Anda di halaman 1dari 35

Bahan Gipsum

LAPORAN PRAKTIKUM BAHAN DAN TEKNOLOGI KEDOKTERAN GIGI I BAHAN GIPSUM BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam bidang ilmu material kedokteran gigi kita banyak menemuai aplikasi penggunaan gips, baik untuk keperluan klinik maupun pekerjaan laboratorium.Material gips ini banyak dipergunakan antara lain dalam pembuatan model dan die, articulating cast, mould, refractory investment dan lain-lain. Karena banyaknya pengunaan gips dalam Kedokteran Gigi ini maka perlu untuk mengetahui segala aspek dalam gips terutama sifat sifatnya sehingga akan memudahkan dalam memanipulasi, dan menghasilkan suatu hasil manipulasi yang maksimal. Dan untuk lebih memahaminya maka perlu dilakukan suatu percobaan yang akan memperlihatkan cara manipulasi gips yang benar serta pengaruh sifat sifatnya terhadap hasil manipulasi. Bahan-bahan yang dipakai di bidang Kedokteran Gigi kebanyakan mempunyai berbagai fungsi berdasarkan kegunaannya atau pemakaianya. Salah satunya adalah penggunaan Gips. Gips dalam bidang ilmu material kedokteran gigi aplikasi bahan ini banyak sekali dijumpai, baik untuk keperluan klinik maupun pekerjaan laboratorium. Bahan yang berasal dari Gips dapat digunakan sebagai : Model dan die Bahan cetak Mounting Packing Bahan tanam Gipsum merupakan produk samping dari beberapa proses kimia. Gypsum yang dihasilkan untuk tujuan kedokteran gigi adalah kalsium sulfat dihidrat ( CaSO4.2H2O ) murni. Produk gypsum dalam kedokteran gigi digunakan untuk membuat model studi dari rongga mulut serta struktur maksilo fasial dan sebagai piranti penting untuk pekerjaan laboratorium kedokteran gigi yang melibatkan pembuatan protesa gigi. Saat ini penggunaan gypsum dalam kedokteran gigi telah meluas. Penggunaan tersebut dapat diperlihatkan dalam pembuatan model gig tiruan. Selain itu kegunaan klinis maupun laboratories yang lain yaitu untuk membuat model kerja maupun model studi sehingga bahan gypsum ini harus mempunyai kekuatan tekan yang kuat agar tidak rusak dalam pembuatan restorasi gigi tiruan. Di alam gypsum merupakan massa yang padat dan berwarna abu-abu, merah atau coklat. Warna tersebut disebabkan adanya zat lain seperti tanah liat, oksida besi, anhidrat, karbohidrat, sedikit SiO2 atau oksida lain. Intial setting dan final setting pada gipsum sangat begantung dengan komposisi powder dan liquid yang digunakan. Jika powder yang digunakan lebih banyak dalam artian tidak seimbang dengan liquidnya maka gypsum tersebut akan dapat mencapai tahapan initial setting yang lebih cepat. 1.2. Tujuan o Mengetahui macam-macam gypsum o Mengetahui cara manipulasi gypsum yang benar o Mengetahui klasifikasi setting time, initial setting, final setting o Mengetahui perbedaan antara initial setting dengan final setting BAB I TINJAUAN PUSTAKA Gips adalah bentuk hemihidrat dari kalsium sulfat dihidrat, dengan rumus kimia (CaSO4)2H2O. Di alam, gips merupakan masa yang padat dan berwarna abu-abu, merah atau coklat. warna tersebut disebabkan adanya zat lain seperti tanah liat, oksidasi besi, anhidrat, karbokhidrat, sedikit SiO2 atau oksida logam lain (Anderson 1997) Menurut Craig dkk (1987), sifat kimia gips adalah: a. Solubility (daya larut) adalah banyaknya bagian dari suatu zat yang dilarutkan dengan 100 bagian pelarut pada temperatur dan tekanan tertentu yang dinyatakan dalam persen berat/volume. b. Setting time adalah waktu yang diperlukan gips untuk menjadi keras dan dihitung sejak gips kontak dengan air. Setting time terdapat dua tahap sebagai berikut : 1. Initial setting time: permulaan setting time dimana pada waktu itu campuran gips dengan air sudah sudah tidak dapat lagi mengalir ke dalam cetakan. secara visual ditandai dengan loss of gloss (hilangnya kemengkilatan/ timbulnya kemuraman). Keadaan dimana gips tidak dapat hancur tapi masih dapat dipotong dengan pisau. 2. Final setting: waktu yang dibutuhkan oleh gips keras untuk bereaksi secara lengkap dari kalsium sulfat dihidrat, meskipun reaksi dehidrasinya belum selesai. Tandanya antara lain adalah kekerasan belum maksimum, kekuatannya belum maksimum dan dapat dilepas dari cetakan tanpa distorsi atau patah. Menurut Craig dkk (1987) gips keras mempunyai sifat mekanis, antara lain : 1. Compressive strength (kekuatan tekan hancur)

kekuatan gips berhubungan langsung dengan kepadatan atau masa gips. Partikel dental stone lenih halus, maka air air yang diperlukan untuk mencampur lebih sedikit jika dibanding dengan air yang dibutuhkan untuk pencampuran plaster of paris. 2. Tensile strength (daya rentang) Daya rentang dari gips sangat penting pada saat gips dikeluarkan dari bahan cetak. Karena tidak adanya sifat lentur pada gips, model akan cenderung patah. Daya rentang gips keras dua kali lebih besar dari pada gips lunak baik dalam keadaan basah maupun kering. 3. Surface hardness and abrassive ressistance (kekerasan permukaan dan daya tahan abrasi. Kekerasan permukaan gips berhubungan dengan kekuatan tekan hancur. daya tahan abrsai meningkat dan meningkatnya kekuatan tekan hancur. Daya tahan terhadap abrasi maksimal didapat ada saat gips mencapai daya strength. Gips keras merupakan gips yang memiliki daya tahan abrasi tinggi. Faktor-faktor berikut ini dapat diamati selama berlangsungnya reaksi setting: a. Campuran air dan hemyhidrat dapat dituang dengan seketika (bila digunakan perbandingan yang benar antara air dengan puder) b. Bahan menjadi kaku tetapi tidak keras (initial set); pada tahap ini bahan dapat diukir tetapi sudah tidak dapat dibentuk/dicetak. c. Terjadi apa yang disebut final set dimana bahan menjadi keras dan kuat. Walaupun demikian pada tahap ini reaksi hydrasi tidak berarti sudah sempurna, juga tidak berarti bahwa kekuatan dan kekerasan optimum sudah tercapai. d. Dihasilkan panas selama setting karena hydrasi hemyhidrat bersifat eksotermis (Combe, 1992 : 319). Gips adalah kalsium sulfat dihidrat,CaSO4.2H2O. Saat mengeras, dimana suhunya cukup tinggi untuk menghilangkan kadar airnya, gips berubah menjadi kalsium sulfat hemihidrat, (CaSO4)2.H2O,dan pada temperatur lebih tinggi, anhidrat dibentuk sebagaimana bertikut; Gips sampai 130o CaSO4.2H2O Hemihidrat sampai 200o (CaSO4)2.H2O Anhidrat CaSo4 (Richard dkk, 2002) Klasifikasi gips (ADA) spesifikasi nomor 25 1. Impression plaster (tipe I) Impression plaster sekarang jarang digunakan dalam bidang kedokteran gigi dan bahan ini digantikan dengan bahan yang tidak terlalu kaku dan material elastik impression 2. Model plaster (tipe II) Model plaster biasanya digunakan untuk diagnostik cast dan artikulasi dari stone cast. Produk ini secara tardisional diproduksi dalam warna putih untuk membedakannya dengan dental stone. 3. Dental stone (tipe III) Dental stone ideal untuk pembuatan model dari full atau partial denture, model ortodonsi dan lain lain.Dental stone secara tradisional berwarana kuning atau putih 4. Dental stone, high strength (tipe IV) Material tipe IV ini sering digunakan sebagai die stones karena cocok untuk pembuatan pola dari malam dalam cast restoration 5. High strength, high expansion dental stone (tipe V) Tambahan dalam klasifikasi ADA untuk material ini berkembang atas respon untuk memenuhi kebutuhan akan kekuatan dan ekspansi gips yang lebih tinggi dibanding dental stone. Material ini berwarna biru atau hijau dan paling banyak membutuhkan biaya dibandingkan semua produk gips. (Hatrick dkk, 2003) Sifat-Sifat a. Ketepatan - Plaster sangat baik dalam mencatat detil detil halus - Perubahan dimensi sewaktu setting sangat kecil - Bila terdapat undercut,cetakan gips akan pecah sewaktu dikeluarkan dari mulut - Perubahan dimensi selama penyimpanan cetakan gips adalah kecil meskipun ada sedikit kontraksi karena pengeringan - Sebelum diisi dengan model gips cetakan harus diberi bahan separasi b. Sifat sifat lainnya - Bahan cetak gips bersifat nontoksis - Waktu setting bisa dikontrol dengan menggunakan bahan tambahan yang tepat (Combe, 1992) BAB III METODE PENELITIAN 3.1 ALAT DAN BAHAN

Alat : Mangkok karet dan spatula Pensil tinta Neraca Stop watch kotak kubus dengan atas terbuka ukuran 4 x 3 x 3 gelas ukur penggaris vibrator pisau model pisau gips Bahan : Gips putih / plaster of paris Vaselin Air Kertas gosok 3.2 CARA KERJA 1. Pada praktikum gips ini akan dilakukan manipulasi dengan konsistensi normal. 2. Mengolesi seluruh bagian dalam kotak kubus dengan vaselin secara tipis dan merata 3. Menimbang bahan gips menggunakan neraca sebanyak 35 gram dan air menggunakan gelas ukur sebanyak 23 ml. 4. Melakukan manipulasi, menyiapkan stop watch untuk melihat waktu yang dibutuhkan gips dalam mencapai initial setting sampai final setting. 5. Menuangkan air ke dalam mangkok karet, kemudian menuangkan gips ke dalam mangkok karet, mengaduk campuran gips dengan air diatas vibrator searah dengan jarum jam selama 1 menit/60 putaran dan memperhatikan waktu. 6. Setelah campuran gips homogen, menuangnya ke dalam kotak kubus, melakukan hal ini di atas vibrator sampai kotak kubus terisi penuh. Merapikan kelebihan gips pada tepi kotak kubus 7. Memperhatikan waktu, menandai waktu dimana gips mencapai initial setting sampai final setting. 8. Setelah gips mencapi finnal setting, membuka kotak kubus kemudian merapikan gips dengan pisau gips menjadi ukuran 3,5 x 2,5 x 2,5 menggunakan penggaris dan pensil tinta. Terakhir menghaluskan permukaan gips dengan kertas gosok. 9. Hasil maksimal adalah didapatkan balok gips dengan ukuran tepat, permukaan yang halus dan tidak poros. BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN Dari hasil praktikum diatas dapat dilihat beberapa tanda dari gipsum seperti berikut : 1. Warna Terlihat bahwa warna gips menjadi agak keruh. Hal ini terjadi karena pada konsistensi normal perbandingan powdernya lebih besar sehingga akan lebih memperkeruh campuran. 2. Porositas Porositas ini terjadi karena pengadukan dan lama waktu diatas vibrator belum mencapai 1 menit sehingga udara masih terjebak dalam adonan. Porsentasi kemungkinan terjadinya porositas dalam manipulasi gips lebih besar untuk adonan yang lebih encer, karena semakin banyak air berarti semakin banyak H2O yang menimbulkan gelembung udara dan dapat mengakibatkan porositas. Namun hal ini sebenarnya bisa dihindari jika dalam pengerjaannya operator (praktikan) lebih teliti dan hati hati dalam melakukan pengadukan 3. Kekerasan Pada saat merapikan gips dapat dirasakan adanya perbedaan kekuatan dan kekerasan pada gips setelah setting. Hal ini terjadi karena powder (mineral gips) merupakan senyawa yang mempunyai rumus kimia CaSO4, unsur kalsium (Ca) ini yang menunjukkan kekerasan dan kekuatan dari gips. 4. Initial setting Initial setting bisa diketahui saat campuran bahan menjadi kaku tetapi tidak keras dan tidak dapat dibentuk serta terjadi ekspansi termis atau adanya panas. Hal ini terjadi karena ketika partikel calcium sulfat dalam powder dicampur dengan air akan terjadi massa padat dari dihydrat. Sehingga semakin banyak air akan semakin lama terjadinya reaksi dan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menjadi setting. 5. Final setting Final setting dapat diketahui dengan menurunnya suhu campuran dan pada akhirnya menjadi dingin. Pada finnal setting gips sudah bisa dilepas dari cetakan dan bisa dibentuk. Hal ini terjadi karena semakin banyak air akan semakin memperlambat berakhirnya reaksi membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menjadi setting. Setelah semuanya dingin panas sudah tidak teraba dengan tangan, balok boleh dibuka. Faktor kesalahan dari praktikum yang telah dilakukan yaitu terbentuknya lubang-lubang kecil atau porus pada gypsum. Hal ini disebabkan oleh tidak sempurnanya dalam proses penuangan dan kesalahan praktikan pada saat menggunakan vibrator yang tidak sempurna. Kemudian ketiga gypsum tersebut dibentuk lagi dengan ukuran 2,5 x 2,5 x 3,5 dengan menggunaan pisau gips. Supaya gypsum halus, maka dihaluskan dengan menggunakan kertas gosok.

BAB V KESIMPULAN Dari praktikum Gips kali ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa: Dalam melakukan manipulasi gips perlu diperhatikan atara lain adalah : o Penyimpanan o Kebersihan alat untuk manipulasi o Rasio atau perbandingan air dan powder o Waktu Pengadukan o Initial setting-working time o Final setting o Pemberian bahan separator o Hindari terjebaknya udara bias dengan menggunakan vibrator Gips mempunyai sifat-sifat sebagai berikut : o Menghasilkan detail yang halus o Dimensionalnya akurat o Sifat mekanis yang kuat Dari data hasil pratikum dan pembahasan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa waktu setting dari gypsum dipengaruhi oleh W/P rasio dan komposisinya. Semakin banyak powdernya, semakin kental pula campuran tersebut. Semakin kental gypsum maka semakin cepat pula waktu settingnya. Semakin encer gypsum tersebut maka semakin lambat pula waktu settingnya.

Bahan Cetak
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Bahan Cetak Bahan cetak merupakan bahan yang digunakan untuk membuat tiruan negatif dari rongga mulut, sehingga selanjutnya dapat dibuat model gigi darinya. Model gigi tersebut digunakan oleh dokter gigi sebagai model studi maupun sebagai model kerja. Untuk menghasilkan cetakan yang akurat, bahan yang digunakan untuk membuat tiruan dari jaringan intraoral dan ekstraoral harus memenuhi kriteria sebagai berikut. Pertama, bahan tersebut harus cukup air untuk beradaptasi dengan jaringan mulut serta cukup kental untuk tetap berada dalam sendok cetak yang menghantar bahan cetak ke mulut. Kedua, selama di mulut bahan tersebut harus berubah (mengeras) menjadi bahan padat menyerupai karet dalam waktu tertentu, idealnya waktu pengerasan total harus kurang dari 7 menit. Akhirnya cetakan yang mengeras harus tidak berubah atau robek ketika dikeluarkan dari mulut, dan dimensi bahan harus tetap stabil sehingga bahan cor dapat dituang. (Anusavice, 2004:94) Bahan cetak dapat dikelompokkan menurut sifat mekanisnya. Ada 2 jenis bahan cetak, yakni bahan cetak elastis dan bahan cetak non-elastis. Bahan cetak non elastis dibagi lagi menjadi bahan cetak non elastis yang irreversible dan bahan cetak non elastis yang reversible. Sedangkan bahan cetak elastis, dapat dibagi lagi menjadi bahan cetak hidrokoloid dan bahan cetak elastomer tanpa air. Bahan cetak elastis dapat secara akurat memproduksi baik struktur keras maupun lunak dari rongga mulut, termasuk undercut dan celah interproksimal. Meskipun bahan ini dapat dipakai untuk mencetak pasien tanpa gigi, kebanyakan dibuat untuk model cor untuk gigi tiruan sebagian cekat atau lepasan serta untuk unit restorasi tunggal. Bahan cetak elastik dapat diklasifikasikan menjadi bahan cetak hidrokoloid dan elastomer. Bahan cetak hidrokoloid merupakan bahan cetak yang substansi dasarnya berupa koloid yang direaksikan dengan air, sehingga disebut hidrokoloid. Koloid merupakan kombinasi dari wujud benda apapun, terkecuali bentuk gas. Semua penghambur koloid disebut sol. Bahan cetak hidrokoloid sendiri dapat diklasifikasikan menjadi bahan cetak hidrokoloid irreversible, dan bahan cetak hidrokoloid reversible. Bahan cetak hidrokoloid irreversible dapat dicontohkan dengan alginat. Bahan ini disebut irreversible, sebab bahan ini tidak dapat kembali menjadi wujud dasarnya setelah bereaksi membentuk wujud sol. Bahan ini ditemukan pada saat bahan cetak yang digunakan sebelumnya menjadi langka, yakni pada waktu perang dunia kedua. Bahan ini memiliki kelebihan dibandingkan bahan cetak lainnya, yakni proses manipulasinya yang mudah, nyaman bagi pasien, dan relatif tidak mahal karena tidak memerlukan banyak peralatan. Bahan cetak hidrokoloid lainnya, yakni bahan cetak hidrokoloid jenis reversible. Bahan ini dipengaruhi oleh suhu, sehingga bahan ini dapat kembali ke bentuk semula (reversible). Bahan ini leleh pada temperatur 70-100OC, sedangkan pada temperatur 37-50OC, bahan ini dapat menjadi gel. Contoh bahan cetak jenis ini ialah agar. Elastomer merupakan jenis bahan cetak elastis lain diluar bahan cetak hidrokoloid. Suatu bahan cetak elastomer terdiri atas molekul atau polimer besar yang diikat oleh sejumlah kecil ikatan. Ikatan tersebut mengikat rantai polimer yang melingkar pada titik tertentu untuk membentuk jalinan 3 dimensi yang sering disebut sebagai gel. Pada keadaan ideal, peregangan menyebabkan rantai polimer membuka lingkaran hanya sampai batas tertentu yang dapat kembali ke keadaan semula, yaitu rantai kembali melingkar pada keadaan berikatan ketika diangkat. Banyaknya ikatan silang menentukan kekakuan dan sifat elastis bahan tersebut. (Anusavice, 2004: 117) Bahan cetak lainnya yakni bahan cetak non elastis. Bahan cetak ini dapat dibedakan menjadi irreversible dan reversible. Contoh dari bahan cetak jenis ini yang irreversible ialah plaster of paris dan zinc oxyde eugenol. Sedangkan contoh dari yang reversible ialah malam dan compound. Bahan cetak jenis ini memiliki sifat keras dan tidak dapat dikeluarkan melalui undercut tanpa mematahkan atau mengubah bentuk cetakan. Bahan cetak

tidak elastis ini digunakan untuk semua cetakan sebelum ditemukannya cetakan agar. Meskipun bahan tersebut sudah tidak dipakai lagi untuk pasien bergigi, bahan tidak elastis ini memiliki keunggulan dalam pembuatan cetakan untuk pasien tak bergigi. Sebenarnya bahan cetak zinc oxyde eugenol dan plaster of paris disebut bahan cetak mukostatik karena bahan tersebut tidak menekan jaringan selama perlekatan cetakan. (Anusavice, 2004: 94) 2.1 Plaster of Paris Sewaktu bahan dasar gips (CaSO4)2.H2O dicampur dengan air diduga terjadi hal hal sebagai berikut (meskipun dalam literatur masih terdapat perbedaan pendapat mengenai bentuk reaksi setting yang terjadi): a. Sebagian hemihidrat larut dan menghasilkan ion ion Ca2+ dan SO42berlangsungb. Hemihydrat yang terlarut membentuk dihydrat dalam larutan yang kemudian menjadi terlalu jenuh. Maka dari larutan ini terjadi pertumbuhan kristal dihydrat. Bahan menjadi kaku tetapi tidak keras, dapat diukir tetapi tidak dapat dibentuk, ekspansi termis dan panas masih INITIAL SETTING c. Factor factor penting berkaitan dengan reaksi setting bahan dasar gips: I. Terjadi pertumbuhan kristal pada inti kristalisasi; pada kasus ini inti dapat berupa kristal gypsum yang timbul sebagai impurity pada kristal hemihydrat, II. Pergerakan ion ion Ca2+ dan SO42- ke inti juga sangat penting, dan III. Oleh karena dihydrat berkristalisasi maka lebih banyak hemihydrat yang larut dan proses bersambung terus. bahan keras, kaku, ekspansi thermis dan panas sudah berakhir SETTINGFINAL SETTING TIMEwaktu yang diperlukan bahan untuk setting sampai menjadi rigid W/P ratio, dan lama pengadukan. REAKSI SETTING: (CaSO4) 2H2O + 3H2O 2CaSO4.2H2O + panas.setting time dipengaruhi oleh: komposisi, bentuk fisis, temperature, 2.1.1 Bahan Additive 1. Setting Time; AKSELERATOR, Na2SO4mempercepat pembentukan kalsium sulfat hemihidrat, K2SO4menambah kecepatan larutnya kalsium sulfat hemihidrat. RETARDUS, Na sitrat, boraks, Kalium sitratbahan in i diserap oleh inti kristal sehingga dapat meracuni inti kristal akibatnya kelarutan tidak sempurna hemihidrat.mengurangi kecepatan kelarutan 2. Setting Expantion; memperbesar setting expantion, Kalsium asetat 1% setting expantion linier untuk kompensasi pengerutan logam saat dingin, dan memperkecil setting expantion, Natrium sulfat mengurangi setting expantion sebesar 0,05%. penambahan bahan additive dapat mengurangi kekuatan gips (Kuliah IMTKG 1, 2005) 3. Kekuatan; perubahan dimensi saat setting plaster of parisbesar ekspansi linier 0,3 0,4%. Ekspansi ini disebabkan adanya dorongan kearah luar oleh kristal kristal dihydrate yang sedang terbentuk. Bahan yang telah ekspansi mengandung kristal kristal dihydrate dan pori pori. Volume kristal bahan yang telah set lebih kecil dari volume awal hemihydrate. Besarnya pengurangan volume kristal ini dapat dihitung dari berat molekul dan berat jenis hemihydrat, dan ini kira kira sebanyak 7%. Bila gips yang telah dicampur dibiarkan dalam air pada waktu initial set, maka akan terjadi ekspansi yang lebih besar ; ini disebut hygroscopic expansion dan kadang kadang dilakukan untuk mengekspansi bahan tanam gypsum. 2.1.2 Manipulasi gips dapat menyebabkan terbentuknya hidrat, penyimpanan mempercepat settingtime 1. Harus tertutup rapat untuk menghindari kelembaban udara 2. Hindari kontaminasi 3. cara mencampurSiapkan air sesuai kebutuhan dalam bowel, kemudian tuang bubuk/powder gips, aduk60 kali per menit diatas vibrator Bubuk dulu kemudian air: banyak udara terjebak porus model tidak akurat kontak permukaan partikel bubuk gips dengan air tidak samareaksi kristalisasi tidak sama.thermal expantion tidak sama 4. W/P rasio: plaster of paris (50 60ml/100gr), DS (22 35ml/100gr), DSHS (20ml/100gr). (Kuliah IMTKG 1, 2005) Kekuatan gips tergantung pada: i) Bahan yang dipergunakan; misalnya hemihydrat yang autoclaved / calcined, dan adanya bahan additive, ii) Perbandingan air / puder, dan iii) Kekeringan bahan yang telah set. Untuk mendapatkan sifat sifat optimal, gips hendaknya dibiarkan berhydrasi selama paling sedikit 1 jam (dan kalau bisa lebih lama), dan kemudian dikeringkan sampai diperoleh berat yang konstan pada suhu 450C. (E.C.Combe,1992) 2.2 Compound Compound, juga disebut modeling plastic, dilunakkan dengan pemanasan, dimasukkan dalam sendok cetak, serta diletakkan pada jaringan sebelum bahan mengeras. Indikasi utama penggunaannya adalah untuk mencetak linggir tanpa gigi. Kadang-kadang compound digunakan dalam kedokteran gigi operatif untuk mencetak preparasi gigi tunggal atau untuk membuat stabil pita matrikx atau alat operatif lainnya. Untuk mencetak gigi tunggal, pita tembaga silindris (disebut pita matriks) diisi dengan bahan compound yang sudah dilunakkan. Pita yang terisi kenudian ditekan di atas gigi, menekan compound beradaptasi dengan preparasi gigi. Cetakan seperti itu kadang disebut cetakan tube. Setelah compound didinginkan, cetakan dilepas, dan hasil cor, atau die, dibuat dari cetakan tersebut. (Anusavice, 2003 : 149)

Compound yang agak lebih kental, disebut compound sendok cetak, dapat digunakan untuk membentuk sendok cetak dalam pembuatan gigi tiruan. Suatu cetakan jarungan lunak diperoleh dari compound sendok cetak seperti yang digambarkan. Cetakan ini disebut cetakan primer. kemudian digunakan sebagai sendok cetak untuk menahan lapisan tipis bahan cetak kedua, yang akan ditempatkan langsung menghadap jaringan. Cetakan ini disebut sebagai cetakan sekunder. Cetakan sekundr dapat juga dibuat dari pasta oksida seng eugenol, hidrokoloid, atau elastomer tanpa air. Aplikasi umum lain dari bahan compound adalah untuk membentuk tepi (border molding) sendok cetak perseorangan dari akrilik selama mencoba sendok cetak. Ada dua bentuk dasar compound cetak, yaitu bentuk kue dan stick (batang). (Anusavice, 2003 : 149) Komposisi. Umumnya, compound terdiri dari campuran malam, resin termoplastik, bahan pengisi, dan bahan pewarna. Satu dari substansi pertama yang dipergunakan untuk bahan cetak adalah malam lebah (beeswax). Karena malam tersebut rapuh, substansi seperti shellac, asam stearic, dan gutta percha ditambahkan untuk meningkatkan plastisitas dan kemampuan kerja. Bila substansi-substansi tersebut digunakan dengan cara ini, substansi dianggap sebagai bahan pembuat plastis (plastisizers). Resin sintetik meningkat penggunaannya, biasanya dikaitkan dengan resin alami. (Anusavice, 2003 : 149) Bahan pengisi. Banyak bahan diperkuat atau sebaliknya, diubah sifat fisknya dengan penambahan partikel kecil bahan lembam, biasanya dikenal sebagai bahan pengisi, yang secara kimia berbeda dengan kandungan utama atau kandungan lainnya. (Anusavice, 2003 : 150) Malam atau resin dalam compound cetak adalah kandungan utama dan membentuk matriks. Struktur ini terlalu cair untuk ditangani dan memberikan kekuatan yang rendah meskipun pada temperature ruangan. Karena itu, bahan pengisi harus ditambahkan. Bahan pengisi meningkatkan viskositas pada temperature di atas temperature mulut dan meningkatkan kekerasan compound pada temperature ruang. Struktur compound cetak agak seperti suatu komposit. Konsep komposit digunakan secara luas dalam produksi bahan kedokteran gigi. (Anusavice, 2003 : 150) Sifat termal. Pelunakan dengan panas adalah suatu persyaratan dalam penggunaan compound. Kegunaannya ditentukan oleh respon terhadap perubahan temperature dalam lingkungan sekitarnya. (Anusavice, 2003 : 150) Temperatur fusi. Kemaknaan praktis temperature fusi adalah bahwa temperature tersebut menunjukkan suatu penurunan nyata dalam keplastisan bahan selama pendinginan. Di atas temperature ini bahan yang dilunakkan tetap bersifat plastis sementara cetakan dibuat. Jadi, setiap detail jaringan mulut lebih mudah diperoleh. Begitu sendok cetak dimasukkan ke dalam mulut, sendok cetak harus ditahan secara kuat pada posisinya sampai cetakan mendingin di bawah temperature fusi. Pada keadaan apapun, cetakan tidak boleh diganggu atau dikeluarkan sampai bahan tersebut mencapai temperature mulut. (Anusavice, 2003 : 150) Konduktivitas dan kontraksi termal. Seperti diperkirakan, konduktivitas termal dari bahan ini adalah rendah, mrnunjukkan perlunya waktu tambahan untuk memperoleh pendinginan dan pemanasan yang sempurna dari bahan compound. Adalah penting bahwa bahan lunak merata pada saat sendok cetak dimasukkan dan dingin menyeluruh dalam sendok cetak sebelum cetakan dikeluarkan dri mulut. Biasanya air dingin dapat disemprotkan pada sendok cetak ketika di dalam mulut, sampai compound mengeras merata sebelum dikeluarkan. Kegagalan memperoleh bahan yang mengeras sempurna sebelum dikeluarkan, dapat menghasilkan distorsi besar pada cetakan. (Anusavice, 2003 : 150) Rata-rata kontraksi linier compound cetak pada pendinginan dari temperature mulut sampai temperature ruang 25oC bervariasi antara 0,3% sampai 0,4%. Kesalahan yang disebabkan dari besarnya kontraksi ini tidak bisa dihindari, dan merupakan kesatuan dari teknik. (Anusavice, 2003 : 150) Pelunakan compound cetak. Compound dapat dilunakkan dalam oven atau di atas api. Bila api langsung digunakan, compound tidak boleh dibiarkan mendidih atau terbakar sehingga kandungan di dalamnya menguap. (Anusavice, 2003 : 150) Bila sejumlah besar compound, seperti yang dibutuhkan untuk mencetak seluruh rahang, hendak dilunakkan, disarankan melakukan perendaman dalam air. Perendaman terlalu lama atau terlalu panas dalam rendaman air tidaklah diindikasikan; compound dapat menjadi rapuh dan berbutir bila beberapa kandungan berberat molekul rendah terlepas dari bahan. (Anusavice, 2003 : 150) Pelunakan compound adalah satu-sat unya cara mengeluarkan model dari compound cetak setelah stone mengeras. Metode yang dianjurkan adalah merendam bahan cetak dalam air hangat sampai compound cukup lunak sehingga dapat dipisahkan dengan mudah dari model. (Anusavice, 2003 : 150) Aliran. Setelah compound melunak, dan selama periode dicetakkan ke jaringan mulut, bahan harus dengan mudah mengalir untuk menyesuaikan dengan jaringan sehingga setiap detail dan tanda-tanda dalam mulut terpindahkan secara akurat. Di lain pihak, bila jumlah aliran pada temperature mulut terlalu besar, distorsi dapat terjadi ketika cetakan dikeluarkan dari mulut. (Anusavice, 2003 : 151) Distorsi. Relaksasi dapat terjadi baik selama waktu yang boleh dikatakan amat singkat atau dengan peningkatan temperature. Hasilnya adalah kerusakan atau distorsi cetakan. Untuk meminimalkan distorsi, prosedur paling aman adalah melakukan pendinginan bahan cetak dengan seksama sebelum dikeluarkan dari mulut dan membuat hasil cor atau die secepat mungkin setelah cetakan diperoleh, sedikitnya dalam waktu satu jam. (Anusavice, 2003 : 151) 2.3 ZnO-eugenol Zink oksid tersedia dalam bentuk pasta. Ini diperoleh dengan menambah suatu minyak (misalnya olive oil, light mineral oil atau linseed oil). Minyak ini juga bertindak sebagai plastisizer di dalam bahan. Juga dapat disertakan hydrogenated rosin untuk mempercepat setting dan menjadikan pasta lebih kohesif. Eugenol mengandung talc atau kaolin sebagai bahan pengisi membuatnya berbentuk pasta.

Salah satu atau kedua pasta dapat mengandung accelerator, seperti zinc asetat. Setidak-tidaknya ada satu jenis pasta yang mengandung asam karboksilat sebagai bahan pengganti untuk eugenol. Bahan ini dapat bereaksi dengan zinc hidroksida (yang kemungkinan terbentuk oleh karena hidrolisa zinc oksida) membentuk garam sebagai berikut : Zn(OH)2 + 2RCOOH - - (RCOO)2Zn + 2H2O 1. Manipulasi Kedua pasta tersedia dalam warna yang berbeda . Pasta dengan perbandingan yang benar (biasanya sama panjang) dicampur pada slab/mixing pad dengan spatel flexible sampai diperoleh warna yang homogen. 2. Sifat-sifat - Bahan ini cukup encer untuk dapat mencatat detil halus dalam mulut - Tidak terdapat perubahan dimensional selama proses setting, atau kalaupun hanya ada sedikit. - Bahan ini tidak elastic sehingga tidak bisa mencatat daerah undercut. - Bahan yang telah set kelihatannya cukup stabil dalam penyimpanan di laboratorium. - Bahan ini dapat kompatibel dengan bahan model dental stone. Pasta dapat dikeluarkan dari stone dengan cara melunakkannya dalam air suhu 60o. - Tidak toksis, tetapi pasta yang mengandung eugenol dapat mengiritasi, member rasa gatal, atau rasa seperti terbakar dan rasanya tetap lengket sehingga banyak pasien menganggapnya tidak menyenangkan. Pasta dapat merekan ke jaringan, sehingga bibir pasien biasanya diolesi vaselin (petroleum jelly) terlebih dulu. - Waktu setting cukup baik. Adanya air dan peningkatan suhu, keduanya dapat memperpendek waktu setting. - Daya tahan bahan ini cukup lama. 3. Pemakaian Bahan ini biasanya dipergunakan dalam bagian tipis (2-3 mm) sebagai wosh impression. Cetakan dengan zinc oksid eugenol dapat dilakukan dengan menggunakan sendok khusus yang sangat rapat atau menggunakan basis gigi tiruan yang ada terutama basis gigi tiruan yang hendak di-relining. (Combe, E.C. 1992. Sari Dental Material) 2.4 Aqueous Hydrocolloids 2.4.1 Agar (reversible) Agar adalah koloid hidrofilik organik (polisakarida) diekstrak dari rumput laut jenis tertentu. Merupakan suatu ester sulfuric dari polimer linear galaktosa. Terdapat dalam konsentrasi 8%-15%, bergantung pada sifat bahan yang dimaksud. Kandungan utama berdasarkan berat adalah air(> 80%). Penambahan boraks dalam jumlah sedikit berfungsi untuk menguatkan atau meningkatkan kerangka micelle dalam gel. Hamper semua borat yang larut, baik organic maupun anorganik, menghasilkan efek yang sama. Tetapi boraks juga merupakan retarder terbaik untuk pengerasan gypsum. Keadaannya dalam bahan cetak hidrokoloid bersifat merugikan dalam jumlah yang berlebihan karena memperlambat pengerasan plester atau stone yang dituang ke dalam cetakan agar. Untuk mengatasi efek air dan boraks terhadap lamanya pengerasan maka kalium sulfat ditambahkan untuk mempercepat pengerasan gypsum. Beberapa produk dagang, mengandung sejumlah bahan pengisi untuk mengendalikan kekuatan, viskositas, dan kekerasan. Bahan pengisi yang digunakan adalah tanah diatoma, tanah liat, silica, malam, karet, dan serbuk kaku serupa. Timol dan gliserin biasanya ditambahkan sebagai antibakteris dan bahan pembuat plastis. Serta adanya pigmen dan aroma ditambahkan sebagai kenyamanan pasien. Pengerasan hidrokoloid reversibel biasa disebut gelasi, yaitu proses menjadi padat dari bentuk sol menjadi gel. Sifatnya yang reversibel memungkinkan bahan cetak ini dapat kembali ke bentuk semula. Perubahan bentuk ini dipengaruhi oleh perubahan temperatur. Tetapi untuk merubah kembali bentuk gel ke dalam bentuk sol dibutuhkan temperatur yang lebih tinggi daripada pembentukan gel. Gel harus dipanaskan pada temperatur yang lebih tinggi, yang dikenal sebagai temperatur liquefaction (temperatur leleh) untuk mengembalikan menjadi bentuk sol yaitu sekitar 70-100o . sedangkan untuk membentuk gel dari keadaan sol hanya di butuhkan temperatur 37o hingga 50 o C. Manipulasi bahan cetak Menggunakan bahan cetak hidrokoloid reversibel mencangkup 3 tahapan proses, yaitu: 1. Mempersiapkan bahan sebelumnya, 2. Preparasi tepat sebelum membuat cetakan, dan 3. Membuat cetakan. Tahapan pertama dalam menggunakan bahan adalah mencairkannya dan menyimpannya dalam bentuk sol. A. Persiapan bahan Hidrokoloid biasanya dikemas dalam 2 bentuk, yaitu semprit dan bahan sendok cetak. Tube untuk mengisi sendok cetak berpendingin air dan cartridge untuk digunakan dalam semprit. Tahap pertama adalah merubah gel hidrokoloid menjadi sol. Air panas merupakan cara paling mudah untuk mencairkan bahan. Bahan sebaiknya dipertahankan pada temperatur ini selama 10 menit. Setelah dilelehkan bahan dapat di simpan dalam bentuk sol hingga waktunya diinjeksikan ke dalam preparasi kavitas atau diisikan ke sendok cetak. Karena proses ini memerlukan waktu dan bahan bisa disimpan selama beberapa hari, merupakan praktik umum untuk menyiapkan beberapa tube bahan dan semprit sebagai persedian seminggu. Bahan disimpan pada temperatur penyimpanan sampai siap digunakan. B. Kondisioning atau pendinginan Suhu 55o C merupakan temperatur maksimal yang dapat ditolerir oleh jaringan rongga mulut kita. Oleh karena itu, bahan yang digunakan mengisi sendok cetak harus didinginkan atau tempered. Untuk tahap preparasi

segera, sebuah tube sol hidrokoloid dikeluarkan dari kompartemen penyimpanan, diisikan ke sendok cetak, sepotong kasa diletakkan di atas bahan yang terletak disendok cetak dan sendok cetak diletakan pada kompartemen pendingin (45o C) cukup untuk memastikan bahwa semua bahan sudah cukup mencapai temperatur yang lebih rendah ( 55o C). Menghilangkan efek imbibisi adalah maksud pemakaian kasa yang diletakkan di atas bahan cetak. Bila sendok cetak dimasukkan ke dalam ruang pendingin,bahan tersebut mulai menyerap air dan juga lapisan film karet tersebut di permukaannya. Kasa tersebut tidak dapat mencegah hal ini; namun, bila sendok cetak diangkat dari ruang pendingin dan kasa dibuang, lapisan bahan yang terbentuk tadi menempel pada kasa dan ikut terbuang. Permukaan yang segar telah siap melekat pada bahan yang disuntikkan di sekitar gigi yang di preparasi. Selain menurunkan temperatur, pendingin berfungsi juga meningkatkan kekentalan bahan hidrokoloid sehingga bahan tersebut tidak dapat mengalir keluar sendokcetak. Efek keluarnya bahan dari lubang kecil pada semprit, dapat menurunkan temperatur bahan dalam semprit sehingga cukup nyaman bagi pasien. 2.4.2 Alginate (irreversible) Komposisi bahan cetak alginate yaitu larutan garam asam alginik yang bereaksi dengan kalsium menghasilkan gel kalsium alginate, garam kalsium alginate yang lambat larut (trisodium phospat) melepas kalsium untuk bereaksi dengan alginate, bahan pengisi untuk meningkatkan kohesi campuran memperkuat gel, siliko flourida atau flourida untuk memperbaiki permukaan model stone, bahan pewangi agar bahan lebih disenangi pasien, indicator kimia agar warna dapat berubah dengan berubahnya pH. Untuk memperoleh hasil cetakan yang baik perlu diperhatikan hal-hal berikut ini : a. Container dikocok lebih dahulu, agar campuran merata, b. Bubuk dan air hendaknya diukur sesuai dengan yang dianjurkan oleh pabrik, c. Biasanya menggunakan air dengan suhu kamar, d. Retensi dengan sendok cetak diperoleh dengan salah satu atau kedua cara berikut, menggunakan sendok cetak yang berlubang-lubang atau memakai bahan adesif seperti sticky waxyang dicairkan, e. Pencampuran hendaknya dilakukan dengan rata selama waktu tertentu, f. Bahan cetan alginate hendaknya dikeluarkan dengan tiba-tiba/cepat dari jaringan, g. Setelah dikeluarkan dari dalam mulut cetakan hendaknya disiram dengan air dingin untuk menghilangkan saliva, ditutup dengan kain kasa lembab untuk mencegah syneresis, dan diisi sesegera mungkin, Sifat-sifat bahan cetak alginate: a. Sifat rheology, b. Selama proses pengerasan bahan perlu diperhatikan agar cetakan jangan dibuka,bahan yang berkontak dengan jaringan mengeras lebih dahulu, c. Bahan ini cukup elastic, d. Dimensi cetakan alginate tidak stabil pada penyimpanan, karena adanya syneresis, e. Dapat kompatibel dengan model plaster dan stone, f. Tidak toksik dan tidak mengiritasi, g. Waktu setting tergantung pada komposisi, dan h. Bubuk alginate tidak stabil disimpan pada ruangan yang lembab atau kondisi yang lebih hangat dari suhu kamar. Aplikasi Bahan ini biasanya tidak dipergunakan untuk mencetak inlay, mahkota, dan jembatan, tetapi dipergunakan dengan hasil yang sangat baik untuk cetakan prostodonti dan ortodonti. Alginate kurang stabil dibandingkan dengan elastomer. 2.5 Non-aquoeous Elastomer 2.5.1 Polysulfide Kandungan dasar pasta polimer adalah merkaptan polifungsional atau polimer polisulfida dengan rumus struktur umum. Polimer linier ini mengandung + 1 mol% cabang untuk memberikan gugus merkaptan yang cukup sebagai tempat rantai berikatan silang. Polimer ini biasanya berikatan dengan bahan oksida seperti timah dioksid. Karakteristik warna coklat pada polisulfida adalah akibat timah teroksidasi ini. Selama reaksi kondensasi timah dioksida dengan gugus SH polimer polisulfida, terjadi 2 fenomena (1) polimerisasi perpanjangan rantai dari reaksi dengan pusat gugus SH, dan (2) ikatan silang dari reaksi dengan rantai cabang gugus SH. Karena gugus kaitan hanya merupakan persentase kecil dari kelompok SH yang ada, awalnya, reaksi polimerisasi menghasilkan perpanjangan rantai, yang menyebabkan viskositas meningkat. Reaksi ikatan silang selanjutnya mengikat rantai-rantai bersamaan membentuk jalinan 3 dimensi yang menjadikan terciptanya sifat elastik pada bahan. Awal peningkatan viskositas mempengaruhi waktu kerja bahan dan merupakan suatu perubahan yang biasa dikenal oleh dokter gigi ketika menggunakan bahan ini. Reaksi pengerasan mulai pada saat awal pengadukan dan mencapai nilai maksimal segera setelah pengadukan sempurna, pada tahap dimana jalinan sifat kelentingan mulai terjadi. Selama pengerasan akhir, terbentuk suatu bahan dengan elastisitas dan kekuatan cukup yang dapat dikeluarkan melalui undercut dengan mudah. Reaksi polimerisasi dari polimer polisulfida adalah eksotermik, banyaknya panas yang dihasilkan bergantung pada banyaknya jumlah bahan dan konsentrasi inisiator. Kelembaban dan temperatur mempengaruhi jalannya reaksi. Khususnya, keadaan panas dan lembab dapat mempercepat pengerasan bahan cetak polisulfida. Hasil reaksi kondensasi dari bahan ini adalah air. Hilangnya molekul kecil dari bahan yang mengeras memiliki pengaruh yang nyata pada kestabilan dimensi cetakan. Anusavice, Kenneth J. 2003. (Phillips : Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi Edisi 10. Jakarta : EGC)

2.5.2 Silikon Susunan kimia Polimerisasi dari bahan ini melibatkan reaksi dengan trifungsi dan tetrafungsi alkyl silikat, biasanya tetraetil orthosilikat, dengan adanya rantai oktoat mengandung timah. Reaksi ini dapat terjadi pada temperature rata-rata jadi bahan ini sering disebut silicon vulkanisasi temperature ruangan (RTV). Pembentukan elastomer terjadi melalui ikatan silang antara kelompok terminal dari polimer silicon dan alkyl silikat untuk membentuk jalinan kerja 3 dimensi. Etil alcohol adalah produk samping reaksi pengerasan kondensasi. Penguapan etil alkohol selanjutnya barangkali ikut diperhitungkan dalam besarnya kontraksi yang terjadi pada karet silikon yang mengeras. Komposisi bahan Bahan cetak silikon kondensasi dikemas sebagai pasta basis dan suatu pasta katalis atau cairan dengan kekentalan rendah. Karena polimer silikon merupakan suatu cairan, silikon koloidal atau logam oksida ukuran mikro ditambahkan sebgai pengisi untuk menbentuk suatu pasta. Silikon memiliki tingkat energi kohesif yang rendah dan karena itu punya interaksi molekul yang lemah. Pengaruh bahan pengisi terhadap kekuatan adalah hal yang penting, ukuran partikel harus dalam kisaran optimal 5-10m. Partikel yang lebih kecil cenderung berkumpul bersama-sama tapi partikel yang lebih besar tidak berperan untuk memperkuat. Bahan dengan kekentalan tinggi atau putty untuk mengatur pengerutan polimerisasi yang besar dari bahan cetak silikon kondensasi. Bahan ini mengandung pengisis cukup banyak sehingga polimer yang ada menjadi lebih sedikit dan pengerutan polimerisasinya juga lebih kecil. Ekspansi termal keseluruhan lebih sedikit dibandingkan polimer karena partkel pengisi memiliki koefisien ekspansi termal lebih kecil Polimer ini tidak memilki karakteristik warna. Kondensasi bahan pasta silikon dan putty dapat dibuat dalam berbagai jenis warna. Merah muda, pastel, hijau dan ungu adalah warna yang sering ditemukan. Manipulasi Silikon kondensasi dikemas dalam pasta basis dan cairan katalis atau reaktor. Bahan putty dikemas sebagai pasta yang amat kental dan suatu caira aselerator. Untuk menghasilkan bahan yang teraduk sempurna adalah tidak mudah ketika putty dan cairan yang mengandung minyak dicampur. Dengan sistem manapun , tehnik pencampuran terbaik adalah meremas bahan tersebut dengan jari. Waktu kerja dan pengerasan Temperatur memiliki pengaruh nyata terhadap kecepatan prses pengerasan dari bahan cetak silikon kondensasi. Mendinginkan bahan atau mengaduknya pada permukaan dingin memperlambat proses reaksi. Mengubah perbandngan basis dan katalis adalah metode lain yang efektif dan praktis dalam mengubah kecepatan pengerasan bahan cetak ini. Elastisitas Sifat elastis bahan silikon kondensasi lebih ideal dibandingkan polisulfid. Bahan ini menunjukkan deformsi permanen minimal dan dapat kembali ke bentuk semula dengan cepat bila diregangkan. Bahan ini tidak terlalu kaku sehingga tidak sulit mengeluarkan dari undercut tanpa meyebabkan distorsi. Rheologi Bahan tersebut dapat memberikan respon elastik. Bahan ini cenderung bereaksi sebagai suatu elastik bila diregangkan dengan cepat , jadi cetakan harus dikeluarkan dengan cepat sehingga deformasi yang terjadi adalah elastik dan kembali ke bentuk semula. Stabilisasi dimensi Pengerutan polimerisasi yang berlebihan dari silikon kondensasi memerlukan suatu modifikasi tehnik pembuatan cetakan supaya menghaslkan cetakan yang akurat. Sebagai tambahan dari besarnya pengerutan ketika mengeras, ketidakstabilan dimensi juga disebabkan oleh penguapan produk reaksi yaitu etil alkohol. Model yang paling akurat diperoleh dengan mengisis cetakan dengan menggunakan gypsum stone langsung setelah setelah cetakan dikeluarkan dari mulut. Biokompatibilitas Adanya kemungkinan tertinggalnya bahan yang robek pada sulkus gingiva. Karena bahan silikon tidak radiopak, sulit dideteksi adanay robekan bahan cetak. Seringkali peradangan gingiva menyertai adanya benda asing diduga akibat iritasi preparasi gigi atau sementasi restorasi. BAHAN CETAK SILIKON DENGAN REAKSI TAMBAHAN (VINYLPOLYSILOXANE) Komposisi Baik pasta basis dan katalis mengandung bentuk vinil silikon. Pasta basis mengandung polymethyl hidrogen siloxane serta pre-polimer siloxan lain. Pasta katalis mengandung divinyl polymethyl siloxane dan pre-polimer lain. Bila pasta katalis mengandung aktivator garam platinum berarti pasta yang berlabel basis harus mengandung hibrid silikon

Satu kerugian bahan cetak silikon adalah sifat hidrofobik. Untuk mengatasinya dengan reaksi tambahan lebih hidrofilik. Untuk mengembalikan permukaan dari cetakan hidrofilik, bahan permukaan ditambahkan pada pasta. Bahan permukaan ini memnungkinkan bahan cetak membasahi jaringan lunak lebih baik dan dapat diisi dengan stone secara lebh efektif. Pengisian cetakan lebih mudah, karena stone basah memilki afinitas yang lebih besar untuk afinitas hidrofilik. Manipulasi Vynil polysiloxane encer dan agak kental dikemas dalam 2 past, sementara bahan putty dikemas dalam 2 toples yang terdiri atas bahan basis dengan kekentalan inggi dan bahan katalis. Bahan ini punya kekentalan yang hampir sama. Jadi bahan tersebut lebih mudah diaduk dibandingkan dengan silikon kondensasi. Kesamaan konsistensi pasta dan sifat menipis dengan tarikan, membuat bahan cetak vynilpolysiloxane cocok untuk digunakan dengan alat otomatis ketika melakukan pengadukan dan pengambilan bahan. Umumnya digunakan untuk bahan dengan kekentalan rendah dan sedang. Alat ini punya keunggulan, dengan menggunakan alat mekanis tersebut terdapat keseragaman dalam membagi dan mengaduk bahan, semakin kecil kemungkinan masuknya udara ke dalam adukan, serta waktu pengadukan menjadi lebih singkat. Jadi kemungkinan kontaminasi jadi lebih sedikit. Bahan cetak yang telah teraduk tersbeut dimasukkan langsung ke dalam sendok cetak yang telah dilapisi adhesif atau pada gigi yang telah direparasi bila ujung semprit telah terpasang Seringkali perbedan warna dari kedua pasta bagitu sedikit sehingga sulit menenukan secara visual apakah banyaknya jumlah basis dan katalis telah teraduk merata. Idak adanya perbedan warna juga mempersulit upaya memastikan bahwa adukan telah homogen. Waktu kerja dan pengerasan Kebalikan dengan silikon kondensasi, lamanya pengerasan silikon tambahan nampak ebih sensitif terhadap temperatur daripada polisulfid. Waktu kerja dan pengerasan dapat diperpanjang smapai 100% dengan penambahan retarder yang dipasok oleh masing-masing pabrik dan dengan pendinginan alas pengaduk. Begitu bahan cetak dimasukkan ke dalam mulut, bahan tersebut dengan cepat menghangat dan waktu pengerasan tidak lebih panjang jika dibanding dengan retarder kimia. Retarder tidak praktis dengan alat pengaduk otomatis. Elastisitas Bahan cetak vynil polysiloxane merupkan bahan bersifat elastik paling ideal yang ada selama ini. Distorsi ketika mengeluarkan melalui undercut umumnya tidak terjadi, karena bahan punya nilai regangan dalam traikan terendah. Kestabilan dimensi Bahan cetak vynil polysiloxane adalah yang paling stabil dimensinya. Tidak ada penguapan produk hasil reaksi samping yang menyebabkan pengerutan bahan. Bahan yang mengeras secara klinis hampir mengalami proses reaksi sempurna, sehingga sedikit sekali residu polimerisasi yang menghasilkan perubahan dimensi. Perubahan dimensi umumnya berasal dari pengerutan termal begitu bahan mendingin dari temperatur mulut ke temperatur ruangan. Biokompatibilitas Bahan ini dapat ditolerir oleh jaringan hidup. Bahaya tertinggalnya sebagian bahan selama mengeluarkan vetakan dapat dihindari dengan penanganan bahan yang tepat dan pemeriksaan tepi cetakan secara cermat untuk menjamin tidak ada daerah yang robek. 2.5.3 Polyether Elastomer jenis polyether ini mempunyai pasta dasar yang mengandung suatu polyether tidak jenuh dengan gugus ujung imine, bahan plastisizer dan bahan pengisi. Pasta pereaksi mengandung aromatic sulfonat sebagai kontitusi utamanya bersama-sama dengan plastisizer dan bahan pengisi anorganik. Setting terjadi dengan reaksi cross-link gugus imine, ini adalah reaksi polimerisasi kation. a. Komposisi Karet polyether dipasok berupa 2 pasta. Basis mengandung polimer polieter, suatu silika koloidal sebagai pengisi, dan suatu bahan pembuat plastik seperti glikoleter atau ftalat. Pasta aselerator mengandung alkil sulfonat aromatik sebagai tambahan terhadap bahan pengisi dan pembuat plastis. b. Sifat Sifat-sifat umum polyether : 1. Ketepatan, (i). Keenceran bahan sebagian besar tergantung pada komposisinya. Beberapa polisulfida tersedia dengan variasi kekentalan, misalnya light bodied untuk disuntikkan deengan spuit dan medium serta heavy bodied untuk dipakai dengan sendok cetak. Pasta elastomer yang belum dicampur biasanya berbentuk pseudoplastis. (ii). Terjadi sedikit kontarksi sewaktu bahan setting, disebabkan oleh karena adanya kontraksi polimerisasi. Juga dapat terjadi kontraksi sewaktu pendinginan dari suhu mulut ke suhu kamar. (iii). Bahan ini cukup elastis dan sanggup ditarik melalui undercut. Pada umumnya lebih kuat dan tidak mudah patah dibandingkan dengan alginate. Bahan polyether lebih keras bila dibandingkan dengan elastomer lainnya, karena itu lebih sukar dibuka. (iv). Pada penyimpanan dapat terjadi kontraksi sebagai akibat terus berlangsungnya polimerisasi. Penguapan hasil sampingan yang mudah terbang, merupakan sumber kontraksi lain. Stabilitas dimensionil polyether sangant jelek pada udara yang lembab.

(v). Bahan ini pada umumnya kompatibeldengan bahan model dan die, meskipun dapat menyebabkan sedikit lunak pada permukaan gips keras. Evolusi awal hidrogen dari bahan yang mengandung organo-hydrogen siloksan menyebabkan timbulnya bintil-bintil pada permukaan stone. 2. Pada umumnya bahan ini tidak toksis dan tidak mengiritasi. Beberapa pasta elastomer yang mengandung lead dioksida mempunyai bau dan rasa yang tidak menyenangkan. 3. Waktu setting tergantung pada komposisi bahan misal, jumlah pereaksi dan sebagainya. Terdapat air dan suhu yang tinggi juga mempercepat waktu setting polisulfida. 4. Stabilitas bahan yang belum dicampur pada penyimpanan tidak selalu ideal, beberapa pereaksi tidak stabil setelah lebih dari 2 tahun, tetapi dapat tahan lebih lama bila disimpan pada refrigator. c. Manipulasi Awalnya polyether dikemas hanya dalam 1 kekentalan. Bahan pseudoplastis memungkinkan satu adukan digunakan baik untuk bahan semprit maupun sendok cetak. Kemudian, pabrik pembuat menyediakan pasta tambahn yang dapat digunakan untuk menghasilkan suatu adukan pengencer. Komponen bahan memerlukan perumusan ulang untuk mengadaptasi bahan bila ingin digunakan dengan alat pengaduk otomatis. Meskipun alat ini dapat digunakan dengan berhasil, kebanyakan polyether masih diaduk dengan menggunakan tangan. Selain itu untuk bersaing dengan silikon tambahan, pabrik pembuat menyadari bahwa klinisi lebih menyukai beragam viskositas dari vinyl polysiloxane. Jadi polyether diubah sehingga dapat dipasok dengan keragaman viskositas. Sebagai akibatnya, kekerasan polyehter juga berkurang. d. Aplikasi Penggunaan utama bahan elastomer adalah untuk cetakan inlay, mahkota dan pekerjaan jembatan, atau untuk gigi tiruan sebagian apabila ditemukan undercut yang sangat besar, sehingga apabila digunakan cetakan alginate dapat patah sewaktu dilepas dari jaringan. Oleh karena harganya yang mahal, bahan ini tidak sering dipergunakan pada pencetakan yang membutuhkan jumlah bahan cetak yang besar. BAB III PEMBAHASAN 3.1 Bahan Cetak 3.1.2 Non-elastic 3.1.2.1 Plaster of Paris 3.1.2.2 Compound 1. Konstitusi dan pemakaian Bahan ini biasanya terbuat dari campuran damar alam (misalnya colophony dan shellac dan/ atau wax), bahan pengisi (soap-stone atau talc), dan pelicin (asam stearic atau stearin). Bahan ini bersifat thermoplastic, yaitu lunak sewaktu dipanaskan dan mengeras apabila didinginkan tanpa terjadi suatu reaksi kimia. Bahan yang ada dapat diklasifikasikan atas dua tipe : (a) Tipe I, lower fusing materials: i. Untuk mendapatkan cetakan prosthetic seperti preliminary-impression pada pasien yang sudah tidak bergigi, tersedia dalam lembaran dengan tebal kira-kira 4 sampai 5 mm. ii. Bahan untuk peripheral seal. iii. Tersedia dalam bentuk batang; dipakai untuk keperluan cetakan yang menggunakan cincin kuprum yaitu untuk inlay dan mahkota, juga untuk ditambahkan pada bagian marginal sendok cetak khusus, dan lain-lain. (b) Tipe II, higher fusing materials: Dipakai sebagai bahan untuk sendok cetak, bahan ini cukup kaku untuk dapat mendukung bahan cetak lainnya. Gambar dua macam bentuk bahan cetak compound. (a) berbentuk lembaran (bentuk kue) dan (b) berbentuk stick (batang)

Gambar bahan cetak compound tipe II (higher fusing materials) yang digunakan sebagai bahan untuk sendok cetak 2. Manipulasi (a) Untuk cetakan prosthetic, bahan komposisi dipanaskan dalam waterbath pada suhu 55 sampai 60oC. Karena bahan ini mempunyai sifat penghantar panas yang rendah maka harus direndam agak lama dalam waterbath sampai sepenuhnya lunak. Meskipun demikian bila dibiarkan terlalu lama beberapa konstitusinya dapat terlepas ke waterbath sehingga merubah sifat-sifat bahan. Air dapat terikut serta ke dalam bahan apabila bahan komposisi dipijit-pijit sewaktu berada di dalam waterbath; air ini akan berlaku sebagai plastisizer. Bila komposisi dibiarkan terlalu dingin maka ia tidak mengalir dengan baik sewaktu diletakkan di dalam mulut; tetapi sebaliknya menjadi merekat apabila dibiarkan terlalu panas. Selalu diingat member lapisan kain kasa pada waterbath agar bahan tidak merekat padanya. (b) Untuk cetakan dengan cincin kuprum, misalnya untuk pekerjaan imlay dan mahkota, batangan komposisi dipanaskan dengan api (gas atau alkohol). Apabila terjadi overheating beberapa konstitusinya bisa menguap sehingga dapat merubah sifat-sifat bahan.

Gambar hasil cetakan rahang menggunakan bahan cetak compound 3. Sifat-sifat (a) Ketepatan i. Secara umum bahan ini meskipun pastis sewaktu dicetakkan tetapi tidak cukup encer untuk mencatat semua detail halus dalam mulut. ii. Bahan cetak komposisi mepunyai koefisien ekspansi termal yang besar; maka pada pendinginan sewaktu setting terjadi kontraksi yang cukup banyak. Hal ini dapat dikurangi sampai batas tertentu dengan cara memanaskan permukaan bahan yang telah set di atas api lalu diulangi melakukan pencetakan. Dengan cara ini maka hanya sejumlah kecil bahan komposisi yang mengalami kontraksi, sehingga resultane besarnya kontraksi juga kecil. Kontraksi juga terjadi sewaktu pendinginan dari suhu mulut ke suhu kamar (kira-kira 1,5% volume). iii. Cetakan komposisi mengalami perubahan sewaktu melewati daerah undercut. iv. Terjadi perubahan dimensional selama penyimpanan hasil cetakan di laboratorium. Stress dapat terbentuk di dalam bahan terutama apabila dimanipulasi atau dibentuk ketika belum sepenuhnya lunak. Perubahan lebih lanjut dapat terjadi oleh karena pelepasan stress ini, terutama apabila dibiarkan beberapa waktu di dalam atmosfir hangat sebelum dilakukan pengisian model. v. Bahan ini kompatibel dengan bahan model dan die. (b) Sifat-sifat lain Bahan cetak komposisi ini : i. Tidak toksik dan tidak mengiritasi. ii. Mengeras di dalam mulut dalam waktu yang dapat ditoleransi. iii. Dapat tahan cukup lama, tetapi perubahan pada shellac dapat menyebabkan kemunduran kualitasnya setelah pemakaian yang lama. 3.1.2.3 Waxe Wax merupakan salah satu bahan termoplastik yang terdiri dari berbagai bahan organis dan bahan alami sehingga membuatnya sebagai bahan dengan sifat-sifat yang sangat berguna. Malam atau wax merupakan salah satu bahan yang memegang peranan penting di ilmu bidang Kedokteran Gigi. Malam atau wax dipergunakan pertama kali di dunia Kedokteran Gigi sekitar abad 18, untuk tujuan pencatatan cetakan rahang yang tidak bergigi. Meskipun telah ditemukan bahan baru yang lainnya, malam masih digunakan dalam jumlah yang besar untuk keperluan klinik dan pekerjaan laboratorium. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut malam gigi biasanya dicampur dari bahan alami dan sintetis. (Combe,1992) Unsur-unsur pokok dental wax terdiri dari 3 sumber utama, yaitu : mineral, serangga (hewani), dan sayursayuran (tumbuh-tumbuhan). 1. Wax yang berasal dari bahan mineral diperoleh dari hasil residu petroleum melalui proses destilasi. Malam yang berasal dari bahan mineral diantaranya adalah: a. Paraffin Wax, mencair pada suhu 48-70C dan memiliki rantai hidrokarbon yang lurus serta memiliki sifat mudah pecah. b. Micro crystallin Wax, microcrystallin wax akan mencair pada suhu 65-90C dan memiliki rantai hidrokarbon yang bercabang memiliki sifat yang Iebih fleksibel dan kuat. 2. Wax yang berasal dari serangga (hewani) adalah beeswax, beeswax akan mencair pada suhu 84-91C dan memiliki sifat yang mudah pecah pada temperatur kamar, tetapi mudah dibentuk pada temperatur tubuh. 3. Wax yang berasal dari sayur-sayuran (tumbuh-tumbuhan) adalah: a. Carnauba wax, mencair pada suhu 84-91C b. Candelilla wax, mencair pada suhu 68-75C dan digunakan terutama untuk memperkeras paraffin wax dengan jalan menambahkannya ke dalam parrafin wax. c. Resin Beberapa sifat-sifat fisik dental wax yang menjadikannya sebagai bahan penunjang yang sangat berguna di bidang kedokteran gigi adalah: 1. temperatur peralihan ke solid 2. termal ekspansi dan kontraksi 3. daya alir (flow) 4. tekanan internal 5. sifat mudah pecah (brittleness) Semua sifat-sifat tersebut harus secara penuh dipahami bila bahan tersebut ingin memuaskan saat digunakan. Fungsi utama dental wax di bidang kedokteran gigi adalah untuk mendapatkan suatu pattern. Pembuatan pattern tersebut merupakan sesuatu yang sangat penting dalam pemanipulasian wax. Karena hasil akhir dari restorasi sangat bergantung pada pattern yang telah kita dapatkan.Selain itu, malam yang dipergunakan di dunia Kedokteran Gigi harus memenuhi syarat yang harus dipenuhi dalam penggunaannya dalam rongga mulut, sebagai berikut : 1.Stabil pada suhu mulut 2. Dapat mengisi rongga cetak 3. Non iritan dan Non toxic 4. Tidak meninggalkan residu 5. Tidak berubah sifat fisis jika dipanaskan (Wilson,1987)

Malam sintesis (Misal derivat nitrogen dari asam lemak) atau polimer dari ethylene dapat memberikan keuntungan yang lebih. Pada prakteknya, di dunia kedokteran sendiri lebih banyak mempergunakan malam campuran dari berbagai macam sumber yang tujuannya untuk saling melengkapi dan menutupi kekurangan setiap malam. (Craig,1983) Ada beberapa jenis malam berdasarkan penggunaannya, antara lain : 1. Malam model : Malam jenis ini banyak dipergunakan untuk keperluan membuat pola dan untuk pencatatan relasi rahang dalam bentuk gigi tiruan. Malam model yang digunakan untuk keperluan klinik hendaknya tidak mengalami perubahan dimensi ketika dipanaskan pada suhu mulut dan didinginkan pada suhu kamar. 2. Malam lembaran tuang : Malam jenis ini tersedia dalam bentuk lembaran dengan ketebalan tertentu. Bahan malam tuang dan komponen polimer harus dibakar habis dari bumbung tuang tanpa meninggalkan residu. 3. Malam inlay : Malam jenis ini banyak dipergunakan untuk pembuatan pola inlay, yang dapat dipergunakan langsung di dalam mulut atau dengan model. 4. Carding dan Boxing wax : Malam jenis ini banyak dipergunakan untuk melekatkan gigi tiruan pada tempatnya dan untuk membuat dinding batas cetakan sebelum dilakukan pengisian. 5. Malam perekat/sticky wax : Malam jenis ini berbentuk batang yang mudah patah/brittle, warna kuning, terbuat dari beeswax dan beberapa resin alami. Bahan ini hendaknya mudah dilepas dengan air mendidih dan memiliki kontraksi minimal sewaktu pendinginan untuk mencegah bergeraknya bagian-bagian yang hendak disambung. 6. Malam cetak : Malam jenis ini dipergunakan untuk mencetak rahang yang tidak bergigi. Malam ini menunjukkan derajat aliran yang tinggi pada suhu mulut. (Combe,1992) Malam memiliki sifat fisis yang baik, sehingga dapat membantu pekerjaan didunia Kedokteran.Gigi. sifat fisis itu antara lain : 1. Suhu transisi padat padat. Suhu transisi padat padat ini dapat diperoleh dengan memanaskan malam secara merata hingga massa malam lunak dan merupakan saat yang tepat untuk memanipulasi malam. Keadaan ini disebabkan karena kisi kristal yang stabil (orthorhombic) berubah menjadi bentuk hexagonal yang terjadi di bawah titik cair malam. Malam yang tetap kaku pada suhu mulut mempunyai suhu transisi padat padat di atas suhu 37C.

2. Ekspansi dan Kontraksi Termis Koefisien ekspansi termis malam lebih tinggi dari bahan kedokteran gigi lainnya. Hal ini dapat menyebabkan kesalahan pada pola atau desain sewaktu didinginkan dari suhu cairnya ke suhu kamar. Ekspansi dan kontraksi sewaktu pemanasan ini dapat menyebabkan hasil yang diperoleh sedikit berbeda dari dimensi ukuran yang sebenarnya. 3. Aliran (flow) Sifat aliran suatu malam sangat menentukan dalam menghasilkan detil cetakan yang sempurna. Sifat aliran pada tiap tipe malam berbeda beda sesuai dengan penggunaannya di kedokteran gigi. Sifat aliran malam dan campuran malam meningkat apabila suhu naik sampai di atas suhu transisi padat padat. Pengukuran aliran pada malam tergantung dari pergeseran molekul molekul malam selama pergerakannya. 4. Tegangan dalam (internal stress) Tegangan dalam adalah tegangan yang timbul pada malam yang diakibatkan adanya pemanasan malam yang tidak merata. Malam yang mengalami internal stress akan mengalami distorsi apabila dilakukan pemanasan ulang.

KOMPOSISI, KLASIFIKASI, JENIS-JENIS DAN PENGGUNAAN WAX DALAM KEDOKTERAN GIGI Klasifikasi malam yang diperoleh secara alami a. Mineral Paraffin wax : Strukturnya rantai lurus polykristal-hydrocarbon. Bersifat rapuh dan suhu kamar. Diperoleh sewaktu penyulingan minyak mentah. Microcrystalline wax atau ceresin : strukturnyatidak serapuh paraffin wax karena mengandung minyak. Bersifat rantai pilikristal hydrocarbon yang bercabang. Diperoleh pada waktu penyulingan minyak mentah. b. Serangga Bees wax : strukturnya mengandung lebih sedikit kristalline dan lebih banyak bahan amorf. Sifatnya bila dicampur dengan paraffin wax, menjadi tidak begitu rapuh pada suhu kamar dan pada suhu yang lebih tinggi

(misal : suhu mulut) mengurangi flo dari malam. Dibuat dari sarang lebah. c. Tumbuhan Carnauba wax : bersifat keras dan kuat. Dicampur dengan paraffin wax untuk memperkerasnya dan meningkatkan suhu transisi padat-padat. Dibuat dari pohon palm/amerika selatan. Candelila wax : sifatnya serupa dengan candelila wax. Dibuat dari tanaman candelila. Resin atau gum : digunakan untuk menamba daya rekat wax. Dibuaat dari pohon. Klasifikasi berdasarkan kegunaannya a. Lilin pola (pattern wax) 1) Base plate wax: Merupakan lilin/malam pelat landasan dengan komposisi : lilin lebah untuk member elastisitas, paraffin, carnauba untuk mengatur titik cair dan zat warna estetis. Syarat base plate haruslah mudah dibentuk dalam keadaan lunak tanpa sobek dan patah, mudah diukir, larut dalam air panas tanpa residu, serta tidak emncemari model. Biasanya diperdagangkan dalam bentuk lembaran 14,5 x 7,5 x 2 mm . 2) Casting wax : merupakan malam tuang/ cor untuk membuat pola lilin gigi tiruan rangka logam. Diaplikasikan pada model refractory. Syarat lilin ini : harus dapat menguap habis pada waktu dibakar (burn out). Doperdagangkan dalam bentuk sheet dan ready shape. 3) Inlay wax : malam inlaydipergunakan untuk pembuatan pola inlay secara langsung di dalam mulut dengan direct technique atau pada model/die yang diperoleh dari suatu cetakan atau yang disebut indirect technique. Malam untuk penggunaan langsung didalam mulut perlu agar mempunyai kontraksi termis yang serendahrendahnya, mempunyai sifat aliran yang baik mempunyai warna yang kontras dengan jaringan mulut ( biasanya biru atau hijau). Selain itu semua, malam inlay hendaknya mudah diukir tanpa putus atau terkelupas dan dapat dibakar habis pada bumbung tuang tanpa meninggalkan residu. Komposisi dari malam inlay antara lain : campuran paraffin, carnauba, lilin lebah, candelila, dan getah dammar serta zat warna. b. Lilin proses (processing wax) 1) Boxing wax : digunakan untuk memagar/membatasi cetakan sebelum diisi/dicor dengan gips. Dapat dibentuk tanpa pemanasan dan disediakan dalam bentuk lembaran atau batangan. 2) Utility wax : dapat digunakan untuk berbagai keperluan (mendukung bahan cetak, batas perifer). Diperdagangkan dalam bentuk lembaran atau batangan (merah tua dan oranye). Komposisinya terdiri dari lilin lebah, petroleum, dan wax softeners. 3) Sticky wax : merupakan malam yang rapuh dan dipergunakan sebagai malam perekat, biasanya terbuat dari beeswax dan beberapa resin alami serta getah damar. Dipergunakan pada laboratorium untuk berbagai hal dimana dibutuhkan penyambungan sementara, misalnya : untuk menyatukan bagian-bagian logam sewaktu penyolderan; sewaktu melakukan reparasi gigi tiruan, mala mini dipakai untuk menyambung bagian-bagian gigi tiruan yang pecah. Bahan ini hendaknya mudah dilepas dengan air mendidih dan hendaknya memiliki kontraksi minimal sewaktu pendinginan untuk mencegah bergeraknya bagian-bagian yanghendak disambung. Tersedia dalam bentuk batangan dengan penampang bulat atau heksagonal. c. Lilin cetak (impression wax) 1) Corrective Waxes : Corrective waxes digunakan sebagai malam lapisan untuk berkontak dan mendapatkan detail dari jaringan lunak. Ini diklaim sebagai tipe material cetak yang merekam membran mukosa dan jaringan dibawahnya. Corrective wxes dibuat dari hidrokarbon waxes seperti paraffin, seresin dan lilin lebah serta metal partikel. 2) Bite Waxes : Bite wax digunakan secara akurat untuk merekam gigitan. Bite wax terbuat dari 28-gage lembar casting wax atau baseplat wax yang keras, tapi lilin yang diidentifikasi sebagai bite waxes nampaknya terbuat dari beeswax atau lilin hidrokarbon seperti paraffin atau ceresin. Lilin ceresin bite mengandung aluminium atau partikel tembaga. 2. SIFAT FISIS WAX Suhu transisi padat padat. Suhu transisi padat padat ini dapat diperoleh dengan memanaskan malam secara merata hingga massa malam lunak dan merupakan saat yang tepat untuk memanipulasi malam. Keadaan ini disebabkan karena kisi kristal yang stabil (orthorhombic) berubah menjadi bentuk hexagonal yang terjadi di bawah titik cair malam. Malam yang tetap kaku pada suhu mulut mempunyai suhu transisi padat padat di atas suhu 37C Ekspansi dan Kontraksi Termis Koefisien ekspansi termis malam lebih tinggi dari bahan kedokteran gigi lainnya. Hal ini dapat menyebabkan kesalahan pada pola atau desain sewaktu didinginkan dari suhu cairnya ke suhu kamar. Ekspansi dan kontraksi sewaktu pemanasan ini dapat menyebabkan hasil yang diperoleh sedikit berbeda dari dimensi ukuran yang sebenarnya

Aliran (flow) Sifat aliran suatu malam sangat menentukan dalam menghasilkan detil cetakan yang sempurna. Sifat aliran pada tiap tipe malam berbeda beda sesuai dengan penggunaannya di kedokteran gigi. Sifat aliran malam dan campuran malam meningkat apabila suhu naik sampai di atas suhu transisi padat padat. Pengukuran aliran pada malam tergantung dari pergeseran molekul molekul malam selama pergerakannya Tegangan dalam (internal stress) Tegangan dalam adalah tegangan yang timbul pada malam yang diakibatkan adanya pemanasan malam yang tidak merata. Malam yang mengalami internal stress akan mengalami distorsi apabila dilakukan pemanasan ulang. (Combe,1992) SYARAT WAX YANG DIGUNAKAN DALAM KEDOKTERAN GIGI Stabil pada suhu mulut\ Dapat mengisi rongga cetak\ Non iritan dan non toxic Tidak meninggalkan residu jika disiram air Tidak berubah sifat fisis jika dipanaskan Mudah dibentuk dalam temperatur tertentu\ Setelah dingin dapat mempertahankan bentuknya Dalam keadaan lunak dapat beradaptasi dengan permukaan lain Dalam keadaan keras dapat diukir Melting range cukup lama Dapat dicairkan dan dipadatkan berkali-kali Jika dibentuk tidak robek atau retak PEMAKAIAN MALAM DI KEDOKTERAN GIGI Malam Model Ini dipergunakan sebagai bahan untuk membuat pola dan untuk pencatatan relasi rahang dalam pembuatan gigi tiruan. Syarat-syarat yang dibutuhkan adalah : a. Hendaknya mudah dibentuk setelah dilunakkan dan tidak robek, terkelupas atau retak b. Hendaknya mudah diukir c. Hendaknya mudah dicairkan dan dipadatkan berkali-kali tanpa merubah sifat-sifatnya d. Tidak ada residu yang tertinggal setelah cetakan yang dihasilkan oleh malam ini disiram dengan air mendidih dan deterjen. Komposisi sebenarnya dari suatu malam model yang tersedia di pasar biasanya tidak diberitahu oleh pabrik, tetapi suatu bahan yang baik dapat dihasilkan dengan cara mencampur beberapa macam malam seperti carrafin wax dan bees wax dengan sedikit malam yang lebih keras dan kuat seperti carnauba. Bahan ini dapat diperoleh dalam beberapa macam tingkatan suhu pelunakan. Dalam melakukan manipulasi penting agar seluruh ketebalan malam dipanaskan merata dan dibentuk sebelum menjadi dingin untuk mengurangi distorsi yang disebabkan oleh karena lepasnya tegangan dalam. Malam model yang dipergunakan untuk keperluan klinik hendaknya tidak/sedikit mengalami perubahan dimensi ketika dipanaskan ke suhu mulut dan selanjiutnya didingingkan ke suhu kamar Lembaran Malam Tuang Lembaran malam tuang tersedia dalam lembar yang telah digulung dengan tebal tertentu. Sewaktu memanipulasi perlu diperhatikan agar malam ini jangan menjadi lebih tipis. Ini dapat dicegah dengan cara memanaskannya dalam air hangat dan mempergunakan kain wool basah untuk menekan atau membentuknya.ing agar klammer meupun konektor gigi tiruan tuangan mempunyai tebal yang tepat. Untuk menyederhanakan pengukiran malam dalam pembuatan gigi tiruan tuangan, jiga tersedia komponen patron gigi tiruan yang terbuat dari bahan polimer yang telah siap dibentuk. Bahan malam tuang dan komponen polimer tersebut harus dibakar habis dari bumbung tuang tanpa meninggalkan residu. Malam Inlay - Malam inlay digunakan untuk pembuatan pola inlay, ini dapat dilakukan : a. Langsung di dalam mulut dengan direct technique, atau b. Pada model atau die yang diperoleh dari suatu cetakan atau yang disebut indirect technique. - Malam untuk penggunaan langsung di dalam mulut perlu agar : a. Mempunyai kontraksi termis yang serendah-rendahnya, meskipun tak dapat dihindari bahwa pada kenyataannnya ini adalah tinggi. b. Mempunyai sifat aliran yang baik c. Memepunyai warna yang kontras dengan jaringan mulut - Selain itu semua malam inlay hendaknya :

a. Mudah diukir tanpa terputus atau terkelupas b. Dapat dibakar habis dari bumbung tuang tanpa meninggalkan residu Konstitusi malam inlay serupa dengan malam model. Bagaimanapun juga, dalam perbandingannya dipakai lebih banyak malam keras agar diperoleh campuran yang memenuhi persyaratan yang lebih keras untuk malm inlay. Carding dan Boxing Wax Merupakan malam yang memiliki aliran tinggi pada suhu kamar dan sangat mudah dibentuk tanpa membutuhkan pemanasan. Bahan ini dipergunakan oleh pabrik untuk melekatkan geligi tiruan pad atempatnya untuk dipasarkan dan juga dipergunakan dalam laboratorium untuk membuat dinding batas cetakan sebelum dilakukan pengisian. Malam Perekat Merupakan malam yang rapuh yang dipergunakan sebagai malam perekat, biasanya terbuat dari beeswax dan beberapa resin alami. Malam ini hendaknya tidak mengalir pada suhu kamar. Digunakan pada laboratorium untuk berbagai hal dimana dibutuhkan penyambungan sementara, misalnya untuk menyatukan bagian-bagian logam sewaktu penyoderan, sewaktu melakukan reparasi gigi tiruan, malam ini dipakai untuk menyambung bagian-bagian gigi tiruan yang pecah. Bahan ini hendaknya mudah dilepas dengan air mendidih dan hendaknya memiliki kontraksi minimal sewaktu pendinginan untuk mencegah bergeraknya bagian-bagian yang hendak disambung. Malam Cetak Malam untuk mencetak, malam koreksi dan malam penyingkap, semuanya memiliki ciri-ciri yang menunjukkan derajat aliran yang tinggi pada suhu mulut. CARA MANIPULASI LEMPENG GIGIT 1. Merapikan basis model dengan pisau gips, memberi identitas pada basis model dengan pensil tinta 2. Menggambar outline dengan pensil tinta pada model, perhatikan daerah frenulum, bebaskan daerah tersebut. Jika masih belum terampil menggambar outline dengan baik, bisa menggunakan pensil biasa terlebih dahulu, dan jika sudah disetujui oleh instruktur bisa menebalkan outline dengan menggunakan pensil tinta. 3. Membagi satu lembar baseplate wax menjadi dua bagian yang sama besar. Satu bagian baseplate wax digunakan untuk RA dapat langsung dimanipulasi, untuk yang RB sebelum dimanipulasi bagian baseplate wax dipotong berbentuk segitiga atau seperti huruf V. 4. Menyiapkan lampu spirtus dengan nyala api sedang, kemudian baseplate/ malam mulai dimanipulasi dengan cara memanaskan malam diatas lampu spirtus secara merata. Setelah malam memcapai suhu transisi padatpadat, letakkan lempeng malam diatas model kemudian tekan-tekan dengan menggunakan ibu jari. Perhatikan saat menekan malam dengan ibu jari jangan sampai merobek lembaran malam, jika malam menjadi keras panaskan kembali diatas lampu spirtus. 5. Setelah semua permukaan malam menempel pada model,potong malam sesuai dengan garis outline dengan menggunakan pisau model dan pisau malam sesuai dengan kebutuhan. Merapikan seluruh tepi malam. 6. Hasil maksimal adalah seluruh malamdapat diaplikasikan pada model dengan ketebalan yang sama dan tepi yang rapi sesuai garis outline, halus dan permukaannya rata. Cara memanipulasi wax : 1. malam sebelum dipanaskan adalah mudah mengalami flaking/ patah/ robek karena struktur bentuk kristalnya. 2. pemanasan secara merata pada seluruh permukaan malam akan menjadikan malam mudah dimanupilasikan pada model. 3. bila sisi yang dipanaskan hanya sebagian maka panas tidak akan disebarkan ke sisi lain sehingga sisi tempat pemanasan akan mencair. 4. pemanasan yang merata akan mengurangi tegangan dalam. 5. untuk malam inlay cor, harus hati-hati bila melunakan batangan malam agar tidak terlalu panas. 6. malam diputar-putar sampai mengkilap kemudian dijauhkan dari api. Hal ini diulang sampai malam menjadi hangat seluruhnya. 7. malam kemudian diuli dan dibentuk kedalam kavitas preparasi. 8. tekanan harus diaplikasikan dengan jari / meminta pasien menggigit malam. 9. malam menjadi dingin secara berangsur-angsur pada temperatur mulut, tidak perlu direndam pada air dingin. PERBEDAAN LEMPENG GIGIT DAN BASIS GIGI TIRUAN Lempeng gigit merupakan model kerja yang terbuat dari malam yang jika di proses lebih lanjut akan menjadi basis gigi tiruan. Proses tersebut meliputi : 1. Lempeng gigit yang melekat rapat pada modelnya didiapkan. Lakukan kontur sederhana dengan merapikan seluruh permukaan lempeng gigit sampai rata, halus dan mengkilat. 2. Selanjutnya untuk tahap penanaman siapkan kuvet, begel portabel, gips putih, gips biru, vaselin 3. Ulasi seluruh permukaan model lempeng gigit dengan vaselin kecuali pada model malam 4. Mengaduk gips putih secukupnya dengan konsistensi normal. Tuang ke dalam kuvet bawah, kemudian meletakkan model ke dalam kuvet, untuk model rahang atas dengan kemiringan 45 dan rahang bawah tegak lurus 90

5. Setelahh gips mencapai final setting, ulasi seluruh permukaan dengan vaselin kecuali model malam, aduk gips biru dengan konsistensi kental, ulasi seluruh permukaan model malam dengan gips biru. 6. Setelah gips biru mencapai final setting, katupkan kuvet lawan, lalu aduk gips putih lalu tuangkan ke dalam kuvet. Letakkan kuvet ke dalam press portable kemudian press dengan kekuatan maksimal lalu biarkan gips mencapai final detting. 7. Didihkan air dalam kompor lalu masukkan kuvet dan press begel ke dalam panci lalu biarkan selama 5 menit. 8. Setelah 5 menit angkat kuvet dan begel portable lalu buka press begel hingga kuve terlepas, lalu pisahkan kuvet lawannya 9. Setelah kuvet terpisah, pastikan seluruh daerah mould space terbebas dari malam 10. Tahap selanjutnya adalah packing akrilik 11. Setelah proses pemasakan akrilik selesai maka akan menjadi basis gigi tiruan akrilik. 3.1.2.4 ZnO-eugenol Zinc oxide eugenol (ZOE) adalah suatu material dibuat dengan kombinasi dari seng oksida dan eugenol (yang terkandung dalam minyak cengkeh. Sebuah reaksi asam-basa terjadi dengan pembentukan kelat eugenolate seng. Reaksi ini dikatalisis oleh air dan dipercepat oleh kehadiran garam logam. ZOE dapat digunakan sebagai bahan mengisi atau semen dalam kedokteran gigi. [1] [2] Hal ini sering digunakan dalam kedokteran gigi ketika pembusukan sangat mendalam atau sangat dekat dengan ruang saraf atau bubur kertas. Karena di dalam jaringan gigi, yaitu pulp, bereaksi buruk terhadap rangsangan pengeboran (panas dan getaran), itu sering menjadi sangat meradang dan presipitat suatu kondisi yang disebut pulpitis akut atau kronis. Kondisi ini biasanya mengarah ke sensitivitas gigi kronis yang parah atau sakit gigi aktual dan kemudian dapat hanya diperlakukan dengan pencabutan saraf (pulp) yang disebut terapi saluran akar. Penempatan dari ZOE "sementara" selama beberapa sampai beberapa hari sebelum penempatan mengisi akhir biasanya mencegah sensitivitas atau sakit gigi dan karena itu, sebagian besar kali, menghalangi kebutuhan yang mahal dan memakan waktu prosedur saluran akar. Hal ini diklasifikasikan sebagai perantara bahan restoratif dan telah anestesi dan antibakteri properti. Hal ini kadang-kadang digunakan dalam pengelolaan karies gigi sebagai "sementara mengisi". ZOE semen diperkenalkan di1 890-an. Seng oksida eugenol juga digunakan sebagai bahan kesan lengkap selama konstruksi gigi palsu dan digunakan dalam teknik mucostatic mengambil tayangan. Seng oksida eugenol juga digunakan sebagai antimikroba aditif dalam cat. Komposisi a. Zinc oxide 69%, b. Putih damar 29,3% c. Zinc Stearate 2% (bertindaksebagaiakselerator) d.Sengasetat0.7%(meningkatkankekuatan) ZOE kemasan pasta yang dibagikan sebagai dua pasta terpisah. Satu tabung mengandung seng oksida dan sayur atau minyak mineral, yang lain mengandung eugenol dan damar. Sayur atau minyak mineral bertindak sebagai sebuah plasticizer dan membantu mengimbangi tindakan dari eugenol sebagai iritasi. Minyak cengkeh, yang mengandung 70% hingga 85% eugenol, kadang-kadang digunakan dalam preferensi untuk eugenol karena kurang menghasilkan sensasi terbakar pasien ketika kontak pada jaringan lunak. Penambahan damar ke pasta dalam tabung kedua memfasilitasi kecepatan reaksi dan hasil yang lebih halus, lebih homogen produk. Kanada balsam dan Peru balsam sering digunakan untuk meningkatkan aliran dan meningkatkan sifat pencampuran. Jika pasta campuran terlalu kurus atau kekurangan tubuh sebelum set, pengisi (seperti lilin) atau bubuk inert (seperti kaolin, bedak, atau diatomaceous bumi) dapat ditambahkan ke salah satu atau kedua dari pasta asli. Properties of Zinc-Oxide Eugenol Konstituen yang khas pasta seng oksida eugenol adalah: a. BASE PASTE Seng oksida Inert minyak (plasticiser) Terhidrogenasi resin (meningkatkan pengaturan waktu dan meningkatkan kohesi) b. REACTOR PASTE Eugenol Zinc asetat (pedalgas) Pengisi (talek atau kaolin) Beberapa pasta mengandung eugenol pengganti misalnya asam karboksilat. 2 pasta datang dalam warna-warna kontras dan dibagikan dalam rasio 1:1. Mereka dicampur untuk memberikan pasta bahkan warna. Himpunan berisi materi yang tidak bereaksi baik beberapa seng oksida dan eugenol.Setiap gerakan dari nampan sebagai pasta adalah pengerasan akan menyebabkan cacat, kesan tidak akurat. Pengaturan waktu tergantung pada: 1. Accelerator tambahan (misalnya seng asetat, asamasetat) 2. Paparan kelembaban pada pencampuran atau penambahan air akanmempercepat reaksi 3. Peningkatan suhu menyebabkan reaksi yang lebih cepat pengaturan. Pengaturan waktu biasanya 4-5 menit.

PROPERTIES a. Non toxic b. Kepatuhan terhadap jaringan c. Mucostatic atau mucocodisplacive (tergantung pada merek yang digunakan). Baik permukaan detail dibagian tipis, d. Stabilitas dimensi yang baik (sedikit atau tidak ada perubahan tentang pengaturan dimensi, 0.1% dimensi berubah selama pengaturan) e. Dapat ditambahkan kesegar seng oksida eugenol f. Stabil dirak penyimpanan dan baik kehidupan KEUNTUNGAN 1. Stabilitas dimensi 2. Bagus permukaan detail 3. Dapat ditambahkan 4. Mucostatic atau mucocodisplacive Kekurangan 1. Tidak dapat digunakan dalam sangat dalam memotong 2. Hanya set cepat di bagian tipis 3. Eugenol alergi pada beberapa pasien 3.1.3 Elastic 3.1.3.1 Aqueous Hydrocolloids 3.1.3.1.1 Agar (reversible) Komposisi Agar (14%): berfungsi sebagai koloida, Borax (0,2%): berfunsi memperkuat gel, tetapi memperlambat waktu setting bahan gips keras. Natrium sulfat (2%): berfungsi mempercepat waktu setting gips keras, Air (83,8%): berfungsi sebagai media tempat tersebarnya koloida. Sifat Sifat rheologi : Bahan ini dapat dibuat cukup encer sehingga seandainya dikerjakan dengan benar sanggup mencetak detail yang halus. Bahan yang terlebih dahulu mengeras adalah bagian yang berkontak dengan sendok karena bagian ini lebih dingin daripada jaringan. Jadi bahan yang berkontak dengan jaringan berada dalam keadaan cair agak lama dan dapat mengalir sehingga mengeliminer bagian cetakan yang kurang sempurna yang diakibatkan oleh adanya perubahan dimensi atau karena bergeraknya sendok cetak. Bahan yang telah set dapat dikeluarkan melalui undercut. Adhesi agar dengan logam sangat jelek sehingga perlu dipergunakan sendok cetak yang berlubang-lubang. Model sebaiknya diisi langsung setelah pencetakan untuk mencegah kemungkinan terjadinya syneresis dan imhibisi. Sifat kompatibel terhadap bahan model tergantung pada senyawa kimia yang terkandung pada bahan cetak. Tanpa adanya akselerator untuk setting stone (missal K2SO4) dapat diperoleh permukaan yang halus. Bahan ini tidak toksis dan tidak mengiritasi. Waktu settingnya agak lambat, kecuali apabila diberi pendinginan yang efisien. Tahan cukup lama dipakai. Bahan dapat dipergunakan berulang dan dapat disterilisasi. Hilangnya air dapat terjadi dengan diikuti oleh peningkatan kekentalan sol. Apabila perlu ditambah air. Manipulasi Bahan tersedia dalam container yang disegel untuk mencegah penguapan air. Bahan ini dibuat menjadi cairan dengan cara memanaskan tabungnya dalam air mendidih selama kira-kira 10 menit. Tabung dikocok sampai isinya tercampur rata, lalu di biarkan sampai dingin (45C), baru dipindahkan dari tabung ke dalam sendok cetak. Dibiarkan dalam posisinya di dalam mulut sampai menjadi gel. Pembentukan gel agak lambat, ini dapat dipercepat dengan menyemprot sendok cetaknya dengan air dingin atau mempergunakan sendok cetak yang memiliki saluran-saluran melalui mana mengalir air dingin. Dibutuhkannya suhu yang lebih tinggi untuk memindahkan keadaan dari gel ke sol daripada dari sol ke gel. Aplikasi/Penggunaan Bahan ini dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan pencetakan prostodonsia dan pekerjaan mahkota dan jembatan. 3.1.3.1.2 Alginate (irreversible) Komposisi Komponene utama dari bahan cetak hidrokoloid irreversible adalah salah satu alginate yang larut dalam air, seperti natrium, kalium, atau alginate trietanolamin. Bila alginate larut dicampur dengan air, bahan tersebut membentuk sol. Berat molekul dari campuran alginate amat bervariasi, tergantung pada buatan pabrik.

Tabel komposisi bahan cetak alginate:

Konstitusi Persentase Fungsi 1. Larutan garam asam alganik (Na, K, ammonium alginate 2. Garam kalsium alginate (kalsium sulfat dihidrat) 3. Trisodium phosphate 4. Bahan pengisi (tanah diatom) 5. Siliko fluoride 6. Bahan pewangi 7. Indicator kimia 12

12

2 70 Sedikit Sedikit

Sedikit Bereaksi dengan ion Ca2+ Menghasilakan gel kalsium alginate Melepas ion Ca untuk bereaksi dengan alginate Menghalangi pembentukan gel Memperkuat gel Memperbaiki permukaan model stone Agar lebih disenangi pasien Untuk menunjukkan waktu perbedaan manipulasi Manipulasi Alat: - Mangkuk karet (bowl) - Spatula - Sendok cetak alat-alat yang digunakan harus dalam keadaan bersih untuk menghindari kontaminasi, karena kontaminasi dapat mempercepat waktu setting. a. Menakar bubuk dan air b. Memasukkan bubuk alginate ke dalam bowl yang telah diisi air Air yang digunakan umumnya air dalam suhu kamar. Untuk memepercepat setting, digunakan air hangat. Sedangkan untuk memeperlambat setting, digunakan air dingin. c. Mengaduk bahan Menggunakan teknik angka delapan (8) dengan cara dihentakkan dan ditekan pada dinding mangkuk karet. Ini dilakukan untuk mengeluarkan gelembung udara. Pengadukan dihentikan sampai campuran bahan seperti krim dan tidak menetes dari spatula ketika diangkat dari mangkuk. d. Campuran bahan diletakkan pada sendok cetak kemudian dimasukkan ke dalam mulut. e. Setelah bahan cetak terlihat elastic, kemudian dikeluarkan secara tiba-tiba untuk menjamin keadaan elastisitas yang paling baik. f. Setelah dikeluarkan: i. Hasil cetakan disiram dengan air dingin untuk menghilangkan saliva ii. Ditutup dengan kasa lembab untuk mencegah syneresis iii. Diisi dengan gips sesegera mungkin, yaitu tidak lebih dari 15 menit. Sifat a. Ketetapan i. Sifat rheologi: alginate cukup encer untuk sanggup mencatat detail halus dalam mulut

ii. Reaksi berlangsung lebih cepat pada suhu yang lebih tinggi, sehingga bahan yang menempel pada jaringan akan berkontal lebih dulu iii. Bahan cukup elastis untuk ditarik melalui undercut. iv. Dimensi cetakan alginate tidak stabil pada penyimpanan. Hal ini disebabkan karena syneresis v. Dapat kompatibel dengan model plaster atau stone b. Tidak toksis, tidak mengiritasi, rasa dan bau dapat ditoleransi c. Waktu setting tergantung komposisi dan suhu pencampuran d. Tidak stabil jika disimpan dalam ruangan yang lembab atau kondisi yang lebih hangat dari suhu kamar. Keuntungan - Manipulasi mudah - Nyaman bagi pasien - Murah Fungsi Bahan ini tidak digunakan untuk mencetak inlay, mahkota, dan pekerjaan jembatan, tetapi dipergunakan dengan hasil sangat baik untuk cetakan prostetik dan ortodonsia. 3.1.3.2 Non-aqueous Elastomer 3.1.3.2.1 Polysulfide 1. Komposisi Terdiri dari 2 pasta, yaitu : a. Pasta basis : polisulfida, bahan pengisi 11-54% (titanium dioksida) b. Pasta katalisator : PbO2, sulfur, minyak 2. Sifat-sifat Setting time dipengaruhi oleh suhu, semakin tinggi suhu semakin cepat setting time dari bahan cetak polisulfida. Elastisitas Rheologi Ketahanan terhadap robekan yang tinggi Kestabilan dimensi Biokompatibilitas yang baik 3. Keuntungan dan kerugian dari polisulfida a. Keuntungan : Waktu kerjanya lama Terbukti akurat Ketahanan robek tinggi Harganya terjangkau Waktu penyimpanannya lama b. Kerugian : Membutuhkan sendok cetak perseorangan Hidrofobik Berpotensi terhadap distorsi Aromanya mengganggu pasien 4. Manipulasi Menekan pasta dengan panjang tertentu dari kedua pasta yang ditekan keluar dari tube kemasannya pada lembaran pengaduk atau kaca pengaduk, pasta katalisator mula-mula dikumpulkan pada spatula tahan karat dan kemudian didistribusikan di atas pasta basis, dan diaduk dilembar pengadukan. Massa yang diperoleh dikumpulkan dengan bilah spatula dan kembali diaduk merata. Proses tersebut dilanjutkan sampai pasta adukan berwarna seragam, tanpa terlihat garis warna basis atau katalis pada adukan. Bila adukan tidak homogen, proses pengerasan tidak akan berlangsung seragam, dan diperoleh hasil cetakan yang mengalami distorsi. 3.1.3.2.2 Silikon Komposisi :bahan cetak silicon kondensasi dikemas sebagai pasta basis dan suatu pasta katalis atau cairan dengan kekentalan rendah. Karena polimer silicon merupakan suatu cairan ,silicon koloidal atau logam oksida ukuran mikro ditambahkan sebagai pengisi untuk membentuk suatu pasta. Pemilihan dan penanganan dari filter tersebutlah amatlah penting karena silicon memiliki tingkat energy kohesif yang rendah dan ,karena itu ,memiliki interaksi antar molekul yang lemah. Seringkali partikel pengisi terpisah dari polimer ,dan bahan yang dicampur Nampak seperti 2 komponen.pengaruh pengisi terhadap kekuatan adalah hal yang lebih penting untuk suatu elastomer silicon dibandingkan untuk bahan cetak lainnya. Partikel yang lebih kecil cenderung untuk berkumpul bersama-sama tetapi partikel yang lebih besar tidak berperan untuk memperkuat. Partikel seringkali diterapi untuk mendapat kecocokan yang lebih baik dan memperkuat karet silicon. Bahan dengan kekentalan tinggi ,biasa disebut dengan putty (seperti dempul), dikembangkan untuk mengatur pengerutan polimerisasi yang besar dari bahan cetak silicon kondensasi. Bahan putty ini mengandung pengisi cukup banyak sehingga polimer yang ada menjadi lebih sedikit dan pengerutan polimerisasinya juga lebih kecil. Karena bahan memiliki konsentrasi partikel pengisi yang lebih besar ,sifat bahan cetak terpengaruh oleh sifat bahan pengisi. Jadi ,ekspansi termal keseluruhan lebih sedikit dibandingkan polimer karena partikel pengisi memiliki koefesien ekspansi termal yang lebih kecil. Sifat sifat bahan cetak silicon : Elastisitas. Sifat elastic bahan cetak silicon kondensasi lebih ideal dibandingkan polisulfida. Bahan cetak ini menunjukkan deformasi permanen minimal dan dapat kembali ke bentuk semula dengan cepat bila diregangkan.

Seperti polisulfida ,bahan ini tidak terlalu kaku sehingga tidak sulit mengeluarkannya dari undercut tanpa menyebabkan distorsi. Rheologi. Karakteristik viskoelastik bahan ini menunjukkan bahwa bahan tersebut dapat memberikan respons elastic (melenting seperti pegas) atau seperti cairan kental yang mudah mengalami deformasi permanen (tidak pernah kembali ke tempat yang tepat sama ,seperti bercak kotor). Bahan ini cenderung bereaksi sebagai elastic bila diregangkan dengan cepat ,jadi cetakan harus dikeluarkan dengan cepat sehingga deformasi yang terjadi adalah elastic dan dapat kembali ke bentuk semula. Regangan yang diperlama dengan mengeluarkan cetakan perlahan-lahan meningkatkan kesempatan terjadinya deformasi permanen karena rantai polimer bereaksi dalam cara seperti cairan kental. Kebanyakan konsistensi bahan kondensasi adalah putty dan wash. Bahan putty merupakan bahan dengan kekentalan amat tinggi. Bahan wash adalah setara dengan light body atau bahan dalam semprit. Stabilitas dimensi. Pengerutan polimerisasi yang berlebihan dari silicon kondensasi memerlukan suatu modifikasi teknik pembuatan cetakan supaya menghasilkan cetakan yang akurat. Teknik putty-wash digunakan untuk silicon kondensasi. Teknik ini dapat mengimbangi kestabilan dimensi yang buruk dari bahan ini. Banyaknya kontraksi linier adalah lebih dari 2-4 kali dibandingkan dengan bahan cetak lainnya. Biokompatibilitas. Silicon dalah salah satu bahan yang dapat diterima secara biologi. Jadi ,amat tidak mungkin bahan cetak kondensasi silicon menyebabkna masalah biokompatibilitas. Ada 2 jenis bahan cetak ,yaitu : Polysiloxanes Keuntungan bahan ini adalah :waktu kerja 5-7 menit ,aromanya enak ,sebaiknya hasil cetakan dicor dalam 1 jam. Polyvinylsiloxanes Bahan ini paling akurat ,paling sedikit mengalami pengerutan polimerisasi ,distorsi sangat rendah ,waktu kerja 35 menit ,masih dapat dicor sampai 1 minggu setelah pencetakan. Macam-macam teknik mencetak : 1. Teknik adonan ganda. Masalah jika disediakan sendok cetak khusus bahan polisufid, cetakan sebaiknya segera dicor tetapi penyimpanan sampai 24 jam masih dapat diterima. Diperlukan relief liquid foil pada dinding-dinding aksial model. Alasan pemilihan, adanya penyusutan polimerisasi masih memungkinkan membuat mahkota yang cukup longgar sehingga tersedia tempat bagi larutan semen dan mahkota dapat duduk rapat pada bahu. Tepi-tepi yang tipis tidak mudah robek seperti pada silikon. Warna cokelat disebabkan karena katalis yang membuat bahan-bahan ini mudah diperiksa detail hasil reproduksinya dan adanya cacat. Untuk mencetak preparasi beberapa mahkota vener penuh dan jembatan. Jika tidak tersedia sendok cetak khusus menggunakan bahan silikon (Tipe II) untuk mencetak preparasi intrakoronal (mahkota dan inlai) teknik adonan ganda silikon (tipe II) : a. dengan putty (tidak ada sendok cetak khusus). b. Mengganti putty dengan pasta heavy body (diperlukan sendok cetak khusus). Bahan silikon adalah pengeras tambahan oleh karenanya sangat akurat dan tidak menyusut pada polimerisasi atau penyimpanan. Oleh karena itu bahan ini dapat disimpan sampai waktu tak terbatas sebelum pengecoran. Teknik pencetakkan elastomer dengan teknik adonan ganda (untuk heavy dan liquid bodied polysulphide atau putty dan light bodied silicone). Buat sendok cetak khusus yang menutupi seluruh lingkung tetapi tidak menutupi palatum (sulkus bukal) (palatum hanya diperlukan jika akan dibuat bar palatal, seperti pada gambaran spring contilever). Dua lapis lempeng malam basis yang keras di atas model akan memberikan ruang yang cukup untuk bahan cetak. Berikan adhesif pada permukaan sendok cetak. Aduk selama 45-60 detik bahan-bahan light dan heavy bodied dengan panjang yang sama sehingga menghasilkan masa yang homogen. Keluarkan ganjal gingiva keringkan seluruh preparasi. Tempatkan bahan light-bodied dalam semprit (syringe) dan infeksikan disekeliling preparasi. Masukkan bahan heavy bodied dalam sendok dan tempatkan pada posisinya ke atas seluruh lengkung (aliran udara secara perlahan dengan semprotan udara dapat membantu menyebarkan bahan light bodied diatas permukaan preparasi). Tahan sendok pada posisinya dengan tekanan jari yang ringan selama 4-7 menit sesuai dengan petunjuk pabrik. Dianjurkan untuk menahan cetakan pada posisinya selama 2 menit setelah bahan terlihat mengeras. Hal ini disebabkan karena bahan memperlihatkan reaksi pengerasan yang berlanjut dan jika masih banyak polimerisasi yang terjadi setelah pengeluaran sendok cetak hal ini akan mengakibatkan perubahan bentuk. Variasi : jika tidak tersedia sendok cetak khusus dapat dipergunakan putty di kombinasikan bahan light bedied (hanya silikon). 2. Teknik dan tahap (putty dan wash) tanpa spacer. Untuk mencetak preparasi bebarapa mahkota vener penuh dan jembatan. Masalah jika tidak tersedia sendok cetak khusus sebaiknya cetakan ini dicor dalam 1 jam karena penyusutan yang terjadi sesudah proses polimerisasi lebih lanjut dan penguapan alkohol. Alasan pemilihan karena bahan masih mempunyai penyusutan polimerisasi yang sangat besar, penyusutan bahan ini harus dijaga sesedikit mungkin dengan penggunaan bahan putty tanpa spacer. Penyusutan yang terjadi masih memungkinkan dibuat mahkota yang cukup longgar guna menyediakan tempat bagi larutan semen. Dengan atau tanpa sendok cetak khusus teknik dua tahap dengan spacer (putty dan wash ; tidak ada sendok cetak khusus) Alasan pemilihan karena bahan ini sangat elastik, tidak berubah bentuk sewaktu dikeluarkan dari underkut sekitar intrakoronal gigi yang dipreparasi. Bahan silikon (tipe I). Teknik pencetakan elastomer dengan teknik dua tahap (untuk putty dan masih silikon menggunakan spacer). Sendok cetak

berlubang-lubang siap pakai bawah (palatum hanya diperlukan jika akan dibuat bar palatal). Bagaimanapun juga sebaiknya sendok cetak harus cukup kuat untuk menahan tekanan yang dapat merubah bentuk. Berikan adesif pada permukaan sendok cetak. Campur putty base dan tetesan katalis pada yang disediakan Berikan alas plastik di atas seluruh lengkung gigi. Masukan putty ke dalam sendok, tempatkan pada posisinya dalam mulut. Tahan kurang lebih 3 menit hingga mengeras , sedikit perubahan bentuk tidaklah penting apabila dipergunakan spacer. Keluarkan sendok dan keringkan permukaannya. Buang spacer dan keluarkan ganjal gingival. Aduk bahan light bodied. Masukkan bahan light bodied yang telah dicampur ke dalam cetakan di atas seluruh lengkung (tidak hanya di sekitar cetakkan pada gigi yang telah dipreparasi). Suntikkan bahan light bodied sekeliling gigi yang dipreparasi (penggunaan semprotan udara secara perlahan akan membantu dapat membantu menyebarkan bahan light bodied di atas permukaan preparasi). Tempatkan kembali sendok cetak ke dalam mulut dan tahan selama kira-kira 5 menit Gunakan tekanan jari yang ringan. Tempatkan kembali sendok cetak ke dalam mulut dan tahan selama kira-kira 5 menit. Gunakan tekanan jari yang ringan 3. Teknik sekali aduk. Untuk mencetak preparasi beberapa mahkota vener penuh dan jembatan jika tidak tersedia sendok cetak khusus. Bahan polieter. Biasanya cetakan ini mempunyai daya tahan yang baik. Pada keadaan lembab, cetakan ini sebaiknya dicor sesegera mungkin karena dapat menyerap air. Disini diperlukan pula liquid foil pada model. Alasan pemilihan sederhana penggunaannya tetapi sulit dikeluarkan dari underkut dalam mulut dan pada model setelah pengecoran. Hal ini disebabkan karena konsistensinya yang sangat keras setelah mengeras. Jangan dipergunakan pada pasien yang mempunyai bakat alergi. 4. Teknik pencetakan pita tembaga (copper band) dikombinasi dengan cetakan alginat. Untuk mencetak preparasi mahkota penuh tunggal. (khususnya cocok untuk cetakkan preparasi yang tipis seperti gigi insisivus lateral atas dan gigi-gigi insisivus sentral serba lateral bawah. Juga sesuai untuk gigi non vital dimana panas dari compound tidak menimbulkan trauma pulpa, dan pada kasus-kasus dimana perlu mengatur jaringan lunak yang tumbuh berlebihan). Bahan cetak compound dalam cincin tembaga untuk mencetak permukaan yang dipreparasi, dikombinasikan dengan cetakan alginat dari seluruh lengkung rahang. Cetakan alginat harus disimpan dalam kantong plastik yang tertutup. Algihard adalah bahan yang berguna karena dapat disimpan untuk periode yang lama. Alasan pemilihan. Murah, karena tidak memerlukan sendok cetak khusus atau bahan mahal lain. Mudah untuk mendapatkan cooper plated die yang kuat (lain dengan die stone yang lebih lemah biasanya dibuat pada cetakan elastometik). Teknik pencetakan untuk bahan non-elastik dengan pita tembaga dengan compound : Pilih ukuran pita yang sesuai (pita yang keras lebih mudah digunakan dari pada yang lunak). Sebaiknya sedikit melewati tepi preparasi tanpa menjadi terlalu longgar. Pita yang telah longgar akan menjebak jaringan lunak pada bahu preparasi. Pita merengang pita yang sedikit keseimbang kesempitan dapat di renggangkan dengan memasukkannya ke sepasang jepitan howe dan sedikit membuka peganganya. Mungkin perlu untuk melakukan pengurangan pada cincin tembaga yang keras dengan memanaskannya sampai kemerahan dan mendinginkannya dalam methyled spiritus. Pita kontur, sesuaikan kontur supaya rapat dibawah tepi gingiva dan tandai permukaan bukalnya untuk memudahkan mengenalinya sewaktu melakukan pencetakkan. Pembentukan kontur awal dengan pemotong BeBe dan diikuti dengan batu abrasif. Compound lunak. Panaskan grey stick compound panjang (kira -kira 4-5 cm) pada api bunsen sampai lunak sampai pertengahan panjangnya. Masukkan ke dalam pita dan lunnakkan kembali dengan nyala api. Penggunaan petroleum jelly akan mencegah kompound melekat pada jari-jari. Pencetakkan, letakkan permukaan yang bertanda dari band pada posisi bukal gigi dan dengan kokoh dorong cetakan di atas gigi yang dipreparasi sampai melewati tepi gingiva. Pada kasus-kasus dimana terdapat inti dan pasak, pemberian sedikit pasta anestesi topikal akan membuat pekerjaan ini cukup nyaman bagi gingiva tanpa perlu melakukan injeksi anestesi lokal. Compound yang meluncur di atas preparasi akan mendorong darah dan saliva pada satu sisi. Akhrinya compound dijepit pula posisinya oleh pita sewaktu mencapai tepi gingiva yang berada sedikit dibelakang compound. Pendinginan, diinginkan cetakan dengan semprotan air sebelum mengelu arkannya. Pengeluaran, jika mengalami kesulitan pada waktu mengeluarkan pita, masukkan bur bulat no. 3 pada henpis konvensional ke dalam pita, untuk membebaskan preparasi. Cetakan dapat dibiarkan pada henpis yang memberikan pegangan tambahan. Sekarang dapat diberikan dorongan pada arah aksial. 3.1.3.2.3 Polyether Elastomer jenis polyether ini diperkenalkan di jerman pada akhir tahun 1960an. Merupakan polimer berbasis polyether yang diperkeras dengan reaksi antara cincin azridin, yang merupakan ujung cabang molekul polyether. Rantai utama dapat merupakan suatu kopolimer etilen oksid dan tetrahidrofuran. Ikatan silang, dan kemudian pengerasan, terjadi oleh jenis ester sulfonat aromatik. Bahan ini merupakan elastomerik pertama yang dikembangkan terutama untuk berfungsi sebagai bahan cetak. Semua bahan lain diadaptasikan dari pengguna lain. c. Komposisi Karet polyether dipasok berupa 2 pasta. Basis mengandung polimer polieter, suatu silika koloidal sebagai pengisi, dan suatu bahan pembuat plastik seperti glikoleter atau ftalat. Pasta aselerator mengandung alkil sulfonat aromatik sebagai tambahan terhadap bahan pengisi dan pembuat plastis.

d. Sifat Sifat-sifat umum polyether : 2. Ketepatan, (i). Keenceran bahan sebagian besar tergantung pada komposisinya. Beberapa polisulfida tersedia dengan variasi kekentalan, misalnya light bodied untuk disuntikkan deengan spuit dan medium serta heavy bodied untuk dipakai dengan sendok cetak. Pasta elastomer yang belum dicampur biasanya berbentuk pseudoplastis. (ii). Terjadi sedikit kontarksi sewaktu bahan setting, disebabkan oleh karena adanya kontraksi polimerisasi. Juga dapat terjadi kontraksi sewaktu pendinginan dari suhu mulut ke suhu kamar. (iii). Bahan ini cukup elastis dan sanggup ditarik melalui undercut. Pada umumnya lebih kuat dan tidak mudah patah dibandingkan dengan alginate. Bahn polyether lebih keras bila dibandingkan dengan elastomer lainnya, karena itu lebih sukar dibuka. (iv). Pada penyimpanan dapat terjadi kontraksi sebagai akibat terus berlangsungnya polimerisasi. Penguapan hasil sampingan yang mudah terbang, merupakan sumber kontraksi lain. Stabilitas dimensionil polyether sangant jelek pada udara yang lembab. (v). Bahan ini pada umumnya kompatibeldengan bahan model dan die, meskipun dapat menyebabkan sedikit lunak pada permukaan gips keras. Evolusi awal hidrogen dari bahan yang mengandung organo-hydrogen siloksan menyebabkan timbulnya bintil-bintil pada permukaan stone. 2. Pada umumnya bahan ini tidak toksis dan tidak mengiritasi. Beberapa pasta elastomer yang mengandung lead dioksida mempunyai bau dan rasa yang tidak menyenangkan. 3. Waktu setting tergantung pada komposisi bahan misal, jumlah pereaksi dan sebagainya. Terdapat air dan suhu yang tinggi juga mempercepat waktu setting polisulfida. 4. Stabilitas bahan yang belum dicampur pada penyimpanan tidak selalu ideal, beberapa pereaksi tidak stabil setelah lebih dari 2 tahun, tetapi dapat tahan lebih lama bila disimpan pada refrigator. 5. Biokompabilitas, Pada awalnya, ada kekhawatiran tentang kesensitivan terhadap sistem katalis polyether. Dermatitis kontak akibat polyether, khususnya pada asiten dokter gigi telah dilaporkan. Namun, penelitian akahirakhir ini menunjukkan tidak ada efek sitotoksik yang berhubungan dengan katalis imin. Bahan cetak polyether yang mengeras memang menghasilkan nilai toksisitas sel tertinggi dan jumlah sel hidup terendah setelah pemaparan berulang. c. Manipulasi Awalnya polyether dikemas hanya dalam 1 kekentalan. Bahan pseudoplastis memungkinkan satu adukan digunakan baik untuk bahan semprit maupun sendok cetak. Kemudian, pabrik pembuat menyediakan pasta tambahn yang dapat digunakan untuk menghasilkan suatu adukan pengencer. Komponen bahan memerlukan perumusan ulang untuk mengadaptasi bahan bila ingin digunakan dengan alat pengaduk otomatis. Meskipun alat ini dapat digunakan dengan berhasil, kebanyakan polyether masih diaduk dengan menggunakan tangan. Selain itu untuk bersaing dengan silikon tambahan, pabrik pembuat menyadari bahwa klinisi lebih menyukai beragam viskositas dari vinyl polysiloxane. Jadi polyether diubah sehingga dapat dipasok dengan keragaman viskositas. Sebagai akibatnya, kekerasan polyehter juga berkurang. 1. Waktu kerja dan pengerasan Kecepatan pengerasan polyether kurang sensitif terhadap perubahan temperatur dibandingkan dengan silikon tambahan. Modifikasi rasio basis dan aselerator dapat digunakan untuk memperlama waktu kerja. Penggunaan bahan pengencer juga memperpanjang waktu kerja dengan hanya sedikit meningkatkan waktu pengerasan. Sebagai tambahan untuk mengurangi kekentalan bahan yang belum mengeras, pengencer mengubah sifat bahan yang telah mengeras. Modulus elastik atau kekerasan bahan yang mengeras berkuran tanpa meningkatkan deformasi permanen, atau aliran bahan. Untuk dipergunakan dengan polyether juga tersedia bahan retarder yang dapat memperlama waktu kerja tanpa mengurangi sifat elastik atau meningkatkan pengerutan polimerisasi. 2. Elastisitas Polyether selalu dianggap bahan cetak yang palin keras, tidak termasuk bahan putty viskositas tinggi. Awalnya bahan ini amat sulit dikeluarkan dari daerah undercut karena memiliki modulus elastisitas yang tinggi. Beberapa formulasi baru dari bahan bervikositas reguler atau sedang sebenarnya kurang keras bila dibandinkan bahan cetak vinyl polysiloxane hidrofilik satu tahap. Hasil uji komprensi menunjukkan bahwa polyether sedikit kurang elastik bila dibandingkan dengan vinyl polysiloxane. 3. Kestabilan dimensi Perubahan dimensi bahan cetak polyether sedikit. Seperti silikon tambahan, polyether tidak memiliki reaksi samping. Meskipun polimerisasi residual terus terjadisetelah waktu pengerasan secara klinik, hal tersebut lebih pendek bia dibandingkan dengan bahan cetak polisulfid. Kekerasan bahan berarti bahwa gaya yang diperlukan untuk mengeluarkan cetakan lebih besar bagi bahancetak polyether dibandingkan jenis bahan lain. d. Aplikasi Penggunaan utama bahan elastomer adalah untuk cetakan inlay, mahkota dan pekerjaan jembatan, atau untuk gigi tiruan sebagian apabila ditemukan undercut yang sangat besar, sehingga apabila digunakan cetakan alginate dapat patah sewaktu dilepas dari jaringan. Oleh karena harganya yang mahal, bahan ini tidak sering dipergunakan pada pencetakan yang membutuhkan jumlah bahan cetak yang besar. BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan

1. Klasifikasi bahan cetak kedokteran gigi : [a] Bahan yang kaku / non elaatis Plaster Of Paris Impression composition (coumpound) Zinc oksid- eugenol dan pasta sejenisnya Bahan cetak dari wax [b] Bahan yang elastis Hydrocolloid - Reversible : Agar - Irreversible : Alginat Elastomer - Plysulphida (Rubber Base, Mercapatan, Thiokol) - Silikon (Xantopren, Optosil, Reprosil,President) Polyether (Impregum Polysulfide) Macam-macam teknik mencetak : a. Teknik adonan ganda. b. Teknik dan tahap (putty dan wash) tanpa spacer. c. Teknik sekali aduk d. Teknik pencetakan pita tembaga (copper band) dikombinasi dengan cetakan alginat 2. Mengapa awal kunjungan memakai bahan ireversible dan kunjungan kedua memakai elastomer? Pada dasarnya antara kunjungan pertama dan kunjungan kedua jelas berbeda tetapi semua tergantung dari keputusan masing-masing dokter gigi. Dimana saat pasien dating pada kunjungan pertama. Hal ini bertujuan untuk membuat cetakan model study dengan bahan Hydrokoloid dalam hal ini adalah Alginat. alasan pertama adalah karena bahan Alginat lebih murah dibandingkan dengan bahan Elastomer dan bahan alginate mudah didapatkan serta bahan Alginat banyak disukai pasien karena memiliki rasa bervariasi dan pecetakan menggunakan Alginat ini hanya diperuntukan untuk mencetak model study saja. 3. Cetakan menurut Soelarko dan Herman(1980): A. Cetakan anatomis (dalam keadaan tidak berfungsi), yaitu pencetakan yang tidak menghiraukan tertekan atau tidaknya mukosa. Cetakan dilakukan dengan menggunakan sendok cetak biasa (stock tray). Bahan yang dipakai biasanya adalah alginat dan compound. Hasil cetakan digunakan sebagai model studi. B. Cetakan fisiologis (dalam keadaan berfungsi), yaitu dalam pencetakan ini memperhatikan jaringan bergerak dan tak bergerak, juga memperhatikan tertekannya mukosa. Cetakan dilakukan dengan menggunakan sendok cetak individual (terbuat dari shellac/selfcuringacrilic). Hasil cetakan digunakan sebagai model kerja. 4. Beda alginat reguler set dan fast set Sebelum mengetahui perbedaan kedua jenis alginat tersebut, akan dijelaskan mengenai proses gelasi dari bahan cetak jenis alginat. Reaksi khas sol-gel dapat digambarkan secara sederhana sebagai reaksi alginat larut air dengan kalsium sulfat dan pembentukan gel kalsium alginat yang tidak larut. Kalsium sulfat bereaksi dengan cepat membentuk kalsium alginat tidak larut dari kalium atau natrium alginat dalam suatu larutan cair. Produksi kalsium alginat ini begitu cepat sehingga tidak menyediakan cukup waktu kerja. Jadi, suatu garam larut air ketiga, seperti trinatrium fosfat ditambahkan pada larutan untuk memperpanjang waktu kerja. Strateginya adalah kalsium sulfat akan lebih suka bereaksi dengan garam lain dibanding alginat larut air. Jadi, reaksi antara kalsium sulfat dan alginat larut air dapat dicegah asalkan ada trinatrium fosfat yang tidak bereaksi. Sebagai contoh, bila sejumlah kalsium sulfat, kalium alginat, dan trinatrium fosfat dicampur dan sebagian atau seluruhnya dilarutkan dalam air dengan proporsi yang tepat, reaksi berikut terjadi pertama kali : 2Na3PO4 + 3CaSO4 Ca3(PO4)2 + 3Na2SO4 Bila pasokan trinatrium fosfat menipis, ion kalsium mulai bereaksi dengan kalium alginat untuk membuat kalsium alginat sebagai berikut : K2nAlg + n CaSO4 nK2SO4 + CanAlg Garam yang ditambahkan dikenal sebagai retarder (baham pelambat). Ada sejumlah garam larut air yang dapat digunakan, seperti natrium atau kalium fosfat, kalium oksalat, atau kalium karbonat, trinatrium fosfat, natrium tripolifosfat, dan tetranatrium pirofosfat. Dua nama yang terakhir adalah yang paling sering digunakan dewasa ini. Sejumlah retarder harus disesuaikan dengan hati-hati untuk mendapat waktu gelasi yang tepat. Umumnya bila kira-kira 15 g bubuk dicampur 40 ml air, gelasi akan terjadi dalam waktu sekitar 3-4 menit pada temperatur ruangan. Peranan pabrik dalam memproduksi jenis alginat yang memiliki waktu setting fast dan regular tergantung dari pemberian retarder pada bahan alginat tersebut. Pada jenis alginat yang berjenis fast, memiliki retarder lebih sedikit dibandingkan dengan jenis alginat yang regular set. Hal ini dikarenakan semakin banyak retarder yang ditambahkan dalam suatu bahan alginat, semakin lama waktu setting bahan tersebut, sebab kalsium alginat tidak

dapat terbentuk sesuai dengan yang dijelaskan diatas. DAFTAR PUSTAKA Jack L. Ferracane, Bahan dalam Kedokteran Gigi: Prinsip dan Aplikasi, 2001, 2d Edition, Lippincott Williams & Wilkins, ISBN 0781727332 Richard van Noort, 2002, Introduction to Dental Material, 2d Edition, Elsevier Health Sciences, ISBN 0723432155 Anusavice, Kenneth J. 2003. Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi, Edisi 10. Jakarta : EGC. Combe, E. C. 1992. Sari Dental Material. Jakarta : Balai pustaka.

Resin akrilik adalah rantai polimer yang terdiri dari unit-unit metil metakrilat yang berulang.1 Resin akrilik digunakan untuk membuat basis gigi tiruan dalam proses rehabilitatif, untuk pelat ortodonsi, maupun restorasi crown and bridge. A. Klasifikasi Menurut American Dental Asociation (ADA), resin akrilik dibedakan menjadi dua, yaitu :2 1. Resin Akrilik Polimerisasi Panas (Heat-Cured Polymerization). Merupakan resin akrilik yang polimerisasinya dengan bantuan pemanasan. Energi termal yang diperlukan dalam polimerisasi dapat diperoleh dengan menggunakan perendaman air atau microwave. Penggunaan energy termal menyebabkan dekomposisi peroksida dan terbentuknya radikal bebas. Radikal bebas yang terbentuk akan mengawali proses polimerisasi. 2. Resin Akrilik Swapolimerisasi ( Self-Cured Autopolymerizing/Resin Cold Curing). Merupakan resin akrilik yang teraktivasi secara kimia. Resin yang teraktivasi secara kimia tidak memerlukan penggunaan energy termal dan dapat dilakukan pada suhu kamar. Aktivasi kimia dapat dicapai melalui penembahan amintersier terhadapa monomer. Bila komponen powder dan liquid diaduk, amintersier akan menyebabkan terpisahnya benzoil peroksida sehingga dihasilkan radikal bebas dan polimerisasi dimulai. B. Komposisi Berikut adalah table komposisi dari resin akrilik.3 Polymer Butir polymetakrilat POWDER Initiator Peroxide seperti benzoil peroxide Pigmen Salt dari cadmium of Iron atau organic dyes Monomer Methylmetacrylat Cross-Linking Ethylenglycoldimethacrylate LIQUID Agent Kira-kira 10% Inhibitor Hydroquinone Activator* N-dimethyl-P-toluidinol *hanya pada self-curing materials. C. Sifat Berikut adalah sifat dari resin akrilik.3 1. Sifat Fisik Dari penampilannya, resin akrilik memadai. Material tersedia dalam beragam nuansa. Resin akrilik mengandung bermacam pigmen yang dapat dicocokkan pada jaringan pasien dalam beberapa ras. Nilai Tg dapat bervariasi dari satu produk ke produk lain tergantung pada berat molekul ratarata dan level monomer residu. Sebuah nilai yang umum dari Tg untuk resin akrilik polimerisasi panas adalah 1050C. Dimana nilai tersebut merupakan nilai yang lebih tinggi dari suhu dimana basis peroleh selama servis normal. Nilai modulus elastic menurun dan bagaimanapun, potensi creep meningkat jauh pada suhu yang mendekati Tg, dan pasien dapat menyebabkan distorsi

Resin Akrilik

dengan merendam gigi tiruan dalam air mendidih. Nilai Tg untuk resin akrilik swapolimerisasi biasanya lebih rendah daripada resin akrilik polimerisasi panas. Nilainya adalah sekitar 900C. Bagaimanapun, ada kesempatan besar dari produk ini mengalami distorsi pada air mendidih. Penggunaan air pada suhu diatas 650C dapat dihindari untuk merendam gigi tiruan. Nilai Tg dapat berkurang menjadi 600C atau lebih rendah jika besar kuantitas dari jumlah molekul rendah atau monomer residunya ada. Hal ini dapat terjadi jika material tidak cured dengan benar dan kebanyakan terjadi di resin akrilik swapolimerisasi. Resin akrilik memiliki nilai rendah terhadap gravitasi karena terbuat dari kelompok atom bersinar, contohnya carbon, oxygen dan hydrogen. Resin akrilik dapat digolongkan ke isolator yang baik. Konduktivitas noemalnya sekitar 1001000 kali lebih rendah dari nilai pada logam dan alloy. 2. Sifat Mekanik Dibandingkan dengan alloy seperti Co/Cr dan stainless steel, resin akrilik dapat dikatakan lembut, lemah dan material yang fleksibel. Basis gigi tiruan dibuat dengan ketebalan yang memadai, kaku, dan kuat. Resin akrilik juga memiliki dampak yang relative rendah terhadap kekuatan dan jika basis ini di jatuhkan pada permukaan kasar, maka kemungkinan terjadinya fraktur adalah tinggi. Dampak kekuatan pada dasarnya adalah ukuran untuk ketangguhan material seperti mengukur energy yang dibutuhkan untuk memulai retak melalui specimen dari dimensi yang diketahui. Crazing terkadang dapat terjadi pada permukaan dari resin akrilik. Ini merupakan seri dari permukaan retak yang memiliki efek melemahkan basis. Angka kekerasan Vicker mengindikasikan bahwa polimer resin akrilik relative lembut, terutama jika dibandingkan dengan alloy. 3. Sifat Kimia dan Biologi Resin akrilik lambat dalam menyerap air dan nilai ekuilibrium sekitar 2% absorpso dicapai setelah beberapa hari atau minggu tergantung pada ketebalan dari basis. Absorpsi air dapat menyebabkan perubahan dimensi, walaupun hal ini dianggap tidak signifikan. Hal yang berhubungan dengan absorpsi air adalah kemampuan beberapa organism berkolon di permukaan dari resin akrilik. Masih belum jelas apakah organism, seperti Candida albicans, terdapat pada permukaan tepat dari gigi tiruan, atau mereka mempenetrasi lapisan luar resin. Resin akrilik harus diperlakukan dengan tepat dan ditangani dengan hati-hati oleh teknisi yang terlibat dalam manipulasi. Tingkat bubuk akrilik dan monomer MMA pada atmosfer harus berada di batas minimal karena keduanya dapat berbahaya. Monomer residu dari resin akrilik dapat mengiritasi jaringan dan menyebabkan alergi. D. Manipulasi Rasio polimer:monomer adalah 3:1. Hal ini akan memberikan monomer yang cukup untuk membasahi keseluruhan partikel polimer. Ada dua jenis cara manipulasi resin akrilik, yaitu teknik molding-tekanan, dan teknik moldingpenyuntikan.2 1. Teknik Molding-Tekanan Susunan gigi tiruan disiapkan untuk proses penanaman. Master model ditanam dalam dentak stone yang dibentuk dengan tepat. Permukaan oklusal dan insisal elemen gigi tiruan dibiarkan sedikit terbuka untuk memudahkan prosedur pembukaan kuvet. Penanaman dalam kuvet gigi tiruan penuh rahang atas. Pada tahap ini, dental stone diaduk dan sisa kuvet diisi. Penutup kuvet perlahan-lahan diletakkan pada tempatnya dan stone dibiarkan mengeras. Setelah proses pengerasan sempurna, malam dikeluarkan dari mold. Untuk melakukannya, kuvet dapat direndam dalam air mendidih selama 4 menit.

Kuvet kemudian dikeluarkan/diangkat dari air dan kedua bagian kuvet dibuka. Kemudian malam lunak dikeluarkan. Penempatan medium pemisah berbasis alginat untuk melindungi bahan protesa. 2. Teknik Molding-Penyuntikan Setengah kuvet diisi dengan adukan dental stone dan model master diletakkan ke dalam stone tersebut. Stone dibentuk dan dibiarkan mengeras. Sprue diletakkan pada basis malam. Permukaan oklusal dan insisal elemen gigi tiruan dibiarkan sedikit terbuka untuk memudahkan pengeluaran protesa. Pembuangan malam dengan melakukan pemisahan kedua bagian kuvet dan kemudian kuvet disatukan kembali. Resin disuntikkan ke dalam rongga mold. Resin dibiarkan dingin dan memadat. Kuvet dimasukkan ke dalam bak air untuk polimerisasi resin. Begitu bahan terpolimerisasi, resin tambahan dimasukkan ke dalam rongga mold. Setelah selesai, gigi tiruan dikeluarkan, disesuaikan, diproses akhir, dipoles. DAFTAR PUSTAKA 1. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22643/5/Chapter%20II.pdf 2. K. Anusavice. Philips Science and Dental Materials. 11th Ed. Elsevier Science. 2003 3. McCabe JF and Walls AWG. Applied Dental Materials. 9th Ed. Blackwell. Munksgaard. 2008
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Bahan Cetak Elastomer Bahan cetak elastomer merupakan bahan cetak elastik yang menyerupai karet. Bahan ini dikelompokkan sebagai karet sintetik. Suatu pengerasan elastomer merupakan reaksi polimerisasi yang terdiri atas molekul atau polimer besar yang diikat oleh sejumlah kecil ikatan, yang disebut 8 sebagai reaksi polimerisasi. 2.2 Klasifikasi Bahan Cetak elastomer Spesifikasi American Dental Association (ADA) menyebutkan beberapa jenis bahan cetak elastomer berdasarkan bahan dasarnya yaitu silikon kondensasi, polieter, polisulfid dan polyvinyl siloxane (silikon adisi). Masing-masing bahan tersebut dapat mencetak struktur rongga mulut dengan cukup akurat untuk digunakan dalam pembuatan restorasi protesa cekat atau 1,8,10,14,15 lepasan. Bahan cetak ini dikemas dalam bentuk dua pasta yaitu pasta basis dan pasta katalis. Pada umumnya, bahan cetak polieter dan silikon memiliki keunggulan tanpa bau. Di sisi lain, silikon lebih unggul dibandingkan bahan cetak polisulfid dan polieter dari sudut pandang 8 lamanya penyimpanan. Bahan cetak yang ideal dapat mencetak struktur rongga mulut secara akurat, dikeluarkan dari mulut tanpa distorsi, dan dimensinya tetap stabil selama proses laboraturium atau ketika diisi stone. Begitu dikeluarkan dari mulut, cetakan harus dapat mempertahankan keakuratan 8 dimensinya. 2.3 Bahan Cetak Polyvinyl Siloxane (Adisi Silikon) Bahan cetak Polyvinyl siloxane adalah elastomer polimerisasi adisi silikon yang diperkenalkan pada tahun 1970 sebagai sistem dua pasta yaitu pasta basis dan pasta katalis. Sejak waktu bahan cetak ini diperkenalkan secara luas di pasaran. Bahan cetak ini mempunyai perubahan dimensi yang rendah, setting time yang relatif UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

pendek, tidak menghasilkan by product pada reaksi polimerisasi, dan mempunyai stabilitas dimensi yang baik. Polyvinyl siloxane digunakan pada pembuatan gigi tiruan cekat, tambalan, gigi tiruan lepasan dan implan. 2.3.1 Komposisi Bahan Cetak Polyvinyl Siloxane Polyvinyl siloxane merupakan bahan cetak yang terdiri atas pasta basis dan katalis mengandung vinil silikon. Dimana bahan ini merupakan modifikasi dari silikon kondensasi. Pasta basis mengandung polymethyl hydrogen siloxane, serta pre-polimer siloxan lain. Pasta katalis mengandung divinyl polidimetil siloxane dan pre-polimer siloxan lain. Bila pasta katalis mengandung aktivator garam platinum, berarti pasta yang berlabel basis harus mengandung hibrid silikon. Bahan retarder mungkin juga terdapat dalam pasta yang mengandung katalis 8 platinum. Pasta Basis dan katalis juga mengandung bahan pengisi. Amorphous silica atau flourcarbons digunakan sebagai bahan pengisi untuk meningkatkan dan memperbaiki sifat sifat pasta. Bahan pengisi secara normal berguna untuk meningkatkan bond strength antara bahan pengisi dan polimer, yang mana berfungsi sebagai cross-linker. Warna agen yang ditambahkan 7 untuk membedakan pasta basis dan katalis dan untuk membantu evaluasi pengadukan. Tabel 1. Komposisi bahan cetak polyvinyl Komponen 1,8 siloxane Pasta Pasta basis 1. Polymethyl hydrogen siloxane (CH3 SiH) 2. Filler yang mengandung armophous silica atau flourcarbons Pasta katalis (accelerator) 1. Divinyl polidimetil siloxane ( CH2CHSiCH3 ) 2. Filler yang mengandung armophous silica atau flourcarbons 3. Platinum salt seperti chloroplatinic acid sebagai katalis dan cross linking agent

Resin Akrilik
LAPORAN PRAKTIKUM BAHAN DAN TEKNOLOGI KEDOKTERAN GIGI I RESIN AKRILIK BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Resin akrilik merupakan salah satu bahan kedokteran gigi yang telah banyak aplikasikan untuk pembuatan anasir dan basis gigi tiruan, pelat ortodonsi, sendok cetak khusus, serta restorasi mahkota dan jembatan dengan hasil memuaskan, baik dalam hal estetik maupun dalam hal fungsinya. Oleh karena itu alangkah baiknya kita mengetahui lebih lanjut tentang cara manipulasi ataupun sifat sifat dari resin akrilik dengan melakukan serangkaian studi praktikum, dan nantinya dalam penggunaan atau aplikasinya bisa tercapai dengan baik. Resin akrilik adalah jenis resin termoplastik, di mana merupakan senyawa kompon non metalik yang dibuat secara sintesis dari bahan bahan organik. Resin akrilik dapat dibentuk selama masih dalam keadaan plastis, dan mengeras apabila dipananskan. Pengerasan terjadi oleh karena terjadinya reaksi polimerisasi adisi antara polimer dan monomer. Acrylic berasal dari asam acrolain atau gliserin aldehid. Secara kimia dinamakan polymethyl methacrylate yang terbuat dari minyak bumi, gas bumi atau arang batu. Bahan ini disediakan dalam kedokteran gigi berupa ciaran (monomer) mono methyl methacrylate dan dalam bentuk bubuk (polymer) polymthtyl methacrylate. Berdasarkan reaksinya, resin acrylic dibedakan menjadi dua macam, yaitu: 1. Heat Cured Acrylic ( membutuhkan pemasakan pada pengolahannya untuk membantu proes polimerisasinya).

2. Self Cured Acrylic ( dapat berpolimerisasi pada temperature ruang ). 3. Light Cured Acrylic Resin. 1.2 Tujuan 1. Mengerti, memahami dan bisa melakukan cara manipulasi resin akrilik. 2. Mengerti dan memahami sifat-sifat resin akrilik. 3. Mengetahui nilai Resin Akrilik sebagai bahan restorasi. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Acrylic berasal dari bahasa latin yaitu acrolain yang berarti bau yang tajam. Bahan ini berasal dari Asam Acrolain atau gliserin aldehida. Secara kimia dinamakan polymetil metakrilat yang terbuat dari minyak bumi, gas bumi atau arang batu. Bahan ini disediakan untuk kedokteran gigi berupa cairan (monomer) monometil metakrilat dan dalam bentuk bubuk (polimer) polimetil metakrilat. Penggunaan resin akrilik ini biasa dipakai sebagai bahan denture base, landasan pesawat orthodontik (orthodontik base), basis gigi tiruan, pembuatan anasir gigi tiruan (artificial teeth) dan sebagai bahan restorasi untuk mengganti gigi yang rusak. Resin acrylic adalah resin termoplastis, merupakan persenyawaan kompon non metalik yang dibuat secara sintetis dari bahan-bahan organic. Resin ini dapat dibentuk selama masih dalam keadaan plastis dan mengeras apabila dipanaskan karena tejadi reaksi polymerisasi adisi antara polymer dan monomer. Berdasarkan polimerisasinya, resin acrylic dibedakan menjadi dua, yaitu: 1. Heat Cured Acrylic (membutuhkan pemasakan pada pengolahannya untuk membantu proses polimerisasinya). 2. Self Cured Acrylic (dapat berpolymerisasi sendiri pada temperatur ruang). 3. Light Cured Acrylic Resin. HEAT CURED ACRYLIC Heat cured acrylic resin, komposisinya terdiri dari dua kemasan yaitu: 1. Polymer (Bubuk): i. Polymer; poly (methyl methacrylate). Polimer, polimethyl metacrylate, baik serbuk yang diperoleh dari polimerisasi methyl metacrylate dalam air maupun pertikel yang tidak teratur bentuknya yang diperolah dengan cara menggerinda batangan polimer. ii. Initiator Peroxide; berupa 0,2-0,5% benzoil peroxide. iii. Pigmen; sekitar 1% tercampur dalam partikel polymer. 2. Cairan (Monomer): i. Monomer: methyl methacrylate. ii. Stabilizer; sekitar 0,006% hydroquinone untuk menccegah polymerisasi selama penyimpanan. iii. Terkadang terdapat bahan untuk memacu cross-link; seperti ethylene glycol dimethacrylate. (E. combe 1992: 270) Manipulasi Heat Cured Acrylic Perbandingan monomer dan polymer akan menentukan sturktur resin. Perbandingan monomer dan polymer, biasanya 3 sampai 3,5/1 satuan volume atau 2,5/1 satuan berat. Bila ratio terlalu tinggi, tidak semua polymer sanggup dibasahi oleh monomer akibatnya acrylic yang digodok akan bergranula. Selain itu juga tidak boleh terlalu rendah karena sewaktu polmerisasi monomer murni terjadi pngerutan sekitar 21% satuan volume. Pada adonan acrylic yang berasal dari perbandingan monomer dan polymer yang benar, kontraksi sekitar 7%. Bila terlalu banyak monomer, maka kontraksi yang terjadi akan lebih besar. Pencampuran polymer dan monomer harus dilakukan dalam tempat yang terbuat dari keramik atau gelas yang tidak tembus cahaya (mixing jar). Hal ini dimaksudkan supaya tidak terjadi polymerisasi awal. Bila polymer dan monomer dicampuur, akan terjadi reaksi dengan tahap-tahap sebagai berikut: Tahap 1 : Adonan seperti pasir basah (sandy stage). Tahap 2 : Adonan seperti Lumpur basah (mushy stage). Tahap 3 : Adonan apabila disentuh dengan jari atau alat bersifat lekat, apabila ditarik akan membentuk serat (stringy stage). Butir-butir polimer mulai larut, monomer bebas meresap ke dalam polimer. Tahap 4 : Adonan bersifat plastis (dough stage). Pada tahap ini sifat lekat hilang dan adonan mudah dibentuk sesuai dengan yang kita inginkan. Tahap 5 : Kenyal seperti karet (rubbery stage). Pada tahap ini lebih banyak monomer yang menguap, terutama pada permukaannya sehingga terjadi permukaan yang kasar. Tahap 6 : Kaku dan keras (rigid stage). Pada tahap ini adonan telah menjadi keras dan getas pada permukaannya, sedang keadaan bagian dalam adukan masih kenyal. Waktu dough (waktu sampai tercapainya konsistensi liat) tergantung pada: 1. Ukuran partikel polymer; partikel yang lebih kecil akan lebih cepat dan lebih cepat mencapai dough. 2. Berat molekul polymer; lebih kecil berat molekul lebih cepat terbentuk konsistensi liat. 3. Adanya Plasticizer yang bisa mempercepat terjadinya dough. 4. Suhu; pembentukan dough dapat diperlambat dengan menyimpan adonan dalam tempat yang dingin. 5. Perbandingan monomer dan polymer; bila ratio tinggi maka waktu dough lebih singkat.

Pengisian Ruang Cetak (Mould Space) dengan Acrylic Ruang cetak adalah rongga/ruangan yang telah disiapkan untuk diisi dengan acrylic. Ruang tersebut dibatasi oleh gips yang tertanam dalam kuvet (pelat logam yang biasanya terbuat dari logam). Sebelum rongga tersebut diisi dengan acrylic, lebih dulu diulasi dengan bahan separator/pemisah, yang umumnya menggunakan could mould seal (CMS). Ruang cetak diisi dengan akrilik pada waktu adonan mencapai tahap plastis (dough stage). Pemberian separator tersebut dimaksudkan untuk: a. Mencegah merembesnya monomer ke bahan cetakan (gips) dan ber-polimerisasi di dalam gips sehingga menghasilkan permukaan yang kasar dan merekat dengan bahan cetakan/gips. b. Mencegah air dari bahan cetakan masuk ke dalam resin acrylic. Sewaktu melakukan pengisian ke dalam cetakan pelu diperhatikan : - Cetakan terisi penuh. - Sewaktu dipress terdapat tekanan yang cukup pada cetakan, ini dapat dicapai dengan cara mengisikan dough sedikit lebih banyak ke dalam cetakan. Selama polimerisasi terjadi kontraksi yang mengakibatkan berkurangnya tekanan di dalam cetakan. Pengisian yang kurang dapat menyebabkan terjadi shrinkage porosity. Ruang cetak diisi dengan acrylic pada tahap adonan mencapai tahap plastis (dough). Agar merat dan padat, maka dipelukan pengepresan dengan menggunakan alat hydraulic bench press. Sebaiknya pengepresan dilakukan dilakukan berulang-ulang agar rongga cetak terisi penuh dan padat. Cara pengepresan yang benar adalah: 1. Adonan yang telah mencapai tahap dough dimasukkkan ke dalam rongga cetak, kemudian kedua bagian kuvet ditutup dan diselipi kertas selofan. Pengepresan awal dilakkukan sebesar 900psi, kelebihan acrylic dipotong dengan pisau model. Kedua bagian kuvet dikembalikan, diselipi kertas selofan. 2. Pengepresan dilakukan lagi seperti di atas, tetapi tekanan ditingkatkan menjadi 1200 psi. Kelebihan acrylic dipotong dengan pisau model. Kedua bagian kuvet dikembalikan tanpa diselipi kertas selofan. 3. Pengepresan terakhir dilakukan dengan tekanan 1500 psi, kemudian kuvet diambil dan dipindahkan pada begel. Pemasakan (Curing) Untuk menyempurnakan dan mempercepat polimerisasi, maka setelah pengisian (packing) dan pengepresan perlu dilakukan pemasakan (curing) di dalam oven atau boiling water (air panas). Di dalam pemasakan harus diperhati-kan, lamanya dan kecepatan peningkatan suhu/temperature. Metode pemasakan dapat dilakukan dengan cara cepat atau lambat. Ada tiga metode pemasakan resin acrylic, yaitu: 1. Kuvet dan Begel dimasukkan ke dalam waterbath, kemudian diisi air setinggi 5 cm diatas permukaan kuvet. Selanjutnya dimasak diatas nyala api hingga mencapai temperature 700C (dipertahankan selama 10 menit). Kemudian temperaturnya ditingkatkan hingga 1000C (dipertahankan selama 20 menit). Selanjutnya api dimatikan dan dibiarkan mendingin sampai temperature ruang. 2. Memasak air sesuai kebutuhan hingga mendidih (1000C), kemudian kuvet dan beugel dimasukkan dan ditunggu hingga mendidih kembali (dipertahankan selama 20 menit), api dimatikan dan dibiarkan mendingin sampai temperature ruang. 3. Memasak air sesuai kebutuhan hingga mendidih (1000C), kemudian kuvet dean beugel dimasukkan dan ditunggu hingga mendidih kembali. Setelah mendidih api segera dimatikan dan dibiarkan selama 45 menit. Kuvet dan begel yang terletak dalam water bath harus dibiarkan dingin secara perlahan-lahan. Selama pendinginan terdapat perbedaan kontraksi antara gips dan acrylic yang menyebabkan timbulnya stress di dalam polimer. Pendinginan secara perlahan-lahan akan akan memberi kesempatan terlepasnya stress oleh karena perubahan plastis. Selama pengisian mould space, pengepresan dan pemasakan perlu dikontrol perbandingan antara monomer dan polimer. Karena monomer mudah menguap, maka berkurangnya jumlah monomer dapat menyebabkan kurang sempurnanya polimerisasi dan terjadi porositas pada permukaan acrylic. Hal-hal yang menyebabkan berkurangnya jumlah monomer adalah: Perbandingan monomer dan polimer yang tidak tepat. Penguapan monomer selama proses pengisisan rongga cetak. Pemasakan yang terlalu panas, melebihi titik mdidih monomer (100,30C). Secara normal setelah pemasakan terdapat sisa monomer 0,2-0,5%. Pemasakan pada temperature yang terlalu rendah dan dalam waktu singkat akan menghasilkan sisa monomer yang lebih besar. Ini harus dicegah, karena: a. Monomer bebas dapat lepas dari gigi tiruan dan mengiritasi jaringan mulut. b. Sisa monomer akan bertindak sebagai plasticizer dan membuat resin menjadi lunak dan lebih flexible. Porositas dapat memberi pengaruh yang tidak menguntungkan pada kekuatan dan sifat-sfat optic acrylic. Porositas yang terjadi dapat berupa shrinkage porosity (tampak geleembung yang tidak beraturan pada permukaan acrylic) dan gaseous porosity (berupa gelembung uniform, kecil, halus dan biasanya terjadi pada bagian acrylic yang tebal dan jauh dari sumber panas). Permasalahan yang sering timbul pada acrylic yang telah mengeras adalah terjadinya crazing (retak) pada permukaannya. Hal ini disebabkan adanya tensile stress ysng menyebabkan terpisahnya moleku-molekul primer. Retak juga dapat terjadi oleh karena pengaruh monomer yang berkontak pada permukaan resin acrylic, terutama pada proses reparasi. Keretakan seperti ini dapat terjadi oleh karena : 1. Stress mekanis oleh karena berulang-ulang dilakukan pengerigan dan pembasahan denture yang menyebabkan kontraksi dan ekspansi secara berganti-ganti. Dengan menggunakan bahan pengganti tin-foil untuk lapisan cetakan maka air dapat masuk ke dalam acrylic sewaktu pemasakan; selanjutnya apabila air ini

hilang dari acrylic maka dapat menyebabkan keretakan. 2. Stress yang timbul karena adanya perbedaan koefisien ekspansi termis antara denture porselen atau bahan lain seperti klamer dengan landasan denture acrylic;retak-retak dapat terjadi di sekeliling bahan tersebut. 3. Kerja bahan pelarut; missal pada denture yang sedang direparasi, sejumlah monomer berkontak dengan resin dan dapat menyebabkan keretakan. Denture dapat mengalami fraktur atau patah karena: 1. Impact; missal jatuh pada permukaan yang keras. 2. Fatigue; karena denture mengalami bending secara berulang-ulang selama pemakaian. ( E. Combe 1992:270-275)

SELF CURED ACRYLIC Komposisi serupa dengan bahan heat cured acrylic, kecuali bahwa cairannya mengandung bahan activator seperti dimethyl-p-toluidine. Perbandingan bahan akrilik heat cured dengan bahan akrilik self cured sebagai berikut : a. Berbeda dalam metode aktivasinya. b. Komposisinya sama tapi pada bahan self cured cairannya mengandung bahan activator seperti dimethyl paratoluidin. c. Porositas bahan self cured lebih daripada bahan heat cured, meskipun tidak mudah dilihat pada resin yang diberi pigmen. Hal ini disebabkan oleh karena terlarutnya udara dalam monomer yang tidak larut dalam polimer pada suhu kamar. d. Secara umum bahan self cured mempunyai berat molekul yang lebih rendah dan mengandung lebih banyak sisa monomer, yaitu sekitar 2-5%. e. Bahan self cured tidak sekuat heat cured; transverse strength bahan ini kira-kira 80% dari bahan heat cured. Ini mungkin berkaitan dengan berat molekulnya yang lebih rendah. f. Mengenai sifat-sifat rheologinya; bahan heat cured lebih baik dari self cured karena bahan self cured menunjukkan distorsi yang lebih besar dalam pemakaian. Pada pengukuran creep bahan poly (polymethyl methacrylate), polimer heat cured mempunyai deformasi awal yang lebih kecil, juga lebih sedikit creep, dan lebih cepat kembali dibandingkan dengan bahan self cured. g. Stabilitas warna bahan self cured jelek, bila dipakai activator amina tertier dapat terjadi penguningan setelah beberapa lama. (E. Combe 1992:277) Polimerisasi Polimerisasi adalah proses penggabungan satu molekul (monomer) menjadi molekul yang berantai panjang (polimer). Polimerisasi dapat terjadi karena panas, cahaya, oksigen, dan zat kimia. Resin acrylic dapat berolimerisasi oleh karena panas atau cahaya. Polimerisasi merupakan proses yang lama dan sesungguhnya tidak pernah selesai. Polimerisasi pada suhu tinggi menghasilkan berat jenis yang lebih rendah daripada bahan yang dihasilkan polimerisasi pada suhu rendah. Ada dua tipe polimerisasi, yaitu polimerisasi adisi dan polimerisasi kondensasi. Bila molekul sejenis bergabung menjadi ikatan yang lebih panjang, maka disebut polimrisasi adisi. Tipe ini banyak dipakai pada kedokteran gigi, missal: resin acrylic. Bila molekul yang berlainan bergabung dan membentuk molekul ketiga yang sama sekali berbeda pada keadaan awal, disebut polimerisasi kondensasi. Polimerisasi sempurna terjadi dalam empat tahap: Tahap pembentukan molekul monomer aktif oleh initiator benzoil peroxide yang dibantu dengan activator (zat kimia, sinar ultraviolet,atau pemanasan).a. Initiation Tahap terbentukknya rantai polimer.b. Propagation Tahap pembentukan polimer dimana reaksinya terhenti, yang ditandai dengan pertukaran sebuah atom hydrogen dari satu rantai yang terbentuk pada rantai lain. c. Termination Proses dimana pertumbuhan rantai menjadi aktif kembali untuk pertumbuhan selanjutnya.d. Chain Transfer LIGHT CURED ACRYLIC RESIN Reaksi polimerisasi free radikal addition dapat dilakukan dengan menggunakan sinar tampak (visible light). Dengan cara ini terjadinya polimerisasi tidak mengalami hambatan, terutama oleh karena adanya oksigen pada bagian permukaan akrilik. Alat yang digunakan adalah curing unit, didalamnya terdapat empat buah lampu halogen yang dapat menghasilakan panjang gelombang 400-500 nm. Syarat-syarat yang dibutuhkan resin acrylic : a. Tidak toxis dan tidak mengiritasi. b. Tidak terpengaruh cairan rongga mulut. c. Mempunyai modulus elastisitas tinggi sehingga cukup kaku pada bagian yang tipis. d. Mempunyai proporsional limits yang tinggi, sehingga jika terkena stress tidaak mudah mengalami perubahan bentuk yang permanent. e. Mempunyai kekuatan impact tinggi sehingga tidak mudah patah atau pecah jika terbentur atau jatuh. f. Mempunyai fatigue strength tinggi sehinnga acrylic dapat dipakai sebagai bahan restorai yang cukup lama. g. Keras dan memiliki daya tahan yang baik terhadap abrasi. h. Estetis cukup baik, hendaknya transparan atau translusen dan mudah dipigmen. Warna yang diperoleh

hendaknya tidak luntur. i. Radio-opacity, memungkinkan bahan dapat dideteksi dengann sinar x jika tertelan. j. Mudah direparasi jika patah. k. Mempunyai densitas rendah untuk memudahkan retensinya di dalam mulut. l. Mudah dibersihkan. Sifat-sifat fisik resin acrylic antara lain: a. Hardness sebesar 16-22 KHN yang artinya acrylic mudah terkikis dan tergores. b. Thermal conductivity resin acrylic rendah dibandingkan logam. Penghantaran panasnya sebesar 5,7x104/detik/cm/0C/cm2 c. Acrylic mengalami pengerutan waktu polimerisasi dan pendinginan. Penerutannya liniernya sebesar 0,470,56%. d. Acrylic tidak larut dalam pelarut asam, basa lemah, dan pelarut organic, tetapi larut dalam keton dan ester. e. Adhesi acrylic terhadap logam rendah sehingga perlu suatu ikatan mekanis seperti undercut atau permukaan yang kasar. f. Acrylic menyerap air sebesar 0,45 mg/cm2 yang bias menyebabkan ekspansi linier. g. Sifat estetika cukup baik karena dapat diberi warna sesuai kebutuhan. h. Acrylic tidak mempunyai warna serta bau serta tidak menimbulkan gejala alergi sehingga jaringan mulut dapat menerima dengan baik. i. Acrylic mempunyai sifat cold flow, yaitu apabila acrylic mendapat beban atau tekanan terus menerus dan kemudian ditiadakan, maka akan berubah bentuk secara permanen. j. Retak (crazing), dapat timbul retak retak di permukaan akrilik. Hal ini bisa disebabkan tensile stress yang menyebabkan terpisahnya molekul molekul polimer. (E Combe 1992: 276) BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Alat Dan Bahan a. Alat : Pisau malam Pisau model Bowl dan spatula Kuvet dan begel portable Bunch press hidrolik Lampu spirtus Mixing jar Mesin pulas Macam-macam mata bur (sesuai kebutuhan) Straight dan contra h.p dan tali bur Masker Kompor dan panci Kuas kecil Chip blower Vibrator Trimmer

b. Bahan : Model spacer malam Vaselin Gips putih Gips biru Resin akrilik Baseplate wax Kertas gosok Air sabun CMS Celophan 3.2 Cara Kerja 1. Lempeng gigit yang digunakan adalah lempeng gigi dari tahap pekerjaan praktikum malam. 2. Menutup seluruh tepi lempeng gigit dengan malam sampai batas mukosa bergerak tak bergerak. 3. Melakukan kontur sederhana dengan merapikan seluruh permukaan lempeng gigit sampai rata, halus dan mengkilat, digosok dengan air sabun untuk menghilangkan kotoran yang melekat pada model malam. 4. Selanjutnya untuk tahap penanaman menyiapkan kuvet, begel portable, gips putih, gips biru dan vaselin. Melakukan pemeriksaan terhadap kuvet, apakah pasangan kuvet sudah mudah dilepas? Dan melakukan

penanaman percobaan, memerikasa apakah seluruh model dapat termuat dalam kuvet, jika tidak melakukan pengurangan tepi tepi model dengan cara mentrimmer model. 5. Mengulasi seluruh permukaan model lempeng gigit dengan menggunakan vaselin kecuali model malam. 6. Mengaduk gips putih secukupnya dengan konsistensi normal, menuang ke dalam kuvet bawah diatas vibrator hingga terisi penuh bagian, kemudian meletakkan model dalam kuvet, untuk rahang bawah tegak lurus 90o , mencobakan kuvet lawan memperhatikan jarak antara bagian tertinggi model dengan batas bibir atas kuvet lawan, jarak ideal adalah 1 cm, setelah dicapai jarak yang sesuai melepas kembali kuvet lawan. 7. Sebelum gips mencapi finnal setting merapikan seluruh permukaan gips pada kuvet, memperhatikan agar jangan sampai ada daerah undercut, terakhir menggosok dengan kertas gosok sehingga seluruh permukan gips menjadi rata dan halus. 8. Setelah gips putih mencapai finnal setting, mengolesi seluruh permukaan dengan vaselin kecuali model malam, mengaduk gips biru secukupnya dengan konsistensi kental, mengolesi seluruh permukaan model malam dengan gips biru dengan menggunakan kuas, merapikan dan menghindari terjadinya daerah undercut. 9. Setelah gips biru mencapai finnal setting, mengkatupkan kuvet lawan, mengaduk gips putih kemudian menuang ke dalam kuvet diatas vibrator sampai penuh, tutup kuvet, merapikan, membuang sisa sisa gips yang keluar dari mulut kuvet. Meletakkan kuvet pada press portable kemudian peress dengan kekuatan maksimal lalu membiarkan mencapi finnal setting. 10. Tahap selanjutnya adalah tahap burning out atau buang malam, pada tahap ini disiapkan kompor dan panci. Mendidihkan air dalam panci, banyaknya air diperkirakan hingga seluruh permukaan kuvet nantinya terendam dalam air. Setelah mendidih masukkan kuvet dan press portable ke dalam panci dibiarkan selama 5 menit. 11. Setelah 5 menit mengangkat kuvet dan press portable dari atas panci, membuka press portable hingga kuvet terlepas, memisahkan kuvet atas dengan kuvet bawah, memperhatikan cara mengungkit. 12. Setelah kuvet terpisah, memeriksa daerah mould space, jika masih terdapat malam menyiram dengan air mendidih, memastikan seluruh mould space bebas dari malam . Kemudian membiarkan setengah dingin. 13. Tahap selnjutnya adalah packing akrilik. Dengan menggunakan kuas, mengulasi seluruh permukaan model dengan menggunakan bahan separator (CMS), ditunggu sampai kering. Menyiapkan cellophan dan merendam dalam air. 14. Menyiapkan monomer dan polimer akrilik dengan perbandingan 2 : 1 menurut volume dan 3 :1 menurut berat. 15. Menuang monomer ke dalam mixing jar menambahkan polimer kemudian mengaduknya sampai homogen, menutup mixing jar agar terhindar dari sinar matahari, didiamkan, ditunggu sampai campuran akrilik mencapai fase dough stage. 16. Setelah mencapai dough stage ambil dari mixing jar, dibagi menjadi dua bagian sama basar, diaplikasikan masing masing bagian kedalam kuvet atas dan bawah, ditambahkan sedikit monomer kemudian menutup kuvet bawah dengan cellophan, memasang kuvet lawan lalu di press dengan press hidrolik, ditekan sampai mencapai 900 psi, dipertahankan sampai 10 detik, lalu perlahan lahan dilepaskan tekanan hingga mencapai 0, kuvet dikeluarkan dari press hidrolik. 17. Memisahkan kuvet, melepaskan cellophan, membuang kelebihan akrilik dengan pisau model, menambahkan monomer, menutup kembali dengan cellophan kemudian mengkatupkan kembali dengan cellophan kemudian mengkatupkan kembali kedua kuvet. Meletakkan kuvet pada press hidrolik kembali, ditekan hingga mencapai tekanan 1200 psi dipertahankan 10 detik, memisahkan kedua kuvet, merapikan kembali akrilik, membuang kelebihan akrilik lalu menambahkan sedilit monomer pada masing masing kuvet kemudian katupkan kembali, pada tahap ini tanpa menggunakan cellophan. Meletakkan kuvet pada press hidrolik memberi tekanan sebesar 1500 psi mempertahankan 10 detik, lalu membuka tekanan press keluarkan kuvet dan letakkan kuvet pada press portable, memutar hingga mencapi kekuatan maksimal, lalu merendam kuvet dalam air selama 8 jam. 18. Tahap selanjutanya adalah proses pemasakan akrilik. Masak air dalam panci, banyaknya air diperkirakan cukup sampai seluruh permukaan kuvet terendam, pada saat air mendidih kuvet dan begel portable dimasukkan ke dalam panci kemudian ditunggu hingga air mendidih kembali lalu dipertahankan selama 20 menit. Setelah itu api dimatikan dan kuvet dibiarkan ke dalam panci hingga air mencapai suhu normal kembali. 19. Tahap berikutnya adalah tahap finishing. Mengeluarkan kuvet dan press portable dalam panci kemudian melepaskan kuvet dari press portable, memisahkan kedua kuvet, arah ungkitan diperhatkan. Setelah terpisah mengeluarkan model dari dalam kuvet, diusahakan agar model tetap utuh (tidak pecah). Memisahkan lempeng akrilik dengan model, memperhatikan arah ungkitan. 20. Melakukan tahap finishing dengan merapikan lempeng akrilik, menggunakan straight hand piece dan fraser, membentuk lempeng sesuai outline dan membebaskan daerah mukosa bergerak tidak bergerak. 21. Tahap selanjutnya adalah polishing, meratakan permukaan lempeng akrilik dengan menggunakan kertas gosok, setelah rata dan halus dipulas dengan mesin pulas dengan menggunakan pumice dan cryet. 22. Hasil maksimal adalah lempeng akrilik yang halus, rata dan mengkilat. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Berdasarkan praktikum ini didapatkan hasil sebuah model landasan gigi tiruan pada rahang atas dari acrylic yang halus dan mengkilat. Model tersebut telah selesai dilakukan tahap finishing dimana model tersebut harus sesuai dengan model rahang atas yang telah diterima dan pinggirannya dipotong sesuai garis outline yang merupakan batas mukosa bergerak dan tidak bergerak. Dan juga membebaskan daerah frenulumnya.

1. Hasil fiksasi lempeng gigit yang terbuat dari malam mengalami penipisan di bagian tepinya. 2. Tanam malam, rahang bawah tegak lurus dalam kuvet dengan hasil yang halus tidak porus dan tanpa ada daerah under cut. 3. Buang malam, didapat hasil kuvet lawan yang halus dan tidak porus. 4. Setelah packing akrilik dan pemasakan didapat hasil kasar yang belum rapi tapi tidak porus. 5. Hasil akhir setelah dilakukan pemolesan dan penghalusan adalah cetakan resin akrilik yang halus, homogen dan mengkilat. 4.2 Pembahasan Secara umum jenis dari akrilik bertipe heat cured yang digunakan dalam percobaan ini, untuk berpolimerasinya dibantu dengan penekanan tertentu dan dipanaskan dengan suhu tertentu dalam waktu yang tertentu pula. Akrilik yang digunakan dalam percobaan ini adalah bermerek QC-20 dan bertipe heat cured. Pembentukan Mould Space 10 menit dan disiram dengan air mendidih sehingga bekas malam ini terbentuk rongga dan rongga inilah yang disebut mould space yang akan ditempati akrilik.Mould space dibentuk dari malam yang direkatkan pada model rahang dan dibentuk sesuai dengan keadaan rahang dan outline formnya dimana malam beserta modelnya ditanam dalam gips di kuvet. Kemudian malam ini dibuang dengan cara digodok Persiapan Model Malam Pada saat pembentukan mould space ini pada tahap awal dilakukan penutupan celah yang ada pada tepi malam dengan malam cair hal ini bertujuan agar pada saat penanaman tidak ada gips yang masuk. Selain itu juga bertujuan untuk memberikan kesempatan pada operator untuk melakukan finishing. Penanaman / Investing Untuk penanaman igunakan gips putih karena jenis gips ini gips memerlukan detail dan kehalusan yang baik sedangkan gips biru yang mempunyai ukuran partikel yang lebih kecil dan halus dipergunakan pada pembukaan kuvet maka permukaan gips pada kuvet bagian atas dan bawah masing-masih diolesi dengan bahan separator yaitu vaselin. Pembuangan Malam 1000 C sedang lama perebusan 10 menit. Waktu perebusan harus tepat, bila terlalu lama malam yang ada akan mencair dan merembes kepori-pori gips, hal ini berpengaruh jelak pada hasil permukaan mould space yaitu bahan separator CMS tidak dapat menempel dan melapisi secara sempurna. Pada pembuangan malam iniyang perlu diperhatikan adalah suhu air yang besarnya Manipulasi Bahan Akrilik * Pencampuran Pencampuran bahan akrilik ini harus sesuai dengan perbandingan antara powder atau polimer dengan liguid atau monomer yaitu 3 : 1. Bila ratio terlalu tinggi maka akrilik yang telah digodok akan bergranula dan bila terlalu rendah kontraksi yang terjadi akan lebih besar. Pada pencampuran tempat yang digunakan terbuat dari bahan porselen atau dari bahan kaca yang tertutup karena akrilik ini prosesnya melalui polimerisasi dan bila tempat yang digunakan terbuat dari plastik maka bagian dari tenpat berjenis polimer tersebut akan ikut bereaksi dalam reaksi polimerisasi adonan gips, sehingga hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Tempat yang tertutup untuk meminimalkan pengaruh-pengaruh dari luar yang nantinya akan mengurangi tingkat keberhasilan dalam pencetakan akrilik. Misalnya sinar matahari, kelembaban udara dan faktor yang lain. * Pengisian Pada tahap ini diawali dengan pemberian bahan separator yaitu CMS. Tujuan dari bahan separato ini adalah : a. Mencegah merembesnya monomer ke bahan cetakan ( gips ) yang berpolimerisasi disana sehingga menghasilkan permukaan yang kasar dan merekat dengan bahan cetakan/ gips. b. Mencegah air dari bahan cetak masuk kedalam akrilik. Adonan yang dimasukkan kedalam mould space yang ideal pada stadium dought, hal itu dipengaruhi oleh : 1 Ukuran partikel polimer dimana partikel yang lebih kecil lebih cepat larut dan labih cepat tercapai konsistensi liat. 2. Berat molekul polimer, lebih kecil berat molekul lebih cepat terbentuk konsistensi liat. 3. Terdapatnya plastisier, ini mempercepat terbentuknya dought. 4. Suhu, pembentuikan dought dapat diperlambat dengan menyimpan campuran didalam freezer. 5. Perbandingan polimer/ monomer, bila tinggi waktu lebih singkat. Sedangkan penekanan pendahuluan baik yang I dan II dan penggunaan kertas selopan bertujuan untuk mengontrol kelebihan dari adonan akrilik. Tujuan pemberian monomer/ cairan pada proses pembuangan kelebihan akrilik karena monomer dari akrilik mudah menguap sehingga dengan adanya pemberian ini menjaga agar perbandingan powder dan liquid tetap. Setelah pengepresan terakhir kuvet beserta press direndam dalam air untuk mempertahankan tekanan yang sudah ada dan mengindari menguapnya dari monomer.

* Kiur/ pemanasan Karena tipe akrilik ini adalah heat cured maka polimerisasinya dibantu dengan pemanasan. Cara dari pemanasannya yaitu dengan memanaskan pada air mendidih yang suhunya kira-kira 1000 C selama 20 menit. * Pendinginan Kuvet yang masih dalam press dibiarkan perlahan karena selama pendinginan terdapat kontraksi antara bahan cetakan dan akrilik yang menyebabkan timbulnya stress dalam polimer. * Deflasking/ pelepasan Pelepasan akrilik ini sulit dilakukan karena :

a. Tebal tipisnya lapisan yang dibentuk CMS pada waktu mengering. Keadaan akrilik setelah dilepas terdapt kelebihan dipinggir cetakan akrilik hal itu dapat ditanggulangi dengan cara mengurangi dan merapikan sesuai dengan outline formnya pada waktu finishing. Akrilik tidak patah karena pendinginan yang dilakukan berhati-hati. Tidak terdapat porus karena mould space karena pencampuran yang sudah homogen. Akrilik berwarna merah muda pucat seharusnya berwarna merah muda. Hal ini dikarenakan cara pemanasan yag salah suhu yang digunakan terlalu tinggi. b. Pemberian bahan separator tidak sepenuhnya menempel pada permukan mould space yang hal ini disebabkan karena ada malam yang masih menempel pada proses pembuangan malam. * Penyelesaian / finishing Pada tahap ini dilakukan pemotongan bagian-bagian yang berlebih. Merapikan pinggiran akrilik dan meratakan permukaan akrilik dengan bor stone, fraiser dan amplas halus. * Pemolesan/ polishing Pemolesan ini merupakan tahap terakhir dalam manipulasi gips. Bahan yang digunakan untuk pemolesan pertama kali adalah pumish yang merupakan bahan dari batu apung yang dipergunakan dalam suspensi dalam air. Bahan selanjutnya dipoles dengan bahan yang lebih halus yaitu whiting yang dipergunakan dalam bentuk suspensi dalam air. Pemolesan ini dilakukan sampai permukaan akrilik halus dan mengkilap. Setelah itu diaplikasikan dalam model rahang yang baik yaitu pada waktu dilepas mudah dan pada waktu posisi terbalik akrilik tetap pada model rahang atau tidak jatuh. BAB V KESIMPULAN Berdasarkan praktikum resin akrilik yang telah dilakukan dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Resin acrylic merupakan resin termoplastis, terdiri dari persenyawaan kompon non metalik yang dibuat secara sintetis dari bahan-bahan organic. a. Komposisi resin acrylic terdiri dari cairan/monomer (monomethyl methacrylate) dan bubuk/poli (pollimthyl methacrylate). Manipulasi dengan mencampur monomer dan polimer dengan perbandingan 1:3 menurut volume atau 1:2 menurut berat. b. Stadium yang paling baik untuk memasukkan adonan acrylic kedalam rongga cetak (mould space) adalah dough stage. c. Untuk acrylic heat cured, untuk menyempurnakan polimerisasinya memerlukan pemanasan. Ada empat tahap yang diperllikan untuk mencapai polimerisasi sempurna, yaiut: inisiasi, propagasi, terminasi dan chains transfers. 2. Sifat-sifat fisik resin akrilik adalah : a. Kekerasan (hardness)sebesar 16-22 KHN. b. Penghantaran panas. c. Akrilik mengalami pengerutan waktu proses polimerisasi dan pendinginannya. d. Akrilik menyerap air sebesar 0,45 mg/cm. e. Akrilik tidak larut dalam pelarut asam, basa lemah dan pelarut organic tapi larut dalam keton dan ester. f. Adhesi akrilik terhadap logam rendah. g. Sifat estetika cukup memuaskan h. Akrilik tidak mempunyai warna dan bau serta tidak menimbulkan gejala-gejala alergi i. Akrilik mempunyai sifat cold flow, j. Retak (crazing), dapat timbul retak retak di permukaan akrilik. DAFTAR PUSTAKA Annusavice, Kenneth J. 2003. Phillips: Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi. Jakarta: EGC. Combe, EC. 1992. Sari Dental Material. Penerjemah : Slamat Tarigan. Jakarta : Balai Pustaka OBrien dan Gunnar Ryge.1985. An Outline of Dental Materials and Their Selection. 9th edition. Philadelphia USA : W.B Saunders Company.