Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH BEDSIDE TEACHING Tuberkulosis Paru

Disusun oleh: Benedicta Mutiara Suwita 0906639713 Calvin Kurnia Mulyadi 0906639726

Christopher Rico Andrian 0906554251 Deriyan Sukma Widjaja Dwi Wicaksono Evan Regar Faradila Keiko Farah Asyuri Yasmin 0906554270 0906487764 0906508024 0906508062 0906552611

Hanifah Rahmani Nursanti 0906487814 Herliani Dwi Putri Halim Rombongan E 0906487820

Modul Praktik Klinik Pulmonologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

BAB I PENDAHULUAN

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular kronis yang sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan utama yang belum terselesaikan. Pada tahun 1993, World Health Organization (WHO) mencanangkan TB paru sebagai salah satu kegawatdaruratan dunia (global emergency) dan merupakan bentuk re-emerging disease seiring dengan

berkembangnya resistensi kumar multidrug-resistance (MDR) TBdan seringkali berkomorbid dengan infeksi HIV yang justru memperburuk perjalanan penyakit tersebut. Indonesia termasuk ke dalam kelompok negara dengan beban penyakit tertinggi (high burden countries) dalam hal prevalensi TB, yang menempati urutan ketiga setelah India dan China berdasarkan laporan WHO tahun 2009. Kasus TB ditemukan sebanyak 275 kasus per 100.000 penduduk per tahun pada tahun 2006 dan turun menjadi 244 kasus per 100.000 penduduk per tahun pada tahun 2010. Namun, mengalami peningkatan pada tahun 2011 menjadi 289 kasus per 100.000 per tahun. Besarnya masalah kesehatan TB ini telah menarik perhatian dunia sehingga WHO mencanangkan tujuan keenam dari Millenium Development Goals (MDGs) pada tahun 2015, yaitu untuk melawan HIV/AIDS, malaria, dan penyakit lainnya termasuk TB. Diharapkan kemampuan mendiagnosis kasus TB dan kesuksesan dengan pengobatan berbasis Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS) dapat meningkat. Pada tahun 2014, target case detection rate (CDR) dan success rate (SR) masing-masing sebesar 90% dan 88%. Target umum dari stop TB strategy adalah untuk menurunkan beban global dari TB pada tahun 2015 dibandingkan dengan prevalensi dan kematian dasar pada tahun 1990 sebanyak 50%. Pada tahun 2050, tujuan akhir yang ingin dicapai adalah untuk mengeliminasi TB sebagai problema kesehatan publik. Meningkatnya kasus TB, disertai dengan bahaya resistensi, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya membutuhkan perhatian dan usaha lebih dari petugas kesehatan, termasuk peran dokter umum sebagai lini pertama dalam upaya kesehatan masyarakat. Oleh sebab itu, lembar kerja ini dibuat sebagai bentuk pembelajaran berkesinambungan mengenai kasus-kasus TB yang ditemukan dalam praktik klinik sehari-hari.

BAB II ILUSTRASI KASUS

2.1.

IDENTITAS PASIEN Nama Usia : Tn YP : 31 tahun

Jenis Kelamin : laki-laki Agama Suku Status Pekerjaan : Islam : Betawi : Menikah : Tidak bekerja

Tanggal masuk RSP 5 November 2012

2.2.

ANAMNESIS Keluhan Utama Batuk darah sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit

Riwayat Penyakit Sekarang Pasien batuk darah pada hari Jumat, 2 November 2012 sehingga dibawa ke RS Rawamangun. Pasien masuk RS Persahabatan di ruang Soka hari Senin, 5 November 2012. Sebelumnya pasien batuk selama satu minggu dengan dahak berwarna kehijauan. Kemudian, 3 hari sebelum masuk rumah sakit, pasien mengalami batuk darah. Pasien demam dengan suhu naik turun, tidak ada mual dan muntah. Pasien merasa sesak ketika berjalan dengan jarak dekat seperti ke toilet. Sesak memberat dengan aktivitas (Dyspnea on Effort, DOE (+)), mereda dengan istirahat. Namun, sesak pada malam hari disangkal (Paroxysmal Nocturnal Dyspnea, PND (-)) dan tidur dengan 2-3 bantal disangkal (Orthopnea, OP -). Pasien juga mengeluhkan adanya nyeri dada, terutama ketika pasien sedang batuk. Pada saat pasien bernapas, tidak terdapat mengi, dan keluhan sesak tidak dipengaruhi oleh cuaca/suhu. Pasien tidak mengeluhkan adanya kaki bengkak, dan tidak ada keringat malam. Pasien pun mengatakan mengalami penurunan berat badan yang awalnya 51 kg, dan sekarang ketika berat badannya 44 kg. Pasien belum pernah diberikan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) sebelum masuk RS Persahabatan. Pasien memiliki riwayat hipertensi yang tidak terkontrol.
3

Riwayat Penyakit Dahulu Diabetes Mellitus (-), asma (-), alergi (-), gastritis (-)

Riwayat Penyakit Keluarga Hipertensi (-), Diabetes Mellitus (-), riwayat kontak pada keponakan yang tuberkulosis (+), penyakit jantung (-)

Riwayat Sosial Pasien tinggal dengan istri, dua anak, dan ibu pasien. Di lingkungan rumah pasien tidak ada yang memiliki keluhan serupa. Merokok (+): 3 bungkus/hari

2.3.

PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum Kesadaran Tekanan darah Nadi Suhu Pernapasan BB/TB : sakit ringan : kompos mentis : 150/110 mmHg : 110 kali/menit : 36,9oC : 22 kali/menit : 44 kg/160 cm

Kepala Mata THT Leher KGB Dada Jantung Paru Inspeksi Palpasi

: normal : konjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-) : tidak diperiksa : JVP 5-2 cmH2O : tidak teraba : asimetris, kanan tertinggal : BJ 1/2 N, murmur (-), gallop (-) : : bentuk dada pectus excavatum, asimetris dinamis : pergerakan dada asimetris, kanan lebih tertinggal, fremitus kanan

lebih lemah dari kiri, tidak teraba massa. Perkusi : redup/sonor Auskultasi : vesikular (/+), ronkhi basah kasar (+/-), wheezing (-/-)
4

Abdomen Ekstremitas

: supel, lemas, hati dan limpa tidak teraba, bising usus (+) normal : akral hangat, tidak terdapat edema

2.4.

PEMERIKSAAN LABORATORIUM : 10110/mm3 (5-10)

Hasil Laboratorium pada tanggal 5 November 2012 Leukosit

Hitung Jenis o Neutrofil o Limfosit o Monosit o Eosinofil o Basofil : 67.8 % : 15.8 % : 15.6 % : 0.5 % : 0.3 % (50-70) (25-40) (2-8) (2-4) (0-1) (4.5-6.5) (13.0-18.0) (40-52) (80-100) (26-34) (32-36) (11.5-14.5) (150-440)

Eritrosit : 3.92 juta/uL Hb Ht MCV MCH MCHC : 10.3 g/dL : 34 % : 86.2 fL : 26.3 pg : 30.5 %

RDW-CV : 14.0 %

Trombosit : 382 ribu/mm3 Analisa gas darah o pH o pCO2 o pO2 o HCO3 o TCO2 o Base excess o Std HCO3 o Saturasi O2 : 7.492

(7.34-7.44)

: 39.7 mmHg (35-45) : 70.4 mmHg (85-95) : 29.8 mmol/L (22-26) : 31.0 mmol/L (23-27) : 6.0 (-2.5-2.5)

: 29.9 mmol/L (22-26) : 95.3 % (96-97) (<180)

Gula darah sewaktu Elektrolit

: 130 mg/dL

o Natrium (Na) : 138.0 mmol/L o Kalium (K) : 2.05 mmol/L

(135-145) (3.5-5.5)
5

o Klorida (Cl) Protein total Albumin Globulin Bilirubin total Bilirubin direk

: 101.0 mmol/L : 7.3 g/dL : 2.6 g/dL : 4.7 g/dL (6-8) (3.4-5)

(98-109)

(1.3-2.7)

: 0.26 mg/dL (0.1-1.1) : 0.15 mg/dL (0.1-0.4)

Bilirubin indirek : 0.11 mg/dL (0.1-0.7) SGOT SGPT Ureum Kreatinin : 32 U/L : 55 U/L : 10 mg/dL : 0.7 mg/dL (0-37) (0-40) (20-40) (0.8-1.5)

2.5.

DIAGNOSA KERJA TB paru dengan hemoptisis Efusi pleura ec TB paru

2.6.

RENCANA PEMERIKSAAN LANJUTAN Sputum mikroorganisme, gram, kultur resistensi Sputum BTA 3x, kultur resistensi DPL, AGD

2.7.

RENCANA PENGOBATAN IVFD NaCl 500 cc 0.9 %/12 jam + asam traneksamat Vitamin K 3x1 amp IV Vitamin C 3x1 amp IV Diet TKTP 1500 kkal Edukasi batuk darah BPMO

2.8.

PROGNOSIS Ad vitam Ad functionam Ad sanasionam : bonam : bonam : bonam


6

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

Tuberculosis (TB) merupakan suatu penyakit yang disebabkan bakteri kompleks Mycobacterium tuberculosis dan biasanya mengenai paru, meskipun organ-organ lain terlibat dalam satu per tiga kasus. Jika diterapi dengan benar, TB yang disebabkan oleh galur yang sensitif terhadap obat dapat disembuhkan pada hampir semua kasus. Penularan TB terjadi melalui droplet nuclei yang dikeluarkan penderita TB yang disebarkan melalui udara (airborne). Jika tidak diterapi, penyakit ini dapat menjadi fatal dalam 5 tahun pada 50-65% kasus. 3.1 Epidemiologi TB Gambar di bawah ini menyajikan penyebaran prevalensi TB di dunia pada tahun 2011 menurut laporan WHO.

Gambar 3.1 Penyebaran Prevalensi TB di Dunia pada tahun 2011

Merujuk pada peta persebaran prevalensi tersebut, Indonesia terletak pada rentang prevalensi 150-299 per 100.000 populasi. Dengan jumlah populasi penduduk sekitar 242 juta, angka mortalitas TB mencapai 27 per 100.000 penduduk, prevalensinya mencapai 281 per 100.000, insidensi sebesar 187 per 100.000 penduduk, disertai persentase komorbid infeksi HIV sebesar 3,3%.

3.2 Definisi Kasus TB Ada beberapa definisi yang harus diketahui dalam memperdalam kasus TB, yaitu sebagai berikut: Suspek TB: seseorang dengan gejala atau tanda TB. Gejala umum: batuk produktif lebih dari 2 minggu yang disertai gejala pernapasan dan/atau gejala tambahan Kasus TB: Seseorang yang setelah dilakukan pemeriksaan penunjang untuk TB dan didiagnosis TB oleh dokter dan diobati dengan paduan dan lama pengobatan yang lengkap Kasus TB pasti: pasien TB yang telah ditemukan Mycobacterium tuberculosis complex yang diperoleh dari spesimen klinik dan biakan

3.3 Klasifikasi TB Kasus TB juga diklasifikasikan berdasarkan lokasi anatomisnya, hasil pemeriksaan dahak atau bakteriologi, riwayat pengobatan sebelumnya, dan status HIV dari pasien. A. Berdasarkan lokasi anatomisnya TB paru merujuk pada kasus TB yang melibatkan parenkim paru. Tuberkulosis milier merupakan TB paru karena terdapat lesi pada paru. Pasien dengan TB paru dan TB ekstraparu harus diklasifikasikan sebagai kasus TB paru. TB ekstra paru merujuk pada TB yang mengenai organ selain paru. B. Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak atau bakteriologi Terbagi dua, yakni TB paru dengan BTA (+) dan TB paru dengan BTA (-) C. Berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya Pasien baru: pasien yang belum pernah memperoleh pengobatan untuk TB, atau yang telah memperoleh obat anti-TB selama kurang dari 1 bulan. Pasien yang telah memperoleh pengobatan sebelumnya: telah memperoleh pengobatan TB selama 1 bulan atau lebih pada masa lampau. D. Berdasarkan status HIV dari pasien (apakah positif atau negatif)

3.4 Patogenesis TB Patogenesis TB pada orang yang imunokompeten dan sebelumnya tidak pernah terpajan bergantung pada perkembangan imunitas selular terhadap mycobacterium, yang memberikan pertahanan terhadap bakteri dan juga mengakibatkan munculnya hipersensitivitas terhadap

antigen mycobacterium. Granuloma kaseosa dan kavitasi yang terjadi pada TB merupakan akibat dari hipersensitivitas yang berkembang bersamaan dengan respon imun protektif host. TB primer merupakan suatu bentuk TB yang terjadi pada orang yang sebelumnya tidak pernah terpajan (unsensitized person). Sekitar 5% orang yang baru terinfeksi TB primer menunjukkan gejala klinik yang signifikan. Pada TB primer, sumber organismenya berasal dari luar (eksogen). Pada sebagian besar orang, infeksi primer dapat diatasi, tetapi pada sebagian kecil, TB primer bersifat progresif. Diagnosis dari TB primer progresif pada orang dewasa sulit, sebab TB primer progresif seringkali mirip dengan pneumonia bakterial akut (konsolidasi lobus bawah dan tengah, adenopati hilus, efusi pleura). TB sekunder merupakan pola penyakit yang muncul pada host yang sebelumnya sudah tersensitisasi. TB sekunder dapat terjadi mengikuti TB primer, tetapi seringkali TB sekunder terjadi setelah beberapa tahun setelah infeksi pertama kali, biasanya ketika resistensi host melemah. Seringkali berasal dari reaktivasi dari infeksi laten, tetapi juga dapat disebabkan oleh reinfeksi eksogen bersamaan dengan melemahnya imunitas host atau ketika terpajannya host dengan basil virulen dalam jumlah besar. Reaktivasi lebih sering terjadi pada area dengan prevalensi rendah, sementara reinfeksi pada area dengan prevalensi tinggi. TB paru sekunder mengenai apeks lobus atas pada satu atau kedua paru. Karena adanya hipersensitivitas, basil mycobacterium menimbulkan respon jaringan yang kuat dan cenderung untuk membatasi fokus infeksi. Oleh karena itu, kelenjar getah bening regional tidak terlalu terlibat pada TB sekunder, berbeda dari TB primer. Namun, kavitas seringkali muncul pada TB sekunder, berbeda dari TB primer. Erosi dari kavitas merupakan sumber infeksi karena orang tersebut akan mengeluarkan batuk dengan dahak yang mengandung bakteri.

3.5 Diagnosis TB Diagnosis TB ditegakkan melalui gejala klinis, pemeriksaan fisis, pemeriksaan bakteriologi, radiologi, dan pemeriksaan penunjang lain. Gejala Klinis TB merupakan penyakit kronis yang dapat menyerang banyak organ dan salah satu manifestasi terseringnya adalah TB paru. TB ekstraparu juga dapat ditemukan sebagai bentuk persebaran hematologi dari TB paru atau akibat infeksi langsung kuman terhadap organ target. Dengan demikian, gejala yang ditimbulkan dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu gejala lokal dan gejala sistemik.

Apabila organ targetnya adalah paru, maka gejala lokal yang timbul adalah gejala respiratori. Gejala respiratori khas yang sering ditemukan adalah batuk produktif lebih dari 2 minggu, batuk darah, sesak napas, dan nyeri dada. Pada awal perjalanan penyakit, batuk dapat bersifat nonproduktif, namun perlahan-lahan, seiring dengan terjadinya nekrosis, maka sputum akan diproduksi. Bila bronkus belum terlibat, maka gejala batuk mungkin belum ada. Batuk pertama terjadi akibat iritasi bronkus dengan tujuan untuk membuang dahak ke luar. Batuk darah (hemoptisis) terjadi akibat keterlibatan parenkim paru yang lebih ekstensif, namun tidak mengindikasikan proses TB aktif. Hemoptisis juga dapat disebabkan oleh bronkiektasis dari lesi TB residual atau yang sudah mengalami penyembuhan ataupun dari ruptur pembuluh darah yang mengalami dilatasi pada kavitas.

Gejala sistemik yang sering ditemukan antara lain demam subfebris (low grade, intermitten fever), malaise, keringat malam, anoreksia, dan berat badan menurun. Gejala TB ekstraparu sering bermanifestasi sebagai limfadenitis TB, meningitis TB, pleuritis TB, dan sebagainya.

Pemeriksaan Fisis Pada pemeriksaan fisis, dapat ditemukan kelainan yang sering bermanifestasi pada regio lobus superior daerah apeks dan segmen posterior (S1 dan S2), serta daerah apeks lobus inferior (S6). Kelainan yang ditemukan dapat berupa suara napas bronkial, amforik, suara napas yang melemah, ronki basah, hingga tanda-tanda penarikan paru yang dinilai dari deviasi trakea. Pada pleuritis TB, kelainan pemeriksaan bergantung pada banyaknya cairan yang berefusi di rongga pleura, diserta suara perkusi yang kerap menjadi redup/pekak, dan pada auskultasi suara napas yang melemah sampai tidak terdengar. Pada limfadenitis TB, dapat ditemukan pembesaran kelenjar getah bening (KGB) yang lambat dan tidak nyeri.

Pemeriksaan Bakteriologis Bahan pemeriksaan laboratorium bakteriologis untuk TB dapat berasal dari mana saja, termasuk dahak, cairan pleura, cairan serebrospinal, bilasan bronkus, kurasan bronkus, urin, feses, maupun jaringan hasil biopsi. Untuk TB paru, dilakukan pemeriksaan dahak minimal sebanyak 2 spesimen yang berasal dari pengambilan dalam waktu yang berbeda dan minimal salah satu di antaranya harus merupakan
10

dahak pagi hari. Spesimen dahak yang diperoleh dapat digunakan untuk pemeriksaan mikroskopis dan biakan (kultur). Pemeriksaan mikroskopis yang rutin dilakukan adalah pewarnaan basil tahan asam (BTA) dengan metode ZiehlNielsen, sedangkan metode biakan kuman M. Tuberculosis rutin dilakukan dengan media dasar telur Lowenstein-Jensen.

Hasil pemeriksaan mikroskopis dinilai dengan skala International Union Against Tuberculosis and Lung Disease (IUATLD), sebagai berikut: Lebih dari 10 BTA per lapang pandang dalam 20 lapang pandang 1-10 BTA per lapang pandang dalam 50 lapang pandang 10-99 BTA per 100 lapang pandang 1-9 BTA per 100 lapang pandang - Tuliskan jumlah eksak dari BTA Tidak ada BTA ditemukan pada 100 lapang pandang 3+ 2+ 1+

Pemeriksaan Radiologis Pemeriksaan radiologis sering dilakukan secara rutin setelah anamnesis dan pemeriksaan fisik. Kelainan radiologis sering ditemukan pada lobus superior pada salah satu atau kedua paru. Kavitasi merupakan kelainan yang paling sering ditemukan, dengan situs tersering di apeks dan segmen posterior dari lobus kanan atas dan segmen apikoposterior pada lobus kiri atas. Lesi yang sembuh biasanya akan berlanjut pada pembentukan jaringan fibrotik dengan penyusutan parenkim paru, serta seringkali kalsifikasi. Pada progresi penyakit, dapat terjadi penyebaran bronkogenik ke lobus yang lebih bawah dari paru yang terlibat. Selain itu, erosi dari fokus parenkimal tuberkulosis ke dalam aliran darah atau limfatik akan menyebabkan diseminasi dari organisme tersebut dan pola miliar pada foto toraks.

Pemeriksaan Penunjang Lainnya Pemeriksaan penunjang lain yang dapat dilakukan dalam penatalaksanaan pasien TB adalah analisis cairan pleura dengan uji Rivalta, pemeriksaan histopatologis jaringan melalui biopsi, serta pemeriksaan darah, khususnya laju endap darah (LED).

11

3.6 Tatalaksana Tuberkulosis Paru Tatalaksana Farmakologis Tujuan tatalaksana TB paru adalah sebagai berikut: Untuk menyembuhkan pasien dan mengembalikan kualitas hidup dan produktivitas Untuk mencegah kematian dari TB aktif atau efek jangka panjangnya Untuk mencegah kekambuhan TB Untuk mengurangi transmisi TB kepada orang lain Untuk mencegah perkembangan dan transmisi dari resistensi obat

Regimen standar jangka pendek dibagi dua fase, yakni fase inisial/bakterisidal dan fase lanjutan/sterilisasi. Selama fase inisial, mayoritas basil tuberkel dieliminasi, gejala menghilang, dan biasanya pasien menjadi tidak infeksius lagi. Fase lanjutan diperlukan untuk mengeliminasi mycobacterium yang persisten dan mencegah kekambuhan. Pada umumnya lama pengobatan adalah 6-8 bulan. OAT terbagi menjadi obat lini pertama dan obat lini kedua. Obat lini pertama adalah INH, rifampisin, pirazinamid, etambutol, dan streptomisin. Sementara itu obat lini kedua adalah kanamisin, kapreomisin, amikasin, kuinolon, sikloserin, etionamid/protionamid, dan paraamino salisilat. Penggunaan OAT lini kedua hanya untuk kasus resisten obat, terutama TB multidrug resistant (MDR). Pengobatan TB standar dibagi menjadi: Pasien baru Regimen yang dianjurkan adalah 2HRZE/4HR Pasien dengan riwayat pengobatan TB lini pertama Pengobatan berdasarkan hasil uji kepekaan antibiotik secara individual. Selama menunggu hasil uji kepekaan diberikan paduan 2HRZE/HRZE/5HRE Pasien MDR rujuk ke pusat rujukan TB-MDR

Tatalaksana Nonfarmakologis Terapi nonfarmakologis meliputi pengobatan suportif dan simptomatis dan pembedahan. Pengobatan suportif dan simptomatis Pengobatan suportif diberikan melalui asupan nutrisi yang adekuat. Prinsip pemberian nutrisi adalah melalui makanan yang bersifat tinggi kalori dan protein, di mana protein hewani lebih superior. Mikronutrien yang diperlukan antara lain zink, vitamin A, D, C, dan zat besi. Peningkatan pemakaian energi dan penguraian

12

jaringan akibat infeksi dapat meningkatkan kebutuhan mikroutrien seperti vitamin A, E, B6, C, D, dan folat. Pada pasien yang demam, dapat diberikan obat penurun panas, begitu pula dengan obat untuk mengatas gejala batuk, sesak napas, dan keluhan lainnya. Terapi Pembedahan Terapi ini diindikasikan secara mutlak bagi pasien batuk darah masif yang tidak dapat diatasi secara konservatif atau pada pasien dengan fistula bronkopleura dan empiema yang tidak dapat diatasi secara konservatif. Indikasi relatif untuk bedah antara lain dahak negatif dengan batuk darah berulang, kerusakan satu paru atau lobus disertai keluhan, serta sisa kavitas yang menetap.

Evaluasi Pengobatan Evaluasi yang dilakukan meliputi evaluasi klinis, bakteriologi, radiologi, dan efek samping obat, serta evaluasi keteraturan berobat. Evaluasi klinis Pada evaluasi ini, pasien dievaluasi secara periodik mengenai respon pengobatan, ada tidaknya efek samping, serta ada tidaknya komplikasi penyakit. Evaluasi ini meliputi keluhan, berat badan, dan pemeriksaan fisik. Evaluasi bakteriologis Evaluasi bakteriologi dilakukan pada bulan ke-0, ke-2, dan ke-6/8 pengobatan dengan tujuan untuk mendeteksi ada tidaknya konversi dahak. Evaluasi ini dilakukan sebelum pengobatan di mulai, setelah 2 bulan pengobatan, dan pada akhir pengobatan. Evaluasi radiologi Evaluasi foto toraks dilakukan saat sebelum pengobatan di mulai, setelah 2 bulan pengobatan, dan pada akhir pengobatan. Evaluasi setelah dua bulan fase pengobatan tidak dilakukan seperti panduan TB bilamana terdapat kecurigaan akan keganasan.

13

BAB IV PEMBAHASAN

4.1 ANAMNESIS Pada anamnesis, pasien datang dengan keluhan utama batuk darah bercampur lendir sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit. Sebelumnya pasien telah mengalami batuk produktif dengan lendir berwarna kehijauan selama 1 minggu yang lalu. Dari batuk yang dideskripsikan oleh pasien, dapat diperkirakan bahwa batuknya tidak masif dan

menunjukkan adanya tanda-tanda infeksi dengan adanya riwayat batuk berdahak kehijauan. Selain adanya batuk darah, pasien juga mengalami sesak napas yang memberat saat aktivitas serta nyeri dada pada saat batuk, akan tetapi tidak berpengaruh dengan posisi tubuh sehingga sesak akibat gagal jantung dapat disingkirkan. Pasien juga mengakui adanya penurunan berat badan yang cukup signifikan yaitu sebanyak 7 kg. Melihat dari gejala-gejala yang dialami pasien maka, tuberkolosis baru dapat dipikirkan sebagai diagnosis karena pasien belum pernah mendapatkan pengobatan TB sebelumnya ataupun pernah mendapatkan OAT kurang dari satu bulan.

4.2 PEMERIKSAAN FISIK Pada pemeriksaan fisik, pasien terlihat sakit ringan, dengan kesadaran kompos mentis, dari hasil tanda vital menunjukan sedikit peningkatan pada laju pernapasan dan jantung. Pada pemeriksaan konjungtiva, terlihat anemis. Selain itu, pada inspeksi ditemukan bahwa bentuk dada pasien adalah pectus excavatum. Pada palpasi, teraba pergerakan dada pasien asimetris dimana bagian kanan terlihat lebih tertinggal daripada bagian kiri walaupun tidak teraba adanya masa. Perkusi yang tidak terlalu menunjukkan bunyi yang jelas antara redup dan sonor. Pada auskultasi, terdengar bunyi pernapasan yang vesikular menurun, dengan adanya ronki basah kasar pada paru kanan tanpa adanya mengi.

4.3 LABORATORIUM Leukosit : 10.11 ribu/mm3 (5-10) (25-40) limfositopenia (2-8) monositosis (2-4) eosinopenia

Hitung jenis o Limfosit o Monosit o Eosinofil : 15.8 % : 15.6 % : 0.5 %

14

Eritrosit : 3.92 juta/uL Hb Ht MCHC o pH o pO2 o HCO3 o TCO2 o Base excess o Std HCO3 : 10.3 g/dL : 34 % : 30.5 %

(4.5-6.5) (13.0-18.0) anemia (40-52) (32-36) hipokromik (7.34-7.44) alkalosis

Analisa gas darah : 7.492

: 70.4 mmHg (85-95) : 29.8 mmol/L (22-26) alkalosis metabolik : 31.0 mmol/L (23-27) : 6.0 (-2.5-2.5)

: 29.9 mmol/L (22-26) : 2.05 mmol/L (3.5-5.5) hipokalemia : 2.6 g/dL : 4.7 g/dL : 55 U/L (3.4-5) hipoalbumin (1.3-2.7) (0-40)

Elektrolit o Kalium (K) Albumin Globulin SGPT

Interpretasi Alkalosis metabolik dengan kompensasi respiratorik

4.4 KESIMPULAN Pada pasien ini, terdapat kecurigaan kuat untuk TB karena gejala-gejala umum TB telah terpenuhi. Akan tetapi, belum adanya hasil BTA ataupun hasil biakan menyebabkan diagnosis TB belum dapat ditegakkan. Selain itu, dibutuhkan pemeriksaan radiologi foto thoraks pada pasien tersebut untuk dapat menunjang diagnosis TB. Dengan demikian, sambil menunggu hasil pemeriksaan sputum BTA, pasien ini masih tergolong kasus suspek TB.

4.5 TATALAKSANA Pasien datang diberikan beberapa pengobatan yaitu: IVFD NaCl 0,9% 500 cc/12 jam + asam traknesamat Vitamin K 3x1 amp IV Vitamin C 3x1 amp IV Diet TKTP 1500 kkal Edukasi batuk darah
15

BPMO Pemberian asam trakneksamat yang merupakan anti fibrinolitik ditujukan untuk

menghentikan pendarahan pada batuk darah pasien, begitu juga dengan pemberian vitamin K. Diet TKTP (tinggi kalori tinggi protein) pada pasien ini bertujuan untuk mengimbangi penurunan berat badan yang dialami oleh pasien dan mencukupi kebutuhan kalori dan protein pada pasien.

16

Daftar Pustaka Hopewell PC, Kato-Maeda M. Tuberculosis. In: Mason RJ, Broaddus VC, Martin TR, Schraufnagel DE, Murray JF, editors. Murray and Nadel Textbook of Respiratory Medicine. 5th ed. 2010. Philadelphia: Saunder Elsevier. Isbaniyah F, Thabrani Z, Soepandi PZ, Burhan E, Reviono, Soedarsono, et al. Tuberkulosis: Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. 2011. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Kumar V, Abbas AK, Fausto N, Aster JC, editors. Robbins and Cotran Pathologic Basis of Disease. 8th ed. 2010. Philadelphia: Saunders Elsevier. Longo DL, Kasper DL, Jameson JL, Fauci AS, Hauser SL, Loscalzo J, editors. Harrisons Principles of Internal Medicine. 18th ed. 2011. USA: The McGraw-Hill Companies. Riset Kesehatan Dasar. Dinas Kesehatan. 2010. Available on:

http://www.litbang.depkes.go.id/sites/download/buku_laporan/lapnas_riskesdas2010/Lap oran_riskesdas_2010.pdf World Health Organization. Global Tuberculosis Report. 2012. Available on:

http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/75938/1/9789241564502_eng.pdf WHO. Treatment of Tuberculosis: GUIDELINES. 4th ed. 2010. Geneva: WHO Press.

17