Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN

Dermatofitosis mempunyai beberapa gejala klinik yang nyata, tergantung pada letak anatomi dan etiologi agents. Secara klinis dermatofitosis terdiri atas tinea kapitis, tinea favosa (hasil dari infeksi oleh Trichophyton schoenleinii), tinea corporis ( ringworm of glabrous skin ), tinea imbrikata ( ringworm hasil infeksi oleh T. concentrikum ), tinea unguium ( ringworm of the nail ), tinea pedis ( ringworm of the feet ), tinea barbae ( ringworm of the beard ) dan tinea manum ( ringworm of the hand).1 Tinea kapitis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi jamur superfisial pada kulit kepala, bulu mata dengan kecenderungan menyerang tangkai rambut dan folikel folikel rambut. Penyakit ini termasuk kepada mikosis superfisialis atau dermatofitosis. Beberapa sinonim yang digunakan termasuk ringworm of the scalp dan tinea tonsurans. Di Amerika Serikat dan wilayah lain di dunia insiden dari tinea kapitis meningkat.2 Gejala klinis tinea kapitis ditemukan berbeda beda dari dermatofitosis non inflamasi dengan sisik mirip dermatitis seboroik sampai inflamasi dengan lesi bersisik yang eritematous dan kerontokan rambut atau alopesia dan dapat berkembang menjadi inflamasi yang berat berupa abses yang dalam disebut kerion, yang mempunyai potensi menjadi jaringan parut dan menyebabkan alopesia yang menetap. Keadaan penyakit ini tergantung pada interaksi antara host dan agen penyebab.2 Tinea kapitis terkadang dikelirukan dengan dignosa lainnya yang mempunyai gambaran klinis yang mirip. Dengan adanya hal ini, maka tinea kapitis ini harus dibedakan dengan dermatitis seboroik, alopesia areata dan psoriasis.3 Tujuan penulisan referat ini adalah untuk menambah pengetahuan kita tentang tinea kapitis sehingga kita dapat memahami betul tentang penyakit tinea kapitis ini. Karena terkadang kita masih keliru dalam mendiagnosa, mengingat banyak penyakit lain yang gambaran klinisnya mirip dengan penyakit ini. Di dalam referat ini akan dibahas mengenai definisi, etiologi, cara penularan, jenis-jenis tinea kapitis, bagaimana mendiagnosa banding dengan penyakit lain, dan cara pengobatan yang tepat. Dengan demikian, maka diharapkan kedepannya kita bisa cepat dan tepat dalam mendiagnosa tinea kapitis serta bisa memberikan penatalaksanaan yang optimal
1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI Dermatofitosis adalah setiap infeksi fungal superfisial yang disebabkan oleh dermatofit dan mengenai stratum korneum kulit, rambut dan kuku, termasuk onikomikosis dan berbagai macam bentuk tinea. Disebut juga epidermomycosis dan epidermophytosis.1 Tinea kapitis adalah infeksi dermatofita pada kulit kepala, alis mata dan bulu mata yang disebabkan oleh spesies dari genus Microsporum dan Trichophyton.2 2.2 SINONIM Ringworm of the scalp and hair, tinea tonsurans, herpes tonsurans1 2.3 ETIOLOGI Penyakit ini disebabkan oleh spesies dermatofita dari genus Trichophyton dan Microsporum, misalnya T. violaceum, T. gourvilii, T. mentagrophytes, T. tonsurans, M. audoinii, M. canis, M. ferrugineum.1 2.3.1 Microsporum Kelompok dermatofita yang bersifat keratofilik, hidup pada tubuh manusia (antropofilik) atau pada hewan (zoofilik). Merupakan bentuk aseksual dari jamur. Terdiri dari 17 spesies, dan yang terbanyak adalah:

Tabel 2.1 Spesies Microsporum SPECIES Microsporum audouinii Microsporum canis Microsporum cooeki Microsporum ferrugineum CLASSIFICATION (NATURAL RESERVOIR) Anthropophilic Zoophilic (Cats and dogs) Geophilic (also isolated from furs of cats, dogs, and rodents) Anthropophilic

Microsporum gallinae Microsporum gypseum Microsporum nanum Microsporum persicolor

Zoophilic (fowl) Geophilic (also isolated from fur of rodents) Geophilic and zoophilic (swine) Zoophilic (vole and field mouse)

Koloni mikrosporum adalah glabrous, serbuk halus, seperti wool atau powder. Pertumbuhan pada agar Sabouraud dextrose pada 25C mungkin melambat atau sedikit cepat dan diameter dari koloni bervariasi 1- 9 cm setelah 7 hari pengeraman. Warna dari koloni bervariasi tergantung pada jenis itu. Mungkin saja putih seperti wol halus yang masih putih atau menguning sampai cinamon2

2.3.2 Tricophyton Trichophyton adalah suatu dermatofita yang hidup di tanah, binatang atau manusia. Berdasarkan tempat tinggal terdiri atas anthropophilic, zoophilic, dan geophilic. Trichophyton concentricum adalah endemic pulau Pacifik, Bagian tenggara Asia, dan Amerika Pusat. Trichophyton adalah satu penyebab infeksi pada rambut, kulit, dan kuku pada manusia.2

Tabel 2.2 Spesies Trichophyton SPECIES Ajelloi Concentricum Equinum Erinacei Flavescens Gloriae Interdigitale Megnini Mentagrophytes CLASSIFICATION (NATURAL RESERVOIR) Geophilic Anthropophilic zoophilic (horse) zoophilic (hedgehog) geophilic (feathers) Geophilic Anthropophilic Anthropophilic zoophilic (rodents, rabbit) / anthropophilic
3

Phaseoliforme Rubrum Schoenleinii Simii Soudanense Terrestre Tonsurans Vanbreuseghemii Verrucosum Violaceum Yaoundei

Geophilic Anthropophilic Anthropophilic zoophilic (monkey, fowl) Anthropophilic Geophilic Anthropophilic Geophilic zoophilic (cattle, horse) Anthropophilic anthropophilic

2.4 EPIDEMIOLOGI Tinea kapitis sering mengenai anak anak berumur antara 4 dan 14 tahun. Walaupun jamur patogen yang terlibat banyak, Trichophyton tonsurans menjadi penyebab lebih dari 90% kasus di Amerika Utara dan United Kingdom. Kasus kasus di perkotaan biasanya didapatkan dari teman teman atau anggota keluarga. Kepadatan penduduk, hygien yang buruk dan malnutrisi protein memudahkan seseorang mendapatkan penyakit ini. Kasus kasus yang disebabkan oleh Microsporum canis jarang terjadi dan di dapat dari anak anjing dan anak kucing.2 Di Amerika Serikat, kejadian penyakit ini tidak lama tercatat oleh badan kesehatan masyarakat, karena kebenaran insiden tidak di ketahui. Laporan insiden tertinggi ditemui pada anak usia sekolah di Amerika dan Afrika.2 Tinea kapitis terjadi lebih dari 92,5 % dari dermatofitosis pada anak anak berumur kurang dari 10 tahun. Penyakit ini jarang pada orang dewasa. Meskipun kejadiannya mungkin dapat dijumpai pada pasien pasien tua.2 Di dunia internasional tinea kapitis tersebar luas di beberapa daerah perkotaan di Amerika Utara, Sentral Amerika dan Amerika Selatan, terdapat juga sebagian di Afrika dan India.1 Di Asia Tenggara, angka infeksi telah dilaporkan menurun cepat dari 14 % ( rata rata dari anak perempuan dan
4

laki laki ) sampai 1,2 % pada 50 tahun terakhir karena keadaan sanitasi umum dan hygien perorangan telah membaik. Di Selatan Eropa penyakit ini jarang.1 Insidens tinea kapitis dibandingkan dermatomikosis lain di Medan adalah 0,4% (19961998), RSCM Jakarta 0,61 -0,87% (1989-1992), manado 2,2-6% (1990-1996) dan Semarang 0,2%. Di Surabaya kasus baru tinea kapitis antara tahun 2001-2006 insidennya dibandingkan kasus baru dermatomikosis di Poli Dermatomikosis URJ Kulit dan Kelamin RSU Dr.Soetomo antara 0,31% - 1,55%. Di Surabaya tersering tipe kerion (62,5%) daripada tipe Graypatch (37,5%). Tipe Blackdot tidak ditemukan.3 2.5 PATOGENESIS Infeksi ektotrik ( diluar rambut ) Infeksinya khas di stratum korneum perifolikulitis, menyebar sekitar batang rambut dan di batang rambut bawah kutikula dari pertengahan sampai akhir anagen saja. Sebelum turun ke folikel rambut untuk menembus kortek rambut. Hifa-hifa intrapilari kemudian turun ke batas daerah keratin, dimana rambut tumbuh dalam keseimbangan dengan proses keratinisasi, tidak pernah memasuki daerah berinti. Ujung-ujung hifa-hifa pada daerah batas ini disebut Adamsons fringe, dan dari sini hifa berpolifrasi dan membagi menjadi atrokonidia yang mencapai korteks rambut dan dibawa keatas pada permukaan rambut. Rambut-rambut akan patah tepat diatas fringe tersebut, dimana rambutnya sekarang menjadi sangat rapuh sekali. Secara mikroskop hanya atrokonidia ektotrik yang tampak pada rambut yang patah, walaupun hifa intrapilari ada juga.3

Infeksi Endotrik ( didalam rambut ) Kurang lebih sama dengan ektotrik kecuali kutikula tidak terkena dan atrokonodia hanya

tinggal di dalam batang rambut menggantikan keratin intrapilari dan meninggalkan kortek yang intak. Akibatnya rambutnya sangat rapuh dan patah pada permukaan kepala dimana penyanggah dan dinding folikular hilang meninggalkan black dot. Infeksi endotrik juga lebih kronis karena kemampuannya tetap berlangsung di fase anagen ke fase telogen.3 2.6 GEJALA KLINIS Di dalam klinik tinea kapitis dapat di lihat sebagai 3 bentuk yang jelas :2 1. Grey patch ringworm.
5

Grey patch ringworm merupakan tinea kapitis yang biasanya disebabkan oleh genus Microsporum dan sering ditemukan pada anak anak. Penyakit mulai dengan papul merah yang kecil di sekitar rambut. Papul ini melebar dan membentuk bercak yang menjadi pucat dan bersisik. Keluhan penderita adalah rasa gatal. Warna rambut menjadi abu abu dan tidak berkilat lagi. Rambut mudah patah dan terlepas dari akarnya, sehingga mudah dicabut dengan pinset tanpa rasa nyeri. Semua rambut di daerah tersebut terserang oleh jamur, sehingga dapat terbentuk alopesia setempat.1,2 Tempat tempat ini terlihat sebagai grey patch. Grey patch yang di lihat dalam klinik tidak menunjukkan batas batas daerah sakit dengan pasti. Pada pemeriksaan dengan lampu wood dapat di lihat flouresensi hijau kekuningan pada rambut yang sakit melampaui batas batas grey tersebut. Pada kasus kasus tanpa keluahan pemeriksaan dengan lampu wood ini banyak membantu diagnosis. Tinea kapitis yang disebabkan oleh Microsporum audouinii biasanya disertai tanda peradangan ringan, hanya sekali sekali dapat terbentuk kerion.2

Gambar 1. Gray patch Ringworm 2. Kerion Kerion adalah reaksi peradangan yang berat pada tinea kapitis, berupa pembengkakan yang menyerupai sarang lebah dengan serbukan sel radang yang padat disekitarnya. Bila penyebabnya Microsporum caniis dan Microsporum gypseum, pembentukan kerion ini lebih sering dilihat, agak kurang bila penyebabnya adalah Trichophyto violaceum. Kelainan ini dapat menimbulkan jaringan parut dan berakibat alopesia yang menetap, parut yang menonjol kadang kadang dapat terbentuk.1

Gambar 2: kerion 3. Black dot ringworm Black dot ringworm terutama disebabkan oleh Trichophyton tonsurans dan Trichophyton violaceum. Pada permulaan penyakit, gambaran klinisnya menyerupai kelainan yang di sebabkan oleh genus Microsporum. Rambut yang terkena infeksi patah, tepat pada rambut yang penuh spora. Ujung rambut yang hitam di dalam folikel rambut ini memberi gambaran khas, yaitu black dot, Ujung rambut yang patah kalau tumbuh kadang kadang masuk ke bawah permukaan kulit.1 Dalam hal ini perlu dilakukan irisan kulit untuk mendapatkan bahan biakan jamur Tinea kapitis juga akan menunjukkan reaksi peradangan yang lebih berat, bila disebabkan oleh Trichophyton mentagrophytes dan Trichophyton verrucosum, yang keduanya bersifat zoofilik. Trichophyton rubrum sangat jarang menyebabkan tinea kapitis, walaupun demikian bentuk klinis granuloma, kerion , alopesia dan black dot yang disebabkan Trichophyton rubrum pernah di tulis.1,2

Gambar 3: Black dot ringworm

4. Favus Kelainan di kepala dimulai dengan bintik-bintik kecil di bawah kulit yang berwarna merah kekuningan dan berkembang menjadi krusta yang berbentuk cawan (skutula), serta 8ntibo bau busuk seperti bau tikus 8ntib odor. Rambut di atas skutula putus-putus dan mudah lepas dan tidak mengkilat lagi. Bila menyembuh akan meninggalkan jaringan parut dan alopesia yang permanen. Penyebab utamanya adalah Trikofiton schoenleini, T. violasum dan T. 8ntibo. Oleh karena Tinea kapitis ini sering menyerupai penyakit-penyakit kulit yang menyerang daerah kepala, maka penyakit ini harus dibedakan dengan penyakit-penyakit bukan oleh jamur seperti: Psoriasis vulgaris dan Dermatitis seboroika.2 Favus, favosa tinea juga disebut, adalah infeksi dermatophytic inflamasi kronis biasanya disebabkan oleh Trichophyton schoenleinii. Jarang, favus disebabkan oleh Trichophyton violaceum, Trichophyton mentagrophytes var quinckeanum, atau Microsporum gypseum.Favus biasanya mempengaruhi kulit kepala rambut tetapi juga dapat menginfeksi kulit berbulu dan kuku.Agen penyebab mouse favus adalah T mentagrophytes var quinckeanum, juga disebut Trichophyton quinckeanum, yang dapat menyebabkan favus pada manusia, meskipun jarang.2 Favus adalah 1 dari 3 pola utama infeksi rambut (ectothrix, endothrix, favus).Biasanya, rambut tidak seperti yang terinfeksi berat seperti dalam trichophytosis disebabkan oleh Trichophyton tonsurans.Rambut dapat tumbuh, dan sering, rambut panjang diamati pada keadaan penyakit.Fitur yang paling karakteristik adalah pembentukan ruang udara antara hifa dalam rambut yang terinfeksi.Ruang udara ini (udara terowongan) bentuk sebagai akibat dari otolisis hifa.Arthroconidia jarang terlihat dalam rambut.Rambut yang terinfeksi seperti yang biasa disebut favus-jenis rambut. Dalam sera pasien, jelas.1 Menurut berat ringannya penyakit, 3 tahap utama dijelaskan.

atibody terhadap jamur penyebab

ditemukan oleh aglutinasi arang dan uji imunodifusi, namun peran yang tepat dari atibody tidak

Tahap pertama: Hanya eritema kulit kepala terlihat, terutama di sekitar folikel. Rambut tidak longgar atau rusak.

Tahap kedua: Pembentukan scutula terlihat dengan awal kerontokan rambut. Tahap Ketiga: Tahap paling parah melibatkan daerah yang luas dari kulit kepala (setidaknya sepertiga); rambut rontok luas, atrofi, dan hasilnya jaringan parut. Pembentukan scutula baru di pinggiran plak adalah umum.
8

Bentuk khas dari scutulum, kerak cangkir berbentuk kuning yang mengelilingi rambut dan menembus pusat, adalah khas.Scutula membentuk plak padat, masing-masing terdiri dari miselia dan puing-puing epidermis.Seringkali, infeksi bakteri sekunder terjadi pada plak.Penghapusan Plak meninggalkan basis eritematosa lembab.Massa padat kerak kuning mungkin soliter atau banyak, dan pada pasien yang terkena dampak parah, melibatkan seluruh kulit kepala.Bau pemalu biasanya hadir.Kulit berbulu mungkin menunjukkan krusta kuning serupa.1 Pada kulit berbulu, favus adalah letusan papulovesikular dan papulosquamous di mana scutula khas mungkin jelas.Sebagai sebuah onikomikosis, favosa tinea menyerupai bentukbentuk tinea unguium.3

Gambar 4: Favus 2.7 DIAGNOSA Diagnosa ditegakkan berdasarkan gambaran klinis, pemeriksaan dengan lampu wood dan pemeriksaan mikroskopik rambut langsung dengan KOH. Pada pemeriksaan mikroskopik akan terlihat spora di luar rambut ( ektotriks ) atau di dalam rambut ( endotriks ).3 Diagnosis laboratorium dari dermatofitosis tergantung pada pemeriksaan dan kultur dari kikisan lesi. Infeksi pada rambut ditandai dengan kerusakan yang ditemukan pada pemeriksaan. Lesi dapat dilepaskan dengan forsep tanpa disertai dengan trauma atau dikumpulkan dengan potongan potongan yang halus dengan ayakan halus atau sikat gigi.3

Sampel rambut terpilih di kultur atau dilembutkan dalam 10 20 % potassium hydroxide ( KOH ) sebelum pemeriksaan di bawah mikroskop. Pemeriksaan dengan preparat KOH ( KOH mount ) selalu menghasilkan diagnosa yang tepat adanya infeksi tinea.1,2 Pada pemeriksaan lampu wood didapatlkan infeksi rambut oleh M. canis, M.ferrugineum, akan memberikan flouresensi cahaya hijau terang hingga kuning kehijauan. Infeksi rambut oleh T. schoeiileinii akan terlihat warna hijau pudar atau biru keputihan, dan hifa didapatkan di dalam batang rambut. Pada rambut sapi T. verrucosum memperlihatkan fluoresensi hijau tetapi pada manusia tidak berfluoresensi.2 Ketika diagnosa ringworm dalam pertimbangan, kulit kepala diperiksa di bawah lampu wood. Jika fluoresensi rambut yang terinfeksi biasa, pemeriksaan mikroskopik cahaya dan kultur. Infeksi yang disebabkan oleh spesies microsporum memberikan fluoresensi warna hijau.1 2.8 DIAGNOSA BANDING Diagnosa banding untuk tinea kapitis terdapat dalam beberapa kondisi, tergantung dari presentasi klinisnya. Dibawah ini tabel untuk mempermudah memilah diagnosis banding tinea kapitis sesuai dengan gambaran klinisnya.6 Tabel 2.3 Diagnosis banding berdasarkan gambaran Klinis

Gambaran Klinis
Grey patch Ringworm Papul atau plak hipopigmentasi - Plak berskuama - Bentuk kelainan oval - Rambut berwarna abuabu, dan mudah patah serta lepas dari akarnya - Keluhan rasa gatal Blackdots - Bentuk kelainan oval - Rambut patah - Terdapat sisa ujung rambut yang patah Favus - Papul eritematosa - Plak

Diagnosa Banding
Psoriasis scalp - Plak eritematosa
Dermatitis Atopik - plak eritematosa

- Skuama tebal berwarna putih - Berskuama atau perak - Linkenifikasi - Gatal - Rambut dapat rontok

Trichotilomania Alopecia areata - Bentuk kelainan oval - Bentuk kelainan oval - Gambaran kulit normal atau - Rambut hilang - Kulit dasar normal sedikit kemerehan - Tidak ada keluhan gatal Psoriasis Dermatitis Seboroik - Bayi: cradle cap, krusta tebal, - Plak eritematosa - Skuama tebal, berwarna pecah-pecah, berminyak 10

- Sikatriks Dewasa: Makula/plak, putih/perak. - Krusta berbentuk cawan eritematosa/kekuningan, terdapat - Gatal (skutula) skuama dan krusta tipis-tebal yang - Rambut dapat rontok - Rambut ada/rontok basah/berminyak Kerion - Radang luas Karbunkel - Nyeri - Radang luas eritematosa - abses berisi pus - Fistul

2.8.1 Alopecia Areata Alopecia areata adalah keadaan rontoknya rambut yang bersifat rekuren dan nonscarring. Biasanya bersifat jinak dan asymtomatik tetapi dapat menimbulkan stress emosi dan psikososial. Gambaran kulit yang ditinggalkan halus dan sedikit kemerahan. Gambaran daerah yang kehilangan rambut kebanyakan berbentuk oval. Tidak ada perubahan epidermal yang terjadi dan berhubungan dengan hilangnya rambut.6 2.8.2 Dermatitis Seboroik Gambaran klinis pada dermatitis seboroik pada kulit kepala dapat bervariasi, dari ringan, berskuama halus sampai tersebar, dan tebal. Dermatitis ini dapat menyebar dari kepala menuju dahi dan dibelakang dapat sampai pada leher dan bawah telinga pada samping kiri dan kanannya.7 Ruamnya pada bayi usia dua sampai sepuluh minggu sangat khas yang disebut cradle cap, dengan krusta tebal, pecah-pecah dan berminyak. Sedangkan pada dewasa dapat berupa makula atau plak, kemerahan atau kekuningan, terdapat skuama dan krusta tipis sampai tebal yang kering, basah atau berminyak.5 2.8.3 Trichotillomania Adalah sebuah kelainan kompulsif yang menghasilkan kebotakan dimana pasien mencabut rambutnya sendiri. Trichotillomania adalah salah satu kelainan kejiwaan primer yang pencetusnya adalah diri sendiri. Biasanya pasien mengakui bahwa ia mencabut rambutnya sendiri, yang biasanya dilakukan saat pasien melakukan aktivitas seperti membaca, menulis, menonton televisi atau mengendarai mobil. Lesinya biasanya berupa hilangnya rambut dengan dasarnya berupa kulit normal.8

11

2.8.4 Psoriasis scalp Psoriasi pada kulit kepala adalah kelainan kulit yang menghasilkan peningkatan, kemerahan dan seringkali patch bersisik. Kelaian ini dapat berupa multiple patch pada kulit kepala, dapat mengenai seluruh kulit kepala dan dapat juga menyebar sampai ke dahi, leher bagian belakang dan dibawah telinga. Penyakit ini tidak menular, seperti halnya tipe psoriasis yang lain penyebab pasti belum diketahui. Banyak yang percaya bahwa penyakit ini adalah hasil dari kelainan sistem imun yang menyebabkan bertambah cepatnya waktu pergantian kulit. Gejala klinis pada penyakit ini adalah adanya plak kemerahan, sisik berwarna putih/perak, gatal, rontoknya rambut dan kulit kering. Meskipun psoriasis bukanlah penyebab rontoknya rambut, tetapi intensitas garukan dan tindakan paksa untuk melepas sisik, dan juga faktor stress dapat menyebabkan rontoknya rambut.5 2.8.5 Karbunkel Furunkel adalah radang folikel rambut dan sekitarnya. Karbunkel adalah kumpulan furunkel. Biasanya etiologinya adalah staphylococcus aureus. Gambaran klinisnya, keluhan pasien biasanya nyeri, kelainan berupa nodul eritematosa berbentuk kerucut, ditengahnya terdapat pustul. Kemudian melunak menjadi abses yang berisi pus dan jaringan nekrotik lalu memecah membentuk fistel.1 2.8.5 Dermatitis Atopik Dermatitis atopik adalah keadaan peradangan kulit kronis dan residif, disertai gatal, yang umumnya mengenai bayi atau anak-anak, sering berhubungan dengan peningkatan IgE dalam serum dan riwayat atopi pada keluarga atau penderita. Kelainan kulit berupa papul, yang kemudian mengalami ekskoriasi dan linkenifikasi, distribusinya di lipatan (fleksural).1 2.9 PENATALAKSANAAN 1. Terapi sistemik Griseofulvin Pada tahun 1958, Williams dan Marten mendokumentasikan efektivitas terapi oral dengan griseofulvin pada tinea kapitis , dan penggunaan obat ini telah secara signifikan mengurangi angka penyakit secara epidemic. Berkat ditemukannya griseofulvin penggunaan Xray untuk pembotakan yang telah digunakan sebelum itu oleh Sabouraud pada awal abad 19 telah
12

mulai ditinggalkan begitu juga penggunaan thallium asetat. Walau bagaimanapun tinea kapitis terus berlanjut menjadi penyakit yang biasanya diderita oleh anak-anak dan biasanya menyentuh 10%-20% dari populasi bila terjadi wabah epidemik. Sejak akhir tahun 1950, Griseofulvin telah dijadikan gold standart pada tinea kapitis, meskipun dosis dan durasinya berbeda pada tiap pasien, secara umum dosis yang digunakan adalah 10-20 mg/kg/hari selama delapan sampai duabelas minggu. Griseofulvin adalah obat fungistatik dan berfungsi menghambat sintesis asamnukleid dan mengganggu perkembangbiakan inti sel dalam metaphase yang akhirnya mencegah pembentukan dinding sel jamur. Griseofulvin pun memiliki efek anti-inflamasi. Obat ini tersedia dalam bentuk tablet, dan biasanya direkomendasikan untuk diminum bersamaan dengan makanan berlemak, karena hal itu akan meningkatkan absorpsi obat dan meningkatkan bioavailabilitasnya. Durasi dari terapi tergantung dari mikroorganisme penyebabnya

(T.Tonsurans membutuhkan terapi yang lebih lama). Efek samping obat ini adalah mual dan erupsi eksantematosa pada 8%-15% kasus, dan obat ini berkontraindikasi pada kehamilan. Beberapa studi telah membandingkan penggunaan Griseovulfin dengan ketokonazole sebagai terapi tinea kapitis pada anak-anak dan telah dinyatakan bahwa ketokonazole aman dan efektif meskipun belum menunjukan kemampuan yang lebih baik daripada griseovulfin, yang dimana menunjukan efek yang lebih cepat. Griseovulfin aman dan efektif pada anak selama diberikan pada dosis yang sesuai.4

Terbinafine Terbinafin adalah sebuah allylamine fungisidal yang mempunyai afinitas tinggi untuk

keratin dan bekerja pada membrane sel dari jamur. Obat ini efektif pada semua jenis dermatofit. Obat ini seefektif griseovulfin dan aman untuk terapi spesies Trichophyton pada anak, sementara untuk spesies Microsporum masih diperdebatkan; tetapi telah dianjurkan pada kasus ini membutuhkan terapi lebih lama (lebih dari 4 minggu) dan dengan dosis yang tinggi. Dosis obat ini tergantung dari berat badan pasien, biasanya 3 sampai 6 mg/kg/ hari. Dalam hal efek samping, keluhan gastrointestinal pada 5% kasus dan erupsi obat pada 3% kasus. Pada studi yang melibatkan 50 anak, yang dimana 49 anak menderita tinea dengan spesies Trichophyton dan hanya 1 anak yang menderita tinea dari spesies microsporum, didapatkan kesembuhan 86 % secara klinis dan histologi setelah terapi selama 2 minggu; peneliti pada kasus ini menganjurkan penambahan 2 minggu untuk menterapi anak dengan tinea dengan jenis Microsporum. Pada studi lain yang mengevaluasi terapi terbinafin pada 152 anak, kesembuhan secara klinis dan mikologi

13

sangat baik dengan persentase 96%; dalam studi ini peneliti ini merekomendasikan terapi selama 4 minggu pada tinea kapitis pada anak.4 Golongan Azole: Ketokonazole Ketokenazol bersifat fungistatik. Pada kasus-kasus resisten terhadap griseofulvin dapat diberikan obat ini sebanyak 200 mg per hari selama 10 hari- 2 minggu pada pagi hari setelah makan. Ketokonazol merupakan kontraindikasi untuk penderita kelainan hepar.1 Itrakonazole Itrakonazole mempunyai aktifitas fungistatik dan fungisidal, meskipun lebih banyak berfungsi sebagai fungstatik dengan memakan ergosterol pada membran sel jamur yang akhirnya membuat perubahan permeabilitas membran sel. Dosis yang direkomendasikan adalah 100 mg/hari selama 4 minggu atau 5 mg/kg/ hari pada anak-anak, dimana sama efektif dengan griseofulvin dan terbinafine (table 4). Obat ini sangat lipofilik dan keratinofilik dan obat ini bertahan dalam stratum korneum selama 3 sampai 4 minggu setelah pemberian.4 Obat ini cocok sebagai pengganti ketokonazol yang mempunyai sifat hepatotoksik terutama bila diberikan lebih dari 10 hari.

Flukonazole Flukonazole adalah obat anti jamur yang memiliki spectrum luas dan dapat diberikan

pada dermatofit dan juga spesies kandida. Obat ini memiliki bioavailabilitas yang baik, rendah dalam ikatan dengan protein dan memiliki waktu paruh yang panjang. Dalam studi yang meneliti anak-anak dengan T. tonsurans, obat ini didapatkan efektif dan aman dalam dosis 6 mg/kg/ hari selama 20 hari.4 Kortikosteroid Kortikosteroid dapat digunakan pada tinea kapitis lesi kerion. Penggunaan kotikosteroid harus hati-hati pada pasien seperti ini dan kontraindikasi dalam pemberiannya harus ditepikan. Kortikosteroid intralesi dapat digunakan pada lesi yang terlokalisir sedangkan, kortikosteroid sistemik harus diberikan pada kondisi lesi yang difus, yang biasanya digunakan secara umum adalah prednisone pada dosis 1 mg/kg/hari selama 1-2 minggu.4

14

2. Terapi topikal

Terapi topikal saja biasanya tidak direkomendasikan untuk penyakit ini karena preparat topikal tidak berprenetrasi secara adekuat pada kulit kepala. Pada tahun 1982, Allen dkk, melaporkan bahwa dengan menggunakan shampoo yang mengandung selenium sulfide 2% cukup efektif dalam mengurangi spora pada kulit kepala pasien anak yang diterapi pararel dengan griseofulin dan akhir-akhir ini penggunaan shampoo yang mengandung ketoconazole 2% juga menghasilkan hasil yang sama. Pasien harus dianjurkan untuk menggunakan shampoo 3 kali dalam seminggu dan membiarkannya meresap paling minimal 5 menit sebelum dibasuh. Shampoo tersebut harus digunakan sampai pasien secara klinis dan histologi sembuh.4 Dapat juga digunakan shampoo ketokonasol 1-2% 2-3x/minggu.5

2.10 PROGNOSIS Proses penyebaran spora jamur mungkin bertahan beberapa bulan meskipun sedang dilakukan terapi; oleh karena itu sangat perlu untuk terus memantau keadaan pasien. Penyebab terjadinya kegagalan terapi yang termasuk didalamnya yaitu reinfeksi, organisme jamur yang relatif tidak sensitive terhadap obat, absorbsi obat yang tidak terlalu optimal dan kurangnya kepatuhan pasien karena pengobatan yang lama. T.tonsurans dan Microsporum adalah spesies jamur yang seringkali pesisten terhadap terapi. Jikalau jamur masih dapat diisolasi dari lesi pada kulit yang telah diterapi dengan maksimal, tetapi secara klinis ada perbaikan, yang

direkomendasikan dari keadaan ini adalah terus memberikan terapi yang sama selama satu bulan lagi.

15

BAB III RINGKASAN

Tinea kapitis yang disebut juga Ringworm of the scalp and hair/tinea tonsurans/herpes tonsurans, adalah penyakit dermatofit yang yang menyerang kulit kepala dan rambut. Penyakit ini ditandai dengan lesi bersisik, kemerah-merahan, alopesia dan bila terjadi keadaan klinis yang berat disebut kerion. Secara klinis tinea kapitis terbagi menjadi tiga bentukan khas yaitu Grey patch ringworm, kerion dan black dot ringworm. Penyakit ini disebabkan oleh spesies dermatofita dari genus Trichophyton dan Microsporum, misalnya T. violaceum, T. gourvilii, T. mentagrophytes, T. tonsurans, M. audoinii, M. canis, M. ferrugineum. Tinea kapitis kebanyakan menginfeksi anak anak yang berumur antara 4 dan 14 tahun. Trichophyton tonsurans menjadi penyebab lebih dari 90% kasus di Amerika Utara dan United Kingdom. Kepadatan penduduk, hygien yang buruk dan malnutrisi protein memudahkan seseorang mendapatkan penyakit ini. Diagnosa ditegakkan berdasarkan gambaran klinis, pemeriksaan dengan lampu wood dan pemeriksaan mikroskopik rambut langsung dengan KOH atau kultur jamur. Pada pemeriksaan mikroskopik akan terlihat spora di luar rambut atau di dalam rambut. Secara garis besar pengobatan Tinea kapitis membutuhkan waktu yang lama dan ketelatenan pasien. Obat-obat yang digunakan yaitu topikal dan sistemik. Penggunaan topikal saja akan sulit sekali menyembuhkan penyakit ini, jadi biasanya preparat topikal dikombinasikan dengan sistemik. Contoh obat topikal seperti shampoo selenium sulfat, dan ketokonazole sedangkan preparat sistemik dapat berupa griseovulfn, ketokonazole, terbinafrin dan lain.lain. Prognosis penyakit ini tergantung keadaan klinis, keparahan, dan ketelatenan terapi. Terapi yang non adekuat dapat mengakibatkan reaktivasi dari penyakit ini.

16

DAFTAR PUSTAKA 1. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi kelima. Balai penerbitan FKUI. Jakarta: Universitas Indonesia 2009 2. Wolff, Klaus. Fitzpatrick dermatology in general medicine. edisi ketujuh. The McGraw-Hill companies US. 2008 3. 4. Siregar. Atlas Berwarna Saripati Penyakit kulit. EGC: Jakarta 2004 Rebollo, Lpez-Barcenas, and Arenas. Tinea capitis. Review artikel. Departamento de Dermatologa. Actas Dermosifiliogr. 2008;99:91-100 5. Fakultas Kedokteran Unair. Atlas Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi kedua. AUP. Surabaya: Universitas Airlangga 2013 6. Muller SA, Winkelmann RK. Alopecia areata. An evaluation of 736 patients. Arch Dermatol. Sep 1963;88:290-7. 7. Schwartz RA, Janusz CA, Janniger CK. Seborrheic dermatitis: an overview. Am Fam Physician. Jul 1 2006;74(1):125-30. 8. American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fourth Edition. 4th ed. Washington, DC: American Psychiatric Publishing; 2000.

17

Anda mungkin juga menyukai