Anda di halaman 1dari 88

EFEKTIFITAS EKSTRAK TERIPANG PASIR YANG TELAH DIFORMULASIKAN TERHADAP MASKULINISASI UDANG GALAH

HARYO TRIAJIE

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2008

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI


Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul Efektifitas Ekstrak Teripang Pasir yang Telah Diformulasikan terhadap Maskulinisasi Udang Galah adalah karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Juli 2008

Haryo Triajie C151060061

Ringkasan

HARYO TRIAJIE. Efektifitas Ekstrak Teripang Pasir yang Telah Diformulasikan terhadap Maskulinisasi Udang Galah. Dibimbing oleh AGUS OMAN SUDRAJAT dan ETTY RIANI Penelitian ini dilakukan untuk menentukan tingkat efektivitas dari ekstrak teripang pasir yang sudah diformulasikan untuk sex reversal juvenil udang galah (Macrobrachium rosenbergii de Man) pada saat sebelum perubahan kelamin. Ekstrak teripang pasir merupakan alternatif hormon alamiah pengganti hormon sintetik dan bahan kimia lainnya dalam sex reversal. Perlakuan pemberian ekstrak teripang dengan metode dipping saat fase juvenil-satu udang galah atau 29 hari setelah menetas pada berbagai dosis dan dikombinasikan dengan tingkatan waktu perendaman yaitu 12, 24, dan 36 jam. Setelah 30 hari juvenil udang galah dipelihara, dilakukan analisis kadar testosteron dalam hemolymph. Pada dosis 10, 15, 25 mg/l dengan waktu perendaman 12, 24 dan 36 jam, secara umum baik ekstrak segar yang telah diformulasi maupun yang telah disimpan selama 30 hari dan juga telah diformulasi, mampu meningkatkan jumlah jantan. Pemberian 25 mg/l ekstrak teripang dengan waktu perendaman 36 jam, menghasilkan jumlah jantan tertinggi (66,66-67,31%). Ekstrak teripang pasir berpengaruh terhadap SR juvenil udang galah.

Hak cipta milik IPB, tahun 2008 Hak cipta dilindungi 1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebut sumber a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan wajar IPB 2. Dilarang menggunakan atau memperbanyak sebagian atau seluruhnya karya tulis ini dalam bentuk apapun tanpa seijin IPB

EFEKTIFITAS EKSTRAK TERIPANG PASIR YANG TELAH DIFORMULASIKAN TERHADAP MASKULINISASI UDANG GALAH

HARYO TRIAJIE

Tesis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Ilmu Perairan

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2008

Judul Tesis : Efektifitas Ekstrak Teripang Pasir yang Telah Diformulasikan terhadap Maskulinisasi Udang Galah Nama : Haryo Triajie NIM : C151060061

Disetujui Komisi pembimbing

Dr. Ir. Agus Oman Sudrajat, M.Sc Ketua

Dr. Ir. Etty Riani, MS Anggota

Diketahui Ketua Program Studi Ilmu Perairan Dekan Sekolah Pascasarjana

Prof. Dr. Ir. Enang Harris, MS

Prof. Dr. Ir. Khairil Anwar Notodiputro, MS

Tanggal Ujian: 2 Juli 2007

Tanggal Lulus:

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini dengan judul Efektifitas Ekstrak Teripang Pasir yang Telah Diformulasikan terhadap Maskulinisasi Udang Galah dapat diselesaikan. Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr. Ir. Agus Oman Sudrajat, M.Sc dan Ibu Dr. Ir. Etty Riani, MS selaku komisi pembimbing yang telah banyak memberi arahan dan saran selama penelitian dan penulisan tesis ini sehingga penulis dapat menyelesaikannya dengan baik, serta Bapak Dr. Ir. Odang Carman, M.Sc, sebagai dosen penguji atas arahan dan saran. Tidak lupa, terimakasih penulis ucapkan kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional atas pemberian Beasiswa Pendidikan Pasca Sarjana (BPPS) dan Program Hibah Penelitian Tim Pascasarjana (HPTP) tahun 2007 yang diketuai oleh Ibu Dr. Ir. Etty Riani, MS, sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan baik. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada Bapak Ir. Maskur sebagai kepala Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, dan kepada Bapak Dasu Rohmana, S.Pi beserta staf Sub Unit Pengembangan dan Pembenihan Udang Galah (SUPPUG) Pelabuhan Ratu, yang telah banyak membantu selama pelaksanaan penelitian. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, ibu, bapak-ibu mertua, kakak, adik, istri, dan anakku, atas segala doa dan kasih sayangnya serta rekan-rekan mahasiswa Pascasarjana Program studi Ilmu Perairan atas bantuan dan kerjasamanya selama ini. Akhirnya semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi semua. Amin.

Bogor, Juli 2008

Haryo Triajie

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Malang propinsi Jawa Timur pada tanggal 30 Mei 1977 dari pasangan Srie Utomo dan Pri Pudji Lestari. Penulis merupakan anak ke tiga dari empat bersaudara. Tahun 1995 penulis lulus dari SMA Negeri 7 Malang dan pendidikan sarjana ditempuh di jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan, program studi Budidaya Perairan Universitas Brawijaya Malang, lulus pada tahun 2002. Kesempatan untuk melanjutkan ke program Magister Sains pada program studi Ilmu Perairan diperoleh pada tahun 2006. Beasiswa program Magister diperoleh dari BPPS Departemen Pendidikan Nasional. Penulis bekerja sebagai tenaga ahli perikanan di PT. Trans Intra Asia Jakarta sejak tahun 2001 sampai 2003, dan sejak tahun 2003 sampai sekarang penulis bekerja sebagai staf pengajar pada Fakultas Pertanian Jurusan Ilmu Kelautan Universitas Trunojoyo, Bangkalan Madura.

DAFTAR ISI

Halaman DAFTAR TABEL ............................................................................................................... ii DAFTAR GAMBAR........................................................................................................... iii DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................................... iv PENDAHULUAN Latar Belakang .............................................................................................................. 1 Tujuan Penelitian........................................................................................................... 3 Hipotesis ........................................................................................................................ 3 TINJAUAN PUSTAKA Sex Reversal dan Diferensiasi Kelamin ........................................................................ 4 Pengaturan Jenis Kelamin ............................................................................................ 6 Peranan Hormon ............................................................................................................ 7 Hormon Steroid ............................................................................................................. 7 Metode Pemberian Hormon Steroid .............................................................................. 9 Mekanisme Maskulinisasi ............................................................................................. 11 Biologi Udang Galah ..................................................................................................... 12 Formulasi Ekstrak Teripang .......................................................................................... 14 METODOLOGI Tempat dan Waktu Penelitian ....................................................................................... 16 Metode Penelitian ......................................................................................................... 16 Parameter Penelitian ...................................................................................................... 16 Teknik pengumpulan data ............................................................................................. 18 Prosedur pelaksanaan .................................................................................................... 19 Analisis data .................................................................................................................. 20 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil .............................................................................................................................. 21 A. Nisbah Kelamin ....................................................................................................... 21 B. Kelangsungan Hidup ............................................................................................... 24 C. Pertumbuhan Juvenil ............................................................................................... 27 D. Kualitas Air ............................................................................................................. 30 E. Uji Kadar Testosteron ............................................................................................. 31 F. Karakterisasi Fisik dan Kimia ................................................................................. 31 Pembahasan ...................................................................................................................33 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan....................................................................................................................39 Saran .............................................................................................................................. 39 DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................... 40 LAMPIRAN ........................................................................................................................ 47

DAFTAR TABEL

Halaman 1. Metode yang digunakan untuk mengukur variabel penelitian....................................... 18 2. Persentase udang galah berkelamin jantan pada perlakuan ekstrak segar teripang ....... 21 3. Persentase udang galah berkelamin jantan pada perlakuan ekstrak teripang yang telah disimpan selama 30 hari ....................................................................................... 23 4. Persentase kelangsungan hidup udang galah pada perlakuan ekstrak segar teripang ... 24 5. Persentase kelangsungan hidup udang galah pada perlakuan ekstrak teripang yang telah disimpan selama 30 hari ....................................................................................... 25 6. Pertambahan panjang dan bobot tubuh juvenil udang galah pada perlakuan ekstrak segar teripang pasir ........................................................................................................ 27 7. Rata- rata pertumbuhan harian (ADG) juvenil udang galah pada perlakuan ekstrak segar teripang pasir ........................................................................................................ 28 8. Pertambahan panjang dan bobot tubuh juvenil udang galah pada perlakuan ekstrak teripang yang telah disimpan selama 30 hari ................................................................ 29 9. Rata-rata pertumbuhan harian (ADG) juvenil udang galah pada perlakuan ekstrak teripang yang telah disimpan selama 30 hari ................................................................ 30 10. Karakterisasi fisik teripang pasir ................................................................................... 31 11. Karakterisasi kimia teripang pasir berdasarkan uji proximat ........................................ 32

DAFTAR GAMBAR

Halaman 1. Kerangka inti steroid (cyclopentanohydrophenanthrene) (a) dan testosteron (b) ......... 8 2. Sensitivitas tahapan diferensiasi kelamin terhadap hormon steroid pada teleostei ....... 10 3. Diagram pengaruh perlakuan hormon steroid terhadap pertumbuhan ikan teleostei ... 11 4. Persentase udang galah jantan pada masing-masing perlakuan .................................... 13 5. Perbedaan morfologi udang galah jantan dan betina ..................................................... 13 6. Alat kelamin udang galah dilihat dari sisi abdominal ................................................... 14 7. Morfologi kaki renang kedua udang galah .................................................................... 19 8. Grafik persentase udang jantan pada perlakuan ekstrak segar teripang pasir ............... 22 9. Grafik persentase udang jantan pada masing-masing perlakuan pada perlakuan ekstrak teripang pasir yang telah disimpan selama 30 hari ........................................................ 23 10. Grafik persentase kelangsungan hidup udang galah pada perlakuan ekstrak segar teripang pasir ................................................................................................................. 25 11. Grafik persentase kelangsungan hidup udang galah pada perlakuan ekstrak teripang pasir yang telah disimpan selama 30 hari ...................................................................... 26 12. Grafik kadar testosteron pada setiap perlakuan ............................................................. 31

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman 1. Tahapan ekstraksi teripang dan tahapan percobaan ...................................................... 47 2. Tahapan perendaman juvenil menggunakan ekstrak teripang ....................................... 48 3. Komposisi pakan buatan untuk juvenil udang galah jenis crumble C-581 L produksi Charoen Phokphan......................................................................................................... 49 4. Kadar testosteron dalam hemolymph udang galah pada percobaan pertama dan kedua.............................................................................................................................. 50 5. Appendix masculinus pada kaki renang ke-2 Macrobrachium rosenbergii jantan ....... 51 6. Kualitas air media pemeliharaan juvenil pada percobaan pertama dan kedua .............. 52 7. Analisis statistik udang galah berkelamin jantan pada pecobaan pertama .................... 53 8. Analisis statistik kelangsungan hidup udang galah pada percobaan kedua................... 56 9. Analisis statistik udang galah berkelamin jantan pada percobaan kedua ...................... 59 10. Analisis statistik kelangsungan hidup udang galah pada percobaan kedua................... 62 11. Uji BNT untuk udang galah berkelamin jantan pada percobaan pertama ..................... 65 12. Uji BNT untuk kelangsungan hidup udang galah pada percobaan petama ................... 68 13. Uji BNT untuk udang galah berkelamin jantan pada percobaan kedua ........................ 71 14. Uji BNT untuk kelangsungan hidup udang galah pada percobaan kedua ..................... 74

PENDAHULUAN

Latar Belakang Potensi udang galah jantan sebagai komoditas budidaya perikanan air tawar cukup besar untuk dikembangkan, karena memiliki berbagai kelebihan antar lain: memiliki laju pertumbuhan yang relatif cepat dibandingkan yang betina, dalam hal ini dalam 3 bulan pemeliharaan dapat mencapai bobot tiga kali lebih besar dari betina yaitu 42-102 g/ekor dengan panjang 25 cm/ekor (Bardach dalam Hadie et al. 2001), sehingga pemeliharaan udang galah yang berjenis kelamin jantan yang dihasilkan melalui teknologi sex reversal dalam kegiatan budidaya akan lebih menguntungkan. Perkembangan usaha budidaya udang dimasa yang akan datang supaya tetap kontinu tergantung pada beberapa hal, salah satunya adalah ketersediaan benih dalam jumlah yang cukup. Oleh karena itu, melalui pemanfaatan teknologi produksi benih yang efisien akan dapat meningkatkan produksi hewan budidaya perairan yang sesuai dengan permintaan konsumen (pasar). Pengembangan alternatif sistem budidaya secara tunggal kelamin (monosex culture) melalui teknologi yang ramah lingkungan merupakan salah satu usaha untuk mendapatkan produksi udang galah dengan cepat. Sex reversal merupakan suatu teknik pengarahan deferensiasi kelamin untuk mengubah jenis kelamin secara buatan dari jenis kelamin jantan secara genetik menjadi berjenis kelamin betina fenotipe atau sebaliknya. Terdapat dua cara untuk mengubah kelamin dalam suatu populasi ikan yaitu manipulasi lingkungan dan rangsangan hormonal. Aplikasi yang sering digunakan adalah rangsangan hormonal karena cara ini cepat, tepat, praktis dan biasanya dilakukan dengan metode penyuntikan (Mirza dan Selton 1988), pemberian secara oral lewat pakan (Eckstein dan Spira dalam Hepher dan Pruginin 1981), dan melalui perendaman (Hunter dan Donaldson 1983). Sex reversal banyak dilakukan secara oral lewat pakan dan perendaman dengan pemberian hormon sintetik seperti 17-metilterstosteron (MT), 17-etiniltestosteron (ET), 17-eatradiol (E), Dietilstilbestrol (DES), dan Trebolon acetate (TBA) dan obat-obatan farmasi seperti aromatase inhibitor (AI), fadrozole (FAD), dan tributyltin (TBT) (Kuhl dan Brouwer 2005).

Industri perikanan budidaya selama ini banyak menggunakan hormon sintetik (MT). Senyawa ini mempunyai kelemahan yaitu sulit terurai di dalam tubuh, bersifat karsinogenik, mencemari lingkungan, dan seringkali menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan, bahkan saat ini peredarannya sudah dilarang. Sedangkan senyawa alami mempunyai kelebihan yaitu mudah terurai oleh tubuh dan efek samping yang ditimbulkan sedikit (Wiryowidagdo 2005). Oleh karena itu, perlu alternatif untuk mengganti hormon sintetik dan bahan kimia sintetik lainnya dengan hormon almiah dari teripang pasir. Menurut Riani et al. (2005), pada ekstrak tubuh teripang pasir terdapat hormon androgen Teripang atau timun laut (Echinodermata) adalah salah satu jenis komoditi laut yang bernilai domestik maupun internasional sub sektor perikanan yang cukup potensial. Salah satu zat bioaktif yang terkandung dalam teripang adalah senyawa steroid. Senyawa ini merupakan salah satu jenis hormon yang memiliki nilai ekonomis penting dalam industri farmasi sebagai aprodisiaka (penambah vitalitas) dan pembalikan sifat kelamin (sex reversal). Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Riani et al. (2005) dan Kustiariyah (2006), menjelaskan bahwa ekstrak teripang pasir (Holothuria scabra Jaeger) mengandung senyawa steroid. Hasil analisis GC-MS dan NMR menunjukkan bahwa berat molekul steroid ekstrak teripang adalah 288,42 yang merupakan jenis testosteron. Identifikasi dan karakteristik steroid hasil ekstraksi daging teripang dengan menggunakan thin layer cromatography (TLC) dan pengamatan dengan sinar UV pada panjang gelombang 254 nm dan 366 nm didapatkan fraksi dengan nilai Rf (retardation factor) 0,91 yang menunjukkan bahwa ekstrak teripang mengandung testosteron dan 0,96 sebagai kolesterol. Pemberian hormon dari ekstrak daging teripang melalui perendaman selama 24 jam dengan dosis 2 mg/l mampu mengarahkan juvenil udang galah menjadi jantan sebesar 49,65% (Arisandi 2007). Emilda (2008), menyebutkan bahwa pemberian ekstrak steroid pada induk ikan gapi dengan dosis 4 mg/l selama 24 jam perendaman dapat mengasilkan persentase anak yang berkelamin jantan sebesar 65,13 %. Hadie et al. (2001) juga menjelaskan bahwa pemberian hormon 17metiltestosteron selama 24 jam sebesar 25 mg/L pada larva udang galah menghasilkan 82,22% jantan. Sarida (2005) menyatakan dengan dosis MT 10 mg/kg pakan ditambah dengan AI 2000 mg/kg dapat meningkatkan jumlah jantan

udang galah sebesar 77,77%. Pemberian 30 mg/l AI pada suhu 28-32oC meningkatkan prosentase jantan pada larva ikan lele sebesar 72,3-72,5% (Massengreng 2007). Ikan nila dengan pemberian FAD menghasilkan populasi jantan 100% ( Afonso 2001 dan Kwon et al. 2000 dalam Kulh dan Brouwer 2005). TBT 100 ng/l yang diberikan pada ikan zebra yang dipelihara selam 30 hari menghasilkan populasi jantan 100% (McAllister dan Kime 2003 dalam Kulh dan Brouwer 2005). Secara fisiologis, jenis kelamin ikan dapat diarahkan dengan menggunakan hormon steroid. Perlakuan hormon dilakukan pada periode labil yaitu sebelum gonad berdiferensiasi saat masih sensitif terhadap perlakuan hormon (Yamazaki 1983). Pernyataan ini juga disampaikan oleh Edward dalam Melecha et al. (1992), bahwa jaringan gonad pada udang galah yang belum terdiferensiasi masih labil untuk jangka pendek, tetapi perkembangannya akan meningkat sejalan dengan umur seperti pada vertebrata. Piferrer (2001), juga menjelaskan bahwa sensitivitas hormon steroid terhadap perkembangan diferensiasi sangat tergantung pada fase perkembangan gonad yang terjadi, sehingga puncak sensitivitasnya terjadi setelah fase pembelahan sel jaringan gonad atau sebelum jaringan gonad terdiferensiasi. Keberhasilan penggunaan hormon untuk proses pengarahan diferensiasi bergantung pada beberapa faktor yaitu jenis hormon, dosis yang digunakan, cara dan lama penggunaan, jenis dan umur spesies, serta faktor lingkungan terutama suhu air media (Hunter dan Donaldson 1983). Penelitian untuk mendapatkan jantan kelamin tunggal (monosek) yang maksimal dengan menggunakan hormon alami dari ekstrak teripang pasir melalui teknologi sex reversal terhadap perubahan jenis kelamin pada udang galah masih sangat terbatas, sedangkan informasi tentang efektivitas ekstrak teripang hasil formulasi belum pernah dilakukan, oleh karena itu perlu segera dilakukan penelitian sebagai salah satu alternatif untuk memecahkan masalah tersebut Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan menentukan tingkat efektivitas ekstrak kasar daging teripang yang telah diformulasikan dalam maskulinisasi udang galah Hipotesis Pemberian ekstrak kasar daging teripang hasil formulasi dapat meningkatkan populasi udang galah jantan

TINJAUAN PUSTAKA

Sex Reversal dan Diferensiasi Kelamin Teknik pengarahan diferensiasi kelamin untuk mengubah jenis kelamin secara buatan dari jenis kelamin jantan secara genetik menjadi jenis kelamin betina fenotif atau sebaliknya disebut teknik sex reversal. Teknik ini secara buatan dimungkinkan karena pada awal perkembangan embrio atau larva belum terjadi deferensiasi kelamin (Carman et al. 1998). Secara genetik, jenis kelamin suatu individu sudah ditetapkan pada saat pembuahan. Akan tetapi pada masa embrio, jaringan bakal gonad masih berada dalam masa indiferent. Pada suatu jaringan bakal jantan atau betina sebenarnya struktur jantan dan betina sudah ada dan tinggal menunggu proses diferensiasi dan penekanan ke arah aspek-aspek jantan dan betina (Matty 1985). Menurut Carman et al. (1998), pada saat awal pertumbuhan zigot hingga larva, pembentukan jenis kelaminnya masih labil. Hal ini diduga karena fungsi kromosom kelamin dalam menentukan jenis kelamin masih belum aktif. Piferrer (2001) menyatakan bahwa diferensiasi kelamin meliputi seluruh aktivitas yang berhubungan dengan keberadaan gonad, yang meliputi perpindahan awal sel nutfah, munculnya bagian tepi gonad dan diferensiasi gonad menjadi testis atau ovari. Selanjutnya dikatakan bahwa diferensiasi kelamin pada ikan dapat melalui dua jalan yang berbeda. Jalan pertama gonad secara langsung berdiferensiasi menjadi ovari atau testis, sedangkan jalan yang kedua ikan akan berdiferensasi menjadi ovari kemudian berubah menjadi testis. Menurut Pandian dan Sheela (1995), masa diferensiasi seks ikan sangat beragam bergantung kepada spesies. Diferensiasi seks pada golongan Ochlids dan Cyprinodontids berlangsung antara 10-30 hari setelah penetasan, sedangkan pada golongan Anabamids antara 3-40 hari. Selanjutnya Nagy et al. (1981), menjelaskan bahwa diferensiasi kelamin pada ikan mas (Cyprinus carpio, L.) terjadi pada 8-98 hari setelah penetasan. Menurut Piferrer (2001) beragamnya diferensiasi seks ini sangat bergantung pada kondisi periode labil masing-masing spesies ikan, karena efektivitas perlakuan hormon steroid, sangat ditentukan oleh kondisi labil dari spesies ikan masing-masing. Pandian dan Sheela (1995), juga menerangkan bahwa

pada beberapa spesies ikan diferensiasi seks dapat dimulai dari embrio, setelah penetasan (larva), juvenil, bahkan dewasa. Menurut Malecha et al. (1992), diduga jaringan gonad udang galah (Macrobrachium rosenbergii) yang belum terdiferensiasi masih labil untuk jangka pendek, tetapi perkembangannya akan meningkat sejalan dengan umur seperti pada vertebrata. Selanjutnya dikatakan bahwa determinasi gene jantan Macrobrachium rosenbergii tidak berfungsi dengan baik selama periode larva ke pasca larva, tetapi akan muncul kemudian pada awal perkembangan juvenil. Menurut Hunter dan Donaldson (1983), interval waktu perkembangan gonad sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pemberian hormon, terutama pada saat gonad dalam keadaan labil. Hal ini berhubungan dengan fungsi hormon steroid yang bekerja sebagai perangsang terjadinya diferensiasi. Perkembangan morfologi seks sekunder pada udang windu hampir lengkap (sempurna) pada panjang karapas 10,8 mm untuk yang jantan, sedangkan pada betina terjadi pada saat panjang karapasnya 11,3 mm. Dengan demikian maka seks sekunder diperkirakan terjadi pada panjang total 24,8-25,9 mm (Motoh 1981). Menurut Malecha et al. (1992), perubahan fungsi seks pada udang galah betina dengan morfologi seks sekunder yang mendekati lengkap terjadi pada panjang karapas antara 6,5-7,5 mm atau mendekati umur 30 hari setelah pasca larva. Selanjutnya dikatakan, bahwa implantasi jaringan kelenjar androgenik di bawah ukuran panjang karapas 7,5 mm pada juvenil udang galah betina telah menyebabkan perkembangan testis dengan menekan secara keseluruhan sifat-sifat betina dan menunjukkan perkembangan yang lengkap dengan karakteristik seks sekunder jantan yang normal. Sedangkan pada implantasi jaringan androgenik di atas ukuran ini secara fenotipe tidak terjadi perubahan kelamin walaupun tingkah laku dan seks sekundernya jantan dengan sifat yang kelihatan normal, tetapi pada saluran reproduksi internalnya rusak dan infertil. Namun menurut Mantel dan Dudgeon (2005), perubahan fungsi kelamin udang galah dengan morfologi kelamin sekunder mendekati lengkap terjadi saat panjang karapas 15 mm-17 mm

Pengaturan Jenis Kelamin Perubahan kelamin adalah upaya yang dilakukan untuk mengubah status kelamin baik dari jantan menjadi betina ataupun sebaliknya. Pada ikan, hal ini dapat dilakukan melalui pendekatan hormonal dan genetik, diduga pada udang pun dapat dilakukan pendekatan yang sama (Sumantadinata dan Carman 1995). Menurut Yamazaki (1983), pendekatan hormonal biasanya dilakukan dengan cara pemberian hormon steroid (kelompok androgen dan estrogen) sebelum diferensiasi terjadi. Sedangkan pendekatan genetik dilakukan melalui persilangan antar spesies/genus tertentu, jenis kelamin ikan memiliki arti penting dalam pengembangbiakannya, karena antara jantan dan betina terdapat perbedaan laju pertumbuhan, pola tingkah laku dan ukuran maksimum individu Jenis kelamin suatu individu ditentukan oleh faktor genetis dan lingkungan. Kedua faktor tersebut akan bekerja secara sinergis untuk menentukan ekspresi fenotipe suatu karakter. Faktor genetis yang menetukan jenis kelamin yaitu kromosom seks atau gonosom yang mengandung faktor gen-gen jantan dan betina. Sedangkan yang tidak menentukan jenis kelamin disebut kromosom biasa atau autosom (Kirpichnikov 1981; Yatim 1986). Menurut Yatim (1986), perubahan jenis kelamin dapat terjadi secara alami dan buatan. Perubahan kelamin secara alami adalah perubahan kelamin yang disebabkan oleh faktor lingkungan dengan susunan genetiknya tidak mengalami perubahan. Sedangkan perubahan kelamin buatan merupakan usaha manusia untuk mengarahkan perkembangan organ reproduksi dengan pemberian bahan yang dapat merangsang perubahan tersebut. Selanjutnya menurut Chan dan Yeung (1983) perubahan kelamin buatan untuk menghasilkan individu dengan fenotipe kelamin yang tidak sama dengan kelamin genotipenya. Perubahan jenis kelamin secara buatan dimungkinkan karena pada fase pertumbuhan gonad belum terjadi diferensiasi kelamin dan belum ada pembentukan steroid sehingga pembentukan gonad dapat diarahkan dengan menggunakan hormon steroid sintesis (Yamazaki 1983; Hunter dan Donaldson 1983). Selanjutnya Yamazaki (1983) menyatakan bahwa hormon steroid tersebut dapat mengatur beberapa fenomena reproduksi misalnya proses diferensiasi gonad, pembentukan gamet, ovulasi, spermiasi, pemijahan atau tingkah laku kawin, ciri-ciri seks

sekunder, perubahan morfologis atau fisiologis pada musim pemijahan atau produksi feromon. Di antara fenomena tersebut diferensiasi gonad terjadi lebih dahulu kemudian diikuti oleh fenomena lain. Peranan Hormon Hormon adalah bahan kimia organik, merupakan senyawa aktif biologis yang dihasilkan oleh bagian kelenjar, jaringan atau organ tertentu dari hewan dan manusia, bekerja pada konsentrasi kecil dan mempunyai cara kerja yang spesifik. Hormon mempunyai peranan yang sangat penting dalam pengaturan fisiologi, dan umumnya hormon bekerja sebagai aktivator spesifik atau inhibitor dari enzim (Murray et al. 2003). Hal yang sama juga disebutkan oleh Schunack et al. (1990), bahwa hormon adalah senyawa biologi aktif, bekerja dalam konsentrasi yang kecil melalui aliran darah mencapai organ sasaran dan memperlihatkan kerja yang spesifik, dan dibentuk dalam jaringan atau organ tertentu dari organisme hewan dan manusia. Menurut Siswandono dan Soekarjo (1995), hormon merupakan senyawa yang secara normal dikeluarkan oleh kelenjar endokrin atau jaringan tubuh dan dilepas ke peredaran darah menuju jaringan sasaran, berinteraksi secara selektif dengan reseptor khas kemudian menunjukkan efek biologis. Menurut Sumantadinata dan Carman (1995), secara sederhana pemberian hormon bertujuan untuk mempengaruhi keseimbangan hormon dalam darah yang pada saat diferensiasi kelamin sangat menentukan individu tertentu akan berstatus jantan atau betina dengan cara memasukkannya dari luar tubuh. Hormon Steroid Steroid adalah salah satu jenis asam lemak yang berupa hormon turunan kolesterol dengan struktur kimia terdiri dari 27 atom karbon. Steroid dihasilkan oleh kelenjar yang terdapat dalam testis, ovarium, korteks adrenalis, dan plasenta (Bischof dan Islami 2003) Berdasarkan bahan pembentukannya secara kimiawi hormon dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok (Siswandono dan Soekarjo 1995) yaitu : 1. Homon protein (peptida) : mempunyai residu asam amino 3-200, meliputi semua hormon hypothalamus dan pituitary, insulin dan glukagon pada pankreas 2. Hormon amina : ukurannya kecil, dapat larut dalam air, mengandung grup amina

meliputi adrenalin pada medulla adrenal dan hormon tiroid. 3. Hormon steroid : dapat larut dalam minyak meliputi hormon adrenal cortical, androgen (hormon kelamin jantan) dan estrogen (hormon kelamin betina). Dorfman dan Ungar (1965); Litwack dan Schmidt (2002), menjelaskan bahwa hormon steroid merupakan turunan kolesterol dengan struktur inti berupa cincin siklopentana dengan nama perhydrocyclopentanophenanthrene seperti terlihat pada Gambar 1.

(a) (b) Gambar 1. Kerangka inti steroid (cyclopentanohydrophenanthrene) (a) dan testosteron (b) (Turner dan Bagnara 1988) Hormon steroid terlibat dan berperan penting dalam proses sinyal tranduksi sel dalam tubuh organisme karena ukurannya kecil dan adanya reseptor sel yang bekerja langsung menyampaikan pesan atau informasi ke sel sasaran. Respon sel sasaran dapat berupa sintesis senyawa protein baru (Delvin 1993). Menurut Donaldson dan Benfey (1987) hormon steroid yang digunakan untuk merangsang perubahan kelamin dapat dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu : (1) Hormon androgen, seperti androstenedion. etiniltestosteron, metiltestosteron, dan testosteronpropionat yang dapat digunakan atau memberi efek pengarahan diferensiasi kelamin menjadi jantan (maskulinisasi). (2) Hormon estrogen, seperti estron, estriol, estradiol, dan etinilestradiol yang dapat digunakan atau memberikan efek pengarahan diferensiasi kelamin menjadi betina (feminisasi) . Hormon androgen adalah salah satu contoh hormon steroid yang dihasilkan oleh testis. Hormon ini berfungsi menstimulasi tahap akhir proses spermatogenesis, meningkatkan pertumbuhan dan aktivitas ekskresi dari organ kelamin pelengkap, pemeliharaan dari kelamin sekunder dan sexual behaviour, serta maskulinisasi (Ganong 1995)

Menurut Schunack et al. (1990), hormon androgen terdiri dari androstanedion, androstenedion, androstenediol dan tran-hidrosterin. Hormon androgen menurut Sower dan Irwanto (1985) terbentuk secara alami seperti testosteron, 11-ketotestosteron, dihydrotestosteron dan yang dapat disintesis seperti 17-metiltestosteron dan testosteron propionate. Piferrer (2001) menjelaksan bahwa sensivitas hormon steroid eksogenus (exogenous steroids) terhadap diferensiasi seks sangat tergantung pada perkembangan gonad yang terjadi. Pada saat belum terbentuk gonad, sensitivitasnya masih belum tampak, tetapi begitu terbentuk formasi gonad, sensitivitas hormon mulai ada dan meningkat terus hingga mencapai puncak pada fase diferensiasi seks secara fisiologis Testosteron sebagai hormon steroid merupakan hormon yang bersifat anabolik dan androgenik. Sifat androgenik lebih menonjol karena sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan organ reproduksi, organ seksual sekunder dan kelenjar aksesoris kelamin. Sedangkan sifat anabolik berpengaruh terhadap pertumbuhan jaringan dan sel-sel seperti otot, eritrosit dan pertumbuhan tulang (Rath et al. 1996). Berdasarkan penelitian Feist dan Schreck (1996), pada ikan rainbow trout ditemukan adanya perberian tingkat hormon steroid pada fase embrionik dan larva. Kadar steroid relatif tinggi pada hari pertama setelah pembuahan dan menurun terus hingga hari ke-25 dan kemudian pada hari ke-30 dan ke-48, kadar steroid meningkat secara jelas hingga hari ke-78 dan setelah itu relatif konstan. Fluktuasi kadar hormon steroid selama proses perkembangan embrio dan larva diduga berperan penting sebagai pengarah pada diferensiasi kelamin pada ikan rainbow trout. Metode Pemberian Hormon Steroid Menurut Nagy et al. (1981); Hunter dan Donaldson (1983), keberhasilan penggunaan hormon steroid dan yang mempengaruhi dosis optimum hormon steroid untuk mengubah jenis kelamin ikan bergantung kepada beberapa faktor yaitu aktivitas hormon, jenis dan umur ikan, dosis hormon, lama dan waktu pemberian hormon serta cara pemberian hormon. Penggunaan hormon dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain secara oral dan perendaman, sedangkan untuk memperoleh perendaman yang

10

efektif perlu diperhatikan konsentrasi dan lama perendaman (Carman et al. 1998; Hunter dan Donaldson 1983; Yamazaki 1983). Perendaman dengan dosis yang sangat tinggi membutuhkan waktu perendaman yang lebih singkat (Hunter dan Donaldson, 1983). Penggunaan hormon steroid pada udang dapat dilakukan dengan beberapa cara, seperti lewat mulut (oral), penyuntikan (injection) dan perendaman (dipping). Dosis hormon yang diberikan tidak boleh berlebihan karena dapat menimbulkan tekanan pada pembentukan gonad, efek paradoksial, pertumbuhan rendah dan kematian tinggi (Wichins dan Lee 2002). Menurut Sower et al. (1984), dosis hormon yang digunakan tidak boleh berlebihan karena dapat menimbulkan tekanan pada pembentukan gonad, efek paradoksial dan tingginya mortalitas. Selain itu perlakuan hormon dapat menyebabkan rendahnya tingkat pertumbuhan ikan. Yamazaki (1983) menjelaskan bahwa agar pengaruh hormon steroid efektif, waktu penggunaannya harus dilakukan ketika gonad belum berdiferensiasi. Beberapa studi menunjukkan bahwa periode penggunaan harmon yang lebih singkat ternyata lebih efektif. Diduga ada hubungan terbalik antara dosis dan lama waktu perlakuan, sehingga untuk dosis yang lebih tinggi membutuhkan waktu yang lebih singkat. Berdasarkan grafik sensitivitas gonad terhadap pemberian hormon steroid (Gambar 2), dimana sensitivitas tertinggi terjadi saat sebelum diferensiasi kelamin secara fisiologis dan secara histologis, maka perlakuan hormon akan memberikan efek pengubahan kelamin tertinggi jika diberikan tepat sebelum tahap diferensiasi kelamin secara fisiologis.

Gambar 2. Sensitivitas tahapan diferensiasi kelamin terhadap hormon steroid pada teleostei (Piferrer 2001)

11

Menurut Piferrer (2001), perlakuan horman steroid selain berpengaruh terhadap diferensiasi seks juga dapat menimbulkan efek terhadap pertumbuhan. Pada kasus tertentu perlakuan hormon dapat meningkatkan pertumbuhan, sedangkan pada kasus lain justru dapat menurunkan pertumbuhan (Gambar 3).

Gambar 3. Diagram pengaruh perlakuan hormon steroid terhadap pertumbuhan ikan teleostei (Piferrer, 2001). Hunter dan Donaldson (1983) mengatakan bahwa waktu pemberian hormon yang terlalu lama akan memberikan hasil yang sama seperti pada penggunaan dosis yang tinggi, yaitu terganggunya proses pembentukan gonad dan gamet. Menurut Pandian dan Sheela (1995), munculnya ikan hermaprodit umumnya disebabkan oleh penggunaan dosis hormon yang rendah (suboptimum). Mekanisme Maskulinisasi Hormon androgen bekerja secara umpan balik dalam mengkontrol pelepasan gonadotropin pituitari, dan berperan penting dalam diferensiasi serta pembentukan kelamin jantan beserta sifat kelamin sekundernya. Androgen masuk ke dalam sel sitoplasma, selanjutnya diikat oleh reseptor khusus. Reseptor ditemukan dalam sitosol yang keberadaannya dipengaruhi oleh androgen. Steroid reseptor komplek (ligan) ini kemudian menuju nukleus dan berikatan dengan akseptor pada genom. Hal tersebut memungkinkan transkripsi spesies baru mRNA yang memberi kode untuk sintesis protein tertentu di dalam sitoplasma. RNA bertambah secara nyata terutama di dalam fraksi mikrosom, hal ini akan menstimulasi terjadinya spermatogenesis. Menurut Donough (1999) dalam

12

Hariani (1997), hormon steroid akan mempengaruhi target sel seperti gonad dan saluran otak. Diduga pada saat fertilisasi sudah terbentuk sel kromosom, apabila diberi hormon testosteron dari luar, maka hormon ini akan merangsang hormon endogen mensintesis steroid untuk pertumbuhan dan perkembangan gonad secara funsional. Demikian juga otak juga dipengaruhi oleh hormon eksogen ini, yang memberi perintah kepada poros aksis hipotalo-hipofisa-gonad.

Biologi Udang Galah Udang galah (Macrobrachium rosenbergii de Man) merupakan spesies dari ordo Dekapoda, famili Palaemonidea yang sering disebut giant freshwater prawn, dalam siklus hidupnya secara alami memerlukan lingkungan perairan perairan tawar dan payau (Toro dan Sugiarto 1979), dimana menempati dua habitat yaitu tingkat pascalarva sampai dewasa menghuni perairan air tawar seperti sungai, danau, dan kolam, sedang fase larva sampai mencapai akhir masa metamofosis menghuni perairan payau yang dipengaruhi oleh pasang surut (Ling 1967). Siklus hidup udang galah dimulai dari telur-telur yang telah terbuahi dan dierami induknya selama 19-21 hari dan menetas menjadi larva. Udang dewasa akan memijah dan melepaskan telurnya diperairan tawar atau payau dan larva yang baru menetas akan menuju muara sungai. Apabila dalam waktu tiga hari tidak mencapai perairan payau, larva akan mati (Wickins 1976). Untuk mencapai tingkatan pascalarva, larva dalam perkembangannya rata-rata membutuhkan waktu 45 hari atau harus melalui 11 kali metamorfosis, dimana setiap tahapnya terjadi pergantian kulit serta diikuti dengan perubahan struktur morfologis. Setelah melewati stadia 11 berubah bentuk menjadi juvenil yang secara morfologis bentuknya seperti udang dewasa tetapi ukurannya lebih kecil akan memerlukan lingkungan air tawar sampai menjadi dewasa (DAbramo, Brunson dan Daniel 2001). Siklus hidup udang galah (Macrobrachium rosenbergii de Man) dapat dilihat pada Gambar 4.

13

Gambar 4. Siklus hidup udang galah (Macrobrachium rosenbergii de Man). Menurut Ling (1967), Sherman dan Sherman (1976) dalam Hadie dan Hadie (1993), untuk membedakan antara udang galah jantan dan betina terdapat beberapa ciri yang dapat digunakan antara lain bentuk badan, letak alat kelamin, dan bentuk serta ukuran dari pasangan kaki jalan kedua. Bentuk badan udang galah jantan dibagian perut lebih ramping dan ukuran pleuron lebih pendek, sedangkan udang galah betina bagian perutnya lebih melebar dan pleuron sedikit memanjang. Letak alat kelamin udang galah jantan terdapat pada basis pasangan kaki jalan kelima, sedangkan untuk udang galah betina, alat kelamin terletak pada basis pasangan kaki jalan ketiga. Bentuk dan ukuran kaki jalan kedua udang galah jantan sangat mencolok, yakni besar dan panjang mirip galah, sedangkan betinanya lebih kecil dan tidak mencolok.

Jantan Sumber : Arisandi 2007

Betina

Gambar 5. Perbedaan morfologi udang galah jantan dan betina.

14

Petasma

Kaki jalan

Telikum

(A)
Sumber : Susilowati 1996.

(B)

Gambar 6. Alat kelamin udang galah dilihat dari sisi abdominal. A: Petasma pada udang jantan terletak antara kaki jalan ke 5, B: Thelicum pada udang betina terletak antara kaki jalan ke 3 Formulasi Ekstrak Teripang Aditif adalah bahan kimia yang dicampurkan ke dalam makanan dan obatobatan untuk tujuan meningkatkan kualitas, menambahkan rasa dan memantapkan kesegaran sediaan-sediaan tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Dewi (1996), terhadap pengujian stabilitas emulsi pada berbagai komposisi minyak ikan lemuru dengan menggunakan bahan pengemulsi lesitin dan bahan pelapis, memperlihatkan bahwa emulsi dengan kombinasi minyak ikan, lesitin, dan cmc masing-masing sebesar 25%, 5%, dan 10% mempunyai stabilitas emulsi tertinggi. Tingginya stabilitas emulsi ini kemungkinan disebabkan peran cmc dan lesitin yang dominan dalam menstabilkan dan meningkatkan viskositas sistim emulsi. Peningkatan viskositas diduga karena gugus karboksil yang terdapat pada molekul cmc bersifat dapat mengikat air sehingga meningkatkan viskositas pada fase cair. Viskositas yang tinggi menurunkan pergerakan droplet minyak dan membantu mencegah penggabungan droplet minyak. Disamping itu juga disebabkan jumlah minyak yang terdapat dalam emulsi sebesar 25% cenderung memberikan stabilitas yang lebih tinggi. Penggunaan pengemulsi emulsi lesitin yang lebih bersifat lipopilik (HLB 3) ditarik oleh droplet minyak yang juga bersifat lipopilik sehingga melapisinya dengan baik. Droplet-droplet minyak yang terlapisi

15

pengemulsi lesitin dengan baik akan terhindar dari saling bertumbukkan sehingga droplet minyak tidak mudah menyatu. Lesitin adalah suatu substansi yang mempunyai efek antioksidan dan merupakan senyawa kimia yang mempunyai struktur seperti lemak dan mengandung gliserol, asam lemak, asam fosfat dan kolin (vitamin B kompleks). Senyawa kimia ini juga dikenal sebagai emulsifier (mempertahankan emulsi) yang berikatan dengan air dan minyak atau lemak. Kuning telur, kacang kedelai dan tempe merupakan sumber lesitin yang baik. Pada suatu penelitian secara in vitro diperoleh hasil, bahwa minyak kedelai (soybean oil) mengandung kadar antioksidan yang tertinggi diantara minyak yang berasal dari tanaman biji-bijian. Oleh karena itu produk yang dibuat formulasi mengacu pada persentase penggunaan bahan seperti yang telah disebutkan di atas.

16

METODE PENELITIAN

Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian akan dilakukan di Sub Unit Pembenihan Udang Galah (SUPUG) Pelabuhan Ratu, Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Laboratorium Terpadu FKH IPB, Laboratorium Fisiologi FKH IPB dan Laboratorium Isotop/Radioaktif Balai Penelitian Ternak Ciawi Bogor, dari bulan Juli 2007 sampai dengan bulan Desember 2007.

Metode penelitian Metode dan desain penelitian Perlakuan ekstrak teripang pada juvenil udang galah dengan metode perendaman (dipping), menggunakan 12 perlakuan dan 3 ulangan dengan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktor yang pertama adalah dosis ekstrak teripang dengan empat taraf perlakuan yaitu 0, 10, 15, dan 25 mg/l dan faktor yang kedua adalah waktu perendaman dengan tiga taraf perlakuan yaitu 12, 24 dan 36 jam. Dilakukan juga dua perlakuan kontrol positif yaitu: 17metiltestosteron konsentrasi 25 mg/l selama 24 jam dan aromatase inhibitor (Imidazole, 1,3-Diaza-2,4-Cyclopentadiene,) konsentrasi 30 mg/l selama 24 jam.

Desain waktu evaluasi Juvenil udang galah dipelihara selama 30 hari atau sampai ciri kelamin sekundernya terlihat jelas. Evaluasi kelangsungan hidup dilakukan diakhir penelitian. Pengukuran suhu, oksigen terlarut dan pH dilakukan setiap hari sebelum pemberian pakan yaitu pada pukul 06.00 WIB dan 17.00 WIB.

Parameter penelitian Parameter utama - Nisbah kelamin jantan (jumlah kelamin jantan) J (%) =

A x 100% T

17

Keterangan

J : persentase jenis kelamin jantan (%) A : jumlah udang berkelamin jantan T : jumlah sampel udang yang diamati

- Kelangsungan hidup (jumlah udang yang hidup selama penelitian) Kelangsungan hidup (%) =

Total udang hidup x 100% Total udang hidup + total udang mati

Parameter penunjang - Pertumbuhan juvenil (panjang dan bobot tubuh) Untuk mengetahui pertumbuhan udang galah, dilakukan pengukuran pertambahan panjang dan berat tubuh. Selanjutnya dihitung rata-rata pertumbuhan hariannya / average daily gaint (ADG) menggunakan rumus;

ADG =

wt 1 x 100% wo

keterangan: ADG = rata rata pertumbuhan harian wo wt t = bobot tubuh awal (mg) = bobot tubuh akhir (mg) = waktu pemeliharaan (hari)

- Uji Kadar Testosteron dalam hemolymph Uji ini dilakukan dengan menggunakan kit dengan nama Coat a count total

testosteron, diagnostic products corporation Los Angles CA. USA


- Karakterisasi ekstrak teripang Karakterisasi ini dilakukan melalui dua uji yaitu karakterisasi fisik dan karakterisasi kimia melalui uji proksimat. - Kualitas air Kualitas air yang diamati meliputi suhu, oksigen terlarut (dissolved

oxygen/DO), dan pH.

18

Teknik Pengumpulan Data Bahan Ekstrak teripang alami diperoleh dari ekstrak daging teripang pasir, sedangkan hormon sintetis yang digunakan adalah 17-metiltestosteron (produk Argent Chemical Lab. Inc. Redmond WA USA dan aromatase inhibitor (produk WAKO Pure Chemical Industries Ltd, Jepang). Hewan uji yang digunakan adalah juvenil udang galah (Macrobrachium

rosenbergii de Man) hasil budidaya di Sukabumi berukuran panjang 12 mm.


Selama perlakuan, pakan yang diberikan pada udang berupa pakan buatan. Air media pemeliharaan dalam bak adaptasi dan bak pengamatan bersalinitas 10 g/kg. Wadah pemeliharaan udang setelah perlakuan berupa bak plastik bervolume 20 L. Metode pengukuran Pada penelitian ini ada beberapa variabel yang diukur menggunakan metode tertentu (Tabel 1). Tabel 1. Metode yang digunakan untuk mengukur variabel penelitian No 1. 2. 3. 4. 5. 6. Variabel Penelitian Jumlah udang jantan Kelangsungan hidup Pertumbuhan Kadar testosteron Karakterisasi ekstrak teripang Kualitas air : - oksigen terlarut - pH - suhu Metode Pengukuran Pengamatan jenis kelamin juvenil secara morfologis. Jumlah sampel 30 ekor. Menghitung udang yang mati, dimulai setelah perlakuan sampai akhir penelitian. Diukur mengunakan mistar dan neraca analitik Coat a count total testosterone Diamati secara Fisik dan kimia DO meter pH meter Thermometer

19

Prosedur Pelaksanaan - Persiapan wadah pemeliharaan Persiapan wadah meliputi bak adaptasi, bak pengamatan. Bak dicuci agar bebas dari kotoran dan bakteri yang merugikan, menggunakan kaporit (CaOCl) 10 ppm. Dibilas dengan air bersih, dan dibiarkan sampai 24 jam baru digunakan. - Persiapan air media pemeliharaan Mempersiapkan air media pemeliharaan dalam bak adaptasi dan bak pengamatan bersalinitas 10 g/kg. - Seleksi juvenil Seleksi juvenil udang galah dilakukan secara morfologis, berdasarkan ciri-ciri morfologisnya seperti ukuran panjang, kelengkapan organ, warna tubuh dan umur. - Pelaksanaan penelitian dan pengumpulan data Juvenil udang galah dipelihara dalam bak adaptasi secara massal, selanjutnya diberi perlakuan perendaman ekstrak teripang sesuai perlakuan yang telah ditentukan. Kepadatan juvenil dalam wadah pengamatan adalah 60 ekor per 15 L. Penyiponan dasar bak dilakukan dua kali sehari yaitu pada pagi hari dan sore hari sebelum pemberian pakan. Selanjutnya juvenil diberi pakan sesuai dengan jenis dan dosis yang telah ditentukan. Jumlah udang dalam bak pengamatan selanjutnya dihitung setiap hari. Selanjutnya dilakukan perhitungan kelangsungan hidup. Udang dibesarkan selama 30 hari atau sampai dapat dibedakan jenis kelamin serta diamati efek negatif akibat perlakuan ekstrak teripang. Jenis kelamin berdasarkan pada ciri kelamin sekunder, yaitu keberadaan appendix masculinus pada kaki renang kedua (Gambar 7).

Gambar 7. Morfologi kaki renang kedua udang galah (Antiporda 1986)

20

- Uji kadar testosteron dalam hemolymph Uji ini dilakukan dengan menggunakan Kit dengan nama Coat a count total

testosteron, diagnostic products corporation Los Angles CA. USA dengan tujuan
mengukur kadar kolesterol yang telah diberikan melalui perlakuan perendaman ekstrak teripang dalam air media di dalam serum darah juvenil udang galah jantan diakhir penelitian (hari ke 30). - Karakterisasi ekstrak teripang Karakterisasi ini dilakukan melalui dua uji yaitu karakterisasi fisik berupa warna, berat, bau serta tekstur dengan dan karakterisasi kimia melalui uji proximat. Karakterisasi pertama pada saat formulasi ekstrak kasar selesai dibuat, kedua setelah ditambah emulsi berupa lesitin sebesar 5% dan

sodium

carboxymethylcellulose (cmc) sebesar 10% sebagai stabiliser, dan ketiga setelah


penyimpanan 1 bulan pada suhu 4oC yang telah ditambahkan bahan yang sama. - Penambahan aditif Aditif yang diberikan ke dalam ekstrak teripang adalah lesitin dan cmc. Ekstrak teripang langsung dibuat emulsi dengan lesitin dan cmc, kemudian setelah tercampur secara merata, ditambahkan pelarut aquades dan kemudian dilakukan pencampuran hingga merata. - Analisis data Untuk mengetahui apakah perlakuan ekstrak memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah udang galah jantan dan survival rate, maka digunakan analisa keragaman atau uji F sesuai dengan rancangan yang digunakan yaitu rancangan acak lengkap (RAL) faktorial. Apabila nilai F berbeda nyata (significant) atau berbeda sangat nyata (highly significant) dilanjutkan dengah uji BNT (beda nyata terkecil) untuk menemukan perlakuan yang memberikan respon terbaik pada taraf 0,05 (derajat kepercayaan 95%). Data mengenai pertumbuhan, jumlah udang cacat, kualitas air dianalisis secara deskriptif dan ditampilkan dalam bentuk tabel dan gambar.

21

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil A. Nisbah Kelamin Jantan - Perlakuan ekstrak segar teripang pasir Efektivitas ekstrak teripang yang baru diformulasikan dengan ditambahkan bahan penstabil berupa lesitin dan cmc terhadap maskulinisasi udang galah dapat dilihat pada hasil-hasil berikut. Berdasarkan hasil identifikasi terhadap keberadaan apendix masculinus pada individu jantan (Lampiran 5 dan Tabel 2) memperlihatkan bahwa persentase jenis kelamin jantan secara umum lebih besar dibanding kontrol. Tabel 2. Persentase udang galah berkelamin jantan pada perlakuan ekstrak segar teripang pasir Waktu Perendaman (jam) 12 24 36 0 25,36 3,05 27,85 3,47 24,99 5,92 Dosis Ekstrak Teripang (mg/l) 10 15 25 40,68 6,31 47,88 2,83 59,44 0,80 41,49 5,55 52,55 6,39 57,48 7,66 53,38 8,54 54,98 3,90 67,31 3,30

Berdasarkan analisis data (Lampiran 7) diketahui bahwa juvenil yang berjenis kelamin jantan tertinggi pada perlakuan perendaman dengan ekstrak segar teripang 25 mg/l dan lama perendaman 36 jam yaitu 67,31%, hasil ini lebih tinggi dibanding kontrol positif (pemberian 17-metiltestosteron 25 mg/l, yaitu 65,84% dan pemberian AI 30 mg/l yaitu 59,54 %), untuk lebih jelasnya pengaruh ekstrak teripang dan lama perendaman terhadap juvenil dapat dilihat pada Lampiran 7. Dari hasil analisis sidik ragan dengan taraf kepercayaan 95%, menunjukkan bahwa perlakuan dosis memberi pengaruh nyata terhadap persentase udang galah jantan (Lampiran 8). Nilai signifikansi untuk dosis yaitu 0,000, nilai ini lebih kecil dari taraf 5%, sehingga menunjukkan terdapat perbedaan jumlah juvenil udang galah jantan pada perlakuan ekstrak segar teripang pasir antara dosis tanpa ekstrak, konsentrasi 10 mg/l, konsentrasi 15 mg/l, dan konsentrasi 25 mg/l. Nilai signifikansi untuk lama perendaman yaitu 0,011, nilai ini lebih kecil dari taraf 5%, sehingga menunjukkan bahwa ada perbedaan jumlah juvenil udang galah jantan pada

22

perlakuan ekstrak segar teripang pasir antara yang direndam 12 jam, 24 jam, dan 36 jam. Nilai signifikansi untuk interaksi antara dosis dan lama perendaman yaitu 0,220, nilai ini lebih besar dari taraf 5%, sehingga interaksi kedua faktor tersebut tidak berpengarih nyata pada perlakuan ekstrak segar teripang pasir. Hasil analisis tersebut membuktikan bahwa ekstrak teripang memberikan respon positif terhadap peningkatan persentase udang galah jantan. Untuk lebih jelasnya, persentase udang jantan pada masing-masing perlakuan dapat dilihat pada Gambar 8.
Kontrol(-)
80 70 60
47.88

10 mg/l

15 mg/l

25 mg/l

Kontrol(+)MT
65.84

Kontrol(+)AI
67.31

Persentase Jantan (%)

59.44 52.55 41 .49 27.85

57.48

59.54

53.38 54.98

50 40 30 20 10 0
25.36

40.68

24.99

12 jam Perendaman

24 jam Perendaman

36 jam Perendaman

Dosis Ekstrak Teripang

Gambar 8. Grafik persentase udang galah jantan pada perlakuan ekstrak segar teripang pasir. Berdasarkan Gambar 8 di atas, diketahui bahwa dengan adanya penambahan dosis dan waktu perendaman akan menyebabkan persentase udang galah jantan terlihat semakin meningkat. - Perlakuan ekstrak yang telah disimpan selama 30 hari Bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak teripang yang telah diformulasikan setelah disimpan dalan suhu 4oC selama 30 hari dengan ditambahkan bahan penstabil berupa lesitin dan cmc terhadap maskulinisasi udang galah dapat dilihat sebagai berikut. Persentase udang galah jantan hasil pemberian ekstrak teripang 25 mg/l dengan 36 jam perendaman adalah 67,31%, hasil ini lebih tinggi dibanding kontol dan perlakuan pemberian 17-metiltestosteron 25 mg/l, yaitu 65,84% dan pemberian AI 30 mg/l yaitu 59,54 %, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 3 dan Gambar 9.

23

Tabel 3. Persentase udang galah berkelamin jantan pada perlakuan ekstrak teripang yang telah disimpan selama 30 hari Waktu Perendaman (jam) 12 24 36 Dosis ekstrak teripang (mg/l) 0 10 15 25,09 5,20 45,19 4,31 56,19 1,16 27,59 3,95 44,93 2,65 50,62 2,52 22,97 6,46 47,79 2,95 57,10 1,88 25 63,47 4,95 63,10 3,78 66,66 1,27

Berdasarkan analisis data (Lampiran 9) dapat diketahui bahwa jumlah juvenil udang galah jantan pada perlakuan ekstrak (yang telah disimpan selama 30 hari) yang telah disimpan selama 30 hari tertinggi pada konsentrasi 25 mg/l dan lama perendaman 36 jam yaitu 66,66% Dari hasil analisis sidik ragan dengan taraf kepercayaan 95%, menunjukkan bahwa perlakuan dosis memberikan pengaruh nyata terhadap persentase udang galah jantan (Lampiran 9). Nilai signifikansi untuk dosis yaitu 0,000, nilai ini lebih kecil dari taraf 5%, sehingga menunjukkan terdapat perbedaan jumlah juvenil udang galah jantan pada perlakuan ekstrak yang telah disimpan selama 30 hari teripang pasir antara dosis tanpa ekstrak, konsentrasi 10 mg/l, konsentrasi 15 mg/l, dan konsentrasi 25 mg/l. Nilai signifikansi untuk lama perendaman yaitu 0,417, nilai ini lebih besar dari taraf 5%, sehingga menunjukkan bahwa tidak berpengaruh nyata antara jumlah juvenil udang galah jantan pada perlakuan ekstrak yang telah disimpan selama 30 hari teripang pasir antara yang direndam 12 jam, 24 jam, dan 36 jam. Nilai signifikansi untuk interaksi antara dosis dan lama perendaman yaitu 0,260, nilai ini lebih besar dari taraf 5%, sehingga interaksi kedua faktor tersebut tidak berpengaruh nyata pada perlakuan ekstrak yang telah disimpan selama 30 hari teripang pasir terhadap jumlah udang galah jantan.
Kontrol(-)
80

10 mg/l

15 mg/l

25 mg/l

Kontrol(+)MT

Kontrol(+)AI
66.66

P e r s e n ta s eJ a n ta n(% )

70
56.1 9

63.47

7 63.1 65.1 50.62

63.41 57.1 47.79

60 50 40 30 20 10 0 12 jam Perendaman
25.09 27.59 45.1 9 44.93

22.97

24 jam Perendaman

36 jam Perendaman

Dosis Ekstrak Te ripang

Gambar 9. Grafik persentase udang jantan pada perlakuan ekstrak teripang yang telah disimpan selama 30 hari

24

Berdasarkan Gambar 9, diketahui bahwa dengan adanya penambahan dosis akan menyebabkan persentase udang galah jantan semakin meningkat. Hasil analisis tersebut membuktikan bahwa dosis ekstrak yang telah disimpan selama 30 hari teripang memberikan respon positif terhadap peningkatan persentase udang galah jantan, sedangkan untuk lama perendaman tidak menberikan respon positif terhadap peningkatan persentase udang galah jantan. B. Kelangsungan Hidup - Perlakuan ekstrak segar teripang pasir Rataan jumlah juvenil udang galah yang hidup pada masing-masing perlakuan selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Persentase kelangsungan hidup udang galah pada perlakuan ekstrak segar teripang pasir Waktu Perendaman (jam) 12 24 36 Dosis Ekstrak Teripang (mg/l) 0 10 15 25 70,00 3,33 76,67 4,41 78,89 2,55 79,44 0,96 67,77 0,96 77,78 1,92 81,67 3,34 83,33 2,89 73,33 1,67 82,11 0,77 82,78 1,92 83,22 1,68

Pada Tabel 4 terlihat bahwa kisaran persentase kehidupan juvenil udang galah pada hari ke-60 tertinggi pada perlakuan dosis ekstrak 25 mg/l dengan lama perendaman 36 jam yaitu 83,33% dan terendah pada perlakuan kontrol yaitu 67,77%. Persentase kelangsungan hidup pada masing-masing perlakuan dapat dilihat pada Gambar 10. Berdasarkan hasil analisis sidik ragan dengan taraf kepercayaan 95%, menunjukkan bahwa perlakuan dosis dan lama perendaman memberi pengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup udang galah (Lampiran 8). Nilai signifikansi untuk dosis yaitu 0,000, nilai ini lebih kecil dari taraf 5%, sehingga menunjukkan terdapat perbedaan jumlah udang galah yang hidup pada perlakuan ekstrak segar teripang pasir antara dosis tanpa ekstrak, konsentrasi 10 mg/l, konsentrasi 15 mg/l, dan konsentrasi 25 mg/l. Nilai signifikansi untuk lama perendaman yaitu 0,001, nilai ini lebih kecil dari taraf 5%, sehingga menunjukkan bahwa ada perbedaan jumlah udang galah yang hidup pada perlakuan ekstrak segar teripang pasir antara yang direndam 12 jam, 24 jam, dan 36 jam. Nilai signifikansi untuk interaksi antara

25

dosis dan lama perendaman yaitu 0,315, nilai ini lebih besar dari taraf 5%, sehingga interaksi kedua faktor tersebut tidak berpengarih nyata pada perlakuan ekstrak segar teripang pasir terhadap kelangsungan hidup udang galah..
Kontrol(-)
Persentase Kelangsungan Hidup (%)
90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 12 jam Perendaman 24 jam Perendaman 36 jam Perendaman
70 67.77 76.67 78.89 79.44

10 mg/l

15 mg/l

25 mg/l
81 .67 83.33 76.1 1

Kontrol(+)MT

Kontrol(+)AI
82.1 1 82.78 83.22

77.78

78.89 73.33

Dosis Ekstrak Teripang

Gambar 10. Grafik persentase kelangsungan hidup pada perlakuan ekstrak segar teripang pasir. Berdasarkan Gambar 10, diketahui bahwa dengan adanya penambahan dosis dan waktu perendaman akan menyebabkan persentase kelangsungan hidup udang galah semakin meningkat. Hasil analisis tersebut membuktikan bahwa ekstrak segar teripang memberikan respon positif terhadap peningkatan persentase kelangsungan hidup udang galah - Perlakuan ekstrak yang telah disimpan selama 30 hari Rataan jumlah juvenil udang galah yang hidup pada masing-masing perlakuan selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Persentase kelangsungan hidup udang galah pada perlakuan ekstrak teripang yang telah disimpan selama 30 hari Waktu Perendaman (jam) 12 24 36 0 68,33 4,41 70,00 6,01 72,78 2,55 Dosis Ekstrak Teripang (mg/l) 10 15 25 73,87 5,85 77,22 7,52 81,67 4,41 81,57 1,50 81,67 2,89 87,11 4,35 85,00 6,01 83,89 3,85 86,67 1,67

26

Pada Tabel 5 terlihat bahwa kisaran persentase kehidupan juvenil udang galah pada hari ke-60 tertinggi pada perlakuan dosis ekstrak 25 mg/l dengan lama perendaman 36 jam yaitu 87,11% dan terendah pada perlakuan kontrol yaitu 68,33%. Persentase kelangsungan hidup pada masing-masing perlakuan dapat dilihat pada Gambar 11. Berdasarkan hasil analisis sidik ragan dengan taraf kepercayaan 95%, menunjukkan bahwa perlakuan dosis lama perendaman memberi pengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup udang galah (Lampiran 10). Nilai signifikansi untuk dosis yaitu 0,000, nilai ini lebih kecil dari taraf 5%, sehingga menunjukkan terdapat perbedaan jumlah udang galah yang hidup pada perlakuan ekstrak yang telah disimpan selama 30 hari teripang pasir antara dosis tanpa ekstrak, konsentrasi 10 mg/l, konsentrasi 15 mg/l, dan konsentrasi 25 mg/l. Nilai signifikansi untuk lama perendaman yaitu 0,004, nilai ini lebih kecil dari taraf 5%, sehingga menunjukkan bahwa ada perbedaan jumlah udang galah yang hidup pada perlakuan ekstrak yang telah disimpan selama 30 hari teripang pasir antara yang direndam 12 jam, 24 jam, dan 36 jam. Nilai signifikansi untuk interaksi antara dosis dan lama perendaman yaitu 0,853, nilai ini lebih besar dari taraf 5%, sehingga interaksi kedua faktor tersebut tidak berpengarih nyata pada perlakuan ekstrak yang telah disimpan selama 30 hari teripang pasir terhadap kelangsungan hidup udang galah.
Kontrol(-)
Persentase Kelangsungan Hidup (%)
100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 12 jam Perendaman 24 jam Perendaman 36 jam Perendaman
81 .67 73.8777.22 68.33 .67 81 .57 81 70 72.78 75 72.78

10 mg/l

15 mg/l

25 mg/l
87.1 1

Kontrol(+)MT

Kontrol(+)AI

85 83.8986.67

Dosis Ekstrak Teripang

Gambar 11. Grafik persentase kelangsungan hidup udang galah pada perlakuan ekstrak teripang pasir yang telah disimpan selama 30 hari Berdasarkan Gambar 11, diketahui bahwa dengan adanya penambahan dosis dan waktu perendaman akan menyebabkan persentase kelangsungan hidup udang

27

galah semakin meningkat. Hasil analisis tersebut membuktikan bahwa ekstrak yang telah disimpan selama 30 hari teripang pasir juga mampu memberikan respon positif terhadap peningkatan persentase kelangsungan hidup udang galah C. Pertumbuhan juvenil - Perlakuan ekstrak segar teripang pasir Pertambahan ukuran juvenil, baik pertambahan panjang maupun bobot tubuh per tigapuluh hari pada masing-masing perlakuan relatif sama (Tabel 6). Tabel 6. Pertambahan panjang dan bobot tubuh juvenil udang galah pada perlakuan ekstrak segar teripang pasir Perlakuan Panjang tubuh (mm) K(-)1 K(-)2 K(-)3 A B C D E F G H I K(+)MT K(+)AI Bobot tubuh (mg) K(-)1 K(-)2 K(-)3 A B C D E F G H I K(+)MT K(+)AI Waktu sampling (hari) 1 30 9 10 9 9 9 11 12 9 10 11 9 11 10 10 24,2 23,7 25,1 25,3 24,8 22,9 24,5 25 25,4 24,6 24,3 23,8 24,1 24,6 22 20 18 17 18 24 21 17 22 21 21 22 19 20 45,4 49,2 51,8 50,3 53,1 64,5 47,8 52,4 67,7 62,2 63,6 66,7 58,2 57,9

28

Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap pertumbuhan udang galah, selanjutnya dihitung rata-rata pertumbuhan hariannya (ADG), hasil perhitungan ditunjukkan pada Tabel 7. Tabel 7. Rata- rata pertumbuhan harian (ADG) juvenil udang galah pada perlakuan ekstrak segar teripang pasir Perlakuan K(-)1 K(-)2 K(-)3 A B C D E F G H I K(+) MT K(+) AI Bobot tubuh (mg) Juvenil 1 Tokolan 24,2 45,4 23,7 25,1 25,3 24,8 22,9 24,5 25 25,4 24,6 24,3 23,8 24,1 24,6 49,2 51,8 50,3 53,1 64,5 47,8 52,4 67,7 62,2 63,6 66,7 58,2 57,9 ADG (%) Juvenil 1 (hari ke 30) Tokolan (hari ke 60) 99,56 100,24 100,21 99,96 100,44 102,01 99,83 100,31 101,71 101,42 101,62 101,98 101,16 101,01

Berdasarkan Tabel 7, bahwa hormon tidak berpengaruh terhadap ADG juvenil udang galah, terlihat dari hasil perhitungan masing-masing perlakuan selisih nilainya tidak terlalu besar. Hal tersebut menunjukkan bahwa hormon yang diberikan tidak mengganggu pertumbuhan juvenil udang galah.

29

- Perlakuan ekstrak yang telah disimpan selama 30 hari Pertambahan ukuran juvenil, baik pertambahan panjang maupun bobot tubuh per tigapuluh hari pada masing-masing perlakuan relatif sama (Tabel 8). Tabel 8. Pertambahan panjang dan bobot tubuh juvenil udang galah pada perlakuan ekstrak teripang yang telah disimpan selama 30 hari Perlakuan Panjang tubuh (mm) K(-)1 K(-)2 K(-)3 A B C D E F G H I K(+)MT K(+)AI Bobot tubuh (mg) K(-)1 K(-)2 K(-)3 A B C D E F G H I K(+)MT K(+)AI Waktu sampling (hari) 1 30 10 10 10 11 10 10 10 10 11 11 10 11 11 10 24,1 23,8 24,1 24 24,3 23,9 24,1 24,3 24,1 23,9 24 23,9 23,7 24,2 18 19 16 19 19 20 18 18 21 18 20 20 18 18 42,7 47,1 37,7 46,8 52,2 57,5 48,4 49,3 52,8 49,9 63,1 61,4 55,3 50,9

Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap pertumbuhan udang galah, selanjutnya dihitung rata-rata pertumbuhan hariannya (ADG), hasil perhitungan ditunjukkan pada Tabel 9.

30

Tabel 9. Rata-rata pertumbuhan harian (ADG) juvenil udang galah pada perlakuan ekstrak teripang yang telah disimpan selama 30 hari. Perlakuan K(-)1 K(-)2 K(-)3 A B C D E F G H I K(+) MT K(+) AI Bobot tubuh (mg) Juvenil 1 Tokolan 24,1 42,7 23,8 24,1 24 24,3 23,9 24,1 24,3 24,1 23,9 24 23,9 23,7 24,2 47,1 37,7 46,8 52,2 57,5 48,4 49,3 52,8 49,9 63,1 61,4 55,3 50,9 ADG (%) Juvenil 1 (hari ke 30) Tokolan (hari ke 60) 99,14 99,93 99,11 99,83 100,46 101,14 100,03 100,09 100,58 100,28 101,64 101,51 100,96 100,33

Pada Tabel 9. menunjukkan bahwa hormon tidak berpengaruh terhadap ADG juvenil udang galah, terlihat dari hasil perhitungan masing-masing perlakuan selisih nilainya tidak terlalu besar. Hal tersebut menunjukkan bahwa hormon yang diberikan tidak mengganggu pertumbuhan juvenil udang galah. D. Kualitas air Hasil pengukuran kualitas air selama penelitian pada perlakuan ekstrak segar yaitu suhu 27-29oC, pH 6,9-8,2 dan DO 4-6 ppm dan perlakuan ekstrak yang telah disimpan selama 30 hari teripang pasir yaitu suhu 25,5-29 oC, pH 7-8,2 dan DO 4-6 ppm, masih berada pada kisaran optimal bagi kehidupan udang galah, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Lampiran 6.

31

E. Kadar testosteron dalam hemolymph Kadar testosteron dalam hemolymph udang galah jantan diakhir penelitian (hari ke 30) pada ekstrak segar dan yang telah disimpan selama 30 hari dapat dilihat pada Gambar 12.
Ekstrak segar
20 1 8

Ekstrak yang tidak segar disimpan 30 hari

Testosteron (ng/dl)

1 6 1 4 1 2 1 0 8 6 4 2 0 K(-)1 K(-)2 K(-)3 A B C D E F G H I K(+)M T K(+)A I

c b

c b

c b

ab ab

ab ab

ab ab

ab ab

ab ab

ab ab

ab ab

ab ab

a ab

a a

a ab

Perlakuan

Ket.= huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda secara nyata pada taraf kepercayaan 95%.

Gambar 12. Grafik kadar testosteron pada setiap perlakuan Berdasarkan Gambar 12, kadar testosteron pada udang galah jantan terendah terdapat pada semua perlakuan kontrol (negatif) dan tertinggi pada udang galah jantan perlakuan dosis 25 mg/l dengan waktu perendaman 36 jam kondisi ini terjadi pada perlakuan ekstrak segar maupun ekstrak yang telah disimpan selama 30 hari dari teripang pasir. Berdasarkan analisis sidik ragam pada taraf kepercayaan 95%, menunjukkan bahwa pemberian ekstrak teripang dan lama waktu perendaman berpengaruh nyata terhadap kadar testosteron dalam hemolymph juvenil udang galah. Terlihat juga bahwa diduga dengan semakin bertambahnya dosis dan lama perendaman akan meningkatkan kadar testosteron dalam hemolymph udang galah.

F. Karakterisasi fisik dan kimia ekstrak teripang pasir Karakterisasi Fisik Karakterisasi fisik terhadap ekstrak kasar teripang sejak ekstrak tersebut dibuat sampai dengan disimpan selama 30 hari dapat dilihat pada Tabel 10.

32

Tabel 10. Karakterisasi fisik teripang pasir Ekstrak setelah diformulasikan dan Ekstrak Ekstrak Karakterisasi disimpan selama setelah sebelum Keterangan Fisik diformulasikan diformulasikan 30 hari pada suhu 4oC Kuning Tidak terjadi Kuning Warna Kuning terang terang terang perubahan warna Tidak terjadi Amis sedikit Aroma/bau Amis Amis berkurang perubahan bau Tidak terjadi Tekstur Halus Halus Halus perubahan tesktur Tidak terjadi Berat (mg) 25 25,18 25,13 perubahan berat yang signifikan Pada Tabel 10. terlihat dengan jelas bahwa secara keseluruhan tidak terjadi perubahan fisik ekstrak. Baik sejak ekstrak tersebut dibuat, kemudian setelah diformulasikan dan setelah disimpan selama 30 hari pada suhu 4oC baik dari segi warna, aroma, tekstur dan berat Karakterisasi Kimia Karakterisasi kimia ekstrak teripang ini dilakukan melalui uji proximat, bertujuan untuk mengetahui komponen-komponen yang terkandung di dalam bahan baku dan ekstrak teripang, agar lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 11. Tabel 11. Karakterisasi kimia teripang berdasarkan uji proximat No Komponen Daging Daging Basah Kering 1 2 3 4 Air Abu Protein Lemak 89,82 7,525 13,25 24,06 4,585 64,255 1,12 2,46 Kandungan (%) Ekstrak Ekstrak Ekstrak setelah sebelum setelah diformulasi dan diformulasikan diformulasikan disimpan selama 30 hari pada suhu 4oC 98,12 98,37 98,39 0,125 0,34 0,215 0,352 0,35 0,345 2,14 2,14 2,128

Pada Tabel 11. terlihat bahwa komponen air, abu, protein dan lemak khususnya pada ekstrak teripang tidak mengalami perubahan. Baik sebelum diformulasikan, dan kemudian ekstrak tersebut diformulasikan serta ekstrak yang telah diformulasikan dan disimpan dalam suhu 4oC (yang telah disimpan selama 30 hari).

33

Pembahasan Ekstrak teripang pasir yang mengandung steroid merupakan hormon androgenik, sehingga dengan pemberian ekstrak ini menyebabkan bertambahnya level testosteron dalam tubuh udang galah sehingga dapat menyebabkan efek maskulinisasi Hasil penelitian uji warna dengan menggunakan pelarut LeibermannBurchard menunjukkan bahwa ekstrak teripang pasir mengandung steroid (Nurjanah 2008). Teripang pasir mengandung steroid tertinggi yaitu 58,46x10-4 g/g, bk, terutama di bagian daging dibandingkan dengan teripang gamat dan teripang hitam. Identifikasi dan karakterisasi senyawa steroid pada teripang pasir menggunakan LC-MS, NMR (1H-NMR dan 13C-NMR) dan FT-IR menunjukkan bahwa teripang pasir mengandung beberapa jenis steroid (Nurjanah 2008). Menurut Riani et al. (2005) dan Kustiariyah (2006), steroid ekstrak teripang pasir merupakan jenis testosteron. Perlakuan pemberian ekstrak teripang pada udang galah dapat meningkatkan presentase jantan udang galah atau mampu mengarahkan pembentukan jenis kelamin jantan (p<0,05) walaupun belum 100% baik pada perlakuan ekstrak segar maupun yang sudah disimpan selama 30 hari, hal ini menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan yang ada masih belum optimal dalam merangsang terbentuknya jenis kelamin jantan, tetapi hal ini sudah dapat menerangkan bahwa pemberian ekstrak teripang yang dilakukan melalui perendaman mampu mempengaruhi sistem hormonal dalam tubuh udang galah, sehingga mempunyai pengaruh terhadap pengarahan terbentuknya kelamin jantan udang galah dan mempunyai efektivitas yang sama walaupun telah disimpan selama 30 hari. Hal ini dikarenakan ekstrak teripang yang telah diformulasikan dengan menambahkan aditif ke dalam bahan (ekstrak teripang) mempunyai stabilitas emulsi tinggi dan meningkatkan viskositas sistim emulsi, sehingga mempunyai keunggulan yaitu meningkatkan kualitas, memperpanjang umur simpan dan memantapkan kesegaran sediaan-sediaan tersebut. Pernyataan yang dikeluarkan oleh Touir (1977), bahwa sex reversal pada

Macrobrachium rosenbergii akan tercapai dengan baik jika dilakukan pada stadia

34

awal sebelum terbentuknya gonad. Menurut Nagamine et al. (1980b), pemberian hormon androgen ke dalam M. rosenbergii betina muda, akan mengubah gen betina menjadi jantan fenotif dan apabila diberikan pada saat gonad belum terbentuk maka akan menyebabkan berkembangnya testes, saluran sperma dan gonopores jantan. Taketomi dan Nishikawa (1996) juga menyebutkan bahwa pemberian hormon androgen ke dalam Procambarus clarkii secara pasti akan menghambat vitelogenesis. Pada udang karang Cherax quadricarinatus dan Cherax destructor betina belum matang gonad, pemberian hormon androgen akan menghabat vitelogenin kedua dan menghambat perkembangan oosit (Bakri et al. 2003, Fowler dan Leonard 1999). Sesuai pernyataan Charniaux-Cotton (1954), Piera et al. (2008), Hasegawa et al (1993), Touir (1977), bahwa hormon androgen (AH) yang diproduksi oleh kelenjar androgen (androgenic gland/AG) bertanggungjawab mempengaruhi perkembangan karakteristik seksual primer dan sekunder jantan pada krustase. Menurut Touir (1977), Nagamine et al. (1980a,b), Sagi et al. (1990),

M. rosenbergii mempunyai
dan morfologi capit.

karakteristik seksual primernya berupa gonad dan

sekundernya berupa perkembangan pleopods, perkembangan appendix masculinus, Pada proses sex reversal, faktor lingkungan dibuat sedemikian rupa sehingga akan mempengaruhi transkripsi dan tranlasi gen-gen penentu determinasi seks. Dengan membuat lingkungan menjadi dominan atau jenuh androgen maka keseimbangan hormonal akan terganggu, dan determinasi seks fenotif selanjutnya akan mengarah ke jantan. Hal ini telah sesuai dengan Sumantadinata dan Carman (1995) yang menerangkan bahwa pemberian hormon bertujuan untuk menggangu keseimbangan hormonal dalam darah yang pada saat diferensiasi kelamin sangat menetukan individu tertentu akan berstatus jantan atau betina. Rendahnya presentase jantan 67,31% pada perlakuan pemberian ekstrak teripang segar dan 66,66% pada pemberian ekstrak teripang telah disimpan selama 30 hari, diduga disebabkan oleh dosis maupun lama perendaman yang kurang optimum untuk mempengaruhi terbentuknya jenis kelamin jantan udang galah, sehingga perubahan level hormon yang diduga masuk ke dalam tubuh melalui proses difusi, kulit dan organ pencernaan yang kemudian menuju ke arah organ target masih sangat kecil dan pembentukan kelamin jantan tidak terjadi pada semua

35

individu yang diberi perlakuan. Hal ini sesuai penyataan yang dikemukakan oleh Nakamura et al. (1998) bahwa pemberian hormon steroid dengan dosis rendah tidak akan mampu membentuk populasi jantan secara maksimal dan dapat menyebabkan terbentuknya individu interseks. Menurut Kusmini et al. (2001), larva udang galah yang berumur 20 hari yang diberi hormon 17-Metiltetosteron melalui makanan dengan dosis 35 mg/kg pakan selama 30 hari dapat menghasilkan 80,91% jantan. Pemberian ekstrak teripang pada periode labil diduga akan meningkatkan level testosteron dalam tubuh udang sehingga dapat mengarahkan terbentuknya kelamin jantan. Hal ini didasarkan pada pola grafik pada Gambar 9 yang memperlihatkan adanya peningkatan level testosteron seiring dengan semakin besarnya dosis ekstrak teripang yang diberikan sehingga dapat meningkatkan jumlah udang galah berkelamin jantan. Sesuai pernyataan yang dikeluarkan oleh Fiet dan Schreck (1996), bahwa terdapat perbedaan level hormon steroid pada fase embrionik dan larva. Menurut Yamazaki (1983), usaha pengubahan jenis kelamin harus dilakukan pada waktu dan jangka waktu serta tingkat dosis hormon steroid yang tepat, karena berkaitan dengan diferensiasi yang bersifat khas pada setiap spesies. Pemberian hormon yang berakhir sebelum masa diferensiasi kelamin hasilnya tidak efektif, karena sel-sel germinal sebelum masa diferensiasi kelamin tidak memberikan respon terhadap hormon steroid, begitu juga pemberian hormon yang dimulai setelah masa diferensiasi (Witschi dalam Yoshikawa dan Oguri 1981). Piferrer et al. (1994) juga menyatakan bahwa pemberian hormon yang dilakukan setelah periode labil pada masa diferensiasi kelamin memerlukan dosis yang lebih tinggi untuk meniadakan proses diferensiasi normal dan kemungkinannya tidak efektif sama sekali. Pada penelitian ini perlakuan ekstrak teripang sudah sesuai karena diberikan pada umur 30 hari setelah menetas (SHM) yang merupakan masanya diferensiasi kelamin dan pembentukan organ kelamin. Proses masuknya hormon ke dalam tubuh udang pada proses perendaman diduga melalui sistem osmotik. Menurut Anggoro (1992), cairan tubuh udang windu bersifat hipoosmotik terhadap media hidupnya. Oleh karena itu air dalam cairan tubuh udang cenderung bergerak ke luar secara osmosis, sehingga untuk mempertahankan osmolaritas cairan tubuh maka udang mengambil air dari

36

medianya dengan cara minum air atau memasukkannya lewat insang dan kulit (saat ganti kulit). Dengan kondisi osmolaritas yang sama, maka masuknya hormon ke dalam tubuh juvenil diduga melalui proses minum dan atau lewat kulit. Hasil penelitian ini ternyata masih lebih tinggi yaitu 67,31% (ekstrak segar dosis 25 mg/l, perendaman 36 jam) dibandingkan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Arisandi (2007) yang menggunakan bahan yang sama melalui perendaman dengan dosis 2 mg/l selama 24 jam mampu mengarahkan juvenil udang galah menjadi jantan sebesar 49,65%. Diduga perbedaan hasil ini lebih disebabkan oleh perlakuan dosis dan lama perendaman yang berbeda. Secara umum percobaan ekstrak teripang pada stadia juvenil menghasilkan udang galah berjenis kelamin jantan lebih dari 40 %. Berdasarkan hasil analisis data, bahwa terdapat pengaruh yang nyata pada kelangsungan hidup udang galah antara yang beri perlakuan dan kontrol (p<0,05), ini berarti bahwa perlakuan yang diberikan melalui perendaman memberikan pengaruh terhadap terhadap kelangsungan hidup udang galah. Kelangsungan hidup yang cendrung semakin meningkat, duga adanya pengaruh dari kandungan bahan lain yang terdapat di dalam ekstrak kasar teripang pasir yang dapat meningkatkan stamina tubuh. Hormon mempunyai peranan yang sangat penting dalam pengaturan fisiologi, dan umumnya hormon bekerja sebagai aktivator spesifik atau inhibitor dari enzim (Murray et al. 2003). Ekstrak teripang tidak berpengaruh terhadap ADG juvenil udang galah, hal terlihat dari hasil perhitungan ADG masing-masing perlakuan selisih nilainya tidak terlalu besar. Hal tersebut menunjukkan bahwa ekstrak teripang yang diberikan tidak mengganggu pertumbuhan juvenil udang galah. Akan tetapi, terlihat dari data dengan semakin bertambahnya dosis ekstrak teripang ada kecenderungan bobot tubuh udang galah semakin meningkat, dimana hal ini diduga dipengaruhi oleh kandungan bahan lain yang terdapat di dalam ekstrak kasar teripang. Pendugaan atas kelangsungan hidup dan pertumbuhan serta ADG yang semakin meningkat akibat penambahan dosis pada perlakuan, dipengaruhi oleh adanya kandungan bahan lain yang terdapat di dalam ekstrak kasar daging teripang. Hal ini sesuai dengan pernyataan Nurjanah (2008), bahwa tepung teripang per 100 gramnya mengandung berbagai macam asam amino esensial dan non esensial serta

37

mengandung asam lemak jenuh dan tidak jenuh. Asam amino tersebut antara lain arginin, histidin, isoleusin, leusin, lisin, metionin, fenilalanin, treonin, dan valin. Sedangkan non esensialnya antara lain aspartat, alanin, glutamat, glisin, prolin, serin, sistein dan tirosin. Asam amino arginin, histidin, leusin, glutamat, glisin, prolin, serin, dan tirosin sangat berguna dalam pembentukan hormon androgen yaitu testosteron yang berperan dalam peningkatan libido maupun pembentukan spermatozoa. Menurut Hafez et al. (2000) asam amino sebagai hormon yang menstimulasi pembentukan hormon steroid diantaranya testosteron dan menstimulasi spermatogenesis. Sedangkan leusin menurut Anthony et al. (1999), sangat berguna dalam sintesa protein dalam pembentukan otot. Fulierton (1980) menjelaskan bahwa, selain mempunyai sifat androgenik, testosteron ternyata mempunyai sifat anabolik, yaitu dapat memacu pertumbuhan otot. Ekstrak teripang pasir mengandung hormon androgen sama seperti MT, sehingga memiliki sifat anabolik yang mampu merangsang pertumbuhan (Shepered dan Bronage 1988), bertanggungjawab terhadap penampakan karakter dan fungsi kelamin jantan (Donaldson dan Benfey 1987) Ketidakseragaman ukuran tubuh juvenil dalam satu populasi merupakan efek anabolik dari hormon sintetis yang telah ditingkatkan beberapa kali lipat, sehingga efektivitasnya di dalam tubuh udang menjadi lebih lama (Fulierton 1980). Konsentrasi hormon sintetis terlarut yang masuk ke dalam tubuh udang berbedabeda, akibatnya udang yang mengabsorbsi hormon dengan konsentrasi yang tinggi menjadi tumbuh jauh lebih cepat dari udang-udang yang lain. Kualitas air dan pakan yang cukup selama penelitian akan mendukung kelangsungan hidup yang tinggi. Hasil analisis kualitas air selama penelitian masih mendukung pemeliharaan udang galah (Lampiran 6). Menurut Setyohadi, Wiadnya dan Soemarno (2001), konsentrasi oksigen terlarut yang baik bagi udang galah antara 4 ppm-9 ppm. Parameter suhu, pH dan oksigen terlarut pada penelitian telah sesuai dengan kisaran hidup yang dibutuhkan udang galah, sehingga hanya perlakuan yang mempengaruhi hasil penelitian ini. Hasil analisis kadar testosteron dalam hemolymph berbeda nyata (p<0,05), sehingga dengan pemberian ekstrak teripang dapat meningkatkan level testosteron

38

dalam hemolymph pada setiap peningkatan dosis perlakuan jika dibanding kontrol (kontrol). Terkait dengan peningkatan level testosteron, jumlah udang galah berkelamin jantan, dalam hal ini perlakuan ekstrak 25mg/l dengan lama perendaman 36 jam baik pada perlakuan ekstrak segar maupun yang telah disimpan selama 30 hari, mempunyai jumlah kadar testosteron tertinggi yaitu 14,961 ng/dl dan 14,515 ng/dl. Hal ini dapat dikatakan bahwa jumlah kadar teetosteron berbanding lurus dengan jumlah jantan, dimana pada perlakuan ekstrak 25 mg/l dengan waktu perendaman 36 jam dapat menghasilkan jantan tertinggi dan mempunyai ukuran rata-rata bobot tubuh terbesar. Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Riani et al. (2005), bahwa dengan pemberian tepung teripang pada anak ayam dapat meningkatkan kadar testosteron dalam hemolymph. Menurut Craig dan Stitzel (1997), testosteron merupakan hormon androgen (laki-laki/jantan) yang diproduksi saat hewan sudah dewasa atau matang gonad. Hormon ini berfungsi sebagai hormon pengatur pertumbuhan organ, kelamin sekunder, perilaku seksual dan fungsi reproduksi, serta mempunyai efek anabolik protein yaitu meningkatkan sensitas tulang, massa sel darah merah dan massa otot. Secara fisik ekstrak teripang tidak mengalami perubahan baik sebelum diformulasikan sampai setelah diformulasikan dan disimpan selama 30 hari pada suhu 4oC. Kandungan ekstrak teripang yang berupa air, lemak, protein serta abu dapat dikatakan tidak mengalami perubahan. Hal ini didasarkan pada analisis yang telah dilakukan melalui karakterisasi kimia atau melalui uji proksimat. Dapat dikatakan bahwa ekstrak teripang baik yang dibuat dan langsung digunakan maupun yang telah disimpan selama 30 hari tidak menunjukkan penurunan efektivitasnya untuk mengarahkan pembentukan kelamin jantan (maskulinisasi) udang galah.

39

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan Kesimpulan dari penelitian mengenai efektivitas ekstrak teripang yang telah diformulasikan untuk maskulinisasi udang galah melalui metode perendaman (dipping), efektif mempengaruhi juvenil berkembang menjadi jantan secara fenotipe Ekstrak segar teripang pasir dan yang telah disimpan selama 30 hari dengan dosis ekstrak teripang 10 mg/l, 15 mg/l dan 25 mg/l, dapat menghasilkan populasi jantan lebih tinggi dari kontrol (> 40 %). Ekstrak teripang yang telah disimpan selama 30 hari dan telah diformulasikan masih efektif untuk maskulinisasi juvenil udang galah yaitu sebesar 66,67% Saran Maskulinisasi udang galah dapat menggunakan metode perendaman ekstrak teripang sehingga diharapkan dapat menggantikan penggunaan hormon steroid sintetis (MT) dan obat-obatan farmasi (aromatase inhibitor) dalam akuakultur. Perlu adanya penelitian bagaimana cara mendapatkan ekstrak murni teripang pasir yang spesifik untuk dimanfaatkan dalam meningkatkan jumlah udang galah jantan.

40

DAFTAR PUSTAKA Anggoro S. 1992. Efek osmotik berbagai tingkat tingkat salinitas media terhadap daya tetas telur dan vitalitas larva udang windu, Penaeus monodon F. Disertasi. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Anthony JC, Anthony TG, Layman DK. 1999. Leucine supplementation enhance skeleton muscles recovery in rats following exercise. The journal of nutrition 129: 1102-1106 Arisandi A. 2006. Efektifitas ekstrak steroid teripang untuk memanipulasi kelamin udang galah. Tesis. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Antiporda JL. 1986. Preliminary studies on the effects of methyltestosterone on Macrobrachium rosenbergii juveniles. Research conducted under the FAO / NACA Secondment for Young Scientists Program Bangkok, Thailand October 1985-September 1986. http://www.NACA. Com/ WP/ 86/46.html [3 April 2006] Bakus GJ.1970. The Biology and ecology of tropical Holothurians. Academic Press. London, p.121-139 Barki A, Karplus I, Khalaila I, Manor R, Sagi A. 2003. Male-like behavioral patterns and physiological alterations induced by androgenic gland implantation in female crayfish. The journal of Experimental Biology 206:1791-1797. Carman 0, Sastrawibawa S, dan Alimudin. 1998. Peningkatan kualitas genetik melalui produksi jantan super pada ikan nila merah (Oreochromis niloticus) secara masal dalam rangka peningkatan efisiensi produksi [Laporan Riset Unggulan Terpadu IV]. Jakarta Kantor Memeri Negara Riset dan Teknologi, Dewan Riset Nasional. Charniaux-Cotton H. 1954. Decouverte chez un Crustace Amphipode (Orchestia gamarella) dune glande endocrine responsable de la differenciation des caracte`res sexuels primaires et secondaires males. CR. Acad. Sci. Paris 239:780-782. Chan STH, Yeung WSB. 1983. Sex control and sex reversal ini fish under natural condition. Di dalam : Hoar WS, Randall DJ, Donaldson EM, editor. Fish Physiology. Vol IX B. New York: Academic Press. Chang ES. 1991. Crustacean molting hormones: Cellular effects, role in reproduction, and regulation by molt-inhibiting hormone. Frontiers of shrimp research. Edited by: DeLoach PF, Dougherty WJ, Davidson MA. Elsevier. USA. Pp. 83-105.

41

Craig CR, Stitzel RE. 1997. Modern pharmacology with clinical application. Boston : Little brown and Company. Cronin LE. 1947. Anatomy and histology of the male reproductive system of Callinectes sapidus Rathbun. J. Morphol. 81:209239. DAbramo, Louis R, Brunson W, and Daniels WH. 2001. Freshwater prawns biology and life history. Extension Service Of Missisippi State University. http:// www.msucares. Com/ pubs/ is 1525.html [3 April 2006]. Delvin TM. 1993. The texbook of biochemestry with clinical correlation. 3rd edition. Wiley Liss, A John Wiley and Sons Inc. Publication. New York. Dewi EN. 1996. Isolasi asam lemak omega-3 dari minyak hasil limbah penepungan dan pengalengan ikan lemuru. Skripsi, Fateta, IPB-Bogor Donaldson ED, Benfey TJ. 1987. Current status of induced sex manipulation. Di dalam : Reproductive physiology of fish. Proceeding of Third International Symposium. St. John's, Newfounland, p. 108-119. Dorfman RI dan Ungar F. 1965. Metabolism of steroid hormon. Academic Press. New York. Emilda. 2008. Pemanfaatan ekstrak steroid dari jeroan teripang sebagai bahan aktif dalam sex reversal pada ikan gapi. Tesis. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Feist G, and Schreck CB. 1996. Brain-pituitary-gonadal axis during early development and sexual differentiation in the rainbow trout, Onclorhyncus mykiss. General and Comparative Endocrinology 1023 (3) : 394-409. Fulierton DS. 1980. Steroid dan senyawa terapetik sejenis. Buku teks Wilson dan Gisvold. Kimia farmasi dan medicinal organik. Editor: Doerge RF. Edisi VIII, bagian II. J.B. Lippincott Company. Philadelphia-Toronto. USA. Hal. 675-754. Fowler RJ and BV Leonard. 1999. The structure and function of the androgenic gland in Cherax destructor (Decapoda: Parastacidae). Aquaculture 171:135148. Ganong GF. 1995. Review of medical physiology. Penerjemah: P Ardianto, J Oswari (Ed). Jakarta Guerrero. 1975. Use of androgens for the production of all male Tilapia aurea (Steindachner). Reprinted from transaction of the American fisheries society. Vol 104. p 342-348

42

Hadie W, LE Hadie, I Kusmini, Sofiawati. 2001. Efektifitas hormon 17metiltestosteron terhadap nisbah kelamin larva udang galah (Macrobranchium rosenbergii). Prosiding workshop hasil penelitian budidaya udang galah. Jakarta. Pusat riset perikanan budidaya. Badan riset kelautan dan perikanan. Departemen kelautan dan perikanan. 26 Juli 2001. hal 98-102 Hadie W, LE Hadie. 1993. Pembenihan udang galah usaha industri rumah tangga. Penerbit Kanisius. 163 pp. Hafez ESE, Jeinudeen MR, Rosiana Y. 2000. Hormon, growth factors, and reproduction. Hafez ESE, Hafez B (eds). Reproduction in farm animal 7th ed. Philadelphia. Lea and febiger Hasegawa Y, Hirose E, Katakura Y. 1993. Hormonal control of sexual differentiation and reproduction in crustacea. Oxford Journals. American Zoologist. 33(3):403-411. Hepher B dan Y Pruginin. 1981. Comercial fish farming. John Willey and Son. New York. 261 p Huberman A. 2000. Shrimp endocrinology. A review. Aquaculture. 191:191-208. Hunter GA, Donaldson EM. 1983. Hormonal sex control and its application to fishculture. Di dalam : Hoar WS, Randall DJ, Donaldson EM, editor. Fish Physiollogy. Vol. IX B. New York: Academic Press. p 223-291. Kirpichnikov VS. 1981. Genetic bases of fish selection. New York Springer Verlag, Berlin Heidelberg. Kuhl AJ dan M Brouwer. 2005. Antiestrogen inhibit xenoestrogen-induced brain aromatase activity but do not preven xenoestrogen-induced feminization in Japanese Medaka (Oryzias latipes). Environmental Health Perspectives Vol.114/4. April 2006 Kusmini II, LE Hadie, N Rukminasari. 2001. Pengaruh dosis hormon 17Metiltetosteron dalam pakan terhadap peningktan proporsi kelamin jantan udang galah (Macrobrachium rosenbergii). Prosiding workshop hasil penelitian budidaya udang galah. Jakata 16 Juli 2001. Hal 103-106 Kustiariyah. 2006. Isolasi dan uji aktivitas biologis senyawa steroid dari teripang sebagai aprosidiaka alami. Thesis. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Laufer H and Landau M. 1991. Endocrine control of reproduction in shrimp and other crustacea. Frontiers of shrimp research. Edited by: DeLoach PF, Dougherty WJ, Davidson MA. Elsevier. USA. Pp. 65-81.

43

Ling SW. 1967. The general biology and development of Macrobrachium rosenbergii (de Man). FAO World Sci. Conf. on the Biol. and culture of Shrimps and Prawn, Mexico City. Pp. 9-21 Lu FC. 1995. Toksikologi dasar. Asas, organ sasaran dan penilaian resiko. Edisi II. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta. 428 hal. Malecha SR, PA Nevin, Phyllis Ha, LE Barck, Y Lamadrid-Rose, S Masumo and D Hedgecock. 1992. Sex-ration and sex-determination in progeny from crosses of surgically sex-reversed freshwater prawn, Macrobrachium rosembergii. Aquaculture 105 : 201-218. Martoyo J, N Aji, TJ Winanto. 2000. Budidaya teripang. Penebar Swadaya. Jakarta. Mantel KS, Dudgeon D. 2005. Reproduction and sexual dimorphism of The Palaemonid shrimp Macrobrachium hainanense in Hongkong Streams. Journal of Crustacean Biology: Vol.25, No.3, pp. 450-459. Massenreng. 2007. Pengaruh suhu dan dosis aromatase inhibitor (imidazol) terhadap seks reversal pada ikan lele (Clarias sp). Tesis. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Matty AT. 1985. Fish endocrinology. Croom helm. Timber press. Oregon. USA. 264 pp. Mirza JA dan WL Selton. 1988. Induction of ginognesis and sex-reversal in Silver carp. Aquaculture 68 : 1-4 Motoh H. 1981. Studies on the fisheries biology of the giant tiger prawn (Penaeus monodon, Fab.) in The Philippines. [Technical Report No. 7]. Philippines Aquaculture Departement. Southeast Asian Fisheries Development. Murray RK, Granner DK, Mayes PA, Rodwel VW. 2003. Biokimia Harper. Edisi 25. Penerjemah : Hartono, A. Judul Asli : Harpers Biochemistry. 25/E. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 883 hal. Nagy A, Bercsenyi M, Csanyi V. 1981. Sex reversal in carp. (Cyprinus carpio) by oral administrasion of methyltestoterone. Canadian Journal of Fisheries and Aquatic Science 38 : 725-728. Nagahama Y. 1999. Gonadal steroid hormone: major regulator of gonadal sex differentiation and gametogenesis in fish. Sixth In Symp on the reproductive physiology of fish. Bergen. Norway Nagamine C, Knight AW, Maggenti A, Paxman G. 1980a. Effects of androgenic gland ablation on male primary and secondary sexual characteristics in the Malaysian prawn Macrobrachium rosenbergii (de Man) with first evidence of induced feminization in a non-hermaphroditic decapod. Gen. Comp. Endocrinol. 41:423441.

44

Nagamine C, Knight AW, Maggenti A, Paxman G. 1980b. Masculinization of female Macrobrachium rosenbergii (de Man) (Decapoda, Palaemonidae) by androgenic gland implantation. Gen Comp Endrocrinol 41: 442-457 Nakamura M, Kabayashi T, Chang XT, Nagahama Y. 1998. Gonadal sex differentiation in teleost fish. The journal of experimental zoology 281:362372 Nurjanah S. 2008. Identifikasi steroid teripang pasir (Holoturia scabra) dan Bioassay produk teripang sebagai sumber aprodisiak alami dalam upaya peningkatan nilai tambah teripang. Disertasi. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Pandian TJ, Sheela SG. 1995. Hormonal induction of sex reversal in fish. Aquaculture 138 : 1-22. Piera SS, Weatherby TM, Dunlap MF, Arakaki KL, Zacarias DT, Malecha SR. 2000. Developmental changes in structure and polypeptide profile of the androgenic gland of the freshwater prawn Macrobrachium rosenbergii. Aquaculture International. Vol 8(4):327-334 Piferrer F. 2001. Endocrine sex control strategies for feminization of teleost fish. Aquaculture 197 : 229-281. Piferrer F, S Januy, M Carillo, I Solar, RH Devlin, and EM Donaldson. 1994. Brief treatment with an aromatase inhibitor during sex differentiation causes female salmon to develop as normal. Functional males. Jounal of experimental zoology 270 : 255-262 Riani E, Syamsu K, Kaseno, Nurjanah S, Kurnia. 2005. Pemanfaatan steroid teripang sebagai aprodisiaka alami. Laporan Hibah Penelitian Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor Sagi A, Cohen D, Milner Y. 1990. Effect of androgenic gland ablation on morphotypic differentiation and sexual characteristics of male freshwaterprawns, Macrobrachium rosenbergii. Gen.Comp. Endocrinol. 77:15-22. Sarida M. 2005. Efektivitas pemberian aromatase inhibitor dan 17metiltestosteron melalui pakan dalam produksi udang galah (Macrobrachium rosembergii de Man) jantan. Skripsi. Fakultas Perikanan dan Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor Schunack W, Mayer K and Haake M. 1990. Senyawa obat. Penerjemah JR Soebito. K Padmawinata (Ed). Gadjah Mada University Press. Yogyakarta Setyohadi D, Wiadnya GDR, Soemarno. 2001. Pengaruh aerasi dan resirkulasi biofilter terhadap pertumbuhan dan produksi udang galah, Macrobrachium rosenbergii (de Man). Biosain, vol.1, No. 1, April 2001. Hal. 39-46.

45

Shephred CJ dan NJ Bromage. 1988. Intensive fish farming. BPS profesional books. Oxford London Edinburgh Boston Melbourne. Siswandono dan Soekardjo B. 1995. Kimia medisinal. Airlangga University Press. Surabaya. Sower SA, Dickhoff WW, Flagg TA, Michall JL, Mahnken CVW. 1984. Effect of estradiol and diethylestilbesterol on sex reversal and mortality in Atlantic salmon (Salmo salar). Aquaculture 43 : 75 - 81. Strussmann CA, Takashima F, Toda K. 1996. Sex differentiton and hormonal feminization in pejerrey (Odonterthes bonriensis). Aquaculture 139:31-45 Sumantadinata K, Carman O. 1995. Teknologi ginogenesis dan seks reversal dalam pemuliaan ikan. Buletin Ilmiah Gukuryoku I: 15-20. Susilowati T. 1996. Pengaruh ekstrak hipothalamus sapi terhadap induksi ovulasi udang galah (Macrobrachium rosenbergii de Man). Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Taketomi Y, Nishikawa S. 1996. Implantation of androgenic glands into immature female crayfish, Procambarus clarkii, with masculinization of sexual characteristics. J. Crust. Biol. 16:232-239. Toro V dan KA Sugiarto. 1979. Biologi udang : Statistik, morfologi, daur hidup, habitat, dan makanan. LON-LIPI, Jakarta. Hal 1-44 Touir A. 1977. Donnees nouvelles concernant endocrinology esexuelle des Crustaces Decapodes Natantia hermaphrodites et gonochoriques. I. Maintien des glandes androge`nes et role de ces glandes dans le controle des gametogene`ses et des caracte`res sexuels xternes males. Bull. Soc. Zool. Fr.102:375-400. Turner CD, Bagnara JT. 1988. Endokrinologi umum. Penerjemah : Harsojo. Judul Asli: General Endocrinology. 1976. Airlangga University Press. Yogyakarta. 746 hal. Wickins JE. 1976. Prawn biology and culture. Oceanography and marine biology, Ann. Rev. 14: 435-507 Wichins JF, Lee DOC. 2002. Crustacean farming (Raching and Culture). Iowa State University Press. Blackwell Science Company. USA. 446 pp. Wiryowidagdo S. 2005. kasiat dan Keamanan Obat Alami (Makalah seminar). Seminar obat alami vs obat sintetik: sudah aman dan efektifkah obat yang kita konsumsi? (8 Juni 2005). FMIPA. Universitas Indonesia. Depok. Yamamoto T. 1969. Sex Deferrentiation. InWS Hoar and DJ Randal (eds), Fish Physiology. Vol III. Academic Press. New York. P:117-158

46

Yamazaki F. 1983. Sex contro1 and manipulation in fish. Aquaculture 33 : 329-354. Yatim W. 1986. Genetika. Tarsito. Bandung. 97 hal. Yoshikawa H, M Oguri. 1981. Ovarion diferrentiation in medaka, Orizias laipes, with special reference to the gradient of the diferrentiation. Bulletin of the japanase society of scientific fisheries. 47 : 43-50

47

Lampiran 1. Tahapan ekstraksi teripang (Tuctone & Kasparov, 1970 dalam Kustiariyah, 2006) dan tahapan percobaan Bahan (Daging teripang 200 g)

+ Aseton 450 ml

Maserasi (Suhu 4oC, Waktu 24 jam)

Sentrifuge 10000 rpm (Waktu 15 menit, Suhu 4oC)

Evaporasi (Suhu 40 C, Waterbath, sampai kering)


o

Ekstrak kasar
+ Alkohol 70% FORMULASI Karakterisasi (FISIK & KIMIA)

Perendaman Juvenil Udang Galah (Bioassay) I dan II

Uji kadar testosteron

48

Lampiran 2. Tahapan perendaman juvenil menggunakan ekstrak teripang 1. Membuat ekstrak teripang. Ekstrak teripang masing-masing 10, 15, dan 25 mg dilarutkan dalam 2,5 ml alkohol 70 % lalu larutkan ke dalam air 15 liter dalam bak. Begitu juga pada pembuatan larutan hormon 17-methiltestosteron dan

aromatase inhibitor (kontrol positif) serta kontrol negatif.


2. Juvenil yang telah diseleksi, selanjutnya diberok sedikitnya 2 jam. Setelah 2 jam, juvenil dimasukkan ke dalam bak yang telah berisi larutan ekstrak, dengan kepadatan 60 ekor per bak. 3. Bak plastik yang telah diisi larutan ekstrak dan juvenil, kemudian diberi aerasi dan didiamkan sesuai dengan perlakuan (12, 24, dan 36 jam). 4. Setelah perlakuan perendaman, air dalam bak diganti dengan air baru, aerasi diperbesar untuk segera menghilangkan pengaruh hormon dalam air dan memulihkan kondisi juvenil. 5. Setelah kondisi juvenil pulih, yang ditandai gerakan yang aktif maka aerasi diperkecil dan diberikan pakan naupli artemia sesuai dosis yang telah ditentukan. 6. Perawatan juvenil berlangsung selama 30 hari atau sampai dapat dibedakan jenis kelaminnya.

49

Lampiran 3. Komposisi pakan buatan untuk juvenil udang galah jenis Crumble C581 L produksi Charoen Phokphan. Kandungan Protein Lemak Karbohidrat Abu Air Bahan kering (%) 44,2 15,1 22,3 6,81 5

50

Lampiran 4. Kadar testosteron dalam hemolymph udang galah pada percobaan pertama dan kedua Kadar testosteron dalam hemolymph pada percobaan pertama Perlakuan Kandungan Testosteron (ng/dL) KO1 12,048 c KO2 KO3 A B C D E F G H I J K 12,976 13,108 c c

14,212 ab 14,113 ab 14,601 ab 13,614 ab 14,598 ab 14,169 ab 14,325 ab 14,458 ab 14,961 16,073 15,270 a a a

Kandungan testosteron dalam hemolymph pada percobaan kedua PERLAKUAN Kandungan Testosteron (ng/dL) KO1 KO2 KO3 A B C D E F G H I J K 12,907 b 12,687 b 12,626 b 13,559 ab 14,090 ab 14,426 ab 13,503 ab 14,459 ab 14,272 ab 14,372 ab 14,576 ab 14,515 ab 15,894 a 15,200 ab

51

Lampiran 5. Apendix masculinus dan appendix interna pada kaki renang ke-2 Macrobrachium rosenbergii jantan

Apendix masculinus

(Exopodite)

(Endopodite)

(Appendix interna)

52

Lampiran 6. Kualitas air media pemeliharaan juvenil pada percobaan pertama dan kedua Kualitas air media pemeliharaan juvenil pada percobaan pertama Parameter kualitas air Perlakuan o Suhu ( C) pH DO (ppm) KO1 27 29 78 4,5 5 KO2 27 29 7 8,1 4,5 6 KO3 27 29 78 4,2 5,5 A 27 29 78 4,2 6 B 27 29 7 8,1 4 4,5 C 27 29 6,9 8 45 D 27 29 78 4,5 5 E 27 29 7 8,1 4,5 5 F 27 29 7 8,1 45 G 27 29 7 8,1 4 4,5 H 27 29 6,9 8,2 45 I 27 29 78 4,5 6 J 27 29 7 8,1 46 K 27 29 7 8,2 4 5,5 Kualitas air media pemeliharaan juvenil pada percobaan kedua Perlakuan KO1 KO2 KO3 A B C D E F G H I J K Suhu (oC) 25,5 29 25,5 29 25,5 29 25,5 29 25,5 29 25,5 29 25,5 29 25,5 29 25,5 29 25,5 29 25,5 29 25,5 29 25,5 29 25,5 29 Parameter kualitas air pH 7 8,1 7 8,2 78 7 8,1 7 8,1 78 78 78 7 8,1 7 8,1 78 78 78 78 DO (ppm) 4,5 6 4,5 5 4 5,6 4,5 6 4 4,5 4,5 5 4,5 6 4,5 5,5 4 5,5 4,5 4,5 4,5 5 4,5 6 4,5 6 4,5 5,5

53

Lampiran 7. Analisis statistik udang galah berkelamin jantan pada pecobaan pertama Analisis sidik ragam udang galah berkelamin jantan
Between-Subjects Factors Ekstrak 1,00 2,00 3,00 4,00 1,00 2,00 3,00 4,00 Value Label Tanpa ekstrak konsentrasi 10 mg/L konsentrasi 15 mg/L konsentrasi 25 mg/L Direndam air 12 jam perendaman 24 jam perendaman 36 jam perendaman N 9 9 9 9 9 9 9 9

Perendaman

Descriptive Statistics Dependent Variable: Jantan1 Ekstrak Tanpa ekstrak konsentrasi 10 mg/L Perendaman Direndam air Total 12 jam perendaman 24 jam perendaman 36 jam perendaman Total 12 jam perendaman 24 jam perendaman 36 jam perendaman Total 12 jam perendaman 24 jam perendaman 36 jam perendaman Total Direndam air 12 jam perendaman 24 jam perendaman 36 jam perendaman Total Mean 1,4267 1,4267 1,6067 1,6133 1,7233 1,6478 1,6800 1,7167 1,7400 1,7122 1,7733 1,7567 1,8300 1,7867 1,4267 1,6867 1,6956 1,7644 1,6433 Std. Deviation ,06782 ,06782 ,06658 ,05859 ,06658 ,07934 ,02646 ,05033 ,03000 ,04147 ,00577 ,05508 ,02000 ,04444 ,06782 ,08078 ,07970 ,06247 ,14803 N 9 9 3 3 3 9 3 3 3 9 3 3 3 9 9 9 9 9 36

konsentrasi 15 mg/L

konsentrasi 25 mg/L

Total

54

Lanjutan Lampiran 7. Analisis statistik udang galah berkelamin jantan


Dependent Variable: Jumlah jantan Source Corrected Model Intercept Dosis Waktu Dosis * Waktu Error Total Corrected Total Type III Sum of Squares 6596,237(a) 76616,395 6038,154 306,902 251,181 668,444 83881,076 df 11 1 3 2 6 24 36 Mean Square 599,658 76616,395 2012,718 153,451 41,864 27,852 F 21,530 2750,855 72,265 5,510 1,503 Sig. ,000 ,000 ,000 ,011 ,220

7264,681 35 a R Squared = ,908 (Adjusted R Squared = ,866)

UJI BNT Ekstrak


Multiple Comparisons Dependent Variable: Jantan1 LSD Mean Difference Std. Error (I-J) -,2211* ,02534 -,2856* ,02534 -,3600* ,02534 ,2211* ,02534 -,0644* ,02534 -,1389* ,02534 ,2856* ,02534 ,0644* ,02534 -,0744* ,02534 ,3600* ,02534 ,1389* ,02534 ,0744* ,02534

(I) Ekstrak Tanpa ekstrak

konsentrasi 10 mg/L

konsentrasi 15 mg/L

konsentrasi 25 mg/L

(J) Ekstrak konsentrasi 10 mg/L konsentrasi 15 mg/L konsentrasi 25 mg/L Tanpa ekstrak konsentrasi 15 mg/L konsentrasi 25 mg/L Tanpa ekstrak konsentrasi 10 mg/L konsentrasi 25 mg/L Tanpa ekstrak konsentrasi 10 mg/L konsentrasi 15 mg/L

Sig. ,000 ,000 ,000 ,000 ,018 ,000 ,000 ,018 ,007 ,000 ,000 ,007

95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound -,2734 -,1688 -,3378 -,2333 -,4123 -,3077 ,1688 ,2734 -,1167 -,0122 -,1912 -,0866 ,2333 ,3378 ,0122 ,1167 -,1267 -,0222 ,3077 ,4123 ,0866 ,1912 ,0222 ,1267

Based on observed means. *. The mean difference is significant at the ,05 level.

55

Lanjutan Lampiran 7. Analisis statistik udang galah berkelamin jantan


Perendaman
Multiple Comparisons Dependent Variable: Jantan1 LSD Mean Difference (I-J) -,2600* -,2689* -,3378* ,2600* -,0089 -,0778* ,2689* ,0089 -,0689* ,3378* ,0778* ,0689*

(I) Perendaman Direndam air

12 jam perendaman

24 jam perendaman

36 jam perendaman

(J) Perendaman 12 jam perendaman 24 jam perendaman 36 jam perendaman Direndam air 24 jam perendaman 36 jam perendaman Direndam air 12 jam perendaman 36 jam perendaman Direndam air 12 jam perendaman 24 jam perendaman

Std. Error ,02534 ,02534 ,02534 ,02534 ,02534 ,02534 ,02534 ,02534 ,02534 ,02534 ,02534 ,02534

Sig. ,000 ,000 ,000 ,000 ,729 ,005 ,000 ,729 ,012 ,000 ,005 ,012

95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound -,3123 -,2077 -,3212 -,2166 -,3901 -,2855 ,2077 ,3123 -,0612 ,0434 -,1301 -,0255 ,2166 ,3212 -,0434 ,0612 -,1212 -,0166 ,2855 ,3901 ,0255 ,1301 ,0166 ,1212

Based on observed means. *. The mean difference is significant at the ,05 level.

56

Lampiran 8. Analisis statistik kelangsungan hidup udang galah pada percobaan kedua Analisis sidik ragam kelangsungan hidup udang galah
Between-Subjects Factors Ekstrak 1,00 2,00 3,00 4,00 1,00 2,00 3,00 4,00 Value Label Tanpa ekstrak konsentrasi 10 mg/L konsentrasi 15 mg/L konsentrasi 25 mg/L Direndam air 12 jam perendaman 24 jam perendaman 36 jam perendaman N 9 9 9 9 9 9 9 9

Perendaman

Descriptive Statistics Dependent Variable: SR1 Ekstrak Tanpa ekstrak konsentrasi 10 mg/L Perendaman Direndam air Total 12 jam perendaman 24 jam perendaman 36 jam perendaman Total 12 jam perendaman 24 jam perendaman 36 jam perendaman Total 12 jam perendaman 24 jam perendaman 36 jam perendaman Total Direndam air 12 jam perendaman 24 jam perendaman 36 jam perendaman Total Mean 1,8470 1,8470 1,8841 1,8908 1,9144 1,8964 1,8969 1,9118 1,9178 1,9088 1,9000 1,9207 1,9202 1,9136 1,8470 1,8937 1,9077 1,9175 1,8915 Std. Deviation ,01904 ,01904 ,02468 ,01066 ,00405 ,01935 ,01395 ,01775 ,01002 ,01549 ,00529 ,01490 ,00873 ,01362 ,01904 ,01616 ,01842 ,00739 ,03137 N 9 9 3 3 3 9 3 3 3 9 3 3 3 9 9 9 9 9 36

konsentrasi 15 mg/L

konsentrasi 25 mg/L

Total

57

Lanjutan Lampiran 8. Analisis statistik kelangsungan hidup udang galah


Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable: Kelangsungan_hidup Source Corrected Model Intercept Dosis Waktu Dosis * Waktu Error Total Corrected Total Type III Sum of Squares 911,659(a) 219496,935 761,504 105,027 45,128 143,828 220552,423 df 11 1 3 2 6 24 36 Mean Square 82,878 219496,935 253,835 52,514 7,521 5,993 F 13,830 36626,486 42,356 8,763 1,255 Sig. ,000 ,000 ,000 ,001 ,315

1055,487 35 a R Squared = ,864 (Adjusted R Squared = ,801)

UJI BNT Ekstrak

Multiple Comparisons Dependent Variable: SR1 LSD Mean Difference Std. Error (I-J) -,0494* ,00644 -,0618* ,00644 -,0666* ,00644 ,0494* ,00644 -,0124 ,00644 -,0172* ,00644 ,0618* ,00644 ,0124 ,00644 -,0048 ,00644 ,0666* ,00644 ,0172* ,00644 ,0048 ,00644

(I) Ekstrak Tanpa ekstrak

konsentrasi 10 mg/L

konsentrasi 15 mg/L

konsentrasi 25 mg/L

(J) Ekstrak konsentrasi 10 mg/L konsentrasi 15 mg/L konsentrasi 25 mg/L Tanpa ekstrak konsentrasi 15 mg/L konsentrasi 25 mg/L Tanpa ekstrak konsentrasi 10 mg/L konsentrasi 25 mg/L Tanpa ekstrak konsentrasi 10 mg/L konsentrasi 15 mg/L

Sig. ,000 ,000 ,000 ,000 ,066 ,013 ,000 ,066 ,464 ,000 ,013 ,464

95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound -,0627 -,0361 -,0751 -,0485 -,0799 -,0533 ,0361 ,0627 -,0257 ,0009 -,0305 -,0039 ,0485 ,0751 -,0009 ,0257 -,0181 ,0085 ,0533 ,0799 ,0039 ,0305 -,0085 ,0181

Based on observed means. *. The mean difference is significant at the ,05 level.

58

Lanjutan Lampiran 8. Analisis statistik kelangsungan hidup udang galah


Perendaman
Multiple Comparisons Dependent Variable: SR1 LSD Mean Difference (I-J) Std. Error -,0467* ,00644 -,0607* ,00644 -,0705* ,00644 ,0467* ,00644 -,0141* ,00644 -,0238* ,00644 ,0607* ,00644 ,0141* ,00644 -,0097 ,00644 ,0705* ,00644 ,0238* ,00644 ,0097 ,00644

(I) Perendaman Direndam air

12 jam perendaman

24 jam perendaman

36 jam perendaman

(J) Perendaman 12 jam perendaman 24 jam perendaman 36 jam perendaman Direndam air 24 jam perendaman 36 jam perendaman Direndam air 12 jam perendaman 36 jam perendaman Direndam air 12 jam perendaman 24 jam perendaman

Sig. ,000 ,000 ,000 ,000 ,039 ,001 ,000 ,039 ,144 ,000 ,001 ,144

95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound -,0600 -,0334 -,0740 -,0474 -,0837 -,0572 ,0334 ,0600 -,0274 -,0008 -,0371 -,0105 ,0474 ,0740 ,0008 ,0274 -,0230 ,0036 ,0572 ,0837 ,0105 ,0371 -,0036 ,0230

Based on observed means. *. The mean difference is significant at the ,05 level.

59

Lampiran 9. Analisis statistik udang galah berkelamin jantan pada percobaan kedua Analisis sidik ragam udang galah berkelamin jantan
Between-Subjects Factors Ekstrak 1,00 2,00 3,00 4,00 1,00 2,00 3,00 4,00 Value Label Tanpa ekstrak konsentrasi 10 mg/L konsentrasi 15 mg/L konsentrasi 25 mg/L Direndam air 12 jam perendaman 24 jam perendaman 36 jam perendaman N 9 9 9 9 9 9 9 9

Perendaman

Descriptive Statistics Dependent Variable: Jantan2 Ekstrak Tanpa ekstrak konsentrasi 10 mg/L Perendaman Direndam air Total 12 jam perendaman 24 jam perendaman 36 jam perendaman Total 12 jam perendaman 24 jam perendaman 36 jam perendaman Total 12 jam perendaman 24 jam perendaman 36 jam perendaman Total Direndam air 12 jam perendaman 24 jam perendaman 36 jam perendaman Total Mean 1,3932 1,3932 1,6538 1,6520 1,6788 1,6615 1,7496 1,7040 1,7565 1,7367 1,8016 1,7995 1,8238 1,8083 1,3932 1,7350 1,7185 1,7530 1,6499 Std. Deviation ,09362 ,09362 ,04076 ,02534 ,02727 ,03050 ,00898 ,02197 ,01425 ,02831 ,03466 ,02572 ,00828 ,02487 ,09362 ,07040 ,06817 ,06482 ,16705 N 9 9 3 3 3 9 3 3 3 9 3 3 3 9 9 9 9 9 36

konsentrasi 15 mg/L

konsentrasi 25 mg/L

Total

60

Lanjutan Lampiran 9. Analisis statistik udang galah berkelamin jantan


Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable: Jml_Jantan Source Corrected Model Intercept Dosis Waktu Dosis * Waktu Error Total Corrected Total Type III Sum of Squares 7664,639(a) 81423,671 7520,864 25,771 118,005 340,524 89428,834 8005,163 df 11 1 3 2 6 24 36 35 Mean Square 696,785 81423,671 2506,955 12,885 19,667 14,188 F 49,109 5738,717 176,689 ,908 1,386 Sig. ,000 ,000 ,000 ,417 ,260

a R Squared = ,957 (Adjusted R Squared = ,938)

UJI BNT Ekstrak


Multiple Comparisons Dependent Variable: Jantan2 LSD Mean Difference Std. Error (I-J) -,2683* ,02540 -,3434* ,02540 -,4151* ,02540 ,2683* ,02540 -,0751* ,02540 -,1468* ,02540 ,3434* ,02540 ,0751* ,02540 -,0717* ,02540 ,4151* ,02540 ,1468* ,02540 ,0717* ,02540

(I) Ekstrak Tanpa ekstrak

konsentrasi 10 mg/L

konsentrasi 15 mg/L

konsentrasi 25 mg/L

(J) Ekstrak konsentrasi 10 mg/L konsentrasi 15 mg/L konsentrasi 25 mg/L Tanpa ekstrak konsentrasi 15 mg/L konsentrasi 25 mg/L Tanpa ekstrak konsentrasi 10 mg/L konsentrasi 25 mg/L Tanpa ekstrak konsentrasi 10 mg/L konsentrasi 15 mg/L

Sig. ,000 ,000 ,000 ,000 ,007 ,000 ,000 ,007 ,009 ,000 ,000 ,009

95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound -,3207 -,2158 -,3959 -,2910 -,4675 -,3626 ,2158 ,3207 -,1276 -,0227 -,1992 -,0944 ,2910 ,3959 ,0227 ,1276 -,1241 -,0192 ,3626 ,4675 ,0944 ,1992 ,0192 ,1241

Based on observed means. *. The mean difference is significant at the ,05 level.

61

Lanjutan Lampiran 9. Analisis statistik udang galah berkelamin jantan


Perendaman
Multiple Comparisons Dependent Variable: Jantan2 LSD Mean Difference (I-J) -,3417* -,3253* -,3598* ,3417* ,0165 -,0180 ,3253* -,0165 -,0345 ,3598* ,0180 ,0345

(I) Perendaman Direndam air

12 jam perendaman

24 jam perendaman

36 jam perendaman

(J) Perendaman 12 jam perendaman 24 jam perendaman 36 jam perendaman Direndam air 24 jam perendaman 36 jam perendaman Direndam air 12 jam perendaman 36 jam perendaman Direndam air 12 jam perendaman 24 jam perendaman

Std. Error ,02540 ,02540 ,02540 ,02540 ,02540 ,02540 ,02540 ,02540 ,02540 ,02540 ,02540 ,02540

Sig. ,000 ,000 ,000 ,000 ,523 ,485 ,000 ,523 ,187 ,000 ,485 ,187

95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound -,3942 -,2893 -,3777 -,2728 -,4122 -,3073 ,2893 ,3942 -,0360 ,0689 -,0705 ,0344 ,2728 ,3777 -,0689 ,0360 -,0869 ,0179 ,3073 ,4122 -,0344 ,0705 -,0179 ,0869

Based on observed means. *. The mean difference is significant at the ,05 level.

62

Lampiran 10. Analisis statistik kelangsungan hidup udang galah pada percobaan kedua Analisis sidik ragam kelangsungan hidup udang galah
Between-Subjects Factors Ekstrak 1,00 2,00 3,00 4,00 1,00 2,00 3,00 4,00 Value Label Tanpa ekstrak konsentrasi 10 mg/L konsentrasi 15 mg/L konsentrasi 25 mg/L Direndam air 12 jam perendaman 24 jam perendaman 36 jam perendaman N 9 9 9 9 9 9 9 9

Perendaman

Descriptive Statistics Dependent Variable: SR2 Ekstrak Tanpa ekstrak konsentrasi 10 mg/L Perendaman Direndam air Total 12 jam perendaman 24 jam perendaman 36 jam perendaman Total 12 jam perendaman 24 jam perendaman 36 jam perendaman Total 12 jam perendaman 24 jam perendaman 36 jam perendaman Total Direndam air 12 jam perendaman 24 jam perendaman 36 jam perendaman Total Mean 1,8466 1,8466 1,8677 1,9114 1,9287 1,9026 1,8864 1,9119 1,9234 1,9072 1,9116 1,9397 1,9378 1,9297 1,8466 1,8886 1,9210 1,9300 1,8965 Std. Deviation ,02736 ,02736 ,03430 ,00801 ,03119 ,03599 ,04219 ,01520 ,01966 ,02947 ,02318 ,02163 ,00834 ,02130 ,02736 ,03519 ,01970 ,01992 ,04161 N 9 9 3 3 3 9 3 3 3 9 3 3 3 9 9 9 9 9 36

konsentrasi 15 mg/L

konsentrasi 25 mg/L

Total

63

Lanjutan Lampiran 10. Analisis statistik kelangsungan hidup udang galah


Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable: Kelangsungan_hidup Source Corrected Model Intercept Dosis Waktu Dosis * Waktu Error Total Corrected Total Type III Sum of Squares 1403,464(a) 225520,512 1055,044 293,680 54,739 511,102 227435,078 1914,566 df 11 1 3 2 6 24 36 35 Mean Square 127,588 225520,512 351,681 146,840 9,123 21,296 F 5,991 10589,839 16,514 6,895 ,428 Sig. ,000 ,000 ,000 ,004 ,853

a R Squared = ,733 (Adjusted R Squared = ,611)

UJI BNT Ekstrak


Multiple Comparisons Dependent Variable: SR2 LSD Mean Difference (I-J) Std. Error -,0560* ,01224 -,0606* ,01224 -,0831* ,01224 ,0560* ,01224 -,0046 ,01224 -,0271* ,01224 ,0606* ,01224 ,0046 ,01224 -,0225 ,01224 ,0831* ,01224 ,0271* ,01224 ,0225 ,01224

(I) Ekstrak Tanpa ekstrak

konsentrasi 10 mg/L

konsentrasi 15 mg/L

konsentrasi 25 mg/L

(J) Ekstrak konsentrasi 10 mg/L konsentrasi 15 mg/L konsentrasi 25 mg/L Tanpa ekstrak konsentrasi 15 mg/L konsentrasi 25 mg/L Tanpa ekstrak konsentrasi 10 mg/L konsentrasi 25 mg/L Tanpa ekstrak konsentrasi 10 mg/L konsentrasi 15 mg/L

Sig. ,000 ,000 ,000 ,000 ,708 ,036 ,000 ,708 ,078 ,000 ,036 ,078

95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound -,0812 -,0307 -,0858 -,0353 -,1083 -,0578 ,0307 ,0812 -,0299 ,0206 -,0524 -,0019 ,0353 ,0858 -,0206 ,0299 -,0478 ,0028 ,0578 ,1083 ,0019 ,0524 -,0028 ,0478

Based on observed means. *. The mean difference is significant at the ,05 level.

64

Lanjutan Lampiran 10. Analisis statistik kelangsungan hidup udang galah


Perendaman
Multiple Comparisons Dependent Variable: SR2 LSD Mean Difference (I-J) -,0419* -,0744* -,0833* ,0419* -,0324* -,0414* ,0744* ,0324* -,0090 ,0833* ,0414* ,0090

(I) Perendaman Direndam air

12 jam perendaman

24 jam perendaman

36 jam perendaman

(J) Perendaman 12 jam perendaman 24 jam perendaman 36 jam perendaman Direndam air 24 jam perendaman 36 jam perendaman Direndam air 12 jam perendaman 36 jam perendaman Direndam air 12 jam perendaman 24 jam perendaman

Std. Error ,01224 ,01224 ,01224 ,01224 ,01224 ,01224 ,01224 ,01224 ,01224 ,01224 ,01224 ,01224

Sig. ,002 ,000 ,000 ,002 ,014 ,002 ,000 ,014 ,471 ,000 ,002 ,471

95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound -,0672 -,0167 -,0996 -,0491 -,1086 -,0581 ,0167 ,0672 -,0577 -,0072 -,0667 -,0162 ,0491 ,0996 ,0072 ,0577 -,0342 ,0163 ,0581 ,1086 ,0162 ,0667 -,0163 ,0342

Based on observed means. *. The mean difference is significant at the ,05 level.

65

Lampiran 11. Uji BNT untuk udang galah berkelamin jantan pada percobaan pertama
Multiple Comparisons Dependent Variable: JANTAN1 LSD (I) PERLAKUA (J) PERLAKUA Mean Difference (I-J) Std. Error Sig. 95% Confidence Interval Lower Bound KO1 KO2 KO3 A B C D E F G H I KO2 KO1 KO3 A B C D E F G H I KO3 KO1 KO2 A B C D E F G H I A KO1 KO2 KO3 B C D .0067 .0633 -,1567(*) -,1633(*) -,2733(*) -,2300(*) -,2667(*) -,2900(*) -,3233(*) -,3067(*) -,3800(*) -,0067 ,0567 -,1633(*) -,1700(*) -,2800(*) -,2367(*) -,2733(*) -,2967(*) -,3300(*) -,3133(*) -,3867(*) -,0633 -,0567 -,2200(*) -,2267(*) -,3367(*) -,2933(*) -,3300(*) -,3533(*) -,3867(*) -,3700(*) -,4433(*) ,1567(*) ,1633(*) ,2200(*) -,0067 -,1167(*) -,0733 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .881 .162 .002 .001 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .881 .209 .001 .001 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .162 .209 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .002 .001 .000 .881 .014 .108 -.0839 -.0272 -.2472 -.2539 -.3639 -.3206 -.3572 -.3806 -.4139 -.3972 -.4706 -.0972 -.0339 -.2539 -.2606 -.3706 -.3272 -.3639 -.3872 -.4206 -.4039 -.4772 -.1539 -.1472 -.3106 -.3172 -.4272 -.3839 -.4206 -.4439 -.4772 -.4606 -.5339 .0661 .0728 .1294 -.0972 -.2072 -.1639 Upper Bound .0972 .1539 -.0661 -.0728 -.1828 -.1394 -.1761 -.1994 -.2328 -.2161 -.2894 .0839 .1472 -.0728 -.0794 -.1894 -.1461 -.1828 -.2061 -.2394 -.2228 -.2961 .0272 .0339 -.1294 -.1361 -.2461 -.2028 -.2394 -.2628 -.2961 -.2794 -.3528 .2472 .2539 .3106 .0839 -.0261 .0172

66

E F G H I B KO1 KO2 KO3 A C D E F G H I C KO1 KO2 KO3 A B D E F G H D I KO1 KO2 KO3 A B C E F G H I E K1 K2 K3 A B C D F G H I F KO1

-,1100(*) -,1333(*) -,1667(*) -,1500(*) -,2233(*) ,1633(*) ,1700(*) ,2267(*) ,0067 -,1100(*) -,0667 -,1033(*) -,1267(*) -,1600(*) -,1433(*) -,2167(*) ,2733(*) ,2800(*) ,3367(*) ,1167(*) ,1100(*) ,0433 ,0067 -,0167 -,0500 -,0333 -,1067(*) ,2300(*) ,2367(*) ,2933(*) ,0733 ,0667 -,0433 -,0367 -,0600 -,0933(*) -,0767 -,1500(*) ,2667(*) ,2733(*) ,3300(*) ,1100(*) ,1033(*) -,0067 ,0367 -,0233 -,0567 -,0400 -,1133(*) ,2900(*)

.04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389

.019 .006 .001 .002 .000 .001 .001 .000 .881 .019 .142 .027 .008 .001 .003 .000 .000 .000 .000 .014 .019 .333 .881 .707 .266 .455 .023 .000 .000 .000 .108 .142 .333 .412 .184 .044 .093 .002 .000 .000 .000 .019 .027 .881 .412 .600 .209 .371 .016 .000

-.2006 -.2239 -.2572 -.2406 -.3139 .0728 .0794 .1361 -.0839 -.2006 -.1572 -.1939 -.2172 -.2506 -.2339 -.3072 .1828 .1894 .2461 .0261 .0194 -.0472 -.0839 -.1072 -.1406 -.1239 -.1972 .1394 .1461 .2028 -.0172 -.0239 -.1339 -.1272 -.1506 -.1839 -.1672 -.2406 .1761 .1828 .2394 .0194 .0128 -.0972 -.0539 -.1139 -.1472 -.1306 -.2039 .1994

-.0194 -.0428 -.0761 -.0594 -.1328 .2539 .2606 .3172 .0972 -.0194 .0239 -.0128 -.0361 -.0694 -.0528 -.1261 .3639 .3706 .4272 .2072 .2006 .1339 .0972 .0739 .0406 .0572 -.0161 .3206 .3272 .3839 .1639 .1572 .0472 .0539 .0306 -.0028 .0139 -.0594 .3572 .3639 .4206 .2006 .1939 .0839 .1272 .0672 .0339 .0506 -.0228 .3806

67

KO2 KO3 A B C D E G H I KO1 KO2 G KO3 A B C D E F H I KO1 KO2 H KO3 A B C D E F G I KO1 KO2 I KO3 A B C D E F G H

,2967(*) ,3533(*) ,1333(*) ,1267(*) ,0167 ,0600 ,0233 -,0333 -,0167 -,0900 ,3233(*) ,3300(*) ,3867(*) ,1667(*) ,1600(*) ,0500 ,0933(*) ,0567 ,0333 ,0167 -,0567 ,3067(*) ,3133(*) ,3700(*) ,1500(*) ,1433(*) ,0333 ,0767 ,0400 ,0167 -,0167 -,0733 ,3800(*) ,3867(*) ,4433(*) ,2233(*) ,2167(*) ,1067(*) ,1500(*) ,1133(*) ,0900 ,0567 ,0733

.04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389 .04389

.000 .000 .006 .008 .707 .184 .600 .455 .707 .051 .000 .000 .000 .001 .001 .266 .044 .209 .455 .707 .209 .000 .000 .000 .002 .003 .455 .093 .371 .707 .707 .108 .000 .000 .000 .000 .000 .023 .002 .016 .051 .209 .108

.2061 .2628 .0428 .0361 -.0739 -.0306 -.0672 -.1239 -.1072 -.1806 .2328 .2394 .2961 .0761 .0694 -.0406 .0028 -.0339 -.0572 -.0739 -.1472 .2161 .2228 .2794 .0594 .0528 -.0572 -.0139 -.0506 -.0739 -.1072 -.1639 .2894 .2961 .3528 .1328 .1261 .0161 .0594 .0228 -.0006 -.0339 -.0172

.3872 .4439 .2239 .2172 .1072 .1506 .1139 .0572 .0739 .0006 .4139 .4206 .4772 .2572 .2506 .1406 .1839 .1472 .1239 .1072 .0339 .3972 .4039 .4606 .2406 .2339 .1239 .1672 .1306 .1072 .0739 .0172 .4706 .4772 .5339 .3139 .3072 .1972 .2406 .2039 .1806 .1472 .1639

Based on observed means. * The mean difference is significant at the ,05 level.

68

Lampiran 12. Uji BNT untuk kelangsungan hidup udang galah pada percobaan pertama
Multiple Comparisons Dependent Variable: SR1 LSD Mean Difference (I-J) ,0137 -,0205 -,0394(*) -,0460(*) -,0696(*) -,0521(*) -,0670(*) -,0731(*) -,0553(*) -,0759(*) -,0754(*) -,0137 -,0342(*) -,0531(*) -,0597(*) -,0833(*) -,0658(*) -,0808(*) -,0868(*) -,0690(*) -,0896(*) -,0891(*) ,0205 ,0342(*) -,0189 -,0256(*) -,0492(*) -,0316(*) -,0466(*) -,0526(*) -,0348(*) -,0554(*) -,0550(*) ,0394(*) ,0531(*) ,0189 -,0066 -,0303(*) -,0127 -,0277(*) 95% Confidence Interval Std. Error Sig. Lower Bound .01115 .01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 .230 .079 ,002 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,230 ,005 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,079 ,005 ,103 ,031 ,000 ,009 ,000 ,000 ,005 ,000 ,000 ,002 ,000 ,103 ,557 ,012 ,265 ,020 -.0093 -.0435 -,0624 -,0690 -,0926 -,0751 -,0900 -,0961 -,0783 -,0989 -,0984 -,0367 -,0572 -,0761 -,0827 -,1064 -,0888 -,1038 -,1098 -,0920 -,1126 -,1121 -,0026 ,0112 -,0419 -,0486 -,0722 -,0547 -,0696 -,0756 -,0578 -,0785 -,0780 ,0164 ,0301 -,0041 -,0297 -,0533 -,0358 -,0507 Upper Bound .0367 .0026 -,0164 -,0230 -,0466 -,0291 -,0440 -,0501 -,0323 -,0529 -,0524 ,0093 -,0112 -,0301 -,0367 -,0603 -,0428 -,0577 -,0638 -,0460 -,0666 -,0661 ,0435 ,0572 ,0041 -,0025 -,0262 -,0086 -,0236 -,0296 -,0118 -,0324 -,0319 ,0624 ,0761 ,0419 ,0164 -,0073 ,0103 -,0047

(I) PLAKUAN

(J) PLAKUAN

KO1

KO2 KO3 A B C D E F G H I

KO2

KO1 KO3 A B C D E F G H I

KO3

KO1 KO2 A B C D E F G H I

KO1 KO2 KO3 B C D E

69

F G H I B KO1 KO2 KO3 A C D E F G H I C KO1 KO2 KO3 A B D E F G H D I KO1 KO2 KO3 A B C E F G H I E KO1 KO2 KO3 A B C D F G H I F KO1

-,0337(*) -,0159 -,0365(*) -,0361(*) ,0460(*) ,0597(*) ,0256(*) ,0066 -,0236(*) -,0061 -,0210 -,0271(*) -,0093 -,0299(*) -,0294(*) ,0696(*) ,0833(*) ,0492(*) ,0303(*) ,0236(*) ,0175 ,0026 -,0034 ,0144 -,0063 -,0058 ,0521(*) ,0658(*) ,0316(*) ,0127 ,0061 -,0175 -,0149 -,0210 -,0032 -,0238(*) -,0233(*) ,0670(*) ,0808(*) ,0466(*) ,0277(*) ,0210 -,0026 ,0149 -,0060 ,0118 -,0089 -,0084 ,0731(*)

,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115

,006 ,167 ,003 ,004 ,000 ,000 ,031 ,557 ,045 ,590 ,072 ,023 ,415 ,013 ,014 ,000 ,000 ,000 ,012 ,045 ,129 ,818 ,760 ,210 ,580 ,609 ,000 ,000 ,009 ,265 ,590 ,129 ,193 ,072 ,779 ,043 ,047 ,000 ,000 ,000 ,020 ,072 ,818 ,193 ,593 ,302 ,435 ,459 ,000

-,0567 -,0389 -,0595 -,0591 ,0230 ,0367 ,0025 -,0164 -,0466 -,0291 -,0440 -,0501 -,0323 -,0529 -,0524 ,0466 ,0603 ,0262 ,0073 ,0006 -,0055 -,0204 -,0265 -,0086 -,0293 -,0288 ,0291 ,0428 ,0086 -,0103 -,0169 -,0405 -,0379 -,0440 -,0262 -,0468 -,0463 ,0440 ,0577 ,0236 ,0047 -,0020 -,0256 -,0081 -,0291 -,0112 -,0319 -,0314 ,0501

-,0107 ,0071 -,0135 -,0130 ,0690 ,0827 ,0486 ,0297 -,0006 ,0169 ,0020 -,0041 ,0138 -,0069 -,0064 ,0926 ,1064 ,0722 ,0533 ,0466 ,0405 ,0256 ,0196 ,0374 ,0168 ,0172 ,0751 ,0888 ,0547 ,0358 ,0291 ,0055 ,0081 ,0020 ,0198 -,0008 -,0003 ,0900 ,1038 ,0696 ,0507 ,0440 ,0204 ,0379 ,0170 ,0348 ,0142 ,0146 ,0961

70

KO2 KO3 A B C D E G H I G KO1 KO2 KO3 A B C D E F H I H KO1 KO2 KO3 A B C D E F G I I KO1 KO2 KO3 A B C D E F G H

,0868(*) ,0526(*) ,0337(*) ,0271(*) ,0034 ,0210 ,0060 ,0178 -,0028 -,0023 ,0553(*) ,0690(*) ,0348(*) ,0159 ,0093 -,0144 ,0032 -,0118 -,0178 -,0206 -,0202 ,0759(*) ,0896(*) ,0554(*) ,0365(*) ,0299(*) ,0063 ,0238(*) ,0089 ,0028 ,0206 ,0005 ,0754(*) ,0891(*) ,0550(*) ,0361(*) ,0294(*) ,0058 ,0233(*) ,0084 ,0023 ,0202 -,0005

,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115 ,01115

,000 ,000 ,006 ,023 ,760 ,072 ,593 ,123 ,803 ,836 ,000 ,000 ,005 ,167 ,415 ,210 ,779 ,302 ,123 ,077 ,083 ,000 ,000 ,000 ,003 ,013 ,580 ,043 ,435 ,803 ,077 ,966 ,000 ,000 ,000 ,004 ,014 ,609 ,047 ,459 ,836 ,083 ,966

,0638 ,0296 ,0107 ,0041 -,0196 -,0020 -,0170 -,0052 -,0258 -,0254 ,0323 ,0460 ,0118 -,0071 -,0138 -,0374 -,0198 -,0348 -,0408 -,0436 -,0432 ,0529 ,0666 ,0324 ,0135 ,0069 -,0168 ,0008 -,0142 -,0202 -,0024 -,0225 ,0524 ,0661 ,0319 ,0130 ,0064 -,0172 ,0003 -,0146 -,0207 -,0029 -,0235

,1098 ,0756 ,0567 ,0501 ,0265 ,0440 ,0291 ,0408 ,0202 ,0207 ,0783 ,0920 ,0578 ,0389 ,0323 ,0086 ,0262 ,0112 ,0052 ,0024 ,0029 ,0989 ,1126 ,0785 ,0595 ,0529 ,0293 ,0468 ,0319 ,0258 ,0436 ,0235 ,0984 ,1121 ,0780 ,0591 ,0524 ,0288 ,0463 ,0314 ,0254 ,0432 ,0225

Based on observed means. * The mean difference is significant at the .05 level.

71

Lampiran 13. Uji BNT untuk udang galah berkelamin jantan pada percobaan kedua
Multiple Comparisons Dependent Variable: JANTAN2 LSD Mean Difference (I-J) -,0441 ,0449 -,2602(*) -,2585(*) -,2853(*) -,3561(*) -,3105(*) -,3629(*) -,4081(*) -,4060(*) -,4303(*) ,0441 ,0891 -,2161(*) -,2144(*) -,2411(*) -,3119(*) -,2663(*) -,3188(*) -,3640(*) -,3619(*) -,3861(*) -,0449 -,0891 -,3052(*) -,3034(*) -,3302(*) -,4010(*) -,3554(*) -,4079(*) -,4531(*) -,4510(*) -,4752(*) ,2602(*) ,2161(*) ,3052(*) ,0017 -,0250 -,0958(*) -,0502 -,1027(*) 95% Confidence Interval Std. Error Sig. Lower Bound ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,326 ,317 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,326 ,054 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,317 ,054 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,969 ,574 ,039 ,265 ,028 -,1350 -,0459 -,3511 -,3493 -,3761 -,4469 -,4013 -,4538 -,4989 -,4968 -,5211 -,0467 -,0017 -,3069 -,3052 -,3320 -,4027 -,3571 -,4096 -,4548 -,4527 -,4770 -,1358 -,1799 -,3960 -,3943 -,4211 -,4918 -,4462 -,4987 -,5439 -,5418 -,5660 ,1694 ,1253 ,2144 -,0891 -,1159 -,1866 -,1410 -,1935 Upper Bound ,0467 ,1358 -,1694 -,1677 -,1945 -,2652 -,2197 -,2721 -,3173 -,3152 -,3395 ,1350 ,1799 -,1253 -,1235 -,1503 -,2211 -,1755 -,2280 -,2732 -,2711 -,2953 ,0459 ,0017 -,2144 -,2126 -,2394 -,3102 -,2646 -,3171 -,3623 -,3602 -,3844 ,3511 ,3069 ,3960 ,0926 ,0658 -,0050 ,0406 -,0119

(I) PLAKUAN

(J) PLAKUAN

KO1

KO2 KO3 A B C D E F G H I

KO2

KO1 KO3 A B C D E F G H I

KO3

KO1 KO2 A B C D E F G H I

KO1 KO2 KO3 B C D E F

72

G H I B KO1 KO2 KO3 A C D E F G H I C KO1 KO2 KO3 A B D E F G H D I KO1 KO2 KO3 A B C E F G H I E KO1 KO2 KO3 A B C D F G H I F KO1 KO2

-,1479(*) -,1458(*) -,1700(*) ,2585(*) ,2144(*) ,3034(*) -,0017 -,0268 -,0976(*) -,0520 -,1044(*) -,1496(*) -,1475(*) -,1718(*) ,2853(*) ,2411(*) ,3302(*) ,0250 ,0268 -,0708 -,0252 -,0777 -,1228(*) -,1207(*) -,1450(*) ,3561(*) ,3119(*) ,4010(*) ,0958(*) ,0976(*) ,0708 ,0456 -,0069 -,0521 -,0500 -,0742 ,3105(*) ,2663(*) ,3554(*) ,0502 ,0520 ,0252 -,0456 -,0525 -,0977(*) -,0956(*) -,1198(*) ,3629(*) ,3188(*)

,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400

,003 ,003 ,001 ,000 ,000 ,000 ,969 ,548 ,036 ,249 ,026 ,002 ,003 ,001 ,000 ,000 ,000 ,574 ,548 ,121 ,572 ,090 ,010 ,011 ,003 ,000 ,000 ,000 ,039 ,036 ,121 ,311 ,877 ,248 ,267 ,105 ,000 ,000 ,000 ,265 ,249 ,572 ,311 ,245 ,036 ,040 ,012 ,000 ,000

-,2387 -,2366 -,2609 ,1677 ,1235 ,2126 -,0926 -,1176 -,1884 -,1428 -,1953 -,2404 -,2383 -,2626 ,1945 ,1503 ,2394 -,0658 -,0640 -,1616 -,1160 -,1685 -,2137 -,2116 -,2358 ,2652 ,2211 ,3102 ,0050 ,0067 -,0200 -,0452 -,0977 -,1429 -,1408 -,1650 ,2197 ,1755 ,2646 -,0406 -,0388 -,0656 -,1364 -,1433 -,1885 -,1864 -,2106 ,2721 ,2280

-,0571 -,0550 -,0792 ,3493 ,3052 ,3943 ,0891 ,0640 -,0067 ,0388 -,0136 -,0588 -,0567 -,0810 ,3761 ,3320 ,4211 ,1159 ,1176 ,0200 ,0656 ,0132 -,0320 -,0299 -,0542 ,4469 ,4027 ,4918 ,1866 ,1884 ,1616 ,1364 ,0839 ,0387 ,0408 ,0166 ,4013 ,3571 ,4462 ,1410 ,1428 ,1160 ,0452 ,0383 -,0068 -,0047 -,0290 ,4538 ,4096

73

KO3 A B C D E G H I G KO1 KO2 KO3 A B C D E F H I H KO1 KO2 KO3 A B C D E F G I I KO1 KO2 KO3 A B C D E F G H

,4079(*) ,1027(*) ,1044(*) ,0777 ,0069 ,0525 -,0452 -,0431 -,0673 ,4081(*) ,3640(*) ,4531(*) ,1479(*) ,1496(*) ,1228(*) ,0521 ,0977(*) ,0452 ,0021 -,0222 ,4060(*) ,3619(*) ,4510(*) ,1458(*) ,1475(*) ,1207(*) ,0500 ,0956(*) ,0431 -,0021 -,0243 ,4303(*) ,3861(*) ,4752(*) ,1700(*) ,1718(*) ,1450(*) ,0742 ,1198(*) ,0673 ,0222 ,0243

,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400 ,04400

,000 ,028 ,026 ,090 ,877 ,245 ,315 ,337 ,139 ,000 ,000 ,000 ,003 ,002 ,010 ,248 ,036 ,315 ,962 ,619 ,000 ,000 ,000 ,003 ,003 ,011 ,267 ,040 ,337 ,962 ,587 ,000 ,000 ,000 ,001 ,001 ,003 ,105 ,012 ,139 ,619 ,587

,3171 ,0119 ,0136 -,0132 -,0839 -,0383 -,1360 -,1339 -,1582 ,3173 ,2732 ,3623 ,0571 ,0588 ,0320 -,0387 ,0068 -,0456 -,0887 -,1130 ,3152 ,2711 ,3602 ,0550 ,0567 ,0299 -,0408 ,0047 -,0477 -,0929 -,1151 ,3395 ,2953 ,3844 ,0792 ,0810 ,0542 -,0166 ,0290 -,0235 -,0687 -,0666

,4987 ,1935 ,1953 ,1685 ,0977 ,1433 ,0456 ,0477 ,0235 ,4989 ,4548 ,5439 ,2387 ,2404 ,2137 ,1429 ,1885 ,1360 ,0929 ,0687 ,4968 ,4527 ,5418 ,2366 ,2383 ,2116 ,1408 ,1864 ,1339 ,0887 ,0666 ,5211 ,4770 ,5660 ,2609 ,2626 ,2358 ,1650 ,2106 ,1582 ,1130 ,1151

Based on observed means. * The mean difference is significant at the ,05 level.

74

Lampiran 14. Uji BNT untuk kelangsungan hidup udang galah pada percobaan kedua
Multiple Comparisons Dependent Variable: SR2 LSD Mean Difference (I-J) -,0100 -,0278 -,0336 -,0774(*) -,0947(*) -,0524(*) -,0779(*) -,0894(*) -,0776(*) -,1057(*) -,1038(*) ,0100 -,0178 -,0236 -,0674(*) -,0846(*) -,0423 -,0678(*) -,0794(*) -,0676(*) -,0957(*) -,0937(*) ,0278 ,0178 -,0058 -,0496(*) -,0669(*) -,0246 -,0501(*) -,0616(*) -,0498(*) -,0779(*) -,0760(*) ,0336 ,0236 ,0058 -,0437(*) -,0610(*) -,0187 -,0442(*) 95% Confidence Interval Std. Error Sig. Lower Bound ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,640 ,202 ,125 ,001 ,000 ,021 ,001 ,000 ,001 ,000 ,000 ,640 ,410 ,276 ,004 ,001 ,057 ,004 ,001 ,004 ,000 ,000 ,202 ,410 ,785 ,028 ,004 ,258 ,027 ,008 ,027 ,001 ,001 ,125 ,276 ,785 ,050 ,008 ,386 ,048 -,0538 -,0715 -,0774 -,1211 -,1384 -,0961 -,1216 -,1331 -,1214 -,1495 -,1475 -,0337 -,0615 -,0674 -,1111 -,1284 -,0861 -,1116 -,1231 -,1113 -,1394 -,1375 -,0159 -,0260 -,0496 -,0933 -,1106 -,0683 -,0938 -,1053 -,0936 -,1217 -,1197 -,0101 -,0201 -,0379 -,0875 -,1048 -,0625 -,0879 Upper Bound ,0337 ,0159 ,0101 -,0337 -,0509 -,0086 -,0341 -,0457 -,0339 -,0620 -,0600 ,0538 ,0260 ,0201 -,0236 -,0409 ,0014 -,0241 -,0356 -,0238 -,0519 -,0500 ,0715 ,0615 ,0379 -,0059 -,0231 ,0192 -,0063 -,0179 -,0061 -,0342 -,0322 ,0774 ,0674 ,0496 ,0000 -,0173 ,0250 -,0005

(I) PLAKUAN

(J) PLAKUAN

KO1

KO2 KO3 A B C D E F G H I

KO2

KO1 KO3 A B C D E F G H I

KO3

KO1 KO2 A B C D E F G H I

KO1 KO2 KO3 B C D E

75

F G H I B KO1 KO2 KO3 A C D E F G H I C KO1 KO2 KO3 A B D E F G H D I KO1 KO2 KO3 A B C E F G H I E KO1 KO2 KO3 A B C D F G H I F KO1

-,0558(*) -,0440(*) -,0721(*) -,0701(*) ,0774(*) ,0674(*) ,0496(*) ,0437(*) -,0173 ,0250 -,0005 -,0120 -,0002 -,0283 -,0264 ,0947(*) ,0846(*) ,0669(*) ,0610(*) ,0173 ,0423 ,0168 ,0053 ,0171 -,0110 -,0091 ,0524(*) ,0423 ,0246 ,0187 -,0250 -,0423 -,0255 -,0370 -,0252 -,0533(*) -,0514(*) ,0779(*) ,0678(*) ,0501(*) ,0442(*) ,0005 -,0168 ,0255 -,0115 ,0002 -,0279 -,0259 ,0894(*)

,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119

,015 ,049 ,002 ,003 ,001 ,004 ,028 ,050 ,423 ,249 ,983 ,576 ,992 ,194 ,225 ,000 ,001 ,004 ,008 ,423 ,057 ,435 ,806 ,429 ,607 ,671 ,021 ,057 ,258 ,386 ,249 ,057 ,241 ,093 ,245 ,019 ,023 ,001 ,004 ,027 ,048 ,983 ,435 ,241 ,591 ,991 ,201 ,233 ,000

-,0995 -,0877 -,1158 -,1139 ,0337 ,0236 ,0059 ,0000 -,0610 -,0187 -,0442 -,0557 -,0440 -,0721 -,0701 ,0509 ,0409 ,0231 ,0173 -,0265 -,0014 -,0269 -,0385 -,0267 -,0548 -,0529 ,0086 -,0014 -,0192 -,0250 -,0688 -,0860 -,0692 -,0808 -,0690 -,0971 -,0952 ,0341 ,0241 ,0063 ,0005 -,0433 -,0606 -,0183 -,0553 -,0435 -,0716 -,0697 ,0457

-,0120 -,0002 -,0283 -,0264 ,1211 ,1111 ,0933 ,0875 ,0265 ,0688 ,0433 ,0317 ,0435 ,0154 ,0174 ,1384 ,1284 ,1106 ,1048 ,0610 ,0860 ,0606 ,0490 ,0608 ,0327 ,0346 ,0961 ,0861 ,0683 ,0625 ,0187 ,0014 ,0183 ,0067 ,0185 -,0096 -,0077 ,1216 ,1116 ,0938 ,0879 ,0442 ,0269 ,0692 ,0322 ,0440 ,0159 ,0178 ,1331

76

KO2 KO3 A B C D E G H I G KO1 KO2 KO3 A B C D E F H I H KO1 KO2 KO3 A B C D E F G I I KO1 KO2 KO3 A B C D E F G H

,0794(*) ,0616(*) ,0558(*) ,0120 -,0053 ,0370 ,0115 ,0118 -,0163 -,0144 ,0776(*) ,0676(*) ,0498(*) ,0440(*) ,0002 -,0171 ,0252 -,0002 -,0118 -,0281 -,0262 ,1057(*) ,0957(*) ,0779(*) ,0721(*) ,0283 ,0110 ,0533(*) ,0279 ,0163 ,0281 ,0019 ,1038(*) ,0937(*) ,0760(*) ,0701(*) ,0264 ,0091 ,0514(*) ,0259 ,0144 ,0262 -,0019

,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119 ,02119

,001 ,008 ,015 ,576 ,806 ,093 ,591 ,583 ,449 ,504 ,001 ,004 ,027 ,049 ,992 ,429 ,245 ,991 ,583 ,197 ,229 ,000 ,000 ,001 ,002 ,194 ,607 ,019 ,201 ,449 ,197 ,928 ,000 ,000 ,001 ,003 ,225 ,671 ,023 ,233 ,504 ,229 ,928

,0356 ,0179 ,0120 -,0317 -,0490 -,0067 -,0322 -,0320 -,0601 -,0581 ,0339 ,0238 ,0061 ,0002 -,0435 -,0608 -,0185 -,0440 -,0555 -,0718 -,0699 ,0620 ,0519 ,0342 ,0283 -,0154 -,0327 ,0096 -,0159 -,0274 -,0156 -,0418 ,0600 ,0500 ,0322 ,0264 -,0174 -,0346 ,0077 -,0178 -,0294 -,0176 -,0457

,1231 ,1053 ,0995 ,0557 ,0385 ,0808 ,0553 ,0555 ,0274 ,0294 ,1214 ,1113 ,0936 ,0877 ,0440 ,0267 ,0690 ,0435 ,0320 ,0156 ,0176 ,1495 ,1394 ,1217 ,1158 ,0721 ,0548 ,0971 ,0716 ,0601 ,0718 ,0457 ,1475 ,1375 ,1197 ,1139 ,0701 ,0529 ,0952 ,0697 ,0581 ,0699 ,0418

Based on observed means. * The mean difference is significant at the ,05 level.