Anda di halaman 1dari 84

LAPORAN TUTORIAL SKENARIO C BLOK 20

disusun oleh:

KELOMPOK 1
Febri Wijaya Rabecca Beluta Ambarita Lismya Wahyu Ningrum Erniyanti Puspita Sari Arasy Al Adnin Obby Saleh Wira Dharma Utama Luthfyuly M.S Arief Tri Wibowo Fatimah Shellya Ganda Putra Anggrahi Taufik Agung Hadi Wibowo (04111001002) (04111001007) (04111001023) (04111001026) (04111001044) (04111001046) (04111001048) (04111001106) (04111001119) (04111001123) (04111001131) (04111001135)

Tutor: dr. Erial Bahar M.Sc

PENDIDIKAN DOKTER UMUM FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSTAS SRIWIJAYA TAHUN 2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas ridho dan karunia-Nya laporan Tutorial ini dapat terselesaikan dengan baik. Adapun laporan ini bertujuan untuk memenuhi rasa ingin tahu akan penyelesaian dari skenario yang diberikan, sekaligus sebagai tugas tutorial yang merupakan bagian dari sistem pembelajaran KBK di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Tim Penyusun tak lupa mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang terlibat dalam pembuatan laporan ini. Tak ada gading yang tak retak. Tim Penyusun menyadari bahwa dalam pembuatan laporan ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, saran dan kritik pembaca akan sangat bermanfaat bagi revisi yang senantiasa akan penyusun lakukan.

Tim Penyusun

DAFTAR ISI Halaman Judul Kata Pengantar.............................................................................................. Daftar Isi....................................................................................................... Pembahasan Skenario: I. II. III. IV. V. VI. Skenario.............................................................................................. Klarifikasi Istilah................................................................................ Identifikasi Masalah........................................................................... Analisis Masalah................................................................................ Hipotesis............................................................................................ Learning Issue....................................................................................

VII. Sintesis............................................................................................... VIII. Kerangka Konsep.............................................................................. IX. Kesimpulan.........................................................................................

Daftar Pustaka..............................................................................................

Skenario C Blok 20 Tahun 2013


Mrs. Cek Ela, a 30-year-old housewife, was admitted to the emergency room in mental hospital (RSEB) Palembang with attempted suicide. She looked very depressed and sometimes cried without any particular reason. Her family mentioned that there were changes in her behavior sine 2 years ago, she gradually became more and more withdrawn to herself and preferred to stay in her room all day long. One year ago she complained about hearing voices such as a conversation or sometimes the voice commenting on her, while the person didnt exist. Later on, the voice became more disturbing, commanding her to do something which was difficult or impossible to refuse. The last command forced her to hurt herself. The premobid personality was schizoid and after the age of 20 years it was clear that her personality became more annoying especially to her family and also the neighbors. She became isolated and no social interaction at all. In the last one year, she became more deteriorated, lacked of self care and couldnt do house chores. Her speech was limited and the sentences were very disorganized. According to her family there was no stressor before these behavioral changes happened. In autoanamnesis the patient was very quiet, sometimes cried and difficult to answer the question. Her answer were in one or two words, not so clear and sometimes she refused to talk at all. Summary of Psychiatric Examination : The psychopathology of this patient are poor discriminative insight, command auditoric hallucination, autism, anxiety, and association disorder such as incoherence and hemmung. The conclusion is the reality testing ability of this patient is really disturbed. Additional Information : The patient has good marital history, no history of schizophrenia or affective disorders in the family, the level of intelligence is within the normal range, no stressor during the last 12 months and the GAF scale is around 40-31 at the moment of examination. Physical examination : no abnormality is found.

KLARIFIKASI ISTILAH :
Depresi melankolin. Behavior : Sikap atau tingkah laku, setiap atau keseluruhan : Suatu kesedihan yang tidak wajar, dejeksi, atau

aktifitas total seseorang, khususnya yang dapat diamati dari luar. Schizoid : Gangguan yang ditandai dengan ketiadaan keinginan

untuk ke intiman atau menjadi bagian dari kelompok social, dan sering kali memilih sendirian daripada bersama orang lain, individu ini juga cenderung tidak menunjukkan emosi secara penuh. Deteriorated Discriminative insight Auditoric Hallucination rangsangan dari luar Incoherence : Kelainan progresi pikiran dimana ide yang berturutan : Kemunduran mental : Pendapat akan diri sendiri : Persepsi sensorik berupa pendengaran tanpa

diekspresikan tidak mempunyai urutan yang logis. Hemmung : Pemikiran melambat, baik inisiasi atau pengajuannya,

dan jumlah ide atau pikiran yang diucapkan berkurang. Autism : Keadaan yang didominasi oleh pikiran , atau perilaku

yang bersifat subjektif, yang tidak dapat dikoreksi oleh informasi dari luar. Anxiety : Suatu perasaan tak menyenangkan yang ditandai oleh

ketegangan, cemas, khawatir, seperti ada suatu malapetaka yang akan terjadi. Realty Testing ability : Kemampuan untuk mengevaluasi dunia nyata secara

objektif dan membedakan itu dengan dunia khayal. GAF Intelligence : Global Assessment Function : Keahlian memecahkan masalah dan kemampuan untuk

beradaptasi pada, dan belajar dari, pengalaman hidup sehari-hari. Schizophrenia : Gangguan jiwa atau sekelompok gangguan yang

ditandai dengan gangguan pada bentuk dan isi pikiran.

IDENTIFIKASI MASALAH :
1. Nyonya Cek Ela, 30 tahun ibu rumah tangga dibawa ke RSEB karena mencoba bunuh diri. 2. Dia terlihat sangat depresi dan kadang-kadang menangis dengan alasan yang tidak jelas. 3. Keluarganya menyebutkan bahwa sejak 2 tahun yang lalu dia mengalami perubahan perilaku, semakin menarik diri, dan diam di ruangannya sepanjang hari. 4. 1 tahun yang lalu dia mengeluh mendengar suara seperti percakapan dan kadangkadang suara yang mengomentarinya tetapi orangnya tidak ada. Suara semakin mengganggu dan mengomentarinya untuk melakukan sesuatu yang sulit atau tidak bisa ditolak. Dan perintah terakhir memaksanya untuk melukai dirinya sendiri 5. Kepribadian premorbidnya adalah schizoid dan setelah umur 20 tahun gejalanya semakin jelas terutama mengganggu terhadap keluarga dan sekitarnya. Dia menjadi menyendiri dan tidak ada interaksi social. 6. 1 tahun terakhir dia mengalami kemunduran, kurang mengurus diri dan tidak bisa melakukan pekerja rumah, percakapan terbatas, dan kalimat yang digunakan kacau. 7. Menurut keluarganya tidak ada pemicu terhadap terjadinya perubahan perilaku. 8. Pada autoanamnesis pasien terlihat sangat diam, kadang-kadang menangis dan sulit menjawab pertanyaan. Dan jawabannya satu atau dua kata, sangat tidak jelas dan kadang-kadang dia menolak untuk berbicara. 9. Hasil Pemeriksaan Pskiatri 10. Pemeriksaan Tambahan

ANALISIS MASALAH :
1. Apa makna klinis dari : Mencoba bunuh diri Implikasi dari etiologi bunuh diri dapat digolongkan menjadi sosial, psikologis, dan klinis I. Faktor Sosial Disintegrasi sosial (bunuh diri anomik) Isolasi individu dari masyarakat Ketersediaan alat II. Penyakit Jiwa Depresi berat ?? Schizophrenia ( halusinasi yang membuat dirinya berusaha menyakiti dirinya sendiri ) Etanol abuse/kecanduan alcohol Gangguan kepribadian borderline Antisosial Penyalahgunaan obat-obat terlarang Adanya riwayat keluarga yang bunuh diri III. Penyakit Medis Penyakit-penyakit kronis Penyakit-penyakit dengan rasa nyeri yang tidak tertahankan Menangis tanpa alasan Gejala yang terjadi pada pasien tersebut menunjukkan adanya depresi. Depresi adalah suatu keadaan merendahnya corak perasaan yang dirasakan sebagai suatu kesedihan atau kemurungan. Gejala utama 1) 2) 3) Afek depresif Kehilangan minat dan kegembiraan Berkurangnya energy yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (ras

lelah yang nyata, sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya aktivitas Gejala tambahan 1) 2) 3) Konsentrasi dan perhatian berkurang Harga diri dan kepercayaan diri berkurang Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna

4) 5) 6) 7)

Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri Tidur terganggu Nafsu makan berkurang

Menarik diri Menarik diri termasuk dalam gejala autism. Menarik diri merupakan suatu keadaan dimana seseorang menemukan kesulitan dalam membina hubungan secara terbuka dengan orang lain. Sedangkan menurut DEPKES RI (1989:117) penarikan diri atau withdrawal merupakan suatu tindakan melepaskan diri baik perhatian ataupun minatnya terhadap lingkungan sosial secara langsung yang dapat bersifat sementara atau menetap. Tanda dan gejala dari menarik diri :

Menurut Townsend, M.C. ( 1998:152-153) dan Carpenito, L.J. (1998:381) isolasi sosial : menarik diri sering ditemukan adanya tanda dan gejala sebagai berikut : o o o o o o Kurang spontan Apatis Ekspresi wajah kurang o o o o o Komunikasi verbal kurang Mengisolasi diri (menyendiri) Kurang sadar lingkungan Aktivitas menurun Menolak berhubungan dengan

berseri (ekspresi sedih) Afek tumpul Kurang energi ( tenaga) Harga diri rendah

orang lain.

Menurut Townsend,M.C. ( 1998:152) isolasi sosial : menarik diri sering disebabkan oleh karena kurangnya rasa percaya kepada orang lain, perasaan panik, regresi ke tahap perkembangan sebelumnya, waham, sukar berinteraksi di masa lampau, perkembangan ego yang lemah serta represi rasa takut. Pada penderita Skizofrenia, terjadi disfungsi pada jalur mesokortikal. Pada jalur mesokortikal, lebih banyak reseptor 5HT2A daripada reseptor D2, sehingga hipofungsi dopamine terjadi. Jalur mesokortikal yaitu dari Ventral Tegmental Area menuju ke prefrontal cortex. Sistem ini mengatur fungsi eksekusi dan kognisi pada bagian Dorsolateral Prefrontal

Cortex (DLPFC), serta fungsi emosi dan afek pada bagian Ventromedial Prefrontal Cortex (VMPFC). Jadi dalam kasus ini, disfungsi/hipofungsi jalur ini menyebabkan terjadinya gejala negatif dan kognitif pada penderita Skizofrenia. Yaitu yang nantinya dapat menyebabkan penderita cenderung menarik diri. Akibat menarik diri dapat mengakibatkan halusinasi. Halusinasi (Townsend, M.C, 1998:156) merupakan gangguan persepsi di mana klien mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Tanda dan gejala yang dapat dilihat pada pasien halusinasi yaitu tersenyum dan tertawa sendiri, menggerakkan bibir tanpa suara, diam dan asyik sendiri. Menurut Keliat, dkk.,(1998), prinsip penatalaksanaan klien menarik diri adalah : a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. Bina hubungan saling percaya Ciptakan lingkungan yang terapeutik Beri klien kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya Dengarkan klien dengan penuh empati Temani klien dan lakukan komunikasi terapeutik Lakukan kontak sering dan singkat Lakukan perawatan fisik Lindungi klien Rekreasi Gali latar belakang masalah dan beri alternatif pemecahan Laksanakan program terapi dokter Lakukan terapi keluarga

Mendengar suara seperti percakapan dan kadang-kadang suara yang mengomentarinya tetapi orangnya tidak ada Tiga jenis halusinasi auditori : 1. Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku penderita. 2. Mendiskusikan perihal penderita di antara mereka sendiri (di antara berbagai suara yang berbicara) 3. Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh.

Jenis halusinasi dengar ditentukan oleh tipe kepribadian dan gangguan mental pasien. Sebagai contoh, command hallucination merupakan bentuk perwujudan isi hati dan ketakutan pasien ketika bersosialisasi, sifat over-sensitive terhadap tanggapan orang lain yang belum tentu negative dan kecendrungan untuk menyalahkan diri sendiri akan kegagalannya dalam bergaul. Suara serta jenis kata-kata yang muncul pada saat halusinasi diduga ditentukan oleh memory pasien, segala macam memori kejadian, memori suara yang pernah didengar pasien ter-recall kembali pada saat serangan. Namun jenis command yang muncul dapat juga diciptakan oleh pasien sendiri tanpa adanya suatu memori command tersebut. Dampak dari halusinasi suara berbentuk command adalah tekanan terhadap perintah tersebut sehingga penderita yang tidak tahan dengan tekanan tersebut akan melakukan hal yang diperintahkan, atau berusaha melakukan hal-hal untuk menghentikan tekanan dari halusinasi suara, seperti pada kasus dimana Cek Ela berusaha untuk bunuh diri.

Etiologi : Beberapa kondisi yang dapat menimbulkan halusinasi auditori : Schizophrenia (halusinasi ini timbul pada sekitar 70% penderita) Lesi pada batang otak (yang sering diakibatkan strokes); Tumor kepala Encephalitis Abscesses otak Kehilangan pendengaran Aktivasi epilepsi Wake-initiation of lucid dreams (WILD) 15% pasien dengan gangguan mood (mood disorders) seperti mania or

depression dapat terjadi halusinasi auditori.

Menurut Stuart (2007), faktor penyebab terjadinya halusinasi adalah: Faktor predisposisi 1) Biologis

Abnormalitas perkembangan sistem saraf yang berhubungan dengan respon neurobiologis yang maladaptif baru mulai dipahami. Ini ditunjukkan oleh penelitianpenelitian yang berikut: a) Penelitian pencitraan otak sudah menunjukkan keterlibatan otak yang lebih

luas dalam perkembangan skizofrenia. Lesi pada daerah frontal, temporal dan limbik berhubungan dengan perilaku psikotik. b) Beberapa zat kimia di otak seperti dopamin neurotransmitter yang berlebihan

dan masalah-masalah pada system reseptor dopamin dikaitkan dengan terjadinya skizofrenia. c) Pembesaran ventrikel dan penurunan massa kortikal menunjukkan terjadinya

atropi yang signifikan pada otak manusia. Pada anatomi otak klien dengan skizofrenia kronis, ditemukan pelebaran lateral ventrikel, atropi korteks bagian depan dan atropi otak kecil (cerebellum). Temuan kelainan anatomi otak tersebut didukung oleh otopsi (post-mortem). 2) Psikologis

Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi respon dan kondisi psikologis klien. Salah satu sikap atau keadaan yang dapat mempengaruhi gangguan orientasi realitas adalah penolakan atau tindakan kekerasan dalam rentang hidup klien. 3) Sosial Budaya

Kondisi sosial budaya mempengaruhi gangguan orientasi realita seperti: kemiskinan, konflik sosial budaya (perang, kerusuhan, bencana alam) dan kehidupan yang terisolasi disertai stress. Fase-fase halusinasi a. Fase Pertama Disebut juga dengan fase comferting yaitu fase menyenangkan. Pada tahap ini

masuk pada golongan non psikotik. Karakteristik : Klien mengalami stres, cemas, perasaan perpisahan, rasa

bersalah, kesepian yang memuncak dan tidak dapat diselesaikan. Perilaku klien : Tersenyum atau tertawa tidak sesuai, menggerakkan bibir

tanpa suara, pergerakan mata cepat, respons verbal yang lambat jika sedang asyik dengan halusinasinya, dan suka menyendiri.

b.

Fase Kedua Disebut dengan condemming atau ansietas berat yaitu halusinasi menjadi

menjijikkan. Termasuk dalam psikotik ringan. Karakteristik : Pengalaman sensori menjijikkan dan menakutkan, kecemasan

meningkat, melamun, dan berpikir sendiri jadi dominan. Perilaku klien : Meningkatnya tanda- tanda sistem syaraf otonom seperti

peningkatan denyut jantung dan tekanan darah. c. Fase Ketiga Fase controlling atau ansietas berat yaitu pengalaman sensori menjadi

berkuasa. Termasuk dalam gangguan psikotik. Karakteristik : Bisikan, suara, isi halusinansi semakin menonjol, menguasai

dan mengontrol klien. Perilaku klien : Kemauan dikendalikan halusinasi, rentang perhatian hanya

beberapa menit atau detik. d. klien. Perilaku klien : Perilaku teror akibat panik, potensi bunuh diri, perilaku Fase Keempat Fase conquering atau panik yaitu klien lebur dengan halusinasinya. Termasuk

dalam psikotik berat. Karakteristik : Halusinasinya berubah mengancam, memerintah dan memarahi

kekerasan, agitasi, menarik diri atau katatonik tidak mampu merespon terhadap perintah kompleks dan tidak mampu berespon lebih dari satu orang

Tidak ada interaksi sosial

Diartikan kurangnya motivasi yang kuat untuk terlibat dalam interaksi sosial, dan lebih memilih untuk aktifitas sendiri. Kemungkinan diakibatkan oleh gangguan kepribiadian schizoidnya sendiri, atau memang ada kaitannya secara langsung dengan schizophrenia itu sendiri.

Gangguan pada schizophrenia memiliki gejala asociality dan evolitio yang merupakan gejala negative berupa tidak ada motivasi, diam dalam waktu lama, tidak ada minat bersosialisasi. Kemungkinan terjadi abnormalitas pada jalur mesocortikal akibat gangguan fungsi dopamine.

Kemunduran mental Deteriorasi adalah perburukan, hal ini menunjukkan bahwa skizofrenia yang belum ditatalaksana ini menyebabkan kemunduran yang progresif. Neuropatologi dari skizofrenia ditunjukkan oleh pengurangan neuropil secara signifikan, yaitu multinukleat sinaps antar saraf. Neuropil adalah daerah diantara badan sel saraf pada substansia kelabu dari otak dan medulla spinalis pada sistem saraf pusat. Itu mengandung prosesus yang kusut padat paling banyak pada akson terminal unmyelinated, dendrit dan sel glia. Ini adalah hubungan sinaps yang dibentuk diantara cabang akson dan dendrit. Jadi terjadi penurunan konektivitas sinaps, sehingga pengurangan konektivitas ini menyebabkan pembentukan gejala pada skizofrenia. Jadi pada penderita skizofrenia terjadi pengurangan koneksi sinaps, bukan jumlah sel saraf. Akibat dari kemunduran ini sama dengan prognosis, yaitu jika ditatalaksana baik akan menunjukkan perbaikan, dan jika tidak maka akan semakin mengalami kemunduran. Tidak mampu mengurus diri senidiri dan pekerjaan rumah Merupakan gangguan perilaku pada pasien Skizofrenia. Bicara terbatas dan susunan kalimat kacau Dalam gejala schizophrenia termasuk gejala negative yang dapat disebut alogia berarti terbatasnya kata kata dan miskin bicara yang diakibatkan disfungsi frontostriatal karena degradasi inti semantic karena gangguan fungsi dopamin, yang pusatnya ada pada lobus temporalis yang memproses makna bahasa. Sulit menjawab pertanyaan ( satu sampai dua kata tidak jelas ) dan kadangkadang menolak berbicara. Alogia dalam skizofrenia biasanya muncul dari pasien yang memberikan jawaban tidak lebih dari satu atau dua kata atas pertanyaan yang diajukan Hal ini sangat berbeda dari pola bicara yang normal , di mana orang cenderung untuk menguraikan jawaban-jawaban dasar. Sebagai contoh , seorang individu dengan alogia akan mungkin untuk menanggapi permintaan tentang memiliki kendaraan dengan menanggapi secara sederhana " ya" atau tidak . " Sebaliknya , banyak orang yang tidak menderita dengan kondisi ini akan menjawab dalam afirmatif atau negatif , kemudian pergi untuk memenuhi syarat bahwa respon dasar dalam beberapa cara . individu bisa menjawab di afirmatif , kemudian pergi untuk menggambarkan membuat dan model kendaraan .

2. DD

Gangguan Psikotik Sekunder dan Akibat Obat Gejala psikosis dan katatonia dapat disebabkan oleh berbagai macam keadaan medis psikiatrik dan dapat diakibatkan oleh berbagai macam zat. Jika psikosis atau katatonia disebabkan oleh kondisi medis nonpsikiatrik atau diakibatkan oleh suatu zat, diagnosis yang paling sesuai adalah gangguan psikotik akibat kondisi medis umum, atau gangguan katatonia akibat zat. Manifestasi psikiatrik dari banyak kondisi medis nonpsikiatrik dapat terjadi awal dalam perjalanan penyakit, seringkali sebelum perkembangan gejala lain. Dengan demikian klinisi harus mempertimbangkan berbagai macam kondisi medis nonpsikiatrik di dalam diagnosis banding psikosis, bahkan tanpa adanya gejala fisik yang jelas. Pada umumnya, pasien dengan gangguan neurologist mempunyai lebih banyak tilikan pada penyakitnya dan lebih menderita akibat gejala psikiatriknya daripada pasien skizofrenik, suatu kenyataan yang dapat membantu klinisi untuk membedakan kedua kelompok tersebut. Saat memeriksa seorang pasien psikotik, klinisi harus mengikuti tiga pedoman umum tentang pemeriksaan keadaan nonpsikiatrik. Pertama, klinisi harus cukup agresif dalam mengejar kondisi medis nonpsikiatrik jika pasien menunjukkan adanya gejala yang tidak lazim atau jarang atau adanya variasi dalam tingkat kesadara. Kedua, klinisi harus berusaha untuk mendapatkan riwayat keluarga yang lemgkap, termasuk riwayat gangguan medis, neurologist, dan psikiatrik. Ketiga, klinisi harus mempertimbangkan kemungkinan suatu kondisi medis nonpsikiatrik, bahkan pada pasien dengan diagnosis skizofrenia sebelumnya. Seorang pasien skizofrenia

mempunyai kemungkinan yang sama untuk menderita tumor otak yang menyebabkan gejala psikotik dibandingkan dengan seorang pasien skizofrenik. Berpura-pura dan Gangguan buatan Baik berpura-pura atau gangguan buatan mungkin merupakan suatu diagnosis yang sesuai pada pasien yang meniru gejala skizofrenia tetapi sebenarnya tidak menderita skizofrenia. Orang telah menipu menderita skizofrenia dan dirawat dan diobati di rumah sakit psikiatrik. Orang yang secara lengkap mengendalikan produksi gejalanya mungkin memenuhi diagnosis berpura-pura (malingering); pasien tersebut biasanya memilki alasan financial dan hokum yang jelas untuk dianggap gila. Pasien yang kurang mengendalikan pemalsuan gejala psikotiknya mungkin memenuhi diagnosis suatu gangguan buatan (factitious disorder). Tetapi, beberapa pasien dengan skizofrenia seringkali secara palsu mengeluh suatu eksaserbasi gejala psikotik untuk mendapatkan bantuan lebih banyak atau untuk dapat dirawat di rumah sakit. Gangguan Psikotik Lain Gejala psikotik yang terlihat pada skizofrenik mungkin identik dengan yang terlihat pada gangguan skizofreniform, gangguan psikotik singkat, dan gangguan skizoafektif. Gangguan skizofreniform berbeda dari skizofrenia karena memiliki lama (durasi) gejala yang sekurangnya satu bulan tetapi kurang daripada enam bulan. Gangguan psikotik berlangsung singkat adalah diagnosis yang tepat jika gejala berlangsung sekurangnya satu hari tetapi kurang dari satu bulan dan jika pasien tidak kembali ke tingkat fungsi pramorbidnya. Gangguan skizoafektif adalah diagnosis yang tepat jika sindroma manik atau depresif berkembang bersama-sama dengan gejala utama skizofrenia. Suatu diagnosis gangguan delusional diperlukan jika waham yang tidak aneh (nonbizzare) telah ada selama sekurangnya satu bulan tanpa adanya gejala skizofrenia lainnya atau suatu gangguan mood. Gangguan Mood Diagnosis banding skizofrenia dan gangguan mood dapat sulit, tetapi penting karena tersedianya pengobatan yang spesifik dan efektif untuk mania dan depresi. Gejala afektif atau mood pada skizofrenia harus relative singkat terhadap lama gejala primer. Tanpa adanya informasi selain dari pemeriksaan status mental, klinisi harus

menunda diagnosis akhir atau harus menganggap adanya gangguan mood, bukannya membuat diagnosis skizofrenia secara prematur. Gangguan Kepribadian Berbagai gangguan kepribadian dapat ditemukan dengan suatu cirri skizofrenia; gangguan kepribadian skizotipal, schizoid, dan ambang adalah gangguan kepribadian dengan gejala yang paling mirip. Gangguan kepribadian, tidak seperti skizofrenia, mempunyai gejala yang ringan, suatu riwayat ditemukannya gangguan selama hidup pasien, dan tidak adanya onset tanggal yang dapat diidentifikasi. 3. Penegakan diagnosis, pemeriksaan penunjang dan WD Anamnesis Identitas pasien : Ny. Cek Ela, umur 30 tahun seorang ibu rumah tangga. Alasan berobat : Percobaan bunuh diri. Riwayat penyakit sekarang: o o o o o 2 tahun lalu : bersikap menarik diri dari lingkungan 1 tahun lalu : halusinasi auditory siapa yang merujuk alasan masuk RS keluhan pasien lamanya keluhan hal yang mencetuskan

Riwayat keluarga : Tidak ada schizophrenia & gangguan afektif Riwayat pribadi: o kesehatan masa anak-anak o sekolah o masa remaja o riwayat pekerjaan o riwayat perkawinan : baik o anak-anak o kebiasaan o riwayat penyakit dahulu o riwayat penyakit psikiatri sebelumnya o perilaku antisosial o keadaan hidup saat ini

Kepribadian sebelum sakit: o riwayat sosial o kegiatan dan minat o afek o watak/karakter o pendapat umum o energi dan inisiatif o reaksi terhadap stress

Tidak ada stressor yang jelas dalam 12 bulan terakhir

Pemeriksaan tambahan Pemeriksaan fisik Pemeriksaan status mental o o o o o o o o o o o o o perilaku umum berbicara afek pola pikir isi pikir waham dan salah interpretasi halusinasi fenomena obsesi orientasi daya ingat perhatian dan konsentrasi pengetahuan umum insight dan judgment

Tes psikologis Tes neuropsikologis formal dari fungsi kognitif Tes intelegensia hasilnya lebih rendah Tes proyektif dan kepribadian hasilnya abnormal

Kriteria diagnostic skizofrenia-F20 (PPDGJ III) Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas): a. thought echo= isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya (tidak keras) dan isi pikiran ulangan; walaupun isinya sama, namun kualitasnya berbeda; atau thought insertion or withdrawal= isi pikiran yang asing dari luar masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal); dan thought broadcasting= isi pikitannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum mengetahuinya; b. delusion of control= waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar; atau delusion of influence= waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari luar; atau delusion of passivity= waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar (tentang dirinya= secara jelas merujuk ke pergerakan tubuh/anggota gerak atau ke pikiran, tindakan, atau

penginderaan khusus); delusion perception= penglman inderawi yang tak wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat; c. Halusinasi auditorik: Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien, atau Mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara), atau Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh.

d. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan diatas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan makhluk asingdari dunia lain). Atau paling sedikit dua gejala di bawah ini yang harus selalu ada secara jelas: a. Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja, apabila disertai baik oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa

kandungan afekif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (overvalued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan; b. Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengaami sisipn (interpolation) yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau neologisme; c. Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativism, mutisme, dan stupor; d. Gejala-gejala negative, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan respon emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan social dan menurunnya kinerja social; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika; Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodormal); Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi (personal behaviour), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (self-absorbed attitude), dan penarikan diri secara sosial.

F25 Gangguan Skizoafektif Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejala-gejala definitif adanya skizofrenia dan gangguan afektif sama-sama menonjol pada saat yang bersamaan (simultaneuosly) atau dalam beberapa hari yang satu sesudah yang lain, dalam episode penyakit yang sama, dan bilamana, sebagai konsekuensi dari ini, episode penyakit tidak memenuhi kriteria baik skizofrenia maupun episode manik atau depresif.

Klasifikasi gangguan skizoafektif Menurut PPDGJ-III, gangguan skizoafektif diklasifikasikan menjadi: F25.0 Gangguan Skizoafektif Tipe Manik Pedoman Diagnosis

- Kategori ini digunakan baik untuk episode skizofrenia tipe manik yang tunggal maupun untuk gangguan berulang dengan sebagian besar episode skizoafektif tipe manik. - Afek harus meningkat secara menonjol atau ada peningkatan afek yang tidak begitu menonjil dikombinasi dengan iritabilitas atau kegelisahan yang memuncak. - Dalam episode yang sama harus jelas ada sedikitnya satu atau lebih baik lagi dua, gejala skizorenia yang khas.

F25. 1 Gangguan Skizoafektif Tipe Depresif - Kategori ini digunakan baik untuk episode skizofrenia tipe depresif yang tunggal maupun untuk gangguan berulang dengan sebagian besar episode skizoafektif tipe depresif. - Afek depreeif harus menonjol, disertai oleh sedikitnya dua gejala khas, baik depreesif maupun kelainana perilaku terkait seperti tercantum dalam uraian untuk episode depresif. - Dalam episode yang sama harus jelas ada sedikitnya satu atau lebih baik lagi dua, gejala skizorenia yang khas.

F25.2 Gangguan Skizoafektif Tipe Campuran Gangguan dengan gejala-gejala skizofrenia berada secara bersama-sama dengan gejala-gejala afektif bipolar campuran.

Diagnosis multiaksial AKSIS I AKSIS II : F25.1 Gangguan Skizoafektif Tipe Depresif : F60.2 gangguan kepribadian skizoid

Kriteria PPDGJ dalam menentukan adanya gangguan kepribadian schizoid adalah sedikit aktivitas yang memberikan kesenangan emosi dingin, afek datar atau tak peduli (detachment) Kurang mampu mengekspresikan kelembutan, kehangatan, dan kemarahan pada orang lain Tampak nyata ketidak pedulian terhadap pujian atau kecaman Kurang tertarik untuk mengalami pengalaman seksual dengan orang lain Hampir selalu memilih aktivitas yang dilakukan sendiri Preokupasi dengan fantasi dan introspeksi yang berlebihan

tidak memiliki teman dekat atau hubungan pribadi yang akrab (kalau ada cuma satu) dan tidak punya keinginan untuk melakukannya sangat tidak sensitive terhadap norma social yang berlaku

Untuk diagnosis dibutuhkan minimal 3 kriteria di atas. AKSIS III AKSIS IV AKSIS V : Tidak ada : Tidak ada : 40-31 maknanya yaitu beberapa disabilitas dalam hubungan dengan

realita dan komunikasi,disabilitas berat dalam beberapa fungsi. 20-11 maknanya yaitu bahaya menciderai diri/orang lain, disabilitas sangat berat dalam komunikasi dan mengurus diri. 4. Epidemiologi - 1% populasi dunia. - Mortalitas dan morbiditas: Bunuh diri (10%), penyakit-penyakit lain akibat pola hidup yang buruk, efek samping obat, dan penurunan preawatan kesehatan. - = : Onset lebih awal dan gejala lebih buruk pada , disebabkan karena respon pengobatan antipsychotic yang lebih baik pada disebabkan pengaruh estrogen. - Rasio schizophrenia kembar pada >. - Usia: o Puncak onset: (18-25 tahun), (26-45 tahun) o Onset sebelum pubertas dan >45 tahun jarang. o Gejala-gejala dapat membaik perlahan pada usia pertengahan dan lebih tua. o Sembuh spontan jarang terjadi pada beberapa tahun penyakit kronis. 5. Etiologi dan faktor resiko Ada beberapa etiologi schizophrenia antara lain: Genetik/Riwayat keluarga Schizophrenia Psikosis afektif Kembar monozigot (50%) Kembar dizigot (15%) Perkembangan saraf Trauma otak janin

Kelahiran pada musim dingin Komplikasi obstetric Berat lahir rendah CT/MRI abnormal Ganja Interaksi gen (cathecol-O-methyl transferase) Lingkungan Ekspresi emosi tinggi Kejadian hidup yang menyedihkan Penurunan sosio-ekonomi Neurokimia Hipotesis dopamine Peningkatan 5-HT Penurunan glutamat

Faktor Resiko : a. Jenis kelamin : awitan terjadi lebih dini pada pria dibandingkan wanita b. usia : awitan dibawah 10 tahun dan diatas 60 tahun sangat jarang, hampir 90% yang menjalani pengobatan berusia 15-55 tahun c. Musim lahir : Kemungkinan besar dilahirkan pada musim dingin dan awal musim semi. d. Infeksi : mencakup slow virus, retrovirus, dan reaksi autoimun yang diaktifkan virus; frekuensi skizofrenia meningkat setelah pajanan influenza yang terjadi di musim dingin selama trimester 2 kehamilan. e. Distribusi geografik: prevalensi bagian timur laut dana barat amerika serikat, irlandia lebih tinggi f. riwayat keluarga dengan skizofrenia : keluarga biologis derajat pertama pasien skizofrenik memiliki resiko sepuluh kali lebih besar dibanding populasi umum. g. Penggunaan zat : merokok kretek, alkohol, kanabis, kokain h. Populasi : berkorelasi antara kepadatan penduduk dan prevalensi skizofrenia i. Sosioekonomi dan kultural [1]

6. Patofisiologi Sebuah studi melibatkan 59000 orang, dimana 5001 didiagnosis dengan skizofrenia. Diidentifikasi 22 lokasi genom, dengan 13 yang terbaru yang menurut peneliti telibat di dalam perkembangan skizofrenia. Peneliti menambahkan, bahwa ada 2 penentu proses genetik pada skizofrenia, yaitu jalur mikro-RNA 137, dan jalur kanal kalsium. Hal ini masih menjadi fokus penelitian. Kemudian selain genetic, dapat juga disebabkan oleh lingkungan, penggunaan obat, dan lain-lain. Disfungsi dari prefrontokortikal glutamatergik dan proyeksi GABAergik, dan disfungsi dari sistem serotonin (5-HT) juga memainkan peranan dalam patofisiologi skizofrenia. Ada dua jalur dopaminergik yang berperan dalam kasus skizofrenia. Yaitu jalur mesolimbik dan mesokortikal. 5HT (serotonin) berinteraksi dengan reseptor 5HT2A pada level postsinaptik, baik pada badan sel dopamine pada terminal akson dan menghambat pengeluaran dopamine atau kerja antagonis dari 5HT2A menyebabkan pengeluaran dari dopamine. Aksi dari 5HT2A dan D2 menyebabkan efek yang berbeda pada jalur dopamine yang berbeda. Kemudian glutamat dari prefrontal korteks ke VTA menurun pada penderita skizofrenia, sehingga jumlah pengeluaran dopamine pada jalur mesolimbik yaitu dari VTA ke nucleus accumbens meningkat. Pengaruh dari ekspresi, distribusi, autoregulasi, dan prevalensi dari heterodimer spesifik, dan level relatif dari G protein, penurunan level dari i isomorph secara spesifik, semuanya bisa berpengaruh pada fungsi NMDA (reseptor glutamat). Kontribusi utama terhadap skizofrenia adalah defisit dari reseptor glutamat presinaptik ke reseptor postsinaptik. Neurotransmitter glutamat berkaitan dengan pengambilan persepsi dan sikap empati pada korteks prefrontal dan fungsi cingulate cortex anterior.

1. Jalur mesolimbik Pada penderita Skizofrenia, terjadi overaktifitas dari jalur ini. Pada jalur mesolimbik aksi dari reseptor D2 lebih meningkat dibanding reseptor 5HT2A, sehingga terjadi pengeluaran dopamine yang berlebihan.

Jalur mesolimbik yaitu dari Ventral Tegmental Area (VTA) menuju ke nukleus accumbens, amygdala, dan hippocampus. Namun jalur utama yang terganggu adalah dari Ventral Tegmental Area (VTA) menuju nucleus accumbens. Sistem ini mengatur mekanisme kompleks dari motivasi, emosi, penghargaan, dan gejala positif dari skizofrenia. Jadi dalam kasus ini, overaktifitas pada jalur ini menyebabkan terjadinya gejala positif pada penderita Skizofrenia, berupa halusinasi auditori, kemudian delusi, dan terjadinya pengucapan kata-kata yang sulit dimengerti. 2. Jalur mesokortikal Pada penderita Skizofrenia, terjadi disfungsi pada jalur ini. Pada jalur mesokortikal, lebih banyak reseptor 5HT2A daripada reseptor D2, sehingga hipofungsi dopamine terjadi. Jalur mesokortikal yaitu dari Ventral Tegmental Area menuju ke prefrontal cortex. Sistem ini mengatur fungsi eksekusi dan kognisi pada bagian Dorsolateral Prefrontal Cortex (DLPFC), serta fungsi emosi dan afek pada bagian Ventromedial Prefrontal Cortex (VMPFC). Jadi dalam kasus ini, disfungsi/hipofungsi jalur ini menyebabkan terjadinya gejala negatif dan kognitif pada penderita Skizofrenia. Gejala negatifnya baik itu rasa depresi, menangis tanpa alasan yang jelas, cemas, menarik diri (apatis, terisolasi dan tidak ada interaksi sosial), sulit menjaga diri dan melakukan pekerjaan rumah. Fungsi kognitif yang terganggu berupa berbicara sedikit, kemunduran mental, pikiran terhambat, sulit membedakan sesuatu. Ini adalah kunci dari skizofrenia, yaitu deregulasi ekspresi glutamate carboxylase, yang mengatur regulasi produksi reelin, yaitu sebuah mediator penting neurogenesis. Secara spesifik reelin mengekspresikan sel cajal-retziu. Ini penting untuk perkembangan pusat bicara di otak, yaitu area Wernicke dan Broca. Defisit pada aktivitas reelin juga berhubungan dengan retardasi pekembangan kortikal. Akar dari psikosis (pengalaman yang tidak bisa dijelaskan, walaupun dengan pikiran mereka sendiri) adalah ketika input ganglia basalis ke lapisan V menguasai kemampuan inhibisi cortex yang lebih tinggi sebagai hasil dari transmisi striatal. Ketika dikombinasikan dengan kelebihan prefrontal, secara spesifik transmisi

orbitofrontal, dari hippocampus, hal ini membuat otak cenderung jatuh dalam keyakinan diri yang kuat. Deteriorasi adalah perburukan, hal ini menunjukkan bahwa skizofrenia yang belum ditatalaksana ini menyebabkan kemunduran yang progresif. Neuropatologi dari skizofrenia ditunjukkan oleh pengurangan neuropil secara signifikan, yaitu multinukleat sinaps antar saraf. Neuropil adalah daerah diantara badan sel saraf pada substansia kelabu dari otak dan medulla spinalis pada sistem saraf pusat. Itu mengandung prosesus yang kusut padat dari paling banyak akson terminal unmyelinated, dendrit dan sel glia. Ini adalah hubungan sinaps yang dibentuk diantara cabang akson dan dendrit. Jadi terjadi penurunan konektivitas sinaps, sehingga pengurangan konektivitas ini menyebabkan pembentukan gejala pada skizofrenia. Jadi pada penderita skizofrenia terjadi pengurangan koneksi sinaps, bukan jumlah sel saraf. 7. Manifestasi klinis Gejala-gejala skizofrenia dapat dibagi menjadi dua kelompok menurut Bleuler, yaitu primer dan sekunder. Gejala-gejala primer : 1. Association disorders (Gangguan proses pikiran) Pada skizofrenia inti gangguan memang terdapat pada proses pikiran. Yang terganggu terutama ialah asosiasi. Kadang-kadang satu ide belum selesai diutarakan, sudah timbul ide lain. Atau terdapat pemindahan maksud, umpamanya maksudnya tani tetapi dikatakan sawah. Tidak jarang juga digunakan arti simbolik, seperti dikatakan merah bila dimaksudkan berani. Atau terdapat clang association oleh karena pikiran sering tidak mempunyai tujuan tertentu, umpamanya piring-miring, atau dulu waktu hari, jah memang matahari, lalu saya lari. Semua ini menyebabkan jalan pikiran pada skizofrenia sukar atau tidak dapat diikuti dan dimengerti. Hal ini dinamakan inkoherensi. Jalan pikiran mudah dibelokkan dan hal ini menambah inkoherensinya. Seorang dengan skizofrenia juga kecenderungan untuk menyamakan hal-hal, umpamanya seorang perawat dimarahi dan dipukuli, kemudian seorang lain yang ada disampingnya juga dimarahi dan dipukuli. Kadang-kadang pikiran seakan berhenti, tidak timbul ide lagi. Keadaan ini dinamakan blocking, biasanya berlangsung beberapa detik saja, tetapi kadangkadang sampai beberapa hari.

Ada penderita yang mengatakan bahwa seperti ada sesuatu yang lain didalamnya yang berpikir, timbul ide-ide yang tidak dikehendaki: tekanan pikiran atau pressure of thoughts. Bila suatu ide berulang-ulang timbul dan diutarakan olehnya dinamakan preseverasi atau stereotipi pikiran. Pikiran melayang (flight of ideas) lebih sering inkoherensi. Pada inkoherensi sering tidak ada hubungan antara emosi dan pikiran, pada pikiran melayang selalu ada efori. Pada inkoherensi biasanya jalan pikiran tidak dapat diikuti sama sekali, pada pikiran melayang ide timbul sangat cepat, tetapi masih dapat diikuti, masih bertujuan. 2. Affect disorders (Gangguan afek dan emosi) Gangguan ini pada skizofrenia mungkin berupa : Kedangkalan afek dan emosi (emotional blunting), misalnya penderita menjadi acuh tak acuh terhadap hal-hal penting untuk dirinya sendiri seperti keadaan keluarganya dan masa depannya. Perasaan halus sudah hilang. Parathimi : apa yang seharusnya menimbulkan rasa senang dan gembira, pada penderita timbul rasa sedih atau marah. Paramimi : penderita merasa senang dan gembira, akan tetapi ia menangis. Parathimi dan paramimi bersama-sama dalam bahasa Inggris dinamakan incongruity of affect dalam bahasa Belanda hal ini dinamakan inadequat. Kadang-kadang emosi dan afek serta ekspresinya tidak mempunyai kesatuan, umpamanya sesudah membunuh anaknya penderita menangis berhari-hari, tetapi mulutnya tertawa. Semua ini merupakan gangguan afek dan emosi yang khas untuk skizofrenia. Gangguan afek dan emosi lain adalah : Emosi yang berlebihan, sehingga kelihatan seperti dibuat-buat, seperti penderita yang sedang bermain sandiwara. Yang penting juga pada skizofrenia adalah hilangnya kemampuan untuk melakukan hubungan emosi yang baik (emotional rapport). Karena itu sering kita tidak dapat merasakan perasaan penderita. Karena terpecah belahnya kepribadian, maka dua hal yang berlawanan mungkin terdapat bersama-sama, umpamanya mencintai dan membenci satu orang yang sama ; atau menangis dan tertawa tentang satu hal yang sama. Ini dinamakan ambivalensi pada afek. 3. Ambivalence (Gangguan kemauan/keragu-raguan) Banyak penderita dengan skizofrenia mempunyai kelemahan kemauan. Mereka tidak dapat mengambil keputusan., tidak dapat bertindak dalam suatu

keadaan. Mereka selalu memberikan alasan, meskipun alasan itu tidak jelas atau tepat, umpamanya bila ditanyai mengapa tidak maju dengan pekerjaan atau mengapa tiduran terus. Atau mereka menganggap hal itu biasa saja dan tidak perlu diterangkan. Kadang-kadang penderita melamun berhari-hari lamanya bahkan berbulan-bulan. Perilaku demikian erat hubungannya dengan otisme dan stupor katatonik. Negativisme : sikap atau perbuatan yang negative atau berlawanan terhadap suatu permintaan. Ambivalensi kemauan : menghendaki dua hal yang berlawanan pada waktu yang sama, umpamanya mau makan dan tidak mau makan; atau tangan diulurkan untuk berjabat tangan, tetapi belum sampai tangannya sudah ditarik kembali; hendak masuk kedalam ruangan, tetapi sewaktu melewati pintu ia mundur, maju mundur. Jadi sebelum suatu perbuatan selesai sudah timbul dorongan yang berlawanan. Otomatisme : penderita merasa kemauannya dipengaruhi oleh orang lain atau tenaga dari luar, sehingga ia melakukan sesuatu secara otomatis. 4. Autism (Gejala psikomotor) Juga dinamakan gejala-gejala katatonik atau gangguan perbuatan. Kelompok gejala ini oleh Bleuler dimasukkan dalam kelompok gejala skizofrenia yang sekunder sebab didapati juga pada penyakit lain. Sebetulnya gejala katatonik sering mencerminkan gangguan kemauan. Bila gangguan hanya ringan saja, maka dapat dilihat gerakan-gerakan yang kurang luwes atau yang agak kaku. Penderita dalma keadaan stupor tidak menunjukkan pergerakan sama sekali. Stupor ini dapat berlangsung berhari-hari, berbulan-bulan dan kadang-kadang bertahun-tahun lamanya pada skizofrenia yang menahun. Mungkin penderita mutistik. Mutisme dapat disebabkan oleh waham, ada sesuatu yang melarang ia bicara. Mungkin juga oleh karena sikapnya yang negativistik atau karena hubungan penderita dengan dunia luar sudah hilang sama sekali hingga ia tidak ingin mengatakan apa-apa lagi. Sebaliknya tidak jarang penderita dalam keadaan katatonik menunjukkan hiperkinesa, ia terus bergerak saja, maka keadaan ini dinamakan logorea. Kadangkadang penderita menggunakan atau membuat kata-kata yang baru: neologisme. Berulang-ulang melakukan suatu gerakan atau sikap disebut stereotipi; umpamanya menarik-narik rambutnya, atau tiap kali mau menyuap nasi mengetok piring dulu beberapa kali. Keadaan ini dapat berlangsung beberapa hari sampai beberapa tahun. Stereotipi pembicaraan dinamakan verbigerasi, kata atau kalimat

diulang-ulangi. Mannerisme adalah stereotipi yang tertentu pada skizofrenia, yang dapat dilihat dalam bentuk grimas pada mukanya atau keanehan berjalan dan gaya. Gejala katalepsi ialah bila suatu posisi badan dipertahankan untuk waktu yang lama. Fleksibilitas cerea: bila anggota badan dibengkokkan terasa suatu tahanan seperti pada lilin. Negativisme : menentang atau justru melakukan yang berlawanan dengan apa yang disuruh. Otomatisme komando (command automatism) sebetulnya merupakan lawan dari negativisme : semua perintah dituruti secara otomatis, bagaimana ganjilpun.Termasuk dalam gangguan ini adalah echolalia (penderita meniru kata-kata yang diucapkan orang lain) dan ekophraksia (penderita meniru perbuatan atau pergerakan orang lain). Gejala-gejala sekunder : 1. Waham Pada skizofrenia, waham sering tidak logis sama sekali dan sangat bizarre. Tetapi penderita tidak menginsafi hal ini dan untuk dia wahamnya adalah fakta dan tidak dapat diubah oleh siapapun. Sebaliknya ia tidak mengubah sikapnya yang bertentangan, umpamanya penderita berwaham bahwa ia raja, tetapi ia bermain-main dengan air ludahnya dan mau disuruh melakukan pekerjaan kasar. Mayer gross membagi waham dalam dua kelompok yaitu waham primer dan waham sekunder, waham sistematis atau tafsiran yang bersifat waham (delutional interpretations). Waham primer timbul secara tidak logis sama sekali, tanpa penyebab apa-apa dari luar. Menurur Mayer-Gross hal ini hampir patognomonis buat skizofrenia. Umpamanya istrinya sedang berbuat serong sebab ia melihat seekor cicak berjalan dan berhenti dua kali, atau seorang penderita berkata dunia akan kiamat sebab ia melihgat seekor anjing mengangkat kaki terhadap sebatang pohin untuk kencing. Waham sekunder biasanya logis kedengarannya dapat diikuti dan merupakan cara bagi penderita untuk menerangkan gejala-gejala skizofrenia lain. Waham dinamakan menurut isinya :waham kebesaran atau ekspansif, waham nihilistik, waham kejaran, waham sindiran, waham dosa, dan sebagainya. 2. Halusinasi Pada skizofrenia, halusinasi timbul tanpa penurunan kesadaran dan hal ini merupakan gejala yang hampir tidak dijumpai dalam keadaan lain. Paling sering pada keadaan sskizofrenia ialah halusinasi (oditif atau akustik) dalam bentuk suara manusia, bunyi barang-barang atau siulan. Kadang-kadang terdapat halusinasi

penciuman

(olfaktorik),

halusinasi

citrarasa

(gustatorik)

atau

halusinasi

singgungan (taktil). Umpamanya penderita mencium kembang kemanapun ia pergi, atau ada orang yang menyinarinya dengan alat rahasia atau ia merqasa ada racun dalammakanannya Halusinasi penglihatan agak jarang pada skizofrenia lebih sering pada psikosa akut yang berhubungan dengan sindroma otak organik bila terdapat maka biasanya pada stadium permulaan misalnya penderita melihat cahaya yang berwarna atau muka orang yang menakutkan. Diatas telah dibicarakan gejala-gejala. Sekali lagi, kesadaran dan intelegensi tidak menurun pada skizofrenia. Penderita sering dapat menceritakan dengan jelas pengalamannya dan perasaannya. Kadang-kadang didapati depersonalisasi atau double personality, misalnya penderita mengidentifikasikan dirinya dengan sebuah meja dan menganggap dirinya sudah tidak adalagi. Atau pada double personality seakan-akan terdapat kekuatan lain yang bertindak sendiri didalamnya atau yang menguasai dan menyuruh penderita melakukan sesuatu. Pada skizofrenia sering dilihat otisme : penderita kehilangan hubungan dengan dunia luar ia seakan-akan hidup dengan dunianya sendiri tidak menghiraukan apa yang terjadi di sekitarnya. Oleh Bleuler depersonalisasi, double personality dan otisme digolongkan sebagai gejala primer. Tetapi ada yang mengatakan bahwa otisme terjadi karena sangat terganggunya afek dan kemauan. Tiga hal yang perlu diperhatikan dalam menilai simptom dan gejala klinis skizofrenia adalah: (1). Tidak ada symptom atau gejala klinis yang patognomonik untu skizofrenia. Artinya tidak ada simptom yang khas atau hanya terdapat pada skizofrenia. Tiap simptom skizofrenia mungkin ditemukan pada gangguan psikiatrik atau gangguan syaraf lainnya. Karena itu diagnosis skizofrenia tidak dapat ditegakkan dari pemeriksaan status mental saat ini. Riwayat penyakit pasien merupakan hal yang esensial untuk menegakkan diagnosis skizofrenia. (2). Simptom dan gejala klinis pasien skizofrenia dapat berubah dari waktu ke waktu. Oleh karena itu pasien skizofrenia dapat berubah diagnosis subtipenya dari perawatan sebelumnya (yang lalu). Bahkan dalam satu kali perawatanpun diagnosis subtipe mungkin berubah. (3). Harus diperhatikan taraf pendidikan, kemampuan intelektual dan latar belakang sosial budaya pasien. Sebab perilaku atau pola pikir masyarakat dari sosial budaya tertentu mungkin dipandang sebagai suatu hal yang aneh bagi budaya

lain. Contohnya memakai koteka di Papua merupakan hal yang biasa namun akan dipandang aneh jika dilakukan di Jakarta. Selain itu hal yang tampaknya merupakan gangguan realitas mungkin akibat keterbatasan intelektual dan pendidikan pasien. 8. Tata Laksana Pengobatan utama skizofrenia adalah obat antipsikotik, sering dikombinasikan dengan dukungan psikologis dan sosial. Rawat Inap dapat terjadi karena episode yang parah baik secara sukarela atau (jika undang-undang kesehatan mental memungkinkan) tanpa sadar. Rawat inap jangka panjang adalah jarang karena deinstitusionalisasi ( melepaskan individu yg dirawat untuk peduli dalam masyarakat ) awal tahun 1950-an, meskipun masih terjadi. dukungan layanan masyarakat termasuk drop-in center, kunjungan oleh anggota tim kesehatan mental masyarakat, pekerjaan yang didukung dan kelompok-kelompok pendukung yang umum. Beberapa bukti menunjukkan bahwa olahraga teratur memiliki efek positif pada kesehatan fisik dan mental mereka dengan skizofrenia The perawatan psikiatris lini pertama untuk skizofrenia adalah obat antipsikotik yang dapat mengurangi gejala positif psikosis dalam waktu sekitar 7-14 hari. Antipsikotik, bagaimanapun, gagal untuk secara signifikan memperbaiki gejala negatif dan disfungsi kognitif. Dalam obat antipsikotik, dengan terus menggunakanya mengurangi risiko kambuh. Ada sedikit bukti tentang manfaat yang konsisten dari penggunaan mereka lebih dari dua atau tiga tahun Tatalaksana: 1. Rawat Inap

Rawat inap diindikasikan terutama untuk tujuan diagnostic, utnuk stabilitas pengobatan, utnuk keamanan pasien karena adanya ide bunuh diri atau pembunuhan, serta untuk perilaku yang sangat kacau atau tidak pada tempatnya, termasuk ketidakmampuan mengurus kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, dan papan. Rawat inapa juga dapat mengurangi stress pasien dan membantunya menyusun aktivitas harian. 2. a. Terapi biologis Antagonis Reseptor Dopamin

Antagonis reseptor dopamine efektif dalam penanganan skizofrenia adalah terhadap gejalan positif seperti waham, halusinasi. Obat ini memiliki kekurangan dua utama yakni hanya persentase kecil pasien (kemungkinan 25%) yang cukup membantu untuk dapat memulihkan fungsi mental

secara bermakna, dan yang kedua, antagonis reseptor dopamine dikaitkan dengan efek simpang yang mengganggu dan serius yaitu akatisia dan gejala lir-parkinsonian berupa rigiditas dan tremor. Contohnya: Klorpromazin (Thorazine) dan Haloperidol (Haldol) b. Antagonis Serotonin-Dopamine (SDA)

SDA menimbulkan gejala ekstrapiramidal yang minimal atau tidak ada, berinteraksi dengan subtype reseptor dopamine yang berbeda dibanding antipsikotik standar, dan memengaruhi baik reseptor serotonin maupun glutamate. Obat ini juga menghasilkan efek simpang neurologis dan endokrinologis yang lebih sedikit serta lebih efektif dalam menangani gejala negative skizofrenia, contohnya penarikan diri. Contohnya: risperidon (Risperdal), klozapin, olanzapin (Zyprexa), sertindol, kuetiapin dan ziprasidon. 3. 4. a. b. Terapi Elektrokonvulsif (Terapi ECT) Terapi psikososial Pelatihan keterampilan sosial Terapi berorientasi keluarga

9. Komplikasi Kematian akibat usaha bunuh diri Membunuh orang lain Diri sendiri tidak terawat Disabilitas berat dalam komunikasi 10. Pencegahan Ada tiga bentuk pencegahan primer. Pertama, pencegahan universal, ditujukan kepada populasi umum agar tidak terjadi faktor risiko. Caranya adalah mencegah komplikasi kehamilan dan persalinan. Kedua, pencegahan selektif, ditujukan kepada kelompok yang mempunyai risiko tinggi dengan cara, orang tua menciptakan keluarga yang harmonis, hangat, dan stabil. Ketiga, pencegahan terindikasi, yaitu mencegah mereka yang baru memperlihatkan tanda-tanda fase prodromal tidak menjadi skizofrenia yang nyata, dengan cara memberikan obat antipsikotik dan suasana keluarga yang kondusif (makalah pembahas).

Pencegahan skizofrenia sulit karena tidak ada penanda yang dapat diandalkan untuk perkembangan selanjutnya dari penyakit ini. Bukti untuk efektivitas intervensi awal untuk mencegah skizofrenia tidak meyakinkan. Meskipun ada beberapa bukti bahwa intervensi dini pada mereka dengan sebuah psikotik episode dapat meningkatkan hasil jangka pendek, ada sedikit manfaat dari langkah-langkah ini setelah lima tahun. Mencoba untuk mencegah skizofrenia di prodrome fase memiliki manfaat pasti. Terapi perilaku kognitif (CBT) dapat mengurangi risiko menjadi psikotik pada mereka yang berisiko tinggi. Kemudian untuk orang-orang dengan resiko tinggi skizofrenia, mengambil langkah proaktif seperti menghindari penggunaan obat-obat illegal, menurunkan stress, mendapatkan tidur cukup, dan memulai medikasi antipsikotik secepatnya untuk menurunkan gejalanya yang semakin memburuk. Pencegahan pada kasus ini yaitu segera di tatalaksana sebelum menjadi lebih progesif, yaitu dengan obat antipsikotik dan terapi. 11. Prognosis ad vitam : dubia ad malam

ad fungsionam : dubia ad malam

Secara umum prognosis skizofrenia tergantung pada : Usia pertama kali timbul ( onset) : makin muda makin buruk Mula timbulnya akut atau kronik: bila akut lebih baik Tipe skizofrenia : episode skizofrenia akut dan katatonik lebih baik Cepat, tepat serta teraturnya pengobatan yang didapat Ada atau tidaknya faktor pencetusnya : jika ada lebih baik Ada atau tidaknya faktor keturunan : jika ada lebih jelek Kepribadian prepsikotik : jika skizoid, skizotim atau introvred lebih jelek. Keadaan sosial ekonomi : bila rendah lebih jelek.

Prognosis Baik Onset lambat Faktor pencetus yang jelas Onset akut Riwayat sosial, seksual

Prognosis Buruk Onset muda Tidak ada factor pencetus Onset tidak jelas Riwayat social dan

dan pekerjaan premorbid yang baik baik Gejala positif Gejala gangguan mood

pekerjaan premorbid yang buruk Prilaku menarik diri atau

autistic buruk tahun Banyak relaps Riwayat penyerangan Gejala negative Tanda dan gejala neurologist Riwayat trauma perinatal Tidak ada remisi dalam 3 Tidak menikah, bercerai atau

(terutama gangguan depresif) Menikah Riwayat keluarga

janda/ duda Sistem pendukung yang

gangguan mood Sistem pendukung yang

12. KDU 3B Dokter mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan. Dokter dapat memutuskan dan memberikan terapi awal, serta merujuk ke spesialis yang relevan (kasus gawat darurat).

Hipotesis :
Nyonya Cek Ela 30 tahun mengalami Gangguan Jiwa Schizophrenia dengan gangguan kepribadian schizoid.

LI :
1. RTA 2. GAF scale 3. Schizophrenia 4. Gangguan kepribadian ( tipe-tipe kepribadian dan ciri-ciri ) 5. Anxiety ( gangguan afektif ) 6. Autism ( gangguan perilaku ) 7. Gangguan Assosiasi ( gangguan isi pikiran )

SINTESIS
REALITY TESTING ABILITY (RTA) Bagian status mental ini menyimpulkan kesan psikiater tentang sejauh mana pasien dapat dipercaya dan kemampuan ntuk melaporkan keadaannya secara akurat. Hal ini mencakup perkiraan kesan psikiater terhadap kejujuran atau keterusterangan pasien. Contoh: jika pasien terbuka mengenai penyalahgunaan obat tertentu secara aktif atau mengenai keadaan yang menurut pasien dapat berpengaruh buruk. Sehingga dapat disimpulkan bahwa releabilitas pasien tersebut masih baik/bagus. GAF SCALE Global Assessment of Functioning (G.A.F) adalah skala penentuan dalam menilai derajat kemampuan seseorang (overall level) yang sudah diakui secara luas. Dengan skala GAF ini kita dapat mengukur derajat kemampuan fungsi sosial, pekerjaan dan psikologik. Maka dengan skala itu kita dapat mengetahui: 1) angka tertinggi yang dapat dicapai oleh seseorang penderita dalam waktu tertentu dan 2) angka terendah dari seseorang yang tidak mempunyai disfungsi (angka normal terendah). Dengan rumusan tertentu kita dapat menghitung disfungsi seseorang dengan gangguan skizofrenia dalam skala numerik. Aksis V adalah skala penilaian global terhadap fungsi yang sering disebut sebagai Global assesment of functioning (GAF). Pemeriksa mempertimbangkan keseluruhan tingkat fungsional pasien selama periode waktu tertentu (misalnya saat pemeriksaan, tingkat fungsional pasien tertinggi untuk sekurangnya 1 bulan selama 1 tahun terakhir). Fungsional

diartikan sebagai kesatuan dari 3 bidang utama yaitu fungsi sosial, fungsi pekerjaan, fungsi psikologis. Fungsi berupa skala dengan 100 poin dengan 100 mencerminkan tingkat fungsi tertinggi dalam semua bidang.

Aksis V Penilaian Fungsi Secara Global (Global Assesment of Functioning = GAF Scale) 100-91 gejala tidak ada, fungsi max, tidak ada masalah yang tidak tertanggulangi 90-81 80-71 70-61 gejala min, fungsi baik, cukup puas, tidak lebih dari masalh harian biasa gejala sementara dan dapat diatasi, disabilitas ringan dalam social beberapa gejala ringan dan menetap, disabilitas ringan dalam fungsi, secara umum baik 60-51 50-41 40-31 gejala dan disabilitas sedang gejala dan disabilitas berat beberapa disabilitas dalam hubungan dengan realita dan komunikasi, disabilitas berat dalam beberapa fungsi 30-21 disabilitas berat dalam komunikasi dan daya nilai, tidak mampu berfungsi dalam hampir semua bidang 20-11 bahaya mencederai diri/orang lain, disabilitas sangat berat dalam komunikasi dan mengurus diri 10-01 0 persisten dan lebih serius informasi tidak adekuat

SKIZOFRENIA

1. Definisi Skizofrenia Skizofrenia adalah gangguan psikotik yang bersifat kronis atau kambuh ditandai dengan terdapatnya perpecahan (schism) antara pikiran, emosi dan perilaku pasien yang terkena. Perpecahan pada pasien digambarkan dengan adanya gejala fundamental (atau primer) spesifik, yaitu gangguan pikiran yang ditandai dengan gangguan asosiasi, khususnya kelonggaran asosiasi. Gejala fundamental lainnya adalah gangguan afektif, autism, gangguan asosiasi, dan ambivalensi. Sedangkan gejala sekundernya adalah waham dan halusinasi (Kaplan & Sadock, 2004). Berdasarkan DSM-IV, skizofrenia merupakan gangguan yang terjadi dalam durasi paling sedikit selama 6 bulan, dengan 1 bulan fase aktif gejala (atau lebih) yang diikuti munculnya delusi, halusinasi, pembicaraan yang tidak terorganisir, dan adanya perilaku yang katatonik serta adanya gejala negatif (APA, 2000).

2. Kriteria Diagnostik Skizofrenia Menurut Kaplan & Sadock (2004), terdapat beberapa kriteria diagnostik skizofrenia di dalam DSM-IV antara lain : A. Karakteristik gejala Terdapat dua (atau lebih) dari kriteria di bawah ini, masing-masing ditemukan secara signifikan selama periode satu bulan (atau kurang, bila berhasil ditangani): 1) Delusi (waham) 2) Halusinasi 3) Pembicaraan yang tidak terorganisasi (misalnya, topiknya sering menyimpang atau tidak berhubungan). 4) Perilaku yang tidak terorganisasi secara luas atau munculnya perilaku katatonik yang jelas. 5) Gejala negatif; yaitu adanya afek yang datar, alogia atau avolisi (tidak adanya kemauan). Catatan : Hanya diperlukan satu gejala dari kriteria A, jika delusi yang muncul bersifat kacau (bizzare) atau halusinasi terdiri dari beberapa suara yang terus menerus mengomentari perilaku atau pikiran pasien, atau dua atau lebih suara yang saling berbincang antara satu dengan yang lainnya. B. Disfungsi sosial atau pekerjaan Untuk kurun waktu yang signifikan sejak munculnya onset gangguan,

ketidakberfungsian ini meliputi satu atau lebih fungsi utama; seperti pekerjaan, hubungan interpersonal, atau perawatan diri, yang jelas di bawah tingkat yang dicapai sebelum onset (atau jika onset pada masa anak-anak atau remaja, adanya kegagalan untuk mencapai beberapa tingkatan hubungan interpersonal, prestasi akademik, atau pekerjaan yang diharapkan). C. Durasi Adanya tanda-tanda gangguan yang terus menerus menetap selama sekurangnya enam bulan. Pada periode enam bulan ini, harus termasuk sekurangnya satu bulan gejala (atau kurang, bila berhasil ditangani) yang memenuhi kriteria A (yaitu fase aktif gejala) dan mungkin termasuk pula periode gejala prodromal atau residual. Selama periode prodromal atau residual ini, tanda-tanda dari gangguan mungkin hanya dimanifestasikan oleh gejala negatif atau dua atau lebih gejala yang dituliskan dalam kriteria A dalam bentuk yang lemah. D. Di luar gangguan Skizoafektif dan gangguan Mood Gangguan-gangguan lain dengan ciri psikotik tidak dimasukkan, karena : 1) Tidak ada episode depresif mayor, manik atau episode campuran yang terjadi secara bersamaan yang terjadi bersama dengan gejala fase aktif. 2) Jika episode mood terjadi selama gejala fase aktif, maka durasi totalnya akan relatif lebih singkat bila dibandingkan dengan durasi periode aktif atau residualnya. E. Di luar kondisi di bawah pengaruh zat atau kondisi medis umum Gangguan tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung dari suatu zat (penyalahgunaan obat, pengaruh medikasi) atau kondisi medis umum. F. Hubungan dengan perkembangan pervasive Jika ada riwayat gangguan autistik atau gangguan perkembangan pervasive lainnya, diagnosis tambahan skizofrenia dibuat hanya jika muncul delusi atau halusinasi secara menonjol untuk sekurangkurangnya selama satu bulan (atau kurang jika berhasil ditangani).

Klasifikasi perjalanan gangguan jangka panjang (klasifikasi ini hanya dapat diterapkan setelah sekurang-kurangnya satu tahun atau lebih, sejak onset awal dari munculnya gejala fase aktif) : a) Episodik dengan gejala residual interepisode (episode ini dinyatakan dengan munculnya kembali gejala psikotik yang menonjol); khususnya dengan gejala negatif yang menonjol.

b) Episodik tanpa gejala residual interepisodik. c) Kontinum (ditemukan adanya gejala psikotik yang menonjol di seluruh periode observasi); dengan gejala negatif yang menonjol. d) Episode tunggal dalam remisi parsial; khususnya: dengan gejala negatif yang menonjol. e) Episode tunggal dalam remisi penuh. f) Pola lain yang tidak ditemukan (tidak spesifik).

3. Etiologi Teori tentang penyebab skizofrenia, yaitu : a. Diatesis-Stres Model Teori ini menggabungkan antara faktor biologis, psikososial, dan lingkungan yang secara khusus mempengaruhi diri seseorang sehingga dapat menyebabkan berkembangnya gejala skizofrenia. Dimana ketiga faktor tersebut saling berpengaruh secara dinamis (Kaplan & Sadock, 2004). b. Faktor Biologis Dari faktor biologis dikenal suatu hipotesis dopamin yang menyatakan bahwa skizofrenia disebabkan oleh aktivitas dopaminergik yang berlebihan di bagian kortikal otak, dan berkaitan dengan gejala positif dari skizofrenia. Penelitian terbaru juga menunjukkan pentingnya neurotransmiter lain termasuk serotonin, norepinefrin, glutamat dan GABA. Selain perubahan yang sifatnya neurokimiawi, penelitian menggunakan CT Scan ternyata ditemukan perubahan anatomi otak seperti pelebaran lateral ventrikel, atropi koteks atau atropi otak kecil (cerebellum), terutama pada penderita kronis skizofrenia (Kaplan & Sadock, 2004). c. Genetika Faktor genetika telah dibuktikan secara meyakinkan. Resiko masyarakat umum 1%, pada orang tua resiko 5%, pada saudara kandung 8% dan pada anak 12% apabila salah satu orang tua menderita skizofrenia, walaupun anak telah dipisahkan dari orang tua sejak lahir, anak dari kedua orang tua skizofrenia 40%. Pada kembar monozigot 47%, sedangkan untuk kembar dizigot sebesar 12% (Kaplan & Sadock, 2004). d. Faktor Psikososial Teori perkembangan Ahli teori Sullivan dan Erikson mengemukakan bahwa kurangnya perhatian yang hangat dan penuh kasih sayang di tahun-tahun awal kehidupan berperan

dalam menyebabkan kurangnya identitas diri, salah interpretasi terhadap realitas dan menarik diri dari hubungan sosial pada penderita skizofrenia (Sirait, 2008). Teori belajar Menurut ahli teori belajar ( learning theory), anak-anak yang menderita skizofrenia mempelajari reaksi dan cara berfikir irasional orang tua yang mungkin memiliki masalah emosional yang bermakna. Hubungan interpersonal yang buruk dari penderita skizofrenia akan berkembang karena mempelajari model yang buruk selama anak-anak (Sirait, 2008). Teori keluarga Tidak ada teori yang terkait dengan peran keluarga dalam menimbulkan skizofrenia. Namun beberapa penderita skizofrenia berasal dari keluarga yang disfungsional (Sirait, 2008).

4. Tipe-Tipe Skizofrenia Berdasarkan definisi dan kriteria diagnostik tersebut, skizofrenia di dalam DSMIV dapat dikelompokkan menjadi beberapa subtipe, yaitu (Kaplan & Sadock, 2004): a. Skizofrenia Paranoid Tipe skizofrenia yang memenuhi kriteria sebagai berikut : A. Preokupasi dengan satu atau lebih delusi atau halusinasi dengar yang menonjol secara berulang-ulang. B. Tidak ada yang menonjol dari berbagai keadaan berikut ini : Pembicaraan yang tidak terorganisasi, perilaku yang tidak terorganisasi atau katatonik, atau afek yang datar atau tidak sesuai. b. Skizofrenia Terdisorganisasi Tipe skizofrenia yang memenuhi kriteria sebagai berikut : A. Di bawah ini semuanya menonjol : 1) Pembicaraan yang tidak terorganisasi. 2) Perilaku yang tidak terorganisasi. 3) Afek yang datar atau tidak sesuai. B. Tidak memenuhi kriteria untuk tipe katatonik c. Skizofrenia Katatonik Tipe skizofrenia dengan gambaran klinis yang didominasi oleh sekurangkurangnya dua hal berikut ini : 1) Imobilitas motorik, seperti ditunjukkan adanya katalepsi (termasuk fleksibilitas lilin) atau stupor.

2) Aktivitas motorik yang berlebihan (tidak bertujuan dan tidak dipengaruhi oleh stimulus eksternal). 3) Negativisme yang berlebihan (sebuah resistensi yang tampak tidak adanya motivasi terhadap semua bnetuk perintah atau mempertahankan postur yang kaku dan menentang semua usaha untuk menggerakkannya) atau mutism. 4) Gerakan-gerakan sadar yang aneh, seperti yang ditunjukkan oleh posturing (mengambil postur yang tidak lazim atau aneh secara disengaja), gerakan stereotipik yang berulang-ulang, manerism yang menonjol, atau bermuka menyeringai secara menonjol. 5) Ekolalia atau ekopraksia (pembicaraan yang tidak bermakna). d. Skizofrenia Tidak Tergolongkan Tipe skizofrenia yang memenuhi kriteria A, tetapi tidak memenuhi kriteria untuk tipe paranoid, terdisorganisasi, dan katatonik. e. Skizofrenia Residual Tipe skizofrenia yang memenuhi kriteria sebagai berikut : A. Tidak adanya delusi, halusinasi, pembicaraan yang tidak terorganisasi, dan

perilaku yang tidak terorganisasi atau katatonik yang menonjol. B. Terdapat terus tanda-tanda gangguan, seperti adanya gejala negatif atau dua atau lebih gejala yang terdapat dalam kriteria A, walaupun ditemukan dalam bentuk yang lemah (misalnya,keyakinan yang aneh, pengelaman persepsi yang tidak lazim).

5. Gejala dan Gambaran Klinis Skizofrenia Berdasarkan DSM-IV, ciri yang terpenting dari skizofrenia adalah adanya campuran dari dua karakteristik (baik gejala positif maupun gejala negatif) (APA, 2000). Secara umum, karakteristik gejala skizofrenia (kriteria A), dapat digolongkan dalam tiga kelompok : a. gejala positif, b. gejala negatif, dan c. gejala lainnya. Gejala positif adalah tanda yang biasanya pada orang kebanyakan tidak ada, namun pada pasien Skizofrenia justru muncul. Gejala positif adalah gejala yang bersifat aneh, antara lain berupa delusi, halusinasi, ketidakteraturan pembicaraan, dan perubahan perilaku (Kaplan & Sadock, 2004). Gejala negatif adalah menurunnya atau tidak adanya perilaku tertentu, seperti

perasaan yang datar, tidak adanya perasaan yang bahagia dan gembira, menarik diri, ketiadaan pembicaraan yang berisi, mengalami gangguan sosial, serta kurangnya motivasi untuk beraktivitas (Kaplan & Sadock, 2004). Kategori gejala yang ketiga adalah disorganisasi, antara lain perilaku yang aneh (misalnya katatonia, di mana pasien menampilkan perilaku tertentu berulangulang, menampilkan pose tubuh yang aneh; atau waxy flexibility, yaitu orang lain dapat memutar atau membentuk posisi tertentu dari anggota badan pasien, yang akan dipertahankan dalam waktu yang lama) dan disorganisasi pembicaraan. Adapun disorganisasi pembicaraan adalah masalah dalam mengorganisasikan ide dan pembicaraan, sehingga orang lain mengerti (dikenal dengan gangguan berpikir formal). Misalnya asosiasi longgar, inkoherensi, dan sebagainya (Prabowo, 2007).

6. Perjalanan Gangguan dan Prognosis Skizofrenia Perjalanan berkembangnya skizofrenia sangatlah beragam pada setiap kasus. Namun, secara umum melewati tiga fase utama, yaitu (Prabowo, 2007) : a. Fase prodromal Fase prodromal ditandai dengan deteriorasi yang jelas dalam fungsi kehidupan, sebelum fase aktif gejala gangguan, dan tidak disebabkan oleh gangguan afek atau akibat gangguan penggunaan zat, serta mencakup paling sedikit dua gejala dari kriteria A pada kriteria diagnosis skizofrenia. Awal munculnya skizofrenia dapat terjadi setelah melewati suatu periode yang sangat panjang, yaitu ketika seorang individu mulai menarik diri secara sosial dari lingkungannya (Prabowo, 2007). Individu yang mengalami fase prodromal dapat berlangsung selama beberapa minggu hingga bertahun-tahun, sebelum gejala lain yang memenuhi kriteria untuk menegakkan diagnosis skizorenia muncul. Individu dengan fase prodromal singkat, perkembangan gejala gangguannya lebih jelas terlihat daripada individu yang mengalami fase prodromal panjang (Prabowo, 2007). b. Fase Aktif Gejala Fase aktif gejala ditandai dengan munculnya gejala-gejala skizofrenia secara jelas. Sebagian besar penderita gangguan skizofrenia memiliki kelainan pada kemampuannya untuk melihat realitas dan kesulitan dalam mencapai insight. Sebagai akibatnya episode psikosis dapat ditandai oleh adanya kesenjangan yang semakin besar antara individu dengan lingkungan sosialnya (Prabowo, 2007). c. Fase Residual

Fase residual terjadi setelah fase aktif gejala paling sedikit terdapat dua gejala dari kriteria A pada kriteria diagnosis skizofrenia yang bersifat mentap dan tidak disebabkan oleh gangguan afek atau gangguan penggunaan zat. Dalam perjalanan gangguannya, beberapa pasien skizofrenia mengalami kekambuhan hingga lebih dari lima kali. Oleh karena itu, tantangan terapi saat ini adalah untuk mengurangi dan mencegah terjadinya kekambuhan. Penegakan prognosis dapat menghasilkan dua kemungkinan, yaitu prognosis positif apabila didukung oleh beberapa aspek berikut, seperti: onset terjadi pada usia yang lebih lanjut, faktor pencetusnya jelas, adanya kehidupan yang relatif baik sebelum terjadinya gangguan dalam bidang sosial, pekerjaan, dan seksual, fase prodromal terjadi secara singkat, munculnya gejala gangguan mood, adanya gejala positif, sudah menikah, dan adanya sistem pendukung yang baik (Kaplan & Sadock, 2004). Sedangkan prognosis negatif, dapat ditegakkan apabila muncul beberapa keadaan seperti berikut: onset gangguan lebih awal, faktor pencetus tidak jelas, riwayat kehidupan sebelum terjadinya gangguan kurang baik, fase prodromal terjadi cukup lama, adanya perilaku yang autistik, melakukan penarikan diri, statusnya lajang, bercerai, atau pasangannya telah meninggal, adanya riwayat keluarga yang mengidap skizofrenia, munculnya gejala negatif, sering kambuh secara berulang, dan tidak adanya sistem pendukung yang baik (Kaplan & Sadock, 2004). Menurut Sirait (2008) skizofrenia merupakan gangguan yang bersifat kronis, berangsur-angsur menjadi semakin menarik diri dan tidak berfungsi selama bertahun-tahun. Beberapa penelitian menemukan lebih dari periode waktu 5 sampai 10 tahun setelah perawatan pertama kali dirumah sakit, hanya 10 sampai 20% memiliki hasil yang baik. Lebih dari 50% memiliki hasil buruk. Seorang caregiver maupun anggota keluarga lainnya berperan penting selama pasien berada pada fase aktif maupun fase residual. Hal ini disebabkan karena setelah pasien selesai dengan perawatan di rumah sakit, terapi akan tetap dilanjutkan di lingkungan rumah, oleh karena itu, kesuksesan pengobatan serta kekambuhan pasien akan ditentukan oleh caregiver selain faktor-faktor lain yang turut mempengaruhi kesuksesan pengobatan tersebut.

7. Terapi Tiga dasar akan pertimbangan pengobatan gangguan pada skizofrenia adalah (Kaplan & Sadock, 2004) :

Terlepas dari berbagai etiologi, skizofrenia terjadi pada seseorang yang memiliki sifat individual, keluarga, serta sosial psikologis yang unik, maka pendekatan pengobatan disusun berdasarkan bagaimana penderita telah terpengaruhi oleh gangguan dan

bagaimana penderita akan terobati oleh pengobatan yang dilakukan (terapi farmakologi). Faktor lingkungan dan psikologi turut berperan dalam perkembangan skizofrenia, maka harus dilakukan juga terapi non farmakologi. Skizofrenia adalah suatu gangguan yang kompleks, dan tiap pendekatan terapetik jarang tercukupi untuk mengobati gangguan yang memiliki berbagai macam bentuk.

Penatalaksanaan pada pasien skizofrenia dapat berupa terapi somatik, dan terapi psikososial. 1) Terapi Somatik (Medikamentosa)
Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati Skizofrenia disebut antipsikotik. Antipsikotik bekerja mengontrol halusinasi, delusi dan perubahan pola fikir yang terjadi pada Skizofrenia. Pasien mungkin dapat mencoba beberapa jenis antipsikotik sebelum mendapatkan obat atau kombinasi obat antipsikotik yang benar-benar cocok bagi pasien. Antipsikotik pertama diperkenalkan 50 tahun yang lalu dan merupakan terapi obat-obatan pertama yang efekitif untuk mengobati Skizofrenia. Terdapat 3 kategori obat antipsikotik yang dikenal saat ini, yaitu antipsikotik konvensional, newer atypical antipsycotics, dan Clozaril (Clozapine). a. Antipsikotik Konvensional Obat antipsikotik yang paling sangat lama efektif, penggunannya antipsikotik disebut antipsikotik sering

konvensional.

Walaupun

konvensional

menimbulkan efek samping yang serius. Contoh obat antipsikotik konvensional antara lain : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Haldol (haloperidol) Mellaril (thioridazine) Navane (thiothixene) Prolixin (fluphenazine) Stelazine ( trifluoperazine) Thorazine ( chlorpromazine) Trilafon (perphenazine)

Akibat berbagai efek samping yang dapat ditimbulkan oleh antipsikotik konvensional, banyak ahli lebih merekomendasikan penggunaan newer atypical antipsycotic.

Ada 2 pengecualian (harus dengan antipsikotok konvensional). Pertama, pada pasien yang sudah mengalami perbaikan (kemajuan) yang pesat menggunakan antipsikotik konvensional tanpa efek samping yang berarti. Biasanya para ahli

merekomendasikan untuk meneruskan pemakaian antipskotik konvensional. Kedua, bila pasien mengalami kesulitan minum pil secara reguler. Prolixin dan Haldol dapat diberikan dalam jangka waktu yang lama ( long acting) dengan interval 2-4 minggu (disebut juga depot formulations). Dengan depot formulation, obat dapat disimpan terlebih dahulu di dalam tubuh lalu dilepaskan secara perlahan-lahan. Sistem depot formulation ini tidak dapat digunakan pada newer atypic antipsycotic. b. Newer Atypcal Antipsycotic Obat-obat yang tergolong kelompok ini disebut atipikal karena prinsip kerjanya berbda, serta sedikit menimbulkan efek samping bila dibandingkan dengan antipsikotik konvensional. Beberapa contoh newer atypical antipsycotic yang tersedia, antara lain :

Risperdal (risperidone) Seroquel (quetiapine) Zyprexa (olanzopine)

Para ahli banyak merekomendasikan obat-obat ini untuk menangani pasien-pasien dengan Skizofrenia. c. Clozaril Clozaril mulai diperkenalkan tahun 1990, merupakan antipsikotik atipikal yang pertama. Clozaril dapat membantu 25-50% pasien yang tidak merespon (berhasil) dengan antipsikotik konvensional. Sangat disayangkan, Clozaril memiliki efek samping yang jarang tapi sangat serius dimana pada kasus-kasus yang jarang (1%), Clozaril dapat menurunkan jumlah sel darah putih yang berguna untuk melawan infeksi. Ini artinya, pasien yang mendapat Clozaril harus memeriksakan kadar sel darah putihnya secara reguler. Para ahli merekomendaskan penggunaan Clozaril bila paling sedikit 2 dari obat antipsikotik yang lebih aman tidak berhasil.

Sedian Obat Anti Psikosis dan Dosis Anjuran No Nama Generik Sediaan 1 Klorpromazin Tablet 25 dan 100 mg Injeksi 25 mg/ml 2 Haloperidol Tablet 0,5 mg, 1,5 mg, 5 mg Injeksi 5 mg/ml 3 4 5 6 Perfenazin Flufenazin Flufenazin dekanoat Levomeprazin Tablet 2, 4, 8 mg Tablet 2,5 mg, 5 mg Inj 25 mg/ml Tablet 25 mg Injeksi 25 mg 7 8 9 Trifluperazin Tioridazin Sulpirid Tablet 1 mg dan 5 mg Tablet 50 dan 100 mg Tablet 200 mg Injeksi 50 mg/ml 10 11 Pimozid Risperidon Tablet 1 dan 4 mg Tablet 1, 2, 3 mg

Dosis 150 - 600 mg/hari

5 - 15 mg/hari

12 - 24 mg/hari 10 - 15 mg/hari 25 mg/2-4 minggu 25 - 50 mg/hari

10 - 15 mg/hari 150 - 600 mg/hari 300 - 600 mg/hari

1-4 mg/hari 2 - 6 mg/hari

2) Terapi Psikososial Gejala-gejala gangguan skizofrenia yang kronik mengakibatkan situasi pengobatan di dalam maupun di luar Rumah Sakit Jiwa (RSJ) menjadi monoton dan menjemukan. Secara historis, sejumlah penanganan psikososial telah diberikan pada pasien skizofrenia, yang mencerminkan adanya keyakinan bahwa gangguan ini merupakan akibat masalah adaptasi terhadap dunia karena berbagai pengalaman yang dialami di usia dini. Pada terapi psikosial terdapat dua bagian yaitu terapi kelompok dan terapi keluarga (Durand, 2007). Terapi kelompok merupakan salah satu jenis terapi humanistik. Pada terapi ini, beberapa klien berkumpul dan saling berkomunikasi dan terapist berperan sebagai fasilitator dan sebagai pemberi arah di dalamnya. Para peserta terapi saling memberikan feedback tentang pikiran dan perasaan yang dialami. Peserta diposisikan pada situasi sosial yang mendorong peserta untuk berkomunikasi,

sehingga dapat memperkaya

pengalaman peserta dalam kemampuan berkomunikasi.

Pada terapi keluarga merupakan suatu bentuk khusus dari terapi kelompok. Terapi ini digunakan untuk penderita yang telah keluar dari rumah sakit jiwa dan tinggal bersama keluarganya. Keluarga berusaha untuk menghindari ungkapanungkapan emosi yang bisa mengakibatkan penyakit penderita kambuh kembali. Dalam hal ini, keluarga diberi informasi tentang cara-cara untuk mengekspresikan perasaan-perasaan, baik yang positif maupun yang negatif secara konstruktif dan jelas, dan untuk memecahkan setiap persoalan secara bersamasama. Keluarga diberi pengetahuan tentang keadaan penderita dan cara-cara untuk menghadapinya. Dari beberapa penelitian, seperti yang dilakukan oleh Fallon (Davison, et al., 1994; Rathus, et al., 1991) ternyata campur tangan keluarga sangat membantu dalam proses penyembuhan, atau sekurang-kurangnya mencegah kambuhnya penyakit penderita, dibandingkan dengan terapi-terapi secara individual.

8. Kambuh Kambuh merupakan kondisi dimana pasien kembali menunjukkan gejala-gejala skizofrenia setelah remisi dari rumah sakit. Penderita mengalami kambuh diikuti oleh perburukan sosial lebih lanjut pada fungsi dasar pasien (Kaplan & Sadock, 2004).

Gangguan Kepribadian 1. Paranoid Gangguan kepribadian paranoid ditandai oleh ketidakpercayaan terhadap orang lain dan kecurigaan yang terus-menerus bahwa orang di sekitar Anda memiliki motif jahat. Orang dengan gangguan ini cenderung memiliki kepercayaan yang berlebihan pada pengetahuan dan kemampuan mereka sendiri dan biasanya menghindari hubungan dekat. Mereka mencari maksud tersembunyi dalam segala hal dan membaca niat bermusuhan pada tindakan orang lain. Mereka mudah mempertanyakan kesetiaan teman dan orang yang dicintai dan sering bersikap dingin dan menjaga jarak dengan orang lain. Mereka biasanya mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain dan cenderung menyimpan dendam dalam waktu yang lama.

Gangguan kepribadian paranoid sulit diobati, karena paranoid seringkali sangat mencurigai para profesional medis. Kombinasi obat-obatan dan terapi bicara dapat efektif untuk memerangi gejala yang lebih merusak akibat gangguan ini. 2. Schizoid Orang dengan gangguan kepribadian schizoid menghindari menjalin hubungan dan tidak menunjukkan banyak emosi. Tidak seperti avoidants, schizoids benar-benar lebih suka menyendiri dan tidak diam-diam menginginkan popularitas. Mereka cenderung mencari pekerjaan yang membutuhkan sedikit kontak sosial. Keterampilan sosial mereka sering lemah dan mereka tidak menunjukkan perlunya perhatian atau penerimaan. Mereka dianggap tidak humoris dan menjaga jarak oleh orang lain dan sering disebut penyendiri. Adalah penting untuk membedakan schizoid dengan avoidant. Avoidants akan merasa cemas dalam situasi sosial namun memiliki keinginan untuk menyesuaikan diri, sementara schizoids benar-benar hanya lebih suka menyendiri. Kadang-kadang sulit juga untuk membedakan antara penderita schizoids dan penderita sindrom Asperger. Kelainan ini lebih sering ditemui dan sering lebih parah pada laki-laki. Schizoids biasanya tidak mencari pengobatan sendiri, melainkan dibujuk untuk menjalani pengobatan oleh orang yang dicintai. 3. Schizotypal Banyak yang percaya bahwa gangguan kepribadian schizotypal mewakili skizofrenia ringan. Kelainan ini ditandai oleh cara berpikir dan memahami yang aneh, dan individu dengan gangguan ini sering mencari isolasi dari orang lain. Mereka kadangkadang percaya bahwa mereka memiliki kemampuan indra keenam atau bahwa mereka terhubung melalui cara-cara tertentu dengan berbagai kejadian yang (sebenarnya) tidak berhubungan sama sekali dengan mereka. Mereka umumnya berperilaku eksentrik dan mengalami kesulitan berkonsentrasi untuk jangka waktu yang lama. Perkataan mereka biasanya rumit dan sulit untuk diikuti. 4. Antisocial Kesalahpahaman yang umum adalah bahwa gangguan kepribadian antisosial mengacu pada orang yang memiliki keterampilan sosial yang buruk. Namun, seringkali yang

terjadi adalah hal sebaliknya. Alih-alih karena kurangnya keterampilan sosial, gangguan kepribadian antisosial ditandai oleh kurangnya hati nurani. Orang dengan gangguan ini rentan terhadap perilaku kriminal, percaya bahwa korban-korban mereka lemah dan pantas dimanfaatkan. Antisocial cenderung untuk berbohong dan mencuri. Sering kali, mereka ceroboh dengan uang dan mengambil tindakan tanpa berpikir tentang konsekuensinya. Mereka sering agresif dan jauh lebih peduli dengan kebutuhan mereka sendiri daripada kebutuhan orang lain. Sebagian besar penjahat di penjara memiliki gangguan kepribadian antisosial hingga derajat tertentu. Pengobatan gangguan ini sangat sulit, meskipun gejala gangguan antisocial sering berkurang seiring dengan bertambahnya usia. 5. Borderline Gangguan kepribadian borderline ditandai oleh ketidakstabilan suasana hati dan perasaan rendah diri. Orang dengan gangguan ini rentan terhadap perubahan mood yang terus menerus dan kemunculan rasa marah. Sering kali, mereka akan marah pada pada diri mereka sendiri, menyebabkan luka pada tubuh mereka sendiri. Ancaman dan tindakan bunuh diri biasa ditemui pada penderita borderline. Borderline berpikir dengan cara yang sangat hitam-putih dan seringkali sarat konflik dan ketegangan dalam berhubungan. Mereka juga cepat marah ketika harapan mereka tidak terpenuhi. Gangguan kepribadian borderline dinamakan demikian karena pada awalnya dianggap berada di perbatasan gangguan jiwa. Kelainan ini relatif umum, mempengaruhi 2% dari seluruh orang dewasa. Perempuan lebih mungkin untuk menderita borderline daripada pria. Hampir 20% pasien rawat inap psikiatri adalah penderita borderline. Dengan pengobatan, pasien sering mendapati gejala mereka membaik. Pengobatan borderline melibatkan terapi di mana pasien belajar untuk

mengekspresikan perasaannya alih-alih melampiaskan perasaan mereka dengan cara yang merusak dan merugikan diri sendiri. Obat dapat membantu, dan perlu disertai dengan penanganan masalah penyalahgunaan alkohol atau obat terlarang. Rawat inap singkat kadang-kadang diperlukan, terutama dalam kasus yang melibatkan episode psikotik atau ancaman/upaya bunuh diri. 6. Histrionic

Orang dengan gangguan kepribadian histrionik adalah pencari perhatian konstan. Mereka perlu menjadi pusat perhatian setiap waktu, sering menginterupsi orang lain untuk mendominasi pembicaraan. Mereka menggunakan bahasa yang muluk-muluk untuk menjelaskan kejadian sehari-hari dan mencari pujian terus-menerus. Mereka mungkin mengenakan pakaian yang provokatif atau membesar-besarkan penyakit untuk mendapatkan perhatian. Histrionik juga cenderung membesar-besarkan persahabatan dan hubungan, percaya bahwa semua orang mengasihi mereka. Mereka sering manipulatif. 7. Narcissistic Gangguan kepribadian narsistik ditandai oleh keegoisan. Seperti gangguan histrionic, orang dengan gangguan ini mencari perhatian dan pujian. Mereka membesar-besarkan prestasi mereka, mengharapkan orang lain untuk menganggap mereka superior. Mereka cenderung pilih-pilih teman, karena mereka percaya bahwa tidak sembarang orang layak menjadi teman mereka. Narsisis cenderung membuat kesan pertama yang baik, namun memiliki kesulitan menjaga hubungan jangka panjang. Mereka umumnya tidak tertarik pada perasaan orang lain dan dapat memanfaatkan orang lain. Narsisme ini paling sering ditemukan pada pria dan penderitanya sering didiagnosis disertai dengan gangguan mental lainnya. 8. Avoidant Gangguan kepribadian avoidant ditandai oleh kecemasan sosial ekstrem. Orang dengan gangguan ini sering merasa tidak memadai, menghindari situasi sosial, dan mencari pekerjaan dengan sedikit kontak dengan orang lain. Avoidants takut ditolak dan takut memperlakukan diri mereka di depan orang lain. Mereka membesarbesarkan potensi kesulitan situasi yang baru untuk membenarkan menghindari situasi baru tersebut. Sering kali, mereka akan menciptakan dunia fantasi untuk menggantikan dunia nyata. Tidak seperti gangguan kepribadian schizoid, avoidants merindukan hubungan sosial, namun mereka merasa mereka tidak dapat memperolehnya. Mereka sering mengalami depresi dan memiliki kepercayaan diri rendah. 9. Dependent

Gangguan kepribadian dependent ditandai dengan kebutuhan untuk dijaga. Orang dengan gangguan ini cenderung melekat pada orang lain dan takut kehilangan mereka. Mereka rawan melakukan aksi bunuh diri saat terancam putus dengan orang yang digantunginya. Mereka cenderung untuk membiarkan orang lain membuat keputusan penting bagi mereka dan sering melompat dari suatu hubungan ke hubungan yang lain. Dependent sering berada dalam hubungan yang kasar. Kepekaan berlebihan terhadap penolakan (dalam berbagai hal, tidak hanya dalam masalah asmara) adalah lazim. Dependent sering merasa tak berdaya dan tertekan. 10.Obsessive-Compulsive. Walaupun gangguan kepribadian Obsesif-Kompulsif (Obsesseive Compulsive Personality Disorder / OCPD) terdengar mirip dengan gangguan kecemasan obsesifkompulsif (Obsessive Compulsive Anxiety Disorder / OCAD), keduanya adalah gangguan yang sangat berbeda. Orang OCPD terlalu fokus pada keteraturan dan kesempurnaan. Kebutuhan mereka untuk melakukan segalanya benar sering mengganggu produktivitas mereka. Mereka cenderung untuk terjebak dalam rincian dan kehilangan gambaran yang lebih besar. Mereka menetapkan standar terlalu tinggi bagi dirinya dan orang lain, dan cenderung sangat kritis terhadap orang lain ketika orang lain tidak mampu mengikuti standarnya yang tinggi. Mereka menghindari bekerja dalam tim, mempercayai orang lain terlalu ceroboh atau tidak kompeten. Mereka juga menghindari membuat keputusan karena mereka takut membuat kesalahan dan jarang bersikap dermawan dengan waktu atau uang. Mereka sering mengalami kesulitan mengekspresikan emosi. Potensi keberhasilan penanganan OCPD lebih baik daripada gangguan kepribadian lainnya. Kombinasi pengobatan dan terapi cenderung menghasilkan hasil yang positif. Hanya tenaga medis profesional yang dapat mendiagnosis gangguan kepribadian seseorang. Namun, untuk mencari gambaran, kita dapat mencoba tes sederhana di http://www.4degreez.com/misc/personality_disorder_test.mv. Tes di website tersebut bertujuan untuk mengenali kemungkinan gangguan kepribadian yang kita miliki. Jika pada suatu kategori gangguan kepribadian kita mendapat nilai Low atau Moderate, artinya kecil kemungkinan kita mengalami gangguan kepribadian tersebut, namun jika kita mendapat nilai High atau Very High, artinya lebih besar kemungkinan kita memiliki gangguan kepribadian tersebut. Btw, if you guessed the

figure above is my test result, yap youre right, Im antisocial, histrionic, and narcissistic Jenis Jenis Kepribadian 1. 2. 3. 4. Sanguin dijuluki si "Populer" karena pandai persuasif dan ingin terkenal. Koleris dijuluki si "Kuat" karena sering dominan dan kompetitif. Melankolis dijuluki si "Sempurna" karena perfeksionis dan serba teratur. Plegmatis dijuluki si "Cinta Damai" karena kesetiaannya dan menghindari

konflik. SANGUIN

Kekuatan :

Suka bicara. Secara fisik memegang pendengar, emosional dan demonstratif. Antusias dan ekspresif. Ceria dan penuh rasa ingin tahu. Hidup di masa sekarang. Mudah berubah (banyak kegiatan / keinginan). Berhati tulus dan kekanak-kanakan. Senang kumpul dan berkumpul (untuk bertemu dan bicara). Umumnya hebat di permukaan. Mudah berteman dan menyukai orang lain. Senang dengan pujian dan ingin menjadi perhatian. Menyenangkan dan dicemburui orang lain. Mudah memaafkan (dan tidak menyimpan dendam). Mengambil inisiatif/ menghindar dari hal-hal atau keadaan yang

membosankan.

Menyukai hal-hal yang spontan.

Kelemahan :

Suara dan tertawa yang keras (bahkan terlalu keras). Membesar-besarkan suatu hal / kejadian.

Susah untuk diam. Mudah ikut-ikutan atau dikendalikan oleh keadaan atau orang lain (suka ikutan

Gank).

Sering minta persetujuan, termasuk hal-hal yang sepele. RKP (Rentang Konsentrasi Pendek) alias pelupa. Dalam bekerja lebih suka bicara dan melupakan kewajiban (awalnya saja

antusias).

Mudah berubah-ubah. Susah datang tepat waktu jam kantor. Prioritas kegiatan kacau. Mendominasi percakapan, suka menyela dan susah mendengarkan dengan

tuntas.

Sering mengambil permasalahan orang lain, menjadi seolah-olah masalahnya. Egoistis alias suka mementingkan diri sendiri. Sering berdalih dan mengulangi cerita-cerita yg sama. Konsentrasi ke "How to spend money" daripada "How to earn/save money".

KOLERIS Kekuatan :

Senang memimpin, membuat keputusan, dinamis dan aktif. Sangat memerlukan perubahan dan harus mengoreksi kesalahan. Berkemauan keras dan pasti untuk mencapai sasaran/ target. Bebas dan mandiri. Berani menghadapi tantangan dan masalah. "Hari ini harus lebih baik dari kemarin, hari esok harus lebih baik dari hari

ini".

Mencari pemecahan praktis dan bergerak cepat. Mendelegasikan pekerjaan dan orientasi berfokus pada produktivitas. Membuat dan menentukan tujuan. Terdorong oleh tantangan dan tantangan. Tidak begitu perlu teman. Mau memimpin dan mengorganisasi. Biasanya benar dan punya visi ke depan. Unggul dalam keadaan darurat.

Kelemahan :

Tidak sabar dan cepat marah (kasar dan tidak taktis). Senang memerintah. Terlalu bergairah dan tidak/susah untuk santai. Menyukai kontroversi dan pertengkaran. Terlalu kaku dan kuat/ keras. Tidak menyukai air mata dan emosi tidak simpatik. Tidak suka yang sepele dan bertele-tele / terlalu rinci. Sering membuat keputusan tergesa-gesa. Memanipulasi dan menuntut orang lain, cenderung memperalat orang lain. Menghalalkan segala cara demi tercapainya tujuan. Workaholics (cinta mati dengan pekerjaan). Amat sulit mengaku salah dan meminta maaf. Mungkin selalu benar tetapi tidak populer.

MELANKOLIS

Kekuatan :

Analitis, mendalam, dan penuh pikiran. Serius dan bertujuan, serta berorientasi jadwal. Artistik, musikal dan kreatif (filsafat & puitis). Sensitif. Mau mengorbankan diri dan idealis. Standar tinggi dan perfeksionis. Senang perincian/memerinci, tekun, serba tertib dan teratur (rapi). Hemat. Melihat masalah dan mencari solusi pemecahan kreatif (sering terlalu kreatif). Kalau sudah mulai, dituntaskan. Berteman dengan hati-hati. Puas di belakang layar, menghindari perhatian. Mau mendengar keluhan, setia dan mengabdi. Sangat memperhatikan orang lain.

Kelemahan :

Cenderung melihat masalah dari sisi negatif (murung dan tertekan). Mengingat yang negatif & pendendam. Mudah merasa bersalah dan memiliki citra diri rendah. Lebih menekankan pada cara daripada tercapainya tujuan. Tertekan pada situasi yg tidak sempurna dan berubah-ubah. Melewatkan banyak waktu untuk menganalisa dan merencanakan. Standar yang terlalu tinggi sehingga sulit disenangkan. Hidup berdasarkan definisi. Sulit bersosialisasi (cenderung pilih-pilih). Tukang kritik, tetapi sensitif terhadap kritik/ yg menentang dirinya. Sulit mengungkapkan perasaan (cenderung menahan kasih sayang). Rasa curiga yg besar (skeptis terhadap pujian). Memerlukan persetujuan.

PLEGMATIS

Kekuatan :

Mudah bergaul, santai, tenang dan teguh. Sabar, seimbang, dan pendengar yang baik. Tidak banyak bicara, tetapi cenderung bijaksana. Simpatik dan baik hati (sering menyembunyikan emosi). Kuat di bidang administrasi, dan cenderung ingin segalanya terorganisasi. Penengah masalah yg baik. Cenderung berusaha menemukan cara termudah. Baik di bawah tekanan. Menyenangkan dan tidak suka menyinggung perasaan. Rasa humor yg tajam. Senang melihat dan mengawasi. Berbelaskasihan dan peduli. Mudah diajak rukun dan damai.

Kelemahan :

Kurang antusias, terutama terhadap perubahan/ kegiatan baru. Takut dan khawatir. Menghindari konflik dan tanggung jawab. Keras kepala, sulit kompromi (karena merasa benar). Terlalu pemalu dan pendiam. Humor kering dan mengejek (Sarkatis). Kurang berorientasi pada tujuan. Sulit bergerak dan kurang memotivasi diri. Lebih suka sebagai penonton daripada terlibat. Tidak senang didesak-desak. Menunda-nunda / menggantungkan masalah.

KECEMASAN

1. Defenisi Cemas Kecemasan (ansietas/anxiety) adalah ganggun alam perasaan ketakutan atau kekhawatiran yang mendalam dan berkelanjutan, tidak mengalami gangguan dalam menilai realistis (reality testing Ability), masih baik, kepribadian masih tetap utuh (tidak mengalami keretakan pribadi (spilliting personality), perilaku dapat terganggu tetapimasih dalam batas-batas normal. Kecemasan (ansietas) adalah perasaan takut yang tidak jelas dan tidak didukung oleh situasi. Gangguan kecemasan (ansietas) adalah sekolompok kondisi yang memberi gambaran penting tentang ansietas yang berlebihan yang disertai respon perilaku, emosional dan fisiologis individu yang mengalami gangguan ansietas(Videbeck Sheila L, 2008, hal 307). Kecemasan adalah emosi yang paling sering dialami, berupa kekhawatiran atau rasa takut yang tidak dapat dihindari dari hal-hal yang berbahaya dan dapat menimbulkan gejala-gejala atau respon tubuh. Gejala kecemasan baik sifatnya akut maupun kronik (menahun) merupakan komponen utama bagi hampir semua gangguan kejiwaan (psychiatric disorder). Secara klinis gejala kecemasan dibagi dalam beberapa kelompok yaitu : Gangguan Cemas (anxiety disorder), gangguan cemas menyeluruh (generalized anxiety disorder / GAD),gangguan panik (panic disorder), gangguan phobic (Phobik disorder), dan gangguan obsesif-komplusif (obsessive-complusive disorder).

Diperkirakan jumlah mereka yang menderita gangguan kecemasan ini baik akut maupun kronik mencapai 5% dari jumlah penduduk, dengan perbandingan antara wanita dan pria 2 banding 1. Tidak semua orang yang mengalami stressor psikososial akanmenderita gangguan cemas, hal ini tergantung pada struktur kepribadiannya. Orang yang kepribadian pencemas resiko untuk menderita gangguan cemas lebih besar dari orang yang tidak berkepribadian pencemas. Perkembangan kepribadian (personality development) seseorang dimulai dari sejak usia bayi sampai usia 18 tahun dan tergantung dari pendidikan disekolah dan pengaruh lingkungan dan pergaulan sosialnya serta pengalaman- pengalaman kehidupan nya. Seseorang menjadi cemas terutama akibat proses imitasi danidentifikasi dirinya terhadap orang tuanya, dari pada

pengaruh keturunan (genetika). 2. Kepribadian Pencemas a. Seseorang akan menderita gangguan cemas mana kala yang bersangkutan tidak mampu mengatasi stressor psikososial yang dihadapinya. Tetapi orang-orang tertentu meskipun tidak ada stressor psikososial, yang bersangkutan menunjukkan kecemasan juga, yang ditandai dengan corak atau kepribadian pencemas, yaitu antara lain : Cemas, khawatir, tidak tenang, ragu dan bimbang. b. Memandang masa depan dengan rasa was-was (khawatir) c. Kurang percaya diri, gugup apabila tampil dimuka umum (demam panggung) d. Sering merasa tidak bersalah, menyalahkan orang lain e. Tidak mudah mengalah sering ngotot f. Gerakan sering serba salah, tidak tenang bila duduk, gelisah g. Sering kali mengeluh ini dan itu (keluhan-keluhan somatik), khawatir yang berlebihan terhadap penyakit h. Mudah tersinggung, suka membesar-besarkan masalah yang kecil (dramatisir) i. Dalam mengambil keputusan, sering mengalami rasa bimbang dan ragu j. Bila mengemukakan sesuatu atau bertanya sering kali berulang-ulang k. Kalau sedang emosi sering kali bertindak histeris 3. Tingkat kecemasan Peplau (1963) mengidentifikasi ansietas (cemas) dalam 4 tingkatan, setiap tingkatan memiliki karakteristik dalam persepsi yang berbeda, tergantung kemampuan individu yang ada dan dari dalam dan luarnya maupun dari lingkungannya, tingkat kecemasan ataupunansietas yaitu :

a. Cemas Ringan : cemas yang normal menjadi bagian sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya. Ansietas ini dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan dan kreatifitas. b. Cemas sedang : cemas yang memungkinkan sesorang untuk memusatkan pada hal yang penting dan mengesampingkan yang tidak penting. c. Cemas berat : cemas ini sangat mengurangi lahan persepsi individu cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik dan tidak dapat berfikir pada hal yang lain. Semua prilaku ditunjukkan untuk mengurangi tegangan individu memerlukan banyak pengesahan untuk dapat memusatkan pada suatu area lain. d. Panik : Tingkat panik dari suatu ansietas berhubungan dengan ketakutan dan terror, karena mengalami kehilangan kendali. Orang yang mengalami panik tidak mampu melakukan suatu walaupun dengan pengarahan, panik mengakibatkan disorganisasi kepribadian, dengan panik terjadi peningkatan aktivitas motorik, menurunnya

kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain,persepsi yang menyimpang dan kehilangan pemikiran yang rasional. Tingkat ansietas ini tidak sejalan dengan

kehidupan dan jika berlangsung terus dalam waktu yang lama dapat terjadi kelelahan yang sangat bahkan kematian (Stuart & Sundent, 2000). Pada tingkat ansietas ringan dan sedang, individu dapat memproses informasi belajar dan menyelesaikan masalah. Keterampilan kognitif mendominasi tingkat ansietas ini. Ketika individu mengalami ansietas berat dan panik, keterampilan bertahan yang lebih sederhana mengambil alih, respon defensive terjadi, dan keterampilan kognitifmenurun signifikan. Individu yang mengalami ansietas berat sulit berfikir dan melakukan

pertimbangan, otot-ototnya menjadi tegang, tanda-tanda vital meningkat, mondar-mandir, memperlihatkan kegelisahan, iriabilitas dan kemarahan atau menggunakan cara psikomotor emosional. Lonjakan adrenalin menyebabkan tanda-tanda vital meningkat, pupil membesar, untuk memungkinkan lebih banyak cahaya yang masuk, dan satu-satu nya proses kognifikan berfokus pada ketahanan individu tersebut. Sisi negatif ansietas (kecemasan) atau sisi yang membahayakan ialah rasa khawatir yang berlebihan tentang masalah yang nyata atau potensial. Hal ini menghabiskan tenaga, menimbulkan rasa takut dan individu melakukan fungsinya dengan adekuat dalam situasi interpersonal, situasi kerja, dan situasi sosial. Diagnosis gangguan ansietas ditegakkan ketika ansietas tidak lagi berfungsi sebagai tanda bahaya, melainkan menjadi kronis dan mempengaruhi sebagian besar kehidupan individu sehingga mengakibat kan perilaku maladatif dan distabilitas emosional.

Tabel 2.1 Respon Fisik Kecemasan

No Tingkat ansietas 1 Ringan (1)

Respon fisik

Respon kognitif

Respon emosional

Ketegangan

otot Lapang persepsi luas, Perilaku otomatis, sedikit tidak sabar,

ringan, sadar akan terlihat tenang, percaya lingkungan, rileks diri, perasaan

atau sedikit gelisah, penuh perhatian, rajin

gagal aktivitas menyendiri, terstimulasi, tenang

sedikit, waspada dan memperhatikan banyak hal, mempertimbangkan informasi, tingkat

pembelajaran optimal.

Sedang (2)

Ketegangan sedang, vital pupil dilatasi keringat,

otot Lapang

persepsi Tidak nyaman, tidak secara murah tersinggung, diri

tanda-tanda menurun, meningkat, perhatian

selektif, focus terhadap kepercayaan mulai sering stimulasi rentang

meningkat, goyah, tidak sabar, perhatian gembira.

mondar-mandir, memukulkan tangan, kewaspadaan dan ketegangan meningkat, suara

menurun, penyelesaian masalah pembelajaran menurun, terjadi

dengan memfokuskan pemikiran.

berubah bergetar dan nada suara

tinggi, berkemih, sakit

sering

kepala, dan pola tidur berubah, punggung, nyeri

Berat (3)

Ketegangan berat, kontak buruk, keringat meningkat, cepat, nada

otot Lapang

persepsi Sangat

cemas, takut, merasa adekuat, diri,

hipervetilasi, terbatas, proses berfikir agitasi, bulu mata terpecah-pecah, sulit binggung,

pengeluaran berfikir,

penyelesaian tidak

masalah buruk, tidak menarik bicara suara mampu mempertimbangkan informasi, memperlihatkan ancaman, prekupasi hanya

penyangkalan, ingin bebas,

tinggi, tindakan tanpa tujuan dan

sembarangan, rahang menegang, mengertak kebutuhan ruang gerak meningkat, gigi,

dengan fikiran sendiri, egosentris

mondar-mandir, berteriak, meremas

tangan, gemetar. 4 Panik (4) Flight, (keinginan pergi fight Persepsi sangat sempit, merasa untuk fikiran tidak terbebani,

logis, merasa tidak mampu,

selamanya), terganggu, kepribadian tidak berdaya, lepas otot kacau, tidak dapat kendali, mengamuk, putus asa, marah, takut,

ketegangan

sangat berat, agitasi menyelesaikan

motorik kasar, pupil masalah, focus pada sangat dilatasi, tanda-tanda fikiran vital meningkat tidak sendiri rasional,

jadi, mengharapkan hasil sulit yang buruk,

kemudian menuruun, memahami

stimulus

tidak

dapat

tidur, eksternal,

halusinasi,

hormone strees dan ilusi mungkin terjadi. persepsi neurotransmitter bekurang, menyeringai, terngganga. wajah

AUTISME PENDAHULUAN Autisme, merupakan salah satu gangguan perkembangan yang semakin meningkat saat ini, menimbulkan kecemasan yang dalam bagi para orangtua. Hingga saat ini belum dapat ditemukan penyebab pasti dari gangguan autisme ini, sehingga belum dapat dikembangkn cara pencegahan dan penanganan yang tepat. Pada awalnya autisme dipandang sebagai gangguan yang disebabkan oleh faktor psikologis yaitu pola pengasuhan orangtua yang tidak hangat secara emosional, tetapi barulah sekitar tahun 1960 dimulai penelitian neurologist yang membuktikan bahwa autisme disebabkan oleh adanya abnormalitas pada otak. Autisme atau autisme infantile (Early Infantile Autism) pertama kali dikemukakan oleh Dr. Leo Kanner pada 1943 seorang psikiatris Amerika. Istilah autisme dipergunakan untuk menunjukkan suatu gejala psikosis pada anak-anak yang unik dan menonjol yang sering disebut Sindrom Kanner. Ciri yang menonjol pada sindrom Kanner antara lain ekspresi wajah yang kosong seolah-olah sedang melamun, kehilangan pikiran dan sulit sekali bagi orang lain untuk menarik perhatian mereka atau mengajak mereka berkomunikasi. Pada 1943, Dr. Leo Kanner mempublikasikan makalahnya, dimana ia menggambarkan 11 anak-anak yang secara sosial terisolasi dengan gangguan autistic kontak afektif, komunikasi terganggu, dan perilaku yang kaku. Dia menciptakan istilah autisme infantile dan membahas penyebab dalam hal proses biologis, meskipun pada waktu itu, perhatian ilmiah difokuskan pada teori analisis tentang gangguan tersebut. Makalah Kanner awalnya tidak menerima pengakuan secara ilmiah, dan anak-anak

I.

dengan gejala autis terus salah didiagnosis dengan skizofrenia masa kanak-kanak. Pilihannya pada istilah autisme mungkin telah menciptakan kebingungan, karena kata itu pertama kali digunakan untuk menggambarkan keadaan mental fantastis, proses berpikir yang egois, yang mirip dengan gejala skizofrenia. Selama masa-masa sekolah, kelainan anak dalam perkembangan bahasa (termasuk kebisuan atau penggunaan kata-kata aneh atau tidak tepat), penarikan diri dari lingkungan sosial, ketidakmampuan untuk bergabung dengan permainan anak-anak lain, atau perilaku yang tidak sesuai saat bermain, sering membuat guru dan orang lain menilai adanya kemungkinan jenis gangguan autis. Manifestasi autisme juga dapat berubah selama masa kanak-kanak, tergantung pada gangguan perkembangan lain, kepribadian, dan adanya masalah kesehatan medis atau mental lainnya. Selama perkembangan gangguan ini, pada tahun pertama kehidupan biasanya ditandai dengan tidak adanya fitur diskriminatif jelas. Antara dua dan tiga tahun, anakanak menunjukkan gangguan dalam perkembangan bahasa, khususnya pemahaman, penggunaan bahasa yang tidak biasa, respon yang buruk terhadap panggilan, komunikasi non-verbal yang kurang baik, kurang tanggap terhadap kebahagiaan orang lain atau tekanan, dan berbagai keterbatasan imajinatif bermain atau kepura-puraan, terutama imajinasi sosial.

II.

DEFINISI Autisme berasal dari bahasa Yunani autos yang berarti segala sesuatu yang mengarah pada diri sendiri. Istilah autisme dipergunakan untuk menunjukkan suatu gejala psikosis pada anak-anak yang unik dan menonjol yang sering disebut dengan sindroma Kanner. Autisme adalah salah satu gangguan perilaku pada awal kehidupan anak yang disebabkan oleh gangguan perkembangan otak yang ditandai dengan ciri pokok yaitu terganggunya perkembangan komunikasi sosial, interaksi sosial, dan imajinasi sosial. Mereka dengan gejala autisme menampilkan perilaku yang bersifat repetitive. Autisme merupakan suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Akibatnya anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitive, aktivitas dan minat yang obsesif.

Pada awalnya istilah autisme diambilnya dari gangguan skizofrenia, dimana menggambarkan perilaku pasien skizofrenia yang menarik diri dari dunia luar dan menciptakan dunia fantasinya sendiri. Namun ada perbedaan yang jelas antara penyebab dari autisme pada penderita skizofrenia dengan penyandang autisme infantile. Pada skizofrenia, autisme disebabkan dampak area gangguan jiwa yang di dalamnya terkandung halusinasi dan delusi yang berlangsung minimal selama 1 bulan, sedangkan pada anak-anak dengan autisme infantile terdapat kegagalan dalam perkembangan yang tergolong dalam kriteria gangguan pervasive dengan kehidupan autistic yang tidak disertai dengan halusinasi dan delusi (DSM IV, 1995).

III. EPIDEMIOLOGI Autisme mempengaruhi sekitar 0,5-1 dalam 1000 anak dengan rasio antara lakilaki dan wanita 4:1. Menurut suatu studi, autisme meningkat di populasi kanak-kanak. Pada tahun 1966, 4-5 bayi per 10.000 kelahiran dikembangkan autisme, sedangkan pada tahun 2003, dua studi menunjukkan bahwa antara 14-39 bayi per 10.000 mengembangkan gangguan tersebut.

IV. ETIOLOGI Etiologi pasti dari autis belum sepenuhnya jelas. Beberapa teori yang menjelaskan tentang autisme yaitu: 1. Teori Psikoanalitik Teori yang dikemukakan oleh Bruto Bettelheim (1967) menyatakan bahwa autisme terjadi karena penolakan orangtua terhadap anaknya. Anak menolak orang tuanya dan mampu merasakan perasaan negatif mereka. Anak tersebut meyakini bahwa dia tidak memiliki dampak apapun pada dunia sehingga menciptakan benteng kekosongan untuk melindungi dirinya dari penderitaan dan kekecewaan. 2. Teori Genetika Beberapa penelitian menunjukkan bahwa laki-laki 3-4 kali beresiko lebih tinggi dari wanita. Sementara risiko autis jika memiliki saudara kandung yang juga autis sekitar 3%. Kelainan gen dari pembentuk metalotianin juga berpengaruh pada kejadian autis. Metalotianin adalah kelompok protein yang

merupakan mekanisme kontrol tubuh terhadap tembaga dan seng. Fungsi lainnya yaitu perkembangan sel saraf, detoksifikasi logam berat, pematangan saluran cerna, dan penguat sistem imun. Disfungi metalotianin akan menyebabkan penurunan produksi asam lambung, ketidakmampuan tubuh untuk membuang logam berat dan kelainan sistem imun yang sering ditemukan pada orang autis. Teori ini juga dapat menerangkan penyebab lebih berisikonya laki-laki dibanding perempuan. Hal ini disebabkan karena sintesis metalotianin ditingkatkan oleh estrogen dan progesteron. 3. Studi biokimia dan riset neurologis Pemeriksaan post mortem otak dari beberapa penderita autistik menunjukkan adanya dua daerah di dalam sistem limbik yang kurang berkembang yaitu amygdala dan hippocampu. Kedua daerah ini bertanggung jawab atas emosi, agresi, sensory input, dan belajar. Penelitian ini juga menemukan adanya defisiensi sel Purkinje di serebelum. Dengan menggunakan MRI, telah ditemukan dua daerah di serebelum, lobulus VI dan VII yang pada individu autistik secara nyata lebih kecil daripada orang normal. Satu dari kedua daerah ini dipahami sebagai pusat yang bertanggung jawab atas perhatian. Dari segi biokimia jaringan otak, banyak penderita autistik menunjukkan kenaikan dari serotonin dalam darah dan cairan serebrospinal dibandingkan dengan orang normal.

V.

PATOFISIOLOGI Saat ini penyebab dan patofisiologi tepat autisme tidak diketahui, namun tampaknya bahwa setidaknya ada beberapa kasus faktor genetic yang terlibat. Teori penyebab yang paling kotemporer sangat menyarankan gangguan genetik atau gangguan neurodevelopmental awal dengan manifestasi klinis yang berpotensi untuk dimodifikasi oleh kondisi sosial atau pengalaman lingkungan. Disfungsi serotonin telah terlibat sebagai faktor dalam asal-usul gangguan autis sejak ditemukan kenaikan signifikan kadar 5-HT pada pemeriksaan darah. Hiperserotonemia adalah sebuah temuan yang kuat dalam gangguan autis. Pada anakanak non-autistik, kapasitas serotonin, diukur dengan tomografi emisi positron (PET), lebih dari 200% meningkat sampai usia 5 tahun, dan mulai menurun saat menuju dewasa. Pada anak autis, sintesis serotonin telah terbukti meningkatkan secara bertahap

antara usia 2 hingga 15, dan mencapai 1,5 kali pada tingkat dewasa yang normal. Dalam studi yang terkait, telah menunjukkan bahwa kadar serotonin tampak stabil setelah usia 12 tahun. Beberapa penelitian telah menunjukkan seluruh kadar serotonin darah memiliki korelasi positif antara autis dan orang tua mereka dan saudara-saudara. Hal ini menunjukkan bahwa pasien dengan autisme menunjukkan peningkatan penyerapan serotonergik atau penurunan pelepasan serotonergik. Ada bukti untuk korelasi positif antara kadar serotonin dan tingkat transportasi serotonin. Akhir-akhir ini dari penelitian terungkap juga hubungan antara gangguan pencernaan dan gejala autistik. Ternyata lebih dari 60% penyandang autistik ini mempunyai sistem pencernaan yang kurang sempurna. Makanan tersebut berupa susu sapi (casein) dan tepung terigu (gluten) yang tidak tercerna dengan sempurna. Protein dari kedua makanan ini tidak semua berubah menjadi asam amino tapi juga menjadi peptida, suatu bentuk rantai pendek asam amino yang seharusnya dibuang lewat urine. Ternyata pada penyandang autistik, peptida ini diserap kembali oleh tubuh, masuk ke dalam aliran darah, masuk ke otak dan dirubah oleh reseptor opioid menjadi morfin yaitu casomorfin dan gliadorphin, yang mempunyai efek merusak sel-sel otak dan membuat fungsi otak terganggu. Fungsi otak yang terkena biasanya adalah fungsi kognitif, reseptif, atensi dan perilaku.

VI. GAMBARAN KLINIS Perkembangan abdnormal terlihat sebelum usia 3 tahun dengan gangguan dalam interaksi sosial dan komunikasi, terbatas dan berulang kepentingan dan perilaku.

A. Terganggu interaksi sosial Ada ketidakmampuan untuk membentuk hubungan dengan teman sebaya , dan kurang mengembangkan keterampilan empati (kemampuan untuk memahami bagaimana orang lain merasa dan berpikir). Bermain kurang dan biasanya kontak mata dihindari. Selain itu pada kualitas tatapan berbeda, menjadi lebih tetap (kaku) dan lebih tahan lama dibandingkan non-autistik individu. Banyak anak yang menolak dipegang atau disentuh meskipun mereka bisa menikmati kontak tubuh jika mereka memulainya. Kesulitan anak-anak ini dalam berinteraksi sering membuat sulit bagi orang lain untuk hangat dengan mereka.

Orang tua mungkin merasa bersalah tentang kurangnya kehangatan yang mereka hadirkan sendiri. Kelainan komunikasi pembangunan dari usia dini adalah masalah memahami isyarat dan pidato, dengan penundaan yang pasti dalam pengembangan dan pemahaman bahasa lisan. Satu dari dua anak dengan autis gagal untuk mengembangkan bahasa lisan yang bermanfaat, dan melakukannya dalam bentuk yang normal. Tidak memiliki komunikasi sosial kesana kemari, seringkali diulangulang atau mengambil bentuk monolog. Gangguan dalam komunikasi verbal maupun non verbal seperti terlambat bicara. Lebih dari setengah anak autis tidak dapat berbicara yang lainnya hanya mengoceh, merengek, menjerit, atau menunjukkan ekolalia, yaitu menirukan apa yang dikatakan orang lain. Beberapa anak autis mengulang potongan lagu, iklan TV, atau potongan kata yang terdengar olehnya tanpa tujuan. Beberapa anak autis menggunakan kata ganti dengan cara yang aneh. Menyebut diri mereka sebagai orang kedua kamu atau orang ketiga dia. Intinya anak autisme tidak dapat berkomunikasi dua arah (respirok) dan tidak dapat terlibat dalam pembicaraan normal. B. Tingkah laku sterotipes Gangguan pada bidang perilaku yang terlihat dari adanya perilaku yang berlebih dan kekurangan, seperti impulsif, hiperaktif, repetitif namun dilain waktu terkesan pandangan mata kosong, melakukan permainan yang sama dan monoton. Anak autis sering melakukan gerakan yang berulang-ulang secara terus menerus tanpa tujuan yang jelas. Sering berputar-putar, berjingkat-jingkat dan lain sebagainya. Gerakan yang dilakukan berulang-ulang ini disebabkan oleh adanya kerusakan fisik. Misalnya karena adanya gangguan neurologis. Anak autis juga mempunyai kebiasaan menarik-narik rambut dan menggigit jari. Walaupun sering menangis kesakitan akibat perbuatannya sendiri, dorongan untuk melakukan tingkah laku yang aneh ini sangat kuat dalam diri mereka. Anak autis juga tertarik pada hanya bagian-bagian tertentu dari sebuah objek. Misalna pada roda mainan mobilmobilannya. Anak autis juga menyukai keadaan lingkungan dan kebiasaan yang monoton. C. Abnormal terhadap respon rangsangan sensorik Dari usia yang sangat muda respon abnormal sensorik stimulus dapat hadir, kadang-kadang menyesatkan klinisi ke mencurigai bahwa anak ini baik buta atau tuli. Meskipun sentuhan ringan dapat mengakibatkan penarikan, anak sengaja dapat menggigit dan membakar bagian tubuh mereka. Tanggapan terhadap

rangsangan visual yang mungkin termasuk pesona dengan kontras cahaya dan mengintip pada objek dalam cara yang tidak biasa dan dengan visi perifer. Hiperaktif bersamaan dan mode makanan yang umum. Fitur mencolok adalah hilangnya commensurability dari menanggapi rangsangan kehilangan fine tuning.

D. Intelijen Sekitar tiga perempat dari individu autis memiliki IQ dibawah 70. Terlepas dari IQ ada profil kognitif yang berbeda dengan kemampuan visuospasial, pemahaman tentang ide-ide abstrak dan keterampilan kreatif.

VII. DIAGNOSIS Kriteria autistik menurut DSM IV: DSM IV: Kriteria Diagnosis untuk 299.00 Gangguan Autistik A. Enam atau lebih gejala dari (1), (2), and (3), dengan paling sedikit 2 dari (1) dan 1 dari masing-masing (2) and (3) Gangguan kualitatif interaksi sosial, yang terlihat sebagai paling sedikit 2 dari gejala berikut: Gangguan yang jelas dalam perilaku non-verbal (perilaku yang dilakukan tanpa 1.1. bicara) misalnya kontak mata, ekspresi wajah, posisi tubuh, dan mimik untuk mengatur interaksi sosial. 1.2. Tidak bermain dengan teman seumurnya, dengan cara yang sesuai. Tidak berbagi kesenangan, minat, atau kemampuan mencapai sesuatu hal dengan 1.3. orang lain, misalnya tidak memperlihatkan mainan pada orang tua, tidak menunjuk ke suatu benda yang menarik, tidak berbagi kesenangan dengan orang tua. Kurangnya interaksi sosial timbal balik.Misalnya: tidak berpartisipasi aktif dalam bermain, lebih senang bermain sendiri.

1.

1.4.

2.

Gangguan kualitatif komunikasi yang terlihat sebagai paling tidak satu dari gejala berikut: Keterlambatan atau belum dapat mengucapkan kata-kata berbicara, tanpa disertai usaha kompensasi dengan cara lain misalnya mimik dan bahasa tubuh. Bila dapat berbicara, terlihat gangguan kesanggupan memulai atau mempertahankan komunikasi dengan orang lain. Penggunaan bahasa yang stereotipik dan berulang, atau bahasa yang tidak dapat dimengerti. Tidak adanya cara bermain yang bervariasi dan spontan, atau bermain meniru secara sosial yang sesuai dengan umur perkembangannya.

2.1.

2.2.

2.3.

2.4.

3.

Pola perilaku, minat dan aktivitas yang terbatas, berulang dan tidak berubah (stereotipik), yang ditunjukkan dengan adanya 2 dari gejala berikut: Minat yang terbatas, stereotipik dan menetap dan abnormal dalam intensitas dan focus. Keterikatan pada ritual yang spesifik tetapi tidak fungsional secara kaku dan tidak fleksibel. Gerakan motorik yang streotipik dan berulang, misalnya flapping tangan dan jari, gerakan tubuh yang kompleks.

3.1.

3.2.

3.3.

3.4. Preokupasi terhadap bagian dari benda.

B. Keterlambatan atau fungsi abnormal pada keterampilan berikut, yang muncul sebelum umur 3 tahun. 1. Interaksi sosial. 2. Bahasa yang digunakan sebagai komunikasi sosial. 3. Bermain simbolik atau imajinatif. C. Bukan lebih merupakan gejala sindrom Rett atau Childhood Disintegrative Disorder. VIII. ANAMNESIS DAN PEMERIKSAAN FISIK

Gejala autisme timbul sebelum anak mencapai usia 3 tahun. Pada sebagian anak gejala gangguan perkembangan ini sudah terlihat sejak lahir. Ada beberapa gejala yang harus diwaspadai terlihat sejak bayi atau anak menurut usia. a. Usia 0-6 bulan Bayi tampak terlalu tenang (jarang menangis) Terlalu sensitif, cepat terganggu/terusik Gerakan tangan dan kaki berlebihan terutama bila mandi Tidak ditemukan senyum sosial diatas 10 minggu Tidak ada kontak mata diatas umur 3 bulan Perkembangan motor kasar/halus sering tampak normal

b. Usia 6-12 bulan Bayi tampak terlalu tenang (jarang menangis) Terlalu sensitif, cepat terganggu/terusik Gerakan tangan dan kaki berlebihan Sulit bila digendong Menggigit tangan dan badan orang lain secara berlebihan Tidak ditemukan senyum sosial Tidak ada kontak mata Perkembangan motor kasar/halus sering tampak normal

c. Usia 1-2 tahun Kaku bila digendong Tidak mau bermain permainan sederhana (cilukba, dada) Tidak mengeluarkan kata Tidak tertarik pada boneka Memperhatikan tangannya sendiri Terdapat keterlambatan dalam perkembangan motor kasar/halus Mungkin tidak dapat menerima makanan cair

d. Usia 2-3 tahun Tidak tertarik untuk bersosialisasi dengan anak lain Melihat orang sebagai benda Kontak mata terbatas Tertarik pada benda tertentu

Kaku bila digendong

e. Usia 4-5 tahun Sering didapatkan ekolalia (membeo) Mengeluarkan suara yang aneh (nada tinggi atau datar) Marah bila rutinitas yang seharusnya berubah Menyakiti diri sendiri (membenturkan kepala) Temperamen tantrum atau agresif

Secara umum ada beberapa gejala autisme yang akan tampak semakin jelas saat anak telah mencapai usia 3 tahun, yaitu: a. Interaksi sosial Tidak tertarik bermain bersama teman Lebih suka menyendiri Tidak ada atau sedikit kontak mata, atau menghindar untuk bertatapan Senang menarik-narik tangan orang lain untuk melakukan apa yang ia inginkan

b. Komunikasi Perkembangan bahasa lambat atau sama sekali tidak ada Senang meniru atau membeo (ekolalia) Anak tampak seperti tuli, sulit berbicara, atau pernah berbicara tapi kemudian sirna. Mengoceh tanpa arti berulang-ulang, dengan bahasa yang tidak dapat dimengerti orang lain Bila senang meniru, dapat hafal betul kata-kata atau nyanyian tersebut tanpa mengerti artinya Sebagian dari anak ini tidak berbicara (non verbal) atau sedikit bicara (kurang verbal) sampai usia dewasa. c. Pola bermain Tidak bermain seperti anak-anak pada umumnya Senang akan benda-benda yang berputar seperti kipas angin, roda sepeda, gasing Tidak bermain sesuai fungsi mainan, misalnya sepeda dibalik atau rodanya diputar-putar

Dapat sangat lekat dengan benda-benda tertentu yang dipegang terus dan dibawa kemana-mana

d. Gangguan sensoris Bila mendengar suara keras langsung menutup telinga Sering menggunakan indera pencium dan perasanya, seperti senang mencium-cium, menjilat mainan atau benda-benda Dapat sangat sensitif terhadap sentuhan, seperti tidak suka dipeluk Dapat sangat sensitif terhadap rasa takut dan rasa sakit

e. Perkembangan terlambat atau tidak normal Perkembangan tidak sesuai seperti pada anak normal, khususnya dalam keterampilan sosial, komunikasi, dan kognisi. Dapat mempunyai perkembangan yang normal pada awalnya, kemudian menurun atau bahkan sirna, misalnya pernah dapat bicara kemudian hilang f. Penampakan gejala Gejala diatas dapat mulai tampak sejak lahir atau saat masih kecil. Biasanya sebelum usia 3 tahun gejala sudah ada. Pada beberapa anak sekitar umur 5-6 tahun, gejala tampak agak berkurang

Gejala yang juga sering tampak adalah dalam bidang: 1. Perilaku a) Memperlihatkan perilaku stimulasi diri seperti bergoyang-goyang, mengepakkan tangan seperti burung, berputar-putar, mendekatkan mata ke TV, lari/berjalan bolak-balik, melakukan gerakan yang diulang-ulang b) Tidak suka pada perubahan c) Dapat pula duduk bengong dengan tatapan kosong 2. Emosi a) Sering marah-marah tanpa alasan yang jelas, tertawa-taawa menangis tanpa alasan. b) Kadang suka menyerang dan merusak c) Kadang berperilaku yang menyakiti dirinya sendiri d) Tidak memiliki empati dan tidak mengerti perasaan orang lain.

IX. DIAGNOSIS BANDING 1. Skizofrenia dengan onset masa anak-anak Skizofrenia jarang pada anak-anak dibawah 5 tahun. Skizofrenia disertai dengan halusinasi atau waham, dengan insidensi kejang dan retardasi mental yang lebih rendah dan dengan IQ yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak autistik.

Kriteria

Gangguan Autistik

Skizofrenia dengan masa onset anak-anak

Usia onset Insidensi

<38 bulan 2-5 dalam 10.000

> 5 tahun Tidak kemungkinan diketahui, sama atau

bahkan lebih jarang Rasio jenis kelamin (L:P) Riwayat Skizofrenia Status sosioekonomi 3-4:1 naik atau 1,67:1 Naik

Keluarga Tidak

kemungkinan tidak naik Sosioekonomi tinggi Lebih sering pada

sosioekonomi rendah Penyulit prenatal dan Lebih sering pada gangguan Lebih autistik Gagal skizofrenia mengembangkan Halusinasi dan waham, jarang pada

perinatal dan disfungsi otak Karakteristik perilaku

hubungan: tidak ada bicara gangguan pikiran (ekolalia); frase sterotipik; tidak ada atau buruknya pemahaman bahasa;

kegigihan atas kesamaan dan streotipik Fungsi adaptif Tingkat intelegensi Biasanya selalu terganggu Perburukan fungsi rentang besar normal, normal

Pada sebagian besar kasus Dalam subnormal sering terganggu sebagian

parah (70%) Pola IQ Kejang Grandmal Jelas tidak rata 4-32%

bodoh (15%-70%) Lebih rata Tidak ada

2. Sindroma Rett Sindroma rett adalah penyakit otak yang progresif tapi khusus mengenai anak perempuan. Perkembangan anak sampai usia 5 bulan normal, namun setelah itu mundur. Umumnya kmunduran yang terjadi sangat parah meliputi perkembangan bahasa, interaksi sosial maupun motoriknya.

3. Sindroma Asperger Pada sindroma Asperger mempunyai ketiga ciri autism namun masih memiliki intelgensia yang baik dan kemampuan bahasanya juga hanya terganggu dalam derajat ringan. Oleh karena itu, sindroma Asperger sering disebut sebagai high functioning autism. Gangguan Asperger berbeda dengan autis. Onset usia autis infantile terjadi lebih awal dan tingkat keparahannya lebih parah dibandingkan gangguan Asperger. Pasien autis menunjukkan penundaan dan penyimpangan dalam kemahiran berbahasa serta adanya gangguan kognitif. Oral vocabulary test menunjukkan keadaan yang lebih baik pada gangguan Asperger. Defisit sosial dan komunikasi lebih berat pada autisme. Selain itu ditemukan adanya manerisme motorik sedangkan pada gangguan Asperger yang menonjol adalah perhatian terbatas dan motorik yang canggung, serta gagal mengerti isyarat non verbal. Lebih sulit membedakan gangguan Asperger dengan autisme infantil tanpa retardasi mental. Gangguan Asperger biasanya memperlihatkan gambaran IQ yang lebih baik daripada autisme infantil kecuali autisme infantil high functioning. Batas antara gangguan Asperger dan high functioning autism untuk gangguan berbahasa dan gangguan belajar sangat kabur. Gangguan Asperger mempunyai verbal intelligence yang normal sedangkan autisme infantil mempunyai verbal intelligence yang kurang. Gangguan Asperger mempunyai empati yang lebih baik dibandingkan dengan autisme infantil, sekalipun keduanya mengalami kesulitan berempati.

4. Retardasi Mental Hal yang tidak mudah untuk membedakan autisme infantil dengan retardasi mental, sebab autisme juga sering disertai retardasi mental. Kira-kira 40% anak autistik adalah teretardasi sedang, berat atau sangat berat, dan anak yang teretardasi mungkin memiliki gejala perilaku yang termasuk ciri autistik. Pada retardasi mental tidak terdapat 3 ciri pokok autism secara lengkap. Retardasi mental adalah gangguan intelegensi, biasanya diketahui setelah anak sekolah karena ketidaksanggupan anak mengikuti pelajaran formal. Pembagian retardasi mental dilihat dari kemampuan IQ. Retardasi mental ringan IQ 5570, RM sedang 40-55, RM berat 25-40, sangat berat IQ <25/ Ciri utama yang membedakan antara gangguan autistik dan retardasi mental adalah: a. Anak teretardasi mental biasanya berhubungan dengan orang tua atau nak-anak lain dengan cara yang sesuai dengan umur mentalnya. b. Mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan orang lain c. Mereka memiliki sifat gangguan yang relatif tetap tanpa pembelahan fungsi. X. PENATALAKSANAAN Sampai saat ini tidak ada obat-obatan atau cara lain yang dapat menyembuhkan autisme. Meskipun demikian, obat-obat antidepresan yang bersifat seratongenik dapat mengendalikan gejala-gejala stereotipi dan perubahan-perubahan iklim perasaan, tetapi masih diperlukan suatu penelitian klinis lebih lanjut dan lebih terkendali dari obat-obat ini. Dalam tatalaksana gangguan autisme, terapi perilaku merupakan yang paling penting. Metode yang digunakan adalah metode Lovaas. Metode Lovaas adalah metode modifikasi tingkah laku yang disebut dengan Applied Behavior Analysis (ABA). Berbagai kemampuan yang diajarkan melalui program ABA dapat dibedakan menjadi enam kemampuan besar, yaitu: 1. Kemampuan memperhatikan Program ini terdapat dua prosedur. Pertama melatih anak untuk bisa memfokuskan pandangan mata pada orang yang ada di depannya atau disebut dengan kontak mata. Yang kedua melatih anak untuk memperhatikan keadaan atau objek yang ada di sekelilngnya. 2. Kemampuan menirukan Pada kemampuan imitasi anak diajarkan untuk meniru gerakan motorik kasar dan halus. Selanjutnya urutan gerakan, meniru tindakan yang disertai bunyi-bunyian. 3. Bahasa reseptif

Melatih anak agar mempunyai kemampuan mengenal dan bereaksi terhadap seseorang, terhadap kejadian lingkungan sekitarnya, mengerti maksud mimik dan nada suara dan akhirnya mengerti kata-kata. 4. Bahasa ekspresif Melatih kemampuan anak untuk mengutarakan pikirannya, dimulai dari komunikasi preverbal (sebelum anak dapat berbicara), komunikasi dengan ekspresi wajah, gerakan tubuh dan akhirnya dengan menggunakan kata-kata atau berkomunikasi verbal 5. Kemampuan preaakademis Melatih anak untuk dapat bermain dengan benar, memberikan permainan yang mengajarkan anak tentang emosi, hubungan ketidakteraturan, dan stimulus-stimulus di lingkungannya seperti bunyi-bunyian serta melatih anak untuk mengembangkan imajinasinya lewat media seni seperti menggambar benda-benda yang ada di sekitarnya. 6. Kemampuan mengurus diri sendiri Program ini bertujuan untuk melatih anak agar bisa memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Pertama anak dilatih untuk bisa makan sendiri. Yang kedua, anak dilatih untuk bisa buang air kecil atau yang disebut toilet training. Kemudian tahap selanjutnya melatih mengenakan pakaian, menyisir rambut, dan menggosok gigi.

XI.

PROGNOSIS Prognosis anak autisme dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: Berat ringannya gejala atau kelainan otak Usia, diagnosis dini sangat penting oleh karena semakin muda umur anak saat dimulainya terapi semakin besar kemungkinan untuk berhasil Kecerdasan, makin cerdas anak tersebut makin baik prognosisnya Bicara dan bahasa, 20% anak autis tidak mampu berbicara seumur hidup, sedangkan sisanya mempunyai kemampuan bicara dengan kefasihan yang berbeda-beda. Terapi yang intensif dan terpadu. Penanganan/intervensi terapi pada anak autisme harus dilakukan dengan intensif dan terpadu. Seluruh keluarga harus terlibat untuk memacu komunikasi dengan anak. Penanganan anak autisme

memerlukan kerjasama tim yang terpadu yang berasal dari berbagai disiplin ilmu antara lain psikiater, psikolog, neurolog, dokter anak, terapis bicara dan pendidik. Prognosis untuk penderita autisme tidak selalu buruk. Pada gangguan autisme, anak yang mempunyai IQ diatas 70 dan mampu menggunakan komunikasi bahasa mempunyai prognosis yang baik. Berdasarkan gangguan pada otak, autisme tidak dapat sembuh total tetapi gejalanya dapat dikurangi, perilaku dapat diubah ke arah positif dengan berbagai terapi.

Kelainan Pikiran - Berpikir mengingat, memperhatikan, percaya, - Dalam psikiatri upaya menghubungkan ide penalaran. yang satu dengan yang diikuti

lain dengan cara membayangkan, membandingkan, menyimpulkan dengan pembentukan ide baru.

- Manifestasi eksternal daripada proses berpikir umumnya dinilai atau dilihat dari pembicaraan verbal, serta tulisan individu.

Kelainan pikiran menurut Fish : 1. Kelainan arus pikiran 2. Kelainan pemilikan pikiran. 3 Kelainan isi pikiran.

4. Kelainan bentuk pikiran.

1. Kelainan arus pikiran : - disorder of the stream/ progression of the thought. - Normal pikiran berjalan dari suatu ide initial ide tujuan, dimana trejadi berkesinambungan. suatu arus yang (ide awal) menuju ke dan

terus

menerus

a. Pikiran melompat (flight of idea): - Kelainan arus pikiran ide susul menyusul dengan sangat cepat, tidak terdapat arah umum atau ide tujuan (goal idea) - Penderita bicara dengan sangat cepat dari satu topik ketopik lainnya Cameron menyebutnya flight of topics. - Ciri lain pikiran melompat desakan atau keterpaksaan bicara ( pressure of speech) penderita tidak bisa menahan diri untuk tidak bicara.

- Terjadi pelonggaran asosiasi, tetapi secara dimengerti.

keseluruhan pemikiran masih bisa

- Khas untuk keadaan manik, pasien skizofrenia gelisah (afektif atau katatonik), dan lesi organic di hypothalamus.

b. Pikiran berputar- putar (circumstantial) : - Kelainan arus pikiran pikiran maju dengan pelan karena menyertakan banyak hal- hal yang kecil dan tak perlu, berliku- liku, dan berbelit- belit

tetapi mencapai tujuan (goal). - Kecepatan bicara adalah biasa. - Terjadi karena tidak ada atau sedikitnya melemahnya pertimbangan, dan egosentrisitas. - Ditemukan pada : kepribadian epileptik, keterbelakangan mental, dilakukan supresi selektif,

gangguan mental pada usia tua, kepribadian obsesi, dan skizofrenia.

c. Pikiran menyimpang : - Menyerupai circumstantial tetapi goal/tujuan pemikiran tidak pernah tercapai atau memang tidak ada.

d. Pikiran terhambat : - Disebut juga retardasi pikiran; inhibisi pikiran ; hemmung. - Kebalikan daripada pikiran melompat. - Pemikiran melambat, baik inisiasi maupun pergerakan/kemajuannya, dan jumlah ide/pikiran yang diucapkan berkurang. Biasanya pasien mengeluh kalau dirinya sulit berpikir, susah berkonsentrasi, pikirannya berjalan lambat, dan sulit mengambil keputusan. - Perhatian aktif menurun sehingga kejadian- kejadian sekitarnya tidak tercatat secara mental dengan baik keluhan lemah ingatan. - Khas pada keadaan depresi tetapi dapat pula ditemukan pada skizofrenia.

e. Pikiran terhalang : - Disebut juga : thought blocking; thought deprivation; thought obstruction. - Terjadi penghentian mendadak rentetan ide/ pikiran misalnya pasien berhenti bicara ditengah- tengah kalimat.

- Suatu kalimat atau ide yang betul- betul baru kemudian dapat dimulai, meninggalkan satu kekosongan dengan ucapan sebelumnya. - Pasien tidak dapat dapat menjelaskan kenapa tiba-tiba ia berhenti berbicara biasanya disebabkan oleh hal- hal yang sifatnya tidak disadari. - Sering terjadi pada skizofrenia.

f. Perseverasi : - Merupakan gangguan arus pikiran atau progresi pikiran dimana majunya

pikiran tercegah sehingga pasien terus menerus mengulangi jawaban terhadap stimulus yang terdahulu walaupun stimulus yang baru telah diberikan. - Ditemukan pada penyakit otak organic difus maupun terlokalisir (dementia senilis) dan skizofrenia. (biasanya katatonik).

g. Verbigerasi : - Disebut juga ; cataphasia; verbal stereotypy. - Merupakan pengulangan- pengulangan patologik dan tak berarti dari kata

atau kalimat secara spontan dan tdk ada hubungan atau terlepas dari situasi yang dihadapi. - Yang diulangi adalah jawaban terhadap pertanyaan yang jadi masih ada relevansinya dengan situasi yang dihadapi. - Ditemukan pada skizofrenia katatonik atau skizofrenia kronik yang sudah sangat mundur. pernah diajukan,

h. Inkoherensi : - Merupakan kelainan progresi pikiran dimana ide diekspresikan tidak mempunyai urutan yang logic. - Terjadi disorganisasi struktur kalimat sehingga tidak dapat dimengerti. - Bleuler menggolongkan gejala ini sebagai salah satu bentuk pelonggaran asosiasi termasuk dalam gejala primer skizofrenia. yang berturutan

2. Kelainan pemilikan pikiran (disorder of the possession of thought) : - Normal individu menghayati pikiran yang dikeluarkannya sebagai miliknya, walaupun diluar kesadarannya. - Dia yang mengontrol pikirannya artinya ia dapat berpikir atau berhenti berpikir kapan ia menghendakinya.

- Rasa mengontrol atau memiliki sendiri terganggu kelainan psikiatri.

a. Pikiran obsesi : - Suatu keadaan dimana isi mental mendesak ke kesadaran individu terusmenerus, berulang- ulang dan persisten, diluar atau bertentangan dengan kemauan sadar individu. - Obsesi bertentangan dengan latar belakang kepribadian individu, disadarinya sebagai tidak masuk akal, namun tidak dapat dihapuskannya atau ditolaknya dengan upaya apapun. - Ciri lain dari obsesi adalah adanya gejala penyerta tersiksa, sengsara ataupun rasa bersalah ( berdosa). - Obsesi intelektual (intelektual metafisik) berupa pertanyaan- pertanyaan seperti kenapa matahari bersinar pada siang hari, bukan malam gunanya hidup ini, kenapa saya dilahirkan. hari, apa berupa rasa cemas, rasa

- Pikiran kontras ide obsesi dimana individu setiap kali berpikir hal yang berbalikan dari yang diucapkannya. individu dimana adanya - Inhibiting obsession hambatan dalam perilaku

rasa ragu- ragu bercampur keharusan untuk melakukan secara persis dan tepat. - Obsesi impuls (impulse obsession) merupakan keinginan atau dorongan yang aneh atau tidak masuk akal yang sifatnya memaksa, memegang tiang listrik. - Biasanya obsesi impuls diikuti oleh perbuatan atau tindakan yang sesuai (kompulsi) sehingga secara klinis terlihat sebagai obsesi kompulsi. - Penamaan obsesi kompulsi adalah dengan kata- kata yang merupakan isi obsesi kompulsi. - Kleptomania : obsesi mengumpulkan benda- benda kecil yang sesungguhnya tidak diperlukan (biasanya sampai menyebabkan individu mencuri mengutil ditoko). - Gejala obsesi merupakan gambaran utama neurosa obsesi kompulsi, dapat atau memberikan akhiran mania pada misalnya keinginan untuk

pula ditemukan pada penderita depresi, skizofrenia.

b. Alienasi pikiran : - Individu menghayati pikiran yang dikeluarkannya sebagai bukan miliknya,

tetapi datang dari kekuatan luar tertentu. Hal ini disebut juga sebagai pikiran sisipan (thought insertion).

- Pengalaman alienasi ini oleh Schneider dimasukkan kedalam tangga pertama (first rank symptom) daripada skizofrenia.

3. Kelainan isi pikiran ( disorder of thought content) : a. Preokupasi pikiran dan ide overvalued : Suatu ide atau pikiran yang kuat getaran perasaannya (feeling tone) cenderung akan mendominasi kesadaran. Bila pikiran cenderung untuk memusat pada atau berada disekitar ide atau pikran

demikian maka keadaan itu disebut preokupasi.Idenya, atau ide pusat tersebut, disebut ide yang dinilai berlebihan atau overvalued idea, misalnya diri atau ide kebencian. b. Waham (delusi; delusion) : - Fish suatu keyakinan yang salah yang tak tergoyahkan dan patologik. - Cameron suatu keyakinan yang kukuh yang tetap dipertahankan oleh ide bunuh

individu walaupun kenyataan- kenyataan social menentangnya. - Kusumanto suatu keyakinan atau pikiran yang salah karena bertentangan dengan kenyataan (dunia realitas), serta dibangun atas unsur- unsur berdasarkan logika sehat. - Ciri- ciri waham : 1.delusi adalah suatu ide atau pikiran yang telah atau dipercaya. 2.delusi tidak dapat dikoreksi atau tidak dapat digoyahkan sehubungan dengan kwantitas diyakini/ dipercayainya itu. 3.delusi adalah tidak sesuai atau terlepas dari latar belakang kehidupan mencapai taraf diyakini yang tak

pribadi individu secara social, cultural, politik, maupun intelegensia. Macam- macam waham : 1 . menurut objek wahamnya : waham allopsikik dan waham autopsikik. - Waham autopsikik objek daripada waham adalah diri individu yang bersangkutan. - Waham allopsikik objek daripada waham adalah orang lain. Waham somatopsikik objek waham adalah tubuh individu sendiri 2. menurut sifatnya : primer-sekunder dan sistimatik-nonsistimatik.

- waham primer. Disebut juga autochtonus delusion. merupakan waham yang tidak dapat dimengerti timbulnya atau tidak mempunyai penjelasan eksternal

yang objektif bagaimana timbulnya. Scneider membedakan tiga bentuk pengalaman delusional primer :

a. Delusional mood : pasien merasa yakin atau pasti menyangkut dirinya,

yang terjadi disekitarnya

tetapi ia tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi.

b. Delusional perseption : waham primer yang timbul sebagai jawaban terhadap persepsi normal, tanpa arti khusus yang dimengerti orang lain, tetapi bagi

pasien mempunyai arti pribadi. Terdapat pada skizofrenia akut. - waham sekunder. Merupakan waham yang timbul sebagai jawaban terhadap psikopatologi lain yang telah ada pada diri pasien, berupa delusi primer sendiri, halusinasi dll. Misalnya penderita skizofrenia mempunyai waham persekutorik karena adanya halusinasi akustik berupa suara- suara yang senantiasa mengatakan ancaman terhadap dirinya. - sistimatisasi waham. Terjadi apabila waham- waham sekunder tersebut tersusun secara logic satu sama lain dan berhubungan dengan waham primer. Wahamwaham sekunder yang tidak berkaitan secara logic satu sama lain disebut waham nonsistimatik.

3. menurut isinya : persekutorik, grandiose, a. waham persekutorik : - Fish waham persekutorik merupakan dengan isi waham yang berbeda- beda dan

erotomania, dll

sekumpulan disebut

waham-

waham ide

sesuai

dengan

persekutoriknya : waham dibunuh, waham diracuni. - Penderita adalah objek waham. - Suatu kecenderungan yang dapat terlihat pada pasien dengan waham persekutorik membentuk kelompok dengan satu atau lebih orang lain. paranoid, depresi, dan

- Ditemukan pada penderita skizofrenia, penderita keadaan organic. b. waham cemburu dan waham tak setia : - Biasanya tertuju kepada (allopsikik) orang

dengan siapa pasien mempunyai

ikatan sexual, sadar atau tidak disadari, yang dapat bersifat heterosexual maupun homosexual. - Waham cemburu berkembang dari sifat kecemburuan biasa yang memang merupakan ciri kepribadian individu, kemudian terjadi proses psikotisasi yang

meluas menjadi kecurigaan. Ditemukan pada keadaan psikogenik, organic, paranoia dengan waham tak setia. c. Waham cinta (erotomania) :

- Disini pasien yakin atau percaya bahwa seseorang jatuh cinta setengah mati (autopsikik) kepadanya, walaupun secara nyata pasien tidak berhubungan dengan kekasih fantasinya tersebut. - Kekasih fantasi tersebut biasanya orang yang terkenal seperti aktor, aktris dll. - Gejala ini dapat ditemukan pada skizofrenia dan d. Waham grandiose : - Disebut juga sebagai waham kebesaran atau waham megalomanik. - Merupakan perluasan dari individu akan dengan orang penting atau pentingnya dirinya, identifikasi keadaan paranoid. pernah

kesimpulan paralogik. inadekuat atau

- Dapat pula merupakan kompensasi daripada perasaan rendah diri.

- Waham Mignon (mignon delusion) pasien percaya dirinya sebagai keturunan raja atau orang terkenal kontemporer tertentu dan bukan orang tuanya yang sekarang. - Gejala ini dapat ditemukan pada skizorenia, keadaan panik, paranoid, ataupun kondisi organic. e. Waham sakit, waham dosa, waham salah, waham miskin, dan waham tuduhan : - Sering disebut sebagai waham depresif. - Pada waham sakit pasien yakin dirinya mempunyai suatu penyakit yang disebut keturunan

berat dan tidak dapat disembuhkan seperti kanker, tumor otak dll juga waham hipokondriakal. - Waham ini selain autopsikik dapat pula bersifat anggota keluarga yang

allopsikik yaitu mengenai

lain, misalnya pasien dengan depresi beratpercaya keluarganya.

bahwa ia telah menularkan penyakitnya pada

- Pada waham dosa dan waham salah, biasanya berkaitan dengan waham tuduhan pasien percaya dirinya mempunyai suatu dosa besar atau telah melakukan mengetahui

kesalahan tak berampun dan ia percaya orang- orang disekitarnya hal itu dan menuduhnya.

- Pada waham miskin pasien percaya dirinya sangat miskin dan melarat dan suatu kesengsaraan akan menimpa diri dan keluarganya. - Ditemukan pada keadaan depresi, skizofrenia, atau kondisi organic. f. Waham nihilistic : - Disebut juga sebagai delusion of negation & delusion of non existence.

- Pasien percaya bahwa ia tidak mempunyai intelegensia,

tidak

mempunyai

jiwa, tidak mempunyai tubuh atau bagian tubuh, tidak mempunyai organ tubuh. - Ide nihilistic ini dapat meluas sehingga mengenai dunia pasien mengatakan dunia telah berhenti berputar. - Delusion of anormity pasien yakin bahwa tindakan dirinya akan menimbulkan bencana besar bagi dunia. - Ditemukan pada keadaan depresi berat. tertentu dari luar, misalnya

Sikap pasien sehubungan dengan wahamnya : - Tidak seluruh pasien memperlihatkan tindakan/ dengan wahamnya.. - Pasien dengan waham grandiose mau misalnya : membersihkan kamar mandi. - Pasien persekutorik yang menyangkal dirinya tinggal dirumah sakit dengan sukarela. sakit, tetapi mau terus mengerjakan pekerjaan rendah perbuatan yang sesuai

KERANGKA KONSEP

Internal

Eksternal

Predisposisi Gangguan Jiwa

Terutama Gangguan Neurotransmitter (Dopamin )

Gangguan Skizofrenia

KESIMPULAN
Nyonya Cek Ela 30 tahun mengalami Gangguan Jiwa Schizophrenia Afektif dengan gangguan kepribadian schizoid.

DAFTAR PUSTAKA

Kaplan, Harold, dkk. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis Jilid satu. 2010. Jakarta : Binarupa Aksara Publisher. Maslim, Rusdi. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas. PPDGJ III. 2001. Jakarta : PT. Nuh Jaya. Feist, Jess & Feist, G. J. (2006). Theories of Personality, Sixth ed. Boston: Mc-Graw Douglas, Anderson M., Dorland, W.A Newman, 2002. Kamus Kedokteran Dorland, 29th ed. Jakarta , EGC. Kaplan, Hl, Sadock BJ, Grebb JA. 1997. Skizofrenia, Sinopsis psikiatri, ed 7, vol 1. Maramis WF, Skizofrenia, Catatan ilmu kedokteran jiwa, ed 7, Surabaya Maslim, Rusdi. 2001. Penggunaan kllnis obat psikotropik, ed 2. Jakarta Maslim, Rusdi. 2003. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa PPDGJ III. Jakarta : PT Nuh Jaya.