Anda di halaman 1dari 21

EKOSISTEM SUNGAI

Ria Gresiana Pramayunita

2012/331768/PN/12839

Budidaya Perikanan

INTISARI

Air adalah zat cair yang mampu melarutkan zat-zat lain dalam jumlah besar. Jenis air diantaranya sungai, danau, laut tawar dsb. Di dalam sungai banyak organisme kecil yang berguna sebagai sumber makanan organisme lain. Tujuan dari praktikum ini adalah mempelajari kualitas perairan sungai berdasarkan indeks diversitas biota perairan dengan pengamatan beberapa parameter. Praktikum ekosistem sungai dilaksanakan di sungai Tambak Bayan, Yogyakarta pada hari Kamis tanggal 4 April 2013 pukul 13.00 selesai. Beberapa metode yang digunakan dalam pengamatan antara lain metode winkler dan metode alkalimetri. Pengamatan dibagi atas empat stasiun berdasarkan hilir dan hulunya. Kecepatan arus mempengaruhi keberadaan makrobentos. Kualitas perairan yang baik ialah dengan jumlah diversitas biota perairan yang tinggi. Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa kualitas perairan paling baik ada pada stasiun 3 karena indeks diversitas plankton maupun makrobentos seimbang.

Kata kunci : arus, kecepatan, kualitas perairan, parameter, sungai

PENDAHULUAN

Ekologi merupakan hubungan antara beberapa organisme ataupun kelompok organisme terhadap lingkungannya, sedangkan arti ekosistem ialah interaksi yang kompleks dan memiliki susunan yang beragam. Ruang lingkup ekologi berhubungan dengan ekosistem dari berbagai komponen penyusunya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktor abiotik antara lain yaitu suhu, air, kelembapan, cahaya dan topografi, sedangkan faktor biotiknya adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan dan mikroba. Air adalah zat cair yang mampu melarutkan zat-zat lain dalam jumlah besar. Jenis air diantaranya sungai, danau, laut, rawa dsb. Sungai merupakan jenis air tawar yang mengalir satu arah. Di dalam sungai banyak organisme kecil yang berguna sebagai sumber makanan.

Sungai merupakan salah satu contoh dari perairan mengalir. Sungai dicirikan dengan adanya arus yang searah serta sangat dipengaruhi oleh waktu, iklim dan pola drairase. Di dalam sebuah perairan sungai biasanya terjadi pencampuran massa air secara menyeluruh (Effendi, 2003). Pembagian zona sungai terdiri dari dua bagian yaitu berdasarkan gradien dan aliran air. Berdasarkan gradien antara lain daerah hulu dan berdasarkan aliran air antara lain zona air cepat (Odum, 1971). Bagian sungai yang berarus tenang adalah habitat yang baik bagi bentos organisme kecil dapat membenamkan diri di dasar perairan. Hal ini dikarenakan arus yang tenang dan cenderung laminar, daya erosi yang tereduksi dan memiliki sedimen akibat terbawa arus yang mengendap di dasar perairan (Clapham, 1973). Kehidupan organisme kecil akuatik dipengaruhi turbulensi, biasanya merupakan substansi organik. Disamping turbulensi, faktor perbedaan gerakan partikel juga sangat penting dalam menambah kehidupan organisme. Gerakan air dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu gerakan horizontal yang disebut laminar flow yang disebabkan oleh gerakan angin dan Turbulent flow, yaitu gerakan air yang disebabkan karena sistem turbulensi yang ada di dalam air (Ryadi, 1981). Organisme yang terdapat di sungai biasanya relatif kecil bila dibandingkan dengan organisme yang terdapat di laut. Planktonplankton, tumbuhan (biasanya periphyton), atau ikan-ikan yang terkandung di dalam sungai biasanya terdapat di daerah tertentu, seperti pinggir sungai karena produksi primer terdapat di daerah tersebut (Brotowidjoyo, 1999).

Praktikum ekosistem ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik ekosistem sungai dan faktorfaktor pembatasanya, mempelajari cara-cara pengambilan data tolok ukur (parameter) fisik, kimia dan biologi suatu perairan, mempelajari korelasi antara beberapa tolok ukur lingkungan dengan komunitas biota perairan (makrobentos) serta mempelajari kualitas perairan sungai berdasarkan indeks diversitas biota perairan.

METODOLOGI

Praktikum ekosistem sungai dilaksanakan di sungai Tambak Bayan, Condong Catur, Yogyakarta pada hari Kamis tanggal 4 April 2013 pukul 13.00 selesai.

Parameter yang diamati secara fisik yaitu yang dilihat dari suhu udara, suhu air, kecepatan arus dan debit. Selain itu parameter kimia yang terdiri dari DO, CO2 bebas, alkalinitar dam PH. Parameter biologi yaitu densitas dan diversitas makrobentos, densitas dan diversitas plankton.

Pengamatan yang dilakukan yaitu dengan mengidentifikasi dan menghitung makrobentos. Densitas atau kepadatan makrobentos dinyatakan dalam satuan individu per luas plot, sedangkan indeks diversitas atau indeks keanekaragaman makrobentos dihitung dengan menggunakan rumus Shannon Wienner :

H=

2log , dimana H = indeks keanekaragaman , ni= cacah individu satu genus dan N =

cacah individu seluruh genera.

Di masing-masing stasiun dilakukan pengukuran beberapa tolok ukur lingkungan seperti : suhu, kecepatan arus, derajat keasaman (pH), kandungan O2 terlarut, CO2 bebas dan alkalinitas, serta mencatat flora dan fauna yang terdapat di dalam dan di sekitar sungai. Perhitungan kecepatan arus yaitu V = sedangkan debit air yaitu lumpur/pasir). (Kecepatan x lebar x kedalaman x konstanta

Kandungam O2 terlarut menggunakan metode Winkler dengan perhitungan:

x Y x 0,1 mg/ dimana Y adalah banyak larutan yang digunakan untuk titrasi.

Pengamatan kandungan CO2 bebas menggunakan metode alkalimetri dengan perhitungan kandungan CO2 : x C x 1 mg/, dimana C adalah banyak larutan yang digunakan untuk titrasi.

Kandungan alkalinitas menggunakan metode alkalimetri , perhitungan dengan rumus kandungan CO3- : x C x 1 mg/ sebagai (X) dan

kandungan HCO3- : x D x 1 mg/ sebagai (Y), sehingga alkanitas total = (X) + (Y) mg/.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada praktikum ekosistem sungai, tempat pengamatan berada di sungai Tambak Bayan, Condong Catur, Yogyakarta. Dilihat dari segi fisiknya, kondisi sungai rata-rata masih cukup alami, airnya cukup jernih dan tidak adanya sampah di aliran air membuat sungai ini terlihat bersih dan sejuk. Kondisi sekitar sungai masih banyak ditumbuhi aneka vegetasi sehingga membuat lingkungan sekitar sungai menjadi rindang. Pengamatan yang dilakukan dibagi atas empat stasiun di tiap kelompoknya, setiap stasiun memiliki kondisi lingkungan yang beragam. Parameter Satasiun

I II

III IV

Fisik

Suhu udara (C) 23 29 26

Suhu air (C) 25,6 28,5 29

Kecepatan arus (m/s) 1,1 0,69 0,58 11,28

Debit (m3/s)

1,914 2,33 0,11 3,19

Kimia

DO (PPm) 6,34 6,4 6,1 4,5

CO2 (PPm) 11,2 7 7,4 7,6

Alkalinitas (PPm)

62 33,2 76 134

pH 7 7 7 7

Biologi

Densitas plankton (idv/) 377,5 132,5 245 1487,5

Diversitas plankton

0,9142 0,3658 0,4098 0,2040

Densitas makrobentos (idv/m2) 44 256 69 56

Diversitas makrobentos 0 0,7 0,9 0,7

Densitas Gaskopoda (idv/m2) 0,06 381 25 36

Cuaca

Mendung Hujan Hujan Hujan

Vegetasi Semak, bambu Semak, pohon Semak, pohon Semak, pohon

Pada pengamatan di stasiun 1, untuk uji parameter fisik suhu udara dan suhu air tidak dilakukan pengamatan. Hal ini disebabkan adanya kerusakan pada alat yang digunakan untuk pengamatan. Pada pengukuran kecepatan arus, didapatkan kecepatan sebesar 1,1 m/s. Kecepatan arus ini dipengaruhi pula oleh kondisi bentuk sungainya, dimana pada stasiun 1 posisi sungainya tidak terlalu miring sehingga aliran air yang mengalir tidak terlalu deras. Debit air adalah laju aliran air (dalam bentuk volume air) yang melewati suatu penampang melintang sungai persatuan waktu (Asdak, 2002). Pada stasiun ini didapatkan debit air sebesar 1,914 m3/s. Debit air yang masuk ke dalam sungai hampir sebanding dengan kecepatan arusnya, dimana debit air berpengaruh pada kecepatan arus. Pada pengamatan parameter kimia, didapatkan kandungan O2 terlarut (DO) sebesar 6,34 ppm, kandungan O2 terlarut ini juga dipengaruhioleh beberapa faktor, seperti kekeruhan air, suhu, salinitas, pergerakan massa air dan udara seperti arus, gelombang dan pasang surut (Salmin, 2000). Kandungan CO2 yang diukur pada stasiun ini sebesar 11,2, dimana jika kandungan CO2 dalam jumlah banyak akan baik bagi tanaman karena digunakan untuk fotosintesis. Kadar CO2 yang terlalu besar juga tidak baik bagi hewan-hewan di dalam perairan sungai, karena dapat bersifat racun bagi hewan-hewan tersebut. Alkalinitas yang di dapat dari hasil pengamatan sebesar 62 ppm. Alkalinitas dalam air menunjukkan adanya konsentrasi bara

atau bahan yang mampu menetralisir keasaman dalam air. pH merupakan derajat keasaman, berdasarkan pengamatan nilai pH yang didapat sebesar 7. Angka 7 pada nilai pH menunjukkan bahwa air sungai bersifat netral. pH dipengaruhi pada alkalinitas air dimana alkalinitas berperan sebagai buffer pada pH. Pada pengamatan Biologi, densitas plankton pada stasiun ini didapatkan sebesar 377,5 idv/ yang menunjukkan kepadatan plankton dalam air. Kepadatan ini juga dipengaruhi oleh kandungan O2 terlarutnya sebagai penunjang kehidupan. Semakin tinggi kandungan O2 terlarutnya maka densitas plankton akan semakin rapat. Kehidupan plankton dihabitat air tawar pada umumnya ditentukan kondisi fisik dan kimiawi perairannya (Welch, 1952). Diversitas plankton yang diamati sebesar 0,9142. Jumlah ini menunjukkan keragaman plankton pada sampel air sungai yang diteliti. Densitas makrobentos pada stasiun ini sebesar 44 idv/m2, sedangkan indeks diversitas makrobentos 0. indeks diversitas merupakan indeks keragaman, nilai 0 pada indeks diversitas yang diamati di stasiun ini menunjukkan tidak adanya keragaman makrobentos pada stasiun ini. Pada saat pengamatan, kondisi cuaca saat ini mending. Vegetasi pada stasiun I terdiri dari semak dan bambu.

Pada pengamatan di stasiun 2, suhu yang di dapat pada stasiun tersebut sebesar 23C, pada pengukuran suhu udara ini dipengaruhi oleh kondisi cuaca pada saat pengamatan dimana cuaca pada saat pengamatan sedang hujan. Suhu air yang teramati pada stasiun sebesar 25,6C. Kecepatan arus yang diamati sebesar 0,69 m/s, kecepatan arus ini dipengaruhi oleh struktur dari sungai tersebut. Debit aliran air yang diukur pada stasiun 2 sebesar 2,33 m/s. Besarnya nilai debit dipengaruhi oleh lebar badan sungai. Pada pengamatan parameter kimia, kandungan DO pada stasiun 2 sebesar 6,4 ppm, kadar DO pada stasiun ini termasuk dalam jumlah besar dimana akan mempengaruhi juga pada keberadaan organisme air dalam sungai. Kadar CO2 pada pengamatan didapatkan sebesar 7 ppm, kadar CO2 ini termasuk dalam kadar standar yang baik bagi biota perairan. Alkalinitas pada stasiun pengamatan menunjukkan nilai sebesar 33,2 ppm. Air dengan kandungan kalsium karbonat lebih dari 100 ppm disebut alkalin, sedangkan air dengan kandungan kurang dari 100 ppm disebut lunak atau tingkat alkalinitas sedang (Anonim, 2011). Kadar keasaman (pH) yang didapat sebesar 7, nilai ini menunjukkan bahwa kondisi air ini belum tercemar oleh limbah karena kadar keasamannya bersifat netral. Densitas plankton yang teramati oleh mikroskop menunjukkan jumlah sebesar 132,5 idv/L sedangkan diversitasnya sebesar 0,3658. Densitas plankton berhubungan dengan CO2 bebas dalam air, semakin besar kandungan

CO2 maka jumlah plankton dalam air jumlahnya banyak. Densitas makrobentos pada stasiun 2 sebesar 256 idv/m3, kepadatan makrobentos ini dpengaruhi juga oleh kecepatan arus. Aliran air yang semakin deras dapat menyebabkan terlepasnya makrobentos pada substrat tempat menempel. Hal ini terjadi karena perubahan kemelimpahan pada dasarnya lebih berkaitan dengan adanya gangguan, seperti arus, kemudian oleh ukuran subrtrat, serta interaksi antar jenis di dalam komunitas. Keadaan lingkungan pada stasiun 2 ditempati oleh tumbuhan jenis semak dan pohon.

Pada pengamatan di stasiun 3, perairan daerah ini memiliki suhu udara 29C dan suhu air 28,5C. suhu ini termasuk dalam kisaran suhu relatif baik untuk berlangsungnya kehidupan organisme. Faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi suhu dan salinitas di perairan ini adalah penyerapan panas (heat flux), curah hujan (perspiration), aliran sungai (flux) dan pola sirkulasi air (Hadikusumah, 2008). Kecepatan arus yang teramati secesar 0,58 m/s, kecepatan arus tersebut termasuk lambat. Kecepatan arus ini mempengaruhi keberadaan jumlah kepadatan makrobentos pada daerah tersebut. Kecepatan arus sungai dipengaruhi oleh kemiringan, kesuburan kadar sungai. Kedalaman dan keleburan sungai, sehingga kecepatan arus disepanjang aliran sungai dapat berbeda-beda yang selanjutnya akan mempengaruhi jenis substrat sungai. Debit air sungai yang telah diamati sebesar 2,33 m3/s, debit air juga mendapatkan pengaruh dari kondisi cuaca, seperti hujan. Intensitas hujan akan mempercepat aliran air. Pada saat pengamatan, kondisi cuaca pada stasiun 3 mengalami hujan. Pengamatan parameter lainnya yaitu parameter kimia, kandungan O2 terlarutnya sebesar 6,1 ppm. Peningkatan atau penurunan oksigen relatif akan diikuti oleh penurunan atupun kenaikan kandungan CO2 bebas. Pada stasiun ini kandungan CO2 bebas pada air sebesar 0,11 ppm. Alkalinitas pada stasiun ini sebesar 76 ppm, sedangkan pH yang telah diamati sebesar 7. Kandungan alkalinitas pada stasiun ini disebut juga air agak keras (kisaran kandungan CaCO3 antara 61-120 ppm) (Sastrawijaya, 1991). Untuk pengamatan parameter biologi, densitas plankton yang telah diamati menunjukkan jumlah sebesar 245 idv/L dan diversitas planktonnya sebesar 0,4098. Jumlah kepadatan plankton tak lepas dari pengaruh O2 terlarut dalam air, dimana jumlah O2 terlarut pada stasiun ini relative baik untuk pertumbuhan suatu organisme. Densitas makrobentos yang ada pada sampel air yang diteliti sebesar 69 idv/L sedangkan diversitas makrobentos sebesar 0,9. Vegetasi pada stasiun ini terdiri dari semak dan pohon.

Pada pengamatan stasiun 4, suhu udara pada daerah tersebut adalah 26C dan suhu airnya adalah 29C. Suhu akan mempengaruhi pada organisme yang menempati perairan tersebut. Kecepatan arus pada stasiun ini sebesar 11,28 m/s, dibandingkan dengan stasiun lainnya, kecepatan arus pada stasiun ini merupakan arus yang paling deras. Sungai pada stasiun 4 adalah sungai bagian paling hilir dari semua stasiun, jadi aliran kecepatannya paling deras. Debit air pada stasiun ini sebesar 3,19. Kecepatan arus berpengaruh pada debit air. Kandungan DO pada sungai yaitu 4,5 ppm, namun hal ini berbanding terbalik dengan densitas planktonnya yang sebesar 1487,5 idv/L. Jumlah DO pada air seharusnya dalam jumlah banyak karena densitas plankton pada air termasuk dalam jumlah yang besar. Kandungan CO2 bebas pada air sungai didapatkan sebesar 7,2 ppm, kadar tersebut termasuk relatif baik bagi biota perairan. Pengamatan pada alkalinitas, didapatkan sebesar 134 ppm. Alkalinitas juga dipengaruhi oleh kadar CO2 bebas dalam air karena sumber alkalinitas air didapatkan dari proses difusi CO2 dalam air (Anonim, 2011). pH pada sungai ini menunjukkan angka netral yaitu 7. Nilai pH juga mendapat pengaruh dari alkalinitas suatu perairan, alkalinitas bersifat buffer pada keasaman. Sebagian besar air beralkalinitas tinggi juga mempunyai pH >7 (Jatilaksono, 2009). Diversitas plankton berkisar 0,2040 diversitas plankton ini merupakan jumlah terendah dibandingkan dengan stasiun-stasiun yang lain. Kepadatan makrobentos pada stasiun 4 adalah 56 idv/m3, hal ini juga dipengaruhi oleh kadar O2 yang relatif kecil di dalam air. Selain itu, kecepatan arus yang deras juga berpengaruh pada keberadaan makrobentos yang menempel pada substrat bebatuan maupun kerikil. Diversitas makrobentos pada stasiun ini yaitu 0,7. Kondisi cuaca pada saat pengamatan yaitu hujan. Kondisi ini kemungkinan berpengaruh pada pengukuran suhu udara, karena pada saat hujan suhu cenderung akan turun. Jenis vegetasi pada stasiun ini yaitu terdiri dari semak-semak dan pepohonan.

Pada pengamatan suhu di ketiga stasiun. Suhu air paling tinggi pada stasiun 3 dengan suhu 29C dan suhu udara pada stasiun 3 dengan suhu 29C. Dari hasil pengamatan suhu air rata-rata lebih besar dibandingkan dengan suhu udaranya. Hal ini terjadi karena terdapat perbedaan kerapatan molekul antara air dan udara. Perbedaan suhu antar stasiun ini disebabkan oleh struktur vegetasi

pada masing-masing stasiun. Banyaknya kanopi juga berpengaruh pada masuknya cahaya matahari.

Kecepatan arus pada tiap-tiap stasiun berbeda-beda. Semakin ke hilir arus air akan semakin deras. Pada stasiun 4 arus air sebesar 11,28 m/s sedangkan pada stasiun I kecepatan arus airnya sebesar 4 m/s. Menurut Barus 2001, pada ekosistem lotik umunya kecepatan arus berkisar antara 3 m/detik. Meskipun demikian sangat sulit untuk membuat suatu batasan mengenai kecepatan arus. Karena arus di suatu ekosistem air sangat berfluktuasi dari waktu ke waktu tergantung dari fluktuasi debit dan aliran air dan kondisi substrat. Debit air pada masing-masing stasiun juga berhubungan dengan kecepatan arus.

Kandungan DO dan CO2 saling berpengaruh kepekatan O2 terlarut dalam air tergantung pada kepakatan karbondioksida. Stasiun 2 memiliki kadar DO terendah sedangkan stasiun 1 memiliki kadar DO tertinggi.

Alkalinitas berhubungan dengan pH. Dimana semakin tinggi alkalinitas, maka pH akan mengikuti. Alkalinitas pada stasiun 4 memiliki alkalinitas tertinggi, sedangkan stasiun 2 memiliki alkalinitas terendah. Alkalinitas merupakan faktor pengaruh keberadaan biota perairan. pH rata-rata pada semua stasiun menunjukkan angka netral. Hal ini berarti air dalam keadaan murni atau belum tercemar.

Kepadatan densitas plankton pada stasiun merupakan salah satu tolak ukur kualitas air di perairan tersebut. Diversitas plankton memperlihatkan keragaman plankton pada perairan, tingkat diversitas plankton yang tinggi menunjukkan kemampuan berbagai jenis plankton untuk hidup di daerah tersebut. Densitas plankton paling tingi berada pada stasiun 4, sedangkan diversitas plankton paling besar pada stasiun 1. densitas dan diversitas makrobentor tergantung pada kecepatan aliran air dan jenis subtrst tempat menempel. Pada stasiun 3, aliran arus lebih lambat sehingga kepadatan makrobentos lebih banyak.

Grafik parameter vs stasiun

a.

Suhu udara dan suhu air vs stasiun

Dari grafik tersebut terlihat bahwa suhu air mengalami kenaikan ditiap stasiunnya. Pada stasiun 2 suhunya mencapai 25,6C, pada stasiun kedua suhunya 28,5C dan pada stasiun 3 suhunya 29C. Pada parameter suhu udara terlihat bahwa terdapat perbedaan di masing-masing stasiun. Stasiun 2 suhunya paling rendah sedangkan stasiun 3 suhunya tertinggi. Perbedaan antara suhu air yang tinggi dan suhu udara lebih rendah dibanding suhu air ini karena perbedaan masing-masing kerapatan molekul. Kerapatan molekul air lebih besar disbanding molekul udara, sehingga panas lebih lama tersimpan dalam air. Kenaikan suhu air yang signifikan pada tiap stasiun menunjukkan bahwa semua stasiun pengamatan berada dalam satu daerah dengan pengaruh yang relative sama terhadap suhu air normal. Variasi suhu udara yang berbeda di tiap stasiun menunjukkan bahwa kondisi lingkungan sekitar stasiun berbeda-beda, tergantung jenis vegetasi dan tingginya kanopi berpengaruh pada masuknya cahaya matahari. Faktor angin juga memperkuat pengaruh suhu lingkungan dengan cara meningkatkan hilangnya panas melalui penguapan (evaporasi) dan konveksi (Campbell, 2004).

b.

Kecepatan arus

Pada grafik kecepatan arus air di setiap stasiunnya menunjukkan perbedaan yang menonjol. Kecepatan arus dari stasiun 1 hingga stasiun 3 mengalami penurunan yang signifikan, namun pada stasiun 4 kecepatan arusnya naik drastis. Sungai yang arusnya paling rendah ada pada stasiun 3 dan arus yang paling tinggi ada pada stasiun 4. Kecepatan arus ini juga dipengaruhi oleh bentukan sungai dan dasar substrat pada sungai. Kecepatan arus juga ditentukan oleh asal aliran air, air yang berjalan dari hulu ke hilir akan berpengaruh pada kecepatan arusnya. Sungai bagian hulu adalah bagian sungai yang terletak di dataran tinggi dan merupakan daerah terjadinya erosi. Sungai bagian hilir adalah bagian sungai yang terletak di dataran rendah. (Anonim, 2011).

c.

DO vs stasiun

Kandungan DO pada stasiun 1, 2 dan 3 menunjukkan nilai rata-rata yang hampir sama, namun pada stasiun 4 terjadi penurunan yang drastis. Di setiap stasiunnya terjadi penurunan, hal ini disebabkan oleh adanya peningkatan jumlah plankton yang terdapat pada tiap stasiun. Pada pengamatan ini stasiun yang memiliki kadar DO tertinggi ada pada stasiun 1 dan stasiun 4 memiliki kadar DO yang terendah. Kandungan DO rendah karena adanya jumlah plankton yang banyak pada stasiun ini yang menghasilkan CO2 tinggi namun tidak diimbangi dengan DO yang dihasilkan oleh vegetasi sekitar. Kandungan DO yang terletak di hulu sungai akan lebih besar dibanding dengan kandungan DO pada hilir sungai, pada hal ini stasiun 4 merupakan hilir sungai oleh karena itu kadar DOnya kecil, semakin kecil kandungan O2 terlarutnya, maka kemungkinan besar sungai tersebut sudah tercemar.

d.

CO2 bebas

Pengamatan CO2 bebas menunjukkan hasil yang rata-rata sama pada stasiun 2, 3, dan 4. Namun pada stasiun 1 menunjukkan kandungan CO2 bebas yang relatif tinggi. Tingginya CO2 bebas pada stasiun 1 menunjukkan bahwa adanya peristiwa respirasi pada organism di dalam air (Anonim, 2012). Karbondioksia bebas dalam suatu perairan berkisar <12 ppm. Apabila CO2 bebas ini telah habis dalam perairan, maka yang digunakan oleh organisme nabati adalah CO2 terikat. Keracunan CO2 terjadi karena serap hemoglobin terhadap CO2 terganggu (hemoglobin telah jenuh oleh CO2) yang mengakibatkan organisme mati lemas disebabkan sejak nafas. Kandungan CO2 yang ditolelir oleh organisme perairan yaitu 5-7 mg/L (Kardi dan Tuncung, 2007)

e.

Alkalinitas

Kandungan alkalinitas yang terlihat pada grafik yaitu terlihat rendahnya alkalinitas stasiun 2 dibandingkan dengan stasiun-stasiun lainnya. Kandungan alkalinitas tertinggi berada pada stasiun 4, kandungan alkanitasi yang tinggi disebabkan adanya pengaruh bahan-bahan organic yang tersuspensi dalam air. Kandungan alkalinitas ini berguna agar kadar asam pada air tidak mengalami perubahan drastis. Rendahnya alkalinitas pada stasiun 2 mendapat pengaruh juga oleh komposisi mineral, suhu dan kekuatan ion. Dalam kondisi basa, ion bikarbonat akan membentuk ion karbonat dan melepaskan ion hydrogen yang bersifat asam, sehingga keadaan pH menjadi netral. Sebaliknya bila keadaan terlalu asam, ion karbonat akan mengalami hidrolisa menjadi ion bikarbonat dan melepas hidrogen oksida yang bersifat asam, sehingga keadaan kembali netral. Di dalam perairan, plankton menghendaki total alkalinitas sekitar 80-120 ppm (Kardi, 2007).

f.

pH

Grafik pH vs stasiun menunjukkan garis yang konstan ditiap-tiap stasiunnya. Hal ini menunjukkan bahwa kadar asam di semua stasiun relatif sama. Angka 7 pada pH memperlihatkan bahwa air masih jernih dan belum tercemar. Air yang belum terpolusi biasanya berada pada skala pH 6,00-8,00. Umumnya, perairan dengan tingkat pH yang lebih kecil ndaripada 4,8 dan lebih besar daripada 9,2 sudah dianggap tercemar (Asdak, 1995). Air sungai pada stasiun ini yang bersifat netral berpengaruh pada keberadaan densitas organism di dalamnya.

g.

Densitas Plankton

Grafik diatas menunjukkan keragaman jumlah plankton pada tiap stasiunnya. Jumlah densitas plankton tertinggi ada pada stasiun 4. Sedangkan pada stasiun 2 memiliki tingkat densitas plankton paling rendah diantara semua stasiun. Hal ini dikarenakan kadar alkalinitas yang rendah yang dapat mempengaruhi densitas plankton, kandungan yang ada dalam alkalinitas dalam air berperan sebagai pendukung metabolisme organisme didalamnya. Grafik ini memperlihatkan bahwa terdapat perbedaan kerapatan plankton terhadap faktor lingkungan di masing-masing stasiun. Menurut Astirin (2001) keanekaragaman dan jumlah organisme dalam komunitas plankton di badan air biasanya merupakan fungsi dan banyaknya jumlah bahan organik yang tersedia. Kerapatan plankton tergantung dari kondisi air dan nutrisi di dalam air tersebut. Pada stasiun 4, densitas plankton tinggi dikarenakan adanya jumlah bahan organik yang tersedia berdasarkan kebutuhan organisme tersebut, sehingga organisme dapat berkembang biak dengan maksimal.

h.

Densitas makrobentos

Kepadatan makrobentos yang ditunjukkan pada grafik memperlihatkan jumlah densitas makrobentos yang menempati masing-masing stasiun. Stasiun 1 memiliki densitas makrobentos terendah karena adanya faktor dari kondisi substrat sungai yang cenderung sedikit oleh bebatuan. Stasiun 2 memiliki tingkat densitas tertinggi, hal ini di dukung oleh arus yang relative sedang dan jumlah plankton yang mencukupi untuk nutrisi makrobentos itu sendiri. Selanjutnya tingkat kepadatan makrobentos diikuti oleh stasiun 3 kemudian stasiun 4. Kepadatan makrobentos ini dipengaruhi juga oleh faktor kecepatan aliran arus air. Semakin deras aliran air, maka akan mempengaruhi jumlah kepadatan makrobentos.

i.

Diversitas plankton dan makrobentos

Grafik perbandingan antara diversitas plankton dengan diversitas makrobentos saling berbanding terbalik antar stasiunnya. Pada stasiun 1 diversitas plankton berada pada titik tertinggi sedangkan pada diversitas makrobentos berada pada titik terendah. Hal ini menunjukkan bahwa pada stasiun ini banyak jenis-jenis plankton yang dapat hidup di stasiun ini sedangkan makrobentos hanya memiliki satu ragam jenis yang bisa menempati stasiun ini. Faktor nutrisi maupun kondisi perairan akan mempengaruhi jenis plankton maupun makrobentos yang menempatinya. Sebaliknya pada stasiun 2, diversitas plankton dan diversitas makrobentos berlawanan pada stasiun 1. Di stasiun 2, diversitas makrobentos mengalami kenaikan dan diversitas plankton mengalami penurunan. Pada stasiun 2 tingkat diversitas makrobentos selanjutnya naik hingga pada stasiun 4 mengalami penurunan. Sama halnya pada diversitas plankton, diversitas makrobentos juga mengalami kenaikan pada stasiun 3 dan mengalami penurunan pada stasiun 4. Di dalam grafik menggambarkan diversitas plankton lebih tinggi dibandingkan diversitas makrobentos pada stasiun 2 hingga 4. Perbedaan antara 2 jenis organisme ini tergantung dari faktor lingkungan pada masing-masing stasiun. Stasiun 3 merupakan stasiun tertinggi disbanding dengan stasiun lainnya baik dari densitas plankton maupun makrobentosnya, hal ini karena adanya parameter-parameter yang seimbang yang dapat mempengaruhi tingginya densitas organisme perairan.

Kondisi diversitas dan densitas dapat dijadikan sebagai tolak ukur baik buruknya suatu perairan. Berdasarkan pengamatan plankton pada stasiun 1 menunjukkan ada jenis organisme dengan seluruh jumlah 151 individu dengan indeks diversitas 0,9142. Sementara itu, identifikasi makrobentos menunjukkan keragaman sebesar 0 dan kerapatan sebesar 44 individu.

Pada stasiun 2 plankton sebesar 132,5 dan diversitas plankton sebesar 0,3658. Sedangkan pada pengamatan makrobentos densitasnya menunjukkan 256 dan diversitasnya 0,7.

Pada stasiun 3 plankton menunjukkan jumlah sebesar 1487,5 dan diversitas plankton sebanyak 0,2040. Pada pengamatan makrobentos densitas menunjukkan jumlah sebesar 69 idv/L dan diversitasnya 0,9.

Pada stasiun 4, densitas plankton menunjukkan jumlah sebesar 1487,5 dan diversitasnya plankton sebesar 0,2040. Sedangkan pada pengamatan mikrobentos, diversitasnya menunjukkan 56 idv/L dan diversitas makrobentos sebesar 0,7.

Berdasarkan data yang telah diamati, densitas plankton paling tinggi ada pada stasiun 4 dan diversitas plankton paling tinggi ada pada stasiun 1.

Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa kualitas perairan paling baik ada pada stasiun 3 karena indeks diversitas plankton maupun makrobentos seimbang. Selain itu juga, keberadaan plankton dan makrobentos sebagai penghuni perairan didukung oleh faktor-faktor lingkungan yang baik seperti hanya pada pengamatan parameter-parameter lainnya, yang diamati menunjukkan nilai yang seimbang antara sesama parameternya.

KESIMPULAN

Ekosistem sungai memiliki karakteristik yaitu aliran sungainya bararus, berjalan dari hulu ke hilir, dihuni oleh organism baik plankton ataupun makrobentos yang menempel pada substrat. Faktor-faktor pembatasnya antara lain suhu, kecepatan arus, debit air, derajat keasaman (pH), kandungan oksigen terlarut, kandungan CO2 bebas, alkalinitas serta flora-fauna disekitar sungai. Pengambilan data tolok ukur parameter suhu menggunakan thermometer, kecepatan arus menggunakan bola tenis meja, derajat keasaman (pH) dengan pH meter, DO dengan metode Winkler, kandungan CO2 bebas dengan metode alkalimetri, alkalinitas dengan metode alkalimetri. Hubungan kecepatan arus sebagai parameter berhubungan dengan keberadaan makrobentos. Semakin tinggi kecepatan arus dapat mengurangi jumlah makrobentos. Kualitas perairan sungai dapat didentifikasi berdasarkan indeks diversitas biota perairan. Kualitas air yang baik ialah dengan jumlah diversitas biota perairan yang tinggi. Kualitas perairan paling baik ada pada stasiun 3 karena indeks diversitas plankton maupun makrobentos seimbang.

SARAN

Agar lingkungan ekosistem sungai tetap baik, sebaiknya tidak dipadati oleh kegiatan yang bersifat buruk pada ekosistem sungai. Seperti pembuangan limbah rumah tangga.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2011.http://psbbiologisma3ratu.blogspot.com/2011/04/pengukuran-faktor-fisika-kimiaserta_4393.html Anonim.2011.http://alifia-salmi.blogspot.com/2011/12/laporan-akhir-lab-air.html. Anonim.2011.http://kuliahitukeren.blogspot.com/2011/07/Faktor-faktor-aliran-sungai.html

Asdak, C. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Asdak, C. 2002. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Astirin, AD setyawan dan Marti Harini. 2001. Keragaman Plankton sebagai Indikator Kualitas Sungai di Kota Surakarta. Biodiversitas Vol 3 Nomor 2 Brotowidjoyo, D. 1995. Pengantar Lingkungan Perairan & Budidaya Air Liberti, Yogyakarta Clapham, W. B. 1973. Natural Ecosystem. Macmilian Publiskin co, Inc. Canada. Effendi.H, 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Kanisius, Yogyakarta. Hadikusumah. 2008. Karakteristik Parameter Fisika dan Kandungan Klorofil di Laut Jawa. Jurnal Ilmu Kelautan. B (2): 103-112 Kardi,K.M.G.H. 2005. Budidaya Ikan Laut di Keramba Jaring Apung. PT. Rineka Cipta, Jakarta Kardi, K.M.G.H., dan A. B. Tancung, 2007. Pengelolaan Kualitas Air Dalam Budidaya Perairan. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta Jatilaksono, M., 2009. Alkalinitas dan Kesadaran, http://jlcome.blogspot.

com/2009/06/Kesadaran, html, diakses pada tanggal 19 Mei 2010 Ryadi, A.L.S. 1981. Ekologi: Dasar-dasar dan pengorbanannya ATESIA Press, Surabaya Salmin. 2000. Kadar Oksigen Terlarut di Perairan Sungai Dadap, Goba, Muara Karang dan Teluk Banten.Dalam : Foraminifera Sebagai Bioindikator Pencemaran, Hasil Studi di Perairan Estuarin Sungai Dadap,Tangerang . Sastrawijaya, A.T. 1991. Pencemaran Lingkungan. Jakarta. Rineka Cipta. Welch, P. S. 1952. Lymnologi. Mc. Graw-Hill Publication. New York.