Anda di halaman 1dari 6

Patogenesis Sindrom Obstruksi Pasca Tuberkulosis

Nur Aida Bagian Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Unit Paru Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta PENDAHULUAN Sindrom obstruksi difus yang berhubungan dengan TB paru dikenal dengan berbagai nama. Di Bagian Unit Paru RSUP PersahabaUaa Jakarta, dikenal dengan nama TB paru dengan sindrom obstruksi dan sindrom obstruksi pasca TB S!PT". #ekerapan sindrom obstruksi pada TB paru ber$ariasi antara %&'()*'. Patogenesis timbulnya sindrom obstruksi pada TB paru yang mengarah ke timbulnya sindrom pasca TB sangat kompleks+ pada penelitian terdahulu dikatakan akibat destruksi ,aringan paru oleh proses TB. #emungkinan lain adalah akibat infeksi TB, dipengaruhi oleh reaksi imunologis perorangan sehingga menimbulkan reaksi peradangan nonspesifik yang luas karena tertariknya neutrofil ke dalam parenkim paru makrofag aktif. Peradangan yang berlangsung lama ini menyebabkan proses proteolisis dan beban oksidasi sangat meningkat untuk ,angka lama sehingga destruksi matriks al$eoli ter,adi cukup luas menu,u kerusakan paru menahun dan mengakibatkan gangguan faal paru yang dapat dideteksi secara spirometri. Pada tulisan ini akan dibicarakan patogenesis sindrom obstruksi pasca TB. SINDROM OBSTRUKSI PASCA TB #elainan obstruksi yang berhubungan dengan proses TB dikenal dengan berbagai nama. -ugger %.)) dikutip dari %" menyebutnya emfis/ma obstruksi kronik. 0artin dan 1allet 2" menggunakan istilah emfisema obstruksi difus. Bomberg dan Robin 3" menyebutnya sebagai emfisema obstruksi difus+ 4argha dan Bruckner 5" menyebutnya sindrom $entilasi obstruksi+ Tanu6thar,7 menyebutnya sirldronrobstruksi difus )". Di Unit Paru RSUP Persahabatan Jakarta kelainan obstruksi pada penderita TB paru didiagnosis sebagai TB paru dengan sindrom obstruksi, sedangkan kelainan obstruksi pada penderita bekas TB paru didiagnosis sebagai obstruksi pasca TB S!PT". KEKERAPAN Terdapar $ariasi kekerapan sindrom obstrtiksi difus yang pernah diteliti (Tabel 1).
Tabel 1. Kekerapan Sin r!" Ob#$r%k#i Di&%# pa a TB Peneli$i Ta'%n Kekerapan Re&. -uggel 8aensler 0artin dan 1aller 9ancaster dan Tomasshesfki 0alik dan 0artin Snider et al Tanu6ihar,a Tanu6ihar,a Sardikin 8iriputro %.)) %.).

%.&% %.&3 %.&. %.:% %.;* %.;; %.;. 55 ' 52,& ' )*,5 ' 35 ' 32 ' 5%,; ' )*,5 ' 5&,. ' %&,: ' % ) 2 & : ; . %* %%

PATO(ENESIS 8angguan faal paru akibat proses tuberkulosis paru berupa kelainan restriksi dan obstruksi telah banyak diteliti+ kelainan yang bersifat obstruksi dan menetap akan mengarah pada ter,adinya sindrom. obstruksi pasca TB S!PT". Destruksi parenkim paru pada emfisema menyebabkan elastisitas berkurang sehingga ter,adi mekanisme $entil yang men,adi dasar ter,adinya obstruksi arus udara 3". <mfisema kompensasi yang ditemukan pasca reseksi paru dan akibat atelektasis lobus atas karena TB paru seharusnya tidak obstruktif. Sedangkan 8aensler )" dan Snider et al *) menyatakan bah6a kelainan obstruksi pada TB paru tidak berasal dari emfisema kompensasi. 1irasa6a %.&)" dikutip dari ;" tidak menemukan perbedaan morfologik yang nyata antara ,enis emfisema pada kasus TB dan non TB, perubahan emfisema yang tidak merata lebih menon,ol pada TB dengan kesan sebagai efek lokal dalam perkembangan emfisema. 8aensler dan 9indgren )" berpendapat bah6a bronkitis kronis spesifik lebih mungkin merupakan faktor etiologi timbulnya emfisema obstruksi pada tuberkulosis paru dibandingkan dengan over distention ,aringan paru di dekat daerah retraksi. Bell %%" berhasil menimbulkan bula emfisematous pada kelinci yang ditulari mikobakterium tuberkulosis secara trakeal dan menyimpulkan bah6a proses emfisema dimulai dengan destruksi ,aringan lalu diikuti ekspansi. 4argha dan Bruckner menyatakan bah6a bronkitis kronis difus yang disebabkan sekret dari ka$itas menimbulkan kelainan obstruksi %2". Baum %3", -rofton dan Douglas %5" menyatakan bah6a reaksi hipersensitif terhadap fokus TB atau hasil sampingan kuman TB yang mati sering tampak berupa perubahan non spesifik yaitu peradangan yang kadang=kadang ,auh lebih luas daripada lesi spesifiknya sendiri. 1ennes et al %)" menemukan bah6a >at anti terhadap ekstrak paru manusia penderita TB merangsang pembentukan >at anti terhadap ,aringan yang rusak. Pada emfisema mungkin timbul

>at anti terhadap ,aringan retikulum paru, yang dapat berperan penting pada patogenesis emfisema. 1ubungan kelainan obstruksi pada tuberkulosis paru dengan beberapa faktor antara lain umur, ,enis kelamin, merokok, lama sakit, luas lesi telah diteliti oleh beberapa peneliti 2,&(%%,%3" Pemeriksaan spirometri pada penderita tuberkulosis paru lan,ut di RSUP Persahabatan Jakarta, menyimpulkan bah6a kelainan obstruksi berhubungan dengan ,enis kelamin dan lama sakit, tetapi tidak berhubungan dengan umur, kebiasaan merokok, luas kelainan dan distribusi lesi .". Pemeriksaan perubahan faal $entilasi penderita TB paru yang diobati paduan obat ,angka pendek dengan.tu,uan khusus pada gangguan obstruksi di RSUP Persahabatan menyimpulkan bah6a tidak terdapat hubungan positif antara dera,at obstruksi dan restriksi dengan luas lesi, kelainan obstruksi pada penderita TB paru maupun bekas TB paru bersifat ire$ersibel, dan obstruksi yang ire$ersibel ini merupakan akibat proses TB. Pemeriksaan spirometri pada penderita TB paru dan bekas TB paru dengan lesi minimal dan moderately advanced di RSTP -ipaganti Bandung mendapatkan sindrom obstruksi difus pada 5&,.' penderita TB paru dan 3*' sindrom obstruksi ditemukan pada lesi minimal+ sindrom obstruksi difus mempunyai hubungan dengan faktor merokok dan luas lesi dan tidak mempunyai hubungan dengan ,enis kelamin dan lama sakit .". Salah satu kemungkinan lain patogenesis timbulnya sindrom obstruksi difus pada penderita TB adalah karena infeksi kuman TB, dipengaruhi reaksi imunologik perseorangan, dapat menimbulkan reaksi radang nonspesifik luas karena tertariknya netrofil ke dalam parenkim paru oleh makrofag aktif. Peradangan yang berlangsung lama ini menyebabkan beban proteolitik dan oksidasi meningkat dan merusak matriks al$eoli sehingga menimbulkan sindrom obstruksi difus yang dapat diketahui dari pemeriksaan spirometri. SISTIM IMUNITAS TUBUH Sistim pertahanan tubuh terdiri atas sistim pertahanan spesifik dan nonspesifik %&,%:" ((a"bar 1).
(a"bar 1. Si#$e" I"%n(1+)

Sistim imun nonspesifik merupakan pertahanan tubuh terdepan dalam menghadapi serangan berbagai mikroorganisme, oleh karena dapat memberikan respon langsung terhadap antigen, sedangkan sistim imun spesifik membutuhkan 6aktu untuk mengenal antigen terlebih dahulu sebelum memberikan responnya %:,%;". Paru merupakan salah satu organ tubuh yang mempunyai daya proteksi melalui suatu mekanisme pertahanan paru, berupa sistim pertahanan tubuh yang spesifik maupun nonspesifik %.(22". Di al$eolus makrofag merupakan komponen sel fagosit yang paling aktif memfagosit partikel atau mikroorganisme 2*,22". 0akrofag ini penting dalam sistim imun karena kemampuan memfagosit serta respon imunologiknya 2*". #emampuan untuk menghancurkan mikroorganisme ter,adi karena sel ini mempunyai se,umlah liso>im di dalam sitoplasma. 9iso>im ini mengandung en>im hidrolase maupun peroksidase yang merupakan en>im perusak. Selain itu makrofag ,uga mempunyai reseptor terhadap komplemen. ?danya reseptor=reseptor ini meningkatkan kemampuan sel makrofag untuk menghancurkan

benda asing yang dilapisi oleh antibodi atau komplemen %:,2*,2%". Selain bertindak sebagai sel fagosit, makrofag ,uga dapat mengeluarkan beberapa bahan yang berguna untuk menarik dan mengaktifkan neutrofil serta beker,a sama dengan limfosit dalam reaksi inflamasi 2*". TUBERKULOSIS PARU SERTA RESPON IMUN ?pabila tubuh terinfeksi hasil tuberkulosis, maka pertamatama lekosit polimorfonukleus P0@" akan berusaha mengatasi infeksi tersebut. Sel P0@ dapat menelan hasil tapi tidak dapat menghancurkan selubung lemak dinding hasil, sehingga hasil dapat terba6a ke ,aringan yang lebih dalam dan mendapat perlindungan dari serangan antibodi yang beker,a ekstraseluler. 1al ini tidak berlangsung lama karena sel P0@ akan segera mengalami lisis %;". Selan,utnya hasil tersebut difagositosis oleh makrofag. Sel makrofag aktif akan mengalami perubahan metabolisme, metabolisme oksidatif meningkat sehingga mampu memproduksi >at yang dapat membunuh hasil, >at yang terpenting adalah hidrogen peroksida 12!2". -haparas %.;5 23" menerangkan bah6a mikobakterium tuberkulosis mempunyai dinding sel lipoid tebal yang melindunginya terhadap pengaruh luar yang merusak dan ,uga mengaktifkan sistim imunitas. 0ikobakterium tuberkulosis yang ,umlahnya banyak dalam tubuh menyebabkan A B Penglepasan komponen toksik kuman ke dalam ,aringan B Cnduksi hipersensitif seluler yang kuat dan respon yang meningkat terhadap antigen bakteri yang menimbulkan kerusakan ,aringan, perke,uan dan penyebaran kuman lebih lan,ut. B ?khirnya populasi sel supresor yang ,umlahnya banyak akan muncul menimbulkan anergik dan prognosis ,elek. Per,alanan dan interaksi imunologis dimulai ketika makrofag bertemu dengan kuman TB, memprosesnya lalu menya,ikan antigen kepada limfosit. Dalam keadaan normal, infeksi TB merangsang limfosit T untuk mengaktifkan makrofag sehingga dapat lebih efektif membunuh kuman. 0akrofag aktif melepaskan interleukin=% yang merangsang limfosit T. 9imfosit T melepaskan interleukin=2 yang selan,utnya merangsang limfosit T lain untuk memperbanyak diri, matang dan memberi respon lebih baik terhadap antigen. 9imfosit T supresi TS" mengatur keseimbangan imunitas melalui peranan yang komplek dan sirkuit imunologik. Bila TS berlebihan seperti pada TB progresif, maka keseimbangan imunitas terganggu sehingga timbul anergi dan prognosis ,elek. TS melepas substansi supresor yang mengubah produksi sel B, sel T aksi=aksi mediatornya. 0ekanisme makrofag aktif membunuh hasil tuberkulosis masih belum ,elas, salah satu adalah melalui oksidasi dan pembentukan peroksida. Pada makrofag aktif, metabolisme oksidatif meningkat dan melepaskan >at bakterisidal seperti anion superoksida, hidrogen peroksida, radikal hidroksil dan ipohalida sehingga ter,adi kerusakan membran sel dan dinding sel, lalu bersama en>im liso>im atau medoator, metabolit oksigen membunuh hasil tuberkulosis. Beberapa hasil tuberkulosis dapat bertahan dan tetap mengaktifkan makrofag, dengan demikian hasil tuberkulosis terlepas dan menginfeksi makrofag lain. Diduga dua proses yaitu proteolisis dan oksidasi sebagai penanggung,a6ab destruksi matriks 25". #omponen utama yang

membentuk kerangka atau matriks dinding al$eoli terdiri dari A kolagen interstisial tipe C dan CC", serat elastin elastin dan mikrofibril", proteoglikaninterstisial, fibrokinetin. #olagen adalah yang paling banyak ,umlahnya dalam ,aningan ikat paru 25". Proteolisis berarti destruksi protein yang membentuk matriks dinding al$eoli oleh protease, sedangkan oksidasi berarti pelepasan elektron dani suatu molekul. Bila kehilangan elektron ter,adi pada suatu struktur maka fungsi molekul itu akan berubah. Sasaran oksidasi adalah protein ,aringan ikat, sel epitel, sel endotel dan anti protease. Sel neutrofil melepas beberapa protease yaitut 25,2)" A %" <lastase adalah yang paling kuat memecah elastin dan protein ,aningan ikat lain sehingga sanggup menghancurkan dinding al$eoli. 2" -atepsin 8 menyerupai elastase tetapi potensinya lebih rendah dan dilepas bersama elastase. 3" #olagenase cukup kuat tetapi hanya bisa memecah kolagen tipe C, bila sendiri tidak dapat menimbulkan emfisema. 5" Plasminogen akti$ator yaitu urokinase dan tissue plasmin akti$ator merubah plasminogen men,adi plasmin. Plasmin selain merusak fibrin ,uga mengaktifkan proen>im elastase dan beker,a sama dengan elastase. !ksidan merusak al$eoli melalui beberapa cara seperti 2)" A a" Peningkatan beban oksidan ekstraseluler yang tinggi, secara langsung merusak sel terutama pneumosit C. b" Secara langsung memodifikasi ,aringan ikat sehingga lebih peka terhadap proteolisis. c" Secara langsung berinteraksi dengan %=antitripsin sehingga daya antiproteasenya menurun. Tuberkulosis paru merupakan infeksi menahun sehingga sistim imunologis diaktifkan untuk ,angka lama, akibatnya beban proteolisis dan beban oksidasi sangat meningkat untuk ,angka yang lama sekali sehingga destruksi matriks al$eoli cukup luas menu,u kerusakan paru menahun dan gangguan faal paru yang akhirnya dapat dideteksi secara spirometri. KESIMPULAN Patogenesis sindrom obstruksi difus pada penderita TB paru yang kelainan obstruksinya menu,u ter,adinya sindrom obstruksi pasca TB S!PT", sangat kompleks+ kemungkinannya antara lain A %" Cnfeksi TB dipengaruhi oleh reaksi imunologis perorangan, sehingga dapat menimbulkan reaksi peradangan nonspesifik yang luas karena tertariknya neutrofil ke dalam parenkim paru makrofag aktif. 2" ?kibatnya timbul destruksi ,aningan paru oleh karena proses TB. 3" Destruksi ,aringan pant disebabkan oleh proses proteolisis dan oksidasi akibat infeksi TB. 5" TBDparu merupakan infeksi menahun sehingga sistim imunologis diaktifkan untuk ,angka lama, akibatnya proses.proteolisis dan oksidasi sangat meningkat untuk ,angka lama sehingga destruksi matriks al$eoli ter,adi cukup luas menu,u kerusakan pant yang, menahun dan mengakibatkan gangguan faal pant yang dapat dideteksi secara spirometri. SARAN

Untuk mengetahui apakah pada sindrom obstruksi ditemui peradangan kronis maka penulis menyarankan pemeriksaan hipereaktifitas bronkus.
KEPUSTAKAAN %. 8aensler <?, 9indgren C. -hronic bronchitis as an aetiologic factor in obstructi$e emphysema. ?m. Re$. Resp. Dis. %.).+ ;*A %;). 2. 0artin -J, 1aller EF. The diffuse obstructi$e pulmonary syndrome in a tuberculosis sanatorium. CCA incidence and symptoms. ?nn. Cntem. 0ed. %.&%+ )5A %%)&. 3. Bromerg P?, Robin <D. ?bnormalities of lung function in tuberculosis. ?d$. Tuberc. Res. %.&3+ %2A %(2:. 5. 4argha 8, Bruckner P. Study of relationship bet6een ca$ity and obstructi$e $entilatory syndrome in tuberculosis. ?m. Re$. Respir. Dis. %.&5+ ;.A ;3*(5. ). Tanu6i,aya BF. Sindrom obstruktif difus pada tuberkulosis paru. #umpulan 0akalah Clmiah Simposium Penyakit paru obstruktif menahun. )5(&). &. 9ancaster CG, Thomashefski CG. Tuberculosis ( a cause of emphysema. ?m. Re$. Respir. Dis. %.&3+ ;:A 53). :. 0alik S#, 0artin -J. Tuberculosis, corticosteroid therapy and pulmonary function. ?m. Re$. Respir. Dis. %.&.+ %**A %3. ;. Snider 89, Doctor 9, Demas T?, Sha6 ?R. !bstructi$e air6ays disease in patient 6ith treated pulmonary tuberculosis. ?m. Re$. Respir. Dis. %.:%+ %*3A &2). .. Tanu6ihar,a BJ. Pemeriksaan spirometri pada penderita TB paru lan,ut di RS. Persahabatan Jakarta. @askah #onas CDPC CC, Surabaya, %;=2* Juni %.;*. p. ::(;5. %*. Sardikin 8iriputro. Perubahan faal inhalasi penderita TB paru yang diobati pada ,angka pendek dengan tin,auan khusus pads gangguan obstruktif. TesisA Bag. Pulmonologi G#UC, %.;.. %%. Bell JE. <Hperimental pulmonary emphysema. Production of emphysematous bullae in the rabbit by infection 6ith tuberculosis. ?m. Re$. Tuberc. %.);+ :;A ;5;(;&%. %3. Baum 89. TeHtbook of Pulmonary Disease. BostonA 9ittle Bro6n and -ompany. 2nd ed., %.:5+ p. 2&3. %). 1ennes ?R, 0oore 0I, -arpenter R9, 1ammarsten CG. ?m. Re$. Respir. Dis. %.&%+ ;3A 3)5. %&. #amen 8B. Cmunologi Dasar. JakartaA Balai Penerbit G#UC, %.;;A %(:2. %:. Siti B#. CmunologiA Diagnosis dan Prosedur 9aboratorium. <disi ke 2. JakartaA Balai Penerbit G#UC, %..%. %;. Bellanti J?. Cmmunology CC. ?sian ed. TokyoAlgaku Shoin 9td. %.:; A 3))(;:. %.. Reynolds 1F. @ormal and Defecti$e Respiratory 1ost Defenses. CnA Respiratory CnfectionsA Diagnosis and 0anagement. Penington J< eds. 2nd ed. @e6 ForkA Ra$en Press. %.;.A %(33. 2*. 1arada R@, Repine 0. Pulmonary host defense mechanism. -hest %.;)+ ;:A 25:()2. 2%. Daniela RP. Cmmune Defenses of the 9ung. CnA Pulmonary Disease and Disorders. Gishman ?P eds. 2nd ed. @e6 ForkA 0c 8ra6 1ill Book -o. %.;;A );.(.;. 22. 0urray JG. Defence 0echanism. CnA The @ormal 9ungA The Basic for Diagnosis and Treatment of Pulmonary Disease. 2nd ed. PhiladelphiaA EB. Saunders -o. %.;&A 3%3(3.. 23. -haparas SD. Tuberculosis Cmmunology. ?sian Pacific J. ?llerg. Cmmunol. %.;5+ 2A %2&. 25. 1ubbard R-, -rystal R8. ?ntiproteases and antioHydantA Strategies for the pharmacologic pre$ention of lung destruction. Respiration %.;&+ )* Suppl. %" A )&. 2). -ampbell <J, Senior R0, Eelgus 18. <Htracellular matriH in,ury during lung inflammation. -hest %.;:+ .2A %&%.

Anda mungkin juga menyukai