Anda di halaman 1dari 18

MODUL I Densitas, Viskositas, Gel Strength, dan Atmosfir Filtration Loss Water Base Mud Laporan Percobaan

Nama NIM Kelompok Tanggal praktikum Tanggal penyerahan Dosen Asisten Modul : Nur Fatonah : 12211075 : Jumat 2 : 7 8 November 2013 : 15 November 2013 : Dr. Ing. Bonar Tua Halomoan Marbun : Aldia Syamsudhuha Bramantyo Eko Kurnianto Devi Anggara (12210027) (12210031) (12210066)

LABORATORIUM TEKNIK OPERASI PEMBORAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERMINYAKAN INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2013

MODUL I Densitas, Viskositas, Gel Strength, dan Atmosfir Filtration Loss Water Base Mud

I.

TUJUAN PERCOBAAN 1. Memahami fungsi lumpur dalam proses pemboran 2. Memahami dan mengukur sifat-sifat lumpur pemboran : densitas, viskositas, gel strength, dan filtration loss 3. Memahami prinsip dan cara kerja peralatan praktikum : Fann VG, Mud Balance, dan Filter Pressure Apparatus 4. Memahami perubahan sifat lumpur pemboran akibat penambahan berbagai jenis aditif

II.

ALAT DAN BAHAN Alat : 1. Multimixer 2. Filter Press Apparatus 3. Fann VG 4. Mud balance 5. Gelas ukur 6. Pengaduk Bahan : 1. Air 2. Bentonite 3. Aditif PAC-LV 4. Aditif Xanthan Gum 7. Bejana 8. Tissue 9. Goggle 10. Masker dan sarung tangan

III. DATA PENGAMATAN

Dari praktikum modul 1 ini, didapatkan data sebagai berikut : Tabel 1.1 Pengukuran densitas menggunakan mud balance Pengukuran ke1 2 3 ( ppg ) LS + Barite 8,9 8,8 8,9

LS 8,6 8,6 8,7

Keterangan : LS = Lumpur Standar

Tabel 1.2 - Penentuan Apparent Viscosity, Plastic Viscosity, dan Yield Point Menggunakan alat Fann VG Viscometer Jenis lumpur LS LS + PAC LV LS + Xanthan Gum Dial reading ( ) 600 RPM 100 RPM 55 20 86 32,5 59 21

200 RPM 29 46 31

6 RPM 5 10 5

3 RPM 3 8,5 3

300 RPM 38 60 40

Tabel 1.3 Gel strength yang didapatkan dengan menggunakan Fann VG Viscometer Jenis Lumpur LS LS+PAC LV LS +Xanthan Gum 10 sekon 5 7 5 10 menit 19 24 21

Tabel 1.4 Volume filtrate yang dihasilkan dengan menggunakan Filter Press Apparatus Lumpur Standar Lumpur Standar + PAC LV Volume filtrat Volume filtrat t ( menit ) t ( menit ) ( ml ) ( ml )
2 4 6 2,2 3,7 4,9 2 4 6 1,1 2,3 3,2

7,5 8 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

5,6 5,8 6,7 7,1 7,5 7,8 8,2 8,5 8,8 9,1 9,4 9,7 10 10,3 10,6 10,8 11 11,2 11,5 11,8 12 12,2 12,4

7,5 8 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

3,8 4 4,6 4,9 5,2 5,5 5,8 6 6,2 6,5 6,8 7 7,2 7,4 7,6 7,8 8 8,2 8,4 8,6 8,8 8,9 9

Tabel 1.5 Tebal mud cake dan pH filtrate yang dihasilkan Lumpur LS LS+PAC LV Mud cake (cm) 0.12 0.125 0.13 0.19 0.19 0.19 pH 7 8

Figure 1 Mud lumpur standar Gambar 1.2cake Mud cake lumpur

standar + PAC

Figure 2 Mud cake lumpur standar + PAC LV

IV.

PENGOLAHAN DATA a) Densitas Densitas dari pengukuran mud balance (1.1) Menghitung densitas lumpur dengan menggunakan persamaan (1.1), diperoleh : Lumpur standar = = 8.63 ppg Lumpur standar + barite = = 8.86 ppg Densitas dengan Material Balance ..(1.2) (1.3) ( ) ( ) ( )....(1.4)

Diketahui : Massa bentonite = 22,5 gram dengan SG=2,65 Massa barite = 10 gram dengan SG = 4,2 , dan = 8.33 ppg. 1. Lumpur standar - Hitung

dengan persamaan (1.2)

= 2,65 x 8.33 ppg = 22,0745 ppg Hitung dengan persamaan (1.3) =

= 2,242 x 10-3 galon Hitung dengan persamaan (1.4) ( ) ( = 8,6553 ppg

2. Lumpur standar + barite Hitung dengan persamaan (1.2) = 4,2 x 8.33 ppg = 34,986 ppg Hitung dengan persamaan (1.3) = = 6,288 x 10-4 galon Hitung dengan persamaan (1.4) ( ) ( = 8,833 ppg Galat | | .(1.5) Kemudian dihitung galat antara pengukuran menggunakan mud balance dengan material balance untuk masing-masing jenis lumpur dengan menggunakan persamaan (1.5). 1. Lumpur standar | = | |

= 0,2923 % 2. Lumpur standar + barite | = | | = 0,3057 %

b) Plastic Viscosity (1.6) Menghitung plastic viscosity lumpur dengan menggunakan persamaan (1.6), diperoleh : Lumpur standar = 55 38 = 17 cp Lumpur standar + PAC LV

= 86 60 = 26 cp Lumpur standar + Xanthan Gum = 59 40 = 19 cp c) Yield Point ..(1.7) Menghitung yield point lumpur dengan menggunakan persamaan (1.7), diperoleh : Lumpur standar = 38 17 = 21 lb/100ft2 Lumpur standar + PAC LV = 60 26 = 34 lb/100ft2 Lumpur standar + Xanthan Gum = 40 19 = 21 lb/100ft2 d) Apparent Viscosity .....(1.8) Menggunakan persamaan 1.8 di atas, didapatkan nilai apparent viscosity dalam tabel di bawah ini : Tabel 1.5 Apparent viscosity Jenis lumpur Dial reading ( ) (cp) N( ) 200 29 43,5 6 5 250 Lumpur standar 600 55 27,5 100 20 60

Lumpur standar + PAC LV

Lumpur standar + Xanthan Gum

3 300 200 6 600 100 3 300 200 6 600 100 3 300

3 38 46 10 86 32,5 8,5 60 31 5 59 21 3 40

300 38 69 500 43 97.5 850 60 46,5 250 29,5 63 300 40

e) Gel Strength Dari data yang diperoleh dari percobaan yang ditunjukkan pada Tabel 1.3 kemudian dibuat grafik antara Gel strength vs waktu.

30 Gel strength (lbs/ft2) 25 20 15 10 5 0 0 200

Types of Gels
y = 0.0288x + 6.7119 R = 1 y = 0.0271x + 4.7288 R = 1 LS LS+PAC LV LS+Xanthan Gum Linear (LS+PAC LV) Linear (LS+Xanthan Gum) y = 0.0237x + 4.7627 Linear (LS) R = 1

400 waktu ( menit )

600

800

Figure 3 Types of Gels

f) Filtration Loss Berdasarkan data yang diperoleh dari percobaan, yaitu yang ditunjukkan pada Tabel 1.4 , dapat diperoleh grafik antara Volume filtrate vs Akar waktu berikut : Lumpur standar

Volume filtrat vs akar waktu


14 Volume filtrate ( ml ) 12 10 8 6 4 2 0 0 1 2 3 Akar waktu
Figure 4 Volume filtrate vs akar waktu untuk Lumpur standar

y = 2.5117x - 1.2669 R = 0.9997

Lumpur standar + PAC LV

Volume filtrate vs akar waktu


10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 0 1 2 y = 1.958x - 1.5861 R = 0.9996

volume filtrate (ml)

3 akar waktu

Figure 5 Volume filtrate vs akar waktu untuk LS+PAC LV

V.

ANALISIS 1. Asumsi Dalam pelaksanaan praktikum, kesalahan-kesalahan yang terjadi di dalamnya merupakan hal yang wajar. Adanya kesalahan-kesalahan dalam keberjalanan praktikum itulah maka perlu dibuat asumsi-asumsi percobaan untuk mempermudah perhitungan hasil praktikum. . Asumsi yang digunakan dalam percobaan kali ini diantaranya yaitu :

Semua alat yang digunakan dalam praktikum dalam keadaan bersih dan layak pakai Temperatur dan tekanan ruang konstan selama praktikum berlangsung Tidak terjadi kebocoran pada alat Tidak ada kesalahan paralaks ketika pembacaan alat ukur Lumpur dan bahan aditif tercampur secara merata Tidak terjadi campuran antara lumpur dan bahan lain selain bahan yang digunakan pada praktikum ini

Bahan aditif yang ingin dicampurkan tidak melekat pada dinding cup dan langsung teraduk dalam lumpur

Tidak ada lumpur yang menggumpal dalam chamber atau cup selama dilakukan percobaan dengan Fann VG, Filter Press Apparatus, maupun Mud Balance Apparatus.

Pengadukan lumpur dilakukan secara kontinu selama 24 jam Tidak ada udara luar yang masuk ke dalam lumpur selama proses pengadukan

2. Alat Percobaan

Pada praktikum kali ini,kami menggunakan tiga alat utama yaitu Fann VG Viscometer, Filter Press Apparatus, dan mud balance. Prinsip masing-masing alat yaitu :

Fann VG Viscometer

Prinsip kerja dari alat ini adalah mengukur besarnya shear stress yang terjadi pada setiap shear rate tertentu. Besarnya shear stress yang terjadi dapat digunakan untuk menentukan plastic viscosity, apparent viscosity, yield point dan gel strength. Besar nilai yang terbaca diakibatkan adanya gesekan yang terjadi di dalam lumpur. Besarnya Plastic Viscosity dapat diketahui dengan menghitung selisih pembacaan putaran 600 RPM dengan 300 RPM, sedangkan Yield Point akan dapat dihitung dari selisih pembacaan 300 RPM dikurangi Plastic Viscosity. Untuk menghitung gel strength putaran yang digunakan yaitu 600 RPM dan 3 RPM, selanjutnya didiamkan selama 10 detik dan 10 menit, setelah 10 detik dan 10 menit mulai diputar lagi menggunakan low gear dan baca defleksi makasimumnya saat alat tersebut dinyalakan kembali. Alat ini tidak dapat menggambarkan keadaan di dalam sumur karena nilai viskositas bergantung terhadap temperature dan temperature di dalam sumur tidak pernah konstan karena efek gradient temperature untuk setiap kedalaman. Kemudian alat ini bersifat statis di dalam laboratorium sedangkan di lapangan bersifat dinamis. Filter Press Apparatus Prinsip kerja dari alat ini adalah memberikan tekanan terhadap lumpur pemboran agar terpisah antara filtrate yang berada pada lumpur itu sendiri. Alat ini dipergunakan untuk mengetahui kualitas filter cake dan filtrate volume loss dari lumpur yang digunakan dalam kondisi test tertentu yaitu pada tekanan 100 psi dengan waktu 30 menit. Filtrate yang ada pada lumpur dipengaruhi oleh jumlah padatan serta interaksi sifat kimia dari bahan kimia pembuat lumpur itu sendiri. Temperatur dan tekanan sangat berpengaruh pada interaksi antara bahan kimia dan solid yang ada dalam lumpur. Secara umum prosedur untuk alat ini yaitu lumpur pemboran dimasukkan kedalam chamber, kemudian ditutup rapat, bagian bawah chamber dilengkapi

dengan filtrate paper yang berguna untuk mengetahui ketebalan mud cake nantinya. Pada bagian bawah dari chamber ada drain tube, tempat keluarnya filtrate yang ditampung dengan graduated tube. Selanjutnya lumpur dalam chamber ini akan ditekan dengan gas innert (Nitrogen) sebesar 100 psi selama 30 menit. Pemilihan angka 100 psi dianalogikan sebagai overbalance saat drilling yang umumnya berada 100 psi diatas formation pressure. Setelah 30 menit, akan diperoleh jumlah filtrate yg tertampung dalam gelas ukur. Filtrate loss dibawah 10 ml dapat dikatakan memiliki kualitas yang baik. Pada alat ini tidak dapat mempresentasikan keadaan sebenarnya di dalam sumur karena keadaan di dalam sumur tidak sesederhana keadaan pada alat ini. Mud balance

Prinsip kerja dari mud balance yaitu kesetimbangan massa. Kita dapat mengetahui densitas dari lumpur secara langsung. Sebelum mud balance digunakan, terlebih dahulu mud balance harus dikalibrasikan dengan

menggunakan air agar diperoleh pengukuran yang tepat.

3. Keberjalanan Praktikum

Selama praktikum berlangsung, ada hal penting yang harus diperhatikan yaitu keselamatan dan keamanan diri. Oleh sebab itu, digunakan beberapa peralatan seperti jas lab, sepatu tertutup, goggle, masker serta sarung tangan. Dalam praktikum kali ini terdapat pembagian kerja mulai dari persiapan alat dan bahan, proses pembuatan lumpur, hingga pengambilan data, serta pengukuran yang dilakukan pada hari kedua praktikum. Pada hari pertama praktikum, kegiatan praktikum yang kami lakukan yaitu membuat lumpur standar. Lumpur standar yang kami buat yaitu menggunakan komposisi 350 ml air dan 22,5 gram bentonite. Kami menggunakan komposisi tersebut karena komposisi tersebut merupakan komposisi 1 yield lumpur pemboran dimana 1 yield adalah jumlah barel lumpur yang dihasilkan dari 1 ton clay agar dihasilkan lumpur standar dengan

viskositas 15 cp. Clay yang dimaksud dalam pengertian tersebut yaitu bentonite sesuai dengan komposisi yang kami gunakan. Proses pembuatan lumpur, pertama-tama dimulai dengan mempersiapkan peralatanperalatan yang akan digunakan seperti cup , multimixer, bejana, gelas ukur, neraca digital serta pengaduk yang memiliki kecepatan yang lambat yang biasa digunakan untuk membuat lumpur pemboran. Pertama, mixer 350 ml air dengan menggunakan multimixer selama minimal 1 menit kemudian tambahkan bentonite sebanyak 22,5 gram dan mixer selama minimal 10 menit. Kami membuat 5 cup lumpur standar. Setelah selesai dimixer selama 10 menit, ambil cup dari multimixer dan tuangkan ke dalam satu bejana. Setelah itu, aduk lumpur standar yang sudah dituangkan ke dalam bejana itu menggunakan pengaduk selama minimal 24 jam atau sehari semalam dan tutup bagian atas bejana tersebut menggunakan koran agar udara dari luar tidak masuk ke dalam lumpur standar yang akan kita aduk. Tujuan pengadukan tersebut yaitu untuk proses perataan lebih lanjut agar semua partikel penyusun lumpur standar tersebut lebih homogen. Namun, dalam praktikum yang kami lakukan, setelah keesokan harinya kami akan melakukan praktikum selanjutnya ternyata pengadukan telah berhenti dengan sendirinya tanpa kami ketahui kapan alat pengaduk itu berhenti. Oleh karena itu, lumpur standar yang kami dapatkan akan berkurang sifat kehomogenannya, akan berbeda dengan lumpur standar yang mengalami pengadukan selama sehari semalam. Tujuan penutupan bejana dengan menggunakan koran saat pengadukan yaitu agar udara dari luar tidak banyak yang masuk ke dalam bejana. Jika udara dari luar masuk ke dalam bejana, akan mempengaruhi keadaan lumpur standar yang sedang kita buat. Kemungkinan terbentuk gelembung di dalam lumpur standar akan semakin besar akibatnya densitas lumpur akan mengecil. Hal itu disebabkan karena lumpur standar mengandung gelembung udara yang artinya terdapat ruang yang menyebabkan jarak partikel di dalam lumpur semakin jauh. Selain itu, dalam percobaan dengan menggunakan Fann VG, dial reading yang ditunjukkan alat pada saat keadaan awalnya tidak menunjukkan angka 0 sehingga dalam pembacaan dial reading, nilai dial reading yang dibaca pada RPM tertentu dikurangi dengan dial reading pada keadaan awal.

4. Data Hasil Percobaan

Pada percobaan menggunakan mud balance diperoleh densitas dari lumpur standar sebesar 8,63 ppg dan lumpur standar + barite sebesar 8,86 ppg. Dengan penambahan barite pada lumpur standar menyebabkan densitas lumpur bertambah. Hal ini sesuai dengan fungsi barite yaitu aditif yang berfungsi untuk meningkatkan densitas lumpur pemboran. Melalui perhitungan menggunakan material balance diperoleh densitas lumpur standar sebesar 8,6553 ppg dan lumpur standar + barite sebesar 8,833 ppg. Dari data tersebut diperoleh galat antara pengukuran menggunakan mud balance dan hasil dari material balance untuk lumpur standar sebesar 0,2923% dan untuk lumpur standar + barite adalah 0,3957%. Dengan galat tersebut, pengukuran menggunakan mud balance sudah cukup baik jika dibandingkan dengan hasil dari perhitungan material balance.

Untuk data yang diperoleh dari Fann VG viscometer, diperoleh nilai plastic viscosity untuk lumpur standar 17 cp, lumpur standar + PAC LV sebesar 26 cp, dan lumpur standar + Xanthan Gum sebesar 19 cp. Dapat dilihat bahwa penambahan dari aditif dapat meningkatkan nilai plastic viscosity. PAC LV berperan dalam mendekatkan partikel di dalam lumpur sehingga friksi mekanik yang terjadi akan semakin besar akibatnya terjadi peningkatan plastic viscosity. Data yield point yang diperoleh untuk lumpur standar sebesar 21 lb/100sqft, lumpur standar + PAC LV sebesar 34 lb/100sqft dan lumpur standar + Xanthan Gum sebesar 21 lb/100sqft. Pada penambahan PAC LV terjadi penambahan dari yield point karena partikel dari PAC LV mendesak partikel yang sudah ada sehingga jarak antarpartikel semakin dekat sehingga gaya tarik menarik menjadi semakin besar, namun pada penambahan Xanthan Gum tidak terjadi penambahan yield point karena partikel Xanthan Gum tidak memberikan pengaruh yang signifikan dalam pendesakan partikel clay yang sudah ada dan aditif tersebut akan terdispersi secara merata. Oleh karena itu, yield point saat penambahan Xanthan Gum tidak berubah. Data lain yang diperoleh adalah gel strength, dari Figure 3 dapat dilihat dengan penambahan aditif dapat meningkatkan nilai dari lumpur standar dan juga dapat disimpulkan bahwa tipe dari gel strength untuk ketiga lumpur adalah low-flat gels karena pada mulanya nilai gel strength ketiga lumpur tidak terlalu besar yaitu berkisar antara 5

10 lb/100 sq ft dan seiring dengan bertambahnya waktu kenaikan dari gel strength untuk ketiga lumpur tidak terlalu besar. Data lainnya adalah apparent viscosity, dapat dilihat dari Tabel 1.5 dengan penambahan aditif ada kenaikan dari apparent viscosity lumpur standar, khususnya dengan penambahan PAC LV.

Pada percobaan menggunakan filter press apparatus, diperoleh volume filtrate setelah 30 menit untuk lumpur standar adalah 12,4 ml dan untuk lumpur standar + PAC LV adalah 9 ml. Dengan penambahan PAC LV pada lumpur standar dapat menurunkan kehilangan volume air dari lumpur karena partikel PAC LV mendesak partikel clay di dalam lumpur untuk semakin mendekat sehingga permeabilitas dan porositas dari lumpur akan meningkat, hal ini dapat dibuktikan dengan ketebalan mud cake dari lumpur standar + PAC LV lebih tebal dari lumpur standar, yaitu 0,19 cm untuk lumpur standar + PAC LVdan 0,125 cm untuk lumpur standar. Dengan meraba permukaan mud cake, permukaan dari lumpur standar + PAC LV lebih halus dari lumpur standar karena permeabilitas dan porositas mud cake lebih kecil dari mud cake dari lumpur standar.

VI.

KESIMPULAN

1. Fungsi lumpur pemboran dalam proses pemboran adalah : Mengangkat cutting ke permukaan Mendinginkan dan melumasi bit dan drillstring Memberi dinding lubang bor dengan mud cake Mengontrol tekanan formasi Membawa cutting dan material pemberat pada suspensi saat sirkulasi lumpur dihentikan Melepaskan pasir dan cutting di permukaan Menahan sebagian berat casing dan drillstring dengan efek buoyancy Mengurangi efek negative pada formasi Mendapat informasi pada lubang bor melalui data mud logging, sample log Media logging

2. Pengukuran sifat-sifat lumpur pemboran yang didapatkan yaitu : a) Densitas Jenis Lumpur Penentuan Densitas Mud Balance (ppg) Lumpur Standar Lumpur Standar + Barite 8,63 8,86 Material Balance (ppg) 8,6553 8,833

b) Plastic viscosity Jenis Lumpur Dial Reading 300 RPM Lumpur Standar Lumpur Standar+PAC LV Lumpur Standar+Xanthan Gum 38 60 40 600 RPM 55 86 59 Plastic Viscosity (cp) 17 26 19

c) Yield point Jenis Lumpur Dial Reading 300 RPM Lumpur Standar Lumpur Standar+PAC LV Lumpur Standar+Xanthan Gum 38 60 40 17 26 19 Plastic Viscosity Yield Point (lb/100 sq ft) 21 34 21

d) Apparent viscosity Jenis lumpur N( ) 200 6 Lumpur standar 600 100 3 300 Lumpur standar + 200 Dial reading ( ) 29 5 55 20 3 38 46 (cp) 43,5 250 27,5 60 300 38 69

PAC LV

6 600 100 3 300 200 6

10 86 32,5 8,5 60 31 5 59 21 3 40

500 43 97.5 850 60 46,5 250 29,5 63 300 40

Lumpur standar + Xanthan Gum

600 100 3 300

e) Gel strength Jenis Lumpur Gel Strength ( lb/100 sq ft ) 10 detik Lumpur Standar Lumpur Standar+PAC LV Lumpur Standar+Xanthan Gum 5 7 5 10 menit 19 24 21

f) Filtration loss Jenis Lumpur Volume pada pH 30 menit (ml) Lumpur Standar Lumpur Standar + PAC LV 12,4 9 7 8 Tebal Mud Cake (cm) 0,125 0,19

3. Prinsip kerja dari alat yang digunakan Fann VG Viscometer: mengukur besarnya shear stress untuk setiap shear rate yang diberikan

Filter Press Apparatus (LTLP Filtration Apparatus): memberikan tekanan terhadap lumpur pemboran agar terpisah antara filtrate dengan lumpur itu sendiri.

Mud Balance: menggunakan kesetimbangan massa

4. Perubahan sifat lumpur pemboran akibat penambahan aditif: Barite: menambah densitas lumpur PAC LV: mengurangi kelebihan kehilangan kandungan air dari lumpur pemboran Xanthan Gum: meningkatkan viskositas dan gel strength

VII.

DAFTAR PUSTAKA

1. Modul Praktikum Teknik Operasi Pemboran I. 2. Baker Hughes INTEQ. 1995. Drilling Engineering Workbook. Houston. 3. Amoco. 1994. Applied Drilling Engineering. Society of Petroleum Engineering. 4. Bourgoyne. 1986. Applied Drilling Engineering. Society of Petroleum Engineers. 5. API RP 13B. 2005. Recommended Practice Standard Procedure for Field Testing Water-Based Drilling Fluids. API Publishing Services.