Anda di halaman 1dari 13

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Malaria merupakan penyakit protozoa yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles.

Penyakit ini paling penting diantara penyakit parasit yang terjangkit pada manusia yang menjangkiti 103 negara yang endemis dengan jumlah populasi lebih dari 2,5 milyar orang dan menyebabkan 1 hingga 3 juta kematian setiap tahunnya. Penyakit malaria kini telah terbasmi di Amerika Utara, Eropa, dan Rusia; namun demikian, kendati ada upaya pengendalian yang luar biasa, penyakit ini tampak timbul kembali pada banyak kawasan tropis. Disamping itu resistensi parasit malaria terhadap pengobatan menyebabkan peningkatan permasalahan disebagian besar daerah malaria. Malaria tetap terdapat pada saat ini seperti yang terdapat untuk berabad-abad lamanya, menjadi beban utama bagi masyarakat yang tinggal dikawasan tropis (Horisson, 1999). Malaria ditemukan hampir di seluruh bagian dunia, terutama di negaranegara yang beriklim tropis dan subtropis, seperti beberapa bagian Benua Afrika dan Asia Tenggara. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), memperkirakan saat ini di seluruh dunia sekitar 300 juta sampai 600 juta kasus klinis malaria dijumpai setiap tahun (WHO,2000) dan penyakit menular melalui vektor nyamuk Anopheles tersebut mampu membunuh anak setiap 20 detiknya dan menjadi penyakit paling mematikan (Muhktar, 2003 ). Di Indonesia malaria sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat. Derajat endemisitas malaria di Indonesia berbeda antara satu daerah dengan daerah lain (Pribadi dan Sungkar, 1994). Data hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 menunjukkan jumlah penderita malaria klinis diseluruh Indonesia mencapai 15 juta orang dan 43 ribu diantaranya meninggal. Jumlah penderita malaria cenderung

mengalami kenaikan pertahunnya. Tahun 2006, wabah malaria dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) di 7 provinsi, dengan jumlah penderita mencapai 1.107 orang, 23 diantaranya meninggal. Sedangkan tahun 2007 KLB terjadi di 8 provinsi, dengan jumlah penderita mencapai 1.256 orang dan mengakibatkan 74 penderitanya meninggal dunia (Zubersafawi, 2009). Khusus data laporan bulanan penyakit malaria di Puskesmas Momunu tahun 2008, penyakit malaria menempati urutan kedua setalah penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dengan jumlah penderita 2.974 kasus. Berdasarkan data Profil Dinas Kesehatan Kota Bima tahun 2009 dari 10 penyakit besar yang ada, malaria menempati urutan pertama dengan jumlah penderita 7.504 kasus. Di Kecamatan Madapangga, berdasarkan laporan bulanan penemuan dan pengobatan malaria diwilayah kerja puskesmas madapangga dibulan januari sampai desember tahun 2007 dengan jumlah penderita 503 kasus (27,34%), pada tahun 2008 dengan jumlah penderita 707 kasus (38,43%), sedangkan pada tahun 2009 dengan jumlah penderita sebanyak 584 kasus (27,94%), dan dibulan januari sampai bulan mei tahun 2010 dengan jumlah penderita sebanyak 116 kasus (6,3%). Melihat dari fenomena ini, ada asumsi penyebab tingginya kejadian malaria berhubungan dengan terjadinya perubahan perilaku masyarakat yang berkaitan dengan dimekarkannya kecematan Bolo menjadi kecematan Madapangga. Hal ini tentunya akan membawa perubahan yang cukup signifikan bagi kecematan Madapangga sebagai kecematan yang baru. Secara tidak langsung juga akan mempengaruhi perilaku masyarakat setempat. Adanya perubahan perilaku masyarakat tentunya akan mempengaruhi gaya hidup. Salah satu contoh perilaku masyarakat yang dan dapat berhubungan dengan kejadian malaria yaitu adanya kebiasaan berada diluar rumah pada malam hari sehingga mempermudah

gigitan nyamuk Anopheles yang mempunyai sifat eksofili dan eksofagi. Beberapa penelitian sebelumnya telah menganalisis hubungan perilaku dengan kejadian malaria. Penelitian Amirsyah dkk (2002) digugus kepulauan Aceh menemukan bahwa kebiasaan penduduk yang masih suka berada diluar rumah pada malam hari sehingga merupakan salah satu faktor penyebab transmisi malaria. Penelitian lainnya dilakukan oleh Curtis di Cina (1994) menyebutkan bahwa kelambu celup deltametrin dapat melindungi penduduk dari gigitan nyamuk Anopheles Dirus yang bersifat endofagik dan eksofilik, dan di Malasyia Yap et al (1990) melaporkan bahwa pemakaian obat nyamuk bakar mengandung bahan aktif d - allethrin dan d - transfluthrin dapat mengurangi gigitan nyamuk sebanyak 70 %. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa adanya kebiasaan dan sikap masyarakat merupakan salah satu faktor pendukung penyebaran malaria. Berdasarkan fenomena diatas dapat dilihat bahwa perilaku masyarakat masih menjadi masalah terhadap kejadian malaria diwilayah Puskesmas Madapangga, sehingga dapat digambarkan bahwa perilaku masyarakat masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan untuk mencegah kejadian malaria. Dari beberapa faktor yang ada di wilayah Puskesmas Madapangga peneliti ingin meneliti lebih lanjut mengenai hubungan perilaku masyarakat dengan kejadian malaria diwilayah Puskesmas Madapangga yang meliputi kebiasaan masyarakat berada diluar rumah pada malam hari, pemakaian kelambu pada saat tidur dan penggunaan obat anti nyamuk. Berdasarkan uraian latar belakang peneliti melakukan penelitian tentang malaria kaitanya dengan faktor tersebut. Dengan judul penelitian hubungan perilaku masyarakat dengan kejadian malaria di wilayah puskesmas Madapangga Kabupaten Bima Propinsi Nusa Tenggara Barat. B. Rumusan Masalah

1. Apakah ada hubungan antara kebiasaan berada diluar rumah dengan kejadian malaria diwilayah Puskesmas Madapangga Kabupaten Bima ? 2. Apakah ada hubungan antara pemakaian kelambu dengan kejadian malaria diwilayah Puskesmas Madapangga Kabupaten Bima ? 3. Apakah ada hubungan antara pemakaian obat anti nyamuk dengan kejadian malaria diwilayah Puskesmas Madapangga Kabupaten Bima ? C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Untuk menganalisis hubungan perilaku masyarakat dengan kejadian malaria di wilayah Puskesmas Madapangga Kabupaten Bima Propinsi Nusa Tenggara Barat. 2. Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui hubungan kebiasaan berada diluar rumah pada waktu malam hari dengan kejadian malaria pada penderita malaria di wilayah Puskesmas Madapangga Kabupaten Bima Propinsi Nusa Tenggara Barat. b. Untuk mengetahui hubungan pemakaian kelambu dengan kejadian malaria pada penderita malaria di wilayah Puskesmas Madapangga Kabupaten Bima Propinsi Nusa Tenggara Barat. c. Untuk mengetahui hubungan penggunaan obat anti nyamuk dengan kejadian malaria pada penderita malaria di wilayah Puskesmas Madapangga Kabupaten Bima Propinsi Nusa Tenggara Barat. D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Praktis a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Bima dalam rangka penentuan arah kebijakan program pemberantasan malaria di Kabupaten Bima.

b. Bagi Puskesmas Madapangga penelitian ini dapat menjadi data dasar dan sumber informasi penting bagi petugas P2 Malaria dalam program pemberantasan penyakit Malaria. 2. Manfaat Pada Ilmu Pengetahuan Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dan merupakan salah satu bahan bagi peneliti berikutnya. 3. Manfaat bagi Peneliti Diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan peneliti tentang keberadaan malaria di Kabupaten Bima mengingat lokasi penelitian adalah daerah tempat tinggal peneliti.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Tentang Penyakit Malaria 1. Pengertian Malaria Malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh parasit (protozoa) dari genus plasmodium yang dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Istilah malaria diambil dari dua kata bahasa Italia, yaitu mal (buruk) dan area (udara) atau udara buruk karena dahulu banyak terdapat di daerah rawa-rawa yang mengeluarkan bau busuk. Penyakit ini juga mempunyai beberapa nama lain, seperti deman aroma, demam rawa, demam tropik, demam pantai, demam charges dan demam kura. 2. Penyebab Malaria Agent penyebab malaria ialah makhluk hidup Genus Plasmodia, Famili Plasmodiidae dari Ordo Coccidiidae. Sampai saat ini di Indonesia dikenal empat spesies parasit malaria pada manusia, yaitu : 1. Plasmodium falciparum: penyebab penyakit tropika yang sering menyebabkan malaria berat/malaria otak yang fatal, gejala seranganya timbul berselang setiap dua hari (48 jam) sekali. 2. Plasmodium vivax: penyebab penyakit malaria tertiana yang gejala serangannya timbul berselang setiap tiga hari. 3. Plasmodium malariae: penyebab penyakit malaria quartana yang gejala serangannya timbul berselang setiap empat hari. 4. Plasmodium ovale: jenis ini jarang ditemui di Indonesia, banyak dijumpai di Afrika dan Pasifik Barat. Seorang penderita dapat dihinggapi lebih dari satu jenis plasmodium, infeksi demikian disebut infeksi campuran (mixed infection). Yang terbanyak terdiri dari dua campuran, yaitu Plasmodium falciparum dengan Plasmodium vivax atau Plasmodium malariae. Infeksi campuran biasanya terjadi di daerah yang angka penularannya tinggi (Depkes RI, 2006). Parasit malaria memerlukan dua macam siklus kehidupan untuk kelangsungan hidupnya, yaitu siklus hidup dalam tubuh manusia terjadi pertumbuhan bentuk aseksual dan siklus hidup dalam tubuh nyamuk Anopheles terjadi fase reproduksi seksual (Prabowo, 2004). 3. Penyebaran Malaria

Malaria merupakan penyakit endemis yang menyerang negara-negara dengan penduduk yang padat. Batas penyebaran malaria adalah 64 Lintang Utara (Rusia) dan 32 Lintang Selatan (Argentina). Ketinggian yang memungkinkan parasit malaria adalah 400 m dibawah permukaan laut (Laut Mati) dan 2.600 meter diatas permukaan laut ( Bolivia ). Diseluruh dunia terdapat sekitar 2000 spesies Anopheles, 60 spesies diantaranya diketahui sebagai penular malaria. Di Indonesia ada sekitar 80 jenis Anopheles, 24 spesies diantaranya telah terbukti penular malaria. Nyamuk Anopheles hidup didaerah iklim tropis dan subtropis, tetapi juga bisa hidup didaerah yang beriklim sedang. Nyamuk ini jarang ditemukan pada daerah dengan ketinggian lebih dari 2000 2500 meter. 4. Cara Penularan Malaria Penyakit malaria ditularkan melalui 2 cara yaitu secara alamiah dan non alamiah : a. Secara Alamiah Yaitu penularan melalui gigitan nyamuk Anopheles yang mengandung parasit malaria. b. Secara Non alamiah Yaitu penularan yang bukan melalui gigitan nyamuk Anopheles Berikut beberapa penularan malaria secara non alamiah : 1) Malaria Bawaan (Kongenital) Malaria congenital adalah malaria pada bayi yang baru dilahirkan karena ibunya menderita malaria. Penularan terjadi karena adanya kelainan pada sawar plasenta (selaput yang melindungi plasenta) sehingga tidak ada penghalang infeksi dari ibu kepada janinnya. Selain melalui plasenta, penularan dari ibu kepada bayinya juga dapat melalui tali pusat. Gejala pada bayi yang baru lahir berupa demam, iritabilitas (mudah terangsang sehingga sering menangis), pembesaran hati dan limpa, anemia, tidak mau makan atau minum, kuning pada kulit dan selaput lender. Pembuktian pasti dilakukan dengan deteksi parasit malaria pada darah bayi. 2) Penularan Secara Mekanik Penularan secara mekanik adalah infeksi malaria yang ditularkan melalui transfusi darah dari donor yang terinfeksi malaria, pemakaian jarum suntik secara bersama-sama pada pecandu narkoba atau melalui transplantasi organ. 3) Penularan Secara Oral Cara penularan ini pernah dibuktikan pada ayam (Plasmodium gallinasium), burung dara (Plasmodium relection) dan monyet (Plasmodium knowlesi). 5. Siklus Hidup Malaria Siklus hidup malaria terdiri dari fase seksual (Sporogoni) didalam tubuh nyamuk dan fase aseksual (Skizogoni) diluar tubuh nyamuk : a. Fase Seksual Jika nyamuk anopheles betina menghisap darah manusia yang mengandung parasit malaria, parasit bentuk seksual masuk ke dalam perut nyamuk. Bentuk ini mengalami pematangan dan menjadi mikrogametosit dan makrogametosit dan terjadilah pembuahan yang disebut zigot (ookinet). Selanjutnya ookinet menembus dinding lambung nyamuk dan menjadi ookista. Jika ookista pecah, ribuan sporozoit dilepaskan dan mencapai kelenjar air liur nyamuk dan siap ditularkan jika nyamuk menggigit tubuh manusia.

b. Fase Aseksual Siklus dimulai ketika anopheles betina menggigit manusia dan memasukkan sporozoit yang terdapat pada air liurnya kedalam aliran darah manusia. Jasad yang langsing dan lincah ini dalam waktu 30 menit sampai 1 jam memasuki sel parenkim hati dan berkembang biak membentuk skizon hati yang mengandung ribuan merozoit. Proses ini disebut fase skizogoni eksoeritrosit karena parasit belum masuk ke sel darah merah. Lama fase ini berbeda untuk setiap spesies plasmodium. Pada akhi fase, skizon hati pecah, merozoit keluar lalu masuk dalam aliran darah (disebut sporulasi). Fase eritrosit dimulai saat merozoit dalam darah menyerang sel darah merah dan membentuk trofozoit-skizonmerozoit. Setelah dua sampai tiga generasi, merozoit terbentuk lalu sebagian merozoit berubah menjadi bentuk seksual. 6. Gejala Klinis Malaria Gambaran khas dari penyakit malaria adalah adanya demam yang periodik, pembesaran limpa dan anemia (turunnya kadar haemoglobin dalam darah). a. Demam Biasanya sebelum timbul demam,penderita malaria akan mengeluh lesu, sakit kepala, nyeri pada tulang dan otot, kurang nafsu makan, rasa tidak enak pada perut, diare ringan dan kadang-kadang merasa dingin dipunggung. Umumnya keluhan seperti ini timbul pada malaria yang disebabkan oleh P. Vivax dan P. ovale, sedangkan pada malaria yang disebabkan oleh P.Falciparum dan P.malriae, keluhan-keluhan tersebut tidak jelas. Serangan demam yang khas pada malaria terdiri dari tiga stadium. Berikut dipaparkan stadium demam yang khas pada malaria : 1) Stadium Menggigil Dimulai dengan perasaan kedinginan hingga menggigil. Penderita sering membungkus badannya dengan selimut atau sarung. Pada saat menggigil, seluruh tubuhnya bergetar, denyut nadinya cepat tetapi lemah, bibir dan jari-jari tangannya biru serta kulitnya pucat. Pada anak-anak sering disertai dengan kejang - kejang. Stadium ini berlangsung 15 menit sampai satu jam yang diikuti dengan meningkatnya suhu badan. 2) Stadium Puncak Demam Penderita yang sebelumnya merasa kedinginan berubah menjadi panas sekali. Wajah penderita merah, kulitkering dan terasa panas seperti terbakar, frekuensi pernapasan meningkat, nasdi penuh dan berdenyut keras, sakit kepala semakin hebat, muntah- muntah, kesadaran menurun sampai timbul kejang (pada anak-anak). Suhu badan bisa mencapai 410C. Stadium ini berlangsung selama 2 jam atau lebih yang diikuti dengan keadaan berkeringat. 3) Stadium Berkeringat Penderita berkeringat banyak diseluruh tubuhnya hingga tempat tidurnya basah. Suhu badan turun dengan cepat, penderita merasa sangat lelah dan sering tertidur. Setelah bangun dari tidurnya, penderita akan merasa sehat dan dapat melakukan pekerjaan seperti biasa padahal sebenarnya penyakit ini masih bersarang dalam tubuh penderita. Stadium ini berlangsung 2 sampai 4 jam. (A. Sofyan.2003). Perbandingan demam malaria dengan demam pada penyakit lain misalnya pada penyakit demam berdarah yaitu ditunjukkan melalui munculnya demam secara tiba-tiba, disertai sakit kepala berat, sakit

pada sendi dan otot (myalgia dan arthralgia) dan ruam; ruam demam berdarah mempunyai ciri-ciri merah terang, petekial dan biasanya mucul dulu pada bagian bawah badan pada beberapa pasien, ia menyebar hingga menyelimuti hampir seluruh tubuh. Selain itu, radang perut bisa juga muncul dengan kombinasi sakit di perut, rasa mual, muntah-muntah atau diare, pilek ringan disertai batuk-batuk. Dan kemudian demam pada penyakit demam kuning yaitu Setelah dikontrak, virus incubates dalam tubuh selama 3 sampai 6 hari, diikuti oleh infeksi yang dapat terjadi dalam satu atau dua tahap. Yang pertama "akut", fase ini biasanya menyebabkan demam, nyeri otot dengan punggung menonjol, sakit kepala, menggigil, kehilangan nafsu makan, dan mual atau muntah. Kebanyakan pasien merasa baik dan gejalanya menghilang setelah 3 sampai 4 hari. Namun, 15% dari pasien masuk lebih beracun, tahap kedua dalam waktu 24 jam pasien merasa sembuh kemudian kembali demam tinggi dan beberapa sistem tubuh yang terkena. Pasien dengan cepat mengembangkan penyakit kuning dan mengeluh sakit perut dengan muntah. Pendarahan dapat terjadi dari hidung mulut, mata atau perut. Setelah ini terjadi darah muncul di muntahan dan tinja. Fungsi ginjal memburuk. Setengah dari pasien yang memasuki fase mati beracun dalam waktu 10 sampai 14 hari, sisanya sembuh tanpa kerusakan organ signifikan b. Pembesaran Limpa Pembesaran limpa merupakangejala khas pada malaria kronis atau menahun. Limpa menjadi bengkak danterasa nyeri. Limpa membengkak akibat penyumbatan oleh sel-sel darah merah yang mengandung parasit malaria. Lama-lama, konsistensi limpa menjadi keras karena jaringan ikat pada limpa semakin bertambah. Dengan pengobatan yang baik, limpa berangsur normal kembali. c. Anemia Pada penyakit malaria, anemia atau penurunan kadar hemoglobin nilai normal disebabkan penghancuran sel darah merah yang berlebihan oleh parasit malaria. Selain itu, anemia timbul akibat gangguan pembentukan sel darah merah disum - sum tulang. Gejala anemia berupa badan yang terasa lemas, pusing, pucat, penglihatan kabur, jantung berdebar-debar dan kurang nafsu makan. Diagnosis anemia ditentukan dengan pemeriksaan kadar hemoglobin dalam darah. Anemia yang paling berat adalah anemia yang disebabkan oleh P.falciparum. 7. Diagnosa Malaria Diagnosa malaria yang pasti dibuat dengan menemukan adanya parasit dalam sel darah merah. Hal ini dapat dilakukan dengan pengecatan darah tebal atau darah tipis. Diagnosis malaria dapat diketahui dengan adanya tes darah yang dapat dilakukan secara uji mikroskopik atau non-mikroskopik. Uji mikroskopik menyangkut cara mengecat darah dan melihat langsung parasit di bawah mikroskop. Sedangkan untuk uji non-mikroskopik yaitu dengan cara mengidentifikasi antigen parasit atau antibodi antiplasmodial atau produk metabolik parasit. 8. Komplikasi Malaria mungkin hanya infeksi yang bisa diobati hanya dalam waktu tiga hari. Namun yang membunuh jutaan setiap tahun, tanpa pengobatan yang cepat dan tepat, malaria dapat menjadi suatu keadaan darurat medis dengan cepat maju kekomplikasi dan kematian. Kebanyakan kasus malaria berat yang disebabkan oleh infeksi P. falciparum, P. vivaks atau P. ovale menghasilkan komplikasi serius, melemahkan kambuh dan bahkan kematian. Komplikasi malaria serebral merupakan komplikasi yang paling berbahaya, ditandai dengan penurunan kesadaran (apatis, disorentasi, somnoler, stupor, sopor, koma) yang dapat terjadi secara perlahan dalam beberapa hari atau mendadak dalam waktu hanya 1 sampai 2 jam, sering disertai kejang. Penilaian kesadaran ini dievaluasi berdasarkan GCS, diperberat

karena gangguan metabolisme seperti asidosis, hipoglikemia, gangguan ini dapat terjadi karena gangguan patologis. Diduga terjadi sumbatan kapiler darah otak sehingga terjadi anoksia otak, sumbatan karena eritrosit berparasit sulit melalui kapiler karena proses sitoadherensi dan sekustrasi parasit, biasanya disertai ikterik, gagal ginjal, hipoglikemia dan edema paru. Bila terdapat lebih dari tiga komplikasi organ maka prognosa kematian lebih dari 75%. 9. Pencegahan Malaria Berbagai kegiatan yang dapat dijalankan untuk mengurangi malaria yaitu: a. Menghindari gigitan nyamuk malaria Di daerah pedesaan atau pinggiran kota yang banyak sawah, rawa-rawa atau tambak ikan, disarankan untuk memakai baju lengan panjang dan celana panjang saat keluar rumah terutama pada malam hari, uga pada mereka yang tinggal didaerah endemis malaria agar memasang kawat kasa dijendela dan ventilasi rumah, serta menggunakan kelambu saat tidur. Masyarakat dapat juga memakai obat anti nyamuk saat tidur dimalam hari untuk mencegah gigitan nyamuk malaria. b. Membunuh jentik dan nyamuk malaria dewasa Untuk membunuh jentik dan nyamuk malaria dewasa dapat dilakukan beberapa tindakan berikut ini: 1) Penyemprotan rumah Sebaiknya penyemprotan rumah-rumah didaerah endemis malaria dengan insektisida dilaksanakan dua kali dalam setahun dengan interval waktu enam bulan. 2) Larvaciding Larvaciding merupakan kegiatan penyemprotan rawa-rawa yang potensial sebagai tempat perindukan nyamuk malaria. 3) Biological control Biological control adalah kegiatan penebaran ikan kepala timah dan ikan guppy digenangan genangan air yang mengalir dan persawahan. Ikan-ikan tersebut berfungsi sebagai pemangsa jentik-jentik nyamuk malaria (Arlan, Prabowo. 2004). c. Mengurangi tempat perindukan nyamuk malaria Tempat perindukan nyamuk malaria bermacam-macam, tergantung spesies nyamuknya. Di daerah endemis malaria, masyarakatnya perlu menjaga kebersihan lingkungan. Tambak ikan yang kurang terpelihara harus dibersihkan, parit-parit disepanjang pantai bekas galian yang terisi air payau harus ditutup, bekas roda yang tergenang air atau bekas kaki hewan pada tanah berlumpur yang berair harus segera ditutup untuk mengurangi tempat perkembangbiakan larva nyamuk malaria. d. Pemberian obat pencegahan malaria Pemberian obat pencegahan (Profilaksis) malaria bertujuan untuk mencegah terjadinya infeksi, serta timbulnya gejala-gejala penyakit malaria. Orang yang akan berpergian kedaerah-daerah endemis malaria harus minum obat anti malaria sekurang-kurangnya seminggu sebelum keberangkatannya sampai empat minggu setelah orang tersebut meninggalkan daerah endemis malaria. B. Tinjauan Tentang Perilaku Masyarakat Dengan Kejadian Malaria Menurut Hendrik L. Blum (1974) ada empat faktor utama yang mempengaruhi derajat kesehatan yaitu faktor lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan keturunan. Dari empat faktor tersebut, faktor perilaku merupakan faktor terbesar kedua setelah lingkungan yang dapat mempengaruhi kesehatan individu, kelompok atau masyarakat.

Menurut Soekidjo Notoatmojo (1997), pengertian perilaku dapat dibatasi sebagai keadaan jiwa (berpendapat, berpikir, bersikap) untuk memberikan respons terhadap situasi diluar subyek tersebut. Respons ini dapat bersifat pasif (tanpa tindakan) dan dapat juga bersifat aktif (dengan tindakan). Masalah perilaku merupakan penyebab timbulnya berbagai masalah kesehatan. Para ahli kesehatan masyarakat sepakat bahwa untuk mengatasinya diperlukan suatu upaya dalam proses pendidikan kesehatan masyarakat. Melalui proses tersebut diharapkan terjadinya perubahan perilaku menuju tercapainya perilaku sehat. Pada proses perubahan ini, perlu ditunjang perubahan sikap dan pengetahuan (Ngatimin, 1997). (Dalam Arsunan, A. 2004). Beberapa penelitian menyatakan bahwa buruknya kebiasaan dan sikap masyarakat merupakan salah satu faktor pendukung penyebaran malaria. Contoh prilaku masyarakat yang dapat mempermudah terjadinya kejadian malaria yaitu kebiasaan masyarakat berada diluar rumah pada malam hari, kebiasaan tidur tidak menggunakan kelambu dan tidur tanpa menggunakan obat anti nyamuk (Hadi.Suwasno, 2002). 1. Kebiasaan berada diluar rumah pada malam hari Pada umumnya nyamuk Anopheles lebih senang menggigit pada malam hari. Perilaku nyamuk anopheles dalam mencari darah (Feeding Places) terbagi berdasarkan spesies yaitu ada nyamuk yang aktif menggigit mulai senja hari hingga menjelang tengah malam dan ada nyamuk yang aktif menggigit mulai tengah malam sampai pagi hari. Aktifitas menggigit nyamuk anopheles berlangsung sepanjang malam sejak matahari terbenam yaitu pukul 18.30 22.00 (Pranoto,dkk, 2003). Perilaku nyamuk Anopheles lainnya yang merupakan faktor resiko bagi masyarakat yang mempunyai kebiasaan berada diluar rumah pada malam hari yaitu adanya golongan eksofili yaitu golongan nyamuk yang senang tinggal diluar rumah dan golongan eksofagi yaitu golongan nyamuk yang suka menggigit diluar rumah. Beberapa analisis yang pernah dilakukan berhubungan dengan perilaku menggigit nyamuk yaitu penelitian yang dilakukan oleh Pranoto dkk (2003) di Klademak, Sorong dimana persentase menggigit lebih banyak diluar rumah (86%) dari pada didalam rumah (14%). Nyamuk ini mengigigit sepanjang malam dengan fluktuasi gigitan aktif pada empat jam pertama (18.30 22.15) setelah matahari terbenam. Penelitian lainnya yang berhubungan dengan kebiasaan berada diluar rumah pada malam hari yaitu penelitian yang dilakukan oleh Hasan Boesri dkk (2002) di desa Tarahan, Lampung Selatan, dimana masyarakatnya mempunyai kebiasaan berbincang-bincang diluar rumah pada malam hari dan menonton televisi sampai larut malam dan pada mereka yang tidak memiliki pesawat televisi sendiri biasanya menonton dirumah tetangga sehingga sangat mudah terpapar oleh gigitan nyamuk anopheles. Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa perilaku masyarakat berupa kebiasaan berada diluar rumah pada malam hari merupaka salah satu faktor pendukung terjadinya penyakit malaria. 2. Pemakaian Kelambu Di Indonesia usaha pembasmian penyakit malaria belum mencapai hasil yang optimal karena beberapa hambatan yaitu tempat perindukan nyamuk malaria yang tersebar luas, jumlah penderita yang sangat banyak serta keterbatasan sumber daya manusia dan biaya. Oleh karena itu, usaha yang paling mungkin dilakukan adalah usaha-usaha pencegahan terhadap penularan parasit. Tindakan protektif ini bertujuan untuk mengurangi kontak manusia dengan nyamuk baik untuk orang per orang ataupun keluarga dalam satu rumah. Salah satu tindakan protektif ini yaitu dengan menggunakan kelambu tidur dengan atau

tanpa insektisida pada saat tidur malam (Mardihusodo, S.J. 2000). Kelambu merupakan alat yang telah digunakan sejak dahulu kala. Sesuai persyaratan Depkes (1999) kelambu yang baik yaitu memiliki jumlah lubang per cm antara 6 - 8 dengan diameter 1,2 - 1,5 mm. Ada dua jenis kelambu yang sering digunakan masyarakat yaitu kelambu yang tidak menggunakan insektisida dan kelambu yang dicelup dengan insektisida. WHO (World Health Organization) telah menganjurkan pengembangan metode alternatif pemberantasan vektor malaria yang lebih efisien dari penyemprotan yaitu dengan penggunaan kelambu berinsektisida permetrin. Menurut Shreck dan Self permetrin adalah insektisida sintetik yang bekerja secara kontak langsung atau lewat saluran pencernaan. Pemakaian dosis rendah yang diresapkan pada kelambu sangat baik untuk membunuh nyamuk dan tidak berbahaya bagi manusia. Beberapa analisis yang pernah dilakukan berhubungan dengan penggunaan kelambu yaitu penelitian yang dilakukan oleh Bradley dkk, di Farateni, Gambia (2001) menyebutkan bahwa pemakaian kelambu celup dapat menurunkan angka parasit dan angka limpa pada kelompok penduduk. Selain itu juga dapat melindungi anak-anak dari infeksi malaria. Penelitian lainnya dilakukan oleh Hasan Boesri,dkk (2002) di dusun Sebalang, desa Tarahan Lampung Selatan dimana pemakaian kelambu berinsektisida permetrin mampu menekan penularan dan kasus malaria yang terjadi didaerah tersebut. 3. Pemakaian Obat Anti Nyamuk Berbagai usaha yang dapat dilakukan untuk mengurangi kejadian malaria diantaranya yaitu dengan menggunakan obat anti nyamuk. Jenis dari obat anti nyamuk yang banyak beredar dimasyarakat yaitu obat nyamuk bakar (Fumigan), obat nyamuk semprot (Aerosol), obat nyamuk listrik (Electrik) dan zat penolak nyamuk (Repellent). a. Obat nyamuk bakar (Fumigan) Salah satu jenis obat anti nyamuk yang paling banyak digunakan dimasyarakat yaitu obat nyamuk bakar. Obat nyamuk bakar ini terbuat dari bahan tumbuhan atau bahan kimia sebagai bahan tunggal atau campuran. Ada yang hanya menggunakan bahan d allethrin 0,18% atau hanya bioallethrin 0,20%, tetapi ada pula yang menggunakan campuran dua bahan yang berbeda misalnya d- allethrin 0,24% dan propoxur 0,12% atau campuran bioallethrin 0,06% dan diklorovinyl dimetil-fosfat 1,1%. Febrikasi obat nyamuk ada yang berupa mosquito coil yang dibakar atau ada yang berujud tikar yang diuapkan (Vaporizing Mats). Fumigan dari obat nyamuk bakar ini dapat bersifat membunuh nyamuk yang sedang terbang atau hinggap didinding dalam rumah atau mengusirnya pergi untuk tidak mengigit (Sugeng J.M, 1997). b. Obat nyamuk semprot (Aerosol) Obat nyamuk semprot (Aeorosol) umumnya digunakan oleh masyarakat perkotaan untuk mengurangi gigitan nyamuk dan mengendalikan serangga rumah tangga seperti lalat, kecoa dan semut. Aerosol tersebut banyak dijual ditoko, pasar maupun swalayan. Macam kemasan dan berat bersih yang dipasarkan juga sangat bervariasi dari 150 500 gram. Kandungan bahan aktif pada umumnya dari kelompok sintetik pyrethroid (d - allethrin, prolethrin, d - fenothrin, bioallethrin, esbiothrin dan transfluthrin). Tetapi ada juga bahan aktif diklorvos dan diklorovinyl dimethilfosfat dari kelompok organofosfat dan propoksur dari kelompok karbamat (Amiruddin,2007 dalam Vandekar). Analisis pemakaian obat nyamuk semprot (Aerosol) dapat membunuh nyamuk pernah dilakukan oleh Damar T.B dkk,(1996) di laboratorium uji insektisida rumah tangga, Stasiun Penelitian Vektor Penyakit

Salatiga dimana didapatkan bahwa rata-rata kematian nyamuk menggunakan Peet Grady Amber ( Ruangan yang terbuat dari kaca ukuran 180 x 180 x 180 cm yang disemprotkan dengan aerosol ) adalah 100%.(Harijanto, 2000). c. Obat nyamuk listrik ( Elektrik) Elektrik adalah suatu jenis obat anti nyamuk telah dikembangkan dengan menggunakan bantuan listrik. Jenis ini mulai banyak dipasarkan dimasyarakat terutama disupermaket. Elektrik ini berukuran 3 x 2 cm yang terbuat dari lembar lapik (Mat) yang mengandung insektisida yang mudah diuapkan misalnya bioallethrin, dan d allethrin ( WHO, 2001). Bahan aktif dan pewanginya akan dikeluarkan secara bertahap melalui proses penguapan. Jumlah insektisida yang dikeluarakan cukup untuk mencegah masuknya nyamuk selama beberapa jam kedalam kamar. Berubahnya warna biru menjadi putih menunjukkan bahwa bahan aktif yang dikandungnya telah habis ( Depkes, 1999 ). d. Zat penolak nyamuk ( Repellant) Tujuan utama dari pemakaian repellent adalah untuk menolak atau mencegah diri dari gigitan nyamuk pada senja dan malam hari menjelang tidur dan dini hari sebelum fajar, sewaktu orang tidak lagi berlindung dalam kelambu ( WHO Malaria Study Group, 2001 ). Bahan repellent yang biasa digunakan oleh orang, ada yang sifatnya tradisional dari bahan tumbuhan seperti minyak sereh dan minyak kayu putih meskipun daya tolaknya hanya berkisar antara 15 20 menit dan ada pula berasal dari bahan kimia sintetik seperti dietiloluamid 15% dan dimetilftalat. Repellent yang beredar sekarang dipasaran dibuat dalam berbagai merek seperti Autan dan dalam kemasan pemakaian yang berbeda seperti bentuk cairan oles atau krim, namun semuanya mempunyai fungsi yang sama yaitu sebagai zat penolak dari gigitan nyamuk anopheles penyebab penyakit malaria (Amirsyah, Husin. 2002). C. Kerangka Konsep Di dalam ilmu Epidemiologi ada tiga faktor utama yang dapat menyebabkan terjadinya malaria yaitu faktor Host ( Manusia ), faktor Agent (Plasmodium ) dan faktor Environment (Lingkungan). Bila ke tiga faktor ini terjadi ketidak seimbangan antara faktor satu dengan faktor lainnya, maka keadaan inilah yang dapat menyebabkan timbulnya kejadian malaria. Dari ke tiga faktor tersebut, faktor Host sangat besar pengaruhnya didalam kejadian malaria. Hal ini disebabkan karena selama manusia mampu menjaga keseimbangan antara ke tiga faktor tersebut maka kejadian malaria tidak akan terjadi. Ini menunjukkan bahwa perilaku sangat besar pengaruhnya didalam kejadian malaria. Beberapa penelitian yang pernah dilakukan menyebutkan bahwa faktor perilaku dapat mempengaruhi kejadian malaria diantaranya penelitian yang dilakukan oleh A. Arsunan, dkk (2003) menyatakan bahwa perilaku masyarakat berupa tindakan terhadap kejadian malaria memberikan pengaruh terbesar terhadap kejadian malaria di Pulau Kapoposang Kabupaten Pangkajene Kepulauan. Beberapa faktor perilaku manusia yang dapat mempengaruhi terjadinya malaria seperti adanya kebiasaan berada diluar rumah pada malam hari dimana adanya perilaku nyamuk yang bersifat eksofili (suka tinggal diluar rumah) dan yang bersifat eksofagi (mengigit diluar rumah) akan memudahkan gigitan nyamuk pada manusia yang berada diluar rumah. Adanya kebiasaan tidak memakai kelambu pada waktu tidur dan tidak memakai obat anti nyamuk juga merupakan faktor prilaku yang dapat

mempengaruhi terjadinya malaria. Ketiga faktor perilaku tersebut merupakan variabel yang akan diteliti dalam penelitian ini.