Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar belakang Vitamin B1 merupakan salah satu sumber vitamin dan berkhasiat sebagai antineuritikum yang mudah larut dalam air. Vitamin B1 sendiri stabil dalam air serta tahan panas dengan titik lebur kurang lebih 2480C (Depkes RI,1995 : 780). Vitamin B1 dapat dibuat dalam bentuk sediaan tablet dengan metode granulasi dan kempa langsung (Buhler,1998 : 498). Tablet adalah bentuk sediaan padat yang mengandung satu unit dosis lazim, dengan satu macam bahan aktif atau lebih tergantung tujuan terapi yang ingin dicapai. Tablet berbentuk bulat datar atau bikonvek yang dibuat dengan atau tanpa bahan tambahan (eksipien ). Tablet biasanya digunakan dengan cara menelan seluruh tablet atau dikunyah, dilarutkan atau didispersikan dalam air sebelum dipakai. Beberapa tablet digunakan dengan cara dihisap atau ditanam di rongga mulut, diimplankan atau ada juga yang dignakan per-vaginal (Sulaiman, 2007 : 1). Pada pembuatan tablet Vitamin B1 yang dapat mempengaruhi karekteristik fisik tablet adalah ukuran granul yang berbagai macam. Sebelum dicetak menjadi tablet bahan obat dan bahan pembantu digranulasi yang artinya partikel-partikel serbuk dibuat menjadi butir-butir granulat. Pada proses pengayakan menggunakan ukuran mesh yang berbeda sehingga mendapatkan ukuran granul yang berbagai macam. Ukuran granul berpengaruh pada sifat fisik tablet karena ukuran dan bentuk granul dapat mempengaruhi kecepatan pengeringan granul, daya mengalir granul, berat rata-rata tablet dan variasi berat tablet. Ukuran partikel besar akan memberikan efek dengan adanya luas permukaan yang kecil dan gaya gravitasi yang akan membentuk kerapatan yang besar sehingga sukar tercampur dengan partikel yang lebih kecil, hal tersebut mengakibatkan tablet yang dihasilkan kurang kompak.

Sebaliknya jika ukuran partikel kecil akan memberikan efek dengan adanya luas permukaan yang besar, daya kohesi besar, gaya gravitasi kecil dan kerapatannyakecil sehingga tablet yang dihasilkan lebih kompak (Stanifort, 2002 : 200). 1.2 Rumusan Masalah

1.3 Batasan Masalah 1. Zat aktif yang digunakan pada pembuatan tablet adalah vitamin B1.

2. Ukiran granul yang digunakan adalah mesh 12-16, mesh 16-20, mesh 20-24. 3. Metode pembuatan tablet yang digunakan adalah metode granulasi basah. 4. Uji karakteristik fisik granul meliputi kandungan lembab (MC), waktu alir, sudut diam dan pengetapan. 5. Uji karakteristik fisik tablet meliputi keseragaman bobot, keseragaman kandungan, kekerasan, kerapuhan dan waktu hancur. 1.4 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui pengaruh ukuran granul pada masingmasing ukuran granul terhadap karakteristik fisik tablet Vitamin B1. 1.5 Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan kita dapat mengetahui pengaruh.ukuran granul terhadap karakteristik fisik tablet Vitamin B1 dengan menggunakan mesh 12-16, mesh 16-20, mesh 20-24.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS

2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Tinjauan Tentang Tablet 2.1.1.1 Definisi Tablet Tablet adalah sediaan obat pada takaran tunggal, sediaan ini dicetak dari serbuk kering, kristal atau granulat, umumnya dengan penambahan bahan pembantu, pada mesin yang sesuai dengan tekanan yang tinggi. Tablet dapat memiliki bentuk silinder, kubus, batang dan cakram, serta bentuk seperti telur atau peluru.Keberhasilan dimiliki bentuk bundar, bentuk melengkung cembung ganda atau bentuk cakram. Garis tengah tablet pada umumnya berukuran 517 mm, sedangkan bobot tablet 0,1 1 g (Voigt, 1994 : 163). Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi (Depkes RI, 1995 : 4). Tablet adalah bentuk sediaan padat yang mengandung satu unit dosis lazim, dengan satu macam bahan aktif atau lebih tergantung tujuan terapi yang ingin dicapai. Tablet berbentuk bulat datar atau bikonvek yang dibuat dengan atau tanpa bahan tambahan (eksipien ). Tablet biasanya digunakan dengan cara menelan seluruh tablet atau dikunyah, dilarutkan atau didispersikan dalam air sebelum dipakai. Beberapa tablet digunakan dengan cara dihisap atau ditanam di rongga mulut, diimplankan atau ada juga yang dignakan per-vaginal (Sulaiman, 2007 : 1). Tablet dapat didefinisikan sebagai bentuk sediaan padat yang mengandung satu atau lebih zat aktif dengan atau tanpa penambahan eksipien (yang meningkatkan mutu sediaan tablet, kelancaran sifat alir, kohesifitas, kecepatan disintegrasi, dan sifat anti lekat) dan dibuat dengan

mengempa campuran serbuk dalam mesin tablet. Tablet kempa adalah unit bentuk sediaan padat dibuat dengan mengempa campuran suatu serbuk yang mengandung zat aktif dengan atau tanpa bahan tertentu yang dipilih guna membantu dalam proses pembuatan dan untuk menciptakan sifat sediaan tablet yang dikehendaki (Siregar dan Wikarsa, 2010: 1). 2.1.1.2 Keuntungan dan Kerugian Tablet Keuntungan bentuk sediaan tablet : 1. Tablet merupakan bentuk sediaan yang utuh dan menawarkan kemampuan terbaik dari semua bentuk sediaan oral untuk ketepatan ukuran serta variabilitas kandungan yang paling rendah. 2. Tablet merupakan bentuk sediaan yang paling ringan dan paling kompak dari pada semua bentuk sediaan oral. 3. Tablet merupakan bentuk sediaan yang paling mudah dan murah untuk dikemas serta dikirim. 4. Pemberiaan tanda pengenal produk pada tablet paling mudah dan murah; tidak memerlukan langkah pekerjaan tambahan bila menggunakan permukaan pencetak yang bermonogram atau berhiasan timbul. 5. Tablet paling mudah ditelan serta paling kecil kemungkinan tertinggal ditenggorokan, terutama bila bersalut yang memungkinkan pecah/hancurnya tablet tidak segera terjadi. 6. Tablet bisa dijadikan produk dengan profil penglepasan khusus, seperti penglepasan diusus atau produk lepas lambat. 7. Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang paling mudah dan murah untuk diproduksi secara besar-besaran.

8. Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang memiliki sifat pencampuran kimia, mekanik dan stabilitas mikrobiologi yang paling baik (Siregar dan Wikarsa, 2010:3). Kerugian bentuk sediaan tablet : 1. Beberapa jenis obat tidak dapat dikempa menjadi padat dan kompak, tergantung pada keadaan amorfnya, flokulasi, atau rendahnya berat jenis. 2. Obat yang rasanya pahit, obat dengan bau yang tidak dapat dihilangkan, atau obat yang peka terhadap oksigen atau kelembaban udara perlu pengkapsulan atau penyelubungan dulu sebelum dikempa (bila mungkin) atau memerlukan penyalutan terlebih dahulu (Lachman et.al., 1994:646). 3. Kesulitan menelan pada anak-anak, orang sakit parah dan usia lanjut (Sulaiman, 2007 :3). 2.1.1.3 Macam-macam Tablet 1. Tablet Kempa atau Tablet Kempa Standar Tablet kempa menunjukkan bahwa tablet dibuat dengan pencetak dan menggunakan salah satu dari ketiga metode dasar dari pembuatan tablet,yaitu: granulasi basah, pencetakan ganda, atau pencetakan langsung. Tablet kempa biasanya dikehendaki untuk memberikan disintegrasi dan pelepasan obat yang cepat. Kebanyakan tablet jenis ini mengandung obat yang berefek lokal dalam saluran cerna (Lachman et.a.l, 1994:707). 2. Tablet Kempa Ganda Tablet ini dibagi menjadi dua kelompok tablet yang dicetak beberapa kali yaitu tablet berlapis dan tablet yang disalut dengan pengempaan. Tablet ini dibuat untuk memisahkan secara fisik atau kimia bahan-bahan yang tidak dapat bercampur, atau menghasilkan produk dengan kerja ulang atauyang diperpanjang.

3. Tablet Buccal dan Sublingual Kedua tablet ini dimaksudkan diletakkan didalam mulut, agar dapat melepaskan obatnya sehingga dapat diserap langsung oleh selaput lendir mulut. Kedua jenis tablet ini biasanya kecil dan diletakkan diantara pipi dalam dengan gigi (tablet buccal) dandiletakkan dibawah lidah (tablet sublingual). Obat yang diberikan dengan cara ini dimaksudkan agar memberikan efek sistemik. 4. Tablet Kunyah Tablet kunyah dimaksudkan untuk dikunyah dimulut sebelum ditelan dan bukan untuk ditelan utuh. Tujuan dari tablet kunyah adalah untuk memberikan suatu bentuk pengobatan yang dapat diberikan dengan mudah kepada anak-anak atau orang tua, yang sukar menelan obat utuh.(Lachman et.al., 1994:712). 5. Tablet Hisap (Troches dan Lozenges) Tablet ini adalah bentuk sediaan lain dari tablet untuk pemakaian dalam rongga mulut. Penggunaan kedua tablet ini dimaksudkan untuk memberikan efek lokal pada mulut atau kerongkongan. Tablet ini mungkin mengandung anestesi lokal, antiseptik, antibiotik, demulsen (zat pelega tenggorokan), adstringen dan antitusif. Lozenges dapat dibuat dengan mengempa, tetapi biasanya dibuat dengan cara peleburan atau dengan proses penuangan kembang gula. Troches dibuat dengan cara kempa seperti halnya dengan tablet lain. 6. Tablet Hipodermik Tablet ini terdiri dari satu bahan obat atau lebih, dengan bahan-bahan lain yang dapat segera larut dalam air, dimaksudkan untuk ditambahkan kedalam air yang steril atau air untuk injeksi (Lachman et.al., 1994:717). 7. Tablet Salut Gula

Peranan tablet ini untuk mendapatkan bentuk sediaan yang menarik, mengkilap, serta mudah untuk menelannya, juga dapat memisahkan bahan-bahan yang tidak dapat bercampur diantara penyalut dan inti tablet. 8. Tablet Salut Enterik dan Tablet Aksi Diperlama Tablet salut enterik merupakan contoh produk tablet aksi diperlama yang paling umum. Semua tablet salut enterik (yang tetap utuh dilambung, tetapidengan cepat melepas diusus bagian atas) merupakan tablet aksi diperlama. Tidak semua tablet aksi diperlama merupakan tablet enterik atau dimaksudkan untuk menghasilkan efek enterik. 9. Tablet Effervescent Tablet yang dimaksudkan untuk menghasilkan larutan secara cepat dan menghasilkan CO2 secara serentak. Tablet ini khususnya dibuat dengan cara mengempa bahan-bahan aktif dengan campuran asam-asam organik seperti asam sitrat atau asam tartrat dan natrium bikarbonat (Lachman et.al., 1994:715). 2.1.1.5 Metode Pembuatan Tablet 1. Metode Granulasi Basah Metode dilakukan jika zat aktif tahan terhadap air atau pelarut dan panas. Metode granulasi basah merupakan metode yang paling banyak digunakan di industri farmasi. Intinya adalah adanya penambahan air atau cairan pada proses granulasi. Proses granulasi menjadi agregat (gumpalan) yang lebih besar, secara fisik lebih kuat, dan partikel original masih teridentifikasi dan membuat agregat mengalir bebas. Granulasi basah adalah proses menambahkan suatu cairan pada suatu serbuk atau campuran serbuk dalam suatu wadah yang dilengkapi dengan pengadukan yang akan menghasilkan aglomerasi atau granul (Siregar dan Wikarsa, 2010 :193). Keuntungan pada granulasi basah :

a. Sifat alir akan lebih baik. b. Dapat digunakan untuk obat dosis rendah. c. Debu berkurang . d. Pencegahan pemisahan campuran serbuk. e. Permukaan hidrofobik menjadi lebih hidrofilik. Kekurangan granulasi basah : a. Biaya produksi lebih mahal. b. Tahapan lebih rumitbanyak material yang hilang karena tahapan lebih panjang. c. Hanya dapat digunakan untuk bahan obat yang tahan panas. d. Karena banyaknya tahapan proses, maka validasinya menjadi lebih banyak dan sulit. e. Dalam proses granulasi karena pencampuran partikelnya sangat dekat dan intens, maka kemungkinan terjadi inkompatibilitas semakin besar (Sulaiman, 2007 : 137). 2. Metode Granulasi Kering Metode ini dilakukan jika zat aktif yang akan digranul tidak tahan pada pemanasan. Pada metode ini bahan pengikat ditambahkan dalam bentuk serbuk. Prinsipnya serbuk dikempa menjadi tablet atau campuran serbuk ditekan menjadi tablet yang terbentuk dihancurkan menjadi butiran granul dan diayak, ditambahkan bahan pelicin dan penghancur kemudian dilakukan pengempaan tablet. Keuntungan granulasi kering : a. Peralatan dan ruang yang dibutuhkan lebih sedikit. b. Energi yang dibutuhkan lebih kecil. c. Lebih murah. Kekurangan granulasi kering : a. dibutuhkan mesin pencetak tablet bertekanan tinggi.

b. Distribusi warna tidak homogen. c. Timbul banyak debu. d. Berpotensi meningkatkan kontaminasi (Sulaiman, 2007 : 142). 3. Metode Kempa Langsung Metode kempa langsung adalah proses pembuatan tablet dengan langsung mengempa campuran serbuk, dan tidak ada proses sebelumnya kecuali penimbangan dan pencampuran bahan. Bahan yang dikempa langsung hanya yang mempunyai sifat alir dan kompresibilitas yang baik (Sulaiman, 2007:128). Keuntungan kempa langsung : a. Prosesnya lebih singkat dan ekonomis. b. Mengeliminasi panas dan kelembaban sehingga akan meningkatkan stabilitas. c. Proses disintegrasi dan disolusi lebih baik. d. Keseragaman dari batch-to-batch sangat tinggi karena tahapan prosesnya hanya sedikit. e. Masalah stabilitas dalam hubungannya dengan air dan panas dari zat aktif dan eksipien dapat dihindari/diabaikan. Kerugian kempa langsung : a. Permasalahan pada homogenitas pada zat aktif dengan dosis yang kecil. b. Zat aktif dengan dosis tinggi dengan bulk volume besar, kompresibilitasnya jelek dan fluiditasnya juga jelek tidak dapat dibuat dengan kempa langsung. c. Pemilihan eksipien untuk kempa langsung sangat kritis. d. Beberapa zat aktif tidak dapat dikempa langsung karena berbentuk amorf. e. Proses pencampuran lebih sulit. f. Tidak seragamnya distribusi warna (Sulaiman, 2007 : 129). 2.1.1.6 Permasalahan dalam Pembuatan Tablet

1. Capping dan laminasi Capping adalah istilah yang digunakan untuk menguraikan sebagian atau secara lengkap pemisahan bagian atas atau bawah dari mahkota tablet dari bagian utamanya. Laminasi adalah pemisahan tablet menjadi dua atau lebih menjadi lapisan-lapisan yang berbeda. Penyebabnya antara lain adanya udara yang ikut terkempa sehinggga setelah tablet keluar dari cetakan udara beraksi mendesak keluar, terlalu banyak fines, pengeringan granul kurang sempurna atau granul terlalu kering (Siregar dan Wikarsa, 2010:257). 2. Mottling Mottling adalah keadaan dimana distribusi warna tablet kurang merata, terdapatnya bagianbagian terang dan gelap pada permukaan yang seragam. Penyebab mottling adalah berbedanya warna obat dengan bahan penambah atau bila hasil uraian obatnya bertambah (Lachman et.al., 1994:674). 3. Sticking atau filming Sticking adalah melekatnya material yang dikempa pada dinding die. Filming adalah salah satu bentuk sticking, yang berupa lekatan yang tipis, yang bila berlanjut menjadi ikatan yang tebal (sticking). Permasalahan ini disebabkan oleh granul yang lembab atau lubrikasi tidak baik. 4. Binding Binding adalah suatu keadaan melekatnya tablet dengan dinding ruang cetak pada saat pengeluaran tablet (injection). Binding disebabkan karena material yang dikempa lembab, kurangnya lubricant, die kurang bersih, serta temperaturnya tinggi (Sulaiman, 2007:181). 2.1.1.7 Evaluasi Granul 1.Kandungan Lembab atau Moisture Contents (MC) Kadar lembab granul diukur dengan alat moisture contents tester. Kadar lembab semakin lama akan semakin kecil sampai menunjukkan kandungan lembab yang konstan. Ditimbang

sejumlah 5 gram granul, kemudian diletakkan dicawan alat uji. Cawan diletakkan pada alat uji dan lampu MC dikondisikan pada suhu 80C - 90C selama 15 menit. Dicatat kadar lembab granul setelah suhu konstan. Batas kandungan lembab granul yaitu 2 - 4% (Ansel, 1989 : 255). Sudut diam granul dihitung dengan rumus seperti pada persamaan 1:

MC =

Jumlah air dalam cuplikan x 100% .(1) Berat cuplikan kering

2. Waktu Alir Ditimbang 100 g granul, dimasukkan ke dalam corong yang tertutup ujung tangkainya. Tutup pada ujung tangkai dibuka dan granul dibiarkan mengalir keluar sampai habis. Dicatat waktu alirnya dari saat tutup dibuka sampai seluruh granul habis. Kecepatan alir granulat dikatakan baik, bila waktu yang diperlukan 100 g granulat untuk mengalir tidak lebih dari 10 detik( Siregar et.al., 1992:39). 3. Sudut Diam Sejumlah granul ditimbang 100 g dimasukkan ke dalam alat penguji sudut diam yaitu berupa tabung kaca yang ditengahnya dilengkapi dengan suatu lingkaran. Alat tersebut diisi dengan granul sampai penuh dan diratakan. Tutup tabung dibuka, dibiarkan keluar, sisa granul pada alat akan membentuk kerucut kemudian tinggi kerucut diukur. Persyaratan sudut diam granul adalah tidak lebih dari 400(Lachman et.al., 1994:685). Sudut diam granul dihitung dengan rumus seperti pada persamaan 2: Tan = h / r ..(2) Keterangan : :Sudut diam granul h :Tinggi kerucut r : Jari-jari kerucut 4. Pengetapan

Ditimbang sejumlah granul dimasukkan dalam gelas ukur 100 ml, diukur volumenya (Vo). Granul dalam gelas ukur tersebut ditap dengan motorized tapping device sebanyak 20 kali atau selama 4 menit kemudian diukur volumenya (Vt). Persyaratan pengetapan granul adalah tidak lebih dari 20% (Siregar et.al., 1992:39). Pengetapan granul dihitung dengan rumus seperti pada persamaan 3: Pengetapan = Vo - Vt x 100% ..(3)
Vo

Keterangan : Vo :Volume awal granul sebelum pengetapan Vt :Volume granul setelah pengetapan Tabel 1.Kriteria Kompresibilitas Nilai (%) 5-15 12-16 18-21 23-35 33-38 >40 (Siregar dan Wikarsa, 2010 : 35) 2.1.1.8 Evaluasi Tablet 1. Keseragaman Bobot Ditimbang 20 tablet satu persatu, hitung bobot rata-ratanya dan penyimpangan bobot tiap tablet terhadap bobot rata-ratanya. Persyaratan keseragaman bobot tidak boleh lebih dari 2 tablet yang masing-masing bobotnya menyimpang dari bobot rata-rata lebih besar dari harga yang ditetapkan pada kolom A dan tidak satupun tablet yang bobotnya menyimpang dari bobot rataratanya lebih besar dari kolom B. Bila tidak mencukupi dari 20 tablet, dapat digunakan 10 tablet, tidak satupun tablet yang bobotnya menyimpang lebih besar dari bobot rata-rata yang ditetapkan Kriteria Baik ekali Baik Agak baik Buruk Sangat buruk Sangat sangat buruk

pada kolom A dan tidak satupun tablet yang bobotnya menyimpang lebih besar dari bobot ratarata yang ditetapkan pada kolom B. Tabel 2.Keseragaman Bobot Tablet Bobot rata-rata 25 mg 26 mg- 150 mg 151 mg- 300 mg Lebih dari 300 mg (Depkes RI, 1979 : 7) 2. Keseragaman Kandungan Tetapkan kadar 10 satuan satu per satu seperi pada penetapan kadar dalam masingmasing monografi, kecuali dinyatakan lain dalam uji keseragaman kandungan. persyaratan kecuali dinyatakan lain dalam masing-masing monografi, memenuhi syarat jika jumlah zat aktif dalam masing-masing dari 10 sediaan terletak antara 85,0%-115,0% dari yang tertera pada etiket (Depkes RI,1995: 999). 3. Kekerasan Tablet harus mempunyai kekuatan atau kekerasan tertentu serta tahan atas kerapuhan agar tahan terhadap guncangan mekanik pada saat pembuatan, pengepakan dan pengapalan (Lachmanet.al., 1994: 651). Alat untuk menetapkan kekerasan tablet adalah hardness tester. Kekuatan tekanan minimum untuk tablet adalah sebesar 4kg (Ansel, 1989: 255). Penyimpangan bobot rata-rata (%) A B 15 30 10 20 7,5 15 5 10

4. Kerapuhan Kerapuhan merupakan parameter yang menggambarkan kekuatan permukaan tablet dalam melawan berbagai perlakuan yang menyebabkan abrasi pada permukaan tablet. Uji kerapuhan

berhubungan dengan kehilangan bobot akibat abrasi yang terjadi pada permukaan tablet semakin besar harga presentasi kerapuhan, maka semakin besar harga tablet yang hilang. Alat yang digunakan yaitu Friability Tester (Sulaiman, 2007:200). Friabilitas (kerapuhan) tidak melebihi 0,8% (Voigt, 1994:222). 5. Waktu Hancur Supaya komponen obat seluruhnya dapat diabsorbsi dalam saluran cerna maka tablet harus hancur dan melepaskan obatnya dalam cairan tubuh untuk dilarutkan. Alat yang digunakan yaitu Disintegrator Tester. Kecuali dinyatakan lain, waktu yang diperlukan untuk menghancurkan keenam tablet tidak lebih dari 15 menit untuk tablet tidak bersalut dan tidak lebih dari 60 menit untuk tablet bersalut gula atau bersalut selaput (Depkes RI, 1979:7). Tablet Vitamin B1 memenuhi syarat waktu hancur jika tidak lebih dari 30 menit (Depkes RI, 1995:785).

Granulasi adalah setiap proses membesarkan ukuran partikel-partikel kecil dengan mengumpulkannya bersama-sama menjadi agregat yang lebih besar dan permanen untuk membuatnya mengalir bebas yang serupa dengan pasir kering. Pembesaran ukuran, disebut juga aglomerasi. Aglomerasi dilaksanakan dengan beberapa metode pengadukan dalam alat campur atau dengan pemadatan, mengekstrusi atau mengglobulasi. Alasan untuk menggranulasi adalah sebagai berikut : 1. Membuat zat/bahan mengalir bebas 2. Memadatkan (density) zat

3. Membuat campuran seragam yang tidak memisah 4. Memperbaiki karakteristik pengempaan zat aktif 5. Mengendalikan laju pelepasan zat aktif 6. Member kemudahan pengukuran atau dispersing volume 7. Mengurangi debu 8. Memperbaiki penampilan tablet (Siregar dan Wikarsa, 2010 : 187) Jenis granulasi Metode yang terpenting dari granulasi farmasetik, dapat digolongkan ke dalam tiga kategori utama, yakni proses basah, proses kering (disebut juga slugging ), dan proses lain. Dalam proses granulasi basah, cairan penggranulasi digunakan untuk mempermudah proses aglorasi. Dalam proses granulasi kering, partikel serbuk kering disatukan bersama-sama secara mekanik dengan mengempa menjadi bongkahan (slugs) atau lebih sering dilakukan dengan kompaktor (berupa gulungan ). (Siregar dan Wikarsa, 2010 : 163)