Anda di halaman 1dari 3

Kerusakan Hati akibat Obat (part 1)

Sahabat pembaca sekalian, Adanya gangguan atau kerusakan hati (liver) dapat diketahui dengan gejala-gejala berikut ini, rasa mual, muntah, sakit kepala, badan kuning, clay color stools, urin pekat dan pembesaran hati (hepatomegali). Istilah yang digunakan untuk penyakit ini umumnya disebut hepatitis. Penyebab hepatitis sebenarnya ada banyak, salah satunya akibat obat. Nah, istilah yang digunakan untuk obat yang menyebabkan penyakit hati ini disebut obat penginduksi kerusakan hati (drug induced liver injury), sedangkan efeknya disebut hepatotoksik atau toksik ke hepar (hati). Meskipun hepatitis akibat obat cenderung akut, tapi jika tidak disadari dapat menyebabkan kerusakan permanen menjadi hepatitis kronis. Secara umum, ada 3 jenis hepatitis yang diinduksi obat: Pertama, tipe toksik Pada kelompok ini, reaksi hepatotoksik akibat obat tertentu dapat dialami setiap orang yang

mengkonsumsinya. Obat tersebut memang sudah diketahui dapat menimbulkan efek hepatotoksik. Kedua, idiosinkrasi metabolik Proses metabolisme obat pada individu kelompok ini berbeda dengan kebanyakan orang. Dimana metabolit atau produk yang dihasilkan bersifat toksik ke hati. Jadi, memang lain dari yang seharusnya dan biasanya. Ini terjadi pada 0.1-2% orang dan diperberat dengan adanya riwayat kebiasaan mengkonsumsi alkohol. Ketiga, idiosinkrasi imunologik Pada kelompok ini, tubuh menganggap produk hasil metabolisme sebagai benda asing sehingga terjadilah reaksi imun. Terjadi kurang lebih 1 per 10,000 (0.01%) dan dua kali lebih sering pada perempuan. Dari ketiga tipe di atas, bisa kita ketahui bahwa efek hepatotoksik obat ini ada yang bisa diprediksi dan ada yang tidak. Bisa diprediksi jika diketahui mekanisme kerjanya, metabolit yang dihasilkannya maupun kaitannya dengan jumlah dosis. Contoh yang bisa diprediksi misalnya Parasetamol. Parasetamol merupakan obat antinyeri dan penurun panas yang paling sering menyebabkan penyakit liver akibat obat dan gagal hati akut. Penggunaan lebih dari 2.5 gram per 24 jam dapat menyebabkan hepatotoksisitas akut. Bagaimana ini bisa terjadi?

Sebenarnya, kerusakan di hati ini bukan akibat ulah parasetamol sendiri, tapi akibat metabolit toksik yang dihasilkannya, yaitu NABQI (N-acetyl-p-benzoquinone imine). Penggunaan pada dosis terapi, metabolit ini didetoksifikasi secara konjugasi oleh glutation. Tapi, jika overdosis maka jumlah NABQI yang dihasilkan juga akan banyak, sehingga glutation tidak cukup untuk mendetoksifikasinya. Dengan kata lain, lebih banyak jumlah NABQI dibanding glutation.akibatnya, metabolit toksik tersebut pun merusak sel-sel hati.