinya namun dalam sebulan biasanya sekitar Rp.6.000.000,00 Rp.8.000.000,00 per bulan. Pendapatan ini menurut Ny. Rohamah cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Tn. Samun tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah. Istrinya, Ny. Rohamah berusia 40 tahun bekerja sebagai ibu rumah tangga dan ikut membantu usaha suaminya. Ny. Rohamah juga tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah. Anak pertama pasangan Tn. Samun dan
10

Ny.Rohamah adalah seorang perempuan bernama Mega berusia 20 tahun dan saat ini sudah berkeluarga dan tidak tinggal serumah dengan Tn. Samun dan Ny.Rohamah. Anak kedua pasangan Tn. Samun dan Ny.Rohamah seorang perempuan bernama Mewa berusia 18 tahun yang juga sudah berkeluarga dan tidak tinggal serumah dengan Tn. Samun dan Ny.Rohamah. Anak ketiga pasangan Tn. Samun dan Ny.Rohamah seorang laki-laki berusia 13 tahun yang baru saja menamatkan pendidikan sekolah dasarnya, namun tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang SMP. Anak keempat Tn. Samun dan Ny.Rohamah seorang perempuan berusia 7 tahun yang merupakan pelajar Sekolah Dasar kelas 3. Karena letak sekolah cukup dekat dari rumah maka anak keempat berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Tn. Samun memberikan uang saku untuk kedua anaknya sebesar Rp.2.000,00 per hari. Tempat tinggal yang sekarang mereka huni merupakan milik pribadi dan bukan warisan, mereka tinggal berempat di dalam rumah tersebut. Keluarga Tn. Samun tinggal di rumah dengan luas bangunan berukuran 66 m2 dan tidak bertingkat. Rumah ini terdiri dari ruang tamu berukuran 4 m x 3 m, satu kamar tidur yang berukuran 3 m x 3 m, satu ruang keluarga yang berfungsi sebagai kamar tidur berukuran 5 m x 3 m, kamar mandi berukuran 2 m x 2 m, dua dapur yang berukuran masing-masing 2 m x 3 m dan 2 m x 2 m, dan satu gudang berukuran 3 m x 2 m. Rumah Tn. Samun ini terletak di pinggir jalan raya. Rumah ini berlantaikan keramik. Atap rumah terbuat dari genteng;beberapa bagian plafon sudah ada yang bolong namun Ny. Rohamah mengatakan rumahnya tidak bocor saat datang hujan. Sedangkan seluruh dinding rumah terbuat dari batu bata. Untuk ventilasi, rumah ini memiliki empat buah jendela di ruang tamu yang masing-masing berukuran 1 m x 60 cm dan dua buah jendela di kamar paling depan yang berukuran 1 m x 60 cm sedangkan ruang keluarga mempunyai dua buah jendela yang berukuran 1 m x 60 cm. Jendela tersebut berfungsi sebagai ventilasi untuk aliran keluar masuk udara atau masuknya cahaya sinar matahari kedalam rumah. Jumlah total ventilasi dibandingkan dengan total luas lantai yaitu 5,4% sehingga tidak memenuhi kriteria ventilasi rumah sehat yaitu 10%. Rumah ini tidak berlangganan listrik secara resmi, dengan fasilitas empst buah lampu dan satu buah televisi.

11

Keluarga ini memiliki kamar mandi dengan jamban. Untuk mandi dan kebutuhan air sehari-hari keluarga ini menggunakan air PAM. Air PAM yang didapat diperoleh dengan cara membeli air PAM yang dijual oleh warga sekitar. Dalam sehari keluarga tersebut membutuhkan lima sampai enam jerigen air PAM (satu jerigen = 20 liter). Satu jerigen air PAM seharga Rp.5.000,00. Keluarga Tn. Samun biasa membuang sampah di samping rumah mereka. Sampah baru dibakar jika sudah menumpuk. Keluarga Tn. Samun memiliki kebiasaan makan dua kali sehari. Ny. Rohamah memasak makanan dengan menu seadanya, contoh menu yang

disajikan sehari-hari ialah tahu, tempe dan sayur terkadang juga memasak ikan. Ny. Rohamah memasak tanpa membatasi jumlah garam untuk makanan Tn. Samun. Semua makanan dimasak sampai matang dengan menggunakan kompor gas 3 kg. Peralatan makan yang digunakan terbuat dari plastik. Karena tidak memiliki ruang makan, keluarga ini biasanya makan di ruang keluarga atau ruang tamu. Anak ketiga pasangan Tn. Samun dan Ny.Rohamah yaitu Guntur, sudah tidak bersekolah setelah tamat SD. Guntur sehari-harinya bekerja lepas seperti mencangkul sawah atau membantu ayahnya. Anak keempat pasangan Tn. Samun dan Ny.Rohamah yaitu Elfi pelajar kelas 3 SD. Mereka mengatakan jika keluar rumah selalu memakai sendal. Ketika ada anggota keluarga yang sakit, keluarga ini biasanya membeli obat warung terlebih dahulu. Namun, jika dengan obat warung keadaannya tidak juga membaik barulah dibawa ke praktik dokter terdekat. Dalam keluarga Tn. Samun, hanya beliau yang merokok. Tn. Samun merupakan perokok aktif. Sehari biasa menghabiskan setengah bungkus rokok. Tn. Samun merokok sejak remaja. Tn. Samun merokok dimana saja sesukanya. Penyakit darah tinggi diakui diketahui sejak kurang lebih 10 tahun yang lalu, namun Tn. Samun malas berobat. Dari keterangan Ny. Rohamah keempat anaknya lahir di paraji. Dia tidak pernah memberikan imunisasi kepada kedua anaknya. Tetapi, sewaktu kecil keempat anak Ny. Rohamah selalu diberikan ASI selama dua tahun. Ny.

Rohamah juga mengatakan bahwa dirinya juga memakai KB suntik per tiga

12

bulan dan sudah memakai selama 6 tahun karena menurut Ny. Rohamah ia merasa cukup dengan empat orang anak.

Gambar 2.1 Denah Rumah Keluarga Tn. Samun

No. 1.

Faktor Internal Kebiasaan Merokok

Permasalahan Tn. Samun merokok sekitar satu sampai dua bungkus dalam satu hari, biasanya kebiasaan merokok ini dilakukan di dalam dan di luar rumah. Semakin banyak pekerjaan, biasanya Tn.Samun juga semakin banyak menghabiskan rokoknya, yakni bisa lebih dari dua bungkus rokok dalam sehari

2.

Olah raga

Keluarga Tn. Samun tidak ada yang memiliki kebiasaan berolahraga. Bahkan hampir tidak

13

pernah melakukan olahraga. 3. Pola Makan Ny. Rohamah memasak sendiri dengan komposisi makanan seperti nasi, tahu, tempe, ikan, dan jarang memakan sayur, buah-buahan, apalagi susu. Ny Rohamah juga menggunakan penyedap rasa untuk memasak. 4. Aktivitas sehari-hari a. Tn. Samun bekerja sebagai pedagang. Tn. Samun membuka warungnya 24 jam non stop. b. Ny. Rohamah bekerja sebagai ibu rumah tangga c. An.Guntur yang berusia 13 tahun dan bekerja di rumah makan dekat tempat tinggal Tn Samun

No. 1.

Faktor Eksternal Riwayat Pendidikan a.

Permasalahan Tn Samun hanya mengenyam pendidikan sampai dengan kelas 3 SD dan tidak

menyelesaikan pendidikan dasarnya. b. c. Ny Rohamah tidak pernah bersekolah. An. Guntur yang berusia 13 tahun hanya bersekolah sampai dengan bangku sekolah dasar dan tidak melanjutkan ke pendidikan menengah. d. An Elfi berusia 7 tahun dan masih duduk di bangku sekolah dasar. 2. Pendapatan Tn. Samun bekerja sebagai wiraswasta berupa pedagang warung dan lat-alat pancing dengan penghasilan berkisar Rp.200.000,00- Rp.500.000,00 perhari. Pendapatan Tn. Samun ini tidak menentu setiap harinya namun dalam sebulan biasanya sekitar Rp.6.000.000,00 Rp.8.000.000,00 per bulan.

14

3.

Informasi

Tn.

Samun

dan

keluarganya

tidak

pernah penyakit

mendapatkan

informasi

mengenai

hipertensi dari petugas kesehatan. Keluarga ini juga tidak diberitahu mengenai faktor resiko penyakit hipertensi. 4. Pola Pencarian Pengobatan Apabila sakit, keluarga Tn.Samun tidak pergi berobat ke puskesmas dan memilih untuk berobat ke dokter praktek umum di dekat rumahnya jika memiliki keluhan mengenai kondisi kesehatannya.

2.1.2 Keluarga Binaan Tn. Saja Tabel 2.2 Data Dasar Keluarga Binaan Tn. Saja No. Nama Status Keluarga 1. Tn. Saja Kepala Keluarga 2. Ny. Ima Istri Perempuan 49 tahun SD Ibu Rumah Tangga 3. 4. An. Alfian An. Asifa Anak Anak Laki-laki Perempuan 20 tahun 5 tahun SMP SD Buruh Tidak Bekerja Jenis Kelamin Laki-laki 50 tahun Usia Pendidikan Terakhir SD Wiraswasta Pekerjaan

Keluarga Tn. Saja bertempat tinggal di RT 01/RW 03 Kampung Gaga, Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang. Keluarga tersebut terdiri dari Tn. Saja sebagai kepala keluarga dengan seorang istri yang bernama Ny. Ima, mereka tinggal bersama dua orang anak mereka, anak ketiga Alfian yang berusia 18 tahun dan berprofesi sebagai buruh di pabrik melamin dan anak keempat Asifa yang berusia lima tahun dan masih duduk di sekolah dasar. Tn. Saja berusia 50 tahun bekerja sebagai wiraswasta bersama istri memilik satu toko klontong, satu depot air minum isi ulang, satu usaha tambal
15

ban, dan menjual bensin eceran dengan penghasilan sekitar Rp 150.000,00 Rp 200.000,00 per hari, pendapatan Tn. Saja ini tidak menentu setiap harinya tergantung pada ramai atau tidaknya pembeli di tokonya, namun dalam sebulan biasanya sekitar Rp 6.000.000,00 per bulan. Pendapatan ini dapat disisihkan untuk menabung dan menopang kehidupan anaknya yang paling besar serta untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seperti membeli air PAM, makanan, bensin, dan lain-lain. Tn. Saja pernah mengenyam pendidikan hingga bangku Sekolah Dasar sampai tamat, namun tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dengan alasan biaya. Istrinya, Ny. Ima berusia 49 tahun selain sebagai ibu rumah tangga juga membantu suaminya di toko. Pendidikan terakhir Ny. Ima hanya sampai tingkat Sekolah Dasar hingga tamat. Tn. Saja dan Ny. Ima telah menikah selama 25 tahun, dan dikaruniai 4 orang anak. Dua orang anak sudah menikah dan tinggal terpisah dari Tn. Saja dan Ny. Ima, sementara dua orang lagi Alfian dan Asifa masih tinggal bersama dengan Tn. Saja dan Ny. Ima. Ny. Ima menggunakan alat kontrasepsi berupa pil KB, sebelumnya Ny Ima menggunakan kontrasepsi suntik selama 3 bulan sekali dan baru sebulan terakhir ini mengganti kontrasepsinya dengan pil KB. Keluarga Tn. Saja tinggal di rumahnya sendiri dengan luas bangunan berukuran m x m dan bertingkat. Terdiri dari tiga kamar tidur masing-masing berukuran 5 m x 4 m, 4 m x 4 m, 5 m x 4 m, dimana masing-masing kamar memiliki ventilasi untuk pertukaran udara berukuran 60 cm x 40 cm dan tiap kamar memiliki 2 ventilasi. Ruang tamu berukuran 4 m x 3 m, ruang keluarga berukuran 4 m x 3 m. Tn. Saja mempunyai satu buah dapur, terletak di dalam rumah. Dapur menggunakan kompor gas dan menjadi satu dengan ruang makan, berukuran sekitar 6 m x 3 m. Tn. Saja memiliki satu kamar mandi yang terletak di dalam rumahnya berukuran 2.5 m x 1.5 m, tepat di samping dapur yang berada di dalam dan bersebelahan dengan tempat mencuci piring yang berukuran 2.5 m x 1.5 m. Sementara untuk buang besar, Tn. Saja dan keluarga menggunakan jamban di luar rumah, terdapat jamban berukuran 1 m x 1 m. Lantai kamar mandi berupa keramik Rumah Tn. Saja berlantaikan keramik. Atap rumah terbuat dari genteng dengan plafon. Sedangkan seluruh dinding rumah terbuat dari batu bata. Untuk ventilasi, rumah ini memiliki buah jendela, yaitu di ruang tamu dan di ruang
16

keluarga, masing-masing berukuran kurang lebih 1,5 m x 1,5 m sedangkan ruangan yang lain tidak memiliki jendela. Jendela tersebut dapat dibuka tetapi jarang dilakukan dengan alasan debu akan masuk jika jendela dibuka. Jumlah total ventilasi dibandingkan dengan total luas lantai yaitu 3% sehingga tidak memenuhi kriteria ventilasi rumah sehat yaitu 10%. Untuk melakukan aktifitas BAB keluarga ini melakukannya di jamban yang terdapat di dekat teras rumah berukuran 1 m x 1 m. Sumber air yang digunakan keluarga Tn. Saja merupakan air PAM untuk mencuci baju serta mandi. Menurut keterangan keluarga Tn. Saja air PAM cukup bersih namun terkadang hanya mengalir kecil atau bahkan mati sama sekali. Tn Saja menggunakan air mineral galon untuk minum dan memasak. Untuk pengolahan sampah dan limbah, keluarga Tn. Nasir membuang sampah di belakang rumah dan jika angin tidak terlalu keras, Tn. Saja membakar sampah tersebut, tempat keluarga Tn. Saja membakar sampah berdekatan dengan balong yang menampung air namun tidak terdapat ikan sehingga sering banyak nyamuk yang masuk ke rumah Tn. Saja. Keluarga Tn. Saja memiliki kebiasaan makan tiga kali sehari. Ny. Ima memasak makanan dengan menu yang disukai keluarganya, contoh menu yang disajikan sehari-hari ialah tahu, tempe dan sayur terkadang juga memasak lauk pauk seperti ikan dan ayam. Namun Tn. Saja lebih suka jika Ny. Ima memasak sup iga atau memasak makanan yang asin dan berlemak. Semua makanan dimasak sampai matang. Peralatan makan yang digunakan sebagian terbuat dari kaca dan sebagian lagi terbuat dari plastik. Karena ruang makan menjadi satu dengan dapur, keluarga ini biasanya makan di ruang keluarga. Keluarga Tn. Saja tidak biasa menutupi makanannya dengan tudung makanan sehingga makanan suka dihinggapi lalat. Ketika ada anggota keluarga yang sakit, keluarga ini biasanya langsung berobat ke dokter di sebuah rumah sakit swasta. Keluarga ini jarang mau berobat ke puskesmas karena menurut keluarga Tn. Saja pelayanan di puskesmas tidak memuaskan. Dalam keluarga Tn. Saja, anak laki-laki Tn. Saja merupakan perokok aktif. Tn Saja sendiri memiliki penyakit hipertensi dan sempat terkena stroke dan kolesterol tinggi. Tn. Saja biasa rutin memeriksakan kesehatannya ke dokter di rumah sakit.

17

Gambar 2.2 Demah Rumah Keluarga Tn. Saja

18

No. 1.

Faktor Internal Kebiasaan Merokok

Permasalahan Tn. Saja tidak pernah merokok. Bahkan sejak masih muda Tn. Saja mengaku tidak pernah mengisap rokok satu batangpun. Namun anak Tn. Saja, Alfian, merupakan seorang perokok, dalam sehari Alfian dapat menghabiskan satu hingga dua bungkus rokok dan biasanya merokok di dalam rumah setelah makan

2.

Olah raga

Keluarga Tn. Saja tidak ada yang memiliki kebiasaan semenjak berolahraga. terkena Namun Tn. setiap Saja pagi selalu

stroke

menyempatkan diri untuk jalan pagi selama 15-30 menit. 3. Pola Makan Ny. Ima jarang memasak sendiri untuk makan keluarganya, biasanya Ny. Ima membeli makanan dari warung makanan di dekat rumahnya. Makanan yang dibeli bervariasi namun lebih sering membeli sop iga dan semur daging ataupun ikan bumbu kuning karena makanan tersebut merupakan menu favorit Tn. Saja. 4. Aktivitas sehari-hari a. Tn. Saja bekerja sebagai pedagang. Tn. Saja membuka warungnya pukul 5 pagi setelah sholat subuh dan tutup pukul 8 malam. b. Selain sebagai ibu rumah tangga, Ny. Ima juga menjaga warung klontong di rumahnya. c. An.Alfian yang berusia 20 tahun dan bekerja di pabrik melamin sebagai buruh.

No. 1.

Faktor Eksternal Riwayat Pendidikan a.

Permasalahan Tn Saja hanya mengenyam pendidikan sampai bangku sekolah dasar dan tidak melanjutkan ke pendidikan menengah.

19

b.

Ny Rohamah hanya mengenyam pendidikan sampai bangku sekolah dasar dan tidak

melanjutkan ke pendidikan menengah. c. An. Alfian yang berusia 20 tahun bersekolah sampai sekolah kejuruan dan tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. d. An. Asifa berusia 5 tahun dan masih duduk di bangku sekolah dasar. 2. Pendapatan Tn. Saja bekerja sebagai wirausaha, membuka warung klontong, depot air minum isi ulang, warung bensin, dan bengkel motor dengan penghasilan sekitar Rp 150.000,00 Rp 200.000,00 per hari, pendapatan Tn. Saja ini tidak menentu setiap harinya tergantung pada ramai atau tidaknya pembeli di tokonya, namun dalam sebulan biasanya sekitar Rp 6.000.000,00 per bulan. 3. Informasi Tn. Saja dan keluarganya sering mendapatkan informasi mengenai penyakit hipertensi dari dokter yang merawat Tn. Saja. Keluarga ini juga diberitahu mengenai faktor resiko penyakit hipertensi. Namun Tn Saja dan Ny. Ima tidak terlalu mengerti dengan penjelasan yang diberikan oleh dokter 4. Pola Pencarian Pengobatan Apabila sakit, keluarga Tn.Saja dan keluarganya biasanya mengunjungi dokter umum di rumah sakit swasta.

20

2.1.3 Keluarga Binaan Tn. Naol Tabel 2.3 Data Dasar Keluarga Binaan Tn. Naol No Nama Status Keluarga 1. Tn. Naol Kepala keluarga 2. Ny. Enas Istri Perempuan 55 Jenis Kelamin Laki-laki Usia (tahun) 62 Tidak bersekolah Tidak bersekolah 3. 4. 5. 6 Ny. Musta Ny. Epih Ny. Erna Ny. Teti Anak pertama Anak ke dua Anak ketiga Anak keempat Perempuan Perempuan Perempuan Perempuan 40 35 34 22 SD SD SD SMP Ibu Rumah Tangga Wiraswata Wiraswata Wiraswata Wiraswata Wiraswata Pendidikan Pekerjaan

Keluarga Tn.Naol terdiri dari 6 orang yang terdiri dari Tn. Naol sebagai kepala keluarga dengan seorang istri yang bernama Ny. Enas dan empat orang anak. Anak pertama bernama Musta, anak kedua bernama Epih, anak ketiga bernama Erna dan anak keempat bernama Teti. Keluarga ini bertempat tinggal di RT 01/RW 03 Kampung Gaga, Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang. Saat ini, Tn. Naol berusia 62 tahun dan bekerja sebagai seorang wiraswata ,yaitu membuka warung di teras rumahnya,dengan jam kerja sebanyak kurang lebih 10 jam per hari. Pendapatan Tn. Naol ini tidak menentu setiap harinya, namun dalam sebulan biasanya sekitar Rp 800.000,00- Rp 1.200.000,00 per bulan. Dari hasil pendapatan ini sebagian dapat disisihkan untuk menabung dan sisanya habis untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seperti membeli air PAM, listrik, makanan, bensin, dan lain-lain. Tn. Naol tidak pernah mengikuti pendidikan sekolah formal. Istrinya, Ny. Enas berusia 55 tahun dan pekerjaannya sehari-hari adalah sebagai ibu rumah tangga. Ny. Enas tidak bersekolah. Anak pertama pasangan Tn. Naol dan Ny. Enas adalah seorang perempuan yang bernama Ny. Musta berusia 40 tahun dan hanya sekolah tamat SD. Anak kedua adalah seorang perempuan bernama Ny. Epih berusia 35 tahun, dan sekolah sampai tamat SD. Anak ketiga adalah seorang perempuan bernama Ny. Erna dan berusia 34

21

tahun, dan sekolah sampai tamat SD. Anak keempat Ny. Teti berusia 22 tahun, dan pernah mengenyam pendidikan sampai tamat SMP. Keluarga Tn. Naol tinggal di rumah milik sendiri dengan luas bangunan berukuran 7,3 m x 4,8 m dan tidak bertingkat. Terdiri dari dua kamar tidur yang masing-masing berukuran 2 m x 2,8 m dan 2 m x 2 m, ruang tamu berukuran 3,8 m x 4,8 m, kamar mandi yang menjadi satu dengan dapur berukuran 1,5 m x 4,8 m. Rumah ini berlantaikan tanah, namun kamar tidur, dapur dan kamar mandi masih berlantaikan semen. Atap rumah terbuat dari genteng tanpa plafon. Dinding rumah terbuat dari batu bata,semen dan bilik bambu. Untuk ventilasi, rumah ini memiliki dua buah jendela di ruang tamu, yang masing-masing berukuran 2,5 x 1,5 m dan satu buah jendela di kamar kedua yang berkuran 1,5 m x 1,5 m. Jendela tersebut berfungsi sebagai ventilasi untuk aliran keluar masuk udara dan masuknya cahaya sinar matahari ke dalam rumah. Di dalam rumah tidak terdapat ventilasi. Jumlah total ventilasi dibandingkan dengan total luas lantai yaitu 27,8 % sehingga memenuhi kriteria ventilasi rumah sehat yaitu 10%. Rumah ini difasilitasi listrik berdaya 450 watt, dengan fasilitas tiga buah lampu dan satu buah televisi serta 1 buah lemari pendingin (kulkas). Keluarga Tn.Naol memiliki kamar mandi tanpa jamban yang bergabung dengan dapur dan hanya di batasi oleh semen setinggi 60 cm. Keluarga Tn. Naol tidak memiliki sumur air sendiri di rumahnya. Untuk aktivitas buang air besar dilakukan di jamban umum yang terdapat di sawah belakang rumahnya. Menurut keluarga Tn. Naol jamban umum yang biasa digunakan tidak nyaman karena

dindingnya hanya terbuat dari kain terpal, tanpa atap dan lantai yang ada terbuat dari semen dengan luas kurang lebih 1,5 m x 1,5 m. Selain itu, tidak terdapat sumber air yang digunakan untuk membersihkan kotoran sehingga jamban umum tersebut berbau menyengat dan sering ditemukan kecoa dan tikus. Dalam keperluan sumber air bersih, keluarga Tn. Naol membeli air PAM dari penjual keliling untuk keperluan seperti mandi, minum, mencuci alat makan dan bahan makanan. Dalam sehari keluarga tersebut membutuhkan lima sampai enam jerigen air PAM (satu jerigen = 20 liter) dengan harga satu jerigen sebesar Rp.1.000,00. Keluarga Tn. Naol membakar sampah sehari-hari di perkarangan belakang rumahnya, dan tempat pembuangan sampah terakhir berada di kebon dekat dengan jamban umum warga. Sampah tersebut ditumpuk hingga banyak kemudian dibakar.
22

Keluarga Tn. Naol memiliki kebiasaan makan dua kali sehari, yaitu tiap pagi dan sore. Ny. Enas memasak makanan sehari-hari dengan menu seadanya, contoh menu yang disajikan ialah tahu, tempe, telor, sayur, ikan, dan terkadang ayam. Semua makanan dimasak sampai matang. Peralatan makan yang digunakan sebagian terbuat dari kaca dan sebagian lagi terbuat dari plastik. Karena tidak memiliki ruang makan, keluarga ini biasanya makan di ruang tamu. Dari keterangan Tn. Naol, dirinya menikah saat berusia 19 tahun dan istrinya 14 tahun. Saat itu Tn. Jannah sudah bekerja sebagai tukang ojek dan Ny. Enas tidak bekerja. Persalinan keempat anak Tn. Naol, ditolong oleh paraji setempat. Ny. Enas menyusui anak-anaknya hingga usia kurang lebih 2 tahun. Menurut keterangan Ny. Enas, anak pertama hingga keempat tidak mendapatkan imunisasi, karena Ny. Enas takut mendengar setelah imunisasi banyak anak yang demam, dan tidak mau makan . Dari keterangan Ny. Enas, dirinya tidak mengikuti program Keluarga Berencana (KB). Dalam hal pencarian pengobatan, ketika ada anggota keluarga yang sakit, keluarga ini biasanya membeli obat di warung, dan bila gejala tidak berkurang biasanya akan berobat ke dukun terdekat. Menurut keterangan keluarga Tn. Naol berobat ke dukun lebih cepat dan tidak perlu mengantri. Dukun tersebut akan menyembur dengan air putih pada bagian yang sakit. Jika masih tidak sembuh juga, Tn. Naol akan mencari pengobatan ke dokter di PUSKESMAS. PUSKESMAS yang biasa didatangi oleh keluarga Tn. Naol saat mereka sakit ialah PUSKESMAS Tegal Angus yang letaknya cukup jauh dari rumah mereka. Oleh karena itu biasanya mereka menggunakan motor sebagai sarana transportasi menuju PUSKESMAS tersebut. Menurut keluarga ini tarif pelayanan di PUSKESMAS masih terjangkau karena tidak perlu membayar untuk obat. Saat ini keluarga Tn. Naol belum mempunyai ASKES maupun asuransi atau jaminan kesehatan lainnya, karena tidak tahu bagaimana mendaftar untuk mendapatkan asuransi kesehatan tersebut.

23

Gambar 2.3 Denah Rumah Keluarga Tn. Naol

No. 1.

Faktor Internal Kebiasaan Merokok

Permasalahan Tn. Naol merupakan seorang perokok, dalam sehari Naol dapat menghabiskan satu hingga dua bungkus rokok dan biasanya merokok di dalam rumah.Semakin banyak pekerjaan biasanya Tn. Naol semakin sering merokok.

2.

Olah raga

Keluarga Tn. Naol sering berjalan kaki pada pagi hari sekitar 15-30 menit. Selain itu, terkadang Tn. Naol sering menggunakan sepeda untuk berolah raga selama kurang lebih setengah jam.

3.

Pola Makan

Ny. Enas memasak sendiri untuk makanan seharihari. Ny. Enas biasanya memasak ikan, sayur, dan kadang-kadang memasak daging. Ny. Enas dan Tn. Naol lebih menyukai masakan yang rasanya asin dan menggunakan penyedap rasa.

4.

Aktivitas sehari-hari

a. Tn. Naol bekerja sebagai pedagang. Tn. Saja membuka warungnya pukul 8 pagi dan tutup pukul 10 malam. b. Ny. Enas bekerja sebagai ibu rumah tangga

24

dan

sekali-kali

membantu

di

warung

suaminya.

No. 1.

Faktor Eksternal Riwayat Pendidikan a.

Permasalahan Tn Naol sama sekali tidak pernah mengenyam bangku pendidikan formal. b. Ny. Enas sama sekali tidak pernah mengenyam bangku pendidikan formal.

2.

Pendapatan

Tn. Naol bekerja sebagai seorang wiraswata ,yaitu membuka warung di teras rumahnya,dengan jam kerja sebanyak kurang lebih 10 jam per hari. Pendapatan Tn. Naol ini tidak menentu setiap harinya, namun dalam sebulan biasanya sekitar Rp 800.000,00- Rp 1.200.000,00 per bulan.

3.

Informasi

Tn. Naol dan keluarganya tidak pernah mendapatkan informasi mengenai penyakit hipertensi dari petugas kesehatan. Keluarga ini juga tidak pernah diberitahu mengenai faktor resiko penyakit hipertensi.

4.

Pola Pencarian Pengobatan

Tn. Naol dan istri tidak pernah berobat ke puskesmas maupun dokter umum dan lebih memilih berobat ke dukun karena merasa lebih cepat sembuh jika berobat ke dukun.

25

2.1.4 Keluarga Binaan Tn. Endi Tabel 2.4 Data Dasar Keluarga Binaan Tn. Endi No Nama Status Keluarga Jenis Kelamin 1. 2. 3. Tn. Endi Ny. Teti Cinta Laura Kepala keluarga Istri Anak pertama Laki-laki Perempuan Perempuan Usia (tahun) 27 22 14 Tamat SMP Tamat SMP SD kelas 1 Wiraswasta Wiraswasta Pelajar Pendidikan Pekerjaan

Keluarga binaan keempat ialah keluarga Tn. Endi. Tn. Endi sebagai kepala keluarga, tinggal bersama istri dan seorang anaknya. Data keluarga Tn. Endi dapat dilihat pada tabel 1.12. Keluarga Tn. Endi bertempat tinggal di RT 01/RW 03 Desa Gaga, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang. Keluarga Tn. Endi sudah tinggal di rumah milik sendiri selama 8 tahun. Rumah Tn. Endi memiliki luas bangunan berukuran 150m2. Terdiri dari dua kamar tidur yang masing-masing berukuran 3m x 4m, ruang tamu berukuran 2,5mx2m, kamar mandi yang menjadi satu dengan dapur berukuran 4 m x 3 m. Rumah ini belum berlantaikan keramik masih berupa tanah. Atap rumah terbuat dari asbes untuk di luar, dan genteng untuk di dalam. Sedangkan seluruh dinding rumah terbuat dari anyaman bambu dan sebagian dari batu bata serta dilapisi semen. Untuk ventilasi dalam rumah Tn. Endi, terdapan dua buah jendela, satu buah jendela di kamar tidur yang masing-masing berukuran 1 m x 1 m dan satu buah jendela di dapur yang gabung dengan kamar mandi yang berukuran 1 m x 1 m dan satu buah jendela di ruang depan dengan ukuran 3 m x 2,5 m. Jumlah total ventilasi dibandingkan dengan total luas lantai yaitu 8,4 % sehingga tidak memenuhi kriteria ventilasi rumah sehat yaitu 10%. Keluarga Tn. Endi memiliki kamar mandi yang bergabung dengan dapur dan hanya dibatasi oleh semen setinggi kurang lebih 50 cm. Menurut keterangan keluarga Tn. Endi, lahan rumahnya tidak cukup untuk membangun jamban di dalam rumah sehingga bila ingin buang air besar keluarga ini harus menggunakan jamban dirumah Tn. Naol. Menurut keluarga Tn. Endi jamban yang biasa digunakan tidak layak, karena tidak disediakan air bersih untuk membersihkan diri, kemudian tempat
26

jamban umumnya pun hanya berukuran 1,5 x 1,5 m dan hanya ditutup dengan steroform. Selain itu, tidak terdapat pula sumber air yang digunakan untuk membersihkan kotoran sehingga jamban umum tersebut berbau menyengat dan sering ditemukan serangga seperti kecoa dan tikus. Terlebih lagi bersebelahan dengan tempat pembuangan sampah dan kandang ternak, dan menimbulkan bau yang tidak sedap. Untuk sumber air bersih, keluarga ini memiliki sumur di dalam rumahnya, di kamar mandinya, tetapi saat ini sedang kering. Bila musim hujan banyak air, tetapi airnya coklat. Sehingga untuk mendapatkan sumber air yang bersih, keluarga Tn. Endi harus membeli air PAM setiap harinya. Dalam sehari keluarga tersebut membutuhkan sekitar 12 jerigen air. Satu jerigen air PAM seharga sekitar Rp. 1000. Kegiatan pembuangan sampah langsung dibuang ke tumpukan sampah di samping tempat jamban umum yang digunakan oleh keluarga dan tetangganya. Tidak terdapat tempat pembuangan sampah yang tertutup, dan biasanya bila sampah sudah menumpuk banyak baru dibakar oleh warga tetangganya. Tn. Endi berusia 27 tahun bekerja sebagai montir bengkel dengan penghasilan Rp. 30.000-50.000 per hari, pendapatan Tn. Endi ini tidak menentu setiap harinya namun dalam sebulan biasanya sekitar kurang lebih Rp. 1.000.0001.500.000 per bulan itupun sudah ditambah dengan penghasilan yang berasal dari istrinya dan pendapatan tidak menentu. Pendapatan dikatakan tidak dapat disisihkan untuk menabung karena habis karena dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seperti membeli air bersih untuk mandi dan makan, makanan, biaya bensin motor untuk pekerjaannya, dan lain-lain. Tn. Endi pernah mengenyam pendidikan hingga bangku Sekolah Menengah Atas sampai selesai, tidak melanjutkan pendidikannya dengan alasan tidak ada biaya. Istrinya, Ny. Teti berusia 22 tahun bekerja sebagai pedagang pulsa dan peralatan memancing, membantu tugas suaminya, dalam sehari bisa mendapat penghasilan sebesar kurang lebih Rp. 30.000. Pendidikan terakhir Ny. Teti hanya sampai kelas dua Sekolah Menengah Atas. Anak pertama seorang perempuan yang bernama Cinta berusia 5 tahun 7 bulan merupakan pelajar di Sekolah Dasar (SD) kelas satu. Keluarga Tn. Endi memiliki kebiasaan makan dua kali sehari, pagi dan sore. Ny. Teti memasak makanan dengan menu seadanya, contoh menu yang

disajikan sehari-hari ialah tahu, tempe dan sayur terkadang juga memasak ayam. Semua makanan dimasak sampai matang. Peralatan makan yang digunakan sebagian
27

terbuat dari beling dan sebagian lagi terbuat dari plastik. Karena tidak memiliki ruang makan, keluarga ini biasanya makan di ruang depan. Tn. Endi dan Ny. Teti sudah menikah selama 8 tahun, menikah saat Tn. Endi berusia 19 tahun dan saat itu tidak bekerja hanya sebagai tamatan pelajar Sekolah Menengah Atas. Dan Ny. Teti menikah saat usia 14 Tahun hanya sampai kelas dua Sekolah Menengah Atas dan tidak bekerja saat menikah. Untuk kelahiran anaknya, Ny. Teti melahirkan anak pertama di Rumah Sakit Mitra Husada dengan persalinan caesar atas indikasi ketuban pecah dini yang dirujuk oleh paraji setempat. Semasa kehamilannya ibu jarang memeriksakan dirinya ke bidan, karena dikatakan tidak ada keluhan saat mengandung pertamanya anaknya. Untuk riwayat imunisasi, tidak ada yang mendapatkan imunisasi lengkap sejak lahir sampai usia 9 bulan. Ketika ada anggota keluarga yang sakit, keluarga ini biasanya mengobati sendiri dengan membeli obat di warung. Namun, jika dengan obat warung keadaannya tidak juga membaik barulah dibawa ke mantri terdekat. Bila masih sakit, baru dibawa ke bidan setempat. Jika masih belum sembuh juga, mereka membawanya ke PUSKESMAS. Keluarga Tn. Endi biasanya datang untuk berobat ke PUSKESMAS Tegal Angus bila sakit. Letak PUSKESMAS dikatakan cukup dekat dari rumah mereka. Keluarga Tn. Endi tidak mempunyai kartu JAMKESMAS ataupun asuransi kesehatan lainnya sehingga bila berobat keluarga Tn. Endi dapat mengelarkan uang sekitar Rp. 15.000 30.000 untuk sekali berobat, baik ke mantri ataupun ke bidan. Tetapi keluarga Tn. Endi mengatakan obat dari PUSKESMAS tidak banyak membantu dan lebih ampuh obat dari mantri ataupun bidan dekat rumahnya.

28

Gambar 2.4 Denah Rumah Keluarga Tn. Endi

No. 1.

Faktor Internal Kebiasaan Merokok

Permasalahan Tn. Endi tidak pernah merokok. Bahkan sejak masih muda Tn. Endi mengaku tidak pernah mengisap rokok satu batangpun. Namun mertua Tn. Endi, Tn. Naol, yang rumahnya sering menjadi tempat singgah pada Tn Endi pada siang hari merupakan seorang perokok.

2.

Olah raga

Keluarga Tn. Endi beserta istri dan anaknya tidak suka berolah raga. Hanya saja Tn Endi dan Ny. Teti sering mengantar anaknya bersekolah dengan sepeda atau berjalan kaki.

3.

Pola Makan

Ny. Teti memasak sendiri untuk makanan seharihari. Ny. Enas biasanya memasak ikan, sayur, dan kadang-kadang memasak daging atau ayam. Ny. Teti jarang menyediakan buah untuk keluarganya.

4.

Aktivitas sehari-hari

a. Tn. Endi bekerja sebagai montir di bengkel milik pribadi. b. Ny. Enas bekerja sebagai ibu rumah tangga

29

dan selain itu menjaga warung yang berada di sebelah bengkel milik suaminya.

No. 1.

Faktor Eksternal Riwayat Pendidikan a.

Permasalahan Tn. Endi mengenyam pendidikan sampai dengan sekolah menengah pertama. b. Ny. Enas mengenyam pendidikan sampai dengan sekolah menengah pertama. c. An. Cinta masih duduk di bangku sekolah dasar.

2.

Pendapatan

Tn. Endi berusia bekerja sebagai montir bengkel dengan penghasilan Rp. 30.000-50.000 per hari, pendapatan Tn. Endi ini tidak menentu setiap harinya namun dalam sebulan biasanya pendapatan Tn. Endi ditambah dengan penghasilan istrinya di warung sekitar kurang lebih Rp. 1.000.000-

1.500.000 per bulan 3. Informasi Tn. Endi dan keluarganya tidak pernah mendapatkan informasi mengenai penyakit hipertensi dari petugas kesehatan. Keluarga ini juga tidak pernah diberitahu mengenai faktor resiko penyakit hipertensi. 4. Pola Pencarian Pengobatan Tn. Endi dan istri biasanya berobat ke puskesmas untuk mendapatkan pengobatan jika keluarga ini memiliki keluhan kesehatan.

30

BAB III AREA PERMASALAHAN

3. PENENTUAN AREA MASALAH 3.1. Rumusan Area Masalah Keluarga Binaan 3.1.1. Keluarga Binaan Tn. Samun a. Masalah Non Medis 1) Lingkungan a) Kurangnya pengetahuan mengenai pembuangan dan pengelolaan sampah maupun limbah rumah tangga 2) Kesehatan a) b) c) d) e) Kurangnya ventilasi udara yang ada di rumah keluarga binaan Kebiasaan merokok di dalam rumah terhadap kesehatan keluarga Kurangnya pengetahuan tentang imunisasi yang tidak lengkap Kurangnya kesadaran berobat ke tenaga kesehatan Kurangnya pengetahuan mengenai faktor resiko hipertensi

b. Masalah Medis 1) Peyakit hipertensi dalam keluarga

3.1.2 Keluarga Binaan Tn. Saja a. Masalah Non Medis 1) Lingkungan a) b) Kurangnya sarana sanitasi lingkungan yang memadai Kurangnya pengetahuan mengenai pembuangan dan pengelolaan sampah maupun limbah rumah tangga 2) Kesehatan a) b) c) d) e) Kurangnya ventilasi udara yang ada di rumah keluarga binaan Kebiasaan merokok di dalam rumah terhadap kesehatan keluarga Kurangnya ketersediaan air bersih pada keluarga binaan Kurangnya pengetahuan mengenai imunisasi yang tidak lengkap Kurangnya pengetahuan mengenai faktor resiko hipertensi

b. Masalah Medis 1) Penyakit hipertensi dalam keluarga


31

2) 3)

Penyakit stroke dalam keluarga Penyakit diabetes dalam keluarga

3.1.3 Keluarga Binaan Tn. Naol a. Masalah Non Medis 1) Lingkungan a) Kurangnya pengetahuan mengenai pembuangan dan pengelolaan sampah maupun limbah rumah tangga. b) Perilaku penggunaan jamban umum yang tidak sehat pada keluarga binaan. 2) Kesehatan a) Kurangnya pengetahuan tentang kesehatan ibu anak serta imunisasi yang tidak lengkap b) c) d) Tidak memiliki kartu jaminan kesehatan Perilaku melahirkan di tenaga non-medis. Kebiasaan merokok di dalam rumah terhadap kesehatan keluarga.

b. Masalah Medis 1) Penyakit hipertensi dalam keluarga 3.1.4 Area Masalah Keluarga Binaan Tn. Endi a. Masalah Non Medis 1) Lingkungan a) Perilaku peggunaan jamban umum yang tidak sehat pada keluarga binaan b) Kurangnya pengetahuan mengenai pembuangan dan pengelolaan sampah maupun limbah rumah tangga c) Kurangnya kesadaran berobat di tenaga kesehatan

2)

Kesehatan a) Kurangnya pengetahuan tentang kesehatan ibu dan anak serta imunisasi yang tidak lengkap b) c) Kurangnya pengetahuan mengenai jaminan kesehatan Kurangnya ventilasi udara yang ada di rumah keluarga binaan
32

b. Masalah Medis 1) 2) Penyakit diare dalam keluarga Riwayat hipertensi dalam keluarga

33

BAB IV DIAGNOSIS KOMUNITAS

4.1. Alasan Pemilihan Area Masalah Sebagai pendekatan awal untuk mengetahui area masalah yaitu dengan menganalisis laporan tahunan Puskesmas mengenai data-data penderita hipertensi dan 10 penyakit terbesar yang ada di wilayah Puskesmas Tegal Angus. Kemudian informasi tersebut dibandingkan dengan laporan kader desa setempat yang menyatakan bahwa jumlah penderita hipertensi masih banyak. Setelah mengamati, mewawancarai, dan melakukan observasi masing-masing keluarga binaan di Kampung Gaga, Desa Tegal Angus terdapat berbagai area permasalahan pada keluarga binaan tersebut, yaitu:

1. Kurangnya ventilasi udara yang ada di rumah keluarga binaan 2. Kurangnya pengetahuan mengenai pembuangan dan pengelolaan sampah maupun limbah rumah tangga 3. Kurangnya pengetahuan tentang kesehatan ibu dan anak serta imunisasi yang tidak lengkap 4. Kebiasaan merokok di dalam rumah terhadap kesehatan keluarga 5. Kurangnya kesadaran berobat di tenaga kesehatan 6. Penyakit Hipertensi dalam keluarga 7. Kurangnya pengetahuan mengenai faktor resiko hipertensi

Dari sekian masalah yang ada pada keluarga tersebut, maka diputuskan untuk mengangkat permasalahan Pengetahuan Keluarga Binaan Tentang Faktor Resiko Hipertensi. Pemilihan area masalah kesehatan ini didasarkan atas berbagai

pertimbangan yaitu : 1. Berdasarkan data yang diperoleh dari PUSKESMAS bulan Juli sampai September tahun 2013, hipertensi menduduki salah satu dari sepuluh besar penyakit dengan masing-masing jumlah penderita hipertensi yang datang berkunjung ke Puskesmas Tegal Angus sebanyak 141, 184, dan 171 penderita.

34

Tabel 4.1 Daftar 10 Besar Penyakit di PUSKESMAS Tegal Angus Tahun 2013 No Penyakit Juli 1 2 3 4 5 ISPA FUO SAKIT KEPALA TB PARU KLINIS HIPERTENSI ESENSIAL 6 7 BATUK DERMATITIS LAINNYA 8 GANGGUAN GIGI 76 84 94 140 114 155 130 152 133 373 183 157 153 147 Jumlah Kasus Agustus 375 184 158 160 184 September 377 188 160 159 171

DAN JAR.LAINNYA 9 GASTRITIS DUODENITIS 10 ABSES, FURUNKEL, KARBUNKEL 2. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdes) tahun 2007 mengenai prevalensi hipertensi menurut provinsi di Indonesia proporsi kasus hipertensi yang telah didiagnosis oleh tenaga kesehatan dan/atau minum obat hipertensi hanya sebesar 31,2. 11 9 14 DAN 72 87 81

35

3. Dari hasil survey dan wawancara langsung ke keluarga binaan, didapatkan adanya anggota keluarga yang memiliki hipertensi dan riwayat hipertensi pada keluarga. 4. Semua keluarga binaan tidak mengetahui mengenai hipertensi dan faktor resiko yang terkait dengan hipertensi, sehingga keluarga binaan tidak dapat menghindari faktor resiko yang dapat meningkatkan tekanan darah.. 5. Sebagian besar keluarga binaan tidak mendapat pengetahuan mengenai pentingnya berobat untuk mengontrol tekanan darah, sehingga tidak mau berobat secara teratur di samping tidak mau menjaga pola makannya.

36

BAB V RENCANA INTERVENSI

5.1 Rencana Intervensi

A. JANGKA PENDEK 1. Memberikan sosialisasi dan penyuluhan secara langsung tentang pentingnya mengetahui faktor resiko hipertensi 2. Melakukan penyuluhan menggunakan poster, brosur, dan video simulasi tentang faktor resiko hipertensi beserta bahaya dan komplikasinya 3. Melakukan pre test dan post test untuk menilai apakah keluarga binaan sudah mengetahui faktor resiko hipertensi

B. JANGKA MENENGAH 1. Menilai adanya perubahan perilaku pada keluarga binaan setelah dilakukan intervensi jangka pendek 2. Melakukan kelas diskusi mengenai kendala menghindari faktor resiko hipertensi.

C. JANGKA PANJANG 1. Peran serta masyarakat dengan mendukung program berobat ke puskesmas bagi penderita hipertensi. 2. Program pemberian obat anti-hipertensi bagi penderita hipertensi secara berkala 3. Memantau anggota keluarga dari keluarga binaan yang memiliki faktor resiko hipertensi namun saat ini belum memiliki gejala hipertensi.

5.2 Media Penyuluhan (terlampir)

37

Poster

38

Leaflet