Anda di halaman 1dari 17

STRUKTUR PAJAK PERTAMBAHAN NILAI DI INDONESIA

Dr. Miyasto Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang

Semakin meningkatnya kebutuhan dana pembangunan mendorong pemerintah untuk menggali sumber-sumber pendapatannya secara lebih intensif. Salah satu sumber pendapatan pemerintah yang cukup potensial adalah pajak. Pajak bagi pemerintah tidak hanya merupakan sumber pendapatan, tetapi juga merupakan salah satu variabel kebijaksanaan yang digunakan untuk mengatur jalannya perekonomian. Dengan pajak pemerintah dapat mengatur alokasi sumber-sumber ekonorni, mengatur laju inflasi, dan sebagainya. Oleh karena itu pajak mempunyai fungsi strategis dalam suatu negara. Masalah penting yang selalu timbul dalam sistem perpajakan adalah keadilan distribusi beban pajak pada berbagai golongan pendapatan dalam masyarakat Musgrave and Musgrave, !"#$%. Pada umumnya keadilan dalam sistem paijak seialu didasarkan pada tolok ukur kemampuan seseorang untuk membayar pajak, atau dengan kata lain didasarkan pada tingkat pendapatan atau pengeluarannya. Sistem pajak yang ada harus dapat menunjukkan bah&a semakin tinggi tingkat pendapatan seseorang, semakin besar proporsi beban pajak yang harus ditanggungnya. Salah satu jenis pajak yang mempunyai peranan besar dalam penerimaan pemerintah adalah Pajak Pertambahan 'ilai PP'%. (ontribusi PP' dalam penerimaan pajak pada tahun anggaran !"##)!"#" kurang lebih sekitar **,+! persen ,iro Pusat Statistik, !"#"%. Peranan ini diperkirakan akan semakin meningkat mengingat begitu besarnya usahausaha pemerintah untuk lebih mengefektifkan penerimaan PP'. PP' ditetapkan berdasarkan -ndang-undang 'o. # tahun !"#*, yaitu -ndang- undang mengenai Pajak Pertarnbahan 'ilai PP'% dan Pajak Penjualan atas ,arang-,arang Me&ah PPn,M%. Sistem pajak ini diberlakukan untuk menggantikan sistem pajak penjualan PPn%, yang dirasa sudah tidak dapat memenuhi tuntutan kebutuhan dana bagi pembangunan. Dibandingkan dengan PPn, maka PP' memang lebih menyeluruh dan lebih sederhana. .ampir seluruh jenis barang dan jasa pada setiap tingkatan produksi dikenakan. PP'. .al ini berbeda dengan PPn yang hanya dikenakan pada barang-barang di tingkat pabrikan dan beberapa jenis jasa tertentu. PP' dikatakan lebih sederhana karena hanya ada satu tarip pajak bagi seluruh jenis barang atau jasa kena pajak, yaitu sebesar !/ persen -ndang-undang 'o. #)!"#*%. Dalam sistem PPn kurang lebih ada enam jenis tarif pajak menurut berbagai golongan barang dan jasa, yaitu / persen, ! persen, 0,1 persen, 1 persen, !/ persen dan 0/ person Saaduddin 2brahim dan Pranoto (artoatmodjo, !"#!%. Pengenaan PPn dengan berbagai tarip yang berbeda pada berbagai golongan barang dan jasa temyata mempersulit penga&asan pajak. .al ini ditambah lagi dengan masih lemahnya administrasi perpajakan di 2ndonesia. 3kibatnya sering terjadi manipulasi-manipulasi pajak yang dilakukan oleh pengusaha. Dari uraian dimuka diperkirakan penerapan sistem PP' akan dapat meningkatkan penerimaan pajak. .al ini disebabkan disamping sistem pajak pertambahan nilai mempunyai rata-rata tarip yang

lebih tinggi dan lebih menyeluruh, juga adanya penyederhanaan tarip pajak akan mempermudah penga&asan, sehingga akan dapat mengurangi usaha-usaha manipulasi &ajib pajak untuk menghindari pajak. Permasalahan yang timbul dalam sistem PP' adalah apabila dilihat dari keadilan distribusi beban pajak. Pengenaan tarip pajak yang sama untuk setiap jenis komoditi menyebabkan golongan masyarakat berpendapatan rendah terkena proporsi beban pajak yang sama atau justru lebih tinggi dibandingkan dengan golongan masyarakat berpendapatan tinggi. 3pabila hal ini terjadi berarti sistem pajak pertambahan nilai justru kurang mencerminkan keadilan dalam perpajakan. Studi ini mencoba untuk mengkaji masalah keadilan dalam distribusi beban PP'. Dalam studi ini ingin dilihat apakah proporsi beban PP' lebih banyak ditanggung oleh masyarakat golongan pendapatan rendah atau tinggi.

Konsep-Konsep Dasar PPN


PP' adalah pajak yang dikenakan atas nilai tambah dari suatu komoditi. 'ilai tambah suatu jenis komoditi dapat dihitung melalui dua pendekatan Musgarve dan Musgrave, !"#$%. Pertama dihitung melalui selisih antara nilai suatu komoditi dengan nilai masukanantara yang digunakan untuk menghasilkan komoditi tersebut (edua, nilai tambah dapatjuga dihitung melalui penjumlahan dari seluruh nilai masukan- primer yang digunakan untuk menghasilkan suatu komoditi. Sistem PP' di 2ndonesia mendasarkan perhitungan nilai tambah pada selisih antara nilai suatu komoditi dengan nilai masukanantara yang digunakannya. PP' dipungut pada setiap tahapan produksi, oleh karena itu pajak ini disebut juga pajak pada berbagai tahapan produksi multistage tax%. Perhitungan PP' dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu4 Pertama, cara penjumlahan addition method%, cara ini dilakukan dengan menjumlahkan seluruh unsur nilai tambah, yaitu upah)gaji, biaya modal, penyusutan, dan biaya-biaya faktor produksi lain5 kemudian hasilnya dikalikan dengan persons pajak. Kedua, cara pengurangan subtraction method%, yaitu dengan cara mencari selisih antara penerimaan penjualan hasil produksi perusahaan dengan pengeluaran- pengeluaran untuk membeli masukan-antara bagi produk tersebut. .asil pengurangan ini kemudian dikalikan dengan persentase pajak. (etiga, metode kredit pajak tax credit method%, yaitu mencari selisih antara pajak yang dibayarkan dari penerimaan penjualan produk-produk perusahaan dengan pajak yang telah dibayar leveransir perusahaan tersebut pada saat pembelian masukan ntara bagi produk teisebut.. 6umlah pajak yang telah dibayar leveransirnya merupakan kredit pajak yang dapat diminta kembali dari pemerintah, karena &alaupun pajak tersebut dibayar oleh leveransinya tetapi beban pajak dibebankan kepada pembeli dalam bentuk harga yang lebih tinggi. Dari ketiga cara perhitungan tersebut metode kredit pajak merupakan cara yang paling praktis dan mudah untuk dilaksanakan. Metode ini lebih efektif untuk menanggulangi

penyelundupan pajak. Dengan sistem kredit pajak, setiap perusahaan akan berusaha untuk memperoleh kredit pajak, sehingga pengusaha akan berusaha untuk melaporkan seluruh pembelian-pembeliannya. Pembelian suatu perusahaan adalah penjualan perusahaan lain yang menjadi la&an transaksinya. Sehingga dengan demikian instansi pajak akan dapat melakukan penga&asan slang terhadap pengusaha-pengusaha yang kena pajak. 3lasan kepraktisan tersebut menyebabkan metode ini banyak dipergunakan oleh beberapa negara, termasuk 2ndonesia. PP' pertama kali diterapkan di Perancis pada tahun !"1$. (emudian diikuti oleh beberapa negara industri lain seperti 6erman pada tahun !"+#, ,elanda tahun !"+", 7u8emburg tahun !"9/, ,elgia tahun !"9!, 2reland tahun !"90, 3ustralia tahun !"9*, 2talia tahun !"9*, dan 2nggris tahun !"9* Melure, !"9*%. ,eberapa negara berkembang yang telah menerapkan pajak pertambahan nilai adalah 3rgentina tahun !"+9 :uerard, !"9*%, ;olombia, Pilipina, 3lgeria, 2vorycoast, Malagasi, Maroko, Senegal, <unisia 7ent dkk., !"9*%, dan 2ndonesia tahun !"#* -ndang--ndang 'o. #)!"#*%. Salah satu faktor yang menyebabkan banyak negara menerapkan PP' adalah, karena PP' dapat menghindari timbulnya pajak ganda. Seperti telah diketengahkan di muka bah&a pajak ganda timbul pada sistem PPn. .al ini mengingat pada sistem PPn pemungutan pajak didasarkan pada nilai jual dari komoditi yang dikenakan pajak. 3kibatnya komoditi-komoditi yang telah dikenakan pajak pada tahap produksi sebelumnya dikenakan pajak lagi pada tahap produksi berikutnya. PP' tidak menimbulkan pajak ganda. Penetapan PP' yang hanya berdasarkan nilai tambah suatu komoditi, tidak akan menyebabkan komoditi yang telah dikenakan pajak pada tahap produksi sebelumnya dikenakan pajak lagi pada tahap produksi berikutnya. Dengan demikian diharapkan kenaikan tingkat harga yang disebabkan oleh pajak ganda dapatdihilangkan. Sehingga dampak negatif dari pajak ganda juga akan dapat dihilangkan. Sampai seberapa jauh dampak pengenaan PP', tergantung pada sampai seberapa jauh beban pajak dapat dialihkan ke muka. Dalam kaitan dengan pengalihan beban pajak ini, analisis-analisis yang berhubungan dengan PP' selalu mendasarkan pada asumsi bah&a began PP' seluruhnya dibebankan ke muka. Dalam General Agreement of ariff and rade, PP' yang dikenakan pada komoditi-komoditi ekspor dan impor terhadap perdagangan internasional juga menggunakan asumsi bah&a beban PP' seluruhnya dibehankan ke muka !indholm, !"9/%. Demikiin juga Dresch dkk., dalam studinya mengenai, Substituting a "alue Added ax for he #orporate !ncome ax, menggunakan asumsi bah&a beban PP' seluruhnya dibebankan pada konsumen Dresch dkk., !"99%. Secara teoritis, apabila dilihat dari pemerataan beban pajak pada berbagai sektor usaha, PP' dinilai lebih merata dibandingkan dengan pajak penjuilan. ,erlainan dengan PPn yang hanya dipungut pada sektor-sektor produksi tertentu, PP' dipungut pada hampir seluruh sektor produksi. Disamping itu juga berlainan dengan PPn yang mempunyai bermacam-macam tarip untuk berbagai kelompok komoditi, PP' hanya mempunyai satu macam tarip pajak untuk seturuh jenis komoditi. Dengan demikian maka pembagian beban pajak untuk berbagai sektor usaha akan lebih merata. Oleh karena itu dilihat dari

sisi pengusaha, PP' drama lebih adif dibandingkan dengan PPn, karena setiap produk yang dijual dari berbagai industri dikenakan tarip pajak yang sama. =alaupun demikian mending beban pajak tersebut pada akhirnya dialihkan pada konsumen, maka perlu dilihat apakah proporsi beban PP' yang harus ditanggung konsumen juga lebih mencerminkan keadilan dalam perpajakan. Seperti telah diketengahkan di muka bah&a berdasarkan prinsip kemampuan seseorang untuk membayar pajak, suatu pajak dikatakan adil apabila pajak tersebut mempunyai struktur yang progresif. Dalam struktur pajak yang progresif berarti masyarakat golongann pendapatan relatif tinggi harus menanggung proporsi beban pajak yang lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat golongan pendapatan relatif rendah. Pada umumnya, struktur PP' demikian juga PPn cenderung bersifat regresif Musgrave dan Musgrave,!"#$%. Pernyataan Musgrave ini didukung juga oleh beberapa ahli lain yang telah membuktikan bah&a baik PPn maupun PP' adalah bersifat regresif Mc7ure, 6r., !"9*%. Dalam struktur pajak yang regresif, masyarakat golongan pendapatan rendah justru harus menanggung proporsi beban pajak yang lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat golongan pendapatan tinggi. 3da beberapa model yang dapat digunakan untuk mengukur struktur pajak apakah cenderung untuk regresif, proporsional atiu progresif. Pertama, dengan menggunakan model statistik yaitu deviasi standar S% dan koefisien variasi (v%. Dengan membandingkan deviasi standar S% atau koefisien variasi (v% distribusi pendapatan masyarakat sebelum dan sesudah dikenakan pajak akan dapat diketahui apakah struktur pajak cenderung untuk regresif, proporsional atau progresit 3pabila S atau (v dari distribusi pendapatan setelah dipotong pajak lebih besar dibandingkan dengan sebelum pajak, berarti struktur pajak justru cenderung untuk regress. 3rtinya pengenaan pajak justru memperbesar ketimpangan distribusi pendapatan..3pabda S atau kv dari distribusi pendapatan sebelum dan sesudah dipotong pajak sama, maka struktur pajak bersifat proporsional. .al ini berarti ketimpangan distribusi pendapatan sebelum dan sesudah pengenaan pajak adalah relatif sama. Sebaliknya apabda S atau (v dari distribusi pendapatan setelah dikenakan pajak lebih keeil dibandingkan dengan sebelum pajak, maka struktur pajak bersifat progresif. .al ini berarti ketiinpangan distribusi pendapatan setelah pajak adalah lebih kecil dibandingkan dengan sebelum pajak. ;ara ini mempunyai kelemahaan yaitu kurang memperhatikan peranan jumlah rumah tangga atau penduduk untuk setiap kelas pandapatan .ananto Sigid, !"#/%. (edua, Suits !"99% mengukur indeks progresivitas dari suatu jenis pajak dengan langkah-langkah sebagai berikut. S8 > ! - 7 )(
?

(eterangan4 S > indeks Suits ? ( > 1///


?

'ilai 7 . dapat dicari dengan menggunakan persamaan 0%.


?

(eterangan4 < > tarip pajak. y > pendapatan setelah diperhitungkan dengan jumlah penduduk%.
?

Dalam praktek nilai < hanya diperoleh dari beberapa nilai y yang bersifat diskrit @Oleh karena itu persamaan 0% dapat didekati dengan persamaan *%
?

sebagai berikut4

Dengan melihat persamaan !% dan persamaan *%, maka nilai S.dapat diukur melalui persamaan $%.

Dengan menggunakan model ini dapat diketahui apakah struktur pajak bersifat regresif, proportional atau progresif. 3pabila S?. A / berarti struktur pajak bersifat regresic S? > / struktur pajak bersifat proportional dan S? B / berarti struktur pajak bersifat progresif. (etiga, Miyasto !""!% dalam disertasinya yang berjudul Pajak Penjualan dan Pajak Pertambahan 'ilai4 Studi Mengenai Dampak <erhadap .arga Penerimaan dan Struktur, telah mengukur indeks progresivitas PPn dan PP'. Dengan terlebih dahulu mengukur tarip efektif PPn dan PP' untuk masing- masing jenis komoditi, yaitu dengan menggunakan model Cinput-outputC, kemudian Miyasto menggunakan beberapa model indeks progresivitas untuk mangukur struktur PPn dan PP'. .asil temuannya menunjukkan bah&a struktur PPn dan PP' cenderung regresif. Salah satu model indeks progresivitas yang digunakan Miyasto adalah model Suits. Pendekatan Yang D g!nakan Da"a# Meng!k!r Str!kt!r PPN Dari Direktorat6enderal Pajak diperoleh data mengenai undang-undang dan peraturanperaturan PP' di 2ndonesia. Dari Direktorat 6enderal ini diperoleh juga informasiinformasi mengenai masalah-masalah PP' di 2ndonesia. Metode pengukuran SPP' > ! - 7P'')( 1%

(eterangan4 SPP' > indeks Suits untuk pajak pertambahan nilai. ( > 1///. dan persamaan4

(eterangan4 < > tarip pajak pertimbahan nilai.


PP'

Dengan diketernukannya SPP', yaitu indeks suits dari pajak pertambahan nilai maka akan dapat diketahui apakah struktur pajak pertarnbahan nflai di 2ndonesia bersifat regresif, proportional atau progresif. Dengan demikian akan dapat diketahui pula apakah sistem pajak tersebut sudah mencerminkan pririsip keadilan dalam perpajakan atau belum. Seperti dikatakan di muka bah&a Miyasto !""!% dalam disertasinya mengenai Pajak Penjualan dan Pajak Pertambahan 'ilai4 Studi Mengenai Dampak <erhadap .arga, Penerirnaan dan Struktur juga telah mengukur mengenai struktur pajak pertambahan nilai tersebut. Salah satu model yang digunakan adalah model indeks progresivitas dari Suits. Satu hal yang berbeda dari studi ini dengan disertasi Miyasto tersebut adalah tarip pajak per komoditi yang digunakan untuk mengukur indeks Suits tersebut. Dalam disertasinya, Miyasto menggunakan tarip efektif, yaitu tarip yang diukur melaiui dampak harga akibat pengenaan pajak pertambahan nilai. Sedangkan studi ini adalah mengggunakan tarip nominal, yaitu tarip yang ditetapkan pemerintah. Maksud digunakannya tarip nominal dalam studi ini adalah untuk melihat sarnpai seberapa jauh atensi pernerintah dalam

masalah distribusi began pajak pertambahan nilai pada masyarakat. 6adi dalam studi ini ingin diketahui lebihjauh, apakah kebijaksanaan penetapan beberapa jenis komoditi tidak kena pajak pertambahan nilai tersebut memang benar-benar diarahkan untuk menciptakan struktur pajak pertambahan nilai yang lebih adil. Dengan menggunakan tarip nominal bukan tarip efektif, akan dapat diisolasi dampak penetapan pajak pertambahan nilai dari suatu jenis kornoditi terhadap jenis-jenis komoditi lainnya. Sehingga dainpak dari kebijaksanaan penentuan berbagai komoditi tidak kena pajak pertambahan nilai dapat dipantau secara murni. <erminologi !. 0. *. $. 1. +. PP' > Pajak pertarnbahan nilai. PP',M > Pajak penjualan atas barang me&ah. PP'2 > Pajak pertambahan nilai yang berlaku sebelum PP 'o. 0# tahun !"##. PP'0 > Pajak pertambahan nflai yang berlaku setelah PP 'o. 0# tahun !"##. PP'* > Sistem PP' yang berlaku setelah 6anuari !""0. PPn,M! > Pajak penjualan atas barang me&ah yang berlaku sebelum PP 'o. 0" tahun !"##. 9. PPn,M0 > Pajak penjualan atas barang me&ah yang berlaku setelah PP 'o. 0" tahun !"##. #. PPn,M* > Pajak penjualan atas barang me&ah yang berlaku sejak 6anuari !""0. ". PP' D PPn,M! > Pajak pertambahan nilai dan pajak penjualan atas barang me&ah yang berlaku sebelum PP 'o. 0# dan 'o. 0" tabun !"##. !/. PP' D PPn,M0 > Pajak pertambahan nilai dan pajak penjualan atas barang me&ah yang berlaku setelah PP 'o. 0# dan 'o. 0" tahun !"##. !!. PP' D PPn,M* > Pajak pertani bahan nilai dan pajak penjualan atas barang me&ah yang berlaku setelah 6anuari !""0.

PPN $ PPNBM d Indones a Seperti telah diuraikan di muka bah&a penerapan sistem PP' dan PP',M di 2ndonesia didasarkan pada -- 'o. # tahun !"#*. =alaupun demikian sistem PP' dan PP',M tersebut baru berlaku mulai tanggal ! 3pril !"#1. Pada tahun !"## pemerintah mengeluarkan PP 'o. 0# dan PP 'o. 0", yaitu mengenai perluasan obyek pengenaan PP' dan peningkatan tarip PP',M. (emudian pada tahun !""0 pemerintah memperluas lagi obyek PP' sampai tingkat pengecer berskala besar dan meningkatkan tarip PP',M. Sampai saat ini PP' mempunyai tarip sebesar !/ persen untuk seluruh komoditi kena pajak, kecuali apabila komoditi tersebut diekspor. -ntuk komoditi yang diekspor dikenakan tarip PP' nol persen. Pengenaan tarip nol persen untuk komoditi-komoditi yang diekspor dimaksudkan untuk meningkatkan ekspor non migas. -ntuk barang-barang me&ah di samping dikenakan PP' sebesar !/ persen juga dikenakan PP',M dengan tarip sebesar !/, 0/, */ atau *1 persen tergantung dari jenis barang me&ahnya Peraturan Pemerintah 'o. +1)!""0%.

Penggantian PPn menjadi PP' di samping dimaksudkan untuk meningkatkan penerimaan dari sektor pajak, juga untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan dalam sistem PPn. Dengan PP' pemerintah bermaksud juga untuk menghilangkan pajak ganda yang menimbulkan dampak kenaikan harga yang lebih besar dibandingkan dengan tarip pajaknya. Pembebanan PP' didasarkan pada nilai tambah dari suaatu komoditi, sedangkan PPn didasarkan pada nilai total dari komoditi tersebut. Oleh karena itu dilihat dari dasar pengenaan pajak, maka penggantian PPn menjadi PP' akan menghilangkan pajak ganda. Dengan hilangnya pajak ganda, maka &ajib pajak banya membayar pajak sesuai dengan tarip yang telah ditentukan. -ntuk menciptakan struktur PP' yang relatifadil, pemerintah memberikan perlakuan- perlakuan khusus terhadap beberapa jenis komoditi dan pengusaha-pengusaha keeil. Perlakuan-perlakuan khusus tersebut adalah sebagai berikut. Pertama, beberapa jenis komoditi seperti komoditi- komoditi hasil pertanian, perikanan, dan pertambangan dinyatakan sebagai komoditi tidak kena PP'. -ntuk komoditikomoditi tersebut pada saat penjualan, tidak dikenakan pajak. <etapi pengusahapengusaha dari komoditi-komoditi tersebut tidak akan memperoleh kredit pajak, yaitu pajak masukan yang telah dibayar pada saat pembelian. Demikian juga pengusahapengusaha yang membeli komoditi- konioditi tersebut tidak akan memperoleh kredit pajak. <ernyata ketentuan dalam sistem kredit pajak ini justru menimbulkan-pajak ganda dalam sistem PP'. Pajak ganda te.rsebut timbul karena pengusaha-pengusaha yang menggunakan masukan antara tidak kena pajak di samping harus membayar pajak yang dihitung berdasarkan nilai jualnya, juga harus menanggung beban pajak masukan yang dilimpahkan oleh leveransirnya. Misalnya ada tiga perusahaan yang berada pada jalur vertikal dari suatu industri, yaitu perusahaan 3, ,, dan ;. Perusahaan 3 adalah importir kapas, perusaan , adalah perusahaan yang bergerak di bidang pemintaan, sedangkan perusahaan ; adalah perusahaan pertenunan. Perusahaan 3 menjual kapas pada perusahaan , dengan nilai penjualan Ep !// milyar. Perusahaan , menjual benang kepada perusahaan ; dengan nilai penjualan sebesar Ep !1/ milyar dan perusahaan ; menjual benang tenun pada konsumen dengan nilai penjualan Ep 01/ milyar. 3pabila semua produk yang dihasilkan oleh ke tiga perusahaan tersebut adalah barang kena pajak, maka perhitungan PP' yang harus ditanggung ke tiga perusahaan tersebut adalah sebagai berikut. Perusahaan 3 akan terkena PP' sebesar !/ persen dari Ep !// milyar, yaitu Ep !/ milyar. Perusahaan , pada &aktu menjual barangnya pada perusahaan ;, akan membayar pajak sebesar !/ persen dari Ep !1/ milyar, yaitu sebesar Ep !1 milyar. 'amun kemudian perusahaan tersebut akan memperoleh kredit pajak sebesar Ep !/ milyar. .al ini disebabkan pada saat membeli benang dari perusahaan 3, perusahaan , sudah menanggung pajak masukan sebesar Ep !/ milyar, yaitu pajak yang dibebankan oleh perusahaan 3 le&at harga benang. 6adi jumlah neto PP' yang dibayar oleh perusahaan , adalah Ep 1 milyar. Demikian juga perusahaan ;, pada saat menjual kain tenun, perusahaan tersebut harus membayar pajak !/ persen dari Ep 01/ milyar, yaitu Ep 01 milyar. 'amun kemudian perusahan ; akan menerima kredit pajak sebesar Ep !1 milyar, sehingga jumlah neto pajak yang dibayarnya adalah Ep !/ milyar. Oleh karena beban pajak tersebut selalu dialihkan ke muka, maka pada akhirnya konsumen kain tenun yang akan menanggung

beban PP'. (onsumen tersebut akan terkena pajak sebesar Ep !/ milyar F Ep 1 milyar F Ep !/ milyar atau sebesar Ep 01 milyar. 6umlah ini adalah sebesar !/ persen dari nilai kain tenun yang dijual pada konsumen, yaitu Ep 01/ milyar. Sekarang andaikata benang adalah barang tidak kena pajak. Dalam kasus ini PP' yang harus dibayar oleh importir adalah tetap, yaitu sebesar Ep !/ milyar. Perusahaan ,, pada saat menjual produknya tidak dikenakan pajak, karena perusahaan tersebut menjual barang tidak kena pajak. <etapi ddain pihak perusahaan , juga tidak mendapatkan kredit pajak, sehingga sebenarnya ia masih terkena pajak masukansebesar Ep !/ milyar, yaitu pajak yang dibebankan oleh perusahaan 3 melalui tingkat harga. ,eban pajak masukan ini nantinya akan dialihkan lagi ke muka, yaitu pada perusahaan ; melalui harga benang. Perusahaan ;, pada saat menjual kain tenun, harus membayar pajak sebesar !/persen dari Ep 01/ milyar, yaitu Ep 01 milyar, tetapi perusahaan tersebut tidak mendapatkan kredit pajak, karena menggunakan masukan-antara tidak kena pajak. Dengan demikian perusahaan ; harus membayar pajak sebesar Ep 01 milyar. 6umlah ini masih ditambah lagi dengan Ep !/ milyar, yaitu beban pajak masukan dari perusahaan ,, sehingga jumlah pajak yang dibayar oleh perusahaan ; adalah Ep *1 milyar. 6umlah pajak ini nantinya dibebankan pada konsumen. Dengan demikian, maka pada akhimya konsumen akan terkena pajak sebesar Ep *1 milyar, jadi lebih tinggi dari !/ persen. Padahal apabila seluruh jenis barang yang ada dalam jalur vertikal tersebut adalah barang kena pajak, konsumen hanya terkena pajak sebesar Ep 01 milyar. 6umlah Ep*1 milyar ini adalah kumulatif dari Ep 01 milyar dan Ep!/ milyar yaitu pajak masukan yang harus ditanggung sebagai akibat penggunaan berbagai jenis masukan-antara tidak kena pajak. Pada umumnya komoditi-komoditi yang tidak dikenakan PP' adalah komoditi- komoditi yang diperlukan oleh masyarakat golongan pendapatan rendah seperti, barang-barang hasil pertanian misalnya, padi, jagung, dan ubi%, peternakan, perikanan, dan pertambangan. Dengan demikian diharapkan penetapan beberapa jenis komoditi tidak kena pajak tersebut dapat menciptakan struktur PP' yang lebih adil. <etapi dilihat dari pajak ganda yang timbul sebagai akibat penetapan beherapa jenis komoditi tidak kena pajak tersebut perlu dipersoalkan sampai seberapa jauh penetapan beberapa jenis komoditi tidak kena pajak tersebut dapat menciptakan struktur pajak yang lebih menceminkan keadilan bagi masyarakat. .al ini mengingat bah&a sebagian besar komoditi- komoditi yang terkena pajak ganda tersebut adalah komoditi-komoditi yang diperlukan juga oleh masyarakat golongan pendapatan rendah. (edua, pengusaha- pengusaba kecil, yaitu pengusaha- pengusaha yang mempunyai peredaran bruto di@ba&ah Ep +/.///.///,--atau mempunyai modal usaha maksimum Ep !/.///.///,-- setahun, diberi kebebasan untuk memilih menjadi pengusaha kena pajak P(P% atau tidak menjadi pengusaha kena pajak (eputusan Menteri (euangan Eepublik 2ndonesia 'o. "+9)(M(. /$) !"#*%. ,agi pengusaha- pengusaha yang memilih menjadi P(P, maka seperti subyek pajak yang lain mereka dikenakan pajak berdasarkan nilai jual dari komoditi yang diusahakannya. (emudian mereka akan memperoleh kredit pajak sebesar pajak masukan yang telah dibayarnya. ,agi pengusaha-pengusaha yang tidak memilih menjadi P(P, tidak dikenakan pajak atas penjualan komoditi yang diusahakannya, tetapi juga tidak akan memperoleh kredit pajak. .al ini mengingat kredit

pajak hanya diberikan kepada P(P yang membeli komoditi kena pajak dari pengusaha kena pajak. Maksud utama pemerintah memberikan kebebasan kepada pengusaha- pengusaha kecil untuk tidak menjadi P(P adaGah untuk membantu meringankan biaya operasi dari pengusaha- pengusaha tersebut. Dengan memilih menjadi pengusaha tidak kena pajak, biaya operasi mereka akan relatif rendah, sehingga harga jualnya juga dapat relatif rendah. Dengan harga jual yang relatif rendah diharapkan pengusaha- pengusaha kecil tersebut dapat bersaing dengan pengusaha- pengusaha menengah dan besar. Dampak yang tidak menguntungkan akan dirasakan oleh P(P yang membeli komoditi bukan dari P(P. Pengusaha-pengusaha tersebut tidak akan memperoleh kredit pajak, &alaupun mereka adaah P(P. 6adi pengusaha-pengusaha tersebut di samping harus membayar pajak yang dihitung berdasarkan nilai penjualan, juga harus menanggung beban pajak masukan. .al ini memba&a konsekuensi P(P akan memilih membeli komoditi dari sesama P(P, karena dengan cara demikian mereka akan memperoleh kredit pajak. 6adi sebenarnya pengusaha- pengusaha kecil menghadapi dilema yaitu, menjadi subyek pajak dengan konsekuensi harus membayar pajak atau tidak menjadi subyek pajak dengan konsekuensi menghadapi kemungkinan kehilangan langgananlangganannya. 3pabila pengusaha-pengusaha keeil tersebut dapat menjual komoditinya kepada konsumen atau kepada pengusaha bukan P(2P, maka mereka dapat memanfaatkan kesempatan untuk menjadi pengusaha tidak kena pajak tanpa kha&atir akan kehilangan langganan- langganannya. Pengusaha-pengusaha kecil yang memilih tidak menjadi P(P, sebenarnya tidak bebas sama sekali dari beban PP'. Dengan tidak memperoleh kredit pajak sebenarnya pengusaha-pengusaha tersebut masih harus menanggung pajak masukan yang dibebankan leveransirnya melalui harga komoditi. ,eban pajak masukan ini justru mungkin lebih tinggi dibandingkan dengan pajak pertambahan nilai yang harus dibayar, apabila pengusaha keeil tersebut memilih menjadi P(P. 6adi dengan melihat adanya dilema tersebut maka perlakuan khusus pada pengusaha- pengusaha kecil belum sepenuhnya dapat menjamin keadilan dalam sistem PP'. Str!kt!r PPN dan PPNBM ,erdasarkan persamaan 1% dan persamaan +%, dapat dihitung indeks progresivitas dari Suits 2ihat <abel !%. <abel tersebut menunjukkan bah&a indeks progresivitas PP' bertanda negatif. <anda negatif pada indeks tersebut mempunyai makna bah&a pajak pertambahan nilai baik PP'!, PP'0 maupun PP'*% adalah bersifat regresif. Dalam sistem PP' dapat dilihat bah&a tingkat regresivitas dari PP'! dan PP'0 adalah lebih kecil dibandingkan dengan tingkat regresivitas dari PP'*. .al ini menunjukkan bah&a penetapan beberapa jenis komoditi tidak kena PP', telah dapat meningkatkan indeks progresivitas dari PP'. 6adi memang usaha pemerintah untuk mengurangi tingkat regresivitas struktur PP' melalui penetapan beberapa komoditi tidak kena PP', mencapai sasaran. Dari <abel yang disajikan juga dapat ditarik kesimpulan bah&a

semakin luas obyek PP', semakin regresif strukturnya. Dengan memasukkan pajak penjualan atas barang me&ah PPn,M%, tingkat regresivitas PP' temyata turun.
<abel !. lndeks Suits dari PP' dan PP',M

(eterangan
PP'! PP'0 PP'* PP' PPn,M! PP' PPn,M0

2ndeks Suits
-/,/$*0 -/,/"/! -/,/"!! -/,/$/$ -/,/9+/ -/,/9"0

PP' PPn,M* Sumber4 .asil perhitungan peneliti.

Dari <abel !. di atas dapat dilihat bah&a indeks progresivitas PP' D PPn,M!, temyata lebih besar dibandingkan dengan indeks progresivitas PP'!. Demikian juga indeks progresivitas PP' D PPn,M0 adalah lebih besar dibandingkan dengan 2ndeks progresivitas PP'0 dan indeks progresivitas PP' dan PPn,M* lebih besar dibandingkan dengan indeks progresivitas PP'*. .asil temuan tersebut menunjukkan bah&a pengenaan pajak penjualan atas barang-barang me&ah, baik sebelum PP. 'o. 0# dan 0" tahun !"## maupun sesudahnya, temyata memang dapat menurunkan tingkat regresivitas pajak pertamhahan nilai. =alaupun demikian penurunan tersebut adalah relatif kecil, kar,na tidak dapat menghadangkan sifat regresivitas dari struktur pajak pertambahan nilai. Dibandingkan dengan PP' D PPn,M!, dikeluarkannya PP 'o. 0# dan 0" tahun !"## ternyata menurunkan indeks progresivitas PP' D PP',M. Dari <abel !. dapat dilihat bah&a indeks progresivitas dari PP' D PPn,M! adalah lebih besar dibandingkan dengan indeks progresivitas PP' D PPn,M0. Demikian juga temyata indeks progresivitas PP' D PPn,M0 lebih besar dibandingkan dengan indeks progresivitas PP' D PPn,M*. Penurunan indeks progresivitas ini disebabkan pengaruh perluasan obyek PP' pada setiap perubahan Peraturan Pemerintah tersebut yang lebih besar dibandingkan dengan pengaruh peningkatan tarip PP',M. Dari uraian tersebut dapat dinyatakan bah&a &alaupun pengenaan pajak penjualan atas barang-barang me&ah dapat menurunkan tingkat regresivitas pajak pertambahan nilai, tapi penurunan tingkat regresivitas tersebut belum dapat menunjukkan bah&a pajak pertambahan nilai dan pajak penjualan atas barang- barang me&ah mencerminkan keadilan dalam perpajakan. Struktur pajak pertambahan nilai dan pajak penjualan atas barang-barang me&ah masih tetap regresil ,ahkan dengan adanya PP 0# dan 0" tahun !"##, PP 'o. +1 tahun !""0, tingkat regresivitas pajak pertambahan nilai dan pajak penjualan atas barang-barang me&ah tersebut justru meningkat dibandingkan dengan

sebelumnya. 2ni berarti bah&a beban pajak yang ditanggung oleh golongan rumah tangga berpendapatan rendah relatif meningkat. Salah satu hal yang menyebabkan pajak penjualan atas barang-barang me&ah tersebut belum dapat berperan banyak dalam menurunkan tingkat regresivitas struktur pajak pertambahan nilai, adalah berkaitan dengan penetapan jenis-jenis barang yang dikategorikan sebagai barang-barang me&ah. ,eberapa jenis barang seperti <eh botol, ;oca ;ola, Pepsi ;ola, dan Hanta sebenarnya tidak tepat apabila dimasukkan dalam kategori barang me&ah. ,arang-barang tersebut harganya relatif murah, sehingga banyak dikonsunisi oleh masyarakat golongan pendapatan rendah. Perhitungan indeks Suits untuk jenis minuman ringan tidak mengandung alkohol tersebut adalah /,!!/. 6adi pengunaan pajak penjualan atas barang-barang me&ah untuk jenis-jenis produk tersebut temyata mempunyai struktur yang regresif .al ini menunjukkan bah&a beban pajak tersebut lebih banyak ditanggung masyarakat golongan pendapatan rendah. Dalam PP',M itu sendiri temyata belum semua konsumsi me&ah dikenakan PP',M. Sesuai dengan istilahnya, yaitu pajak penjualan atas barang me&ah, maka PP',M hanya dikenakan pada barang-barang me&ah. 6asa-jasa me&ah seperti fitness centre$ night club, dan mandi uap belum dikenakan PP',M. Padahal jasa-jasa ini pada umumnya dikonsumsi oleh masyarakat golongan pendapatan menengah ke atas.

Pen!t!p
Dari tutisan tersebut maka ada beberapa hal yang perlu diketengahkan dalam studi ini yaitu4 Pertama, dalam rangka menurunkan tingkat regresivitas PP', pemerintah hendaknya mengevaluasi kembali penetapan jenis-jenis barang yang dikategorikan dalam barang-barang me&ah. ,eberapa jenis minuman dalam botol yang tidak mengandung alkohol, seperti tch botol, Hanta, dan ;oca ;ola sebaiknya dikeluarkan dari kategori barang-barang me&ah. 6enis-jenis barang tersebut harganya relatif murah, sehingga banyak juga dikonsumsi oleh masyarakat berpendapatan rendah. Sebaliknya barangbarang yang bersifat eksklusif yang harganya sangat mahal dapat dimasukkan dalam golongan barang-barang me&ah. Sebaiknya dalam menentukan apakah barang-barang tersebut masuk dalam kelompok barang me&ah atau tidak, pemerintah lebih mengkaitkan dengan harga relatif dari barang-barang tersebut dengan barang-barang yang sejenisnya. Sebagai contoh, kain &ool impor yang harganya sampai sepuluh kali lipat dari harga kain ;aterina atau ,ellini dapat dimasukkan dalam kategori barangbarang me&ah. -ntuk jenis-jenis barang tertentu, pengenaan PP',M hendaknya tidak hanya didasarkan pada jenis barang tersebut tetapi juga ditentukan secara progresif berdasarkan jumlahnya. Sebuah keluarga yang memiliki mobil me&ah lebih dari satu, maka ia harus dikenakan tarif PP',M yang lebih tinggi dibandingkan dengan sebuah keluarga yang hanya memiliki satu mobil me&ah. Pengenaan ini adalah &ajar, karena untuk masyarakat 2ndonesia sampai saat ini, memiliki mobil lebih dari satu dalam sebuah keluarga adalah lebih cenderung pada keme&ahan dibandingkan dengan kebutuhan. Pengenaan PP',M dengan cara demikian, di samping akan membuat struktur PP' dan PP',M lebih

progresif, juga dapat menghemat penggunaan prasarana dan energi riasional untuk tujuan- tujuan yang lebih produktif. 2stilah pajak penjualan atas barang me&ah lebih baik diganti dengan pijak penjualan atas konsumsi me&ah, schingga pengenaannya tidak terbatas pada barang-barang me&ah saja tetapi juga pada jasa-jasa me&ah. (onsumsi jasa- jasa me&ah seperti Cnight clubC, mandi uap, Cfitness centreC, dan sejenisnya dapat dikenakan pajak penjualan atas konsumsi me&ah. (onsumsi tersebut pada umumnya dilakukan olch golongan masyarakat berpendapatan menengah dan tinggi, sehingga dengan dikenakannya pajak penjualan atas korksumsi me&ah diharapkan struktur PP' akan berkurang tingkat regresivitasnya. .al ini tentu saja dengan pengertian bah&a conforcement-nya dapat dilaksanakan. Kedua, pemerintah sebaiknya memberikan ketentuan tambahan dalam sistem kredit pajak sebagai berikut. P(P yang membeli komoditi kena pajak dari pengusaha- pengusaha kecil, akan mendapatkan kredit pijak, &alaupun pengusaha- pengusaha tersebut membeli dari pengusaha-pengusaha kecil bukan P(P. ,esarnya pajak hendaknya sama dengan kredit pajak yang akan diperolehnya, apabila mereka membeli komoditi yang sama dari P(P. Dengan ketentuan tambahan ini maka pengusaha-pengusaha kecil akan dapat memilih tidak menjadi P(P tanpa kha&atirakan kehilangan langganan. .al ini juga akan mendorong pengusaha- pengusaha kecil untuk memiliki administrasi yang lebih baik. Sebagai contoh, agar langganan dapat memperoleh kredit pajak, maka pengusaha-pengusaha kecil tersebut dituntut untuk selalu memberikan nota penjualan kepada pembeli- pembelinya. Mereka juga dituntut untuk mempunyai pembukuan yang baik, terutama yang berkaitan dengan posisi dan perkembangan keuangan perusahaan. Pembukuan yang baik ini diperlukan untuk membuktikan bah&a pengusaha tersebut memang masih dapat dikategorikan sebagai pengusaha kecil. Ketiga, pengusaha-pengusaha kecil letap dinyatakan sebagai pengusaha kena pajak, tetapi dengan tarip khusus, misalnya 1 persen. Dengan menyatakan bah&a pengusahapengusaha tersebut sebagai P(P, maka mereka akan memperoleh kredit pajak. Demikian juga pengusaha-pengusaha yang membeli produk dari pengusaha- pengusaha tersebut akan memperoleh kredit pajak. Dengan demikian, kekha&atiran pengusaha-pengusaha kecil akan kehilangan langganan-langganannya sebagai akibat pengenaan PP' tidak akan terjadi. Iang perlu diperhatikan dalam kasus ini adalah agar dampak restitusi yang diakibatkan oleh ketentuan dalam sistem kredit pajak tersebut tidak lebih besar dibandingkan .dengan jumlah pajak yang diterima oleh pemerintah.

Da%tar P!staka
,oediono, ,. !"90%. Pa%ak Pen%ualan. 6akarta. Direktorat 6enderal Pajak.

,oediono. !"#!%. &engenal 'eberapa &etode K(antitatif dalam !lmu Ekinomi. Iogyakarta4 ,PH: -:M. ,iro Pusat Statistik. ! "" !%. Statistik !ndonesia !""/. 6aka rta. Dresch, S.P., 7in 3n-7oh, and Stout D.(. !"99. Substituting a "alue Added axfor he #orporate !ncome ax) FirstAroundAnal*sis) #ambridge$ &assachusetts. 'ational ,ureau of Jconomic Eesearch, 2nc. :uerard, M. ! "9*, March%. he 'ra+ilian State "alue Added <a8. 2MH-SP 0/, .ananto, Sigid. !"#/, 6anuari%. &asalah Penghitungan Distribusi Pendapatan di !ndonesia. Prisma, !%. 2brahim, Saadudin dan (artoatmodjo, Pranoto. !"#!%. Klasifikasi Pa%ak Pen%ualan dalam ,egeri -akarta4 6aya Persada. (ak&ani, '. ;. !"99%. &easurement of tax progressivit*4 An !nternational #omparison. Jconomic 6ournal, #9, 9!-#/. (unbur, M.:., and 7iras, P. !"#1%. "A Substitution and !ts Effects on Domesticof Pricesof Greek Econom*) Unpublished DiscussionPaper. -niversity of ,irmingham. 7ent :.J., ;asanegara M., and :uemrd, M. !"9*, 6uly%. he "alueAdded ax in Developing #ountries. 2MH-SP. 0/, *!#-*9#. 7eontief, =. !"1!%. !nput .utput Economics. Dalam <o&nsen, .arry ed.%. Eeading Price <heory. Middlese84 Penguin ,ook 7td., .armonds&orth. Mc7ure, 6r., ;harles, J. !"9*%. Economic Effects of a*ing "alueAdded. dalam Musgrave, Eichard 3. ed.%. ,road ,ased <a8es4 'e& Options and Sources. ,altiinore dan 7ondon4 <he 6ohns .opkins -niversity Press. Miyasto. !""!%. Pa%ak Pen%ualan dan Pa%ak Pertambahan ,ilai)) Studi &engenai Dampak terhadap /arga$Penerimaan dan Struktur. Disertasi yang <idak Dipublikasikan. -niversitas :adjah Mada. Iogyakarta. Muna&ir, S. ! "#1%. Pokok0Pokok Perpa%akan. Iogyakarta4 7iberty. Musgrave, E.3., and Mi7sgrave, P.,. !"#$%. Public Finance in heor* and Practice. 7ondon4 Mc:ra&-.ill ,ook ;ompany. Peraturan Pemerintah 1epublik !ndonesia ,omor 23 ahun 45 6337. 6akarta. Peraturan Pemerintah 1epublik !ndonesia ,omor 26 ahun 456337. 6akarta.

Peraturan Pemerintah 1epublik !ndonesia ,omor 89 ahun 456627. 6akarta. Singer, 'cil M. ! "9+%. Public &icroeconomics an !ntroduction to Government Finance) ,oston <oronto4 7ittle, ,ro&n and ;ompany. Suits, D.,., !"99%. &easurement of ax Progressivit*. 3merican Jconomic Eevie&, +9,9$9-10. Surat Keputusan &enteri Keuangan 1epublik !ndonesia ,omor4 "9O)(M(. /$! !"#-*, 6akarta. Iotopoulus, Paul 3., and 'ugent 6effrey ,. !"9+%. Economics of Development)$ Empirical !nvestigations. 'e& Iork4 .arper D Eo& Publishers -ndang--ndang 'o. # <ahun !"#*, <entang Pajak Pertambahan 'ilai ,arang dan 6asa dan Penjualan atas ,arang Me&ah beserta Peraturan Pelaksanaannya. 6akarta.