Anda di halaman 1dari 21

BAB I.

PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang

Air terjun kakek bodo merupakan suatu daerah yang terletak pada wilayah bagian administrasi Desa Tretes, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Propinsi Jawa Timur dengan kordinat 741'50"S 11237'40"E, dimana dalam artiannya merupakan daerah dengan morfologi dataran tinggi pada posisinya di lereng Gunung Arjuno Welirang. Apabila di tinjau dari segi geologinya daerah ini memiliki potensi tata lingkungan yang strategis dan sesuai jika di kelola menjadi daerah dengan potensi Geowisatanya, salah satunya merujuk pada kawasan air terjunnya. Air terjun kakek bodo memiliki ketinggian 850 meter diatas permukaan air laut dan topografi medan dengan kemiringan slope lereng yang landai sampai cukup curam. Jika ditinjau dari letak posisinya tersebut kawasan air terjun ini juga memiliki kerentanan resiko terhadap potensi bencana geologinya seperti 1. longsoran, 2. jatuhan bongkah batuan, 3. banjir bandang. Potensi - potensi bencana tersebut apabila tidak di kelola secara baik tingkat manajemen bencananya maka akan menimbulkan nilai dampak bencana yang sangat merugikan baik dari segi sosial, ekonomi dan fisiknya. 1.2. Maksud dan Tujuan

1.2.1. Maksud Maksud dari adanya pembuatan penulisan analisa ini adalah sebagai suatu implementasi langsung pada lokasi pengamatan yang berbasiskan atas studi mata kuliah Manajemen Bencana Geologi sebagai syarat tugas terakhir pertemuan perkuliahan. 1.2.2. Tujuan Tujuan dari studi analisa ini adalah sebagai berikut : Analisa hasil survey data pada lokasi tentang Manajemen bencana Analisa kondisi Ekonomi dan Sosial Mendata potensi bencana yang ada Upaya mitigasi yang bisa di lakukan Jenis bencana yang telah terjadi sebelumnya Dampak bencana Mitigasi yang pernah dilakukan

Geologi Laut

Page 1

BAB II. METODOLOGI


2.1. Tahap Identifikasi dan Perumusan Masalah

Tahapan ini di mulai dari identifikasi perumusan permasalahan bencana geologi dan tinjauan informasi terhadap medan lokasi yang akan di lakukan dengan mencari studi informasi awal sebelum identifikasi langsung di lokasi yang dianalisa. 2.2. Tahap Studi Literatur

Tahapan selanjutnya merupakan tinjauan studi literatur terhadap dasar dasar tentang manajemen bencana geologi sebelum menganalisa langsung ke lapangan dengan studi literatur berupa bahan materi dari buku, internet, dan tanya jawab. 2.3. Tahap Analisa Lokasi Secara Langsung

Setelah tahap studi literatur, maka akan dilanjutkan dengan tahapan analisa secara langsung di lapangan meliputi pengambilan data langsung dilapangan. Meliputi pengambilan data lokasi, foto, pencatatan lokasi. 2.4. Tahap Penyusunan data

Dari data lapangan yang telah di peroleh kemudian akan di lanjutkan dengan tahap penyusunan data menjadi data yang akurat dan valid. 2.5. Tahap Penyusunan Laporan

Tahap terakhir dari metodologi tahap tahapan adalah penyusunan laporan yang kemudian diserahkan kepada dosen pengampu mata kuliah.

Geologi Laut

Page 2

Tahap Identifikasi dan Perumusan Masalah

Tahap Studi Literatur

Literatur buku, Internet

Informasi tanya Jawab

Tahap Analisa Lokasi Secara Langsung

Tahap Penyusunan data

Tahap Penyusunan Laporan

Bagan 1.1.

Diagram alir metodologi

Geologi Laut

Page 3

BAB III. DASAR TEORI 3.1. Pengertian Umum Manajemen Bencana

Manajemen bencana adalah suatu proses dinamis, berlanjut dan terpadu untuk meningkatkan kualitas langkah-langkah yang berhubungan dengan observasi dan analisis bencana serta pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, peringatan dini, penanganan darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi bencana. (UU 24/2007). Secara umum, manajemen bencana bertujuan untuk : Mencegah dan membatasi jumlah korban manusia serta kerusakan harta benda dan lingkungan hidup Menghilangkan kesengsaraan dan kesulitan dalam kehidupan dan penghidupan korban Mengembalikan korban bencana dari daerah penampungan/ pengungsian ke daerah asal bila memungkinkan atau merelokasi ke daerah baru yang layak huni dan aman. Mengembalikan fungsi fasilitas umum utama, seperti komunikasi/ transportasi, air minum, listrik, dan telepon, termasuk mengembalikan kehidupan ekonomi dan sosial daerah yang terkena bencana. Mengurangi kerusakan dan kerugian lebih lanjut. Meletakkan dasar-dasar yang diperlukan guna pelaksanaan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi dalam konteks pembangunan

Adapun tujuan adalah sebgai berikut: Menghindari kerugian pada individu, masyarakat dan Negara melalui tindakan dini. Tindakan ini merupakan pencegahan, tindakan ini efektif sebelum bencana itu terjadi.Tindakan penghindaran biasanya dikaitkan dengan beberapa upaya. Pertama penghilangan kemungkinan sebab. Kalau bencana itu bisa disebabkan oleh kesalahan manusia, tindakan penghilangan sebab tentunya bisa dilakukan. Tentunya hal ini akan sulit bila penyebabnya adalah alam yang memiliki energi di luar kemampuan manusia untuk melakukannya. Pergeseran lempeng bumi yang menyebabkan gempa bumi tektonik, misalnya, merupakan sebab yang sampai saat ini belum diatasi manusia. Oleh karena itu tindakan penghindaran bencana alam lebih diarahkan pada menghilangkan, atau mengurangi kondisi yang dapat menimbulkan bencana. Kondisi dimaksud dalah struktur bangunan yang sesuai untuk kondisi gempa yang dapat bangunan tahan terhadap goncangan, sehingga dapat menghidari kerugian fisik, ekonomi, dan lingkungan.
Geologi Laut Page 4

Meminimalisasi kerugian pada individu, masyarakat dan Negara berupa kerugian yang berkaitan dengan orang, fisik, ekonomi, dan lingkungan bila bencana tersebut terjadi, serta efektif bila bencana itu telah terjadi. Tetapi perlu diingat, piranti tindakan meminimalisasi kerugian itu telah dilakukan jauh sebelum bencana itu terjadi. Contoh bencana alam dengan cepat akan menimbulkan masalah pada kesehatan akibat luka parah, bahkan meninggal, maka tindakan minimalisasi yang harus dilakukan sejak dini adalah penyebaran pusat-pusat medis ke berbagai wilayah, paling tidak sampai tingkat kecamatan.

Meminimalisasi penderitaan yang ditanggung oleh individu dan masyarakat yang terkena bencana. Ada juga yang menyebut tindakan ini sebagai pengentasan. Tujuan utamanya adalah membantu individu dan masyarakat yang terkena bencana supaya dapat bertahan hidup dengan cara melepaskan penderitaan yang langsung dialami. Bantuan tenda, pembangunan kembali perumahan yang hancur, memberi subsidi, termasuk kedalam kategori ini. Pemberian pemulihan kondisi psikis individu dan masyarakat yang terkena bencana juga perlu karena bertujuan untuk mengembalikan optimisme dan kepercayaan diri. Untuk memperbaiki kondisi sehingga indivudu dan masyarakat dapat mengatasi permasalahan akibat bencana. Perbaikan kondisi terutama diarahkan kepada perbaikan infrastruktur seperti jalan, jembatan, listrik, penyedian air bersih, sarana komunikasi, dan sebagainya. 3.2. Tahapan Manajemen Bencana

Riset: pelajari fenomena alam yang akan terjadi secara umum atau khusus di satu daerah. Kontur tanah hingga letak geografis suatu daerah menjadi pengaruh utama penanganan ke depan. Jika yang terjadi adalah peristiwa kebakaran hutan, riset tentang lokasi dan pendataan masyarakat di dalam ataupun sekitar hutan mengawali paket penanganan bencana. Jika kebakaran seperti terjadi di beberapa pasar, tentulah pendataan kelayakan pasar tersebut akan membantu akar permasalahan bencana kebakaran tersebut. Analisis Kerawanan dan Kajian Risiko (Vulnerabilities Analysis and Risk Assessment) : ada beberapa variabel yang bisa menyebabkan bencana ataupun keadaan darurat terjadi di satu daerah. Matriks atas variabel ini patut didaftar untuk kemudian dikaji risiko atau dampaknya jika satu variabel atau paduan beberapa variabel terjadi.

Geologi Laut

Page 5

Sosialisasi dan Kesiapan Masyarakat: pengetahuan atas fenomena alam hingga tindakan antisipatif setiap anggota masyarakat menjadi suatu hal mutlak dilakukan oleh Pemerintah ataupun kalangan akademisi yang telah melakukan kajian-kajian dan pemantauan atas fenomena alam di daerahnya. Mitigasi atau persiapan mendekati terjadinya bencana atau keadaan darurat. Persiapan menghadapi banjir di komplek perumahan saya, misalnya, dilakukan dengan membersihkan saluran got dan membangun daerah-daerah penyerapan air ke tanah. Setiap minggu ada pemuda Karang Taruna berkeliling meneriakkan 3M. Warning atau peringatan bencana: di saat hari ini Gunung Kelud sudah batuk cukup parah, sosialisasi bahaya letusan yang lebih besar selayaknya juga dilakukan tak hanya dengan upaya persuasif. Tindakan memaksa selayaknya juga diterapkan, tentu ada sosialisasi tindakan ini harus diambil, jauh sebelum bencana ini terdeteksi. Teriakan melalui pengeras suara masjid ataupun kentongan hingga SMS Blast ke setiap pemilik telepon selular di daerah tersebut bisa menjadi alternatif peringatan bagi warga masyarakat. Tindakan Penyelamatan: jika yang terjadi adalah angin puting beliung, tentulah tempat paling aman berada di bawah tanah dengan kedalaman dan persiapan logistik yang memadai. Jika yang terjadi adalah banjir, penyelamatan barang pribadi ke tempat lebih tinggi menjadi kewajiban selain logistik dan perahu karet jika diperlukan. Komunikasi: faktor komunikasi tetap harus terjaga, yang bisa dilakukan dengan sistem telepon satelit agar bala-bantuan hingga kepastian keadaan sesaat setelah terjadi bencana bisa terdeteksi dariJakarta ataupun pusat pemerintah provinsi. Penanganan Darurat: jika ada anggota masyarakat yang memerlukan perawatan medis ataupun ada anggota masyarakat yang dinyatakan hilang, kesiapan regu penyelamat harus terkoordinasi dengan baik. Keberlangsungan Penanganan: jika banjir tidak surut dalam waktu satu-dua hari ataupun lokasi bencana tak memiliki jalur transportasi yang memadai, upaya yang berkelanjutan adalah kewajiban pemerintah daerah ataupun pusat dengan selalu berkoordinasi di lapangan. Upaya Perbaikan: tahapan pasca-bencana ataupun pasca-keadaan darurat adalah proses pengobatan yang memakan waktu lama. Jika peristiwa Tsunami Aceh memakan korban jiwa dan harta yang sangat besar, merancang perbaikan harus dilakukan secara seksama mengingat biaya yang besar yang dikumpulkan dari masyarakat, bahkan masyarakat internasional. Jika peristiwa banjir yang tiap tahun melanda pinggiran Kali Ciliwung,
Geologi Laut Page 6

tentunya lebih baik dilakukan tindakan antisipatif yang lebih komprehensif dalam kerangka perbaikan di masa mendatang. Pelatihan dan Pendidikan: untuk mendapatkan hasil terbaik untuk mengantisipasi hingga mengupayakan perbaika pasca-bencana, setiap daerah harus memiliki petugas-petugas yang cakap dan berpengetahuan. Untuk itu diperlukan pendidikan dan pelatihan yang selalu sejalan dengan penemuan teknologi penanganan bencana termutakhir. Simulasi: setelah memiliki petugas yang cakap dan berpengetahuan, setiap daerah harus melaksanakan simulasi penanganan bencana atapun keadaan darurat agar setiap anggota masyarakat bisa mengantisipasi hingga menyelamatkan diri dan anggota keluarganya , sehingga beban daerah ataupun kerugian pribadi dapat diminimalisasi.

3.3.

Pengertian Umum Bencana

Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau non-alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis (UU 24/2007)

Geologi Laut

Page 7

Penanganan Bencana Pra Bencana Bencana Pasca Bencana : pencegahan lebih difokuskan, kesiapsiagaan berlevel medium : pada saat kejadian / krisis tanggap darurat : pemulihan dan reconstruksi

Kegiatan-kegiatan manajemen bencana : Pencegahan (prevention) Mitigasi (mitigation) Kesiapan (preparedness) Peringatan Dini (early warning) Tanggap Darurat (response) Bantuan Darurat (relief) Pemulihan (recovery) Rehablitasi (rehabilitation) Rekonstruksi (reconstruction)

Geologi Laut

Page 8

BAB IV. PEMBAHASAN


4.1. Analisa Hasil Pengamatan

Air terjun kakek bodo merupakan suatu daerah yang terletak pada wilayah bagian administrasi Desa Tretes, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Propinsi Jawa Timur. Derah Penelitian merupakan daerah dengan morfologi dataran tinggi pada posisinya di lereng Gunung Arjuno - Welirang.

Foto 1.0. Air terjun Kakek Bodo Desa Tretes

Apabila di tinjau dari segi geologinya daerah ini memiliki potensi tata lingkungan yang strategis dan sesuai jika di kelola menjadi daerah dengan potensi Geowisatanya, salah satunya yang difokuskan pada kawasan air terjunnya. Air terjun kakek bodo memiliki ketinggian 850 meter diatas permukaan air laut dan topografi medan dengan kemiringan slope lereng yang landai sampai cukup curam. Jika ditinjau dari letak posisinya tersebut kawasan air terjun ini juga memiliki kerentanan resiko terhadap potensi bencana geologinya seperti :

1. Longsoran 2. Jatuhan bongkah batuan 3. Banjir bandang


Geologi Laut Page 9

Foto 1.1. Menunjukkan bidang akumulasi soil yang tidak resisten dan terlapuk (kiri) sebagian telah longsor (kanan).

Foto 1.2. Menunjukkan jatuhan bongkah batuan dengan ukuran relatif besar hingga kecil

Geologi Laut

Page 10

Foto 1.3. Daerah aliran sungai dengan debit air tinggi saat banjir bandang

Berdasarkan potensi negatif yang terdapat pada daerah tersebut, dapat dikatagorikan bahwa obyek daerah yang di kaji merupakan daerah rawan akan resiko bencana.

4.2.

Analisa Kondisi Ekonomi dan Sosial

4.2.1. Kondisi Ekonomi Secara tinjauan analisa kondisi ekonomi pada lokasi air terjun kakek bodo ini meliputi pengelolaan dan pengembangan daerah menjadi kawasan obyek geowisata yang di kelola oleh dinas kepariwisataan dan dinas perhutani kabupaten pasuruan. Dimana dalam pelaksanaannya dinas dinas terkait tersebut melakukan pembangunan ekonomi untuk menunjang sektor fasilitas obyek wisata air terjun kakek bodo.

Geologi Laut

Page 11

Foto 1.4. Kondisi Ekonomi obyek penelitian

4.2.2. Kondisi Sosial Dalam hubungan keterkaitannya dengan terdapatnya pembangunan pengelolaan tersebut menjadikan lokasi wisata air terjun kakek bodo yang di buka secara umum menimbulkan adanya suatu hubungan simbiosis sosial, warga sekitar pada daerah lokasi tersebut memanfaatkannya sebagai lokasi untuk berkerja sebagai penjual makanan dan minuman. Banyaknya kunjungan dari wisatawan menjadikan lokasi tersebut ramai dan membuat keterlibatan antara warga sekitar untuk juga membangun sarana penginapan atau dikenal dengan villa.

Foto 1.5. Banyanya jumlah pengunjung pada lokasi air terjun

Geologi Laut

Page 12

Foto 1.6. Kondisi sosial penduduk sekitar

Geologi Laut

Page 13

4.3.

Potensi bencana yang ada 1. Banjir Bandang

Air terjun kakek bodo disamping menyimpan aspek segi positif sebagai potensinya juga memiliki potensi bencana yang dinilai beresiko besar dalam bencananya. Berdasarkan hasil analisa kajian lapangan secara langsung, daerah ini memiliki faktor pemicu bencana yang tinggi karena pengaruh iklim. Faktor iklim yang memicu terjadinya bencana berupa intensitas pengaruh curah hujan yang tinggi dan tidak menentu mengakibatkan terjadinya banjir bandang secara mendadak,, banyaknya volume debit air yang berasal dari hulu gunung welirang yang lepas melebihi jumlah debit air normal pada umumnya membuat sepanjang daerah aliran sungai (DAS) terbanjiri dan menggenang daerah daerah yang memiliki ketinggian hampir sama pada sepanjang aliran sungai bahkan jika kondisi debit terlalu tinggi dan energi debit air yang dilepaskan dari hulu besar memicu terjadinya banjir bandang. 2. Jatuhan Bongkah Batuan Disamping itu juga apabila pergerakan air yang terlalu cepat dan besar tersebut mampu membawa material dengan massa yang relatif memicu pula terjadinya jatuhan bongkah bongkah material batuan baik yang berukuran kecil hingga besar yang tergantung dari kuat dan cepatnya debit arus air yang melalui daerah tinggian ke daerah rendahan atau titik pusat daerah rawannya adalah di posisi air terjunnya dan sepanjang daerah aliran sungai. 3. Longsor Tidak lepas dari pengaruh pemicu iklim, terjadinya tingkat pelapukan yang tinggi juga mengakibatkan terjadinya longsoran hal tersebut meninjau juga pada tingkat resistensi batuan dan ada atau tidaknya pengaruh bidang gelincir dengan tinggian dan kemiringan yang di miliki pada lokasi tersebut. Analisa kondisi menyatakan bahwa daerah lokasi air terjun kakek bodo menunjukkan terdapat ciri ciri akan terjadinya longsor, adapun hal tersebut di buktikan dengan dijumpainya adanya batuan yang tidak resistensi yang terlapuk, dan juga letak kondisi air terjun sebagaian wilayahnya menunjukkan tinggian yang tersayat terjal sehingga dapat di pastikan jika dalam suatu kondisi tertentu terjadi reaksi hilangnya gaya resistensi maka akan terjadi longsoran.

Geologi Laut

Page 14

Foto 1.7. Kondisi bidang batuan

Foto 1.8. Kondisi Daerah Aliran Sungai

4.4.

Upaya mitigasi yang bisa dilakukan

Upaya mitigasi yang bisa dilakukan, adalah membuat peta inventarisasi rawan bencana, denah jalur mitigasi sewaktu terjadi bencana, pemasangan rambu rambu himbauan, kerja sama antara pihak pihak yang terlibat dalam manajemen bencana,

Geologi Laut

Page 15

menata ulang bangunan bangunan yang rawan terkena dampak bencana memindahkan ke lokasi yang aman, serta sosialisasi rutin kepada para pengunjung, pedagang, serta pihak lain yang terlibat dalam lokasi tersebut.

4.5.

Jenis Bencana yang Sudah Pernah Terjadi Sebelumnya

Pada lokasi air terjun kakek bodo telah tercatat pernah terjadi bencana, tetapi tidak sampai menimbulkan adanya korban jiwa manusia, bencana yang telah tercatat merupakan bencana banjir, banjir bandang, longsor sekala kecil, serta jatuhan bongkah batuan yang ukurannya relatif (besar, sedang, kecil).

4.6.

Dampak Bencana

Dampak yang ditimbulakan pasca bencana berupa kerusakan bangunan bangunan secara fisik, seperti hancurnya jalan jalan yang biasanya di lalui pengunjung, rusaknya sebagian warung warung penduduk di lokasi, rusaknya bangunan saluran air sungai. Adapun dampak lain yang dijumpai akibat pasca terjadinya bencana berupa hilangnya sebagian sumber air yang sebelumnya telah di pasang pipa penyaluran air akibat dampak bencana banjir dan banjir bandang, longsoran sekala kecil, jatuhan batuan.

Foto 1.9. Bongkah Pasca bencana yang pernah terjadi sebelumnya

Geologi Laut

Page 16

Foto 2.0. Dampak kerusakan pasca bencana

4.7.

Upaya mitigasi yang sudah dilakukan

Berdasarkan tinjauan dampak pasca bencana pada air terjun kakek bodo, telah dilakukan upaya mitigasi yang dilakukan oleh pengelola setempat adalah untuk saat ini telah menambah sejumlah petugas pengamanan sejumlah 7 petugas baru dari sebelumnya hanay petugas yang berjumlah 14 orang, pihak pengelola juga telah memasang rambu rambu larangan yang telah di tempatkan pada titik-titik lokasi yang dianggap sangat rawan. Disamping itu juga upaya mitigasi yang berupa fisik adalah saat ini pihak dinas pengelola lokasi telah membuat pagar pagar larangan untuk tidak melewati daerah daerah yang masuk ke dalam wilayah potensi bencana seperti sepanjang aliran sungai, serta larangan untuk berkunjung dan melewati pagar pembatas pada air terjun selama cuaca hujan terjadi, merenovasi bangunan bangunan seperti jalan yang telah rusak akibat bencana, warung warung warga setempat yang juga rusak, membuat ram pondasi dari batuan batuan untuk di tempatkan di sepanjang lokasi rawan banjir, merenovasi ulang kembali pipa pipa saluran air yang telah rusak sebelumnya akibat pasca bencana.. Sedangkan untuk upaya lainnya, pengelola lokasi air terjun telah menjalin hubungan kerja sama dengan pihak pihak terkait seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Tidak lepas dari hal tersebut pihak pengelola lokasi juga telah memberikan himbauan sosialisasi terhadap bencana bencana yang mungkin akan terjadi, pihak pengelola juga melakukan pemantauan terus menerus setiap jamnya pada area lokasi dan juga terkadang melakukan sistem buka tutup untuk kunjungan wisata daerah tersebut apabila kondisi mulai terasa tidak mendukung.

Geologi Laut

Page 17

Foto 2.1. Upaya yang dilakukan Untuk permasalahan Banjir

Geologi Laut

Page 18

Foto 2.2. Rambu Rambu Larangan

Geologi Laut

Page 19

BAB V.

KESIMPULAN

Pada air terjun Kakek Bodo yang berada di desa Tretes dapat disimpulkan bahwa jenis bencana yang terdapat pada daerah tersebut mrupakan jenis bencana Geologi dan Klimatologi. Lokasi penelitian memiliki studi kasus permasalahan bencana Banjir Bandang, Longsoran, dan Jatuhan batuan. Kondisi Ekonomi sosial pada kawasan daerah yang di teliti merupakan kawasan yang padat pengunjung dan juga banyak penduduk sekitar yang terlibat sebagai pedagang, perlu di upayakan agar penentuan lokasi yang aman bagi penduduk dan pengunjung dan peran serta masyarakat untuk ikut serta dalam menjaga kondisi lingkungan respon bencana. Upaya mitigasi yang dapat dilakukan meliputi : Pencegahan bencana, kesiapan dari masing masing pihak dalam tanggap bencana, peringata dini, tanggap darurat, bantuan atas bencana, pemulihan, serta rehabilitasi dan rekonstruksi. Air terjun Kakek Bodo memiliki data tiap terjadi bencana yang telah di catat menunjukkan jenis bencana dari bencana yang pernah terjadi sebelum sebelumnya sama, yakni longsor, jatuhan batuan, serta banjir bandang. Untuk itulah dalam penangannya para petugas dan juga kesadaran masyarakat di butuhkan untuk saling berkerja sama dalam mengtasi bencana.

Geologi Laut

Page 20

DAFTAR PUSTAKA Soehendarto P, J,. 2013. Wawancara kondisi Bencana Kakek Bodo. Tretes Pasuruan.
Adidarma Maysandi. 2012. MANAJEMEN BENCANA,MANAJEMEN BENCANA BERBASIS MASYARAKAT DAN DESERTIFIKASI : Manajemen Bencana, (online). ( http://maysandi.blogspot.com/2012/04/manajemen-bencanamanajemen-bencana.html, diakses 11 Juli 2013) Undang Undang RI No. 24 Tahun 2007. Tentang Penanggulangan Bencana.

Geologi Laut

Page 21