Anda di halaman 1dari 21

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Salah satu penyakit yang termasuk masalah kesehatan masyarakat adalah kanker system urogenitalia. Tumor buli-buli paling sering menyerang 3 kali lebih sering dari tumor urogenital lain. Sebagian besar (atau 90%) tumor buli-buli adalah karsinoma sel transisional. Di Amerika Serikat keganasan ini merupakan penyebab kematian ke enam dari seluruh penyakit kaganasan, dan pada tahun 1996 yang lalu diperkirakan ditemukan 52.900 kasus baru kanker buli-buli. Di Indonesia berdasarkan pendataan hasil pemeriksaan jaringan yang dilakukan selama 3 tahun diketahui bahwa kanker buli-buli menempati urutan kesepuluh dari tumor ganas primer pada pria. Di sub bangian Urologi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo dari 152 kasus keganasan urologi antara tahun 1995-1997, 36% diantaranya adalah kanker buli-buli dan juga menempati urutan pertama.

1.2

Rumusan Masalah 1.2.1 Bagaimana anatomi dan fisiologi dari Karsinoma Buli-Buli 1.2.2 Apa definisi dari Karsinoma Buli-Buli 1.2.3 Apa saja etiologi dari Karsinoma Buli-Buli 1.2.4 Apa saja klasifikasi dari Karsinoma Buli-Buli 1.2.5 Bagaimana pathofisiologi dari Karsinoma Buli-Buli 1.2.6 Apa saja manifestasi klinis dari Karsinoma Buli-Buli 1.2.7 Apa saja komplikasi dari Karsinoma Buli-Buli 1.2.8 Apa saja pemeriksaan penunjang pada Karsinoma Buli-Buli 1.2.9 Bagaimana penatalaksanaan pada Karsinoma Buli-Buli 1.2.10 Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien Karsinoma Buli-Buli

1.3

Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum Menambah pengetahuan seputar penyakit Karsinoma Buli-Buli serta asuhan keperawatan yang dilakukan oleh perawat pada pasien Karsinoma Buli-Buli 1.3.2 Tujuan Khusus 1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan penyakit Karsinoma Buli-Buli

2. Untuk mengetahui gejala-gajala yang timbul pada penderita Karsinoma Buli-Buli 3. Untuk mengetahui apa saja penyebab sekaligus patofisiologi dari penyakit Karsinoma BuliBuli 4. Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan pada pasien penderita Karsinoma Buli-Buli 1.4 a. Manfaat Mahasiswa akan lebih mengetahui tentang Karsinoma Buli-Buli Lebih memahami tentang penerapan asuhan keperawatan Karsinoma Buli-Buli

b. Lebih mengerti tentang penatalaksanaan terhadap klien dengan Karsinoma Buli-Buli c.

BAB 2 PEMBAHASAN

2.1

Anatomi dan Fisiologi Buli-buli adalah organ berongga yang dindingnya terdiri dari otot-otot halus yang disebut muskulus detrusol. Otot ini terdiri dari yang arah seratnya sedemikian rupa sehingga bila berkontraksi menyebabkan buli-buli mengkerutdan volumenya mengecil. Di bagian distal yaitu dekat dasar panggul (Diafgrama Urogenital) otot detrusor membentuk tabung dan melapisi uretra posterior. Lapisan sebelah dalam dari buli-buli adalah mukosa yang terdiri dari epitel sel transisi. Disebelah luar dilapisi oleh serosa dan bagian fundus (kubah) ditutup oleh peritonium. Bila buli-buli penuh peritonium terdesak kekranial. Buli terletak dirongga perut bagian bawah, tepatnya didalam rongga pelvis dan extra peritonial. Berada tepat dibelakang simfis pubis. Pada pria dibagian belakang berdekatan dengan rektum dan pada wanita berdekatan dengan uterus dan vagina. Berbeda dengan traktus urinarius bagian atas (ginjal dan ureter), maka untuk traktus urinarius bagian bawah, buli ke distal, persyaratan amat penting peranannya untuk menjalankan fungsi organ tersebut. Persyarafan buli dan uretra dilaksanakan oleh system syaraf otonom yang terdiri dari parasimpatis dan simpatis. Persyarafan ini berpusat di medula spinalis segmen torakolumbal. (Th XII LIII) dan segmen sakral II-IV ( parasimpatis) (R. Syamsu Hidayat, 1997)

Terdapat tiga fungsi penting dari buli yaitu reservoir, ekspulsi urin, dan anti reflek. Sebagai reservoir, buli-buli manusia mempunyai kapasitas antara 200 sampai dengan 400 ML. Setelah miksi buli-buli diisi lagi dengan urin yang datang dari ginjal. Selama pengisian

ini sampai kapasitasnya terpenuhi, tekanan dalam buli-buli tetap rendah, kurang dari 20 cm H20. bila buli-buli penuh dindingnya teregang dan menyebabkan rangsangan pada reseptor di dinding buli- buli, akibatnya tekanan dalam buli-buli meningkat dan dirasakan sebagai perasaan ingin kencing. Pada keadaan demikian uretra posterior otomatis membuka. Urin belum keluar karena masih ditahan oleh sfingter eksterna yang terdiri dari otot bergaris dengan persyasarafan sema omotoris yang bekerja secara disadari ( volunter ). Sfingter ini akan membuka bila di perintahkan oleh yang bersangkutan. Pada waktu ekspulasi tekanan dalam buli- buli meningkat antara 70 100 cm H20. Urin yang ada dalam buli-buli tidak akan mengalir ke arah ginjal. Arah ureter bagian distal yang serong. Panjangnya ureter intravesikal serta lokasinya yang submukos menyebabkan terjadinya mekanisme klep yang mencegah urin ke arah ginjal ( refluk ) ( R> Syamsu Hidayat, 1997 ). 2.2 Definisi dari Karsinoma Buli-Buli Kanker buli buli adalah kanker yang mengenai organ buli buli (kandung kemih). Buli buli adalah organ yang berfungsi untuk menampung air kemih yang berasal dari ginjal. Jika buli buli telah penuh maka air kemih akan dikeluarkan. Carcinoma buli adalah tumor yang didapatkan pada buli-buli atau kandung kemih yang akan terjadi gross hematuria tanpa rasa sakit yaitu keluar air kencing warna merah terus. 2.3 Etiologi Penyebab yang pasti dari kanker kandung kemih tidak diketahui. Tetapi penelitian telah menunjukkan bahwa kanker ini memiliki beberapa faktor resiko yaitu : a. b. Usia, resiko terjadinya kandung kemih meningkat sejalan dengan pertambahan usia Merokok. Merupakan faktor resiko yang utama. Rokok mengandung amin aromatic dan nitrosamine yang merupakan jenis hidrokarbon didalam TAR. Zat ini akan meningkatkan resiko terkena kanker buli. c. Lingkungan pekerjaan , beberapa pekerja memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menderita kanker ini karena ditempatnya bekerja ditemukan bahan bahan karsinogenik ( penyebab kanker ). Misalnya pekerja industry karet, KIMA, dll d. Pria , memiliki resiko 2 3 kali lebih besar. e. Riwayat keluarga , orang orang yang keluarganya ada yang menderita kanker kandung kemih memiliki resiko lebih tinggi untuk menderita kanker ini. Peneliti sedang mempelajari adanya perubahan Gen tertentu yang mungkin meningkatkan resiko terjadinya kanker ini. 2.4 Klasifikasi 2.4.1 Staging dan klasifikasi

Klasifikasi DUKE-MASINA, JEWTT dengan modifikasi STRONG-MARSHAL untuk menentukan operasi atau observasi : a. T = pembesaran lokal tumor primer Ditentukan melalui : Pemeriksaan klinis, uroghrafy, cystoscopy, pemeriksaan bimanual di bawah anestesi umum dan biopsy atau transurethral reseksi. No 1 2 KODE Tis Tx KET Carcinoma insitu (pre invasive Ca) Cara pemeriksaan untuk menetapkan

penyebaran tumor, tak dapat dilakukan 3 4 To T1 Tanda-tanda tumor primer tidak ada Pada pemeriksaan bimanual didapatkan masa yang bergerak 5 T2 Pada pemeriksaan bimanual ada indurasi daripada dinding buli-buli. 6 T3 Pada pemeriksaan bimanual indurasi atau masa nodular yang bergerak bebeas dapat diraba di buli-buli. 7 8 9 10 T3a T3b T4 T4a Invasi otot yang lebih dalam Perluasan lewat dinding buli-buli Tumor sudah melewati struktur sebelahnya Tumor mengadakan invasi ke dalam

prostate, uterus vagina 11 T4b Tumor sudah melekat pada dinding pelvis atau infiltrasi ke dalam abdomen

c.

N = Pembesaran secara klinis untuk pembesaran kelenjar limfe pemeriksaan kinis, lympgraphy, urography, operative No 1 KODE Nx Minimal yang KET ditetapkan kel. Lymfe

regional tidak dapat ditemukan 2 No Tanpa tanda-tanda pemebsaran kelenjar

lymfe regional 3 N1 Pembesaran tunggal kelenjar lymfe regional yang homolateral 4 N2 Pembesaran kontralateral atau bilateral atau kelenjar lymfe regional yang multiple 5 N3 Masa yang melekat pada dinding pelvis dengan rongga yang bebeas antaranya dan tumor 6 N4 Pemebesaran kelenjar lymfe juxta regional

c.

M = metastase jauh termasuk pemebesaran kelenjar limfe yang jauh. Pemeriksaan klinis , thorax foto, dan test biokimia No 1 KODE Mx KET Kebutuhan cara pemeriksaan minimal untuk menetapkan adanya metastase jauh, tak dapat dilaksanakan 2 3 M1 M1a Adanya metastase jauh Adanya metastase yang tersembunyi pada test-test biokimia 4 M1b Metastase tunggal dalam satu organ yang tunggal 5 M1c Metastase multiple dalam satu terdapat organ yang multiple 6 M1d Metastase dalam organ yang multiple

2.4.2

Type dan lokasi

Type tumor didasarkan pada type selnya, tingkat anaplasia dan invasi. 1 Efidermoid Ca Kira-kira 5% neoplasma buli-buli

squamosa cell, anaplastik, invasi yang dalam dan cepat metastasenya 2 Adeno Ca Sangat jarang dan sering muncul pada

bekas urachus 3 Rhabdomyo sarcoma Sering terjadi pada anak-anak laki-laki (adolescent), infiltasi, metastase cepat dan biasanya fatal 4 Primary lymphoma Malignant Neurofibroma dan pheochromacytoma,

dapat menimbulkan serangan hipertensi selama kencing

Ca dari pada kulit, Mungkin mengadakan metastase ke bulimelanoma, lambung, buli, invasi ke buli-buli oleh endometriosis paru dan mammae dapat terjadi

2.5

Patofisiologi Batu saluran kemih adalah agregat polikristal yang terdiri dari sejumlah kristaloid dan matrik organik. Pembentukan batu membutuhkan suasan urin yang tersupersaturasi. Supersaturasi tergantung pada Ph, kekuatan ion, konsentrasi solute dan komplekasi. Konstituen urin bisa berubah sedemikian rupa dari kondisi asam pada pagi hari ke akalis setelah makan. Kekuatan ion ditentukan terutama oleh konsentrasi relatif ion monovalen. Pada saat kekuatan ion meningkat, koefisien aktivitasnya menurun. Koefisien aktivitas merefleksikan keberadaan ion tertentu. Tori nukleasi menyatakan bahwa batu saluran kemih berasal dari kristal atau benda asing yang terendam dalam urin tersuperaturasi. Teori ini ditentang oleh argumen- argumen yang memiliki dasar yang sama didengarnya. Batu tidak selalu terbentuk pada pasien dengan hiperekskretor atau mereka yang memiliki resiko dehidrasi. Demikian juga urin tampung 24 jam penderita batu adalah normal dalam hal konsentrasi ion untuk terjadinya pembentukkan batu. Teori inhibitor kristal mengklaim bahwa batu terbentuk karena tidak adanya atau rendahnya konsentrasi Inhibitor baru separti magnesium, sitrat, pirofosfat, asam glikoprotein dan sejumlah logam- logam trace. Teori ini tidak cukup valid dengan adanya kenyataan bahwa pada banyak orang dengan kekurangan bahan- bahan Inhibitor tersebut masih terjadi pembentukkan batu atau sebaliknya pada orang yang berlimpah malah didapatkan batu. Ionion yang berada pada di dalam saluran kemih yang berperan dalam pembentukan buli- buli antara lain : a. Kalsium. Kalsium adalah ion utama dalam kristal urin. Hanya 50% kalsium plsma yang terionisasi dan siap difiltrasi di glomerulus.

b.

Oksalat. Oksalat adalah produk sampah metabolisme dan relatif Insolubel. Normalnya sekitar 10-50 % oksalat yang ditemukan di urin berasal dari diet. Sebagian besar adalah hasil metabolisme.

c.

Fosfat. Fosfat adalah buffer penting dan mengkompleks dengan kalsium dalam urin. Merupakan komponen kunci batu kalsium fosfat dan magnesium amonium fosfat. Ekskresi fosfat urin pada dewasa normal berkaitan dengan jumlah fosfat diet ( khususnya dalam daging dairy product dan sayuran ).

d. Asamurat. Asam urat adalah sampah metabolisme urin. Pka asam urat uarat yang tidak trdisosiasi akan dominan pada Ph dibawahnya. e.

adalah 5,75. Asam

Sodium. Walaupun bukan merupakan konstituen utama batu saluran kemih, sodium memainkan peranan yang sangat penting dalaqm regulasi kristalisasi garam kalsium.

f.

Sitrat. Sitrat sangat berpengaruh dalam hal pembentukkan batu kalsium. Defigiensi sitrat pada umumnya dikaitkan dengan pembentukan batu pada penderita diare kronik, asidosis tubular renal tipe 1 ( defek tubular distal ) dan pada penderita yang mengalami terapi tiazid jangka lama.

g.

Magnesium. Defisiensi magnesium diet berhubungan dengan peningkatan insiden batu saluran kemih. Magnesium adalah salah satu komponen batu struvit. Kekurangan magnesium diet telah terbukti bisa menyebabkan peningkatan pembentukan batu kalsium oksalat dan kristaluria kalsium oksalat.

h.

Sulfat. Sulfat urin membantu mencegah pembentukan batu saluran kemih. Karena bisa membentuk kompleks dengan kalsium, sulfat ini berperan terutama sebagai komponen protein urin, seperti kondritin sulfat dan heparin sulfat.

i.

Inhibitor saluran kemih lain. Terutama terdiri dari protein urin dan makromolekul lain seperti glikosaminoglikans, pirofosfat dan uropontin Penyebab batu saluran kemih adalah pada umumnya multifaktorial. Meskipun telah banyak diajukan teori mengenai terbentuknya batu saluran kemih, belum ada satupun teori yang dapat menerangkan semua penyebab batu saluran kemih secara komprehensif. Namun demikian faktor faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan batu tetap harus dicermati agar bisa dilakukan deteksi dini dengan efektif. Faktor faktor yang sudah dikenali itu antara lain : Kristaluria, sosioekonomi, pola diet, pekerjaan, ikilm, genetika/ keluarga dan medikasi. Kondisi yang mempengaruhi terjadinya batu buli- buli telah begitu banyak dilaporkan, antara lain :

a.

Disfungsi kemih yang kan menyebabkan statis urin atau refluks yang merupakan kondisi optimal bagi kuman pemecah urea menyebabkan infeksi. Penyebabnya antara lain strikura

uretra, BPH, kontraktur leher, buli dan neurogenik spastik atau flasid. Telah dilaporkan bahwa ionfeksi persisten buli- buli dan vagina pada pasien yang telah menjalani histerektomi dan iradiasi selama 27 tahun. b. Latrogenik dari suatu prosedur urologi. Pada suatu opersi retropubik urethropexy ( untuk inkokntunensia urin di maksudkan mengangkat uerthrovesical junction ) digunakan sling dari benang non- absorbable. Benag ini secaraq perlahan- lahan akan mengoresi dinding buli, hingga masuk ke dalamnya dan menjadi puast pembentukan batu.

2.6 WOC

2.7

Manifestasi Klinis 2.7.1 Tanda dan gejala Ca Buli buli yaitu :

a.

Kencing campur darah yang intermitten b. Merasa panas waktu kencing c. Merasa ingin kencing

d. Nyeri suprapubik yang constan e. f. Panas badan dan merasa lemah Nyeri pinggang karena tekanan saraf

g. Nyeri pada satu sisi karena hydronephrosis Gejala dari kanker kandung kemih menyerupai gejala infeksi kandung kemih (sistitis) dan kedua penyakit ini bisa terjadi secara bersamaan. Patut dicurigai suatu kanker jika dengan pengobatan standar untuk infeksi, gejalanya tidak menghilang.

2.8

Komplikasi 1. Infeksi sekunder bil atumor mengalami ulserasi 2.Retensi urine bil atumor mengadakan invasi ke bladder neck 3. Hydronephrosis oleh karena ureter menglami oklus

2.9 a.

Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan laboratorium. Kelainan yang ditemukan biasanya hanya ditemukannya darah dalam air kemih. Tanda adanya anemia dapat dijumpai bila terjadi perdarahan yang umumnya terjadi pada tumor yang sudah lanjut atau dapat pula ditemukan tanda adanya gangguan fungsi ginjal berupa peningkatan kadar ureum dan kreatinin dalam darah yang terjadi bila tumor tersebut menyumbat kedua muara ureter (saluran kemih). b. Pemeriksaan Radiologi. Pemeriksaan Foto Polos Perut dan Pielografi Intra Vena (PIV) digunakan sebagai pemeriksaan baku pada penderita yang memiliki persangkaan keganasan saluran kemih termasuk juga keganasan buli-buli. Pada pemeriksaan ini selain melihat adanya filling defect (kelainan) pada buli-buli juga dapat mengevaluasi ada tidaknya gangguan pada ginjal dan saluran kemih yang disebabkan oleh tumor buli-buli tersebut. Jika penderita alegi terhadap zat yang digunakan pada pemeriksaan PIV, maka dapat dilakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG). Foto toraks (rongga dada) juga perlu dilakukan untuk melihat ada tidaknya metastasis ke paru-paru. c. Sistoskopi dan biopsy. Pemeriksaan sistoskopi (teropong buli-buli) dan biopsi mutlak dilakukan pada penderita dengan persangkaan tumor buli-buli, terutama jika penderita berumur 40-45 tahun. Dengan pemeriksaan ini dapat dilihat ada atau tidaknya tumor di bulibuli sekaligus dapat dilakukan biopsi (pengambilan jaringan tumor) untuk menentukan

derajat infiltrasi tumor yang menentukan terapi selanjutnya. Selain itu pemeriksaan ini dapat juga digunakan sebagai tindakan pengobatan pada tumor superfisial (permukaan ). 2.10 a. Penatalaksanaan Operasi. Operasi kanker yang terbatas pada permukaan dalam kandung kemih atau hanya menyusup ke lapisan otot paling atas, bisa diangkat seluruhnya melalui sistoskopi. Tetapi sering terbentuk kanker yang baru, kadang di tempat yang sama, tetapi lebih sering terbentuk di tempat yang baru. Angka kekambuhan bisa dikurangi dengan memberikan obat anti-kanker atau BCG ke dalam kandung kemih setelah seluruh kanker diangkat melalui sistoskopi. Pemberian obat ini bisa digunakan sebagai pengobatan pada penderita yang tumornya tidak dapat diangkat melalui sistoskopi. Kanker yang tumbuh lebih dalam atau telah menembus dinding kandung kemih, tidak dapat diangkat seluruhnya dengan sistoskopi. Biasanya dilakukan pengangkatan sebagaian atau seluruh kandung kemih (sistektomi). Kelenjar getah bening biasanya juga diangkat untuk mengetahui apakah kanker telah menyebar atau belum.Terapi penyinaran saja atau dikombinasikan dengan kemoterapi kadang bisa mengobati kanker. Jika kandung kemih diangkat seluruhnya, maka harus dipasang alat untuk membuang air kemih.Biasanya air kemih dialirkan ke suatu lubang di dinding perut (stoma) melalui suatu saluran yang terbuat dari usus, yang disebut ileal loop. Selanjutnya air kemih dikumpulkan dalam suatu kantong. Cara untuk mengalihkan air kemih pada penderita yang kandung kemihnya telah diangkat, digolongkan ke dalam 2 kategori: 1. Orthotopic neobladder 2. Pada Continent cutaneous diversion. kedua cara tersebut, suatu penampung internal dibuat dari usus.

Pada orthotopic neobladder, penampung ini dihubungkan dengan uretra. Penderita diajarkan untuk mengosongkan penampung ini dengan cara mengendurkan otot dasar panggul dan meningkatkan tekanan dalam perut, sehingga air kemih mengalir melalui uretra. Pada continent cutaneous urinary diversion, penampung ini dihubungkan dengan sebuah lubang di dinding perut. Diperlukan kantong luar, karena air kemih tetap berada dalam penampung sebelum dikosongkan oleh penderita dengan cara memasang selang melalui lubang di dinding perut ke dalam penampung. Penderita melakukan pengosongan ini secara teratur. Kanker yang sudah menyebar diobati dengan kemoterapi. b.Radioterapy. 1. Diberikan pada tumor yang radiosensitive seperti undifferentiated pada grade III-IV dan stage B2-C.

2.

Radiasi diberikan sebelum operasi selama 3-4 minggu, dosis 3000-4000 Rads. Penderita dievaluasi selam 2-4 minggu dengan iinterval cystoscopy, foto thoraks dan IVP, kemudian 6 minggu setelah radiasi direncanakan operasi. Post operasi radiasi tambahan 2000-3000 Rads selam 2-3 minggu.

c.

Chemoterapi. Obat-obat anti kanker :

1. Citral, 5 fluoro urasil 2. Topical chemotherapy yaitu Thic-TEPA, Chemotherapy merupakan paliatif. 5- Fluorouracil (5-FU) dan doxorubicin (adriamycin) merupakan bahan yang paling sering dipakai. Thiotepa dapat diamsukkan ke dalam Buli-buli sebagai pengobatan topikal. Klien dibiarkan menderita dehidrasi 8 sampai 12 jam sebelum pengobatan dengan theotipa dan obat diabiarkan dalam Buli-buli selama dua jam.

BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN

3.1

Pengkajian 3.1.1 a. Riwayat kesehatan

Keluhan utama . (keluhan yang dirasakan pasien saat dilakukan pengkajian) Pasien nyeri saat BAK dan agak mengedan, ada benjolan pada abdomen sebelah bawah, sulit BAB, dan nyeri diseluruh tubuh terutama dipinggang.

b. Riwayat kesehatan sekarang. (riwayat penyakit yang diderita pasien saat masuk rumah sakit). Darah keluar sedikit-sedikit saat BAK dan terasa nyeri sera sulit BAB. c. Riwayat kesehatan yang lalu. (riwayat penyakit yang sama atau penyakit lain yang pernah diderita oleh pasien). Tidak ada riwayat penyakit jantung, paru, ahti, limfe dan hipertensi. Tapi sebelumnya pasien ada riwayat penyakit tumor di rahim dan telah menjalani pengobatan. d. Riwayat kesehatan keluarga. (adakah riwayat penyakit yang sama diderita oleh anggota keluarga yang lain atau riwayat penyakit lain baik bersifat genetis maupun tidak). Keluarga pasien tidak ada riwayat penyakit kanker ini maupun kanker lainnya. 3.1.2 1. Pemeriksaan fisik

Inspeksi, tampak warna kencing campur darah, pemebesaran suprapubic bil atumor sudah bear.

2. Palpasi, teraba tumor 9masa) suprapubic, pmeriksaan bimaual teraba tumpr pada dasar bulibuli dengan bantuan general anestesi baik waktu VT atau RT.

3.2 1.

Diagnosa Keperawatan Cemas / takut berhubungan dengan situasi krisis (kanker), perubahan kesehatan, sosio ekonomi, peran dan fungsi, bentuk interaksi, persiapan kematian, pemisahan dengan keluarga 2. Nyeri (akut) berhubungan dengan proses penyakit (penekanan/kerusakan jaringan syaraf, infiltrasi sistem suplay syaraf, obstruksi jalur syaraf, inflamasi), efek samping therapi kanker 3. Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh) berhubungan dengan hipermetabolik yang berhubungan dengan kanker, konsekwensi khemotherapi, radiasi, pembedahan (anoreksia,

iritasi lambung, kurangnya rasa kecap, nausea), emotional distress, fatigue, ketidakmampuan mengontrol nyeri 4. Kurangnya pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi, misinterpretasi, keterbatasan kognitif 3.3 1. Intervensi Keperawatan Cemas / takut berhubungan dengan situasi krisis (kanker), perubahan kesehatan, sosio ekonomi, peran dan fungsi, bentuk interaksi, persiapan kematian, pemisahan dengan keluarga Tujuan : Klien dapat mengurangi rasa cemasnya Rileks dan dapat melihat dirinya secara obyektif. Menunjukkan koping yang efektif serta mampu berpartisipasi dalam pengobatan. INTERVENSI a. Tentukan pengalaman klien sebelumnya a. Data-data terhadap penyakit yang dideritanya. RASIONAL mengenai pengalaman klien

sebelumnya akan memberikan dasar untuk

b. Berikan informasi tentang prognosis secara penyuluhan dan menghindari adanya duplikasi. b. Pemberian informasi dapat membantu klien akurat. c. Beri kesempatan pada rasa klien marah, dalam memahami proses penyakitnya. untuk c. Dapat menurunkan kecemasan klien. takut,

mengekspresikan

konfrontasi. Beri informasi dengan emosi d. Membantu klien dalam memahami kebutuhan wajar dan ekspresi yang sesuai. untuk pengobatan dan efek sampingnya.

d. Jelaskan pengobatan, tujuan dan efek e. Mengetahui dan menggali pola koping klien samping. Bantu klien mempersiapkan diri serta mengatasinya/memberikan solusi dalam dalam pengobatan. upaya meningkatkan kekuatan dalam

e. Catat koping yang tidak efektif seperti mengatasi kecemasan. kurang interaksi sosial, ketidak berdayaan f. Agar klien memperoleh dukungan dari orang dll. yang terdekat/keluarga.

f. Anjurkan untuk mengembangkan interaksi g. Memberikan kesempatan pada klien untuk dengan support system. berpikir/merenung/istirahat.

g. Berikan lingkungan yang tenang dan h. Klien mendapatkan kepercayaan diri dan

nyaman. h. Pertahankan kontak dengan klien, bicara dan sentuhlah dengan wajar. 2.

keyakinan bahwa dia benar-benar ditolong.

Nyeri (akut) berhubungan dengan proses penyakit (penekanan/kerusakan jaringan syaraf, infiltrasi sistem suplay syaraf, obstruksi jalur syaraf, inflamasi), efek samping therapi kanker Tujuan : Klien mampu mengontrol rasa nyeri melalui aktivitas Melaporkan nyeri yang dialaminya Mengikuti program pengobatan Mendemontrasikan tehnik relaksasi dan pengalihan rasa nyeri melalui aktivitas yang mungkin INTERVENSI RASIONAL

a. Tentukan riwayat nyeri, lokasi, durasia.dan Memberikan informasi yang diperlukan untuk intensitas merencanakan asuhan.

b. Evaluasi therapi: pembedahan, radiasi, b. Untuk mengetahui terapi yang dilakukan sesuai khemotherapi, biotherapi, ajarkan klien atau tidak, atau malah menyebabkan

dan keluarga tentang cara menghadapinya komplikasi. c. Berikan pengalihan seperti reposisi c.dan Untuk aktivitas menyenangkan meningkatkan kenyamanan dengan

seperti mengalihkan perhatian klien dari rasa nyeri.

mendengarkan musik atau nonton TVd. Meningkatkan kontrol diri atas efek samping d. Menganjurkan tehnik penanganan stress dengan menurunkan stress dan ansietas. (tehnik relaksasi, visualisasi, bimbingan), e. Untuk mengetahui efektifitas penanganan nyeri, gembira, dan berikan sentuhan tingkat nyeri dan sampai sejauhmana klien therapeutik. mampu menahannya serta untuk mengetahui e. Evaluasi nyeri, berikan pengobatan bila kebutuhan klien akan obat-obatan anti nyeri. perlu. f. Agar terapi yang diberikan tepat sasaran.

f. Diskusikan penanganan nyeri dengan dokter g. Untuk mengatasi nyeri. dan juga dengan klien g. Berikan analgetik sesuai indikasi seperti

morfin, methadone, narkotik dll 3. Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh) berhubungan dengan hipermetabolik yang berhubungan dengan kanker, konsekwensi khemotherapi, radiasi, pembedahan (anoreksia, iritasi lambung, kurangnya rasa kecap, nausea), emotional distress, fatigue, ketidakmampuan mengontrol nyeri Tujuan : Klien menunjukkan berat badan yang stabil, hasil lab normal dan tidak ada tanda malnutrisi Menyatakan pengertiannya terhadap perlunya intake yang adekuat Berpartisipasi dalam penatalaksanaan diet yang berhubungan dengan penyakitnya INTERVENSI RASIONAL Memberikan informasi tentang

a. Monitor intake makanan setiap hari, apakah a.

klien makan sesuai dengan kebutuhannya. status gizi klien. b. Timbang dan ukur berat badan, ukuran b. Memberikan informasi tentang

triceps serta amati penurunan berat badan. penambahan dan penurunan berat c. Kaji pucat, penyembuhan luka yang lambat badan klien. dan pembesaran kelenjar parotis. d. Anjurkan klien untuk c. Menunjukkan keadaan gizi klien

mengkonsumsi sangat buruk.

makanan tinggi kalori dengan intake d. Kalori merupakan sumber energi. cairan yang adekuat. Anjurkan pula e. Mencegah mual muntah, distensi makanan kecil untuk klien. berlebihan, dispepsia yang e. Kontrol faktor lingkungan seperti bau busuk menyebabkan penurunan nafsu makan atau bising. Hindarkan makanan yang serta mengurangi stimulus berbahaya terlalu manis, berlemak dan pedas. f. Ciptakan suasana makan yang dapat meningkatkan ansietas. yang f. Agar klien merasa seperti berada

menyenangkan misalnya makan bersama dirumah sendiri. teman atau keluarga. g. Untuk menimbulkan perasaan ingin

g. Anjurkan tehnik relaksasi, visualisasi, makan/membangkitkan selera makan. latihan moderate sebelum makan. h. Agar dapat diatasi secara bersama-

h. Anjurkan komunikasi terbuka tentang sama (dengan ahli gizi, perawat dan problem anoreksia yang dialami klien. klien).

i. Kolaboratif

i.

Untuk

mengetahui/menegakkan

j. Amati studi laboraturium seperti total terjadinya gangguan nutrisi sebagi akibat perjalanan penyakit, pengobatan limposit, serum transferin dan albumin k. Berikan pengobatan sesuai indikasi l. Phenotiazine, corticosteroids, antidopaminergic, vitamins khususnya dan perawatan terhadap klien. j. Membantu menghilangkan gejala penyakit, efek samping dan

A,D,E dan B6, antacida m. Pasang pipa nasogastrik untuk memberikan makanan secara enteral, imbangi dengan infus. 4.

meningkatkan status kesehatan klien. k. Mempermudah intake makanan dan minuman dengan hasil yang maksimal dan tepat sesuai kebutuhan.

Kurangnya pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi, misinterpretasi, keterbatasan kognitif Tujuan : Klien dapat mengatakan secara akurat tentang diagnosis dan pengobatan pada ting-katan siap. Mengikuti prosedur dengan baik dan menjelaskan tentang alasan mengikuti prosedur tersebut. Mempunyai inisiatif dalam perubahan gaya hidup dan berpartisipasi dalam pengobatan. Bekerjasama dengan pemberi informasi. INTERVENSI RASIONAL Menghindari adanya duplikasi dan

a. Review pengertian klien dan keluarga a. tentang akibatnya. diagnosa, pengobatan

dan pengulangan terhadap pengetahuan klien. b. Memungkinkan dilakukan pembenaran

b. Tentukan persepsi klien tentang kanker terhadap kesalahan persepsi dan konsepsi serta dan pengobatannya, ceritakan pada klien kesalahan pengertian. tentang pengalaman klien lain yang c. Membantu klien dalam memahami proses menderita kanker. penyakit. c. Beri informasi yang akurat dan faktual. d. Membantu klien dan keluarga dalam Jawab pertanyaan secara spesifik, membuat keputusan pengobatan. hindarkan informasi yang tidak

diperlukan. d. Berikan bimbingan sebelum

e. Mengetahui sampai sejauhmana pemahaman kepada klien dan keluarga mengenai penyakit klien. mengikuti f. Meningkatkan pengetahuan klien dan

klien/keluarga

prosedur pengobatan, therapy yang lama, keluarga mengenai nutrisi yang adekuat. komplikasi. Jujurlah pada klien. g. Mengkaji perkembangan proses-proses

e. Anjurkan klien untuk memberikan penyembuhan dan tanda-tanda infeksi serta umpan balik verbal dan mengkoreksi masalah dengan kesehatan mulut yang dapat miskonsepsi tentang penyakitnya. f. Review klien /keluarga mempengaruhi intake makanan dan minuman. tentang h. Meningkatkan integritas kulit dan kepala.

pentingnya status nutrisi yang optimal. g. Anjurkan klien untuk mengkaji

membran mukosa mulutnya secara rutin, perhatikan adanya eritema, ulcerasi. h. Anjurkan klien memelihara kebersihan kulit dan rambut. 3.4 1. Implementasi Mendorong individu untuk bertanya mengenai masalah, penanganan, perkembangan dan prognosis kesehatan 2. mengidentivikasi factor lingkungan yang memungkinkan resiko terjadinya cedera 3. menelaskan kembali mengenai patofisiologi / prognosis penyakit dan perlunya pengobatan / penanganan dalam jangka waktu yang lama sesuai prosedur. 4. Meninjau kembali obat-obat yang didapat, penting sekali memakan obat sesuai petunjuk, dan tidak menghentikan pengobatan tanpa pengawasan dokter. Termasuk petunjuk untuk pengurangan dosis. 5. Memerikan informasi pada keluarga tentang tindakan yang harus dilakukan selama pasien merasakan sakit 3.5 Evaluasi

BAB 4 KESIMPULAN / SARAN

4.1

Kesimpulan Kanker buli buli adalah kanker yang mengenai organ buli buli (kandung kemih). Buli buli adalah organ yang berfungsi untuk menampung air kemih yang berasal dari ginjal. Jika buli buli telah penuh maka maka air kemih akan dikeluarkan. Carcinoma buli adalah tumor yang didapatkan pada buli-buli atau kandung kemih yang akan terjadi gross hematuria tanpa rasa sakit yaitu keluar air kencing warna merah terus.

4.2

Saran Sehat merupakan sebuah keadaan yang sangat berharga, sebab dengan kondisi fisik yang sehat seseorang mampu menjalankan aktifitas sehari-harinya tanpa mengalami hambatan. Maka menjaga kesehatan seluruh organ yang berada didalam tubuh menjadi sangat penting mengingat betapa berpengaruhnya sistem organ tersebut terhadap kelangsungan hidup serta aktifitas seseorang.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall. (1999). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Edisi 2. (terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarata. Carpenito, Lynda Juall. (2000.). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. (terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarta. Doenges, Marilynn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. (terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarta. Engram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Volume 2, (terjemahan). Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Junadi, Purnawan. (1982). Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Long, Barbara C. (1996). Perawatan Medikal Bedah. Volume I. (terjemahan). Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran. Bandung. http://www.kapukonline.com/2010/05/askepcacancertumorcarsinomabuli.html http://www.banjaristi.web.id/2012/04/kanker-buli-buli-kandung-kemih.html