Anda di halaman 1dari 11

Nama NIM

: Feni Alvionita : 03101003089

METODE PENGUJIAN BIODIESEL

Indonesia mempunyai ketergantungan yang sangat tinggi terhadap minyak bumi sebagai bahan bakar. Tahun 2005 Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan Instruksi Presiden No. 10 tahun 2005 mengenai penghematan penggunaan energi termasuk dalam hal ini penggunaan bahan bakar dan Instruksi Presiden No 1 Tahun 2006 serta Instruksi Presiden No. 5 tahun 2006 mengenai energi terbarukan. Berbagai kebijakan tersebut mendorong pada penggunaan sumber energi alternatif termasuk dalam hal ini bahan bakar biodiesel. Biodiesel dalam pengertian ilmiah berarti bahan bakar yang digunakan untuk mesin diesel yang dibuat dari sumber daya hayati. Penggunaan biodiesel mempunyai banyak keuntungan diantaranya adalah: 1. Dapat mengurangi emisi/ pancaran gas yang menyebabkan pemanasan global. 2. Dapat mengurangi emisi udara beracun dari knalpot, bersifat biodegradable, cocok untuk lingkungan sensitif dan mudah digunakan (Tyson, 2004). 3. Karena biodiesel mempunyai efek pelumasan, penggunaaan biodiesel akan menurunkan biaya pemeliharaan (penggantian filter oli, penggantian filter bahan bakar, penggantian jumlah filter udara) dan peningkatan kualitas udara emisi cerobong dilihat dari ammonia, free chlorine, NO2, dan hidrolic acid (Tribudiman, 2005). 4. Meningkatkan kualitas emisi udara dilihat dari parameter CO, NOx, SOx, CO2 yang lebih rendah dari minyak petrodiesel. (Nakazono, 2001). Indonesia mempunyai 30 spesies tanaman yang minyaknya dapat digunakan untuk biodiesel diantaranya jarak dan kelapa sawit. Menurut SNI 047182-2006 Biodiesel adalah ester alkil (metal, etil, isopropil dan sejenisnya) dari asam-asam lemak. Standar ini digunakan untuk bahan baker substitusi motor diesel yaitu sebagai campuran (blending) dengan bahan baker diesel pada kendaraan bermotor atau motor diesel lainnya. Bahan bakar diesel yang dicampurkan meliputi antara lain minyak solar, minyak diesel dan minyak bakar yang memenuhi persyaratan spesifikasi yang diterbitkan oleh instansi yang berwenang. Dalam pembuatan biodiesel pun perlu adanya tahapan pengujian agar

biodiesel yang dihasilkan sesuai dengan standar yang ditentukan. Berikut adalah metode pengujian biodiesel yaitu sebagai berikut : 1. Uji Kadar Asam Lemak Bebas (AOAC, 1995) Cara melakukan uji kadar asam lemak bebas adalah sebagai berikut : a. Sampel sebanyak 2,5 gram dimasukan ke dalam erlenmeyer dan ditambahkan heksana sebanyak 20 ml dan 30 ml alkohol 95% yang telah dinetralkan. b. Larutan diberi indikator PP dan titrasi dengan KOH sampai terbentuk warna merah jambu. c. Menghitung kadar asam lemak bebas dengan cara Kadar asam lemak bebas (%) = S x N x M ..................................(1.1) 10 G S = ml KOH untuk titrasi sampel N = normalitas KOH G = berat sampel, gram M = berat molekul asam lemak asam oleat, 280 Jika dihitung sebagai angka asam (mg KOH/g minyak) Angka asam = S x N x 56,1...................................................(1.2) 2. Uji Kadar Air (AOAC, 1995) Cara melakukan uji kadar air pada biodiesel adalah sebagai berikut : a. Contoh diaduk dan ditimbang sebanyak 10 gram. Lakukan pemanasan pada suhu 104 106C selama 30 menit. b. Contoh diangkat dari oven dan didinginkan dalam desikator pada suhu kamar lalu ditimbang. c. Pekerjaan diulang sampai kehilangan bobot selama pemanasan 30 menit yaitu 0,005%. 3. Uji Gugus Siklopropenoid Gugus siklopropenoid adalah gugus yang berbentuk rangkaian melingkar (siklo) menyerupai cincin dari propena pada suatu molekul/senyawa.

Siklopropena memiliki beberapa sifat yaitu dipole moment yang tinggi (0.455D) untuk hidrokarbon, reaktivitas yang tinggi terhadap reaksi adisi didorong dengan disertai penurunan energi sebesar 26 kkal/mol dan reaksi pembukaan cincin

(Greenberg dkk,1982). Gugus siklopropenoid dapat menyebabkan kelainan biologis seperti perubahan warna putih telur ayam menjadi merah muda apabila ayam diberi makanan yang mengandung gugus siklopropenoid, inhibisi desaturasi asam lemak pada beberapa tanaman dan binatang, tertundanya kematangan seksual untuk tikus betina, kemandulan lalat, kerusakan sel hati pada binatang dan ikan, serta kelainan-kelainan lainnya (Berry,1979). Berikut adalah cara untuk menguji kadar gugus siklopropenoid. 3.1. Uji Halphen Cara untuk mengetahui keberadaan dari gugus siklopropenoid yaitu dengan melakukan uji Halphen. Senyawa yang mengandung gugus

siklopropenoid akan bereaksi positif (+) pada uji Halphen. Uji Halphen adalah suatu uji kualitatif standar yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan gugus siklopropenoid. Pada uji Halphen, minyak dari biji yang akan diuji ditambahkan dengan larutan karbon disulfida (CS2) yang mengandung 1% sulfur bebas sebanyak volume yang sama dengan minyak dan ditambah lagi dengan pentanol dengan volume yang sama juga. Larutan kemudian dipanaskan secara perlahanlahan mencapai 110oC pada tabung yang terbuka. Adanya karbon disulfida (CS2) yang hilang akan menghasilkan reaksi positif (+) pada uji Halphen ditandai dengan berubahnya warna larutan menjadi merah muda ataupun merah (Greenberg dkk, 1982). Uji Halphen akan memberikan reaksi positif apabila kandungan siklopropenoid pada sampel melebihi 0,01% (Zarins dkk,1969). Selain untuk uji kualitatif gugus siklopropenoid, uji Halphen juga dapat dilakukan untuk uji secara kuantitatif dengan menggunakan spektrofotometer. Pada metode ini, diperlukan minyak yang mengandung gugus siklopropenoid yang telah diketahui secara benar komposisinya. Minyak tersebut diencerkan kemudian dilakukan uji Halphen dan dicatat absorbansinya. Beberapa konsentrasi gugus siklopropenoid dibuat untuk mendapatkan kurva standar yang menunjukkan hubungan antara absorbansi dengan konsentrasi gugus siklopropenoid. Sampel yang dianalisis dilakukan uji Halphen kemudian dimasukan ke spektrofotometer untuk diukur absorbansinya. Konsentrasi gugus siklopropenoid pada sampel dapat diketahui dari kurva standar.

3.2. Titrasi Di samping itu, uji gugus siklopropenoid pada minyak dilakukan dengan titrasi minyak menggunakan hidrogen bromida dalam asam asetat glasial (HBrHOAc) yang sering juga disebut sebagai reagen Durbetaki (Brown,1969). Sebelum dititrasi sampel minyak ditambahkan alumina yang berguna untuk mengadsorpsi senyawa yang mengganggu keakuratan pengukuran pada sampel minyak seperti epoksida. Sampel yang telah diberi perlakuan kemudian diberi indikator kristal violet dan dititrasi dengan HBr pada 3oC lalu kemudian pada 55oC. Titrasi sampel pada 3oC dilakukan untuk mengetahui jumlah senyawa pengganggu. Titrasi pada 55oC dilakukan sampai warna larutan berubah menjadi biru kehijauan dan berguna untuk mentitrasi gugus siklopropenoid dalam sampel. Konsentrasi gugus siklopropenoid baik dalam bentuk asam malvalat maupun asam sterkulat dapat ditentukan dari banyaknya volume yang diperlukan pada titrasi sampel dengan HBr yang memiliki normalitas tertentu pada temperatur 55oC (Brown,1969). Pada titrasi gugus siklopropenoid dengan HBr, HBr akan berikatan pada cincin siklopropena. Apabila semua cincin siklopropena telah berikatan dengan HBr, HBr akan berikatan dengan indikator kristal violet. Indikator kristal violet akan berikatan dengan ion H+ dari HBr dan ditandai dengan terjadinya perubahan warna menjadi biru kehijauan. Di sini terjadi reaksi asam sterkulat maupun asam malvalat yang mengandung gugus siklopropenoid dengan reagen Durbetaki. Metode titrasi menggunakan reagen Durbetaki ini memiliki keakuratan 83% sampai 86%, karena terjadinya reaksi samping yang terjadi yakni reaksi adisi asam asetat pada gugus siklopropenoid yang dikatalisis oleh HBr dalam reagen Durbetaki (Feuge dkk,1968). Metode penentuan konsentrasi gugus siklopropenoid juga dapat dilakukan dengan kromatografi gas-liquid/GLC dilakukan dengan menggunakan kolom gelas dan diberi unggun polietilen glikol 10%-berat yang teradsorbsi pada Diatomae ukuran 100-120 mesh. Analisis dioperasikan pada temperatur 180oC dengan gas pembawa nitrogen yang kecepatannya sebesar 30 ml/menit.

Temperatur injektor dan detektor sebesar 200oC. Sebelum dianalisis, ester metil disiapkan dengan transmetilasi menggunakan natrium metoksida (CH3ONa) 0,5 N dalam metanol, disentrifugasi dan diekstraksi dengan eter petroleum pada 40-60oC lalu dikeringkan dengan Na2SO4 anhidrat dan pelarut dipisahkan. Ester metil kemudian diberi AgNO3-CH3OH untuk menstabilkan asam lemak siklopropenoid (cyclopropenoid fatty acid/CPFA). Campuran dari asam lemak ester metil dengan CPFA dianalisa dengan GLC yang dilengkapi dengan detektor pembakaran ionisasi hidrogen. Pengidentifikasian asam malvalat dan asam sterkulat dilakukan berdasarkan waktu retensi ester metil AgNO3-CH3OH dengan ester metil dari sampel. (Berry dkk,1979). 3.3. Uji Besson Uji Besson juga digunakan untuk mengetahui keberadaan gugus siklopropenoid. Uji Besson dilakukan dengan cara melarutkan sampel dengan kloroform lalu mengaduk sampel dengan larutan 2% perak nitrat (AgNO3) dalam alkohol absolut. Uji Besson yang positif ditandai dengan perubahan warna campuran menjadi coklat (Mehlenbacher dkk,1936). Namun di Indonesia, standar uji yang diakui dalam Standar Nasional Indonesia adalah uji Halphen, sehingga uji Halphen lebih banyak digunakan untuk mengetahui keberadaan gugus siklopropenoid. 4. Uji Standar untuk Bilangan Asam (SNI 04-7182-2006) Sampel alkil ester ditimbang 19 21 + 0,05 g ke dalam labu erlenmeyer 250 ml. Kemudian ditambahkan 100 ml pelarut alkohol 95% yang telah dinetralkan ke dalam labu erlenmeyer tersebut. Dalam keadaan teraduk kuat, titrasi larutan isi labu erlenmeyer dengan larutan KOH dalam alkohol sampai berwarna merah jambu dengan intensitas yang sama seperti pada campuran pelarut yang telah dinetralkan di atas. Warna merah jambu ini harus bertahan paling sedikit 15 detik. Volume titran yang dibutuhkan kemudian dicatat. Perhitungan nilai bilangan asam sebagi berikut: Angka asam (Aa) = 56,1 x V x N mg KOH/g biodiesel.........................(4.1) M Keterangan: V = volume larutan KOH dalam alkhohol yang dibutuhkan pada titrasi (ml)

N = normalitas larutan KOH dalam alkohol m = berat sampel alkil ester (g) 5. Uji Standar untuk Kadar Gliserol Total, Bebas, dan Terikat di Dalam Biodiesel Ester Alkil: Metode Iodometri Asam Periodat (SNI 04- 71822006) 5.1. Uji Kadar Gliserol Total Untuk menguji kadar gliserol pada biodiesel adalah sebagai berikut : sampel alkil ester ditimbang 9,9-10,01 g ke dalam sebuah labu erlenmeyer. Dan tambahkan 100 ml larutan KOH alkoholik, labu disambungkan dengan kondensor berpendingin udara dan didihkan isi labu perlahan selama 30 menit untuk mensaponifikasi ester-ester. Ditambahkan 91 0,2 ml kloroform dari sebuah buret ke dalam labu takar 1 liter. Kemudian ditambahkan 25 ml asam asetat glasial dengan menggunakan gelas ukur. Labu saponifikasi disingkirkan dari pelat pemanas atau bak kukus, bilas dinding dalam kondensor dengan sedikit akuades. Kondensor dilepaskan dan dipindahkan isi labu saponifikasi secara kuantitatif ke dalam labu takar dengan menggunakan 500 ml akuades. Labu takar ditutup rapat dan isinya dikocok kuat-kuat selama 30-60 detik. Akuades ditambahkan sampai ke batas takar, tutup lagi labu rapat-rapat dan dicampurkan baik-baik isinya dengan membolak-balikkan dan sesudah dipandang tercampur dengan baik, biarkan tenang sampai lapisan kloroform dan lapisan akuatik memisah sempurna. Kemudian masing-masing dipipet 6 ml larutan asam periodat ke dalam 2 atau 3 gelas piala 400-500 ml dan disiapkan dua blanko dengan mengisi masingmasing 50 ml akuades. Lalu dipipet 100 ml lapisan akuatik yang telah diperoleh ke dalam gelas piala berisi larutan asam periodat dan kemudian gelas piala ini dikocok perlahan supaya isinya tercampur baik. Sesudahnya, gelas piala ditutup dengan kaca arloji dan dibiarkan selama 30 menit. Jika lapisan akuatik termaksud mengandung bahan tersuspensi, disaring terlebih dahulu sebelum pemipetan dilakukan. Ditambahkan 3 ml larutan KI, dicampurkan dengan pengocokan perlahan dan kemudian dibiarkan selama sekitar 1 menit (tetapi tidak boleh lebih dari 5 menit) sebelum dititrasi. Gelas piala yang isinya akan dititrasi ini tidak boleh

ditempatkan di bawah cahaya terang atau terpaan langsung sinar matahari. Isi gelas piala dititrasi dengan larutan natrium tiosulfat yang sudah distandarkan (diketahui normalitasnya). Titrasi diteruskan sampai warna cokelat iodium hampir hilang. Setelah ini tercapai, ditambahkan 2 ml larutan indikator pati dan diteruskan titrasi sampai warna biru kompleks iodium-pati persisi sirna. Buret titran dibaca sampai ke ketelitian 0,01 ml dengan bantuan pembesar meniskus. Dilakukan analisis blanko dengan menerapkan langkah yang sama pada dua gelas piala berisi larutan blanko. 5.2. Uji Kadar Gliserol Bebas Untuk menguji kadar gliserol bebas adalah sebagai berikut : sampel alkil ester ditimbang 9,9 10,1 + 0,01 g dalam sebuah botol timbang. Sampel ini dibilas ke dalam labu takar 1 liter dengan menggunakan 91 + 0,2 ml kloroform yang diukur dengan buret. Ditambahkan kira-kira 500 ml akuades, ditutup rapat labu, dan kemudian dikocok kuat-kuat selama 30-60 detik. Ditambahkan akuades sampai ke garis batas takar, ditutup lagi labu rapat-rapat dan dicampurkan baikbaik isinya dengan membolak balikkan, dan sesudah dipandang tercampur dengan baik, dibiarkan tenang sampai lapisan kloroform dan lapisan akuatik memisah sempurna. Dipipet masing-masing 2 ml larutan asam periodat ke dalam 2 atau 3 gelas piala 400-500 ml dan disiapkan dua blanko dengan mengisi masing-masing 100 ml akuades. Selanjutnya dipipet 300 ml lapisan akuatik yang diperoleh tadi ke dalam gelas piala berisi larutan asam periodat dan kemudian dikocok gelas piala ini perlahan supaya isinya tercampur baik. Sesudahnya, gelas piala ditutup dengan kaca arloji dan dibiarkan selama 30 menit. Jika lapisan akuatik termaksud mengandung bahan tersuspensi, saring dahulu sebelum pemipetan dilakukan. Larutan KI ditambahkan sebanyak 2 ml, dicampurkan dengan pengocokan perlahan dan kemudian dibiarkan selama sekitar 1 menit (tetapi tidak lebih dari 5 menit) sebelum dititrasi. Gelas piala yang isinya akan dititrasi ini tidak boleh ditempatkan di bawah cahaya terang atau terpaan langsung sinar matahari. Isi gelas piala dititrasi dengan larutan natrium tiosulfat yang telah distandarkan (diketahui normalitasnya). diteruskan sampai warna cokelat hampir hilang. Setelah ini tercapai,Titrasi ditambahkan 2 ml larutan indikator patiiodium dan diteruskan titrasi

titrasi sampai warna biru komplek pati persis sirna. Buret titran dibaca sampai ketelitian 0,01 ml dengan bantuan pembesar meniskus. Langkah- langkahtersebut diulangi untuk mendapatkan duplo dan jika mungkin triplo. Analisis blanko dilakukan dengan menerapkan langkah yang sama pada dua gelas piala berisi larutan blanko (yaitu akuades). Perhitungan Menghitung kadar gliserol total (Gttl, %-b) dengan rumus: Gttl (%-b) = 2,302 (B-C) x N .....................................(5.2.1) W dengan: C = volume larutan natrium tiosulfat yang habis dalam titrasi sampel, ml B = volume larutan natrium tiosulfat yang habis dalam titrasi blanko, ml N = normalitas eksak larutan natrium tiosulfat W = berat sampela x ml sampelb..................................(5.2.2) 900 Kadar gliserol bebas (Gttl, %-b) dihitung dengan rumus yang serupa dengan di atas, tetapi menggunakan nilai-nilai yang diperoleh pada pelaksanaan prosedur analisis kadar gliserol bebas. Kadar gliserol terikat (Gttl, %-b) adalah selisih antara kadar gliserol total dengan kadar gliserol bebas Gikt = Gttl - Gbbs . 6. Uji Standar Bilangan Penyabunan (SNI 04-7182-2006) Angka penyabunan adalah banyak miligram KOH yang dibutuhkan untuk menyabunkan satu gram contoh biodiesel. Cara menguji bilangan penyabunan adalah sebagai berikut : sampel alkil ester ditimbang 4 5 + 0,005 g ke dalam sebuah labu erlenmeyer 250 ml berleher tebal. Kemudian ditambahkan 50 ml larutan KOH alkoholik dengan pipet yang dibiarkan terkosongkan secara alami. Disiapkan dan dilakukan analisis blanko secara serempak dengan analisis contoh alkil ester dengan langkah yang persis sama tetapi tidak mengikutsertakan sampel alkil ester. Labu erlenmeyer disambungkan dengan kondensor berpendingin udara dan didihkan perlahan tetapi mantap, sampai contoh tersabunkan sempurna. Ini biasanya membutuhkan waktu 1 jam. Larutan yang diperoleh pada akhir penyabunan harus jernih dan homogen. Jika tidak, waktu penyabunan

diperpanjang. Setelah labu dan kondensor cukup dingin (tetapi belum terlalu dingin hingga membentuk jeli), dinding dalam kondensor dibilas dengan sejumlah kecil akuades. Kondensor dilepaskan dari labu, lalu ditambahkan 1 ml larutan indikator PP ke dalam labu. Isi labu kemudian dititrasi dengan HCl 0,5 N sampai warna merah jambu persis sirna. Volume HCl yang dihabiskan untuk ditrasi kemudian dicatat. Angka penyabunan, As (%-b) = 56,1 (B C) x N mg KOH/g biodiesel...... (6.1) m Keterangan: B = volume larutan natrium tiosulfat yang habis dalam titrasi blanko (ml) C = volume larutan natrium tiosulfat yang habis dalam titrasi sampel (ml) N = normalitas larutan HCl (0,5 N) W = berat sampel alkil ester yang ditimbang untuk analisis (g) 7. Uji Standar untuk Bilangan Iod (SNI 04-7182-2006) Angka iodium adalah bilangan yang menunjukkan kejenuhan dari suatu molekul. Makin banyak ikatan rangkap suatu molekul maka semakin tak jenuh molekul tersebut dan angka iodium semakin tinggi. Angka iodium adalah ukuran empirik banyaknya ikatan rangkap (dua) di dalam (asam-asam lemak penyusun) biodiesel dan dinyatakan dalam sentigram iodium yang diabsorpsi per gram contoh biodiesel (%-massa iodium terabsorpsi). Satu mol iodium terabsorpsi setara dengan satu mol ikatan rangkap (dua). Angka iodium ini menyatakan jumlah gram iodium yang diperlukan untuk mengadisi 100 gram minyak. Semakin kecilnya angka iodium menunjukkan berkurangnya ikatan rangkap pada bahan. Angka iodium adalah ukuran empirik banyaknya ikatan rangkap (dua) di dalam (asam-asam lemak penyusun) biodiesel dan dinyatakan dalam sentigram iodium yang diabsorpsi per gram contoh biodiesel (%-massa iodium terabsorpsi). Penurunan angka iodium harus diamati agar tetap sesuai dengan nilai minimum biodiesel pada Standar Nasional Indonesia (SNI). Cara untuk uji standar angka iodium adalah sebagai berikut : sampel alkil ester ditimbang 0,13 0,15 0,001 g ke dalam labu iodium. Kemudian ditambahkan 15 ml larutan karbon tetraklorida (atau 20 ml campuran 50%-v sikloheksana 50%-v asam asetat) dan kocok-putar labu untuk menjamin contoh sampel larut sempurna ke dalam pelarut. Lalu

ditambahkan 25 ml reagen Wijs dengan pipet seukuran dan tutup labu. Kocokputar labu agar isinya tercampur sempurna dan kemudian segera simpan di tempat gelap bertemperatur 25 5oC selama 1 jam. Sesudah periode penyimpanan usai, labu diambil kembali, dan ditambahkan 20 ml larutan KI serta kemudian 150 ml aquades. Sambil selalu teraduk baik, larutan uji dititrasi dengan larutan natrium tiosulfat 0,1 N yang sudah distandarkan (diketahui normalitas yang tepat) sampai warna cokelat iodium hampir hilang. Kemudian tambahkan 2 ml larutan indikator pati dan titrasi diteruskan sampai warna biru kompleks iodium-pati persis sirna. Lalu dicatat volume titran yang dihabiskan untuk titrasi. Dilakukan hal sama terhadap blanko, tanpa mengikutsertakan sampel. Angka iodium dihitung dengan rumus: Angka iodium, Ai (%-b) = 12,69 (B C) x N ......................................(7.1) W Keterangan: C = volume larutan natrium tiosulfat yang habis dalam titrasi sampel (ml) B = volume larutan natrium tiosulfat yang habis dalam titrasi blanko (ml) N = normalitas larutan natrium tiosulfat (N) W = berat sampel alkil ester yang ditimbang untuk analisis (g) 8. Analisis Metil Ester Menggunakan Gas Kromatografi (AOAC 1995) Cara untuk menganalisa metil ester adalah sebagai berikut : sebanyak 2 g minyak ditambahkan ke dalam labu didih, kemudian ditambahkan 6-8 ml NaOH dalam metanol, dipanaskan sampai tersabunkan lebih kurang 15 menit dengan pendingin balik. Selanjutnya ditambahkan 10 ml BF3 dan dipanaskan kira-kira dua menit. Dalam keadaan panas ditambahkan 5 ml n-heptana atau n-heksana, kemudian dikocok dan ditambahkan larutan NaCl jenuh. Larutan akan terpisah menjadi dua bagian. Bagian atas akan dipindahkan ke dalam tabung reaksi yang sebelumnya telah diberi 1 g Na2SO4. Larutan tersebut siap diinjeksikan pada suhu detektor 230oC, suhu injektor 225oC, suhu awal 70oC, pada suhu awal = 2 menit, menggunakan glass coloumn dengan panjang 2 m dan diameter 2 mm, gas pembawa adalah helium dan fasa diam dietilen glikol suksinat. Jenis detektor yang digunakan adalah jenis FID (flame ionization detector).

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2012. Pengujian Pada Biodiesel. http://g-energi.blogspot.com/2012/03/ pengujian-pada-biodiesel.html, diakses tanggal 30 September 2013

Liana,dkk. 2011. Studi Hidrogenasi Minyak Biji Kapok dengan Katalis Pd/C untuk Bahan Baku Biodiesel. Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri Universitas Katolik Parahyangan,Bandung.

Rahma.2010. Pengujian Mutu Biodiesel. http://rahma-alchemist.blogspot.com/ 2010/02/pengujian-mutu-biodiesel.html, diakses tanggal 30 September 2013