Anda di halaman 1dari 18

Protecting Structures from Fire Severity

Repairability of Fire-Damaged Structures Yoppy Soleman, 2005


1
Repairability of Fire-Damaged Structures
Yoppy Sol eman
Penilaian Kerusakan Struktur Beton
Pemeriksaan visual pendahuluan struktur beton harus dibuat untuk menentukan
bilamana timbul kerontokan (pengelupasan) lapisan selimut dan tingkat keparahannya.
Sudut-sudut balok dan kolom biasanya mudah mengalami pengelupasan/kerontokan
selimut tetapi seringnya langit-langit lantai juga rusak akibat pengelupasan selimut.
Dampak yang disebutkan diatas tidak signifikan apabila kerusakan terbatas pada
selimut luar dan tidak mencapai tulangan utama (longitudinal). Keterpaparan tulangan
tambahan di dalam selimut beton kurang membahayakan, atau apabila hanya beberapa
bidang-bidang kecil dalam langit-langit lantai yang dirusak. Bila terjadi
pengelupasan/kerontokan yang luas dan kebakaran berlangsung cukup lama, elemen-
elemen struktur beton harus diuji secara hati-hati untuk menentukan pelemahan
tulangan atau relaksasi kabel pratekan.
Bersama-sama dengan pengelupasan selimut, suatu keretakan di dalam pelat-pelat,
balok atau kolom adalah catatan penting. Retak akibat api di dalam daerah tarik tidak
kritis tetapi retak tranversal pada permukaan lantai, retak horizontal pada balok-balok
atau retak-retak geser pada kolom-kolom menandakan suatu reduksi dalam kapasitas
daya dukung apabila strukturnya tidak runtuh.
Perlu untuk menentukan tegangan sisa beton dan tulangan, dan untuk tujuan ini bisa
menggunakan sejumlah teknik. Suatu prosedur terdiri dari menentukan pencapaian
temperatur di dalam tipikal dan tegangan sisa yang berhubungan. Peneliti Bessey
menemukan bahwa ketika beton dipanaskan suatu perubahan warna yang permanen
timbul dan suatu estimasi temperatur pemanasan bisa dibuat. Warna abu-abu (grey)
yang normal dari jenis semen Portland biasa (tipe I) berubah menjadi merah-muda
muda/terang (light pink) pada temperatur 300
0
C (572
0
F), dan intensitas maksimum
warna gelap dicapai pada temperatur maksimum 600
0
C (1112
0
F) sebelum kemudian
mulai berwarna terang, menjadi abu-abu keputihan (whitish grey) pada temperatur
800
0
C (1472
0
F).
Tabel 1. Hubungan intensitas warna beton yang terbakar dan perkiraan temperatur
Temp.
0 - 300
0
C 300 600
0
C > 600
0
C
20
0
C 300
0
C 450
0
C 600
0
C 700
0
C 800
0
C
Warna
Abu-
abu
normal
Merah-
muda
muda
Merah-
muda
tua
Abu-abu
tua
Abu-
abu
Abu-abu
Keputihan
Perubahan warna disebabkan oleh transformasi (ubah bentuk) senyawa besi, dalam
bentuk tak-murni dalam pasir, menjadi ferro-oksida (FeO
2
, oksida besi). Intensitas
warna bergantung pada tingkat ketidakmurnian dan perubahan warna tetap ditemukan
sekalipun beton menggunakan aggregat murni pasir sungai yang tersusun dari batu-
gamping. Concrete Society menggunakan indikator perubahan warna untuk
menentukan layak tidaknya struktur beton digunakan kembali dengan mengusulkan
bahwa apabila tidak ada perubahan yang timbul (Gbr. 1: Hubungan perubahan warna-
FDF untuk beton padat/normal), tegangan sisa struktur beton tidak berupa secara
Protecting Structures from Fire Severity
Repairability of Fire-Damaged Structures Yoppy Soleman, 2005
2
signifikan. Rasio tegangan nominal tersisa mereprentasikan tingkat kerusakan struktural
(FDF = Fire Damage Factor). Untuk menentukan bilamana terjadi perubahan warna
beton, maka suatu spesimen dari tipikal harus diambil. Tebal terdalam tipikal yang
mengalami perubahan warna (dari normal abu-abu) boleh ditentukan sebagai batas
isoterm 300
0
C.
Relasi yang diberikan melalui ( G a mb a r 1 ) memetakan angka-angka rasio tegangan
nominal yang aman/konservatif (berdasar perbandingan dengan literatur penelitian
lainnya). Suatu contoh prosedur tak-langsung untuk menentukan tingkat kerusakan
struktur ekivalen akibat kebakaran diberikan dalam contoh soal 1. Dapat dilihat bahwa
metoda perubahan warna ini adalah suatu prosedur penentuan kerusakan struktur
pasca-kebakaran yang paling murah dan cukup mudah.
Gambar 1. Hubungan perubahan warna (temperatur) - FDF untuk beton normal
Estimasi tegangan sisa berdasar grafik hubungan Warna Temperatur
T=100
0
C (indikator: abu-abu normal) FDF 98-91%
T=200
0
C (indikator: abu-abu normal) FDF 94-81%
T=240
0
C (indikator: abu-abu normal) FDF 90-74%
T=290
0
C (indikator: abu-abu normal) FDF 81-69%
T=350
0
C (indikator: merah-muda muda) FDF 73-61%
T=400
0
C (indikator: merah-muda muda) FDF 58-51%
T=500
0
C (indikator: merah-muda muda) FDF 31-30%
T=610
0
C (indikator: abu-abu keputihan) FDF 17%
Kurva ( G a mb a r 1 ) memang mudah digunakan, akan tetapi memberikan
rentang FDF yang cukup besar. Semakin tinggi capaian temperatur di
dalam tipikal maka estimasi grafik tersebut semakin valid (karena
semakin kecil rentang FDF). Estimasi yang memiliki error cukup besar
berada dalam rentang 100-350
0
C.
Protecting Structures from Fire Severity
Repairability of Fire-Damaged Structures Yoppy Soleman, 2005
3
Contoh Soal 1_Menentukan tegangan sisa ekivalen dengan gabungan prosedur
2
:
Hitunglah kapasitas tahanan momen izin pasca-kebakaran, MR
F
, suatu balok yang
merupakan suatu bagian dari struktur portal dengan tipikal b = 300 mm, d = 475 mm,
d = 65 mm, h = 540 mm, dan data-data lainnya yang diberikan dibawah.
wL = 55 kN/m
L = 7.0 meter
Gambar 2. Struktur Portal yang mengalami perubahan warna
akibat kebakaran
Data Material:
(a) Tegangan luluh tulangan, fy = 350 MPa
(b) Tegangan tekan beton silinder 28 days, fc = 25 MPa (beton normal)
Data Tulangan:
(a) Tulangan tarik terpasang, As = 5 | 28 mm
(b) Tulangan tekan terpasang, As = 3 | 28 mm.
300 mm
Gambar 3. Tipikal balok, susunan
Penulangan dan
Tebal zona isoterm
( 7.5 cm)
A. P e r h i t u n g a n Ka p a s i t a s Mo me n B a l o k P r a - K e b a k a r a n
d = 478 mm
h = 540 mm
d = 65 mm
As = 5 | 28
As = 3 | 28
Investigasi pasca-kebakaran
Data observasi struktural dan forensik pendukung:
- Balok, L = 7.0 meter
Warna permukaan = 30% abu-abu, dan 70%
merah-muda muda
- Kaca polos 5 mm (lapis meja tulis)
Kondisi : normal/stabil (T < 600
0
C)
- Timah (segel amplof)
Kondisi : meleleh/mencair (T > 300
0
C)
Resume Pemeriksaan:
(1) Temperatur maksimal < 600
0
C
(2) Temperatur minimal > 300
0
C
(3) Pencapaian temperatur berdasarkan observasi
warna permukaan balok dan spesimen.
300 < T 400
T ditentukan sebesar 350
0
C.
(4) Rasio Kapasitas Nominal Tersisa yang di-
estimasi berdasarkan FDF
= 61 73%
(5) FDF ditentukan sebesar 61% (batas bawah)
Protecting Structures from Fire Severity
Repairability of Fire-Damaged Structures Yoppy Soleman, 2005
4
Gambar 4. Diagram tegangan-regangan balok bertulangan rangkap
Tabel 2. Hasil Perhitungan Kapasitas Momen Pra-Kebakaran
ND
1
=
0.85.fc'.a.b.
Cond. 1 or 2
ND
2
=
As'.fs'.
Cond. 1 or 2:
END =
0.85.fc'.a.b
+ As'.fs'.
Cond. 1 or 2:
NT =
As.fy.
Kontrol:
IF END
= NT
==>
OK!
M
n1
=
ND
1
.z
1
=
ND
1
.(d-
a/2)
M
n2
=
ND
2
.z
2
=
ND
2
.(d-
d')
EM
n
=
M
n1
+
M
n2

M
R
=
0.80.EM
n
kN kN kN kN kN.m kN.m kN.m kN.m
595.0 482.5 1077.6 1077.6 256.7 200.7 457.4 365.91
Dari tabel 2 bisa dilihat kapasitas tahanan momen teoretik pra-kebakaran, MN =
457.4 kNm, dan kapasitas tahanan momen izin, MR = 365.91 kNm.
B. P e r h i t u n g a n K a p a s i t a s Mo me n B a l o k P a s c a - K e b a k a r a n
B.1. Reduksi tegangan kompresif beton, fc
Untuk meningkatkan validitas estimasi tegangan kompresif beton sisa fc
R
maka perlu meninjau/membandingkan pendekatan berdasar perubahan
warna ( G a mb a r 1 ) dengan data-data penelitian lainnya, sbb:
Kurva rectilinear hubungan temperatur-reduksi tegangan kompresif
dalam Chap. 8 akan digunakan sebagai prosedur kedua. Apabila
merujuk ( G a m b a r 5 ) maka untuk beton berkepadatan normal, pada
temperatur 400
0
C dapat ditarik garis vertikal ke kurva rectilinear untuk
memperoleh nilai aproksimasi faktor reduksi kekuatan kompresifr beton
sebesar 0.75, atau,
75 . 0
0
=
cT
cu
f
f
Protecting Structures from Fire Severity
Repairability of Fire-Damaged Structures Yoppy Soleman, 2005
5
Gambar 5. Hubungan temperatur faktor reduksi tegangan kompresif
untuk beton kepadatan normal (wc 23.544 kN/m
3
)
Suatu faktor sebesar 0.75 yang diperoleh melalui prosedur ini berarti bahwa
FDF yang ditentukan berdasar observasi visual perubahan warna (data
penelitian pertama) yang besarnya 61% terlalu konservatif (aman).
Kita melanjutkan dengan data penelitian ketiga (prosedur 3)
Kurva hubungan temperatur-persentase tegangan kompresif sisa yang
dihasilkan oleh 4 peneliti (Malhotra, Waubke, Abrams, Schneider).
Apabila merujuk ( G a m b a r 6 ) maka untuk beton berkepadatan normal,
pada temperatur 400
0
C dapat ditarik garis vertikal ke kurva rectilinear
untuk memperoleh nilai aproksimasi faktor reduksi kekuatan kompresif
yang masing-masing sebesar,
62 . 0
0
=
cT
cu
f
f
Malhotra
70 . 0
0
=
cT
cu
f
f
Waubke
88 . 0
0
=
cT
cu
f
f
Abrams
86 . 0
0
=
cT
cu
f
f
Schneider
Faktor reduksi yang diperoleh dari kurva penelitian Malhotra (62%) praktis
sama dengan batas bawah FDF (61%). Sedangkan hasil-hasil penelitian 3
peneliti lainnya, faktor reduksi kekuatan kompresif jauh lebih kecil. Maka
tetap dapat disimpulkan bahwa FDF yang ditentukan berdasarkan
observasi visual perubahan warna sangat konservatif (aman).
Kita melanjutkan dengan data-data penelitian keempat.
Beberapa peneliti juga memberikan angka reduksi yang lebih rendah,
yaitu:
(1) A. Partowiyatno: FDF 80% pada temperatur 400
0
C
(2) Crozier, Sanjayan, Lie FDF 65.8% pada temperatur 400
0
C
Protecting Structures from Fire Severity
Repairability of Fire-Damaged Structures Yoppy Soleman, 2005
6
Gambar 6. Hubungan temperatur persentase tegangan kompresif dari 4
peneliti.
Setelah memeriksa beberapa data penelitian yang diberikan di atas maka
kita bisa menyimpulkan bahwa estimasi tegangan kompresif beton tersisa
(compressive residual strength) berdasarkan FDF sebesar 61% adalah
valid dan relevan. Maka:
------------------------------------------------------------
Tegangan kompresif beton pasca-kebakaran:
- fc
R
= 0.61 (25) = 15.25 MPa
------------------------------------------------------------
B.2. Reduksi tegangan leleh baja tulangan, fy
Bagian tarik dari tipikal beton bertulang dihasilkan oleh kekuatan tarik baja
tulangan dan perlekatannya dalam massa beton. Akan tetapi walaupun
aliran panas (konduktif) yang menerobos tipikal beton bertulang memiliki
isoterm yang sama untuk massa beton dan batang-batang tulangan baja,
efek pemanasan terhadap kehilangan kekuatan pada kedua material
tersebut berbeda. Harus diingat bahwa perbedaan karakteristik diantara
keduanya. Massa beton (yang berkualitas baik) boleh dikatakan tidak
mengalami pelumeran, tetapi mengalami pengelupasan, kerontokan atau
keretakan pada temperatur diatas 800
0
C. Pada temperatur tersebut, kuat
tekan kompresif beton hanya tinggal 20% ( Gbr . 6) . Sebaliknya baja
tulangan, karena memiliki titik leleh/lumer (melting point) yang jelas, yaitu
1460
0
C, maka lewat dari temperatur tersebut baja tulangan segera lumer.
Berdasarkan observasi visual warna spesimen (Gambar 3) dapat dipastikan
bahwa temperatur minimal 350
0
C telah menerobos lapisan beton setebal 8
cm, dengan demikian mengindikasikan capaian temperatur tulangan baja
yang setara. Untuk menentukan kehilangan tegangan tarik tulangan baja
dapat menggunakan rumus atau plot grafik ( G a mb a r 7 ) . Rumus hubungan
temperatur-tegangan leleh (SNI 03-1729-2002, pasal 14.4.1) dan hubungan
Protecting Structures from Fire Severity
Repairability of Fire-Damaged Structures Yoppy Soleman, 2005
7
temperatur modulus elastisitas (SNI 03-1729-2002, pasal 14.4.2).
Hubungan kenaikan temperatur dan tegangan luluh dinyatakan sebagai:
690
905
) 30 (
) ( T
fy
T fy
= untuk C T C
0 0
905 215 s <
dimana:
) (T fy = tegangan luluh pada temperatur T (
0
C)
) 30 ( fy = tegangan luluh pada temperatur 30
0
C = 350 MPa
T = temperatur baja yang terjadi (
0
C) = 350
0
C
Hubungan kenaikan temperatur dan modulus elastis bahan baja dinyatakan
sebagai:

|
.
|

\
|
+ =
1100
ln 2000
0 . 1
) 30 (
) (
T
T
E
T E
untuk C T C
0 0
600 0 s <
dimana:
) (T E = modulus elastis baja pada T (
0
C)
) 30 ( E = modulus elastis baja pada 30
0
C = 2x10
5
MPa.
Plot grafik kedua rumus ini diberikan dalam (Gambar 7).
Gambar 7. Grafik hubungan temperatur rasio tegangan luluh baja
tulangan berdasarkan SNI 03-1729-2002.
Selanjutnya hubungan kenaikan temperatur dan penurunan tegangan luluh
tulangan baja akan dibandingkan dengan data hasil penelitian Malhotra
( G a mb a r 8 ) .
Protecting Structures from Fire Severity
Repairability of Fire-Damaged Structures Yoppy Soleman, 2005
8
Gambar 8. Grafik hubungan temperatur rasio tegangan luluh baja
dan kabel pratekan dari penelitian Malhotra.
Aproksimasi grafik untuk rasio tegangan luluh sisa masing-masing sebesar
0.80 (menggunakan grafik SNI) dan 0.83 (menggunakan grafik hasil
penelitian Malhotra). Dan, karena pada prinsipnya kita perlu menggunakan
estimasi yang lebih aman maka digunakan estimasi SNI yang sedikit lebih
rendah.
--------------------------------------------------------------------------------------------------
Tegangan luluh tulangan baja pasca-kebakaran:
- MPa fy fy 52 . 281 ) 30 (
690
) 350 905 (
) 350 ( =

= 0.80 (350)
Modulus elastisitas baja pasca-kebakaran:
- ( ) ) 10 2 ( 847 . 0 169436 10 2
1100
350
ln 2000
350
0 . 1 ) 350 (
5 5
x MPa x E ~ =

|
.
|

\
|
+ =
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Tabel 3. a. Perhitungan Kapasitas Momen Pasca-Kebakaran
Lebar
Balok, b
Tinggi
Balok, h
Diameter
Tulangan
Tarik, |D
Diameter
Tulangan
Geser, |S
Tebal
Selimut
Beton, s
d = h -
(s+1/2.|
D+|S)
d' = 40
+ |S +
1/2.|D'
fc' fy
mm mm mm mm mm mm mm MPa MPa
300 540 28 8 40 478.0 62.0 15.25 281.52
Protecting Structures from Fire Severity
Repairability of Fire-Damaged Structures Yoppy Soleman, 2005
9
Tabel 3.b. Lanjutan Perhitungan
Es =
0.847x2x10
5
MPa =
169436
Mpa
Ec =
4700.fc'
0.5
Diameter
Tulangan
Tarik atau
Tulangan
Positif, |D
ns
=Jumlah
Batang
Tulangan
Tarik
Diameter
Tulangan
Tekan
atau
Tulangan
negatif,
|D'
ns'
=Jumlah
Batang
Tulangan
Tekan
Luas
Tulangan
Tarik
Terpasang
As
Luas
Tulangan
Tekan
Terpasang
As'
MPa MPa mm - mm - mm
2
mm
2
169436 18354 28 5 28 3 3078.8 1847.3
Tabel 3.c. Lanjutan Perhitungan
ND
1
=
0.85.fc'.a.
b.
Cond. 1 or 2
ND
2
=
As'.fs'.
Cond. 1 or 2:
END =
0.85.fc'.a.b
+ As'.fs'.
Cond. 1 or 2:
NT =
As.fy.
Kontrol:
IF END =
NT ==>
OK!
M
n1
=
ND
1
.z
1
=
ND
1
.(d-
a/2)
M
n2
=
ND
2
.z
2
=
ND
2
.(d-
d')
EM
n
=
M
n1
+
M
n2
M
R
=
0.80.EM
n
kN kN kN kN kN.m kN.m kN.m kN.m
404.0 462.7 866.7 866.7 172.1 192.5 364.6 291.7
Kapasi tas t ahanan momen t eoreti k pasca-kebakaran:
MN
F
= 364.6 kNm
Kapasi tas t ahanan momen i zi n pasca-kebakaran:
MR
F
= 291.7 kNm 0.797 MR
Hasil estimasi/penilaian tingkat kerusakan struktur pasca-kebakaran berdasarkan
observasi visual perubahan warna spesimen.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Reduksi kapasi t as t ahanan momen bal ok sebesar 20. 3%.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Pr o s e d u r 2
Hasil perhitungan estimasi/taksiran yang tersebut ini akan dibandingkan
dengan teknik berikutnya yang tidak konservatif karena menggunakan
isoterm distribusi temperatur berdasarkan ketebalan (jarak) lapisan terluar
ke suatu titik tertentu di dalam tipikal ( G a mb a r 9 ) .
- Berdasarkan observasi warna permukaan (merah-muda muda) dapat
ditegakkan estimasi temperatur maksimum 400
0
C.
- Menggunakan skema distribusi isoterm untuk balok dengan lebar balok
b (Gambar 9)
Protecting Structures from Fire Severity
Repairability of Fire-Damaged Structures Yoppy Soleman, 2005
10
Gambar 9. Isoterm distribusi temperatur pada
tipikal balok persegi, b = 300 mm.
Dalam pemeriksaan pasca-kebakaran balok dan pelat, daerah tarik adalah bagian yang
hampir pasti akan mengalami kerusakan lebih dulu, sedangkan daerah tekan akan
tetap mempertahankan sebagian besar kekuatannya. Dalam konstruksi menerus,
bagian tekan juga bisa terpapar panas langsung dan perlu diperiksa dengan cermat.
Untuk kolom-kolom beton, sisi-sisi luar akan menderita kerusakan lebih besar sehingga
mengurangi kapasitas kompresif kolom. Dalam penaksiran kekuatan sisa pasca-
kebakaran, pengambilan/pemotongan inti balok dan kolom kadang-kadang perlu
dilakukan, yang sekaligus digunakan untuk observasi perubahan warna.
Teknik/Prosedur Pengujian Kekuatan Menggunakan Instrumen
Metoda-metoda penaksiran kekuatan struktur beton bertulang pasca-kebakaran dengan
alat-alat yang umum digunakan dalam uji beton adalah sebagai berikut:
A. Non- Des t r uc t i v e Te s t
1. Tes PUNDIT (=Portable Ultrasonic Non-Destructive Digital Indicating Tester)
Suatu metoda gelombang suara yang terdiri dari trasmitter dan transducer.
Prinsipnya adalah menghitung kecepatan perambatan gelombang dalam elemen
beton sehingga karakteristik material dapat dievaluasi, yaitu:
- Uniformitas massa beton dan rasio poisson
- Keretakan
- Rongga/Lubang
Gambar 10.a. PUNDIT-6 Gambar 10.b. PUNDIT Plus
Batang tulangan
Protecting Structures from Fire Severity
Repairability of Fire-Damaged Structures Yoppy Soleman, 2005
11
Gambar 10.c. Jenis-jenis tranduser PUNDIT
2. Concrete Test Hammer (Palu Uji Beton)
Instrumen (digital atau manual) yang dengan suatu aplikasi cepat (langsung)
dapat menentukan kuat kompresif beton. Kekuatan beton akan langsung
diketahui berdasar bacaan angka pantulan instrumen.
Gambar 11.b. Palu Uji Beton (digital)
Gambar 11.a. Palu Uji Beton (Schmidt Hammer Test, manual)
3. Uji Termoluminesans
Pengujian ini mengambil sedikit sampel mortar semen dari spesimen untuk
menentukan pencapaian temperatur pada sampel. Dasar kimiawi teknik ini
adalah adanya perubahan progresif struktur mineral silica karena temperatur
tinggi.
A. Des t r uc t i v e Tes t / Mec hani c Tes t
1. Pengeboran inti beton (concrete core drilling)
2. Uji kuat tarik tulangan baja
Beberapa Catatan tentang Beton Pratekan
Dalam hal kabel pratekan atau tendon, ada 2 pokok penting harus ditentukan:
(1) Kabel pratekan mengalami kehilangan kekuatan yang lebih besar akibat
kenaikan temperatur dari tulangan beton bertulang biasa (Chap. 6)
(2) Proses relaksasi kabel pratekan bisa menimbulkan deformasi permanen dan
berakibat pada kehilangan gaya pratekan.
Protecting Structures from Fire Severity
Repairability of Fire-Damaged Structures Yoppy Soleman, 2005
12
Karena itu, estimasi temperatur pada tendon dan kabel pratekan merupakan sesuatu
yang sangat penting. Suatu estimasi tegangan ultimit sisa dan batas proporsional
tegangan-regangan diperlukan untuk menentukan kemampuan struktur apabila akan
digunakan kembali.
Menentukan Tingkat Kerusakan dan Prosedur Perbaikan
Klasifikasi Kerusakan
Berdasar observasi, estimasi, penaksiran dan atau pengujian seperti yang dijelaskan
sebelumnya, Concrete Society (ref: Malhotra) mengklasifikasikan tingkat kerusakan
beton bertulang/pratekan dalam 4 strata, sbb:
Class 1 -- Kerusakan permukaan yang ringan, tidak memerlukan perbaikan
serius
Class 2 -- Kerusakan lapis permukaan sedang dengan tanpa atau hanya
sedikit mempengaruhi kekuatan struktural
Class 3 -- Kerusakan yang substansial, memerlukan perbaikan dan
penggantian parsial.
Class 4 -- Kerusakan berat, sangat memerlukan penggantian dan perbaikan
Klasifikasi kerusakan beton yang sedemikian ini kurang jelas sebab tidak mendefinisikan
seperti apa tepatnya bentuk atau karakteristik yang dimaksud. Maka klasifikasi tingkat
kerusakan pada elemen-elemen beton dikembangkan menjadi 5 level, sbb:
Class 1 -- Retak-retak halus/minor
Class 2 -- Keretakan
Class 3 -- Pengelupasan lapisan/selimut beton (spalling)
Class 4 -- Kerontokan
Class 5 -- Kerusakan Tulangan
Teknik Perbaikan
Metoda perbaikan elemen-elemen beton pasca-kebakaran menggunakan teknik atau
prosedur yang umum dan pada prinsipnya serupa dengan perbaikan kerusakan beton
oleh faktor-faktor lainnya (seperti gempa, proses fatique, pengaruh kelembaban,
dsb.nya). Maka beberapa prosedur perbaikan yang dihubungkan dengan derajat
kerusakan dapat diberikan sbb:
Tabel 4. Ringkasan Teknik
2
Perbaikan Elemen Beton Pasca-Kebakaran
Level
Kerusakan
Deskripsi Teknik Perbaikan Prosedur Material yang
digunakan
Class 1 Perbaikan kosmetik dengan
material penyelesaian
P
1
Semen portland,
Gypsum, Tamcrete
30HB, Semprotan
gunite*, Injeksi Epoxy,
Semen Latex
(Quickcrete)
Class 2 Injeksi Epoxy P
1
+ P
2
Class 3
Menambal bidang yang
terkelupas
P
1
+ P
2
+
P
3
Class 4
Membuang dan mengganti
bagian yang rusak
P
1
+ P
2
+
P
3
+ P
4
Class 5
Mengeluarkan, mengganti
tulangan atau menambah
tulangan baru (retrofit)
P
1
+ P
2
+
P
3
+ P
4
+
P
5
* (Aplikasi dari pasir kering+ PC+air yang disemprot menggunakan kompresor)
Protecting Structures from Fire Severity
Repairability of Fire-Damaged Structures Yoppy Soleman, 2005
13
Beberapa material perbaikan yang direkomendasikan diatas dapat diberikan disini:
Tamcrete 30B Lightweight cementious mortar
Informasi Teknis
Epoxy Resin Injection (Polyurethane elastometric foam)
Gambar 12.a. Kit Injeksi Epoksi Gambar 12.b. Dispenser
Untuk penanggulangan class kerusakan 5 yaitu penggantian tulangan dan penambahan
tulangan baru (retrofitting) bisa dikerjakan seperti skema dibawah ini:
Gambar 13. Retrofitting (perkuatan) tipikal dengan pembesaran
dimensi dan penambahan tulangan.
Protecting Structures from Fire Severity
Repairability of Fire-Damaged Structures Yoppy Soleman, 2005
14
Penilaian Kerusakan Struktur Baja
Pada dasarnya, seperti halnya beton, kekuatan baja akan berkurang dengan kenaikan
temperatur. Tetapi konstruksi baja lebih mempunyai batas kekuatan yang jelas karena
merupakan material fabrikasi yang uniform, sedang beton bertulang harus selalu
dianalisis sebagai aksi komposit.
Secara umum ada 2 tipe struktur baja yang perlu dipertimbangkan dalam perbaikan
pasca-kebakaran, sbb:
1. Konstruksi pabrik berlantai satu
2. Konstruksi portal baja
Pasca kebakaran, konstruksi pabrik berlantai satu biasanya memberi petunjuk terjadinya
kerusakan hebat. Atap mengalami kerusakan, rangka purlin terpuntir, dan rusuk-rusuk
seringkali telah terlepas. Dalam kebakaran hebat, seluruh kerangka mungkin telah
mengalami distorsi.
Tipe konstruksi portal berlantai banyak yang dipergunakan untuk gedung sekolah dan
bangunan rakitan dan yang menggunakan konstruksi proteksi langit-langit dapat
mencegah rusaknya kerangka baja sehingga hanya mengalami kerusakan minimal.
Konstruksi portal berlantai banyak juga mampu bertahan dalam kebakaran.
Dalam konstruksi bangunan portal baja, biasa menggunakan tipikal baja lunak yang
digulung, tetapi sekarang pilihannya adalah menggunakan material baja lunak (Grade
43A) dan baja paduan (Grade 50B). Peneliti Smith telah menguji karakteristik baja-baja
tersebut dan menunjukkan bahwa apabila dipanaskan sampai 500
0
C, reduksi kekuatan
tidak kurang dari tegangan aplikasi, dan modulus elastisitasnya tidak berkurang hingga
lebih dari 600
0
C. Konsekuensinya, apabila tipikal baja telah diproteksi sedemikian rupa
maka tidaklah mungkin terjadi kegagalan pada temperatur 550
0
C. Uji tipikal balok yang
diproteksi dari Grade 43A dan 50B menunjukkanj bahwa pada saat mengalami
kegagalan, temperatur flens boleh mencapai 700
0
C, sedangkan untuk baja tak
diproteksi temperatur mencapai kira-kira 650
0
C sebelum mengalami kegagalan.
Temperatur kegagalan yang lebih rendah dari baja tanpa proteksi mungkin
berhubungan dengan tingkat pemanasan yang lebih cepat, sebagaimana ditunjukkan
pada Bab 6. Uji tegangan sisa menunjukkan bahwa dalam kedua kasus, apabila tidak
terjadi kegagalan atau ketidakstabilan, maka pada saat pendinginan menuju kondisi
semula, struktur akan memperoleh kembali sebagian besar kekuatannya (Gambar 14).
Beberapa bangunan tua mungkin menggunakan kolom-kolom dari besi tempa.
Pengujian menunjukkan bahwa kekuatan baja tuang akan berkurang menjadi 50% pada
kira-kira 600
0
C, sesudah itu kehilangan kekuatan terjadi lebih cepat daripada baja lunak.
Peneliti Smith juga sudah menguji tipikal baja dari bangunan-bangunan pasca-
kebakaran dan mendapatkan beberapa data dalam Tabel 5.
Tabel 5. Tegangan sisa (N/mm
2
= MPa) baja lunak (kadar karbon 0.15-0.29%)
Referensi Data
Kekuatan Aktual
Kekuatan yang
Dispesifikasikan
Luluh (MPa) Tarik (MPa) Luluh (MPa) Tarik (MPa)
Kebakaran A 242 - 307 444 - 469 247 432 - 510
Kebakaran B 235 - 258 359 - 422 247 432 - 510
Tes Bakar 262 - 382 396 - 478 255 430 - 510
Jelas sekali dari contoh yang diberikan ini bahwa dalam banyak kasus, hanya sedikit
bukti tentang adanya kehilangan kekuatan permanen dari struktur baja yang tidak gagal
dalam kebakaran. Ketegaran struktur memberi pengaruh signifikan terhadap deformasi
selama kebakaran. Bila suatu tipikal baja ditahan sempurna, suatu ekspansi yang timbul
Protecting Structures from Fire Severity
Repairability of Fire-Damaged Structures Yoppy Soleman, 2005
15
dari temperatur 1000C bisa menyebabkan tegangan yang cukup tinggi dalam tipikal
sehingga luluh. Jadi, dalam praktek struktur memiliki suatu tingkat fleksibilitas dan
bahkan sekalipun perletakkan jepit digunakan, tidak diperbolehkan suatu tingkat
kekangan yang lebih dari 50 - 60%. Deformasi tipikal akan menyebabkan suatu reduksi
pada tegangan-tegangan yang ditimbulkan oleh temperatur.
Gambar 14. Hubungan angka kekerasan Brinnel dengan kekuatan baja
Tidak ada metoda observasi visual untuk menentukan bilamana suatu tipikal pasca-
kebakaran telah kehilangan kekuatannya. Suatu metoda non-destruktif yang sederhana
dapat dipakai menggunakan teknik identasi yang biasanya diterapkan untuk
menentukan tingkat kekerasan. Instrumen jinjing bisa digunakan untuk mendapatkan
angka kekerasan Brinnel yang mempunyai hubungan langsung dengan kekuatan tarik
baja (Gambar 14). Juga terdapat hubungan langsung antara tegangan tarik dan
tegangan luluh untuk setiap tipe baja, dengan demikian adalah mungkin untuk
menentukan tegangan luluh berdasarkan angka kekerasan Brinnel.
Struktur yang rusak sebagian membutuhkan pengujian yang lebih cermat sebelum suatu
keputusan dibuat apakah suatu elemen tetap dipertahankan atau perlu diganti. Apabila
suatu elemen terdistorsi, misalnya terdistorsi dalam besaran yang tidak signifikan
(dalam kisaran L
360
1
), maka elemen demikian bisa digunakan kembali. Bila defleksi
melebihi batas ini maka masih mungkin memperkuat. Selanjutnya, temperatur yang
telah dicapai dalam suatu tipikal harus diestimasi. Bila temperatur tidak melebihi 600
0
C,
maka boleh diasumsikan bahwa tidak ada kehilangan tegangan yang signifikan. Untuk
Protecting Structures from Fire Severity
Repairability of Fire-Damaged Structures Yoppy Soleman, 2005
16
elemen-elemen yang dilapis, apabila pelapis tetap berada dalam posisinya maka
tidaklah mungkin temperatur telah melampaui 600
0
C.
Apabila tidak dimungkinkan mengestimasi temperatur baja maka perlu menggunakan uji
mekanik. Bisa menggunakan tes kekerasan Brinnel dengan instrumen jinjing atau
dengan suatu potongan kecil tipikal dalam pengujian laboratorium.
Teknik/Prosedur Pengujian Kekuatan Menggunakan Instrumen
Metoda-metoda penaksiran kekuatan struktur baja pasca-kebakaran dengan alat-alat
yang umum digunakan dalam pengujian metal adalah sebagai berikut:
A. Des t r uc t i v e Tes t
1. Tes Kekerasan Brinell (Brinell Hammer Test)
Suatu metoda penumbukan (mekanik) untuk mengetahui tingkat kekerasan
makro (macro hardness) suatu material dengan cara mengukur kedalaman
penetrasi pelekuk (indenter). Setelah menumbukkan ujung instrumen Brinell
(terbuat dari suatu bentuk bulat dari baja yang diperkeras atau intan, Vickers
Hardness) ke dalam suatu material, kedalaman lekukan atau diameter diukur dan
angka kekerasan Brinell dihitung berdasar formula:
Dt
P
BHN
t
=
dimana:
BHN = Brinell Hardness Number
(angka kekerasan Brinell)
P = Gaya/beban aplikasi (kgf=N)
D = diameter pelekuk/indenter (mm)
t = kedalaman lekukan (mm)
Alat uji tipikal menggunakan bola baja diameter 10 mm sebagai pelekuk
(indenter) dengan aplikasi gaya sebesar 3000 kgf (29 kN). Untuk material yang
lebih lunak digunakan gaya yang lebih kecil dan untuk material yang lebih keras
digunakan bola tungsten carbide.
Gambar 15.a. Skema Pengujian
Gambar 15.b. Brinell Portable Unit
Beberapa nilai-nilai tipikal angka kekerasan Brinell diberikan dalam Tabel 6.
Protecting Structures from Fire Severity
Repairability of Fire-Damaged Structures Yoppy Soleman, 2005
17
Tabel 6. Nilai karakteristik BHN (Brinell Hardness Number) dan Kekerasan
Vickers HV dari beberapa material. Untuk Tungsten Carbide, Titanium
Carbide, Intan dan Pasir menggunakan skala Vickers HV
(indenter dari intan berbentuk piramida)
Material
Spesifikasi Pelekuk dan Gaya BHN (angka
kekerasan
Brinell)
Indenter/ pelekuk Gaya
Aplikasi (kgf)
Kayu lunak (pinus) Bola baja 10 mm 100 1.6
Kayu keras Bola baja 10 mm 100 2.6 7.0
Aluminium murni Bola baja 10 mm 3000 15
Tembaga murni Bola baja 10 mm 3000 35
Baja lunak Bola baja 10 mm 3000 120
304 Stainless Stell Bola baja 10 mm 3000 250
Kaca Bola baja 10 mm 3000 550
Alat-alat Baja yang
diperkeras
Bola baja 10 mm 3000 650 - 700
Pelat Chromium
keras
Bola baja 10 mm 3000 1000
Tungsten Carbide Intan piramida 1400*
Titanium Carbide Intan piramida 2400*
Intan Intan piramida 8000*
Pasir Intan piramida 1000*
* Angka kekerasan Vickers
Untuk material yang lebih keras dari pelat chromium maka harus menggunakan
Pengujian Vickers menggunakan indenter (pelekuk) dari intan berbentuk
piramida. Berdasarkan prinsip bahwa goresan/lekukan yang dihasilkan pelekuk
secara geometrik serupa dengan beban. Maka pembebanan yang bervariasi
yang bergantung kekerasan material digunakan. Formula:
2
854 . 1
D
F
HV =
dimana:
HV = Vickers Hardness
(kekerasan Vickers)
P = Gaya/beban aplikasi (kgf=N)
D = ukuran diagonal goresan/lekukan yang
dihasilkan indenter/pelekuk (mm)
2. Uji Kuat tarik mekanik
Penilaian Kerusakan Dinding-Batu
Dinding batu biasanya dirangkai dengan struktur beton, baja atau kayu. Konstruksi
dinding-batu biasanya tahan terhadap paparan panas (apabila mempunyai ketebalan
yang cukup, misalnya min. 30 cm dan menggunakan aggregat batu gamping) tanpa
mengalami banyak kerugian. Masalah timbul apabila elemen lainnya, khususnya balok
dan slab,mengalami ekspansi. Suatu profil baja dengan panjang 20 meter bisa
mengalami ekspansi sebanyak 150 mm apabila temperatur mencapai 500
0
C. Hal ini
bisa menyebabkan deformasi dinding batu terhadap apa yang didukungnya, dan
sebagai konsekuensinya terbentuk lubang-lubang pada dinding atau dinding mengalami
pergeseran.
Protecting Structures from Fire Severity
Repairability of Fire-Damaged Structures Yoppy Soleman, 2005
18
Apabila dinding batu tidak gagal/runtuh dalam peristiwa kebakaran, tidak terjadi
deformasi yang signifikan dan hanya terjadi retak-retak kecil, maka dapat digunakan
kembali. Apabila terjadi deformasi signifikan atau retak hebat maka tidak ada alternatif
selain menghancurkan dan menggantinya.
---
Referensi :
- H. L. Malhotra (Fire Resistant Structures)
- Laura Lowes (University of Washington)
- Syntheses and Review of Past Practice and Work
- Fire Resistance of Concrete Homes
- Tamcrete 30HB Lightweight Cementious Material
- Master Thesis: Irma Aswani, Y.S. Tikupasang