Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM PENGANTAR USAHA TANI Sejarah Usaha Tani, Transek Desa dan Profil Petani

Disusun Oleh: Yunita Erlina Carla Leany Sapulete Wibowo Dwi Saputra Aminatus Sholikah 115040200111003 115040200111195 115040201111142 115040213111035

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013

I.

PENDAHULUAN

Usaha tani merupakan suatu kegiatan bagaimana seorang petani mengalokasikan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien untuk memperoleh keuntungan yang optimal pada waktu tertentu. Keputusan-keputusan dalam usaha tani cenderung dipengaruhi oleh kehidupan sosial masyarakat da lingkungan serta berorientasi pada keluarga. Sejarah usaha tani pada suatu daerah, letak geografis daerah serta berbagai macam profil petani penting dipelajari karena hal tersebut akan sangat membantu untuk mengetahui bagaimana keadaan pertanian pada suatu daerah. Dalam hal ini, Kota Batu sebagai salah satu kawasan agropolitan merupakan tempat yang tepat untuk dijadikan sebagai lokasi sasaran. Pengembangan kawasan agropolitan di Kota Batu terdapat pada beberapa kawasan pertanian yang kondisi fisik, sosial budaya dan ekonominya cenderung kuat mengarah ke kegiatan pertanian. Keberadaan gunung, hutan, dan hamparan pertanian yang mendominasi keruangan Kota Batu, sangat sesuai untuk pengembangan wisata alam terkait dengan potensi yang ada di gunung, hutan, dan kawasan pertaniannya. Selain itu sebagai kota yang dikenal dengan komoditas apelnya, pemandangan alam, air terjun, sumber air panas, agrowisata, wisata petualangan, pemanfaatan pekarangan rumah penduduk yang sebagian besar digunakan untuk tanaman bunga, apel, apotik hidup, dan lain sebagainya, sehingga menjadi daya tarik tersendiri dari segi wisata dan lingkungan hidup di samping nilai ekonomis (Rahayu, 2012). Adapun keterangan dari petani responden yang diwawancarai sebagai sumber masukan informasi salah satu kegiatan usaha tani apel di Kota Batu adalah sebagai berikut : Nama Petani Kecamatan Desa Dusun RT/RW Kota/Kabupaten Provinsi Komoditas : Siarno : Bumiaji : Punten : Gempol : 05/04 : Batu : Jawa Timur : Apel Manalagi

Nama Kelompok Tani : Karya Tani Tanggal Wawancara : 14 November 2013

II.

PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Usaha Tani 1. Sejarah Pertanian di Desa Bapak Siarno (63 tahun), selaku salah satu petani apel di Dusun Gempol, Desa Punten, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu menjelaskan bahwa sejak tahun 1950 (beliau lahir) usaha tani di daerah tersebut telah didominasi oleh apel sebagai komoditas utama. Hal ini terjadi selain karena daya dukung lingkungan di daerah tersebut sesuai dengan syarat tumbuh apel juga karena usaha tani apel adalah usaha yang menjanjikan, banyak keuntungan yang didapat petani yang mengusahakannya. Sebagai bukti bahwa berusaha tani apel merupakan usaha yang menguntungkan dapat dilihat dari kondisi daerah setempat dimana pada kanan kiri sepanjang jalan utama Kecamatan Bumiaji, Malang lahan-lahan pertanian banyak yang ditanami tanaman apel dengan sedikit petani yang menanam tanaman semusim seperti wortel, kentang dan kubis. Beberapa tahun terakhir, di Desa Punten memang jarang sekali warga yang menanami lahannya dengan apel. Perlahan, mereka mulai merubahnya dengan Jeruk Keprok yang konon jenis bibit tanaman aslinya memang berasal dari Desa Punten. Kepala Dusun Payan, Desa Punten, Sapari (dalam BAPEMAS Provinsi Jawa Timur (2012), mengakui, komoditas jeruk keprok memang men-jadi favorit petani di Desa Punten sejak enam tahun terkahir. Mungkin bagi petani, selain perawatan mudah, harga jeruk keprok lebih membawa keuntungan ekonomis daripada apel, katanya. Selain itu, anomali cuaca juga turut menjadi faktor alasan petani apel beralih ke jeruk keprok. Hujan yang tidak menentu membuat perawatan tanaman apel lebih sulit. Justru sebaliknya, hujan akan lebih baik bagi tanaman jeruk keprok. Perbandingan perawatan tanaman jeruk keprok dengan tanaman apel adalah 1 banding 3. Jika apel disemprot 3 kali, jeruk keprok hanya sekali tambahnya. Beberapa hal yang menjadi alasan beberapa warga beralih kepada jeruk keprok tersebut tidak lantas membuat Bapak Siarno untuk meninggalkan usaha tani apel yang telah digelutinya kurang lebih selama 34 tahun ini karena usaha tani apel tetap dirasa menguntungkan baginya.

Gambar 1. Kondisi kebun apel Bapak Siarno (2000 m2).

2. Sejarah Usaha Tani Petani Bapak Siarno (63 tahun), lahir di Bumiaji sebagai anak seorang petani apel pada saatnya. Ayah dari Bapak Siarno juga mengusahakan pertanian apel (tidak disebutkan berapa luasan lahannya) yang pada akhirnya dari perkebunan apel milik sang ayah ini Bapak Siarno memperoleh bibit apel untuk usaha taninya dari kegiatannya melakukan stek-stek pada batang apel yang dianggap beliau bagus digunakan sebagai bibit apel. Apel yang ditanam adalah apel Varietas Manalagi. Bapak Siarno memiliki 6 area kebun apel yang masing-masing memiliki luasan 100 m , 3500 m2, 3000 m2, 500 m2 dan 2000 m2 (kebun yang diamati adalah kebun samping toko milik Bapak Siarno seluas 2000 m 2). Kebun apel tersebut dibelinya secara bertahap. Jika di kurskan dengan harga tanah di daerah tersebut sekarang, maka Bapak Siarno membeli lahan dengan harga 300.000 rupiah setiap meter persegi. Untuk kebun apel yang pertama kali dibeli adalah kebun seluas 3500 m2, dan untuk kebun-kebun yang lain dibeli dari keuntungan usaha tani apel dari kebun seluas 3500 m2 tersebut. Bapak Siarno menerima lahan yang dibeli dengan tanaman yang dibudidayakan adalah padi, bawang dan jagung secara bergantian. Bapak Siarno juga sempat mengusahakan komoditas tersebut sebelum dirasa bahwa usaha tani tersebut dirasa kurang menguntungkan sehingga diganti dengan komoditas apel yang lebih menjanjikan.
2

2.2 Transek Desa

Toko dan kebun petani responden

Gambar 2. Transek Desa Punten, Kecamatan Bumiaji. Keterangan : : arah ransek : rumah warga : tanaman apel : tanaman semusim : jalan utama

Gambar 3. Lokasi kebun apel Desa Punten, Kecamatan Bumiaji. Dari gambar tersebut terlihat bahwa salah satu kebun Bapak Siarno (2000 m2) Dusun Gempol, Desa Punten, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu terletak disamping kiri toko yang beliau miliki. Tempat tersebut berada pada kelerengan yang tidak curam sementara itu, setelah melewati toko dan kebun tersebut, maka jalanan akan mulai naik ke dataran yang lebih tinggi lagi. Menurut Rahayu (2012), Kecamatan Bumiaji (terutama pada sebagian kecil desadesa yang ada di wilayah Kecamatan Bumiaji) merupakan wilayah dengan ketinggian 600 1.000 m dpl dengan total wilayah seluas 6.019,21 Ha. Berdasarkan letak geografis, Kota Batu berada pada posisi 12217,10,90 12257,00,00 Bujur Timur dan 744,55,11 82635,45 Lintang Selatan.

Berdasarkan data dari BAPEMAS Provinsi Jawa Timur (2012), kondisi geografis Desa Punten adalah sebagai berikut : Luas : 281.935 hektare - 39.680 hektare (persawahan) - 59 hektare (pemukiman) - 12.080 hektare (tegalan) - 125 hektare (hutan Negara) - 2.66 hektare (lain-lain, jalan umum dan makam umum) Karakter : Pegunungan, 800 Mdpl

Jumlah penduduk Batas wilayah

: 5.406 jiwa / 1.484 kepala keluarga : Utara : Desa Tulungrejo Utara : Desa Tulungrejo Timur : Desa Sumbergondo dan Desa Bulukerto Selatan : Desa Sidomulyo Kecamatan Batu Barat : Desa Gunungsari

2.3 Profil Petani Responden Bapak Siarno berusia 63 tahun mempunyai riwayat pendidikan terakhir hingga Sekolah Dasar (SD). Pekerjaan utama beliau sebagai seorang petani dengan pekerjaan sampingan sebagai pedagang. Beliau memiliki sebuah toko kelontong yang lumayan ramai didatangi pengunjung karena letaknya yang strategis di samping jalan utama Kecamatan Bumiaji. Jumlah anggota keluarga Bapak Siarno adalah lima orang termasuk beliau, seorang anak laki-laki yang bernama Totok Yulianto (36 tahun) yang memiliki riwayat pendidikan terakhir hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Saat ini Totok Yulianto sedang menjabat sebagai Kepala Dusun disamping pekerjaan utamanya sebagai petani apel bersama dengan ayahnya Bapak Siarno. Bapak Siarno memiliki seorang menantu (Istri dari Totok Yulianto) yang bernama Dwi Estri Wulandari (30 tahun). Pendidikan terakhir yang ditempuhnya juga Sekolah Menengah Atas (SMA). Sehari-hari Dwi Estri Wulandari membantu Bapak Siarno untuk mengelola toko miliknya. Pasangan suami istri Totok Yulianto dengan Dwi Estri Wulandari mempunyai 2 orang anak yaitu El Miko Duta Amordias (11 tahun) yang sekarang sedang duduk di bangku SMP (Kelas I), dan Nabila Arulia Duta Samara (4 tahun) yang sekarang sedang menempuh pendidikan Play Group. Bapak samara tidak mempunyai seorang istri karena telah meninggal dunia 5 bulan yang lalu. Bapak Siarno memiliki 6 areal kebun apel yang masing-masing memiliki luasan 100 m2, 3.500 m2, 3.000 m2, 500 m2 dan 2.000 m2. Total luas lahan yang dimiliki adalah 9.100 m2. Seluruh lahan tersebut merupakan lahan milik sendiri yang diberi secara bertahap. Lahan yang pertama kali dibeli adalah lahan seluas 3500 m2, dan dari keuntungan usaha tani apel pada lahan tersebut beliau dapat membeli lahan-lahan berikutnya. Lahan pertanian yang beliau miliki terletak secara terpisah tergantung dimana tempat orang yang menjual lahan.

Dari jumlah dan lahan yang dimiliki serta secara keseluruhan adalah milik sendiri, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Bapak Siarno bukanlah seorang petani kecil. Bapak Siarno tidak mempunyai usaha ternak sama sekali. Hal ini karena keuntungan Bapak Siarno dari berusaha tani apel dan berdagang telah mampu mencukupi kebutuhan pokok dan kebutuhan lain-lain. Selain itu, seluruh lahan yang dimiliki digunakan sebagai lahan bercocok tanam, sehingga tidak ada lahan yang dapat digunakan sebagai lahan peternakan. Beberapa warga beralih kepada jeruk keprok, namun hal tersebut tidak lantas membuat Bapak Siarno untuk meninggalkan usaha tani apel yang telah digelutinya kurang lebih selama 34 tahun ini karena usaha tani apel tetap dirasa menguntungkan baginya. Selain itu, peran Bapak Siarno dalam kelompok tani yang bernama Karya Tani sebagai bendahara hendaknya dapat menjadi contoh bagi para petani yang lain bahwa berusaha tani apel akan tetap menguntungkan. Dari Kelompok tani yang diikuti Bapak Siarno ini, para petani yang tergabung mendapatkan bermacam-macam informasi tentang bagaimana budidaya tanaman apel yang baik dan bantuan-bantuan yang salah satunya berupa pupuk organik (pupuk kandang) yang diberikan secara cuma-cuma pada para petani sejumlah 40 glangsi per hektar.

Gambar 4. Foto bersama dengan Bapak Siarno.

III.

KESIMPULAN

Sejak tahun 1950 tanaman apel merupakan komditas utama dalam usaha tani di Kota Batu. Terlihat dari transek desa, dimana tanaman apel tumbuh di samping kiri dan kanan jalan ea. Lambat laun petani mengalihkan usahataninya pada tanaman jeruk keprok dikarenakan perubahan iklim dan perawatannya yang lebih mudah. Akan tetapi, tidak jarang beberapa petani masih mengusahakan tanaman apel karena dirasa lebih menguntungkan. Berdasarkan profil petani responden, selain sebagai petani beliau memiliki pekerjaan sampingan yaitu sebagai pedagang. Dengan pendidikan terakhir SD. Rata-rata pendidikan terakhir keluarga yaitu SMA. Jika dilihat dari kepemilikan lahan, beliau bukan merupakan petani kecil. Dimana luasan lahan yang dimiliki hampir 1 hektar yang secara keseluruhan adalah lahan milik sendiri.

DAFTAR PUSTAKA BAPEMAS Provinsi Jawa Timur. 2012. Jeruk Keprok Punten Gantikan Ikon Apel. http://bapemas.jatimprov.go.id/index.php/component/content/article/90-berita/404-profildesa-punten-kec-bumiaji-kota-batu. Diakses tanggal 14 November 2013. Rahayu A. 2012. Thesis : Analisis Status Keberlanjutan Kota Batu sebagai Kawasan Agropolitan. http://eprints.undip.ac.id/37871/2/Tesis.pdf. Diakses tanggal 14 November 2013.