Anda di halaman 1dari 23

A R T T E R A P I PA D A A N A K D E N G A N PENYAKIT KANKER BAGAIMANA APLIKASI PELAKSANAAN ART TERAPI PADA ANAK DI RUMAH SAKIT

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kanker merupakan salah satu penyakit pembunuh terbesar di dunia. Kasus - kasus kanker di dunia tidak hanya menyerang orang dewasa, tetapi juga anakanakpun resiko terkena kanker tetap ada. Diperkirakan dari seluruh kasus kanker 2% hingga 4% menyerang anak. Hal ini menyumbangkan 10% kematian pada anak-anak. Di Indonesia sendiri menurut data-data yang ditemukan rata-rata sekitar 4.000 pasien kanker anak yang baru setiap tahunnya dan penyebab kanker pada anak-anak belum diketahui dengan pasti (Yudhasmara, 2009). Menurut Messwati (2009) dari Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) di Indonesia sampai saat ini belum memiliki angka pasti jumlah anak penderita kanker, sebagai referensi umumnya data masih menggunakan statistik dari International Agency for Research on Cancer (IARC). IARC menyatakan bahwa satu dari 600 anak akan menderita kanker sebelum usia 16 tahun, dan dari International Confederation of Childhood Cancer Parent Organizatio (ICCCPO), jumlah anak penderita kanker di seluruh dunia diperkirakan berjumlah 250.000 atau sekitar 4% dari seluruh penderita kanker (Suprapto & Latif, 2009). Menurut National Cancer Institute (2007) menyatakan di Amerika Serikat terdapat kira-kira 10.400 anak dengan usia dibawah 5 tahun menderita kanker dan sekitar 1545 anak meninggal dunia akibat kanker dan setiap tahun rata-rata 1 sampai 2 per 10.000 mengalami kanker. Di Amerika terjadi peningkatan angka kejadian kanker pada anak yaitu meningkat dari 11.5 kasus per 100.000 anak pada tahun 1975 menjadi 14.8 kasus per 100.000 di tahun 2004. Berdasarkan data

registrasi pasien anak yang menjalani rawat inap di rumah-sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta pada tahun 2010, terdapat 2435 anak yang dirawat. Menurut American Cancer Society USA, sebanyak 933 (38%) adalah anak yang menderita kanker pada usia 0-17 tahun. Kasus terbanyak adalah Leukemia sebanyak 664 (27,3%), Limphoma malignum sebanyak 85 (3,5 %),

retinoblastoma sebanyak 81 (3,3%), rabdomiosarkoma 53 (2,2%), dan neuroblastoma sebanyak 50 (2,1%). Banyak faktor yang diduga menyebabkan kanker pada anak meliputi stimulus external seperti zat-zat kimia dan terpapar radiasi serta sinar ultraviolet. Faktor lain adalah karena sistem imun dan ketidaknormalan gen, serta ketidaknormalan kromosom pada proses genetika (Ball & Bindler, 2003). Menurut Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) (2009) menyatakan bahwa kanker yang banyak menyerang anak-anak adalah leukemia, tumor otak, retinoblastoma, limfoma, neuroblastoma, tumor wilms dan osteosarkoma. American Cancer Society (2010) menyatakan bahwa setelah anak didiagnosa kanker maka rata-rata harapan hidup hanya 5 tahun atau hanya 50% serta tergantung pada jenis kanker. Rata-rata harapan hidup 5 tahun saat ini untuk periode 1999-2005, umumnya meliputi leukemia 82%, tumor otak dan sistem syaraf 71%, tumor wilms 88%, lim foma 94%, rabdomyosarkoma 66%, neuroblastoma 74% dan osteosarkoma 69%. Association for Childrens PalliativeCare (ACT) dan Royal College of Paediatrics and Child Health (RCPCH) menyatakan bahwa salah satu kelompok yang memerlukan perawatan paliatif pada anak yaitu kondisi yang membutuhkan tindakan seumur hidup yang mana tindakan pengobatan memungkinkan tetapi tidak berhasil seperti pada kanker (Benini, 2009). Menurut Cooke dan Goodger (2008) dari Association for Childrens Palliative Care (ACT)/Royal College of Paediatrics and Child Health (RCPCH) menyatakan bahwa perawatan paliatif pada anak dengan kondisi hidupnya yang terbatas merupakan perawatan total dan aktif, mencakup fisik, emosional, sosial dan spiritual. Perawatan tersebut difokuskan pada perubahan kualitas hidup anak, mendukung keluarga dan penatalaksanaan keluhankeluhan, serta perawatan kematian dan berduka.

Salah satu jenis terapi paliatif yang mudah diaplikasikan bagi pasien adalah terapi seni. Art therapy adalah bentuk psikoterapi yang menggunakan media seni, material seni, dengan pembuatan karya seni untuk berkomunikasi. Media seni dapat berupa pensil, kapur berwarna, warna, cat,

potonganpotongan keratas, dan tanah liat. Kegiatan art therapy mencakup berbagai kegiatan seni seperti menggambar, melukis, memahat, menari, gerakangerakan kreatif, drama, puisi, fotografi, melihat dan menilai karya seni orang lain.

B. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana penerapan perawatan paliatif : Art terapi pada anak dengan penyakit kanker 2. Bagaimana aplikasi pelaksanaan art terapi pada anak di Rumah Sakit

C. Tujuan Penulisan 1. Tujuan umum Mengetahui bagaimana penerapan perawatan paliatif : Art terapi pada anak dengan penyakit terminal 2. Tujuan khusus

a. Mengetahui teknik pelaksanaan art terapi pada pasien dengan kanker b. Mengetahui perawatan paliatif yang dapat diberikan pada anak dengan penyakit kanker c. Mengetahui penerapan perawatan paliatif : Art terapi pada anak dengan penyakit terminal D. Sistematika Penulisan Adapun sistematikan penulisan yang digunakan pada makalah ini terdiri dari empat bab yaitu bab I pendahuluan, bab II tinjauan pustaka, bab III pembahasan dan bab IV simpulan dan saran.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Perawatan Paliatif Ungkapan palliative berasal dari bahasa latin yaitu pallium yang artinya adalah menutupi atau menyembunyikan. Perawatan paliatif ditujukan untuk menutupi atau menyembunyikan keluhan pasien dan memberikan kenyamanan ketika tujuan penatalaksanaan tidak mungkin disembuhkan (Muckaden, 2011). Menurut Childrens Hospice and Palliative Care Coalitions Professional Advisory Comitte, (2007) perawatan paliatif pada anak merupakan filosofi dan organisasi perawatan, sistem yang terstruktur dalam memberikan perawatan pada anak dengan keluarganya. Tujuan perawatan paliatif adalah melindungi dan memperbaiki atau mengatasi keluhan dan memaksimalkan kualitas hidup anak pada semua tingkatan usia, dan dukungan pada anggota keluarganya (Coyle & Fereel, 2010). Sedangkan The Royal College of Paediatrics and Child Health (RCPCH) dan Asscosiation for Children (ACT) dengan kondisi terminal anak dan keluarganya, mengartikan bahwa perawatan paliatif merupakan pendekatan aktif dan total dalam merawat anak, menerima aspek fisik, emosi, sosial dan spiritual. Pendekatan secara aktif menunjukan perawatan yang tidak hanya menghentikan tindakan. Semuanya ditujukan untuk mengatasi pada semua keluhan yang dialami meliputi keluhan fisik, emosi, dan spiritual. Word Health Organization (WHO) menekankan bahwa dalam memberikan pelayanan paliatif harus berpijak pada pola sebagai berikut 1) meningkatkan kualitas hidup dan menganggap kematian sebagai proses yang normal, 2) tidak mempercepat atau menunda kematian, 3) menghilangkan nyeri dan keluhan lain yang mengganggu, 4) menjaga

keseimbangan psikologis dan spiritual, 5) mengusahakan agar penderita tetap aktif sampai akhir hayatnya, 6) mengusahakan dan membantu mengatasi suasana duka cita pada keluarga (Djauzi, et al, 2003). Dalam memberikan perawatan paliatif sangat penting memperhatikan prinsip-prinsipnya. Commitee on Bioethic and Committee on Hospital Care (2000) mengembangkan untuk pengamanan praktik dan standar minimum dalam meningkatkan kesejahteraan anak dengan kondisi hidup yang terbatas dan keluarganya, dengan tujuan memberikan dukungan yang efektif selama pengobatan, dan memperpanjang kehidupan. Prinsip dasarnya terintegrasi pada model perawatan paliatif yang meliputi : a. Menghormati serta menghargai pasien dan keluarganya. Dalam memberikan perawatan paliatif, perawat harus menghargai dan menghormati keingingan anak dan keluarga. Sesuai dengan prinsip menghormati maka informasi tentang perawatan paliatif harus disiapkan untuk anak dan orangtua, yang mungkin memilih untuk mengawali program perawatan paliatif. Kebutuhan-kebutuhan keluarga harus diadakan/disiapkan selama sakit dan setelah anak meninggal untuk meningkatkan kemampuannya dalam menghadapi cobaan berat. b. Kesempatan atau hak mendapatkan kepuasan dan perawatan paliatif yang pantas. Pada kondisi untuk menghilangkan nyeri dan keluhan fisik lainnya maka petugas kesehatan harus memberikan kesempatan pengobatan yang sesuai untuk meningkatkan kualitas hidup anak, terapi lain meliputi pendidikan, kehilangan dan penyuluhan pada keluarga, dukungan teman sebaya, terapi musik, dan dukungan spiritual pada keluarga dan saudara kandung, serta perawatan menjelang ajal. c. Mendukung pemberi perawatan (caregiver). Pelayanan keperawatan yang profesional harus didukung oleh tim perawatan paliatif, rekan kerjanya, dan institusi untuk penanganan proses berduka dan kematian. Dukungan dari institusi seperti penyuluhan secara rutin dari ahli psikologi atau penanganan lain.

d.

Pengembangan profesi dan dukungan sosial untuk perawatan paliatif pada anak. Penyuluhan pada masyarakat tentang kesadaran akan kebutuhan perawatan

anak dan nilai perawatan paliatif serta usaha untuk mempersiapkan serta memperbaiki hambatan secara ekonomi. Perawatan paliatif pada anak merupakan area kekhususan karena sejumlah anak dan sebagian kecil anak yang masih kecil meninggal serta kebutuhannya akan perawatan paliatif lebih ke pemberian jangka panjang, gambaran kematian penyakitnya berbeda, perawatan yang dibutuhkan tidak hanya kebutuhan fisik anak tetapi juga kebutuhan, emosi, pendidikan dan kebutuhan sosial, serta keluarganya, anak- anak akan tumbuh dan berkembang secara fisik dan emosi sehingga dalam memberikan perawatan pada anak harus dilatih secara khusus sesuai yang dianjurkan (Cooke & McNamara, 2008).

B. Konsep Art Terapi Art therapy adalah bentuk psikoterapi yang menggunakan media seni, material seni, dengan pembuatan karya seni untuk berkomunikasi (British Association of Art Therapy, 2007). Media seni dapat berupa pensil, kapur berwarna, warna, cat, potongan-potongan kertas, dan tanah liat (Hallowell, 2007). Kegiatan art therapy mencakup berbagai kegiatan seni seperti menggambar, melukis, memahat, menari, gerakan-gerakan kreatif, drama, puisi, fotografi, melihat dan menilai karya seni orang lain (Cancer Helps, 2007). Dalam penelitian ini, peneliti memilih menggambar sebagai bentuk kegiatan dalam art therapy. Art therapy telah banyak digunakan di lingkungan medis, seperti pada pasien kanker, penyakit ginjal, penderita rematik, penyakit kronis, dan luka bakar yang parah (Malchiodi, 2001). Penderita kanker dapat memanfaatkan art therapy untuk membantu diri mereka guna merasa lebih baik dan lebih positif. Art therapy dapat menjadi cara yang aman untuk penderita kanker dan keluarga mereka untuk mengungkapkan emosi-emosi seperti marah, takut, dan cemas tentang kanker dan pengobatannya (Malchiodi, 2001).

C. Konsep Kecemasan

Kecemasan adalah suatu perasaan yang ditandai adanya emosi negatif yang kuat dan simptom ketegangan tubuh1, menyangkut rasa ketakutan, distress, dan kegelisahan sebagai respons terhadap situasi tertentu yang dirasakan mengancam (Hamama, 2008). Kecemasan ini terdiri atas state anxiety (keadaan cemas) dan trait anxiety (sifat cemas). Keadaan cemas menunjuk pada kondisi emosional sementara yang dicirikan dengan ketegangan, kekhawatiran, ketakutan kegelisahan, dan keresahan yang disertai dengan psychological arousal berhubungan dengan sistem syaraf otonom yang diterima sebagai pengalaman tidak menyenangkan. Kecemasan bisa ditimbulkan karena adanya rangsangan yang berasal dari luar atau rangsangan dari dalam yang diterima dan diinterpretasikan sebagai bahaya atau ancaman. Sedangkan sifat cemas menunjuk pada kecenderungan seseorang untuk merasa cemas dan sensitif dalam menerima suatu situasi sebagai bahaya atau ancaman dan direspons dengan meningkatnya keadaan cemas (Hamama, 2008). Kecemasan dapat dikenali karena biasanya disertai dengan berbagai tanda kecemasan secara fisik, kognitif, dan tingkah laku (Mash, 2005). Tanda-tanda kecemasan secara fisik, yaitu meningkatnya detak jantung, pernafasan menjadi lebih cepat, munculnya rasa mual, munculnya masalah pencernaan, merasa pusing, pandangan kabur, mulut kering, otot tegang, jantung berdebar, permukaan wajah menjadi lebih merah, muntah, mati rasa, dan berkeringat. Tanda-tanda kecemasan secara kognitif, yaitu berpikir takut atau tersakiti, berpikir/membayangkan monster atau binatang buas, berpikir untuk mengkritik diri sendiri, berpikir tidak mampu, sulit berkonsentrasi, lupa, berpikir kelihatan bodoh, berpikir tubuh tersakiti, membayangkan disakiti oleh orang yang dicintai, berpikir menjadi gila, dan berpikir terkontaminasi. Tanda-tanda kecemasan secara tingkah laku, yaitu menghindar, manangis atau menjerit, menggigit jari, suara bergetar, gagap, bibir bergetar, perasaan melayang, tidak dapat bergerak, gugup, menghisap jempol, menghindari kontak mata, menghindari kedekatan fisik, merasa rahang terkunci, gelisah.

E. Leukemia

Tanda dan gejala leukemia bisa berbeda dari satu penderita dengan penderita lainnya. Gejala yang umum terjadi adalah: a) lemah, pucat, mudah lelah, serta denyut jantung yang meningkat. Keadaan ini terjadi karena jumlah sel darah merah yang berkurang akibat terdesak oleh selsel leukemik; b) sering demam dan mengalami infeksi. Keadaan ini disebabkan oleh karena berkurangnya jumlah sel darah putih yang baik yang bertugas untuk melawan organisme-organisme penyebab penyakit; c) terlihat biru-biru di beberapa bagian tubuh, bintik-bintik merah, mimisan, serta gusi berdarah. Keadaan ini terjadi karena berkurangnya jumlah trombosit; d) merasakan nyeri-nyeri pada tulang. Keadaan ini terjadi akibat sudah menyebarnya sel-sel blast (sel darah yang masih muda) ke dalam tulang; e) pembesaran hati, limpa, dan kelenjar limfa. Keadaan ini juga terjadi akibat sudah menyebarnya sel-sel blast ke dalam organ-organ tersebut di atas; f) toleransi exercise menurun; g) kehilangan berat badan; dan h) nyeri perut (Tehuteru, 2009). Gejala yang khas adalah pucat, panas, dan pendarahan disertai splenomegali (pembesaran limpa), kadangkadang hepatomegalia (pembesaran hati) serta limfadenopatia (pembesaran kelenjar getah bening). Pucat dapat terjadi secara mendadak. Pendarahan dapat berupa ekimosis (pendarahan), petekia (bintik-bintik merah), epistaksis (mimisan), perdarahan gusi, dan sebagainya. Pada stadium permulaan mungkin tidak terdapat splenomegali. Gejala yang tidak khas adalah sakit sendi atau sakit tulang yang dapat disalahtafsirkan sebagai penyakit reumatik. Gejala lain dapat timbul sebagai akibat infiltrasi sel leukemia pada alat tubuh, seperti lesi purpura pada kulit, efusi plura, kejang pada leukemia serebral dan sebagainya (Rusepno, 1985). Penyebab leukemia masih belum diketahui secara pasti hingga kini, namun menurut hasil penelitian, orang dengan faktor risiko tertentu lebih meningkatkan risiko timbulnya penyakit leukemia, yaitu (a) Radiasi dosis tinggi. Radiasi dengan dosis sangat tinggi, seperti ketika bom atom di Jepang pada masa perang dunia ke2 menyebabkan peningkatan insiden penyakit ini. Terapi medis yang menggunakan radiasi juga merupakan sumber radiasi dosis tinggi. Sedangkan radiasi untuk diagnostik (misalnya rontgen), dosisnya jauh lebih rendah dan tidak berhubungan dengan peningkatan kejadian leukemia. (b) Pajanan terhadap zat

kimia tertentu, yaitu benzene, formaldehida. (c) Kemoterapi. Pasien kanker jenis lain yang mendapat kemoterapi tertentu dapat menderita leukemia di kemudian hari. Misalnya, kemoterapi jenis alkylating agents. Namun, pemberian kemoterapi jenis tersebut tetap boleh diberikan dengan pertimbangan rasio manfaat-risikonya. (d) Sindrom Down. Sindrom Down dan berbagai kelainan genetik lainnya yang disebabkan oleh kelainan kromosom dapat meningkatkan risiko kanker. (e) Human T-Cell Leukemia Virus-1 (HTLV-1). Virus tersebut menyebabkan leukemia T-cell yang jarang ditemukan. Jenis virus lainnya yang dapat menimbulkan leukemia adalah retrovirus dan virus leukemia feline. (e) Sindroma mielodisplatik. Sindroma mielodisplastik adalah suatu kelainan pembentukan sel darah yang ditandai berkurangnya kepadatan sel (hiposelularitas) pada sumsum tulang. Penyakit ini sering didefinisikan sebagai pre-leukemia. Orang dengan kelainan ini berisiko tinggi untuk berkembang menjadi leukemia. (f) Merokok (Detak, 2008).

F. Analisis Jurnal 1. Kritisi Jurnal dan Pemanfaatannya

KRITISI JURNAL a. Judul: (5 poin) = 5 Dilihat dari judul, judul dalam penelitian ini telah jelas menguraikan masalah variable yang diteliti dan variable yang diteliti sudah termasuk dalam judul penelitian dan populasi yang digunakan yaitu anak remaja juga termasuk dalam judul penelitian. b. Kualifikasi penulis: (5 poin) = 5 Penulis adalah seorang psikolog (spesialis psikologi), jika dilihat dari kualifikasi tentunya seorang ahli psikolog memiliki kualifikasi yang baik

dalam bidangnya terutama penatalaksanaan kecemasan. Artikel yang diterbitkan sesuai dengan jurnal yaitu Jurnal tentang Kanker yang diterbitkan di Indonesian Journal of Cancer Vol. 5, No. 1. c. Pernyataan Masalah: (10 poin) = 6 Fenomena telah dijelaskan pada pendahuluan masih kurang mencerminkan. Hal tersebut terlihat dari beberapa komponen yang belum ditampilkan dalam penelitian ini diantaranya besarnya masalah tersebut, dampak jika masalah tersebut tidak diatasi, hal yang sudah dilakukan di Rumah Sakit untuk pasien dengan kecemasan seperti perawatan paliatif yang didalamnya adalah art terapi. d. Tujuan: (10 poin) = 5 Tujuan dalam penelitian ini tidak dinyatakan secara eksplisit dalam

artikel, namun secara implisit. Makna yang diproyeksikan untuk tindakan keperawatan juga tidak dijelaskan secara eksplisit, namun dijelaskan dengan bahasa yang abstrak dan kurang operasional. e. Metode: (10 poin) = 9 Metode yang digunakan dalam penelitian ini sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Metode yang digunakan sangat memadai karena sampel yang digunakan juga sedikit yaitu 2 sampel perlakuan dan 3 orang sampel control. f. Sampling: (10 poin) = 4 Seleksi terhadap responden telah dijelaskan dalam penelitian dengan teknik purposive sampling. Ukuran sampel yang digunakan tidak memadai, namun jika menggunakan penelitian kualitatif hal tersebut dapat dilakukan karena pada penelitian kualitatif yang dilihat adalah fenomenologi bukan data kuantitatif.

10

Kriteria inklusi dan eksklusi sesuai, studi dapat digeneralisasikan kepada bidang psikologi, bidang keperawatan atau tenaga kesehatan lain seperti dokter. Bias dari sampel tidak teridentifikasi karena 22 dan 24 sesi dari terapi seni tidak dijelaskan dalam artikel ini melainkan hanya dijelaskan pada abstrak. g. Pengumpulan Data: (10 poin) = 4 Dalam artikel ini, strategi pengumpulan dat tidak dijelaskan secara terperinci hanya dituliskan sehingga pembaca tidak dapat mengidentifikasi teknik kerja dari penelitian ini, hal tersebut telah dijelaskan pada artikel bahwa peneliti tidak menjabarkan teknik pengumpulan data maupun alat pengumpulan data. Etika penelitian tidak dijelaskan pada artikel ini, serta cara pengumpulan data juga tidak dijelaskan secara eksplisit. h. Pertimbangan etik (10 poin) = 0 Dalam artikel tidak diungkapkan persetujuan peninjau maupun komite etik, dan hak subyek tidak dieksplisitkan dalam penelitian ini. Mungkin saja, di makalah asli ditampilkan sedangkan dalam artikel ini tidak ada yang menyinggung hal tersebut. i. Analisis Data: (10 poin) = 4 Tidak ada penggunaan statistic penelitian dalam penelitian ini, data kuantitatif dibandingkan hanya dengan membandingkan nilai rata-rata saja. Proses analisis data sesuai, hasil memberikan jawaban terhadap pertanyaan penelitian. Penyajian table disajikan, namun penilaian HRSA ada yang tidak sesuai dengan kaidah penilaian sesuai teori HRSA, sehingga kemungkinan terdapat kesalahan dalam pemberian skoring pada penelitian ini.

11

j. Diskusi (10 poin) = 7 Diskusi atau pembahasan yang dilakukan sesuai dengan data, peneliti menggambarkan secara kualitatif hasil dari penelitian yang diperoleh. Namun diskusi yang digunakan kurang optimal. Peneliti hanya terfokus pada hasil dari art terapi, bukan hal-hal yang mendukung penelitian. Penelitianpenelitian terdahulu tidak ditampilkan, sedangkan penulis telah menemukan beberapa penelitian seputar art terapi sejak tahun 2002 sedangkan jurnal yang memiliki variable yang sama terdapat pada tahun 2006. k. Kesimpulan, Implikasi, dan Rekomendasi: (10 poin) = 6 Peneliti telah mengidentifikasi keterbatasannya, namun keterbatasan tersebut telah dilakukan rasionalisasi yang mendukung proses penelitian. Berbagai keterbatasan lain tidak ditampilkan dalam penelitian ini, diantaranya dukungan keluarga atau care giver, kondisi fisik, social, spiritual pada seorang yang mengalami leukemia tidak dilakukan control dalam penelitian ini. Kesimpulan yang ditampilkan belum mencerminkan hasil penelitian secara keseluruhan. Pentingnya penelitian untuk medis dinyatakan secara eksplisit, namun jika dilihat dari penelitian lainnya penelitian ini sangat bermanfaat bagi dunia keperawatan karena art therapy merupakan salah satu NIC.

FORMAT PENILAIAN KRITIK RESEARCH No 1 2 3 Acuan Kritik Research Judul Kualifikasi penulis Pernyataan masalah Points 5 points 5 points 10 points Nilai 5 5 6

12

4 5 6 7 8 9 10 11

Tujuan penelitian Metode Teknik pengumpulan data/sampling Pengumpulan data Pertimbangan etik Analisa data Diskusi Kesimpulan Total

10 points 10 points 10 points 10 points 10 points 10 points 10 points 10 points 100

5 9 4 4 0 4 7 6 55

Pemanfaatan Hasil Penelitian/Research Utilization Isu yang terkait dalam penelitian ini adalah art terapi yang merupakan salah satu dari teknik perawatan paliatif dan juga terapi modalitas. Dalam pelaksanaannya, sebenarnya pelaksanaan art terapi telah dilakukan di Rumah Sakit terutama Rumah Sakit yang memiliki keperawatan anak seperti di RSUP Sanglah Denpasar. Hambatan dan tantangan yang ada selama pemanfaatan riset ini adalah menyeimbangkan antara hobi atau kesenangan pasien dengan art therapy yang akan dilakukan harus sesuai sehingga pelaksanaan art terapi ini bersifat fleksibel inovatif. Keuntungan dilakukan art terapi ini sangat banyak selain menurunkan kecemasan, juga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien. Peran perawat dalam pelaksanaan art terapi sangat penting karena disini Art terapi merupakan salah satu NIC yang merupakan kompetensi seorang perawat sehingga disini perawat memiliki kewenanan untuk melakukan tindakan ini.

PEMANFAATAN RISET No 1 2 Acuan Kritik Research Isu terkait praktik keperawatan dan terkini Hambatan terkait pemanfaatan riset Points 10 points 15 points Nilai 5 15

13

3 4 5 6 7 8

Tantangan terkait pemanfaatan riset Keuntungan pemanfaatan riset dalam praktek keperawatan Peran perawat dalam pemanfaatan riset Strategi untuk meningkatkan pemanfaatan riset Tren dari pemanfaatan hasil riset Kesimpulan Total

15 points 10 points 15 points 15 points 10 points 10 points 100

15 10 15 10 10 9 89

2.

Kelayakan Berdasarkan hasil penelitian di atas, sebenarnya hasil dari penelitian ini

sangat bagus bagi perkembangan keperawatan. Hanya saja masih banyak penelitian terkait yang memiliki nilai yang lebih baik dibandingkan penelitian ini. Namun, melihat manfaat yang baik dari hasil penelitian ini, untuk lebih mengefektifkan keperawatan pembaca dapat mempertimbangkan penelitian lain sebagai perbandingan dan kelayakan dari terapi ini untuk diterapkan akan dibahas pada bab 3 dengan mencantumkan studi literature dan jurnal yang mendukung dan teknik art terapi yang lebih beragam dan sesuai dengan kemampuan pasien serta budaya dari pasien tersebut. 3. a. Analisis Isi Jurnal Analisis P.I.C.O.T

1) Population Subjek dalam penelitian ini memiliki karakteristik : (a) laki-laki atau perempuan, (b) berusia 11-20 tahun (adolescents), (c) di diagnosis menderita leukemia, AML atau ALL, dan (d) dirawat di Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta. Pada penelitian ini ada 5 subjek, yaitu 3 remaja laki-laki dan 2 remaja perempuan. Tiga subjek laki-laki adalah F (12 tahun 1 bulan, kelas VI SD), Ar (15

14

tahun, kelas I SMU), dan An (13 tahun, 4 bulan kelas I SMP). Dua subjek perempuan adalah M (13 tahun 8 bulan, kelas II SMP) dan R (12 tahun 7 bulan, home schooling). Dari 5 subjek penelitian, 2 subjek yang diberikan art therapy, yaitu F (remaja laki-laki, berusia 12 tahun 1 bulan, kelas VI SD, menderita AML M5) dan M (remaja perempuan, berusia 13 tahun 8 bulan, kelas II SMP, menderita AML M2). Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling/judgemental. Pertimbangan awal dalam purposive sampling adalah penilaian dari peneliti bahwa siapa yang dapat memberikan informasi terbaik untuk mencapai tujuan dari penelitian tersebut. Penelitian ini dilakukan di bangsal anak Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah pedoman wawancara, pedoman observasi, skala pengukuran kecemasan yaitu Hamilton Rating Scale For Anxiety (HRS-A), dan Child Anxiety subscale of the Revised Childrens Manifest Anxiety Scale (RCMAS) yang diisi oleh subjek, dan tes grafis, seperti Draw A Person (DAP), Baum, dan House Tree Person (HTP). 2) Intervention Intervensi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pemberian Art terapi pada pada pasien. Art terapi yang dipilih dalam penelitian ini adalah terapi menggambar. 3) Comparison Pembanding dalam penelitian ini adalah control yaitu kelompok yang tidak dilakukan terapi apapun. 4) Outcome Penelitian ini menggunakan pendekatan metode kualitatif sebagai metode utama dan metode kuantitatif sebagai metode pendukung. Metode kualitatif

15

digunakan untuk menggambarkan kecemasan yang dialami oleh remaja penderita leukemia, yaitu penyebab terjadinya kecemasan, perilaku keseharian subjek yang menunjukkan kecemasan, dan bagaimana perubahan kecemasan subjek setelah diberikan art therapy. Sedangkan metode kuantitatif melalui pre-post test digunakan untuk melihat efektivitas art therapy dalam mengurangi kecemasan pada remaja penderita leukemia. Desain pre-test/post-test adalah desain yang tepat untuk mengukur pengaruh atau efektivitas dari suatu program intervensi. SUBYEK 1 (F) Pada subjek 1 (F) reaksi emosional yang dialaminya adalah perasaan sedih, cemas, merasa bersalah, dan marah. F merasa sedih karena saat ini dirinya sedang sakit sehingga ia tidak bisa melakukan aktivitas sehari-hari secara bebas dan melakukan kegiatan yang disukainya. Sedangkan anak-anak lain yang tidak sakit bisa melakukan kegiatan apapun yang mereka sukai. Keadaan ini membuat F merasa sedih dan menganggap bahwa anak-anak lain lebih bahagia dari pada dirinya. Kecemasan yang dirasakan oleh F berhubungan dengan gusinya saat ini yang bengkak dan menutupi seluruh permukaan giginya. F cemas memikirkan apakah nantinya giginya akan terlihat seperti sebelumnya atau tidak. F juga cemas memikirkan apakah nantinya bisa sembuh atau tidak. F juga merasa cemas memikirkan sekolahnya karena tidak lama lagi dirinya akan menghadapi ujian akhir. F merasa cemas bahwa dirinya tidak bisa mengikuti ujian akhir dan tidak lulus. F juga merasakan perasaan rasa bersalah terhadap kedua orang tuanya dan juga adiknya. Rasa bersalah ini dikarenakan F merasa menjadi beban bagi kedua orang tuanya karena kedua orang tuanya harus menghabiskan dana yang cukup besar untuk biaya pengobatan F. Rasa bersalah ini sempat ditunjukkan oleh F dengan mengigau dengan menyalahkan diri sendiri. F juga merasa bersalah karena dengan kondisinya yang sakit saat ini, F menganggap bahwa dirinya membuat keluarganya repot karena harus menjaga dirinya di rumah sakit dan meninggalkan aktivitas mereka di Bogor. F juga merasa bersalah karena perhatian kedua orang tuanya menjadi tertuju pada dirinya, sedangkan adiknya yang masih duduk di bangku

16

kelas III SD harus bisa mengurus diri sendiri. F merasakan adanya rasa marah, yaitu dengan mempertanyakan apakah Tuhan benar-benar menyayanginya karena F menganggap jika Tuhan benar-benar menyayanginya karena ia adalah anak yang baik, kenapa Tuhan memberikan penyakit yang berat kepada dirinya dan kenapa Tuhan seperti mengambil kebahagiaannya. Rasa marah ini terkadang keluar melalui mimpi dan rasa mengigau karena F adalah anak yang baik dan selalu memiliki kontrol. Dalam keadaan sadar ia bisa mengontrol tingkah lakunya sehingga semua rasa marahnya ditekan ke dalam alam bawah sadarnya yang akhirnya muncul dalam bentuk mimpi. SUBYEK 2 (M) Sedangkan pada subjek 2 (M) reaksi emosional yang alaminya adalah rasa takut. M merasa takut dengan kondisi di rumah sakit, yaitu tentang kondisi fisik pasien. Rasa takut M ini ditunjukkan dengan menjaga jarak dengan pasien lain yang berada satu kamar dengan dirinya, terutama jika kondisi pasien tersebut parah. M berusaha tidak terlibat interaksi dengan pasien yang kondisi fisiknya parah karena M takut pasien tersebut meninggal dan dirinya menjadi terbayangbayang dengan pasien tersebut. Ketakutan ini juga ditunjukkan oleh M dengan tidak mau melihat foto-foto pasien yang telah meninggal yang terpajang di dinding dekat ruang bermain. Reaksi emosional lainnya yang dirasakan oleh M adalah perasaan cemas. Kecemasan yang dirasakan oleh M terkait dengan kondisi fisiknya saat ini, yaitu rambut M yang rontok dan mulai terlihat gundul. M merasa cemas dengan pendapat orang-orang mengenai penampilannya. Kecemasan ini membuat M malas untuk beraktivitas di luar ruangan. M menganggap bahwa penampilannya yang menggunakan masker dan terlihat gundul akan dianggap aneh oleh orang-orang yang melihat dirinya. Kondisi fisik ini juga membuat M merasa malu terhadap lingkungan. M juga merasakan adanya perasaan marah terkait dengan kondisinya saat ini. Rasa marah M berhubungan dengan keterbatasannya melakukan kegiatan yang disukainya, yaitu bermain basket. Rasa marah M terlihat dari intonasi suaranya ketika menceritakan kebosanannya berada di rumah sakit dan tidak bisa bermain basket lagi seperti sebelumnya. M juga

17

merasakan marah karena banyaknya larangan untuk mengonsumsi makananmakanan yang disukainya. HASIL KUANTITATIF SUBYEK 1 (F) Berdasarkan pengukuran Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A) menunjukkan bahwa F mengalami kecemasan sedang. Sedangkan berdasarkan Revised Childrens Manifest Anxiety Scale (RCMAS) faktor kecemasan yang menonjol adalah faktor II, yaitu worry oversensitivity. Tanda-tanda kecemasan yang ditunjukkan oleh F adalah gangguan tidur, berkeringat, menghindari kontak mata, perasaan dan pikiran tentang kekhawatiran, serta sering menggoyang-goyangkan kaki. SUBYEK 2 (M) Berdasarkan pengukuran Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A) menunjukkan bahwa M mengalami kecemasan berat. Sedangkan berdasarkan Revised Childrens Manifest Anxiety Scale (RCMAS) faktor kecemasan yang menonjol adalah faktor III, yaitu physilogical concerns. Tanda-tanda kecemasan yang ditampilkan oleh M adalah menghindar, gangguan tidur, gangguan pencernaan, memiliki perasaan dan pikiran tentang kekhwatiran, serta sering mengoyang-goyangkan kakinya. OBSERVASI DALAM PROSES SESI MENGGAMBAR F dan M keduanya adalah remaja yang cukup tertutup sehingga art therapy melalui kegiatan menggambar merupakan bentuk terapi yang lebih sesuai untuk F dan M dalam mengurangi kecemasan yang dialami oleh F dan M. Melalui kegiatan menggambar, F dan M merasa lebih nyaman dan aman karena mereka tidak merasa sedang diintrograsi untuk menceritakan apa yang mereka rasakan dan pikirkan terkait dengan kondisi mereka saat ini yang sedang menjalani pengobatan leukemia di rumah sakit. Memaksa remaja untuk menceritakan apa yang mereka rasakan dan pikirkan justru membuat mereka merasa tidak nyaman. Ketika remaja ditanya mengenai keadaannya mereka pasti akan menjawab baikbaik saja. Melalui proses art therapy remaja dibuat untuk merasa aman dan nyaman. Gambar yang dibuat, nuansa gambar, pemilihan warna mencerminkan

18

kondisi F dan M saat itu. Melalui gambar-gambar yang dibuat oleh F dan M dapat menunjukkan apa yang sedang dipikirkan dan dipikirkan oleh F dan M. Begitu juga dengan terjalinnya hubungan tereupatik yang hangat dengan F dan M membuat F dan M menjadi terbuka untuk mencerikan permasalahanpermasalahan yang mereka alami terkait dengan kondisi keduanya saat ini yang sedang menjalani pengobatan leukemia di rumah sakit. Pada akhirnya dengan kemampuan F dan M untuk memahami permasalahan yang mereka rasakan dapat menimbulkan insight bagi keduanya dan menyelesaikan permasalahan yang ada, yaitu mengurangi tingkat kecemasan yang dirasakan oleh F dan M.

5) Time Waktu diakukan penelitian dalam penelitian ini tidak dijelaskan secara terperinci dalam artikel, diperkirakan pada tahun 2010 karena artikel diterbitkan pada awal Januari 2011.

BAB III PEMBAHASAN

A. Pembahasan

19

Madden (2010) dalam penelitiannya yang berjudul Creative Arts Therapy Improves Quality of Life for Pediatric Brain Tumor Patients Receiving Outpatient Chemotherapy, menunjukkan hasil bahwa pelaksanaan Creative Art Therapy yang salah satunya Art therapy menunjukkan pengaruh yang baik dalam mengatasi nyeri (P = .03), mual (P = .0061), mood (P < .01), ketertarikan (P < .05), perasaan senang (P < .02), and nervous (P < .02). Purwandari (2011) dengan judul penelitian pengaruh terapi seni dalam menurunkan tingkat kecemasan anak usia sekolah yang menjalani hospitalisasi di wilayah Kabupaten Banyumas. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi terapi seni tidak memberikan pengaruh terhadap penurunan tingkat kecemasan, namun efektif untuk menurunkan denyut nadi yang merupakan salah satu respon fisiologis kecemasan. Nainis, et al (2006) dalam penelitiannya yang berjudul Relieving Symptoms in Cancer: Innovative Use of Art Therapy. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pemberian terapi seni dapat menurunkan 8 gejala dari kanker kecuali mual. 8 gejala tersebut diantaranya nyeri, kelelahan, depresi, ansietas, drowsiness, nafsu makan, sesak, dan kesejahateraan. Foster, et al (2012), menjelaskan domain dari fisik, psikologi, social dan spiritual yang akan diungkapkan oleh anak selama fase mengerti tentang kematiannya sesuai dengan golongan usia yaitu usia pra sekolah, usia sekolah dan remaja. Pada jurnal Foster, Terah (2012), dikemukakan bahwa pelayanan paliatif yang dilakukan dengan menekankan pada pengenalan gejala gangguan spiritual (individu, keluarga dan lingkungan) dan penatalaksanaan pada pasien dengan penyakit terminal. Disini dijelaskan tentang gejala dan verbal yang sering dikemukakan oleh pasien anak menjelang ajalnya. Pemberian terapi dilakukan setiap hari dengan prinsip holistic care. Berbagai terapi diberikan pada pasien anak dengan penyakit terminal seperti intervensi kesehatan spiritual yang mencakup terapi komunikasi. Terapi fisik, terapi sendiri (terapi seni, terapi music, bercerita)

20

B. Implikasi Keperawatan di Ruangan Pudak

BAB IV PENUTUP A. Simpulan

B. Saran Adapun saran dari makalah ini adalah : 1. Orang Tua Mengingat bahwa art terapi memiliki pengaruh yang positif terhadap kecemasan pasien anak dengan kanker, maka diharapkan orang tua yang memiliki anak yang mengalami kanker selama perawatan di rumah sakit atau di rumah agar memberikan art terapi kepada mereka, namun art terapi tersebut sesuai dengan kemampuan, minat, motivasi dan melakukan terapi terseebut secara berkelompok dengan keluarga sehingga kehidupan social anak akan lebih baik. 2. Ruang Anak Diharapkan ruangan anak dapat melakukan terapi yang efektif pada pasien anak terutama melakukan pengkajian terlebih dahulu untuk pemberian art terapi seperti memasukkan pertanyaan tentang kegiatan seni yang diminati ke dalam pengkajian keperawatan terutama kebutuhan rekreasi sehingga perawat dapat menyarankan kepada orang tua teknik art terapi yang tepat inovatif untuk pasien tersebut selama perawatan di rumah sakit.

21

3. Institusi Pendidikan Institusi pendidikan diharapkan lebih mengembangkan art terapi ini dengan pembuatan SOP art terapi yang beragam sesuai umur anak, sehingga mahasiswa memiliki banyak pilihan terapi dan sesuai dengan tingkat perkembangan anak tersebut serta tidak membosankan.

DAFTAR PUSTAKA Himelstein, et al, 2010, Pediatric Palliative Care : Medical Progress , Downloaded from www.nejm.org at LOYOLA UNIVERSITY on April 15, 2010, Copyright 2004 Massachusetts Medical Society. All rights reserved. Barraclough, J. Cancer and Emotion third edition A practical guide to psychooncology. UK : John Wiley & Sons, LTD. 2009. CancerHelps. What is art therapy. Diambil tanggal 26 September 2007, dari http://www.cancerhelp.org,uk/help. default.asp?page=25615. Detak. (2008). Leukemia. Diambil tanggal 2 Febuari http://www.detak.org/aboutcancer.php?id=10&c_id=9. 2009, dari

Hamama, L.,Ronen, T., Rahav, G. (2008). Self-Control, Self-Efficacy, Role Overload and Stress Responses among Siblings of Children with Cancer. Health & Social Work. Academic Research Library. Malchiodi, C.A. (2001). Trauma and Loss : Research and Interventions, volume 1 number 1, 2001.Malchiodi, C.A. (2003). Handbook of Art Therapy. Guilford Publications. Rusepno, H., Husein, A. Buku kuliah Ilmu kesehatan anak. Jakarta : Fakultas kedokteran Universitas Indonesia.1985.

22

Tehuteru, E.S. Leukemia pada anak : selalu ada harapan. Diambil tanggal 11 Febuari 2009, dari http://www.dharmais,co,id/ Nainis, et al (2006) Relieving Symptoms in Cancer: Innovative Use of Art Therapy@2006 U.S. Cancer Pain Relief Committee Published by Elsevier Inc. All rights reserved.

23