Anda di halaman 1dari 45

TINGKAT KECEMASAN PADA PENDERITA HIPERTENSI DI DESA PURWOREJO KECAMATAN RINGINARUM KABUPATEN KENDAL

PROPOSAL PENELITIAN Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata ajar skripsi

Disusun Oleh: ANDI ARIYANTO NIM SK. 108. 008

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KENDAL KENDAL, DESEMBER 2011

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Penderita hipertensi di dunia pada tahun 2000 mencapai jumlah 957-987 juta orang. Penyakit ini telah menjadi masalah utama dalam kesehatan masyarakat yang ada di Indonesia maupun dibeberapa negara yang ada di dunia. Diperkirakan sekitar 80 % kenaikan kasus hipertensi terutama di negara berkembang tahun 2025 dari sejumlah 639 juta kasus di tahun 2000, diperkirakan menjadi 1,15 milyar kasus di tahun 2025. Prediksi ini didasarkan pada angka penderita hipertensi saat ini dan pertambahan penduduk saat ini. Angka-angka prevalensi hipertensi di Indonesia telah banyak dikumpulkan dan menunjukkan, di daerah pedesaan masih banyak penderita yang belum terjangkau oleh pelayanan kesehatan (Ridwan, 2002). Hipertensi lebih banyak menyerang pada golongan usia 55-64 tahun. Hipertensi di Asia diperkirakan sudah mencapai 8-18% pada tahun 1997, hipertensi dijumpai pada 4.400 per 10.000 penduduk. Indonesia banyak penderita hipertensi di perkirakan 15 juta orang tetapi hanya 4% yang merupakan hipertensi terkontrol (Amalia, 2007). Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kendal tahun 2010 didapatkan bahwa penyakit hipertensi menempati urutan ke-2 sebanyak 29523 orang dari 10 penyakit terbanyak di Kabupaten Kendal, dan tahun 2011 bulan Januari sampai September

sebanyak 13229 orang. Profil Puskesmas Ringinarum tahun 2010 disebutkan

hipertensi merupakan penyakit terbanyak pertama, yaitu sebanyak 1030 orang (Dinkes Kab Kendal, 2011). Data dari Puskesmas Ringinarum tahun 2011 januari sampai September penderita hipertensi mencapai 664 orang terdiri dari laki-laki 258 orang dan perempuan 406 orang. Dan data dari Pustu Purworejo penderita hipertensi pada bulan Januari sampai September tahun 2011 mencapai 84 orang yang terdiri dari 34 laki-laki dan perempuan 50 orang kebanyakan di derita olah lansia (Profil Pukesmas Ringinarum, 2011). Prevalensi 6-15% pada orang dewasa, 50% diantaranya tidak menyadari sebagai penderita hipertensi sehingga mereka cenderung untuk menjadi hipertensi berat karena tidak menghindari dan tidak mengetahui faktor resikonya, dan 90% merupakan hipertensi esensial. Hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995, prevalensi hipertensi di Indonesia cukup tinggi, 83 per 1.000 anggota rumah tangga, pada tahun 2000 sekitar 15-20% masyarakat Indonesia menderita hipertensi (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2006). Penelitian yang membandingkan hipertensi pada wanita dan pria oleh Sugiri di daerah kota Jakarta didapatkan prevalensi hipertensi 14,6% pada pria dan 13,7% pada wanita, di daerah kota Semarang diperoleh prevalensi hipertensi 7,5% pada pria dan 10,9% pada wanita. Sekitar 20% masyarakat dewasa mengalami hipertensi lebih dari 90% diantara mereka menderita hipertensi esensial (primer), dimana tidak ditentukan penyebab medisnya. Sisanya mengalami tekanan darah dengan penyebab tertentu (hipertensi

sekunder) (Dhuha, 2011). Dampak yang diderita dari penderita hipertensi antara lain sakit kepala, perasaan tidak nyaman di tengkuk, perasaan berputar/ingin jatuh, detak jabtung cepat, telinga berdenging, dan dapat menimbulkan penyakit lain. Pada penderita hipertensi jantung bekerja lebih keras sehingga mengakibatkan gagal jantung dan penyakit lainnya seperti stroke, gagal ginjal, bahkan dapat

mengakibatkan kematian (Medikoputro, 2008). Selain itu secara psikologis penderita hipertensi sering kali mengalami kecemasan. Angka prevalensi kecemasan di negara-negara Asia sekitar 100 juta orang penderita hipertensi mengalami kecemasan. Para peneliti melaporkan dalam Psychosomatic Medicine bahwa secara keseluruhan 16,7% orang dewasa yang menderita hipertensi mengalami tingkat kecemasan. Kecemasan terjadi dua kali lebih sering di alami oleh wanita dari pada laki-laki (Bernard, 2008). Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti di desa Purworejo Kecamatan Ringinarum Kabupaten Kendal dengan mewawancarai sepuluh orang penderita hipertensi setelah mengetahui dampak dari penyakit hipertensi mengalami kecemasan, mengatakan bahwa penderita merasa cemas, pusing, takut, gelisah, jantung berdebar-debar, tidak bisa beristirahat dengan tenang, sering terbangun saat tidur karena takut akan penyakitnya bila sampai terjadi komplikasi seperti penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, dan menyebabkan kematian. Faktor-faktor psikologis kecemasan yang menyebabkan hipertensi telah dipertimbangkan oleh banyak peneliti selama 60 tahun terakhir, tetapi studi

prospektif dengan metode yang sesuai untuk mengevaluasi hipotesis ini tidak tersedia untuk analisis sampai 1990-an. Beberapa studi longitudinal besar menunjukkan hubungan antara gejala-gejala kecemasan atau depresi dan kejadian hipertensi. Kemarahan, depresi, kecemasan dianggap sebagai faktor psikologis utama dalam kejadian hipertensi (Rosenman, 2001). Orang yang menderita hipetensi cenderung mengalami kecemasan. Kecemasan penderita hipertensi rentan dari situasi buruk yang terjadi dari dalam dan luar dirinya. Setiap waktu penderita memikirkan penyakit hipertensi tersebut dan menimbulkankan berupa gejala kecemasan berupa rasa takut, gelisah, dan perasaan tak menentu membuat penderita hipertensi cenderung mengalami penigkatan tekanan darah. Dan faktor psikologis inilah yang menyebabkan tekanan darah tinggi (Bradero, 2008). Dari uraian diatas peneliti tertarik untuk mengetahui tingkat kecemasan pada penderita hipertensi. B. Rumusan Masalah Angka prevalensi penderita hipertensi di dunia pada tahun 2000 mencapai jumlah 957-987 juta orang. Di Indonesia penderita hipertensi

mencapai 15 juta orang. Hasil survey pendahuluan yang dilakukan di Kendal di dapatkan data jumlah penderita hipertensi pada tahun 2011 bulan Januari sampai Juni adalah 13229 orang dan di Kecamatan Ringinarum sebanyak 1030 orang, di desa Purworejo Kecamatan Ringinarum pada tahun 2011, penderita hipertensi sebanyak 84 orang dan kebanyakan di derita oleh lansia. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan penelitian pada sepuluh

penderita hipertensi mengatakan pusing, jantung berdebar-debar, tidak bisa beristirahat dengan tenang, takut, gelisah, dan perasaan tak menentu terhadap penyakit hipertensi. Dampak dari penyakit hipertensi antara lain sakit kepala, perasaan tidak nyaman di tengkuk, perasaan berputar/ingin jatuh, detak jantung cepat, telinga berdenging, dan dapat menimbulkan penyakit lain seperti gagal jantung, gagal ginjal, stroke dan dapat menyebabkan kematian. Kecemasan penderita hipertensi antara penderita yang satu dengan yang lain itu berbeda. Gejala atau manifestasi klinis kecemasan sebagian penderita hipertensi antara lain pusing, detak jantung cepat, merasa takut dan gelisah dan tidak bisa beristirahat dengan tenang. Dari uraian fenomena diatas, maka rumusan masalah penelitian adalah Bagaimana gambaran tingkat kecemasan pada penderita hipertensi. C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Mengetahui gambaran tingkat kecemasan pada penderita hipertensi di Desa Purworejo Kecamatan Ringinarum Kabupaten Kendal. 2. Tujuan Khusus Tujuan khusus peneliti yaitu : a. Mengetahui karakteristik (usia, jenis kelamin, pendidikan, status ekonomi) penderita hipertensi di Desa Purworejo Ringinarum Kabupaten Kendal. b. Mengidentifikasi tingkat kecemasan penderita hipertensi di Desa Purworejo Kecamatan Ringinarum Kabupaten Kendal. Kecamatan

D. Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini : 1. Bagi peneliti Sebagai sarana peningkatan ilmu pengetahuan dari pengalaman dan latihan dalam mengadakan suatu penelitian serta mengkaji teori dari pendidikan dan belajar menemukan permasalahan yang ada di lapangan sehingga memacu penelitian di masa yang akan datang tentang hipertensi. 2. Bagi Perawat Dapat menambahkan ilmu pengetahuan keperawatan dan pengembangan ilmu keperawatan selanjutnya. Dengan menerapkannya dalam asuhan keperawatan yang komprehensif dapat difokuskan pada adaptasi respon klien terhadap perubahan yang dialaminya saat menderita hipertensi, serta mendukung responden dalam menghadapi kecemasan. 3. Bagi Responden / Penderita hipertensi Mendapat dukungan dalam menghadapi kecemasan dan meningkatkan pengetahuan responden sehingga mampu menyikapi secara positif terhadap kejadian penyakit hipertensi di Desa Purworejo Kecamatan Ringinarum Kabupaten Kendal. 4. Bagi institusi Pelayanan Kesehatan (Puskesmas) Sebagai masukan terhadap program Pemerintah dalam rangka

meningkatkan mutu pelayanan kesehatan sehingga dapat dilakukan perencanaan untuk mengatasi permasalahan kesehatan baik biopsikososial spiritual dan meningkatkan penatalaksanaan penyakit hipertensi.

5. Bagi Masyarakat Penelitian ini berguna sebagai dukungan dan memotivasi kepada masyakat dalam menghadapi kecemasan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Kecemasan 1. Pengertian Kecemasan a. Kecemasan adalah kebingungan, ketakutan pada sesuatu yang akan terjadi dengan penyebab yang tidak jelas serta dihubungkan dengan perasaan yang tidak menentu dan tidak berdaya (Kaplan, 2010). b. Kecemasan merupakan respon emosi dengan objek yang tidak spesifik yang secara subyektif dialami dan dikomunikasikan secara

interpersonal. Kecemasan adalah respon emosional terhadap penilaian individu yang subyektif, yang dipengaruhi alam bawah sadar dan tidak di ketahui secara khusus penyebabnya.(Suliswati, 2005). 2. Etiologi Penyebab gangguan kecemasan umum adalah tidak diketahui, seperti sekarang yang dipersepsikan, gangguan kecemasan umum kemungkinan karena derajat kecemasan tertentu adalah normal dan adaptif, membedakan kecemasan normal dari kecemasan patologis dan faktor psikologis adalah sulit. Faktor psikologis dan biologis kemungkinan bekerja sama (Kaplan, 2010).

3. Teori Kecemasan a. Teori psikodinamik Menurut Freud dalam buku Suliswati (2005) mengungkapkan bahwa kecemasan merupakan hasil dari konflik psikis yang tidak disadari, kecemasan menjadi tanda dari ego untuk mengambil aksi penurunan cemas. Ketika mekanisme diri berhasil kecemasan menurun dan rasa aman datang lagi. b. Teori Perilaku Teori perilaku menyatakan bahwa kecemasan merupakan hasil frustasi akibat beberapa hal yang mempengaruhi individu dalam mencapai tujuan yang di inginkan. c. Teori Interpersonal Menjelaskan bahwa kecemasan terjadi ketakutan akan penolakan antar individu yang bersangkutan merasa tidak berharga. d. Teori Keluarga Menjelaskan bahwa kecemasan dapat terjadi dan tumbuh secara nyata akibat adanya konflik dalam keluarga. e. Teori Biologis Beberapa kasus kecemasan (5-42%) merupakan suatu perhatian terhadap proses fisiologis (Hall,1980). Kecemasan ini dapat

disebabkan oleh penyakit fisik atau keabnormalan, tidak oleh konflik emosional, kecemasan ini termasuk kecemasan sekunder (Suliswati, 2005).

10

4. Gejala Kecemasan Pada gejala cemas, gejala yang dikeluhkan penderita didominasi oleh keluhan-keluhan psikis (ketakutan dan kekhawtiran), tetapi dapat pula disertai keluhan-keluhan somatik (fisik). Keluhan-keluhan yang sering dikemukakan oleh orang yang mengalami gangguan kecemasan (Hawari, 2005) antara lain sebagai berikut : a. Cemas, khawatir, firasat buruk, takut akan pikirannya sendiri, mudah tersinggung. b. Merasa tegang, tidak tenang, gelisah, mudah terkejut. c. Takut sendirian, takut pada keramaian dan banyak orang. Menurut Kaplan, manifestasi perifer dari kecemasan meliputi: diare, pusing, hiperhidrosis, hiperrefleksia, hipertensi, palpitasi, gelisah (mondarmandir), sinkop, takikardi, rasa gatal di anggota gerak, tremor, gangguan lambung, urgensi (Kaplan, 2010). 5. Klasifikasi Kecemasan Menurut Peplau dalam Suliswati (2005) ada empat klasifikasi kecemasan yang dialami oleh individu yaitu : a. Kecemasan Ringan (mild ansietas) Kecemasan ringan merupakan kecemasan yang dihubungkan dengan ketegangan yang di alami sehari-hari. Dikaitkan dengan ketegangan sehari-hari dalam kehidupan seorang menjadi waspada.

11

Kecemasan yang di alami dapat memotifasi individu untuk belajar dan menghasilkan pertumbuhan serta kreatifitas mampu belajar dan menyelesaikan masalah secara efektif (Suliswati, 2005) b. Kecemasan Sedang (moderat ansietas) Dalam tingkat ini, individu terfokus hanya pikiran yang menjadi perhatiannya, terjadi penyempitan persepsi, tetapi masih mampu melakukan sesuatu dengan arahan orang lain (Suliswati, 2005). Memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada masalah yang penting dan mengesampingkan yang lain sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif namun dapat melakukan sesuatu yang terarah (Suliswati, 2005). c. Kecemasan Berat (severe ansietas) Seseorang dengan kecemasan berat cenderung memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik serta tidak dapat berpikir tentang hal lain. Manifestasi yang muncul pada tingkat ini adalah mengeluh pusing, sakit kepala, nausea, insomnia, sering kencing diare, palpitasi lahan persepsi menyempit, tidak mampu belajar secara efektif, berfokus pada dirinya sendiri dan keinginan untuk menghilangkan kecemasan tinggi perasan tidak berdaya (Suliswati, 2005). d. Panik Pada tingkat panik dari kecemasan berhubungan dengan terperangah, ketakutan, dan teror. Karena mengalami kehilangan kendali, orang yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu

12

walaupun dengan pengarahan. Panik menyebabkan peningkatan aktivitas motorik, menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain, persepsi yang menyimpang, dan kehilangan pemikiran yang rasional. Tingkat kecemasan ini tidak sejalan dengan kehidupan, dan jika berlangsung dalam waktu yang lama dapat terjadi kelelahan yang sangat bahkan kematian. Individu kehilangan kendali diri dan detail perhatian hilang, karena hilangnya kontrol, maka tidak mampu melakukan apapun meski dengan perintah, terjadi peningkatan aktivitas motorik, berkurangnya kemampuan berhubungan dengan orang lain, penyimpangan persepsi dan hilangnya pikiran rasional, tidak mampu berfungsi secara efektif (Suliswati, 2005). RENTANG RESPON ANSIETAS

Respon adaptif Ringan

Respon mal adaptif Berat

Antisipasi

Sedang Kecemasan

Panik

Gambar 2.1 : Rentang respon ansietas (Suliswati, 2005).

13

Rentang respon kecemasan dapat dikonseptualisasikan dalam rentan respon koping. Koping yang digambarkan pada model sehatsakit. Respon kesehatan dapat digambarkan dalam rentang respon adaptif sampai maladaptif reaksi terhadap kecemasan dapat bersifat konstruktif dan destruktif. Konstruktif adalah motivasi individu untuk belajar, mengajar perubahan terutama perubahan terhadap perasaan tidak nyaman serta berfokus pada kelangsungan hidup. Destruktif adalah menimbulkan tingkah laku maladaptif disfungsi yang menyanngkut kecemasan berat atau panik (Suliswati, 2005 ). 6. Respon Psikologis terhadap Kecemasan Respon perilaku atau emosional yaitu gelisah, tremor, gugup, bicara cepat dan tidak ada koordinasi, menarik diri. Respon kognitif atau aspek intelektual yaitu gangguan perhatian, konsentrasi hilang, takut mati, kekhawatiran berlebihan. Dan afektif meliputi tidak sabar, tegang, tremor, gugup yang luar biasa dan sangat gelisah (Stuart dan Sudeen, 2006). 7. Respon terhadap Kecemasan Kecemasan dapat diekspresikan secara langsung melalui perubahan fisiologis dan perilaku secara tidak langsung melalui timbulnya gejala atau mekanisme koping sebagai upaya untuk melawan ansietas. Menurut Stuart dan Sudeen (2006 ) respon terhadap kecemasan antara lain :

a. Respon Fisiologis

14

1) System kardiovaskuler : palpitasi, jantung berdebar, tekanan darah meninggi, rasa mau pingsan, tekanan darah menurun, denyut nadi menurun. 2) System pernapasan : napas cepat, napas pendek, napas dangkal, sensasi tercekik, terengah-engah. 3) System neoromuskular : reaksi kejutan, mata berkedip-kedip, insomnia, tremor, regiditas, gelisah, wajah tegang, kelemahan umum. 4) Sistem gastrointestinal : kehilangan napsu makan, menolak makan, mual, dan diare. 5) System traktus urinarius : tidak dapat menahan kencing, sering berkemih. 6) System integument : keluar keringat, rasa panas dan dingin pada kulit, wajah pucat, berkeringat seluruh tubuh. b. Respon tingkah laku Kelelahan, ketegangan fisik, tercemar, reaksi tiba-tiba, bicara cepat, koordinasi kurang, sering terjadi kecelakaan. c. Respon Kognitif Gangguan perhatian, konsentrasi kurang, pelupa, selalu salah dalam mengambil penurunan keputusan, produktivitas, blocking, menarik penurunan diri, lapang pandang, kreativitas,

penurunan

kebingungan, objektivitas kurang. d. Respon Afektif

15

Gelisah, tidak sabar, tegang, nervous, mudah terganggu, ketakutan, mudah tersinggung, gugup (Stuart dan Sudeen, 2006). 8. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan Menurut soewandi bahwa tingkat kecemasan dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling terkait antara lain : a. Usia Ada yang berpendapat bahwa faktor umur muda lebih mudah mengalami stress dari pada umur tua, tetapi ada juga yang berpendapat sebaliknya usia muda biasanya mudah mengalami cemas atau stress dikarenakan bertumpuknya masalah yang mungkin sering dialami oleh seseorang pada usia muda. Walau umur sukar ditentukan karena sebagian besar orang akan mengalami kecemasan selama yang dapat mereka ingat (Suliswati, 2005). b. Status pendidikan Status pendidikan yang rendah pada seseorang akan

menyebabkan orang tersebut lebih mudah mengalami stress dibanding dengan mereka yang status pendidikanya tinggi. Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan oleh seseorang terhadap perkembangan orang lain, menuju kearah cita-cita tertentu (Suliswati, 2005). Pendidikan menuntun seseorang untuk berbuat dan mengisi

kehidupanya untuk mencapai keselamatan dan kebahagian. Pendidikan diperlukan untuk memndapatkan informasi, misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan, sehingga meningkatkan kualitas hidup

16

(Suliswati, 2005). c. Tingkat pengetahuan Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui : kepandaian (kamus besar bahasa Indonesia, 2005). Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (over behavior). Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2003). d. Status sosial ekonomi Keadaan ekonomi yang berkecukupan akan mampu

menyediakan fasilitas yanfg diperlukan serta memuaskan, dan sebaliknya jika keadaan ekonomi keluarga rendah akan sulit untuk mencukupi kehidupan sehari-harinya (Notoatmodjo, 2003). e. Sosial budaya Cara hidup orang bermasyarakat juga sangat mempengaruhi pada timbulnya stress, individu yang mempunyai cara hidup sangat teratur dan mempunyai falsafah hidup yang jelas maka pada umumnya lebih sukar mengalami stress. Demikian juga keyakinan agama yang kuat akan lebih jauh sukar mengalami stress dibanding mereka yang keyakinan agamanya lemah (Suliswati, 2005). f. Lingkungan atau Situasi Orang yang berada ditempat yang dirasakan lebih mudah mengalami stress. Sehingga fasilitas lingkungan dengan stimulus yang minimal, tentang dan membatasi interaksi dengan orang lain atau

17

kurang kontak dengan penyebab kecemasannya (Suliswati, 2005). g. Jenis kelamin Umumnya wanita lebih sering mengalami stress, tetapi umur wanita lebih tinggi dari pria. Di perkirakan jumlah mereka yang mengalami gangguan kecemasan mencapai 5% dari jumlah penduduk yang ada (Suliswati, 2005). h. Potensi Stresor Stressor psikososial adalah setiap keadaan atau peristiwa yang menyebabkan perubahan dalam kehidupan seseorang, sehingga seorang itu perlu mengadakan adaptasi atau mengulangi stresor yang timbul sesuai dengan berat ringannya stress (Suliswati, 2005). B. Hipertensi 1. Pengertian Hipertensi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu peningkatan abnormal tekanan darah dalam pembuluh darah arteri secara terus-menerus lebih dari suatu periode (Udjiati, 2010). Hipertensi adalah apabila seseorang memiliki tekanan darah mencapai 140 mmHg (systole) atau lebih yang diukur ketika ia sedang duduk dan tekanan darah diastole 90 mmHg atau lebih (Ridwan,2002). Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah penyakit kelainan jantung dan pembuluh darah yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah (Dewi & Familia, 2010). 2. Klasifikasi

18

Menurut The Seventh Joint National Committee on Detection, evaluation ad treatment of high Blood Pressure (JNC). Peningkatan tekanan darah pada orang dewasa dengan usia diatas 18 tahun diklasifikasikan menderita hipertensi stadium I apabila tekanan sistoliknya 140-159 mmHg dan tekanan diastoliknya 90-99 mmHg, stadium II apabila tekanan sistoliknya lebih dari 160 mmHg dan sedangkan diastoliknya lebih dari 100 mmHg, stadium III apabila tekanan sistoliknya lebih dari 180 mmHg dan sedangkan diastoliknya lebih dari 116 mmHg (Yogiantoro, 2009). Tabel 2.1 Klasifikasi hipertensi (JNC) VII Klasifikasi tekanan darah Normal Prehipertensi Hipertensi stadium I Hipertensi stadium II Hipertensi stadium III Sistolik (mmHg) <120 120-139 140-159 160-179 180-209 Diastolik (mmHg) <90 80-90 90-99 100-109 110-119

Berdasarkan penyebabnya hipertensi terbagi menjadi dua golongan. a. Hipertensi esensial atau hipertensi primer Merupakan 90% -95 dari seluruh kasus hipertensi adalah hipertensi esensial yang didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah yang tidak diketahui penyebabnya (idiopatik). Beberapa faktor diduga berkaitan dengan perkembangan hipertensi esensial sebagai berikut ini.

19

1) Genetik : individu yang mempunyai riwayat keluarga dengan hipertensi, berisiko tinggi untuk mendapatkan penyakit ini. 2) Jenis kelamin dan usia : laki-laki berusia 35-50 tahun dan wanita pasca-menopause berisiko tinggi untuk mengalami hipertensi. 3) Diet : konsumsi diet tinggi garam atau lemak secara langsung berhubungan dengan perkembangannya hipertensi. 4) Berat badan : obesitas (>25% diatas BB ideal) dikaitkan dengan perkembangannya hipertensi. 5) Gaya hidup : merokok dan konsumsi alkohol dapat meningkatkan tekanan darah, bila gaya hidup menetap. b. Hipertensi sekunder Merupakan 10% dari seluruh kasus hipertensi adalah hipertensi sekunder, yang didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah, karena suatu kondisi fisik yang sudah ada sebelumnya, atau disebabkan oleh penyakit sistemik lain, misalnya gangguan hormon (Gushing), penyempitan pembuluh darah utama ginjal (stenosis arteri renalis), akibat penyakit ginjal (glomerulonefritis), tumor, diabetes, stress (Ridwan, 2002). 3. Patofisiologi Hipertensi Banyak faktor yang mengontrol tekanan darah berkontribusi secara potensial dalam terbentuknya hipertensi, faktor-faktor tersebut adalah meningkatnya aktivitas sistem saraf simpatik (tonus simpatis dan/atau variasi diural) mungkin berhubungan dengan meningkatnya respon

20

terhadap stress psikososial dll, produksi berlebihan hormon yang menahan natrium dan vasokonstriktor, asupan natrium (garam) berlebihan, tidak cukupnya asupan kalium dan kalsium, meningkatknya produksi

angiotensin II dan aldosteron, definisi vasodilator seperti prostasiklin, nitrik oxida (NO) dan peptide natriuretik, perubahan dalam ekskresi sistem kallikrein-kinin yang mempengaruhi tonus vaskular dan penanganan garam oleh ginjal, abnormalitas tahanan pembuluh darah termasuk gangguan pada pembuluh darah kecil di ginjal, diabetes mellitus, resistensi insulin, obesitas, meningkatnya aktivitas vaskular growth factors, perubahan reseptor adrenergik yang mempengaruhi denyut jantung, karakteristik inotropik dari jantung dan tonus vaskular, berubahnya transpor ion dalam sel (Depkes RI, 2006). 4. Gejala Biasanya tanpa gejala atau tanda-tanda peringatan untuk hipertensi dan sering disebut silent killer. Pada kasus hipertensi berat gejala yang dialami klien antara lain : sakit kepala (rasa berat ditengkuk), palpitasi, kelelahan, nausea, vomiting, ansietas, keringetan berlebihan, tremor otot, nyeri dada, epitaksis, pandangan kabur atau ganda, tinnitus (telinga berdenging) serta kesulitan tidur (Udjiati, 2010).

5. Faktor-faktor yang mempengaruhi hipertensi Menurut Elsanti (2009), faktor resiko yang mempengaruhi hipertensi

21

yang dapat atau tidak dapat dikontrol, antara lain : a. Faktor resiko yang tidak dapat dikontrol : 1) Jenis kelamin Hipertensi lebih banyak terjadi pada pria bila terjadi pada usia dewasa muda. Tetapi lebih banyak menyerang wanita setelah umur 55 tahun, sekitar 60% penderita hipertensi adalah wanita. Hal ini sering dikaitkan dengan perubahan hormon setelah menopause (Marliani, 2007). 2) Umur Semakin tinggi umur seseorang semakin tinggi tekanan darahnya, jadi orang yang lebih tua cenderung mempunyai tekanan darah yang tinggi dari orang yang berusia lebih muda. Hipertensi pada usia lanjut harus ditangani secara khusus. Hal ini disebabkan pada usia tersebut ginjal dan hati mulai menurun, karena itu dosis obat yang diberikan harus benar-benar tepat. Tetapi pada kebanyakan kasus, hipertensi banyak terjadi pada usia lanjut. Pada wanita, hipertensi sering terjadi pada usia diatas 50 tahun. Kondisi yang berkaitan dengan usia ini adalah produk samping dari keausan arteriosklerosis dari arteri-arteri utama, terutama aorta, dan akibat dari berkurangnya kelenturan. Dengan mengerasnya arteri-arteri ini dan menjadi semakin kaku, arteri dan aorta itu kehilangan daya penyesuaian diri (Tambayong, 2001). 3) Keturunan (Genetik)

22

Hal ini berhubungan dengan peningkatan kadar sodium intraseluler dan rendahnya rasio antara potasium terhadap sodium Individu dengan orang tua dengan hipertensi mempunyai risiko dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi dari pada orang yang tidak mempunyai keluarga dengan riwayat hipertensi. Jika salah seorang dari orang tua anda ada yang mengidap tekanan darah tinggi, maka anda akan mempunyai peluang sebesar 25% untuk mewarisinya selama hidup anda. Jika kedua orang tua mempunyai tekanan darah tingi maka peluang anda untuk terkena penyakit ini akan meningkat menjadi 60% (Rohaendi, 2008). b. Faktor resiko yang dapat dikontrol : 1) Kurang olahraga Olahraga banyak dihubungkan dengan pengelolaan penyakit tidak menular, karena olahraga isotonik dan teratur dapat menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah (untuk hipertensi) dan melatih otot jantung sehingga menjadi terbiasa apabila jantung harus melakukan pekerjaan yang lebih berat karena adanya kondisi tertentu (Dewi & Familia, 2010).

2) Kebiasaan Merokok Merokok menyebabkan peninggian tekanan darah. Perokok berat dapat dihubungkan dengan peningkatan insiden hipertensi

23

maligna dan risiko terjadinya stenosis arteri renal yang mengalami ateriosklerosis. Seperti yang telah diketahui oleh masyarakat pada umumnya, tokok mengandung ribuan zat kimia berbahaya bagi tubuh. Zat kimia berbahaya tersebut antara lain nikotin, tar, dan karbondioksida. Tar sendiri merupakan zat yang dapat

meningkatkan kekentalan darah. Ini mengakibatkan jantung memompa darah lebih kuat lagi (Marliani, 2007). 3) Mengkonsumsi garam berlebih Konsumsi natrium yang berlebih menyebabkan konsentrasi natrium di dalam cairan ekstraseluler meningkat. Untuk

menormalkannya cairan intraseluler ditarik ke luar, sehingga volume cairan ekstraseluler meningkat. Meningkatnya volume cairan ekstraseluler tersebut menyebabkan meningkatnya volume darah, sehingga berdampak kepada timbulnya hipertensi (Marliani, 2007). 4) Minum alkohol Banyak penelitian membuktikan bahwa alkohol dapat merusak jantung dan organ-organ lain, termasuk pembuluh darah. Kebiasaan minum alkohol berlebihan termasuk salah satu faktor resiko hipertensi (Marliani, 2007). 5) Minum kopi Kopi mengandung 75200 mg kafein, di mana dalam satu cangkir tersebut berpotensi meningkatkan tekanan darah 5-10

24

mmHg (Dewi & Familia, 2010). 6) Pil KB Pil KB : Risiko meninggi dengan lamanya pemakaian (12 tahun berturut-turut) (Dewi & Familia, 2010), 7) Stress Hubungan antara stress dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf simpatis peningkatan saraf dapat menaikan tekanan darah secara intermiten (tidak menentu). Stress yang

berkepanjangan dapat mengakibatkan tekanan darah menetap tinggi. Walaupun hal ini belum terbukti akan tetapi angka kejadian di masyarakat perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan di pedesaan. Hal ini dapat dihubungkan dengan pengaruh stress yang dialami kelompok masyarakat yang tinggal di kota. Peningkatan darah akan lebih besar pada individu yang mempunyai

kecenderungan setress emosional yang tinggi. Setress atau ketegangan jiwa dapat merangsang kelenjar anak ginjal melepaskan hormone adrenalin dan memacu jantung berdenyut lebih cepat serta lebih kuat, sehingga tekanan darah akan meningkat. Jika setress berlangsung lebih lama tubuh akan berusaha mengadakan penyesuaian sehingga timbul kelainan organis atau perubahan patologis. Gejala yang muncul dapat berupa hipertensi (Sustrani, 2007).

25

6. Komplikasi Penyakit hipertensi akan meningkat dengan adanya penyakit kronis. Penyakit lain yang dapat meningkatkan derajat hipertensi atau berupa komplikasi hipertensi akan menyebabkan hipertensi lebih sulit

dikendalikan. Berikut ini adalah komplikasi penyebab hipertensi : a. Kolesterol tinggi Kadar kolesterol, sejenis lemak dalam darah yang tinggi yang akan meningkatkan pembentukan plak dalam arteri. Akibatnya, arteri menyempit dan sulit berkembang, perubahan ini dapat meningkatkan tekanan darah. b. Gagal jantung dan ginjal Kerusakan atau kelemahan otot mungkin disebabkan serangan jantung karena jantung harus bekerja lebih berat untuk memompa darah. Hipertensi yang tidak terkendali menuntut jantung yang lemah bekerja lebih keras dan menyulitkan pengobatan kedua penyakit tersebut. Indikator lain yang menunjukkan peningkatan resiko penyakit jantung dan pembuluh darah adalah terjadinya perubahan aliran darah dalam retina, penebalan bilik kiri jantung, perubahan kreatinin (zat kimia yang dikeluarkan oleh ginjal) dalam darah, dan perubahan jumlah protein dalam urine. Pengobatan hipertensi dapat memulihkan atau menghambat berkembangnya penyakit gagal jantung dan ginjal. c. Apnea pada saat tidur atau mendengkur Apnea merupakan bentuk berat dari mendengkur yang mengganggu

26

pernapasan pada saat tidur. Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan antara pernafasan yang terhenti dan berkurangnya pasokan oksigen untuk sementara waktu yang menyertai apnea saat terjadinya hipertensi (Dewi & Familia, 2010). 7. Penatalaksanaan a. Nonfarmakologi Terapi non farmalogi meliputi menghentikan merokok,

menurunkan berat badan berlebih, latihan fisik, menurunnkan asupan garam, meningkatkan asumsi buah dan sayur, tidak mengkonsumsi alkohol (Yogiantoro, 2009). b. Farmakologi Ada 9 obat antihipertensi. Diuretik, penyekat beta penghambat enzim konversi angiostensin (ACEI), penghambat reseptor

angiostensin (ARB), dan antagonis kalsium dianggap sebagai obat antihipertensi utama. Beberapa dari kelas obat ini (misalnya diuretik dan antagonis kalsium) mempunyai subkelas dimana perbedaan yang bermakna dalam studi dalam mekanisme kerja, penggunaan klinis atau efek samping. Penyekat antagonis alfa 2 sentral, penghambat adrenergik dan vasodilator digunakan sebagai obat alternatif pada pasien-pasien tertentu disamping obat utama (Depkes RI, 2006).

27

C. Kerangka Teori Gejala : 1. Sakit kepala 2. Kelelahan 3. Tremor otot


Faktor yang mempengaruhi hipertensi : 1. Jenis kelamin 2. Keturunan 3. Usia 4. Kurang olah raga 5. Kebiasaan merokok 6. Konsumsi garam berlebih 7. Alkohol 8. Pil KB 9. Minum kopi 10. stress

4. Nyeri dada 5. Telinga berdenging

Respon fisik

Hipertensi

Respon psikologi/ Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan : 1. Usia 2. Jenis kelamin 3. Status pendidikan 4. Tingkat pengetahuan 5. Status sosial ekonomi 6. Sosial budaya 7. Lingkungan Gambar 2.2 Kerangka Teori (Suliswati, 2005; Elsanti, 2009 ; Udjiati, 2010). Kecemasan : 1. Ringan 2. Sedang 3. Berat 4. Panik emosional (cemas)

28

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Kerangka Konsep Kerangka konsep adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep yang lainnya dari masalah yang diteliti (Notoatmodjo, 2005). Berdasarkan tinjauan pustaka, maka kerangka konsep sebagai berikut :

Gambaran tingkat kecemasan penderita hipertensi

Gambar 3.1 Kerangka Konsep B. Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif (Notoatmodjo, 2005). Rancangan penelitian yang digunakan adalah dengan pendekatan survei cross sectional, yaitu penelitian dengan menggunakan pendekatan, observasi, atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time approach) artinya tiap subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja atau dengan pengukuran/ pengamatan pada saat yang bersamaan atau sekali waktu (Notoatmadjo, 2005).

29

C. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian (Arikunto, 2006). Populasi penelitian ini adalah semua penderita hipertensi dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan yang ada di desa Purworejo Ringinarum Kendal, sebanyak 84 orang penderita, data yang di peroleh dari Puskesmas Ringinarum tahun 2011. 2. Sampel Sampel merupakan bagian populasi yang akan diteliti atau sebagian jumlah dari karakteristik yang dimiliki populasi (Hidayat, 2007). Teknik pengambilan sempel dalam penelitian ini adalah teknik sampling jenuh/total sampel, dimana cara mengambil sampel ini adalah dengan mengambil semua anggota populasi menjadi sampel. Jadi jumlah sampel dalam penelitian adalah 84 responden yang menderita hipertensi. a. Kriteria Inklusi Merupakan karakteristik umum subjek penelitian dari populasi target terjangkau yang diteliti (Nursalam, 2003). Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah : 1) Penderita hipertensi di Desa Purworejo. 2) Penderita hipertensi yang bersedia menjadi responden. 3) Penderita hipertensi yang dapat membaca dan menulis.

30

b. Kriteria Eksklusi. Kriteria eksklusi merupakan kriteria dimana subyek penelitian tidak dapat mewakili sampel karena tidak memenuhi syarat sebagai sampel penelitian seperti adanya hambatan teknis, menolak menjadi responden atau suatu keadaan yang tidak memungkinkan untuk dilakukan penelitian (Nursalam, 2003). Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah : 1) Penderita hipertensi yang menolak menjadi responden. 2) Penderita hipertensi yang tidak dapat membaca dan menulis. D. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat penelitian Penelitian ini di lakukan di Desa Purworejo Kecamatan Ringinarum Kabupaten Kendal. 2. Waktu penelitian Waktu penelitian pada bulan November s/d Desember 2011.

31

E. Definisi Operasional, Variabel Penelitian dan Skala Pengukuran Tabel 3.1 Definisi Operasional, Variabel Penelitian, dan Skala Pengukuran Variabel Definisi Operasional Tingkat kecemasan Penderita hipertensi Kecemasan penderita hipertensi adalah kumpulan gejala fisik, Menggunakan kuesioner dengan memakai skala 1. Skor <14 Tidak kecemasan Alat Ukur Kategori Skala ukur = Ordinal ada

HRS-A, 2. Skor 14-20 = Kecemasan ringan 3. Skor 21-41 = Kecemasan sedang 4. Skor 28-41 = Kecemasan berat 5. Skor 42-56 = Panik

terdiri dari 14 pertanyaan.

emosional dan Nilai sosial yang - 0 : Tidak ada gejala (keluhan) - 1: Gejala ringan - 2 : Gejala

dirasakan oleh penderita hipertensi terkait

sedang

penyakit yang - 3 : Gejala berat di derita. - 4 : Gejala berat sekali (Panik)

32

F. Alat Penelitian dan Cara pengumpulan Data 1. Instrument Penelitian Alat dalam penelitian ini adalah menggunakan kuesioner. Kuesioner ini Mmenggunakan HRS-A (Hamilton Rating Scale For Anxiety). Peneliti menentukan tingkat kecemasan dengan cara membacakan kuesioner kepada responden dan memberi tanda ceklist ( ) pada lembar kuesioner, kuesioner ini terdiri dari : a. Kuesioner A, berisi identitas responden meliputi: umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan. b. Kuesioner B, Untuk mengetahui tingkat kecemasan pada penderita hipertensi alat penelitiannya menggunakan HRS-A (Hamilton Rating Scale For Anxiety) (Hawari, 2009). Yang terdiri atas 14 pertanyaan kelompok gejala, masing-masing kelompok gejala di beri penilaian sebagai berikut : Nilai 0 : Tidak ada gejala (keluhan) 1 : Gejala ringan 2 : Gejala sedang 3 : Gejala berat 4 : Gejala berat sekali (Panik) Masing-masing nilai angka (score) dari 14 kelompok gejala kecemasan dijumlahkan dan dari hasil perjumlahan tersebut dapat diketahui derajat/tingkat kecemasan seseorang (Hawari, 2009) yaitu :

33

Total nilai (Score) : < 14 14-20 21-27 28- 41 42-56 Hasil uji = tidak ada kecemasan = kecemasan ringan = kecemasan sedang = kecemasan berat = kecemasan berat sekali (panik) validitas perhitungan tiap item dengan menggunakan

kuesioner/alat ukur HRS-A (Hamilton Rating Scale For Anxiety)adalah dalam rentang 0,500-0,929 (r hitung), hasil tersebut lebih besar bila di bandingkan dengan 0,444 (r tabel). Kuesioner dinyatakan valid apabila r hitung lebih besar dari r tabel. Dan hasil uji reabilitas adalah 0,9366 (nilai alpha). Dengan demikian kuesioner dinyatakan valid karena memenuhi syarat reliabilitas (jika nilai alpha lebih besar dari 0,6 dan mendekati 1) (Siti Rohmah, 2007). 2. Cara Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan menggunakan kuasioner. Langkah pengumpulan data dalam penelitian ini sebagai berikut : a. Peneliti mengajukankan surat ijin kepada STIKES Kendal untuk melakukan penelitian. Setelah mendapat ijin dari kepala institusi STIKES Kendal, peneliti mengajukan ijin penelitiaan kepada Kesatuan Bangsa Politik Perlindungan Masyarakat (KESBANGPOLINMAS) Kabupaten Kendal.

34

b. Setelah mendapat ijin dari KESBANGPOLINMAS Kabupaten Kendal peneliti langsung memberikan surat rekomendasi ke Badan

Perencanaan Daerah (BAPEDA) Kabupaten Kendal, setelah mendapat ijin dari BAPEDA Kabupaten Kendal peneliti langsung memberikan surat rekomendasi ke Kecamatan Ringinarum, dan Kepala desa

Purworejo Kecamatan Ringinarum Kabupaten Kendal. c. Setelah mendapat ijin dari Kepala Desa Puworejo, peneliti langsung melaksanakan penelitian tersebut. Sebelum pengisian kuesioner peneliti memberikan informasi singkat tentang tujuan, manfaat dan peran serta responden yang ikut dalam penelitian. Bagi yang bersedia menjadi responden dimohon menanda tangani lembar persetujuan menjadi responden (Informed Consent Form). d. Peneliti meminta kepeda responden yang setuju dalam penelitian ini untuk mengisi seluruh pertanyaan yang tersedia dalam kuasioner.

Peneliti memeriksa kelengkapan data ditempat pengambilan data yng bertujuan bila ada kekurangan dapat segera di lengkapi. Data dari puskesmas di dapat penderita hipertensi sejumlah 84 orang terdiri dai 34 laki-laki dan 50 perempuan. G. Teknik Pengolahan Data dan Analisa Data Setelah data terkumpul data tersebut diolah agar dapat memberikan arti dalam menyimpulkan problema penelitian. Proses pengolahan data tersebut meliputi : 1. Pengolahan Data

35

a. Pemeriksaan data (Editing) Data yang terkumpul akan diperiksa oleh peneliti satu persatu dengan tujuan mengecek apakah terjadi kekurangan dan kesalahan pada waktu pengisian blanko atau kerusakan data.

b. Pemberian kode (Coding) Coding merupakan kegiatan pemberian kode numerik (angka) terhadap data yang terdiri dari beberapa kategori.Pemberian kode dibuat juga daftar kode dan artinya dalam satu buku (code book) untuk memudahkan kembali melihat lokasi dan arti suatu kode dari suatu variabel (Alimul, 2007). Coding dilakukan dengan memberikan kode karena hal tersebut menentukan reliabilitas. Pemberian kode pada setiap variabel digunakan untuk mempermudah peneliti dalam melakukan tabulasi dan analisa data. a. Entri data Data entri adalah kegiatan memasukkan data yang telah dikumpulkan ke dalam master tabel dan database komputer, kemudian membuat distribusi frekuensi sederhana atau bisa juga dengan membuat tabel kontingensi. b. Tabulating Mengelompokan data sesuai dengan tujuan penelitian kemudian dimasukkan dalam tabel yang telah disisipkan. Peneliti membuat tabel untuk mengelompokkan data sesuai hasil yang didapat kemudian

36

dijumlahkan dan diberi kategori sesuai dengan jumlah pertanyaan. 2. Analisa Data. Analisa data adalah kegiatan dalam penelitian dengan melakukan analisa data yang meliputi persiapan, tabulasi dan aplikasi data. Selain itu, pada tahap analisa data digunakan uji statistik (Alimul, 2007). Analisa yang digunakan adalah analisa univariat yaitu untuk mendiskripsikan masing-masing variabel. Analisa ini hanya menghasilkan distribusi dan presentase dari tiap variabel yang meliputi : tingkat kecemasan pada penderita hipertensi. Rumus presentase yang di gunakan adalah

F x100% N

Keterangan :

p
F N

: persentase : skore diperoleh : skore maksimal

H. Etika Penelitian Dalam melakukan penelitian perlu mendapat adanya rekomendasi dari institusi atau lembaga tempat penelitian. Setelah mendapat persetujuan baru melakukan penelitian dengan menekankan masalah etika (Alimul, 2007), yang meliputi : 1. Informed consent

37

Merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dan responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan. Informed consent tersebut diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan memberikan lembar persetujuan untuk menjadi responden. Tujuan informed consent adalah agar subyek mengerti maksud dan tujuan penelitian,mengetahui dampaknya. Jika subyek bersedia, maka mereka harus menandatangani lembar persetujuan. Jika responden tidak bersedia, maka peneliti harus menghormati hak pasien. 2. Anonymity (tanpa nama) Peneliti tidak mencantumkan nama responden pada lembar alat ukur dan hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang disajikan. 3. Confidentiality (Kerahasiaan) Peneliti memberikan jaminan kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi maupun masalah-masalah lainnya. Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaanya oleh peneliti. I. Jadwal Penelitian Terlampir

38

DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta. Aziz Alimul, Hidayat ( 2007). Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisa Data. Jakarta : Salemba Medika. Amalia, H. Amirudin R., dan Armilawati, 2007. Hipertensi dan Faktor Resikonya dalam Kajian Epidemiologi. FKM UNHAS. Available from: (http://www.CerminDuniaKedokteran.usu.ac.id.jurnal.pdf.com) diakses tanggal 15 april 2011. Bernard Cheung, (2008). The Relationship Between Hypertension and Anxiety or Depression. (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2716224.com) di akses tnggal 8 november 2010. Depkes RI. (2006). Pharmaceutical Care untuk Penyakit Hipertensi. Jakarta: Depkes RI. Dewi & Familia (2010). Hidup Bahagia Dengan Hipertensi. Jogjakarta : A plus. Dhuha, Syamsud (2011). Seminar The 5 Sciencific Meeting on Hypertension. (http://msuaramerdeka.com) diakses tanggal 4 september 2011. Elsanti, Salma. 2009. Panduan Hidup Sehat Bebas Kolesterol, Stroke, Hipertensi & Serangan Jantung, Araska. Yogyakarta. Hawari, Dadang (2005). Manajemen Setress dan Depresi. FKUI. Jakarta. Hawari, Dadang (2009). Psikometri Alat ukur Kesehatan Jiwa. FKUI. Jakarta. Hidayat (2007). Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta : Salemba Medika. Kaplan, Harrold (2005). Sinopsis Psikatri, jilid 2. Binarupa Aksara. Lany, Sustrani, (2004). Hipertensi. Jakarta : PT Gramedia Pustaka. Marliani Lili, dkk. 2007.100 Question & Answers Hipertensi, PT Elex Media Komputindo, Gramedia, Jakarta.

Medikoputro, Djoko (2008). Dampak penyakit akibat hipertensi. (http://msuaramerdeka.com) diakses tanggal 6 maret 2008.

39

Notoatmodjo, Soekidjo (2003). Pendidikan Perilaku kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. Notoatmodjo, Soekidjo, (2005). Metodelogi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. Nursalam (2003). Konsep dan Penerapan Metodelogi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba Merdeka. Ray H. Rosenman, (2001). Does anxiety or cardiovascular reactivity have a causal role in hypertension. (http://www.jurnal.springerlink.undip.ac.id.com) di akses tanggal 10 november 2011. Ridwan, Muhammad (2002). Mengenal, Mencegah, Mengatasi, Hipertensi. Semarang : Pustaka Widyamara. Rohaendi, (2003). Hipertensi dan faktor resiko, (http://www.artikelkedokteran.CerminDuniaKedokteran.pdf.com) diakses tanggal 23 April 2009. Siti, Rohmah, (2007). Tingkat Kecemasan Anggota Keluarga Pada Penderita Stroke Di RSUD dr. H. Soewondo Kendal. Skripsi. Sugiyono. (2005). Statistika untuk penelitihan. Bandung: CV ALFABETA. Suliswati (2005). Konsep Dasar Keperawtan Jiwa. Jakarta : EGC. Stuart, G. W. dan Sudeen S (2006). Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi : 5. Jakarta: EGC. Tambayong, Jan (2010). Patofisiologi Untuk Keperwatan. Jakarta : EGC. Udjiati, Wayan Juni (2010). Keperawatan Kardiovaskular. Jakarta: Salemba Medika. Yogiantoro, Muhammad (2009). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid 2. Edisi 5, Interna Publising, Jakarta.

40

KUESIONER
TINGKAT KECEMASAN PADA PENDERITA HIPERTENSI DI DESA PURWOREJO KECAMATAN RINGINARUM KABUPATEN KENDAL

A. Identitas Responden 1. Kode Responden 2. Umur 3. Jenis Kelamin 4. Pendidikan 5. Pekerjaan 6. Penghasilan / bulan : ... : : ............................................ : ............................................ : .... : ....

41

B. Tingkat Kecemasan Petunjuk : Berilah tanda ( ) pada kolom pilihan anda, sesuai dengan apa yang saudara/saudari alami selama menderita hipertensi, dengan memilih salah satu alternanatif sebagai berikut : Nilai 0 : Tidak ada gejala (keluhan) 1 : Gejala ringan 2 : Gejala sedang 3 : Gejala berat 4 : Gejala berat sekali (Panik)
No 1 Gejala Kecemasan Perasaan cemas (ansietas) 0 1 2 3 4

Cemas Firasat buruk Takut akan pikirannya sendiri


Mudah tersinggung 2 Ketegangan

Merasa tegang Lesu Tidak bisa istirahat tenang Mudah terkejut Mudah menangis Gemetar
Gelisah 3 Ketakutan

Pada Gelap

42

Pada orang asing


N Takut tinggal sendiri o Pada binatang besar

Pada keramaian lalu lintas


Pada kerumunan orang banyak 4 Gangguan tidur

Sukar masuk tidur Terbangun malam hari idur tidak nyenyak angun dengan lesu Banyak mimpi-mimpi Mimpi buruk
Mimpi menakutkan 5 Gangguan kecerdasan

Sukar konsentrasi Daya ingat menurun


Daya ingat buruk 6 Perasaan Depresi (murung)

Hilangnya minat Berkurangnya minat pada hobi Sedih Bangun dini hari
Perasaan berubah-ubah sepanjang hari 7 Gejala somatik/ fisik (otot) N Sakit dan nyeri di otot-otot o Kaku

Kedutan otot

43

Gigi gemerutuk Suara tidak stabil


8 Gejala somatik/ sensorik Tinitus (telinga berdenging) Penglihatan kabur Muka merah/ pucat Marasa lemas Perasaan ditusuk-tusuk Gejala 9 kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah) denyut jantung cepat Berdebar-debar Nyeri di dada Denyut nadi mengeras Rasa lesu lemas seperti mau pingsan Detak jantung menghilang

berhenti sekejap
10 Gejala respiratori (pernafasan) Rasa tertekanfas pendek atau sempit di dada Rasa tercekik Sering menarik nafas Nafas pendek sesak 11 Gejala gastrointestinal (pencernaan) Sulit menelan Gangguan pencernaan N Nyeri sebelum dan sesudah o makan Perasaan terbakar di perut

44

Rasa penuh atau kembung Mual Muntah Buang air besar lembek Susah buang air besar (konstipasi) Kehilangan berat badan 12 Gejala urogenetal (perkemihan dan kelamin) Sering buang air kecil Tidak dapat menahan air seni Menjadi dingin (frigid) 13 Gejala yang terlihat/autonom Mulut kering Muka merah Mudah berkeringat Kepala pusing Kepala terasa berat Kepala terasa sakit Bulu-bulu berdiri 14 Tingkah laku/ sikap pada wawancara Gelisah Tidak tenang Jadi gemetar N Kerut kening o Muka tegang Otot tegang/ mengeras Nafas pendek dan cepat Muka merah